SAATNYA DWI BAHASA PARIWISATA DALAM TREND CAFTA oleh
Made Handijaya Dewantara
Perjanjian dagang yang melibatkan dua kontinen besar baru saja dijalankan awal tahun ini dengan tajuk CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement). Meskipun dispesifikasikan hanya mencakup pada kegiatan perdagangan, CAFTA memiliki tugas mengokohkan eksistensi bangsa-bangsa Asia Tenggara dan Cina di mata dunia.
1. Pariwisata Indonesia dalam Trend CAFTA
Kegiatan perdagangan yang dimudahkan melalui CAFTA juga akan menyerap keuntungan bisnis di beberapa industri, salah satunya pariwisata. Sama halnya dengan perdagangan, industri pariwisata pun akan terkena limpahan keuntungan dari perjanjian ini, sekaligus mengemban tugas yang sama, mengeksistensikan bangsa Asia Tenggara dan Cina di mata internasional. Pariwisata memang tidak digambarkan spesifik dalam perjanjian CAFTA. Namun potensi bisnis pariwisata dari CAFTA tetap besar sebab didukung oleh penduduk dengan jumlah 2 miliar orang dan melibatkan setidaknya 10 persen dari total jumlah penduduk kedua kontinen tersebut.
Indonesia sendiri berada dalam angka yang menggairahkan. Angka wisatawan meningkat secara signifikan, diikuti dengan angka investasi dan potensi bisnis yang terus meningkat.
Sebagai insan bangsa, kita pantas ternganga melihat peluang di balik CAFTA dan pariwisata. Kita juga pantas berdecak kagum melihat cerahnya peluang bisnis pariwisata ke depannya. Indonesia saat ini mencapai kemajuan tertinggi pada sektor pariwisatanya. Kemajuan ini ditandai oleh berbagai data, baik secara statistik (angka tertinggi kunjungan wisatawan luar negeri) maupun kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah acara berskala internasional. Kemajuan ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang siap menyongsong CAFTA.
Sayangnya, keberhasilan pariwisata Indonesia sekaligus kesiapan bangsa ini menuju pariwisata berbasis CAFTA ternyata melupakan sebuah hakekat pariwisata. Salah satu hakekat pariwisata adalah menunjukan ciri khas suatu bangsa. Hal yang tidak dilakukan Indonesia dalam industri pariwisatanya adalah tidak menunjukkan salah satu ciri bangsa ini. Sebuah ciri bangsa yang sebenarnya telah diperjuangkan sejak 28 Oktober 1928. Sebuah ciri bangsa yang berperan dalam persatuan bangsa. Sebuah ciri bangsa yang diperlukan tatkala Indonesia mengalami persoalan konflik internal. Ya, Indonesia telah melupakan bahasa Indonesia tatkala terlena dalam kesuksesan dan masa depan cerah pariwisatanya sendiri !
2. Nasionalisme Bangsa dalam Pariwisata CAFTA
Indonesia. Lebih parahnya lagi, berdasarkan observasi penulis, pelaku pariwisata saat ini berpendapat bahwa bangsa ini sudah tidak perlu lagi belajar bahasa Indonesia.
Artikel ini bermaksud untuk menyandingkan masa depan cerah pariwisata Indonesia dalam menyambut CAFTA dengan upaya menunjukkan rasa nasionalisme bangsa kita. Artikel ini berupaya mengajukan sebuah upaya konkret yang bertujuan utama untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Sebuah upaya yang terinspirasi dari nasionalisme kuat negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Jerman, Spanyol, dan Italia. Sebuah upaya yang juga mendatangkan keuntungan bukan hanya berupa persatuan dan kesatuan bangsa namun juga berdampak besar kepada sektor ekonomi, politik, budaya, dan sosial. Sebuah upaya mendwibahasakan bahasa pengantar pariwisata. Melakukan penggunaan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia ditambah bahasa asing lainnya. Sebuah upaya yang akan membawa kita menjadi Indonesia. Sebuah upaya yang dapat mengukuhkan eksistensi bangsa-bangsa Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya berbahasa Indonesia dalam program CAFTA.
dan mekanisme seperti apa yang dilakukan dalam menjalankan dwi bahasa di industri pariwisata yang melibatkan program CAFTA ?
3. Potensi Ekonomi Dwi Bahasa Pariwisata
Dwi bahasa adalah sebuah ide yang realistis sekaligus inovatif dalam menjalankan roda pariwisata demi tetap terjaganya nasionalisme. Pada program CAFTA, nasionalisme kesebelas negara tetap menjadi hal yang penting dilakukan atas nama eksistensi. Namun siapa sangka dibalik misi menjaga nasionalisme, upaya dwi bahasa juga mendatangkan berbagai macam keuntungan? Berikut adalah keuntungan yang akan diperoleh jika dwi bahasa direalisasikan di dunia pariwisata Indonesia, keuntungan tambahan selain keuangan CAFTA.
Ekonomi Kreatif
membayangkan bahwa bangsa Indonesia yang bekerja ke luar negeri mungkin tidak hanya sebagai TKI Pembantu Rumah Tangga (PRT) semata, namun dapat menjadi guru bahasa Indonesia! Negara pun akan mendapatkan devisa dari penyelenggaraan tes UKBI di luar negeri. Akan tetapi, ada baiknya, untuk tahap awal tes UKBI diperuntukkan bagi pekerja asing yang saat ini cukup banyak menghiasi roda pariwisata Indonesia.
Perkenalan Budaya
Salah satu alasan sikap pesimis tentang dwi bahasa adalah karena hal ini dapat menghambat adanya pertukaran budaya dari Indonesia dengan budaya asing. Akan tetapi, dengan adanya dwi bahasa, justru budaya bangsa kita malah lebih gampang diperkenalkan. Bukankah istilah dalam budaya kita lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia? Bukankah budayawan Indonesia lebih cakap berbahasa Indonesia? Yang lebih penting dari itu, jika kita tetap menggunakan bahasa Indonesia, maka bangsa lain akan menganggap kita mencintai budaya kita sendiri. Bangsa asing tentu akan senang mempelajari budaya kita jika kita yang terlebih dahulu mencintai budaya kita sendiri. Satu lagi, ingat bahwa salah satu peran bahasa Indonesia adalah mempersatukan beribu bahasa daerah yang ada di republik ini!
Kehidupan Bersosial
Politik Luar Negeri
Pada era kepemimpinan Bung Karno, di awal pendirian republik ini, dapat kita ingat bahwa bangsa Indonesia sangat disegani. Rahasia sang proklamator pada saat itu adalah politik luar negerinya yang terkenal dengan nama politik mercusuar. Sebenarnya terdapat sebuah nilai dalam politik mercusuar tersebut. Bung Karno mengajarkan Indonesia untuk menghormati bangsanya sendiri. Bung Karno pada saat itu sangat bangga dengan negerinya sendiri, terlebih-lebih pada bahasanya. Dengan mencintai identitas bangsa, bangsa lain akan segan dengan kita. Lalu bagaimana dengan saat ini? Sangat terlihat kita kurang mencintai bahasa kita sendiri. Dengan adanya dwi bahasa di pariwisata yang melibatkan seluruh bangsa di dunia, kita akan dipandang sebagai bangsa yang teguh dengan identitas sendiri. Rumpun yang sejenis dengan bahasa Indonesia juga digunakan di Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan Vietnam! Dengan kata lain, dengan dwi bahasa, kita akan mengembalikan sebuah politik mercusuar Asia Tenggara. Dengan dwi bahasa pariwisata kita tidak hanya menanamkan nasionalisme di negeri sendiri, namun juga mengembalikan nama besar bangsa kita sebagai macan Asia. Ini sekaligus menjadi keuntungan politis program CAFTA melalui sektor pariwisata.
tersebut. Berikut adalah upaya yang harus dilakukan sekaligus bagaimana saja mekanisme proses dwi bahasa di industri pariwisata Indonesia dalam menjalankan program CAFTA.
8 Perubahan Paradigma
Paradigma pelaku pariwisata saat ini masih sangat mengagung-agungkan bahasa asing. Hal ini tidak boleh dibiarkan sebab pelaku pariwisata mengemban misi memperkenalkan identitas bangsa pada tamu yang datang. Maka dari itu, langkah utama dalam dwi bahasa ini adalah membangun paradigma. Sebuah paradigma bahwa bahasa Indonesia masih berperan dalam industri pariwisata Indonesia. Paradigma ini dibuat bukan hanya oleh pemerintah, namun juga harus dibantu oleh perusahaan layanan wisata serta serikat pekerja itu sendiri. Upaya yang utama dilakukan dalam membangun paradigma itu sendiri adalah mewajibkan calon karyawan pariwisata untuk juga menguasai bahasa Indonesia selain bahasa asing. Dengan demikian akan muncul dengan sendirinya sebuah paradigma dalam diri pelaku pariwisata, bahwa mencintai bahasa Indonesia sama atau jauh lebih penting daripada menguasai banyak bahasa asing. Paradigma yang harus dibangun juga adalah bahwa angka wisatawan tidak akan turun meskipun kita tetap berdwibahasa kepada mereka.
8 Kewajiban Tes UKBI
Akan tetapi tentu sebagai tahap awal kita cukup memperlakukan tes UKBI (Uji Kompetensi bahasa Indonesia) kepada pekerja asing yang akan ke Indonesia.
8 Dwi Bahasa Istilah Sarana Umum
Proses dwi bahasa secara mekanisme dapat kita awali dari sarana-sarana umum yang menjadi “penyambut” wisatawan asing ketika datang ke Indonesia. Ada baiknya jika kita menulis kata “Bandar Udara” di bawah kata “Airport”, “Toko” di bawah kata “Plaza atau Mal”, “Taksi” di bawah kata “Taxi”, dan bahkan “Tempat Parkir” di bawah “Parking Area”. Beberapa kata di atas hanyalah contoh semata sebab masih banyak kata-kata asing yang sebenarnya memiliki padanan kata bahasa Indonesia terpampang pada sarana-sarana umum. Tampaknya kita pun dapat meniru dwi bahasa yang sudah dilakukan oleh Thailand. Di Thailand sendiri setiap istilah pariwisata menggunakan dwi bahasa. Hal ini membuat paradigma orang asing di Thailand bahwa nasionalisme Thailand sangat kuat. Hasilnya, malah angka wisatawan asing di Thailand masih di atas Indonesia!
8 Dwi Bahasa Salam Kedatangan
Salam kedatangan adalah kalimat ajaib bagi seorang tamu dan dikatakan dapat mengubah segala pikiran tamu di kunjungannya. Ada baiknya dwi bahasa salam kedatangan tidak hanya dilakukan di plang kedatangan. Selain meletakkan selamat datang (bahkan dengan salam daerah) di atas kata welcome, yang jauh lebih penting adalah mengucapkannya secara verbal. Pengucapan verbal tentu cukup dengan salam nasional (ditambah dengan salam daerah bila perlu). Jika kita sangsi dengan hal ini, tengok saja sapaan orang Jepang kepada wisatawannya.
Selama ini brosur pariwisata selalu dibuat dengan bahasa asing sekalipun isinya menceritakan tentang bangsa kita sendiri. Sudah saatnya kita membuat terobosan dengan dwi bahasa di brosur pariwisata itu sendiri. Untuk tahap awal kita boleh pesimis sebab sang calon penyumbang devisa akan bingung dengan brosur kita. Akan tetapi, dengan teknik pencantuman secara proporsional, akan muncul rasa ingin tahu secara naluriah dari wisatawan tersebut. Tidak ada salahnya untuk mencoba terobosan ini demi eksistensi bangsa kita, bukan?
8 Dwi Bahasa pada Konferensi Dunia
Ketika duta bangsa berpidato pada konferensi-konferensi dunia, mereka selalu menggunakan bahasa asing, seakan-akan kita tidak memiliki identitas sendiri. Beberapa pemimpin dunia negara lain malah tidak mau menggunakan bahasa asing dalam berpidato. Kita tentu tidak bersikap sekaku itu, bukan? Maka dari itu, ada baiknya kita mengajak mereka yang berpidato tadi untuk melakukan dwi bahasa dalam pidatonya.Kita bisa mulai dalam konferensi yang berkaitan dengan CAFTA. Teknik dwi bahasa dalam dunia konferensi tingkat internasional saat ini sudah dibantu dengan beragam alat canggih. Sayang, banyak duta bangsa kita yang memilih untuk tidak menggunakannya.
8 Optimalisasi Grup Musik sebagai Promotor Pariwisata
memperkenalkan bahasa Indonesia, tidak hanya di seputar bangsa-bangsa peserta CAFTA, namun sekaligus seluruh dunia.
Keuntungan dari segi ekonomi hingga politik luar negeri serta nasionalisme bangsa dapat kita peroleh lewat langkah-langkah dalam mendwibahasakan bahasa pariwisata Indonesia. Mendwibahasakan bahasa pengantar pariwisata sekali lagi merupakan alternatif paling adil untuk menyelamatkan bahasa Indonesia di tengah kesuksesan industri pariwisata kita. Langkah mendwibahasakan bahasa pariwisata tidak hanya untuk menunjukkan identitas bangsa, tapi sekaligus tidak mengesampingkan kelancaran perhubungan dengan orang-orang asing yang akrab dengan bahasa internasional. Langkah ini sangat ideal untuk melestarikan bahasa Indonesia sekaligus mengeksistensikan bangsa-bangsa Asia Tenggara di era globalisasi. Tidak etis kiranya kita egois menyingkirkan bahasa-bahasa lain. Kita harus ingat bahwa penggunaan bahasa bertujuan agar maksud yang kita sampaikan diterima oleh lawan bicara kita. Oleh karena itu, dwi bahasa pariwisata harus dibarengi dengan sebuah etika komunikasi yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Wisatawan mancanegara. dalam www.indonesia.go.id. Anonim. 2009. Pariwisata. dalam Wikipedia, id.wikipedia.org.
Hanafi, Hilaluddin. 2008. Peran Bahasa Indonesia dan Daerah. Jakarta : Laman Pusat Bahasa. Rahardi, R. Kunjana. 2008. Tipisnya Nasionalisme Bahasa Indonesia. Radio Nederland
Wereldomroep edisi 20 Agustus 2008.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Nasionalisme Ditinjau dari Akarnya. Jakarta : Himpunan Psikologi IndonesiaWilayah DKI Jakarta Raya.
ABSTRAK
Artikel ini bermaksud untuk menyandingkan kesuksesan pariwisata di Indonesia dalam menyongsong CAFTA dengan upaya menunjukkan rasa nasionalisme bangsa kita dengan langkah dwi bahasa. Sebuah upaya yang terinspirasi dari nasionalisme kuat negara-negara pariwisata maju seperti Perancis, Jerman, dan Italia. Sebuah upaya yang juga mendatangkan keuntungan bukan hanya berupa persatuan dan kesatuan bangsa namun juga berdampak besar kepada sektor ekonomi, politik, budaya, dan sosial baik bagi bangsa ini sekaligus bangsa-bangsa Asia Tenggara. Dwibahasa bahasa pengantar pariwisata dilakukan dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia ditambah bahasa asing lainnya. Sebuah upaya yang akan membawa kita menjadi Indonesia. Keuntungan yang akan diperoleh jika dwi bahasa direalisasikan di dunia pariwisata indonesia antara lain : ekonomi kreatif, perkenalan budaya, kehidupan bersosial, dan politik luar negeri. Melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka, maka upaya yang harus dilakukan sekaligus mekanisme proses dwi bahasa di industri pariwisata Indonesia antara lain : perubahan paradigma, kewajiban tes UKBI, dwi bahasa istilah sarana umum, dwi bahasa salam kedatangan, dwi bahasa brosur pariwisata, dwi bahasa pada konferensi dunia, dan optimalisasi grup musik sebagai promtor pariwisata. Sudah saatnya dalam menyongsong CAFTA, Indonesia menunjukkan eksistensi bangsa dengan dwi bahasa.
Penulis adalah mahasiswa semester 7 Program Studi Administrasi Perhotelan