AN ALI SI S STRATEGI KEBI JAKAN PEN AN GGULAN GAN KEM I SKI N AN PAD A M ASYARAKAT N ELAYAN
D I W I LAYAH PESI SI R
KABUPATEN M ALUKU TEN GGARA
ABUL MATDOAN
SEKOLAH PASCASARJAN A I N STI TUT PERTAN I AN BOGOR
BOGOR
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul :
ANALISIS STRATEGI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI WILAYAH PESISIR
KABUPATEN MALUKU TENGGARA
Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Pebruari 2009 Yang menyatakan,
ABUL MATDOAN, The Analysis of Poverty Reduction Policy Strategy
on Fisherman Community at Coastal Area of South
East Maluku Regency.
The analysis of poverty reduction policy strategy on fisherman community was aimed to formulate marine and resources management and utilization strategies that integrating sustainable approach to achieve economic growth, that useful as benchmark for operation and planning policy arrangement both for stakeholders and fisheries entrepreneur to reduce poverty that attached on fisherman community. The research’s methods are quantitative and qualitative. The quantitative approach are including: first, bio-economic analysis, that aimed to achieve optimal fish management resources, biologically and economically; second, fisheries utilize optimizing analysis, that consider possible benefit and loss on such aspects, including biology, economic, legal, social and political aspects. Furthermore, income analysis was conducted to study fisherman income level and regression analysis to determine factors that affect the income. Fisherman poverty level was analyzed to study degree of fisherman community living. Qualitative analysis was conducted using PRA and FGD approach to absorb existing problems in the fisherman community with criteria as follow: problems coverage, incidence frequency, and problem severity level. The offered poverty reduction strategies are including : (a) fishing facilities development program (b) program for infrastructure facilities provision that empower the community, (c) program to improve human resources by on job training and training, (d) social security program and partnership arrangement, (e) program to improve traditional fisherman access on capital and market, (f) political commitment from policy maker, evaluate and arrange local regulation concerning sustainable fisheries management and utilization and involving local fisherman in the resources planning and management.
RINGKASAN
ABUL MATDOAN. Analisis Strategi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan pada Masyarakat Nelayan di Wilayah Pesisir Kabupaten Maluku Tenggara. Dibimbing oleh AKHMAD FAUZI dan SAHAT M.H. SIMANJUNTAK sebagai Komisi Pembimbing.
Maluku Tenggara dengan luas total wilayah sebesar ± 55.932 km2, dimana luas daratan ± 4.049 km2 atau 7%, dan luas lautan ± 51.883 km2 atau 93%. Luas wilayah sedemikian, menunjukan bahwa Kabupaten Maluku Tenggara sebagai kabupaten kepulauan memiliki sumber daya alam perikanan yang potensial untuk dikelola secara bekelanjutan. Namun sejauh ini aspek pengelolaan sumber daya perikanan belum berjalan efektif dan terkontrol. Nelayan umumnya berusaha untuk memperoleh hasil tangkapan sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan aspek keberlanjutan. Disisi lain dengan keterbatasan sumber daya manusia, modal serta rendahnya akses informasi dan penguasaan teknologi oleh masyarakat pesisir dalam memanfaatkan sumber daya alamnya menyebabkan mereka hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu pembangunan harus dilaksanakan secara terintegrasi dalam semua aspek dan dapat mengoptimalkan sumber daya alam lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta dapat mengurangi tingkat kerentanan masyarakat miskin. Analisis strategi kebijakan penanggulangan kemiskinan pada masyarakat nelayan dimaksudkan untuk menyusun strategi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang mengintegrasikan pendekatan kelestarian untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, yang dapat digunakan sebagai acuan penyusunan kebijakan operasional dan perencanaan bagi para stakeholders dan pelaku usaha di bidang kelautan dan perikanan dalam pengentasan kemiskinan masyarakat nelayan. Tujuan dari penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan diatas, yaitu : (1) mengetahui bagaimana model pemanfaatan dan pengelolaan potensi sumber daya perikanan tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara. (2) mengetahui tingkat pendapatan per kapita masyarakat nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara. (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara. (4) menganalisis hubungan tingkat kemiskinan masyarakat nelayan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap. (5) menganalisis strategi kebijakan dan bentuk program bidang perikanan untuk pengentasan kemiskinan masyarakat nelayan yang telah dijalankan di Kabupaten Maluku Tenggara.
garis kemiskinan. (b) the poverty gap index atau the dept of poverty adalah kedalaman kemiskinan di suatu wilayah yang merupakan perbedaan rata-rata pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai suatu proporsi dari garis kemiskinan tersebut. (c) the severity of poverty menunjukan kepelikan kemiskinan di suatu wilayah. Indikator ini memperhitungkan jarak yang memisahkan orang miskin dari garis kemiskinan dan ketimpangan di antara orang miskin . Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pendekatan PRA dan FGD untuk menyerap permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat nelayan dengan kriteria sebagai berikut : luas cakupan masalah, frekwensi kejadian, tingkat keparahan masalah. Dan selanjutnya membuat prioritas permasalahan dan strategi kebijakan untuk menyusun strategi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan untuk menjawab permasalahan kemiskinan yang terjadi pada masyarakat nelayan.
Strategi kebijakan yang telah dilakukan oleh instansi terkait dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat nelayan yaitu, (a) program bantuan sarana prasarana penangkapan ikan (speed boat, mesin tempel, jaring, alat pancing, cool box, fish fender, GPS), (b) pelatihan budidaya ikan, dan rumput laut, (c) pendampingan usaha perikanan, (d) magang nelayan dan pembudidaya ikan (e) penyuluhan tentang dampak penggunaan bahan peledak dan zat nimia terhadap ekosistim pantai. Program bantuan yang telah dijalankan tersebut belum berdampak nyata terhadap pengentasan kemiskinan nelayan. Strategi yang dilakukan oleh nelayan untuk meningkatkan taraf hidup mereka adalah (a) adanya innovasi alat tangkap baru seperti rumpon dan jaring bobo, (b) nelayan berusaha mendatangkan pengusaha/pembeli hasil ikan dari luar daerah, (c) adanya pengawasan masyarakat desa terhadap wilayah lautnya agar tidak terjadi pencurian ikan, (d) nelayan berusaha untuk membeli sarana-prasarana penangkapan ikan secara pribadi. Hasil analisis menunjukan bahwa potensi perikanan tangkap di Maluku Tenggara sangat besar namun belum dikelola dan dimanfaatkan secara baik sehingga potensi yang besar tersebut belum memberikan nilai tambah bagi pendapatan masyarakat nelayan. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi over fishing pada wilayah pesisir, karena sarana prasarana penangkapan ikan nelayan lokal masih tradisional dan terbatas ukurannya, sehingga nelayan melaut pada wilayah terbatas dan menyebabkan tingkat pendapatan nelayan rendah. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa sebagian besar nelayan masih hidup dibawah garis kemiskinan, yaitu dibawah US$1-US$2 per kapita per hari.
Strategi penanggulangan kemiskinan yang ditawarkan dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat nelayan pada wilayah pesisir Maluku Tenggara adalah : (a) program pengembangan sarana prasarana penangkapan ikan, (b) program penyediaan prasarana infrastruktur yang dalam pemberdayaan masyarakat, (c) program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) nelayan melalui magang dan pelatihan, (d) program perlindungan sosial dan penataan kemitraan, (e) program peningkatan akses nelayan tradisonal terhadap modal dan pasar (f) Menyatukan komitmen politik dari para penentu kebijakan, mengkaji dan menyusun peraturan daerah (Perda) tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat nelayan lokal dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya perikanan.
@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008 Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah.
b.Pengutipan tidak merugikan yang wajar IPB.
AN ALI SI S STRATEGI KEBI JAKAN PEN AN GGULAN GAN KEM I SKI N AN PAD A M ASYARAKAT N ELAYAN
D I W I LAYAH PESI SI R
KABUPATEN M ALUKU TEN GGARA
ABUL M ATD OAN
Te sis
Se ba ga i sa la h sa t u sya r a t un t uk m e m pe r ole h ge la r M a gíst e r Sa ins pa da
D e pa r t e m e n Ek on om i da n M a na j e m e n
SEKOLAH PASCASARJAN A I N STI TUT PERTAN I AN BOGOR
BOGOR
Judul Tesis : Analisis Strategi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan pada Masyarakat Nelayan di Wilayah Pesisir Kabupaten Maluku Tenggara.
Nama Mahasiswa : Abul Matdoan
NRP. : H051 060 061
Program Studi : Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan
Menyetujui,
1. Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M. Sc Ir. Sahat M. H. Simanjuntak, M. Sc Ketua Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu 3. Dekan Sekolah Pascasarjana Perencanaan Pembangunan Wilayah
dan Perdesaan
Dr. Ir. Bambang Juanda, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrohmaanirrohiim….
Segala Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Analisis Strategi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan pada Masyarakat Nelayan di Wilayah Pesisir Kabupaten Maluku Tenggara”. Tesis ini merupakan tugas
akhir pendidikan magister sains pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimah kasih yang tak terhingga kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Akhamad Fauzi, M.Sc sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Sahat M. H. Simanjuntak, M.Sc selaku anggota komisi pembimbing, yang dengan segala kesibukannya tetapi selalu menyempatkan waktu untuk membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Kepada Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bapak Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS dan Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Bapak Dr. Ir. Bambang Juanda, MS, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kesediaanya menerima penulis untuk mengikuti pendidikan magister serta segala bantuan dan kesempatan yang diberikan selama mengikuti pendidikan. Demikian juga penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada para Dosen PS. PWD dan Dosen Program Studi lainnya atas segala ilmu yang telah diberikan kepada penulis, serta bimbingan, arahan dan modal sosial yang terjalain selama penulis mengikuti pendidikan di IPB. Terimah kasih yang sama saya sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Achmad Fahrudin, MS yang telah bersedia menjadi penguji pada saat ujian tesis.
Kepada Pimpinan Yayasan Darur Rachman kanda Matdoan Mahmud (almarhum), Ketua STIA Darur Rachman kanda Drs A. Muuti Matdoan, kanda Usman Matdoan, S.Sos beserta staf Dosen,. Pimpinan Kopertis Wilayah XII Maluku, Maluku Utara, dan Papua, Bapak Drs Salim Tuharea, M. Si (almarhum), yang telah membantu penulis sehingga
memberikan beasiswa kepada penulis untuk mengikuti program magister pada Institut Pertanian Bogor (IPB) penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga.
Terima kasih penulis haturkan kepada Pemerintah Daerah Kabupeten Maluku Tenggara beserta semua dinas instansi yang telah membantu penulis selama penelitian. Dan kepada Kepala Desa Sungai, Kepala Desa Ngafan, Kepala Desa Lebetawi, Kepala Desa Dullah Laut, Kepala Desa Mastur Baru, Kepala Dusun Denwet, Kepala Dusun Selayar, Ketua RT Satheyan, beserta seluruh masyarakat desa dan nelayan yang dengan ihlas memberikan bantuan dan pelayanan selama penulis melakukan penelitian lapangan.
Kepada kedua Orang Tua tercinta ayah handa Haji Muhammad Nur Matdoan (almarhum) dan ibunda Fatma Matdoan, yang dengan susah payah membesarkan, mendidik, dan mengurus penulis hingga saat ini dan kepada seluruh Kakak, Adik, Ponakan, Paman, Bibi, serta seluruh keluarga besar penulis, atas jerih payahnya yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis ucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semuanya.
Sahabat-sahabatku Subhan, Erenda, Fuad, Burhan, Nasrun, Riki, dll, yang banyak sekali membantu penulis selama ini, dan kepada teman-teman seperjuangan PWD ’06 : caca Suriana, mba Novi, mba Rika, neng Ane, mba Lina, bung Weren, mas Galu, Ode Samsul, pa Maman, pace Nelson, dengan kebersamaan dan kekompakan yang terjalin selama studi di IPB, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, dan kepada teman-teman PWD seluruhnya dan semua pihak yang tak sempat disebutkan namanya satu per satu, yang telah membantu penyelesaian penulisan tesis ini, penulis sampaikan banyak terima kasih.
Tesis ini jauh dari kesempurnaan sehingga segala saran dan kritik sangat diharapkan.
Bogor, Pebruari 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 16 Juli 1973 di Desa Sungai Kecamatan Kei Besar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, sebagai anak bungsu dari 9 (sembilan) orang bersaudara. Orang Tua : Ayah bernama Haji Muhammad Nur Matdoan (almarhum) dan Ibu bernama Fatma Matdoan.
Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada STIA Darur Rachman, Kabupaten Maluku Tenggara sejak tahun 2005. Sebelum bekerja penulis aktif pada LSM dan OKP (Organisasi Kepemudaan).
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 11
1.4. Manfaat Penelitian ... 11
II. TINJAUAN PUSTAKA... 12
2.1. Analisa Kebijakan... 12
2.2. Kemiskinan Nelayan ... 13
2.3. Kondisi Rumah Tangga Nelayan.. ... 19
2.4. Kemiskinan dan Problematika Masyarakat Pesisir di Indonesia... 20
2.5. Mengukur Penyebab dan Indikator Kemiskinan... 25
2.6. Strategi Penanggulangan Kemiskinan... ... 28
2.7. Perilaku Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Perikanan Tangkap.. 31
2.8. Pengembangan Perikanan Wilayah Pesisir... 34
2.9. Potensi Sumber Daya Alam Pesisir ... 36
2.10. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 37
III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS ... 44
3.1. Kerangka Pemikiran... 44
3.2. Hipotesis ... 45
IV. METODELOGI PENELITIAN... 47
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 47
4.2. Metode Pengumpulan dan Jenis Data ... 48
4.3. Analisis Data... 50
4.3.2. Standarisasi Alat Tangkap ... 52
4.3.3. Analisis Tingkat Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Ikan... 53
4.3.4. Standarisasi Biaya... 55
4.3.5. Analisis Tingkat Pendapatan Nelayan ... 56
4.3.6. Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan ... 58
4.3.7. Analisis Tingkat Kemiskinan... 60
4.3.8. Analisis Strategi Kebijakan dan Perancangan Program. ... 63
V. KEADAAN UMUM WIAYAH PENELITIAN ... 66
5.1. Geografi dan Administrasi Pemerintahan... 66
5.2. Kondisi Fisik Pesisir dan Laut ... ... 67
5.2.1. Iklim... 67
5.2.2. Sumber Air Minum ... 70
5.2.3. Suhu dan Salinitas Perairan... ... 70
5.2.4. Arus, Gelombang dan Keadaan Air Laut... 71
5.2.5. Luas Perairan .. ... 72
5.2.6. Luas Ekosisitim Mangrove, Lamun dan Karang ... 73
5.3. Kependudukan dan Lapangan Usaha... 74
5.4. Tenaga Kerja dan Struktur Mata Pencaharian Penduduk ... 75
5.5. Pendidikan dan Kesehatan Penduduk.. ... 76
5.6. Ekonomi dan Sumber Daya Alam ... 79
5.7. Sosial Budaya dan Politik ... 88
5.8. Permukiman, Sarana dan Prasarana... 93
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 99
6.1. Keragaan Perikanan Tangkap ... 99
6.1.1. Potensi Sumber Daya Ikan …………... 99
6.1.2. Armada Penangkapan ... 105
6.1.3. Jenis Alat Tangkap ... 106
6.1.4. Nelayan, RTN, Kelompok Nelayan ... 108
6.2. Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Tangkap ... 109
6.2.1. Standarisasi Unit Upaya... 109
6.2.3. Optimasi Pemanfaatan SD Perikanan Tangkap ... 113
6.2.4. Model Pengelolaan Perikanan Tangkap... 118
6.3. Analisis Pendapatan ... 124
6.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan ... 126
6.5. Analisis Kemiskinan ... 137
6.5.1. Tingkat Kesehatan ... 137
6.5.2. Tingkat Pendidikan ... 139
6.5.3. Tenaga Kerja... 141
6.5.4. Mortalitas dan Fertalitas .. ... 142
6.5.5. Perumahan dan Permukiman ... 143
6.5.6. Penerimaan Nelayan ... 144
6.5.7. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.. ... 146
6.5.8. Peta Kemiskinan di Maluku Tenggara... 148
6.6. Dampak Sosial Ekonomi Usaha Perikanan Skala Industri ... 148
6.7. Analisis PRA dan FGD ... 150
6.7.1. Identifikasi Permasalahan Nelayan Lokal ... 150
6.7.2. Prioritas Permasalahan... 152
6.7.3. Pembahasan Permasalahan Nelayan .. ... 154
6.7.4. Diskusi Kelompok Terarah ... 164
6.8. Strategi Kebijakan... 169
6.8.1. Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah... 169
6.8.2. Strategi Kebijakan Nelayan ... 174
6.9. Keterkaitan Analisis dalam Penelitian ... 177
VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 182
A. Kesimpulan ... 182
B. Saran ... 183
V. DAFTAR PUSTAKA ... 186
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Hasil Penangkapan Ikan/ Non Ikan Menurut Kecamatan ... 08 Tabel 2. Kriteria dan Garis Kemiskinan ... 24 Tabel 3. Hubungan antara Tujuan, Data, Sumber, Metode Analisis ... 49 Tabel 4. Jumlah Kecamatan, Desa, Kelurahan, Dusun dan Luas Daratan
Menurut Kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara ………… 67 Tabel 5. Luas Perairan di Kabupaten Maluku Tenggara ……..………… 73 Tabel 6. Luas Ekosistim di Kabupaten Maluku Tenggara ……..………. 74 Tabel 7. Data Jumlah Penduduk, Sex Ratio dan Kepadatan Penduduk
Menurut Kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara ………… 75 Tabel 8. Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha di Kabupaten Maluku Tenggara Thn 2007… 75 Tabel 9. Jumlah Kelulusan Murid Berdasarkan Jenjang Pendidikan di
Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006/2007……... 76 Tabel 10. PDRB Berdasarkan Harga Konstan dan Harga Beraku……… 80 Tabel 11. PDRB Kabupaten Maluku Tenggara Menurut Lapangan Usaha Utama di Kabupaten Maluku Tenggara ………... 81 Tabel 12. Persentase Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan dan
Harga Berlaku ...…… 82 Tabel 13. Simpanan Pada Bank Pemerintah & Bank Swasta
Laut Banda dan Laut Arafura ... 100 Tabel 16. Produksi Perikanan Tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara
Tahun 1996/2008 ... 103
Tabel 17. Produksi Hasil Perikanan Tangkap Menurut Jenis di Kabupaten
Maluku Tenggara Tahun 1996/2007 ... 104
Tabel 18. Jumlah Armada Penangkapan Ikan di Kabupaten Maluku
Tenggara Tahun 1996/2007 ... 105
Tabel 19. Jumlah Alat Penangkapan Ikan, Trip di Kabupaten Maluku
Tenggara Tahun 1996/2007 ... 106
Tabel 20. Perkembangan Rumah Tangga Perikanan (RTP), Kelompok Nelayan, dan Jumlah Unit Alat Tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 1996/200 ... 108 Tabel 21. Standarisasi Alat Tangkap pada Nelayan Mesin dan Nelayan
Tanpa Mesin di Maluku Tenggara Tahun 1997-2008 ... 111 Tabel 22. Hasil Analisis Parameter r, q, K, Emsy, hMSY, Over Fishing dll.
pada Nelayan Pakai Mesin Tahun 1997-2008 ... 114 Tabel 23. Optimasi Bioekonomi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan
pada Nelayan Mesin di Maluku Tenggara Tahun 1997-2008 .... 115 Tabel 24. Hasil Analisis Parameter r, q, K, Emsy, hMSY, Over Fishing dll.
pada Nelayan Tanpa Mesin Tahun 1997-2008 ... 116 Tabel 25. Optimasi Bioekonomi Pemenfaatan Sumber Daya Perikanan pada
Nelayan Tanpa Mesin di Maluku Tenggara Tahun 1997-2008 ... 117 Tabel 26. Kondisi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Tangkap oleh
Nelayan Menggunakan Mesin ... 120 Tabel 27. Kondisi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Tangkap Oleh
Nelayan Tanpa Mesin ... 124 Tabel 28. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tabel 29. Hasil Analisis Of Farian pada Nelayan Bermesin ... 126
Tabel 30. Hasil Analisis Partial Variabel yang Mempengaruhi
Pendapatan Nelayan Bermesin ... 127 Tabel 31. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pendapatan Nelayan Tanpa Mesin... 130 Tabel 32. Hasil Analisis Of Farian pada Nelayan Tanpa Mesin ... 130 Tabel 33. Hasil Analisis Partial Variabel yang Mempengaruhi
Pendapatan Nelayan Tanpa Mesin... 131 Tabel 34. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pendapatan Nelayan ... 133 Tabel 35. Hasil Analisis Of Farian ... 134 Tabel 36. Hasil Analisis Partial Variabel yang Mempengaruhi
Pendapatan Nelayan Tanpa Mesin... 135 Tabel 37. Jumlah Gedung Sekolah dan Daya Tampung Sekolah ... 140 Tabel 38. Jumlah Kelulusan Murid Berdasaran Jenjang Pendidikan di
Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006/2007 ... 140 Tabel 39. Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha Utama di Maluku Tenggara Tahun 2007 ... 142 Tabel 40. Persentase Pendapatan Nelayan... 145 Tabel 41. Tingkat Pengeluaran Nelayan... 146 Tabel 42. Prioritas Masalah yang Dihadapi Nelayan di Kabupaten Maluku
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka Pikir Analisis Kebijakan ... 46
Gambar 2. Peta Wilayah Propinsi Maluku ... 47
Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian di Maluku Tenggara ... 48
Gambar 4. Variasi Arah dan Kecepatan Angin 1999-2003 . ... 70
Gambar 5. PDRB Menurut Harga Konstan & Harga Berlaku ... 80
Gambar 6. Simpanan pada Bank Pemerintah & Swasta Thn 2006 ... 83
Gambar 7. Produksi Hasil Perikanan Tangkap Thn 1996-2007 . ... 103
Gambar 8. Jumlah Armada Penangkapan Ikan 1996-2007. ... 106
Gambar 9. Jumlah Alat Penangkapan Ikan, Trip Thn 1996 - 2007 ... 107
Gambar 10. Perkembangan Rumah Tangga Perikanan ... 109
Gambar 11. Standarisasi Alat Tangkap Nelayan Mesin dan Nelayan Tanpa Mesin di Maluku Tenggara ... 112
Gambar 12. Perbandingan Rezim Pengelolaan Sumber Daya Perikanan pada Nelayan Menggunakan Mesin ... 115
Gambar 13. Perbandingan Rezim Pengelolaan Sumber Daya Perikanan pada Nelayan Tanpa Mesin di Maluku Tenggara ... 117
Gambar 14. Kurva Pertumbuhan Logistik pada Nelayan Bermesin... 119
Gambar 15. Kurva Produksi Lestari - Upaya pada nelayan Bermesin ... 119
Gambar 16. Kurva Produksi Optimum pada Nelayan Bermesin ... 119
Gambar 17. Kurva Pertumbuhan Logistik pada Nelayan Tanpa Mesin ... 122
Gambar 18. Kurva Produksi Lestari - Upaya pada nelayan Tanpa Mesin.. 122
Gambar 19. Kurva Produksi Optimum pada Nelayan Tanpa Mesin ... 123
Gambar 20. Persentase pendapatan nelayan di Maluku Tenggara. ... 122
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Catch, Effort, dan CPUE Nelayan Bermesin di Kabupaten
Maluku Tenggara dari Tahun 1997-2008 190 ... 189 Lampiran 2. Catch, Effort, dan CPUE Nelayan Tanpa Mesin
Tahun 1997-2008 ... 190 Lampiran 3. Regresi nelayan menggunakan mesin 192 ... 191 Lampiran 4. Nelayan tanpa mesin ... 192 Lampiran 5. Analisis optimasi sumber daya perikanan tangkap pada
nelayan mesin Tahun 1997–2008 ... 193 Lampiran 6. Analisis optimasi sumber daya perikanan tangkap pada
nelayan tanpa mesin Tahun 1997–2008 ... 198 Lampiran 7. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
nelayan bermesin Tahun 1997–2008 ... 202 Lampiran 8. Hasil analisis of varians pada nelayan bermesin . ... 202 Lampiran 9 . Analisis partial variabel yang mempengaruhi pendapatan
nelayan bermesin Tahun 1997–2008 ... 202 Lampiran 10 . Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
nelayan tanpa mesin Tahun 1997–2008 ... 202 Lampiran 11. Hasil analisis of varians pada nelayan tanpa mesin ... 202
Lampiran 12 . Analisis partial variabel yang mempengaruhi pendapatan
nelayan tanpa mesin Tahun 1997–2008 ... 202 Lampiran 13 . Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
(gabungan nelayan mesin dan tanpa mesin) ... 203 Lampiran 14 . Analisis of varian yang mempengaruhi pendapatan
(gabungan nelayan mesin dan tanpa mesin) ... 203 Lampiran 15 . Analisis partial variabel yang mempengaruhi pendapatan
(gabungan nelayan mesin dan tanpa mesin) ... 203
Abubakar, M. 2004. Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Tangkap Kota Ternate. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Adisasmita, R. 2006. Pembangunan Kelautan dan Kewilayahan. Graha Ilmu. Yogyakarta. Anwar, A. 2005. Ketimpangan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. P4W .Bogor. Arianto. 2003. Program Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Bidang Ekonomi dan
Kesejahteraan Masyarakat (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara. 2007. Kabupaten Maluku Tenggara
dalam Angka.
Basri, Y.Z. 2007. Bunga Rampai Pembangunan Ekonomi Pesisir. Universitas Trisakti. Jakarta.
Buku Maluku Tenggara Dalam Angka (2007). BAPPEDA dan BPS Kabupaten Maluku Tenggara. Tual.
Chambers, R. 19888. Pembangunan Desa Mulai dari Beakang. LP3ES, Jakarta. Chamsyah, B. 2006. Teologi Penaggulangan Kemiskinan. RMBOOKS. Jakarta.
Chamsyah, B. 2006. Reinventing Departemen Sosial; Dalam Konteks Pembangunan Sosial Indonesia. RMBOOKS. Jakarta.
Dahuri, R. 1998. Strategi Pengelolaan Kawasan Pesisir Indonesia. PKSPL. IPB.
Dahuri, R. Dkk. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
Dinas Kelautan dan Perikanan (2007) Evaluasi Pengeolaan dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Perikanan di Perairan Kabupaten Maluku Tenggara dengan Berbagai Prospek Pengembangan dan Permasalahannya. (Makalah). Disampaikan dalam rangka peaksanaan FKPPS Tingkat Propinsi (2007). Ambon.
Dinas Sosial (2007) Angka Kemiskinan. Kabupaten Maluku Tenggara.
Dunn, W. N. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. PT. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Dwidjowijoto, R. N. 2004. Kebijakan Publik. Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi. PT. Gramedia, Jakarta.
Faradiba. 2006. Analisis Pengelolaan Perikanan Tangkap Secara Optimal Dalam Upaya Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Fauzi, A. 2006. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Teori dan Apikasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Fauzi, A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan. Isu, Sintesis, dan Gagasan. PT. Grafika Mardiyuana. Bogor.
Gustiar, Ch. 2005. Analisis Kelembagaan dan Peranannya Dalam Penataan Ruang Di Teluk Pangpang Kabupaten Banyuwangi. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Heleosi, S. 2006. Kajian Lingkungan Strategik Kebijakan Pembangunan Daerah. Studi Kasus Kebijakan Pembangunan Sektor Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2001-2005. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Imron, M. 2003. Kemiskinan dalam Masyarakat Nelayan, dalam ”Jurnal Masyarakat dan Budaya” Vol. V No. 1/2003. Jakarta, Pusat Peneitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI. Hal 63-82.
IPB. 2008. Pokok Pikiran IPB: Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Untuk Kesejahteraan Rakyat” Disampaikan Dalam Rangka Memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bogor.
Juanda, B. 2007. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. IPB Press.
Kurniawan, I. 2007. Kajian Pengelolaan Sumber Daya Perikanan (Co-Fish Project) dan Dampaknya Terhadap Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Bangkalis. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Lopulalan, Y. 2003. Analisis Ekonomi Kelembagaan Kemitraan Dalam Pemberdayaan Nelayan di Pulau Saparua. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Muhajar. 2005. Kendala Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Pulau-Pulau Kecil Oleh Nelayan Pancing Ulur di Kepulauan Wangi-Wangi. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Muhamad, S. 2002. Ekonomi Rumahtangga Nelayan dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan di Jawa Timur; Suatu Analisis Simulasi Kebijakan. (Desertasi). Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nurfiarini, A. 2003. Kajian Budidaya Perikanan Pesisir dan Pengaruhnya Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Teluk Saleh Kabupaten Dompu. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Pancasasti, R. 2008. Analisis Perilaku Ekonomi Rumahtangga dan Peluang Kemiskinan Nelayan Tradisional. (Tesis). Sekoah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Riswandi. 2006. Analisis Kebijakan Pengembangan Perikanan di Wilayah Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Rustiadi, E. dkk. 2007. Perencanaan Pengembangan Wilayah. Institut Pertanian Bogor. Rustiadi, E. dkk. 2007. Perencanaan Pengembangan Wilayah. Institut Pertanian Bogor. RPJM. 2007. Kabupaten Maluku Tenggara.
Saefulhakim, HRS. 1993. Model Pemetaan Potensi Ekonomi Untuk Perumusan Kebijakan Pembangunan Daerah. Konsep, Metode, Aplikasi, dan Teknik Komputasi. CORDIA (Community and Regional Development Institue of Aqwati). Bogor.
Saaty, TL. 2008. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.
Sinaga, M. B. 2006. Metode Pengumpulan Data. Diktat Bahan Kuliah. Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor.
Subri, M. 2007. Ekonomi Kelautan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Suharto, E. 2003. Paradigma Baru Studi Kemiskinan. http://www.immugm.org/public
html article php?story=2003091119480.
Tangkilisan, HNS. 2005. Kebijakan Publik Asli Indonesia. Fakultas Ekonomi UGM. IPB. Yogyakarta.
Unpatti dan DKP Propinsi Maluku. 2004. Rencana Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil Kabupaten Maluku Tenggara
Widodo J. Dkk. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Gaja Mada University Press. Yogyakarta.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Indonesia dihadapkan pada masalah kemiskinan yang tinggi. Pada tahun 2006, 39,05 juta orang atau 18 persen dari seluruh penduduk Indonesia masih termasuk katagori miskin (BPS, 2006). Angka ini rentan dengan perubahan terutama yang disebabkan oleh krisis ekonomi dan kenaikan harga BBM atau bahan makanan pokok. Pada tahun 1998, ketika mulai krisis ekonomi, angka kemiskinan meningkat dari 11,3 persen pada tahun 1996 menjadi 24,2 persen pada tahun 1998 (BPS, 1998). Hal ini mengindikasikan bahwa tahun 2008 angka kemiskinan Indonesia akan meningkat tajam seiring dengan kenaikan BBM, kenaikan harga CPO dan penurunan inflasi yang tidak disertai pertumbuhan di sektor real (IPB, 2008).
Penduduk miskin Indonesia 63,41 persen diantaranya tinggal di perdesaan (BPS, 2006). Ini berarti, jika pembangunan pedesaan mampu menghapuskan angka kemiskinan penduduk desa, maka penduduk miskin akan berkurang sebanyak 63,41 persen atau 25.046.950 orang. Kondisi yang sama terjadi di desa-desa pesisir. Wilayah desa pesisir meliputi 8.090 buah desa dan menampung 16.420.000 jiwa penduduk yang 32,14 persen diantaranya termasuk katagori penduduk miskin (DKP, 2007 dalam IPB, 2008).
Berdasarkan hal tersebut diatas maka krisis multi dimensi yang terjadi sejak tahun 1998 hingga sekarang dapat berdampak terhadap meningkatnya angka kemiskinan dan jumlah pengangguran, sehingga berbagai upaya perlu dilakukan oleh pemerintah untuk dapat mengatasi krisis tersebut. Alternatif penanganannya adalah dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia secara optimal, guna peningkatan perekonomian, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
terhadap pembangunan ekonomi nasional dan dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat Indonesia terutama masyarakat nelayan dan petani ikan (Subri, 2007).
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan panjang pantai 81.000 km dan memiliki 17.508 buah pulau serta dua pertiga dari luas wilayahnya berupa laut. Indonesia memiliki potensi perikanan yang besar. Potensi ikan lestarinya paling tidak ada sekitar 6,17 juta ton per tahun, terdiri atas 4,07 juta ton di perairan nusantara yang hanya 38 persennya dimanfaatkan dan 2,1 juta ton per tahun berada di perairan Zona Ekonomi Eklusif (ZEE). Potensi ini pemanfaatannya juga baru 20 persen (Dahuri, 2002).
Perikanan, seperti halnya sektor ekonomi lainnya, merupakan salah satu aktivitas yang memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan suatu bangsa. Sebagai salah satu sumber daya alam yang bersifat dapat diperbaharui (renevable), pengelolaan sumber daya ini memerlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh dan hati-hati (Fauzi, 2005).
Kekayaan alam laut Indonesia sangat beragam dan tersebar pada sebagian besar lautan nusantara dan tiap wilayah dengan berbagai macam potensinya, terdiri atas berbagai jenis hasil laut seperti : ikan, cumi, lobster, udang, kepiting, penyu, rumput laut, siput, mutiara, lola, teripang, dan hasil ikutan lainnya, semuanya itu bila dikelolah dan dimanfaatkan secara optimal dengan mempertimbangkan aspek kelestarian maka dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat pesisir dan nelayan.
Maluku Tenggara dengan luas total wilayah ± 55.932 km2, dimana luas daratan ± 4.049 km2 atau 7%, dan luas lautan ± 51.883 km2 atau 93%. Dengan luas wilayah sedemikian maka dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa Kabupaten Maluku Tenggara sebagai kabupaten kepulauan memiliki sumber daya alam perikanan yang potensial untuk dikelolah secara bekelanjutan. Namun sejauh ini aspek pengelolaan sumber daya perikanan belum berjalan efektif dan terkontrol. Nelayan umumnya berusaha untuk memperoleh hasil tangkapan sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan aspek keberlanjutan.
mengakibatkan terjadinya over fishing yang berdampak terhadap kemerosotan stok sumber daya perikanan, serta dapat berdampak terhadap kerusakan lingkungan.
Dengan demikian maka dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap yang tersedia perlu mempertimbangkan aspek keseimbangan lingkungan, sosial, dan ekonomi, sehingga sumber daya perikanan tetap lestari. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan yang mengontrol penggunaan sumberdaya sehingga terhindar dari kelangkaan sumberdaya dan kerusakan ekosistim laut. Yang dapat berakibat terhadap kutukan sumber daya alam, yakni suatu fenomena dimana wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah justru mengalami pertumbuhan yang lamban yang pada akhirnya menyebabkan penduduknya hidup dalam kemiskinan (Fauzi, 2005).
Apabila sumberdaya alam tidak dikelola secara berkelanjutan maka akan berdampak terhadap kelangkaan sumberdaya dan lambat laun akan berdampak terhadap penurunan tingkat kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat, yang mengarah kepada tingkat kemiskinan masyarakat. Hal ini disebabkan karena sumber daya alam sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pokok setiap orang.
Fauzi (2005), mengatakan bahwa permasalahan kemiskinan nelayan lebih disebabkan karena kurang tepatnya kebijakan yang diarahkan pada peningkatan pendapatan yang merupakan turunan dari kurangnya pemahaman masalah kemiskinan itu sendiri. Sumber daya ikan memiliki karakteristik unik yang harus dipahami secara benar sehingga tidak menghasilkan pemahaman mengenai kemiskinan yang keliru (misleading), yang pada akhirnya melahirkan strategi pengentasan kemiskinan yang keliru pula.
Sesungguhnya, ada dua hal utama yang terkandung dalam kemiskinan, yaitu kerentanan dan ketidak berdayaan. Dengan kerentanan yang dialami, orang miskin akan mengalami kesulitan untuk menghadapi situasi darurat. Ini dapat dilihat pada nelayan perorangan misalnya, mengalami kesulitan untuk membeli bahan bakar untuk keperluan melaut. Hal ini disebabkan sebelumnya tidak ada hasil tangkapan yang bisa dijual, dan tidak ada dana cadangan yang dapat digunakan untuk keperluan yang mendesak (Sutrisno, 1995 dalam Subri, 2007).
mandiri. Hal ini dapat mendorong pemerintah daerah untuk dapat berinovasi dalam memperoleh keuangan sebagai masukan dalam peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), agar dapat dipergunakan dalam peningkatan pembangunan daerah. Namun disisi lain dengan mengejar PAD yang sebesar-besarnya maka berimbas terhadap eksploitasi yang tidak terkendali terhadap sumber daya alam sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan terkurasnya sumber daya alam lokal. Hal lain yang juga timbul adalah terjadinya perebutan kepemilikan sumber daya sehingga dapat mengakibatkan konflik sosial ditengah-tengah masyarakat.
Dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) sebagai dana pemberian dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah daerah untuk menopang proses pembangunan di daerah, harus dapat dikelolah dan dimanfaatkan secara tepat dan terkontrol guna peningkatan kualitas pembangunan daerah. Karena dana yang diberikan sangat terbatas maka program kegiatan daerah harus fokus dan terencana secara efisien dan efektif dalam pelaksanaannya, sehingga dana perbantuan yang terbatas tersebut tidak salah digunakan untuk program yang mubazir.
Oleh karena itu analisis kebijakan pada suatu daerah harus dilaksanakan secara tepat dan terarah guna mendapatkan alternatif kebijakan yang dapat diprioritaskan dalam pelaksanaan program pembangunan daerah. Termasuk kebijkan pada sektor perikanan dan kelautan sehingga hasil pembangunan yang dilaksanakan pada sektor tersebut dapat membawa perubahan ke arah lebih baik.
Dalam era desentralisasi saat ini, kewenangan untuk mengurus daerah, termasuk pengelolaan sumber daya alam lokal telah dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Sehingga sektor perikanan sebagai sektor unggulan di Kabupaten Maluku Tenggara harus dapat dikelolah dan dimanfaatkan secara tepat dan berkelanjutan guna memberikan kontribusi yang signifikan dalam proses pembangunan daerah. Karena sektor ini memiliki potensi sumberdaya alam sangat menjanjikan bagi pemanfaatan pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya mayarakat nelayan.
harus ada kebijakan yang dapat mengatur tentang pola pemanfaatan dari sumber daya alam tersebut secara tepat. Agar potensi sumber daya alam tersebut tetap lestari guna pemenuhan kebutuhan umat manusia di masa yang akan datang.
1.2. Perumusan Masalah
Kemiskinan bersifat multidimensi dan multisektor dengan beragam karakteristiknya sesuai kondisi spesifik masing-masing wilayah. Sampai saat ini kemiskinan masih merupakan masalah utama yang harus segera diatasi oleh setiap pemangku kepentingan pada setiap level pemerintahan karena menyangkut harkat dan martabat manusia dan bangsa.
Upaya penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan selama ini, belum dilakukan secara terpadu. Hal ini menunjukan beberapa kelemahan dari penanggulangan kemiskinan pada masa lalu, sehingga perlu dikoreksi secara mendasar, kelemahan tersebut antara lain masih berorientasi pada pertumbuhan makro, kebijakan yang terpusat, cara pandang tentang kemiskinan yang diorientasikan pada ekonomi, menempatkan orang miskin sebagai obyek pembangunan seperti pembebasan uang sekolah, pemberian kartu sehat, kartu miskin, dan bantuan yang bersifat habis pakai. Paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan adalah berdasarkan princip-princip adil-merata, partisipatif, tertib hukum dan saling percaya yang menciptakan rasa aman melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, termasuk di dalamnya pemberdayan ekonomi masyarakat nelayan.
Upaya penanggulangan kemiskinan mensyaratkan adanya identifikasi mengenai siapa, dimana, bagaimana, dan mengapa ada masyarakat miskin, sementara sumber daya alam sangat potensial untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Identifikasi tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam menentukan kebijakan yang paling sesuai dalam penanggulangan kemiskinan.
pertumbuhan ekonomi yang lamban yang pada akhirnya menyebabkan penduduknya hidup dalam kemiskinan? Atau karena sebab-sebab lain? (Fauzi, 2005).
Kabupaten Maluku Tenggara sebagai kabupaten kepulauan yang luas wilayah lautannya lebih besar dari wilayah daratan, dengan memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat melimpah, memberikan peluang bagi masyarakatnya untuk berprofesi sebagai nelayan. Selama ini masyarakat nelayan telah berusaha untuk mempertahankan hidupnya dengan memanfaatkan potensi perikanan yang ada, namun mereka belum mampu keluar dari perangkap kemiskinan. Karena sebagai nelayan lokal mereka hidup dalam keterbatasan sarana prasarana penangkapan ikan secara tradisional. Sehingga mereka tidak mampu melakukan penangkapan ikan pada wilayah laut yang luas dan jauh dari pesisir pantai. Sementara kebanyakan para nelayan yang mempunyai peralatan tangkap moderen berasal dari luar Maluku Tenggara bahkan sebahagian besar nelayan tersebut berasal dari negara lain, seperti : Cina, Thailand, Korea, Philipina, Taiwan dll. Nelayan luar ini yang sering melakukan illegal fishing dan over fishing terhadap sumber daya perikanan yang dapat menyebabkan kelangkaan sumber daya perikanan.
Umumnya nelayan lokal memiliki sarana penangkapan ikan yang tidak memadai sehingga wilayah penangkapan mereka menjadi terbatas. Di samping itu, ketergantungan terhadap musim sangat tinggi dan tidak setiap saat nelayan bisa melaut, terutama pada musim ombak, yang berlansung selama berbulan-bulan. Akibatnya, tidak ada hasil tangkapan yang diperoleh pada saat itu. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan nelayan karena secara riil rata-rata pendapatan perbulan menjadi lebih kecil, dan pendapatan yang diperoleh pada saat musim ikan, akan habis dikonsumsi pada saat paceklik. Rendahnya nilai tukar ikan, mahalnya harga kebutuhan sehari-hari dan besarnya tanggungan keluarga juga merupakan faktor penyebab kemiskinan nelayan.
792.100 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 633.600 ton/tahun (DKP Malra, 2007).
Menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maluku Tenggara yang tertuang dalam buku Kabupaten Maluku Tenggara dalam Angka (2007), menunjukan bahwa produksi perikanan tangkap selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hasil produksi pada tahun 2005 sebesar 131.359,9 ton dengan nilai sebesar Rp. 759.905.525.000, mengalami peningkatan produksi pada tahun 2006, dengan rincian sebagai berikut; untuk ekspor keluar negeri sebesar 112.552 ton, untuk ekspor ke daerah lain di Indonesia sebesar 15.603,3 ton sedangkan untuk kebutuhan pasar lokal sebesar 30.473,9 ton. Total produksi sebesar 158.629,2 ton dengan nilai sebesar Rp. 761.217.270.000. Hal ini menggambarkan bahwa produksi perikanan tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara selalu meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi angka kemiskinan nelayan juga selalu meningkat. Disisi lain sumber daya perikanan di Kabupaten Maluku Tenggara sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama kehidupan para nelayan, tetapi sektor ini belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat nelayan lokal.
Dibawah ini disajikan perkembangan hasil penangkapan dan nilai ikan/ non ikan di Kabupaten Maluku Tenggara.
Tabel 1 Perkembangan hasil penangkapan dan nilai ikan/non ikan menurut kecamatan. data dari tahun 2001 – 2006
9. Kei Besar Utara Timur 10. Kei Besar Selatan
Walaupun memiliki potensi perikanan yang melimpah, dan hasil produksi yang selalu meningkat setiap tahun seperti data diatas, akan tetapi masyarakat nelayan masih rentan terhadap kemiskinan. Hal ini disebabkan karena nelayan lokal umumnya memiliki sarana penangkapan ikan secara tradisonal dan sederhana. Oleh karena itu pendapatan dari hasil tangkapan nelayan lokal sangat terbatas, sehingga untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari sangat tidak mencukupi. Hal ini menyebabkan mereka sulit keluar dari perangkap kemiskinan selama ini.
Angka kemiskinan menurut kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai berikut: Kecamatan Dullah Selatan 14,212%, Kecamatan Dullah Utara 9,726%, Kecamatan Kei Kecil 17,344%, Kecamatan Kei Kecil Barat 3,880%, Kecamatan Kei Kecil Timur 7,884%, Kecamatan Kei Besar 22,020%, Kecamatan Kei Besar Selatan 6,964%, Kecamatan Kei Besar Utara Timur 9,252%, Kecamatan Tayando Tam 4,616%, dan Kecamatan Pulau-Pulau Kur 4,288%, (Dinas Sosial Kab. Malra, 2007).
Disisi lain dengan keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan modal, rendahnya akses informasi dan akses pasar serta rendahnya penguasaan teknologi oleh masyarakat pesisir dalam memanfaatkan sumber daya alamnya menyebabkan mereka hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu pembangunan harus dilaksanakan secara terintegrasi dalam semua aspek dan dapat mengoptimalkan sumber daya alam lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta dapat mengurangi tingkat kerentanan masyarakat miskin.
Secara jujur harus diakui bahwa pendekatan pengelolaan program-program penanggulangan kemiskinan selama ini bersifat sentralistik, karena pemerintah daerah hanya sebagai pelaksana lapangan sekaligus perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan program kemiskinan, sehingga tanggungjawab pemerintah daerah sangat rendah, dan pengendalian pelaksanaan program terlampau lemah, serta mekanisme pelaksanaan kurang transparan dan akuntabel, sehingga para pemanfaat program tidak mampu melakukan kontrol terhadap keefektifan program yang dilaksanakan. Untuk mencapai sasaran dan tujuan penurunan angka kemiskinan, maka perlu adanya strategi yang tepat dalam penaggulangan kemiskinan.
Paradigma pembangunan pada masa lalu lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan fisik material, serta menempatkan manusia sebagai obyek sehingga beresiko terjadinya dehumanisasi dalam pelaku pembangunan. Keberadaan penyandang masalah kemiskinan atau kesejahteraan sosial sebagai obyek pembangunan, memposisikan orang miskin sebagai penerima bantuan sosial yang pasif dan diberikan atas dasar belas kasihan (charity). Paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai subyek pembangunan akan memposisikan orang miskin sebagai pelaku aktif dalam setiap langka kegiatan yang ditujukan pada dirinya dan memberikan apresiasi yang layak terhadap posisi dan sumber daya yang dimilikinya.
Paradigma pembangunan pada masa lalu, terutama pada masa sentralistik, penanganan kemiskinan menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, sedangkan pemerintah daerah cendrung sebagai pelaksana. Pada masa yang akan datang, seiring desentralisasi pembangunan dalam kerangka kebijakan otonomi daerah, maka kebijakan, strategi dan program pemberdayaan orang miskin menjadi kewenangan bersama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, serta adanya pembagian peran yang jelas. Hubungan pusat dengan daerah yang semulah berdasarkan hubungan struktural akan bergeser menjadi hubungan fungsional.
Berdasarkan gambaran kondisi diatas maka dapat ditarik permasalahan sebagai berikut :
2. Bagaimana tingkat pendapatan per kapita masyarakat nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara?.
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara?
4. Bagaimana hubungan tingkat kemiskinan masyarakat nelayan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara?
5. Bagaimana strategi kebijakan dan bentuk program bidang perikanan untuk pengentasan kemiskinan masyarakat nelayan yang telah dijalankan di Kabupaten Maluku Tenggara?
1.3. Tujuan Penelitian.
Tujuan dari penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan diatas, yaitu :
1. Mengetahui bagaimana model pemanfaatan dan pengelolaan potensi sumber daya perikanan tangkap di Kabupaten Maluku Tenggara.
2. Mengetahui tingkat pendapatan per kapita masyarakat nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara.
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara.
4. Menganalisis hubungan tingkat kemiskinan masyarakat nelayan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap.
5. Menganalisis strategi kebijakan dan bentuk program bidang perikanan untuk pengentasan kemiskinan masyarakat nelayan yang telah dijalankan di Kabupaten Maluku Tenggara.
1.4. Manfaat Penelitian
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Analisis Kebijakan.
Analisis kebijakan sebagai sebuah proses “pra-proses-kebijakan”. Analisis kebijakan disini dimaksud sebagai terjemahan dari analysis for policy, bukan analysis of policy. Proses kebijakan adalah proses yang diawali dengan perumusan kebijakan,
dilanjutkan dengan implementasi kebijakan, dan kemudian evaluasi kebijakan. Pada titik ekstrim, analisis kebijakan adalah proses tempat sebuah kebijakan dipikirkan untuk dibuat, dan belum dibuat itu sendiri (Dwidjowijoto, 2006).
Quade (1998) dalam Dwidjowijoto (2006), mengatakan bahwa analisis kebijakan merupakan analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan landasan bagi para pembuat kebijakan dalam mengambil keputusan. Sedangkan menurut Dunn (1998) mengatakan bahwa analisis kebijakan adalah setiap analisis yang menghasilkan informasi sehingga dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan atau keputusan.
Jadi analisis kebijakan lebih berkenan dengan bagaimana pengambil keputusan mendapatkan sejumlah alternatif kebijakan yang terbaik, sekaligus aternatif kebijakan yang terpilih sebagai rekomendasi dari analisis kebijakan atau tim analisis kebijakan. Peran analisis kebijakan adalah memastikan bahwa kebijakan yang hendak diambil benar-benar dilandaskan atas manfaat optimal yang akan diterima oleh publik, dan bukan asal menguntungkan pengambil kebijakan.
Dunn (1998) mendefinisikan analisis kebijakan sebagai disiplin ilmu sosial terapan yang menerapkan berbagai metode penyelidikan, dalam konteks argumentasi dan debat publik, untuk menciptakan dan secara kritis menaksir dan mengkomunikasikan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan. Analisis kebijakan publik adalah sebuah disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan multiple-metode untuk meneliti dan berargumen, untuk memproduk dan mentransformasikan informasi yang relevan dengan kebijakan yang dapat digunakan dalam tatanan politik untuk mengatasi masalah kebijakan.
kebijakan. Analisis kebijakan yang baik mengintergrasikan informasi kualitatif dan kuantitatif, mendekati permasalahan dari berbagai perspektif, dan menggunakan metode yang sesuai untuk menguji fisibilitas dari opsi-opsi yang ditawarkan.
Salah satu akar kemiskinan masyarakat pantai adalah keterbatasan mengakses permodalan yang ditunjang oleh kultur kewirausahaan yang tidak kondisif yang dilandasi sifat usaha yang individual, tradisional, dan subsisten. Keterbatasan modal itu ditandai dengan realisasi penyerapan modal melalui inventasi pemerintah dan swasta selama 25 tahun pembangunan Orde Baru yang hanya 0,02 persen dari keseluruhan modal pembangunan. Konsekuensinya, kebutuhan permodalan nelayan dipenuhi oleh rentenir, tengkulak dan tauke yang dalam kenyataannya secara jangka panjang tidak banyak menolong bahkan mungkin makin menjerat utang masyarakat pantai (Subri, 2007).
Pada kondisi seperti tersebut diatas berakibat potensi sumber daya alam kelautan dan perikanan yang melimpah hingga kini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal sehingga belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan satu program yang menyentuh lansung kepentingan masyarakat pantai sehingga selain dapat meningkatakan kesejahteraan juga mendidik mereka lebih mandiri dan memiliki kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan, (Subri 2007).
2.2. Kemiskinan Nelayan.
Sekalipun batasan konseptualnya dipahami secara berbeda-beda, namun semua orang sepakat bahwa ketika membahas kemiskinan di Indonesia maka pandangan akan tertuju pada sebuah lapisan masyarakat tertentu yang dalam membina kehidupan mereka menghadapi masalah kekurangan sandang, pangan, papan (rumah-tinggal), pendidikan, pelayanan sarana kehidupan (air bersih, lingkungan, kesehatan dan infrastruktur), dan martabat yang rendah, (IPB, 2008).
Todaro (2004), mengatakan bahwa kemiskinan dapat terjadi karena perpaduan tingkat pendapatan per kapita yang rendah dan distribusi pendapatan yang sangat tidak merata. Pada tingkat distribusi pendapatan tertentu, semakin tinggi pendapatan per kapita yang ada, maka akan semakin rendah jumlah kemiskinan. Akan tetapi tingginya tingkat pendapatan per kapita tidak menjamin lebih rendahnya tingkat kemiskinan. Pemahaman tenterhadap hakikat distribusi ukuran pendapatan merupakan landasan dasar bagi setiap analisis masalah kemiskinan di negara-negara yang berpendapatan rendah.
IPB (2008), mengatakan bahwa secara ekonomi, parameter untuk mengukur kemiskinan yang sering digunakan adalah angka pendapatan atau pengeluaran per kapita, ataupun angka produk domestik bruto (PDB) per kapita. Ukuran internasional saat ini ditetapkan oleh bank dunia dengan angka pendapatan per kapita lebih kecil atau sama dengan US$ 2 per hari. Meski ukuran mereka sangat pasti, tetapi pendekatan-pendekatan ekonomi tersebut, dipandang oleh banyak pihak tidak cukup realistik untuk mewakili kondisi kemiskinan yang sebenarnya. Angka-angka tersebut dianggap terlalu mengawang-awang karena diturunkan dari kondisi makro ekonomi suatu negara. Sebagai koreksi, para ahli pangan pertanian mendekati kemiskinan dengan angka asupan energi atau nutrisi per kapita. Pendekatan sosial-budaya, mengukur kemiskinan dari capaian derajat kesehatan, derajat pendidikan, intensitas beban kerja, akses kepada sumber-sumber nafka seperti tanah dan modal. Dari pendekatan sosio-fisikal, kemiskinan diukur dari kemudahan menjangkau pusat-pusat pelayanan dan ketersediaan infrastruktur (listrik, air bersih, telpon, televisi, jalan aspal) bagi kehidupan. Dari perspektif sosio-politik, kemiskinan diukur dari seberapa besar akses kaum miskin dalam menyuarakan hak-hak politiknya. Sementara dari sudut pandang sosio-ekologi, kemiskinan diukur dari seberapa tinggi derajat kenyamanan lingkungan telah dinikmati oleh sebuah lapisan masyarakat dalam kehidupannya.
Rustiadi, dkk, (2007) mengatakan bahwa berbagai upaya menetapakan tolok ukur kemiskinan telah banyak dilakukan oleh banyak pakar, bebarapa tolok ukur yang telah banyak dikenal selama ini adalah:
1. Rasio barang dan jasa yang dikonsumsi (Good-Service Ratio, GSR)
konsumsi jasa. Dengan demikian semakin kecil nilai rasio barang dan jasa yang dikonsumsi, makin tinggi kesejahteraan seseorang. Standar nilai rasio yang digunakan di beberapa tempat sangat bervariasi. Konsep ini memiliki kelemahan selama tidak ada kejelasan perbedaan antara barang dan jasa. Di lain pihak, seringkali kita dihadapkan dengan ketidakjelasan dalam membedakan antara konsumsi dengan biaya. 2. Persentase/Rasio pendapatan yang digunakan untuk konsumsi makanan.
Sebagai kebutuhan pokok yang paling hakiki, konsumsi terhadap makanan akan selalu menjadi prioritas utama dalam konsumsi pola manusia. Konsep ini bertolak dari pemikiran bahwa seseorang akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan konsumsi makanannya sebelum mengkonsumsi komoditi-komoditi lainnya. Seseorang baru akan mengkonsumsi komuditi lainnya setelah terlebih dahulu memenuhi konsumsi makannya. Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi kesempatan mengkonsumsi komuditi selain makanan. Dengan demikian berdasarkan tolok ukur ini semakin rendah persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pendapatan seseorang, semakin tinggi tingkat kesejahteraannya.
3. Pendapatan setara harga beras.
Profesor Sayogyo dari IPB telah membuat ambang batas kemiskinan berdasarkan harga setara beras. Dengan didasarkan pada kebutuhan kalori sebesar 120 kkal/kapita/tahun, ditentukan ambang kemiskinan di desa dan di kota masing-masing jika pendapatannya kurang dari 240 kg/kapita/tahun. Dengan adanya perkembangan, aspirasi masyarakat telah meningkat, sehingga ukuran relatif dari ambang kemiskinan tersebut menurut Profesor Teken perlu ditingkatkan menjadi 360 kg/kapita/tahun untuk perkotaan.
Konsep ini mempunyai beberapa kelemahan karena ; (1) tidak semua masyarakat dan golongan masyarakat di Indonesia memilih beras sebagai makanan pokoknya, (2) terjadinya deferensiasi harga yang terlalu besar terutama di pedesaan, dan (3) harga komuditi beras yang ada tergantung pada harga komuditi yang disubsidi atau kredit dari pemerintah (pupuk, pestisida dan sebagainya).
4. Pemenuhan kebutuhan pokok.
dengan menetapkan kebutuhan baku minimal, kemudian angka kebutuhan baku menimal tersebut dikalikan dengan harga dan ditotalkan sembilan kebutuhan pokok tersebut. Tingkat pengeluaran tiap keluarga dihitung dalam rupiah kemudian baru disusun suatu kriteria perbandingan antara total pendapatan dengan indeks kebutuhan sembilan bahan pokok. Hasil yang diperoleh kurang dari 75% tergolong sangat miskin, 75-100% hampir sangat miskin, 100-125% miskin dan >125% tidak miskin. Konsep ini pun mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah: (1) kesulitan dalam menentuan satuan fisik, kebutuhan minimal karena kebutuhan tiap wilayah beragam, dan (2) sebagian dari sembilan bahan pokok tersebut disubsidi pemerintah dan sebagaian lainnya tidak sehingga kurang homogen.
Pada prinsipnya keempat kriteria tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : (1) semakin besar presentase pendapatan yang dikeluarkan untuk pemenuhan kebutuhan akan barang-barang dibandingkan terhadap jasa maka seseoarang dikatagorikan semakin miskin, (2) semakin besar persentase pendapatan yang dikeluarkan untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan dari pada non pangan maka seseorang dikatagorikan semakin miskin, (3) tingkat pendapatan di bawah batas standar pendapatan tertentu dikatakan miskin, dan (4) semakin rendah kemampuan seseorang untuk memenuhi sembilan bahan pokok maka seseorang dikatagorikan semakin miskin.
Dalam hal penetapan parameter kemiskinan, para akademisi boleh berbeda-beda pandangan, namun substansi yang hendak dicapai tetaplah sama, yaitu mengukur derajat kesejahteraan warga masyarakat di suatu daerah. hal itu wajar terjadi, kemiskinan adalah multi-facet phenomenon. Artinya masalah kemiskinan ternyata memiliki banyak dimensi
yang pengukurannya bisa beragam. Dimensi sosial-budaya, ekonomi, politik, sains dan tehnologi, serta dimensi lainnya akan menghasilkan peta kemiskinan dengan variasi beraneka, meski tetap menunjuk pada lapisan yang seringkali sama.
1998). Hal ini mengindikasikan bahwa pada tahun 2008 angka kemiskinan Indonesia akan meningkat tajam seiring dengan kenaikan BBM, kenaikan harga CPO dan penurunan inflasi yang tanpa disertai pertumbuhan di sektor real.
Penduduk miskin di Indonesia 63,41 persen diantaranya tinggal di pedesaan (BPS, 2006). Ini berarti, jika pembangunan pedesaan mampu menghapus angka kemiskinan penduduk desa, maka penduduk miskin akan berkurang sebanyak 63,41 persen atau 25.046.950 orang. Kondisi yang sama terjadi di desa-desa pesisir. Wilayah desa pesisir meliputi 8.090 buah desa dan menampung 16.420.000 jiwa penduduk yang 32,41 persen diantaranya termasuk katagori penduduk miskin (DKP, 2007 dalam IPB, 2008).
Fauzi (2005), mengatakan bahwa hampir sebagian besar nelayan kita masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan kurang dari US$ 10 per kapita perbulan. Jika dilihat dalam konteks Millenium Devolopment Goal, pendapatan sebesar itu sudah termasuk dalam extreme poverty, karena lebih kecil dari US$ 1 per hari. Pelaku perikanan, khususnya mereka yang berskala kecil (perikanan pantai), masih tergolong masyarakat miskin. Hasil perhitungan COREMAP di 10 propinsi menunjukkan bahwa pendapatan nelayan pada tahun 1996/1997 masih berkisar antara Rp 82.000 sampai Rp 200.000 per bulan. Jumlah tersebut masih jauh dari upah minimum regional (UMR) yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp 380.000 pada tahun yang sama.
Kemiskinan masyarakat pesisir bersifat multi dimensi dan disebabkan oleh tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat, antara lain kebutuhan akan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, infrastruktur (DKP, 2005:10). Disamping itu, kurangnya kesempatan berusaha, kurangnya akses terhadap informasi, tehnologi dan permodalan, budaya dan gaya hidup yang cendrung boros, menyebabkan posisi tawar masyarakat miskin semakin lemah. Pada saat yang sama, kebijakan Pemerintah selama ini kurang berpihak pada masyarakat pesisir sebagai salah satu pemangkuh kepentingan di wilayah pesisir, (Basri, 2007). Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB tahun 1996 dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa pendapatan rumah tangga nelayan di desa pesisir Lombok bagian barat berkisar antara Rp 210.540 – 643.510 per tahun (Samodra, 2000 dalam Basri, 2007).
rendahnya kepemilikan alat tangkap di satu sisi sedang di sisi lain faktor ketidakberdayaan posisi tawar atas hasil tangkap serta minimnya modal menjadi penyebab utama terjadinya kemiskinan nelayan di pantai selatan propinsi Banten, yang tercakup atas tiga jenis pekerjaan utama nelayan yaitu menangkap ikan, mengolah ikan, dan memasarkan ikan, (Mulyadi, 2005 dalam Basri, 2007).
Beberapa faktor yang menyebabkan kemiskinan nelayan antara lain : rendahnya tingkat tehnologi penangkapan, kecilnya skala usaha, belum efisiennya sistim pemasaran hasil dan status nelayan yang sebagian besar adalah buruh. Dalam mengukur tingkat kesejahteraan nelayan ada beberapa indikator yang digunakan, seperti indikator Perubahan Pendapatan Nelayan dan Indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN). Konsep yang dilakukan Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (P3K) dalam melakukan penyusunan indikator kesejahteraan masyarakat pesisir adalah dengan menggunakan konsep pemetaan kemiskinan (Poverty Mapping), (Basri, 2007).
Indikator kesejahteraan nelayan yang terangkum dalam nilai kukar nelayan (NTN) masih dapat dipertahankan sebagai salah satu referensi dasar yang amat berharga untuk merumuskan kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Untuk mempertajam analisis dan kebijakan pemberdayaan masyarakat nelayan, indikatot NTN masih perlu disandingkan dan dilengkapi dengan data dasar dan indikator kemiskinan nelayan di daerah pesisir dan kawasan pantai di Indonesia.
Menurut Ditjen P3K, (2004) dalam Basri (2007), bahwa pengukuran indikator kesejahteraan dilakukan pada aspek :
1. Kesejahteraan rakyat ;
(a) Tingkat kesehatan, (b) pendidikan, (c) tenaga kerja, (d) mortalitas dan fertilitas, (e) perumahan, (f) pengeluaran konsumsi rumah tangga.
2. Nilai tukar nelayan (NTN).
3. Kemiskinan pada masyarakat pesisir pantai ;
(a) Penerimaan, (b) pengeluaran konsumsi rumah tangga. 4. Peta kemiskinan ;
2.3. Kondisi Rumah Tangga Nelayan
Di pedesaan, pola kegiatan rumah tangga selama ini telah berkembang seiring dengan proses pembangunan pedesaan dan proses industrialisasi. Salah satu yang dapat dipahami bahwa sumbangan relatif lapangan kerja pada sektor pertanian secara hipotesis semakin menurun dengan semakin berkembangnya proses industrialisasi dan urbanisasi. Demikian juga dengan kegiatan rumah tangga pertanian (farm households) juga berkembang dan berubah secara dominan dengan kegiatan utama pada sektor pertanian. Namun, karena berbagai keterbatasan, seperti semakin berkurangnya kepemilikan lahan, semakin pendeknya siklus pertanian akibat dari kemajuan iptek pertanian, siklus pertanian yang dihadapi oleh rumah tangga tani memiliki peluang tambahan waktu yang dapat digunakan pada kegiatan lain untuk mengisi lapangan pekerjaan di pedesaan selain mengusahakan pertanian, (Subri, 2007).
Selanjutnya Subri (2007), mengatakan bahwa dalam konteks rumah tangga nelayan, persoalannya jauh lebih kompleks bila dibandingkan dengan rumah tangga tani konvensional. Walaupun dalam sensus sektor perikanan merupakan subsektor dari portanian, keberadaan rumah tangga nelayan memiliki ciri khusus bila dibandingkan dengan rumah tangga tani. Perbedaaan ini sangat penting dikemukakan mengingat berbagai ciri yang muncul dari kedua rumah tangga ini. Pertama, rumah tangga tani dan petani tambak mengandalkan tanah yang terbatas sebagai salah satu faktor produksi. Sementara rumah tangga nelayan mengandalkan wilayah pesisir sebagai suatu faktor produksi. Kedua, pada rumah tangga tani lahan terbatas penguasaannya, sedangkan laut bagi rumah tangga nelayan adalah tidak dibatasi oleh batas-batas teritorial administrasi. Ketiga, petani dalam proses produksinya terikat dengan musim, sementara rumah tangga
nelayan sarat dengan siklus bulan (Mashuri, 2001 dalam Subri, 2007).
lapangan pekerjaan yang tinggi resionya, wanita sulit untuk terlibat dalam penangkapan ikan karena sangat bertentangan dengan waktu pengasuhan anak-anak, (Subri, 2007).
2.4. Kemiskinan dan Problematik Masyarakat Pesisir di Indonesia.
Kemiskinan merupakan suatu kondisi hidup yang merujuk pada keadaan kekurangan. Sering pula dihubungkan dengan kesulitan dan kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Seseorang dikatakan miskin, bila sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Selama ini, sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Selain itu kemiskinan sering juga didefinisikan sebagai situasi serba kekurangan dari penduduk yang terwujud dalam dan disebabkan oleh terbatasnya modal yang dimiliki, rendahnya pengetahuan dan ketrampilan, rendahnya produktivitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar hasil produksi orang miskin dan terbatasnya kesempatan berperan serta dalam pembangunan, (Chamsyah, 2006)
Selanjutnya menurut Chamsyah (2006), bahwa kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) kemiskinan absolut dan (b) kemiskinan relatif. Sedangkan berdasarkan polahnya kemiskinan dibagi menjadi 4 (empat) yaitu : Pola pertama, kemiskinan yang digolongkan sebagai persistent poverty, yaitu kemiskinan yang telah kronis. Kemiskinan pola ini adalah kemiskinan yang berlangsung lama dan turun temurun. Atau disebut juga sebagai kemiskinan struktural, seperti fakir-miskin yang termasuk kemiskinan kronis.
Kemiskinan merupakan suatu konsep yang cair, dan bersifat mulitidimensional. Disebut cair, karena kemiskinan bisa bermakna subyektif, bermakna relatif, tetapi sekaligus juga bermakna absolute. Sedangkan disebut multidimensional, selain kemiskinan itu dapat dilihat dari sisi ekonomi, juga dari segi sosial, budaya dan politik (Nugroho, 1995).
Kemiskinan subyektif adalah suatu bentuk kemiskinan yang lebih berkaitan dengan aspek pshikis, yaitu berkaitan dengan perasaan miskin yang dialami oleh pelakunya. Karena berkaitan dengan perasaan, maka kemiskinan subyektif itu lebih tepat disebut sebagai kemiskinan yang sifatnya psikhologis. Dalam kemiskinan yang seperti ini, perasaan miskin itu muncul karena beberapa sebab. Sebab yang paling umum adalah karena pelaku merasa tidak dapat memenuhi kebutuhannnya, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Walaupun secara obyektif kondisi kemiskinan lebih berkaitan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan primer, namun definisi tentang kebutuhan yang mana yang termasuk dalam kebutuhan primer, dan mana yang termasuk dalam kebutuhan sekunder, menjadi relatif antara individu yang berbeda. Perasaan miskin itu juga muncul karena merosotnya kondisi ekonomi yang dialami oleh suatu keluarga, dari kondisi ekonomi yang lebih tinggi ke kondisi ekonomi yang lebih rendah.
Kemiskinan relatif adalah suatu bentuk kemiskinan yang didasarkan pada perbandingan dengan kondisi ekonomi yang berada di luarnya, baik pada perbandingan dengan kondisi ekonomi orang lain yang ada di sekitarnya, atau didasarkan pada kondisi ekonomi masyarakat yang ada di daerah lain. Dengan demikian kemiskinan relatif itu terkait dengan masalah kesenjangan, yaitu suatu kondisi ketidakmerataan yang ada di masyarakat. Adapaun kesenjangan itu secara umum dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu kesenjangan struktural dan kesenjangan kultural.
kemiskinan jenis ini sangat terkait dengan aspek pshikis, jika penilain perbandingan itu berasal dari dalam diri pelakunya. Sebaliknya kemiskinan relatif dapat bersifat objektif, jika penilaian perbandingan itu berasal dari luar diri pelakunya.
Berbeda dengan dua jenis kemiskinan yang lain, kemiskinan objektif (kemiskinan absolute) didasarkan pada nilai-nilai objektif yang digunakan untuk mengukur garis batas kemiskinan. Dalam hal ini, secara umum suatu keluarga dikatakan miskin apabila keluarga itu tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara kondisi fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien (Harjosuwarno dan Mardimin 2000 dalam Basuki, 2007). Untuk itu perhitungan kemiskinan didasarkan pada tingkat nutrisi
yang dikonsumsi, sehingga dapat memenuhi jumlah kalori yang dibutuhkan untuk bekerja. Pendeskripsian kemiskinan secara obyektif yang dikemukakan oleh para ahli secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Pada umumnya konsep kemiskinan lebih banyak dikaitkan dengan dimensi ekonomi. Dalam dimensi ekonomi, kemiskinan sangat mudah dapat dilihat dan menjelma dalam bentuk ketidak-mampuan suatu keluarga dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia, seperti pangan, sandang, perumahan dan kesehatan.
Dilihat dari dimensi sosial budaya, kemiskinan lebih sulit untuk diukur, dan tidak dapat dihitung dengan angka-angka. Meskipun demikian, dimensi sosial budaya dari kemiskinan itu dapat diihat dan dirasakan, karena muncul dalam bentuk budaya kemiskinan. Dalam kondisi tertentu akan ada respon tertentu yang dilakukan oleh masyarakat miskin dalam menyikapi hidup, seperti boros dalam membelanjakan uang, mudah putus asa, merasa tidak berdaya, dan apatis (Lewis dalam Ancok, 1995).
Tabel 2 Kriteria dan garis kemiskinan
Garis Kemiskinan Penelitian Kriteria