STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011
SKRIPSI
Oleh :
PANDY SETIAWAN
NIM. K4608031
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
Juli 2012
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Pandy Setiawan
NIM : K 4608031
Jurusan/Program Studi : JPOK/ PENJASKESREK
menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “STUDI KASUS KLUB SEPAK
BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 – 2011” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini
hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, 4 Juli 2012
Yang membuat pernyataan
Pandy Setiawan
iii
STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011
Oleh :
PANDY SETIAWAN
NIM. K4608031
Skripsi
diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
iv
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Surakarta, 4 Juli 2012
Pembimbing I
Drs.H.Sunardi, M.Kes NIP. 19581121 199003 1 004
Pembimbing II
Drs.Agus Mukholid, M.Pd NIP. 19640131 198903 1 001
v
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Hari : Rabu
Tanggal : 25 Juli 2012
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. Waluyo, M.Or ...
Sekretaris : Waluyo, S.Pd, M.Or ...
Anggota I : Drs. H. Sunardi, M.Kes ...
Anggota II : Drs. Agus Mukholid, M.Pd ...
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Pembantu Dekan I,
Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si
NIP 19660415 199103 1 002
vi
ABSTRAK
Pandy Setiawan. STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO
TAHUN 2006 – 2011. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo. (2) keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis Solo. (3) pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis Solo. (4) keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo. (5) anggaran dana yang dikelola oleh Klub Sepak Bola Persis Solo. (6) prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo.
Bentuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini digunakan strategi studi kasus terpancang tunggal yaitu sasaran yang akan diteliti sudah dibatasi dan ditentukan serta terpusat pada satu lokasi yang mempunyai karakteristik tersendiri. Sumber data yang digunakan adalah sumber benda, tempat, peristiwa, informan, dan dokumen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan tujuan penelitian, dimana peneliti memilih informan yang dipandang mengetahui permasalahan secara mendalam serta dapat dipercaya. Dalam penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan dua teknik trianggulasi yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, yaitu proses analisis yang bergerak diantara tiga komponen yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Persis Solo berdiri tahun 1923 dengan nama Vorstenlandche Voetbal Bond (VVB) atas usulan Soemokartiko kemudian diganti dengan Persatuan Sepakbola Indonesia Surakarta (PERSIS). (2) Keadaan organisasi dan manajemen Persis Solo sudah memiliki unsur yang baik dan melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya. (3) Pelatih yang dimiliki Persis Solo adalah seorang yang berkompeten dalam bidang olahraga dan rencana latihan dibuat secara terprogram dan atlet fokus dalam latihan. (4) Persis Solo telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai yaitu memiliki stadion Manahan untuk pertandingan, stadion Sriwedari untuk latihan, mess atlet dan pelatih, kantor sekretariat dan balai Persis. (5) Pada tahun 2006-2007 Persis Solo masih ditopang oleh dana APBD Pemkot Surakarta. Tetapi setelah itu sudah lepas dari dana tersebut, sehingga sumber dana yang diperoleh dari sponsor, kerja sama dengan pihak swasta, sumbangan dari pemerintah atau swasta yang tidak mengikat dan dari dewan penyatun yayasan, dsb. (6) Prestasi yang dimiliki Persis Solo setiap tahunnya berbeda-beda. Prestasi Persis Solo dipengaruhi oleh pemain-pemain yang berkualitas yang sangat berhubungan dengan adanya dana yang dimiliki.
Simpulan penelitian ini adalah PERSIS telah meiliki unsur-unsur yang memadai sebagai sebuah klub sepak bola. Tetapi yang menjadi kendala adalah kekurangan dana yang menghambat prestasi serta program kerja dari PERSIS
vii
ABSTRACT
Pandy Setiawan. STUDY CASE OF PERSIS SOLO FOOTBALL CLUB IN
YEARS 2006 TO 2011. Thesis. Surakarta: Faculty of Education and Pedagogy University of Surakarta of March. July 2012.
This study aims to determine: (1) History of Persis Solo Football Club. (2) The state of organization and management of Persis Solo Football Club. (3) Coaches and athletes training program of Persis Solo Football Club. (4) The state of facilities of Persis Solo Football Club. (5) Budget funds managed by Persis Solo Football Club. (6) Achievement attained by Persis Solo Football Club.
The methodology of this research was qualitative descriptive. On this research used a single fixed case study which the object would be observed has limited and centralized on certain location which has special characteristics. The data sources used were the source object, places, events, informants and documents. The technique of collecting data used were observation, interviews, and documents analysis. The technique of sampling used was purposive sampling is getting sampling based on the purpose of the research, the place where the researcher choose informant who know the issues deeply and can be trusted. In this research used two triangulation techniques to find out the validity of the data namely triangulation data and triangulation method. Technique of analyzing data used was interactive analysis which the analysis process that moves between three components there was data reduction, data presentation and verification or inference which took place in a cycle.
Based on this research can be concluded: (1) Persis Solo was established in 1923 under the name Vorstenlandche Voetbal Bond (VVB) on a proposal Soemokartiko then replaced with the Football Association of Indonesia (EXACTLY) Persis Solo was the first football club in Surakarta. (2) The state of organization and management of Persis Solo already has elements of good and perform tasks according to their field. (3) Coach owned Persis Solo was a competent in the field of sport and exercise plan created programmatically and athletes focus on training. (4) Persis Solo already has adequate infrastructure that is Manahan international stadium for the match, the stadium Sriwedari to exercise, athletes and coaches’s mess, secretariat offices and halls Persis. All these facilities can be utilized to the maximum extent possible. (5) In the year 2006-2007 Persis Solo was supported by the municipal budget funds Surakarta. But after it was out of the fund, so the source of the funds obtained from the sponsor, in collaboration with the private sector, donations from governments or private non-binding and of the council foundation, etc... (6) Performance Persis Solo held every year is different. Persis Solo achievements are influenced by the quality players that are highly correlated with the presence of their own funds. If the player will take a quality course, will spend the greater. But with the quality players that will create a pretty good accomplishment.
viii
MOTTO
Kewajiban kita hanya dua, berusaha semaksimal mungkin, dan selebihnya kita
serahkan kepada yang diatas #
Motivasi paling sederhana adalah mimpimu sendiri. (Sonnya K.A) #
Allah akan selalu merangkulmu jika kamu manusia kuat dan pantang menyerah
(Penulis) #
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah
selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)
yang lain, dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap (Q.S-Insyirah
6-8).#
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit
kembali setiap kali kita jatuh. (Penulis) #
ix
PERSEMBAHAN
Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk :
“Bapak dan Ibu”
Yang selalu mendo’akan, memberikan semangat, membelajarkan arti
tetang kehidupan, bapak ibulah yang membuat saya dapat berjalan sejauh
ini dan bapak ibulah yang selalu menginspirasi kehidupan saya.
“ Putri Nugrahaningsih dan Alicia Chelsea Ali”
Terimakasih kakakku dan keponakanku karena selalu memberikan
dukungan, perhatian, dan semangat
“My Spirit Oct’, “Sonya .K.A”
Orang yang selama ini di belakangku memberikan dorongan semangat
dan motivasi.
“Teman Seperjuanganku Penjas 2008 ”
Terimakasih sahabat-sahabatku sampai kapanpun saya tidak akan
melupakan kaliyan semua, kebaikan, perjuangan, semangat, canda tawa,
kebersamaan kita akan aku ukir dalam kehidupanku.
“Ino, Shomad, Andhica, Bayu, Prabowo, Bastian, Heiradhika, Prima,
Ayik, Anang, Dkk.”
Terimakasih kawan atas semangat, perjuangan, dan kerjasamanya.
x
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang
memberi ilmu dan, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA
PERSIS SOLO TAHUN 2006 – 2011 ”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan
dan Rekreasi, Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari
bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan
pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terimakasih
kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.
3. Ketua Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Jurusan
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Drs.H.Sunardi, M.Kes., selaku Pembimbing I, yang selalu memberikan
motivasi dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Drs.Agus Mukholid, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang selalu memberikan
pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Pimpinan PERSIS Solo, yang telah memberi kesempatan dan tempat guna
pengambilan data dalam penelitian.
7. Sapto Joko Purwadi, S.Pd., selaku pengurus PERSIS Solo yang telah memberi
bimbingan dan bantuan dalam penelitian.
8. Pelatih PERSIS Solo yang telah bersedia untuk berpatisipasi dalam
pelaksanaan penelitian ini.
9. Seluruh Pemain PERSIS Solo yang telah berkenan membantu dan
xi
10. Semua pihak dan sahabat-sahabat saya yang turut membantu dalam
penyusuan skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan
karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi
ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Surakarta, Juli 2012
Penulis
xiii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data...
1. Sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo...
2. Keadaan Organisasi dan Manajemen Klub Sepak Bola
Persis Solo...
3. Pelatih, Program Latihan dan Atlet Klub Sepak Bola
Persis Solo...
4. Keadaan Sarana dan Prasarana Klub Sepak Bola Persis
Solo...
5. Anggaran Dana dan Sumber Dana Persis Solo...
6. Prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo...
B. Pembahasan...
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1
2.
3.
4.
5.
6.
Bentuk-bentuk Gambar Organisasi..……….
Lapangan Sepak Bola………..
Alur Kerangka Berpikir………
Teknik Analisa Data……….………
Prosedur Penelitian………...
Alur kerja manajemen...
14
34
39
55
56
68
xv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.
2.
3.
Waktu Penelitian.....……….
Daftar Pelatih Persis Solo Dari Tahun 2006-2011...
Prestasi Persis Solo tahun 2006-2011………..
41
69
76
xvi
Peraturan Organisasi Pengurus Cabang PSSI Surakarta...
Hasil Musyawarah Cabang 1 PSSI Surakarta ) PERSIS
SOLO...
Pengajuan Judul...
Validasi Proposal Skripsi...
Permohonan Ijin Menyusun Skripsi...
Surat Keputusan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan...
Permohonan Ijin Research / Try Out...
Permohonan Ijin Research / Try Out...
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada masa globalisasi sekarang ini olahraga sangat penting bagi manusia.
Bukan hanya untuk kesehatan tapi juga menggalang kebersamaan antar kelompok
serta semangat persatuan. Olahraga mempunyai arti yang penting dalam usaha
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia. Dalam diri manusia terdapat dua aspek, yaitu aspek
jasmani dan aspek rohani. Bila kedua aspek tersebut tumbuh dan berkembang
secara selaras dan seimbang maka, akan timbul kehidupan yang harmonis antar
keduanya. Keselarasan kehidupan jasmani dan rohani pada manusia dapat dicapai
dengan melakukan olahraga. Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi lancar sehingga distribusi dan
penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan efisien. Olahraga juga
merupakan suatu perilaku aktif yang menggiatkan metabolisme dan
mempengaruhi fungsi kelenjar di dalam tubuh untuk memproduksi sistem
kekebalan tubuh dalam upaya mempertahankan tubuh dari gangguan penyakit
serta stress.
Sepak bola adalah salah satu olahraga yang banyak digemari oleh
masyarakat Indonesia dan yang sangat populer di dunia. Istilah yang diberikan
kepada sepak bola bervariasi. Untuk negara Inggris menyebut sepak bola dengan
football, sementara untuk beberapa wilayah lain menyebutnya dengan soccer.
Sedangkan pada negara Latin menyebutnya dengan istilah futbol atau futebol. Di
Skandinavia menyebut sepak bola dengan bahasa Jerman yaitu fussball dan
dengan bahasa Belanda adalah voetbal. Bagi orang Italia permainan ini disebut
dengan calcio(Agus Salim, 2008:9-10).
Menurut Eric G. Batty (1986:4) “ Sepak bola adalah sebuah permainan
sederhana, dan rahasia dari permainan sepak bola yang baik adalah melakukan
yang dimainkan oleh dua tim dengan masing-masing beranggotakan sebelas
orang. Dalam pertandingan, olahraga ini dimainkan oleh dua kelompok
berlawanan yang masing-masing berjuang untuk memasukkan bola ke gawang
kelompok lawan. Waktu permainan sepak bola adalah dua kali 45 menit.
Sejarah sepak bola di Indonesia diawali dengan berdirinya Persatuan
Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta pada 19 April 1930 dengan
pimpinan Soeratin Sosrosoegondo. Dalam kongres PSSI di Solo, organisasi
tersebut mengalami perubahan nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh
Indonesia. Sejak saat itu, kegiatan sepak bola semakin sering digerakkan oleh
PSSI dan makin banyak rakyat bermain di jalan atau alun-alun. Dalam
perkembangannya. Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat
daerah-daerah di seluruh Indonesia. Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi
olahraga dari rakyat dan untuk rakyat. Dalam perkembangannya, PSSI telah
menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat kongres FIFA di
Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula
menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952
PSSI telah memperluas kompetisi sepak bola dalam negeri, di antaranya
dengan penyelenggaraan Liga Super Indonesia, Divisi Utama, Divisi Satu, dan
Divisi Dua untuk pemain non amatir, serta Divisi Tiga untuk pemain amatir.[16]
Selain itu, PSSI juga aktif mengembangkan kompetisi sepak bola wanita dan
kompetisi dalam kelompok umur tertentu (U-15, U-17, U-19, dan U-23).
PERSIS Solo merupakan klub sepak bola kebanggaan masyarakat
Surakarta. PERSIS Solo mempunyai kelompok pendukung/suporter yang bernama
Pasoepati (Pasukan Soeporter Paling Sejati) dan PERSIS Solo adalah tim
kebanggan saya.PERSIS Solo adalah klub sepak bola yang didirikan pada tahun
1923 di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Awal berdirinya tidak langsung
menggunakan nama PERSIS Solo, melainkan masih bernama Vorstenlandsche
Voetbal Bond (VVB), semacam perserikatan sepak bola. Dan pada tahun 1928,
Vorstenlandsche Voetbal Bond resmi berganti nama menjadi PERSIS Solo.
PERSIS Solo adalah raksasa sepak bola Indonesia pada masa lalu, PERSIS
hanya berlangsung hingga akhir 1940-an, setelah ini tim ini terdegradasi hingga
Devisi 3. PERSIS kembali hadir di kancah sepak bola Indonesia sejak tahun 2006.
Pada musim 2006 PERSIS berhasil menjadi runner up ketika bermain di Divisi
Satu Liga Indonesia. Atas prestasi ini PERSIS promosi ke Divisi Utama pada
musim kompetisi 2007-2008. Divisi Utama Liga Indonesia adalah kompetisi
tingkat 2 dalam Liga Indonesia, di bawah Liga Super Indonesia. Sebelum tahun
2008, Divisi Utama adalah kompetisi tingkat teratas.
Dalam perkembangan dan prestasi yang diraih oleh PERSIS Solo tidak
terlepas dari peran manajemen, pengurus organisasi, pelatih serta kempuan dari
atlet sendiri serta sarana dan prasarana yang mendukung. Sistem manajemen dan
kepengurusan suatu organisasi nantinya akan mempengaruhi kematangan dalam
perkembangan klub yang ada dibawah organisasinya. Pola latihan dan strategi
yang diterapkan oleh pelatih juga memiliki peran yang sangat penting khususnya
performa altet dalam pertandingan yang dilakukan oleh PERSIS Solo. Selain
menyusun program latihan, strategi dan taktik pemain pelatih juga perlu
melakukan evaluasi setelah latihan atau pertandingan. Serta selalu meningkatkan
pengetahuan atlet secara teoritis maupun praktek (Sudjarwo, 1995:9). Banyak
faktor secara ekstern dan intern yang mempengaruhi perkembangan klub PERSIS
Solo. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian untuk menggali informasi
yang berguna untuk meneliti faktor-faktor tersebut.
Dari beberapa permasalahan diatas penulis berusaha untuk meneliti
tentang perkembangan dan eksistensi Klub sepak bola kebanggaan warga Solo ini
selama 5 tahun terakhir. Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian dengan
judul “ Studi Kasus Klub Sepak Bola Persis Solo Tahun 2006-2011”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapat rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo?
2. Bagaimana keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis
Solo?
3. Bagaimana pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis
Solo?
4. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo?
5. Bagaimana anggaran dana dan sumber dana yang dikelola oleh Klub
Sepak Bola Persis Solo?
6. Bagaimana prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo?
C. Tujuan Penelitian
Dengan perumusan masalah diatas maka dapat diperoleh suatu tujuan
penulisan ini adalah untuk mengetahui :
1. Sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo
2. Keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis Solo
3. Pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis Solo
4. Keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo
5. Anggaran dana dan sumber dana yang dikelola oleh Klub Sepak Bola
Persis Solo
6. Prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya tentang Klub sepak bola Persis Solo.
b. Dengan penelitian membrikan masukan dan sumbangan kepada pembaca
supaya dapat digunakan sebagai tambahan bacaan dan sumber data dalam
2. Manfaat Praktis
a. Memenuhi salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
b. Untuk memberikan bahan masukan dan sumbangan kepada pihak terkait
dalam mengembangkan klub sepak bola Persis Solo.
c. Sebagi referensi bagi pemecahan permasalahan yang relevan dengan
penelitian ini.
6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Sepak Bola
a. Pengertian Sepak Bola
Sepak bola, menurut pendapat beberapa ahli dan berbagai displin
ilmu adalah sebagai berikut:
1) Sepak bola adalah olah raga permainan beregu, dilapangan menggunakan
bola sepak dari dua kelompok yang berlawanan yang masing-masing
terdiri dari 11 pemain berlangsung selama 2x45 menit, kemenangan
ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan (kamus Besar
Bahasa Indonesia, 2002).
2) Sepak bola adalah sebuah permainan yang sederhana, dan rahasia
permainan sepak bola yang baik ialah melakukan hal-hal sederhana
dengan sebaik-baiknya (Eric C Batty, 1986:5).
3) Sepak bola adalah permainan beregu yang dimainkan oleh dua buah regu,
masing-masing regu terdiri dari sebelas orang pemain termasuk seorang
penjaga gawang. Hampir seluruh permainan dilakukan dengan
keterampilan mengolah bola dengan kaki, kecuali penjaga gawang dalam
memainkan bola bebas menggunakan seluruh bagian atau anggota
badannya dengan kaki atau tangannya ( Soekatamsi, 2000:11).
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan
pengertian sepakbola adalah cabang olahraga permainan beregu, yang
dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu terdiri dari sebelas orang
pemain. Permainan ini dimainkan dalam dua babak, setiap babak lamanya
45menit dengan waktu istirahat 15 menit yang dipimpin oleh wasit dan
dibantu oleh hakim baris, setiap pelanggaran ada sangsinya. Oleh karena itu
pemain diharapkan memelihara sportivitas. Regu yang paling banyak
memasukkan bola ke gawang lawan adalah pemenangnya.
b. Sejarah Sepak Bola
Perkembangan sepak bola semakin menunjukkan sisi positifnya
dalam membangun mental dan fisik masyarakat. Sepak bola menjadi ajang
pembuktian jati diri serta media kompetisi yang sehat antar masyarakat.
Karena perkembangan ini, kemudian sering diselenggarakan
pertandingan-pertandingan dengan mempertemukan dua tim untuk
membuktikan pihak mana yang terbaik. Meski dengan ketentuan-ketentuan
permainan masih terformat dalam bentuk yang sederhana.
Formasi atau bentuk ketentuan modern dari permainan sepak bola
dimulai pada abab ke-19 di inggris. Ketika itu para kalangan muda
terpelajar di sekolah-sekolah umum dan universitas, seperti Universitas
Cambridge, london memperkenalkan permainan sepak bola dengan
menggunakan format dan peraturan sebagaimana permainan sepak bola
yang kita kenal sekarang. Peraturan ini terkenal dengan nama “Cambridge
rules of football”. Di luar sekolah dan universitas sepak bola timbul dan
berkembang dengan pasal, tetapi tidak mau menggunakan peraturan yang
sudah ada. Pada tanggal 26 oktober 1863 perkumpulan-perkumpulan yang
ada diluar sekolah dan universitas mendirikan sebuah badan yang disebut “
The Football Associations”. Badan ini menyusun peraturan permainan
sepak bola pada tanggal 8 desember 1863, sehingga timbullah permainan
sepakbola modern, yang dalam perkembangannya mengalami
perombakan-perombakan sangat pesat. Jadi dikatakan bahwa sepak bola modern berasal
dari inggris.
Pada abab ke-20 sepak bola telah menjadi olahraga paling digemari
di dunia. Beberapa negara telah menyelenggarakan pertandingan setingkat
turnamen yang melibatkan beberapa tim nasional negara-negara yang
bergabung dalam satu kawasan seperti turnamen sepak bola untuk kawasan
Britania Raya yang diikuti oleh tim inggris, Skotlandia, Irlandia dan Wales.
Demikian halnya yang diselenggarakan di kawasan eropa tengah yang
melibatkan tim negara Jerman, Austria dan Hongaria.
Dengan perkembangan yang semakin pesat itu, maka mulai timbul
ide untuk membentuk badan sepak bola dunia. Setelah dilakukan pertemuan
dan perundingan dari beberapa negara maka badan sepak bola dunia berdiri
pada tahun 1904. Badan itu bernama “Federation International de Football
Associations” disingkat FIFA yang bermarkas di kota Zurich, Swiss.(Agus
Salim, 2008).
c. Perkembangan Sepak Bola di Indonesia
Organisasi sepak bola di Indonesia yang menangani adalah
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia ( PSSI). PSSI ini berdiri pada 19
April 1930 di Jogjakarta. Pada awal berdirinya PSSI sendiri adalah
singkatan dari Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia. Kemudian dalam
konggres PSSI di Solo tahun 1950, PSSI diubah menjadi Persatuan
Sepakbola Seluruh Indonesia dan Ir. Soeratin Sosrosoegondo tercatat
sebagai ketua umum pertama.
Pada masa awal setelah berdirinya PSSI, yakni pada tahun 1936
juga berdiri satu badan yang mengurusi olahraga di Indonesia. Badan ini
bernama NIVU ( Nederlandsh Indische Voetbal Unie) yang merupakan
badan olahraga sepak bola yang di dukung oleh pemerintah kolonial
Belanda. Setelah masa pendudukan Balatentara Jepang dan Proklamasi
Kemerdekaan, oleh pemerintahan Indonesia ditetapkan bahwa PSSI adalah
badan resmi olahraga sepakbola di tanah air pada tahun 1949. Selanjutnya
PSSI tercatat sebagai anggota FIFA pada tanggal 1 November 1952 dan
menjadi anggota konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada tahun yang sama (
Agus Salim, 2008).
d. Perkembangan Sepak Bola di Surakarta
Sepak bola juga berkembang di daerah-daerah seperti di kota
Surakarta. Berikut ini merupakan perkembangan Sepak Bola di
http://www.indowebster.web.id/archive/index.php/t173025.html?s=2b6d957
42289401175380e8dc9bb0afd,diunduh pada 3 Maret 2012):
Sejarah lahirnya PSSI tidak dapat dipisahkan dari keberadaan
Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) atau Perserikatan Sepak Bola di Solo
zaman Hindia Belanda. Vorstenlandsche Voetbal Bond juga dikenal sebagai
pelopor dunia persepakbolaan di Indonesia, karena didirikan sebelum
bermunculannya klub-klub sepak bola. Kala itu jelas PSSI belum lahir. Pada
1923 VVB didirikan oleh Sastrosaksono dari Klub Mars serta RNg
Reksodiprojo dan Sutarman dari Klub Romeo.
Kemudian pada 1928 oleh Soemokartiko nama VVB diganti
menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Solo (Persis). Solo membuktikan
rasa nasionalismenya dengan berani menggunakan kata Indonesia kali
pertama sebagai nama klub kesebelasan lokal. Hal ini juga tidak terlepas
dari peran PB X yang saat itu mendukung baik langsung maupun tidak
langsung perkembangan kebangkitan nasional yang ditandai dengan banyak
berdirinya organisasi-organisasi sosial dan politik di Kota Solo.
2. Organisasi
a. Pengertian Organisasi
Organisasi merupakan bentuk kerja sama antara manusia yang
terikat suatu ketentuan untuk mencapai tujuan bersama. Menurut
Prof.Dr.SP. Siagian, M.P.A dalam A.P. Pandjaitan (1992:1).
Mengemukakan organisasi adalah : “ Setiap bentuk persekutuan antara dua
orang atau lebih yang berkerja bersama secara formal terikat dalam rangka
pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan, dalam ikatan mana terdapat
seorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok orang
yang disebut bawahan.” Sedangkan menurut Prof. Dr. Prajuri Atmosudirdjo
dalam A.P. Pandjaitan (1992) organisasi adalah “ Struktur tata pembagian
kerja & struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang
posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai
Pengorganisasian adalah menciptakan hubungan antara aktivitas
yang akan dikerjakan; personal yang akan melakukannya dan faktor fisik
yang dibutuhkan. Tujuan dari pengorganisasian adalah membagi tugas atau
pekerjaan yang akan dilaksanakan, menentukan, menata dan
menyeimbangkan otoritas dan tanggung jawab (J.S. Husdarta, 2009).
Organisasi diibaratkan sebuah organisme atau tanaman yang semula tumbuh
dari kecambah yang kemudian tumbuh dan berkembang. Organisasi dapat
juga didefinisikan sebagai himpunan interaksi manusia yang saling bekerja
sama unyuk mencapai tujuan bersama yang terikat suatu ketentuan yag
disepakati berasama.
Berdasarkan pengertian organisasi yang diuraikan diatas, A.P.
Pandjaitan (1992) menguraikan ciri-ciri organisasi sebagai berikut :
a. Adanya suatu kelompok orang;
b. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lai saling
berkaitan yang merupakan kesatuan kegiatan;
c. Tiap-tiap anggota memberikan sumbangan tenaganya;
d. Adanya kewenangan, koordinasi, dan pengawasan;
e. Adanya suatu tujuan, (the idea of goals) (hlm.2).
b. Prinsip-prinsip Organisasi
Prinsip organisasi menurut A.P. Pandjaitan (1992:2) adalah sebagai
berikut :
1) Prinsip bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas.
Organisasi di bentuk atau disusun atas dasar adanya tujuan. Tidak ada
organisasi yang tidak mempunyai tujuan. Misalnya:
a) Organisasi kekuasaan (negara) dibentuk untuk mencapai tujuan
negara/nasional
b) Organisasi olah raga, dalam hal ini KONI, dibentuk untuk mencapai
tujuan agar dalam bidang olah raga tercapai prestasi yang
setinggi-tingginya.
c) Organisasi siswa Intra Sekolah (OSIS) dibentuk untuk melatih siswa
2) Prinsip kesatuan komando.
Bahwa seseorang hanya menerima perintah atau komando dan
bertanggung jawab terhadap seseorang atasanya.
3) Prinsip pertanggungjawaban
Dalam menjalankan tugasnya, bawahan harus bertanggung jawab
sepenuhnya kepada atasanya. Sekalipun demikian atasnya tidak dapat
menghindarkan pertanggungjawabannya atas segala kegiatan/perbuatan
yang dilakukan oleh bawahannya.
4) Prinsip pembagian kerja
Setiap orang mempunyai kemampuan yang terbatas dalam melakukan
segala macam pekerjaan. Oleh karena itu pembagian pekerjaan berarti
bahwa kegiatan-kegiatan dalam melakukan pekerjaan harus dikhususkan
secara sempurna. Kegiatan ini harus ditentukan secara jelas demi
keefektifan dalam pencapaian tujuan organisasi
5) Prinsip kepemimpinan.
Sekalipun susunan organisasi telah ditentukan, wewenang telah
dilimpahkan kepada setiap orang sesuai dengan tugasnya untuk mencapai
tujuan organisasi, perlu adanya kemampuan kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan
orang lain, sehingga mereka bertindak dan berperilaku sebagaimana
diharapkan, terutama bagi tercapainya tujuan yang diinginkan.
c. Organisasi Olahraga
Menurut J.S. Husdarta, (2009) kegiatan olahraga, termasuk juga
penjas yang mengandung misi untuk mencapai tujuan pendidikan,
memerlukan manajemen yang baik. Kegiatan olahraga semakin berkembang
dalam corak yang semakin beragam. Aneka motif mulai tumbuh sesuai pula
dengan kebutuhan manusia dalam kaitannya dengan olahraga. Ada motif
yang bertujuan hanya untuk memenuhi dorongan berafiliasi atau
memperoleh pergaulan yang luas, dan ada pula motif untuk memperoleh
Keseluruhan kegiatan yang semakin kompleks itu, memerlukan
manajemen. Karena dalam kegiatan itu terdapat sejumlah faktor yang harus
dikelola. Kegiatannya melibatkan beberapa komponen meliputi:
1) Tujuan: termasuk prioritas.
2) Manajemen: termasuk koordinasi.
3) Fasilitas: tempat untuk menyelenggarkan kegiatan.
4) Sumber belajar: sumber pendukung bagi kelangsungan program.
5) Program : pengalaman belajar yang harus disediakan.
6) Pelatih/guru: berfungsi sebagai fasilitatir dan manajer perubahan
perilaku.
7) Siswa/ atlet: subjek yang menjadi pelaku dan sekaligus mengalami
pemberian pengalaman belajar.
8) Kendali mutu: berkaitan dengan evaluasi dan riset.
9) Supervisi: pengendalian mutu, dan terkait pula dengan unsur leading.
10) Biaya: konsekuensi logis dari semua kebutuhan.
Organisasi olahraga yang baik harus memenuhi syarat-syarat
khusus sebagai organisasi olahraga, sehingga dapat terwujud organisasi
olahraga yang sehat, baik dan berjalan dengan lancar. Di indonesia ada lebih
dari 30 cabang organisasi olahraga dari beberapa macam cabang satu
dengan yang lain berbeda-beda sehingga diperlukan wadah untuk
menampung aspirasi setiap organisasi dan sebagai induk organisasi olahraga
adalah komite Olahraga Nasional Indonesia atau disebut KONI pusat ini
membawahi dan mengkoordinir semua organisasi-organisasi olahraga di
Indonesia. Kalau sudah ada induk organisasi maka akan terjalin kerjasama
yang baik antar organisasi olahraga baik di tingkat daerah maupun pusat.
Organisasi Olahraga Sepakbola menjadi induk organisasi yang
berada di daerah adalah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia sering
d. Struktur dan Bagan Organisasi
Dalam sebuah organisasi harus dibentuk struktur organisasi setelah
terbentuk lalu dimasukkan ke dalam bagan organisasi untuk mengetahui
tugas dan tanggung jawab setiap orang dan juga memperjelas jabatan setiap
kegiatan. Ada beberapa ahli yang mengemukakan tentang hal di atas:
1) Delton E.Mc Ferland : struktur organisasi adalah pola jaringan
berhubungan antara bermacam-macam jabatan dan para pemegang
jabatan.
2) Richard A. Johnson, Fermout E. Kast dan J.E Rousseuzweig : struktur
organisasi adalah hubungan antara macam-macam fungsi atau aktifitas
di dalam organisasi.
3) John Pfiffiner dan Owen Lane : struktur organisasi adalah hubungan
antara pegawai dan aktifitas mereka satu sama lain serta terhadap
keseluruhan, dimana bagian-bagiannya adalah tugas-tugas,
pekerjaan-pekerjaan atau fungsi-fungsi dan masing-masing anggota kelompok
pegawai yang melaksanakannya.
Tiga batasan tentang organisasi di atas, dapat di simpulkan bahwa
struktur organisasi adalah kerangka antar hubungan satuan-satuan organisasi
yang di dalamnya terdapat pejabat, tugas serta wewenang yang
masing-masing mempunyai peran dalam satuan yang utuh.
Bagan organisasi adalah gambaran struktur organisasi yang di
tunjukkan dengan kotak-kotak atau garis-garis yang susun menurut
kedudukannya yang masing-masing memuat fungsi tertentu, yang satu sama
lain dihubungkan dengan garis-garis saluran wewenang dan tanggung
jawab. Dalam organisasi menurut Henry G. Hodges dalam Hani Handoko (
1984) mengemukakan empat bentuk bagan organisasi:
1) Bentuk piramid. Bentuk ini yang paling banyak di gunakan, karena
sederhana, karena sederhana, jelas dan mudah dimengerti.
2) Bentuk vertikal. Bentuk vertikal agak menyerupai bentuk piramid, yaitu
dalam hal pelimpahan kekuasaan dari atas ke bawah, hanya bagan
3) Bentuk horizontal. Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu
jabatan dengan jabatan lain. Bagan bentuk lingkaran jarang sekali
digunakan dalam praktek.
Gambar 1. Bentuk-bentuk bagan Organisasi
e. Unsur-unsur Organisasi
Dalam sebuah organisasi terdapat beberapa unsur atau unit pejabat
yang menduduki suatu bidang tertentu. Unsur-unsur organisasi tersebut
mempunyai tugas tertentu sesuai dengan jabatannya dan saling berhubungan
satu sama lainnya. Pada prinsipnya kegiatan yang dilakukan oleh setiap
unsur organisasi bertujuan untuk menghasilkan kualitas kerja yang baik dan
memajukan organisasi menjadi sehat dan berjalan dengan baik
Unsur-unsur yang terdapat dalam organisasi menurut T.Hani
Handoko (1984) yaitu : 1) Pengurus; 2) Anggota; 3) Anggaran Dasar (AD)
dan Anggaran Rumah Tangga (ART); 4) Rencana Kerja; 5) Anggaran
f. Organisasi-organisasi Sepakbola
Organisasi pada cabang olahraga sepak bola merupakan suatu
wadah yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai
prestasi yang setinggi-tingginya, khususnya dalam cabang olahraga
sepakbola. Di dalam organisasi sepakbola diharapkan akan terjadi hubungan
yang hirarki antara pengurus, pelatih dan pemain. Sehingga ketiga tersebut
dapat saling bekerja sama dalam menjalankan tugasnya, maka tujuan yang
ingin dicapai akan terwujud. Sepakbola di Indonesia terorganisasi dalam
suatu wadah dengan nama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).
Kompetisi yang diselenggarakan PSSI didalam negeri terdiri dari:
1) Divisi utama, divisi satu, divisi dua, diikuti klub sepakbola dengan
berstatus amatir.
2) Divisi tiga yang diikuti oleh sepakbola dengan pemain yang berstatus
amatir.
3) Kelompok umur usia 15, 17, 19, 23 pemain yang berstatus amatir.
4) Sepakbola wanita dan futsal.
Adapun struktur organisasi PSSI meliputi:
1) Di tingkat pusat dibentuk pengurus pusat.
2) Di daerah tingkat I Propinsi dibentuk pengurus daerah.
3) Di daerah Tingkat II Kabupaten/ Kota Administratif dibentuk pengurus
cabang.
Dalam organisasi cabang olahraga sepakbola terdapat unsur-unsur :
1) Pengurus
Sebagai unsur yang terpenting dalam mengelola organisasi,
wajar apabila pengurus dituntut untuk betul-betul meresapi
keberadaannya, artinya mereka mempunyai tanggung jawab terhadap
jalannya organisasi. Dimana maju dan mundurnya suatu organisasi
tergantung kepada kemampuannya dalam mengelola organisasi. Dalam
melaksanakan tugasnya, pengurus ditempatkan pada bagian dalam
sturktur organisasi sesuai dengan bidang dan kemampuan
bawahannya dalam batas tanggung jawab dan wewenang yang
dilimpahkan.
Susunan pengurus dalam organisasi hendaknya dapat
menyesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi itu sendiri. Dalam
Anggaran Rumah Tangga ART PSSI dijelaskan mengenai struktur dan
fungsi organisasi yang menjelaskan tentang struktur kepengurusan
sebagai berikut: a) Ketua Umum; b) Wakil Ketua Umum; c) Ketua
Harian; d)Sekjen; e) Wakil Sekjen; f) Bendahara; g) Wakil Bendahara; h)
Ketua Bidang Litbang; i) Ketua Bidang Pengawasan; j) Ketua
Pembinaan/pimpro; k) Ketua Bidang Usaha/Dana; Ketua Bidang
Perlengkapan; l) Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan; m) Ketua Bidang
Luar Negeri.
2) Anggota
Selain pengurus unsur yang tidak kalah pentingnya dalam suatu
organisasi adalah anggota dalam organisasi adalah pemain. Dengan
demikian diantara pengurus dengan anggota merupakan unsur penting
dalam organisasi yang harus dapat menciptakan dan mewujudkan suatu
kerjasama yang baik, agar aktifitas yang dijalankan dapat berjalan
dengan lancar.
Dalam penerimaan anggota masing-masing organisasi
mempunyai prosedur dan persyaratan penerimaan sendiri-sendiri.
Demikian juga untuk menjadi anggota dalam organisasi cabang olahraga
sepakbola, dibutuhkan pemain-pemain yang memenuhi syarat dari
cabang olahraga yang bersangkutan.
3) Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART)
Semakin banyak anggota dalam organisasi, semakin banyak
pula permasalahan yang timbul. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
suatu organisasi mempunyai peraturan yang harus dipatuhi oleh
anggotanya. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga merupakan
organisasi dan merupakan petunjuk arah kemana suatu organisasi akan
dibawa.
Dalam organisasi olahraga perlu aturan-aturan yang harus ditaati
oleh semua anggota agar tujuan organisasi tersebut dapat tercapai, maka
timbul Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, agar tidak terjadi
penyelewengan-penyelewengan
4) Rencana Kerja
Kegagalan berorganisasi dapat pula terjadi pada organisasi
cabang olahraga sepakbola, dimana dapat timbul karena tidak jelasnya
rencana kerja yang digunakan dalam organisasi tersebut.
Hendaknya rencana anggaran kerja yang dibuat disesuaikan
dengan tujuan yang akan dicapai dan disusun secara periodik serta jelas,
sehingga setiap pengurus dan anggota organisasi tidak mengalami
kesulitan dalam memahami dan melakukan yang akan dilaksanakan.
5) Anggaran Belanja
Anggaran Belanja merupakan salah satu bentuk dari berbagai
rencana kerja yang telah disusun dalam organisasi olahraga sepakbola,
menyusun Anggaran Belanja harus disesuaikan dengan keadaan yang
sedang terjadi di dalam organisasi. Anggaran Belanja yang dibuat
hendaknya bersifat realistis, luwes, kontinyu dan harus mampu mengatasi
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi tetapi dapat berubah sesuai
dengan keadaan, serta jangan sampai Anggaran Belanja yang dibuat tidak
sesuai dengan perhitungan yang sudah direncanakan karena kalau salah
dalam perhitungannya dapat fatal akibatnya.
g. Manajemen
Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa
manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit
karena dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan,
sarana-sarana dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak
pekerja dengan orang-orang untuk menentukkan, menginterprestasikan dan
mecapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaanya fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia
(staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan
(controlling). Definisi manajemen memang merupakan masalah yang sulit
sehingga definisinya sangat universal. Demikian juga klub sepak bola
PERSIS Solo dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan rencana yang telah
disepakati bersama, baik anggota maupun pengurus melakukannya
berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Ada baiknya dikutipan tentang manajemen dari beberapa ahli yang
dirangkap oleh Subagio Hartoko, Dalimin dan Soemarno (1998:4):
1) DR.Sp. Siagian, MPA : Manajemen adalah kemampuan atau
keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai
tujuan melalui kegiatan orang lain.
2) Drs. The Liang Gie : Manajemen itu sebagai tindakan-tindakan atau
proses menggerakkan tindakan dalam usaha kerjasama manusia
sehingga tujuan yang telah ditentukan benar-benar tercapai.
3) GR Terry : Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
terlebih dahulu dengan melalui atau menggunakan kegiatan orang lain.
Batasan-batasan manajemen di atas satu dengan yang lain tidak
sama, akan tetapi mempunyai unsur-unsur atau karakteristik yang sama,
yaitu :
1) Adanya tujuan yang telah ditetapkan.
2) Tujuan itu ditetapkan melalui orang lain.
3) Diperlukannya bimbingan dan pengawasan.
Dr.Hadawi Nawawi dalam buku Manajemen Olahraga Karya
Subagio Hartoko, Dalimin dan Sumarno (1998) manajemen dibedakan
menjadi dua yaitu adanya manajemen administrasi dan manajemen
Manajemen administrasi meliputi bagian-bagian:
1) Planningatau perencanaan,
2) Organizationatau pengorganisasian,
3) Direction atau pengarahan,
4) Controllingatau pengawasan,
5) Communicationatau komunikasi.
Manajemen operasional meliputi bagian-bagian:
1) Tata usaha.
2) Perbekalan.
3) Kepegawaian.
4) Keuangan.
5) Hubungan masyarakat.
h. Administrasi
Administrasi adalah suatu rangkaian kegiatan atau sekelompok
orang untuk mendayagunakan sumber-sumber dana, fasilitas, ide-ide dan
orang-orang yang tergabung dalam suatu unit kerja atau organisasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga lebih efektif
dan efisien.
Dalam organisasi agar dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka
perlu disusun dan diatur agar mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan.
Agar hasil tersebut tercapai, maka perlu adanya administrasi yang baik,
karena membantu dalam penyelenggaraan kegiatan. Sedangkan administrasi
yang dikutip dari Soemarno, Dalimin dan Subagio Haartoko (1998), adalah
sebagai berikut :
1) John M. Griffuer : Administrasi dapat dirumuskan sebagai
pengorganisasian dan pengarahan sumber daya manusia atau tenaga
kerja dan materi untuk mencapai tujuan yang dicapai.
2) Sondang P. Siagian : Administrasi adalah keseluruhan proses
pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu
pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dari pengertian administrasi diatas maka perlu unsur-unsur
administrasi antara lain:
1) Sekelompok manusia, dua orang atau lebih
2) Proses kerjasama dengan rangkaian kegiatan yang menyeluruh dan
intergral.
3) Tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.
4) Pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
5) Pendayagunaan sumber personil dan material.
i. Kepemimpinan
Beberapa pengertian kepemimpinan para ahli dalam buku
Soemarno, Dalimin, Subagio Hartoko (1998):
1) Peterseon dan Flowman.
Kepemimpinan adalah proses kejiwaan untuk memberi bimbingan
kepada pengikut-pengikutnya.
2) Prof. Selo Soemarjan
Kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain, sehingga dengan kemampuan sendiri
membuat seperti apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
Organisasi merupakan perkumpulan beberapa orang yang
mempunyai tujuan tertentu, dan beberapa orang tersebut ada yang
dinamakan pemimpin. Pemimpin merupakan orang yang mempunyai
tanggung jawab kepada pengurus lainnya. Sehingga kepemimpinan yang
solid adalah kepemimpinan yang berwibawa terhadap orang lain karena
nilai-nilai pribadinya. Orang-orang yang akan mengikuti dengan senang hati
3. Metode Pembinaan
Dalam setiap cabang olahraga sangat perlu diadakan pengarahan
dalam lapangan atau sering disebut dengan pembinaan atlet. Peran ilmu
pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam bidang olahraga telah terbukti
memberikan kontribusi yang cukup besar. Oleh karena itu sistem pembinaan
olahraga harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan upaya untuk
memajukan atau menyempurnakan atlet agar dapat berprestasi dengan baik.
Karakteristik utama dari pembinaan olahraga prestasi, selalu
berorientasi jauh kedepan untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya menuju
ke taraf internasional. Perencanaan tersebut dapat dikembangkan dengan baik,
apabila ditunjang dan ditumbuhkan dalam suatu sistem pembinaan mantap,
yang diorganisasikan untuk pembinaan olahraga secara terpadu dan
kesinambungan (Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin ,1996).
Aspek-aspek yang terkait dalam pembinaan olahraga menurut
Soeharsono yang dikutip Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996):
1) Aspek Olahraga
Menyangkut permasalahan: a) Pembinaan Fisik; b) Pembinaan Teknik; c)
Pembinaan Taktik; d) Kematangan Bertanding; e) Pelatih; f)Program
Latihan dan Evaluasi.
2) Aspek Medis
Menyangkut permasalahan; a) Fungsi organ tubuh meliputi : jantung,
paru-paru, syaraf, otot, indera dan lainnya; b) Gizi; c) Cidera; d)
Pemeriksaan Medis.
3) Aspek Psikologi
Menyangkut permasalahan : a) Ketahanan Mental; b) Kepercayaan Diri; c)
Penguasaan Diri; d) Disiplin dan Semangat juang; Ketenangan,
Ketekunan, dan Kecermatan; e) Motivasi.
Berdasarkan aspek-aspek tersebut diatas, maka untuk penanganan
pembinaan olahraga diperlukan pakar-pakar yang berkualitas sesuai dengan
bidangnya, yaitu : pakar dibidang keolahragaan, pakar dibidang psikologi
pembinaan keolahragaan. Karakteristik utama untuk pembinaan olahraga
prestasi, selalu berorientasi jauh kedepan untuk mencapai prestasi tinggi
menuju ketaraf internasional. Perencanaan dapat dikembangkan dengan baik,
apabila ditunjang dan ditumbuhkan dalam satu sistem pembinaan yang mantap,
yang diorganisasi untuk penyelenggaraan pembinaan olahraga secara terpadu
dan berkesinambungan.
a. Pembinaan Atlet
Pembibitan atlet merupakan upaya untuk menemukan
individu-individu yang memiliki potensi untuk mencapai prestasi yang tinggi
dikemudian hari. Jika mengevaluasi dan menganalisa dalam berbagai
kejuaraan dunia, menunjukkan bahwa atlet tertentu yang cocok untuk
olahraga tertentu, memiliki potensi fisik yang handal, memiliki kemampuan
teknik dan taktik yang baik dan memiliki pengalaman dalam berbagai
kompetisi.
Ada baiknya sebelum membina atlet lebih lanjut, atlet diberikan
kesadaran bahwa prestasi puncak tidak akan tercapai bila atlet tersebut tidak
mempunyai kemampuan untuk mencapainya. Mesikupn faktor-faktor yang
lain sebagai faktor pendukung mempunyai sumbangan atau peranan yang
sangat penting, tetapi sumbangan terbesar datang dari atlet itu sendiri
menurut soeharsono dalam buku Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (
1996:92). Diperkirakan sumbangan tersebut adalah sebagai berikut:
Dari atlet sekitar : 60-70%
Faktor penunjang lain : 30-40%
Pembinaan yang dilakukan secara sistematik, tekun dan
berkelanjutan, diharapkan akan mencapai prestasi yang maksimal. Proses
pembinaan memerlukan waktu yang cukup lama, yakni dari masa
kanak-kanak atau usia dini hingga anak mencapai tingkat efisiensi kompetisi yang
tinggi. Menurut Harre sebagaimana dikutip hadisasmita dan syariffudin
(1996:70) Pembinaan dimulai dari program umum mengenai latihan dasar
dan kemudian berlatih yang dispesialisasikan pada cabang olahraga yang
ditekuninya.
b. Pelatih
Pelatih adalah seorang atau sekelompok orang yang mengelola atau
menangani sekelompok atau seseorang untuk mencapai keberhasilan
tertentu. Seorang pelatih harus sadar akan kenyataan bahwa ia dapat
benar-benar mempengaruhi dan membentuk watak (karakter) dan kepribadian atlet
dalam hal tertentu. Pengaruh-pengaruh ini dapat berakibat positif atau
negatif, bermanfaat dan dapat merusak atau mengganggu, dan yang jelas
dapat berpengaruh relatif tahan lama atau permanen pada seluruh kehidupan
atlet asuhannya.
Menurut ogilvie dan tutko (1966) dalam buku Harsono (1988-56)
mengemukakan : “ahli-ahli psikologi olahraga yang merupakan pula
penulis-penulis terkemuka mengenai masalah sosok kepribadian pelatih dan
atlet, telah melakukan studi terhadap 64 orang pelatih yang mewakili empat
cab olahraga yang paling digemari di Amerika, yaitu basketball, atletik,
football, dan baseball. Menurut mereka, pelatih-pelatih yang ideal dan yang
sukses adalah pelatih-pelatih yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai ambisi tinggi untuk sukses dan ingin selalu berada di
puncak.
2) Sangat tertib dan terorganisasi dengan baik, mementingkan
perencanaan ke depan (plan ahead).
3) Individu yang sangat hangat, terbuka, dan senang bergaul dengan orang
lain.
4) Mampu mengendalikan emosi kalau berada dalam stress.
5) Dapat dipercaya, dan orang bisa menggatungkan diri kepadanya
6) Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang terpuji.
7) Condong untuk pertama-tama menyalahkan dirinya sendiri dan bukan
orang lain kalau terjadi hal-hal yang tidak baik, atau kalau menemui
kegagalan.
9) Mempunyai maturitas emosional yang mengagumkan.
Ogilvie dan Tutko menambahkan bahwa pelatih yang sukses
biasanya menguasai ilmu dan seni berkomunikasi dengan atlet dan dengan
asisten-asisten pelatihya.
Adapun syarat seorang pelatih menurut Soedjarwo (1993) adalah:
1) Harus mempunyai latar pendidikan yang sesuai dengan tugasnya
sebagai pelatih olahraga.
2) Mempunyai keterampilan cabang olahraga yang diminati, baik secara
teori maupun praktek.
3) Memiliki kondisi fisik yang baik, seperti kesegaran jasmani,
kemampuan gerak, dan proporsi bentuk tubuh yang sesuai dengan
cabang olahraga yang dibinanya.
4) Mempunyai pengalaman yang cukup dan selalu berusaha meningkatkan
ilmunya, terutama dalam cabang olahraga yang diminati.
5) Dapat berkerja sama dengan atlet, pembantu-pembantunya, dan para
ahli di bidang lain yang menunjang peningkatan prestasi.
6) Mempunyai sikap kepemimpinan yang berwatak dan kepribadian.
Seorang pelatih sangat diharapkan dapat berperan dalam berbagai
disiplin, seperti petugas bimbingan dan penyuluhan, psikologi, pemimpin,
guru, ahli strategi, bahkan seorang pelatih diharapkan dapat berperan
sebagai ayah atau teman akrab sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati
atau pelindung bagi atletnya. Seorang pelatih yang berkualitas harus sadar
akan kenyataan bahwa dapat mempengaruhi dan membentuk watak serta
kepribadian atlet dalam hal tertentu. Maka seorang pelatih perlu membekali
dengan hal-hal yang berhubungan dengan tugasnya, sehingga didalam
melatih tidak akan mengalami kesulitan yang mengakibatkan gagalnya
dalam mencapai tujuan. Adapun tugas-tugas pokok yang harus dilakukan
seorang pelatih menurut soedjarwo ( 1995 : 9) adalah :
1) Mengadakan pemanduan untuk memilih bibit unggul atlet.
3) Menyusun strategi dan menentukan taktik dalam menghadapi
pertandingan.
4) Mengadakan evaluasi setelah selesai melakukan latihan atau
pertandingan.
5) Selalu berusaha meningkatkan pengetahuan baik secara teori maupun
praktek dalam cabang olahraga yang dibinanya.
4. Metode Latihan a. Latihan
Banyak orang merasa berlatih tetapi sebenarnya tidak. Hal ini
umumnya disebabkan yang bersangkutan kurang memahami pengertian
tentang latihan yang sebenarnya.
Menurut Soeharsono yang dikutip dalam Hadisasmita dan
Syarifuddin (1996) yang mengemukakan pengertian latihan berdasarkan
ciri-ciri pelatih yang baik, maka latihan dapat diartikan sebagai “proses yang
sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian
hari kian menambah jumlah bebab latihan serta intensitas latihannya”(hlm.
1260.
Unsur-unsur latihan menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:
126) ada beberapa pengertian latihan antara lain:
1) Sistematis adalah berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem
tertentu, metodis, dari mudah ke yang sukar, latihan teratur, dari yang
sederhana ke yang lebih rumit.
2) Berulang-ulang yaitu setiap elemen teknik harus diulang sesering
mungkin, dimaksudkan agar gerakan-gerakan yang semula sukar
dilakukan menjadi semakin mudah, dan otomatis pelaksanaannya
sehingga menghemat energi.
3) Kian hari ditambah bebannya ialah setiap kali, secara periodik, segera
setelah tiba saatnya, beban latihan harus ditambah. Jika beban tidak
pernah bertambah prestasi pun tidak akan meningkat.
Tujuan pokok dari latihan menurut sudjarwo (1995 : 23a) ialah
prestasi maksimal, disamping kesehatan dan kesegaran jasmani. Latihan
akan dapat tercapai bila prinsip-prinsip latihan dapat dipahami.
b. Metode Latihan
Didalam olahraga diketemukan berbagai ragam definisi tentang
mengajar atau melatih. Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) yang
diartikan dengan metode mengajar atau melatih adalah suatu cara tertentu,
sistem bekerja seorang pelatih atau olahragawan, sehubungan dengan
pengetahuan dan kemampuannya yang cukup.
Pemilihan suatu metode, terutama tergantung pada:
1) Tujuan umum latihan
2) Tugas-tugas tertentu
3) Kekhususan suatu cabang olahraga
4) Kedewasaan fisik dan mental atlit dan tingkat kemampuannya.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dapatlah ditentukan
prinsip-prinsip metode latihan. Seorang pelatih yang baik, tidak boleh
membatasi diri pada satu metode saja, tetapi harus menggunakan
bermacam-macam metode yang dicocokkan dengan berbagai unsur.
Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) macam-macam
metode latihan adalah sebagai berikut:
1) Metode yang terus menerus ( Continual Methode)
Sifat-sifat metode ini adalah:
a) Latihan dengan intensitas sedang dan konstan
b) Latihan yang relatif lama
2) Metode Ulangan ( Repetitive Methode)
Metode ini terdiri dari mengulang latihan-latihan tertentu yang dilakukan
dengan atau tanpa istirahat. Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut:
a) Latihan dengan intensitas yang konstan
b) Waktu istirahat yang optimal
3) Metode Tidak Tetap ( Variable Methode )
Sifat-sifat metode ini terutama adalah :
a) Intensitas latihan yang bermacam-macam
b) Waktu melakukan latihan yang berbeda-beda
c) Intensitas latihan yang diturunkan, menghasilkan kondisi-kondisi
untuk pemulihan kembali sebagian (partial recovery)
4) Metode Interval ( Interval Methode)
Sifat-sifatnya adalah :
a) Penetapan yang jelas tentang beban latihan
b) Waktu istirahat yang bermacam-macam, tetapi ditetapkan secara tepat
c) Penentuan yang jelas tentang intensitas latihan
d) Jumlah ulangan ditetapkan dengan tepat.
5) Metode kompetisi ( Competition Methode)
Latihan melalui kompetisi-kompetisi merupakan salah satu kegiatan yang
lebih efektif, dan para atlit senang melakukannya. Dalam melaksanakan
metode kompetisi, perlu diperhatikan beberapa syarat yang sama dengan
metode-metode lainnya. Pemilihan lawan menjadi dasar kegiatan, makin
kuat lawan makin tinggi beban dan intensitas latihannya.
c. Pengertian Program Latihan
Program latihan merupakan bahan atau kegiatan yang harus
dilaksanakan dalam latihan. Dalam menentukan program latihan harus
menyatu pada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan latihan.
Penerapan program latihan yang tepat dan disesuaikan dengan kemampuan
atletnya akan meningkatkan kualitasatlet secara maksimal. Suatu hal yang
harus dipertahankan dalam menyusun program latihan, adalah menentukan
terlebih dahulu tujuan latihan atau target yang hendak dicapai. Hal itu
penting agar atlet dapat berlatih dengan motivasi untuk mencapai sasaran.
Mempersiapkan seorang atlet untuk menghadapi pertandingan
hingga mencapai tingkat prestasi tinggi atau maksimal, diperlukan waktu
sistematis, bertahapkan serta terus-menerus sepanjang tahun tanpa selingan
berhenti sedikitpun. Latihan yang dilakukan hanya isidentil, atau hanya
selama enam bulan saja, bahkan kurang setiap tahunnya, tidak akan ada
artinya sama sekali. Bahkan mungkin dapat merusak perkembangan atlet
dikemudian harinya.
Menurut Iwan Setiawan seperti yang dikutip oleh Hadisasmita dan
Syarifuddin (1996:141), untuk menyusun program latihan yang teratur perlu
diperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :
a. Kemampuan atlet, baik fisik maupun mental
b. Waktu pelaksanakan program latihan untuk mengembangkan tenaga atau
kekuatan, daya tahan, kecepatan, fleksibility dan lain-lain untuk
dikembangkan dengan sebaik-baiknya c. Cabang olahraga yang akan disiapkan d. Standar tingkat nasional atau internasional e. Keadaan setempat : tradisi, iklim, dan lain-lain f. Faktor latihan : prestasi, volume, intensitas g. Jadwal perlombaan dan uji coba
h. Periodesasi latihan.
Untuk membina atlet agar dapat meningkatkan prestasi
setinggi-tingginya, diperlukan jangka waktu yang lama, maka latihan-latihan tersebut
dilaksanakan secara bertahap yang terdiri dari program jangka panjang dan
program tahunan ( Hadisasmita dan Syarifuddin, 1996 : 141).
Menurut Sudjarwo (1995 : 81 ) penyusunan program latihan dapat
dibagi menjadi:
1) Program Jangka Panjang
Program jangka panjang berhubungan dengan program latihan untuk
sasaran dua tahun ke atas, misalnya untuk PON atau Olympiade.
2) Program Jangka Menengah
Program jangka menengah adalah program latihan yang disusun untuk
jangka waktu satu tahun.
3) Program Jangka Pendek
Program jangka pandek merupakan penyusunan program latihan kurang
d. Prinsip-prinsip latihan
Latihan adalah merupakan suatu proses yang dilakukan secara
berulang-ulang dengan meningkatkan pemberian beban latihan itulah
sebabnya pemberian beban latihan harus memenuhi prinsip-prinsip yang
sesuai dengan tujuan latihan. Prinsip-prinsip latihan tersebut merupakan
prinsip-prinsip latihan diharapkan prestasi seorang atlet dapat cepat
meningkat. Tanpa mengetahui hal ini seorang atlet atau pelatih tidak
mungkin dapat berhasil dalam latihannya.
Sudjarwo (1995) menyarankan agar seluruh program latihan
sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut :
1) Prinsip Individu
Pemberian latihan harus selalu mengingat kemampuan dan kondisi
individu masing-masing atlet. Faktor-faktor individu yang harus
mendapat perhatian misalnya, tingkat ketangkasan atlet, umur atau
lamanya berlatih harus dibedakan, kesehatan dan kesegaran jasmaninya,
psychologis atau mentalnya.
2) Prinsip Penambahan Beban ( Overload Principle )
Penambahan beban latihan harus dilakukan tahap demi tahap secara
teratur dan ajeg. Beban latihan berat yang diberikan secara terus menerus
justru akan menghentikan kenaikan prestasi. Sebaiknya setelah dua atau
tiga kali latihan beban latihan ditingkatkan itupun tergantung dari
atletnya.
3) Prinsip Interval
Latihan interval merupakan serentetan latihan yang diselingi dengan
istirahat tertentu. Prinsip latihan interval ini dapat digunakan untuk suatu
rencana latihan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.
4) Prinsip Penekanan Beban ( Stress )
Pemberian beban latihan pada suatu saat harus dilaksanakan dengan
tekanan yang berat. Penekanan beban latihan tersebut harus sampai
diberikan guna meningkatkan kemampuan organisme, kekuatan mental
yang sangat diperlukan untuk menghadapi pertandingan.
5) Prinsip Makanan Baik ( Nutrition )
Kalori yang masuk harus sesuai dengan kalori yang dikeluarkan untuk
latihan. Untuk seorang atlet diperlukan 25-35% lemak, 15 % putih telur,
50-60 hidrat arang dan vitamin serta mineral lainnya.
6) Prinsip Latihan Sepanjang Tahun
Suatu latihan harus dilakukan secara sistematis yang dilaksanakan
sepanjang tahun tanpa berseling.
Sedangkan menurut Bompa yang dikutip Hadisasmita dan
syarifuddin (1996 : 130-140 ) menyarankan agar dalam latihan sebaiknya
menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1) Prinsip Beban-lebih (Overload)
Prinsip beban lebih adalah prinsip latihan yang menekankan pada
pembebanan latihan yang lebih berat dari pada yang mampu dilakukan
oleh atlet. Seorang atlet harus berlatih dengan beban yang lebih berat
atau berlatih dengan beban diatas ambang rangsang. Namun beban
tersebut harus sesuai dengan kemampuan atlet.
2) Prinsip Perkembangan Multilateral
Prinsip ini sebaiknya diterapkan pada atlet-atlet muda. Pada permulaan
belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam kegiatan agar dengan
demikian mereka memiliki dasar-dasar yang lebih kokoh untuk
menunjang keterampilan psesialisasinya kelak.
3) Prinsip Intensitas Latihan
Perubahan fisiologis dan psikologis yang positif hanyalah mungkin
apabila atlet dilatih atau berlatih suatu program latihan yang intensif,
dimana pelatih secara progresif menambahkan beban kerja, jumlah
pengulangan gerakan ( repetition ) serta kadar intensitas dari repetisi