• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011

SKRIPSI

Oleh :

PANDY SETIAWAN

NIM. K4608031

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Juli 2012

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Pandy Setiawan

NIM : K 4608031

Jurusan/Program Studi : JPOK/ PENJASKESREK

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “STUDI KASUS KLUB SEPAK

BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 – 2011” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain

telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini

hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, 4 Juli 2012

Yang membuat pernyataan

Pandy Setiawan

(3)

iii

STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO TAHUN 2006 - 2011

Oleh :

PANDY SETIAWAN

NIM. K4608031

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(4)

iv

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

Surakarta, 4 Juli 2012

Pembimbing I

Drs.H.Sunardi, M.Kes NIP. 19581121 199003 1 004

Pembimbing II

Drs.Agus Mukholid, M.Pd NIP. 19640131 198903 1 001

(5)

v

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Rabu

Tanggal : 25 Juli 2012

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Waluyo, M.Or ...

Sekretaris : Waluyo, S.Pd, M.Or ...

Anggota I : Drs. H. Sunardi, M.Kes ...

Anggota II : Drs. Agus Mukholid, M.Pd ...

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret

Pembantu Dekan I,

Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si

NIP 19660415 199103 1 002

(6)

vi

ABSTRAK

Pandy Setiawan. STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA PERSIS SOLO

TAHUN 2006 – 2011. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo. (2) keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis Solo. (3) pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis Solo. (4) keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo. (5) anggaran dana yang dikelola oleh Klub Sepak Bola Persis Solo. (6) prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo.

Bentuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini digunakan strategi studi kasus terpancang tunggal yaitu sasaran yang akan diteliti sudah dibatasi dan ditentukan serta terpusat pada satu lokasi yang mempunyai karakteristik tersendiri. Sumber data yang digunakan adalah sumber benda, tempat, peristiwa, informan, dan dokumen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan tujuan penelitian, dimana peneliti memilih informan yang dipandang mengetahui permasalahan secara mendalam serta dapat dipercaya. Dalam penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan dua teknik trianggulasi yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, yaitu proses analisis yang bergerak diantara tiga komponen yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Persis Solo berdiri tahun 1923 dengan nama Vorstenlandche Voetbal Bond (VVB) atas usulan Soemokartiko kemudian diganti dengan Persatuan Sepakbola Indonesia Surakarta (PERSIS). (2) Keadaan organisasi dan manajemen Persis Solo sudah memiliki unsur yang baik dan melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya. (3) Pelatih yang dimiliki Persis Solo adalah seorang yang berkompeten dalam bidang olahraga dan rencana latihan dibuat secara terprogram dan atlet fokus dalam latihan. (4) Persis Solo telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai yaitu memiliki stadion Manahan untuk pertandingan, stadion Sriwedari untuk latihan, mess atlet dan pelatih, kantor sekretariat dan balai Persis. (5) Pada tahun 2006-2007 Persis Solo masih ditopang oleh dana APBD Pemkot Surakarta. Tetapi setelah itu sudah lepas dari dana tersebut, sehingga sumber dana yang diperoleh dari sponsor, kerja sama dengan pihak swasta, sumbangan dari pemerintah atau swasta yang tidak mengikat dan dari dewan penyatun yayasan, dsb. (6) Prestasi yang dimiliki Persis Solo setiap tahunnya berbeda-beda. Prestasi Persis Solo dipengaruhi oleh pemain-pemain yang berkualitas yang sangat berhubungan dengan adanya dana yang dimiliki.

Simpulan penelitian ini adalah PERSIS telah meiliki unsur-unsur yang memadai sebagai sebuah klub sepak bola. Tetapi yang menjadi kendala adalah kekurangan dana yang menghambat prestasi serta program kerja dari PERSIS

(7)

vii

ABSTRACT

Pandy Setiawan. STUDY CASE OF PERSIS SOLO FOOTBALL CLUB IN

YEARS 2006 TO 2011. Thesis. Surakarta: Faculty of Education and Pedagogy University of Surakarta of March. July 2012.

This study aims to determine: (1) History of Persis Solo Football Club. (2) The state of organization and management of Persis Solo Football Club. (3) Coaches and athletes training program of Persis Solo Football Club. (4) The state of facilities of Persis Solo Football Club. (5) Budget funds managed by Persis Solo Football Club. (6) Achievement attained by Persis Solo Football Club.

The methodology of this research was qualitative descriptive. On this research used a single fixed case study which the object would be observed has limited and centralized on certain location which has special characteristics. The data sources used were the source object, places, events, informants and documents. The technique of collecting data used were observation, interviews, and documents analysis. The technique of sampling used was purposive sampling is getting sampling based on the purpose of the research, the place where the researcher choose informant who know the issues deeply and can be trusted. In this research used two triangulation techniques to find out the validity of the data namely triangulation data and triangulation method. Technique of analyzing data used was interactive analysis which the analysis process that moves between three components there was data reduction, data presentation and verification or inference which took place in a cycle.

Based on this research can be concluded: (1) Persis Solo was established in 1923 under the name Vorstenlandche Voetbal Bond (VVB) on a proposal Soemokartiko then replaced with the Football Association of Indonesia (EXACTLY) Persis Solo was the first football club in Surakarta. (2) The state of organization and management of Persis Solo already has elements of good and perform tasks according to their field. (3) Coach owned Persis Solo was a competent in the field of sport and exercise plan created programmatically and athletes focus on training. (4) Persis Solo already has adequate infrastructure that is Manahan international stadium for the match, the stadium Sriwedari to exercise, athletes and coaches’s mess, secretariat offices and halls Persis. All these facilities can be utilized to the maximum extent possible. (5) In the year 2006-2007 Persis Solo was supported by the municipal budget funds Surakarta. But after it was out of the fund, so the source of the funds obtained from the sponsor, in collaboration with the private sector, donations from governments or private non-binding and of the council foundation, etc... (6) Performance Persis Solo held every year is different. Persis Solo achievements are influenced by the quality players that are highly correlated with the presence of their own funds. If the player will take a quality course, will spend the greater. But with the quality players that will create a pretty good accomplishment.

(8)

viii

MOTTO

 Kewajiban kita hanya dua, berusaha semaksimal mungkin, dan selebihnya kita

serahkan kepada yang diatas #

 Motivasi paling sederhana adalah mimpimu sendiri. (Sonnya K.A) #

 Allah akan selalu merangkulmu jika kamu manusia kuat dan pantang menyerah

(Penulis) #

 Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah

selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)

yang lain, dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap (Q.S-Insyirah

6-8).#

 Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit

kembali setiap kali kita jatuh. (Penulis) #

(9)

ix

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk :

 “Bapak dan Ibu”

Yang selalu mendo’akan, memberikan semangat, membelajarkan arti

tetang kehidupan, bapak ibulah yang membuat saya dapat berjalan sejauh

ini dan bapak ibulah yang selalu menginspirasi kehidupan saya.

 “ Putri Nugrahaningsih dan Alicia Chelsea Ali”

Terimakasih kakakku dan keponakanku karena selalu memberikan

dukungan, perhatian, dan semangat

 “My Spirit Oct’, “Sonya .K.A”

Orang yang selama ini di belakangku memberikan dorongan semangat

dan motivasi.

 “Teman Seperjuanganku Penjas 2008 ”

Terimakasih sahabat-sahabatku sampai kapanpun saya tidak akan

melupakan kaliyan semua, kebaikan, perjuangan, semangat, canda tawa,

kebersamaan kita akan aku ukir dalam kehidupanku.

 “Ino, Shomad, Andhica, Bayu, Prabowo, Bastian, Heiradhika, Prima,

Ayik, Anang, Dkk.”

Terimakasih kawan atas semangat, perjuangan, dan kerjasamanya.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang

memberi ilmu dan, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “STUDI KASUS KLUB SEPAK BOLA

PERSIS SOLO TAHUN 2006 – 2011 ”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan

dan Rekreasi, Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari

bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan

pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terimakasih

kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.

3. Ketua Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Jurusan

Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Drs.H.Sunardi, M.Kes., selaku Pembimbing I, yang selalu memberikan

motivasi dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Drs.Agus Mukholid, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang selalu memberikan

pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Pimpinan PERSIS Solo, yang telah memberi kesempatan dan tempat guna

pengambilan data dalam penelitian.

7. Sapto Joko Purwadi, S.Pd., selaku pengurus PERSIS Solo yang telah memberi

bimbingan dan bantuan dalam penelitian.

8. Pelatih PERSIS Solo yang telah bersedia untuk berpatisipasi dalam

pelaksanaan penelitian ini.

9. Seluruh Pemain PERSIS Solo yang telah berkenan membantu dan

(11)

xi

10. Semua pihak dan sahabat-sahabat saya yang turut membantu dalam

penyusuan skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan

karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi

ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Surakarta, Juli 2012

Penulis

(12)
(13)

xiii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data...

1. Sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo...

2. Keadaan Organisasi dan Manajemen Klub Sepak Bola

Persis Solo...

3. Pelatih, Program Latihan dan Atlet Klub Sepak Bola

Persis Solo...

4. Keadaan Sarana dan Prasarana Klub Sepak Bola Persis

Solo...

5. Anggaran Dana dan Sumber Dana Persis Solo...

6. Prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo...

B. Pembahasan...

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1

2.

3.

4.

5.

6.

Bentuk-bentuk Gambar Organisasi..……….

Lapangan Sepak Bola………..

Alur Kerangka Berpikir………

Teknik Analisa Data……….………

Prosedur Penelitian………...

Alur kerja manajemen...

14

34

39

55

56

68

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.

2.

3.

Waktu Penelitian.....……….

Daftar Pelatih Persis Solo Dari Tahun 2006-2011...

Prestasi Persis Solo tahun 2006-2011………..

41

69

76

(16)

xvi

Peraturan Organisasi Pengurus Cabang PSSI Surakarta...

Hasil Musyawarah Cabang 1 PSSI Surakarta ) PERSIS

SOLO...

Pengajuan Judul...

Validasi Proposal Skripsi...

Permohonan Ijin Menyusun Skripsi...

Surat Keputusan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan...

Permohonan Ijin Research / Try Out...

Permohonan Ijin Research / Try Out...

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada masa globalisasi sekarang ini olahraga sangat penting bagi manusia.

Bukan hanya untuk kesehatan tapi juga menggalang kebersamaan antar kelompok

serta semangat persatuan. Olahraga mempunyai arti yang penting dalam usaha

untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan tidak dapat dipisahkan

dari kehidupan manusia. Dalam diri manusia terdapat dua aspek, yaitu aspek

jasmani dan aspek rohani. Bila kedua aspek tersebut tumbuh dan berkembang

secara selaras dan seimbang maka, akan timbul kehidupan yang harmonis antar

keduanya. Keselarasan kehidupan jasmani dan rohani pada manusia dapat dicapai

dengan melakukan olahraga. Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi lancar sehingga distribusi dan

penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan efisien. Olahraga juga

merupakan suatu perilaku aktif yang menggiatkan metabolisme dan

mempengaruhi fungsi kelenjar di dalam tubuh untuk memproduksi sistem

kekebalan tubuh dalam upaya mempertahankan tubuh dari gangguan penyakit

serta stress.

Sepak bola adalah salah satu olahraga yang banyak digemari oleh

masyarakat Indonesia dan yang sangat populer di dunia. Istilah yang diberikan

kepada sepak bola bervariasi. Untuk negara Inggris menyebut sepak bola dengan

football, sementara untuk beberapa wilayah lain menyebutnya dengan soccer.

Sedangkan pada negara Latin menyebutnya dengan istilah futbol atau futebol. Di

Skandinavia menyebut sepak bola dengan bahasa Jerman yaitu fussball dan

dengan bahasa Belanda adalah voetbal. Bagi orang Italia permainan ini disebut

dengan calcio(Agus Salim, 2008:9-10).

Menurut Eric G. Batty (1986:4) “ Sepak bola adalah sebuah permainan

sederhana, dan rahasia dari permainan sepak bola yang baik adalah melakukan

(18)

yang dimainkan oleh dua tim dengan masing-masing beranggotakan sebelas

orang. Dalam pertandingan, olahraga ini dimainkan oleh dua kelompok

berlawanan yang masing-masing berjuang untuk memasukkan bola ke gawang

kelompok lawan. Waktu permainan sepak bola adalah dua kali 45 menit.

Sejarah sepak bola di Indonesia diawali dengan berdirinya Persatuan

Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta pada 19 April 1930 dengan

pimpinan Soeratin Sosrosoegondo. Dalam kongres PSSI di Solo, organisasi

tersebut mengalami perubahan nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh

Indonesia. Sejak saat itu, kegiatan sepak bola semakin sering digerakkan oleh

PSSI dan makin banyak rakyat bermain di jalan atau alun-alun. Dalam

perkembangannya. Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat

daerah-daerah di seluruh Indonesia. Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi

olahraga dari rakyat dan untuk rakyat. Dalam perkembangannya, PSSI telah

menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat kongres FIFA di

Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula

menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952

PSSI telah memperluas kompetisi sepak bola dalam negeri, di antaranya

dengan penyelenggaraan Liga Super Indonesia, Divisi Utama, Divisi Satu, dan

Divisi Dua untuk pemain non amatir, serta Divisi Tiga untuk pemain amatir.[16]

Selain itu, PSSI juga aktif mengembangkan kompetisi sepak bola wanita dan

kompetisi dalam kelompok umur tertentu (U-15, U-17, U-19, dan U-23).

PERSIS Solo merupakan klub sepak bola kebanggaan masyarakat

Surakarta. PERSIS Solo mempunyai kelompok pendukung/suporter yang bernama

Pasoepati (Pasukan Soeporter Paling Sejati) dan PERSIS Solo adalah tim

kebanggan saya.PERSIS Solo adalah klub sepak bola yang didirikan pada tahun

1923 di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Awal berdirinya tidak langsung

menggunakan nama PERSIS Solo, melainkan masih bernama Vorstenlandsche

Voetbal Bond (VVB), semacam perserikatan sepak bola. Dan pada tahun 1928,

Vorstenlandsche Voetbal Bond resmi berganti nama menjadi PERSIS Solo.

PERSIS Solo adalah raksasa sepak bola Indonesia pada masa lalu, PERSIS

(19)

hanya berlangsung hingga akhir 1940-an, setelah ini tim ini terdegradasi hingga

Devisi 3. PERSIS kembali hadir di kancah sepak bola Indonesia sejak tahun 2006.

Pada musim 2006 PERSIS berhasil menjadi runner up ketika bermain di Divisi

Satu Liga Indonesia. Atas prestasi ini PERSIS promosi ke Divisi Utama pada

musim kompetisi 2007-2008. Divisi Utama Liga Indonesia adalah kompetisi

tingkat 2 dalam Liga Indonesia, di bawah Liga Super Indonesia. Sebelum tahun

2008, Divisi Utama adalah kompetisi tingkat teratas.

Dalam perkembangan dan prestasi yang diraih oleh PERSIS Solo tidak

terlepas dari peran manajemen, pengurus organisasi, pelatih serta kempuan dari

atlet sendiri serta sarana dan prasarana yang mendukung. Sistem manajemen dan

kepengurusan suatu organisasi nantinya akan mempengaruhi kematangan dalam

perkembangan klub yang ada dibawah organisasinya. Pola latihan dan strategi

yang diterapkan oleh pelatih juga memiliki peran yang sangat penting khususnya

performa altet dalam pertandingan yang dilakukan oleh PERSIS Solo. Selain

menyusun program latihan, strategi dan taktik pemain pelatih juga perlu

melakukan evaluasi setelah latihan atau pertandingan. Serta selalu meningkatkan

pengetahuan atlet secara teoritis maupun praktek (Sudjarwo, 1995:9). Banyak

faktor secara ekstern dan intern yang mempengaruhi perkembangan klub PERSIS

Solo. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian untuk menggali informasi

yang berguna untuk meneliti faktor-faktor tersebut.

Dari beberapa permasalahan diatas penulis berusaha untuk meneliti

tentang perkembangan dan eksistensi Klub sepak bola kebanggaan warga Solo ini

selama 5 tahun terakhir. Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian dengan

judul “ Studi Kasus Klub Sepak Bola Persis Solo Tahun 2006-2011”

(20)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapat rumusan masalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo?

2. Bagaimana keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis

Solo?

3. Bagaimana pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis

Solo?

4. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo?

5. Bagaimana anggaran dana dan sumber dana yang dikelola oleh Klub

Sepak Bola Persis Solo?

6. Bagaimana prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo?

C. Tujuan Penelitian

Dengan perumusan masalah diatas maka dapat diperoleh suatu tujuan

penulisan ini adalah untuk mengetahui :

1. Sejarah Klub Sepak Bola Persis Solo

2. Keadaan organisasi dan managemen Klub Sepak Bola Persis Solo

3. Pelatih, program latihan dan atlet Klub Sepak Bola Persis Solo

4. Keadaan sarana dan prasarana Klub Sepak Bola Persis Solo

5. Anggaran dana dan sumber dana yang dikelola oleh Klub Sepak Bola

Persis Solo

6. Prestasi yang dicapai oleh Klub Sepak Bola Persis Solo

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi

pembaca pada umumnya tentang Klub sepak bola Persis Solo.

b. Dengan penelitian membrikan masukan dan sumbangan kepada pembaca

supaya dapat digunakan sebagai tambahan bacaan dan sumber data dalam

(21)

2. Manfaat Praktis

a. Memenuhi salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

b. Untuk memberikan bahan masukan dan sumbangan kepada pihak terkait

dalam mengembangkan klub sepak bola Persis Solo.

c. Sebagi referensi bagi pemecahan permasalahan yang relevan dengan

penelitian ini.

(22)

6

BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Sepak Bola

a. Pengertian Sepak Bola

Sepak bola, menurut pendapat beberapa ahli dan berbagai displin

ilmu adalah sebagai berikut:

1) Sepak bola adalah olah raga permainan beregu, dilapangan menggunakan

bola sepak dari dua kelompok yang berlawanan yang masing-masing

terdiri dari 11 pemain berlangsung selama 2x45 menit, kemenangan

ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan (kamus Besar

Bahasa Indonesia, 2002).

2) Sepak bola adalah sebuah permainan yang sederhana, dan rahasia

permainan sepak bola yang baik ialah melakukan hal-hal sederhana

dengan sebaik-baiknya (Eric C Batty, 1986:5).

3) Sepak bola adalah permainan beregu yang dimainkan oleh dua buah regu,

masing-masing regu terdiri dari sebelas orang pemain termasuk seorang

penjaga gawang. Hampir seluruh permainan dilakukan dengan

keterampilan mengolah bola dengan kaki, kecuali penjaga gawang dalam

memainkan bola bebas menggunakan seluruh bagian atau anggota

badannya dengan kaki atau tangannya ( Soekatamsi, 2000:11).

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan

pengertian sepakbola adalah cabang olahraga permainan beregu, yang

dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu terdiri dari sebelas orang

pemain. Permainan ini dimainkan dalam dua babak, setiap babak lamanya

45menit dengan waktu istirahat 15 menit yang dipimpin oleh wasit dan

dibantu oleh hakim baris, setiap pelanggaran ada sangsinya. Oleh karena itu

pemain diharapkan memelihara sportivitas. Regu yang paling banyak

memasukkan bola ke gawang lawan adalah pemenangnya.

(23)

b. Sejarah Sepak Bola

Perkembangan sepak bola semakin menunjukkan sisi positifnya

dalam membangun mental dan fisik masyarakat. Sepak bola menjadi ajang

pembuktian jati diri serta media kompetisi yang sehat antar masyarakat.

Karena perkembangan ini, kemudian sering diselenggarakan

pertandingan-pertandingan dengan mempertemukan dua tim untuk

membuktikan pihak mana yang terbaik. Meski dengan ketentuan-ketentuan

permainan masih terformat dalam bentuk yang sederhana.

Formasi atau bentuk ketentuan modern dari permainan sepak bola

dimulai pada abab ke-19 di inggris. Ketika itu para kalangan muda

terpelajar di sekolah-sekolah umum dan universitas, seperti Universitas

Cambridge, london memperkenalkan permainan sepak bola dengan

menggunakan format dan peraturan sebagaimana permainan sepak bola

yang kita kenal sekarang. Peraturan ini terkenal dengan nama “Cambridge

rules of football”. Di luar sekolah dan universitas sepak bola timbul dan

berkembang dengan pasal, tetapi tidak mau menggunakan peraturan yang

sudah ada. Pada tanggal 26 oktober 1863 perkumpulan-perkumpulan yang

ada diluar sekolah dan universitas mendirikan sebuah badan yang disebut “

The Football Associations”. Badan ini menyusun peraturan permainan

sepak bola pada tanggal 8 desember 1863, sehingga timbullah permainan

sepakbola modern, yang dalam perkembangannya mengalami

perombakan-perombakan sangat pesat. Jadi dikatakan bahwa sepak bola modern berasal

dari inggris.

Pada abab ke-20 sepak bola telah menjadi olahraga paling digemari

di dunia. Beberapa negara telah menyelenggarakan pertandingan setingkat

turnamen yang melibatkan beberapa tim nasional negara-negara yang

bergabung dalam satu kawasan seperti turnamen sepak bola untuk kawasan

Britania Raya yang diikuti oleh tim inggris, Skotlandia, Irlandia dan Wales.

Demikian halnya yang diselenggarakan di kawasan eropa tengah yang

melibatkan tim negara Jerman, Austria dan Hongaria.

(24)

Dengan perkembangan yang semakin pesat itu, maka mulai timbul

ide untuk membentuk badan sepak bola dunia. Setelah dilakukan pertemuan

dan perundingan dari beberapa negara maka badan sepak bola dunia berdiri

pada tahun 1904. Badan itu bernama “Federation International de Football

Associations” disingkat FIFA yang bermarkas di kota Zurich, Swiss.(Agus

Salim, 2008).

c. Perkembangan Sepak Bola di Indonesia

Organisasi sepak bola di Indonesia yang menangani adalah

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia ( PSSI). PSSI ini berdiri pada 19

April 1930 di Jogjakarta. Pada awal berdirinya PSSI sendiri adalah

singkatan dari Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia. Kemudian dalam

konggres PSSI di Solo tahun 1950, PSSI diubah menjadi Persatuan

Sepakbola Seluruh Indonesia dan Ir. Soeratin Sosrosoegondo tercatat

sebagai ketua umum pertama.

Pada masa awal setelah berdirinya PSSI, yakni pada tahun 1936

juga berdiri satu badan yang mengurusi olahraga di Indonesia. Badan ini

bernama NIVU ( Nederlandsh Indische Voetbal Unie) yang merupakan

badan olahraga sepak bola yang di dukung oleh pemerintah kolonial

Belanda. Setelah masa pendudukan Balatentara Jepang dan Proklamasi

Kemerdekaan, oleh pemerintahan Indonesia ditetapkan bahwa PSSI adalah

badan resmi olahraga sepakbola di tanah air pada tahun 1949. Selanjutnya

PSSI tercatat sebagai anggota FIFA pada tanggal 1 November 1952 dan

menjadi anggota konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada tahun yang sama (

Agus Salim, 2008).

d. Perkembangan Sepak Bola di Surakarta

Sepak bola juga berkembang di daerah-daerah seperti di kota

Surakarta. Berikut ini merupakan perkembangan Sepak Bola di

(25)

http://www.indowebster.web.id/archive/index.php/t173025.html?s=2b6d957

42289401175380e8dc9bb0afd,diunduh pada 3 Maret 2012):

Sejarah lahirnya PSSI tidak dapat dipisahkan dari keberadaan

Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) atau Perserikatan Sepak Bola di Solo

zaman Hindia Belanda. Vorstenlandsche Voetbal Bond juga dikenal sebagai

pelopor dunia persepakbolaan di Indonesia, karena didirikan sebelum

bermunculannya klub-klub sepak bola. Kala itu jelas PSSI belum lahir. Pada

1923 VVB didirikan oleh Sastrosaksono dari Klub Mars serta RNg

Reksodiprojo dan Sutarman dari Klub Romeo.

Kemudian pada 1928 oleh Soemokartiko nama VVB diganti

menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Solo (Persis). Solo membuktikan

rasa nasionalismenya dengan berani menggunakan kata Indonesia kali

pertama sebagai nama klub kesebelasan lokal. Hal ini juga tidak terlepas

dari peran PB X yang saat itu mendukung baik langsung maupun tidak

langsung perkembangan kebangkitan nasional yang ditandai dengan banyak

berdirinya organisasi-organisasi sosial dan politik di Kota Solo.

2. Organisasi

a. Pengertian Organisasi

Organisasi merupakan bentuk kerja sama antara manusia yang

terikat suatu ketentuan untuk mencapai tujuan bersama. Menurut

Prof.Dr.SP. Siagian, M.P.A dalam A.P. Pandjaitan (1992:1).

Mengemukakan organisasi adalah : “ Setiap bentuk persekutuan antara dua

orang atau lebih yang berkerja bersama secara formal terikat dalam rangka

pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan, dalam ikatan mana terdapat

seorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok orang

yang disebut bawahan.” Sedangkan menurut Prof. Dr. Prajuri Atmosudirdjo

dalam A.P. Pandjaitan (1992) organisasi adalah “ Struktur tata pembagian

kerja & struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang

posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai

(26)

Pengorganisasian adalah menciptakan hubungan antara aktivitas

yang akan dikerjakan; personal yang akan melakukannya dan faktor fisik

yang dibutuhkan. Tujuan dari pengorganisasian adalah membagi tugas atau

pekerjaan yang akan dilaksanakan, menentukan, menata dan

menyeimbangkan otoritas dan tanggung jawab (J.S. Husdarta, 2009).

Organisasi diibaratkan sebuah organisme atau tanaman yang semula tumbuh

dari kecambah yang kemudian tumbuh dan berkembang. Organisasi dapat

juga didefinisikan sebagai himpunan interaksi manusia yang saling bekerja

sama unyuk mencapai tujuan bersama yang terikat suatu ketentuan yag

disepakati berasama.

Berdasarkan pengertian organisasi yang diuraikan diatas, A.P.

Pandjaitan (1992) menguraikan ciri-ciri organisasi sebagai berikut :

a. Adanya suatu kelompok orang;

b. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lai saling

berkaitan yang merupakan kesatuan kegiatan;

c. Tiap-tiap anggota memberikan sumbangan tenaganya;

d. Adanya kewenangan, koordinasi, dan pengawasan;

e. Adanya suatu tujuan, (the idea of goals) (hlm.2).

b. Prinsip-prinsip Organisasi

Prinsip organisasi menurut A.P. Pandjaitan (1992:2) adalah sebagai

berikut :

1) Prinsip bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas.

Organisasi di bentuk atau disusun atas dasar adanya tujuan. Tidak ada

organisasi yang tidak mempunyai tujuan. Misalnya:

a) Organisasi kekuasaan (negara) dibentuk untuk mencapai tujuan

negara/nasional

b) Organisasi olah raga, dalam hal ini KONI, dibentuk untuk mencapai

tujuan agar dalam bidang olah raga tercapai prestasi yang

setinggi-tingginya.

c) Organisasi siswa Intra Sekolah (OSIS) dibentuk untuk melatih siswa

(27)

2) Prinsip kesatuan komando.

Bahwa seseorang hanya menerima perintah atau komando dan

bertanggung jawab terhadap seseorang atasanya.

3) Prinsip pertanggungjawaban

Dalam menjalankan tugasnya, bawahan harus bertanggung jawab

sepenuhnya kepada atasanya. Sekalipun demikian atasnya tidak dapat

menghindarkan pertanggungjawabannya atas segala kegiatan/perbuatan

yang dilakukan oleh bawahannya.

4) Prinsip pembagian kerja

Setiap orang mempunyai kemampuan yang terbatas dalam melakukan

segala macam pekerjaan. Oleh karena itu pembagian pekerjaan berarti

bahwa kegiatan-kegiatan dalam melakukan pekerjaan harus dikhususkan

secara sempurna. Kegiatan ini harus ditentukan secara jelas demi

keefektifan dalam pencapaian tujuan organisasi

5) Prinsip kepemimpinan.

Sekalipun susunan organisasi telah ditentukan, wewenang telah

dilimpahkan kepada setiap orang sesuai dengan tugasnya untuk mencapai

tujuan organisasi, perlu adanya kemampuan kepemimpinan.

Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan

orang lain, sehingga mereka bertindak dan berperilaku sebagaimana

diharapkan, terutama bagi tercapainya tujuan yang diinginkan.

c. Organisasi Olahraga

Menurut J.S. Husdarta, (2009) kegiatan olahraga, termasuk juga

penjas yang mengandung misi untuk mencapai tujuan pendidikan,

memerlukan manajemen yang baik. Kegiatan olahraga semakin berkembang

dalam corak yang semakin beragam. Aneka motif mulai tumbuh sesuai pula

dengan kebutuhan manusia dalam kaitannya dengan olahraga. Ada motif

yang bertujuan hanya untuk memenuhi dorongan berafiliasi atau

memperoleh pergaulan yang luas, dan ada pula motif untuk memperoleh

(28)

Keseluruhan kegiatan yang semakin kompleks itu, memerlukan

manajemen. Karena dalam kegiatan itu terdapat sejumlah faktor yang harus

dikelola. Kegiatannya melibatkan beberapa komponen meliputi:

1) Tujuan: termasuk prioritas.

2) Manajemen: termasuk koordinasi.

3) Fasilitas: tempat untuk menyelenggarkan kegiatan.

4) Sumber belajar: sumber pendukung bagi kelangsungan program.

5) Program : pengalaman belajar yang harus disediakan.

6) Pelatih/guru: berfungsi sebagai fasilitatir dan manajer perubahan

perilaku.

7) Siswa/ atlet: subjek yang menjadi pelaku dan sekaligus mengalami

pemberian pengalaman belajar.

8) Kendali mutu: berkaitan dengan evaluasi dan riset.

9) Supervisi: pengendalian mutu, dan terkait pula dengan unsur leading.

10) Biaya: konsekuensi logis dari semua kebutuhan.

Organisasi olahraga yang baik harus memenuhi syarat-syarat

khusus sebagai organisasi olahraga, sehingga dapat terwujud organisasi

olahraga yang sehat, baik dan berjalan dengan lancar. Di indonesia ada lebih

dari 30 cabang organisasi olahraga dari beberapa macam cabang satu

dengan yang lain berbeda-beda sehingga diperlukan wadah untuk

menampung aspirasi setiap organisasi dan sebagai induk organisasi olahraga

adalah komite Olahraga Nasional Indonesia atau disebut KONI pusat ini

membawahi dan mengkoordinir semua organisasi-organisasi olahraga di

Indonesia. Kalau sudah ada induk organisasi maka akan terjalin kerjasama

yang baik antar organisasi olahraga baik di tingkat daerah maupun pusat.

Organisasi Olahraga Sepakbola menjadi induk organisasi yang

berada di daerah adalah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia sering

(29)

d. Struktur dan Bagan Organisasi

Dalam sebuah organisasi harus dibentuk struktur organisasi setelah

terbentuk lalu dimasukkan ke dalam bagan organisasi untuk mengetahui

tugas dan tanggung jawab setiap orang dan juga memperjelas jabatan setiap

kegiatan. Ada beberapa ahli yang mengemukakan tentang hal di atas:

1) Delton E.Mc Ferland : struktur organisasi adalah pola jaringan

berhubungan antara bermacam-macam jabatan dan para pemegang

jabatan.

2) Richard A. Johnson, Fermout E. Kast dan J.E Rousseuzweig : struktur

organisasi adalah hubungan antara macam-macam fungsi atau aktifitas

di dalam organisasi.

3) John Pfiffiner dan Owen Lane : struktur organisasi adalah hubungan

antara pegawai dan aktifitas mereka satu sama lain serta terhadap

keseluruhan, dimana bagian-bagiannya adalah tugas-tugas,

pekerjaan-pekerjaan atau fungsi-fungsi dan masing-masing anggota kelompok

pegawai yang melaksanakannya.

Tiga batasan tentang organisasi di atas, dapat di simpulkan bahwa

struktur organisasi adalah kerangka antar hubungan satuan-satuan organisasi

yang di dalamnya terdapat pejabat, tugas serta wewenang yang

masing-masing mempunyai peran dalam satuan yang utuh.

Bagan organisasi adalah gambaran struktur organisasi yang di

tunjukkan dengan kotak-kotak atau garis-garis yang susun menurut

kedudukannya yang masing-masing memuat fungsi tertentu, yang satu sama

lain dihubungkan dengan garis-garis saluran wewenang dan tanggung

jawab. Dalam organisasi menurut Henry G. Hodges dalam Hani Handoko (

1984) mengemukakan empat bentuk bagan organisasi:

1) Bentuk piramid. Bentuk ini yang paling banyak di gunakan, karena

sederhana, karena sederhana, jelas dan mudah dimengerti.

2) Bentuk vertikal. Bentuk vertikal agak menyerupai bentuk piramid, yaitu

dalam hal pelimpahan kekuasaan dari atas ke bawah, hanya bagan

(30)

3) Bentuk horizontal. Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu

jabatan dengan jabatan lain. Bagan bentuk lingkaran jarang sekali

digunakan dalam praktek.

Gambar 1. Bentuk-bentuk bagan Organisasi

e. Unsur-unsur Organisasi

Dalam sebuah organisasi terdapat beberapa unsur atau unit pejabat

yang menduduki suatu bidang tertentu. Unsur-unsur organisasi tersebut

mempunyai tugas tertentu sesuai dengan jabatannya dan saling berhubungan

satu sama lainnya. Pada prinsipnya kegiatan yang dilakukan oleh setiap

unsur organisasi bertujuan untuk menghasilkan kualitas kerja yang baik dan

memajukan organisasi menjadi sehat dan berjalan dengan baik

Unsur-unsur yang terdapat dalam organisasi menurut T.Hani

Handoko (1984) yaitu : 1) Pengurus; 2) Anggota; 3) Anggaran Dasar (AD)

dan Anggaran Rumah Tangga (ART); 4) Rencana Kerja; 5) Anggaran

(31)

f. Organisasi-organisasi Sepakbola

Organisasi pada cabang olahraga sepak bola merupakan suatu

wadah yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai

prestasi yang setinggi-tingginya, khususnya dalam cabang olahraga

sepakbola. Di dalam organisasi sepakbola diharapkan akan terjadi hubungan

yang hirarki antara pengurus, pelatih dan pemain. Sehingga ketiga tersebut

dapat saling bekerja sama dalam menjalankan tugasnya, maka tujuan yang

ingin dicapai akan terwujud. Sepakbola di Indonesia terorganisasi dalam

suatu wadah dengan nama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).

Kompetisi yang diselenggarakan PSSI didalam negeri terdiri dari:

1) Divisi utama, divisi satu, divisi dua, diikuti klub sepakbola dengan

berstatus amatir.

2) Divisi tiga yang diikuti oleh sepakbola dengan pemain yang berstatus

amatir.

3) Kelompok umur usia 15, 17, 19, 23 pemain yang berstatus amatir.

4) Sepakbola wanita dan futsal.

Adapun struktur organisasi PSSI meliputi:

1) Di tingkat pusat dibentuk pengurus pusat.

2) Di daerah tingkat I Propinsi dibentuk pengurus daerah.

3) Di daerah Tingkat II Kabupaten/ Kota Administratif dibentuk pengurus

cabang.

Dalam organisasi cabang olahraga sepakbola terdapat unsur-unsur :

1) Pengurus

Sebagai unsur yang terpenting dalam mengelola organisasi,

wajar apabila pengurus dituntut untuk betul-betul meresapi

keberadaannya, artinya mereka mempunyai tanggung jawab terhadap

jalannya organisasi. Dimana maju dan mundurnya suatu organisasi

tergantung kepada kemampuannya dalam mengelola organisasi. Dalam

melaksanakan tugasnya, pengurus ditempatkan pada bagian dalam

sturktur organisasi sesuai dengan bidang dan kemampuan

(32)

bawahannya dalam batas tanggung jawab dan wewenang yang

dilimpahkan.

Susunan pengurus dalam organisasi hendaknya dapat

menyesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi itu sendiri. Dalam

Anggaran Rumah Tangga ART PSSI dijelaskan mengenai struktur dan

fungsi organisasi yang menjelaskan tentang struktur kepengurusan

sebagai berikut: a) Ketua Umum; b) Wakil Ketua Umum; c) Ketua

Harian; d)Sekjen; e) Wakil Sekjen; f) Bendahara; g) Wakil Bendahara; h)

Ketua Bidang Litbang; i) Ketua Bidang Pengawasan; j) Ketua

Pembinaan/pimpro; k) Ketua Bidang Usaha/Dana; Ketua Bidang

Perlengkapan; l) Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan; m) Ketua Bidang

Luar Negeri.

2) Anggota

Selain pengurus unsur yang tidak kalah pentingnya dalam suatu

organisasi adalah anggota dalam organisasi adalah pemain. Dengan

demikian diantara pengurus dengan anggota merupakan unsur penting

dalam organisasi yang harus dapat menciptakan dan mewujudkan suatu

kerjasama yang baik, agar aktifitas yang dijalankan dapat berjalan

dengan lancar.

Dalam penerimaan anggota masing-masing organisasi

mempunyai prosedur dan persyaratan penerimaan sendiri-sendiri.

Demikian juga untuk menjadi anggota dalam organisasi cabang olahraga

sepakbola, dibutuhkan pemain-pemain yang memenuhi syarat dari

cabang olahraga yang bersangkutan.

3) Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART)

Semakin banyak anggota dalam organisasi, semakin banyak

pula permasalahan yang timbul. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,

suatu organisasi mempunyai peraturan yang harus dipatuhi oleh

anggotanya. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga merupakan

(33)

organisasi dan merupakan petunjuk arah kemana suatu organisasi akan

dibawa.

Dalam organisasi olahraga perlu aturan-aturan yang harus ditaati

oleh semua anggota agar tujuan organisasi tersebut dapat tercapai, maka

timbul Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, agar tidak terjadi

penyelewengan-penyelewengan

4) Rencana Kerja

Kegagalan berorganisasi dapat pula terjadi pada organisasi

cabang olahraga sepakbola, dimana dapat timbul karena tidak jelasnya

rencana kerja yang digunakan dalam organisasi tersebut.

Hendaknya rencana anggaran kerja yang dibuat disesuaikan

dengan tujuan yang akan dicapai dan disusun secara periodik serta jelas,

sehingga setiap pengurus dan anggota organisasi tidak mengalami

kesulitan dalam memahami dan melakukan yang akan dilaksanakan.

5) Anggaran Belanja

Anggaran Belanja merupakan salah satu bentuk dari berbagai

rencana kerja yang telah disusun dalam organisasi olahraga sepakbola,

menyusun Anggaran Belanja harus disesuaikan dengan keadaan yang

sedang terjadi di dalam organisasi. Anggaran Belanja yang dibuat

hendaknya bersifat realistis, luwes, kontinyu dan harus mampu mengatasi

kemungkinan-kemungkinan yang terjadi tetapi dapat berubah sesuai

dengan keadaan, serta jangan sampai Anggaran Belanja yang dibuat tidak

sesuai dengan perhitungan yang sudah direncanakan karena kalau salah

dalam perhitungannya dapat fatal akibatnya.

g. Manajemen

Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa

manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit

karena dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan,

sarana-sarana dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak

(34)

pekerja dengan orang-orang untuk menentukkan, menginterprestasikan dan

mecapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaanya fungsi perencanaan

(planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia

(staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan

(controlling). Definisi manajemen memang merupakan masalah yang sulit

sehingga definisinya sangat universal. Demikian juga klub sepak bola

PERSIS Solo dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan rencana yang telah

disepakati bersama, baik anggota maupun pengurus melakukannya

berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Ada baiknya dikutipan tentang manajemen dari beberapa ahli yang

dirangkap oleh Subagio Hartoko, Dalimin dan Soemarno (1998:4):

1) DR.Sp. Siagian, MPA : Manajemen adalah kemampuan atau

keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai

tujuan melalui kegiatan orang lain.

2) Drs. The Liang Gie : Manajemen itu sebagai tindakan-tindakan atau

proses menggerakkan tindakan dalam usaha kerjasama manusia

sehingga tujuan yang telah ditentukan benar-benar tercapai.

3) GR Terry : Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan

terlebih dahulu dengan melalui atau menggunakan kegiatan orang lain.

Batasan-batasan manajemen di atas satu dengan yang lain tidak

sama, akan tetapi mempunyai unsur-unsur atau karakteristik yang sama,

yaitu :

1) Adanya tujuan yang telah ditetapkan.

2) Tujuan itu ditetapkan melalui orang lain.

3) Diperlukannya bimbingan dan pengawasan.

Dr.Hadawi Nawawi dalam buku Manajemen Olahraga Karya

Subagio Hartoko, Dalimin dan Sumarno (1998) manajemen dibedakan

menjadi dua yaitu adanya manajemen administrasi dan manajemen

(35)

Manajemen administrasi meliputi bagian-bagian:

1) Planningatau perencanaan,

2) Organizationatau pengorganisasian,

3) Direction atau pengarahan,

4) Controllingatau pengawasan,

5) Communicationatau komunikasi.

Manajemen operasional meliputi bagian-bagian:

1) Tata usaha.

2) Perbekalan.

3) Kepegawaian.

4) Keuangan.

5) Hubungan masyarakat.

h. Administrasi

Administrasi adalah suatu rangkaian kegiatan atau sekelompok

orang untuk mendayagunakan sumber-sumber dana, fasilitas, ide-ide dan

orang-orang yang tergabung dalam suatu unit kerja atau organisasi untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga lebih efektif

dan efisien.

Dalam organisasi agar dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka

perlu disusun dan diatur agar mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan.

Agar hasil tersebut tercapai, maka perlu adanya administrasi yang baik,

karena membantu dalam penyelenggaraan kegiatan. Sedangkan administrasi

yang dikutip dari Soemarno, Dalimin dan Subagio Haartoko (1998), adalah

sebagai berikut :

1) John M. Griffuer : Administrasi dapat dirumuskan sebagai

pengorganisasian dan pengarahan sumber daya manusia atau tenaga

kerja dan materi untuk mencapai tujuan yang dicapai.

2) Sondang P. Siagian : Administrasi adalah keseluruhan proses

pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu

(36)

pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk

mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Dari pengertian administrasi diatas maka perlu unsur-unsur

administrasi antara lain:

1) Sekelompok manusia, dua orang atau lebih

2) Proses kerjasama dengan rangkaian kegiatan yang menyeluruh dan

intergral.

3) Tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.

4) Pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

5) Pendayagunaan sumber personil dan material.

i. Kepemimpinan

Beberapa pengertian kepemimpinan para ahli dalam buku

Soemarno, Dalimin, Subagio Hartoko (1998):

1) Peterseon dan Flowman.

Kepemimpinan adalah proses kejiwaan untuk memberi bimbingan

kepada pengikut-pengikutnya.

2) Prof. Selo Soemarjan

Kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan untuk

mempengaruhi pihak lain, sehingga dengan kemampuan sendiri

membuat seperti apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

Organisasi merupakan perkumpulan beberapa orang yang

mempunyai tujuan tertentu, dan beberapa orang tersebut ada yang

dinamakan pemimpin. Pemimpin merupakan orang yang mempunyai

tanggung jawab kepada pengurus lainnya. Sehingga kepemimpinan yang

solid adalah kepemimpinan yang berwibawa terhadap orang lain karena

nilai-nilai pribadinya. Orang-orang yang akan mengikuti dengan senang hati

(37)

3. Metode Pembinaan

Dalam setiap cabang olahraga sangat perlu diadakan pengarahan

dalam lapangan atau sering disebut dengan pembinaan atlet. Peran ilmu

pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam bidang olahraga telah terbukti

memberikan kontribusi yang cukup besar. Oleh karena itu sistem pembinaan

olahraga harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan upaya untuk

memajukan atau menyempurnakan atlet agar dapat berprestasi dengan baik.

Karakteristik utama dari pembinaan olahraga prestasi, selalu

berorientasi jauh kedepan untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya menuju

ke taraf internasional. Perencanaan tersebut dapat dikembangkan dengan baik,

apabila ditunjang dan ditumbuhkan dalam suatu sistem pembinaan mantap,

yang diorganisasikan untuk pembinaan olahraga secara terpadu dan

kesinambungan (Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin ,1996).

Aspek-aspek yang terkait dalam pembinaan olahraga menurut

Soeharsono yang dikutip Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996):

1) Aspek Olahraga

Menyangkut permasalahan: a) Pembinaan Fisik; b) Pembinaan Teknik; c)

Pembinaan Taktik; d) Kematangan Bertanding; e) Pelatih; f)Program

Latihan dan Evaluasi.

2) Aspek Medis

Menyangkut permasalahan; a) Fungsi organ tubuh meliputi : jantung,

paru-paru, syaraf, otot, indera dan lainnya; b) Gizi; c) Cidera; d)

Pemeriksaan Medis.

3) Aspek Psikologi

Menyangkut permasalahan : a) Ketahanan Mental; b) Kepercayaan Diri; c)

Penguasaan Diri; d) Disiplin dan Semangat juang; Ketenangan,

Ketekunan, dan Kecermatan; e) Motivasi.

Berdasarkan aspek-aspek tersebut diatas, maka untuk penanganan

pembinaan olahraga diperlukan pakar-pakar yang berkualitas sesuai dengan

bidangnya, yaitu : pakar dibidang keolahragaan, pakar dibidang psikologi

(38)

pembinaan keolahragaan. Karakteristik utama untuk pembinaan olahraga

prestasi, selalu berorientasi jauh kedepan untuk mencapai prestasi tinggi

menuju ketaraf internasional. Perencanaan dapat dikembangkan dengan baik,

apabila ditunjang dan ditumbuhkan dalam satu sistem pembinaan yang mantap,

yang diorganisasi untuk penyelenggaraan pembinaan olahraga secara terpadu

dan berkesinambungan.

a. Pembinaan Atlet

Pembibitan atlet merupakan upaya untuk menemukan

individu-individu yang memiliki potensi untuk mencapai prestasi yang tinggi

dikemudian hari. Jika mengevaluasi dan menganalisa dalam berbagai

kejuaraan dunia, menunjukkan bahwa atlet tertentu yang cocok untuk

olahraga tertentu, memiliki potensi fisik yang handal, memiliki kemampuan

teknik dan taktik yang baik dan memiliki pengalaman dalam berbagai

kompetisi.

Ada baiknya sebelum membina atlet lebih lanjut, atlet diberikan

kesadaran bahwa prestasi puncak tidak akan tercapai bila atlet tersebut tidak

mempunyai kemampuan untuk mencapainya. Mesikupn faktor-faktor yang

lain sebagai faktor pendukung mempunyai sumbangan atau peranan yang

sangat penting, tetapi sumbangan terbesar datang dari atlet itu sendiri

menurut soeharsono dalam buku Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (

1996:92). Diperkirakan sumbangan tersebut adalah sebagai berikut:

Dari atlet sekitar : 60-70%

Faktor penunjang lain : 30-40%

Pembinaan yang dilakukan secara sistematik, tekun dan

berkelanjutan, diharapkan akan mencapai prestasi yang maksimal. Proses

pembinaan memerlukan waktu yang cukup lama, yakni dari masa

kanak-kanak atau usia dini hingga anak mencapai tingkat efisiensi kompetisi yang

tinggi. Menurut Harre sebagaimana dikutip hadisasmita dan syariffudin

(1996:70) Pembinaan dimulai dari program umum mengenai latihan dasar

(39)

dan kemudian berlatih yang dispesialisasikan pada cabang olahraga yang

ditekuninya.

b. Pelatih

Pelatih adalah seorang atau sekelompok orang yang mengelola atau

menangani sekelompok atau seseorang untuk mencapai keberhasilan

tertentu. Seorang pelatih harus sadar akan kenyataan bahwa ia dapat

benar-benar mempengaruhi dan membentuk watak (karakter) dan kepribadian atlet

dalam hal tertentu. Pengaruh-pengaruh ini dapat berakibat positif atau

negatif, bermanfaat dan dapat merusak atau mengganggu, dan yang jelas

dapat berpengaruh relatif tahan lama atau permanen pada seluruh kehidupan

atlet asuhannya.

Menurut ogilvie dan tutko (1966) dalam buku Harsono (1988-56)

mengemukakan : “ahli-ahli psikologi olahraga yang merupakan pula

penulis-penulis terkemuka mengenai masalah sosok kepribadian pelatih dan

atlet, telah melakukan studi terhadap 64 orang pelatih yang mewakili empat

cab olahraga yang paling digemari di Amerika, yaitu basketball, atletik,

football, dan baseball. Menurut mereka, pelatih-pelatih yang ideal dan yang

sukses adalah pelatih-pelatih yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Mempunyai ambisi tinggi untuk sukses dan ingin selalu berada di

puncak.

2) Sangat tertib dan terorganisasi dengan baik, mementingkan

perencanaan ke depan (plan ahead).

3) Individu yang sangat hangat, terbuka, dan senang bergaul dengan orang

lain.

4) Mampu mengendalikan emosi kalau berada dalam stress.

5) Dapat dipercaya, dan orang bisa menggatungkan diri kepadanya

6) Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang terpuji.

7) Condong untuk pertama-tama menyalahkan dirinya sendiri dan bukan

orang lain kalau terjadi hal-hal yang tidak baik, atau kalau menemui

kegagalan.

(40)

9) Mempunyai maturitas emosional yang mengagumkan.

Ogilvie dan Tutko menambahkan bahwa pelatih yang sukses

biasanya menguasai ilmu dan seni berkomunikasi dengan atlet dan dengan

asisten-asisten pelatihya.

Adapun syarat seorang pelatih menurut Soedjarwo (1993) adalah:

1) Harus mempunyai latar pendidikan yang sesuai dengan tugasnya

sebagai pelatih olahraga.

2) Mempunyai keterampilan cabang olahraga yang diminati, baik secara

teori maupun praktek.

3) Memiliki kondisi fisik yang baik, seperti kesegaran jasmani,

kemampuan gerak, dan proporsi bentuk tubuh yang sesuai dengan

cabang olahraga yang dibinanya.

4) Mempunyai pengalaman yang cukup dan selalu berusaha meningkatkan

ilmunya, terutama dalam cabang olahraga yang diminati.

5) Dapat berkerja sama dengan atlet, pembantu-pembantunya, dan para

ahli di bidang lain yang menunjang peningkatan prestasi.

6) Mempunyai sikap kepemimpinan yang berwatak dan kepribadian.

Seorang pelatih sangat diharapkan dapat berperan dalam berbagai

disiplin, seperti petugas bimbingan dan penyuluhan, psikologi, pemimpin,

guru, ahli strategi, bahkan seorang pelatih diharapkan dapat berperan

sebagai ayah atau teman akrab sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati

atau pelindung bagi atletnya. Seorang pelatih yang berkualitas harus sadar

akan kenyataan bahwa dapat mempengaruhi dan membentuk watak serta

kepribadian atlet dalam hal tertentu. Maka seorang pelatih perlu membekali

dengan hal-hal yang berhubungan dengan tugasnya, sehingga didalam

melatih tidak akan mengalami kesulitan yang mengakibatkan gagalnya

dalam mencapai tujuan. Adapun tugas-tugas pokok yang harus dilakukan

seorang pelatih menurut soedjarwo ( 1995 : 9) adalah :

1) Mengadakan pemanduan untuk memilih bibit unggul atlet.

(41)

3) Menyusun strategi dan menentukan taktik dalam menghadapi

pertandingan.

4) Mengadakan evaluasi setelah selesai melakukan latihan atau

pertandingan.

5) Selalu berusaha meningkatkan pengetahuan baik secara teori maupun

praktek dalam cabang olahraga yang dibinanya.

4. Metode Latihan a. Latihan

Banyak orang merasa berlatih tetapi sebenarnya tidak. Hal ini

umumnya disebabkan yang bersangkutan kurang memahami pengertian

tentang latihan yang sebenarnya.

Menurut Soeharsono yang dikutip dalam Hadisasmita dan

Syarifuddin (1996) yang mengemukakan pengertian latihan berdasarkan

ciri-ciri pelatih yang baik, maka latihan dapat diartikan sebagai “proses yang

sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian

hari kian menambah jumlah bebab latihan serta intensitas latihannya”(hlm.

1260.

Unsur-unsur latihan menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:

126) ada beberapa pengertian latihan antara lain:

1) Sistematis adalah berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem

tertentu, metodis, dari mudah ke yang sukar, latihan teratur, dari yang

sederhana ke yang lebih rumit.

2) Berulang-ulang yaitu setiap elemen teknik harus diulang sesering

mungkin, dimaksudkan agar gerakan-gerakan yang semula sukar

dilakukan menjadi semakin mudah, dan otomatis pelaksanaannya

sehingga menghemat energi.

3) Kian hari ditambah bebannya ialah setiap kali, secara periodik, segera

setelah tiba saatnya, beban latihan harus ditambah. Jika beban tidak

pernah bertambah prestasi pun tidak akan meningkat.

(42)

Tujuan pokok dari latihan menurut sudjarwo (1995 : 23a) ialah

prestasi maksimal, disamping kesehatan dan kesegaran jasmani. Latihan

akan dapat tercapai bila prinsip-prinsip latihan dapat dipahami.

b. Metode Latihan

Didalam olahraga diketemukan berbagai ragam definisi tentang

mengajar atau melatih. Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) yang

diartikan dengan metode mengajar atau melatih adalah suatu cara tertentu,

sistem bekerja seorang pelatih atau olahragawan, sehubungan dengan

pengetahuan dan kemampuannya yang cukup.

Pemilihan suatu metode, terutama tergantung pada:

1) Tujuan umum latihan

2) Tugas-tugas tertentu

3) Kekhususan suatu cabang olahraga

4) Kedewasaan fisik dan mental atlit dan tingkat kemampuannya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dapatlah ditentukan

prinsip-prinsip metode latihan. Seorang pelatih yang baik, tidak boleh

membatasi diri pada satu metode saja, tetapi harus menggunakan

bermacam-macam metode yang dicocokkan dengan berbagai unsur.

Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) macam-macam

metode latihan adalah sebagai berikut:

1) Metode yang terus menerus ( Continual Methode)

Sifat-sifat metode ini adalah:

a) Latihan dengan intensitas sedang dan konstan

b) Latihan yang relatif lama

2) Metode Ulangan ( Repetitive Methode)

Metode ini terdiri dari mengulang latihan-latihan tertentu yang dilakukan

dengan atau tanpa istirahat. Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut:

a) Latihan dengan intensitas yang konstan

b) Waktu istirahat yang optimal

(43)

3) Metode Tidak Tetap ( Variable Methode )

Sifat-sifat metode ini terutama adalah :

a) Intensitas latihan yang bermacam-macam

b) Waktu melakukan latihan yang berbeda-beda

c) Intensitas latihan yang diturunkan, menghasilkan kondisi-kondisi

untuk pemulihan kembali sebagian (partial recovery)

4) Metode Interval ( Interval Methode)

Sifat-sifatnya adalah :

a) Penetapan yang jelas tentang beban latihan

b) Waktu istirahat yang bermacam-macam, tetapi ditetapkan secara tepat

c) Penentuan yang jelas tentang intensitas latihan

d) Jumlah ulangan ditetapkan dengan tepat.

5) Metode kompetisi ( Competition Methode)

Latihan melalui kompetisi-kompetisi merupakan salah satu kegiatan yang

lebih efektif, dan para atlit senang melakukannya. Dalam melaksanakan

metode kompetisi, perlu diperhatikan beberapa syarat yang sama dengan

metode-metode lainnya. Pemilihan lawan menjadi dasar kegiatan, makin

kuat lawan makin tinggi beban dan intensitas latihannya.

c. Pengertian Program Latihan

Program latihan merupakan bahan atau kegiatan yang harus

dilaksanakan dalam latihan. Dalam menentukan program latihan harus

menyatu pada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan latihan.

Penerapan program latihan yang tepat dan disesuaikan dengan kemampuan

atletnya akan meningkatkan kualitasatlet secara maksimal. Suatu hal yang

harus dipertahankan dalam menyusun program latihan, adalah menentukan

terlebih dahulu tujuan latihan atau target yang hendak dicapai. Hal itu

penting agar atlet dapat berlatih dengan motivasi untuk mencapai sasaran.

Mempersiapkan seorang atlet untuk menghadapi pertandingan

hingga mencapai tingkat prestasi tinggi atau maksimal, diperlukan waktu

(44)

sistematis, bertahapkan serta terus-menerus sepanjang tahun tanpa selingan

berhenti sedikitpun. Latihan yang dilakukan hanya isidentil, atau hanya

selama enam bulan saja, bahkan kurang setiap tahunnya, tidak akan ada

artinya sama sekali. Bahkan mungkin dapat merusak perkembangan atlet

dikemudian harinya.

Menurut Iwan Setiawan seperti yang dikutip oleh Hadisasmita dan

Syarifuddin (1996:141), untuk menyusun program latihan yang teratur perlu

diperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :

a. Kemampuan atlet, baik fisik maupun mental

b. Waktu pelaksanakan program latihan untuk mengembangkan tenaga atau

kekuatan, daya tahan, kecepatan, fleksibility dan lain-lain untuk

dikembangkan dengan sebaik-baiknya c. Cabang olahraga yang akan disiapkan d. Standar tingkat nasional atau internasional e. Keadaan setempat : tradisi, iklim, dan lain-lain f. Faktor latihan : prestasi, volume, intensitas g. Jadwal perlombaan dan uji coba

h. Periodesasi latihan.

Untuk membina atlet agar dapat meningkatkan prestasi

setinggi-tingginya, diperlukan jangka waktu yang lama, maka latihan-latihan tersebut

dilaksanakan secara bertahap yang terdiri dari program jangka panjang dan

program tahunan ( Hadisasmita dan Syarifuddin, 1996 : 141).

Menurut Sudjarwo (1995 : 81 ) penyusunan program latihan dapat

dibagi menjadi:

1) Program Jangka Panjang

Program jangka panjang berhubungan dengan program latihan untuk

sasaran dua tahun ke atas, misalnya untuk PON atau Olympiade.

2) Program Jangka Menengah

Program jangka menengah adalah program latihan yang disusun untuk

jangka waktu satu tahun.

3) Program Jangka Pendek

Program jangka pandek merupakan penyusunan program latihan kurang

(45)

d. Prinsip-prinsip latihan

Latihan adalah merupakan suatu proses yang dilakukan secara

berulang-ulang dengan meningkatkan pemberian beban latihan itulah

sebabnya pemberian beban latihan harus memenuhi prinsip-prinsip yang

sesuai dengan tujuan latihan. Prinsip-prinsip latihan tersebut merupakan

prinsip-prinsip latihan diharapkan prestasi seorang atlet dapat cepat

meningkat. Tanpa mengetahui hal ini seorang atlet atau pelatih tidak

mungkin dapat berhasil dalam latihannya.

Sudjarwo (1995) menyarankan agar seluruh program latihan

sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut :

1) Prinsip Individu

Pemberian latihan harus selalu mengingat kemampuan dan kondisi

individu masing-masing atlet. Faktor-faktor individu yang harus

mendapat perhatian misalnya, tingkat ketangkasan atlet, umur atau

lamanya berlatih harus dibedakan, kesehatan dan kesegaran jasmaninya,

psychologis atau mentalnya.

2) Prinsip Penambahan Beban ( Overload Principle )

Penambahan beban latihan harus dilakukan tahap demi tahap secara

teratur dan ajeg. Beban latihan berat yang diberikan secara terus menerus

justru akan menghentikan kenaikan prestasi. Sebaiknya setelah dua atau

tiga kali latihan beban latihan ditingkatkan itupun tergantung dari

atletnya.

3) Prinsip Interval

Latihan interval merupakan serentetan latihan yang diselingi dengan

istirahat tertentu. Prinsip latihan interval ini dapat digunakan untuk suatu

rencana latihan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

4) Prinsip Penekanan Beban ( Stress )

Pemberian beban latihan pada suatu saat harus dilaksanakan dengan

tekanan yang berat. Penekanan beban latihan tersebut harus sampai

(46)

diberikan guna meningkatkan kemampuan organisme, kekuatan mental

yang sangat diperlukan untuk menghadapi pertandingan.

5) Prinsip Makanan Baik ( Nutrition )

Kalori yang masuk harus sesuai dengan kalori yang dikeluarkan untuk

latihan. Untuk seorang atlet diperlukan 25-35% lemak, 15 % putih telur,

50-60 hidrat arang dan vitamin serta mineral lainnya.

6) Prinsip Latihan Sepanjang Tahun

Suatu latihan harus dilakukan secara sistematis yang dilaksanakan

sepanjang tahun tanpa berseling.

Sedangkan menurut Bompa yang dikutip Hadisasmita dan

syarifuddin (1996 : 130-140 ) menyarankan agar dalam latihan sebaiknya

menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1) Prinsip Beban-lebih (Overload)

Prinsip beban lebih adalah prinsip latihan yang menekankan pada

pembebanan latihan yang lebih berat dari pada yang mampu dilakukan

oleh atlet. Seorang atlet harus berlatih dengan beban yang lebih berat

atau berlatih dengan beban diatas ambang rangsang. Namun beban

tersebut harus sesuai dengan kemampuan atlet.

2) Prinsip Perkembangan Multilateral

Prinsip ini sebaiknya diterapkan pada atlet-atlet muda. Pada permulaan

belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam kegiatan agar dengan

demikian mereka memiliki dasar-dasar yang lebih kokoh untuk

menunjang keterampilan psesialisasinya kelak.

3) Prinsip Intensitas Latihan

Perubahan fisiologis dan psikologis yang positif hanyalah mungkin

apabila atlet dilatih atau berlatih suatu program latihan yang intensif,

dimana pelatih secara progresif menambahkan beban kerja, jumlah

pengulangan gerakan ( repetition ) serta kadar intensitas dari repetisi

Gambar

Tabel Halaman
Gambar 1. Bentuk-bentuk bagan Organisasi
Gambar .2 Lapangan Sepakbola
Gambar 3. Alur Kerangka Berpikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat fanatisme fans sepakbola memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku pembelian aksesori

Solo apakah telah sesuai dengan hukum Islam dan UU RI no.23 tahun 2011.. ataukah

Pemesanan tiket pertandingan sepak bola, di Stadion Mandala yang selama ini dipesan secara langsung mengalami kendala, dimana penonton tidak dapat memesan karena habis

Mengenai hal tersebut penulis mengajukan ide untuk merancang aplikasi yang berjudul ‘E-Cash Untuk Pembayaran E-Ticketing Pertandingan Klub Sepak Bola Persib

Sedangkan, persentase skor rata-rata tingkat pemahaman pemain sepakbola usia 19 tahun terhadap peraturan sepakbola (laws of the game) 2014/2015pada empat klub

Data hasil penelitian pretest dan post-test pengaruh latihan Passing segi empat terhadap kemampuan teknik dasar Passing atlet di Sekolah Sepak Bola Ksatria Solo usia 10-12