BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Perilaku - Gambaran Perilaku Petugas Rawat Inap Dalam Pelaksanaan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Di Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012

28  13  Download (1)

Full text
(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Perilaku

Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan) (Sarwono, 1993).

Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri, yang mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku juga dapat diartikan sebagai aktifitas organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Notoatmodjo, 2007).

Perilaku dan gejala yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan hidup terutama perilaku manusia. Faktor keturunan merupakan konsep dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu selanjutnya, sedangkan lingkungan merupakan kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku tersebut.

2.1.2.Bentuk-Bentuk Perilaku

(2)

(cognitive domain), ranah afektif (affective domain) dan ranah psikomotor (psychomotor domain), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut yang terdiri dari:

1. Pengetahuan peserta terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge). 2. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan

(attitude).

3. Praktik atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice).

Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007), seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Berdasarkan rumus teori Skinner tersebut maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Perilaku tertutup (covert behavior)

Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

(3)

Dari penjelasan di atas dapat disebutkan bahwa perilaku itu terbentuk di dalam diri seseorang dan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu :

1. Faktor eksternal, yaitu stimulus yang merupakan faktor dari luar diri seseorang. Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non-fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi maupun politik.

2. Faktor internal, yaitu respon yang merupakan faktor dari dalam diri seseorang. Faktor internal yang menentukan seseorang merespon stimulus dari luar dapat berupa perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya.

Dari penelitian-penelitian yang ada faktor eksternal merupakan faktor yang memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perilaku manusia karena dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya dimana seseorang itu berada (Notoatmodjo, 2007).

Dengan demikian kita juga dapat menyimpulkan bahwa banyak perilaku yang melekat pada diri manusia baik secara sadar maupun tidak sadar.Salah satu perilaku yang penting dan mendasar bagi manusia adalah perilaku kesehatan.Becker(1979), membuat suatu konsep tentang perilaku dalam 3 kelompok yaitu:

2.1.3. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Skinner dalam Notoatmodjo adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman dan lingkungan.(Notoatmodjo, 2007).

(4)

1. Perilaku Hidup Sehat

Perilaku Hidup Sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yang mencakup antara lain:

a. Makan dan menu seimbang (appropriate diet) b. Olahraga teratur

c. Tidak merokok

d. Tidak minum-minuman keras dan narkoba e. Istirahat yang cukup

f. Mengendalikan stress

g. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks.

2. Perilaku sakit (IIInes behaviour)

Perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang : gejala dan penyebab penyakit, dan sebagainya.

3. Perilaku peran sakit (the sick role behaviour)

Orang sakit (pasien) mempunyai hak dan kewajiban sebagai orang sakit,yang harus diketahui oleh orang sakit itu sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya). Perilaku ini disebut perilaku peran sakit (the sick role) yang meliputi:

(5)

b. Mengenal / mengetahui fasilitas atau sarana pelayanan/penyembuhan penyakit yang layak.

c. Mengetahui hak (misalnya : hak memperoleh perawatan, memperoleh pelayanan kesehatan, dan sebagainya) dan kewajiban orang sakit (memberitahukan penyakitnya kepada orang lain terutama kepada dokter/petugas kesehatan, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, dan sebagainya).

Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para petugas terutama petugas kesehatan dan diperlukan juga undang-undang kesehatan untuk memperkuat perilaku tersebut (Notoatmodjo, 2003).

2.1.4. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perilaku Kesehatan.

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2005), membedakannya dua determinan masalah kesehatan yakni behavioral causes (faktor perilaku) dan non behavioral causes (faktor non perilaku) dan bahwa faktor perilaku sendiri ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu :

(6)

atau rasa mujarab, dapat dikatakan bahwa faktor predisposisi sebagai motivasi, hasrat atau pilihan pada individu atau kelompok yang dapat membawa kepada tindakan yang spesifik.

2. Faktor-faktor pemungkin (enabling factor) adalah faktor – faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan yang dimaksud oleh faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.

3. Faktor-faktor penguat (reinforcing factor).

Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak.Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma) sikap dan perilaku para petugas termasuk para petugas kesehatan.

Menurut Notoatmodjo (2003) termasuk juga disini adalah undang-undang, peraturan-peraturan, baik pusat maupun daerah, yang terkait dengan kesehatan untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para petugas terutama petugas kesehatan dan diperlukan juga undang-undang kesehatan untuk memperkuat perilaku tersebut.

2.1.5. Pengetahuan (knowledge)

(7)

hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.

Jumlah dan jenis proses kognitif tetap sama seperti dalam taksonomi yang lama, hanya kategori analisis dan evaluasi ditukar urutannya dan kategori sintesis kini dinamai membuat (create).Seperti halnya taksonomi yang lama, taksonomi yang baru secara umum juga menunjukkan penjenjangan, dari proses kognitif yang sederhana ke proses kognitif yang lebih kompleks. Namun demikian penjenjangan pada taksonomi yang baru lebih fleksibel sifatnya. Artinya, untuk dapat melakukan proses kognitif yang lebih tinggi tidak mutlak disyaratkan penguasaan proses kognitif yang lebih rendah.

1. Menghafal (Remember): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa menjadi

bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).

(8)

memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).

3. Mengaplikasikan (Applying): mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan

berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak berarti bahwa kategori

ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua

macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan

(implementing).

4. Menganalisis (Analyzing): menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut dan struktur besarnya. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: membedakan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting). (Widodo, 2006)

Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain : 1. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah pula bagi mereka untuk menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang mereka miliki.

(9)

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

3. Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan aspek fisik dan psikologis (mental), dimana aspek psikologis ini taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.

4. Minat

Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu.Minat menjadikan sesorang untuk mencoba menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

5. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami oleh individu baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungannya.Pada dasarnya pengalaman mungkin saja menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi individu yang melekat menjadi pengetahuan pada individu secara sabjektif.

6. Informasi

(10)

2.1.6. Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

Selain bersifat positif atau negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dsb). Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab sering kali terjadi bahwa seseorang memperhatikan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap dapat berubah dengan diperoleh tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono, 1993). Adapun ciri – ciri sikap adalah sebagai berikut:

1. Sikap itu dipelajari(learnability)

(11)

2. Memiliki kestabilan (stability)

Sikap yang bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap dan stabil melalui pengalaman.Misalnya pengalaman terhadap suka atau tidak suka terhadap warna tertentu (spesifik) yang sifatnya berulang – ulang.

3. Personal Societal Significance

Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dengan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan, terbuka dan hangat, maka ini sangat berarti bagi dirinya dan dia akan merasa bebas dan nyaman.

4. Berisi Kognitif dan Affecty

Komponen kognitif dari sikap adalah berisi informasi yang aktual, misalnya objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan.

5. Approach – Avoidence Directionality

Bila seseorang memiliki sikap yang mudah beradaptasi terhadap sesuatu objek, mereka akan mendekati dan membantunya, sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang susah beradaptasi maka mereka akan menghindarinya. (Ahmadi, 1999).

Selanjutnya ciri – ciri sikap menurut WHO adalah sebagai berikut :

1. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling)

(12)

2. Adanya orang lain yang menjadi acuan (personnal references) merupakan faktor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi tetap mengacu pada pertimbangan – pertimbangan individu.

3. Sumber daya (resurces) yang tersedia merupakan pendukung untuk bersikap positif atau negatif terhadap objek atau stimulus tertentu dengan pertimbangan kebutuhan dari pada individu tersebut.

Sosial budaya (culture) berperan besar dalam mempengaruhi pola pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek / stimulus tertentu. (Notoatmojo,2005)

Sikap mempunyai tiga komponen pokok, seperti yang dikemukakan Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2007), yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. 2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. 3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berfikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan sikap, yaitu:

1. Menerima (receiving) artinya bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.

(13)

3. Menghargai (valuing) yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga (kecenderungan untuk bertindak).

4. Bertanggung jawab (responsible) yaitu yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

Ciri-ciri sikap adalah :

1. Sikap seseorang tidak dibawa sejak lahir, tetapi harus dipelajari selama perkembangan hidupnya.

2. Sikap itu tidak semata-mata berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dengan suatu objek, pada umumnya sikap tidak berkenaan dengan suatu objek saja, melainkan juga dapat berkenaan dengan deretan-deretan objek yang serupa. 3. Sikap, pada umumnya mempunyai segi-segi motivasi dan emosi, sedangkan pada

kecakapan dan pengetahuan hal ini tidak ada.

Sedangkan fungsi sikap dibagi menjadi empat golongan, yaitu : 1. Sikap sebagai alat untuk menyesuaikan diri.

Sikap adalah sesuatu yang bersifat comunicable, artinya suatu yang mudah menjalar, sehingga menjadi mudah pula menjadi milik bersama. Sikap bisa menjadi rantai penghubung antara orang dengan kelompoknya atau dengan anggota kelompoknya.

2. Sikap sebagai alat pengatur tingkah laku.

(14)

secara spontan, akan tetapi terdapat adanya proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu.

3. Sikap sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman.

Manusia didalam menerima pengalaman-pengalaman dari luar sikapnya tidak pasif, tetapi diterima secara aktif, artinya semua berasal dari dunia luar tidak semuanya dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih mana-mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dilayani. Jadi, semua pengalaman diberi penilaian lalu dipilih.

4. Sikap sebagai pernyataan kepribadian.

Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang, ini disebabkan karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya oleh karena itu dengan melihat sikap-sikap pada objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Sikap merupakan pernyataan pribadi (Notoatmodjo, 2007).

2.1.7. Tindakan (practice)

Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terbentuknya suatu sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain didalam tindakan atau praktik (Notoatmodjo, 2007).

Tingkatan-tingkatan praktik itu adalah :

(15)

2. Respon terpimpin (guided response) adalah bila seseorang dapat melakukan sesuatu sesuai urutan yang benar.

3. Mekanisme (mechanism) adalah apabila seseorang melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

4. Adaptasi (adaptation) adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.2. Penyuluhan Kesehatan 2.2.1.Pengertian

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan dari berbagai kegiatan yang berdasarkan prinsip belajar untuk mencapai keadaan dimana individu, keluarga atau masyarakat ingin hidup sehat, menegtahui caranya, melaksanakan apa yang bisa mereka kerjakan dan bila perlu mencari pertolongan. Jadi tujuan penyuluhan kesehatan adalah perubahan perilaku.

2.2.2.Promosi KesehatanRumah Sakit

(16)

masyarakat sesuai sosial budaya mereka, dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2011).

Promosi kesehatan dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya untuk bisa menangani kesehatannya, hal ini merupakan tanggung jawab bersama yang berkesinambungan antara dokter dan pasien atau petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Selain itu efektivitas suatu pengobatan dipengaruhi juga oleh pola pelayanan masyarakat yang ada, sikap dan keterampilan para pelaksananya serta lingkungan, sikap dan pola hidup pasien serta keluarganya.

Promosi Kesehatan Rumah Sakit dimulai sejak pasien masuk Rumah Sakit atau sejak ia berinteraksi dengan tenaga kesehatan, pengalaman pertama pasien tersebut sangat mempengaruhi kesuksesan Program Promosi Kesehatan Rumah Sakit. Promosi kesehatan di Rumah Sakit berusaha menggugah kesadaran dan minat pasien serta keluarganya untuk berperan serta secara positif dalam usaha penyembuhan dan pencegahan penyakit. Karena itu promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pelayanan Rumah Sakit. PKRS di beberapa Rumah Sakit memang sudah dilaksanakan sejak lama, namun dalam pelaksanaannya tidak sistematik dan tidak terorganisir secara terarah melainkan hanya berdasarkan minat dan kesempatan yarg dimiliki oleh beberapa petugas tertentu saja (Hartono, 2010).

(17)

ditekankan pada aspek kuratif dan rehabilitatif, telah berdampak pada elitisme rumah sakit sebagaimana berikut ini :

1. Rumah sakit menjadi organisasi pasif menunggu sampai datangnya pasien, tanpa harus peduli masalah kesehatan yang terjadi diluar dindingnya. Keadaan menunggu ini mengakibatkan rumah sakit sulit bereaksi terhadap perubahan. 2. Rumah sakit hanya memberikan pelayanan individual yang sesaat, tanpa

memperhatikan dampak dari pelayanan yang bersifat demikian pada masyarakat. 3. Rumah sakit tidak termasuk sebagai bagian integral dari sistem pelayanan

kesehatan setempat.

4. Rumah sakit tidak memiliki wilayah cakupan kerja definitif. Akibatnya mempersulit penyusunan strategi dan rencana kerjanya, sehingga tidak memungkinkan untuk membina fasilitas kesehatan yang ada dibawahnya secara efektif dan terarah.

5. Rumah sakit menjadi rentan dan rapuh terhadap perubahan, karena tidak pernah memikirkannya dan terlalu bergantung pada subsidi.

6. Rumah sakit akan ditinggalkan oleh masyarakat, karena tidak dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan yang mereka harapkan.

7. Merasa tidak ada saingan, maka rumah sakit akan sulit menghadapi era pasar bebas ekonomi (Fizran, 1998).

(18)

dapat berkembang di Rumah Sakit apabila ada pengertian dan kemauan pengelola dan penyelenggaranya.

Beberapa unsur penunjang yang diperlukan agar program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dapat dilaksanakan sebaik-baiknya adalah:

1. Kesepakatan konsep

2. Kebijaksanaan yang menunjang 3. Tenaga

4. Sumber daya 5. Teknologi 6. Pengelolaan

Untuk mengembangkan Promosi KesehatanRumah Sakit (PKRS) ditempuh pendekatan 3 tahap.

1. Tahap Satu

Penyuluhan melalui contoh-contoh : I. Rumah Sakit :

a. Gedung b. Lingkungan

c. Informasi yang cukup II. Petugas :

a. Penampilan bersih dan rapih b. Sikap simpatik

(19)

2. Tahap dua

Penyuluhan melalui media : a. Poster

b. Kaset audio / video 3. Tahap tiga

Penyuluhan melalui interaksi langsung antara petugas dan pasien. 2.2.3. Peluang Promosi Kesehatan Oleh Rumah Sakit

Menurut Buku Petunjuk Pelaksanaan Teknis PKRS oleh Depkes (2003) secara umum begitu banyak kesempatan yang dapat digunakan dalam mempromosikan kesehatan oleh Rumah Sakit, yaitu:

1. Di dalam gedung

Hal ini dapat dilaksanakan sejalan dengan pelayanan yang dilaksanakan oleh rumah sakit, upaya promosi kesehatn yang dapat dilaksanakan di dalam gedung diantaranya:

a. PKRS di ruang pendaftaran/administrasi, yaitu dimana di ruang pasien/klien harus melapor atau mendaftar sebelum mendapat pelayanan.

b. PKRS dalam pelayanan Rawat Jalan bagi pasien, yaitu di poliklinik-poliklinik, seperti di poliklinik anak, mata, bedah, penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, dan lain-lain.

(20)

d. PKRS dalam pelayanan Penunjang medik bagi pasien, yaitu di pelayanan obat/apotik, pelayanan laboraorium, dan pelayanan rehabilitasi medik, termasuk di kamar mayat.

e. PKRS dalam pelayanan bagi klien (orang sehat), yaitu pelayanan KB, konseling gizi, bimbingan senam, pemeriksaan kesehatan (check up), konseling kesehatan jiwa, konseling kesehatan remaja, dan lain-lain.

2. Di luar gedung

Promosi kesehatan oleh Rumah Sakit dapat pula dilaksanakan dikawasan luar gedung Rumah sakit, yaitu diantaranya:

a. PKRS di tempat parkir, yaitu pemanfaatan ruang yang ada di lapangan/gedung parkir sejak dari bangunan gardu parkir sampai ke sudut-sudut lapangan/gedung parkir.

b. PKRS di taman Rumah Sakit, yaitu baik taman-taman yang ada di depan, samping/sekitar maupun di dalam/halaman Rumah Sakit.

c. PKRS di dinding luar Rumah Sakit.

d. PKRS di kantin/toko-toko/warung/kios-kios yang ada di depan Rumah Sakit. e. PKRS di tempat ibadah yang tersedia di Rumah Sakit (misalnya mesjid atau

mushalla)

f. PKRS di pagar pembatas kawasan Rumah Sakit (Depkes, 2003). 2.2.4. Pendukung Dalam Pelaksanaan PKRS

(21)

1. Metode dan Media

Pada prinsipnya metode yang digunakan adalah komunikasi.Diperlukan pemilihan metode yang cermat dengan mempertimbangkan kemasan informasinya, keadaan penerima informasi (termasuk kemampuan baca tulis dan social budayanya) dan kondisi ruang serta waktu.Kesemua faktor harus mendapat pertimbangan yang matang sebelum upaya promosi kesehatan dilaksanakan.

2. Sumber Daya yang memadai

Sumber daya yang paling utama dalam penyelenggaraan PKRS adalah tenaga (Sumber Daya Manusia atau SDM), baru kemudian sarana dan prasarana termasuk media komunikasi dan dana/ anggaran.

Sumber daya manusia utama yang dibutuhkan dalam PKRS ini meliputi semua petugas rumah sakit yang melayani pasien/klien (dokter, perawat, bidan dan lain-lain), dan tenaga khusus promosi kesehatan (pejabat fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat).

Sebelum melaksanakan PKRS sebaiknya semua sumber daya manusia yang ada diberikan keterampilan dasar secara khusus seperti pengetahuan dan keterampilan konseling. Standarnya berdasarkan Kepmenkes No. 11 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah disebutkan bahwa tenaga khusus promosi kesehatan untuk Rumah Sakit adalah sebagai berikut :

(22)

2. D3 kesehatan ditambah minat & bakat di bidang promosi kesehatan sebanyak 2 orang untuk membantu/ memfasilitasi pelaksanaan pemberdayaan, bina suasana dan advokasi.

Sedangkan untuk standar sarana/ peralatan PKRS dibutuhkan : 1. Over Head Projector (OHP)

2. Amplifier & wireless microphone

3. Layar yang dapat digulung 4. Kamera foto

5. Cassette recorder / player

6. TV disetiap ruang tunggu & ruang promosi kesehatan

7. VCD / DVD playerdi tiap ruang tunggu & ruang promosi kesehatan 8. Computer & printer

9. Laptop & LCD projector untuk presentasi

10.Gadgets kelengkapan laptop untuk presentasi (Sangkot, 2008).

1.3. Strategi

Strategi yang dipakai saat ini adalah :

1. Memanfaatkan forum koordinasi baik lintas sektoral maupun lintas program. 2. Menetapkan wadah koordinasi PKRS dalam struktur Organisasi Rumah Sakit. 3. Menyelenggarakan kegiatan penyuluhan di satuan-satuan kerja Rumah Sakit. 4. Mengupayakan dana untuk pembangunan program.

(23)

6. Menyusun pedoman / petunjuk pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKRS)

2.4. Standar Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Menurut WHO, 1998 yang menjadi standar Rumah Sakit Promotor Kesehatan

(Health Promoting Hospital) adalah sebagai berikut : 1. Standar 1 Kebijakan Manajemen

Organisasi Rumah Sakit memiliki kebijakan tertulis mengenai promosi kesehatan.Kebijakan ini diimplementasikan sebagai bagian dari keseluruhan sistem perbaikan kualitas organisasi, yang bertujuan untuk memperbaiki dampak kesehatan.Kebijakan ini ditujukan bagi pasien, masyarakat umum dan staf.

Tujuan :

Adanya dukungan kebijakan untuk pelaksanaan PKRS sebagai bagian dari integral peningkatan kaulitas manajemen organisasi.

Elemen :

1. Rumah Sakit memiliki kebijakan tertulis tentang PKRS. 2. Rumah Sakit membentuk unit kerja PKRS.

3. Rumah Sakit memiliki tenaga pengelola PKRS.

4. Rumah Sakit memiliki alokasi anggaran untuk pelaksanaan PKRS. 5. Rumah Sakit memiliki perencanaan PKRS secara berkala.

(24)

9. Rumah Sakit melaksanakan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PKRS. 2. Standar 2 Kajian Kebutuhan Masyarakat Rumah Sakit

Rumah Sakit melakukan kajian tentang kebutuhan Promosi Kesehatan untuk pasien, keluarga pasien, pengunjung rumah sakit dan masyarakat sekitarrumah sakit. Tujuan :

Diperolehnya gambaran tentang informasi yang dibutuhkan pasien, keluarga pasien, pengunjugn serta masyarakat sekita rumah sakit sebagai dasar pelaksanaan Promosi Kesehatan.

Elemen :

1. Rumah sakit memiliki instrument kajian kebutuhan informasi dari pasien, keluarga pasien, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar rumah sakit, serta media komuikasi yang sesuai untuk mereka.

2. Rumah sakit melakukan kajian kebutuhan informasi dari pasien, keluarga pasien, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar rumah sakit, serta media komunikasi yang sesuai untuk mereka.

3. Rumah sakit memiliki rumusan informasi yang dibutuhkan pasien, keluarga pasien, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar rumah sakit, serta media komunikasi yang sesuai untuk mereka.

3. Standar 3 Pemberdayaan Masyarakat Rumah Sakit

(25)

Meningkatnya daya dan peran serta masyarakat rumah sakit dalam mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya.

Elemen :

1. Rumah sakit mewajibkan para petugas rumah sakit melakukan pemberdayaan masyarakat selama bertugas dalam aspek-aspek kuratif, rehabilitative, preventif, dan promotif.

2. Rumah sakit menyediakan akses di setiap unit pelayanan untuk merespon kebutuhan informasi pasien, keluarga pasien, pengunjung rumah sakit dan masyarakat sekitar rumah sakit.

3. Rumah sakit berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat di sekitar rumah sakit melalui pengorganisasian masyarakat.

4. Standar 4 Rumah Sakit Melaksanakan Bina Suasana Untuk Mendukung Kegiatan Pemberdayaan

Rumah sakit menjamin tempat kerja yang aman, bersih dan sehat.Oleh karena itu rumah sakit memastikan upaya-upaya yang menyangkut kebersihan dan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada untuk melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tujuan :

Rumah sakit menciptakan suasana yang kondusif agar pasien, keluarga pasien, pengunjung, dan masyarakat sekitar rumah sakit untuk mau dan mampu berperilaku hidup bersih dan sehat.

(26)

1. Rumah sakit memanfaatkan ruangan dan halaman rumah sakit untuk memasang/menayangkan berbagai media komunikasi.

2. Rumah sakit memanfaatkan individu/kelompok di luar rumah sakit untuk bina suasana.

3. Rumah sakit memanfaatkn media massa untuk bina suasana. 5. Kemitraan

Rumah sakit menggalang kemitraan dengan sector lain, dunia usaha dan swasta lainnya dalam upaya meningkatkan pelaksanaan PKRS baik di dalam maupun di luar gedung.

Tujuan :

Terjalin kerjasama dengan mitra terkait untuk optimalisasi pelaksanaan kegiatan PKRS.

Elemen :

1. Rumah sakit mengidentifikasi mitra potensial dalam rangka menggalang kemitraan berkaitan dengan pelaksanaan promosi kesehatan.

2. Rumah sakit mempunyai jejaring kemitraan dengan sektor lain, dunia usaha dan swasta lainnya.

(27)

6. Standar 6 Rumah Sakit Yang Mewujudkan Tempat Kerja Sehat

Rumah sakit mewujudkan lingkungan tempat kerja/pelayanan yang aman, bersih dan sehat, serta menjamin kecukupan sarana dan prasarana untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

Tujuan :

Terwujudnya tempat kerja yang aman, bersih dan sehat bagi masyarakat rumah sakit.

Elemen :

1. Rumah sakit menjamin terjaganya keamanan, kebersihan, dan kesehatan lingkungan rumah sakit.

2. Rumah sakit menyediakan sarana dan prasarana untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkugan secara memadai.

(28)

2.5. Kerangka Konsep

Berdasarkan teori bagan kerangka konsep dapat dilihat berikut ini :

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep diatas menggambarkan bahwa adanya karakteristik yang trdiri daeri pengetahuan, sikap, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, serta gaji yang akan mempengaruhi pelaksanaan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) di Rumah sakit Umum Daerah Tanjung Pura kabupaten Langkat

Figure

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.1.

Kerangka Konsep Penelitian p.28

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in