• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR PADA PEMBUATAN ROTI MANIS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR PADA PEMBUATAN ROTI MANIS."

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PADA PEMBUATAN ROTI MANIS

SKRIPSI

Oleh:

TUTIK WINARTI NPM. 1033010026

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pangan

Oleh:

TUTIK WINARTI

NPM : 1033010026

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA

(3)

SKRIPSI

FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR

PADA PEMBUATAN ROTI MANIS

Di susunoleh:

TUTIK WINARTI

NPM : 1033010026

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima Oleh Tim Penguji pada tanggal 23 Desember 2014

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Dedin F. Rosida, STP, MKes Ir. Murtiningsih, MM NPT. 3 7012 97 0159 1 NIP. 1953 0903 198703 2 001

Mengetahui

Dekan Fakultas Teknologi Industri

Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Surabaya

(4)

KETERANGAN REVISI

Mahasiswa di bawahini:

Nama : Tutik Winarti

NPM : 1033010026

Prodi : Teknologi Pangan

Telah mengerjakan (revisi/tidakrevisi) Laporan Penelitian dengan judul:

FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR PADA PEMBUATAN ROTI MANIS

Surabaya, Desember 2014

Dosen Penguji yang memerintahkan revisi:

1.

2.

Ir. Ulya Srofa, MM Dr. Dedin F. Rosida, STP, Mkes

NIP. 19630516 198803 2 001

NPT. 3 7012 97 01591

3.

Ir. Enny Karti Basuki, MP

NIP. 19560213 198803 2 001

Mengetahui,

Kepala Program Studi Teknologi Pangan

(5)

Nama : Tutik Winarti

NPM : 10330100

Program Studi : Teknologi Pangan Fakultas : Teknologi Industri

Judul : FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR PADA PEMBUATAN ROTI MANIS

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya dan bukan

merupakan duplikasi sebagian atau seluruhnya dari karya orang lain, kecuali

bagian sumber informasi yang dicantumkan.

Pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya secara sadar dan

bertanggung jawab dan saya bersedia menerima sanksi pembatalan skripsi

apabila terbukti melakukan duplikasi terhadap skripsi atau karya ilmiah lain yang

sudah ada.

Surabaya, Desember 2014

Pembuat Pernyataan

(6)

i

TUTIK WINARTI NPM. 1033010026

INTISARI

Roti manis merupakan salah satu jenis roti yang terbuat dari adonan yang difermentasi serta mengandung 10% gula atau lebih. Adonan roti manis membutuhkan jumlah mentega putih yang lebih besar dari adonan roti tawar. Bahan baku roti manis yaitu tepung terigu, susu, mentega putih, gula, telur, ragi dan garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan emulsifier konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap kualitas fisik, kimia dan roti manis yang dihasilkan.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan masing-masing perlakuan kombinasi diulang sebanyak 2 kali. Faktor I penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung ( 5%, 10%, 15%). Faktor II penambahan kuning telur (15%, 10%, 5%).

Hasil penelitian perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung 10% dan kuning telur 15% merupakan perlakuan terbaik dengan kadar air 21,730%, kadar abu1,270%, kadar protein 9,840%, kadar lemak 11,035%, volume pengembangan 157,128%, tekstur 0,052mm/gr.detik, jumlah pori 68,000 (pori/cm2) dan hasil uji organoleptik dengan nilai rasa 155 (agak suka), aroma 140 (agak suka), warna 156,5 (agak suka) dan tekstur 157,5 (agak suka).

Hasil analisa finansial diperoleh nilai BEP dicapai pada Rp. 99.315.547,42, persen BEP sebesar 24,49% dan kapasitas titik impas pada 7.639,66 kg/th, sedangkan untuk nilai NPV sebesar Rp. 50.859.225 dan Payback Period 3 tahun 6 bulan dengan Benefit Cost Ratio sebesar 1.0637dan IRR 22.234% (dengan tingkat suku bunga 20%), sehingga usaha roti manis dapat dikembangkan.

(7)

ii

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. karena atas

rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan

SKRIPSI dengan judul “FORMULASI EMULSIFIER KONSENTRAT PROTEIN

BIJI LAMTORO GUNG DAN KUNING TELUR PADA PEMBUATAN ROTI

MANIS”.

Penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Dr. Dedin F.

Rosida, S.TP., Mkes dan Ir. Murtiningsih, MM. selaku dosen pembimbing, terima

kasih bimbingan dan dorongan yang telah diberikan kepada penulis selama

penyusunan skripsi ini bisa terselesaikan.

Sebagaimana penulis menyadari bahwa banyak sekali kekurangan serta

kekhilafan dalam penyusunan skripsi ini. untuk itu dalam kesempatan ini penulis

menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Bapak Ir. Sutiyono, MT selaku Dekan Fakultas Teknik Industri UPN “

Veteran” Jawa Timur.

2. Ir. Sudaryati HP, MP selaku Ketua Jurusan Teknologi Pangan.

3. Dr. Dedin F. Rosida, S.TP., Mkes dan Ir. Murtiningsih, MM selaku Dosen

Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan

motivasi dalam pembuatan laporan.

4. Ir. Sudaryati HP, MP dan Ir. Ulya Sarofa, MM selaku Dosen Penguji

yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dalam pembuatan

laporan ini

5. Semua dosen-dosen Teknologi Pangan UPN “ Veteran” Jawa Timur,

6. Kepada kedua orang tuaku tercinta Bapak Natim dan Ibu Lamini, adik Dwi

dan Bayu terima kasih untuk doanya dan slalu memberikan dukungannya.

7. Teman-teman seperjuangan Angel, Oliph, Dyah, Ayu, mbak Winda,

mbak Sinta, mbak Dian, Resita, Opik, kak Nias, Kadik dan semua

teman-teman TEPA 2010, tinku selama ini telah memberikan bantuan dan

motivasi.

8. Keluarga besar Satmenwa 806 UPN “ Veteran” Jawa Timur yang telah

(8)

iii

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempuna dan

dengan segala kerendahan, kekurangan serta keterbatasan penulis tidak

menutup kemungkinan terdapat kesalahan. Oleh karena itu penulis memohon

maaf yang sebesar-besarnya. Segala kritik dan saran sangat penulis harapkan

demi kesempurnaan laporan ini dan kebaikan untuk langkah selanjutnya.

Surabaya, Januari 2015

(9)

iv

C. Manfaat Penelitian ...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Roti Manis ...

B. Konsentrat Protein Biji Lamtoro Gung ...

C. Kuning Telur ...

D. Bahan Utama Pembuatan Roti Manis ...

E. Bahan Pembantu Pembuatan Roti Manis ...

F. Proses Pembuatan Roti Manis ...

G. Analisis Keputusan ...

H. Analisis Finansial ...

1. Break event point (BEP) ...

2. Net Present Value (NPV) ...

3. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C Ratio) ...

4. Payback Period...

5. Internal Rate of Return (IRR) ...

I. Landasan Teori ...

J. Hipotesis ...

BAB III METODE PENELITIAN

(10)

v

F. Prosedur Penelitian ...

BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisa Kimia Roti manis

1. Kadar Air………..

2. Kadar Abu ………

3. Kadar Protein ………..

4. Kadar Lemak ………

B. Hasil Analisa Fisik Roti manis

1. volume pengembangan ……….…….

2. Tekstur...

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………

(11)

vi

Tabel 2.1 Syarat mutu roti manis ...

Tabel 2.2 Kandungan kimiawi pada biji Lamtoro Gung...

Tabel 2.3 Komposisi kimia kuning telur ...

Tabel 2.4 Daftar komposisi tepung terigu per 100 gram bahan ...

Tabel 2.5 Komposisi kimia ragi roti (100 gram bahan) ...

Tabel 2.6 Komposisi shortening per 100 gram bahan...

Tabel 2.7 Komposisi kimia susu skim per 100 gram bahan ...

Tabel 2.8 Daftar komposisi gula pasir per 100 gram bahan...

Tabel 4.1 Nilai rata-rata kadar air roti manis pada perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur ...

Tabel 4.2 Nilai rata-rata kadar abu roti manis pada perlakuan

penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung ...

Tabel 4.3 Nilai rata-rata kadar abu roti manis pada perlakuan

penambahan kuning telur ...

Tabel 4.4 Nilai rerata kadar protein dengan perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur ...

Tabel 4.5 Nilai rerata kadar lemak dengan perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur ... .

Tabel 4.6 Nilai rerata volume pengembangan dengan perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan

kuning telur ...

Tabel 4.7 Nilai rata-rata tekstur roti manis pada perlakuan

penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung ...

Tabel 4.8 Nilai rata-rata tekstur roti manis pada perlakuan

penambahan kuning telur ... .

Tabel 4.9 Nilai rerata jumlah pori roti manis dengan perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur ... Tabel 4.10 Nilai skoring uji kesukaan rasa roti manis ...

Tabel 4.11 Nilai skoring uji kesukaan aroma roti manis ...

(12)
(13)

viii

Gambar 2.1 Diagram alir pembuatan tepung biji lamtoro gung ………..

Gambar 2.2 Diagam alir pembuatan enzim kasar kulit nanas………….

Gambar 2.3 Bagan alir pembuatan konsentrat protein biji lamtoro gung

Gambar 2.4 Reaksi Proses Fermentasi (Wahyudi, 2003) ...

Gambar 2.5 Proses pembuatan roti manis (Subarna, 1992) ...

Gambar 3.1 Diagram alir proses pembuatan roti manis ...

Gambar 4.1 Hubungan antara perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap kadar air roti manis ...

Gambar 4.2 Hubungan antara perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap kadar protein roti manis ...

Gambar 4.3 Hubungan antara perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap kadar lemak roti manis ...

Gambar 4.4 Hubungan antara perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap volume pengembangan roti manis...

Gambar 4.5 Hubungan antara perlakuan penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap jumlah pori roti manis...

9

10

11

22

25

35

37

40

42

43

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Produk roti sudah cukup dikenal di masyarakat, baik sebagai

makanan pengganti nasi maupun sebagai makanan kecil atau selingan. Hal

ini dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya berdiri industri roti baik

dalam skala rumah tangga maupun industri menengah. Selain roti tawar yang rasanya tawar (plain), juga dikenal roti manis yang dibuat dari adonan

yang menggunakan lebih banyak gula, lemak dan telur (Subarna, 1992).

Roti manis merupakan salah satu jenis roti yang terbuat dari adonan

yang difermentasi serta mengandung 10% gula atau lebih. Adonan roti

manis membutuhkan jumlah mentega putih yang lebih besar dari adonan roti

tawar. Bahan baku roti manis yaitu tepung terigu, susu, mentega putih, gula,

telur, ragi dan garam (Ketaren, 2005).

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan produk bakery

dititikberatkan pada kemampuan memerangkap gas saat adonan

dipanggang. Untuk itu, beberapa penambahan bahan yang mempunyai

kemampuan tersebut diketahui dapat meningkatkan mutu bakery yang

dihasilkan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi

masalah tersebut adalah dengan menambahkan konsentrat protein biji

lamtoro gung sebagai emulsifier .

Daya emulsi merupakan kemampuan protein untuk menurunkan

tegangan permukaan antara kedua fase (tegangan interfasial) sehingga

mempermudah terbentuknya emulsi. Kemampuan ini disebut kemampuan

protein sebagai emulsifier. Daya emulsi ini dipengaruhi oleh konsentrasi

protein, kecepatan pencampuran, jenis protein, jenis lemak, dan sistem

emulsi. Daya kerja emulsifier disebabkan oleh bentuk molekulnya yang

dapat terikat baik pada minyak (nonpolar) maupun air (polar).

Konsentrat protein biji lamtoro gung merupakan emulsifier yang

diperoleh dari proses hidrolisis enzimatis dengan enzim bromelin dari limbah

kulit nanas (Hafida, 2013). Konsentrat protein biji lamtoro gung mempunyai

(15)

kemampuan sebagai pengemulsi sehingga diduga dapat meningkatkan mutu

roti yang dihasilkan.

Penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung pada roti manis

bertujuan sebagai emulsifier menggantikan emulsifier yang biasa digunakan

seperti isolate protein kedelai. Dari penelitian pembuatan konsentrat protein

biji lamtoro gung dengan perlakuan terbaik menunjukan sifat fungsional

konsentrat protein dengan nilai kadar protein 57,54%, daya serap minyak

1,3 ml/g, kapasitas dan stabilitas emulsi 45,75% (Hafida, 2013). Hal ini

didukung oleh penelitian Djafar (2003), aplikasi penggunaan konsentrat

protein ikan dalam pembuatan produk pangan berprotein tinggi menunjukkan

bahwa perlakuan terbaik pada pembuatan roti manis dengan penambahan

konsentrat protein ikan 2%

Fungsi penambahan kuning telur pada roti manis juga digunakan

sebagai emulsifier karena kandungan lesitinnya. Lesitin memiliki gugus polar

dan gugus non polar. Gugus polar akan mengikat air, sedangkan gugus non

polar akan mengikat lemak. Fungsi dari lesitin adalah untuk mencampurkan

atau mengemulsikan antara fraksi air dan fraksi lemak yang ada di dalam

produk pangan. Fraksi lemak dan fraksi air akan dicampur ketika lesitin

ditambahkan pada saat proses mixing berlangsung (Hartomo dan

Widiaatmoko, 1993). Protein telur yang bergabung dengan gluten dapat

membentuk dinding sel dan menyebabkan penahanan gas selama

pencampuran (Subagio, 2003). Hal ini didukung oleh penelitian Qur’ani dan

Susanto (2013) menunjukkan bahwa penambahan kuning telur 5 gr dan 30

gr pasta santan dapat memperbaiki kualitas roti manis.

B. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung

dan kuning telur pada kualitas roti manis yang dihasilkan.

2. Mendapatkan kombinasi terbaik dari penggunaan emulsifier konsentrat

protein biji lamtoro gung dan kuning telur pada kualitas roti manis dan

disukai konsumen

(16)

1. Mengurangi penggunaan isolat protein kedelai dan digantikan dengan

konsentrat protein biji lamtoro gung.

2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penggunaan

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Roti Manis

Roti adalah produk pangan olahan yang merupakan hasil proses

pemanggangan adonan yang telah difermentasi. Bahan utama dalam

pembuatan roti terdiri dari tepung terigu, air, ragi roti dan garam. Sedangkan

bahan pembantu dan bahan tambahannya antara lain gula, susu skim,

shortening, telur dan bread improver (Pomeranz dan Shellenberger, 1971).

Jenis dan bentuk roti tergantung dari formulasi adonan dan cara

membuatnya. Berdasarkan formulasi roti, adonan dapat dibedakan menjadi

tiga jenis, yaitu adonan roti manis, adonan lean/roti tawar dan adonan soft

rolls. Adonan roti manis adalah yang dibuat dari formulasi yang banyak

menggandung gula, lemak dan telur. Adonan lean/roti tawar adalah roti yang

menggunakan sedikit/tanpa gula, susu skim dan lemak. Sedangkan adonan

soft rolls adalah adonan roti yang dibuat dari formula yang menggunakan

gula dan lemak relatif lebih banyak dari adonan roti tawar (Wheat

Associates,1983).

Roti manis merupakan salah satu jenis roti yang terbuat dari adonan

manis yang difermentasi serta mengandung 10% gula atau lebih. Bahan

utama dalam pembuatan roti terdiri dari tepung terigu, air, ragi roti dan

garam. Sedangkan bahan pembantu dan bahan tambahannya antara lain

gula, susu skim, shortening, telur dan bread improver (Pomeranz dan

Shellenberger, 1971).

Roti yang berkualitas baik, berwarna putih dan terdiri atas pori-pori

yang merata dan penyebarannya terjadi pada seluruh permukaan roti

sehingga memberikan tekstur spons yang empuk dan merata di seluruh

bagian roti. Kulit luar (bagian atas roti) yang berwarna coklat dan teksturnya

keras disebabkan oleh reaksi pencoklatan yang disebut dengan reaksi

Maillard, yang terjadi antara protein dan karbohidrat selama pemanasan

(Sediaoetama, 1993).

Penilaian mutu roti ditentukan oleh beberapa faktor yaitu volume roti,

warna kerak (crust), warna remah (crumb), sifat jaringan, aroma dan rasa

(18)

Tabel 2.1 Syarat mutu roti manis

Sumber : SNI (1995)

B. Konsentrat Protein Biji Lamtoro Gung

Tanaman lamtoro gung termasuk golongan kacang-kacangan yang

telah banyak dibudidaya di Indonesia. Tanaman ini biasanya ditanam di

pekarangan rumah, di pinggir jalan sebagai penghijauan, terutama di

desa-desa. Lamtoro gung (Leucaena leucocepha) dapat hidup dan berkembang

subur di daerah tropis yang bercurah hujan teratur (kurang lebih 760 mm)

bahkan tumbuhan ini mampu bertahan hidup di daerah yang kering atau

tandus,curah hujan suhu iklimnya 10oC paling rendah. Daun serta biji lamtoro gung banyak mengandung protein, lemak, dan karbohidrat

(Soerjatmodjo dkk,1964).

No Kriteria Uji Satuan Persyaratan

1.

(19)

Biji lamtoro gung (Leucaena leucocephala) merupakan salah satu

sumber protein yang mengandung protein cukup tinggi. Biji lamtoro gung

kering mengandung sekitar 30% protein (Slamet dkk, 1987).

Komposisi kimiawi biji lamtoro gung per 100 g dapat dilihat pada

Tabel di bawah ini:

Tabel 2.2. Kandungan kimiawi pada biji Lamtoro Gung

Komposisi Jumlah

Air 18,56

Protein 34,88

Lemak 5,73

Abu 5,40

Karbohidrat 36,39

Sumber: Astuti, 2003

Biji lamtoro gung dapat dijadikan sebagai alternatif untuk

menggantikan produk pekatan kedelai dalam bentuk konsentrat protein biji

lamtoro gung.

Konsentrat protein adalah produk pekatan protein yang memiliki

kandungan protein minimal 50%. Pemekatan kadar protein bahan pangan

dapat dilakukan dengan cara mengolahnya menjadi tepung, tepung rendah

lemak, konsentrat, dan isolat protein (Waggle dan Kolar, 1979).

Teknologi pengolahan konsentrat protein ini sangat banyak

aplikasinya dalam berbagai produk makanan. Konsentrat protein banyak

dimanfaatkan pada produk bakery, daging olahan, vegetarian food, dan dairy

product. Sifat fungsional konsentrat protein diantaranya sebagai bahan

pengemulsi, pengembang dan bahan pengisi. Sifat fungsional konsentrat

protein antara lain :

1. Daya serap air (WHC)

Daya serap air didefinisikan sebagai sifat fisik dan

kemampuan struktur bahan pangan dalam mencegah terlepasnya air

dari struktur bahan pangan dalam mencegah terlepasnya air dari

struktur tiga dimensi (Zayas, 1997). Daya serap air berhubungan

dengan tekstur dan juiciness produk pangan seperti daging, bakery,

dan produk yang memilki karakter gel (Damodaran, 1996).

Komposisi asam amino protein mempengaruhi sifat daya serap

air konsentrat protein. Konsentrat protein ini mengandung banyak

(20)

ikat air merupakan indikator kemampuan tepung, konsentrat, atau

isolat protein untuk digabungkan dalam formulasi makanan terutama

yang melibatkan penanganan adonan seperti dalam produk roti dan cake.

2. Daya serap minyak

Daya serap minyak adalah kemampuan protein untuk menyerap

dan menahan lemak. Daya serap minyak suatu protein dipengaruhi oleh

sumber protein, ukuran partikel protein, kondisi proses pengolahan,

zat tambahan lain, suhu, dan derajat denaturasi protein.

Ukuran partikel dan tekstur yang lebih halus, lebih seragam dan

lebih porus menyebabkan isolat protein lebih mudah menyerap dan

mengikat minyak (Zayas, 1997).

Daya serap minyak penting dalam berbagai sistem

pangan, misalnya pangan teremulsi, produk susu, produk sosis,

adonan, dan roti. Daya serap minyak hanya mencirikan pengikatan

minyak atau lemak secara fisik oleh protein. Struktur protein yang

lebih banyak bersifat lipofilik memberi kontribusi terhadap

meningkatnya daya serap minyak (Lin et al., 1974).

3. Aktifitas dan stabilitas emulsi

Aktivitas emulsi protein merupakan kemampuan protein untuk

membentuk dan menstabilkan emulsi yang terbentuk. Stabilitas

emulsi adalah kapasitas dari droplet-droplet emulsi untuk tetap

terdispersi tanpa pemisahan. Aktivitas dan stabilitas emulsi tergantung

pada bentuk hidrasi grup polar, hidrofobisitas molekul, dan muatan

(Zayas, 1997)

Sifat emulsi protein merupakan kemampuan protein untuk

membentuk emulsi. Sifat emulsi akan tinggi apabila terjadi

keseimbangan hubungan grup hidrofilik dan hidrofobik yang dapat

menurunkan tegangan permukaan. Emulsi yang terbentuk dengan

protein sebagai emulsifier dapat memiliki stabilitas selama beberapa

(21)

4. Kapasitas dan stabilitas buih

Buih merupakan sistem dua fase dari sel-sel udara yang

dipisahkan oleh lapisan cair kontinyu tipis (Zayas, 1997). Daya buih

menujukkan kemampuan protein memproduksi suatu area permukaan

buih/unit berat protein untuk menstabilkan film atau lapisan

permukaan dari kekuatan internal dan eksternal (Damodaran dan

Kinsella, 1982).

Kemampuan membentuk buih dipengaruhi oleh sumber

protein, suhu, pH, konsentrasi protein, dan waktu pembuihan. Pada pH

mendekati isoelektrik, terjadi gaya elektrostatik maksimal sehingga

daya buih meningkat. Kemampuan pembuihan meningkat jika

konsentrasi protein juga meningkat karena akan meningkatkan

ketebalan lapisan film pada interfasial.

Sifat protein membentuk buih yang stabil penting dalam

memproduksi beberapa makanan. Distribusi ukuran gelembung

udara dalam buih mempengaruhi penampakan dan tekstur,

smoothness, serta kecerahan makanan. Protein yang banyak

digunakan sebagai foaming agent diantaranya putih telur, gelatin,

kasein, protein kedelai, dan gluten. Protein kedelai memiliki permukaan

aktif, karena itu dapat membentuk buih dan digunakan sebagai

whipped topping dan frozen dessert. Walaupun demikian, buih

protein kedelai sangat tidak stabil akibat adanya foam inhibitor. Foam

inhibitor diperkirakan adalah sisa lemak. Lemak melemahkan interaksi

protein-protein dengan mengganggu permukaan hidrofobik (Zayas,

1997).

Metode pembuatan konsentrat protein dapat dilakukan dengan

ekstraksi asam, ekstraksi basa dan hidrolisis enzim. Metode yang digunakan

dalam pembuatan konsentrat protein biji lamtoro gung diperoleh dari

proses hidrolisis enzimatis dengan enzim bromelin dari limbah kulit nanas

(22)

a. Pembuatan Tepung Biji Lamtoro Gung

Gambar 2.1 Diagram alir pembuatan tepung biji lamtoro gung

Biji lamtoro gung

Perendaman (t = 24 jam)

Pengupasan kulit

Pengeringan dengan kabinet dryer (T =50°C, t = 9-14 jam

Tepung Biji Lamtoro Gung Sortasi

Penggantian air tiap 8 jam skali

Perebusan (t = 2 jam)

Pencucian

Kulit

Keping biji lamtoro gung

Penggilingan

(23)

b. Pembuatan Ekstrak Kasar Enzim Bromelin dari Kulit Nanas

Gambar 2.2. Diagam alir pembuatan enzim kasar kulit nanas Kulit nanas

Supernatan

Endapan sentrifuge kecepatan 3500 rpm

(t=10 menit)

Supernatan

Endapan

Pemotongan dan penimbangan

Pemblenderan

Penyaringan Ampas

Cairan kulit nanas

Homogenasi 200 ml larutan buffer Natrium asetat pH (6,5)

sentrifuge kecepatan 3500 rpm (t=15 menit)

Didiamkan selama 24 jam 4OC

(24)

c. Pembuatan Konsentrat Protein Biji Lamtoro Gung

Gambar 2.3. Bagan alir pembuatan konsentrat protein biji lamtoro gung

Berdasarkan penelitian Hafida (2013), pembuatan konsentrat protein

biji lamtoro gung dengan kajian konsentrasi enzim bromelin dan lama

inkubasi menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada perlakuan Tepung biji lamtoro gung

Suspensi tepung biji Lamtoro gung (TBL) (TBL : Air = 20:200 g/ml)

Penyesuaian pH sampai 6.5

Penambahan ekstrak enzim kasar kulit nanas (20 ml/100 g)

Waterbath shaker pada suhu 70°C Pemanasan 100°C selama 5 menit

Sentrifugasi kecepatan 2500 rpm

Endapan

Penambahan NaOH

Filtrat

Pengeringan dengan cabinet dry Pendinginan hingga suhu 55°C

Inkubasi selama 48 jam

(25)

konsentrasi enzim limbah kulit nanas 100mg/100g dengan lama inkubasi 48

jam yang menghasilkan sifat fungsional konsentrat protein dengan kadar

protein 57,54%, densitas kamba 0,625 g/ml, daya serap air 4,15 ml/g, daya

serap minyak 1,3 ml/g, kapasitas dan stabilitas emulsi 45,75%, kapasitas

buih 8%.

C. Kuning Telur

Telur merupakan produk hasil peternakan yang banyak dikonsumsi

oleh masyarakat. Selain mudah diperoleh, harganya relatif lebih murah

dibandingkan protein hewani dari hewan ternak yang lain. Telur memiliki

kandungan gizi yang lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan

mineral.

Nilai Gizi yang terkandung dari kuning telur dan putih telur berbeda.

Kuning telur memiliki komposisi gizi yang lebih lengkap daripada putih telur

dan terdiri dari air, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin (Stadellman,

1995). Pada bagian kuning telur terdapat asam amino essensial yang sering

disebut triptofane. Garam yang banyak terdapat didalam kuning telur adalah

garam ferum dan fosfor, akan tetapi garam tersebut sedikit mengandung

kalsium, vitamin yang banyak terdapat dalam telur adalah vitamin B,

komplek dalam jumlah cukup (Moehji, 1971).

Tabel 2.3. Komposisi kimia kuning telur

Komposisi Kimia Kuning Telur

Air (%) Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

Fungsi telur dalam pembuatan roti adalah untuk membentuk warna,

penahan air, rasa, gizi dan pelunak. Pemakaian telur dalam adonan manis

berkisar 8-30% (optimum 10-24%). Bagian telur yang digunakan berupah

telur utuh, kuning telur dan putih telur. Pemakaian telur lebih besar dari 15%

menghasilkan warna roti sukar dibedakan (Wheat Associates, 1983)

Kuning telur terdiri atas lemak dan protein, sebagian besar protein

kuning telur adalah lesitin. Lesitin merupakan emulsifier alami yang kuat,

paling sedikit sepertiga kuning telur terdiri dari lemak dalam bentuk kompleks

(26)

berfungsi sebagai emulsifier yang memiliki kemampuan mengikat air dan

lemak lesitin terdapat dua gugus yang berbeda yaitu ikatan hidrofilik dan

ikatan hidrofobik (Suharto, 1987).

Menurut Desrosier (1988), sifat fungsional dari telur antara lain :

1. Daya koagulasi

Koagulasi pada telur ditandai dengan kelarutan atau perubahan

bentuk cairan (sol) menjadi padat (gel). Perubahan struktur molekul protein

ini dapat disebabkan oleh pengaruh panas, mekanik, asam, basa, garam

dan pereaksi garam lain seperti urea.

2. Daya buih

Dalam industri pengolahan pangan, daya dan kestabilan buih telur

bermanfaat sebagai pengembang adonan kue serta dapat mempengaruhi

kecerahan dan rasa produk pangan tertentu.

3. Daya emulsi

Emulsi adalah campuran campuran dua jenis cairan yang secara

normal tidak bercampur, dimana salah satu fase terdispersi dalam fase

pendispersi. Kuning telur memiliki daya emulsi yang lebih baik daripada putih

telur karena kandungan lesitinnya.

4. Kontrol Kristal

Penambahan albumin kedalam larutan gula (sirup) dapat mencegah

terbentuknya kristal gula, keberadaan albumin tersebut mencegah

pengguapan.

5. Pemberi warna

Warna yang terdapat dalam kuning telur yaitu pigmen kuning dari

xantofil, lutein, beta karoten dan kriptoxantin

D. Bahan Utama Pembuatan Roti Manis

1. Tepung Terigu

Menurut Pomeranz dan Shellenberger (1971) seluruh jenis gandum

dapat dibuat menjadi beberapa tipe dari produk-produk yang dikembangkan

oleh khamir. Kualitas pembuatan roti dari tepung sangat tergantung dari

kualitas protein tepungnya.

Protein tepung gandum memiliki sifat pembentukan gluten yang unik

setelah dibasahi dan diaduk dengan air. Gluten gandum menunjukkan

(27)

serealia lainnya. Ketika air ditambahkan pada tepung gandum dan diaduk,

protein-protein yang tidak terlarut dalam air akan mengikat air dan

membentuk gluten. Gluten berfungsi sebagai penyusun adonan dan

penahan gas pengembang yang dihasilkan oleh ragi roti (Pomeranz dan

Shellenberger, 1971).

Protein gluten terdiri dari gliadin yang larut dalam alkohol 70% dan

glutein yang tidak larut dalam alkohol, tetapi larut dalam asam dan alkali.

Kombinasi gliadin dan glutenin 1 : 1 dapat memberikan sifat gluten yang

diinginkan dalam pembuatan roti. Selain protein gluten, tepung terigu

mengandung protein yang larut dalam air (Pomeranz dan Shellenberger,

1971). Glutenin menghasilkan sifat elastis (lentur, kemampuan untuk secara

spontan kembali ke bentuk semula setelah mengalami distorsi atau

pemelaran), sedang gliadin menghasilkan sifat ekstensibilitas (memanjang,

kemampuan untuk dengan mudah dan sangat bisa untuk memanjang bila

ditarik). Kandungan komposisi tepung terigu dapat dilihat pada Tabel 2.4

dibawah ini :

Tabel 2.4. Daftar komposisi tepung terigu per 100 gram bahan.

No Komposisi Jumlah

Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

Menurut Anonymous (2013), tepung terigu dapat dibedakan menjadi

3 macam berdasarkan kandungan proteinnya, yaitu :

a. Hard Flour (terigu protein tinggi)

Tepung terigu yang mempunyai kadar gluten antara 12%–13%.

Tepung ini diperoleh dari gandum keras (hard wheat). Tingginya kadar

protein menjadikan sifatnya mudah dicampur, difermentasikan, daya

serapairnya tinggi, elastik dan mudah digiling. Karakteristik ini menjadikan

(28)

pasta karena sifatnya elastik dan mudah difermentasikan. Kandungan

glutennya yang tinggi akan membentuk jaringan elastik selama proses

pengadukan.

Pada tahap fermentasi gas yang terbentuk oleh ragi akan tertahan

oleh jaringan gluten, hasilnya adonan roti akan mengembang besar dan

empuk teksturnya.

Tepung hard flour ini mempunyai sifat-sifat :

• Mampu menyerap air dalam jumlah yang relative tinggi dan derajat pengembangan yang tinggi.

• Memerlukan waktu pengadukan yang lama

• Memerlukan hanya sedikit ragi. b. Medium Flour (terigu protein sedang)

Jenis terigu medium wheat mengandung 10% - 11%. Sebagian

orang mengenalnya dengan sebutan all-purpose flour atau tepung serba

guna. Dibuat dari campuran tepung terigu hard wheat dan soft wheat

sehingga karakteristiknya diantara kedua jenis tepung tersebut. Tepung

ini cocok untuk membuat adonan fermentasi dengan tingkat

pengembangan sedang, seperti donat, bakpau, wafel, panada atau aneka

cake dan muffin.

c. Soft Flour (tepung protein rendah)

Tepung ini dibuat dari gandum lunak dengan kandungan protein

gluten 8% - 9%. Sifatnya, memiliki daya serap air yang rendah sehingga

akan menghasilkan adonan yang sukar diuleni, tidak elastis, lengket dan

daya pengembangannya rendah serta penggunaan ragi yang banyak.

Cocok untuk membuat kue kering (cookies/biscuit), pastel dan kue-kue

yang tidak memerlukan proses fermentasi. Jenis tepung lunak memiliki

persentase gluten yang rendah, adonan kurang elastis dan tidak baik

menahan gas. Tetapi tepung lunak ini memerlukan energi yang lebih kecil

dalam pencampuran dan pengocokan adonan dibandingkan dengan

jenis tepung keras.

2. Air

Fungsi utama air adalah menghidrasi tepung sehingga dapat

membentuk adonan yang baik. Air akan berikatan dengan protein

(29)

tergelatinisasi. Air juga berfungsi sebagai pelarut dari bahan-bahan lain

seperti : garam, gula, susu bubuk dan lain sebagainya (Subarna, 1992).

Dalam proses pembuatan roti, air bertindak sebagai bahan pengikat

yang memungkinkan terjadinya fermentasi adonan. Jumlah air yang

ditambahkan ke dalam adonan akan menentukan kondisi adonan akan liat

dan bisa dibentuk atau lembek dan lengket. Air berfungsi sebagai bahan

pelarut dan memudahkan pencampuran bahan-bahan dalam adonan. Selain

itu air juga merupakan salah satu bahan yang dapat menentukan suhu

adonan. Sebagai ilustrasi, jumlah air yang ditambahkan selama pengadukan

adonan tergantung pada daya serap air dari jenis tepung yang digunakan

untuk membuat dan mengolah adonan, metoda dan peralatan yang

digunakan untuk membuat dan mengolah adonan serta

karakteristik-karakteristik yang diinginkan pada produk akhir roti. Secara umum, daya

serap air meningkat dengan semakin meningkatnya kandungan protein

(Suhaili dan Henny, 2000).

Mutu air merupakan hal penting dalam pembuatan roti. Air yang

digunakan adalah air yang mendekati kriteria air minum, yaitu bebas dari

bakteri pathogen dan mikroba yang membahayakan kesehatan, tidak

berwarna dan tidak berbau.

3. Ragi roti (yeast)

Ragi roti atau yeast adalah mikroorganisme yang memfermentasikan

adonan sehingga menghasilkan gas karbondioksida yang akan

mengembangkan adonan. Jika proses fermentasi terkendali dengan baik,

maka akan menghasilkan roti dengan volume dan tekstur yang baik dan cita

rasa yang enak (Subarna, 1992)

Fungsi ragi roti dalam pembuatan roti adalah untuk proses aerasi

adonan dengan mengubah gula menjadi gas karbon dioksida, untuk

mematangkan dan mengempukkan gluten dalam adonan yang

memungkinkan untuk mengembangkan gas secara merata dan menahannya

serta turut berfungsi untuk membentuk cita rasa akibat terjadinya proses

fermentasi (Suhaili dan Henny, 2000).

Menurut Charley (1982), ragi yang digunakan untuk pembuatan roti

adalah ragi Saccharomyces cerevisiae. Ragi memfermentasikan gula dalam

(30)

mengembangkan adonan. Gula ini dapat berasal dari tepung, yaitu sukrosa

atau dari gula yang sengaja ditambahkan ke dalam adonan seperti gula tebu

dan maltosa. Di dalam ragi terdapat beberapa enzim, yaitu protease, lipase,

invertase, maltase dan amilase. Protease memecah protein dalam tepung

menjadi senyawa nitrogen yang dapat diserap sel khamir untuk membentuk

sel yang baru. Lipase memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserin.

Invertase memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Maltase

memecah maltosa menjadi glukosa dan amilase memecah glukosa menjadi

alkohol dan karbondioksida. Akibat dari fermentasi ini timbul

komponen-komponen pembentuk flavor roti, diantaranya asam asetat, aldehid dan

ester.

Tabel 2.5. Komposisi kimia ragi roti (100 gram bahan)

Komposisi Jumlah

Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

Menurut Anonymous (2012), ada 3 macam jenis yeast yang dapat

dimanfaatkan dalam pembuatan roti, yaitu :

a. Active Dry Yeast

Active Dry Yeast berbentuk butiran dan umumnya dikemas dalam

kaleng serta mengandung 92% zat padat dan 8% zat cair. Ragi ini dapat

disimpan pada suhu kamar dan untuk mengaktifkannya harus direndam

dalam air dengan suhu 31oC. b. Compressed Yeast

Compressed Yeast biasanya berupa blok yang dibungkus,

mengandung 30% zat padat dan 70% zat cair, harus disimpan pada suhu

0-4oc serta harus digunakan dalam waktu singkat. c. Instant Yeast

Instant Yeast berbentuk butiran kecil, mirip seperti bubuk, dikemas

dalam aluminium foil yang hampa udara atau diisi dengan gas nitrogen.

Instant Yeast mengandung 98% zat padat dan 2% zat cair, dapat

(31)

4. Garam

Garam merupakan bahan utama untuk mengatur rasa. Garam akan

membangkitkan rasa pada bahan-bahan lainnya. Garam adalah salah satu

bahan pengeras, bila adonan tidak memakai garam, maka adonan agak

basah. Garam memperbaiki pori-pori dan tekstur roti akibat kuatnya adonan,

dan secara tidak langsung berarti membantu pembentukan warna. Dalam

keadaan normal jumlah garam yang dipergunakan ialah sekitar 2-2,5% dari

jumlah tepung terigu (Wheat Associates, 1981).

Garam dapat mengontrol laju fermentasi pada adonan. Efek ini

berhubungan dengan kemampuan untuk meningkatkan tekanan osmotik

yang disebabkan dari penambahan garam pada formulasi adonan. Garam

mempengaruhi aktifitas metabolisme yeast, tetapi efek pada fermentasi lebih

penting yaitu menurunkan laju produksi gas CO2 dan pengembangan

adonan (proofing) (Matz, 1972). Kualitas garam yang dikehendaki dalam

pembuatan roti antara lain bersih (bebas dari bahan-bahan yang tidak dapat

larut), bebas dari zat-zat kimia yang mengganggu fermentasi, halus dan

tidak menggumpal serta cepat larut.

E. Bahan Pembantu Pembuatan Roti Manis

1. Shortening

Shortening adalah lemak padat yang mempunyai sifat plastis dan

kestabilan tertentu, umumnya berwarna putih sehingga sering disebut

mentega putih. Mentega putih diperoleh dari hasil campuran dua atau lebih

lemak dengan cara hidrogenasi. Mentega putih ini banyak digunakan dalam

bahan panggan terutama dalam pembuatan roti dan kue yang dipanggang.

Fungsi lemak dalam roti yaitu memperbaiki cita rasa, struktur, tekstur,

keempukan dan memperbesar volume roti dan kue (Winarno, 1997)

Shortening berfungsi sebagai perangkap udara selama

pencampuran. Gelembung udara ini menunjang langsung peragian dan

membantu pengendalian butiran. Gelembung-gelembung udara ini

terbungkus di dalam lapisan lemak. Shortening juga berfungsi

mengempukkan, remah dan dapat menunjang cita rasa produk roti

(32)

kelezatan rasa, sebagai bahan pengempuk dan membantu pengembangan

susunan fisik makanan yang dibakar.

Menurut Sultan (1981), fungsi lemak diantaranya adalah :

a. Memberikan rasa lemak pada produk akhir

b. Memperbaiki kualitas makanan pada produk

c. Menyumbangkan cita rasa khusus mentega

d. Melumasi gluten dalam pengembangan adonan

Tabel 2.6. Komposisi shortening per 100 gram bahan

Komposisi Jumlah

Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

2. Susu Skim

Susu adalah emulsi lemak dalam air yang mengandung protein, gula

dan mineral. Tujuan pemakaian susu dalam pembuatan roti adalah untuk

mendapatkan status gizi, karena mengandung protein (casein) dan kalsium.

Susu juga memberikan pengaruh terhadap warna kulit (protein dan gula) dan

juga memperkuat konsentrasi gluten karena kandungan kalsiumnya (Wheat

Associates, 1983).

Tabel 2.7. Komposisi kimia susu skim per 100 gram bahan

Komposisi Jumlah

Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

Susu yang digunakan dalam pembuatan roti pada umumnya dalam

(33)

dan mempunyai umur simpan lebih panjang dibandingkan susu segar. Jenis

susu bubuk yang biasa digunakan dalam pembuatan roti adalah susu skim.

Susu skim adalah bagian susu yang tertinggal sesudah diambil krim

sebagian atau seluruhnya. Susu skim mengandung semua zat makanan dari

susu kecuali lemak dan vitamin yang larut dalam lemak (Buckle, 1987).

3. Gula

Pada pembuatan roti manis, gula yang digunakan sebanyak 10-30%

dan optimum pada kisaran 15-25% dari berat tepung. Gula yang diberikan

pada pembuatan roti merupakan makanan untuk khamir (sumber karbon

pertama) di dalam proses fermentasi. Gula akan tersisa setelah proses

fermentasi. Gula yang tersisa setelah proses fermentasi disebut sisa gula,

akan memberikan warna pada kulit roti dan rasa pada roti. Gula bersifat

higroskopis (kemampuan menahan air), sehingga dapat memperbaiki daya

tahan roti dalam penyimpangan (Wheat Associates, 1983).

Menurut Sultan (1981) fungsi gula dalam pembuatan roti adalah :

a. Memberikan rasa dan aroma yang diinginkan

b. Sebagai media yang baik untuk pertumbuhan ragi (sebagai

sumber karbon)

c. Menambah keempukan roti

d. Membantu mempertahankan kelembaban dan memperpanjang

kesegaran roti

e. Menambah nutrisi produk

f. Memberi warna yang baik pada crust

Tabel 2.8. Daftar komposisi gula pasir per 100 gram bahan

Komposisi Jumlah

(34)

F. Proses Pembuatan Roti Manis

Tahap pertama dalam pembuatan roti manis adalah penimbangan bahan

bahan yang diperlukan sesuai dengan formula yang telah ditetapkan sebelumnya

dengan teliti (Suhaili dan Henny, 2000). Hal ini disebabkan karena

masing-masing bahan-bahan pembuat roti manis mempunyai pengaruh langsung

terhadap kecepatan fermentasi dan rasa dari roti manis yang dihasilkan. Proses

pembuatan roti manis terdiri dari empat tahap proses, yaitu proses pencampuran

atau pengadukan, fermentasi, pembentukan dan pemanggangan.

1. Pencampuran/Pengadukan/Pengadonan

Pengadonan merupakan pencampuran antara bahan-bahan pembuat

roti manis seperti susu skim, gula, garam, shortening, telur dan tepung terigu

dengan perbandingan yang tepat. Pencampuran adonan dilakukan sampai

adonan kompak, kohesif dan halus (Utami, 1992)

Menurut Pomeranz dan Shellenberger (1971), pencampuran adonan

memiliki dua fungsi, yaitu mendistribusikan secara homogen dari komponen

bahan penyusun roti (protein, karbohidrat, lemak dan lain-lain) dan

pembentukan matriks gluten dalam menghasilkan roti yang baik. Waktu

pencampuran bervariasi dengan jenis tepung, suhu adonan, konsistensi

adonan dan alat pencampuran. Kelebihan waktu pencampuran dapat

mengakibatkan berkurangnya elastisitas dan ekstensibilitas adonan.

Pada awal pengadukan, masa adonan tampak basah, lengket dan

bergumpal-gumpal serta tidak homogen. Dalam pencampuran atau

pengadukan yang cukup adonan menjadi lembut, elastis, relatif kering dan

tidak lengket serta resisten terhadap perenggangan. Untuk mencapai hal

tersebut, pengadukan harus melakukan gerakan menekan, meregang dan

melipat adonan.

Pengadukan dilakukan sampai adonan bersifat kalis, ditandai dengan

adonan tidak melekat pada pisau mixer dan membentuk pulungan di sekeliling

lengan pengaduk. Dalam hal ini pengadukan dianggap cukup bila adonan

telah dibentuk menjadi lembaran tipis dengan permukaan adonan yang licin,

halus, elastis, kering dan tidak mudah robek. Waktu yang dibutuhkan untuk

pencampuran bervariasi tergantung jenis tepung, suhu adonan, kondisi

(35)

Proses pengadonan dipengaruhi oleh suhu dan waktu pengadonan.

Suhu yang tepat pada saat pengadonan adalah 28OC – 30OC. Pada suhu tersebut, yeast sebagai penghasil gas CO2 dalam keadaan optimal untuk

memecah glukosa dan fruktosa serta gula yang terdapat dalam tepung

ataupun gula yang ditambahkan (Pomeranz dan Shellenberger, 1971)

2. Fermentasi

Proses fermentasi adalah proses pemecahan karbohidrat oleh khamir

menghasilkan CO2, alkohol dan asam-asam organik. Gas karbon dioksida

yang terbentuk diperlukan dalam pengembangan adonan sedangkan alkohol

dan asam-asam organik diperlukan untuk melunakkan adonan serta

meningkatkan cita rasa dan aroma roti. Tujuan fermentasi awal adalah untuk

mematangkan adonan dan membentuk cita rasa, sehingga adonan mudah

ditangani untuk menghasilkan produk akhir yang bermutu baik. Fermentasi

dilakukan pada suhu 27-300C dan pada kelembaban relative 80-85% (Wheat Associates, 1983).

Proses fermentasi oleh ragi juga berhubungan dengan aktivitas enzim

yang terdapat pada ragi. Reaksi yang dihasilkan dari aktivitas enzim ini

adalah:

enzym

C12H22O11 + H2O + Ragi C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2 Sukrosa Air Dekstrosa Etil Alkohol

Gambar 2.4. Reaksi Proses Fermentasi (Wahyudi, 2003)

Tahapan fermentasi ada dua yaitu 1). Fermentasi gula dalam tepung

oleh yeast; 2). Berkembangbiaknya yeast lebih lanjut dengan adanya gula dan

menghasilkan gas CO2 dan alkohol (Mudjisihono dkk, 1993). Sedangkan

menurut Utami (1992) fermentasi pertama dimaksudkan untuk membantuk inti

gelembung gas. Faktor yang mempengaruhi adalah suhu, jumlah gula, dan

jumlah yeast. Pemakaian gula dapat mempercepat fermentasi. Fermentasi

pada tahap ini diakhiri apabila adonan yang mengembang sudah mulai

menurun. Fermentasi kedua dilakukan pada tempat/pan sesuai dengan

ukuran yang diinginkan. Pada tahap ini diakhiri apabila volume adonan telah

(36)

3. Pembentukan

Proses pembentukan terdiri dari beberapa tahap proses, yaitu

pembagian adonan (dividing), pembulatan adonan (rounding), pengistirahatan

adonan (intermediate proofing) dan pemulungan/pencetakan adonan

(moulding).

Adonan yang telah difermentasi selanjutnya dibagi-bagi dengan alat

pemotong adonan dari stainless steel dan ditimbang masing-masing 30 g.

pemotongan adonan kasar dengan bentuk yang tidak beraturan dibentuk

menjadi bulatan yang permukaannya halus. Rounding bertujuan untuk

menahan gas CO2 yang terbentuk selama fermentasi serta memudahkan

adonan menyerap udara luar sehingga adonan dapat mencapai volume

optimum. Selain itu untuk mengurangi kelengketan adonan dan mengurangi

penggunaan tepung pada tahap moulding.

Proses berikutnya adalah pengistirahatan adonan dalam ruang yang

suhunya dipertahankan hangat selama 2-20 menit. Tujuan proses ini adalah

agar adonan memiliki elastisitas dan daya mengembang setelah kehilangan

banyak gas, terengang dan terkoyak selama proses pembagian (Suhaili dan

Henny, 2000).

Setelah diistirahatkan, adonan siap di cetak. Prinsip dari proses

pemulungan atau pencetakan terdiri dari pemipihan, penggulungan dan

perekatan sisi-sisi adonan. Selanjutnya adonan dipipihkan dengan

menggunakan roller yang terbuat dari kayu. Pemipihan ini ditujukan untuk

membuang gas sehingga memudahkan pencetakkan adonan dan untuk

membuat tekstur roti tidak berlubang. Pengisian adonan dengan bahan

pengisi dilakukan dengan cara meletakkan bahan pengisi diatas adonan pipih,

selanjutnya digulung dan dibentuk.

Adonan yang telah dibentuk kemudian dimasukkan dan disusun dalam

loyang yang telah diolesi dengan margarin (proses panning). Selanjutnya

adonan dalam loyang tersebut difermentasi kembali di dalam proofer pada

suhu 35-40OC dan RH 80-85% (Suhaili dan Henny, 2000). Tujuan fermentasi akhir ini adalah untuk mengembangkan adonan yang sesuai dengan volume

(37)

4. Pemanggangan

Pemanggangan roti merupakan langkah terakhir dan sangat penting

dalam memproduksi roti. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses

pemanggangan adalah mempersatukan uap air dengan gelembung udara

semaksimal mungkin, yang dapat diawali dengan cara mengusahakan agar

lemak dapat menyerap udara dalam jumlah yang cukup besar dan distribusi

shortening atau lemak dalam adonan sebaik mungkin, sehingga ruang udara

dalam adonan terbentuk secara merata. Gelembung udara dalam adonan

merupakan tempat akumulasi uap air dan gas CO2 yang dihasilkan oleh

fermentasi yeast. Pada waktu adonan dipanggang, gelembung udara yang

berisi uap air dan gas CO2 akan memuai dan mendesak dinding sekitarnya.

Akibatnya volume ruang udara terbentuk bertambah besar. Makin besar

jumlah gelembung udara yang diserap oleh lemak dalam adonan maka makin

besar volume roti yang dihasilkan dan teksturnya semakin halus (Ketaren,

1986).

Pada tahap awal pemanggangan adonan yang plastis meregang,

sehingga volume meningkat. Kenaikan volume tergantung pada kemampuan

dinding sel adonan menjadi kaku. Pemanasan awal dapat menstimulir

pembentukan gas oleh yeast. Yeast mulai inaktif pada suhu 60OC. Air dan alkohol menguap pada suhu yang lebih tinggi memberi peranan dalam

pengembangan adonan. Sampai suhu mencapai 65OC adonan mampu mengalir, karena konstensinya turun. Penurunan ini dipengaruhi juga oleh

aktivitas amilase sebelumnya dalam menghidrolisis pati. Gelatinisasi pati dan

denaturasi protein menurunkan sifat alir adonan dan sampai suhu 90OC adonan menjadi kaku. Walaupun sebagian air menguap namun air yang

tertinggal dalam adonan masih mampu menimbulkan gelatinisasi. Pada suhu

95OC struktur adonan benar-bemar stabil (Utami, 1992).

Kondisi dalam oven memberikan variasi suhu antara permukaan dan

bagian tengah. Pada bagian dalam suhu meningkat secara perlahan, air

berpindah baik dari cairan bebas maupun cairan yang terikat dengan protein

ke pati pada suhu 60OC dan terjadi gelatinisasi pati. Selama pemangangan terjadi pembengkakan pati dan penggantian sifat viskoelastis adonan. Pada

suhu 70OC enzim mulai inaktif dan diatas suhu 75OC terjadi denaturasi dan pecahnya lapisan gluten dari bagian kulit secara cepat. Adanya

(38)

menghasilkan pengembangan volume. Selama pemanggangan, air dengan

cepat menguap dari permukaan dan terjadi reaksi Maillard pada suhu tinggi

(Fance, 1976 dalam Astuti, 2012).

Selama pemanggangan roti akan terjadi perubahan struktur dari

adonan dan perubahan warna kulit pada roti. Perubahan warna coklat pada

kulit roti merupakan hasil dari reaksi maillard akibat gugus asam amino primer

protein dan gula pereduksi oleh adanya panas. Gugus asam amino

membentuk warna coklat yang disebut melanoidin (Winarno, 1995).

5. Pendinginan

Setelah dioven, roti dikeluarkan dari cetakan dan didinginkan.

Pendinginan dilakukan untuk pemotongan tanpa mengalami kerusakan.

Pendinginan udara terbuka dapat dilakukan dengan waktu sekitar 30-60

menit, setelah dingin roti kemudian dikemas untuk mencegah tercemarnya roti

dari mikroba yang tidak dikehendaki (Subarna, 1992).

Gambar 2.5. Proses pembuatan roti manis (Subarna, 1992)

Pencampuran / pengadukan adonan dengan mixer

Fermentasi awal di dalam wadah tertutup (27-30OC, selama 60 menit)

Pembentukan

(dividing, rounding, intermediate proofing dan moulding)

Fermentasi akhir di dalam proofer (38OC, selama 60 menit)

Pemanggangan di dalam oven

Pendinginan Tepung terigu = 1000 g Gula = 250 g Air = 400 g Susu skim =50 g Ragi roti = 22 g Shortening = 160 g Garam = 20 g Bread improver = 7 g Telur = 150 g

(39)

G. Analisis Keputusan

Keputusan adalah suatu kesimpulan dari sutu proses untuk memilih

tindakan yang terbaik dari sejumlah alternative yang ada. Pengambilan

keputusan adalah proses yang mencakup semua pemikiran dan kegiatan yang

diperlukan guna membuktikan dan memperlihatkan pilihan terbaik tersebut

(Siagian, 1987).

Analisis keputusan pada dasarnya adalah suatu prosedur logis dan

kuantitatif yang tidak hanya menjelaskan mengenai proses pengambilan

keputusan, tetapi juga merupakan sutu cara untuk membuat keputusan

(Mangkosubroto dan Listriarini, 1987).

H. Analisis Finansial

Analisis finansial adalah analisis yang melihat proyek dari sudut lembaga

atau menginvestasikan modalnya kedalam proyek (Pudjotjiptono, 1984).

Analisis kelayakan finansial dimaksudkan untuk mengetahui apakah suatu

perusahaan yang direncanakan layak untuk didirikan atau tidak, bertujuan untuk

mengkaji kemungkinan keuntungan yang dapat diperoleh dari perusahaan yang

didirikan itu (Siagian, 1987).

Benefit atau laba yang diperoleh perusahaan sering dipakai untuk menilai

atau sukses tidaknya manajemen perusahaan, sedangkan besarnya laba

tersebut terutama dipengaruhi oleh biaya produksi, harga jual produk, dan

volume penjualan (Mulyadi,1986).

Dalam rangka mencari suatu ukuran menyeluruh tentang layak tidaknya

suatu proyek yang dikembangkan, maka digunakan beberapa kriteria yang

digunakan dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya adalah :

1. Break Event Point (BEP)

2. Net Present Value (NPV)

3. Gross Benefit Cost ratio (Gross B/C Ratio)

4. Payback Period

5. Internal Rate of Return (IRR)

1. Break event point (BEP) (Susanto dan Saneta, 1994)

Studi kelayakan merupakan pekerjaan membuat ramalan atau taksiran

yang didasarkan atau anggapan-anggapan yang tidak terlalu bisa dipenuhi.

(40)

penyimpangan itu ialah apabila pabrik berproduksi di bawah kapasitasnya. Hal

ini menyebabkan pengeluaran yang selanjutnya mempengaruhi besarnya

keuntungan.

Suatu analisis yang menunjukkan antara keuntungan, volume produksi

dan hasil penjualan adalah penentuan Break Event Point (BEP). BEP adalah

salah satu keadaan tingkat produksi tertentu yang menyebabkan besarnya

biaya produksi keseluruhan sama dengan besarnya nilai atau hasil penjualan

atau laba. Jadi, pada keadaan tertentu tersebut perusahaan tidak

mendapatkan keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian.

Untuk memperoleh keuntungan perusahaan tersebut harus

ditingkatkan dari penerimaannya harus berada di atas titik tersebut.

Penerimaan dari penjualan dapat ditingkatkan melaui 3 cara, yaitu menaikkan

harga jual per unit, menaikkan volume penjualan, menaikkan harga jualnya.

Penentuan BEP dapat dikerjakan secara aljabar atau grafik. Dalam

penentuan BEP secara aljabar didasarkan atas hubungan antara nilai

penjualan, biaya produksi keseluruhan (biaya tetap + biaya tidak tetap) dan

volume produksi. Volume penjualan pokok dapat ditentukan dengan

persamaan sebagai berikut :

BEP =

Keterangan :

Po = Produk pulang/pokok

FC = Biaya tetap

VC = Biaya tidak tetap persatuan produk (Rp)

Rumus untuk mencari titik impas adalah sebagai berikut :

a. Biaya Titik Impas:

BEP =

b. Presentase Titik Impas :

BEP =

FC

P-VC

Biaya Tetap

1-(biaya tidak tetap/pendapatan)

BEP (Rp)

(41)

c. Kapasitas Titik Impas

Kapasitas titik impas adalah jumlah produksi yang harus dilakukan

untuk mencapai titik impas. Rumus kapasitas titik impas adalah

sebagai berikut: Kapasitas Titik Impas = Persen Titik Impas x

Kapasitas Produksi

2. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah selisih antara nilai penerimaan

sekarang dengan nilai biaya sekarang. Bila dalam analisa diperoleh nilai NPV

lebih besar dari 0 (nol), berarti nilai proyek layak untuk dilaksanakan, jika

dalam perhitungan diperoleh nilai NPV lebih kecil dari 0 (nol), maka proyek

tersebut tidak layak untuk dilaksanakan (Susanto dan Saneto, 1994). Rumus

NPV adalah :

3. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C Ratio) (Susanto dan Saneta, 1994).

Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) merupakan metode

perbandingan antara penerimaan kotor dengan biaya kotor yang telah

dirupiahkan sekarang (present value). Proyek dapat dijalankan apabila nilai

gross B/C lebih besar atau sama dengan 1.

Nilai B/C Ratio =

4. Payback Period (Susanto dan Saneta, 1994).

Payback Period merupakan metode yang mencoba mengukur

kecepatan pengembalian modal investasi yang dinyatakan dalam tahun.

Proses perhitungan metode ini berpedoman pada aliran kas bukan pada

(42)

depresiasi yang dikeluarkan. Nilai Payback Period dinyatakan sebagai

perbandingan biaya pertahun (Intial Cash Flow) dengan aliran kasnya (Cash

Flow). Nilai perbandingan ini dapat diterima apabila lebih pendek dari yang

diisyaratkan. Rumus dapat dilihat sebagai berikut:

Pp =

Keterangan :

I = Jumlah modal

Ab = penerimaan bersih pertahun

5. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rute of Return merupakan tingkat suku bunga yang

menyebabkan nilai penerimaan kas bersih sekarang dengan jumlah investasi

awal dari proyek yang sedang di nilai. Dengan perkataan lain IRR adalah

tingkat bunga yang menyebabkan NPV = 0. Jika ternyata IRR lebih besar

dari tingkat suku bunga yang berlaku di bank untuk proyek dapat diteruskan.

IRR = 1 + (i”-i’)

Keterangan :

NPV’ = NPV positif hasil percobaan nilai

NPV” = NPV negatif hasil percobaan nilai

i = Tingkat bunga

I. Landasan Teori

Roti manis merupakan salah satu jenis roti yang terbuat dari adonan

manis yang difermentasi serta mengandung 10% gula atau lebih. Bahan utama

dalam pembuatan roti terdiri dari tepung terigu, air, ragi roti dan garam.

Sedangkan bahan pembantu dan bahan tambahannya antara lain gula, susu

skim, shortening, telur dan bread improver (Pomeranz dan Shellenberger, 1971).

Pada kuning telur terdapat lesitin yang berfungsi sebagai emulsifier.

Lesitin memiliki gugus polar dan gugus non polar. Gugus polar akan mengikat

air, sedangkan gugus non polar akan mengikat lemak. Fungsi dari lesitin adalah

untuk mencampurkan atau mengemulsikan antara fraksi air dan fraksi lemak

yang ada di dalam produk pangan. Fraksi lemak dan fraksi air akan dicampur

ketika lesitin ditambahkan pada saat proses mixing berlangsung (Hartomo dan

(43)

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan produk bakery dititikberatkan

pada kemampuan pembentukan matrik protein, penyerapan dan pengikatan air,

dan pengemulsi dari bahan yang ada dalam formula yang selanjutnya akan

terjadi ekspansi gas dalam adonan pemanggangan (Kilara, 1994). Untuk itu,

beberapa penambahan bahan yang mempunyai kemampuan tersebut diketahui

dapat meningkatkan mutu bakery yang dihasilkan. Rhee (1994) menyatakan

bahwa penambahan protein kedelai dapat meningkatkan pengemulsian

lemak dan komponen penyusun lainnya, sehingga memperbaiki warna,

tekstur dan ketahanan dari produk-produk bakery. Konsentrat protein biji

lamtoro gung merupakan emulsifier yang diperoleh dari proses hidrolisis

enzimatis dengan enzim bromelin dari limbah kulit nanas (Hafida, 2013).

Konsentrat protein biji lamtoro gung mempunyai sifat fungsional penyerapan dan

pengikat air dan lemak, mempunyai kemampuan sebagai pengemulsi sehingga

diduga dapat meningkatkan mutu roti yang dihasilkan.

Berdasarkan penelitian Hafida (2013), pembuatan konsentrat protein biji

lamtoro gung dengan kajian konsentrasi enzim bromelin dan lama inkubasi

menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada perlakuan konsentrasi enzim

limbah kulit nanas 100mg/100g dengan lama inkubasi 48 jam yang menghasilkan

sifat fungsional konsentrat protein dengan kadar protein 57,54%, densitas

kamba 0,625 g/ml, daya serap air 4,15 ml/g, daya serap minyak 1,3 ml/g,

kapasitas dan stabilitas emulsi 45,75%/jam, kapasitas buih 8%.

Hasil penelitian Djafar (2003), aplikasi penggunaan konsentrat protein

ikan dalam pembuatan produk pangan berprotein tinggi menunjukkan bahwa

perlakuan terbaik pada pembuatan roti manis dengan penambahan konsentrat

protein ikan 2%, sedangkan hasil penelitian Qur’ani dan Susanto (2013)

menunjukkan bahwa penambahan kuning telur bebek 5 gr dan 30 gr pasta

santan dapat memperbaiki kualitas roti manis.

J. Hipotesis

Diduga terdapat pengaruh yang nyata dari penggunaan emulsifier dari

konsentrat protein biji lamtoro gung dan kuning telur terhadap kualitas produk roti

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan

Pangan, Laboratorium Analisa Pangan, Laboratorium Mikrobiologi,

Laboratorium Uji Inderawi Program Studi Teknologi Pangan Fakultas

Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur, dan Laboraturium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan Jurusan

Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas

Brawijaya Malang pada bulan Desember 2013 – Desember 2014

B. Bahan Penelitian

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian pembuatan roti manis

adalah biji lamtoro gung yang didapat dari lingkungan kampus UPN

“Veteran” JawaTimur, Surabaya dan tepung terigu protein tinggi, ragi instan,

shortening, susu skim, kuning telur, gula pasir, garam, serta limbah kulit

nanas yang diperoleh dari Pasar Soponyono, Surabaya.

Bahan analisis kimia adalah K2S2O4, H2SO4pekat, K2SO4, K2S,

aquades, petroleum eter, NaOH (0,1N), HCl(0,1N), natrium asetat dan

ammonium sulfat.

C. Alat Penelitian

Alat yang digunakan untuk proses pembuatan roti manis adalah

cabinet dryer, timbangan digital, thermometer, roller, loyang, oven. Alat yang

digunakan untuk analisa pada pembuatan roti manis antara lain: neraca

analitik, alat-alat gelas, labu kjeldahl, eksikator, alat ekstraksis oxlet, dan

penetrometer.

D. Metode Penelitian

Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan

Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor, masing-masing

diulang dua kali. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan

analisa ragam (ANOVA). Bila terdapat perbedaan nyata antara perlakuan

(45)

dilanjutkan dengan uji Duncan (Duncan’t Multiple Range Test) (Gasperz,

1994).

Model statistik Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua

factor yaitu:

Yijk = µ +αi +βj + (αβ)ij+ ijk i = 1, …. , a

j = 1, …. , b

k = 1, …. , c

Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan dari suatu percobaan ke-k yang memperoleh

kombinasi perlakuan ij

µ = Nilai tengah umum (rata-rata sesungguhnya)

αi = Pengaruh perlakuanke-i dari A

βj = Pengaruh perlakuanke-j dari B

(αβ)ij = Pengaruh interaksi taraf ke-i dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B

ijk = Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k memperoleh perlakuan kombinasi ke-ij

1. Faktor Perubah

Faktor I. Penambahan konsentrat protein biji lamtoro gung (%b/b).

A1 = 5

A2 = 10

A3 = 15

Faktor II. Penambahan kuning telur (%b/b).

B1 = 15

B2 = 10

B3 = 5

Dari hasil kombinasi dua factor tersebut diperoleh sembilan perlakuan

(46)

Keterangan :

A1B1 = konsentrat protein biji lamtoro gung 5 % dan kuning telur 15 %

A2B1 = konsentrat protein biji lamtoro gung 10 % dan kuning telur 15 %

A3B1 = konsentrat protein biji lamtoro gung 15 % dan kuning telur 15 %

A1B2 = konsentrat protein biji lamtoro gung 5 % dan kuning telur 10 %

A2B2 = konsentrat protein biji lamtoro gung 10 % dan kuning telur 10 %

A3B2 = konsentrat protein biji lamtoro gung 15 % dan kuning telur 10 %

A1B3 = konsentrat protein biji lamtoro gung 5 % dan kuning telur 5 %

A2B3 = konsentrat protein biji lamtoro gung 10 % dan kuning telur 5 %

A3B3 = konsentrat protein biji lamtoro gung 15 % dan kuning telur 5 %

2. Variabel tetap:

a. Total berat tepung terigu= 100 gr

b. Berat gula pasir = 25 gr

c. Berat garam = 2 gr

d. Berat ragi roti = 2,2 gr

e. Berat shortening = 16 gr

f. Berat susu skim = 5 gr

g. Volume air = 40 ml

h. Lama fermentasi I = 60 menit

i. Lama fermentasi II = 60 menit

j. Lama pemanggangan = 20 menit

k. Suhu pemanggangan = 180OC

E. Parameter yang Diamati pada Roti Manis

• Kadar protein metode mikro Kjeldahl (Sudarmadji, 1997)

• Kadar air metode oven (Sudarmadji, 1997) B

A B1 B2 B3

A1 A1B1 A1B2 A1B3

A2 A2B1 A2B2 A2B3

(47)

• Kadar abu (Sudarmadji, 1997)

• Kadar lemak metode Soxhlet (Sudarmadji, 1997)

• Tekstur dengan alat penetrometer (Susanto, 1998)

• Volume pengembangan (Susanto, 1998)

• Jumlah pori-pori (Susanto, 1998)

• Uji organoleptik (rasa, aroma, warna dan tekstur) (Kartika,1988)

F. Prosedur Penelitian (Pembuatan Roti Manis)

1. Persiapan bahan

Tahap persiapan dimulai dengan penimbangan bahan-bahan antara lain

tepung terigu, konsentrat protein biji lamtoro gung, gula pasir, garam,

shortening, air, ragi roti, kuning telur dan susu skim.

2. Pencampuran

Pencampuran pertama adalah kuning telur dan gula pasir kemudian

bahan-bahan lainnya seperti tepung terigu, konsentrat protein biji lamtoro

gung, shortening, ragi roti, susu skim, garam dan air. Kemudian diaduk

sampai kalis atau homogen.

3. Fermentasi I

Fermentasi awal dilakukan diwadah selama 60 menit dengan suhu kamar

dalam kondisi wadah tertutup kain basah.

4. Penghilangan gas

Setelah fermentasi awal selesai dilakukan penghilangan gas dengan cara

adonan di roll sampai tipis (gas tidak ada), proses ini dilakukan dengan

waktu yang singkat. Kemudian adonan tersebut digulung / dibentuk dan

diisi sesuai keinginan.

5. Fermentasi II

Fermentasi ini dilakukan di dalam cetakan roti selama 60 menit dengan

suhu kamar dalam loyang dengan kondisi tertutup kain basah

6. Pemanggangan

Pemanggangan merupakan tahap terakhir pembuatan roti manis.

Pemanggangan dilakukan pada suhu 180OC selama 20 menit. Pemanggangan ini bertujuan untuk mengembangkan adonan yaitu

adanya kontak panas dengan karbondioksida dalam adonan. Pada

(48)

7. Pendinginan

Setelah di panggang, roti dikeluarkan dari cetakan dan didinginkan.

Pendinginan dilakukan udara terbuka dengan waktu sekitar 30-60 menit.

Analisa :

• Volume pengembangan

• Jumlah pori-pori

• Uji organoleptik (rasa, aroma, warna, tekstur)

Gambar

Tabel 4.14 Penentuan analisa keputusan ..............................................
Tabel 2.1 Syarat mutu roti manis
Gambar 2.1 Diagram alir pembuatan tepung biji lamtoro gung
Gambar 2.2. Diagam alir pembuatan enzim kasar kulit nanas
+7

Referensi

Dokumen terkait

rekrutmen dan seleksi itu sendiri telah menyita waktu, biaya dan tenaga, tetapi juga karena menerima orang yang salah untuk suatu jabatan akan berdampak pada efisiensi,

Materi pembelajaran (instructional material) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam rangka memenuhi standar

Klinik Bersalin Bidan Wahyu Jatiningsih yaitu tempat pemeriksaan orang sakit mulai dari pemeriksaan pasien umum dan pasien bersalin. Permasalahan yang terdapat pada Klinik

Kahar Lahae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1.) alasan anak perempuan keturunan Sayyid dianggap tidak cakap dalam hal mewaris, 2.) kedudukan anak

1). Dapat dipakai langsung setelah merekamnya, selain itu memungkinkan juga untuk dipakai berkali-kali. Penanganannya sangat praktis baik pada waktu merekamnya maupun pada waktu

Semangat yang bermacam-macam pada diri individu untuk menyampaikan dan mengungkapkan informasi diri klien. Membuka semua tentang diri ini yang menjadi

Seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan,.. keterampilan atau keahlian

Dalam hal kriteria variabel bukaan bangunan rumah tinggal , seberapa besar pengaruhnya terhadap alternatif desain hemat energi dibawah