KEPUASAN PEMIRSA SURABAYA DALAM MENONTON
PROGRAM ACARA TALENT SHOW “MASTERCHEF”
INDONESIA DI RCTI
(Studi Deskriptif Kuantitatif Kepuasan Pemir sa Sur abaya Dalam Menonton Pr ogram Acara Talent Show “MasterChef” Indonesia Season 3 di RCTI)
SKRIPSI
Oleh : Rezita Natalia NPM. 0943010271
YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
KEPUASAN PEMIRSA SURABAYA DALAM MENONTON PROGRAM ACARA TALENT SHOW “MASTERCHEF” INDONESIA DI RCTI
(Studi Deskr iptif Kuantitatif Kepuasan Pemir sa Sur abaya Dalam Menonton Pr ogram Acara Talent Show “MasterChef” Indonesia Season 3 di RCTI)
Disusun Oleh :
REZITA NATALIA NPM. 0943010271
Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi
Menyetujui,
Pembimbing Utama
Dra. Dyva Claretta, M.Si NPT 3 6601 94 0025 1
Mengetahui DEKAN
Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yesus Kristus karena anugerah dan
kasih-Nya yang begitu luar biasa dicurahkan bagi penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “KEPUASAN PEMIRSA SURABAYA DALAM
MENONTON PROGRAM ACARA TALENT SHOW “MASTERCHEF”
INDONESIA DI RCTI” dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar
– besarnya kepada Ibu Dra. Dyva Clarreta, M.Si. selaku dosen pembimbing yang selama
ini dengan sabarnya memberikan bimbingan dan masukan hingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak
terkait dalam proses pengerjaan hingga skripsi ini dapat terselesaikan, pihak-pihak
terkait antara lain:
1. Spesial Thank you so much to my Lord Jesus Christ. Thank you for Your Loving
me, Your grace, Your Presence and Your Miracle to me. Love You so much My
Sweet Jesus.
2. Bapak Prof. DR. Ir. Teguh Soedarto, MP. Selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Ibu Dra. Ec. Hj. Suparwati, M.Si. Selaku Dekan Fisip – Universitas
iii
4. Bapak Juwito, S.sos, Msi. Selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”Jawa Timur.
5. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, Msi. Selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
6. Seluruh dosen-dosen Ilmu komunikasi Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur.
7. Kedua orang tua tercinta dan my sist and my bro, mulai dari papa, mama, kak
Juli, Kak Mindo, Kak Erna, Adek Dimas, Ayu dan Manda terima kasih untuk
cinta kasihnya, dukungan, serta doanya. Love You All.
8. Buat keluarga besar ku baik yang ada di Pagarsinondi maupun yang ada di
Parsoburan. Mulai dari Opung, Uda, Inang uda, Namboru, Amangboru, Maktua,
Paktua, Adek2 dan kakak2 semuanya. Terima kasih buat dukungan dan doa
kalian semua. Oca sayang kalian.
9. Buat keluarga Kak Nila dan Bang Nila, terima kasih buat dukungan dan doanya.
Terutama buat ponakan ku NILAWATI thank you adek udh dipinjami laptopnya
yaa.. Buat Nella, Uti, Noel, Gabriel dan Tino kalian penyemangat ante disaat ante
mulai tak bergairah lagi menyelesaikan skripsi ante.
10. Special for my Connect Group Jessica, Aflien, Ellen, Kak Mindo, Manda,
Andre, Sheryn, Kak Shita, Uswatun dan Silvia. Terima kasih untuk cinta
kasihnya, dukungan, didikan, dan doa kalian semua. Love You Guys.
11. Buat Made, Martha Thank you yaa udh menemani aku mulai dari awal
ini rekkk. Terutama buat Ance thank you udh mau aku repoti selama aku maju
lisan.. Buat anak UK3 yang belum lulus ayo buruan diselesaiin skripsinya. Tuhan
Yesus Memberkati kalian semua..
Penulis masih menyadari akan banyaknya kekurangan dari skripsi ini. Penulis
berharap kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi teman – taman jurusan Ilmu Komunikasi dan semua
pihak yang terkait, khususnya bagi penulis. Terima Kasih.
Surabaya, 11 Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN J UDUL ... i
HALAMAN PERSETUJ UAN DAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
ABSTRAK ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang Masalah ... 1
1.2Perumusan Masalah ... 10
1.3Tujuan Penelitian ... 11
1.4Manfaat Penelitian ... 12
1.4.1Praktis ... 12
1.4.2 Teoritiis ... 12
BAB II KAJ IAN PUSTAKA ... 13
2.1 Penelitian Terdahulu ... 13
2.2 Landasan Teori ... 16
2.2.1 Komunikasi Massa ... 16
2.2.2 Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa ... 19
2.2.3 Pemirsa Televisi Sebagai Khalayak Media Massa ... 21
2.3 Kerangka Berpikir ... 32
2.4 Hipotesis ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
3.1 Pendekatan Penelitian ... 37
3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 37
3.2.1 Program Talent Show MasterChef Indonesia di RCTI ... 38
3.2.2 Tingkat Kepuasan Pemirsa ... 39
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel ... 50
3.3.1 Populasi dan Sampel ... 50
3.3.2 Teknik Penarikan Sampel ... 51
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 52
3.5 Metode Analisis Data ... 53
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 58
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data ... 58
4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ... 58
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 59
4.1.3 Susunan Redaksi ... 60
4.2 Penyajian Data ... 61
4.2.1 Analisis Deskriptif Identitas Responden ... 61
4.2.3 Usia Responden ... 62
4.2.4 Pekerjaan Responden ... 63
4.2.5 Frekuensi dan Durasi Responden saat Menonton dalam Sehari ... 64
4.2.6 Kepuasan Yang Diinginkan (Gratifications Sought) Ketika Menonton MasterChef Indonesia di RCTI ... 66
4.2.7 Kepuasan Yang Diperoleh (Gratifications Obtained) Ketika Menonton MasterChef Indonesia di RCTI ... 105
4.3 Pengujian Hipotesis ... 146
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 155
5.1 Kesimpulan ... 155
5.2 Saran ... 157
DAFTAR PUSTAKA ... 158
Saat ini program acara bertema kuliner menjadi fenomena di kalangan masyarakat. Memasak kini menjadi sebuah tren gaya hidup. Salah satu program acara memasak yang diminati masyarakat adalah MasterChef Indonesia di RCTI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) pemirsa Surabaya dalam menonton MasterChef Indonesia di RCTI.
Dalam penelitian ini menggunakan teori Uses and Gratifications karena pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan dasar dan khalayak secara aktif memilih media massa untuk memenuhi kebutuhannya sehingga mendapatkan kepuasan dari penggunaan media tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan ada kepuasan yang dirasakan pemirsa dari empat motif dalam mengkonsumsi media yaitu: motif informasi, identitas pribadi, integrasi dan interaksi sosial dan hiburan.
Hal ini kebutuhan yang diperoleh lebih banyak daripada kebutuhan yang diinginkan. Dengan kata lain semua kebutuhan individu dapat terpenuhi dengan menonton program acara talent show MasterChef Indonesia di RCTI dari semua motif.
Kata kunci : Kepuasan Yang Diinginkan, Kepuasan Yang Diperoleh, Motif, MasterChef Indonesia di RCTI
ABSTRACT
Rezita Natalia, Gr atifications of Sur abaya Audience Into Watching Pr ogr ams in Talent Show Master Chef Indonesia on RCTI (Quantitative Descr iptive Study of Gr atifications of Sur abaya Audience Into Watching Pr ogr ams in The Talent Show " Master Chef " Season 3 Indonesia on RCTI)
Currently culinary themed programs become a phenomenon among the people. Cooking has now shifted into a lifestyle trend. One of the programs that the public interest is cooking MasterChef Indonesia on RCTI. This study aims to determine the desired gratifications (Gratifications Sought) with gratifications obtained (Gratifications Obtained) audience watching MasterChef Surabaya in Indonesia on RCTI.
In this study using the theory of Uses and Gratification because basically every human being has a basic need and audiences are actively choosing media to meet their needs so as to get gratifications from the use of such media.
The method used is descriptive quantitative sampling techniques used in this study is purposive sampling.
The results showed that overall there was gratifications perceived audience of four motifs in media consumption are: motif information, personal identity, personal relationship and diversi.
This needs a lot more than that gratifications obtained. In other words, all individual needs can be met with a program to watch the talent show MasterChef Indonesia on RCTI of all motives .
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Di zaman sekarang ini, kehadiran informasi sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Perkembangan informasi berjalan seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dalam penyampaian informasi tidak lepas dari proses komunikasi, dimana dalam proses komunikasi selalu membutuhkan berbagai sarana atau media untuk menyampaikan informasi tersebut. Penyampaian informasi biasanya dilakukan melalui media massa.
Proses komunikasi dalam penyampaian informasi bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung biasanya melalui tatap muka (face to face) sedangkan secara tidak langsung bisa terjadi melalui media massa. Komunikasi melalui media massa adalah komunikasi massa. Media massa yaitu alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. (Nurudin, 2004 : 6)
secara efektif dalam masyarakatnya, mempelajari nilai, dan tingkah laku yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya. Yang ketiga adalah to persuade (mempersuasi), tujuan dari fungsi ini adalah memberi keputusan, mengadopsi nilai, tingkah laku, dan aturan yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya. Dan terakhir adalah to entertain (menghibur), tujuan dari fungsi ini adalah menyenangkan dan memuaskan kebutuhan komunikan. (Nurudin, 2004 : 63)
Menurut Effendy (2000 : 54) media massa terbagi atas dua macam yaitu media massa cetak (printed mass media) dan media massa elektronik (electronic mass media). Media massa cetak antara lain surat kabar, majalah, tabloid dan buku. Sedangkan media massa elektronik yaitu radio, televisi, film dan internet.
Kehadiran televisi di dunia telah membawa dampak yang sangat besar bagi umat manusia. Televisi adalah salah satu media massa elektronik yang membawa berbagai kandungan informasi pesan-pesan dalam waktu yang sangat cepat dalam menyebarkan informasi ke seluruh pelosok dunia. Masyarakat dari berbagai belahan dunia dapat menyaksikan secara langsung suatu peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia berkat jasa televisi. Televisi juga sebagai alat bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas.
3
Di Indonesia, perkembangan televisi diawali dengan munculnya TVRI sebagai televisi pertama yang muncul di tahun 1962. Pada tahun 1989, lahirlah stasiun televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Stasiun tersebut menjadi televisi swasta pertama di Indonesia. Stasiun televisi swasta yang kemudian berturut-turut lahir adalah Surya Citra Televisi (SCTV), Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Indosiar dan Andalas Televisi (ANTV). Sejak era reformasi bergulir, televisi swasta pun ramai bermunculan. Ada Metro TV, Transformasi Televisi (Trans TV), TV 7 yang kini menjadi Trans 7, Lativi yang belakangan menjadi TV One serta Global TV. Stasiun televisi lokal pun ikut menyemarakkan dunia pertelevisian tanah air. Televisi lokal mulai bermunculan pada tahun 2000. Misalnya, di Jakarta ada Ochannel dan JakTV, di Surabaya ada Jawapos Televisi (JTV), di Banten ada Cahaya TV dan masih banyak lainnya di berbagai daerah yang ada di seluruh pelosok Indonesia (Usman, 2009 : 1)
Masyarakat saat ini, membutuhkan tontonan yang memberikan informasi, menghibur, tontonan yang mempersuasi ke arah yang lebih baik dan tontonan yang bisa menjadikan motivasi dalam menjalani hidup. Salah satu program acara televisi yang mampu menjawab kebutuhan pemirsanya adalah program acara talent show. Program acara bergenre talent show saat ini mampu memikat hati pemirsanya.
yang terkemuka di dunia realitas pertelevisian di Indonesia. Dimana lewat ajang pencarian bakat tersebut (talent show) dapat menjadi batu loncatan bagi para peserta untuk dapat menjadi idola baru bagi masyarakat dan mempunyai karir yang sukses. (http://en.wikipedia.org/wiki/Talent_show)
Program acara talent show “MasterChef” Indonesia berbeda dengan program acara talent show lainnya. Pada umumnya program acara talent show lebih menunjukkan bakat pesertanya di bidang menyanyi, menari dan akting. Sedangkan pada program acara talent show “MasterChef” Indonesia para peserta ditantang untuk menunjukkan bakat mereka di bidang memasak. Para peserta dalam ajang tersebut adalah para koki amatir dan berasal dari berbagai latar belakang berbeda-beda (non kuliner).
5
Karena adanya fenomena tersebut, maka produser atau pengelola stasiun televisi berlomba-lomba menyuguhkan program acara kuliner dengan konsep yang bervariasi, agar khalayak menonton program acara mereka. Di pertelevisian Indonesia sendiri, program acara bertema kuliner hampir ada disetiap stasiun televisi. Tidak hanya stasiun televisi swasta, stasiun televisi lokal pun tidak mau ketinggalan untuk menyuguhkan program acara bertema kuliner. Beberapa stasiun televisi baik swasta maupun lokal menjadikan kuliner sebagai program acara khusus, namun ada juga yang menjadikan kuliner sebagai program acara umum (hanya sebatas program acara sisipan).
pada hari Kamis dan Jumat, pukul 15.15-17.15. “MasterChef” Indonesia memenangkan Panasonic Gobel Awards untuk kategori Pencarian Bakat Terbaik selama 2 tahun berturut-turut (2012 dan 2013). Kemenangan yang diraih dalam Panasonic Gobel Awards, selama 2 tahun berturut-turut tersebut membuktikan bahwa program acara tersebut masih diminati khalayak sampai sekarang. (http://id.wikipedia.org/wiki/MasterChef_Indonesia)
Program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI telah dilaksanakan selama 3 tahun berturut-turut dimulai pada tahun 2011 hingga sekarang. “MasterChef” Indonesia season 1 dimulai pada 1 Mei 2011 dan berakhir pada 21 Agustus 2011. Jumlah kontestan musim ini adalah 20 orang. Pemenang pada musim ini adalah Lucky berasal dari Malang, dan juara kedua musim ini adalah Agus berasal dari Banjarmasin. Pada season 2 “MasterChef” Indonesia dimulai pada 8 Juli 2012 dan berakhir pada 28 Oktober 2012. Jumlah kontestan musim ini adalah 20 orang. Pada musim ini, posisi Vindex Tengker sebagai juri digantikan oleh Degan Septoadji, sedangkan Rinrin Marinka dan Juna Rorimpandey tetap menjadi juri. Pemenang pada musim ini adalah Desi berasal dari Bangka, dan Opik berasal dari Surabaya sebagai pemenang kedua. Pada season 3 pun ada pergantian pada posisi juri dimana posisi Juna Rorimpandey digantikan oleh Arnold Poernomo. Sementara Degan Septoadji dan Rinrin Marinka masih didaulat menjadi dewan juri. Jumlah kontestan pada season 3 tersebut adalah 25 orang. (http://id.wikipedia.org/wiki/MasterChef_Indonesia)
7
Untuk memenuhi kebutuhan, didasari oleh berbagai motif tertentu sehingga seseorang akan terdorong untuk melakukan sesuatu. Menurut Mc. Quail (2002 : 72), motif dibagi menjadi 4 yaitu : 1) motif informasi, dimana lewat program acara tersebut pemirsa yang belum mengetahui cara mengolah masakan dengan bahan minim menjadi masakan berkelas tinggi akan mendapatkan informasi mengenai cara mengolah masakan dengan bahan minim menjadi masakan berkelas tinggi setelah menonton acara tersebut. 2) motif identitas pribadi, dimana lewat program acara tersebut pemirsa yang belum mempunyai figure orang sukses di bidang kuliner akan mendapatkan figure orang sukses yang patut dicontoh kesuksesannya. Misalnya: Chef Marinka dijadikan sebagai panutan bagi pemirsa untuk meraih mimpi di bidang kuliner. 3) motif integrasi dan interaksi sosial, dimana lewat program acara tersebut menjadi acuan untuk memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang baik dengan sesama pecinta program acara tersebut. 4) motif hiburan, dimana pemirsa akan mendapatkan hiburan yang menarik saat menonton acara tersebut. Misalnya: ketegangan kontestan saat menghadapi tantangan dari juri, desain galerry MasterChef Indonesia dan lighting.
di season 3 ada beberapa kontestan yang berasal dari Surabaya. Alasan peneliti memilih pemirsa yang berusia 17 tahun ke atas karena dianggap mampu berorientasi pada tugas bukan pada diri sendiri, bersikap objektif, menerima kritik dan saran, bertanggung jawab, penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru, dan mampu menyeimbangkan antara dorongan-dorongan, minat-minat dengan kemampuannnya sehingga memperoleh kedudukan yang sesuai. (Mappiare, 1983 : 17)
Pemirsa merupakan individu yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dan didasari oleh motif tertentu sehingga seseorang akan terdorong untuk melakukan sesuatu. Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah Uses and Gratifications memposisikan khalayak mendapatkan kepuasan tertentu terhadap penggunaan media atas pemenuhan kebutuhan seseorang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mc. Quail (2002 : 72) yakni, (1). Informasi (Surveillance), (2). Identitas pribadi (Personal Identify), (3). Integrasi dan interaksi sosial (Personal Relationship), dan (4). Hiburan (Diversi). Kepuasan yang didapatkan khalayak dalam menggunakan media dapat diukur dengan dua konsep, yaitu Gratifications Sought dan Gratifications Obtained. Gratifications Sought (GS) adalah motif yang melatarbelakangi individu dalam menggunakan media massa dalam pemenuhan kebutuhan yang ingin dicapai. Sedangkan Gratifications Obtained (GO) adalah kepuasan nyata yang diperoleh setelah
9
program acara tersebut sebagai program acara favorit di bidang kuliner. Fenomena tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui kepuasan pada motif apakah yang mendasari pemirsa tetap menonton program acara talent show MasterChef Indonesia di RCTI.
Ketertarikan peneliti untuk meneliti pemirsa yang berusia 17 tahun ke atas di Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI, apakah sudah merasa puas atau tidak. Individu dianggap aktif dan selektif dalam memilih informasi sebagai kebutuhannya. Individu yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan yang tidak sama pada tujuan akhir (kepuasan) yang dicapai ketika mengkonsumsi media. Dengan kata lain, individu berhak menentukan sendiri apakah program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI memiliki kualitas yang baik dibandingkan dengan program acara lainnya.
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, perumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Apakah ada kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif
informasi pada pemirsa di Surabaya ketika menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh
(Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI?
2. Apakah ada kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif identitas pribadi pada pemirsa di Surabaya ketika menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang
11
3. Apakah ada kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif integrasi dan interaksi sosial pada pemirsa di Surabaya ketika menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI?
4. Apakah ada kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif hiburan pada pemirsa di Surabaya ketika menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah ada kepuasan yang diperoleh dari motif informasi pada pemirsa Surabaya setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
2. Untuk mengetahui apakah ada kepuasan yang diperoleh dari motif identitas pribadi pada pemirsa Surabaya setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
4. Untuk mengetahui apakah ada kepuasan yang diperoleh dari motif hiburan pada pemirsa Surabaya setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
1.4.Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini untuk berbagai pihak adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi keilmuan dibidang komunikasi khususnya tentang cara mengukur tingkat kepuasan pemirsa Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan positif sebagai bahan rujukan dan evaluasi atas program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
BAB II
KAJ IAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Ter dahulu
Dalam penelitian kali ini akan disampaikan beberapa penelitian terdahulu dan meneliti pokok kajian yang sama antara lain :
1. Ropingan (Volume 1 No. 1/April 2012), jurusan ilmu komunikasi, penelitiannya berjudul “Kepuasan Masyarakat Terhadap Terjemahan Teks dan Sulih Suara Bahasa Indonesia Pada Tayangan Film Asing di Televisi Nasional.” Penelitian ini adalah bagaimana mengukur kepuasan masyarakat terhadap terjemahan teks dan terjemahan sulih suara bahasa Indonesia dalam film-film asing yang ditayangkan di televisi nasional. Dari hasil survey membuktikan bahwa televisi mampu menarik hati pemirsanya. Televisi sebagai sarana hiburan yang dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat baik lapisan masyarakat ke bawah sampai lapisan masyarakat ke atas. Melalui tontonan tayangan film asing, masyarakat bisa memahami dan lebih mengerti bahasa asing yang telah disulih suarakan dan diterjemahkan dengan teks bahasa Indonesia pada siaran televisi nasional.
sebagai konsumen media massa menjadi lebih aktif atau kurang aktif dalam menggunakan media dan akibat dari konsekuensi dari penggunaan media itu. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh penonton televisi nasional di wilayah Jawa Timur. Sampel pada tingkat kabupaten dipilih secara purposive dengan jumlah populasi 512 responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur lebih cenderung memilih terjemahan teks bahasa Indonesia dalam film-film asing. Mereka menunjukkan tingkat kepuasan dan persetujuan yang lebih tinggi dalam menonton film dengan menggunakan terjemahan teks dibanding dengan menggunakan terjemahan sulih suara.
15
Landasan teori yang digunakan adalah teori Uses And Gratifications yang berarti khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu dan media akan dianggap berusaha memenuhi motif khalayak. Dalam teori ini terdapat dua konsep, yakni Gratifications Sought (GS) dan Gratifications Obtained (GO).
Obyek penelitian ini adalah surat kabar lokal yang mempunyai daerah sebaran di DIY, yaitu Kedaulatan Rakyat, Radar Jogja, Bernas Jogja, dan Harian Jogja. Berdasarkan hasil uji mean dimana skor mean Gratifications Sought dan Gratifications Obtained diperoleh bahwa biro iklan belum
merasakan kepuasan terhadap layanan jasa surat kabar lokal.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada penelitian sekarang yang dilakukan memiliki perbedaan dan persamaan dengan penelitian terdahulu. Perbedaan pada penelitian terdahulu dengan yang sekarang terletak pada variabel dan populasi pada penelitian yang digunakan. Jika pada penelitian terdahulu menggunakan media televisi yang berkaitan dengan “Kepuasan Masyarakat Terhadap Terjemahan Teks dan Sulih Suara Bahasa Indonesia pada Tayangan Film Asing di Televisi Nasional dan Kompetisi Surat Kabar Lokal Berdasarkan Tingkat Kepuasan Biro Iklan Pada Layanan Jasa Media Surat Kabar.
antara penelitian terdahulu dan sekarang terletak pada teori dan alat uji yang digunakan teori Uses and Gratifications dan uji-t (t-test).
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah salah satu hal yang penting dan menjadi bagian dalam kehidupan modern ini. Komunikasi massa selalu mengalami perkembangan di bidang keilmuan. Perkembangan itu berjalan seiring dengan berkembangnya berbagai informasi dan teknologi canggih di zaman modern ini. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media (Effendy, 2003 : 80). Media massa itu meliputi radio, televisi, internet, majalah, koran, tabloid, buku dan film (film bioskop dan bukan negatif film yang dihasilkan). Menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney dalam Komunikasi Massa (Nurudin, 2004 : 11) mengemukakan komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal atau tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim dan heterogen.
17
sama lain. Heterogen sendiri berarti bahwa pesan yang dikirim (kepada yang berkepentingan) yakni kepada orang-orang dari berbagai macam atribut, status, pekerjaan dan jabatan dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain dan bukan penerima pesan yang homogen.
Pendapat lain dikemukakan oleh Werner I. Severin dan James W. Tankard, Jr dalam Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek (Effendy, 2003 : 21) mengemukakan komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni, dan sebagian ilmu. Dikatakan sebagai keterampilan jika meliputi teknik-teknik fundamental tertentu yang dapat dipelajari seperti memfokuskan kamera televisi, mengoperasikan tape recorder, atau mencatat ketika berwawancara. Dikatakan seni jika meliputi tantangan-tantangan kreatif seperti menulis skrip untuk program televisi. dan dikatakan ilmu jika meliputi prinsip-prinsip tertentu tentang bagaimana berlangsungnya komunikasi yang dapat dikukuhkan dan dipergunakan untuk membuat berbagai hal menjadi lebih baik.
menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita) (Nurudin, 2007 : 12).
Ciri-ciri komunikasi massa, menurut Nurudin (2007 : 19-32) antara lain meliputi :
1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga bukan satu orang tetapi kumpulan orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga disini berbicara mengenai sistem. Sistem itu adalah “sekelompok orang, pedoman, dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi.
2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen atau beragam. Artinya audience beragam pendidikan, umur, jenis kelamn, status sosial ekonomi,
memliliki jabatan yang beragam, memiliki agama atau kepercyaan yang tidak sama.
3. Pesannya bersifat umum, artinya pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Pesan-pesan tersebut ditujukan kepada khalayak plural. Dengan kata lain Pesan-pesannya harus bersifat umum bukan khusus (pesan yang disampaikan kepada golongan tertentu).
19
disampaikan komunikator. Kounikasi yang berjalan satu arah tersebut menimbulkan konsekuensi umpan balik (feedback) yang sifatnya tertunda atau tidak langsung (delayed feedback).
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan, artinya dalam proses penyebaran pesan-pesannya ada keserempakan. Serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan.
6. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis, artinya media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau elektronik).
7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper. Artinya gatekeeper adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media. Gatekeeper yang dimaksud antara lain reporter, editor, penjaga rubrik, kameramen, sutradara dan lain sebagainya.
2.2.2. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa
Televisi terdiri dari istilah “tele” yang berarti jauh dan “visi” (vision) yang berarti penglihatan. Televisi adalah gabungan dari panduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Audience di rumah tidak mungkin menangkap siaran televisi, jika tidak ada unsur-unsur radio. Dan tidak mungkin dapat melihat gambar-gambar yang bergerak pada layar pesawat televisi, jika tidak ada unsur-unsur film. (Effendy, 2003 : 174)
Televisi memiliki karakteristik yang kuat untuk menarik perhatian pemirsanya. Karakteristik televisi, menurut Ardianto dan Komala (2004 : 128-130) adalah sebagai berikut:
1. Audiovisual, artinya yakni dapat didengar (audio) sekaligus dapat dilihat (visual), gambar dalam televisi adalah gambar bergerak.
2. Berpikir dalam gambar, artinya pihak yang bertanggug jawab atas kelancaran acara televisi adalah pengarah acara. Dan ia harus mampu berpikir dalam gambar (think in picture) jika membuat naskah acara atau membaca naskah acara. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama, adalah Visualisasi (visualization), yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Dan kedua adalah penggambaran (picturization), yakni kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa, sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu.
21
Televisi lahir sebagai jendela besar dunia karena realitas sosial yang ditayangkannya dan mengingat pada dasarnya manusia memiliki keingintahuan yang besar terhadap sesuatu diluar dirinya. Untuk itu media televisi menjawabnya dengan model suara gambar bergerak yang mampu menyentuh aspek psikologis manusia dimanapun (Kuswandi, 2008: 16).
2.2.3. Pemir sa Televisi Sebagai Khalayak Media Massa
Dalam komunikasi massa khalayak biasa disebut dengan istilah penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decoder atau komunikan. Khalayak adalah salah satu aktor dari proses komunikasi. Karena itu unsur khalayak tidak boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu proses komunikasi sangat ditentukan oleh khalayak. (Cangara, 2005 : 135)
Dalam komunikasi massa audience atau khalayak sangat beragam, berbeda satu sama lain dalam hal berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya. Menurut Hiebert dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nurudin, 2007 : 105-106), audience dalam komunikasi massa
memiliki lima karakteristik yaitu:
1. Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara mereka.
3. Audience cenderung heterogen. Artinya audience berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial.
4. Audience cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain. Audience tidak mungkin dapat mengenal audience lainnya yang berjumlah jutaan.
5. Audience secara fisik dipisahkan oleh komunikator. Dipisahkan yang dimaksud adalah mencakup ruang dan waktu.
2.2.4. Talent Show atau Pencarian Bakat
Pencarian bakat (Talent Show) adalah suatu peristiwa dimana peserta melakukan bakat seperti menyanyi, menari, akrobat, akting, drum, seni bela diri, memainkan alat musik, hingga memasak atau kegiatan lainnya untuk menunjukkan keahlian. Ajang pencarian bakat (talent show) menjadi suatu genre yang terkemuka di dunia realitas pertelevisian di Indonesia. Dimana lewat ajang pencarian bakat tersebut (talent show) dapat menjadi batu loncatan bagi para peserta untuk dapat menjadi idola baru bagi masyarakat dan mempunyai karir yang sukses. (http://en.wikipedia.org/wiki/Talent_show)
2.2.5. Pemir sa Sebagai Khalayak Aktif
23
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 199), pemirsa atau pirsawan diartikan sebagai orang yang menonton, terutama pada siaran televisi. Sedangkan menurut Cangara dalam Pengantar Ilmu Komunikasi (2005 : 135) pemirsa adalah salah satu aktor dari proses komunikasi. Karena itu unsur pemirsa tidak boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu proses komunikasi dalam suatu program acara sangat ditentukan oleh pemirsa.
Pada setiap proses komunikasi selalu ditujukan kepada pihak tertentu sebagai penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Komunikator atau penerima merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat heterogen. Dalam keberadaannya secara terpencar-pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai jenis, antara lain : jenis kelamin, usia, agama, ideology, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan lain sebagainya. (Effendy, 1993 : 25).
Komunikasi dapat berjalan efektif apabila pemirsa khususnya pemirsa laki-laki terpikat perhatiaanya, tertarik minatnya, dan mengerti apa yang ingin disampaikan oleh komunikator. Dalam hal ini juga tidak lepas dari keaktifan komunikator dalam memilih media sebagai acuan alternatifnya. Menurut Frank Biocca dalam Winarso (2005 : 74) lebih jelas mengungkapkan lima karakteristik khalayak aktif, yaitu :
2. Utilitarianisme (Utilitarianism) : Khalayak aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan khusus.
3. Kesengajaan (Intensionality) : Mengisyaratkan pengunaan isi media mempunyai tujuan tertentu.
4. Keterlibatan (Involvement) : Keterlibatan atau usaha yaitu khalayak secara aktif mengikuti, memikirkan dan menggunakan media.
5. Khalayak aktif dipercaya tahan terhadap pengaruh (Impervious to influence) : Khalayak tidak dengan mudah dibujuk oleh media saja.
Dengan demikian untuk memenuhi sebagian kebutuhannya, khalayak bebas untuk memilih dan menggunakan sejumlah media beserta isinya atau sumber rujukan lainnya (non media) sepanjang itu dapat menunjang atau memperteguh (reinforcement) nilai, sikap, dan pengalaman terhadap suatu obyek tertentu.
2.2.6. Teori Uses and Gratifications
25
Sedangkan Swanson menggambarkan teori uses and gratifications sebagai “a dramatic break with effects tradition of the past.” Dimana model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Anggota khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini yang menimbulkan istilah Uses and gratifications adalah penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Dalam asumsi ini tersirat pengertian bahwa komunikasi massa berguna (utility); bahwa konsumsi media diarahkan oleh motif (intentionality); bahwa perilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity); dan bahwa khalayak sebenarnya khalayak batu (stubborn). Karena penggunaan media hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, efek media dianggap sebagai situasi ketika kebutuhan itu terpenuhi. (Rakhmat, 2001 : 65)
Dalam memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) media untuk mendapatkan kepuasan (gratifications) atas kebutuhan seseorang. Oleh karena itu, sebagian besar perilaku khalayak menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain (atau keterlibatan pada kegiatan lain) dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan. Katz, Blumer, Gurevitch dalam Psikologi Komunikasi (Rakhmat, 2007 : 205) menjelaskan asumsi dasar dari teori uses and gratifications yaitu:
1. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.
3. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.
4. Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak, artinya orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.
5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.
Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Efek media dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberikan kepuasan pada khalayak. (Rakhmat, 2001 : 66)
27
melalui pemanfaatan media oleh orang (uses) dan kepuasan yang diperoleh (gratifications). Gratifikasi yang sifatnya umum antara lain pelarian dari rasa khawatir, peredaan rasa kesepian, dukungan emosional, perolehan informasi dan kontak sosial. (Nurudin, 2007 : 193)
Gambar 1. Bagan Teori Uses and Gratifications
(Nur udin, 2007 : 194)
Lingkungan Sosial : 1. Ciri-ciri demografis 2. Afiliasi kelompok 3. Ciri-ciri Kebutuhan Khalayak: 1. Kognitif 2. Afektif
Menurut Katz, Blumer dan Gurevitch (Effendy, 2003 : 294) kebutuhan individual yang berkaitan dengan penggunaan media massa, dikategorikan sebagai berikut:
1. Cognitive needs (Kebutuhan kognitif) : yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga untuk memuaskan rasa penasaran kita dan dorongan untuk penyelidikan kita.
2. Affective needs (Kebutuhan afektif) : yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional.
3. Personal integrative needs (Kebutuhan pribadi secara integratif) : yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Hal-hal tersebut diperoleh dari hasrat akan harga diri.
4. Social integrative needs (Kebutuhan sosial secara integratif) : yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia. Hal-hal tersebut didasarkan pada hasrat untuk berafiliasi.
5. Escapist needs (Kebutuhan pelepasan) : yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman.
29
tertentu. Jadi yang dimaksud motif adalah dorongan yang ditimbulkan dari sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai individu dari suatu objek tertentu yang menimbulkan perilaku (Rakhmat, 2007 : 206).
Pada konsep Palmgreen, kepuasan individu dalam menggunakan media massa akan diketahui ada tidaknya kesenjangan yang ditimbulkan antara kepuasan yang diharapkan dan kepuasan yang diperoleh ketika menggunakan suatu media. Untuk mengukur konsep media yang memuaskan, peneliti menggunakan Gratifications Sought (GS) dan Gratifications Obtained (GO) dengan membandingkan keduanya dalam tingkat kesenjangan.
Jadi, kepuasan khalayak terhadap suatu media tertentu diukur berdasarkan kesenjangan antara GS dan GO. Semakin besar kesenjangan mean skor yang terjadi, maka semakin tidak memuaskan media tersebut bagi khalayaknya. Sebaliknya, semakin kecil kesenjangan mean skor yang terjadi, maka semakin memuaskan media tersebut bagi khalayaknya (Krisyantono, 2006 : 208).
2.2.7. Kepuasan Khalayak
Sedangkan menurut Gerson (2004 : 3) kepuasan khalayak adalah persepsi khalayak bahwa harapannya telah terpenuhi atau terlampaui. Dalam hal ini, semakin puas seseorang menggunakan media sebagai acuan alternatifnya, maka semakin besar kebutuhan berdasarkan tujuan dan motif tertentu terpenuhi. Kepuasan khalayak menurut konsep Palmgreen dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Gratifications Sought (GS)
Gratifications Sought (GS) adalah kepuasan yang dicari atau diinginkan
individu ketika menggunakan jenis media tertentu. Dalam pemenuhan kebutuhan, setiap khalayak memiliki motif berbeda dalam penggunaan media (Krisyantono, 2006 : 206). Motif berasal dari kata “motive” yang berarti secara obyektif merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk menentukan pilihannya dari berbagai perilaku tertentu, sesuai dengan tujuan. Sedangkan definisi subyektif motif merupakan dasar bagi seseorang untuk bergerak, berperilaku dan bertindak menurut tujuan (Rakhmat, 2005 : 23).
Menurut McQuail (2002 : 72), motif dibagai menjadi empat, yaitu:
1. Motif Informasi
31
2. Motif Identitas Pribadi
Motif ini berkaitan dengan menemukan penunjang nilai-nilai pribadi, menemukan model perilaku, mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain (dalam media), dan meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
3. Motif Integrasi dan Interaksi Sosial
Motif ini berkaitan dengan memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain melalui empati sosial, mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa ingin memiliki, menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial, memperoleh teman selain dari manusia, membantu menjalankan peran sosial, memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungi sanak-keluarga, teman dan masyarakat.
4. Motif Hiburan
Motif ini berkaitan dengan melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan, bersantai, memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis, mengisi waktu, dan penyaluran emosi
b. Gratifications Obtained (GO)
Gratifications Obtained adalah kepuasan yang nyata yang diperoleh
kategori kepuasan yang dikemukan oleh Mc. Quail (2002 : 72) diperoleh sebagai berikut :
1. Kepuasan informasi yaitu kepuasan individu yang berkenaan dengan kebutuhan akan informasi.
2. Kepuasan identitas pribadi yaitu kepuasan yang didapat setelah menggunakan isi media untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan khalayak.
3. Kepuasan integritas dan interaksi sosial yaitu kepuasan yang berkaitan dengan kelangsungan hubungan individu dengan orang lain.
4. Kepuasan hiburan yaitu kepuasan yang berkaitan dengan kebutuhan akan melepaskan ketegangan dan kebutuhan akan hiburan.
Dari uraian diatas, kepuasan yang diterima oleh individu dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dapat diukur melalui adanya kesenjangan antara Gratifications Sought dan Gratifications Obtained.
2.3. Kerangka Berpikir
33
program acara talent show, talk show, news, variety show dan lain sebagainya. Industri pertelevisian di Indonesia, saat ini diramaikan dengan program acara talent show. Produser berlomba-lomba untuk menyajikan program acara talent show yang mendidik dan menghibur untuk menarik hati pemirsanya. Program-program acara tersebut dikemas dan disajikan dengan berbagai informasi dan hiburan yang menarik sebagai pemenuhan kebutuhan media alternatif. Apabila kebutuhan dalam penggunaan media tercapai maka kepuasan yang akan diterima pemirsa. Pemirsa tidak hanya dituntut untuk menonton dan memilih program-program acara unggulan yang menarik sebagai medianya, tetapi juga pemirsa harus berpikir dan memahami makna pesan yang disampaikan lewat program acara tersebut sehingga pesan yang didapat dari program acara yang ditonton dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap individu membutuhkan informasi sebagai kebutuhan yang berkenaan dengan peristiwa, dalam lingkungan sekitar disampaikan kepada khalayak memberikan efek media yang sangat berpengaruh, baik yang berkaitan dengan pesan maupun dengan media itu sendiri. Kebutuhan pada diri individu dipengaruhi oleh kebutuhan kognitif, kebutuhan efektif, kebutuhan integratif personal, kebutuhan pelepasan menghindarkan dari tekanan ketegangan.
melatarbelakangi individu menggunakan suatu media sesuai dengan kebutuhan. Gratifications Obtained adalah kepuasan nyata yang diperoleh individu setelah
menggunakan media. Untuk pencarian kepuasan dan kepuasan yang diperoleh lebih mengedepankan sikap (terhadap media) yang merupakan hasil dari kepercayaan seseorang mengenai apa yang media dapat berikan dan evaluasi seseorang mengenai isi media. Indikator dari kepuasan yang diinginkan (GS) dan kepuasan yang diperoleh (GO) adalah sebagai berikut :
1. Jika GS = GO, maka adanya kepuasan karena jumlah kebutuhan yang diinginkan semuanya terpenuhi.
2. Jika GS < GO, maka adanya tingkat kepuasan yang lebih besar (sangat puas). Hal ini dikarenakan kebutuhan yang diperoleh lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan yang diinginkan. Dengan kata lain, bahwa jenis media massa yang dikonsumsi dapat memuaskan khalayaknya.
35
Untuk lebih jelasnya kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut ini :
Gambar 2. Bagan Kerangka Berpikir Penelitian Kepuasan Pemir sa Dalam Menonton Program Acara Talent Show “MasterChef” Indonesia di RCTI
2.4. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan kerangka penelitian yang telah diuraikan diatas, sehingga dapat dikemukakan hipotesis bahwa :
Pemirsa atau Masyarakat
Surabaya
Motif Menggunakan Media
1. Informasi 2. Identitas Pribadi 3. Integrasi dan Informasi 4. Hiburan
Menonton Program Acara Talent Show
“MasterChef” Indonesia
di RCTI
Kepuasan Pemirsa (Pendekatan
Uses and Gratifications) jika:
1. GS = GO, maka puas 2. GS < GO, maka sangat puas 3. GS > GO, maka tidak puas Kebutuhan individu dalam
penggunaan media :
1. Kognitif 2. Afektif
1. Diduga terdapat kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif informasi pada pemirsa Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
2. Diduga terdapat kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif identitas pribadi pada pemirsa Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show
“MasterChef” Indonesia di RCTI.
3. Diduga terdapat kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dari motif integrasi dan interaksi pada pemirsa Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show
“MasterChef” Indonesia di RCTI.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah survei menggunakan analisis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang melukiskan variabel demi variabel dengan mengumpulkan data aktual secara rinci dan cermat (Rakhmat, 2001 : 24-25). Metode yang digunakan bertujuan untuk menggambarkan kepuasan terhadap penggunaan media televisi dalam program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI. Kepuasan ini diukur dengan melihat kesenjangan (discrepancy) antara kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained) setelah menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia
di RCTI. Semakin kecil discrepancy-nya, maka semakin memuaskan media tersebut.
3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
3.2.1. Pr ogram Talent Show MasterChef Indonesia di RCTI
MasterChef Indonesia adalah suatu ajang pencarian bakat yang diadopsi
dari MasterChef (Inggris) dengan sponsor dari FremantleMedia yang bekerja sama dengan RCTI. Ajang ini merupakan pencarian bakat memasak. Acara ini pertama kali dimulai pada tahun 2011. MasterChef adalah program acara yang berhubungan dengan memasak dan mengudara selama 2 jam (120 menit) di televisi. Program talent show tersebut dimulai pada 1 Mei 2011 hingga sekarang pada pukul 16.30-18.30. Program talent show tersebut tayang pada hari Sabtu dan Minggu dan pada hari itu juga eliminasi dilaksanakan. Kamis dan Jumat adalah tayangan ulang (re-run), dimulai pukul 15.15-17.15.
Disetiap jam tayangnya para kontestan akan selalu diberi tantangan oleh para juri. Tantangan yang dihadapi para kontestan baik dalam galery MasterChef Indonesia maupun saat diluar galeri MasterChef Indonesia antara lain sebagai berikut:
1. One Core Ingredient : kontestan harus membuat hidangan dengan bahan dasar yang telah ditentukan.
2. Invention Test : kontestan harus menyiapkan sebuah hidangan hasil kreasi baru dari bahan yang ada.
3. Pro Chef Challenge : salah satu kontestan berhadapan dengan seorang chef
profesional. Apabila berhasil menang, kontestan akan mendapatkan hadiah.
39
5. Skill Test : kontestan mengadu kecepatan dalam mengolah bahan
makanan.(http://www.masterchefindonesia.com/)
3.2.2. Tingkat Kepuasan Pemirsa
Kepuasan pada penelitian ini adalah kebutuhan khalayak yang terpenuhi dalam penggunaan media massa yang didasari oleh motif tertentu. Kepuasan akan tercapai ketika khalayak sebagai pemirsa bersifat aktif dan selektif dalam memilih penggunaan media massa yang sesuai dengan kebutuhan akan informasi, identitas pribadi, integrasi dan interaksi sosial, dan hiburan. Pada penelitian ini menggunakan konsep Palmgreen bahwa kepuasan terbagi menjadi dua, yakni kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained). Dalam penggunaan media massa, kepuasan khalayak dapat diukur dari perbedaan perolehan skor kesenjangan antara kepuasan yang diinginkan (Gratifications Sought) dengan kepuasan yang diperoleh (Gratifications Obtained).
a.Gratifications Sought
Dalam penelitian ini yang dimaksud motif adalah motif pemirsa Surabaya dalam menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
Menurut Mc. Quail (2002 : 72), Indikator yang digunakan untuk mengukur Gratifications Sought (GS) dibagi menjadi empat kategori, yaitu :
1. Motif Informasi, yaitu motif yang berkenaan dengan kebutuhan akan informasi dan eksplorasi sosial, meliputi :
a. Ingin mendapatkan informasi tentang cara mengolah appetizer (makanan pembuka) dari bahan dasar seafood.
b. Ingin mendapatkan informasi tentang cara mengolah main course (makanan utama) dari bahan dasar daging.
c. Ingin mendapatkan informasi tentang cara mengolah dessert (makanan penutup) cake luar negeri namun memiliki taste Indonesia.
d. Ingin mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi taste (cita rasa).
e. Ingin mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi presentasi.
f. Ingin mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi tekstur.
g. Ingin mengetahui informasi mengenai cara menduplikasi masakan luar negeri dengan taste Indonesia yang telah dipresentasikan para juri.
41
2. Motif Identitas Pribadi, yaitu motif yang mendorong individu menggunakan isi media untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak yang bersangkutan, meliputi :
a. Sebagai individu untuk memotivasi diri sendiri agar dapat sukses berkarir di bidang kuliner.
b. Sebagai dorongan individu untuk mengeksplorasi kreativitas dan bakat dalam memasak.
c. Sebagai dorongan untuk menemukan contoh figure orang sukses melalui program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI, di bidang kuliner.
d. Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri melalui resep yang diberikan para juri.
e. Menemukan penunjang nilai–nilai yang baik dari bintang tamu yang diundang dalam acara tersebut di bidang kuliner.
f. Menemukan penunjang nilai-nilai yang baik dari profil para juri. g. Menemukan pennjang nilai-nilai yang baik dari profil para kontestan. h. Sebagai dorongan untuk menemukan karakter pribadi melalui program
acara tersebut.
3. Motif Integrasi dan Interaksi Sosial, yaitu motif yang berkenaan pada kelangsungan hubungan individu dengan orang lain, meliputi :
b. Ingin menjadikan segala informasi mengenai cara mengolah main course (makanan utama) dari bahan dasar daging sebagai pembicaraan dengan keluarga.
c. Ingin menjadikan segala informasi mengenai cara mengolah desssert (makanan penutup) cake luar negeri namun memiliki taste Indonesia sebagai pembicaraan dengan masyarakat di lingkungan sekitar.
d. Ingin memberikan berbagai informasi mengenai menduplikasi sebuah makanan dari bahan yang telah ditentukan kepada teman, sanak keluarga, dan masyarakat di lingkungan sekitar.
e. Ingin memberikan informasi kepada teman dengan mengajak untuk mengolah daging menjadi masakan berkelas tinggi sebagai hidangan menu utama dalam kehidupan sehari-hari.
f. Ingin memperoleh pengetahuan dari keadaan orang lain (para kontestan) yang awalnya tidak bisa apa-apa dan sekarang bisa meraih sukses lewat program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
g. Ingin hubungan anda dengan orang lain (masyarakat) menjadi dekat.
h. Ingin memberikan informasi kepada tetangga dengan mengajak untuk memasak resep gulai kambing dari kontestan Brian menjadi masakan yang berkelas tinggi.
4. Motif Hiburan yaitu, motif yang berkaitan dengan kebutuhan akan pelepasan diri dari tekanan dan kebutuhan akan hiburan, meliputi :
43
c. Mengisi atau menghabiskan waktu luang.
d. Memperoleh hiburan dan kesenangan (penyaluran emosi).
e. Dapat meningkatkan nilai seni (estetika) makanan dari segi tekstur. f. Dapat meningkatkan nilai seni (estetika) makanan dari segi plating. g. Dapat meningkatkan nilai seni (estetika) dari karakter para juri. h. Dapat melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.
b.Gratifications Obtained
Gratifications Obtained (GO) adalah kepuasan nyata yang diperoleh individu atas terpenuhinya kebutuhan tertentu setelah individu menggunakan media. Pada penelitian ini kepuasan yang diperoleh berkaitan dengan sejumlah kebutuhan dapat terpenuhi setelah individu menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
Indikator mengukur kepuasan Gratifications Obtained (GO) dibagi menjadi empat kategori, yaitu:
1. Motif Informasi, yaitu motif yang berkenaan dengan kebutuhan akan informasi dan eksplorasi sosial, meliputi :
a. Mendapatkan informasi tentang cara mengolah appetizer (makanan pembuka) dari bahan dasar seafood.
b. Mendapatkan informasi tentang cara mengolah main course (makanan utama) dari bahan dasar daging.
d. Mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi taste (cita rasa).
e. Mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi presentasi.
f. Mengetahui informasi mengenai cara penilaian juri terhadap masakan kontestan dari segi tekstur.
g. Mengetahui informasi mengenai cara menduplikasi masakan luar negeri dengan taste Indonesia yang telah dipresentasikan para juri.
h. Mengetahui informasi mengenai cara mengolah masakan lokal menjadi masakan yang bernilai tinggi yang telah dipresentasikan oleh Brian.
2. Motif Identitas Pribadi, yaitu motif yang mendorong individu menggunakan isi media untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak yang bersangkutan, meliputi :
a. Sebagai individu untuk memotivasi diri sendiri agar dapat sukses berkarir di bidang kuliner.
b. Sebagai dorongan individu untuk mengeksplorasi kreativitas dan bakat dalam memasak.
c. Menemukan contoh figure orang sukses melalui program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI, di bidang kuliner.
d. Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri melalui resep yang diberikan para juri.
45
f. Menemukan penunjang nilai-nilai yang baik dari profil para juri. g. Menemukan pennjang nilai-nilai yang baik dari profil para kontestan.
h. Sebagai dorongan untuk menemukan karakter pribadi melalui program acara tersebut.
3. Motif Integrasi dan Interaksi Sosial, yaitu motif yang berkenaan pada kelangsungan hubungan individu dengan orang lain, meliputi :
a. Menjadikan segala informasi mengenai cara mengolah appetizer (makanan pembuka) dari bahan dasar seafood sebagai pembicaraan dengan teman. b. Menjadikan segala informasi mengenai cara mengolah main course
(makanan utama) dari bahan dasar daging sebagai pembicaraan dengan keluarga.
c. Menjadikan segala informasi mengenai cara mengolah desssert (makanan penutup) cake luar negeri namun memiliki taste Indonesia sebagai pembicaraan dengan masyarakat di lingkungan sekitar.
d. Memberikan berbagai informasi mengenai menduplikasi sebuah makanan dari bahan yang telah ditentukan kepada teman, sanak keluarga, dan masyarakat di lingkungan sekitar.
e. Memberikan informasi kepada teman dengan mengajak untuk mengolah daging menjadi masakan berkelas tinggi sebagai hidangan menu utama dalam kehidupan sehari-hari.
g. Hubungan anda dengan orang lain (masyarakat) menjadi dekat.
h. Memberikan informasi kepada tetangga dengan mengajak untuk memasak resep gulai kambing dari kontestan Brian menjadi masakan yang berkelas tinggi.
4. Motif Hiburan yaitu, motif yang berkaitan dengan kebutuhan akan pelepasan diri dari tekanan dan kebutuhan akan hiburan, meliputi :
a. Meningkatkan nilai seni (estetika) dari fashion para juri. b. Mengatasi rasa bosan ketika jenuh.
c. Mengisi atau menghabiskan waktu luang.
d. Memperoleh hiburan dan kesenangan (penyaluran emosi). e. Meningkatkan nilai seni (estetika) makanan dari segi tekstur.
f. Dapat meningkatkan nilai seni (estetika) makanan dari segi plating. g. Dapat meningkatkan nilai seni (estetika) dari karakter para juri. h. Dapat melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.
47
Dalam kategorisasi ini, alternative jawaban “Ragu-Ragu” (undecided) ditiadakan. Menurut Hadi (2000 : 20), alasannya adalah sebagai berikut :
1. Kategori undecided memiliki arti ganda, biasa diartikan belum dapat memberikan jawaban netral dan ragu-ragu dan ini tidak diharapkan dalam instrument penelitian.
2. Tersedianya jawaban ditengah/netral akan menghilangkan banyaknya informasi yang dapat dijaring responden.
3. Tersedianya jawaban ditengah/netral akan menimbulkan kecenderungan menjawab ketengah, terutama bagi mereka yang jawabannya ragu-ragu.
Skala interval yang diberikan adalah sama dan berlaku untuk semua variabel, baik kategori motif yang diingini maupun kepuasan yang diperoleh. Selanjutnya sub-sub yang digunakan pada masing-masing jawaban sikap diberi bobot skor sebagai berikut :
Sangat Setuju (SS) : diberi skor 4, jika responden sangat menyetujui dan sependapat dengan pertanyaan yang diajukan.
Setuju (S) : diberi skor 3, jika responden setuju akan tetapi ada keraguan dengan pertanyaan yang diajukan.
Tidak Setuju (TS) : diberi skor 2, jika responden tidak sependapat dengan pertanyaan yang diajukan.
Maka :
Skoring dilakukan dengan menjumlahkan skor dari setiap sub, baik kategori motif yang diingini maupun kepuasan yang diperoleh, dari tiap-tiap kuisioner sehingga diperoleh skor total dari tiap kuisioner tersebut untuk masing-masing individu. Selanjutnya, tiap-tiap kategori kepuasan yang diinginkan (GS) dan kategori kepuasan yang diperoleh (GO) diukur melalui pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada angket.
Setelah itu, jawaban yang telah dipilih kemudian diberi skor dan di total. Total skor dalam setiap kategori baik kepuasan yang diharapkan (GS) maupun kepuasan yang diperoleh (GO) di kategorisasikan ke dalam tiga bentuk interval, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Penentuan interval dilakukan dengan penggunaan range. Range untuk masing-masing kategorinya, ditentukan rumus :
Keterangan :
Skor jawaban tertinggi : hasil kali antara jumlah banyak pertanyaan dengan nilai tertinggi.
Skor jawaban terandah : hasil kali antara jumlah banyak pertanyaan dengan nilai terendah.
Interval : batasan dari setiap angkatan.
R (range) = skor jawaban tertinggi – skor jawaban terendah
diinginkan yang jenjang ter endah jawaban skor ter tinggi jawaban skor
Inter val = −
8 3 8) (1 -8) (4
49
Hasil interval diatas menunjukkan bahwa pemberian skor pada jawaban responden adalah sebagai berikut :
Rendah = 8 – 15 Sedang = 16 – 23 Tinggi = 24 – 32
Keterangan :
Rendah : Mempunyai tingkat kepuasan sangat sedikit yang didapat berdasarkan keempat motif yang mendasari individu dalam memenuhi kebutuhannya dari menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
Sedang : Mempunyai tingkat kepuasan hanya sebagian saja yang didapat berdasarkan keempat motif yang mendasari individu dalam memenuhi kebutuhannya dari menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
Tinggi : Mempunyai tingkat kepuasan sangat tinggi yang didapat berdasarkan keempat motif yang mendasari individu dalam memenuhi kebutuhannya dari menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI.
(GO). Indikator dari kepuasan yang diinginkan (GS) dan kepuasan yang diperoleh (GO) adalah sebagai berikut :
a. Jika GS = GO, maka terdapat kepuasan karena seluruh kebutuhan telah terpenuhi.
b. Jika GS < GO, maka adanya tingkat kepuasan yang lebih besar (sangat puas). Hal ini dikarenakan kebutuhan yang diperoleh lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan yang diinginkan. Dengan kata lain program acara tersebut dapat memuaskan khalayaknya.
c. Jika GS > GO, maka tidak adanya kepuasan. Hal ini dikarenakan ada beberapa kebutuhan yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan yang diinginkan. Dengan kata lain, bahwa jenis media massa yang dikonsumsi tersebut tidak memuaskan khalayaknya.
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel
3.3.1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pemirsa yang bertempat tinggal di Surabaya baik pemirsa yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang menonton program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Surabaya tahun 2011 diketahui bahwa jumlah penduduk di Surabaya yang berusia 17tahun ke atas adalah 1.656.114 orang (Badan Pusat Statistik Kota Surabaya, 2011 : 44).
51
atas, seseorang dianggap mampu berorientasi pada tugas bukan pada diri sendiri, bersikap objektif, menerima kritik dan saran, bertanggung jawab, penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru, dan mampu menyeimbangkan antara dorongan-dorongan, minat-minat dengan kemampuannnya sehingga memperoleh kedudukan yang sesuai. (Mappiare, 1983 : 17)
3.3.2. Teknik Penarikan Sampel
Teknik sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik Sampling Purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011 : 85) dengan kriteria :
1. Pemirsa yang menonton program acara MasterChef Indonesia di RCTI. 2. Berusia 17 tahun ke atas
3. Penonton aktif program acara talent show “MasterChef” Indonesia di RCTI. Jumlah sampel akan ditentukan berdasar ukuran yang akan dicari terlebih dahulu berdasarkan rumus Yamane. Pada rumus tersebut menetapkan bahwa derajat ketelitian (d) sebesar 0,1 dengan tingkat kepercayaan sebesar 90%.
Menurut Rakhmat (2011 : 82) rumus Yamane yang sederhana ini adalah sebagai sebagai berikut :
Keterangan :
N : Jumlah populasi n : Jumlah sampel
1
Nd
N
n
2
+
Maka :
d : Presisi (derajat ketelitian = 0,1)
Dengan demikian banyaknya jumlah sampel yang akan diteliti adalah sebanyak 100 responden. Pada penelitian ini, sampel dipilih dengan batasan yaitu responden yang menonton program acara talent show “Masterchef” Indonesia di RCTI minimal 2 kali dalam sebulan.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang dipergunakan diperoleh melalui beberapa sumber yaitu :
1. Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung melalui daftar pertanyaan dari pertanyaan terstuktur kepada responden yang berisi daftar pertanyaan yang ada pada kuisioner. Datanya berupa sejumlah jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pem