SKRIPSI
Oleh :
ANNISA KURNIASARI
( 0734010231 )PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNANNASIONAL “VETERAN” JATIM SURABAYA
Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa
yang telah memberikan kekuatan-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas
akhir yang berjudul : “ Perencanaan Implementasi Aplikasi Teknologi Informasi
pada PT. Nobel Carpets Menggunakan Analisa SWOT”. Serta kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah menuntun kita semia kejalan yang lurus dan di
ridhoi oleh Allah SWT.
Melalui tugas akhir ini, penulis merasa mendapat kesempatan besar untuk
lebih memperdalam ilmu pengetahuan yang diperoleh selama di perkuliahan.
Namun demikian, penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih
memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan sarannya untuk pengembangan ke depannya.
Secara khusus, dalam kesempatan ini pula, penulis ingin mengucapkan
terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua kami dan keluarga tercinta yang telah memberikan
semangat dan do’a restunya yang tiada henti.
2. Bapak Ir. Sutiyono MT selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri
”Veteran” Jawa Timur
4. Teman dekat Dan Sahabat – Sahabat yang selalu ada untuk membantu
meringankan pengerjaan tugas akhir ini.
5. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini tidak terlepas dari
kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, kami sangat terbuka bagi kritik dan saran
yang bersifat membangun. Semoga laporan tugas akhir ini bermanfaat bagi kami
khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Surabaya, 25 Mei 2011
Penulis
iv
ABSTRAK ……….. i
KATA PENGANTAR ……… ii
DAFTAR ISI ……… iv
DAFTAR GAMBAR ……… vi
DAFTAR TABEL ……….. vii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1.Latar Belakang ………... 1
1.2.Perumusan Masalah ………....……….. 2
1.3.Batasan Masalah …………...……….. 3
1.4.Tujuan ………..……...……….………. 3
1.5.Manfaat …….……… 3
1.6.Sistematika Penulisan ……… 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1.Profil PT. Nobel Carpets ………... 6
2.2.Konsep Dasar SWOT ………... 7
2.2.1.Identifikasi Strategi Korporasi Menggunakan ANalisis SWOT .. 10
2.2.2.Strategi Memanfaatkan kekuatan ………. 12
2.2.3.Strategi Menangani atau Memanfaatkan Kelemahan ………….. 13
2.2.4.Strategi Menghadapi Peluang ……….. 13
2.2.5.Strategi Menghadapi Ancaman ……….... 15
2.3.Konsep Dasar Kelola Data (Data Governace) ……… 16
2.4.Balanced Score Card ………... 20
2.5.Konsep Dasar Sistem Informasi ……… 28
2.6.Siklus Hidup Sistem ……… 31
2.6.4.Implenemtasi ..……… 32
2.6.5.Operasi ……...……… 32
BAB III METODOLOGI TUGAS AKHIR 33
3.1.Tempat dan Waktu Pelaksanaan ………... 34
3.2.Metode Pelaksanaan ………... 34
3.2.1.Wawancara …….……… 34
3.2.2.Observasi ………..……….. 35
3.2.3.Studi Literatur ……….………. 35
3.2.4.Analisa / Penilaian Aplikasi ………..………... 35
3.2.5.Perencanaan Implementasi Aplikasi ……….. 35
3.2.6.Penulisan Buku Laporan ……… 36
3.2.7.Jadwal Kegiatan ……….……….. 36
3.3.Pelaksanaan ………. ……… 37
BAB IV HASIL DAN ANALISA PENELITIAN 38
4.1.Analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunities, Thread ) ……… 38
4.1.1.Analisa Kekuatan (Strenght)………. 38
4.1.2.Analisa Kelemahan (Weakness) .……… 46
4.1.3.Analisa Peluang (Opportunities) ……… 51
4.1.4.Analisa Ancaman (Thread) ….……… 55
4.2.Analisa Strategi SWOT …..……..……… 56
4.2.1.Analisa S - O………. 59
4.2.2.Analisa S – T.………....……… 61
4.2.3.Analisa W - O……… 63
4.2.4.Analisa W - T ….…………...……… 65
4.3.Perencanaan Implementasi Strategi SWOT ……… 67
vi 5.2.Saran ……… 97
DAFTAR PUSTAKA ……….. 98
Dosen Pembimbing I : Basuki Rahmat S.Si., MT Dosen Pembimbing II : Budi Nugroho S.Kom
Penyusun : Annisa Kurniasari
____________________________________________________________________ ABSTRAKSI
Peranan Industry dalam pembangunan di Indonesia sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di indonesia sangat berpengaruh, karena itu pertumbuhan industry sangat diperlukan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi.PT Nobel Carpet merupakan salah satu perusahaan industry yang bergerak dibidang manufaktur di bidang industry karpet PT.Nobel Carpet juga menjadi pionir dalam industry ini Persaingan dalam industry ini tidak terhindarkan, industry ini saling berlomba-lomba untuk mengembangakan pertumbuhannya perusahaannya. Seiring itu berbagai masalah didunia industri sering timbul dan mempengaruhi kinerja industri tersebut. Analisa SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, and Thread) telah di gunakan sebagai salah satu alat untuk memecahkan masalah dalam dunia industri. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk di gunakan aplikasi alat bantu Pengembangan keputusan dalam implementasi program
Untuk itulah penulis mencoba membuat perencanaan implementasi aplikasi teknologi informasi dengan menggunakan Analisis SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, and Thread) pada PT.Nobel Carpet yang mampu memudahkan perusahaan untuk mengetahui kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan sehingga dapat menentukan strategi yang tepat untuk dapat membantu perusahaan dalam mengembangakan perusahaan tersebut selain itu melihat kinerja perusahaan yang sangat berkembang tersebut pasti sangat rumit dan kompleks apabila semua pengerjaan pengolahan data – data perusahaan hanya di tangani secara manual karena itu Perencanaan Implementasi Aplikasi Teknologi Informasi PT. Nobel Carpet menggunakan Analisis SWOT dapat membantu untuk mengembangkan aplikasi yang ada diperusahaan PT.Nobel Carpet.
Pada bab ini di jelaskan mengenai latar belakang masalah yang menjadi
basis melakukan penelitian, perumusan masalah, tujuan di lakukannya penelitian
ini, ruang lingkup yang berisi batasan dan asumsi yang di gunakan dalam
penelitian, serta manfaat yang akan dicapai dalam penelitian ini.
1.1.LATAR BELAKANG
PT. Nobel Carpet berdiri sejak tahun 1977. PT. Nobel Carpet merupakan
pionir perusahaan manufaktur di bidang industri carpet di indonesia. Perusahaan
ini di dukung oleh mesin produksi modern dan terintegrasi pada lahan seluas 25
hektar di bandung. Visi dari perusahaan ini adalah menjadi market leader di
indonesia baik untuk retail market maupun proyek, dan misi memberikan nilai
tambah bagi pelanggan, karyawan, dan shareholders melalui manajemen
profesional, pertumbuhan perusahaan, dan laba yang terus meningkat.
Analisis SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, and Thread) telah di
gunakan sebagai salah satu alat untuk memecahkan masalah dalam dunia industri.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk di gunakan aplikasi alat
bantu Pengembangan keputusan dalam implementasi program yang dalam kasus
tersebut pasti sangat rumit dan kompleks apabila semua pengerjaan pengolahan
data – data perusahaan hanya di tangani secara manual.
Maka dari itu di perlukan aplikasi teknolgi informasi yang bisa sangat
membantu dalam penyelesaian masalah - masalah tersebut, dan implementasi
aplikasi yang di gunakan tersebut juga harus sesuai dengan kebutuhan PT. Nobel
Carpet sehingga pengelolahan data – data perusahaan tersebut dapat di selesaikan
dengan lebih cepat dan efisien sesuai dengan kebutuhan bisnis yang ada.
Dengan adanya perencanaan implementasi aplikasi teknologi informasi
pada PT. Nobel Carpet menggunakan analisis SWOT ini di harapkan bisa
mengembangkan tingkat kualitas suatu aplikasi teknologi informasi sehingga
dapat memenuhi kebutuhan bisnis yang sudah semakin berkembang
1.2.PERUMUSAN MASALAH
a. Menganalisis apa saja peluang, kelemahan, peluang, dan ancaman level
bisnis yang terdapat pada PT. Nobel Carpets.
b. Bagamana agar dapat membuat strategi yang dapat memaksimalkan
kekuatan (Strenghts), meminimalisir kelemahan (Weakness), menangkap
peluang (opportunities), dan menangkal segala ancaman (Thread).
c. Merencanakan detail pelaksanaan strategi SWOT pada PT Nobel Carpets.
d. Bagaimana agar suatu aplikasi teknologi informasi dapat berjalan seefisien
1.3.BATASAN MASALAH
Pada tugas akhir ini hanya membahas tentang perencanaan implementasi
suatu teknologi informasi pada PT Nobel Carpet menggunakan metode SWOT
1.4.TUJUAN
Adapun tujuan dari pelaksanaan Tugas Akhir di PT. Nobel Carpet adalah
sebagai berikut.
a. Menilai dan menganalisis proses bisnis yang terdapat pada PT. Nobel
Carpet bedasarkan metode SWOT.
b. Membuat strategi – strategi yang dapat digunakan untuk mengentisipasi
segala kemungkunan yang ada di kemudian hari.
c. Merencanakan implemantasi dari strategi – strategi dan memasukkan unsur
teknologi informasi kedalamnya.
1.5.MANFAAT
Adapun manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini yaitu:
a. Dapat mengetahui letak, dan memaksimalkan kelebihan pada PT. Nobel
Carpets.
b. Dapat mengetahui letak, serta meminimalisir kekurangan pada PT. Nobel
Carpets.
d. Dapat menagkap lebih banyak lagi peluang yang datang baik dari faktor
external maupun Internal perusahaan.
e. Dapat memanfaatkan seefektif, dan seefisien mungkin teknologi informasi
pada PT. Nobel Carpets.
1.6.METODOLOGI PENELITIAN
Pada bagan ini di uraikan secara rinci metode yang di gunakan dalam
penelitian. Secara umum terdapat empat tahapan yaitu tahap identifikasi
permasalahan, tahap pengumpulan, dan pengolahan data, tahap analisis data, dan
tahap kesimpulan dan saran.
1.7.SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan Tugas Akhir adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini di bahas mengenai latar belakang tugas akhir, ruang lingkup,
perumusan masalah, batasan masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika penuliasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas tentang tinjauan pustaka tentang proses serta apa saja
yang di butuhkan tentang pembuatan program
BAB III PERANCANGAN SISTEM
Bab ini membahas perancangan sistem yang di buat meliputi, DFD (data flow
diagram).
BAB IV HASIL PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil kerja praktek yaitu berupa form serta
penjelasan dari program sistem informasi memalui interface yang di gunakan
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari pelaksanaan kerja praktek dan saran dari
sistem informasi yang telah di buat
DAFTAR PUSTAKA
Berisi tentang literatur sebagai teori pendukung pembahasan pada laporan
kerja praktek ini.
Pada bab II ini akan di bahas tentang tinjauan pustaka dari penelitian yang
di lakukan. Bab ini berisi dasar teori yang mendukung penelitian ini, sehingga
penelitian ini memiliki dasar teori yang cukup kuat untuk mendukung pelaksanaan
penelitian.
2.1. Profil PT. Nobel Carpets
PT. Nobel Carpet berdiri sejak tahun 1977 dan merupakan pionir
perusahaan manufaktur di bidang industri karpet Indonesia. Kinerja di perusahaan
ini di dukung oleh mesin produksi yang modern dan terintegrasi pada lahan seluas
25 hektar di bandung. Produk – produk yang di hasilkan antara lain:
A. Tutted Carpets
Karpet Tufted lebih ekonomis dalam hal produksi. Tidak seperti Axminster
& Wilton. Tufted karpet diproduksi dengan cara menambahkan benang ke atas
backing dengan menggunakan bahan perekat spesial. Produksi ini memakan
waktu sangat cepat dibanding proses produksi yang lain
B. Wilton Rugs & Wall to Wall
Pembuatan Wilton sama halnya dengan Axminster yaitu dengan ditenun.
Namun yang membedakan adalah cara menenunnya. Apabila Axminster ditenun
yang diinginkan lalu bila ada warna yang kurang bisa ditambahkan kembali, untuk
Wilton, karpet ditenun secara berkelanjutan (continously) sampai akhir.
C. Printed Carpet
D. Sisal Look Carpet (SLC)
E. Axminster Carpet
Bahan Axminster selalu diidentikan dengan kualitas dan kemewahan sebagai
bahan pelapis lantai. Walaupun hingga hari ini, kebanyakan karpet dibuat dengan
menggunakan Metode tufted (metode Produksi termurah dan tercepat), namun
Axminster tetap menjadi pilihan para costumer mengenai kualitas, daya tahan dan
kemewahan.
PT. Nobel Carpets memiliki visi menjadi market leader di Indonesia baik
untu retail market maupun proyek, dan memiliki misi untuk memasarkan produk
tufted carpets, permadani, printed carpets, sisal look carpet (SLC), axmister
carpets dan wall to wall carpets berkualitas tinggi, serta memberikan nilai tambah
bagi pelanggan, karyawan, dan shareholders melalui manajemen professional,
pertumbuhan perusahaan, dan laba yang terus meningkat.
2.2. Konsep Dasar SWOT
Analisis SWOT adalah sebuah bentuk analisis situasi dan kondisi yang
bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisis ini menempatkan situasi dan
kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut
kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para
pengguna analisis SWOT, bahwa analisis SWOT adalah semata-mata sebuah alat
yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisis ajaib
yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang
dihadapi oleh organisasi.
Analisis ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari
organisasi atau program pada saat ini.
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari
organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar
organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa
depan.
4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang
datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi
dimasa depan.
Selain empat komponen dasar ini, analisis SWOT, dalam proses
penganalisisannya akan berkembang menjadi beberapa Subkomponen yang
jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi. Sebenarnya masing-masing
subkomponen adalah pengejawantahan dari masing-masing komponen, seperti
Komponen Strength mungkin memiliki 12 subkomponen, Komponen Weakness
Jenis-Jenis Analisis SWOT
1. Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara
S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan
bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari
setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini
berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan
Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu
pasangan satu Threath (T).
Kemudian setelah masing-masing komponen dirumuskan dan dipasangkan,
langkah selanjutnya adalah melakukan proses penilaian. Penilaian dilakukan
dengan cara memberikan skor pada masing - masing subkomponen, dimana satu
subkomponen dibandingkan dengan subkomponen yang lain dalam komponen
yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen yang lebih menentukan
dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih besar. Standar penilaian
dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas
penilaian.
2. Model Kualitatif
Urut-urutan dalam membuat Analisis SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh
dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah
pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada
satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model
kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, SubKomponen pada masing-masing
komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu
sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian,
karena mungkin saja misalnya, SubKomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara
subkomponen W hanya 6 buah.
Sebagai alat analisis, analisis SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan
peta. Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta
tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak
jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan
berguna jika tujuan telah ditetapkan. Bagaimana menetapkan tujuan adalah
bahasan selanjutnya yaitu membangun visi-misi organisasi atau program. [2].
2.2.1.Identifikasi Strategi Korporasi menggunakan Analisis SWOT
Pendekatan analisis SWOT untuk menemukan alternatif-alternatif strategi
dapat dilakukan pada semua tingkatan strategi baik strategi korporasi, bisnis
maupun fungsional. Sebelum merumuskan strategi korporasi diperlukan analisis
SWOT untuk level korporasi, demikian juga untuk indentifikasi strategi bisnis
perlu dilakukan analisis SWOT untuk level bisnis dan untuk mengetahui berbagai
alternatif strategi fungsional terlebih dahulu dapat dilakukan analisis SWOT untuk
Tabel 2.1 Matriks Alternatif Strategi SWOT
Analisis dengan menggunakan matriks SWOT (Strenghts – Weakness –
Opportunities - Threats), bertujuan untuk mengindentifikasikan
alternatif-alternatif strategi yang secara intuitif dirasakan feasible dan sesuai untuk
dilaksanakan. Yang perlu selalu diingat, bahwa semua alternatif strategi harus
dikaitkan dengan sasaran yang telah disepakati dan tertulis di matriks SWOT.
Secara umum ada 4 (empat) jenis kelompok strategi yang dihasilkan dari analisis
2.2.2.Strategi Memanfaatkan Kekuatan
a. Pendekatan SO atau KUPE. Langkah pertama adalah menetapkan
terlebih dahulu kekuatan yang diduga paling mungkin digunakan. Perhatian utama
pendekatan ini adalah bagaimana merumuskan strategi dengan menggunakan
kekuatan yang pada saat ini dimiliki. Peluang yang akan dimanfaatkan
dipilih dari yang paling sesuai dengan kekuatan yang akan digunakan. Contoh, a).
sebuah bank memiliki kekuatan karena jaringannya yang luas sampai pedesaan.
Peluang apa yang akan dimanfaatkan strateginya adalah focus melayani
debitur dan kreditur pedesaan yang umumnya PNS dan petani. b).sebuah
perusahaan jasa kurir menyadari bahwa memiliki kekuatan jaringan atau outlet
sangat banyak. Outlet ini kemudian digunakan untuk membuka ritel.
b. Pendekatan ST atau KUA. Langkah pertama adalah menetapkan terlebih
dahulu kekuatan yang paling diduga paling memungkinkan untuk digunakan.
Pendekatan ini berusaha merumuskan strategi dengan acuan awal kekuatan
perusahaan.
Berdasarkan kekuatan ini kemudian dicari bagaimana cara pemanfaatannya
untuk menghindari atau mereduksi pengaruh ancaman eksternal. Contoh, sebuah
perusahaan yang sangat kaya saat ini berada dalam kondisi yang stabil, tidak ada
Peluang dan ancaman jangka pendek yang dianggap serius. Kekayaannya
selalu digunakan untuk mengganggu kekuatan kekuatan baru sekecil apapun yang
dianggap secara laten dan jangka panjang dapat menjadi pesaing serius
2.2.3.Strategi Menangani atau Memanfaatkan Kelemahan
a. Pendekatan WO atau LEMPE. Langkah pertama tetapkan terlebih
dahulu kelemahan utama perusahaan yang perlu ditangani. Pendekatan ini
bertujuan untuk merumuskan strategi dengan fokus untuk perbaikan-perbaikan
internal yang mengacu pada kelemahan-kelemahan yang berhasil diindentifikasi,
perencana yang menggunakan pendekatan ini berusaha mempertanyakan
peluang-peluang yang kemungkinan bisa lepas karena kelemahan tersebut. Strategi ini
berusaha kompetensi yang sebelumnya lemah untuk dibangunagar
kesempatan-kesempatan tertentu tidak hilang.
b. Pendekatan WT atau LEMA, langkah pertama adalah tetapkan terlebih
dahulu kelemahan utama perusahaan yang perlu ditangani. Pendekatan ini
berusaha merumuskan strategi yang berawal dari perasaan bahwa ada kelemahan
yang dirasakan oleh organisasi. Kemudian berpikir seandainya kelemahan ini bisa
diatasi ancaman apa yang akan dapat dihilangkan?
Pendekatan ini juga akan memunculkan strategi bertahan yang paling
efektif, karena sudah tahu kelemahan-kelemahan tersebut, selanjutnya berpikir
juga bagaimana oleh ancaman (jangka lebih pendek) berpikir juga bagaimana cara
membangun mengatasi kelemahan (jangka lebih panjang).
2.2.4.Strategi Menghadapi Peluang
a. Pendekatan OS atau PEKU, langkah pertama, menetapkan terlebih
ini adalah merumuskan strategi dengan menggunakan peluang sebagai acuan
awal. Kemudian dicari kekuatan organisasi yang sesuai digunakan untuk
menangkap peluang tersebut. Sebagai contoh, peraturan PNS dilingkungan dinas
pendidikan berubah sehingga mengharuskan jabatan-jabatan tertentu diisi oleh S2.
Pada umumnya PNS tidak dibekali anggaran yang cukup untuk melanjutkan S2,
perguruan tinggi swasta melihat peluang tersebut dan mencoba mencari kekuatan
yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan peluang tersebut. Kemudian dibuka
jurusan manajemen pendidikan dengan biaya dan cara pendidikan yang lebih
mudah.
b. Pendekatan OW atau PELEM, langkah pertama adalah menetapkan
terlebih dahulu peluang yang benar-benar ingin dicapai. Pendekatan ini berusaha
merancang strategi dengan acuan awal suatu peluang yang ingin dimanfaatkan.
Berdasarkan peluang tersebut kemudian dicari kelemahan kelemahan yang perlu
diperbaiki agar perusahaan mampu merebut peluang. Strategi ini dirasa perlu
karena seringkali suatu organisasi melihat peluang yang sedemikian menarik
dilingkungan eksternal, tetapi organisasi memiliki kendala serius yaitu pada
kelemahan internal yang menghambat kemampuan bersaing untuk
meng-eksploitasi peluang tersebut. Contoh, perusahaan yang biasa melayani segmen
bawah ingin masuk ke segmen atas karena secara umum kesejahteraan rakyat
meningkat. Perusahaan ini ternyata lemah dalam desain dan pelayanan.
2.2.5.Strategi Menghadapi Ancaman
a. Pendekatan TS atau AKU, pada langkah pertama adalah menetapkan
terlebih dahulu ancaman utama yang ingin ditangani. Pendekatan ini berusaha
merumuskan strategi dengan acuan awal berupa ancaman yang dirasakan,
kemudian mencari kekuatan yang bisa diandalkan untuk mengatasi ancaman
tersebut. Contoh, partai tikus terancam keberadaannya menjadi sangat terancam
karena pimpinannya diduga terlibat korupsi untuk mendanai partai tersebut.
Ancaman datang dari partai sarung yang menguasai lembaga eksekutif. Kebetulan
partai tikus sangat kuat di lembaga legislatif. Partai tikus kemudian menggunakan
kekuatannya dilegislatif untuk membungkam partai sarung.
b. Pendekatan TW atau ALEM, langkah pertama adalah menetapkan
ancaman utama yang akan ditangani. Pendekatan ini berusaha merumuskan
strategi yang berangkat dari usaha untuk mengatasi ancaman. Kemudiab berpikir
apakah kelemahan yang bisa dihilangkan dan bagaimana cara mengatasi
kelemahan agar ancaman bisa diatasi. Contoh, partai tikus terancam
keberadaannya menjadi sangat terancam karena pimpinannya diduga terlibat
korupsi untuk mendanai partai tersebut. Ancaman datang bertubi-tubi karena
bukti-bukti sulit disamarkan dan mulai diketahui oleh masyarakat luas. Partai
tikus kemudian mengorbankan pimpinannya untuk dipenjara dan berusaha
menjelaskan kepada masyarakat bahwa dana yang dikorupsi digunakan untuk
kepentingan pribadi bukan partai. Dengan menanggalkan pimpinan diharapkan
Tabel 2.2 Contoh Strategi SWOT
2.3. Konsep Dasar Kelola Data (Data Governance)
Tata kelola data adalah pengambilan keputusan dan kewenangan untuk
hal-hal yang berhubungan dengan data. Tata kelola data adalah suatu sistem hak
keputusan dan akuntabilitas untuk memproses informasi yang berhubungan,
dilaksanakan sesuai dengan model dan yang menggambarkan tentang siapa yang
dapat mengambil tindakan apa, dengan informasi apa, kapan waktunya, dalam
keadaan apa, menggunakan metode apa (The Data Governance Institute, 2010).
Tata kelola data juga dimaksudkan sebagai orkestrasi formal dari manusia, proses
dan teknologi yang memungkinkan suatu organisasi untuk meningkatkan data
Tata kelola data didefinisikan sebagai proses, kebijakan, standar, organisasi,
dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengelola dan memastikan ketersediaan,
aksesibilitas, kualitas, konsistensi, auditabilitas dan keamanan data dalam
perusahaan atau lembaga (Informatica, 2010).
Tata kelola data juga diartikan sebagai disiplin kualitas kontrol untuk
menambah ketegasan untuk proses pengelolaan, penggunaan, meningkatkan dan
melindungi informasi organisasi (IBM, 2010).
Tata kelola data dapat pula didefinisikan sebagai proses yang dilakukan oleh
perusahaan untuk mengelola kuantitas, konsistensi, kegunaan, keamanan dan
ketersediaan data (Cohen, 2006).
Tata kelola data merunut pada badan organisasional, aturan, hak
pengambilan keputusan, akuntabilitas dari orang dan sistem informasi sebagai
kinerja dalam proses informasi yang saling berhubungan (G. Thomas, 2006;
Gwen Thomas, 2006).
Panian (2009) dan Informatica (2010) menjelaskan tata kelola data memiliki
enam unsur. Penjelasan rinci sebagai berikut :
1)Aksesibilitas (data accessibility), yaitu data dapat diakses, terpercaya dari
sumbernya atau terstruktur.
2)Ketersediaan (data availability), yaitu data tersedia untuk pengguna dan
aplikasi, dan menyediakan keterangan tentang kapan, di mana dan bagaimanapun
ketika diperlukan.
3)Berkualitas (data quality), yaitu data harus lengkap dan akurat.
4)Konsisten (data consistency), yaitu arti data adalah konsisten dan dapat
5)Dapat diaudit (data auditability), yang mengandung makna bahwa data yang
teraudit dapat memelihara visibilitas dan kontrol data.
6)Aman (data security), yaitu standar keamanan dan privasi dapat dilaksanakan.
Gambar 2.1 Data Governance
Panian (2009) juga menjelaskan untuk memastikan agar data memiliki
ke-enam unsur di atas, kerangka kerja tata kelola data yang efektif memiliki empat
komponen kunci :
1) Standar. Sebuah organisasi harus mendefinisikan standar data. Organisasi
harus menetapkan definisi data dan taksonomi, mendefinisikan master data,
mengembangkan model data perusahaan, dan menegakkan pembangunan dan
standar teknis yang terkait dengan data.
2) Kebijakan dan proses. Organisasi menciptakan dan menegakkan
kebijakan dan proses sekitar penciptaan, pengembangan, dan pengelolaan data
dari suatu praktek tata kelola data yang efektif. Organisasi perlu mendefinisikan
data dan aturan bisnis hubungan data, kontrol akses dan pengiriman data,
membangun pemantauan, pengukuran mekanisme data dan mengelola perubahan
3) Organisasi. Isu yang paling penting bahwa organisasi harus mengetahui
arah ketika meluncurkan inisiatif tata kelola data yaitu adalah bagaimana
merancang struktur organisasi. Perlu ditentukan peran dan tanggung jawab dalam
organisasi yang bertanggung jawab untuk data.
4) Teknologi. Organisasi dapat memulai sebuah inisiatif tata kelola data
tanpa infrastruktur teknologi yang mendasari. Pada dasarnya banyak organisasi
memulai data awal mereka hanya dengan program tata kelola dengan
menggunakan alat manual seperti spreadsheet atau dokumen Word - untuk
mendapatkan definisi data dan proses dokumen. Namun, sebagian besar organisasi
cepat menyadari bahwa jenis pendekatan manual ini sangat terbatas. Memang
hampir tidak mungkin untuk mencapai tujuan akhir tata kelola data menggunakan
pendekatan manual.
Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pada prinsipnya tata kelola data
adalah proses, kebijakan, standar, organisasi, dan teknologi yang dibutuhkan
untuk mengelola dan memastikan ketersediaan, aksesibilitas, kualitas, konsistensi,
auditabilitas, dan keamanan data dalam organisasi untuk meningkatkan data
sebagai aset organisasi agar data tersebut dapat digunakan untuk pengambilan
keputusan sesuai dengan tingkat kepatuhan terhadap standar data yang telah
ditetapkan dan juga berisikan kemampuan untuk secara proaktif mengidentifikasi
perubahan data dalam organisasi dan mengkomunikasikan perubahan-perubahan
2.4. Balanced Score Card
Konsep BSC pertama kali dikembangkan oleh Robert S. Kaplan dan David
P. Norton (1996) dalam bukunya yang berjudul Translating Strategy Into Action:
The Balanced Scorecard. Balanced Scorecard (BSC), merupakan salah satu
metode pengukuran dan manajemen performance untuk faktor internal dan
eksternal dari suatu perusahaan.
Saat ini, kebanyakan perusahaan masih menggunakan pengukuran financial
sebagai acuan pengukuran kinerja perusahaan, sehingga manajer tidak mengetahui
sampai seberapa jauh pengaruh yang ditimbulkan akibat strategi yang mereka
terapkan.
Metode Balanced Scorecard melengkapai manajemen dengan framework
yang mentranslasikan visi dan strategi ke dalam sistem pengukuran yang
terintegrasi, yaitu: financial perspective, customer perspective, internal business
process perspective, dan learning and growth perspective. Empat perspective di
dalam BSC menyatakan adanya saling keterkaitan untuk dapat menggambarkan
strategi yang dimiliki perusahaan. Hubungan dalam empat perspective
Gambar 2.2 Balanced Score Card
Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing perspective diatas:
Financial perspective
Scorecard pada perspective ini menjawab pertanyaan “Untuk dapat berhasil
secara financial apa yang harus kita perlihatkan kepada pemegang saham kita?” Customer perspective
Scorecard pada perspective ini menjawab pertanyaan “Untuk mewujudkan
visi kita apa yang harus kita perlihatkan kepada customer kita?” Internal Business Process perspective
Scorecard pada perspective ini menjawab pertanyaan “Untuk
menyenangkan pemilik saham dan customer kita, proses bisnis apa yang harus
Learning and Growth perspective
Scorecard pada perspective ini menjawab pertanyaan “Untuk mewujudkan
visi kita bagaimana kita memelihara kemampuan kita untuk berubah dan
meningkatkan diri?”
Metode pengukuran BSC memiliki kelebihan sebagai berikut ini:
Ada keseimbangan antara lag indicator dan lead indicator.
BSC menggunakan tolok ukur kinerja “masa lalu” (lag indicator atau
ukuran hasil), selain juga menggunakan tolok ukur kinerja “masa depan” (lead
indicator atau ukuran pemicu hasil). Ukuran hasil digunakan untuk mengukur
pencapaian tujuan, sedangkan ukuran pemicu adalah ukuran yang menunjukan
penyebab dicapainya ukuran hasil.
Ada keseimbangan antara tujuan jangka panjang dan jangka pendek.
Pengukuran kinerja yang hanya memperhatikan kinerja keuangan hanya
dapat mencapai tujuan jangka pendek perusahaan. Dalam metode BSC ada
keseimbangan antara tujuan jangka pendek (financial perpective) dan tujuan
jangka panjang (customer perspective, internal business perspective dan learning
and growth perspective).
Ada keseimbangan antara hard objectives measures and softer more
subjective
measures. Pengukuran kinerja dengan menggunakan metode BSC,
menunjukkan adanya keseimbangan antara hard objective measures, artinya
dengan menggunakan ukuran hasil yang obyektif (ukuran-ukuran yang mudah
yang lebih subyektif (ukuran-ukuran yang sulit didapatkan), yaitu ukuran hasil
pada customer, IBP, dan learning and growth perspective.
Dalam metode pengukuran kinerja BSC, ada 3 prinsip yang memungkinkan
strategi dapat diterjemahkan kedalam berbagai tujuan dalam setiap perspective,
dalam perencanaan strategis, yaitu sebagai berikut ini:
Hubungan sebab dan akibat.
Rantai sebab dan akibat harus mencakup keempat faktor BSC diatas, jadi
setiap pengukuran yang dipilih dalam BSC harus menjadi elemen dari rantai
hubungan sebab dan akibat yang mengkomunikasikan arti dari strategi pada
sebuah perusahaan.
Ukuran hasil dan ukuran pemicu kinerja.
Tolok ukur inilah yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui perubahan
kinerja perusahaan (lebih baik, lebih buruk, atau tetap).
Keterkaitan dengan masalah financial.
Hubungan sebab akibat semua ukuran dalam sebuah Balanced Scorecard
harus terkait dengan setiap tujuan financial perusahaan. Perencanaan strategis
secara keseluruhan terdiri atas penentuan:
o Visi (Vision). Merupakan suatu pernyataan menyeluruh tentang gambaran
ideal yang ingin di capai oleh organisasi di masa yang akan datang.
o Misi (Mision). Merupakan suatu pernyataan bisnis dari perusahaan.
o Sasaran (Goals). Adalah suatu pencapaian menyeluruh yang pertimbangkan
penting untuk kesuksesan organisasi di masa mendatang. Sasaran
o Tujuan. Menunjukan bagaimana tindakan dan hasil – hasil yang di di inginkan itu tercapai. Menunjukan rencana untuk mencapai hasil – hasil
yang di inginkan. Tujuan merupakan hal – hal apa yang secara spesifik
harus di kerjakan untuk melaksanakan strategi. Misalnya, hal – hal apa
dalam strategi perusahaan yang paling penting bagi keberhasilan masa
mendatang? Hal – hal apa yang harus dilakukan oleh organisasi untuk
mencapai sasarannya?
o Perspektif (Perspective). Empat pandangan berbeda yang mengendalikan
organisasi. Perspektif memberikan suatu kerangka kerja untuk pengukuran.
Empat perspektif dalam balanced scorecard adalah financial, pelanggan,
proses bisnis, dan pembelajaran & pertumbuhan.
o Hubungan sebab akibat (Cause-Effect Relationship). Aliran kinerja bisnis
dari tingkat lebih rendah (lower level) ke tingkat lebih tinggi (upper level) di
dalam atau di antara perspektif. Misalnya, pelatihan karyawan tentang
pelayanan pelanggan akan mengakibatkan pelayanan pelanggan menjadi
lebih baik, sehingga memimpin kearah peningkatan hasil – hasil finansial.
Hubungan sebab akibat menunjukan sebagai pemimpin atau pengendali
pada satu sisi, menghasilkan suatu hasil akhir atau akibat pada sisi yang lain.
o Ukuran hasil dan ukuran pemicu (Measurement). Suatu cara memantau dan
menelusuri kemajuan tujuan – tujuan strategis. Pengukuran dapat berupa
indicator yang memimpin kinerja, memimping menuju hasi akhir
(leading/lead indictors) atau hasil akhir (lagging/lag indicators). Misalnya,
perspektif pelanggan yang bertujuan meningkatkan tingkat kepuasan
menggunakan indikator keakuratan dalam pelayanan, tanggap dalam
pelayanan, harga dan kualitas produk di bandingkan pesaing – pesaing (lead
indicators), rating kepuasan pelanggan, dan indokator banyaknya pelanggan
yang merasa puas (lag indicators). Lag indicators sering di sebut sebagai
ukuran – ukuran pengendali kinerja (performance driver measures). Lag
indicators dan lead indicators merupakan indikator kinerja kunci (key
performance indicators) bagi suatu organisasi.
o Target (Targets). Suatu kinerja yang di harapkan atau peningkatan yang di
perluakan di masa mendatang. Misalnya, perpektif finansial memiliki target
kinerja tingkat pengembalian investasi (ROI) minimum 35% per tahun,
perspektif pelanggan memiliki target kinerja kepuasan pelanggan 100%,
perspektif proses bisnis internal memiliki target kinerja tingkat kegagalan
produk maksimum 100 DPMO (defects per milion opportunities), dan
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memiliki target kinerja pelatihan
karyawan minimum 45 jam per karyawan pertahun
o Program (Programs). Insitiatif – inisiatif atau proyek – proyek utama yang
harus di laksanakan agar memenuhi satu atau lebih tujuan – tujuan strategis.
Misalnya, program peningkatan efisiensi, program peningkatan kualitas,
program peningkatan kepuasan pelanggan, dan program peningkatan
produktifitas merupakan program – program yang sering di laksanakan
dalam organisasi.
o Pemikiran strategis (Strategic Thingking). Suatu proses intuitif dan alamiah
dalam berfikir yang melihat sesuatu memalui kompetisi, mengantisipasi
perubahan – perubahan yang di butuhkan untuk menghadapi tantangan di
masa depan. Pemikiran strategis dapat di terapkan pada individu maupun
organisasi
o Perencanaan strategis (Strategic Planning). Suatu proses formal yang
terstruktur dalam pencarian kembali dan analisis tentang kompetisi sebagai
suatu usaha untuk mengidentifikasi kekuatan – kekuatan, kelemahan –
kelemahan, kesempatan – kesempatan, dan tantangan – tantangan atau
ancaman – ancaman (SWOT analysis).
o Kisi strategis (Strategic Grid). Suatu kerangka kerja logis untuk
mengorganisasikan sekumpulan tujuan strategis ke dalam empat perpektif
dalam balanced scorecard. Segala sesuatu di kaitkan untuk membangun
hubungan sebab – akibat. Kisi strategis merupakan landasan untuk
membangun balanced scorecard. Misalnya, kisi strategis yang
mengorganisasikan tujuan- tujuan strategis dalam perspektif financial dari
balanced scorecard.
o Area Strategis (Strategic Area). Merupakan tujuan strategis utama untuk
organisasi. Misalnya, memaksimumkan nilai pemegang saham atau
meningkatkan efisiensi operasional. Area strategis mendefinisikan ruang
lingkup untuk pembangunan sistem balanced scorecard.
o Model Strategis (Strategic Model). Kombinasi dari semua tujuan strategis
pada suatu kisi strategis (strategic grid), di kaitkan secara baik.dan lengkap,
memberikan satu model tunggal atau struktur untuk mengelola area
o Strategi. Merupakan suatu pernyataan tentang apa yang harus di lakukan oleh organisasi untuk bertindak dari satu titik referensi ke titik referensi
yang lain. Strategi merupakan sekumpulan tindakan terintregasi yang
konsisten dengan visi jangka panjang organisasi yang memberikan nilai
kepada pelanggan dengan suatu struktir biaya yang memungkinkan
pencapaian keunggulan hasil yang berkelanjutan. Dalam konteks definisi
ini, setiap organisasi yang berorientasi pada keuntungan atau nirlaba (not for
profit) merupakan suatu sitem penyerahan nilai (value delivery sistem).
Strategi biasanya di kembangkan pada tingkat atas organisasi, tetapi di
laksanakan oleh tingkat bawah organisasi.
o Templates. Merupakan alat – alat untuk membantu dalam pembangunan
balanced scorecard, secara tipikal di gunakan untuk memperoleh dan
membandingkan data dalam empat komponen balanced scorecard, yaitu kisi
strategis, pengukuran, target, dan program (inisiatif) [1]
2.5. Konsep Dasar Sistem Informasi
Konsep Dasar Sistem
Sistem adalah kumpulan dari unsur atau elemen-elemen yang saling berkaitan
atau berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Contoh :
A. Sistem Komputer terdiri dari : Software, Hardware, Brainware
Menurut Jerry FithGerald ; sistem adalah suatu jaringan kerja dari
prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan
suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
Menurut Ludwig Von Bartalanfy ; Sistem merupakan seperangkat unsur yang
saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan
lingkungan.
Menurut Anatol Raporot ; Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan
perangkat hubungan satu sama lain.
Menurut L. Ackof ; Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik
yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama
lainnya.
Syarat-Syarat Sistem :
A. Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan tujuan.
B. Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan.
C. Adanya hubungan diantara elemen sistem.
D. Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting
daripada elemen sistem.
E. Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.
Komponen Sistem Informasi
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, bekerja
sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem dapat berupa suatu
subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sistem tidak perduli betapapun
Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu
fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem
dapat mempunyai suatu sistem yang lebih besar yang disebut supra sistem,
misalnya suatu perusahaan dapat disebut dengan suatu sistem dan industri yang
merupakan sistem yang lebih besar dapat disebut dengan supra sistem. Kalau
dipandang industri sebagai suatu sistem, maka perusahaan dapat disebut sebagai
subsistem. Demikian juga bila perusahaan dipandang sebagai suatu sistem, maka
sistem akuntansi adalah subsistemnya.
Sistem informasi mempunyai enam buah komponen atau disebut juga dengan
blok bangunan (building block), yaitu :
A. Komponen input atau komponen masukan
B. Komponen model
C. Komponen output atau komponen keluaran
D. Komponen teknologi
E. Komponen basis data
F. Komponen kontrol atau komponen pengendalian.
Keenam komponen ini harus ada bersama-sama dan membentuk satu
kesatuan. Jika satu atau lebih komponen tersebut tidak ada, maka sistem informasi
tidak akan dapat melakukan fungsinya, yaitu pengolahan data dan tidak dapat
mencapai tujuannya, yaitu menghasilkan informasi yang relevan, tepat waktu dan
akurat. Komponen-komponen dari sistem informasi ini dapat digambarkan
A. Blok Masukan (Input Block)
Input merupakan data yang masuk ke dalam sistem informasi.
B. Blok Model (Model Block)
Kombinasi prosedur, logika, dan model matemetik yang akan memanipulasi
data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah
ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diingiinkan.
C. Blok Keluaran (Output Block)
Keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang
berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
D. Blok Teknologi (Technology Block)
Teknologi merupakan kotak alat (tool box) dalam sistem
informasi.Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model,
menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran
dan membantu pengendalian dari sistem secara menyeluruh.
E. Blok Basis Data (Database Block)
Merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu sama lainnya,
tersimpan di perangkat keras komputer dan digunakan perangkat lunak
untuk memanipulasinya.
F. Blok Kendali (Control block)
Beberapa pengendalian yang dirancang secara khusus untuk menanggulangi
2.1.SIKLUS HIDUP SISTEM
Siklus hidup syitem adalah sebuah aplikasi dalam pendekatan sistem untuk
mengembangkan sistem informasi berbasis computer. Siklus hidup sistem terbagi
menjadi 3 tahap, yaitu.
2.1.1.Perencanaan
Meliputi perumusan masalah, pendefinisian masalah, penyatuan
keobyektifan sistem, mengenali bagian – bagian sistem, melakukan studi
kelayakan, menyiapkan sebuah proposal sistem, menyetujui atau menolak proyek
serta menetapkan sebuah mekanisme control.
2.1.2. Analisis
Meliputi pengesahan studi sistem, pegorganisasian tim proyek,
mendefinisikan kebutuhn informasi, mendefinisikan kriteria sistem, menyiapkan
proposal desain serta menyetujui atau menolak proyek desain.
2.1.3. Desain
Meliputi persiapan detail sistem, mengenali konfigurasi alternative sistem,
melakukan evaluasi konfigurasi alternatif sistem, menyeleksi konfigurasi terbaik,
2.1.4. Implementasi
Meliputi perencanaan penerapan, perumusan penerapan, pengenalan
hardware, pengenalan software, menyiapkan database, menyiapkan fasilitas fisik,
melakukan pelatihan terhadap user, menyiapkan proposal penerapan sistem baru,
menyetujui atau menolak proposal sistem baru, serta menerapkan penggunaan
sistem baru.
2.1.5. Operasi
Meliputi penggunaan sistem, audit sistem, perawatan sistem, menyiapkan
proposal perancangan ulang, serta menyetujui atau menolak proposal perancangan
33
Pada bagian ini di uraikan secara rinci metode yang di gunakan dalam
penelitian. Secara umum terdapat empat tahapan yaitu tahap identifikasi
permasalahan, tahap pengumpulan, dan pengolahan data, tahap analisa data, dan
tahap kesimpulan dan saran. Dari tahapan – tahapan tersebuut dapat di buat flowchart
metodologi penelitian yang di sajikan pada Gambar 3.1 di bawah ini
Gambar 3.1 Flowchart Metodologi Penelitian
Identifikasi awal
dan perumusan
masalah
Penetapan tujuan
penelitian
Studi pustaka Studi Lapangan
Pengumpulan data
Identifikasi &
analisa masalah
Perumusan strategi
& Perencanaan
3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan tugas akhir ini di laksanakan dengan rincian sebagai berikut.
Tempat : PT. Nobel Carpet
Waktu : 1 April 2011 s/d 1 Mei 2011
Judul TA : Penilaian Implementasi Aplikasi Teknologi Informasi pada PT Nobel
Carpet Berdasarkan Analisa Tujuan Bisnis
3.2. Metode Pelaksanaan
Dalam usaha menyusun penulisan ini, dan serta pengetahuan yang
sesuaidengan pokok permasalahan yang dibahas. Untuk memperoleh data yang sesuai
dengan keperluan yang bersangkutan, di gunakan metode sebagai berikut:
3.2.1.Wawancara
Dalam penyusunan laporan dan requitment – reqruitment yang dibutuhkan
dalam perencanaan pengembangan aplikasi dilakukan dengan metode wawancara
3.2.2.Observasi
Dimana penulis melakukan penelitian secara langsung ke lapangan untuk
mendapatkan data – data yang di perlukan.
3.2.3.Studi Literatur
Penelitian di lakukan dengan cara mencari data- data (dokumen) baik berasal
dari buku maupun yang berasal dari internet serta media lainnya yang menunjang
dalam penulisan tugas akhir.
3.2.4.Analisa / Penilaian Implementasi Bisnis
Analisa dan penilaian implementasi Bisnis ini di lakukan berdasarkan metode
SWOT yang akan menilai dan memperkirakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman yang dimiliki atau dapat terjadi pada aplikasi.
3.2.5.Perencanaan Implementasi Aplikasi
Pada tahap perencanaan pengembangan aplikasi dilakukan perumusan
strategi – strategi yang dapat di implenentasikan pada perusahaan dan merencanakan
3.2.6.Penulisan Buku Laporan
Tujuan utama penulisan buku ini ialah sebagai laporan penyusunan tugas
akhir jurusan teknik informatika.
3.2.7.Jadwal Kegiatan
Table 3.1 Jadwal Pelaksanaan Tugas Akhir
April Mei No Kegiatan
Minggu
ke II
Minggu
ke III
Minggu
ke IV
Minggu
ke I
Minggu
Ke II
1 Interview dan Perkenalan
2 Persiapan
3 Studi Lapangan
4 Desain, dan Perencanaan
Sistem
3.3. Pelaksanaan
Adapun pelaksaan Tugas Akhir di PT. Nobel Carpets dapat dilihat pada
Gambar 3.1. Pertama - pertama penulis melakukan interview ke perusahaan, yang
dilanjutkan dengan persiapan dan melakukan studi lapangan, pembuatan desain, dan
perancangan sistem. Setelah pembuatan desain dan perancangan system, penulis
membuat laporan hasil akhir.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisis data – data yang telah
didapatkan, dan merencanakan sistem sesuai dengan kebutuhan yang ada.
4.1. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Thread)
Dalam pelaksanaan kerja praktek ini di lakukan beberapa pendekatan untuk
mencari permasalahan dan menemukan penyelesaian. Pencarian permasalahan di
awali dari mempelajari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang di
miliki oleh PT. Nobel Carpets.
4.1.1.Analisis Kekuatan (Strength)
Setiap perusahaan memiliki kekuatan atau kelebihan yang membedakan
mereka dengan perusahaan yang lainnya, kelebihan – kelebihan tersebut yaitu:
a. Kualitas produk yang sudah terjamin, baik dalam segi desain, bahan baku,
maupun ketahanan. Kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf
atau derajat sesuatu, istilah ini sering di gunakan dalam bahasa bisnis, rekayasa,
dan manufaktur dalam kaitannya dengan teknik dan konsep untuk memperbaiki
kualitas produk atau jasa yang di hasilkan, dalam hal ini sudah terbukti bahwa
kualitas karpet yang di produksi oleh PT. Nobel Carpets memiliki kualitas yang
baik, hal ini dibuktikan dengan mempu bertahannya produk selama bertahun –
Selain itu proses produksi selalu di awasi dengan ketat oleh ahlinya demi
menjaga kualitas produk serta semua produk di produksi dengan mesin – mesin
berteknologi yang tinggi dan canggih sehingga tidak perlu di ragukan lagi kualitas
produk yang di hasilkan.
b. Sistem promosi produk yang baik. Promosi adalah upaya untuk
memberitahukan atau menawarkan produk atau jasa kepada konsumen dengan
tujuan menarik calon konsumen untuk membeli atau mengkonsumsinya. Dengan
adanya promosi, produsen atau distributor mengharap kenaikannya angka
penjualan
Tujuan di lakukannya kegiatan promosi adalah menyebarkan informasi
produk kepada target pasar potensial agar terjadi kenaikan penjualan dan profit.
Promosi pada perusahaan ini di lakukan dengan cara memberikan diskon – diskon
bagi pembelian / pemesanan proyek – proyek besar, menawarkan kualitas produk
yang baik, harga produk yang kompetitif yang terbukti dapat meyakinkan para
calom komsumen untuk memilih produk karpet yang di tawarkan oleh PT. Nobel
Carpets.
c. Keanekaragaman desain bentuk dan ukuran. Desain biasa di terjemahkan
sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Proses
desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai
macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran,
brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Sampai saat ini
desain produk yang telah di hasilkan adalah mencapai ratusan lebih desain karpet
yang menarik dengan beragam bentuk, dan ukuran. Macam – macam produk yang
i. Tuffted Carpets. Beragam pilihan dalam tipe, kualitas, warna, dan tekstur
dan bahan yang di gunakan antara lain polypropylene, nilon, dan wol. Pada Tuffed
Carpets tersedia dalam 6 kategori produk yaitu:
a) Graphic Cut Pile
Gambar 4.1 Graphic Cut Pile
b) Graphic Loop Pile
Gambar 4.2 Graphic Loop Pile
c) Hi Low Scroll Loop Pile
Gambar 4.3 Hi Low Loop Pile
d) Level Cut Loop
e) Plain Cut Pile
Gambar 4.5 Plain Cut Pile
f) Plain Level Loop Pile
Gambar 4.6 Plain Level Loop Pile
ii. Woven carpets. Memiliki desain yang menarik bertipe klasik, modern, atau
permadani, dengan kualitas tinggi bagi yang berselera tinggi, Woven carpets
terbagi menjadi tiga, yaitu:
a) Classical Woven
b) Modern Woven
Gambar 4.8 Modern Woven
c) Wall to Wall
Gambar 4.9 Wall to Wall Woven
iii. Printed carpets. Meliliki fleksibilitas luar biasa dalam penciptaan desain
dan warna membuat printed karpet menjadi pemenang bagi seluruh kebutuhan
a) Wall to Wall Nylon & Wall to Wall Wool Blend
Gambar 4.10 Wall to Wall Nylon & Wall to Wall Wool Blend
b) Kids Collection & Abstract Desain Rugs
Gambar 4.11 Kids Collection & Abstract Desain Rugs
iv. Axminster Carpets. Desain rumit dengan daya tahan yang kuat dan tahan
lama menjadikan axminster selalu jadi daftar teratas dalam daftar pilihan arsitek
Gambar 4.12 Axmister Carpets
d. Harga produk yang kompetitif dan terjangkau. Salah satu pertimbangan yang
paling penting dalam membeli suatu produk adalah faktor harga, karena itu
sangatlah penting menentukan harga yang sesuai dengan kualitas dan kemampuan
konsumen, dan dapat bersaing dengan harga - harga yang di tawarkan oleh
perusahaan lain yang bersaing merebutkan kepercayaan konsumen atau pasar
dengan perusahaan ini. Di bawah ini adalah contoh – contoh harga yang di
tawarkan PT. Nobel Carpets beserta perbandingan harga dengan perusahaan
Tabel 4.1 Perbandingan Harga Karpet
No Nama Barang Harga
PT. Nobel Carpets
Harga
Perusahaan Lain
1 Accord 150.500,00/m2 152.400,00/m2
2 Axminster. 42 oz 359.000,00/ m2 361.000,00/ m2
3 Cornel 105.000/ m2 107.000/ m2
4 Foam under layer 300.500/ m2 301.700/ m2
5 Mega Sisal 95.000/ m2 96.000/ m2
6 Patriot 65.000/ m2 67.000/ m2
7 Printed 1300 210.000/ m2 213.000/ m2
8 Printed 300, NAV 95.000/ m2 98.000/ m2
9 Terano 85.000/ m2 87.000/ m2
10 Shaggy 130.000/ m2 131.000/ m2
11 Sisal 98.000/ m2 100.000/ m2
(Sumber: Dokumentasi Internal PT. Nobel Carpets)
Dari data – data harga di atas maka dapat di simpulkan bahwa harga produk
karpet yang di tawarkan oleh PT. Nobel Carpets lebih murah jika di bandingkan
dengan perusahaan yang lain, dan terjangkau oleh masyarakat.
e. Ditribusi pemasaran yang mudah di jangkau konsumen dan memiliki
fasilitas yang memadai. Dalam kegiatan pemasaran produk hal yang tidak kalah
pentingnya adalah sistem pendistribusian kepada konsumen, sebagus apapun
produk yang di hasilkan tetapi jika hal itu tidak di imbangi dengan pendistribusian
kinerja perusahaan dalam melayani konsumen. Karena itu PT. Nobel Carpets telah
mempersiapkan 25 unit truk yang siap mengantarkan barang – barang pesanan
konsumen di seluruh Indonesia bahkan sampai ke daerah yang sangat jauh
sekalipun. Selain itu pemasaran produk pun sudah tersebar ke beberapa daerah
yang strategis sehingga mudah untuk di jangkau oleh konsumen, beberapa cabang
pemasaran yang di buka oleh PT. Nobel Carpets di ataranya adalah Bandung,
Surabaya, Malang, dan masih banyak lagi.
f. Tenaga kerja yang terlatih dan professional. Sebuah perusahaan tidak akan
bisa berjalan dengan baik jika tidak di dukung dengan kinerja dari karyawan yang
professional dan membantu dalam pengembangan kemajuam perusahaan. PT.
Nobel Carpets memiliki 500 karyawan yang tersebar di beberapa cabang, dan
memiiki kemampuan dan pengalaman di bidangnya masing – masing lebih dari 3
tahun sehingga tidak perlu di ragukan lagi kinerja dari para karyawan.
4.1.2.Analisis Kelemahan (Weakness)
Di samping kekuatan atau kelebihan, setiap perusahaan juga mempunyai
kelemahan atau kekurangan, diantaranya adalah:
a. Bahan baku mahal dan terbatas. sebagai perusahaan yang memprosuksi
karpet maka sangat di perlukan bahan baku yang cukup, bahan baku yang yang di
perlukan untuk proses produksi karpet adalah benang, latex, serat polypropylene,
filament buatan, tiga bahan baku terakhir bahkan harus di import dari luar negeri,
dan masalah bahan baku yang sering terjadi adalah terjadinya kelangkaan dan
Bahan baku yang paling banyak di gunakan dan paling penting adalah
benang, benang yang di gunakan harus kerkualitas tinggi dengan warna yang tidak
mudah luntur dan bisa bertahan bertahun – tahun, dengan spesifikasi seperti di
atas akan sangat sulit untuk memenuhi semua kebutuhan. Selama ini supplaier
benang hanya mampu untuk memenuhi 85% dari kebutuhan produksi, sehingga
sedikit banyak menghambat jalannya produksi produk pada PT. Nobel Carpets,
b. Persepsi publik yang menganggap karpet adalah barang mahal dan mewah.
Persepsi atau anggapan publik terhadap produk yang di produksi dapat sangat
mempengaruhi tingkat penjualan produk. Jika persepsi masyarakat terhadap
produk yang di produksi tersebut baik, maka akan sangat memungkinkan dapat
mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, begitu pula sebaliknya, jika persepsi
masyarakat terhadap produk yang di produksi buruk maka akan dapat
mendatangkan kerugian pada perusahaan.
c. Produk yang di hasilkan bukan merupakan kebutuhan primer. Dalam
menjalani kehidupan, manusia membutuhkan berbagai jenis, dan macam barang –
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia berdasarkan
tingkat kepentingan atau prioritas di bagi menjadi tiga, yaitu kebutuhan primer,
sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang benar – benar
teramat sangat di butuhkan manusia, dan sifatnya wajib di penuhi. Kebutuhan
sekunder adalah merupakan jenis kebutuhan yang diperlukan setelah semua
kebutuhan primer terpenuhi dengan baik. Kebutuhan tersier kebutuhan manusia
yang sifatnya mewah, tidak sederhana, dan berlebihan. Dalam hal ini, karena
produk yang di produksi adalah karpet yang notabene termasuk dalam kebutuhan
pelengkap bukannya sebagai kebutuhan yang sangat di butuhkan (kebutuhan
primer).
d. Resiko pengolahan data keuangan yang tinggi. Manusia bukanlah makhluk
yang sempurna dan pasti pernah melakukan kesalahan baik di sengaja mupun
tidak oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan bahwa karyawan dapat
melakukan kesalahan pengolahan data yang begitu banyak, dan rumit, serta
memerlukan ketelitian yang tinggi. Berikut ini adalah perincian dari persediaan
barang yang di simpan dalam gudang selama 5 tahun terakhir
Tabel 4.2 Daftar Persediaan Stok Gudang
no Tahun Persediaan dlm rupiah
1 2006 17.837.921.599.68
2 2007 11.535.986.170.80
3 2008 10.876.307.230.32
4 2009 18.923.806.624.80
5 2010 18.168.397.238.88
Selain data – data stok gudang masih terdapat data – data yang lain yaitu
data – data pembelian yang terjadi di PT. Nobel Carpets selama 5 tahun terakhir,
untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Tabel 4.3 di bawah ini.
Tabel 4.3 Daftar Pembelian 5 Tahun Terakhir
no Tahun Pembelian dlm rupiah
1 2006 7.942.147.563.84
2 2007 12.160.147.912.08
3 2008 28.433.185.351.20
4 2009 5.296.875.108.00
5 2010 14.214.854.371.20
Tabel 4.4 Daftar Penjualan 5 Tahun Terakhir
no Tahun Pembelian dlm rupiah
1 2006 17.772.308.232.00
2 2007 15.287.871.533.76
3 2008 24.068.696.668.80
4 2009 7.247.301.625.20
5 2010 13.655.895.973.44
Gambar 4.15 Grafik Penjualan 5 Tahun Terakhir
Tabel di atas merupakan rincian dari penjualan produk – produk yang di
alami oleh PT. Nobel Carpets. Dengan adanya data di atas maka dapat di buktikan
bahwa banyak sekali terjadi transaksi keuangan yang terjadi pada PT. Nobel
Carpets sehingga menimbulkan resiko yang tinggi pada pengelolaan data yang
4.1.3.Analisis Peluang (Opportunities)
Seiring berkembangnya waktu maka akan banyak juga menciptakan peluang
– peluang yang akan sayang bila di lewatkan begitu saja. Contoh – contoh dari
peluang yang dapat di manfaatkan adalah:
a. Peningkatan pendapatan perkapitan penduduk Indonesia. Pendapatan
perkapita sering di ukur sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat
pembangunan sebuah Negara, semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin
makmur Negara tersebut.
Berdasarkan perhitungan statistik, pendapatan perkapita Indonesia atas dasar
harga berlaku pada 2010 tercatat mencapai Rp 27 juta atau setara dengan 3.004,9
dollar AS. Angka ini naik sekitar 13 persen bila dibandingkan pada 2009 lalu
yang mencapai Rp 23,9 juta atau setara 2.349,6 dollar AS.
“Itu, angka nominal PDB sebesar Rp 6.244,9 triliun dibagi dengan jumlah
penduduk pada 2010 yang sebesar 237,6 juta hasilnya adalah Rp 27 juta per kapita
pendapatan per tahun,” kata Kepala BPS Rusman Heriawan, Senin (7/2/2011).
b. Perubahan pola hidup yang lebih praktis dan mendambakan kenyamanan,
kemudahan serta kemudahan. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin
maju maka semakin maju pola pola kehidupan masyarakat, yang tadinya hanya
sebagai kebutuhan pelengkap sekarang sudah menjadi kebutuhan sekunder atau
bahkan kebutuhan primer. Begitu pula dengan karpet yang sekarang ini sudah
semakin di kenal dan di butuhkan dalam memenuhi kenyamanan dalan kehidupan
sehari – hari. Dengan menggunakan karpet kita bisa merasakan kenyamanan dan
lantai karena jika lantai tersebut di lapisi dengan karpet maka yang terasa adalah
kelembutan dan kehangatan sehingga sangat cocok apabila di gunakan bersama
keluarga dan akan menambah kualitas kebersamaan dan kenyamanan di dalam
rumah atau tempat menjalani kehidupan sehari – hari.
c. Banyaknya permintaan dari para konsumen, karena semakin banyaknya
konsumen yang menginginkan kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehari –
hari maka tidak menutup kemungkinan akan di gunakannya karpet sebagai
penutup lantai yang nyaman. Semakin banyak orang yang memperhitungkan
penggunaan karpet maka semakin besar pula kemungkinan permintaan konsumen
terhadap karpet yang di produksi. Selama ini PT. Nobel Carpets banyak menerima
permintaan dari banyak hotel yang tersebar di seluruh Indonesia, contohnya
adalah Hotel Paragon, Hotel Aquarius, Hotel Grand City, Hotel Sanur, Hotel
Century, dan masih banyak lagi. Untuk lebih jelasnya dapat di liht pada tabel di
bawah ini
Tabel 4.5 Daftar Permintaan Konsumen
no Nama Konsumen Nama barang Quantity (M2)
1 PT. Hardaya Widya Graha Axminster 2,920.00
2 PT. Prima Adithama Int. D. Axminster 42 Oz 122.00
3 PT. Sunindo Gapura Prima
Axminster 42 Oz
Nylon Printed 1500 gsm
870.00
328.00
4 PT. Surya Gemilang Terang Nylon Printed 1500 gsm 736.00
5 PT. Karya Mandala Putra Romano 5,242.00
6 PT. Wisma Resortama P. Wilton P13 620.00
8 PT. Dwimitra Nusantara Axminster 42Oz 1,208.80
9 PT. Criswiyan Rejeki Nylon Printed 1300 gsm 3,184.00
10 Happy Puppy Hand Tufted 86.45
11 PT. Nav Bima Pratama Nylon Printed 300 gsm 1,500.00
12 TK. Anton Carpet Jawa 910.00
13 Francis Interior Mega Sisal 4.10
14 TK. Sumber Mas Jawa 312.00
15 Saga Indocama Cornell 16.84
16 Aline Interior Mega Sisal 32.57
d. Kepercayaan para pelanggan. Kepercayaan pelanggan adalah hal yang
paling berharga dalam jalannya kehidupan perusahaan, tanpa adanya kepercayaan
pelanggan mustahil sebuah persusahaan dapat bertahan sebagus apapun
perusahaan tersebut. PT. Nobel Carpets memiliki banyak pelanggan yang setia
termasuk hotel - hotel besar di Indonesia yang sangat percaya dan yakin dengan
kinerja dari perusahaan ini. Berikut ini adalah daftar – daftar konsumen setia
PT. Nobel Carpets
Tabel 4.6 Daftar Konsumen
no Nama Konsumen Alamat konsumen
1 PT. Hardaya Widya Graha Jl. Gubeng Pojok N0.1, Surabaya
2 PT. Prima Adithama Int. D. Jl. Jendral Sudirman Kav.10, Jakarta
3 PT. Sunindo Gapura Prima Jl. Yosodipuro No. 133 SOLO
4 PT. Surya Gemilang Terang Ruko Mediterania 1 Blok F No. 8 B,
Jakarta Utara
Marga Mas No.4. Makasar
6 PT. Wisma Resortama P. Jl. Pos Pengumben Raya No.50,
Jakarta
7 PT. Jaya Bumi Perkasa
Jln. Trans Sulawesi Palu Pantoloan
Km. 16, TAIPA-SULTENG
8 PT. Dwimitra Nusantara JL. Hang Tuah 46 Sanur
9 PT. Criswiyan Rejeki Jl. Benteng Kapaha, Ambon
10 Happy Puppy Jl. Gubeng Pojok N0.1, Surabaya
11 PT. Nav Bima Pratama Jl. Panjang Jiwo
12 TK. Anton Carpet Jl. Dumar Industri G / 3 B
13 Francis Interior Jl. HR. Mohammad 18 Kav. 391
14 TK. Sumber Mas Jl. Kramat Gantung 132, Surabaya
15 Saga Indocama Jl. Dharmahusada Indah Barat III
64-68, Surabaya
16 Aline Interior
Ruko Taman Puspa Raya C8
Citra Land,Surabaya
e. Pasar di luar negeri yang masih terbuka lebar, peluang pasar di bidang
industri karpet masih sangat terbuka lebar di pasar luar negeri terutama di Negara
– Negara maju yang sudah menganggap karpet bukan lagi menjadi kebutuhan
pelengkap tetapi merupakan kebutuhan sekunder. Beberapa Negara yang memiliki
peluang tinggi dalam pemasaran karpet adalah Jepang, Malaysia, Thailand,
4.1.4.Analisis Ancaman (Thread)
Ancaman – ancaman dari factor eksternal yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup perusahaan adalah;
a. Perubahan nilai tukar valuta asing yang cepat berubah – ubah (tidak stabil).
Tidak dapat di pungkiri bahwa nilai tukar rupiah dengan mata uang asing juga
mempengaruhi biaya produksi perusahaan apalagi banyak bahan baku yang harus
di import dari luar negeri contohnya seperti latex, serat polypropylene, filament
buatan. Jika sebuah perusahaan tidak pandai – pandai dalam menyeimbangkan
harga produk dengan nilai tukar valuta asing maka bukannya tidak mungkin akan
mengalami kerugian karena biaya produksi yang membengkak tanpa di sertai
dengan penyesuaian dengan harga produk.
b. Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat, sebgai perusahaan yang
tidak sendirian dalam menjalankan industri karpet maka pasti akan memiliki
saingan dalam pemasaran produk dan kepercayaan konsumen. Dan jika tidak
dapat bertahan dalam persaingan maka sudah pasti kehancuran akan datang.
Perusahaan yang menjadi saingan dari PT. Nobel Carpets selama ini contohnya
adalah PT. Classic Carpets yang beralamatkan di jl. Pintu Air Raya 22 - A Sawah
Besa. Jakarta, PT. Rainbow Indah Carpets yang beralamatkandi jl. Pintu Air Raya
32.Jakarta,Dan lain lain.
c. Komplain atau kekecewaan para konsumen, keinginan konsumen satu
dengan konsumen lainnya tidaklah sama, maka dari itu pasti ada kemungkinan
ketidak-cocokan para konsumen terhadap produk maupun pelayanan yang di