PERSEPSI ETIS PENGGELAPAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK DI WILAYAH SURAKARTA.

88 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

PERSEPSI ETIS PENGGELAPAN PAJAK

BAGI WAJIB PAJAK DI WILAYAH SURAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi

Syarat- Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

SIGIT PRASETYO F 1306610

S1 NON REGULER JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

PERSETUJUAN

PERSEPSI ETIS PENGGELAPAN PAJAK BAGI WAJIB

PAJAK DI WILAYAH SURAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Penyusunan Skripsi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

SIGIT PRASETYO

F 1306610

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing Pada tanggal 29 November 2010

Dosen Pembimbing,

(3)

commit to user

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima baik oleh tim penguji Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi.

Surakarta, Desember 2010 Tim Penguji Skripsi

1. Prof. Dr. Rahmawati. M.Si, Ak. (...)

NIP. 19680401 199303 2 001 Ketua

2. Drs. Eko Arief Sudaryono, M.Si, Ak (...)

NIP. 19611231 198803 1 006 Pembimbing

3. Dra. Setianingtyas Honggowati, M.M. Ak (...)

(4)

commit to user

iv

MOTTO

v

Tiadalah merekadiperinta, kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas

dalam menjalankan agama, lurus, dan mendirikan sholat, mengheluarkan zakat.

Itulah agama yang lurus.

(Qs. Al bayyinah : 5)

v

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah

selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sesungguh sungguhnya (urusan)

yang lain dan hanya kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap

(Qs. Al Insyirah :6-8)

v

Awali dengan Bismillah, landasi dengan ikhlas, akhiri dengan Alhamdulillah.

v

Jadilah orang yang selalu mensyukuriu nikmat yang telah diberikan oleh Allah

SWT, berperilaku sederhana,menerima apa adanya, bergaul dengan siapa saja,

kelak akan berguna bagi kita sendiri.Allah bersama orang- orang yang sabar.

v

Mengetahui kekurangan diri kita sendiri adalah tangga buat mencapai cita-cita,

berusahalah terus untuk mengisi kekurangan adalah keberanian yang luar biasa.

(Prof. Dr. Hamka)

v

Apa yang sudah berlalu itulah yang terbaik, keadan yang lalu baik ataupun jelek

itulah yang terbaik karena akan menjadi landasan bagi hari esok.

(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Segala Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang menciptakan alam semesta, Muhammad Rosul umat mu’min, Alquran dan Al-hadist sebagai

petunjuk, skripsi ini kupersembahkan kepada:

1. Kedua Orangtuaku tercinta yang

dengan ikhlas merawat dan

mendidikku, telaga kasih sayang

yang tak kan pernah kering

mengalirkan doa untukku.

2. Kakakku dan Adikku, terima kasih

atas do’a nya.

3. Calon Isteriku Tias Dwi Pramita,

Yang telah sabar menanti dan

menemani setiap langkahku.

4. Semua keluarga besarku, teman-

teman dan sahabatku yang tak bisa

saya sebutkan satu persatu,

terima kasih atas semua pelajaran

hidup yang telah kalian berikan.

5. AD4383QA, AD5454AS, AD5777U, yang

selalu mengantarku dengan selamat

kemanapun tempat tujuanku.

(6)

commit to user

vi

PERSEPSI ETIS PENGGELAPAN PAJAK BAGI WAJIB

PAJAK DI WILAYAH SURAKARTA

Sigit Prasetyo

F 1306610

ABSTRAKSI

Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong Pemerintah untuk segera menindak tegas semua pelaku praktik penggelapan pajak, setelah diadakan penelitian tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta.

Metode yang digunakan dalam menganalisis data penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan upaya analisa data dengan memberikan gambaran tentang suatu data. Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta. Populasi yang dipakai pada penelitian ini adalah seluruh wajib pajak yang berada di wilayah Surakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah 75 wajib pajak di Wilayah Surakarta.

Berdasarkan hasil penelitian tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta dapat ditarik kesimpulan bahwa 85,74% pegawai swasta tidak setuju dengan adanya berbagai bentuk praktik penggelapan pajak; 82,13% wiraswasta tidak setuju dengan adanya berbagai bentuk praktik penggelapan pajak; dan 95,56% pegawai negeri sipil tidak setuju dengan adanya berbagai bentuk praktik penggelapan pajak.

(7)

commit to user

vii

ETHICAL PERCEPTIONS TAX EVASION FOR TAXPAYERS IN THE REGION SURAKARTA

Sigit Prasetyo

F 1306610

ABSTRACT

A goal to be achieved in the presence of this research is to investigate the perception of tax evasion unethical for Taxpayers in the region of Surakarta. Based on the results of this study is expected to encourage the Government to immediately take action against all perpetrators of the practice of tax evasion, having conducted research on ethical perceptions of tax evasion for Taxpayers in

the region of Surakarta.

The method used in analyzing data of this research is descriptive analysis. Descriptive analysis is a data analysis effort to provide a snapshot of the data. While the definition in this study is to provide a snapshot of the perception of tax evasion unethical for Taxpayers in the region of Surakarta. The populations used in this study are all taxpayers residing in the territory of Surakarta. The samples

in this study were 75 taxpayers in the region of Surakarta.

Based on the results of research on ethical perceptions of tax evasion for Taxpayers in the Surakarta region can be deduced that 85.74% private employees do not agree with the existence of various forms of tax evasion; 82.13% self-employed do not agree with the existence of various forms of tax evasion; and 95.56% of civil servants do not agree with the existence of various forms of tax evasion.

(8)

commit to user

viii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, pengarahan, dan dukungan dari berbagai pihak yang dengan ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanannya memberikan bantuan kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. DR. Bambang Sutopo, M. Com., Ak, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah meberikan ijin menyusun skripsi.

2. Bapak Drs. Jaka Winarna, M.Si., Ak, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah menyetujui permohonan skripsi ini.

(9)

commit to user

ix

4. Bapak Drs. Eko Arief Sudaryono. M.Si, Ak, selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan dalam penulisan skripsi ini.

5. Ibu Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, dan Ibu Dra. Setianingtyas Honggowati, M.M., Ak, selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan penulis kesempatan untuk memperjuangkan dan mempertahankan hasil penulisannya. 6. Bapak Drs. Agus Budiatmanto, M.Si., Ak; Bapak Drs. Djoko Suhardjanto,

M.Com., Ak., Ph.D., dan Bapak Anis Widjajanto, SE., M.Si., Ak. selaku tim dosen penguji ujian komprehensif yang telah membuka wawasan penulis mengenai seluruh mata kuliah yang telah dipelajari selama kuliah.

7. Seluruh Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu- ilmu teori maupun terapan. 8. Ayah, Ibuku, Kakak, dan adikku tercinta yang telah memberikan doa yang tak

ada hentinya, semangat, kasih sayang, perhatian dan pengorbanan moral dan material yang tidak terkira.

9. Sahabat-Sahabat D3 AKuntansi angkat 2003 dan S1 Non Reguler Jurusan Akuntansi angkatan 2006 yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Terima kasih atas doa dan kebersamaannya.

10.Bapak Drs. Rachmad Wahyudi, S.E., Ak., CPA, beserta seluruh Staff KAP. Rachmad Wahyudi, terima kasih atas dukungan moril yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

(10)

commit to user

x

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran yang bersifat membangun dari pembaca akan penulis terima dengan senang hati. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb

Surakarta, Desember 2010

(11)

commit to user

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Hasil Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Pengertian Persepsi ... 7

B. Pajak ... 8

C. Etika ... 16

D. Wajib Pajak ... 17

E. Penggelapan Pajak ... 23

(12)

commit to user

xii

G. Kerangka Pemikiran ... 28

H. Hipotesis ... 28

BAB III METODA PENELITIAN ... 30

A. Jenis Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel ... 30

C. Sumber Data ... 32

D. Teknik Pengumpulan Data ... 33

E. Definisi Operasional ... 33

F. Metode Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Sebaran Data Penelitian ... 38

B. Karakteristik Responden ... 39

C. Analisis Data ... 42

D. Pembahasan ... 69

BAB V PENUTUP ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Implikasi ... 72

C. Keterbatasan Penelitian ... 73

D. Saran ... 73 DAFTAR PUSTAKA

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas ... 35

Tabel 4.1. Sebaran Data Penelitian ... 38

Tabel 4.2. Distribusi Jenis Responden ... 39

Tabel 4.3. Distribusi Tingkat Pendidikan Responden ... 40

Tabel 4.4. Distribusi Pekerjaan Responden ... 41

Tabel 4.5. Distribusi Tingkat Penghasilan Responden ... 41

Tabel 4.6. Rangkuman Persepsi Wajib Pajak yang Bekerja Sebagai Pegawai Swasta terhadap Penggelapan Pajak ... 66

Tabel 4.7. Rangkuman Persepsi Wajib Pajak yang Bekerja Sebagai Wiraswasta terhadap Penggelapan Pajak ... 67

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 28 Gambar 4.1 Penggelapan Pajak Etis Jika Jumlahnya Signifikan dan

Uang yang Terkumpul, Masuk dalam Kantong Politisi

Korup, Keluarga, dan Teman-Temannya ... 42 Gambar 4.2 Penggelapan Pajak Etis jika Kemungkinan Tertangkap

atau Diketahui oleh Aparat Pajak Rendah ... 44 Gambar 4.3 Penggelapan Pajak Etis jika Sistem Perpajakan Tidak

Adil ... 45 Gambar 4.4 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Tarif Pajak

Tidak Terlalu Tinggi Karena Pemerintah Tidak Memberikan Timbal Balik Sebanyak yang Dia Ambil

dari Saya ... 47 Gambar 4.5 Penggelapan Pajak Etis Jika Sebagian Besar Uang yang

Terkumpul Digunakan Secara Boros ... 49 Gambar 4.6 Penggelapan Pajak Etis jika Uang yang Terkumpul

Digunakan untuk Mendukung Perang yang Menurut

saya Tidak Adil ... 50 Gambar 4.7 Penggelapan Pajk Etis jika Sebagian Besar Uang yang

Terkumpul Digunakan untuk Proyek yang Tidak

Menguntungkan Bagi Saya ... 52 Gambar 4.8 Penggelapan Pajak Etis bila Tarif Pajak Terlalu Tinggi .. 53 Gambar 4.9 Penggelapan Pajak Etis jika Saya Tidak Sanggup untuk

Membayarnya ... 55 Gambar 4.10 Penggelapan Pajak Etis jika Sebagian Besar Uang yang

Terkumpul Digunakan untuk Proyek yang Secara Moral

Tidak saya Setujui ... 56 Gambar 4.11 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Sebagian

Besar Uang yang Terkumpul Digunakan untuk Proyek

yang Menguntungkan Bagi Saya ... 58 Gambar 4.12 Penggelapan Pajak Tatap Etis Walaupun Sebagian

Besar Uang yang Terkumpul Digunakan Secara

Bijaksana ... 59 Gambar 4.13 Penggelapan Pajak Etis jika Semua Orang

Melakukannya ... 61 Gambar 4.14 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Sebagian

Besar Uang yang Terkumpul Digunakan untuk Proyek

Yang Bermanfaat ... 62 Gambar 4.15 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Artinya jika

Saya Membayar Kurang, Maka Akan Ada Orang Lain

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Lampiran 2 Data Try Out

Lampiran 3 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Lampiran 4 Data Penelitian

(16)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjukk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan. Perlunya peraturan perudangan-undangan tentang perpajakan dibuat adalah untuk menanggulangi banyaknya penyelewengan yang berkaitan dengan pajak, karena pajak merupakan salah satu sumber penerimaan penting yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat (Rapina, 2008: 174).

(17)

commit to user

mendanai APBN-P 2010 sebesar Rp 1.126 triliun (www.pajak2000.com, 20 Mei 2010).

(18)

commit to user

pembayaran pajak oleh 50.500 Wajib Pajak tersebut di atas (www.guskun.com).

Masalah perpajakan tidaklah sederhana hanya sekedar menyerahkan sebagian penghasilan atau kekayaan seseorang kepada negara, tetapi coraknya terlihat bermacam-macam tergantung pada pendekatannya. Dari sudut pandang ekonomi, pajak merupakan penerimaan negara yang digunakan untuk mengarahkan kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan. Pajak sebagai motor penggerak kehidupan ekonomi masyarakat. Sedangkan dari aspek hukum, hukum pajak di Indonesia mempunyai hierarki yang jelas dengan urutan, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan sebagainya. Hierarki ini dijalankan secara ketat, peraturan yang tingkatannya lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang tingkatannya lebih tinggi. Dari aspek keuangan pajak dipandang sebagai bagian yang sangat penting dalam penerimaan negara. Jika dilihat dari penerimaan negara, kondisi keuangan negara tidak lagi semata-mata dari penerimaan negara berupa minyak dan gas bumi, tetapi lebih berupaya untuk menjadikan pajak sebagai primadona penerimaan negara. Dan dari aspek sosiologi bahwa pajak ditinjau dari segi masyarakat yaitu menyangkut akibat atau dampak terhadap masyarakat atas pungutan dan hasil apakah yang dapat disampaikan pada masyarakat..

(19)

commit to user

peristiwa sedemikian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak, mengurangi atau sama sekali menghapus dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkan berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Setelah kasus Gayus H.P. Tambunan terkuak, satu-persatu kasus penggelapan pajak mulai terungkap. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak paling tidak menemukan tiga kasus baru yang diduga merugikan negara hingga ratusan miliaran rupiah. Saat ini Ditjen Pajak tengah menyelidiki tiga kasus yang merugikan negara hingga Rp 607 miliar tersebut. Kasus pertama, sebuah kasus restitusi pajak yang dilakukan perusahaan berinisial PHS di Sumatera Utara senilai Rp 300 miliar. Kasus kedua, penerbitan faktur pajak fiktif yang melibatkan konsultan pajak tidak resmi berinisial SOL. Kerugian negara yang diakibatkan dari tindakan SOL diperkirakan sebesar Rp 247 miliar, dan Ketiga, kasus penggelapan pajak senilai Rp 60 miliar dengan modus penerbitan faktur pajak tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya oleh biro jasa di bawah pimpinan berinisial TKB. Total kerugian negara dari tiga kasus tersebut mencapai lebih dari Rp 600 miliar (Liputan6.com, 3 Mei 2010).

Jelas bahwa pajak sebagai sumber penerimaan negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan juga digunakan untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itulah, upaya untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak sangatlah penting, karena dana yang dihimpun berasal dari masyarakat (private saving) atau berasal dari pemerintah (public saving). Dengan

(20)

commit to user

kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara merata dengan melakukan pembangunan di berbagai sektor. Oleh karena itu pemberantasan terhadap kasus penggelapan pajak, harap segera dituntaskan sehingga tidak merubah persepsi wajib pajak terhadap kegunaan pajak.

Berdasarkan hasil penelitian Utami (2008) terhadap Persepsi Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Hukum terhadap Etika Penggelapan Pajak. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa hukum terhadap etika penggelapan pajak. Perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah pada obyek penelitian, penelitian ini dilakukan pada wajib pajak di wilayah Surakarta yang berdasarkan pada tingkat pekerjaan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta?”.

C. Tujuan Penelitian

(21)

commit to user

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi:

1. Manfaat Bagi Praktisi

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilihat kecenderungan persepsi wajib pajak dalam menilai etika penggelapan pajak, dimana hasil dari penggelapan pajak tersebut digunakan untuk berbagai tujuan tertentu setelah diadakan penelitian tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta, sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menangani kasus penggelapan pajak

2. Manfaat Bagi Akademisi

(22)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Persepsi

Secara umum persepsi diartikan sebagai proses pemberian arti terhadap rangsangan yang datang dari luar. Pengertian Persepsi menurut KBBI (2002:863) adalah tanggapan dari sesuatu atau merupakan proses seseorang mengetahui beberapa hal yang dialami oleh setiap orang dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya melalui panca indera. Jadi persepsi dapat diartikan sebagai proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya melalui pancainderanya (melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan merasakan).

Persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkannya, mengalami, dan mengelola pertanda atas segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya (Hammer dan Morgan, 1999 : 33). Menurut Abizar (1998: 18) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses dengan mana seseorang individu memilih, mengevaluasi dan mengorganisasi stimulus dari lingkungannya. Persepsi juga menentukan cara kita berperilaku terhadap suatu obyek atau permasalahan, bagaimana segala sesuatu itu mempengaruhi persepsi seseorang nantinya akan mempengaruhi perilaku yang dipilihnya.

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan

(23)

commit to user

pesan. Persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk petunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu. Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) dalam Abizar (1998: 18) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan.

Berdasarkan hal itu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi adalah pandangan pikiran seseorang yang muncul dari kegiatan mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkannya, mengalami, dan mengelola pertanda atas segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

B. Pajak

1. Pengertian Pajak

(24)

commit to user

Pengertian pajak menurut Siahaan (2005: 10) adalah pungutan dari masyarakat oleh negara (pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali (kontraprestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Menurut Soemitro (2000: 8) pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Berbeda dengan definisi pajak menurut para ahli di atas, pengertian pajak menurut Meliala (2007: 4) adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sebagai perwujudan pengabdian dan peran serta rakyat untuk membiayai negara dan pembangunan nasional. Berdasarkan beberapa definisi pajak di atas, terdapat ciri-ciri yang mendasar yaitu:

a. Pajak merupakan iuran wajib yang dibayarkan rakyat kepada negara. b. Pajak dipungut berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan. c. Pajak dapat dipaksakan tanpa mendapat kontraprestasi langsung secara

individual yang diberikan oleh pemerintah.

(25)

commit to user

Maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang sangat signifikan antara pakar tersebut diungkapkan oleh Meliala (2007). Pembayaran pajak tidak hanya berdasarkan undang-undang saja, tetap juga merupakan wujud pengabdian seseorang terhadap negaranya. Hal ini tidak diungkapkan oleh para pakar lainnya sehingga terkesan bahwa pajak ini merupakan paksaaan kepada rakyat.

Jadi sebenaranya pajak itu bersifat sukarela sekaligus dapat dipaksakan oleh undang-undang. Sebenarnya kedua hal ini tidak bertentangan karena pajak merupakan wujud pengabdian masyarakat kepada negaranya sesuai dengan pengamalan Pancasila sila ke-3, yaitu Persatuan Indonesia, sehingga walaupun tidak dapat dipaksakan oleh Undang-Undang masyarakat tetap akan berinisiatif membayar pajak dengan sukarela. Dengan definisi seperti yang diungkapkan oleh Meliala (2007) diharapkan semua warga negara membayar pajak denga lebih taat. 2. Fungsi Pajak

Menurut Meliala (2007: 17-18) fungsi pajak dapat dibagi menjadi: a. Fungsi Penerimaan (Budgetair)

(26)

commit to user

b. Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang letaknya di luar bidang keuangan, seperti di bidang ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Sesuai dengan kebijakan pemerintah. Hal tersebut dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:

1) Dikenakannya pajak yang lebih tinggi terhadap minuman keras sehingga konsumsi minuman kerasa dapat ditekan.

2) Dalam bidang sosial (Keluarga Berencana) bagi keluarga yang memiliki jumlah anak lebih dari 3 orang maka tidak diberikan tambahan untuk Penghasilan Tidak Kena Pajak.

3. Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak dapat dibagi berdasarkan dua penggolongnya:

a. Menurut dasar penetapan pajak 1) Stelsel/Sistem Fiktif (Anggapan)

(27)

commit to user

2) Stelsel/Sistem Riil (Nyata)

Pemungutan pajak didasarkan pada objek (penghasilan) yang nyata, sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya telah dapat diketahui. Kelebihan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis. Kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui) 3) Stelsel/ Sistem Campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stesel nyata dan

stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Apabila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah kekurangannya. Demikian pula sebaliknya, apabila lebih kecil, maka kelebihannya dapat diminta kembali.

b. Menurut yang menetapkan pajaknya 1) Official assesment system

(28)

commit to user

sepenuhnya ada ditangan aparatur perpajakan. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan. Ciri-ciri dari sistem ini: a) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada

pada fiscus.

b) Wajib pajak bersifat pasif.

c) Utang pajak timbul setelah dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP) oleh fiscus.

2) Self assessment system

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang wajib pajak untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini, inisiatif dan kegiatan menghitung serta pelaksanaan pemungutan pajak berada ditangan wajib pajak. Wajib pajak dianggap mampu menghitung pajak, mampu memahami peraturan perpajakan yang sedang berlaku, dan mempunyai kejujuran yang tinggi, serta menyadari akan arti pentingnya membayar pajak. Ciri-ciri dari system ini :

a) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri.

b) Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang.

(29)

commit to user

3) With holding system

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Penunjukan pihak ketiga ini bisa dilakukan dengan undang-unbang perpajakan, keputusan presiden dan peraturan lainnya untuk memotong dan memungut pajak, menyetorkan dan memprtanggungjawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada pihak ketiga yang ditunjuk.

4. Penggolongan Pajak

a. Berdasarkan Organisasi Pengelolaannya

1) Pajak Pusat, adalah pajak yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran umum (negara)

2) Pajak Daerah, adalah pajak yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah daerah guna membiayai pengeluaran-pengeluaran daerah.

b. Berdasarkan Sifat Pajak

(30)

commit to user

2) Pajak kebendaan, adalah pajak yang dipungut tanpa memerhatikan diri dan keadaan wajib pajak. Pajak jenis ini umumnya merupakan pajak tidak langsung sehingga siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun, wajib pajak akan dikenai pajak secara sama.

c. Berdasarkan golongannya 1) Pajak Langsung

Pajak langsung adalah pajak yang pembayarannya tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.

2) Pajak Tidak Langsung

Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembayarannya atau pembebanannya dapat dilimpahkan kepada orang lain.

d. Berdasarkan Sifatnya 1) Pajak Subyektif

Pajak subyektif adalah pajak yang berpangkal pada diri orang yang dikenakan pajak. Pada pajak subyektif dimulai dengan menetapkan orangnya, kemudian baru dicari objeknya. Dalam pemungutan pajak subyektif ini harus ada hubungan antara negara pemungut pajak dengan subyek pajak. Jadi yang penting adalah subyeknya, yang dapat dibedakan antara perorangan dan badan usaha.

2) Pajak Obyektif

(31)

commit to user

objeknya. Pada pajak objektif dimulai dengan obyeknya seperti keadaan, peristiwa, perbuatan, dan lainnya, baru kemudian dicari orangnya yang harus membayar pajaknya yaitu subyeknya. Dalam pemungutan pajak obyektif harus ada hubungan antara negara pemungut pajak dan obyek pajak. Pajak obyektif selalu dipungut berdasarkan asas sumber, sedangkan pajak subyektif selalu dipungut berdasarkan asas domosili dan asas nasionalitas.

C. Etika

Secara etimologis etika berasal dari kata Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya (ta etha) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam pengertian ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Ini berarti , etika berkaitan dengan nilai-nilai , tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain. (Keraf, 1998: 14)

Etika didefisinisikan sebagai A set of rules that define right and wrong conducts. Seperangkat aturan undang-undang yang menentukan pada

perilaku benar dan salah (Muclis, 2004 :1)

(32)

commit to user

ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang individu (Beekun, 2004 : 3)

D. Wajib Pajak

Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 mengenai Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

1. Kewajiban Wajib Pajak

Sesuai dengan sistem self assessment, Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri, melakukan sendiri penghitungan pembayaran dan pelaporan pajak terutangnya. Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Wajib Pajak Orang Pribadi yang wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP adalah:

a. Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

(33)

commit to user

c. Wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah, karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.

d. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha berbeda dengan tempat tinggal, selain wajib mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.

Setelah melakukan pendaftaran dan mendapatkan NPWP, wajib pajak mempunyai kewajiban untuk menghitung dan membayar pajak, yang selanjutnya melaporkan pajak terutangnya dalam bentuk Surat Pemberitahuan (SPT).

(34)

commit to user

kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan pencatatan. Pencatatan terdiri dari data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran bruto dan/ atau penerimaan penghasilan sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang.

Syarat pembukuan atau pencatatan:

a. Diselenggarakan dengan memerhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.

b. Diselengarakan di Indonesia.

c. Menggunakan huruf latin dan angka Arab.

d. Menggunakan satuan mata uang rupiah dan mata uang asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.

e. Disusun dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.

f. Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan dasar akrual (accrual basis) atau dasar kas (cash basis).

Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian, sehingga dapat dihitung besarnya pajak terutang. Sedangkan pencatatan terdiri dari data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/ atau penghasilan bruto.

(35)

commit to user

a. Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib menyelenggarakan pencatatan adalah:

b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, dan c. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan usaha atau pekerjaan

bebas.

d. Pencatatan harus diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya dengan menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata uang rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia. e. Pencatatan dalam suatu tahun harus diselenggarakan secara kronologis. f. Catatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan di tempat tinggal Wajib Pajak atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas selama 10 (sepuluh) tahun.

g. Pencatatan harus dapat menggambarkan antara lain:

1) Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto yang diterima dan/atau diperoleh.

2) Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pajaknya bersifat final.

(36)

commit to user

untuk masing-masing jenis usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.

i. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan Wajib Pajak Orang Pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

2. Hak Wajib Pajak

Wajib Pajak selain mempunyai kewajiban juga mempunyai hak untuk mendapatkan kerahasiaan atas seluruh informasi yang telah disampaikan pada Derektorat Jenderal Pajak dalam rangka menjalankan ketentuan perpajakan. Berkaitan dengan pembayaran pajak terutang, wajib pajak berhak memperoleh:

a. Pengangsuran pembayaran, apabila wajib pajak mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak mampu membayar pajak sekaligus.

b. Pengurangan PPh pasal 25, apabila Wajib Pajak mengalami kesulitan keuangan dikarenakan usahanya mengalami kesulitan sehingga tidak mampu membayar angsuran yang sudah ditetapkan sebelumnya. c. Pengurangan PBB, pemberian keringanan pajak yang terutang atas

objek pajak.

d. Pembebasan pajak, apabila wajib pajak mengalami musibah dikarenakan force mayeur seperti bencana alam. Dalam hal ini DJP akan mengeluarkan suatu kebijakan.

(37)

commit to user

PPh yang terutang atas penghasilan yang diterima oleh kontraktor, konsultan dan supplier utama ditanggung pemerintah.

f. Insentif Perusahaan, untuk merangsang investasi.

g. Penundaan Pelaporan SPT Tahunan, apabila Wajib Pajak tidak dapat menyelesaikan atau menyiapkan laporan keuangan tahunan untuk memenuhi batas waktu penyelesaian, Wajib Pajak berhak mengajukan permohonan perpanjangan penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan paling lama 6 (enam) bulan.

h. Restitusi (pengembalian kelebihan pembayaran pajak), apabila wajib pajak merasa bahwa jumlah pajak atau kredit pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan Wajib Pajak tidak punya hutang pajak lain.

i. Keberatan, Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan DJP. Apabila dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan kemungkinan terjadi bahwa Wajib Pajak (WP) merasa kurang atau tidak puas atas suatu ketetapan pajak dikarenakan kepadanya atau atas pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga. j. Banding. Apabila hasil proses keberatan dirasa masih belum

memuaskan Wajib Pajak dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.

(38)

commit to user

mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak dan hanya dapat diajukan satu kali.

E. Penggelapan Pajak

Suatu perencanaan pajak atau disebut juga sebagai perbuatan penghindaran pajak yang sukses, haruslah dibedakan secara jelas dengan perbuatan penggelapan pajak. Hingga saat ini tidak ada satu pun yang memberikan indikasi dan rincian yang tegas tentang perbedaan antara perencanaan pajak dan penggelapan pajak.

Sebagian besar ahli berpendapat bahwa sesungguhnya antara penghindaran pajak dan penggelapan pajak terdapat perbedaan yang fundamental, akan tetapi kemudian ternyata bahwa perbedaan tersebut menjadi kabur, baik secara teori maupun aplikasinya. Secara konseptual, justru dalam menentukan perbedaan antara penghindaran pajak dan penggelapan pajak. Kesulitannya terletak pada penentuan perbedaannya, akan tetapi berdasarkan konsep perundang-undangan, garis pemisanya antara melanggar undang-undang (unlawful) dan tidak melanggan udang-undagn (lawful).

(39)

commit to user

kategori pelanggaran atau kejatahan, begitu pula mengenai pajak yang dipajaki, apabila tidak ada tindakan-tindakan/ transaksi yang dapat dipajaki. Dalam hal ini sama sekali tidak ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan dan malahan diperoleh penghematan (tax saving) dengan cara mengatur tindakan yang menghindarkan aplikasi pengenaan pajak melalui pengendalian fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga terhindar dari pengenaan pajak yang lebih besar atau sama sekali tidak kena pajak.

Walaupun pada dasarnya antara penghindaran pajak dan penggelapan pajak mempunyai sasaran yang sama, yaitu mengurangi beban pajak, akan tetapi cara penggelapan pajak jelas-jelas merupakan illegal dalam usaha mengurangi beban pajak tersebut. Definisi penggelapan pajak (Brotohardjo, 2007):

Menurut Harry Graham Balter (www.dostoc.com)

Penggelapan pajak mengandung arti sebagai usaha yang dilakukan oleh wajib pajak apakah berhasil atau tidak untuk mengurangi atau sama sekali menghapus hutang pajak yang berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai pelanggaran terhadap perundang-undangan perpajakan. Penghindaran pajak merupakan usaha yang sama, yang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan.

Menurut Ernest R Mortenson (www.dostoc.com)

Penggelapan pajak adalah usaha yang tidak dapat dibenarkan berkenaan dengan kegiatan wajib pajak untuk lari atau menghindarkan diri dari pengenaan pajak.

(40)

commit to user

pelanggaran atas perundang-undangan perpajakan atau secara etik tidak dianggap salah dalam rangka usaha wajib pajak untuk mengurangi, menghindari, meminimkan atau meringankan beban pajak dengan cara yang memungkinkan oleh perundang-undang pajak.

Menurut Robert H. Anderson (www.dostoc.com)

Penggelapan pajak adalah penggelapan pajak yang melanggar udang-undang pajak.

Penghindaran pajak adalah cara mengurangi pajak yang masih dalam batas ketentuan perundang-undangan perpajakan dan dapat dibenarkan, terutama perencanaan pajak.

Seperti definisi sebelumnya, Oliver Oldman menegaskan bahwa pengertian penggelapan pajak tidak saja terbatas pada kecurangan dan penggelapan dalam segala bentuknya, tetapi juga meliputi kelalaian memenuhi kewajiban perpajakan yang disebabkan oleh (Brotohardjo, 2007):

1. Ketidaktahuan (Ignorence) yaitu wajib pajak tidak sdar atau tidak tahu akan adanya ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan tersebut 2. Kesalahan (error) yaitu wajib pajak paham dan mengerti mengenai

ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan, tetapi salah hitung datanya.

3. Kesalahpahaman (missunderstanding) yaitu wajib pajak salah menafsirkan ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan.

4. Kealpaan (negligente) yaitu wajib pajak alpa untuk menyimpan buku deserta bukti-buktinya secara lengkap.

(41)

commit to user

ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan seperti berikut (Brotohardjo, 2007):

1. Tidak dapat memenuhi pengisian Surat Pemberitahuan tepat waktu 2. Tidak dapat memenuhi pembayaran pajak tepat pada waktunya.

3. Tidak dapat memenuhi pelaporan dan pengurangannya secara lengkap dan benar.

4. Tidak dapat memenuhi kewajiban memelihara pembukuan

5. Tidak dapat memenuhi kewajiban menyetorkan pajak penghasilan para karyawan yang dipotong dan pajak- pajak lainnya yang telah dipungut 6. Tidak dapat memenuhi kewajiban membayar taksiran utang pajak. 7. Tidak dapat memenuhi permintaan fiskus akan informási pihak ketiga 8. Pembayaran dengan cek kosong bagi negara yang dapat melakukan

pembayaran pajaknya dengan cek.

9. Melakukan penyuapan terhadap aparat perpajakan dan atau tindakan intimidasi lainnya.

(42)

commit to user

F. Penelitian Terdahulu

Mustikasari (2007) penelitian tentang Kajian Empiris Tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan di Perusahaan Industri Pengolahan di Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tax professional yang memiliki sikap terhadap ketidakpatuhan positif, niat ketidakpatuhan pajaknya tinggi, pengaruh orang sekitar (perceived social pressure) yang kuat mempengaruhi niat tax professional untuk berperilaku patuh dan tax professional yang memiliki kewajiban moral yang tinggi, niat ketidakpatuhan

pajaknya rendah atau sebaliknya

Kartawan dan Dedi Kusmayadi (2002) penelitian tentang Pengaruh Persepsi Wajib Pajak Badan Mengenai Undang-Undang Pajak Penghasilan Terhadap Pelaksanaan Sistem Self Assessment pada BUMS dan BUMD Kantor Pelayanan Pajak Tasikmalaya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa Proses belajar, motivasi dan kepribadian secara bersama-sama berpengaruh terhadap persepsi Wajib Pajak badang mengenai Undang-Undang Pajak Penghasilan Terhadap Pelaksanaan Sistem Self Assessment pada BUMS dan BUMD Kantor Pelayanan Pajak Tasikmalaya.

(43)

commit to user

Utami (2008) Persepsi Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Hukum terhadap Etika Penggelapan Pajak. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa hukum terhadap etika penggelapan pajak.

G. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Keterangan:

Wajib pajak merupakan orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Kasus penggelapan pajak merupakan salah satu kasus penting bagi para wajib pajak yang mampu merubah pemikiran wajib pajak terhadap realisasi penggunaan pajak. Penggelapan pajak akan merubah persepsi wajib pajak tentang pajak yang disetorkan pada pemerintah selama ini, sehingga akan menurunkan tingkat kepatuhan wajib pajak.

H. Hipotesis

Pajak sebagai sumber penerimaan negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan juga digunakan untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itulah, upaya untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak sangatlah

Wajib Pajak

Penggelapan Pajak

(44)

commit to user

penting, karena dana yang dihimpun berasal dari masyarakat (private saving) atau berasal dari pemerintah (public saving). Dengan demikian, terlihat bahwa dari pajak sasaran yang dituju adalah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara merata dengan melakukan pembangunan di berbagai sektor (Waluyo, 2008: 6). Oleh karena itu pemberantasan terhadap kasus penggelapan pajak, harap segera dituntaskan sehingga tidak merubah persepsi wajib pajak terhadap kegunaan pajak.

(45)

commit to user

BAB III

METODA PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Berdasarkan metodenya jenis penelitian ini adalah penelitian survey, yaitu penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis (Kerlinger, 1973 dalam Sugiyono, 2008: 7). Adapun berdasarkan tingkat explanansi (tingkat penjelasan) penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008: 72). Menurut Arikunto (2006: 130) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi yang dipakai pada penelitian ini adalah seluruh wajib pajak yang berada di wilayah Surakarta.

(46)

commit to user

Jumlah populasi wajib pajak dalam penelitian ini tidak dapat ditentukan, karena peneliti kesulitan untuk memperoleh data dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP). KPP berargumen bahwa data wajib pajak adalah rahasia. Pedoman yang digunakan KPP adalah UU No. 16 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) Pasal 32 butir 4, bahwa setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak (WP) dalam rangka jabatan atau pekerjaan untuk menjalankan ketentuan perundang undangan perpajakan kecuali segala saksi atau saksi ahli dalam sidang pengadilan.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2008: 73). Menurut Arikunto (2006: sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah 75 wajib pajak di Wilayah Surakarta. Hal ini sependapat dengan Roscoe dalam Sekaran, (2005: 227) memberikan pedoman penentuan besarnya sampel penelitian, jumlah sampel lebih besar dari 30 dan lebih kecil dari 500 telah mencukupi untuk semua penelitian. Ferdinand, (2002: 48) pengambilan sampel tergantung jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh variabel. jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5 sampai 10.

(47)

commit to user

sampling aksidental. Menurut Sugiyono (2008) sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang ditemui itu cocok dan sesuai yang dibutuhkan sebagai sumber data.

C. Sumber Data

Penelitian ini menggunakan sumber data primer. Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dan objeknya. Data primer dalam penelitian ini mengenai persepsi wajib pajak di wilayah Surakarta.

D. Teknik Pengumpulan Data

(48)

commit to user

E. Definisi Operasional

1. Penggelapan Pajak

Penggelapan pajak adalah usaha yang dilakukan oleh wajib pajak apakah berhasil atau tidak untuk mengatur suatu peristiwa sedemikian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak, mengurangi atau sama sekali menghapus dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkan berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

2. Persepsi Wajib Pajak

Persepsi wajib pajak adalah aspek perasaan yang dimiliki oleh tax professional yang ditentukan secara langsung oleh keyakinan yang dimiliki oleh tax professional terhadap pajak.

Dalam mengukur variabel persepsi waji pajak terhadap penggelapan pajak, responden akan dimintai pendapatnya tentang berbagai kasus penggelapan pajak yang mengadopsi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Utami (2008).

Adapun seluruh variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan skala likert diberi skor sebagai berikut:

1. Sangat Tidak Setuju Skor 1 2. Tidak Setuju Skor 2

3. Ragu-ragu Skor 3

4. Setuju Skor 4

(49)

commit to user

F. Metode Analisis Data

1. Teknik Uji Instrumen

a. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur mempunyai ketepatan dan kecermatan dalam melakukan fungsi ukurnya. Uji validitas dilakukan terhadap masing-masing butir pertanyaan tersebut mempunyai dukungan total terhadap skor total. Perhitungan dilakukan dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : (Arikunto, 2006 : 146).

Error! Reference source not found.

Keterangan :

rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y

x = skor setiap item pertanyaan y = skor total dari semua item N = jumlah sampel

Selanjutnya nilai dengan harga r hitung > r tabel , maka dikatakan valid. Jika r hitung < r tabel maka dikatakan tidak valid. Bagi butir pertanyaan yang tidak valid akan digugurkan dari daftar pertanyaan. Hasil analisis uji validitas kuesioner dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

(50)

commit to user

No. Pertanyaan rhitung rtabel Keterangan

1. 0,512 0,361 Valid

Dengan diperolehnya indeks validitas setiap butir, maka dapat diketahui dengan pasti butir-butir mana yang tidak memenuhi syarat

ditinjau dari validitasnya. Hasil analisis data didapatkan bahwa

r

hasil

semua butir pertanyaan.>.

r

tabel dan bertanda positif yang berarti

kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah valid. Selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas.

b. Uji Reliabilitas

(51)

commit to user

Keterangan:

r11 = reliabilitas instrument

k = banyaknya butir pertanyaan atau item

å

2

b

s ฀ = jumlah varians butir

2 t

s Error! Reference source not found. = varians total

Jika nilai cronbach alpha lebih besar 0,60 (Nunnally, 1969 dalam Ghozali, 2001: 129) maka kuesioner dinyatakan reliabel. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai Cronbach Alpha sebesar 0,738. Oleh karena nilai Cronbach Alpha yang lebih besar dari 0,60. Maka hasil analisis data untuk uji reliabilitas instrumen penelitian dapat dinyatakan bahwa kuesioner yang digunakan di dalam penelitian ini adalah reliabel.

2. Pengujian Hipotesis

Analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk melakukan pengujian hipotesis. Analisis deskriptif merupakan upaya analisa data dengan memberikan gambaran tentang suatu data. Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta.

Kalkulasi data berdasarkan kelompok variabel dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk mengkuantifikasikan data kuantitatif kedalam bentuk prosentase sebagai berikut:

(52)

commit to user

Keterangan

r = Prosentase

(53)

commit to user

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta. Penelitian ini dilakukan pada seluruh wajib pajak yang berada di wilayah Surakarta. Adapun untuk lebih jelas hasil penelitiannya akan dijabarkan tentang hasil sebaran data, karakteristik responden, hasil analisis data dan pembahasan.

A. Sebaran Data Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap wajib pajak di wilayah Surakarta. Data pokok dan data primer diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden, dan hasil jawaban dari kuesioner diolah guna pengujian hipotesis yang dimunculkan. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel 75 wajib pajak di wilayah Surakarta. Adapun hasil penyebaran 75 eksemplar kuesioner diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1

Sebaran Data Penelitian

No Kuesioner Jumlah Persentase

1 Kuesioner yang disebar 75 100%

2 Kuesioner yang kembali 72 96%

3 Kuesioner yang rusak 5 6,7%

Jumlah Kuesioner yang diolah 67 89,3% Sumber: data primer diolah, 2010

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang berjumlah 75 lembar diketahui bahwa 96% atau 72 lembar kuesioner kembali. Namun diantaranya jumlah kuesioner yang kembali terdapat 6,7% atau 5 lembar kuesioner yang

(54)

commit to user

rusak atau jawaban yang dibutuhkan oleh peneliti tidak lengkap, sehingga tersisi 89,3% atau 67 lembar kuesioner yang bisa diolah.

B. Karakteristik Responden

Analisis statistik diskriptif karakteristik responden dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui distribusi responden jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, pendidikan, pekerja dan penghasilan. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Jenis Kelamin

Berdasarkan dari distribusi data dari 67 wajib pajak di wilayah Surakarta menurut jenis kelamin dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 4.2

Distribusi Jenis Responden

No Jenis Kelamin Jumlah Presentase

1. Laki-laki 38 56,7%

2. Perempuan 29 43,3%

Jumlah 67 100%

Sumber: data primer diolah, 2010

(55)

commit to user

2. Pendidikan

Berdasarkan dari distribusi data dari 67 wajib pajak di wilayah Surakarta menurut tingkat pendidikan dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 4.3

Distribusi Tingkat Pendidikan Responden

No Pendidikan Jumlah Presentase

1. SMP 6 8,9%

2. SMA 17 25,3%

3. Diploma 19 28,4%

4. Sarjana 25 37,4%

Jumlah 67 100%

Sumber: data primer diolah, 2010

Hasil distribusi tentang tingkat pendidikan dari 67 wajib pajak di wilayah Surakarta diketahui bahwa 8,9% atau 6 orang mempunyai pendidikah terakhir SMP; 25,3% atau 17 orang mempunyai pendidikan terakhir SMA, 28,4% atau 19 orang mempunyai pendidikan terakhir Diploma dan 37,4% atau 25 orang responden mempunyai pendidikan terakhir.

3. Pekerjaan

(56)

commit to user

Tabel 4.4

Distribusi Pekerjaan Responden

No Pekerjaan Jumlah Presentase

1. Pegawai Swasta 36 53,7%

2. Wiraswasta 25 37,3%

3. PNS 6 9,0%

Jumlah 67 100%

Sumber: data primer diolah, 2010

Hasil distribusi tentang pekerjaan dari 67 wajib pajak di wilayah Surakarta diketahui bahwa 53,7% atau 36 orang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai swasta; 37,3% atau 25 orang mempunyai pekerjaan sebagai wiraswasta dan 9% atau 6 orang responden mempunyai pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

4. Penghasilan

Berdasarkan dari distribusi data dari 67 wajib pajak di wilayah Surakarta menurut tingkat penghasilan dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 4.5

Distribusi Tingkat Penghasilan Responden

No Penghasilan Jumlah Presentase

1. < Rp 1.500.000,- 34 50,7%

2. Rp 1.500.000,- s/d Rp 3.000.000,- 27 40,3%

3. > Rp 3.000.000,- 6 9,0%

Jumlah 67 100%

Sumber: data primer diolah, 2010

(57)

commit to user

orang mempunyai rata-rata penghasilan antara Rp 1.500.000,- s/d Rp 3.000.000,- dan 9% atau 6 orang responden mempunyai rata-rata penghasilan lebih dari Rp 3.000.000,- per bulan.

C. Analisis Data

Untuk mengetahui gambaran umum tentang persepsi etis penggelapan pajak bagi Wajib Pajak di wilayah Surakarta dilakukan analisis data dengan analisis deskriptif. Adapun hasil analisis statistik diskriptif adalah sebagai berikut:

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.1

Penggelapan Pajak Etis Jika Jumlahnya Signifikan dan Uang yang Terkumpul, Masuk dalam Kantong Politisi Korup, Keluarga, dan Teman-Temannya

(58)

commit to user

signifikan dan uang yang terkumpul masuk dalam kantong politisi korup, keluarga dan teman-temannya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta sangat tidak setuju jika jumlahnya signifikan dan uang yang terkumpul masuk dalam kantong politisi korup, keluarga dan teman-temannya.

Persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai wiraswasta mayoritas responden sebanyak 13 orang atau 52% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika jumlahnya signifikan dan uang yang terkumpul masuk dalam kantong politisi korup, keluarga dan teman-temannya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai wiraswasta sangat tidak setuju jika jumlahnya signifikan dan uang yang terkumpul masuk dalam kantong politisi korup, keluarga dan teman-temannya.

(59)

commit to user

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.2

Penggelapan Pajak Etis jika Kemungkinan Tertangkap atau Diketahui oleh Aparat Pajak Rendah

Berdasarkan Gambar 4.2 menunjukkan bahwa persepsi responden yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas responden sebanyak 18 orang atau 50% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika kemungkinan tertangkap atau diketahui oleh aparat

pajak rendah. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika kemungkinan tertangkap atau diketahui oleh aparat pajak rendah.

(60)

commit to user

penggelapan pajak etis jika kemungkinan tertangkap atau diketahui oleh aparat

pajak rendah.

Persepsi responden yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil mayoritas responden sebanyak 3 orang atau 50% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika kemungkinan tertangkap atau diketahui oleh aparat pajak rendah. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika kemungkinan tertangkap atau diketahui oleh aparat pajak rendah.

0.00%0.00%0.00%

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.3

Penggelapan Pajak Etis jika Sistem Perpajakan Tidak Adil

(61)

commit to user

pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika sistem perpajakan tidak adil. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika sistem perpajakan tidak adil.

Persepsi responden yang bekerja sebagai wiraswasta mayoritas responden sebanyak 11 orang atau 44% menjawab tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika sistem perpajakan tidak adil. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai wiraswasta tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika sistem perpajakan tidak adil.

(62)

commit to user

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.4

Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Tarif Pajak Tidak Terlalu Tinggi Karena Pemerintah Tidak Memberikan Timbal Balik Sebanyak

yang Dia Ambil dari Saya

Berdasarkan data dari Gambar 4.4 menunjukkan bahwa persepsi responden yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas responden sebanyak 16 orang atau 44,44% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak memberikan timbal balik sebanyak yang

dia ambil dari saya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak

memberikan timbal balik sebanyak yang dia ambil dari saya.

(63)

commit to user

pernyataan tentang penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak memberikan timbal balik sebanyak yang

dia ambil dari saya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai wiraswasta tidak setuju terhadap penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak

memberikan timbal balik sebanyak yang dia ambil dari saya.

Persepsi responden yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil mayoritas responden sebanyak 3 orang atau 50% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak memberikan timbal balik

sebanyak yang dia ambil dari saya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak tetap etis walaupun tarif pajak tidak terlalu tinggi karena pemerintah tidak memberikan timbal balik sebanyak yang dia ambil dari

(64)

commit to user

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.5

Penggelapan Pajak Etis Jika Sebagian Besar Uang yang Terkumpul Digunakan Secara Boros

Berdasarkan Gambar 4.5 menunjukkan bahwa persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas responden sebanyak 19 orang atau 52,78% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan

secara boros. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan secara boros.

(65)

commit to user

penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan

secara boros.

Persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil mayoritas responden sebanyak 3 orang atau 50% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan secara boros. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan secara boros.

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.6

Penggelapan Pajak Etis jika Uang yang Terkumpul Digunakan untuk Mendukung Perang yang Menurut saya Tidak Adil

(66)

commit to user

penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung

perang yang menurut saya tidak adil. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung perang yang menurut saya tidak adil.

Persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai wiraswasta mayoritas responden sebanyak 14 orang atau 56% menjawab tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung perang yang menurut saya tidak adil. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai wiraswasta tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung perang yang menurut saya tidak adil.

Persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil mayoritas responden sebanyak 2 orang atau 50% menjawab sangat tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung perang yang menurut saya tidak adil. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil sangat tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika uang yang terkumpul digunakan untuk mendukung perang yang menurut saya

(67)

commit to user

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Pegawai Swasta Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

Gambar 4.7

Penggelapan Pajk Etis jika Sebagian Besar Uang yang Terkumpul Digunakan untuk Proyek yang Tidak Menguntungkan Bagi Saya

Berdasarkan Gambar 4.7 menunjukkan bahwa persepsi wajib pajak yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas responden sebanyak 19 orang atau 52,78% menjawab tidak setuju atas item pernyataan tentang penggelapan pajk etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan untuk proyek yang

tidak menguntungkan bagi saya. Hal ini berarti bahwa wajib pajak di wilayah Surakarta yang bekerja sebagai pegawai swasta tidak setuju terhadap penggelapan pajak etis jika sebagian besar uang yang terkumpul digunakan untuk

proyek yang tidak menguntungkan bagi saya.

Figur

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas  ................................................................
Tabel 3 1 Hasil Uji Validitas . View in document p.13
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Gambar 2 1 Kerangka Pemikiran . View in document p.43
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.53
Tabel 4.2 Distribusi Jenis Responden
Tabel 4 2 Distribusi Jenis Responden . View in document p.54
  Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.55
  Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.56
  Tabel 4.5 Distribusi Tingkat Penghasilan Responden
Tabel 4 5 Distribusi Tingkat Penghasilan Responden . View in document p.56
  Gambar 4.1 Penggelapan Pajak Etis Jika Jumlahnya Signifikan dan Uang yang Terkumpul,
Gambar 4 1 Penggelapan Pajak Etis Jika Jumlahnya Signifikan dan Uang yang Terkumpul . View in document p.57
Penggelapan Pajak Etis jika Kemungkinan Tertangkap atau Diketahui oleh Gambar 4.2 Aparat Pajak Rendah
Penggelapan Pajak Etis jika Kemungkinan Tertangkap atau Diketahui oleh Gambar 4 2 Aparat Pajak Rendah . View in document p.59
Gambar 4.3 Penggelapan Pajak Etis jika Sistem Perpajakan Tidak Adil
Gambar 4 3 Penggelapan Pajak Etis jika Sistem Perpajakan Tidak Adil . View in document p.60
Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Tarif Pajak Tidak Terlalu Tinggi Gambar 4.4 Karena Pemerintah Tidak Memberikan Timbal Balik Sebanyak
Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Tarif Pajak Tidak Terlalu Tinggi Gambar 4 4 Karena Pemerintah Tidak Memberikan Timbal Balik Sebanyak . View in document p.62
Penggelapan Pajak Etis Jika Sebagian Besar Uang yang  Gambar 4.5 Terkumpul Digunakan Secara Boros
Penggelapan Pajak Etis Jika Sebagian Besar Uang yang Gambar 4 5 Terkumpul Digunakan Secara Boros . View in document p.64
Gambar 4.6 Penggelapan Pajak Etis jika Uang yang Terkumpul Digunakan untuk
Gambar 4 6 Penggelapan Pajak Etis jika Uang yang Terkumpul Digunakan untuk . View in document p.65
Penggelapan Pajk Etis jika Sebagian Besar Uang yang Terkumpul Digunakan Gambar 4.7 untuk Proyek yang Tidak Menguntungkan Bagi Saya
Penggelapan Pajk Etis jika Sebagian Besar Uang yang Terkumpul Digunakan Gambar 4 7 untuk Proyek yang Tidak Menguntungkan Bagi Saya . View in document p.67
Gambar 4.8 Penggelapan Pajak Etis bila Tarif Pajak Terlalu Tinggi
Gambar 4 8 Penggelapan Pajak Etis bila Tarif Pajak Terlalu Tinggi . View in document p.68
Gambar 4.9 Penggelapan Pajak Etis jika Saya Tidak Sanggup untuk Membayarnya
Gambar 4 9 Penggelapan Pajak Etis jika Saya Tidak Sanggup untuk Membayarnya . View in document p.70
Gambar 4.10
Gambar 4 10 . View in document p.71
Gambar 4.11
Gambar 4 11 . View in document p.73
Gambar 4.12
Gambar 4 12 . View in document p.74
Gambar 4.13
Gambar 4 13 . View in document p.76
Gambar 4.14 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Sebagian Besar Uang yang Terkumpul
Gambar 4 14 Penggelapan Pajak Tetap Etis Walaupun Sebagian Besar Uang yang Terkumpul . View in document p.77
Gambar 4.15
Gambar 4 15 . View in document p.79
Tabel 4.6
Tabel 4 6 . View in document p.81
Tabel 4.7
Tabel 4 7 . View in document p.82
  Tabel 4.8
Tabel 4 8 . View in document p.83

Referensi

Memperbarui...