PENGARUH CORE STABILITY EXERCISE TERHADAP PENURUNAN RISIKO JATUH LANSIA Pengaruh Core Stability Exersice Terhadap Penurunan Risiko Jatuh Lansia.

Teks penuh

(1)

PUBLIKASI ILMIAH

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Skripsi Strata S1 pada Jurusan Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan

Disusun Oleh :

AMWA WIGATI WIJAYA NIM. J120151107

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULAS ILMU KESEHATAN

(2)

2

2

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGARUH C

ORE STABILITY EXERCISE

TERHADAP

PENURUNAN RISIKO JATUH LANSIA

PUBLIKASI ILMIAH

Oleh :

AMWA WIGATI WIJAYA NIM. J120151107

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:

Dosen Pembimbing

Dwi Rosella K, S.Fis.,M.Fis

(3)

3

HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH C

ORE STABILITY EXERCISE

TERHADAP

PENURUNAN RISIKO JATUH LANSIA

Oleh :

AMWA WIGATI WIJAYA NIM. J120151107

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pada hari, Senin 15 Agustus 2016

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Dewan Penguji

1. Dwi Rosella K, S.Fis.,M.Fis ( )

2. Yulisna Mutia Sari, SST.FT, M.Sc (GRS) ( )

3. Isnaini Herawati, S.Fis.,M.Sc ( )

Dekan,

Dr. Suwaji, M.Kes NIP : 195311231983031002

(4)

4

4

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya diatas, maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 15 Agustus 2016

Penulis

AMWA WIGATI WIJAYA NIM. J120151107

(5)

1

PENGARUH C

ORE STABILITY EXERCISE

TERHADAP

PENURUNAN RISIKO JATUH LANSIA

ABSTRAK

Latar Belakang: Sebesar 30-50% lansia pernah mengalami jatuh dan sebesar 40% mengalami kejadian jatuh berulang (WHO).Kejadian jatuh pada lansia dapatdipengaruhi oleh dua hal yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Salah satu faktor ekstrinsik adalah melemhnyaotot-otot tubuh (core) yang merupakan salah satu faktor yang penting dalam postural set. Dengan melatih otot-otot tubuh (core) melalui core stability exercise, dapat memperbaiki kelemahan pada otot-otot tubuh yang meningkatkan kestabilan dalam mengolah pergerkan sehinggadicapai peningkatan keseimbangan den penurunan risiko jatuh.

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh core stability exercise terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia di posyandu Nilasari, Kartasura.

Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan wift group pre test and post test design, yaitu Metode Penelitian : Sample kelompok I di berikan core stability exercisedan kelompok II tidak diberi core stability exercise selama 4 minggu dengan frekwensi 2x seminggu. Pengukuran nilairisiko jatuh pada lansia dilakukan dengan time up and go test (TUG). Teknik analisa data menggunakan uji wilcoxon.

Hasil Penelitian : Ada pengaruh core stability exerciseterhadap nilai risikojatuh pada lansia setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji wilcoxon didapatkan p-value 0,004 dengan tingkat keberhasilan penelitian sebesar 0,2%.

Kesimpulan : Terdapat penurunan tingkatrisiko jatuh pada lansia di posyandu Nilasari, kartusura Kata Kunci: Lansia,risiko jatuh,Core Stability Exercise,Time Up And Go Test (TUG).

ABSTRACT

Background : 30-50% of the elderly have experienced falls and 40% experienced recurrent falls incident ( WHO ) . The incidence of falls in the elderly can be affected by two things: the factors intrinsic and extrinsic factors . One factor is melemhnya extrinsic muscles of the body (core ) which is one of the factors that are important in postural set . By exercising the muscles of the body (core ) through core stability exercise , can improve muscle weakness in muscles of the body that increases the stability in processing pergerkan thus achieved an increase in the balance of den decrease the risk of falls.

Research Objectives : Knowingeffect of core stability exercises to decrease the risk of falls in the elderly in posyanduNilasari ,Kartasura.

Research Methods : This research is a quasi experiment with wift group pre test and post testdesign , the sample group I given core stability exercise and group II were not given core stability exercise for 4 weeks with a frequency 2x a week. Measurement of the value of the risk of falls in the elderly do with time up and go test ( TUG ) . Data analysis using Wilcoxon test. Research Result : There is a core stability exercise influence on the value of the risk of falls in the elderly after the performed statistical tests obtained using Wilcoxon test p-value of 0.004 with a success rate of 0.2%.

Conclution : There is a decrease in the level of risk of falls in the elderly in posyanduNilasari ,kartusura.

(6)

2 1. PENDAHULUAN

Lansia bukan merupakan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik secara terus menerus yaitu semakin rentanya terhadap serangan penyakit yang disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ (Nugroho, 2008). Jatuh menjadi salah satu insiden yang paling sering terjadi pada lansia yang mengakibatkan trauma serius, seperti nyeri, kelumpuhan, bahkan kematian. Hal ini menimbulkan rasa takut dan dan hilangnya rasa percaya diri sehingga mereka membatasi aktivitasnya sehari-hari yang menyebabkan menurunnya mutu kehidupan pada lansia yang mengalaminya dan juga berpengaruh pada anggota keluarganya.

Core Stability exercise akan membantu memelihara postur yang baik

dalam melakukan gerak serta menjadi dasar untuk semua gerakan pada lengan dengan tungkai. Hal tersebut menunjukan bahwa hanya dengan stabilitas postur (aktifasi otot core stability) yang optimal, maka mobilitas pada ekstremitas dapat dilakukan dengan efisien. Peningkatan pola aktivitas core stability juga menghasilkan peningkatan level aktifitas pada ektremitas atau anggota gerak sehingga mengembangkan kapabilitas untuk mendukung atau menggerakkan ekstremitas (Ludmila, 2003).

2. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian dengan pendekatan quasi eksperimen menggunakan pre

test and post test with control group design. Penelitian dilaksanakan pada bulan

Mei sampai Juni 2016 di Posyandu Lansia Nilasari, Kartasura dengan jumlah populasi 42 orang dan pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling

dengan jumlah sampelnya adalah 20 orang. Analisa data menggunakan SPSS untuk uji pengaruh pre dan post test menggunakan uji wilcoxon.

3. HASIL PENELITIAN

(7)

3

2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah anggota Posyandu Lansia Nilasari, Kartasura berjumlah 42 orang, dan yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi maupun yang bersedia mengikuti kegiatan penelitian ini sebanyak 20 orang. Subjek penelitian yang berjumlah 20 orang ini dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Selama penelitian tidak ada yang mengalami kriteria drop out sehingga jumlah subyek tetap sebanyak 20 orang.

Berdasarkan uji statistik dengan uji wilcoxon yang ditunjukan pada tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh core stability exercise terhadap penurunan risiko jatuh lansia. Latihan ini mampu meningkatkan kekuatan dari sebuah otot melalui bertambahnya luas atau diameter otot. Otot akan mengalami hipertropi yang mengakibatkan terjadinya penambahan diameter otot. Latihan ini mempengaruhi kontraksi otot dengan terjadinya peningkatan besar tegangan (level tension) berupa perpanjangan sacromer otot yang menimbulkan perubahan anatomis, yaitu peningkatan jumlah miofibril, peningkatan ukuran miofibril, peningkatan jumlah total protein kontraktil khususnya kontraktil miosin, peningkatan kepadatan pembuluh kapiler dan peningkatan kualitas jaringan penghubung, tendon dan ligamen. Selain itu, peningkatan kekuatan otot juga disebabkan perubahan biokimia otot yaitu peningkatan konsentrasi kreatin, peningkatan konsentrasi kreatin fosfat dan ATP dan peningkatan glikogen (Kisner, 2002).

Berdasarkan uji statistik dengan uji wilcoxon yang ditunjukan pada tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh latihan core stability exercise terhadap penurunan risiko jatuh lansia. Kontraksi yang dihasilkan dari penguatan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan level tension pada otot berupa perpanjangan sacromer otot yang menimbulkan adanya perubahan otot saat terjadi kontraksi yang kemudian dilanjutkan dengan adanya perubahan ukuran otot berupa hipertropi, semakin besar diameter serabut otot akan semakin besar kontraksi otot (Irfan, 2010).

(8)

4

melalui kolumna dorsalis medulla spinalis. Sebagian besar input propioseptif menuju serebelum. Impuls yang datang dari alat indra adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi disinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini dari reseptor pada kulit dan jaringan lain serta otot yang diproses di kortek yang akan memberikan kesadaran posisi tubuh saat bergerak untuk mencapai dan mempertahankan keseimbangan tubuh.

Hasil penelitian berdasarkan karateristik responden

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Perlakuan Umur (tahun) Frekuensi (n) Presentase

60-63 2 20%

64-67 4 40%

68-71 3 30%

72-74 1 10%

Total 10 100%

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Kontrol Umur (tahun) Frekuensi (n) Presentase

60-63 1 10%

64-67 5 50%

68-71 0 0%

72-74 4 40%

(9)

5

Tabel 3 Hasil Uji Pengaruh core stability exercise terhadap penurunan risiko jatuh lansia Antara Kelompok Perlakuan dan

Kelompok kontrol

Uji Wilcoxon Z p-value

Pre & Post Test Kelompok

perlakuan

-2,889 0,004

Pre & Post Test Kelompok

kontrol

-2.100 0.036

4. PENUTUP

1. Berdasarkan dari hasil analisa data dan perhitungan statistik disimpulkan bahwa ada pengaruh core stability exercise terhadap penurunan risiko jatuhpada lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Baumhauer, J. 2006. Anatomy and Biomechanics of Foot. Greene:

Netterâs Orthopaedics, 1st ed; 2006 : 659-662.

Ahmadi, R., Hasan. D., & AH Barati., 2012. The Effeck of 6 Weeks Core Stabilization Training Program on The Balance in Mentally Retarded Students. International Journal of Sport Studies.Vol. 2 (10), 496 - 501. Barker, T., Jones, T., & Britton, C. 2000. An Introduction to Grounded Theory.

Diakses pada 7 April 2016.

http://homepages.feis.herts.ac.uk/-comqtb/Grounded Theory Intro.htm.

Barnedh, I.H. 2006. Penilaian Keseimbangan dengan Skala Berg Pada Lansia di

Kelompok Lansia Puskesmas Tebet. Fakultas Kedokteran Universitas

Indosenia : Jakarta. 15 November 2015.

Barr, K.P., Griggs, M., & Cadby, T. 2005. Lumbal Stabilization: Core Concept and Current Literature, part 1. Am J Phys Med Rehabilitation. 2005:84: 473- 480.

Darmojo, B. 2009. Teori Proses Menua. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, pp.3.

Figur

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Perlakuan

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Perlakuan p.8
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Kontrol

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Umur Kelompok Kontrol p.8
Tabel 3 Hasil Uji Pengaruh penurunan risiko jatuh lansia Antara Kelompok Perlakuan dan core stability exercise terhadap Kelompok kontrol

Tabel 3

Hasil Uji Pengaruh penurunan risiko jatuh lansia Antara Kelompok Perlakuan dan core stability exercise terhadap Kelompok kontrol p.9

Referensi

Memperbarui...