40
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
Deskripsi data menjelaskan analisis biomekanika pada gerakan underhand throw boccia yang dilakukan 3 sampel laki-laki dan 3 sampel perempuan. Data ini sebagai gambaran awal yang selanjutnya akan ada analisis gerak menggunakan software kinovea pada hasil berikutnya. Berikut hasil pengukuran pada gerakan gerakan underhand throw boccia ditunjukan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Analisis Biomekanika Gerakan Teknik Underhand Throw Boccia pada Tahap Ayunan Lengan Berdasarkan Jenis Kelamin
No Variabel Biomekanika Atlet Laki-laki Atlet Perempuan Mean SD Mean SD
1 Sudut backswing (0) 155.67 16.803 175 5.508
2 Sudut frontswing (0) 140 15.875 148 15.875
3 Sudut kemiringan lengan pelempar (0) 27 10.392 22.67 5.859 4 Sudut kemiringan lengan yang tidak
melempar (0)
17 9.539 14.67 15.308 5 Sudut kemiringan bahu saat lepasnya
bola (0)
18.33 11.590 18 8.185 6 Sudut follow through (0) 102.67 27.209 98.67 5.686 7 Perlambatan anguler follow through
(rad/s2)
-4.25 3.173 -2.64 1.711 8 Power / Tenaga lengan pelempar (J/s) 16.93 1.146 19.88 3.592
Analisis biomekanika gerakan teknik underhand throw boccia pada tahap ayunan lengan berdasarkan jenis kelamin disajikan pada tabel 4.1. Rata-rata performa atlet laki-laki pada tahap ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 155.670, sudut frontswing sebesar 1400, sudut kemiringan lengan pelempar sebesar 270, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 170, sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola sebesar 18.330, sudut follow through
sebesar 102.670, perlambatan anguler follow through sebesar -4.25 rad/s2, dan power lengan pelempar sebesar 16.93 J/s, sedangkan rata-rata performa atlet perempuan pada tahap ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1750, sudut frontswing sebesar 1480, sudut kemiringan lengan pelempar sebesar 22.670, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 14,670, sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola sebesar 180, sudut follow through sebesar 98.670, perlambatan anguler follow through sebesar -2.64 rad/s2, dan power lengan pelempar sebesar 19.88 J/s.
Tabel 4.2 Analisis Biomekanika Gerakan Teknik Underhand Throw Boccia pada Lintasan Bola Berdasarkan Jenis Kelamin
No Variabel Biomekanika Atlet Laki-laki Atlet Perempuan Mean SD Mean SD 1 Kecepatan bola setelah lepasnya bola
(m/s)
6.03 0.407 7.07 1.275
2 Momentum bola (Ns) 1.73 0.114 2.03 0.365
3 Energi kinetik bola bergerak (J) 5.22 0.693 7.33 2.581 4 Jarak tempuh bola menggelinding (m) 1.80 0.127 2.81 0.880 5 Kecepatan bola menggelinding (m/s) 0.35 0.889 0.44 0.416 6 Gaya gesek kinetik bola
menggelinding (N)
0.01 0.004 0.01 0.003 7 Jarak bola dari sasaran (m) 0.10 0.061 0.04 0.035
Analisis biomekanika gerakan teknik underhand throw boccia pada hasil lemparan berdasarkan jenis kelamin disajikan pada tabel 4.2. Rata-rata performa atlet laki-laki pada hasil lemparan dihasilkan kecepatan bola 6.03 m/s, momentum bola 1.73 Ns, energy kinetic bola bergerak 5.22 J, jarak tempuh bola menggelinding 1.80 m, kecepatan bola menggelinding 0.35 m/s, gaya gesek 0.1 N, dan jarak bola dari sasaran 0.10 m, sedangkan rata-rata performa atlet perempuan pada hasil lemparan dihasilkan kecepatan bola 7.07 m/s, momentum bola 2.03 Ns, energy kinetic bola bergerak 7.33 J, jarak tempuh bola menggelinding 2.81 m, kecepatan bola menggelinding 0.44 m/s, gaya gesek 0.1 N, dan jarak bola dari sasaran 0.04 m.
2. Analisis Gerakan Underhand Throw Boccia
Pada teknik underhand throw boccia, hasil lemparan dipengaruhi oleh gerakan ayunan dan gerakan menggelinding bola. Gerakan ayunan adalah gerakan backswing dan frontswing yang dilakukan dengan sudut tertentu sedangkan gerakan menggelinding bola adalah gerakan berputarnya bola pada satu titik sumbu putar yang mengalami perpindahan tempat sehingga bola memiliki jarak tempuh selama berotasi pada sumbu putarnya. Berikut ini ditampilkan analisis gerakan underhand throw boccia pada atlet laki-laki dan perempuan berupa gambar-gambar yang telah dianalisis menggunakan software kinovea.
a. Atlet Laki-laki
1) Gerakan Ayunan
(a) (b) (c)
(f) (e) (d) Gambar 4.1 Gerakan Ayunan Atlet Laki-laki Sampel 1
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.1 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet laki- laki pada sampel 1. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1410, sudut bahu backswing sebesar 290, sudut frontswing sebesar 1460 dengan waktu frontswing 0.8 detik, sudut follow through sebesar 890 dengan waktu follow through 0.5 detik.
(a) (b) (c)
(f) (e) (d)
Gambar 4.2 Gerakan Ayunan Atlet Laki-laki Sampel 2
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.2 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet laki- laki pada sampel 2. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1740, sudut bahu backswing sebesar 490, sudut frontswing sebesar 1520 dengan waktu frontswing 0.2 detik, sudut follow through sebesar 1340 dengan waktu follow through 2.0 detik.
(a) (b) (c)
(d) (e) (f) Gambar 4.3 Gerakan Ayunan Atlet Laki-laki Sampel 3
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.3 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet laki- laki pada sampel 3. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1520, sudut bahu backswing sebesar 200, sudut frontswing sebesar 1220 dengan waktu frontswing 0.6 detik, sudut follow through sebesar 850 dengan waktu follow through 0.5 detik.
2) Posisi Kemiringan Lengan
(a) (b) (c)
Gambar 4.4 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Laki-laki Sampel 1 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.4 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet laki-laki pada sampel 1 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melemparsebesar 120, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 330, dan sudut bahu lengan yang melemparsebesar 290.
(a) (b) (c)
Gambar 4.5 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Laki-laki Sampel 2 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.5 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet laki-laki pada sampel 2 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melemparsebesar 280, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 150, dan sudut bahu lengan yang melemparsebesar 60.
(a) (b) (c)
Gambar 4.6 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Laki-laki Sampel 3 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.6 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet laki-laki pada sampel 3 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melemparsebesar 110, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 330, dan sudut bahu lengan yang melempar sebesar 200.
3) Lintasan Bola
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.7 Lintasan Bola Atlet Laki-laki Sampel 1
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.7 menunjukan lintasan bola atlet laki-laki pada sampel 1. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 280 dan ketinggian bola 0.53 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 3.26 meter, jarak bola menggelinding sejauh 1.78 meter dengan waktu bola menggelinding 4.2 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.15 meter
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.8 Lintasan Bola Atlet Laki-laki Sampel 2
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.8 menunjukan lintasan bola atlet laki-laki pada sampel 2. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 460 dan ketinggian bola 1.21 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 3.15 meter, jarak bola menggelinding sejauh 1.94 meter dengan waktu bola menggelinding 7.8 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.03 meter
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.9 Lintasan Bola Atlet Laki-laki Sampel 3
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.9 menunjukan lintasan bola atlet laki-laki pada sampel 3. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 360 dan ketinggian bola 1.12 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 3.86 meter, jarak bola menggelinding sejauh 1.69 meter dengan waktu bola menggelinding 4.5 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.11 meter
b. Atlet Perempuan 1) Gerakan Ayunan
(a) (b) (c)
(f) (e) (d)
Gambar 4.10 Gerakan Ayunan Atlet Perempuan Sampel 1
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.10 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 1. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1810, sudut bahu backswing sebesar 130, sudut frontswing sebesar 1660 dengan waktu frontswing 0.8 detik, sudut follow through sebesar 1050 dengan waktu follow through 1.2 detik.
(a) (b) (c)
(f) (e) (d)
Gambar 4.11 Gerakan Ayunan Atlet Perempuan Sampel 2
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.11 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 2. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1700, sudut bahu backswing sebesar 40, sudut frontswing sebesar 1360 dengan waktu frontswing 0.4 detik, sudut follow through sebesar 940 dengan waktu follow through 0.6 detik.
(a) (b) (c)
(f) (e) (d)
Gambar 4.12 Gerakan Ayunan Atlet Perempuan Sampel 3
(a) sudut backswing; (b) sudut bahu backswing; (c) sudut frontswing; (d) waktu frontswing; (e) sudut follow through; (f) waktu followthrough
Gambar 4.12 menunjukan gerakan ayunan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 3. Berdasarkan gambar, gerakan ayunan dilakukan dengan sudut backswing sebesar 1760, sudut bahu backswing sebesar 420, sudut frontswing sebesar 1420 dengan waktu frontswing 0.4 detik, sudut follow through sebesar 970 dengan waktu follow through 0.9 detik.
2) Posisi Kemiringan Lengan
(a) (b) (c)
Gambar 4.13 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Perempuan Sampel 1 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.13 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 1 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melemparsebesar 90, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 250, dan sudut bahu lengan yang melemparsebesar 250.
(a) (b) (c)
Gambar 4.14 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Perempuan Sampel 2 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.14 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 2 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 320, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 270, dan sudut bahu lengan yang melempar sebesar 200.
(a) (b) (c)
Gambar 4.15 Posisi Kemiringan Lengan Atlet Perempuan Sampel 3 (a) sudut lengan yang tidak melempar; (b) sudut lengan yang melempar;
(c) sudut bahu lengan yang melempar
Gambar 4.15 menunjukan kemiringan lengan yang dilakukan atlet perempuan pada sampel 3 saat melakukan lemparan. Berdasarkan gambar, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 30, sudut kemiringan lengan yang melempar sebesar 160, dan sudut bahu lengan yang melempar sebesar 90.
3) Lintasan Bola
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.16 Lintasan Bola Atlet Perempuan Sampel 1
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.16 menunjukan lintasan bola atlet perempuan pada sampel 1. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 310 dan ketinggian bola 0.61 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 3 meter, jarak bola menggelinding sejauh 2.31 meter dengan waktu bola menggelinding 5.6 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.08 meter
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.17 Lintasan Bola Atlet Perempuan Sampel 2
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.17 menunjukan lintasan bola atlet perempuan pada sampel 2. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 60 dan ketinggian bola 0.21 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 1.47 meter, jarak bola menggelinding sejauh 3.83 meter dengan waktu bola menggelinding 8.9 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.01 meter
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 4.18 Lintasan Bola Atlet Perempuan Sampel 3
(a) sudut elevasi; (b) ketinggian bola; (c) jarak tempuh flight; (d) jarak tempuh bola menggelinding; (e) waktu bola menggelinding; (f) jarak bola
dari sasaran
Gambar 4.18 menunjukan lintasan bola atlet perempuan pada sampel 3. Berdasarkan gambar, sudut elevasi yang dibentuk sebesar 190 dan ketinggian bola 0.76 meter menghasilkan jarak tempuh flight sejauh 3.18 meter, jarak bola menggelinding sejauh 2.30 meter dengan waktu bola menggelinding 4.7 detik, dan jarak bola dari sasaran sejauh 0.04 mete
B. Uji Normalitas Data
Tabel 4.3 Uji Normalitas Data Biomekanika Teknik Underhand Throw Boccia Berdasarkan Jenis Kelamin
Variabel Biomekanika sig (p) Makna Ket
1 Sudut backswing (0) 0.518 p > 0.05 Normal
2 Sudut frontswing (0) 0.996 p > 0.05 Normal
3 Sudut kemiringan lengan pelempar (0) 0.518 p > 0.05 Normal 4 Sudut kemiringan lengan yang tidak
melempar (0)
0.518 p > 0.05 Normal 5 Sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola
(0)
0.996 p > 0.05 Normal 6 Sudut follow through (0) 0.518 p > 0.05 Normal 7 Perlambatan anguler follow through (rad/s2) 0.518 p > 0.05 Normal 8 Power / Tenaga lengan pelempar (J/s) 0.518 p > 0.05 Normal 9 Kecepatan bola setelah lepasnya bola (m/s) 0.518 p > 0.05 Normal
10 Momentum bola (Ns) 0.518 p > 0.05 Normal
11 Energi kinetik bola bergerak (J) 0.518 p > 0.05 Normal 12 Jarak tempuh bola menggelinding (m) 0.100 p > 0.05 Normal 13 Kecepatan bola menggelinding (m/s) 0.518 p > 0.05 Normal 14 Gaya gesek kinetik bola menggelinding (N) 0.996 p > 0.05 Normal 15 Jarak bola dari sasaran (m) 0.518 p > 0.05 Normal
Uji normalitas data ditunjukan tabel 4.3 yang menunjukan bahwa nilai sig pada data biomekanika teknik underhand throw boccia antara atlet laki-laki dan perempuan lebih besar dari taraf signifikansi 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Oleh karena itu, pengujian perbedaan dapat dilakukan dengan uji parametric independent t-test.
C. Hasil Analisis Data
Setelah dilakukan pengukuran akurasi hasil lemparan pada teknik underhand throw boccia, kemudian dilakukan uji perbedaan antara sampel laki-laki dan perempuan. Hasil uji perbedaan ditunjukan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.4 Uji Perbedaan Pada Teknik Underhand Throw Boccia Berdasarkan Jenis Kelamin
Variabel Biomekanika thitung sig (p) Makna
1 Sudut backswing (0) 1.959 0.122 p > 0.05
2 Sudut frontswing (0) 0.617 0.570 p > 0.05
3 Sudut kemiringan lengan pelempar (0) 0.629 0.563 p > 0.05 4 Sudut kemiringan lengan yang tidak
melempar (0)
0.224 0.834 p > 0.05 5 Sudut kemiringan bahu saat lepasnya
bola (0)
0.041 0.969 p > 0.05 6 Sudut follow through (0) 0.249 0.815 p > 0.05 7 Perlambatan anguler follow through
(rad/s2)
0.771 0.484 p > 0.05 8 Power / Tenaga lengan pelempar (J/s) 1.351 0.248 p > 0.05 9 Kecepatan bola setelah lepasnya bola
(m/s)
1.345 0.250 p > 0.05
10 Momentum bola (Ns) 1.359 0.246 p > 0.05
11 Energi kinetik bola bergerak (J) 1.363 0.244 p > 0.05 12 Jarak tempuh bola menggelinding (m) 1.967 0.121 p > 0.05 13 Kecepatan bola menggelinding (m/s) 1.647 0.175 p > 0.05 14 Gaya gesek kinetik bola menggelinding
(N)
0.000 1.000 p > 0.05 15 Jarak bola dari sasaran (m) 1.311 0.260 p > 0.05
Perbedaan rata-rata pada teknik underhand throw boccia berdasarkan jenis kelamin disajikan pada tabel 4.4. Dari pengujian perbedaan dengan analisis statistic independent t-test dihasilkan nilai thitung pada kelompok laki-laki dan perempuan ternyata lebih kecil dari nilai ttabel dengan df = 4 dengan taraf signifikansi 5% adalah sebesar 2.776 sedangkan berdasarkan nilai p (signifikansi perhitungan) nilainya lebih besar dari 0.05 (taraf signifikansi 5%), sehingga dapat disimpulkan bahwa H0
diterima maka antara kelompok laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan pada biomekanika underhand throw boccia dalam upaya mencapai akurasi hasil lemparan.
D. Pengujian Hipotesis
1. Pengujian Hipotesis 1: Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Biomekanika Underhand Throw Boccia
Dari hasil analisis independent t-test pada data biomekanika underhand throw boccia yang meliputi sudut backswing, sudut bahu backswing, sudut frontswing, waktu frontswing, kecepatan anguler frontswing, percepatan anguler frontswing, sudut kemiringan lengan pelempar, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar, sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola, sudut bahu follow through, waktu follow through, perlambatan anguler follow through, power / tenaga lengan pelempar, sudut elevasi bola, jarak tempuh bola flight, kecepatan bola setelah lepasnya bola, momentum bola, energi kinetik bola bergerak, ketinggian bola, jarak tempuh bola menggelinding, waktu bola menggelinding, kecepatan bola menggelinding, percepatan bola menggelinding, gaya yang berlawanan dengan gaya gesek pada bola menggelinding (gaya searah lemparan), gaya gesek kinetik bola menggelinding, jarak bola dari sasaran, diperoleh nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% yaitu 2.776. Karena nilai thitung< ttabel maka tidak ada signifikansi, hal ini berarti bahwa biomekanika underhand throw boccia tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin.
2. Pengujian Hipotesis 2: Kemampuan Underhand Throw Boccia yang Paling Baik antara Laki-Laki dan Perempuan
Permainan boccia adalah permainan akurasi sehingga kemampuan underhand throw boccia dapat dilihat berdasarkan akurasi bola pada sasaran.
Hasil analisis data menunjukan bahwa rata-rata jarak bola dari sasaran pada pemain laki-laki sejauh 1.311 meter, sedangkan pada pemain perempuan sejauh
0.26 meter. Hal ini berarti bahwa akurasi pada pemain perempuan lebih mendekati titik sasaran jika dibandingkan pemain laki-laki.
E. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan independent t test antara atlet laki-laki dan perempuan pada data biomekanika underhand throw boccia dihasilkan nilai thitung < ttabel yang berarti hipotesis nol diterima. Hal ini menunjukan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan pada data biomekanika underhand throw boccia antara atlet laki-laki dan perempuan. Mendukung hasil penelitian ini, hasil penelitian Gromeiler et al (2017) juga menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistic ditemukan antara jenis kelamin dalam akurasi lemparan. Mengenai evaluasi kualitatif gerakan lempar, atlet laki-laki dan perempuan berbeda nyata. Atlet laki-laki dan perempuan menunjukan pola gerakan yang sama pada gerakan humerus dan lengan bawah, tetapi berbeda dalam aksi trunk, stepping, dan backswing. Sedangkan pada penelitian ini, ketika membandingkan kinematika tubuh gerakan underhand throw pada atlet laki-laki dan perempuan, atletperempuan memiliki sudut ayunan (backswing dan frontswing) yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.
Meskipun tidak signifikan, perempuan juga memiliki power dan perlambatan follow through yang lebih besar (P: 1750, 1480, 19.88 J/s, -2.64 rad/s2; L: 155.670, 1400, 16.93 J/s, -4.25 rad/s2), sedangkan kemiringan tubuh bagian atas saat melakukan lemparan menunjukan bahwa laki-laki lebih memiringkan tubuhnya ketika melempar bola yaitu dengan sudut kemiringan lengan pelempar sebesar 270, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 170, dan sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola sebesar 18.330, sedangkan pada perempuan dilakukan dengan sudut kemiringan lengan pelempar sebesar 22.670, sudut kemiringan lengan yang tidak melempar sebesar 14.670, dan sudut kemiringan bahu saat lepasnya bola sebesar 180.
Boccia adalah permainan yang dilakukan dengan melempar bola kulit berwarna merah atau biru sedekat mungkin dengan bola target putih atau jack. Setiap
atlet harus mampu melempar dengan lebih akurat menggunakan teknik lemparan salah satunya teknik underhand throw boccia. Oleh karena itu, akurasi pada permainan boccia adalah yang terpenting. Ketika membandingkan akurasi hasil lemparan antara atlet laki-laki dan perempuan, rata-rata jarak bola dari sasaran pada atlet perempuan lebih dekat dengan sasaran dibandingkan atlet laki-laki yaitu rata- rata jarak bola dari sasaran pada atlet perempuan sejauh 0.04 meter sedangkan pada atlet laki-laki sejauh 0.10 meter. Meskipun tidak begitu signifikan, energy kinetik bola bergerak dan momentum bola pada atlet perempuan lebih besar sehingga menghasilkan kecepatan bola menggelinding lebih cepat dengan jarak tempuh bola menggelinding lebih jauh sehingga lebih mendekati sasaran. Pada atlet perempuan, energy kinetik bola bergerak sebesar 7.33 J, momentum bola sebesar 2.03 Ns, kecepatan bola menggelinding 0.44 m/s, dan jarak tempuh bola menggelinding sejauh 2.81 m, sedangkan pada atlet laki-laki dihasilkan energy kinetik bola bergerak sebesar 5.22 J, momentum bola sebesar 1.73 Ns, kecepatan bola menggelinding 0.35 m/s, dan jarak tempuh bola menggelinding sejauh 1.80 m.
Penelitian ini menunjukan bahwa atlet perempuan lebih baik dalam hal akurasi, hal ini dilihat dari jarak bola permainan yang dilempar lebih mendekati bola jack dengan jarak rata-rata 0.04 meter, sedangkan atlet laki-laki dengan jarak rata-rata 0.10 meter. Ini terjadi karena atlet perempuan memiliki sudut ayunan yang lebih besar daripada atlet laki-laki yang menghasilkan bola melaju lebih cepat. Sesuai dengan hasil penelitian ini, hasil review menyatakan bahwa pemain dengan sudut siku yang lebih besar dan sudut perpindahan siku yang lebih tinggi pada saat pelepasan lemparan bola, menghasilkan lemparan yang lebih cepat (Vila & Ferragut, 2019). Perbedaan gerakan dapat terjadi karena intensitas latihan yang berbeda, penguasaan teknik lemparan, pengalaman bertanding, dan profil morfologi pada masing-masing jenis kelamin yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan hasil review bahwa ukuran tangan dan panjang jari adalah faktor antropometri yang utama yang berhubungan dengan hasil lemparan, selain itu pemain mampu mencapai kecepatan lempar yang tinggi tanpa kehilangan akurasi jika mereka
melakukan sesi latihan (Vila & Ferragut, 2019). Sedangkan terkait akurasi hasil lemparan, antara atlet perempuan dan laki-laki akurasinya tidak jauh berbeda. Senada dengan pernyataan ini, Crozier et al (2019) menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin tetap ada pada individu yang tidak ada pengalaman dalam melempar, berbeda dengan perempuan yang memiliki pengalaman melempar mencapai kinerja yang sama seperti laki-laki.
66