1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Coronavirus merupakan virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Manusia yang terjangkit virus ini akan mengalami penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan, baik flu ringan hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), hingga infeksi saluran pernapasan akut berat atau yang lebih dikenal dengan nama Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Beberapa waktu kemudian, ditemukan kembali coronavirus jenis baru yang ditemukan oleh ilmuwan pada kejadian di Wuhan, Cina, pada akhir tahun 2019 yang kemudian coronavirus tersebut diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2) yang menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) (Isbaniah et al., 2020)
Hingga pada awal bulan Desember 2020, World Health Organization (WHO) mengonfirmasi bahwa kasus COVID-19 ini di seluruh dunia mencapai 65.200.000 kasus, termasuk 1.510.000 orang meninggal dunia (WHO, 2020). Di Indonesia sendiri, terhitung sejak kasus COVID-19 pertama, yaitu pada awal Maret 2020 hingga pertengahan bulan Februari 2021, tercatat bahwa terdapat 1.223.930 kasus positif yang telah dikonfirmasi, 1.032.065 pasien sembuh, dan 33.367 pasien meninggal dunia (covid19.go.id, 2020). Saat ini, kasus baru COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan lebih dari 1000-1500 jiwa per hari. Bahkan, Satgas Penanganan COVID-19 di beberapa wilayah yang terdiri dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Selatan menyatakan bahwa pada
2 pertengahan Januari 2021 terjadi peningkatan kasus positif tertinggi, yaitu lebih dari 14.000 kasus baru, yang sebelumnya hanya mengalami kenaikan sebesar 2000- 4000 kasus per minggu (Saputri, 2021). Realita ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat satu di Asia Tenggara sebagai negara dengan jumlah kasus baru COVID-19 paling tinggi. Banyaknya kasus baru COVID-19 bukan hanya diakibatkan oleh tidak siapan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini, namun disisi lain masyarakat juga belum menaruh perhatian lebih akan dampak dari virus ini. Hal ini yang mendasari upaya pemerintah dalam menekan persebaran virus ini dengan membuat tim kerja gugus tugas (Satgas) dari pemerintah pusat hingga ke pemerintah daerah (Pramono & Raharjo, 2020)
Gambar 1. 1 Diagram Informasi Persebaran COVID-19 di Indonesia
Sumber: https://covid19.go.id/peta-sebaran
Dikarenakan kasus baru COVID-19 di Indonesia sampai saat ini masih menyebar ke seluruh penjuru negeri, maka pemerintah perlu mengambil langkah serius dalam menghadapi permasalahan ini. Masyarakat terus mendesak
3 pemerintah untuk segera menerapkan Undang-undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dalam upaya mencegah dan menangkal keluar masuknya virus COVID-19 yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.
Hal ini penting dilakukan karena COVID-19 ini merupakan situasi di mana kesehatan masyarakat dikategorikan menjadi bencana darurat penyakit menular.
Pemerintah dalam hal ini memiliki kewajiban yang telah diatur dalam Undang- undang Kekarantinaan Kesehatan yaitu pemerintah pusat wajib memenuhi kebutuhan hidup dasar berupa kebutuhan pelayanan kesehatan, kebutuhan pangan, dan kebutuhan hidup sehari-hari bagi orang dan makanan hewan ternak yang berada di karantina rumah.1
Secara rinci, karantina dibahas dalam Undang-undang Kekarantinaan Kesehatan. Namun saat ini pemerintah perlu memfokuskan pada karantina wilayah dikarenakan perkembangan jumlah kasus yang terus meningkat hingga mengakibatkan terjadinya keadaan tertentu sehingga pemerintah melakukan upaya penanganan, salah satunya dengan karantina wilayah atau yang lebih umum diketahui masyarakat dengan tindakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) (Hakim, 2020). Kebijakan ini didasari dari Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 di Indonesia. Secara umum, kebijakan ini mengatur tentang pembatasan pergerakan orang dan barang yang hendak keluar masuk
1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 Pasal 52 ayat 1 tentang Kekarantinaan Kesehatan
4 provinsi, kabupaten, atau kota dengan memperhatikan dan melalui pertimbangan beberapa hal yang telah tercantum dalam PP PSBB. Bentuk dari PSBB ini berupa transisi kegiatan di sekolah, tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan juga pembatasan kegiatan di tempat dan fasilitas umum.2
Kebijakan PSBB ini berbeda antar daerah karena tiap daerah memiliki fenomena yang berbeda-beda. Kota Malang beserta Kabupaten Malang dan Kota Batu telah mengusulkan PSBB kepada Menteri Kesehatan, yang kemudian hasil dari usulan tersebut diterima dan melahirkan Peraturan Walikota Malang Nomor 17 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Disease 2019 (COVID-19) (Hartik, 2020).
Walikota Malang menerapkan kebijakan PSBB untuk Kota Malang tertanggal 17 Mei 2020 dengan mulai mengganti proses pembelajaran menjadi daring dari tingkat PAUD hingga Universitas. Selain itu, Pemerintah Kota Malang menutup tempat wisata sebagai bentuk tindakan preventif dalam memutus mata rantai dan sebagai bentuk antisipasi agar penyebaran virus COVID-19 tidak semakin meluas di Kota Malang (Lestari, 2020)
Berdasarkan Perwali mengenai PSBB, seluruh elemen masyarakat wajib mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Pemerintah juga mewajibkan masyarakat untuk melakukan cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, selain itu pemerintah juga
2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2020 Pasal 4 Ayat 1 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
5 mewajibkan masyarakat untuk mengenakan masker, baik medis maupun non medis, dan juga menjaga jarak (physical distancing) minimal satu meter.
Masyarakat juga dilarang untuk menghindari kerumunan dan melakukan isolasi mandiri baik di rumah ataupun di ruang isolasi yang telah disediakan sesuai dengan protokol kesehatan.3
Kebijakan Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Kota Malang dilaksanakan selama empat belas hari, dimulai dari tanggal 17 Mei 2020 hingga 30 Mei 2020 dan tidak diperpanjang. Selanjutnya Kota Malang memasuki masa transisi menuju kehidupan new normal di masa pandemi COVID-19.
Kebijakan new normal merupakan babak transisi menuju tatanan kehidupan normal baru. Kebijakan ini merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan PSBB yang telah dianalisa oleh Gubernur Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai Kota Malang telah berhasil mengontrol penyebaran virus COVID-19 (Kurniawan, 2020)
Tabel 1. 1 Data Persebaran COVID-19 Kota Malang Selama PSBB
17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
ODP 833 838 841 846 853 856 866 868 870 874 883 889 897 898
PDP 213 216 220 218 223 228 229 233 235 241 242 243 246 249 Confirm 26 27 27 27 30 32 35 35 34 34 41 41 47 47
Sembuh 125 126 127 130 130 130 130 130 134 134 134 134 141 141
3 Peraturan Walikota Malang Nomor 17 Tahun 2020 Pasal 5 ayat 4 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
6
Meninggal 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18
Sumber: https://malangkota.go.id/tag/COVID-19/
Berdasarkan data persebaran COVID-19 di Kota Malang pada saat PSBB berlangsung, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan, baik orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), orang yang terkonfirmasi, pasien sembuh, dan juga pasien meninggal. Walaupun terjadi peningkatan setiap harinya, namun kondisi ini dinilai Gubernur Jawa Timur berhasil mengontrol penyebaran virus COVID-19. Sejak diberlakukan kebijakan transisi menuju tatanan kehidupan baru (new normal) di Kota Malang, dalam satu bulan terjadi peningkatan kasus baru COVID-19 hingga 217 kasus (Firdausi, 2020). Kondisi ini mengakibatkan Kota Malang dinilai belum mampu untuk menerapkan new normal yang nantinya akan dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Peningkatan kasus baru COVID-19 ini mengakibatkan Kota Malang kembali menjadi kawasan zona merah yang disebabkan oleh kegiatan perkantoran, kegiatan akademik di perguruan tinggi, dan pekerja lapangan yang mengharuskan pertemuan tatap muka di suatu ruangan. Beberapa pihak tidak mematuhi protokol kesehatan yang menyebabkan angka penularan COVID-19 kembali meningkat (Irawati, 2020).
Sejak meningkatnya kembali kasus COVID-19 di Indonesia setelah PSBB, maka kemudian pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengatasi penyebaran virus COVID-19, baik di lingkup pusat maupun daerah. Perkembangan kasus positif yang telah dikonfirmasi, hingga pada awal Januari 2021 lalu tercatat bahwa kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai angka satu juta kasus (covid.go.id, 2021). Di Kota Malang sendiri, hingga akhir Desember 2020 kasus positif COVID-
7 19 yang terkonfirmasi sebanyak 3.699 jiwa. Dalam perkembangan kasusnya, grafik persebaran COVID-19 di Kota Malang mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mulai dari suspek, pasien positif, pasien sembuh, dan juga pasien meninggal. Kenaikan jumlah kasus baru di Kota Malang dapat terbilang cukup tinggi, terutama di bulan Juli hingga Desember 2020.
Tabel 1. 2 Data Persebaran COVID-19 di Kota Malang
Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Suspek 233 883 1153 1368 1749 2040 2358 2941 3555 4385
Positif 4 17 50 210 654 1265 1780 2036 2277 3699
Sembuh 3 72 143 195 354 802 1495 1814 2037 3012
Meninggal 2 10 18 15 54 106 170 205 234 366
Sumber: https://malangkota.go.id/tag/COVID-19/
Untuk menekan kenaikan angka yang terus menunjukkan peningkatan yang signifikan, diperlukan langkah yang optimal dengan melibatkan pihak-pihak pendukung masyarakat. Pentahelix sebagai salah satu perspektif yang digunakan dalam menangani laju percepatan virus COVID-19 di Indonesia. Konsep ini melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media dengan pemerintah sebagai inisiator pengambilan kebijakan (Latif et al., 2020). Perspektif ini berasal dari tesis yang diterbitkan pada pertengahan tahun 1990 dengan nama Triple Helix, yaitu konsep elaborasi yang melibatkan hubungan tiga pemangku
8 kepentingan dalam mengembangkan bisnis, yaitu universitas, industri, dan pemerintah. Model hubungan ini merupakan model alternatif dalam penelitian sosial. Komunikasi dan negosiasi antar mitra kelembagaan yang tumpang tindih mengakibatkan penataan ulang peraturan yang mendasari hubungan tersebut (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000).
Semakin lama kebutuhan untuk mengembangkan perusahaan di bidang bisnis semakin kompleks dan semakin kompetitif. Maka kemudian lahirlah penerapan model Quadruple Helix dalam mengembangkan bisnis perusahaan di ruang lingkup internasional. Yang menambahkan komunitas sebagai pemangku kepentingan lain yang bergabung dalam konsep ini. Model ini dapat dikatakan sebagai kolaborasi empat pemangku kepentingan yang terdiri dari government, academician, business, dan civil society (Ivanova, 2014).
Model Quintuple Helix pada awalnya merupakan inovasi dalam mengatasi masalah dengan kolaborasi lima sektor, yaitu akademisi, bisnis, pemerintah, media, dan sumber daya alam. Selanjutnya, Calzada (2017) pada Halibas dkk. (2017) menyebutkan bahwa konsep penta helix merupakan model kerja sama dengan lima komponen, yaitu pemerintah, akademisi, private sector, civil society, dan pengaruh sosial (Carayannis et al., 2012). Di Indonesia sendiri, konsep penta helix yang dikemukakan oleh Awaludin dkk (2016) terdiri dari pemerintah, bisnis, akademisi, komunitas, dan media, atau singkatnya dapat disebut konsep ABGCM (Awaluddin et al., 2016).
9 Konsep pentahelix sebagai perspektif penanganan COVID-19 di Indonesia sebelumnya telah diterapkan di berbagai kota. Di Kota Surabaya, dalam penanganan COVID-19 yang melibatkan komunitas sebagai garda terdepan mengutamakan komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan, dalam hal ini meliputi pemerintah, swasta, akademisi, dan media dalam penanganan COVID- 19 (Sunuantari & Zarkasi, 2020). Di Kota Cimahi, Jawa Barat, konsep pentahelix dalam percepatan penanganan COVID-19 masing-masing pemangku kepentingan memliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Sinergi antar sektor memberikan kesadaran masyarakat untuk saling membantu dalam mitigasi bencana yang merujuk pada COVID-19 di Kota Cimahi (Baihaki et al., 2020). Selain itu juga terdapat konsep pentahelix dalam penanganan COVID-19 di Kota Pekalongan, yang melibatkan ke-lima sektor tersebut yang mengambil peranan berdasarkan kapabilitasnya (Latif et al., 2020).
Tabel 1. 3 Data Persebaran COVID-19 di Kec. Blimbing, Kota Malang
Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Suspect 42 132 242 269 353 412 489 630 772 955 1115 Positif 1 3 20 70 177 318 447 508 575 896 1347 Sembuh 1 3 5 18 115 222 386 456 517 729 1116
Meninggal 0 0 2 5 12 20 42 48 58 84 109
Sumber: https://malangkota.go.id/tag/COVID-19/
Berdasarkan data di atas, tiap bulannya Kecamatan Blimbing Kota Malang mengalami kenaikan yang signifikan, baik dari suspek, kasus positif, pasien sembuh, dan pasien meninggal. Meskipun pasien suspek dan positif setiap harinya semakin
10 banyak, pasien yang sembuh juga sama banyaknya. Kecamatan Blimbing sejajar dengan Kecamatan Lowokwaru, Kecamatan Sukun, dan Kecamatan Kedungkandang yang terdapat kasus positif COVID-19. Namun seiring berjalannya waktu, Kecamatan Blimbing mampu menekan laju percepatan kasus baru COVID-19. Alasan penulis melakukan penelitian skripsi ini yaitu untuk melihat sejauh mana pentahelix ini diterapkan dalam penanganan COVID-19 di Kelurahan Purwodadi dan juga lokasi penelitian yang merupakan lokasi yang strategis dalam hal potensi yang melibatkan aktor-aktor pentahelix. Penelitian ini selengkapnya akan membahas bagaimana hubungan kemitraan pemerintah Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang dalam penanganan COVID-19 yang melibatkan sektor-sektor lainnya, yaitu swasta, akademisi, komunitas, dan media. Kelurahan Purwodadi dinilai mampu menekan laju percepatan kasus baru COVID-19.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka ada pun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kemitraan kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan Model Pentahelix di Kota Malang?
2. Bagaimana hambatan dalam pelaksanaan kemitraan kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan Model Pentahelix di Kota Malang?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan:
11 1. Untuk mengetahui kemitraan kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan
Model Pentahelix di Kota Malang.
2. Untuk mengetahui hambatan dalam pelaksanaan kemitraan kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan Model Pentahelix di Kota Malang.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat, baik berupa manfaat teoritis, praktis, maupun akademis.
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teori, hasil dari penelitian ini diharapkan mampu mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang collaborative governance, khususnya kelurahan dengan mitra-mitranya dalam model pentahelix sebagai upaya penanganan COVID-19 di Kota Malang.
b. Dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya mengenai kemitraan kelurahan dengan model pentahelix terkait penanganan COVID-19.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan kajian dan sumbangsih pemikiran bagi upaya pengembangan Ilmu Pemerintahan, khususnya pada konsep dari collaborative governance atau kerja sama antar mitra pemerintah.
b. Sebagai bahan masukan bagi stakeholder yang terlibat dalam menangani COVID-19 yang ikut berperan aktif dalam program pemerintah menghadapi bencana sosial.
12 3. Manfaat Akademis
a. Memberikan pengetahuan dan wawasan bagi penulis dan pembaca tentang penanganan COVID-19 menggunakan model pentahelix yang menggunakan konsep collaborative governance.
b. Memberikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya terkait dengan collaborative governance dengan model pentahelix, terkhusus di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
1.5 Definisi Konseptual
Definisi konseptual merupakan pengertian atau definisi yang masih terkonsep.
Definisi konseptual memberikan informasi berupa definisi abstrak yang dapat dipahami maknanya secara intuitif. (Azwar, 2007). Definisi-definisi yang tersusun dapat memberikan gambaran karakteristik dari konsep-konsep yang akan digunakan dalam hasil penelitian. Dengan demikian, peneliti memberikan beberapa konsep yang berkaitan dengan penelitian, di antaranya:
1. Manajemen Penanganan COVID-19
Manajemen penanganan COVID-19 merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, dalam hal ini merujuk pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang bersepakat untuk menjalankan percepatan penanganan pandemi dan wabah COVID-19. Hal ini merupakan implementasi dari definisi bencana yang diatur dalam Undang- Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanganan Bencana, karena pandemi dan wabah COVID-19 yang tengah melanda dikategorikan sebagai bencana non alam yang juga ikut berdampak pada kehidupan dan penghidupan masyarakat.
13 Kebijakan penanganan COVID-19 juga diperkuat dengan peraturan lainnya, dalam hal ini mencakup UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan UU No. 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.
Manajemen pemerintah daerah dalam penanganan COVID-19 memiliki tujuan untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19 di daerah-daerah yang sinkron dengan kebijakan pemerintah pusat. Kemudian meningkatkan koordinasi dan harmonisasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam sinkronisasi program dan anggaran. Juga meningkatkan partisipasi private sector serta masyarakat dalam hal pencegahan dan penanganan pandemi COVID-19 secara terencana dan komprehensif. Dalam hal ini, pemerintah tidak mampu menangani pandemi ini secara mandiri. Diperlukan strategi nasional dan juga melibatkan sektor-sektor lainnya dalam menangani COVID-19 yang kasusnya bertambah setiap harinya. (Putra et al., 2020)
2. Konsep Kerja Sama Model Pentahelix
Konsep Pentahelix merupakan konsep kerja sama antar lima sektor yang saling berkoordinasi. Lima sektor tersebut terdiri dari lini pemerintah, akademik, swasta atau pengusaha, komunitas masyarakat, dan pers atau media yang memiliki tujuan untuk mengembangkan perekonomian di suatu daerah.
Dalam menangani pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia, pelaksanaan model pentahelix di Indonesia dalam menangani kasus COVID-19 ini dilakukan oleh pemerintah yang menggandeng pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya yang memiliki peran dan fungsi masing-masing namun tetap terintegrasi antara satu dengan yang lainnya. (Nurulwahida et al., 2020)
14 Selain dalam kajian penanganan COVID-19, konsep pentahelix juga digunakan dalam berbagai kajian. Konsep pentahelix digunakan dalam beberapa penelitian, diantaranya sebagai strategi peningkatan literasi pasar modal di lingkup masyarakat (Awwal & Rini, 2019), pemulihan pariwisata pasca bencana (Rizkiyah et al., 2019), mengembangkan pariwisata di berbagai daerah (Nurulwahida et al., 2020), dan juga mengembangkan UMKM di berbagai daerah (Izzah, 2018).
1.6 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan pengidentifikasian acuan konsep yang akan didefinisikan dengan menggunakan kondisi, bahan, dan prosedur yang berlaku.
Pengidentifikasian tiap variabel konsep yang masih bersifat abstrak dan umum ini diperlukan untuk memudahkan analisis penelitian mendatang. (Silalahi, 2012).
Pendefinisian secara operasional ini juga akan mengurangi kesalahan dalam pengamatan penelitian. Maka dari itu peneliti memberikan variabel-variabel yang akan didefinisikan sebagai berikut:
a. Adanya inisiasi kerja sama dan pemetaan aktor dalam penanganan pandemi COVID-19.
b. Penetapan program kerja yang dibuat oleh masing-masing stakeholder yang terlibat sesuai dengan protokol kesehatan.
c. Pelaksanaan kerja sama yang melibatkan stakeholder terkait.
1) Koordinasi melalui dialog tatap muka dengan para stakeholder.
2) Sinkronisasi antar stakeholder yang terlibat.
3) Kerja sama yang melibatkan seluruh stakeholder yang terlibat.
15 d. Monitoring dan evaluasi penanganan COVID-19 di Kelurahan
Purwodadi.
e. Pelaporan pertanggung jawaban kegiatan dan juga memberikan hasil dari penanganan COVID-19 di Kelurahan Purwodadi.
1. Hambatan yang dialami ketika menggunakan konsep Collaborative Governance.
a. Kurangnya koordinasi antar stakeholder yang terlibat.
b. Komitmen dalam proses kerja sama yang belum sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
1.7 Metode Penelitian A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Menurut Creswell, penerapan metode penelitian kualitatif ini dimulai dengan asumsi, interpretasi / teoretis dan masalah penelitian yang meneliti cara individu atau kelompok menafsirkan masalah sosial atau kemanusiaan. Mampu menggambarkan masalah mendalam atau terperinci dari masalah yang diangkat dan juga dapat dengan jelas menganalisis dalam bentuk fakta dan bukti dengan mengumpulkan dan menampilkan data.
(Creswell, 2015a). Studi deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang situasi di lapangan nanti. Selain itu, ini juga merupakan prosedur pemecahan masalah yang telah dipelajari dengan bergerak, menggambarkan keadaan subjek, objek penelitian saat ini didasarkan pada fakta-fakta yang terjadi. (Nawawi, 2003).
16 Dengan demikian, maka laporan penelitian nantinya akan berisikan kutipan-kutipan dari naskah, wawancara, foto, catatan lapangan dan berbagai dokumen resmi lainnya. Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan, maka fokus penelitian ini mengenai bagaimana Kemitraan Pemerintah Kelurahan Dalam Penanganan COVID-19 Dengan Model Pentahelix di Kota Malang.
B. Sumber Data a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan melakukan penelitian secara langsung yang dihasilkan oleh wawancara. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh penjelasan dan informasi tambahan dalam pengetahuan tentang fakta fenomena dan peneliti yang diamati akan melakukan wawancara dengan subjek penelitian sehingga data yang diperoleh adalah objektif.. Maka, wawancara yang dilakukan dengan subjek yang meliputi berbagai hal mengenai Kemitraan Pemerintah Kelurahan Dalam Penanganan COVID-19 Dengan Model Pentahelix di Kota Malang.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi perpustakaan dengan mempelajari berbagai literatur, dokumen resmi dan undang-undang yang berkaitan dengan objek penelitian. Data sekunder ini digunakan untuk mendapatkan dasar teori penelitian dan memperkuat data primer yang telah
17 diperoleh melalui observasi dan wawancara. Terutama, penelitian ini dapat diperoleh melalui website Kelurahan Purwodadi, Blimbing, Kota Malang.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yang akan memberikan informasi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang memiliki informasi mengenai Kemitraan Pemerintah Kelurahan Dalam Penanganan COVID-19 Dengan Model Pentahelix di Kota Malang. Peneliti dapat menemui dan mewawancarai pihak yang mengerti dan paham terkait dengan bagaimana Kemitraan Pemerintah Kelurahan Dalam Penanganan COVID-19 Dengan Model Pentahelix di Kota Malang. Berikut adalah subjek dalam penelitian ini:
1. Lurah Purwodadi Kota Malang;
2. Kelompok Masyarakat meliputi RT, RW, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satgas COVID-19;
3. UMKM Sentra Kue Purwodadi;
4. UIN Maulana Malik Ibrahim;
5. Surya Malang, media pers internal kelurahan.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat dilakukan dalam berbagai metode yaitu melalui seperti wawancara, observasi/pengamatan dan dokumentasi.
Dalam penelitian ini pihak yang dijadikan informan adalah yang dianggap mempunyai informasi (key-informan) yang dibutuhkan di wilayah penelitian.
18 Dalam teknik dan instrumen pengumpulan data, metode yang digunakan dalam penelitian adalah:
a. Wawancara
Metode ini dilakukan melalui tanya jawab secara langsung dengan subjek penelitian. Wawancara memudahkan kita dalam mendapatkan informasi langsung dari responden yang bersangkutan untuk mendapatkan informasi yang akurat, dan peneliti melakukan semi-structured dengan subjek penelitian.
b. Observasi
Peneliti melakukan observasi secara langsung serta menganalisa tentang kemitraan Pemerintah Kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan model Pentahelix di Kota Malang guna memperoleh data sebagai bahan untuk dianalisa. Dalam observasi ini, peneliti akan mengamati bagaimana program tersebut dilaksanakan dalam penanganan COVID-19 melalui kemitraan bersama Kelurahan Purwodadi di Kota Malang yaitu komunitas masyarakat di Kelurahan Purwodadi, RS Persada Hospital, Perguruan Tinggi BINUS, dan Pers Kelurahan Purwodadi juga pers online Kota Malang.
c. Dokumentasi
Merupakan pengumpulan data-data yang tertulis maupun digital.
Seperti arsip-arsip atau dokumen dan bahan-bahan yang ada kaitannya dengan objek penelitian. Untuk mendapatkan dokumen-dokumen atau arsip peneliti melakukan kunjungan ke lapangan yaitu Kelurahan Purwodadi,
19 UMKM Kelurahan Purwodadi, UIN Maulana Malik Ibrahim, dan Pers Kelurahan Purwodadi.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan proses mencari, mengumpulkan, menganalisis, dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, studi kepustakaan atau dokumentasi, dan juga observasi sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif kualitatif sehingga dalam analisis ini tidak menggunakan model statistika dan model hitungan yang lainnya (Creswell, 2015b).
Dengan demikian peneliti melakukan analisis data sebagai berikut:
a. Melakukan literature review dalam pengumpulan data awal sesuai dengan tema yang diambil.
b. Peneliti melakukan wawancara dengan objek penelitian yang telah ditentukan.
Dalam hal ini peneliti mewawancarai Lurah Purwodadi Kota Malang.
c. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, peneliti melakukan pemilahan data yang sesuai dengan pembahasan dan permasalahan yang telah diuraikan.
d. Data yang dipilah kemudian disajikan untuk memudahkan peneliti dalam mendeskripsikan data agar dapat dipahami.
e. Langkah terakhir yaitu menarik kesimpulan dari data yang telah disajikan.
F. Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertempat di Kelurahan Purwodadi Jl. A Yani Utara 148 Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, Jl. Gajayana No. 50 Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang yang mana akan mengkaji atau meneliti terkait dengan
20 kemitraan Pemerintah Kelurahan dalam penanganan COVID-19 dengan model Pentahelix di Kota Malang.