PROPOSAL TUGAS AKHIR
ESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI
PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY
ESTIMATION OF RAIN ATTENUATION USING
SYNTHETIC STORM TECHNIQUES (SST) IMPLEMENTATION IN CELL SITE DIVERSITY
Disusun oleh
Mina Nur Tsaniya Ananda 17201016
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK TELEKOMUNIKASI DAN ELEKTRO
INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO
2020
PROPOSAL TUGAS AKHIR
ESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI
PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY
ESTIMATION OF RAIN ATTENUATION USING
SYNTHETIC STORM TECHNIQUES (SST) IMPLEMENTATION IN CELL SITE DIVERSITY
Disusun oleh
Mina Nur Tsaniya Ananda 17201016
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK TELEKOMUNIKASI DAN ELEKTRO
INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO
2020
ESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI
PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY
ESTIMATION OF RAIN ATTENUATION USING
SYNTHETIC STORM TECHNIQUES (SST) IMPLEMENTATION IN CELL SITE DIVERSITY
Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Ahli Madya Teknik (A.Md.T)
Di Institut Teknologi Telkom Purwokerto
DISUSUN OLEH Mina Nur Tsaniya Ananda
17201016
DOSEN PEMBIMBING Eka Setia Nugraha, S.T., M.T.
Muhammad Panji Kusuma Praja, S.T., M.T.
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI FAKULTAS TEKNIK TELEKOMUNIKASI DAN ELEKTRO
INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO
2020
HALAMAN PENGESAHAN
ESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI
PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY
ESTIMATION OF RAIN ATTENUATION USING
SYNTHETIC STORM TECHNIQUES (SST) IMPLEMENTATION IN CELL SITE DIVERSITY
Disusun oleh
MINA NUR TSANIYA ANANDA 17201016
Telah dipertanggungjawabkan di hadapan Tim Penguji pada tanggalβ¦
Susunan Tim Penguji
Pembimbing Utama : Eka Setia Nugraha, S.T., M.T. ( ) NIDN. 0629018602
Pembimbing Pendamping : Panji Kusuma Praja, S.T., M.T. ( ) NIDN. 0625029301
Penguji 1 : β¦.. ( ) NIDN. β¦β¦
Penguji 2 : β¦β¦ ( ) NIDNβ¦β¦.
Mengetahui,
Ketua Program Studi D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Muntaqo Alfin Amanaf, S.ST., M.T.
NIDN. 0607129002
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan barokah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul βESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITYβ. Laporan tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Gelar Ahli Madya Teknik pada Program Studi D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto.
Dalam melakukan penyusunan Laporan tugas akhir ini penulis telah mendapatkan banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Tuhan yang Maha ESA
2. Kedua orang tua dan adek saya yang selalu memberikan motivasi agar diberikan kelancaran dalam mengerjakan tugas akhir ini.
3. Bapak Eka Setia Nugraha, S.T., M.T selaku dosen pembimbing 1 dan Bapak Muhammad Panji Kusuma Praja, S.T., M.T.selaku dosen pembimbing 2 yang telah dengan penuh kesabaran dan ketulusan memberikan ilmu dan bimbingan dalam pengerjaan tugas akhir ini.
4. Para Dosen Program Studi D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto yang telah memberikan bekal ilmu kepada penulis.
5. Rekan-rekan D3 Teknik Telekomunikasi 2017 yang selalu membantu dan saling berbagi ketika dalam keadaan susah maupun senang.
6. Rekan seperjuangan, Shinta Annadilla yang telah banyak membantu perihal tugas akhir, baik masukan, kritikan, maupun dukungan dalam mengerjaka tugas akhir.
7. Rekan penyemangat, Indra Janwar Setyadi yang selalu memotivasi dan selalu memberi penyemangat kepada penulis agar cepat menyelesaikan tugas akhir.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Laporan tugas akhir ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu semua jenis saran, kritik dan masukan yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan memberikan wawasan tambahan bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.
Purwokerto, 6 Agustus 2020
Mina Nur Tsaniya Ananda
NIM : 17201016
ABSTRAK
Permasalahan curah hujan pada sistem komunikasi sangat penting terhadap estimasi perencanaan pada link gelombang milimeter, pada frekuensi yang mencakup rentang 30 β 300 GHz. Permasalahan pada sistem yang menggunakan frekuensi di atas 10 GHz untuk daerah tropis yaitu redaman yang cukup besar terutama redaman yang diakibatkan oleh curah hujan, sehingga bisa menurunkan performansi dari sistem komunikasi. Hal ini disebabkan karena adanya pengurangan daya pada sinyal akibat curah hujan tinggi yang ditempuh oleh sinyal, maka semakin besar nilai redaman hujannya. Pada penelitian ini mengestimasi permasalahan besar redaman hujan pada gelombang milimeter yang dihitung sepanjang link di daerah Pejaten dan Pantai Pangandaran, dengan menggunakan pengukuran curah hujan dari data cuaca dengan mempertimbangkan arah dan kecepatan angin menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST). Estimasi ini dimana hasil perhitungan redaman hujan SST yang diperoleh sangat cukup beasr pada wilayah Pejaten sebesar 76,79 dB, sedangkan redaman hujan Pangandaran sebesar 45,23 dB. Redaman hujan yang menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST) digunkan untuk mengimplemantasikan teknik mitigasi cell site diversity, bertujuan untuk mampu memberikan diversity gain (dB) meningkatkan kualitas sinyal pada desain link budget. Hasil perhitungan link budget kehandalan sistem yang diperoleh adalah 99,99999 % dari implementasi teknik cell site diversity termasuk nilai yang cukup handal.
Kata Kunci: Redaman hujan, Synthetic Storm Technique (SST), gelombang
milimeter, cell site diversity, link budget.
ABSTRACT
The problem of rainfall in communication systems is very important to the estimation of planning on millimeter wave links, at frequencies covering the range of 30 - 300 GHz. Problems in systems that use frequencies above 10 GHz for the tropics are quite large attenuation especially attenuation caused by rainfall, so that it can reduce the performance of the communication system. This is due to the reduction in power in the signal due to the high rainfall traveled by the signal, the greater the rain attenuation value. In this study, estimating the big problem of rain attenuation on millimeter waves which is calculated along the links in the Pejaten and Pangandaran Beach areas, using rainfall measurements from weather data by considering wind direction and speed using the Synthetic Storm Technique (SST) method. This estimation is where the calculation of SST rain attenuation obtained is quite large in the Pejaten area of 76.79 dB, while the Pangandaran rain attenuation is 45.23 dB. Rain attenuation using the Synthetic Storm Technique (SST) method is used to implement cell site diversity mitigation techniques, aiming to be able to provide diversity gain (dB) to improve signal quality in the link budget design. The results of the calculation of the system reliability link budget obtained were 99.99999% of the implement cell site diversity techniques including quite reliable values.
Keywords: Rain attenuation, Synthetic Storm Technique (SST),
millimeter waves, cell site diversity, link budget.
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... 3
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... 4
KATA PENGANTAR ... 5
ABSTRAK ... 7
ABSTRACT ... 8
DAFTAR ISI ... 9
DAFTAR GAMBAR ... 13
DAFTAR TABEL... 14
BAB I ... 15
PENDAHULUAN ... 15
1.1 LATAR BELAKANG ... 15
1.2 PERUMUSAN MASALAH ... 16
1.3 BATASAN MASALAH ... 16
1.4 TUJUAN PENELITIAN ... 17
1.5 MANFAAT PENULISAN ... 18
1.6 METODE PENELITIAN ... 18
1.7 SISTEMATIKA PENULISAN ... 19
BAB II ... 21
DASAR TEORI ... 21
2.1 KAJIAN PUSTAKA ... 21
2.2 SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST)... 22
2.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO GELOMBANG MILIMETER ... 24
2.3.1 Penerapan Gelombang Milimeter ... 25
2.4 SISTEM HUJAN ... 26
2.4.1 Intensitas Hujan ... 26
Intensitas hujan ... 26
2.4.2 Perhitungan Intensitas hujan ... 28
2.4.3 Redaman Hujan ... 28
2.5 SISTEM ANGIN ... 30
2.5.1 Arah Angin ... 31
2.5.2 Kecepatan Angin ... 33
2.5.3 Prinsip Pergerakan Angin ... 33
2.5.4 Alat Pengukuran Angin ... 34
2.6 TEKNIK DIVERSITAS ... 35
2.6.1 Teknik Diversitas Frekuensi ... 36
2.6.2 Teknik Diversitas Waktu ... 36
2.6.3 Teknik Diversitas Ruang (Space Diversity) ... 36
2.6.4 Teknik Diversity Combining ... 36
2.7 MODEL PROPAGASI ... 39
2.8 PERHITUNGAN LINK BUDGET ... 40
2.8.1 Jarak lintasan transmisi ... 40
2.8.2 Gain antena ... 41
2.8.3 Free Space Loss (FSL) ... 42
2.8.4 Fresnel Zone ... 42
2.8.5 h
koreksi... 42
2.8.6 Clearence ... 43
2.8.7 Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) ... 43
2.8.8 Isotropic Received Level (IRL) ... 44
2.8.9 Received Signal Level (RSL) ... 44
2.8.10 Fading Margin ... 44
2.8.11 Unavailability ... 45
2.8.12 Availability ... 46
2.9 PATHLOSS 5.0 ... 47
2.10 ITU-Recomendation P.838-4 ... 47
BAB III ... 49
PERANCANGAN SISTEM ... 49
3.1 ALAT YANG DIGUNAKAN ... 49
3.2 ALUR PENELITIAN ... 49
3.2.1 Studi Kasus Penelitian ... 50
3.2.2 Studi Literatur ... 51
3.2.3 Metode Perancangan ... 51
3.2.4 Metode Analisa ... 51
3.3 LOKASI PENELITIAN ... 52
3.4 PENGOLAHAN DATA CUACA ... 53
3.5 PERANCANGAN SIMULASI PATHLOSS 5.0 ... 56
3.5.1 Flowchart Simulasi Pathloss 5.0 ... 56
3.5.2 Data Perancangan ... 58
3.5.3 Tahapan Perancangan ... 58
BAB IV ... 61
ANILISIS DAN PEMBAHASAN ... 61
4.1 PERHITUNGAN INTENSITAS CURAH HUJAN ... 61
4.1.1 Konversi intensitas curah hujan di Pejaten sebagai site pengirim 62 4.1.2 Konversi intensitas curah hujan di Pangandaran sebagai site penerima ... 63
4.2 PERHITUNGAN REDAMAN HUJAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) ... 64
4.2.1 Redaman Hujan site Pejaten ... 64
4.2.2 Redaman Hujan site Pangandaran ... 67
4.3 IMPLEMENTASI CELL SITE DIVERSITY ... 70
4.3.1 Selection Combining (SC) ... 71
2.3.2 Equal Gain Combining (EGC) ... 72
2.3.3 Maximal Ratio Combining (MRC) ... 73
4.3.4 Diversity Gain (dB) ... 74
4.4 ANALISIS LINK BUDGET CALCULATION... 76
4.4.1 Jarak lintasan transmisi ... 76
4.4.3 Free Space Loss (FSL) ... 78
4.4.4 Fresnel Zone ... 79
4.4.5 h
koreksi... 80
4.4.6 Clearence ... 80
4.4.7 Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) ... 81
4.4.8 Isotropic Received Level (IRL) ... 82
4.4.9 Received Signal Level (RSL) ... 82
4.4.10 Fading Margin ... 83
4.4.11 Unavailability ... 85
4.4.12 Availability ... 85
BAB V ... 87
PENUTUP ... 87
5.1 KESIMPULAN ... 87
5.2 SARAN... 87
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Konfigurasi Perhitungan Redaman Hujan SST Multilink [6] ... 23
Gambar 2. 2 Pita Frekuensi [10] ... 25
Gambar 2. 3 Ilustrasi Arti 1 Milimeter Curah Hujan [11] ... 27
Gambar 2. 4 Estimasi Penyerapan Atmosfer Pada Frekuensi Tertentu [17]... 30
Gambar 2. 5 Nama-Nama Arah Mata Angin [18]... 32
Gambar 2. 6 Pemodelan Umum Teknik Combining [23] ... 37
Gambar 2. 7 Selective Combining [23] ... 37
Gambar 2. 8 Equal Gain Combiner (EGC) [23] ... 38
Gambar 2. 9 Maximal Ratio Combining [23]... 39
Gambar 2. 10 Propagasi Line of Sight (LOS) [24] ... 40
Gambar 3. 1 Flowchart Penelitian...50
Gambar 3. 2 Site Line Of Sight (LOS) Dengan Pathlength 6,5 Kmβ¦β¦β¦..52
Gambar 3. 3 Lokasi Site Pajaten ... 53
Gambar 3. 4 Lokasi Site Pangandaran ... 53
Gambar 3. 5 Grafik Rata-Rata Curah Hujan (Mm) Pangandaran Pada Bulan Februari ... 54
Gambar 3. 6 Grafik Rata-Rata Curah Hujan (Mm) Pejaten Pada Bulan Februari 55 Gambar 3. 7 Rata-Rata Kecepatan Angin Tercepat Pada Bulan Februari Di Pangandaran ... 55
Gambar 3. 8 Rata-Rata Kecepatan Angin Tercepat Pada Bulan Februari Di Pejaten ... 56
Gambar 3. 9 Transmission Analisys Pejaten-Pangandaran ... 59
Gambar 4. 1 Grafik Rata-Rata Curah Hujan (Mm) Pejaten Pada Bulan Februari...62
Gambar 4. 2 Grafik Rata-Rata Curah Hujan (Mm) Pangandaran Pada Bulan Februari .... 63
Gambar 4. 3 Perbandingan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST di Pejaten ... 66
Gambar 4. 4 Perbandingan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST di Pangandaran ... 69
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Jenis-jenis Hujan Berdasarkan Intensitas Hujan [10] ... 27
Tabel 2. 2 Daftar Nama-Nama Arah Mata Angin Dan Besar Derajat Arah [18] ... 32
Tabel 2. 3 Kategori Pergerakan Angin [20]... 33
Tabel 2. 4 Hubungan Skala (Bilangan) Beaufort Dan Kecepatan Angin [21] ... 34
Tabel 2. 5 Required Fading Margin [24] ... 45
Tabel 2. 6 Hubungan antara Availability dan Outage Time[24] ... 46
Tabel 2. 7 ITU-Rec P.838-4, 2005 [25] ... 48
Tabel 3. 1 Rata-Rata Curah Hujan, Kecepatan Angin, Arah Angin Terbanyak Pada Bulan Februari...54
Tabel 3. 2 Titik Koordinat dan Elevasi Site Pangandaran dan Site Pejaten β¦β¦β¦58
Tabel 3. 3 Report Transmission Analisys Pejaten-Pangandaran ... 59
Tabel 4. 1 Parameter Data Cuaca Bulan Februari...62
Tabel 4. 2 Hasil Perbandingan Perhitungan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST ... 69
Tabel 4. 3 Perbandingan Hasil Perhitungan Cell Site Diversity ... 74
Tabel 4. 4 Hasil Perhitungan Diversity Gain (dB)... 76
Tabel 4. 5 Required Fading Margin ... 84
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Curah hujan merupakan fenomena yang menjadi bagian dari siklus air yang berlangsung secara alamiah. Indonesia terletak di iklim tropis yang mempunyai curah hujan yang sangat tinggi dan mempengaruhi desain sistem komunikasi yang bergantung pada propagasi gelombang elektromagnetik [1]. Permasalahan curah hujan pada sistem komunikasi sangat penting terhadap estimasi perencanaan pada link gelombang milimeter, khususnya dengan frekuensi tinggi di atas 10Ghz ,untuk kinerja Line Of Sight (LOS) menjadi salah satu batas yang menyebabkan redaman propagasi yang diakibatkan oleh curah hujan [2]. Terjadinya pengurangan daya pada sinyal akibat pengaruh alam, yaitu akibat curah hujan tinggi yang ditempuh oleh sinyal maka semakin besar nilai redaman hujannya.
Banyak metode yang telah dikembangkan untuk mengestimasi permasalahan redaman yang disebabkan akibat curah hujan. Salah satu cara dapat dihitung dengan menggunakan pengukuran curah hujan langsung dan data cuaca dengan mempertimbangkan intensitas hujan sebagai fungsi waktu, data cuaca berupa kecepatan dan arah angin yaitu menggunakan metode statistik Synthetic Storm Technique (SST), untuk estimasi redaman hujan sepanjang link terrestria [3].
Efek redaman hujan dapat diatasi dengan teknik mitigasi yaitu cell site diversity merupakan salah satu teknik sederhana yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan (availability) layanan dengan mengatasi fading yang terjadi akibat pengaruh dari redaman hujan [4].
Untuk itu maksud dari penelitian ini adalah mendapatkan bagaimana gambaran atau estimasi dari redaman hujan di daerah tropis khususnya Indonesia kaitannya dengan solusi untuk menanggulangi keterbatasan frekuensi dalam evaluasi penerapan penggunaan gelombang milimeter, yang belum pernah dilakukan di daerah pantai Pangandaran, Jawa Barat, dengan frekuensi 30 GHz,
dengan mengangkat judul βESTIMASI REDAMAN HUJAN
MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST)
IMPLEMENTASI PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITYβ penelitian ini akan menghitung nilai redaman hujan dengan metode Synthetic Storm Technique (SST), dimana hasil perhitungan redaman hujan diatasi dengan teknik mitigasi cell site diversity bertujuan untuk mampu memberikan diversity gain (dB) meningkatkan kualitas sinyal pada link budget. Pada penelitian sebelumnya terdapat kekurangan yang belum tercantum hasil simulasi menggunakan simulasi software Pathloss 5.0, maka dari itu penelitian ini dirancang pada software Pathloss 5.0 mencari nilai outage probability 0,01% pada sistem komunikasi untuk kebutuhan alokasi pemilihan frekuensi gelombang milimeter dan menjamin ketersediaan (availability) yang lebih handal.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas terdapat uraian masalah yang perlu dikaji lebih lanjut, yaitu:
1. Bagaimana cara memperoleh nilai redaman hujan pada sepanjang link pantai Pangandaran, Jawa Barat menggunakan perhitungan metode statistik Synthetic Storm Technique (SST) multilink terrestrial ?
2. Bagaimana implementasi teknik cell site diversity mengatasi efek redaman hujan dengan menggunakan beberapa teknik combining yaitu Selection Combining (SC), Equal Gain Combining (EGC) dan Maximal Ratio Combining (MRC)?
3. Bagaimana pengaruh hasil perhitungan redaman hujan pada implementasi teknik cell site diversity untuk memperoleh kualitas link yang lebih handal di daerah tropis khususnya di pantai Pangandaran, Jawa Barat dengan mengunakan gelombang milimeter ?
1.3 BATASAN MASALAH
Adapun batasan masalah dari penelitian proposal Tugas Akhir ini antara lain:
1. Menghitung perhitungan redaman hujan menggunakan Synthetic Storm
Technique (SST).
2. Parameter yang diperlukan intensitas hujan, kecepatan angin, arah angin dan rain attenuasi (redaman hujan).
3. Pengaruh redaman hujan terhadap link transmisi kebutuhan alokasi pemilihan frekuensi gelombang milimeter 30 Ghz.
4. Perhitungan pada link wilayah Pejaten dengan jarak 6.5 km pada wilayah pantai Pangandaran, Jawa Barat.
5. Studi kasus di lakukan di PT. GCI Semarang.
6. Implementasi cell site diversity.
7. Target mencari nilai outage probability 0,01% memberikan nilai terbesar diversity gain (dB).
8. Parameter link budget calculation antara lain sebagai berikut:
a. Jalur transmisi b. Gain antena
c. Free Space Loss (FSL)
d. Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) e. Isotropic Received Level (IRL)
f. Received Signal Level (RSL) g. Fade Margin.
h. Availability i. Unavailability
9. Software yang digunakan simulator perancangan Pathloss 5.0 dan Google Earth.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
Adapun maksud tujuan dari penelitian proposal Tugas Akhir ini antara lain:
1. Mengetahui nilai redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) dengan menggunakan intensitas hujan sebagai fungsi waktu, data cuaca berupa kecepatan dan arah angin.
2. Melakukan perhitungan pengaruh metode statistik Synthetic Storm
Technique (SST) terhadap redaman hujan untuk implementasi teknik
cell site diversity mengatasi efek redaman hujan.
3. Hasil implementasi Cell site diversity menghasilkan diversity gain (dB) untuk meningkatkan kualitas sinyal bertujuan menjamin ketersediaan (availability) layanan dengan mengatasi yang terjadi akibat pengaruh redaman hujan untuk mendapatkan kualitas link yang lebih handal.
1.5 MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dari penelitian proposal Tugas Akhir ini, antara lain:
1. Dapat memperluas wawasan penulis dan pembaca di bidang telekomunikasi khususnya yang mengenai performansi komunikasi radio link transmisi gelombang milimeter .
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan implementasi pemikiran bagi penyedia jasa telekomunikasi.
3. Dapat memberi solusi sebagai yang tepat untuk transmisi komunikasi jarak jauh menggunakan komunikasi radio link transmisi.
4. Dapat melakukan perancangan kehandalan sistem komunikasi (transmission network planning) menggunakan Pathloss 5.0.
5. Dapat mengetahui bahwa redaman hujan sangat berpengaruh terhadap menentukan link availability (keadaan dimana hubungan link tidak terputus karena lemahnya sinyal) memperoleh distribusi redaman hujan yang dapat digunakan untuk perhitungan link budget yang berguna untuk menerapkan di negara-negara tropis terutama Indonesia.
1.6 METODE PENELITIAN
Metodologi penelitian yang digunakan dalam proses penelitian proposal Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
a. Studi Kasus
Metode ini dilakukan dengan cara pengambilan data online pada
https://www.worldweatheronline.com/ Situs web global yang
menyajikan biro cuaca resmi dan informasi klimatologis untuk kota-
kota tertentu, yang disediakan oleh Meteorologi dan Hidrologi
Internasional, memperoleh data cuaca berupa kecepatan dan arah angin,
serta data alamat site seluruh Indonesia dari PT. GCI Semarang.
b. Estimasi
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan metode Synthetic Storm Technique (SST) terhadap redaman hujan untuk implementasi diversity gain (dB) mengatasi efek redaman hujan dengan teknik cell site diversity menggunakan beberapa teknik combining.
c. Perhitungan
Pada hasil estimasi melakukan perbandingan pada hasil perhitungan terhadap diversity gain (dB) menggunakan pembangkitan redaman hujan yang berkorelasi berdasarkan data Pangandaran, Jawa Barat dan rata-rata standar deviasi redaman hujan dapat digunakan untuk mengestimasi redaman hujan yang deras sehingga dapat digunakan untuk desain link budget.
1.7 SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penelitian proposal Tugas Akhir ini dibagi menjadi 5 Bab bahasan.
Penelitian yang akan dilakukan ini akan disusun dengan rincian sebagai berikut:
BAB I :PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang uraian atau gambaran secara umum tentang pokok dalam laporan yang membahas latar belakang dari permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penulisan, metode penelitan dan sistematika penelitian.
BAB II :DASAR TEORI
Bab ini berisi tentang teori dasar tentang sistem
komunikasi serta kajian pustaka daftar referensi dari
penelitian ini, Synthetic Storm Technique (SST), sistem
komunikasi radio gelombang milimeter, penerapan
gelombang milimeter , sistem hujan, sistem angin, teknik
diversitas, teknik diversity combining, Selection Combining
(SC), Equal Gain Combining (EGC), Maximal Ratio
Combining (MRC), model propagasi dan Patholoss 5.0.
BAB III : PERANCANGAN SISTEM
Bab ini berisi tentang perancangan sistem tentang instrumen penelitian, lokasi penelitian, variabel dan parameter penelitian, serta desain penelitian.
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang hasil perhitungan serta pembahasan terhadap estimasi redaman hujan.
BAB V :PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan akhir dari hasil
penelitian dan saran untuk pengembangan penelitian
kedepan.
BAB II DASAR TEORI
2.1 KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka sebagai acuan landasan teori maupun latar belakang penelitian dari kekurangan dan kelebihan setiap hasil penelitian sebelumnya.
Berdasarkan penelitian Candra V. Tambunan dan Naemah Mubarakah 2014
βPerhitungan Redaman Hujan pada Kanal Gelombang Milimeter untuk daerah Medanβ dalam penelitian ini dilakukan perhitungan redaman hujan menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST) dipengaruhi oleh faktor intensitas hujan, kecepatan angin, arah angin, panjang link dan letak suatu link. Nilai redaman hujan SST dilakukan di beberapa daerah seperti Padang Bulan, Sampali, Polonia, dan Kota Medan, dengan percobaan untuk panjang link 1 km mencapai redaman sebesar 6,9 dB, untuk panjang link 2 km mencapai 14 dB, untuk panjang link 3 km mencapai 21 dB, dan untuk panjang link 4 km mencapai 28 dB. Penelitian ini diperoleh kesimpulan semakin panjang link maka redaman hujan akan semakin besar [5].
Berdasarkan penelitian Haniah Mahmudah dan Ari Wijayanti 2010
βEstimasi Redaman Hujan untuk Aplikasi Teknik Diversity pada Gelombang Milimeter untuk Implementasi Wireless Broadbandβ dalam penelitian ini dilakukan Estimasi SST multilink dapat diaplikasikan untuk teknik cell site diversity karena mempunyai lebih dari satu lintasan dalam perhitungan redaman hujan dan memperhatikan karakteristik intensitas hujan temporal, kecepatan dan arah angin. Untuk mengatasi efek redaman hujan pada sistem LMDS dapat diimplementasikan teknik cell site diversity dengan menggunakan teknik SC, EGC dan MRC dan mampu memberikan diversity gain sampai 8 dB [4]
Berdasarkan penelitian Octiana Widyarena, Gamantyo Hendrantoro, dan
Achmad Mauludiyanto 2012 βKinerja Sistem Komunikasi FSO (Free Space Optics
Menggunakan Cell site Diversity di Daerah Tropisβ. Berdasarkan hasil penelitian
Posisi link yang sejajar dengan arah kedatangan hujan memiliki nilai redaman hujan
yang paling kecil, dalam hal ini yaitu link Timur dan link Barat. Untuk link yang
posisinya tegak lurus dengan arah kedatangan angin, memiliki nilai redaman hujan
yang paling besar, dalam hal ini yaitu link Utara. Semakin panjang lintasan yang digunakan, maka nilai redaman hujan juga semakin besar dan menyebabkan penurunan pada nilai SNR yang diterima. Penerapan teknik cell site diversity dengan selection combining terbukti mampu memperbaiki nilai SNR. Peningkatan nilai SNR terbesar didapatkan pada panjang lintasan 2 km dengan sudut antar link 180Β° serta pada link availability 99,9 % [6].
Berdasarkan penelitian Nuradi S, Haniah M, dan Okkkie P 2009 β Estimasi Redaman Hujan Menggunakan Synthetic Storm Technique (SST) dan Segmentasi Link untuk Gelombang Milimeter β Estimasi redaman hujan dengan metode Segmentasi Link dan metode Synthetic Storm Technique (SST ) yang menggunakan data kecepatan dan arah angin dan hasil pengukuran curah hujan menggunakan rain gauge yang ditempatkan di tiga lokasi perhitungan redaman hujan metode segmentasi Link dibandingkan dengan metode SSTRa , SSTRb, SSTRd, dengan orientasi link utara-selatan untuk outage probability lebih besar dari 0,1% metode segmentasi, SSTRa , SSTRb dan SSTRd mempunyai redaman hujan yang sama.
Sedangkan pada outage probability kurang dari 0,1% SSTRa , SSTRb dan SSTRd mempunyai redaman hujan yang lebih besar dibandingkan dengan selisih nilai redaman sebesar 2-3 dB [7].
2.2 SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST)
Nilai redaman hujan yang terjadi pada suatu link komunikasi, dapat Keterangan dengan cara pengukuran secara langsung maupun dengan menggunakan simulasi pemodelan redaman hujan. Salah satu metode pemodelan redaman hujan yang dapat digunakan yaitu Synthetic Storm Technique (SST).
Medote SST untuk memprediksi besarnya nilai redaman hujan pada suatu panjang lintasan atau link komunikasi (Km) dengan menggunakan data intensitas curah hujan sebagai fungsi waktu dimana hujan tersebut bergerak sepanjang lintasana atau link karena adanya pergerakan arah angin ( π ) dengan kecepatan angin (v) tertentu.
Konfigurasi perhitungan redaman hujan SST multilink lebih dari satu link
ditunjukan pada gambar 2.1 dibawah ini:
Gambar 2. 1 Konfigurasi Perhitungan Redaman Hujan SST Multilink [6]
Kecepatan angin di link harus memperhatikan letak link komunikasi L
1merupakan link referensi ke 1, L
Nmerupakan link ke N mempunyai panjang lintasan komunikasi lebih dari satu
.Redaman hujan (mm/h) yang terjadi pada lintasan terrestrial Line Of Sight (LOS), suatu lintasan propagasi sepanjang sumbu horizontal dengan panjang L (km), data kecepatan angin (km/jam) dan arah angin dari Pejaten ke Pangandaran menggunakan kecepatan rata-rata per bulan dan arah yang terbanyak.
Langkah-langkah estimasi redaman hujan dengan SST multilink adalah sebagai berikut [6]:
a. Kecepatan angin pada link dijelaskan pada persamaan 2.1 berikut:
π£
ππ= |
π£cos(Ξ¨β(900βπ))
| (2.1) Keterangan:
π£ π
π= kecepatan angin pada link ke-N (km/jam) Ξ¨ = sudut antar link 45Β°, 90Β° 135Β°, dan 180Β°.
π = sudut kedatangan angin dilihat dari arah angin (Β°)
b. Kecepatan angin pada link digunakan untuk memperoleh nilai panjang segmen atau obstacle yang terdapat pada sepanjang link, untuk masing- masing link dijelaskan pada persamaan 2.3 berikut:
βπΏ = π
πβ π (2.3)
Keterangan:
ΞL = panjang segmen (km)
π
π= kecepatan angin pada link (km/jam) π = waktu sampling 60 detik
c. Redaman hujan pada masing-masing link diperoleh pada persamaan 2.4
berikut:
π΄(π) = β π π=0 π π π (π β π)βπΏπ (2.4) Keterangan :
A (k) = redaman hujan untuk k=1,2,β¦,n (dB) ΞL = panjang segmen (km)
R = intensitas hujan (mm/h)
a,b = koefisien REQ ITU-R 838-4 (a=0,187 dan b=1,021) frekuensi 30 Ghz.
2.2.1 Kelebihan metode Synthetic Storm Technique (SST)
a. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) dapat dihitung dengan menggunakan pengukuran curah hujan langsung dan data cuaca dengan mempertimbangkan arah dan kecepatan angina.
b. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) dapat diimplementasikan pada statistik redaman hujan seperti fade slope, fade duration, frequency scaling factor, dan cell site diversity.
c. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) dapat memperoleh distribusi redaman hujan yang dapat digunakan untuk perhitungan link budget yang berguna untuk menerapkan sistem komunikasi handal di Indonesia yang beriklim tropis.
2.2.2 Kekurangan metode Synthetic Storm Technique (SST)
a. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) diperlukan lebih banyak data cuaca curah hujan sehingga estimasi redaman hujan lebih akurat pada perhitungan parameternya.
b. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) harus mengetahui sudut arah kedatangan angin pada keberadaan suatu letak link.
c. Perhitungan redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) harus memperhatikan rekomendasi ITU-R untuk setiap probabilitas redaman hujan pada frekuensi kerja yang digunakan.
2.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO GELOMBANG MILIMETER
Frekuensi sangat tinggi ( EHF ) adalah sebutan International
Telecommunication Union (ITU) untuk pita frekuensi radio dalam spektrum
elektromagnetik dari 30 hingga 300 gigahertz (GHz). Terletak di antara pita frekuensi super tinggi, dan pita inframerah jauh yang juga disebut sebagai celah terahertz bisa dilihat pada gambar 2.2 pita frekuensi. Gelombang milimeter ini memiliki panjang gelombang dari 10 mm hingga 1 mm penulisan gelombang milimeter disingkat MMW atau mmW. Gelombang millimeter dengan kecepatan data 20 Mbps sampai jarak 2 km adalah solusi yang paling efektif untuk lonjakan terbaru dalam penggunaan internet nirkabel. Spesifikasi ini mampu memberikan aplikasi 'world wide web nirkabel' (wwww) [8].
Gambar 2. 2 Pita Frekuensi [10]
Gelombang elektromagnetik yang panjangnya milimeter pertama kali diteliti pada tahun 1890 ilmuwan Bengali India, Jagadish Chandra Bose.
Dibandingkan dengan band yang lebih rendah, gelombang radio di band ini memiliki atenuasi atmosfer tinggi mereka diserap oleh gas di atmosfer. Oleh karena itu, mereka memiliki jarak pendek dan hanya dapat digunakan untuk komunikasi terestrial sepanjang sekitar satu kilometer. Penyerapan oleh kelembaban di atmosfer adalah signifikan kecuali di lingkungan gurun, dan redaman oleh hujan (hujan pudar) adalah masalah serius bahkan dalam jarak pendek. Namun jangkauan propagasi pendek memungkinkan jarak penggunaan kembali frekuensi yang lebih kecil daripada frekuensi yang lebih rendah. Panjang gelombang pendek memungkinkan antena ukuran sederhana memiliki lebar pancaran kecil, semakin meningkatkan potensi penggunaan ulang frekuensi.
2.3.1 Penerapan Gelombang Milimeter
Gelombang millimeter pada penerapannya memiliki kelebihan atau
manfaat sehingga menjadi kuat bagi aplikasi komunikasi mobile wireless masa
depan. Kelebihan atau manfaat ini maka gelombang mm cocok untuk komunikasi mobile 5G melebihi teknologi nirkabel sub-6GHz. Kelebihan tersebut meliputi sebagai berikut:
a. Menyediakan bandwidth yang lebih besar dan karenanya jumlah pelanggan dapat ditampung lebih.
b. Karena bandwidth yang kurang dalam kisaran milimeter, lebih menguntungkan untuk pengembangan sel yang lebih kecil.
c. Cakupan tidak terbatas pada kondisi Line Of Sight (LOS) sebagai urutan pertama jalur pencar yang layak. Prasyarat LOS ini banyak diterapkan pada teknologi wireless konvensional.
d. Ukuran antena secara fisik kecil dan karenanya sejumlah besar antena dikemas dalam ukuran kecil. Hal ini memungkinkan penggunaan M-MIMO di eNode B atau Access Point untuk meningkatkan kapasitas.
e. Beamforming dinamis digunakan sehingga menghindarkan pathloss lebih tinggi pada frekuensi gelombang mm.
f. Jaringan gelombang milimeter 5G mendukung backhaul multigigabit sampai 400 meter dan akses seluler sampai 200-300 meter.
g. Gelombang millimeter hanya mendukung kondisi propagasi LOS. Oleh karena cakupan terbatas akibat LOS [8].
2.4 SISTEM HUJAN
Hujan atau rainfall merupakan salah satu jenis kondensasi uap air di atmosfer yang jatuh vertikal di atas permukaan bumi, dan diukur oleh penakar hujan. Hujan didefinisikan sebagai bentuk air yang jatuh ke permukaan bumi. Hujan berbeda dengan gerimis, hujan memiliki diameter tetes lebih dari 0,5 mm dengan intensitasnya lebih dari 1,25 mm/jam, sedangkan gerimis memiliki diameter tetes kurang dari 0,5 mm dan memiliki intensitas kurang dari 1 mm/jam. Durasi hujan adalah waktu yang dihitung dari saat hujan mulai turun sampai berhenti, yang biasanya dinyatakan dalam jam.
2.4.1 Intensitas Hujan
Intensitas hujan rerata adalah perbandingan antara kedalaman hujan dengan
intensitas hujan. Analisis untuk menghitung jumlah curah hujan dalam satu satuan
waktu, yang biasanya dinyatakan dalam mm/jam, mm/hari, mm/bulan, mm/tahun dan sebagainya, yang berturut-turut sering disebut hujan jam-jaman, harian, mingguan, bulanan, tahunan dan sebagainya disebut dengan intensitas hujan [9].
Berikut table 2.1 jenis-jenis hujan berdasarkan dengan jumlah intensiats hujan.
Tabel 2. 1 Jenis-jenis Hujan Berdasarkan Intensitas Hujan [10]
Derajat Hujan
Intensitas Curah Hujan
(mm)
Karakteristik Lingkungan
1 JAM 24 JAM
Hujan Sangat Ringan < 1 < 5 Tanah agak basah/sedikit basah
Hujan Ringan 1 β 5 5 β 20
Tanah menjadi basah semua, tanah belum lengket, bunyi hujan belum terdengar
Hujan Normal/Sedang 5 β 10 20 β 50
Tanah sudah dapat membentu puddle, bunyi hujan sudah terdengar.
Hujan Lebat 10 β 20 50 β 100
Air tergenang di seluruh permukaan tanah, bunyi hujan keras terdengar dari genangan.
Hujan Sangat Lebat > 20 > 100
Hujan seperti
ditumpahkan, saluran dan drainase meluap.
Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan dalam 1 (satu) milimeter memiliki arti dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
Gambar 2.3 menunjukan ilustrasi arti 1 milimeter curah hujan, dengan perbandingan volume dan luas alas maka berapapun luasnya, jika pada hujan yang sama, tinggi air hujan (curah hujan) akan selalu sama [10].
Gambar 2. 3 Ilustrasi Arti 1 Milimeter Curah Hujan [11]
2.4.2 Perhitungan Intensitas hujan
Tahap perhitungan intensitas curah hujan dari jumlah rata-rata curah hujan (mm) dikonversikan kedalam bentuk rainfall intensity atau Intensitas Hujan dengan jumlah satuan (mm/h), untuk mengubah curah hujan menjadi tingkat hujan, untuk estimasi redaman hujan atau rain attenuation pada sistem komunikasi. Cara mengkonversi curah hujan(mm) menjadi intensitas hujan(mm/h) menggunakan rumus persamaan 2.5 sebagai berikut [11]:
π π· = πΏ Γ 60
π (2.5)
Keterangan:
R
D= Rain Rate Intensity atau intensitas hujan (mm/h) L = Nilai maksimum curah hujan (mm)
T = Interval rata-rata waktu yang ditentukan 60 = ketentuan waktu sampling
2.4.3 Redaman Hujan
Hujan menyebabkan pelemahan di gelombang elektromagnetik melalui proses penyerapan dan hamburan [12]. Redaman curah hujan atau rain attenuation adalah fenomena relatif terhadap curah hujan dan frekuensi yang mengakibatkan meningkatnya kehilangan lintasan atau jalannya suatu link propagasi, membatasi cakupan area, dan akibatnya menurunkan kinerja sistem komunikasi. Rain attenuation model dari data yang dikumpulkan selama lokasi dari sumber yang berbeda. Efek penyerapan disajikan pada frekuensi tertentu, yang dapat menjadi signifikan pada frekuensi dekat 22GHz dan 60GHz karena uap air dan oksigen, masing-masing pada masing-masing link propagasi [13].
ITU-R adalah sebuah organisasi yang standar aturan untuk telekomunikasi
dan memberikan langkah demi langkah pendekatan untuk prediksi redaman hujan
pada link radio terrestrial, namun model ini tidak tampil baik di daerah tropis [14],
dan pada tingkat curah hujan yang tinggi sejak rata-rata radius hujan di daerah tropis
lebih besar dari yang di nontropical dan data untuk model ITU didasarkan pada data
yang dikumpulkan dari daerah beriklim dunia. Kabut pelemahan mendominasi di
band inframerah dan optik sedangkan redaman hujan memainkan malapetaka di
gelombang milimeter band. Propagasi gelombang mikro dipengaruhi oleh
perubahan di atmosfer yang lebih rendah; Kehadiran hydrometeors seperti hujan, kabut, uap air, dan oksigen dalam jalur gelombang radio dapat menghasilkan efek yang sangat signifikan dalam penyerapan energi.
Dengan peningkatan curah hujan, redaman dalam komunikasi radio link meningkat, yang menunjukkan merugikan efek di gelombang microwave dan frekuensi gelombang milimeter , karena EMwaves atau gelombang elektromagnetik paling dipengaruhi oleh hamburan dan fenomena penyerapan. Hamburan yang menyebabkan pelemahan pada ketinggian yang lebih tinggi dari atmosfer. Dalam perancangan link microwave, ada beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan seperti keandalan sistem, desain ekonomis, sekarang dan pemilihan frekuensi masa depan, perencanaan situs, dan sistem multilevel.
Redaman hujan atau rain attenuation telah diakui sebagai kendala utama dalam desain komunikasi gelombang elektomagnetik baik gelombang microwave maupun gelombang milimeter link di operasi pada frekuensi di atas 10GHz [15].
Redaman curah hujan yang berlebihan merupakan fenomena umum sepanjang tahun dan curah hujan sangat bervariasi di lokasi kecil di atas jarak kecil, redaman hujan lebih signifikan dalam menyebabkan hilangnya propagasi dan dapat menyebabkan banyak kerusakan sinyal gelombang microwave maupun gelombang milimeter . Redaman hujan menurunkan kinerja sistem dan membatasi penggunaan frekuensi yang lebih tinggi untuk sistem komunikasi Line Of Sight (LOS) terestrial.
Pelemahan sinyal karena redaman hujan memainkan peran sangat penting pada
frekuensi yang lebih tinggi dari 10GHz, mengingat semua faktor ini jelas bahwa
redaman yang di sebabkan oleh hujan diperlukan [15]. Gambar 2.4 menunjukan
grafik estimasi penyerapan atmosfer pada frekuensi tertentu dengan jenis curah
hujan yang dialami.
Gambar 2. 4 Estimasi Penyerapan Atmosfer Pada Frekuensi Tertentu [17]
Grafik estimasi penyerapan atmosfer pada frekuensi tertentu dengan jenis curah hujan yang dialami terdapat 4 bagian yaitu terdiri dari:
1. Cloudburst (Hujan Sangat Lebat) merupakan curah hujan ekstrem dalam waktu singkat kadang disertai hujan es, dan disertai badai petir. Curah hujan yang cepat dari awan cumulonimbus dimungkinkan karena proses presipitasi Langmuir di mana tetesan besar dapat tumbuh dengan cepat dengan menggumpal . Intensitas hujan pada redaman hujan sebesar 100 mm/h.
2. Heavy rain (Hujan Lebat) merupakan curah hujan di dalam penakar mencapai 15 mm/h, menimbulkan suara gemuruh, dan dapat disertai badai guntur.
3. Moderate rain (Hujan Sedang) merupakan curah hujan ketika pada redaman hujan sebesar 4 mm/h, dengan disertasi hujan yang tidak stabil.
4. Light rain (Gerimis) merupakan presipitasi hujan ringan dengan turunnya air dalam jumlah kecil daripada hujan, yang umumnya lebih kecil dari 0.5 mm (0.02 in.) dalam diameter. Gerimis terjadi, disebabkan awan stratus kecil dan awan stratocumulus. Tingkat presipitasi gerimis terjadi dalam hitungan milimeter dalam sehari atau kurang yang jatuh hingga tanah, dengan redaman hujan sebesar 1 mm/h [16].
2.5 SISTEM ANGIN
Angin merupakan udara yang bergerak disebabkan oleh rotasi bumi. Angin
menunjukan adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin udara yang
bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Angin memainkan peran
penting dalam menentukan dan mengendalikan iklim dan cuaca, di dekat permukaan Bumi, angin umumnya mengalir di sekitar daerah dengan tekanan tinggi ke rendah. Angin akan memutar berlawanan jarum di sekitar posisi terendah di belahan Bumi utara dan searah jarum jam di sekitar belahan Bumi selatan. Jika dipanaskan udara akan memuai dan itu menjadi lebih ringan sehingga naik.
Apabila itu terjadi, tekanan udara akan turun karena udaranya berkurang atau kosong. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara yang menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Adanya matahari menyebabkan udara menjadi dingin yang menggantikan udara yang naik. Ini juga mengalami pemuaian dan akhirnya naik ke angkasa. Faktor yang menyebabkan terjadinya angin sebagai berikut :
a. Gradien Barometris, bilangan yang menunjukan perbedaan tekanan udara dari dua isobar yang jaraknya 111 kilometer. Semakin besar gradien barometris maka akan semakin cepat tiupan anginnya.
b. Letak tempat, angin yang berada di daerah khatulistiwa akan bertiup lebih cepat jika dibandingkan yang bertiup di daerah di luar garis khatulistiwa.
c. Ketinggian tempat, semakin tinggi suatu tempat, maka angin yang bertiup semakin cepat. Ini dipengaruhi gaya gesekan yang menghambat laju udara.
Maka di gunung, pohon atau topografi yang tidak rata akan memberikan gesekan yang besar.
d. Waktu, Angin bergerak cepat pada siang hari bergerak lambat pada malam hari.
2.5.1 Arah Angin
Arah mata angin adalah panduan yang dipergunakan untuk menentukan
arah. Kebanyakan di gunakan dalam kompas, navigasi, dan peta. Terdapat delapan
arah pada mata angin yaitu utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya,
barat dan barat laut. Barat, timur, utara dan selatan adalah empat mata angin yang
utama. Kutub bumi digambarkan dengan utara dan selatan sedangkan penentu arah
putar bumi adalah timur dan barat bisa dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini:
Gambar 2. 5 Nama-Nama Arah Mata Angin [18]
Berikut ini adalah tabel 2.2 daftar nama nama arah mata angin lengkap juga dengan singkatan bahasa inggris dan dilengkapi juga dengan besar derajat pada arah mata angin [17].
Tabel 2. 2 Daftar Nama-Nama Arah Mata Angin Dan Besar Derajat Arah [18]
No Nama Bahasa
Inggris Singkatan Nama Bahasa
Indonesia Singkatan Besar Derajat
1 North N Utara U 360Β°
2 North
Northeast NNE Utara Timur
Laut UTL 022,5Β°
3 Northeast NE Timur Laut TL 45Β°
4 East Northeast ENE Timur Timur
Laut TTL 67,5Β°
5 East E Timur T 90Β°
6 East Southeast ESE Timur
Menenggara TM 112,5Β°
7 Southeast SE Tenggara TG 135Β°
8 south Southeast SSE Selatan
Menenggara SM 157,5Β°
9 South S Selatan S 18Β°
10 South
Southwest SSW Selatan Barat
Daya SBD 202,5Β°
11 Southwest SW Barat Daya BD 225Β°
12 West Soutwest WSW Barat Barat
Daya BBD 247,5Β°
13 West W Barat B 27Β°
14 West Northwest WNW Barat Barat
Laut BBL 292,5Β°
15 Northwest NW Barat Laut BL 315Β°
16 North
Northwest NNW Utara Barat
Laut UBL 337,5Β°
2.5.2 Kecepatan Angin
Kecepatan angin adalah cepat lambatnya angin bertiup pada suatu tempat.
Angin merupakan besaran vektor yang mempunyai arah dan kecepatan. Angin adalah gerak udara yang sejajar dengan permukaan bumi. Udara bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Angin terjadi disebabkan oleh adanya beda tekanan horizontal. Angin permukaan memiliki gaya gesek karena adanya kekasaran permukaan bumi. Gaya gesek menyebabkan kecepatan angin melemah. Sirkulasi umum atmosfer adalah gerak rata-rata dari angin di permukaan bumi.
Daerah sekitar equator yang tekanannya rendah, angin akan memusat dan naik, dan angin permukaan akan menjadi lemah atau berubah. Gaya gradien tekanan berarah dari tekanan tinggi subtropis menuju daerah konvergensi intertropis, angin dibelokkan oleh rotasi bumi sehingga angin membuat sudut pada waktu mendekati equator [18].
2.5.3 Prinsip Pergerakan Angin
Terdapat tiga kategori pada pola pergerakan angin yaitu terdiri dari, laminar, turbulen, dan terpisah, dapat dijelaskan pada table 2.3 kategori pergerakan angin [19].
Tabel 2. 3 Kategori Pergerakan Angin [20].
No Nama Pola Ilustrasi Keterangan
1 Laminar
Arus angin relatif sejajar satu sama lain dan dapat terprediksi karena tururbulensi internalnya rendah.
2 Turbulen
Pada awalnya pola
laminar yang mengalami
perubahan pola menjadi
acak dan tidak terprediksi
akibat adanya elemen
eksternal.
3 Terpisah
Pergesekan antar arus angin dapat mengurangi keceatan angin pada arus angin tertentu dalam kesejajaran yang tetap sama dan tanpa terbulensi internal.
2.5.4 Alat Pengukuran Angin
Pada jaman dahulu, sebelum ada alat pengukur, angin ditaksir dengan skala kekuatan angin yang dikemukakan oleh armada Beaufort dan disebut skala Beaufort. Ada 13 skala dari skala Beaufort 0 (nol) artinya angin tenang (calm) sampai skala 12 artinya angin siklon. Angin merupakan besaran vector yang mempunyai besar dana rah. Wind speed artinya skala besar kecepatan saja, sedangkan wind velocity artinya besaran vector artinya besarnya kecepatan dan arahnya. Wind speed diukur dengan anemometer, wind direction diukur dengan wind vane, dan wind velocity diukur dengan anemovane [20]. Tabel 2.4 menunjukan hubungan skala (bilangan) Beaufort dan kecepatan angin serta gejala yang dialami terhadap keadaan angin.
Tabel 2. 4 Hubungan Skala (Bilangan) Beaufort Dan Kecepatan Angin [21]
Skala Beaufort
Keadaan
Angin Gejala yang diamati Kecepatan Angin
Knot Ms-1 Km/J
0 Tenang Tenang, asap naik
vertical. < 1 0 β 0,2 < 1
1 Udara
Ringan
Arah angin ditunjukan oleh arah hanyut asap, tetapi tidak oleh pengukuran arah angin.
1 - 3 0,3 β 1,5 1 - 3
2 Sepoi Lemah
Angin terasa pada muka;
daun-daun menggeresik;
alat pengukur arah angin mulai digerakan angin.
4 -6 1,6 β 3,3 4 - 7
3 Sepoi
Lembut
Daun dan ranting kecil tetap bergerak; angin membentangkan bendera ringan.
7 - 10 3,4 β 5,4 12 β 19
4 Sepoi
Sedang
Daun dan kertas naik ke atas; cabang kecil bergerak.
11 - 16 5,5 β 7,9 20 β 28
5 Sepoi Segar
Pohon kecil mulai bergoyang;timbul bentuk gelombang kecil pada perairan pedalaman.
17 - 21 8,0 β 10,7 29 β 38
6 Sepoi Kuat Cabang besar bergerak;
kawat telepon terdengar 22 - 27 10,3 β 13,8 39 β 49
berdesing; sulit memakai paying.
7
Angin Ribut Lemah / Angin Puyuh
Seluruh pohon bergerak;
tidak mudah berjalan melawan angin.
28 - 33 13,9 β 17,1 50 β 61
8
Angin Ribut / Angin Puyuh
Kuat
Ranting pohon patah;
umumnya menghalangi gerak maju.
34 - 40 17,2 β 20,7 62 β 74
9
Angin Ribut Kuat / Angin Puyuh
Sangat Kuat
Kerusakan ringan pada
bangunan. 41 - 47 20,8 β 24,4 75 β 88
10 Badai / Topan
Jarang terjadi di pedalaman; pohon tumbang; kerusakan agak besar pada bangunan.
48 - 55 24,5 β 28,4 89 β 102
11
Badai Amuk / Topan
Badai
Sangat jarang terjadi;
disertai kerusakan yang luas.
56 - 63 28,5 β 32,6 103 β 117
12
Siklon / Topan Badai Sangat Hebat
Gelombang tinggi, hujan
deras β₯ 64 β₯ 32,7 β₯ 118
2.6 TEKNIK DIVERSITAS
Salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan kinerja sistem pada kanal fading. kanal Fading merupakan karakterisktik utama dalam propagasi radio bergerak. Fading dapat didefinisikan sebagai perubahan fase, polarisasi dan atau level dari suatu sinyal terhadap waktu. Definisi dasar dari fading yang paling umum adalah yang berkaitan dengan mekanisme propagasi yang melibatkan refraksi, refleksi, difraksi, hamburan dan redaman dari gelombang radio [21].
Teknik diversitas didasari pada kenyataan bahwa kesalahan di penerima terjadi dengan adanya fading yang terlalu dalam. Jika system dapat mengirimkan kepada penerima beberapa replika dari sinyal informasi yang sama, yang kemudian ditransmisikan, maka probabilitas seluruh komponen sinyal akan mengalami fading yang dalam akan dapat dikurangi. Suatu kanal mengalami fading yang dalam, maka
m