• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN ESQ UNTUK MEMBANGUN SDM UNGGUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN ESQ UNTUK MEMBANGUN SDM UNGGUL"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

UNTUK MEMBANGUN SDM UNGGUL

Disajikan dalam

SEMINAR NASIONAL PERPUSTAKAAN

“STRATEGI KOLABORATIF UNTUK SDM UNGGUL DI ERA INDUSTRI 4.0"

Rabu, 27 November 2019 di Ruang Seminar ISI Surakarta

Oleh :

Taufik Kasturi, P.Psi., M.si., Ph. D.

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

UPT. PERPUSTAKAAN

2019

(2)

PENGEMBANGAN ESQ UNTUK MEMBANGUN SDM UNGGUL

Taufik Kasturi

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sebelum muncul kajian tentang emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ), kecerdasan intelektual (IQ) dianggap sebagai ukuran kehebatan seseorang. IQ merupakan ukuran seluruh keunggulan, sehingga para orang tua lebih fokus pada peningkatan kecerdasan intelektual anak dibandingan dengan memfokuskan sisi emosional dan spiritual. Pada realitasnya para orang tua lebih menghargai anak-anak yang memiliki nilai ujian sekolah tinggi dibandingkan dengan melihat anak-anak menunjukkan sikap ramah terhadap setiap orang yang dijumpai, dan sabar dalam menghadapi masalah.

Pada usia anak-anak IQ barangkali bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan- persoalan praktis karena anak-anak belum memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar, skup lingkungan mereka masih kecil, hanya antar teman dan orang tua (Armansyah, 2002). Namun seiring bertumbuhnya anak-anak menuju dewasa, dan bertambahnya tugas-tugas sosial IQ tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Dibutuhkan kemampuan lain agar individu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, individu dapat diterima oleh orang lain, dan individu dapat mengungkapkan emosinya secara benar tanpa menimbulkan persoalan.

Sebelumnya banyak orang menganggap dengan IQ tinggi seseorang akan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hidupnya (Nggermanto, 2002), termasuk di dalamnya kemampuan manajerial, kemampuan mempengaruhi orang lain, kemampuan memimpin, dan bahkan seseorang dengan kemampuan IQ tinggi dapat membawa perubahan besar bagi dunia. Seiring dengan kompleksnya perkembangan zaman, masyarakat menyadari dibutuhkan kemampuan lain untuk membangun interaksi sosial dan kemampuan memberi makna atas segala yang dialami.

Kecerdasan Intelektual

Secara umum kecerdasan diartikan sebagai kemampuan yang membedakan kualitas individu satu dengan individu lain, individu yang memiliki kualitas lebih tinggi dikatakan lebih cerdas. Kecerdasan yang paling awal dikenal adalah kecerdasan

(3)

intelektual. Kecerdasan ini pertama kali diperkenalkan oleh tokoh psikologi perkembangan Alfred Binet (1857-1911). Binet adalah psikolog kelahiran Perancis yang pertama kali mengembangan tes inteligensi yang hingga saat ini dikenal dengan Tes Binet (Binet & Simon, 1980). Menurut Binet inteligensi manusia terbagi dalam tiga dimensi yaitu kemampuan mengarahkan pikiran, kemampuan merubah arah tindakan, dan kemampuan auto-kritik yaitu mengkritik diri sendiri (Delahooke, 2017). Apabila ketiga kemampuan tersebut ada pada diri seseorang maka individu memiliki kualitas diri di atas rata-rata karena mengungguli individu lain. Boehm (2011) secara lebih detil mendefiniskan kecerdasan inteligensi sebagai kemampuan kognitif yang dimiliki seseorang untuk menyesuaikan diri secara lebih efektif pada lingkungan sosial yang kompleks yang dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Para ahli mengakui kecerdasan intelektual ini sangat dahsyat, karena seseorang dengan kecerdasan ini akan memiliki kecakapan dalam berbagai dimensi (Robbins, 2011), seperti: Kecerdasan tentang angka, kemampuan hitung yang cepat dan akurat, kemampuan verbal, akurasi pemahaman dan persepsi, memiliki penalaran induktif yaitu kemampuan mengenali suatu urutan logis dalam suatu masalah, penalaran deduktif yaitu kemampuan menggunakan logika dan menilai dampak dari suatu peristiwa, kemampuan memvisualisasi spasial yaitu kemampuan mengabstraksikan suatu objek dalam berbagai posisi, dan kemampuan daya ingat tentang masa lalu dan masa kini.

Namun demikian, apakah kecerdasan intelektual ini merupakan segalanya?

Apakah setiap orang dengan kecerdasan intelektual tinggi akan mampu mengatasi segala persoalan hidup? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan kecerdasan intelektual yang tinggi tidak bisa mencocoki semua bidang pekerjaan.

Kemampuan kecerdasan intelektual yang tinggi cocok untuk pekerjaan-pekerjaan yang mengandalkan kemampuan intelektual seperti ilmuwan yang bekerja penuh di laboratorium, programmer computer yang menuntut untuk fokus pada satu tanggung jawab namun kurang dalam interaksi sosial, ataupun akuntan yang membutuhkan kejelian tinggi dalam memahami data-data keuangan di perusahaan (Robbins & Timothy, 2009).

Sementara bagaimana dengan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, menampilkan sisi positif untuk membangun kerjasama, seperti profesi guru, konselor, negosiator, marketing, manajer, dan public relation, apakah pekerjaan- pekerjaan tersebut hanya membutuhkan kecerdasan intelektual? Bagaimana tingkat keberhasilan individu dengan kecerdasan intelektual tinggi dalam mengelola pekerjaan- pekerjaan itu?

(4)

Pertanyaan-pertanyaan di atas akhirnya terjawab dalam realitas pekerjaan, di mana banyak orang dengan tingkat inteligensi yang tinggi, sukses dalam studi namun tidak sukses dalam pekerjaan dan karier. Mereka justru menjadi bawahan yang kesehariannya dikoordinasi oleh orang-orang dengan tingkat kecerdasan intelektual yang lebih rendah. Selanjutnya muncul spekulasi-spekulasi yang mengatakan bahwa kecerdasan intelektual penting sebagai pelontar untuk memasuki dunia kerja, namun kurang berhasil apabila diandalkan untuk membangun karier. Karena untuk sukses dalam karier kecerdasan saja tidaklah cukup, individu membutuhkan kematagan emosi, kestabilan sikap dan kepribadian, kemampuan bekerja dalam tim, memiliki sikap toleransi, dan lentur dalam pergaulan dengan berbagai orang dari latar belakang yang berbeda.

Kecerdasan Emosional

Terminologi kecerdasan emosi hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya tentang keterbatasan kecerdasan intelektual yang ternyata tidak bisa diandalkan pada setiap situasi. Peter Salovey dan John Mayer (1990) memperkenalkan konsep kecerdasan emosi yang kini berkembang pesat karena dianggap kompatibel dalam membentuk perilaku cerdas. Salovey dan Meyer (1990) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan seseorang untuk memahami suasana batin diri dan juga perasaan orang lain. Selain kedua tokoh tersebut, muncul pula tokoh lain yang tidak kalah populer dalam mengembangkan konsep kecerdasan ini. Daniel Goleman (2009) menulis buku yang sangat spektakuler “Emotional Intelligence”, buku ini telah menguatkan kedua tokoh pendahulunya akan eksistensi kecerdasan emosi bagi pengembangan individu.

Menurut Goleman (2009) kecerdasan emosi merupakan kemampuan memahami secara efektif untuk menggunakan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi, dan pengaruh dalam berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan memahami diri dan memahami orang lain merupakan kata kunci bagi kecerdasan emosi. Orang-orang yang memiliki kemampuan inteligensi tinggi tidak akan memiliki daya saing kuat tanpa memiliki kemampuan pemahaman diri dan orang lain. Banyak orang yang memiliki kecerdasan tinggi namun kurang beruntung dalam pekerjaan dan karier. Secara karier mereka jauh di bawah orang-orang dengan tingkat kecerdasan emosional yang baik meskipun kecerdasan intelektualnya lebih rendah. Hasil penelitian oleh National Association of College and Employee (NACE) di Amerika pada tahun 2002 memverifikasi pernyataan di atas. Berdasarkan dua puluh kriteria orang yang

(5)

sukses, komponen “IPK tinggi” berada diurutan ke 17. Berdasarkan penelitian tersebut orang yang sukses memiliki indikator seperti mampu bekerja sama, memiliki integritas tinggi, dapat berkomunikasi dengan lancar baik verbal maupun non verbal, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etik. Sementara penelitian lainnya yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Harvard University bahwa kesuksesan seseorang dalam dunia nyata (pekerjaan) lebih ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan mengelola orang lain.

Menurut penelitian tersebut pengetahuan dan ketrampilan hanya menyumbang dua puluh persen dari kesuksesan, sisanya 80% ditentukan oleh penguasaan soft skills.

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual merupakan fondasi untuk mengoptimalkan fungsi IQ dan EQ (Agustian, 2007). Secara mudah kecerdasan spiritual yaitu: “giving meaning” atau kemampuan seseorang dalam memberikan makna atas peristiwa yang dialami.

Kecerdasan ini akan memberikan arah kemana seharusnya IQ dan EQ melangkah (Agustian, 2004). Kecerdasan spiritual adalah cara melihat suatu fenomena secara menyeluruh, antar bagian saling terkoneksi (Buzan, 2003).

Esensi kecerdasan spiritual adalah kemampuan memberi makna dibalik peristiwa, baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Orang yang memiliki tingkat kecerdasan spiritual tinggi memiliki ketajaman memberi makna suatu peristiwa dan mengartikulasikannya dalam pandangan-pandangan dan perbuatannya. Melalui kecerdasan ini seseorang akan mencapai taraf “becoming” (menjadi) yaitu eksistensi dimana seseorang dapat menggunakan kemampuannya secara produktif dan terintegrasi pada masyarakat. Dalam konteks agama, maka kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan pandangan-pandangan, sikap, dan perilakunya pada tujuan dan nilai-nilai hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Tokoh yang muncul dengan konsep ini di antaranya Zohar dan Marshall (2005).

Menurut mereka ciri-ciri orang yang cerdas secara spiritual yaitu: 1) mampu bersikap fleksibel dalam menghadapi setiap situasi; 2) memiliki kesadaran diri yang tinggi; 3) mampu menghadapi dan memiliki cara pandang yang positif terhadap penderitaan; 4) mampu menghadapi dan melampaui perasaan sakit; 5) pandangan hidup didasarkan pada visi dan nilai-nilai; 6) mempertanyakan suatu keadaan secara fundamental; dan 7) memiliki pandangan hidup yang holistik dan perilakunya dapat menginspirasi orang lain.

(6)

Membangun Kolaborasi Berbasis Pengembangan EQ dan SQ

Pengelolaan SDM dalam suatu organisasi sangat menentukan keberlangsungan dan keberhasilan organisasi tersebut. Organisasi yang solid memiliki tim yang sehat, bahu-membahu untuk tujuan bersama. Kunci keberhasilan tim terletak pada penggerak atau dinamisatornya, yaitu pemimpin. Pemimpin yang memiliki kekuatan pengelolaan diri akan mampu mengelola orang lain di sekitarnya, sedangkan pemimpin yang lemah akan gagal dalam mengelola bawahannya. Hillary Elfenbein (2006) meneliti hubungan kecerdasan emosional dengan kinerja tim di tempat kerja. Menurutnya tim dengan rata- rata kecerdasan emosi tinggi mampu meningkatkan kinerja kelompok dibandingkan dengan tim yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

Kecerdasan Emosi dan Realita Dunia Kerja

Goleman mengklaim bahwa kecerdasan emosi lebih berpengaruh pada tercapainya kesuksesan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Pernyataan ini juga didukung oleh beberapa hasil penelitian, diantaranya menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual menyumbang terhadap kesuksesan sebesar 4% hingga 25%, sisanya 75%

hingga 96% ditentukan oleh kecerdasan emosi dan faktor-faktor lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak berdiri sendiri, membutuhkan kolaborasi dengan kemampuan lainnya agar seseorang meraih kesuksesan.

Dalam realitas pekerjaan, seseorang dituntut untuk menguasai beberapa hal, tidak sebatas kemampuan dirinya yang spesifik. Individu juga harus memiliki kecakapan dalam mengelola orang lain agar pekerjaan kelompok berjalan dengan lancar. Kecerdasan intelektual dapat membantu seseorang diterima dalam seleksi kerja dengan cara mengalahkan kompetitor lainnya. Kecerdasan intelektual juga dapat mengantarkan seseorang bekerja dengan baik, berhasil dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Akan tetapi, karier dalam pekerjaan tidak bisa diraih hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual ini. Seseorang membutuhkan bantuan dan kerja sama dengan orang lain untuk meraihnya. Dalam situasi ini seseorang membutuhkan kecerdasan emosional untuk meraihnya.

Dalam beberapa kondisi, orang dengan kecerdasan intelektual tinggi namun tanpa didukung dengan kecerdasan emosi yang baik akan menjadi persoalan di kemudian hari.

Dengan kecerdasan intelektual yang baik seseorang akan tampil dengan analisis yang tajam, dan ide-ide yang brilian. Namun orang seperti ini akan kesulitan ketika bekerja sama dalam satu tim. Apabila orang ini ditempatkan menjadi pemimpin, para anak buah

(7)

akan sulit memahami maksud karena komunikasi antara atasan dan bawahan tidak terbangun secara baik. Kalau dia menjadi anak buah, akan menjadi anak buah yang tidak kooperatif karena merasa dirinya lebih pintar dibandingkan dengan atasannya.

Kecerdasan Spiritual dalam membangun kolaborasi

Perkembangan persoalan hidup manusia yang makin kompleks, membawa manusia pada kesadaran bahwa kecerdasan intelektual tidak mampu menjawab semua persoalan. Selain itu kegersangan jiwa juga ternyata tidak mampu terjawab secara keseluruhan oleh kecerdasan emosional. Ada ruang yang belum terisi dalam jiwa, yaitu ruang yang terhubung dengan kekuatan besar Sang Pencipta (Idrus, 2002). Kondisi ini menyebabkan para ilmuwan mencoba mengungkap hubungan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Mereka menemukan pada bagian otak depan (lobus frontalis) terdapat titik yang menghubungkan antara jiwa dengan Sang Pencipta. Titik itu dinamakan sebagai “the God Spot” atau titik Tuhan. Apabila diberi rangsangan dengan gelombang mikro-elektronik yang halus, maka yang bersangkutan akan merasakan tenang, damai, dan rasa dekat dengan Sang Pencipta. Sampai di sini para ilmuwan tersadar bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah mahluk berketuhanan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Surah Ar Rum (30) ayat ke 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;

tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Kecerdasan spiritual dan produktivitas

Banyak pengalaman para muallaf ataupun “orang-orang jalanan” yang mengisahkan bahwa sejak masuk Islam mereka merasakan ketenangan karena mereka mulai memahami tujuan hidup yang sesungguhnya. Seiring dengan itu keseharian pun diwarnai dengan sikap dan perilaku yang positif, seperti memanfaatkan waktu secara produktif, dan tetapmemberi manfaat pada orang lain. Hubungan dengan keluarga inti seperti ayah dan ibu yang semula sangat buruk mulai berangsur membaik, karena agama mengajarkannya dan benar-benar telah menyentuh kalbu mereka sehingga dapat digerakkan untuk jalan kebaikan. Inilah makna “The God Spot” yaitu titik ketuhanan telah merubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan dan dunia.

(8)

Kecerdasan Spiritual dan Pemberdayaan SDM

Titik Ketuhanan yang telah tersentuh (ilham), akan merubah kehidupan seseorang secara signifikan. Kesadaran ini berimplikasi pada banyak aspek dalam kehidupan. Ayah bersikap lebih lembut pada anak-anaknya, anak lebih hormat pada orang tuanya, pekerja lebih produktif dalam mengerjakan tugas-tugasnya, pimpinan lebih komunikatif dan atentif terhadap para bawahannya. Dengan kalimat lain kecerdasan spiritual dapat membangun tim kerja yang solid dan efektif.

Soliditas dalam suatu tim terjadi ketika masing-masing anggota tim menyadari tugas dan peran masing-masing. Kesadaran akan tugas ini membawa pada tanggung jawab untuk melaksanakannya. Titik Ketuhanan benar-benar efektif, karena masing- masing anggota merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap gerak-geriknya. Maka energi kesadaran ini selanjutnya akan bergulir menjadi kekuatan luar biasa untuk membangkitkan semangat diri guna mencapai keberhasilan bersama.

Kesimpulan

Untuk menuju SDM unggul peranan kecerdasan emosi dan spiritual perlu terus ditingkatkan. Kekuatan IQ, EQ, dan SQ merupakan perpaduan yang ideal untuk meningkatkan performa tim dan personal. Kecerdasan spiritual sebagai landasan berpijak, dan kecerdasan emosi serta kecerdasan intelektual sebagai mata arah yang akan melejitkan kemampuan seseorang. Bagi para orang tua dan pendidik seyogyanya tidak hanya fokus pada kemampuan intelektual yang bersifat genetis, tapi juga memberikan porsi besar bagi peningkatan kapasitas emosi dan spiritual.[]

Daftar Pustaka

Agustian, Ary Ginanjar. 2004. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual, New Edition, Jakarta: Arga Publishing

Agustian, Ary Ginanjar. 2007. Emotional Spiritual Quotient The ESQ Way 165. Jakarta:

Arga Publishing

Armansyah. 2002. Intelegency Quotient, Emotional Quotient, dan Spiriyual Quotient Dalam Membentuk Prilaku Kerja, Jurnal Ekonomi dan Bisnis.

Binet A., & Simon T. 1980. The development of intelligence in children (trans. Kite E. S., with Terman’s L. M. marginal notesDunn L. M., translators. (ed.)). Nashville:

Williams Printing

(9)

Boehm, M., 2011. Factor Structure of the Wechsler Intelligence Scale for Children- Fourth Edition among Students with Attention Deficit Hyperactivity Disorder.

Thesis. Arizona State University.

Buzan, T. 2003. Kekuatan ESQ : 10 Langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Spiritual. Terj. Anan Budi Kuswandani. Indonesia: PT Pustaka Delaptosa

Delahooke, M. 2017. Social and emotional development: in early intervention. Eau Claire: PESI Publishing and Media

Goleman, Daniel. 2009. Emotional Intelegence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hillary Elfenbein. 2006. Team Emotional Intelligence: What it can mean and how it can impact performance in The link between emotional intelligence and effective performance. Lawrence Erlbaum.

Idrus, M. 2002. Kecerdasan Spiritual Mahasiswa Yogyakarta, Psikologi Phronesis. Jurnal Ilmiah dan Terapan, Vol. 4, No. 8, h. 72-91 Desember 2002.

Nggermanto, A. 2002. Quantum Quetient (Kecerdasan Quantum) Cara Cepat Melejitkan IQ, EQ dan SQ Secara Harmonis. Bandung: Yayasan Nusantara.

Robbins, S.P., & Timothy, A.J. 2009. Organizational Behavior. 13 ThreeEdition, USA:

Pearson International Edition, Prentice-Hall.

Salovey, P. & Mayer, J. D. 1990. Emotional intelligence. Imagination, Cognition, and Personality, 9, 185-211.

Zohar, D., & Marshal, I. 2005. Spiritual Capital. Jakarta: Mizan.

Referensi

Dokumen terkait