Program dilaksanakan dengan dukungan dana dari Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada
BERMITRA DENGAN
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia
Panji Nurindra, Indra Prahasta, and Bambang Sumarjono
CANADA–INDONESIA TRADE AND PRIVATE SECTOR ASSISTANCE PROJECT
TPSA
CANADA–INDONESIA TRADE AND PRIVATE SECTOR ASSISTANCE PROJECTLAPORAN PENELITIAN TPSA
NOVEMBER 2016 CANADA–INDONESIA TRADE AND
PRIVATE SECTOR ASSISTANCE PROJECT
TPSA
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia Bab 1 Penulis: Panji Nurindra
Bab 2 Penulis: Bambang Sumarjono Bab 3 Penulis: Indra Prahasta
Kedua penulis bekerja di Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Mereka menyusun penelitian dan menulis laporan ini selama magang dua bulan di The Conference Board of Canada pada musim gugur 2016.
Tentang Proyek TPSA
TPSA adalah proyek lima tahun senilai C$12 juta yang didanai Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Proyek ini dilaksanakan oleh The Conference Board of Canada, dan mitra pelaksana utamanya adalah Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kementerian Perdagangan.
TPSA dirancang untuk menyelenggarakan pelatihan, penelitian, dan bantuan teknis kepada instansi pemerintah Indonesia, sektor swasta—terutama usaha kecil dan menengah (UKM)—akademisi, dan organisasi masyarakat sipil terkait informasi perdagangan, analisis kebijakan perdagangan, reformasi aturan perundangan, serta promosi perdagangan dan investasi oleh warga Kanada, Indonesia, dan para ahli dari organisasi publik maupun swasta.
Tujuan keseluruhan TPSA adalah mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan serta menanggulangi kemiskinan di Indonesia melalui intensifikasi perdagangan dan investasi yang meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Kanada. TPSA dimaksudkan untuk meningkatkan peluang investasi dan perdagangan yang berkelanjutan dan responsif gender, terutama untuk UKM Indonesia, dan memperluas pemakaian analisis investasi dan perdagangan oleh pemangku kepentingan di Indonesia guna meningkatkan kemitraan investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Kanada.
Hak Cipta 2016 Proyek TPSA
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia iii
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif . . . .1
Bab 1: Kontribusi Jasa pada Perekonomian indonesia . . . . 2
Seberapa Pentingnya Jasa terhadap Perekonomian Indonesia? . . . 2
Seberapa Pentingnya Jasa terhadap Ekspor Indonesia? . . . 6
Bagaimanakah Cara Mengekspor Jasa? . . . 7
Seberapa Pentingnya Jasa Langsung dalam Ekspor Indonesia? . . . 8
Ekspor Jasa Langsung Apa yang Paling Penting bagi Indonesia? . . . 10
Jasa dengan Permintaan Tinggi . . . 12
Jasa Bernilai Tinggi . . . 19
Jasa Potensial . . . 24
Apa Implikasi Temuan yang Ada? . . . 26
Bab 2: Kontribusi Jasa pada Ekspor Barang indonesia . . . . 28
Bagaimana Jasa Terkandung dalam Ekspor Barang? . . . 28
Apakah Indonesia Memanfaatkan Rantai Pasok Global dalam Jasa? . . . 30
Subindustri Manufaktur Indonesia Mana yang Mengandung Jasa Paling Banyak? . . . 34
Apakah Indonesia Bisa Tetap Bersaing dengan Negara-Negara Sejawat dalam Sektor Ekspor Manufaktur Utama? . . . 35
Apa Sektor Jasa Terbesar yang Terkandung dalam Ekspor Manufaktur? . . . 37
Bagaimana Perbandingan Indonesia dengan Negara-Negara Sejawat untuk Jasa Bernilai Tinggi? . . . 38
Apa Implikasi Temuan yang Ada? . . . 41
Bab 3: Dampak Pembatasan investasi dan Perdagangan terhadap Ekspor Jasa indonesia . . . . 42
Seberapa Pentingkah Sektor Jasa Itu? . . . 42
Mengapa Kontribusi Jasa Indonesia pada PDB Begitu Rendah? . . . 43
Mengapa FDI dalam Jasa Penting? . . . 45
Apakah Sektor Jasa Indonesia Lebih Ketat Daripada Negara Lain? . . . 46
Indeks Pembatasan Regulasi FDI . . . 46
Indeks Pembatasan Perdagangan Jasa . . . 48
Pembatasan Apa yang Menghambat Sektor Jasa di Indonesia? . . . 50
Jasa Distribusi . . . 50
Jasa Transportasi . . . 52
Jasa Pariwisata . . . 53
Komputer dan Jasa Terkait . . . 54
Jasa Bisnis . . . 55
Jasa Telekomunikasi . . . 56
Jasa Keuangan . . . 57
Bagaimana Pembatasan Memengaruhi Daya Saing Sektor Jasa? . . . 59
Apa Implikasi Temuan yang Ada? . . . .60
Bibliografi . . . . 62
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 1
Ringkasan Eksekutif
Peran penting jasa dalam kinerja perdagangan suatu negara sebagian besar telah diabaikan. Hal ini sebagian karena secara historis negara lebih berfokus pada ekspor barang. Dibandingkan dengan barang, jasa bersifat “tidak berwujud”—jasa sering kali sulit diamati saat melintasi perbatasan dan memberi nilai tambah pada perdagangan. Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa, sampai saat ini, sistem statistik nasional mengalami kesulitan untuk mendapatkan dan mengukur nilai jasa dalam perdagangan. Kumpulan data baru yang dikembangkan bersama oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development atau “OECD”) dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization atau “WTO”) telah mengisi celah tersebut dan memperlihatkan bahwa, meskipun ekspor barang masih mendominasi perdagangan Indonesia, jasa memainkan peran yang jauh lebih penting dalam ekspor Indonesia ketimbang yang ditunjukkan statistik konvensional. Porsi jasa dalam ekspor Indonesia lebih dari dua kali lipat saat ukuran nilai tambah perdagangan digunakan.
Selain itu, jasa yang terkandung dalam ekspor barang sebenarnya memiliki nilai yang besar dan kebanyakan diabaikan. Sayangnya, ekspor barang Indonesia mengandung porsi jasa yang di bawah rata-rata dibandingkan dengan ekspor beberapa negara sejawat. Temuan ini berlaku untuk semua ekspor barang utama Indonesia. Indonesia belum mengikuti jejak negara-negara sejawatnya dalam memanfaatkan keunggulan dari ekspor jasa.
Salah satu alasan di balik kinerja yang relatif buruk ini mungkin karena tingginya tingkat pembatasan investasi dan perdagangan di sektor jasa. Data menunjukkan bahwa sektor jasa utama Indonesia lebih ketat terhadap investasi langsung asing daripada rata-rata negara lain, yang dapat mengganggu daya saing internasional sektor-sektor tersebut.
Ini menjadi perhatian, mengingat meningkatnya perhatian di seluruh dunia pada sektor jasa sebagai sumber pertumbuhan yang potensial, kontribusi sektor jasa terhadap daya saing sektor lain, dan peluang yang ada untuk memperoleh keuntungan dari inovasi perdagangan jasa.
Bab 1: Kontribusi Jasa pada Perekonomian Indonesia
Peran penting jasa dalam kinerja perdagangan suatu negara sebagian besar telah diabaikan. Hal ini sebagian karena secara historis negara lebih berfokus pada ekspor barang. Dibandingkan dengan barang, jasa bersifat “tidak berwujud”—jasa sering kali sulit diamati saat melintasi perbatasan dan memberi nilai tambah pada perdagangan. Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa, sampai saat ini, sistem statistik nasional mengalami kesulitan untuk mendapatkan dan mengukur nilai jasa dalam perdagangan. Kumpulan data baru yang dikembangkan bersama oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development atau “OECD”) dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization atau “WTO”) telah mengisi celah tersebut dan memperlihatkan bahwa jasa memainkan peran lebih besar ketimbang anggapan yang dianut selama ini, terutama dengan munculnya rantai nilai global (Global Value Chain atau “GVC”). Namun, sayangnya Indonesia belum mengikuti jejak negara-negara sejawat untuk memanfaatkan keuntungan dari ekspor jasa. Ini menjadi perhatian, mengingat adanya peningkatan perhatian berbagai kalangan di seluruh dunia pada sektor jasa sebagai sumber pertumbuhan yang potensial, kontribusi sektor jasa terhadap daya saing sektor lain, dan peluang yang ada untuk memperoleh keuntungan dari inovasi perdagangan jasa.
Seberapa Pentingnya Jasa terhadap Perekonomian Indonesia?
Sebagian besar ekonomi modern sebenarnya adalah ekonomi jasa. Menurut data yang dilaporkan Bank Dunia, industri penghasil jasa menyumbangkan 70% dari produk domestik bruto (PDB) dunia.1 Ekonomi modern bukan hanya bergantung pada peran langsung jasa dalam menciptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi, tetapi juga perannya di balik layar, menambah nilai pada hampir setiap segmen produksi barang.
Misalnya, jasa bisnis—seperti desain, legal, dan teknik—memainkan peran penting dalam rangkaian kegiatan produksi baik di hulu maupun hilir. Dan jasa distribusi memungkinkan pergerakan barang yang efisien, sehingga meningkatkan daya saing global negara tersebut.
Menurut Badan Pusat Statistik, jasa menyumbangkan 51% pada PDB Indonesia di tahun 2015.2 (Lihat Bagan 1.) Sebaliknya, manufaktur hanya menyumbangkan 24%; pertanian, pertambangan, kehutanan, dan perikanan menyumbangkan 14%; pertambangan dan penggalian menyumbang 10%; serta listrik, gas, dan air menyumbangkan 1% sisanya.
1 World Bank Group, World Development Indicators.
2 Badan statistik nasional Indonesia memasukkan konstruksi dalam definisi jasa. Bank Dunia tidak memasukkan konstruksi dalam data jasa.
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 3 BAGAN 1: JASA MENYUMBANGKAN LEBIH DARI SEPARUH PDB INDONESIA PADA 2015
(persen)
Sumber: Badan Pusat Statistik.
Jasa telah menjadi semakin penting dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2000, jasa menyumbangkan 44% dari PDB. Meskipun terdapat sedikit penurunan akibat krisis keuangan tahun 2008–09, jasa sebagai bagian dari PDB tumbuh menjadi 51% pada tahun 2014. (Lihat Bagan 2.) Ini berarti jasa menjadi lebih terintegrasi ke dalam perekonomian Indonesia. Pertumbuhan jasa merupakan pertanda baik bagi perekonomian Indonesia, karena ekonomi yang didominasi oleh jasa merupakan ciri khas negara maju, sementara negara-negara yang kurang berkembang lebih mengandalkan industri primer.
BAGAN 2: JASA MENJADI SEMAKIN PENTING (proporsi PDB Indonesia, persen)
44 44
46,1
47,3 47,6 47,4 47,6 47,2 45,9
47 48 48,4
49 49,8 50,7
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik.
14 Pertanian, Berburu, Kehutanan, dan Perikanan
10 Pertambangan dan Penggalian
24 Manufaktur
1 Listrik, Gas, dan Pasokan Air
51 Jasa (termasuk konstruksi)
Lebih dari separuh tenaga kerja yang bekerja di Indonesia berkarya di industri jasa. (Lihat Bagan 3.) Porsi terbesar kedua—33%—terdiri dari pekerja di sektor pertanian, pertambangan, kehutanan, dan perikanan.
Karyawan di industri manufaktur mewakili 13% dari tenaga kerja, sementara pekerjaan di bidang pertambangan dan penggalian mewakili 1,2%. Bagian terkecil lapangan kerja terdiri dari pekerjaan di industri listrik, gas, dan air—0,03% lapangan kerja.
BAGAN 3: LEBIH DARI SEPARUH PEKERJA INDONESIA PADA TAHUN 2015 BEKERJA DI SEKTOR JASA (persen)
Sumber: Badan Pusat Statistik.
Pertumbuhan pekerjaan jasa dalam total lapangan kerja di Indonesia cukup menjanjikan selama satu dekade terakhir. Bagan 4 menunjukkan bahwa, antara tahun 2000 dan 2005, porsi lapangan kerja jasa tetap stabil di kisaran 43%. Setelah tahun 2005, porsi tersebut terus meningkat menjadi hampir 53% pada tahun 2015.
32,9 Pertanian, Berburu, Kehutanan, dan Perikanan
1,2 Pertambangan dan Penggalian
13,3 Manufaktur
0,3 Listrik, Gas, dan Pasokan Air
52,4 Jasa (termasuk konstruksi)
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 5 BAGAN 4: PORSI LAPANGAN KERJA SEKTOR JASA DI INDONESIA MENINGKAT
(persen)
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 41,2 41,7 41,6
40,3 43,5
42,1 44,3
45,2 46,2 46,8 47,5 48,5 49,3 50,5
51,2 52,4
Sumber: Badan Pusat Statistik.
Menurut statistik Badan Pusat Statistik, porsi lapangan kerja terbesar terdapat dalam kelompok perdagangan grosir dan ritel/hotel dan restoran. (Lihat Bagan 5.) Pekerjaan ini menyumbangkan lebih dari 40% lapangan kerja jasa. Sumbangan terbesar kedua untuk lapangan kerja jasa berasal dari kelompok jasa masyarakat, sosial, dan pribadi, dengan porsi sekitar 30% dari pekerjaan jasa. Porsi di kedua kelompok tersebut cukup stabil dari waktu ke waktu. Porsi bidang konstruksi meningkat dari 12% menjadi hampir 14%, sementara porsi sektor transportasi dan penyimpanan sedikit menurun. Kelompok pembiayaan, real estat, penyewaan, dan bisnis menyumbangkan porsi terkecil dari pekerjaan jasa—5,4%—walaupun porsi tersebut sedikit meningkat seiring waktu.
BAGAN 5: PERDAGANGAN GROSIR DAN RITEL/HOTEL DAN RESTORAN MERUPAKAN PEMBERI KERJA TERBESAR
(porsi industri jasa dalam lapangan kerja Indonesia, persen)
Perdagangan grosir dan ritel; hotel dan restoran 42,8 42,7 30,7 29,8 12,0 13,6 9,6 8,5 5,0 5,4
Sumber: Badan Pusat Statistik.
2011 2015
Layanan masyarakat, sosial, dan pribadi
Konstruksi
Transportasi dan penyimpanan, pos dan telekomunikasi Pembiayaan, real estat, penyewaan, dan kegiatan
bisnis
Seberapa Pentingnya Jasa terhadap Ekspor Indonesia?
Jawaban atas pertanyaan ini bervariasi tergantung bagaimana ekspor jasa diukur. Statistik perdagangan konvensional mengabaikan ekspor jasa jika dibandingan dengan ekspor barang. Ada dua alasan untuk rendahnya penilaian ini:
1. Ekspor barang dihitung setiap kali barang tersebut melintasi perbatasan, meski hanya sejumlah kecil nilai yang ditambahkan saat melintasi perbatasan. Karena fragmentasi GVC, barang lebih sering melintasi perbatasan daripada jasa. (Lihat kotak “Apakah Rantai Nilai Global Itu?”)
2. Nilai jasa di balik layar dalam produksi barang tidak dikaitkan sebagai ekspor jasa, melainkan sebagai ekspor barang. Misalnya, nilai desain, rekayasa, atau kegiatan distribusi termasuk dalam harga barang—dan nilai totalnya dihitung sebagai ekspor barang.
APAKAH RANTAI NILAI GLOBAL ITU?
Produksi, perdagangan, dan investasi internasional semakin tertata dalam apa yang disebut sebagai GVC, di mana berbagai tahapan proses produksi berada di berbagai negara. Munculnya GVC telah menantang pemahaman konvensional kita tentang bagaimana kita memandang dan menafsirkan statistik perdagangan, beserta kebijakan yang kita kembangkan berdasarkan statistik tersebut. Saat ini, satu produk jadi seringkali merupakan hasil dari manufaktur dan perakitan di beberapa negara, dengan setiap langkah dalam prosesnya menambahkan nilai pada produk akhir.
Cara yang lebih baik untuk mendapatkan gambaran lebih akurat mengenai nilai ekspor jasa yang sebenarnya adalah dengan menggunakan statistik nilai tambah. Statistik nilai tambah hanya mengukur nilai tambah yang dihasilkan sebuah negara pada barang yang diekspor. Hal itu memperhitungkan dan memisahkan nilai dari berbagai aktivitas yang terjadi sepanjang proses produksi alih-alih menghubungkan semua nilai ke produk akhir. Misalnya, perhatikan contoh sederhana dari pakaian batik yang diekspor oleh pabrikan seharga US$100. Data perdagangan konvensional akan mengaitkan nilai total dengan ekspor barang.
Namun, pendekatan nilai tambah memecah $100 menjadi nilai yang benar-benar ditambahkan pada setiap langkah rantai produksi. (Lihat Ekshibit 1.) Pendekatan nilai tambah akan mengaitkan US$20 dengan ekspor jasa (desain, distribusi, dan pemasaran) dan US$80 untuk ekspor barang (kain dan manufaktur).
EKSHIBIT 1: JASA MEMAINKAN PERAN PENTING DALAM RANTAI PRODUKSI
DESAIN
$10
KAIN
$20
MANUFAKTUR
$60
DISTRIBUSI
$5
PEMASARAN
$5
Sumber: Proyek Canada–Indonesia Trade and Private Sector Assistance (TPSA).
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 7 Bagan 6 membandingkan porsi barang dan jasa dalam ekspor Indonesia dengan menggunakan statistik konvensional dan pendekatan perdagangan nilai tambah. Data konvensional yang dipublikasikan oleh Kementerian Perdagangan RI mengungkapkan bahwa jasa menyumbangkan 10% dari total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011, sementara barang menyumbangkan 90% sisanya.3
BAGAN 6: JASA LEBIH PENTING DARIPADA YANG DITUNJUKKAN PERHITUNGAN KONVENSIONAL (proporsi ekspor Indonesia, 2011, persen)
Sumber: Departemen Perdagangan RI; Basis Data OECD-WTO TiVA..
Porsi jasa dalam ekspor lebih dari dua kali lipat—22%—dengan menggunakan perhitungan nilai tambah dari perdagangan yang dipublikasikan dalam basis data perdagangan nilai tambah (TiVA). Metode ini menggambarkan dengan lebih tepat kontribusi jasa terhadap ekspor Indonesia, yang mencerminkan peran jasa Indonesia dalam GVC. Analisis berikut di bab ini dan selanjutnya akan dilakukan dengan menggunakan basis data TiVA.
Bagaimanakah Cara Mengekspor Jasa?
Jasa dapat diekspor secara langsung, terkandung dalam jasa lain, atau terkandung dalam barang. Basis data TiVA tidak hanya memberi kita gambaran yang lebih tepat mengenai kontribusi ekspor jasa, tetapi juga memungkinkan peneliti untuk memisahkan data jasa ke dalam tiga jenis di bawah ini sehingga kita dapat lebih memahami berbagai cara untuk mengekspor jasa.
1. Langsung: Jasa langsung diperdagangkan sebagai komoditas yang berdiri sendiri dan bukan sebagai input perantara baik untuk barang maupun jasa lainnya. Contoh jasa langsung adalah konsultan komputer Indonesia yang menjual jasanya ke perusahaan di Jerman.
2. Terkandung dalam jasa lain: Beberapa jasa tercakup dalam jasa lain dan oleh karena itu dikonsumsi secara tidak langsung di pasar luar negeri. Contoh jasa yang terkandung dalam ekspor jasa lain adalah konsultan komputer Indonesia yang menjual jasanya ke perusahaan desain Indonesia, yang pada gilirannya menjual jasa desainnya ke sebuah perusahaan di Jerman.
3 Tahun 2011 digunakan karena merupakan tahun terakhir yang dipublikasikan dalam database TiVA.
KONVENSIONAL
90 Barang
10 Jasa
BERNILAI TAMBAH
78 Barang
22 Jasa
3. Terkandung dalam barang: Beberapa jasa berperan dalam proses produksi barang yang sedang dibuat dan oleh karena itu tercakup dalam barang itu. Contohnya adalah perusahaan desain Indonesia yang menjual desain batiknya ke produsen tekstil Indonesia yang pada gilirannya mengekspor kain itu ke Jerman.
Antara tahun 2000 dan 2011, total ekspor bruto Indonesia untuk jasa meningkat lebih dari tiga kali lipat.
(Lihat Bagan 7.) Dalam total ekspor bruto untuk jasa, jasa langsung mencatat porsi yang terbesar.
BAGAN 7: EKSPOR JASA INDONESIA NAIK TIGA KALI LIPAT (ekspor jasa bernilai tambah bruto, US$ juta)
2000 2005 2008 2009 2010 2011 60
50 40 30 20 10 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Bab ini akan berfokus pada peran jasa langsung dalam ekspor Indonesia. Peran jasa yang terkandung dalam ekspor barang dibahas di Bab 2.
Seberapa Pentingnya Jasa Langsung dalam Ekspor Indonesia?
Nilai ekspor jasa langsung meningkat dari US$8,6 miliar pada tahun 2000 menjadi US$21,4 miliar pada tahun 2011. Meskipun terdapat peningkatan, ekspor jasa langsung menyumbangkan proporsi yang lebih kecil dalam total ekspor Indonesia pada tahun 2011 jika dibandingkan dengan tahun 2000. Pada tahun 2000, 38% dari nilai total ekspor berasal dari ekspor jasa langsung. Angka ini turun menjadi 33% pada tahun 2011. (Lihat Bagan 8.) Penting untuk diingat bahwa ekspor jasa langsung Indonesia tidak menurun nilainya—bahkan, nilainya meningkat sebesar 8,7% per tahun—tetapi jumlahnya mewakili porsi yang lebih kecil dari total nilai ekspor selama dekade tersebut.
Terkandung dalam ekspor barang
Terkandung dalam ekspor jasa lainnya
Langsung
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 9 BAGAN 8: EKSPOR JASA LANGSUNG MENCATAT PENURUNAN PORSI EKSPOR BERNILAI TAMBAH
(persen) 37,8
34,7
33,6
34,4
33,6
32,7
2000 2005 2008 2009 2010 2011
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Beberapa negara sejawat Indonesia juga mengalami penurunan porsi ekspor jasa langsung dari total ekspor.4 Bagan 9 memperlihatkan bahwa Tiongkok dan India telah mencatat penurunan porsi, seperti halnya Thailand dan Vietnam. Di empat negara sejawat lainnya, jasa langsung mengambil peran lebih penting dalam keseluruhan ekspor. Dalam kasus Filipina, porsi tersebut meningkat hampir 15% antara tahun 2000 dan 2015.
BAGAN 9: PORSI EKSPOR JASA TURUN DI BEBERAPA NEGARA SEJAWAT (ekspor langsung bernilai tambah, persen)
Singapura Kamboja Filipina Malaysia India Thailand Indonesia Vietnam Tiongkok 60
50 40 30 20 10 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
4 Database TiVA tidak mencakup data untuk semua negara ASEAN. Oleh karena itu, laporan ini telah memilih delapan negara dalam basis data yang merupakan negara sejawat Indonesia: Kamboja, Tiongkok, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
2000 2011
Di sebagian besar negara berpendapatan tinggi, porsi jasa langsung dalam keseluruhan ekspor meningkat selama dekade terakhir. (Lihat Bagan 10.)
BAGAN 10: PENINGKATAN PORSI JASA DALAM EKSPOR NEGARA-NEGARA BERPENDAPATAN TINGGI
(ekspor langsung bernilai tambah, persen)
Kanada AS EU28
50
40
30
20
10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Ekspor Jasa Langsung Apa yang Paling Penting bagi Indonesia?
Dengan menggunakan daftar TiVA untuk industri jasa Indonesia (lihat Kotak “Bagaimana Ekspor Jasa Didefinisikan?”), kami telah mengidentifikasi tiga pengelompokan jasa yang dianggap penting bagi masa depan kinerja ekspor Indonesia:
1. Jasa dengan permintaan tinggi:
a) Jasa penyokong—jasa yang memainkan peran penting dalam memungkinkan distribusi dan pergerakan ekspor barang secara efisien (perdagangan grosir dan ritel dan jasa transportasi) b) Jasa terkait pariwisata—jasa hotel dan restoran
2. Jasa bernilai tinggi:
a) penelitian dan pengembangan (litbang) dan jasa terkait lainnya b) komputer dan jasa terkait
3. Jasa dengan pertumbuhan tinggi (yang berpotensi):
a) Jasa pendidikan
b) Layanan kesehatan dan sosial
2000
2011
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 11 Seperti dapat dilihat pada Bagan 11, perdagangan grosir dan ritel—“jasa penyokong”—merupakan yang terbesar dari 15 sektor jasa yang dilaporkan dalam basis data TiVA, dengan nilai ekspor melebihi US$10 miliar pada tahun 2011. Jasa penyokong lainnya—transportasi—menempati peringkat ketiga. Jasa yang berhubungan dengan pariwisata berada di posisi kedua. Jasa ini diikuti hotel dan restoran, dengan nilai ekspor sebesar US$4,2 miliar, dan transportasi & penyimpanan, dengan nilai US$3,2 miliar. Kendati jasa bernilai tinggi saat ini tidak mewakili porsi ekspor jasa yang signifikan dari Indonesia, jasa tersebut penting baik bagi negara maju maupun berkembang untuk naik dalam rantai nilai jasa. Kelompok terakhir—jasa seperti pendidikan—tidaklah besar, tetapi telah menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari rata-rata dan dapat diharapkan untuk memainkan peran yang lebih penting dalam tinjauan ekspor Indonesia di masa depan.
BAGAIMANA EKSPOR JASA DIDEFINISIKAN?
Ada perbedaan antara data jasa yang dipublikasikan di basis data TiVA dan data yang dipublikasikan oleh WTO. Basis data TiVA mengklasifikasikan jasa menjadi 15 kelompok utama sesuai dengan Klasifikasi Industri Standar Internasional (International Standard Industrial Classification atau “ISIC”) Rev. 3, divisi 45 sampai 95. Ada 12 sektor jasa dalam Daftar Klasifikasi Sektoral WTO. Kesesuaian antara kedua daftar tersebut dapat dikembangkan dengan menggunakan registri klasifikasi PBB.
KLASIFIKASI WTO KLASIFIKASI TIVA
Jasa bisnis Jasa komunikasi
Jasa konstruksi dan rekayasa terkait Jasa distribusi
Jasa pendidikan Jasa lingkungan Jasa keuangan
Layanan kesehatan dan sosial Jasa pariwisata dan perjalanan Jasa rekreasi, budaya, dan olahraga Jasa transportasi
Jasa lainnya yang belum dicantumkan di pos lain
Konstruksi
Perdagangan grosir dan ritel; servis Hotel dan restoran
Transportasi dan penyimpanan Pos dan telekomunikasi Keuangan dan asuransi Kegiatan real estat
Penyewaan mesin dan peralatan Komputer dan kegiatan terkait Litbang dan kegiatan bisnis lainnya
Administrasi publik dan pertahanan; jaminan sosial wajib
Pendidikan
Layanan kesehatan dan sosial
Layanan masyarakat, sosial, dan pribadi lainnya Rumah tangga pribadi dengan orang yang dipekerjakan
BAGAN 11: JASA PENYOKONG MERUPAKAN EKSPOR JASA TERBESAR DI INDONESIA (ekspor langsung bernilai tambah, 2011, US$ miliar)
Litbang dan kegiatan bisnis lainnya Komputer dan jasa terkait Perantara keuangan Kesehatan dan kerja sosial Sewa mesin dan peralatan Pendidikan Pos dan telekomunikasi Konstruksi Kegiatan real estat Layanan masyarakat, sosial, dan pribadilainnya Transportasi dan penyimpanan Hotel dan restoran Perdagangan grosir dan ritel; servis
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Jasa dengan Permintaan Tinggi Jasa Penyokong
Jasa perdagangan grosir dan ritel (wholesale and retail trade atau “WRT”) menyumbang porsi terbesar dari ekspor jasa langsung Indonesia dan merupakan salah satu industri paling penting dalam memfasilitasi pergerakan barang ekspor secara efisien. Industri jasa WRT di Indonesia tercatat memiliki pangsa ekspor WRT dunia yang sedikit lebih besar, meningkat dari 0,96% pada tahun 2000 menjadi 1,2% pada tahun 2011.
(Lihat Bagan 12.)
0,04 0,07 0,08 0,09 0,20 0,23 0,56 0,61 0,71 1,21 3,24 4,18 10,21
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 13 BAGAN 12: PERDAGANGAN GROSIR DAN RITEL INDONESIA MEMPEROLEH PANGSA EKSPOR
DUNIA YANG LEBIH BESAR UNTUK PERDAGANGAN GROSIR DAN RITEL (persen)
0,96
0,92
0,94
0,92
1,06
1,20
2000 2005 2008 2009 2010 2011
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Namun, dibandingkan dengan negara-negara sejawatnya, porsi kenaikan ekspor Indonesia untuk WRT jauh lebih kecil daripada dibanding Tiongkok, yang meningkat dari 6,4% pada tahun 2000 menjadi 16% pada tahun 2011. (Lihat Bagan 13.) Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja ekspor barang Tiongkok ke dunia, karena WRT terkait erat dengan ekspor barang. Indonesia berada di peringkat kelima di antara negara-negara sejawatnya, di belakang Thailand dan Malaysia, yang pangsa ekspor dunianya masing-masing mencapai 1,4% dan sedikit di atas 1,2%, tetapi lebih tinggi daripada Singapura, Vietnam, Filipina, dan Kamboja.
BAGAN 13: TIONGKOK MENDOMINASI DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT DALAM HAL PANGSA EKSPOR DUNIA UNTUK WRT
(persen)
Tiongkok India Thailand Malaysia Indonesia Singapura Vietnam Filipina Kamboja 18
16 14 12 10 8 6 4 2
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
2000 2011
Pada tahun 2011, Amerika Serikat (AS) mengimpor lebih dari US$2 miliar untuk layanan WRT Indonesia, yang nilainya naik hampir dua kali lipat dari tahun 2000. (Lihat Bagan 14.) Ini merupakan 20% dari total ekspor WRT Indonesia, menjadikan AS pengimpor terbesar untuk jasa WRT Indonesia. Lima negara tujuan teratas lainnya untuk jasa WRT Indonesia adalah Jepang, India, Tiongkok, dan Jerman, dengan nilai yang berkisar US$455–700 juta pada tahun 2011.
BAGAN 14: AS MERUPAKAN PASAR TERBESAR UNTUK EKSPOR WRT INDONESIA (US$ miliar)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
2,5
2,0
1,5
1,0
0,5
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Jasa transportasi juga memegang peranan penting dalam ekspor barang Indonesia. Transportasi memainkan peran penting dalam distribusi ekspor barang yang efisien. Perbaikan teknik dan prinsip manajemen dapat memperbaiki kemacetan lalu lintas, kecepatan pengiriman, kualitas layanan, biaya operasi, dan penghematan energi.5 Porsi Indonesia untuk ekspor jasa transportasi ke dunia meningkat dari hanya di bawah 0,4% pada tahun 2000 menjadi sedikit di atas 0,5% pada tahun 2011. (Lihat Bagan 15.)
5 Tseng, Wen, dan Taylor, “The Role of Transportation.”
AS Jepang Jerman India Tiongkok
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 15 BAGAN 15: INDONESIA MEMPEROLEH TAMBAHAN PANGSA EKSPOR DUNIA YANG KECIL
NAMUN TERUS MENINGKAT UNTUK TRANSPORTASI DAN PENYIMPANAN (persen)
2000 2005 2008 2009 2010 2011 0,39
0,41 0,42 0,42
0,46
0,51
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Dibandingkan dengan negara-negara sejawat, ekspor jasa transportasi Indonesia rendah. (Lihat Bagan 16.) Kamboja adalah satu-satunya negara dengan porsi yang lebih rendah daripada Indonesia. Sementara Filipina dan Vietnam bersaing ketat dengan perbedaan tipis, yaitu sekitar 0,2%, Singapura, Thailand, dan Malaysia memimpin jauh di depan. Porsi Singapura bahkan lebih tinggi dibanding India. Tiongkok merupakan pemain terbesar secara keseluruhan; porsinya meningkat dari 2,5% pada tahun 2000 menjadi 6,4% pada tahun 2011.
BAGAN 16: INDONESIA MENEMPATI PERINGKAT YANG RENDAH UNTUK PANGSA EKSPOR TRANSPORTASI DAN PENYIMPANAN
(persen)
Tiongkok Singapura India Thailand Malaysia Filipina Vietnam Indonesia Kamboja 7
6 5 4 3 2 1 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Seperti halnya layanan WRT, AS merupakan pengimpor terbesar dari lima besar importir jasa transportasi dan penyimpanan Indonesia. Nilai impor AS meningkat dari US$233 juta pada tahun 2000 menjadi US$374 juta pada tahun 2011. (Lihat Bagan 17.) Kenaikan tajam dalam impor jasa transportasi Indonesia mengubah peringkat India dari peringkat ke-10 pada tahun 2000 menjadi posisi kedua pada tahun 2011.
2000 2011
BAGAN 17: AS MERUPAKAN PASAR TERBESAR UNTUK EKSPOR JASA TRANSPORTASI DAN PENYIMPANAN INDONESIA
(US$ juta)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
400
300
200
100
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Jasa Terkait Pariwisata
Jasa hotel dan restoran (HR) merupakan kategori utama yang terkait dengan pariwisata di basis data TiVA.
Ini adalah ekspor jasa yang terbesar kedua dari Indonesia. Porsi Indonesia untuk ekspor dunia layanan HR menurun antara tahun 2000 dan 2005, tetapi relatif stabil sejak tahun 2005, yakni rata-rata 1,3% dari ekspor dunia. (Lihat Bagan 18.)
AS Thailand Australia Tiongkok India
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 17 BAGAN 18: INDONESIA TELAH KEHILANGAN PANGSA PASAR EKSPOR DUNIA UNTUK JASA
HOTEL DAN RESTORAN (persen)
2000 2005 2008 2009 2010 2011 1,82
1,16
1,37
1,13
1,30
1,34
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Di antara negara-negara sejawatnya, Indonesia dan Filipina adalah satu-satunya Negara yang mengalami penurunan ekspor dunia pada tahun 2000 hingga 2011. (Lihat Bagan 19.) Sementara tiongkok tetap menduduki peringkat pertama selama dekade ini, posisi Indonesia memburuk. Pada tahun 2000, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Tiongkok. Pada tahun 2011, Thailand telah mengambil alih Posisi kedua, dan Indonesia anjlok ke posisi keenam.
BAGAN 19: INDONESIA TERTINGGAL DARI NEGARA-NEGARA SEJAWAT DALAM HAL EKSPOR DUNIA UNTUK JASA HOTEL DAN RESTORAN
(persen)
Tiongkok Thailand India Singapura Malaysia Indonesia Vietnam Filipina Kamboja 6
5 4 3 2 1 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
2000 2011
Tiongkok dan Australia kini menjadi importir utama untuk ekspor hotel dan restoran Indonesia, dengan masing-masing negara tersebut mengimpor sekitar US$700 juta. (Lihat Bagan 20.) AS turun dari posisi importir terbesar layanan HR Indonesia pada tahun 2000 ke posisi ketiga pada tahun 2011. Pada periode yang sama, Singapura turun dari posisi kedua ke posisi keempat dan Thailand turun dari posisi keempat menjadi posisi 10.
BAGAN 20: TIONGKOK DAN AUSTRALIA MELOMPATI AS SEBAGAI IMPORTIR TERATAS JASA HOTEL DAN RESTORAN INDONESIA
(US$ juta)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
800
700
600
500
400
300
200
100
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Pariwisata merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, sekaligus menjadi sumber pemasukan devisa yang signifikan. Sektor pariwisata Indonesia, yang dijelaskan dalam TiVA sebagai hotel dan restoran, berada di peringkat kedua terbesar di antara semua ekspor jasa langsung. Menurut data dari Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations World Tourism Organization atau “UNWTO”), penerimaan Indonesia dari pariwisata internasional mencapai US$9,8 miliar pada tahun 2014 dan menyumbangkan 0,79% dari penerimaan pariwisata dunia.6
UNWTO juga menerbitkan data kedatangan wisatawan yang memperlihatkan bahwa Indonesia menyumbangkan 0,88% dari jumlah kunjungan wisatawan dunia pada tahun 2015. (Lihat Bagan 21.) Di antara negara-negara sejawat, Tiongkok menarik sebagian besar wisatawan, diikuti oleh Malaysia dan Thailand. Thailand mengalami kenaikan yang signifikan hampir 1% antara tahun 2010 dan 2015. Meskipun memimpin jauh melampaui negara-negara sejawat, Tiongkok telah mengalami penurunan dalam hal jumlah wisatawan mancanegara.
6 United Nations World Tourism Organization, Tourism Highlights, 9.
AS Singapura Tiongkok Australia Malaysia
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 19 BAGAN 21: INDONESIA MENEMPATI URUTAN KEENAM DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT
DALAM MENARIK WISATAWAN (persen)
Tiongkok Malaysia Thailand Singapura India Indonesia Vietnam Filipina Kamboja 6
5 4 3 2 1 0
Sumber: UNWTO.
Menurut data Badan Pusat Statistik, sebagian besar wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia berasal dari wilayah Asia/Oseania, dengan hanya dua negara dari luar wilayah tersebut yang menempati 10 besar—AS dan Britania Raya. (Lihat Bagan 22.) Selama periode 2005–2014, jumlah pengunjung dari 10 negara teratas, kecuali Taiwan, meningkat. Kenaikan terbesar berasal dari Malaysia, Tiongkok, dan Australia.
BAGAN 22: SEBAGIAN BESAR PENGUNJUNG YANG DATANG KE INDONESIA BERASAL DARI ASIA/OSEANIA
(jumlah pengunjung berdasarkan negara asal)
Singapura 2.000.000
1.500.000
1.000.000
500.000
Sumber: Badan Pusat Statistik.
Jasa Bernilai Tinggi
Tidak semua jasa itu sama. “Kurva senyum” yang terkenal mengemukakan bahwa aktivitas bernilai tinggi muncul pada awal dan akhir rantai nilai, sementara aktivitas bernilai rendah terjadi di tengah. (Lihat Ekshibit 2.) Pada awal rantai produksi, litbang, kekayaan intelektual, dan desain merupakan aktivitas bernilai tinggi.
Kegiatan jasa di tengah rantai produksi yang berkaitan dengan distribusi adalah kegiatan bernilai lebih rendah, hanya sedikit lebih bernilai tambah dibanding pembuatan produk itu sendiri. Di akhir rantai produksi terdapat jasa bernilai tinggi yang berkaitan dengan pemasaran, layanan purnajual, pelatihan, dan dukungan.
2010
2005
2015
2014
Malaysia Australia Tiongkok Jepang Korea Filipina AS Britania Taiwan Raya
EKSHIBIT 2: KEGIATAN BERNILAI TAMBAH DALAM RANTAI NILAI
LITBANG
NILAI TAMBAH
RANTAI KOMODITAS
Tinggi
Rendah KONSEP
FABRIKASI
LOGISTIK Pemerekan
Desain
Manufaktur
Distribusi
Pemasaran
Penjualan/Pemeliharaan
Sumber: Diadaptasi dari konsep Stan Shih.
Dalam basis data TiVA, jasa bernilai tinggi dimasukkan dalam dua kategori: 1) litbang serta jasa bisnis lainnya, dan 2) komputer dan jasa terkait. Kedua kategori ini mendukung inovasi dan dikaitkan dengan peningkatan daya saing serta keuntungan yang lebih besar.
Ekspor litbang dan jasa lainnya tidak menyumbang porsi yang signifikan dari keseluruhan ekspor di Indonesia. Namun setelah turun pada tahun 2008 selama krisis keuangan global, porsi tersebut hampir mencapai tingkat yang sama seperti sebelum tahun 2008. (Lihat Bagan 23.) Di Indonesia, seperti di banyak negara berkembang lainnya, litbang belum menjadi prioritas utama. Hal ini karena sebagian besar negara berkembang lebih bersaing berdasarkan aspek biaya alih-alih menggunakan inovasi untuk naik dalam tataran rantai nilai guna meraih pangsa pasar. Namun, seiring berkembangnya negara, inovasi menjadi lebih penting. Hal itu dapat dilihat pada kasus Tiongkok, yang kini lebih berfokus pada inovasi setelah negara tersebut menjadi lebih kaya dan tidak lagi bersaing hanya dalam hal biaya.
BAGAN 23: INDONESIA MENCATAT PORSI EKSPOR DUNIA YANG KECIL UNTUK LITBANG (persen)
0,02
0,07
0,04
0,05
0,06
0,07
2000 2005 2008 2009 2010 2011
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 21 Di antara negara-negara sejawat, Indonesia berada di posisi ketujuh, hanya di atas Vietnam dan Kamboja.
(Lihat Bagan 24.) Tiongkok dan India berada di jajaran terdepan. Thailand menduduki satu peringkat di atas Indonesia, tetapi pangsa dunianya tiga kali lipat dibanding Indonesia. Malaysia mengalami penurunan pangsa pasar, dari sedikit di atas 1% pada tahun 2000 menjadi hanya 0,5% pada tahun 2011, sementara Singapura dan Filipina mengalami peningkatan pesat dalam pangsa pasar mereka. India membuat lompatan dari hanya 1% pangsa dunia pada tahun 2000 menjadi lebih dari 5% di tahun 2011. Tidak mengherankan, Tiongkok berada di urutan pertama di antara negara-negara sejawat dan, bahkan, berada di urutan keempat di antara semua negara.
BAGAN 24: INDONESIA TERTINGGAL JAUH DI BELAKANG SEBAGIAN BESAR NEGARA SEJAWAT DALAM PANGSA EKSPOR DUNIA UNTUK JASA LITBANG
(persen)
Tiongkok India Singapura Filipina Malaysia Thailand Indonesia Vietnam Kamboja 8
7 6 5 4 3 2 1 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Dalam hal tujuan ekspor, India telah menjadi importir utama jasa litbang dengan peningkatan nilai ekspor yang signifikan dari US$3 juta pada tahun 2009 menjadi hampir US$25 juta pada tahun 2011. (Lihat Bagan 25.) Korea kehilangan tempat sebagai tujuan ekspor utama Indonesia pada tahun 2010 akibat penurunan tajam nilai ekspor ke negara tersebut—dari US$16 juta pada tahun 2009 menjadi kurang dari US$6 juta pada tahun 2011. Jerman beringsut melampaui Korea untuk merebut tempat kedua pada tahun 2011.
2000 2011
BAGAN 25: INDIA ADALAH IMPORTIR UTAMA JASA LITBANG INDONESIA (US$ juta)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
25
20
15
10
5
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Komputer dan jasa terkait meliputi layanan konsultasi perangkat keras dan perangkat lunak, pemrosesan data, aktivitas basis data, dan pemeliharaan serta perbaikan. Sebuah laporan tahun 2015 yang disusun oleh Euromonitor mengenai jasa komputer di Indonesia menunjukkan bahwa industri jasa ini mengalami pertumbuhan kuat di dalam negeri karena meningkatnya permintaan di bidang e-commerce, cloud computing, dan alih daya proses bisnis.7 Namun sayangnya, ekspor komputer dan aktivitas terkait belum mengalami pertumbuhan serupa. Komputer dan jasa terkait di Indonesia hanya menyumbangkan 0,1% dari ekspor dunia untuk layanan ini, lebih rendah daripada catatan tahun 2005. (Lihat Bagan 26.)
BAGAN 26: PORSI INDONESIA UNTUK EKSPOR KOMPUTER DAN LAYANAN JASA TURUN (persen)
0,09
0,13
0,10
0,11
0,09 0,09
2000 2005 2008 2009 2010 2011
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
7 Euromonitor International, Computer and Related Services.
Korea Jerman Spanyol Belanda India
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 23 Di antara negara-negara sejawat Indonesia yang ditunjukkan di Bagan 27, Tiongkok, India, dan Singapura membukukan hasil yang baik, sementara enam negara sisanya, termasuk Indonesia, memiliki pangsa ekspor dunia yang rendah. India sangat sukses dalam mengekspor komputer dan jasa terkait. Antara tahun 2000 dan 2011, pangsa pasar dunia negara itu naik hampir tiga kali lipat. Tiongkok juga mengalami peningkatan—dari 0,4% pada tahun 2000 menjadi 4,1% di tahun 2011.
BAGAN 27: INDIA MERAUP PORSI TERBESAR EKSPOR DUNIA UNTUK KOMPUTER DAN JASA TERKAIT DI ANTARA NEGARA SEJAWAT
(persen)
India Tiongkok Singapura Malaysia Filipina Indonesia Thailand Vietnam Kamboja 12
9
6
3
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Jepang telah menjadi tujuan utama untuk ekspor komputer dan jasa terkait dari Indonesia, dengan nilai ekspor melebihi US$37 juta. (Lihat Bagan 28.) Satu-satunya negara tujuan lain yang penting adalah Singapura dengan nilai US$16 juta dan Australia dengan US$10 juta. Jerman dan India masing-masing menyumbangkan kurang dari US$1 juta.
2000 2011
BAGAN 28: JEPANG MERUPAKAN TUJUAN UTAMA INDONESIA UNTUK EKSPOR KOMPUTER DAN JASA TERKAIT
(US$ juta)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
60
50
40
30
20
10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Jasa Potensial
Bagian ini membahas dua sektor jasa Indonesia yang berpotensi menjadi ekspor penting di masa depan:
1) pendidikan dan 2) layanan kesehatan dan sosial. Kedua layanan tersebut memiliki pertumbuhan rata- rata yang kuat selama periode 2000–2011.8 Meskipun nilainya masih kecil, ekspor jasa pendidikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (Compound Annual Growth Rate atau “CAGR”) sebesar 14,2%, dan ekspor layanan kesehatan dan sosial tumbuh 11,6% per tahun.
Lebih dari 4 juta pelajar terdaftar mengikuti pendidikan pascasekolah menengah atas di luar negara asal mereka pada tahun 2013.9 AS sejauh ini merupakan tujuan terpopuler, mencatat 19% dari jumlah pelajar pada tahun 2013. Britania Raya menduduki peringkat kedua, dengan 10% pelajar internasional, dan Australia berada di tempat ketiga, dengan torehan 6%.
Pelajar dari Asia membentuk kelompok pelajar internasional terbesar, terhitung 53% pada tahun 2013.10 Tiongkok sendiri mencatatkan 22% dari semua pelajar pascasekolah menengah atas, yang paling banyak pergi ke AS.
Indonesia telah menjadi pengimpor bersih jasa pendidikan. Sekitar 39.000 pelajar Indonesia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka pada tahun 2013 sementara hanya 7.235 pelajar asing yang
8 CAGR adalah rata-rata geometrik dari tingkat pertumbuhan tahunan.
9 OECD, Education at a Glance, 352.
10 OECD, Education at a Glance, 359.
Jepang Jerman Australia Singapura India
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 25 datang ke Indonesia untuk belajar.11 Namun demikian, ekspor jasa pendidikan Indonesia meningkat secara konsisten dari 0,6% dari ekspor pendidikan dunia pada tahun 2000 menjadi 1,3% pada 2011. (Lihat Bagan 29.) BAGAN 29: PANGSA EKSPOR DUNIA UNTUK JASA PENDIDIKAN DI INDONESIA MENINGKAT (persen)
0,62
0,65
0,82
0,90
1,11
1,29
2000 2005 2008 2009 2010 2011
Sumber: Basis atabase OECD-WTO TiVA.
Saat ini, hampir setiap aspek kehidupan kita dipengaruhi globalisasi. Perawatan kesehatan juga merupakan sektor jasa yang dipengaruhi oleh perdagangan internasional dan globalisasi. Yang menarik banyak perhatian media baru-baru ini adalah praktik “wisata medis”—bepergian ke negara lain untuk mendapatkan layanan medis.
Kendati sebagian besar perdagangan layanan kesehatan terjadi pada pergerakan fisik seseorang dari negara asal ke negara lain untuk memperoleh pengobatan, cara lain untuk memperdagangkan layanan kesehatan adalah melalui ekspor/impor farmasi, serta saran kesehatan dan layanan diagnostik yang disampaikan melalui Internet. Kemajuan teknologi dalam sistem komunikasi informasi memungkinkan pasien atau pembeli perawatan kesehatan pihak ketiga untuk mendapatkan pengobatan berkualitas dengan biaya lebih rendah dan/atau lebih cepat dari penyedia layanan kesehatan di negara lain.12
Pangsa ekspor dunia Indonesia untuk layanan kesehatan dan sosial meningkat—dari pangsa dunia sebesar 0,4% pada tahun 2005 menjadi 0,55% di tahun 2011. (Lihat Bagan 30.)
11 UNESCO UIS, Global Flow.
12 OECD, “Trade in Health Services.”
BAGAN 30: PANGSA EKSPOR DUNIA INDONESIA UNTUK LAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL TUMBUH
(persen)
2000 2005 2008 2009 2010 2011
0,39
0,35
0,39
0,44
0,50
0,55
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Apa Implikasi Temuan yang Ada?
Jasa lebih penting daripada dugaan Anda
Industri penghasil jasa menyumbangkan lebih dari 70% produk domestik bruto (PDB) dunia. Di Indonesia, lebih dari 50% PDB dan lapangan kerja tahun 2014 berada di industri penghasil jasa. Secara tradisional, langkah-langkah perdagangan internasional berfokus pada ekspor barang. Dibandingkan dengan barang, jasa bersifat “tidak berwujud”—sering kali sulit diamati saat melintasi perbatasan dan memberi nilai tambah pada perdagangan. Namun, basis data baru dengan menggunakan statistik nilai tambah menunjukkan bahwa, di Indonesia, pangsa ekspor jasa lebih dari dua kali lipat yang diperlihatkan statistik perdagangan tradisional. Kenaikan ini mencerminkan peran jasa Indonesia dalam GVC.
Pangsa ekspor jasa langsung Indonesia telah menurun dan tertinggal dari beberapa negara sejawat Meskipun nilai ekspor jasa langsung Indonesia meningkat dari tahun 2000 sampai 2011, ekspor ini menyumbangkan porsi yang kecil dari total ekspor Indonesia selama periode tersebut. Walaupun beberapa negara sejawat juga mengalami penurunan, yang lainnya tidak. Lebih penting lagi, pangsa negara berpenghasilan tinggi pun tumbuh.
Indonesia sebagian besar mengekspor jasa “penyokong”
Jasa penyokong—perdagangan grosir dan ritel, transportasi—merepresentasikan sebagian besar produksi dan lapangan kerja dalam negeri. Karena jasa-jasa tersebut memainkan peran penting dalam membantu pergerakan dan distribusi ekspor barang, efisiensi sangat penting untuk memastikan bahwa konsumen memiliki akses ke berbagai barang dengan harga bersaing. Kegagalan sektor distribusi untuk menjalankan perannya dengan baik—yang dapat timbul jika kebijakan pemerintah membatasi persaingan—dapat menyebabkan adanya kesalahan alokasi sumber daya dan biaya ekonomi yang signifikan. Indonesia perlu meningkatkan efisiensinya di sektor-sektor tersebut agar lebih bisa bersaing secara global.
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 27 Indonesia perlu kembali menjadi daerah tujuan wisata utama
Industri pariwisata di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dengan menurunnya pangsa ekspor dunia untuk jasa hotel dan restoran. Meskipun berhasil menarik lebih banyak pengunjung antara tahun 2010 dan 2015, tetapi Indonesia masih jauh tertinggal di belakang negara-negara sejawat seperti Tiongkok, Malaysia, dan Thailand meskipun nilai ekspor dan jumlah pengunjungnya telah meningkat.
Indonesia bukan eksportir yang kuat untuk jasa bernilai tinggi
Aktivitas jasa bernilai tinggi—seperti litbang dan jasa terkait komputer—terjadi pada awal dan akhir rantai pasok. Negara-negara di seluruh dunia bersaing untuk mendominasi pasar dalam ekspor jasa semacam ini karena jenis jasa tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi daripada rata-rata ke negara pengekspor.
Negara-negara berkembang melihat ekspor jasa ini sebagai peluang yang menarik untuk menapak naik dalam rantai nilai di pasar global. Seorang analis berpendapat bahwa jasa tersebut juga dapat memperkuat pertumbuhan inklusif.13 Indonesia perlu berfokus pada peningkatan daya saingnya dalam aktivitas jasa bernilai tinggi.
Kontribusi yang kecil saat ini, tetapi berpotensi menjanjikan
Jasa pendidikan dan layanan kesehatan berpotensi menjadi ekspor penting di masa depan. Meskipun saat ini tidak meraih porsi besar dalam ekspor Indonesia, jasa tersebut menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan berpotensi memberikan kontribusi lebih besar pada total ekspor jasa Indonesia di masa mendatang.
13 Jagannathan, “Tapping Into the Potential.”
Bab 2: Kontribusi Jasa pada Ekspor Barang Indonesia
Munculnya rantai nilai global telah mengubah cara kita berpikir dan berbicara tentang perdagangan internasional. Seperti disampaikan dalam Bab 1, meskipun ekspor barang masih mendominasi gambaran perdagangan Indonesia, jasa memainkan peran yang jauh lebih penting dalam ekspor Indonesia daripada yang ditunjukkan oleh statistik konvensional. Bagian jasa dalam ekspor Indonesia lebih dari dua kali lipat saat ukuran nilai tambah perdagangan digunakan. Bab ini membawa analisis itu selangkah lebih maju dan menguraikan kontribusi yang diberikan jasa pada ekspor barang Indonesia, dengan dasar pemikiran bahwa nilai jasa yang terkandung dalam ekspor barang cukup besar dan kebanyakan diabaikan. Sayangnya, ekspor barang Indonesia mengandung porsi jasa yang di bawah rata-rata dibandingkan dengan ekspor beberapa negara sejawat. Temuan ini berlaku untuk semua ekspor barang utama Indonesia.
Bagaimana Jasa Terkandung dalam Ekspor Barang?
Jasa berperan dalam membuat dan mendukung barang di sepanjang proses produksi di setiap tahap:
pengembangan, pengolahan, distribusi, dan penjualan/purnajual. (Lihat Ekshibit 3.) Sebagian besar ekspor barang tidak dapat dilakukan jika tidak didukung oleh kegiatan jasa. Misalnya, dalam pembuatan pakaian di industri garmen Indonesia, kita dapat melihat bahwa aktivitas jasa terlibat mulai dari awal sampai akhir rantai produksi. Pada tahap awal, riset dilakukan mengenai preferensi konsumen dan desain kemudian dikembangkan. Pada tahap selanjutnya, layanan pembelian dapat digunakan untuk membeli kain dan barang input lainnya, dan aktivitas seperti menjahit dan membuat pakaian mungkin dialihdayakan. Di tahap distribusi, jasa yang terlibat meliputi pergudangan dan transportasi dari lokasi produksi ke gerai.
Layanan yang terlibat dalam tahap akhir meliputi pemasaran dan layanan pelanggan.
EKSHIBIT 3: BEBERAPA CARA JASA TERKANDUNG DALAM BARANG
PENJUALAN DISTRIBUSI
PENGOLAHAN PENGEMBANGAN
Jasa penyokong dan pendukung: manajemen proses, telekomunikasi, teknologi informasi, akuntansi, pembiayaan, logistik, legal, real estat, sewa.
•
Litbang•
Hak atas kekayaan intelektual•
Desain•
Pembelian•
Transportasi dan penyimpanan•
Grosir dan ritel•
Pemasaran•
Pemeliharaan, pelatihan, dan dukungan•
Opsi pembiayaanSumber: The Conference Board of Canada, diadaptasi dari National Board of Trade, Servisifikasi Manufaktur Swedia.
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 29 Oleh karena itu, tidak mengherankan jika jasa sering disebut “lem” yang merekatkan GVC dan memungkinkannya beroperasi secara efisien. Jasa dapat membuat barang lebih kompetitif dan perusahaan yang memproduksi barang tersebut lebih menguntungkan dengan beberapa cara. (Lihat Ekshibit 4.) Misalnya, produsen kopi di Sumatera yang menciptakan paket merek yang unik membedakan dan meningkatkan kopinya dari produk negara pesaing. Contoh lain adalah produsen komponen Indonesia yang memasukkan layanan purnajual—perawatan dan perbaikan—dalam harga barangnya.
Fitur tambahan ini tidak hanya memungkinkan perusahaan untuk tetap berhubungan dengan pelanggan, tetapi juga menempatkan perusahaan pada urutan pertama saat komponen tersebut perlu diganti atau ditingkatkan versinya. Sebuah laporan oleh Deloitte Research mencatat bahwa, bagi banyak produsen terbesar di dunia, layanan purnajual lebih menguntungkan daripada barang itu sendiri.14
EKSHIBIT 4: BAGAIMANA JASA DAPAT MEMBUAT BARANG LEBIH KOMPETITIF DAN MENGUNTUNGKAN
Pengayaan dan pembedaan
Contoh
Penurunan harga
Contoh
Pembangunan hubungan dengan pelanggan
Contoh Penelitian dan
pengembangan
Pemerekan
Desain
Informasi dan komunikasi
Efisiensi transportasi dan logistik Manajemen proses
Pendidikan dan pelatihan
Perbaikan dan pemeliharaan Pilihan pembiayaan PELAYANAN JASA DAPAT MEMBERI NILAI TAMBAH TERHADAP BARANG MELALUI...
Sumber: Palladini.
Pada tahun 2011, tahun terbaru data TiVA, jasa yang terkandung dalam barang menyumbangkan 14%
dari ekspor barang Indonesia. (Lihat Bagan 31.) Angka ini lebih rendah daripada tahun 2000 dan terutama disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan jasa yang terkandung dalam tiga sektor manufaktur: bahan kimia dan produk kimia; peralatan komputer, elektronik, dan optik; serta kokas, produk minyak bumi murni, dan bahan bakar nuklir.
14 Koudal, The Service Revolution, 5.
BAGAN 31: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG TELAH MENURUN
(jasa bernilai tambah, persen)
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Walaupun kontribusi jasa pada ekspor barang Indonesia sedikit meningkat di tahun 2011, porsi ini jauh lebih rendah daripada negara-negara sejawat. (Lihat Bagan 32.) Singapura, sebesar 43%, memiliki porsi tertinggi, diikuti oleh Kamboja dan India. Negara sejawat terdekat dengan Indonesia adalah Vietnam, tetapi porsinya untuk jasa yang terkandung dalam ekspor barang hampir dua kali lipat dari Indonesia.
BAGAN 32: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG LEBIH RENDAH DARIPADA NEGARA-NEGARA SEJAWATNYA
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor bruto menurut asal, 2011, persen)
Singapura Kamboja India Tiongkok Malaysia Thailand Filipina Vietnam Indonesia 50
40 30 20 10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Apakah Indonesia Memanfaatkan Rantai Pasok Global dalam Jasa?
Untuk lebih memahami kinerja Indonesia dibandingkan dengan negara-negara sejawat, porsi jasa yang terkandung dalam ekspor barang yang ditunjukkan pada Bagan 32 dibagi menjadi dua komponen pada Bagan 33. Komponen pertama adalah porsi jasa domestik yang terkandung dalam ekspor barang.
Contohnya adalah produsen tekstil Indonesia yang membeli desain kain dari perusahaan desain Indonesia.
Komponen kedua adalah porsi jasa asing yang terkandung dalam ekspor barang di sepanjang rantai pasok global. Contohnya adalah produsen tekstil Indonesia yang membeli desain kain dari perusahaan desain Jerman. Contoh sederhana ini menggambarkan fakta bahwa penyedia jasa di setiap negara menghadapi persaingan dari perusahaan asing yang juga dapat memasok jasa tersebut.
19,0 2000
17,3 2005
14,7 2008
13,9 2009
13,8 2010
14,0 2011 2000 2005 2008 2009 2010 2011
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 31 BAGAN 33: EKSPOR BARANG INDONESIA MENGANDUNG JASA DOMESTIK DAN ASING
(porsi jasa bernilai tambah domestik dan asing yang terkandung dalam ekspor barang, 2011, persen)
Singapura Kamboja India Tiongkok Malaysia Thailand Filipina Vietnam Indonesia
Dalam Negeri
Asing 50
40 30 20 10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Melihat porsi asing yang terkandung dalam ekspor barang sebagai hal yang “buruk” dan porsi domestik sebagai sesuatu yang “baik” terbukti sudah usang. Jasa impor dapat membantu meningkatkan daya saing ekspor suatu negara. Kesimpulan ini didasarkan pada teori rantai pasok global di mana negara mengimpor barang atau jasa yang tidak memiliki keunggulan komparatif. Memanfaatkan input jasa yang paling efisien dan hemat biaya, tidak peduli di mana mereka berada, merupakan hal yang masuk akal secara bisnis.
Sebuah penelitian gabungan yang baru-baru ini dilakukan OECD, WTO, dan Bank Dunia menyatakan bahwa GVC sangat penting untuk meningkatkan daya saing negara-negara berkembang:
GVC sangat penting bagi negara berkembang, dan metafora terbaik yang seharusnya digunakan bukan rantai melainkan tangga. Pemisahan produksi ke tahap terpisah memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya menemukan tempatnya di tangga itu, tetapi juga menaiki anak tangga seiring meningkatnya kemampuan. GVC mendorong kemajuan tersebut dengan memberikan penghargaan untuk keterampilan, pembelajaran, dan inovasi. Mengatasi hambatan untuk partisipasi GVC dapat memberikan manfaat besar; negara berkembang dengan pertumbuhan partisipasi GVC tercepat memiliki tingkat pertumbuhan PDB per kapita 2% di atas rata-rata.15
Selain itu, diperlukan sikap terbuka bagi penyedia jasa asing agar Indonesia dapat membuat jasa terkandung dalam ekspor barang negara lain. Pada tahun 2011, barang yang diekspor dari negara lain mengandung jasa bernilai tambah sebesar US$13 miliar dari Indonesia. Tiongkok adalah pengguna jasa Indonesia yang terbesar, diikuti oleh Korea dan Malaysia. (Lihat Bagan 34.) Sebanyak 22% dari total jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor barang asing ada di dalam ekspor Tiongkok, 12% terkandung dalam ekspor Korea, dan 10% dalam ekspor Malaysia.
15 OECD, WTO, dan World Bank Group, Global Value Chains, 18.
BAGAN 34: NEGARA-NEGARA LAIN MEMUAT JASA INDONESIA DALAM EKSPOR BARANG MEREKA (porsi jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor barang asing, 2011, persen)
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Dibandingkan dengan negara-negara sejawat, porsi jasa domestik Indonesia yang terkandung dalam ekspor barangnya lebih rendah daripada semua negara, kecuali Kamboja dan Vietnam. Porsi terbesar dimiliki India, di mana hampir 20% dari nilai tambah ekspor barang dipasok oleh penyedia jasa domestik.
Sebaliknya, hanya 9% dari nilai tambah ekspor barang Indonesia yang dipasok oleh penyedia jasa Indonesia.
Di antara negara-negara sejawat, Indonesia sejauh ini memiliki porsi terkecil untuk jasa asing yang terkandung dalam ekspor barang—hanya 4,8%. Kamboja, dengan 27% jasa asing yang terkandung dalam ekspor barangnya, memiliki porsi terbesar. Sebagian besar jasa asing mencerminkan tingginya integrasi dalam rantai nilai global atau regional. Porsi jasa asing dalam ekspor barang biasanya lebih besar di negara- negara berpenghasilan tinggi. Di enam negara sejawat, porsi jasa asing dalam ekspor barang lebih besar daripada porsi jasa domestik. Indonesia, India, dan Filipina adalah tiga negara sejawat di mana porsi jasa asing dalam ekspor barang lebih kecil daripada porsi jasa domestik.
Salah satu penjelasan untuk rendahnya porsi jasa asing dalam ekspor barang Indonesia adalah karena negara-negara dengan pangsa ekspor komoditas primer yang besar cenderung memiliki kandungan jasa asing yang lebih rendah dalam ekspor mereka. Dengan 44% ekspornya berasal dari sektor pertambangan dan 28% dari pertanian, perburuan, kehutanan, dan perikanan,16 ekspor Indonesia sebagian besar berbasis sumber daya. Hanya 1,4% jasa asing yang terkandung dalam ekspor dari sektor pertambangan Indonesia dan 2,4% dari sektor pertanian Indonesia. (Lihat Bagan 35.)
16 Sektor pertanian, perburuan, kehutanan, dan perikanan akan disebut pertanian untuk singkatnya.
22 Tiongkok
12 Korea
10 Malaysia
7 Jepang
6 Thailand
6 Tiongkok Taipei
5 Singapura
4 AS
3 India
25 Negara-negara lain di dunia
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 33 BAGAN 35: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR PALING
RENDAH DALAM PERTAMBANGAN
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor sektoral, 2011, persen)
13,5 7,2 5,6 2,4
3,2 1,4
Dalam Negeri
Asing Manufaktur
Pertanian, berburu, kehutanan, dan perikanan Pertambangan
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Sementara porsi jasa yang terkandung dalam ekspor manufaktur Indonesia (20,7%) lebih besar daripada porsi di bidang pertanian (8%) dan pertambangan (4,6%), porsinya lebih kecil daripada porsi masing-masing dari negara sejawatnya. (Lihat Bagan 36.)
BAGAN 36: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR MANUFAKTUR TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWATNYA
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor manufaktur, 2011, persen)
Singapura Kamboja India Malaysia Tiongkok Thailand Vietnam Filipina Indonesia
Dalam Negeri
Asing 50
40 30 20 10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Selain itu, dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, porsi jasa di sebagian besar negara sejawat rendah. Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Lanz dan Maurer untuk WTO mencapai kesimpulan serupa—pertambahan nilai jasa menyumbangkan hampir 33% ekspor manufaktur di negara maju, tetapi hanya 26% di negara-negara berkembang. Selain itu, porsi tersebut meningkat seiring berjalannya waktu di negara maju, tetapi tetap stabil atau menurun di negara-negara berkembang.17 Salah satu alasannya adalah, di Indonesia dan negara berkembang lainnya, sektor manufaktur didominasi oleh industri padat karya dengan rantai pasok yang relatif pendek. Akibatnya, penciptaan nilai tambah juga tergolong kecil dan tidak terlalu mengandalkan jasa.
17 Lanz dan Maurer, Services and Global Value Chains, 9.
Subindustri Manufaktur Indonesia Mana yang Mengandung Jasa Paling Banyak?
Memecah keseluruhan data manufaktur menjadi 16 subindustri manufaktur menunjukkan bahwa porsi jasa yang terkandung dalam ekspor sangat bervariasi. (Lihat Bagan 37.) Porsi ini paling tinggi pada komputer dan elektronik, dan paling endah pada kokas, minyak bumi murni, dan bahan bakar nuklir. Tidak mengherankan, subindustri manufaktur yang terkait dengan pertambangan memiliki porsi yang rendah untuk jasa yang terkandung dalam ekspornya. Porsi asing untuk jasa dalam ekspor paling tinggi ada di subsektor mesin dan peralatan (tidak diklasifikasikan dalam pos lain), diikuti oleh komputer dan subindustri elektronik.
BAGAN 37: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG BERVARIASI MENURUT SUBINDUSTRI MANUFAKTUR
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor manufaktur, 2011, persen)
4,0 1,9 9,9 6,1 11,5 5,0 13,3 3,9 11,8 6,2 10,6 8,8 15,0 5,5 11,2 10,8 13,7 10,5 16,5 7,8 15,7 8,7 18,0 8,3 15,5 11,2 18,3 8,7 12,8 15,1
17,3 12,6
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Asing
Dalam Negeri
Logam dasar Produk mineral non-logam lainnya Produk makanan, minuman, dan tembakau Bahan kimia dan produk kimia Alat transportasi lainnya Kayu dan produk kayu serta gabus Kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer Produk logam olahan Manufaktur yang belum tercakup dalam pos lainny
(nec); daur ulang Pulp, kertas, produk kertas, percetakan, dan penerbitan
Tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki Mesin dan aparatus listrik, nec Produk karet dan plastik Mesin dan peralatan, nec Komputer, peralatan elektronik dan optik Kokas, produk minyak bumi murni, dan bahan bakar
nuklir
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 35
Apakah Indonesia Bisa Tetap Bersaing dengan Negara-Negara Sejawat dalam Sektor Ekspor Manufaktur Utama?
Tidak semua dari ke-16 subindustri manufaktur Indonesia yang ditunjukkan di Bagan 37 merupakan eksportir besar. Untuk mengevaluasi bagaimana perbandingan Indonesia dengan negara-negara sejawat di subindustri ekspor utama, data nilai tambah dari basis dataTiVA digunakan untuk menentukan peringkat subindustri tersebut. Lima subindustri ekspor manufaktur Indonesia teratas pada tahun 2011 adalah:
1. produk makanan, minuman, dan tembakau;
2. logam dasar;
3. bahan kimia dan produk kimia;
4. tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki;
5. komputer, elektronik, dan peralatan optik.
Di empat dari lima subindustri, porsi jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor merupakan yang terendah atau terendah kedua, dibandingkan dengan negara-negara sejawat. Dalam kasus subindustri komputer dan elektronik, Indonesia berada di posisi ketiga terendah. (Lihat Bagan 38 sampai 42.) Dari sisi kontribusi jasa asing, Indonesia juga memiliki porsi terendah atau terendah kedua di lima subindustri.
Temuan ini menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan negara-negara sejawat, industri ekspor manufaktur terbesar di Indonesia relatif terisolasi dari rantai pasok jasa global.
BAGAN 38: PORSI INDONESIA UNTUK JASA ASING YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI MAKANAN RENDAH
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri makanan, 2011, persen)
Singapura India Malaysia Tiongkok Thailand Vietnam Filipina Indonesia Kamboja
Dalam Negeri
Asing 50
40 30 20 10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
BAGAN 39: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI LOGAM DASAR TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri logam dasar, 2011, persen)
Malaysia Thailand Vietnam Singapura India Tiongkok Kamboja Filipina Indonesia
Dalam Negeri
Asing 30
25 20 15 10 5 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
BAGAN 40: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI BAHAN KIMIA TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT
(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri bahan kimia, 2011, persen)
Singapura Kamboja India Tiongkok Vietnam Malaysia Thailand Filipina Indonesia
Dalam Negeri
Asing 50
40 30 20 10
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 37 BAGAN 41: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI
TEKSTIL DAN ALAS KAKI RENDAH
(porsi jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri tekstil dan alas kaki, 2011, persen)
Singapura India Malaysia Kamboja Vietnam Tiongkok Thailand Indonesia Filipina
Dalam Negeri
Asing 50
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
BAGAN 42: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI KOMPUTER DAN ELEKTRONIK RENDAH
(porsi jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri komputer dan elektronik, 2011, persen)
Singapura Thailand India Malaysia Vietnam Tiongkok Indonesia Filipina Kamboja
Dalam Negeri
Asing 50
40 30 20 10 0
Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.
Apa Sektor Jasa Terbesar yang Terkandung dalam Ekspor Manufaktur?
Bagan 2.5 menunjukkan bahwa hampir 21% dari nilai ekspor manufaktur Indonesia dapat dikaitkan dengan jasa yang terkandung dalam barang-barang manufaktur tersebut. Banyak jenis jasa yang menyumbangkan kontribusi pada nilai 21% tersebut. Dua jasa terbesar yang terkandung dalam ekspor manufaktur terkait dengan distribusi: grosir dan ritel (9%) serta transportasi dan penyimpanan (3%). (Lihat Bagan 43.) Jasa keuangan menyumbangkan 2% dan 12 jasa lainnya bersama-sama menyumbangkan 7% dari total nilai ekspor barang-barang manufaktur.