Politik Tubuh Perempuan dalam Media (Studi Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Sri Sumarah Karya Umar Kayam).

26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

i

Politik Tubuh Perempuan dalam Media

(Studi Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan dalam Novel

Ronggeng Dukuh Paruk

Karya Ahmad Tohari dan

Sri Sumarah

Karya

Umar Kayam)

Oleh

Nurike Pudyastiwi Ghaniy

D1211057

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Nurike Pudyastiwi Ghaniy

NIM : D1211057

Program Studi : Ilmu Komunikasi

menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Politik Tubuh Perempuan dalam

Media (Studi Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan dalam Novel

Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Sri Sumarah Karya Umar

Kayam) ini benar-benar hasil karya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang

(3)

commit to user

iii

daftar pustaka. Apabila pada kemudian hari terdapat bukti-bukti yang kuat bahwa

skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, November 2014

Nurike Pudyastiwi Ghaniy

(4)

commit to user

iv

MOTTO

Wanita Indonesia mestilah berdiri di samping pria, bagi Tanah Air dan Bangsa.

Dalam tangan Wanita, terletak masa depan Indonesia.

Lezing van der Heer Bahder Djohan, “De Positie van de vrouw in de Indonesische

samenleving” (Di Tangan Wanita)

You can’t kill the spirit, she is like a mountain. Old and strong, she goes on and

on and on.

The Greenham Women Incorporate Declaration Song

Even if I feel like I can’t hold on, even if I feel like I can’t keep up, I don’t stop, I

can’t stop.

2PM – Don’t Stop Can’t Stop

Even if we fall hundreds of times, stand up. We’ll go up.

(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur Alhamdulilah, karya ini penulis persembahkan untuk

yang tersayang:

Mama dan Bapak, orang tua tercinta yang selalu memberikan doa dan

dukungannya. I won’t even imagine to live without you both.

Seluruh keluarga di Sukoharjo, Jakarta, Purworejo dan Kalimantan.

Seluruh teman yang selalu memberikan dukungan dan doa selama penyelesaian

skripsi ini.

Dan sahabat baik yang selalu memberi kekuatan, Fatkhurrahman. Thank you so

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala karunia dan berkahnya, sehingga

penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Politik Tubuh Perempuan dalam

Media (Studi Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan dalam Novel

Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Sri Sumarah Karya Umar

Kayam).”

Selama proses skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak, baik secara moril dan materil serta secara langsung maupun tidak

langsung. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih

sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Drs. Pawito, Ph. D. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

2. Dra. Prahastiwi Utari, Ph. D, selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi

sekaligus Dosen Pembimbing yang telah berkenan memberikan ilmu,

pengetahuan dan masukan untuk kemajuan penulis. Terimakasih.

3. Mahfud Anshori, S.Sos, M.Si selaku pembimbing II, yang juga telah

berkenan membimbing dan memberikan pengarahan bagi penulis.

4. Dra. Hj. Sofiah, M.Si selaku dosen pembimbing akademik.

5. Mama, Bapak, dan seluruh keluarga atas doa, dukungan dan kasih sayangnya.

6. Fathkhurrahman, sahabat yang selalu membantu dan mendukung penulis

(7)

commit to user

vii

7. Oktabilla Ayu Lestari, Okie Rindasih dan Denik Apriyani, teman hidup di

Grha Anindya, teman hidup berbagi segala cerita dan saling memberi

dukungan.

8. Oktabilla, Oksa Amalia, Safira Rizki, Ita Septriyana, Christian Pandu dan

Adhika Primanisita, teman berjuang dalam jenjang ilmu Komunikasi Non

Reguler ini.

9. Okie Rindasih, Kori Pratiwi, Prista Iriana, Dini Sefty, Winda, Natalia, dan

Indah, yang meskipun kita sudah tidak satu atap, tapi penulis rasakan

dukungan serta dukungannya selalu mengiringi proses ini.

10. Teman-teman di Komunikasi Non Reguler UNS 2011, semoga semua sukses.

Penulisan skripsi ini belum sempurna, namun penulis memiliki harapan,

semoga skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Untuk

kesempurnaan skripsi ini, penulis mengharapkan suatu masukan yang dapat

membangun penulis untuk bisa lebih baik lagi kedepannya.

Surakarta, November 2014

(8)

commit to user

viii

ABSTRAK

Nurike Pudyastiwi Ghaniy, D1211057. Politik Tubuh Perempuan dalam Media (Studi Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan dalam Novel

Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Sri Sumarah Karya Umar

Kayam). Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pilitik universitas Sebelas Maret Surakarta. November 2014.

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wacana politik tubuh perempuan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan

Sri Sumarah Karya Umar Kayam. Sesuai dengan tema dalam kedua novel,

peneliti menggunakan pendekatan bagaimana politik budaya terhadap tubuh perempuan dan bagaimana politik tubuh perempuan tersebut dalam menghadapinya.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengemukakan bagaimana politik tubuh perempuan direpresentasikan dalam kedua novel. Pemilihan data dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu yang sesuai dengan tujuan penelitian dan rumusan masalah. Dalam analisis, peneliti menggunakan teknik analisis wacana model Sara Mills. Peneliti memilih metode ini, karena metode ini sering digunakan dalam penelitian feminis dan perempuan serta metodenya sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Metode analisis wacana Sara Mills melihat bagaimana teks dibangun melalui empat posisi, yaitu posisi objek, subjek, penulis dan pembaca. Dalam posisi objek dan subjek, penulis menganalisis bagaimana politik tubuh perempuan digambarkan dalam teks. Dalam posisi penulis, peneliti melihat wacana dari latar belakang penulis. Sedangkan dalam posisi pembaca, peneliti melihat bagaimana teks diterima oleh pembaca penikmat novel.

Politik tubuh perempuan adalah cara yang dilakukan perempuan untuk melepaskan kekuasaan pada tubuhnya. Dalam penelitian ini, tubuh perempuan digambarkan dikuasai oleh budaya sehingga perempuan tidak dapat bertindak sesuai dengan keinginan mereka bahkan cenderung dipaksa untuk melakukan kegiatan yang merugikan perempuan. Namun, dengan pemberdayaan kekuatan mereka sendiri, akhirnya perempuan dapat terlepas dari kekuasaan tersebut.

(9)

commit to user

ix

ABSTRACT

Nurike Pudyastiwi Ghaniy, D1211057. Body Politics of Women in Media (Studies of Discourse Analysis of Body Politics of Women in Novels Ronggeng

Dukuh Paruk by Ahmad Tohari and Sri Sumarah by Umar Kayam). Thesis,

Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University, Surakarta. November 2014.

In general, the aims of this research is to determine the political discourse of women's bodies in the novel Ronggeng Dukuh Paruk and Sri Sumarah. In keeping with the theme, researchers used the approach of how the political culture of the female body and how woman face it.

This research is a qualitative research that aims to propose how the body politics of women represented in both novels. Selection of data is done by purposive sampling, that accordance with the purposes of research and formulation of the problem. In the analysis, the researchers used a model of discourse analysis techniques Sara Mills. Researchers chose this method, because this method is often used in feminist and women's studies and methods in accordance with the formulation of research problems. Sara Mills method of discourse analysis to see how the text is built through four positions, namely the position of the object, subject, author and reader. In the position of the object and subject, the authors analyze how the female body politics described in the text. In the position of the authors, researchers looked at the background of the discourse of the author. While the position of the reader, the researchers looked at how the text is received by the reader novel lovers.

Body politics is the way of women to relinquish power to her body. In this research, described the female body is controlled by the culture so that women can not act in accordance with their wishes and even tend to be forced to engage in activities that harm women. However, the strength of their own empowerment, women can finally be separated from the power.

(10)

commit to user

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 15

D. Manfaat Penelitian ... 15

E. Landasan Teori ... 16

(11)

commit to user

xi

3. Komunikasi Massa ... 20

4. Novel Sebagai Komunikasi Massa ... 22

5. Novel Sebagai Wacana ... 23

6. Sejarah Sastra Indonesia dan Sastra Perempuan ... 24

7. Feminisme dan Politik Tubuh Perempuan ... 26

8. Representasi ... 33

F. Kerangka Pemikiran ... 34

G. Konsep ... 35

1. Politik Tubuh Perempuan ... 35

2. Kontekstual ... 36

3. Analisis Wacana ... 36

H. Metodologi Penelitian ... 37

1. Jenis penelitian ... 37

2. Objek Penelitian ... 38

3. Sumber Data ... 39

4. Analisis Wacana ... 39

5. Teknik Analisis Data ... 43

(12)

commit to user

xii

BAB II DESKRIPSI NOVEL ... 46

A. Ronggeng Dukuh Paruk ... 46

1. Sinopsis ... 46

2. Ahmad Tohari dan Ronggeng Dukuh Paruk ... 49

B. Sri Sumarah ... 51

1. Sinopsis ... 51

2. Umar Kayam dan Sri Sumarah ... 52

BAB III ANALISIS DATA ... 55

A. Posisi Objek ... 60

1. Perempuan Sebagai Tokoh Simbolis dalam Budaya ... 60

2. Penggunaan Tubuh Perempuan dalam Ritual Adat Budaya 83

B. Posisi Subjek ... 91

C. Posisi Penulis ... 114

D. Posisi Pembaca ... 142

E. Hubungan Analisis Wacana Politik Tubuh Perempuan Pada Level Teks, Penulis dan Pembaca dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Novel Sri Sumarah ... 151

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 159

A. Kesimpulan ... 159

B. Saran ... 165

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Halaman 34

Gambar 2. Diagram Hubungan Empat Posisi

yang Mempengaruhi Terbentuknya

Teks dalam Ronggeng Dukuh Paruk

(14)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Literatur tentang gender dan media menyingkapkan ketidaksetaraan yang

mendasar dalam frekuensi pemuatan wanita dan pria di media. Misalnya dalam

televisi, lebih banyak menggambarkan pria sebagai pemimpin daripada wanita.

Media bisa menjadi saluran mitos dan sekaligus sarana pengukuhan mitos tertentu

tentang gender, wanita dan pria. Gender adalah konstruksi sosial dan kodifikasi

perbedaan antarseks. Konsep ini menunjuk pada hubungan sosial antara

perempuan dan laki-laki. Gender merupakan rekayasa sosial, tidak bersifat

universal dan memiliki identitas yang berbeda-beda dipengaruhi faktor-faktor

seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama, adat istiadat, golongan,

sejarah serta perkembangan teknologi. Tidak jarang alasan kultural memberikan

legitimasi yang kuat kemudian dimasukkan kedalam berbagai pranata sosial dan

adat istiadat yang kemudian mendarah daging. Di Indonesia, khususnya Jawa,

kaum wanita belum sanggup mengembangkan mentalitas kemandiriannya untuk

keluar dari sistem kekuasaan feudal aristokratik (Ibrahim, 2007: 3-7).

Penggambaran wanita dalam media massa, seperti iklan, tabloid, ataupun

majalah tidak jauh dari bentuk badan sebagai daya tariknya. Begitu juga radio,

televisi, sinetron dan film yang juga memberikan gambaran tentang perempuan

yang lemah, hanya di rumah, dan tugas utamanya adalah menyenangkan laki-laki.

(15)

commit to user

yakni perempuan yang pasif, dan laki-laki yang aktif (Ibrahim dan Suranto, 1998:

107-108). Pemaparan perempuan dalam media tidak pernah jauh dari tubuh.

Mulai dari cara berbusana, bentuk tubuh dan ekploitasi tubuh itu sendiri, yaitu

simbol-simbol menggunakan tubuh untuk pengabdian dan seks dimana

pengabdian tersebut kembali lagi yaitu untuk laki-laki (Siregar, 2001: 73).

Eksploitasi tubuh perempuan dalam pencitraan media massa menjadi bagian

refleksi realitas sosial masyarakat bahwa perempuan selalu menjadi subordinat

kebudayaan laki-laki. Perempuan di media massa menjadi “perempuannya lelaki”

dalam realitas sosial (Bungin dalam Aziz, 2010: 115).

Tubuh secara biologis terdiri dari dada, paha, bibir, mata, perut, pusar,

penis, puting, anus, otak, usus dan jantung. Tetapi tubuh tidak hanya berhenti

pada pandangan sistem biologis tersebut. Tubuh dengan bagian-bagiannya dimuati

oleh simbol kultural, positif, negatif, politik, ekonomi, seksual dan moral. Tinggi

dan berat badan, aktivitas makan minum, bercinta, bentuk tubuh dan bahasa tubuh

bukan sekedar fenomena fisik, tetapi juga berdimensi sosial. Bagian tubuh dan

atribut tubuh sesungguhnya bersifat sosial. Usia, gender, dan warna kulit menjadi

identitas sosial dan konsep diri. Tubuh menjadi suatu hal penting yang

mempengaruhi kehidupan sosial. Seperti memperhatikan kecantikan, kegemukan,

wajah, dan seks yang menjadi berpengaruh untuk bekerja atau berteman. Tubuh

menampung sebuah wilayah yang luas dari makna yang terus menerus berubah. Ia

menjadi unsur pokok identitas personal dan sosial (Synnott, 1993: 1-4).

Di dalam tubuh perempuan terkandung daya tarik yang dapat

(16)

commit to user

banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Tubuh perempuan menjadi

simbol identitas moral dan martabat masyarakat sehingga agama dan negara

merasa berkewajiban juga untuk mengatur bagaimana perempuan memperlakukan

tubuhnya (Yuliani, 2010: 98).

Michael Foucault dalam bukunya The History of Sexuality,

mengungkapkan bahwa tubuh tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan. Yang

pertama yaitu kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh itu sendiri yang berupa

kehendak (will) dan hasrat (desire). Hal ini berkaitan dengan passion yang ada

dalam tubuh manusia. Kekuasaan kedua yaitu kekuasaan atas tubuh individu yang

mengatur sikap dan perilaku, dalam hal ini disebut aturan atau norma (law).

Norma ini yang mengatur dan memberikan larangan bagi tubuh sesuai dengan

adat dan kepercayaan yang dianut. Kekuasaan dalam tubuh biasanya menentang

kekuasaan atas tubuh (Foucault, 1978: 82).

Secara implisit dan eksplisit, laki-laki tumbuh dengan perilaku egoistik

yang memaksakan kehendaknya. Perempuan dalam kapasitasnya harus merelakan

eksistensinya untuk hilang dan berusaha menjadi istri yang setia mendampingi

suami serta melayani suami. Tubuh perempuan menjadi objek kuasa yang

dimanipulasi, dilatih, dikoreksi menjadi patuh, bertanggung jawab, menjadi

terampil dan meningkat kekuatannya. Hal tersebut telah memenjarakan otonomi

perempuan atas tubuhnya baik secara fisik dan psikologi (Sutrisno dan Putranto,

2005: 338-339).

Dalam pandangan Barat, tubuh dianggap sebagai mikrokosmos atau

(17)

commit to user

atau semesta besar, karena tubuh atau jasad manusia dikuasai oleh nafsu dan

dorongan naluriah (Handayani & Novianti, 2004: 54). Dalam mitos Jawa,

perempuan ibarat bumi yang sanggup menumbuhkan benih, memelihara,

menjaganya hingga bisa menghasilkan buah yang siap petik. Perempuan menjadi

lambang kesuburan. Seperti kodratnya bumi, perempuan harus bisa menjadi

perawat yang baik, yang merawat diri sendiri maupun lingkungannya. Masyarakat

Jawa mempercayai bahwa dengan merawat dunia luar (tubuh) dan dunia dalam

(batin) maka dapat dicapai sebuah keharmonisan. Oleh karenanya, perempuan

yang baik harus dapat merawat tubuhnya (Tilaar, 1999: 23).

Keharusan perempuan Jawa menjaga tubuhnya ini nantinya adalah untuk

kewajiban perempuan dalam berumah tangga, yakni melayani suaminya.

Perempuan dalam budaya Jawa disebut wanita yang berasal dari kata wani ditata

yang artinya berani diatur. Setelah berumah tangga, istri sepenuhnya menjadi

pendamping suami yang nrimo ing pandhum atau pasrah dan menerima apa yang

diinginkan suaminya, termasuk dalam urusan berhubungan badan

(http://blog.rawins.com/2010/04/perempuan-jawa.html diakses 29 Juli 2013).

Politik adalah suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, cara, alat yang

digunakan untuk mencapai tujuan (Rahayu, 2007: 82). Politik tubuh disini adalah

hal-hal yang berkenaan dengan ketubuhan perempuan yang didominasi oleh

budaya dan patriarki serta dieksplorasi ke berbagai bentuk komoditi. Namun,

politik tubuh tidak hanya tentang bagaimana hal lain dapat menguasai tubuh

perempuan, juga tentang bagaimana perempuan memiliki cara untuk memiliki

(18)

commit to user

Politik tubuh, menurut Foucault dalam Jurnal Penelitian Humaniora,

adalah prosedur, teknik dan taktik dari kekuasaan dalam menjadikan suatu bentuk

lunak, yaitu tubuh, untuk bergerak dan tampil seolah-olah natural sehingga secara

tidak sadar telah dikonstruksi, digolongkan, dikonstitusikan, ditematisasikan dan

dimanipulasi serta terperangkap dalam suatu hubungan prosedural yang terjadi

karena adanya pemaksaan hak dan kewajiban. Ditambahkan oleh Synnott, politik

tubuh ada dan bergerak di dalam dan di sekitar diri seseorang. Politik tubuh dapat

dilakukan orang kepada orang lain, juga orang pada dirinya sendiri. Synnott dan

Descartes membagi tubuh menjadi dua, yaitu tubuh mekanis dan tubuh mesin.

Tubuh mekanis adalah tubuh yang digerakkan sebagai pekerja yang menjadi

bagian dari mesin produksi, sedangkan tubuh mesin dianggap sebagai seonggok

mayat yang bekerja tanpa jiwa (Purwahida & Sayuti, 2011: 115).

Politik tubuh berkaitan dengan otonomi tubuh. Menurut Harper, otonomi

tubuh adalah upaya untuk menjadikan tubuh utuh dari segala penjajahan dari

pihak manapun dan di mata siapapun. Upaya ini membutuhkan pemaknaan nilai

hidup dan eksistensi diri perempuan itu sendiri, sehingga dirinya bebas

menentukan segala realitas hidupnya. Otonomi atas tubuh perempuan

berhubungan erat dengan kekuasaan. Seorang perempuan dikatakan memiliki

otonomi atas tubuhnya sendiri jika ia dapat melakukan kontrol atas tubuhnya.

Ketidakmampuan perempuan melakukan kontrol atas tubuhnya dapat dilihat

ketika tubuh perempuan dijadikan komoditas oleh pihak lain untuk mendapatkan

(19)

commit to user

Feminisme radikal merupakan paham feminisme yang menekankan

kepada permasalahan patriarkis yang fokus pada politics of the “ private” sphere

atau hal-hal yang bersifat privasi seperti seksualitas, motherhood, dan tubuh.

Tujuan utama mereka adalah agar perempuan dapat memiliki kuasa sepenuhnya

terhadap tubuh mereka sendiri untuk meningkatkan nilai tubuh mereka. Untuk

mendapatkan tujuan mereka, feminis radikal akan menggunakan ide, sikap dan

nilai-nilai budaya daripada menggunakan dominasi laki-laki. Feminisme radikal

tidak memperhatikan urusan perempuan dalam hal ekonomi, seperti gaji dan

lain-lain. Feminisme radikal fokus pada tubuh sebagai hal utama terjadinya penindasan

terhadap kaum perempuan (Beasley, 1999: 57-58).

Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lain

yang berkembang di jaman sastra tersebut hidup. Wujud sastra merupakan

tanggapan penulisnya terhadap fenomena yang ada dalam masyarakat. Apa yang

ingin diungkapkan oleh sastrawan (komunikator) tersebut tidak terlepas dari latar

belakang dan lingkungannya. Karya sastra menjadi suatu proses komunikasi

antara sastrawan sebagai komunikator dan pembaca sebagai komunikan

(http://bahasa.kompasiana.com/ diakses pada tanggal 28 April 2013).

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia, berupa pengalaman, pemikiran,

perasaan, ide, semngat keyakinan, ke dalam suatu bentuk gambaran konkret

dengan alat bahasa. Melalui karya sastra, seorang pengarang ingin menyampaikan

pandangannya tentang kehidupan. Oleh sebab itu, mengapresiasi karya sastra

artinya belajar tentang nilai kehidupan yang tercermin dalam karya sastra tersebut

(20)

commit to user

Ahmad Tohari dan Umar Kayam adalah sastrawan Indonesia yang

mengangkat perempuan ke dalam karya sastranya. Keduanya merupakan

sastrawan angkatan 66 dan berasal dari Jawa. Keduanya juga merupakan

sastrawan yang karyanya tidak hanya diakui di Indonesia, tapi telah diapresiasi

oleh masyarakat dunia. Keduanya pernah mendapatkan SEA Write Award, yaitu

penghargaan penulis se-Asia Tenggara. Umar Kayam mendapatkannya pada tahun

1987 sedang Ahmad Tohari pada tahun 1995 (http://id.wikipedia.org diakses pada

tanggal 15 April 2013). Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Sri Sumarah,

keduanya bercerita mengenai tema yang sama, yakni perempuan pada masa

pergolakan komunis. Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang seorang

perempuan di Banyumas Jawa Tengah, Srintil, yang karena bakatnya, ia menjadi

terikat oleh budaya di lingkungannya. Budaya tersebut secara tidak langsung

memaksa ia untuk menyerahkan keperawanan beserta harga dirinya. Dalam novel

ini Srintil mencoba untuk keluar dari budaya, menyelamatkan harga dirinya. Sri

Sumarah bercerita mengenai seorang perempuan yang hidup pada masa

kemerdekaan dan G30S PKI. Dia hidup bersama neneknya yang sangat

memegang teguh budaya Jawa. Segala yang ia lakukan haruslah sesuai dengan

yang adat Jawa anggap baik. Dari caranya merawat tubuh, melayani suami hingga

cara dia bersikapun juga tak lepas dari tata santun Jawa.

Tokoh-tokoh perempuan dalam Ronggeng Dukuh Paruk dan Sri Sumarah

merupakan dua perempuan Jawa yang hidupnya tidak lepas dari apa yang mereka

dapat atau yang mereka alami karena tubuh mereka. Berdasarkan hal tersebut,

(21)

commit to user

Sumarah karena keduanya menggambarkan perempuan yang bergolak untuk

melakukan kontrol atas kuasa pada tubuh mereka sendiri.

Ahmad Tohari mulai dikenal setelah sebuah cerpennya memenangkan

sebuah kincir dari Radio Hilversum, radio di Belanda. Setelah itu, Ahmad Tohari

memenangkan sayembara yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk

penerbitan sebuah karya. Karena keahliannya menulis, ia menjadi sastrawan besar

di Indonesia (Sumardjo, 1991: 79). Sebelum penghargaan SEA Write Award, pada

tahun 1990, Ahmad Tohari mendapatkan penghargaan The Fellow of The

University of Iowa dalam International Writing Programme di Iowa City,

Amerika Serikat.

Ronggeng Dukuh Paruk (1982) adalah novel keduanya setelah novel

Kubah (1980). Ronggeng Dukuh Paruk menarik perhatian pembaca hingga ke

manca negara, hingga kemudian diterbitkan dalam bahasa Jepang, Jerman,

Belanda dan Inggris. Ronggeng Dukuh Paruk telah diangkat menjadi film layar

lebar sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1983 dan tahun 2011, dimana film yang

terbaru ini disutradarai Ifa Isfansyah dengan penulis naskah Salman Aristo dan

meraih 4 penghargaan utama dalam Piala Citra. Sampai tahun 2011, Ronggeng

Dukuh Paruk telah mencapai cetakan yang kedelapan dengan menyatukan dari

ketiga trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera

Bianglala (http://ahmadtohari.com/profile diakses pada tanggal 25 April 2013).

Ahmad Tohari, dalam Proses Kreatif, kumpulan cerita-cerita penulis

Indonesia, Pamusuk Eneste, menceritakan maksud dan tujuannya dalam novel

(22)

commit to user

Ronggeng Dukuh Paruk dianggapnya sebagai pertanggung jawaban moral seorang

Ahmad Tohari sebagai penulis terhadap tragedi besar pada tahun 1965, dimana

pada masa itu hingga tahun 80-an, belum ada laporan yang memadai menyangkut

tragedi tersebut (Eneste, 2009: 118). Pada tahun 1960-an, keberadaan Ronggeng

di Dukuh Paruk merupakan fenomena sosial yang dipuja. Dalam Diskusi “Di

Balik Ronggeng Dukuh Paruk” yang diliput oleh Tempo, Ahmad Tohari

menyampaikan bahwa dengan menulis Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

ingin membela perempuan yang tertindas. Diacara lain, yaitu “Parade Obrolan

Sastra IV”, Ahmad Tohari menambahkan, bahwa pemilihan tokoh Ronggeng

karena kondisi negara saat itu masih belum berpihak pada sosok perempuan.

Selain itu, Tohari ingin merekam dan mencatat kejadian pemberontakan Partai

Komunis Indonesia yang saat itu ia alami secara langsung (www.tempo.co diakses

pada 6 Mei 2013).

Umar Kayam merupakan sastrawan dengan pandangan yang sangat luas.

Umar Kayam dikatakan sebagai tokoh intelektual dan ilmuwan dalam Sastra

Indonesia. Pentingnya kedudukan Umar Kayam dalam sastra Indonesia adalah

kematangannya dalam teknik menulis di samping kematangan visinya dalam

memandang kehidupan. Kayam menjadi penulis yang ekonomis dalam menyusun

ceritanya. Kayam hanya memberi gambaran situasi tertentu melalui suasana yang

terbias dari batin tokohnya. Gaya cerita Kayam khas dengan nuansa Jawa dan

Barat, yang perfeksionis namun ringan dan mengalir (Sumardjo, 1991: 200-202).

Sri Sumarah merupakan cerpen panjang Umar Kayam yang pertama kali

(23)

commit to user

Harry Aveling, seorang penulis asal Australia, diterjemahkan kedalam bahasa

Inggris kemudian diterbitkan dengan judul Sri Sumarah and Other Stories, yang

kemudian mendapat penghargaan “Anugerah Pengembangan Sastera” di Kuala

Lumpur pada tahun 1991 (http://id.wikipedia.org/ diakses pada tanggal 15 April

2013). Cerpen panjang Sri Sumarah dikelompokkan ke dalam cerpen-cerpen yang

berlatar peristiwa geger politik September 1965. Dengan cerpen tersebut, Umar

Kayam juga mengajak pembaca untuk memahami misteri kemanusiaan di balik

tragedi nasional September 1965 sehingga tidak selalu muncul pemikiran yang

dikotomis benar dan salah (Yudiono, 2010: 266-267).

Karya-karya Umar Kayam dan Ahmad Tohari tentu saja tidak lepas dari

pandangan, pengalaman, dan pengetahuan masing-masing. Sri Sumarah dan

Srintil merupakan dua perempuan dengan latar belakang Jawa yang hidup di

jaman yang bergejolak. Hal ini yang mendorong peneliti untuk mengetahui

wacana politik tubuh perempuan pada keduanya.

Karya sastra merupakan dunia rekaan yang diciptakan oleh pembuatnya.

Dunia rekaan yang di terima oleh pembacanya, membuat proses tersebut menjadi

proses komunikasi. Dalam proses komunikasi semacam ini, sastrawan adalah

pengirim pesan, pembaca adalah penerima pesan dan karya sastranya adalah pesan

(Taryadi, 1999: 238-239).

Pesan dalam ilmu komunikasi adalah keseluruhan dari apa yang

disampaikan oleh komunikator. Pesan memiliki tema yang menjadi pengarah

(24)

commit to user

penting dalam proses komunikasi, karena pesan merupakan arah tujuan akhir

proses komunikasi tersebut (Widjaja, 2000: 32).

Karya sastra merupakan susunan huruf, kata, kalimat, dan alenia yang

dapat menjadi sebuah dunia hanya jika pembaca secara aktif menafsirkannya.

Dalam proses menafsirkan tersebut terjadi komunikasi langsung antara karya

sastra dengan pembaca, atau komunikasi tidak langsung antara sastrawan dengan

pembaca (Taryadi, 1999: 239).

Proses komunikasi bukanlah proses dimana yang satu aktif dan yang satu

pasif, melainkan sebuah proses yang dinamis. Masing-masing pihak memiliki

posisi untuk menafsirkan dan memaknai pesan. Karenanya, proses komunikasi

pada dasarnya bukan hanya proses pengiriman pesan dan penyebaran pesan, tetapi

proses konstruksi atas pesan. Pengirim akan mengkonstruksi pesan tertentu untuk

disampaikan. Kemudian, penerima tidak hanya menerima, tetapi juga

mengkonstruksi kembali pesan yang disampaikan pengirim (Eriyanto, 2002:

52-53). Apa yang ditulis oleh Ahmad Tohari dan Umar Kayam tidak semata-mata

menghasilkan pendapat yang sama persis antar pembaca. Pemaknaan yang

berbeda tersebut dipengaruhi oleh kemampuan kognitif maupun afektif pembaca

yang berbeda-beda pula. Makna yang dikode oleh pemirsa tersebut bergantung

pada bagaimana individu melakukan dekonstruksi terhadap pesan tersebut, karena

setiap individu memiliki kebebasan menentukan metode interpretasi apa yang

harus digunakan, termasuk kepentingan-kepentingannya dalam melakukan

(25)

commit to user

Oleh karena itu, untuk mengetahui representasi politik tubuh perempuan

dalam cerita fiksi Ronggeng Dukuh Paruk dan Sri Sumarah, perlu menggunakan

analisis. Wiradi memberikan definisi bahwa analisis adalah aktivitas yang memuat

sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk

digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian

dicari kaitannya dan ditafsir maknanya (Makinuddin & Sasongko, 2006: 40).

Berdasarkan pengertian diatas, maka tugas analisis adalah mencari dan

memaparkan makna.

Pendekatan analisis wacana terhadap representasi media lebih canggih

dibandingkan dengan analisis lainnya. Tidak hanya kata-kata yang dapat

dikodekan dan dihitung, tetapi struktur wacana yang kompleks pun dapat

dianalisis pada berbagai tataran deskripsi. Wacana disini sebagai “ucapan”

dimana pembicara/ penulis menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada

khalayak, dan bahasa sebagai mediasi dalam proses ini (Sobur, 2009: 5-11).

Untuk memahami sebuah karya sastra sebagai sebuah wacana, tidak cukup

hanya mengetahui tentang makna kata-katanya saja, tetapi harus dibekali juga

pengetahuan sosial budaya bahasa yang digunakan, serta pemahaman terhadap

masyarakat pemakai bahasa itu sendiri. Fairclough memandang wacana sebagai

bentuk praktik sosial yang terungkap melalui pemakaian bahasa. Dengan

demikian analisis wacana berusaha menjelaskan bagaimana bahasa (teks)

berfungsi mengungkapkan realitas budaya. McCarthy dalam Sumarlam

(26)

commit to user

pada hubungan antara bahasa dengan konteks dalam pemakaian bahasa, baik

berkenaan dengan teks tertulis maupun data lisan (Sumarlam, 2003: 8-13).

Sedangkan untuk menganalisisnya, penulis menggunakan konsep analisis

wacana dari Sara Mills. Sara Mills merupakan seorang teoris wacana yang titik

perhatiannya lebih banyak pada wacana-wacana feminisme. Seperti bagaimana

perempuan ditampilkan dalam teks, baik novel, gambar, foto ataupun berita. Titik

perhatian analisis wacana model Sara Mills adalah bagaimana wanita

digambarkan dan dimarjinalkan dalam teks. Sara Mills melihat bagaimana

posisi-posisi aktor ditampilkan dalam teks, serta bagaimana pembaca mengidentifikasi

dan menempatkan dirinya dalam penceritaan teks. Dalam posisi subjek-objek,

Mills menekankan bagaimana posisi dari berbagai aktor sosial, posisi gagasan

atau peristiwa ditempatkan dalam teks. Posisi-posisi tersebut pada akhirnya

menentukan bagaimana bentuk teks yang hadir di tengah khalayak. Posisi

pembaca menurut Sara Mills juga sangat penting dan harus dipertimbangkan

dalam pembentukan teks. Mills berpandangan bahwa teks merupakan hasil

negosiasi antara penulis dan pembaca (Eriyanto, 2001: 199-204).

Penulis memutuskan untuk menggunakan analisis wacana model Sara

Mills, karena selain model ini sering digunakan untuk wacana feminisme, model

ini sesuai dengan tema yang penulis angkat, yaitu politik tubuh. Bagaimana

perempuan menjadi objek dan bagaimana perempuan menjadi subjek. Terdapat

kesamaan konsep berfikir antara Sara Mills dan feminisme radikal tentang

Figur

Gambar 2. Diagram Hubungan Empat Posisi
Gambar 2 Diagram Hubungan Empat Posisi . View in document p.13

Referensi

Memperbarui...