• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER ENGAGEMENT PLAN) FINAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER ENGAGEMENT PLAN) FINAL"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER ENGAGEMENT PLAN)

INTEGRATED CORPORATION OF AGRICULTURAL RESOURCES EMPOWERMENT (ICARE)

FINAL

Disusun oleh:

Badan Pengembangan dan Penelitian Pertanian (Balitbangtan) Jl. Raya Ragunan No.29, RT.14/RW.2, Jati Padang

Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan DKI Jakarta 12540

JANUARI 2022

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...2

DAFTAR TABEL ...3

DAFTAR GAMBAR ...3

DAFTAR LAMPIRAN ...3

DAFTAR SINGKATAN ...4

1.0 PENDAHULUAN ...5

1.1 TUJUAN ... 5

1.2 GAMBARAN SINGKAT PROGRAM ICARE ... 6

1.2.1 Komponen Program ... 6

1.2.2 Lokasi Program ... 7

2.0 RINGKASAN KETERLIBATAN YANG SUDAH DILAKUKAN ...8

3.0 PRINSIP-PRINSIP UMUM KETERLIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN ... 14

4.0 IDENTIFIKASI PEMANGKU KEPENTINGAN ... 15

4.1 MASYARAKAT ADAT... 15

4.2 MASYARAKAT RENTAN ... 15

4.3 PEMANGKU KEPENTINGAN TERDAMPAK PROGRAM ... 16

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 19

4.4 PEMANGKU KEPENTINGAN YANG BERKEPENTINGAN TERHADAP PROGRAM ... 21

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 24

5.0 STRATEGI PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN ... 25

6.0 PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM MASA PANDEMI COVID – 19 ... 34

7.0 MEKANISME UMPAN BALIK DAN PENANGANAN KELUHAN ... 35

8.0 PEMANTAUAN DAN PELAPORAN ... 38

9.0 PENGUNGKAPAN INFORMASI ... 39

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 40

(3)

3

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Ringkasan Singkat Kegiatan Bersama Pemangku Kepentingan Sebelumnya ... 8

Tabel 2 Identifikasi Pemangku Kepentingan Terdampak Program ICARE ... 17

Tabel 3 Identifikasi Pemangku Kepentingan yang Berkepentingan terhadap Program ... 22

Tabel 4 Strategi Pelibatan Pemangku Kepentingan Program ... 26

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur proses pengaduan masyarakat pada program ICARE ... 37

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Profil Singkat Para Pemangku Kepentingan ... 41

Lampiran 2 Pembahasan Hasil Kunjungan Lapang... 47

Lampiran 3 Penyampaian Informasi Publik tentang SEP tanggal 2 dan 3 September 2021 ... 59

Lampiran 4 Foto Konsultasi Publik Dokumen SEP ... 71

Lampiran 5 Notulesi Kosultasi Publik Dokumen ESMF dan ESCP ... 73

Lampiran 6 Formulir Penyelesaian Keluhan ... 83

Lampiran 7 Matriks Pencatatan Keluhan ... 84

(4)

DAFTAR SINGKATAN

Balitbangtan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

BLF Better Life Farming

BP2D Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah BPTP Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

CF Corporate Farming atau Korporasi Petani

DRPLN-JM Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah

ESCP Environmental and Social Commitment Plan atau Rencana Komitmen Lingkungan dan Sosial

ESF ESMF

Environmental and Social Framework atau Kerangka Lingkungan dan Sosial Environmental and Social Mangement Framework atau Kerangka

Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

FGRM Feedback Grievance Redress Mechanism atau Mekanisme Penanganan Keluhan Umpan Balik

Gapoktan Gabungan Kelompok Tani

Ha Hektar

ICARE Integrated Corporation of Agricultural Resources, Development, and Empowerment atau Korporasi Penelitian, Pengembangan dan Pemberdayaan Pertanian Terpadu

Kemen-PANRB Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Kementan Kementerian Pertanian

KLHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

KLN Kerjasama Luar Negeri

Km Kilometer

KSP Kantor Sekretariat Presiden

LSM Lembaga Swadaya Masyarakat

Pemda Pemerintah Daerah

PIU Project Implementing Unit PCR

SDM SEP

Polymerase Chain Reaction Sumber Daya Manusia

Stakeholder Engagement Plan atau Rencana Pelibatan Pemangku Kepentingan

UMKM Usaha mikro, kecil, dan menengah

UPP Unit Pelaksana Program

UU Undang-undang

(5)

5

1.0 PENDAHULUAN

Komoditas pertanian mengalami pelandaian peningkatan produktivitas dan stagnasi senjang hasil.

Data BPS menunjukkan pada periode sepuluh tahun terakhir terdapat pelandaian peningkatan produktivitas hasil pertanian, diantaranya pada tanaman pangan seperti padi, kopi, dan jeruk. Pada tahun 2010 rata-rata produktivitas padi nasional tercatat 5,11 ton per ha dan pada tahun 2020 baru mencapai 5,11 ton per ha. Rata-rata produktivitas kopi nasional pada tahun 2019 tercatat 803 kg per ha. Angka produktivitas tersebut belum banyak meningkat dibandingkan produktivitas kopi nasional pada tahun 2009 sebesar 779 kg per ha. Demikian pula, rata-rata produktivitas jeruk nasional pada tahun 2020 mencapai 350,76 kuintal per ha, tidak jauh berbeda dengan produktivitas tahun 2010 sebesar 355,43 kuintal per ha. Di sisi lain, varietas unggul baru sudah banyak dilepas dengan potensi hasil lebih tinggi. Hal ini menunjukkan masih terjadinya senjang hasil yang dapat dicapai pada kondisi optimal dengan rata-rata hasil yang dapat dicapai oleh petani pada berbagai kondisi agroekologi.

Senjang hasil padi antar musim juga masih dijumpai pada kondisi agroekologi tertentu seperti lahan rawa. Hal tersebut diantaranya disebabkan masih belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pertanian, termasuk masih rendahnya pemanfaatan teknologi dan cukup tingginya kehilangan hasil.

Potensi pasar Indonesia memberikan peluang usaha besar bagi produsen, pengolah, dan aktor-aktor rantai nilai. Akan tetapi, masih terdapat sejumlah hambatan yang harus diatasi. Produktivitas sektor pertanian Indonesia masih tergolong rendah dan yang paling rendah terdapat di subsektor tanaman pangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas dan keuntungan di sektor pertanian meliputi kurangnya akses pasar oleh produsen, terbatasnya adopsi teknologi inovatif, hambatan infrastruktur dan logistik hilir, lemahnya sistem keamanan pangan (terutama untuk produk yang mudah rusak), kurangnya permodalan, serta kurangnya keterampilan teknis dan kemampuan kewirausahaan.

Indonesia terus berupaya membuat kemajuan dalam mengurangi kemiskinan, meskipun laju penurunan kemiskinan tersebut melambat dalam beberapa tahun terakhir dan sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Berdasarkan standar international mengenai keseimbangan kemampuan berbelanja sebesar USD1,90 per hari (2011 purchasing power parity), Indonesia termasuk negara yang paling cepat menurunkan tingkat kemiskinan dalam dua dekade terakhir.

Program ICARE difokuskan pada komoditas-komoditas bernilai tinggi untuk mengantisipasi jumlah impor yang terus meningkat, serta untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan mendorong ekspor. Program ICARE akan berjalan selama enam tahun mulai tahun 2022 sampai dengan 2028.

1.1 TUJUAN

Dokumen ini adalah Rencana Pelibatan Pemangku Kepentingan (atau Stakeholder Engagement Plan/

“SEP”), yang terkait Program Korporasi Pemberdayaan Sumber Daya Pertanian Terpadu atau Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (“ICARE” atau disebut “Program”).

SEP bertujuan meningkatkan dan memfasilitasi pengambilan keputusan dan menciptakan suasana pemahaman yang aktif melibatkan orang/pihak yang terdampak Program dan pemangku kepentingan lainnya. Para pihak yang terdampak diberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapat dan kekhawatiran yang dapat mempengaruhi keputusan Program.

Secara khusus, tujuan SEP adalah sebagai berikut:

▪ Mengidentifikasi pemangku kepentingan, membangun dan memelihara hubungan yang konstruktif dengan pemangku kepentingan, khususnya, pihak yang terkena dampak Program;

(6)

▪ Mengidentifikasi kepentingan dan dukungan pemangku kepentingan terhadap program dan melihat kemungkinkan pandangan pemangku kepentingan diperhitungkan dalam desain program dan kinerja lingkungan dan sosial;

▪ Menyusun rencana keterlibatan yang efektif dan inklusif dengan pihak-pihak yang terkena dampak program sepanjang siklus hidup program tentang isu-isu yang berpotensi mempengaruhi para pihak tersebut;

▪ Menginformasikan program yang tepat tentang risiko dan dampak lingkungan dan sosial diungkapkan kepada pemangku kepentingan secara tepat waktu, dapat dipahami, dapat diakses, dan dengan cara dan format yang sesuai;

▪ Menyediakan sarana yang dapat diakses dan inklusif bagi pihak-pihak yang terkena dampak program untuk menyampaikan kekhawatiran dan mekanisme pengaduan yang tepat; dan

▪ Menentukan langkah-langkah pelaporan dan pemantauan yang efektif.

Dokumen SEP ini akan diimplementasikan selama pelaksanaan Program dan akan diperbaharui berdasarkan kebutuhannya.

1.2 GAMBARAN SINGKAT PROGRAM ICARE

Melalui Program ICARE, Pemerintah Indonesia mengembangkan sistem pertanian yang inovatif, integratif, dan kolaboratif untuk mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Program ini mempromosikan sistem produksi pertanian dan pengembangan yang berkelanjutan, inklusif, dan terdiversifikasi di wilayah program yang dipilih. Tujuan-tujuan ini sangat relevan dalam konteks Pandemi COVID-19 di mana peningkatan ketahanan sistem pangan dan mata pencaharian pedesaan sangat penting. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur/fasilitas, produktivitas dan efisiensi penggunaan input dan efisiensi usahatani, nilai tambah produk pertanian, dan pendapatan petani. Selain itu, program ini juga meningkatkan layanan dan akses terhadap teknologi informasi/informasi teknologi pertanian secara masif. Pada akhirnya, program ini bertujuan untuk menghasilkan keberlanjutan sistem produksi, dan peningkatan kawasan pertanian berbasis korporasi petani.

Lembaga negara yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan adalah Kementerian Pertanian.

1.2.1 Komponen Program

Program memiliki tiga komponen utama yaitu:

Komponen A: Penguatan rantai nilai di kawasan pertanian terpilih, yang meliputi:

Sub-Komponen A-1: Pengelolaan model Kawasan pertanian dan rantai nilai. Kegiatan yang dilakukan antara lain verifikasi kecamatan lokasi program dan penerima manfaat serta penilaian kinerja rantai nilai eksisting di level kabupaten secara partisipatif; penyusunan rencana agribisnis tingkat kawasan dan kerja sama antar pemangku kepentingan; serta penguatan layanan pertanian berdasarkan identifikasi “gap” rantai nilai dalam agribisnis kawasan.

Sub-Komponen A-2: Dukungan pembentukan korporasi petani. Kegiatan yang dilakukan adalah penggabungan kelompok tani ke dalam Korporasi Petani serta penguatan kemampuan teknis, bisnis,

(7)

7

finansial, dan organisasi; penyusunan rencana bisnis Korporasi Petani; dan fasilitasi dana pendampingan untuk rencana bisnis korporasi petani.

Komponen B: Penguatan kapasitas institusi untuk pengelolaan rantai nilai, yang meliputi:

Sub-Komponen B-1: Sosialisasi dan bimbingan teknis sistem usaha pertanian secara kolaboratif melalui kemitraan. Kegiatan yang dilakukan adalah penyediaan hibah kompetitif penguatan sistem usaha pertanian melalui kemitraan kolaboratif; serta fasilitasi sosialisasi dan bimbingan teknis sistem usaha pertanian sesuai kebutuhan lokal.

Sub-Komponen B-2: Peningkatan kapasitas institusi. Kegiatan yang dilakukan adalah penguatan kapasitas teknis pelaku rantai nilai; serta penguatan kapasitas SDM Pemerintah.

Komponen C: Dukungan Manajemen Program, yang meliputi:

Sub-komponen C-1: Manajemen Program. Kegiatan yang dilakukan adalah koordinasi, pelaksanaan, pengelolaan keuangan, pengelolaan lingkungan dan sosial, dan pemantauan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.

Sub-komponen C-2: Monitoring dan Evaluasi. Kegiatan yang dilakukan dalah menyusun sistem Monev tingkat program dan tingkat lanjut sebagai bagian dari struktur manajemen program dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang kuat, serta dengan kemampuan Sistem Informasi Geografis (GIS).

Penerima manfaat dari Program ICARE adalah:

1. Petani, yang, a) memiliki akses untuk mengelola lahan (milik sendiri, dengan perjanjian, sewa) yang berlokasi di Kawasan Pertanian terpilih, dan bersedia untuk berpartisipasi di rantai nilai, b) berdomisili di daerah yang sama dengan lahan yang dikelola, di lokasi terpilih Kawasan pertanian di masing-masing Provinsi, c) bersedia berpartisipasi secara aktif program peningkatan kapasitas sebagai bagian dari rantai nilai Kawasan pertanian;

2. Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani yang: a) terdaftar dalam Dinas Pertanian setempat (melampirkan SK Penetapan jika diperlukan); b) menjadi anggota aktif; dan c) mengelola produk pertanian dengan potensi pemasaran yang baik; dan

3. Korporasi Petani yang: a) memiliki Lembaga hukum yang jelas (sebagai koperasi, perseroan terbatas); dan b) menjalankan jenis usaha yang berasal dari petani anggota yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.

Subkomponen C-3: Manajemen pengetahuan dan informasi. Program ICARE akan melibatkan petani, masyarakat dan stakeholder terkait, sehingga perlu melakukan pengelolaan terhadap informasi dan pengetahuan selama implementasi program. Akan dilakukan peningkatan pengetahuan terhadap sistem dokumentasi untuk proses, strategi, dan pembelajaran yang diperoleh dari pengembangan model rantai nilai di setiap lokasi. Dokumentasi ini dapat mengidentifikasi best practices yang dapat bermanfaat untuk disebarluaskan ke khalayak yang lebih luas.

1.2.2 Lokasi Program

Program ICARE akan dilaksanakan di kawasan pertanian berikut:

(8)

1. Kecamatan Ulu Belu, Air Naningan dan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung dengan komoditas kopi dan ternak kambing;

2. Kecamatan Cikajang, Cigedug, Cisurupan, Pasir Wangi dan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat dengan komoditas kentang dan ternak domba;

3. Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah dengan komoditas pisang dan padi;

4. Kecamatan Rembang, Sukorejo, dan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur dengan komoditas jagung dan mangga;

5. Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat dengan komoditas jeruk dan padi;

6. Kecamatan Tombolo Pao dan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dengan komoditas kentang dan ternak sapi;

7. Kecamatan Praya, Praya Barat dan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan komoditas jagung dan ternak ayam;

8. Kecamatan Airmadidi, Kalawat, Talawaan, Dimembe, dan Kauditan, Kabupaten Minahasa utara, Provinsi Sulawesi Utara dengan komoditas kelapa dan jagung; dan

9. Kecamatan Aere dan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan komoditas kakao dan sapi potong.

2.0 RINGKASAN KETERLIBATAN YANG SUDAH DILAKUKAN

Beberapa kegiatan pelibatan pemangku kepentingan di seluruh lokasi program telah dilakukukan untuk mempersiapkan program ICARE serta termasuk usulan kegiatan program yang lebih detail di tingkat desa. Kegiatan pelibatan pemangku kepentingan sebelumnya adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Ringkasan Singkat Kegiatan Bersama Pemangku Kepentingan Sebelumnya

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan

15

September 2020

Presentasi Pembentukan dan

Pengembangan Corporate Farming (CF)

Presentasi Pembentukan &

Pengembangan Korporasi Petani

CF menggabungkan lahan pertanian untuk dikelola bersama oleh petani dan terintegrasi menjadi satu pengelolaan.

Sistem ini dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi petani. Program ini dimulai dengan 5 program CF percontohan pada 2020, dan ditargetkan 350 CF akan terbentuk pada 2024.

Dihadiri oleh:

Bappenas, Kementan, Balitbangtan.

17 Desember

Pertemuan koordinasi

Pembahasan kesiapan

Paparan dari Direktur Multilateral dan PHLN, Bappenas menyampaikan bahwa

Dihadiri oleh: Dit.

Pangan dan

(9)

9

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan

JM/Blue Book 2020-2024 dengan indikasi pendanaan Bank Dunia

Lembaga dan memiliki nilai komitmen sebesar 25,7 Milliar USD dan ada sekitar 7 Proyek yang akan dibiayai WB senilai 1,8 jt USD.

Nilai pengajuan Program ICARE

disebutkan dalam Bluebook sebesar 100 juta USD dan 10 jt USD RMP (Rupiah Murni Pendamping).

Kementan. Biro KLN, dan Balitbangtan beserta Tim Persiapan ICARE

24 Februari 2021

Sosialisasi Sosialisasi Program ICARE lingkup

Kementan

Ditetapkan lokasi provinsi di 9 provinsi.

Pemilihan komoditas dilakukan berdasarkan Permentan 472/2018 Pengembangan model kawasan dalam program ICARE sangat tepat dikaitkan dengan Food Estate karena rancangan kegiatan merujuk kepada supply chain (connecting product to the market), melibatkan sisi supply dan demand dengan target ekspor komoditas yang memiliki standar pasar.

Dalam pelaksanaan program ICARE dapat disinergikan dengan program- program strategis Kementerian Pertanian yang sudah ada.

Dihadiri oleh:

Sekjen, Kepala Badan Litbang Pertanian, Kepala Biroren, Kepala Biro Humas, Perwakilan Eselon 2 dari masing-masing Ditjen Teknis, dan Kepala BPTP di 9 provinsi calon lokasi

18-19 Maret 2021

Sosialisasi Presentasi usulan program ICARE dari masing-masing daerah

Masing-masing wilayah yang akan menjadi program ICARE

mempresentasikan usulan program komoditas di wilayahnya:

▪ Kopi dan kambing di Tanggamus, Lampung

▪ Kentang dan domba di Garut, Jawa Barat

▪ Pisang dan padi gogo di Purbalingga, Jawa Tengah

▪ Mangga dan jagung di Probolinggo, Jawa Timur

▪ Jeruk dan padi di Sambas, Kalimantan Barat

▪ Lada dan kambing di Luwu, Sulawesi Selatan

▪ Kakao dan kambing di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara

▪ Ayam KUB dan jagung di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

▪ Kakao dan jagung di Minahasa, Sulawesi Utara

Dihadiri oleh:

Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, Dinas Pertanian masing-masing wilayah program, Perwakilan petani di masing-masing wilayah program

22 Maret 2021

Konsultasi Pertemuan konsultasi dengan Aktor Rantai Nilai, Fintech, StartUp

▪ Masing-masing aktor rantai nilai, off taker, Start-up dan Fintech

memberikan statement dalam potensi memberikan dukungan terhadap Program;

Dihadiri oleh:

Perwakilan seluruh BPTP lokasi Program ICARE, TaniHub, Olam, ECOM,

(10)

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan dan Inpiut

Suplier

▪ Macam-macam layanan yang disediakan sesuai dengan bidang konsentrasi usaha masing-masing;

▪ Problem dan kendala di masing- masing aktor rantai nilai ini berbeda- beda dan untuk identifikasi yang sesuai dengan Program ICARE harus

dilaksanakan sejak awal.

Bayer/Better Life Farming (BLF), IGrow, Hara, KBHI, Eden Farm, Kenhouse/Indofood

14 April 2021

Koordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Garut

Sosialisasi ICARE di Garut

▪ Sosialisasi program ICARE di Kabupaten Garut dengan konsep korporasi pertanian berbasis komoditas kentang dan domba. Mengawali program tersebut,) Jabar sebagai bagian dari Balitbangtan melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Garut.

▪ Program ICARE dapat mendukung sentra kentang sayur dan kentang industri.

Dihadiri oleh:

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Dinas Pertanian Kabupaten Garut

25 dan 27 Mei 2021

Sosialisasi dan konsultasi

Sosialisasi dan konsultasi program ICARE

▪ Koordinasi dan sosialisasi dengan Bappeda, Dinas Pertanian dan Penyuluh Pemerintah Daerah Jawa Timur (provinsi dan Kabupaten Pasuruan)

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program

▪ Permohonan fasilitasi dengan penerima manfaat langsung yaitu petani dan pelaku agribisnis mangga dan jagung

Dihadiri oleh:

Kepala Bappeda, Kepala Dinas, Penyuluh dan Petani

25 Mei 2021 Sosialisasi dan konsultasi

Sosialisasi dan konsultasi ICARE di Garut

▪ Koordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan dukungan BP2D untuk program ICARE

▪ Sinergitas program BP2D dengan program ICARE

Dihadiri oleh:

Kepala BP2D, Peneliti Balai Benih Kentang, BKPP, Balai Penelitian Sayur (Balitsa), BPTP dan Puslitbangnak

26 Mei 2021 Sosialisasi dan konsultasi

Sosialisasi dan konsultasi ICARE di Garut

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE;

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program ICARE;

▪ Permohonan fasilitas dengan penerima manfaat langsung, yaitu petani dan pelaku agribisnis kentang dan domba

Dihadiri oleh:

Kepala Dinas Pertanian Kab Garut, Kabid Dinas Peternakan, BP2D, Pengelola TTP Garut, Penyuluh, Ketua Gapoktan,

(11)

11

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan

▪ Observasi lokasi kegiatan ICARE dan identfikasi permasalahan dilapang yang dihadapi petani kentang dan peternak domba Garut.

Petani dan Peternak

27 Mei 2021 Koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Garut

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program ICARE

▪ Permohonan fasilitas dengan penerima manfaat langsung, yaitu petani dan pelaku agribisnis kentang dan domba garut

Dihadiri oleh:

Wakil Bupati, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Peternakan, Kepala Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata, Balitsa,

Puslitbangnak, Dinas Koperasi, dan UMKM

28 Mei 2021 Koordinasi dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

Merangkum hasil diskusi-diskusi

sebelumnya dan membahas tindak lanjut dan beberapa agenda yang akan dilakukan pada kegiatan observasi berikutnya.

Dihadiri oleh:

Kepala BP2D, Kepala BPTP, Peneliti BPTP, Puslitbangnak dan Balitsa

8 -10 Juni 2021

Koordinasi dengan instansi terkait dan petani di Kabupaten Sambas

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program

Permohonan fasilitasi dengan penerima manfaat langsung yaitu petani dan pelaku agribisnis jeruk dan padi

Dihadiri oleh:

Bupati terpilih, Asisten II Setda Kab. Sambas, Kepala Bappeda, Kepala Dinas, Penyuluh dan Petani.

8-9 Juni 2021

Koordinasi dengan Pemkab Kolaka Timur

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program ICARE

▪ Permohonan fasilitas dengan penerima manfaat langsung, yaitu petani dan pelaku agribisnis kakao dan sapi potong

▪ Observasi lokasi ICARE dan Identifikasi permasalahan dilapang yang dihadapi oleh petani kakao dan peternak sapi potong

Dihadiri oleh:

Bupati Kolaka Timur, Ketua DPRD, Kepala Bappeda

Kabupaten Kolaka Timur, Kepala Dinas Pertanian, Camat, Lurah, Loka Sapi Potong, Ketua LEM Sejahtera, Petani Kakao dan Peternak sapi potong 10 Juni

2021

Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program ICARE

▪ Permohonan fasilitas dengan penerima manfaat langsung, yaitu petani dan

Dihadiri oleh:

Kepala Bappeda Provinsi, Dinas Pertenakan dan Ketahanan Pangan, Dinas Perkebunan,

(12)

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan pelaku agribisnis kakao dan peternak

sapi potong

BPTP Sulawesi Tenggara 16 Juni

2021

Koordinasi Pembahasan Daftar Kegiatan (DK) Program ICARE dengan Bappenas

▪ Pembahasan terkait dengan pelaksanaan pendidikan gelar agar tidak dimasukkan di Program ICARE.

▪ Keterlibatan Pemda, Pemkab, dan BPTP agar diperjelas dalam desain dan apakah aka nada PIU mengingat adanya beberapa lokasi termasuk pengaturan dalam perguliran

pendanaan dan bentuk bantuan yang akan diberikan dari Program ICARE kepada Petani sehingga dapat dicapai apa yang diinginkan dalam

peningkatan rantai nilai dan pengembangan kawasan.

Dihadiri oleh:

Biro KLN, Dit Pangan dan Pertanian Bappenas, Renbang, Bappenas, Tim ICARE dan Koordinator Perencanaan Sekretariat Balitbangtan.

2 – 3 September 2021

Konsultasi Konsultasi dan sosialisasi dokumen SEP

▪ Mensosialisasikan dan

mengkonsultasikan dokumen SEP yang telah disusun oleh tim UPP ICARE Balitbangtan.

▪ Kolaborasi antara pengelola program, penelitian, petani/peternak dan kelompok usaha rantai nilai pertanian.

▪ Pelibatan petani kecil (yang memiliki lahan terbatas) dalam kegiatan peningkatan kapasitas seperti

pelatihan penggunaan teknologi dalam proses produksi dan pemasaran

Dihadiri oleh:

Lembaga

pemerintah ditingkat pusat hingga kabupaten, Lembaga riset universitas, perwakilan petani, peternak, kelompok bisnis dalam rantai nilai pertanian.

21 – 24 September 2021

Koordinasi dengan instansi terkait dan petani di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi

Sulawesi Utara

Sosialisasi kegiatan Program ICARE

▪ Sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Program ICARE

▪ Identifikasi kontribusi dan peran Pemerintah Daerah untuk keberhasilan program

▪ Permohonan fasilitasi dengan penerima manfaat langsung yaitu petani dan pelaku agribisnis kelapa dan jagung

Dihadiri oleh:

Bupati dan Wakil Bupati Minahasa Utara, Asisten II Setda Kab.

Minahasa Utara, Kepala Bapelitbang Kab. Minahasa Utara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Penyuluh dan Petani.

7 – 8 Oktober 2021

Konsultasi Konsultasi dan sosialisasi dokumen ESMF dan ESCP

▪ Balitbangtan mengkonsultasikan dokumen ESMF dan ESCP kepada stakeholder kunci di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten, baik kelompok pemerintah, perguruan tinggi, petani dan peternak, kelompok usaha rantai nilai pertanian;

▪ Mendengarkan masukan dari para stakeholder kunci terkait pengelolaan

Dihadiri oleh:

Lembaga

pemerintah ditingkat pusat hingga kabupaten, Lembaga riset universitas, perwakilan petani, peternak, kelompok

(13)

13

Waktu Kegiatan Tujuan kegiatan Poin-poin Konsultasi Keterangan

kecemburuan kelompok tani yang tidak mendapatkan manfaat dari Program;

membantu mengatasi masalah imbah dari kegiatan pertanian dan peternakan seperti limbah jagung, kotoran ayam, dll.; dan mengatasi pengelolaan jenis pertanian tertentu yang dianggap sebagai komoditas yang merusak alam.

bisnis dalam rantai nilai pertanian.

Detail catatan hasil rangkaian pertemuan antara tim ICARE Kementan dengan para pemangku kepentingan dapat dilihat pada

Lampiran

2.

Dokumen Rencana Pelibatan Pemangku Kepentingan (atau SEP) ini telah dikonsultasikan kepada para pemangku kepentingan yang relevan pada 2 dan 3 September 2021 yang dihadiri oleh 270 peserta dari Sembilan (9) lokasi program ICARE (lihat Lampiran 3 dan Lampiran 4). Konsultasi dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, dan dilakukan dalam dua sesi: konsultasi dengan pemangku kepentingan dari kelompok pemerintahan dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan kecamatan termasuk dari lembaga penelitian perguruan tinggi yang diselenggarakan pada 2 September 2021; dan konsultasi dengan pemangku kepentingan dari perwakilan kelompok petani dan peternak yang diselenggarakan pada 3 September 2021.

Dalam konsultasi tersebut, semua pemangku kepentingan dari kelompok pemerintah dari berbagai tingkatan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, kelompok petani dan peternak termasuk kelompok yang terlibat dalam rantai nilai pertanian dan peternakan siap mendukung program ICARE di lapangan.

Beberapa masukan dari para pemangku kepentingan yang muncul antara lain adalah:

▪ Program perlu berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan terkait dan mempertimbangkan persoalan hulu hingga hilir dalam proses produksi pertanian,

▪ Lokasi program tidak terbatas di lokasi sentra komoditas pertanian tertentu sebagai pola integrasi, tetapi juga model parsial di kampung dengan komoditas lain termasuk kegiatan ternak;

▪ Program ICARE diharapkan dapat melibatkan lembaga penelitian perguruan tinggi (universitas) setempat, baik dalam proses perencanaan maupun kegiatan penelitian;

▪ Program diharapkan mempertimbangkan petani kecil (petani yang memiliki lahan terbatas) untuk dilibatkan dalam kegiatan peningkatan kapasitas seperti pelatihan penggunaan teknologi dalam proses produksi dan pemasaran.

▪ Program perlu mengidentifikasi peluang pelibatan petani muda dalam pengembangan Kawasan pertanian di masing-masing Provinsi target. Petani-petani muda yang ada merupakan aset yang sangat bermanfaat sebagai agen pembawa digitalisasi dalam pertanian.

(14)

3.0 PRINSIP-PRINSIP UMUM KETERLIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN

Rencana Pelibatan Pemangku Kepentingan ini dikembangkan melalui partisipasi dari pemangku kepentingan yang terdampak baik langsung atau tidak langsung, dampak positif maupun negatif dan pemangku kepentingan yang berkepentingan terhadap Program ICARE. Pemangku kepentingan diberikan informasi yang relevan, dapat dimengerti, dapat diakses, dan dikonsultasikan secara terbuka, bebas manipulasi, intervensi, paksaan, diskriminasi dan intimidasi. Pelibatan masyarakat ini mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat menghambat partisipasi, seperti ketidaksetaraan gender, buta huruf, etnis, disabilitas, dan faktor eksklusi lainnya terutama untuk kelompok rentan.

Balitbangtan telah melakukan pelibatan pemangku kepentingan untuk mengumpulkan pandangan awal tentang persiapan, perencanaan, pelaksanaan program, dan akan dikelola sepanjang siklus hidup program. Para pemangku kepentingan didorong untuk memberikan umpan balik tentang kegiatan persiapan dan tentang identifikasi dan mitigasi risiko dan dampak lingkungan dan sosial. Serangkaian catatan terdokumentasi dari keterlibatan pemangku kepentingan akan terus dipelihara dan diungkapkan sebagai bagian dari penilaian lingkungan dan sosial dari persiapan program, termasuk deskripsi pemangku kepentingan, ringkasan umpan balik yang diterima dan penjelasan singkat tentang bagaimana umpan balik tersebut dipertimbangkan.

Balitbangtan menyusun rencana pelibatan pemangku kepentingan ini pada prinsipnya secara umum untuk:

1. Menjaring pandangan-pandangan yang berbeda dari berbagai pihak terkait rancangan, risiko pada saat penerapan, serta dampak program dan upaya pencegahan untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Pendapat dan pandangan tersebut dapat memperkaya rancangan kegiatan dalam program sesuai dengan kebutuhan dan target manfaat di masing-masing lokasi.

2. Membantu mengembangkan hubungan yang konstruktif dan responsif dengan pihak-pihak yang terdampak kegiatan program. Dampak kegiatan dapat secara langsung maupun tidak langsung, sehingga hubungan yang terbentuk dengan baik bahkan sebelum kegiatan dimulai akan dapat teridentifikasi. Jika dampak tersebut menimbulkan kemanfaatan, maka berpotensi untuk ditingkatkan dan menjadi contoh untuk memperluas dan memaksimalkan kemanfaatan.

Jika dampak menimbulkan kerugian, maka dapat dikomunikasikan penanggulangannya dengan segera dan dapat diminimalkan risikonya.

3. Mendukung pengawasan kegiatan dan membantu mengidentifikasi potensi isu-isu lingkungan dan sosial sejak awal. Selama implementasi kegiatan, akan sangat baik jika pengawasan dan pemantauan dilakukan sejak awal, selama dan setelah pelaksanaan. Kegiatan yang terikat dalam program terbatas pada periode yang sudah ditentukan, sehingga dengan adanya pihak- pihak terkait yang sudah dilibatkan sejak awal, akan membantu pengawasan bahkan sebelum dan setelah program selesai. Hal ini akan memberikan manfaat untuk meningkatkan keberlanjutan program.

4. Meningkatkan aspek-aspek keberlanjutan lingkungan dan sosial dari program; penerimaan dan manfaat pelaksanaan program; dan berkontribusi terhadap keberhasilan rancangan dan penerapan program. Program yang dari awal dirancang dengan tujuan untuk mengembangkan

(15)

15

meminimalisasi isu-isu lingkungan dan sosial untuk meningkatkan potensi keberhasilan program.

ICARE dilaksanakan di 9 kawasan di Indonesia yang secara unik bersentuhan dan melibatkan pihak- pihak yang ada di sekitar pusat kegiatan di lokasi yang terpilih. Dari pihak-pihak tersebut terdapat faktor pendukung keberhasilan program yang bermanfaat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dengan komoditi yang berbeda untuk masing-masing lokasi, prinsip-prinsip pelibatan pemangku kepentingan di atas diharapkan dapat secara unik berkontribusi dalam pencapaian tujuan dan target program.

4.0 IDENTIFIKASI PEMANGKU KEPENTINGAN

Keterlibatan dengan pemangku kepentingan sebagai bagian integral dari penilaian lingkungan dan sosial program serta desain dan implementasi program. “Pemangku Kepentingan” mengacu pada individu atau kelompok yang: (a) terpengaruh atau kemungkinan terpengaruh oleh program (pihak yang terkena dampak program); dan (b) mungkin memiliki kepentingan dalam program (pihak lain yang berkepentingan). Pemangku kepentingan mencakup mereka yang mungkin terkena dampak program karena dampak aktual atau potensi risiko terhadap lingkungan fisik, kesehatan, keamanan, praktik budaya, kesejahteraan, atau mata pencaharian mereka.

Balitbangtan melibatkan pemangku kepentingan sepanjang siklus hidup program, memulai keterlibatan tersebut sedini mungkin dalam proses pengembangan program dan dalam kerangka waktu yang memungkinkan adanya konsultasi yang produktif dengan pemangku kepentingan mengenai desain program. Identifikasi dan analisis pemangku kepentingan adalah proses identifikasi pengaruh yang relatif dimiliki individu dan kelompok yang berbeda atas suatu program serta pengaruh program terhadap mereka. Tujuan pemetaan pemangku kepentingan adalah untuk: (1) mempelajari profil pemangku kepentingan yang telah diidentifikasi dan sifat taruhannya; dan (2) menyusun rencana pelibatan pemangku kepentingan.

4.1 MASYARAKAT ADAT

Program ICARE berlokasi di sembilan kabupaten pada sembilan Provinsi di Indonesia (detail lokasi dibahas di sub bab 1.2.2). Penapisan keberadaan masyarakat adat dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan kujungan lapangan oleh Balitbangtan mengindikasikan keberadaan masyarakat adat di tingkat kabupaten, namun tidak ada masyarakat adat di tingkat kecamatan dimana kegiatan akan dijalankan, sehingga tidak ada dampak proyek ke masyarakat adat. Untuk itu, ESS 7 tidak relevan untuk program ini.

4.2 MASYARAKAT RENTAN

Masyarakat rentan pada Program ini adalah petani berpendidikan rendah, yang memiliki keterbatasan modal, keterbatasan lahan, dan pengelolaan lahan pertanian yang masih sedikit atau tidak mengalami keuntungan (petani subsisten): petani kecil, perempuan petani, dan petani yang masih muda. Selama persiapan dan pelaksanaan Program, masyarakat rentan kemungkinan besar tidak mengikuti proses komunikasi, yang mengakibatkan tidak memadainya informasi yang dihasilkan oleh program. Oleh karena itu, mereka akan tidak akan dimasukkan sebagai penerima manfaat program ICARE.

Mengantisipasi ekslusi dari petani rentan, program akan memastikan terkait informasi program dan sub-program yang akan diseminasikan melalui media dan saluran populer di lokasi kegiatan, seperti melalui aplikasi pesan ’Whatsapps’ dan juga forum formal dan informal lain di tingkat desa, termasuk

(16)

juga perilaku komunikasi petani di lokasi Program. ESMF akan menyediakan panduan untuk menghidari dominasi dari elit lokal (elite capture).

Selain itu, donor lahan untuk rehabilitasi infrastruktur pedesaan utama dan kemungkinan perambah liar pada lahan Balitbangtan dapat dikategorisasikan sebagai masyarakat rentan dimana mereka juga terdampak oleh kegiatan Program. Konsultasi dan pelibatan secara khusus diperlukan untuk menginformasikan hak dan prosedur-prosedur yang termasuk di dalam Program.

4.3 PEMANGKU KEPENTINGAN TERDAMPAK PROGRAM

Kelompok permangku kepentingan terdampak pada Program ini adalah mereka baik individu atau kelompok yang terpengaruh oleh Program ICARE, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Balitbangtan telah mengidentifikasi kelompok pemangku kepentingan yang termasuk dalam kategori terdampak Program, sebagaimana tercantum dalam Tabel 2 berikut:

(17)

17

Tabel 2 Identifikasi Pemangku Kepentingan Terdampak Program ICARE

No Kegiatan Komponen Pemangku kepentingan Dampak dan Kepentingan Lokasi (Kecamatan)

Komponen A: Penguatan rantai nilai di kawasan pertanian terpilih A1 Pengelolaan model kawasan

pertanian dan rantai nilai.

▪ Pemerintah Daerah terkait

▪ Petani/peternak

▪ Petani kecil

▪ Petani/peternak perempuan

▪ Petani/peternak muda

▪ Kelompok Tani/Gapoktan

▪ Kelompok Ternak

▪ Korporasi Tani

▪ Masyarakat rentan

Pemerintah Daerah, mulai Provinsi sampai Desa, sebagai kesatuan struktur akan menerima keuntungan, dengan terbantunya pelaksanaan program daerah untuk sektor Pertanian melalui Program ICARE.

Petani, kelompok tani, peternak dan kelompok tani ternak terdampak secara positif. Kelompok ini dilibatkan dalam proses identifikasi dan penyusunan program di tingkat desa/kecamatan. Mereka mendapat manfaat berupa peningkatan kapasitas teknis dan manajerial serta jaringan.

Kelompok tani/korporasi tani terdampak secara positif dari kegiatan ini, berupa peningkatan kualitas, kuantitas dan diversifikasi produk. Program ICARE memfasilitasi kelompok tani/korporasi untuk beroperasi sebagai badan usaha yang mampu bernegosiasi dengan penyedia jasa dan pasar termasuk mendapatkan pelatihan tentang ketrampilan teknis dan bisnis untuk mengembangkan bisnis mereka agar menguntungkan dan berkelanjutan.

Namun demikian, petani dan peternak kategori rentan

berpotensi tersisihkan dalam proses pengembangan kelompok tani dan korporasi petani pada program ICARE.

*) Masyarakat rentan adalah petani/peternak yang memiliki tanah terbatas yang memiliki akses terbatas terhadap sumber- sumber informasi serta memiliki hambatan dalam menyalurkan aspirasinya.

▪ Tanggamus

▪ Garut

▪ Brebes

▪ Pasuruan

▪ Sambas

▪ Gowa

▪ Lombok Tengah

▪ Kolaka Timur

▪ Minahasa Utara

A2 Dukungan pembentukan korporasi petani.

▪ Petani/Peternak

▪ Kelompok Tani/Ternak

▪ Korporasi Petani

Petani/Peternak sebagai individu maupun sebagai anggota organisasi Kelompok Tani/ maupun korporasi Petani terdampak secara positif dari kegiatan ini, yang mana kelompok tani/korporasi difasilitasi untuk dapat beroperasi sebagai badan usaha yang mampu bernegosiasi dengan penyedia jasa dan pasar termasuk mendapatkan pelatihan

(18)

No Kegiatan Komponen Pemangku kepentingan Dampak dan Kepentingan Lokasi (Kecamatan) tentang ketrampilan teknis dan bisnis untuk mengembangkan

bisnis mereka agar menguntungkan dan berkelanjutan.

Perlu diperhatikan petani dan peternak kategori rentan berpotensi tersisihkan dalam proses pengembangan kelompok tani dan korporasi petani pada program ICARE.

Komponen B: Penguatan kapasitas institusi untuk pengelolaan rantai nilai B1 Sosialisasi dan bimbingan teknis

sistem usaha pertanian secara kolaboratif melalui kemitraan.

▪ Petani/Peternak

▪ Kelompok Tani/Ternak

▪ Korporasi Petani

▪ Sektor swasta yang menjadi mitra

Korporasi petani terdampak secara positif dalam peningkatan kapasitas manajemen/organisasi, akses dana, dan

kemampuan teknis lainnya.

▪ Tanggamus

▪ Garut

▪ Brebes

▪ Pasuruan

▪ Sambas

▪ Gowa

▪ Lombok Tengah

▪ Kolaka Timur

▪ Minahasa Utara B2 Peningkatan kapasitas institusi ▪ Pelaku rantai nilai

▪ Staf pemerintah

Pelaku rantai nilai dan staf Pemerintah di lembaga terkait terdampak secara positif, yaitu mendapat manfaat berupa peningkatan kapasitas teknis dan manajerial untuk mendukung operasional kawasan pertanian rantai nilai.

Profil masing-masing pemangku kepentingan terdampak program ICARE dapat dilihat pada

(19)

19

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(20)

Lampiran 1.

(21)

21

4.4 PEMANGKU KEPENTINGAN YANG BERKEPENTINGAN TERHADAP PROGRAM

Pemangku kepentingan yang berkepentingan terhadap Program adalah individu atau kelompok yang memiliki kepentingan terhadap Program dan dapat memberikan pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap keberlangsungan Program. Balitbangtan telah melakukan identifikasi terhadap pemangku kepentingan yang berkepentingan terhadap Program sebagaimana pada Tabel 3

Identifikasi Pemangku Kepentingan yang Berkepentingan terhadap ProgramTabel 3 berikut:

(22)

Tabel 3 Identifikasi Pemangku Kepentingan yang Berkepentingan terhadap Program

No Pemangku Kepentingan Topik Pelibatan Dampak dan Kepentingan Lokasi

Komponen A: Penguatan rantai nilai di kawasan pertanian terpilih A1 Pengelolaan model kawasan pertanian dan

rantai nilai

▪ Distributor/Penyalur hasil pertanian

▪ Pedagang buah

▪ Pedagang ternak

▪ Pengelola pasar

▪ Pedagang besar

▪ Pengepul

▪ Pengelola kios Saprodi

▪ Unit usaha pengolahan

▪ Distributor

▪ Kelompok Usaha Bersama (KUB)

Kelompok ini berkepentingan untuk terlibat dalam Program ICARE untuk mencegah kehilangan sumber penghasilan sebelum program ICARE dan berharap program ICARE dapat meningkatkan sumber pendapatan mereka.

▪ Tanggamus

▪ Garut

▪ Brebes

▪ Pasuruan

▪ Sambas

▪ Gowa

▪ Lombok Tengah

▪ Kolaka Timur

▪ Minahasa Utara A2 Dukungan pembentukan korporasi petani

Komponen B: Penguatan kapasitas institusi untuk pengelolaan rantai nilai B1 Sosialisasi dan bimbingan teknis sistem usaha

pertanian secara kolaboratif melalui kemitraan

▪ Universitas dan Perguruan Tinggi

▪ Lembaga penelitian swasta

▪ Perusahaan swasta yang bergerak di sektor pertanian

Lembaga-lembaga penelitian swasta dan perguruan tinggi berkepentingan untuk menjadi mitra program ICARE ini.

Perusahaan di sektor pertanian tertarik untuk dapat bekerjasama di dalam program ICARE, terutama dalam memanfaatkan hasil-hasil penelitian

▪ Tanggamus

▪ Garut

▪ Brebes

▪ Pasuruan

▪ Sambas

▪ Gowa

▪ Lombok Tengah

▪ Kolaka Timur Minahasa Utara B2 Peningkatan kapasitas institusi Lembaga penyedia Pendidikan

ketrampilan dan peningkatan profesi manajerial dan teknis

Lembaga penyedia Pendidikan ketrampilan dan peningkatan profesi manajerial dan teknis

berkepentingan untuk menjadi mitra di Program ICARE

(23)

23

Profil singkat para pemangku kepentingan yang berkepentingan terhadap program ICARE dapat dilihat pada

(24)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(25)

25 Lampiran 1.

5.0 STRATEGI PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN

Program ICARE mengedepankan pentingnya prinsip akuntabilitas sosial kolaboratif pada setiap tahapan Program melalui proses pelibatan pemangku kepentingan terkait Program baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan pemangku kepentingan sangat penting sebagai pendekatan utama untuk program ini.

Pelaksanaan pelibatan pemangku kepentingan ini akan dilaksanakan pada fase pelaksanaan program.

Frekuensi pelibatan pemangku kepentingan di lakukan secara periodik, yaitu mingguan dan bulanan, dan sesuai dengan kebutuhan.

Secara keseluruhan, strategi pelibatan pemangku kepentingan Program ini dapat digambarkan melalui Tabel 4 berikut ini.

(26)

Tabel 4 Strategi Pelibatan Pemangku Kepentingan Program

No Pemangku

Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab 1 Kelompok petani dan

peternak di masing- masing lokasi program

Mendesain sebuah model untuk pengembangan kawasan pertanian

▪ Workshop atau pertemuan desa

▪ Pesan Group Whatsapp kelompok tani, atau media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal lain yang telah ada

▪ Mendiseminasikan inforrmasi terkait program ICARE kepada kelompok dan petani di seluruh lokasi program

▪ Berkolaborasi dalam merancang sebuah model pengembangan kawasan pertanian

▪ Memfasilitasi rangkaian persiapan pertemuan untuk mengembangkan kawasan pertanian, termasuk menentukan lokasi program

▪ Mengidentifikasi dan memverifikasi usulan kelompok tani/usaha tani.

▪ Mengidentifikasi mitra yang mendukung pengembangan usaha tani dan

mempersiapan rencana usaha.

▪ Melaksanakan perencanaan dan pengembangan pertanian,

pengembangan pasar, dan promosi ekspor.

▪ Kunjungan ke kelompok tani dan

kelompok ternak di masing-masing lokasi program, yang meliputi petani dengan lahan terbatas, petani muda, petani perempuan.

▪ Memastikan bahwa kelompok tani dan ternak rentan terlibat dalam sosialisasi, fasilitasi, dan perencanaan program ICARE.

12 bulan Kementerian Pertanian dan UPP

(27)

27

No Pemangku

Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab Pengembangan

kelompok tani dan usaha tani.

▪ Lokakarya atau pertemuan desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani da media sosial lainnya

▪ Kunjungan lokasi

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Memfasilitasi pertemuan untuk pengembangan kelompok tani dan usaha tani

▪ Memfasilitasi pembentukan koperasi petani di semua lokasi program

▪ Memastikan bahwa kelompok petani rentan dan peternak terlibat dalam pembentukan usaha tani dalam program ICARE.

12 bulan Kementerian Pertanian dan UPP

Pengembangan usaha petani dalam produksi dan pengembangan rantai nilai

▪ Lokakarya atau pertemuan desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani da media sosial lainnya

▪ Kunjungan lokasi

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Desain agribisnis di lokasi pengembangan model kawasan pertanian (identifikasi dan prioritas pengenalan dan inovasi teknologi melalui kemitraan);

▪ Mengembangkan desain agribisnis untuk usaha petani berbasis penguatan rantai nilai;

▪ Bantuan teknis untuk peningkatan kapasitas petani dalam meningkatkan nilai tambah dan menjual produk ke dalam rantai nilai;

▪ Penguatan kapasitas pelaku rantai nilai (UMKM, lembaga input, agregator produk, pelaku pengolahan produk, dan penjual);

▪ Memfasilitasi kebutuhan awal untuk mengembangkan model kawasan pertanian (berfokus pada diversifikasi sistem produksi, jaringan dengan pembeli produk dan pemangku kepentingan rantai nilai lainnya);

12 bulan Kementerian Pertanian dan UPP

(28)

No Pemangku Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab

▪ Penyiapan dukungan infrastruktur untuk pengembangan model kawasan pertanian terpilih

Peningkatan kapasitas untuk memfasilitasi Korporasi petani untuk mengakses layanan keuangan.

Lokakarya atau pertemuan desa

▪ Meningkatkan kapasitas fasilitator dalam layanan keuangan atau aksesibilitas sumber pendanaan untuk usaha petani.

▪ Memfasilitasi pelatihan bagi anggota kelompok tani terkait keterampilan perencanaan keuangan, manajemen, dan pemasaran.

12 bulan Kementerian Pertanian dan UPP

Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

2 Masyarakat rentan:

petani dengan latar belakang pendidikan rendah, modal terbatas, lahan pertanian terbatas, dan petani subsisten

Mengantisipasi pengucilan masyarakat rentan dalam kegiatan program

▪ Lokakarya atau pertemuan desa

▪ Kunjungan lokasi

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengantisipasi tersisihnya petani rentan, memastikan bahwa informasi tentang program dan sub-program akan disebarluaskan melalui media dan saluran populer di lokasi masing-masing, seperti Whatsapp serta forum formal dan informal di tingkat desa, termasuk kebiasaan komunikasi petani di lokasi masing-masing.

▪ Melibatkan masyarakat rentan dalam merancang model pengembangan kawasan pertanian pangan, pengembangan kelompok tani dan korporasi tani dalam produksi dan Pengembangan Rantai Nilai

Selama tahap pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

(29)

29

No Pemangku

Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab

▪ Melibatkan masyarakat rentan dalam peningkatan kapasitas terkait rantai nilai pertanian agar lebih berdayaguna.

Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Masyarakat rentan:

Sumbangan lahan untuk rehabilitasi infrastruktur pedesaan dan penghuni ilegal di tanah milik negara

Pelaksanaan donasi lahan dan pemukiman kembali

Pertemuan konsultasi ▪ Menginformasikan dan berkonsultasi dengan individu/kelompok yang terkena dampak pengadaan lahan untuk pembangunan infrastruktur rantai nilai pertanian dan penghuni/pengguna ilegal tanah milik Negara.

▪ Konsultasi donasi lahan dan proses pemukiman kembali untuk memastikan bahwa WTP mendapatkan hak yang wajar, seperti kompensasi untuk kehilangan aset, bantuan pemukiman kembali, dan lainnya.

▪ Konsultasikan kebutuhan WTP untuk memastikan donasi lahan yang efektif dan prosedur pemukiman kembali.

Ketika dibutuhkan selama pelaksanaan program

Tim pengadaan lahan (tim UPP, perwakilan dari Institusi pemerintah terkait, dan pemerintah setempat)

Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

(30)

No Pemangku Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab 3 Pemerintah Provinsi

dan Kabupaten

Pelaksanaan program ICARE di tingkat Provinsi

• Rapat koordinasi, lokakarya,

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

▪ Menyelaraskan program potensial di tingkat provinsi dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan

▪ Memfasilitasi dan mengkoordinasikan pelaku agribisnis

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Pelaksanaan program ICARE di tingkat kabupaten

▪ Menyelaraskan program potensial di tingkat kabupaten dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan

▪ Memberikan dukungan dalam pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia di lingkungan pemerintah kabupaten

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Penguatan dan peningkatan kapasitas untuk staf pemerintah

▪ Pelatihan, pertemuan, pendampingan teknis

Memfasilitasi pelatihan teknis dan manajerial untuk staf pendukung kawasan pertanian berbasis rantai nilai

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

4 Kementerian Pertanian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.

Pelaksanaan program ICARE di tingkat Eselon I Kementan

• Rapat koordinasi, lokakarya,

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

Sinkronisasi program potensial setingkat Unit Eselon I Kementan dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Koordinasi untuk pengelolaan program ICARE

▪ Mengkoordinasikan konsolidasi rencana dan strategi pelaksanaan program

▪ Mengkoordinir monitoring dan evaluasi program.

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

(31)

31

No Pemangku

Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

5 Perusahaan swasta/pemerintah, Perguruan

Tinggi/universitas

Pelaksanaan program ICARE di tingkat Provinsi

• Rapat koordinasi, lokakarya,

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

▪ Menyelaraskan potensi kolaborasi program antara lembaga terkait dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan

▪ Melibatkan lembaga penelitian swasta dan universitas dalam perencanaan program penelitian dalam program ICARE.

▪ Berkolaborasi dalam penguatan rantai nilai pertanian dan peternakan.

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Penguatan dan pembangunan kapasitas untuk lembaga pendukung kawasan berbasis rantai nilai

• Rapat koordinasi, lokakarya

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

Berkolaborasi dan melibatkan universitas/Perguruan Tinggi serta

Lembaga lain dalam peningkatan kapasitas staf pemerintah terkait.

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

Mekanisme

Penanganan Keluhan

Sosialisasi, komunikasi media sosial.

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Selama pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

6 Perusahaan di sektor pertanian, dan unit pengelola bisnis.

Pengembangan Usaha Petani dalam

Pengembangan

• Rapat koordinasi, lokakarya

▪ Sinkronisasi program potensial antara perusahaan pertanian dan unit usaha pertanian dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan.

Selama pelaksanaan program, jika diperlukan

Kementerian Pertanian dan UPP

(32)

No Pemangku Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab Produksi dan Rantai

Nilai

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

▪ Menginformasikan dan berkonsultasi dengan program ICARE dan mengidentifikasi potensi kerja sama dalam mengembangkan rantai nilai pertanian.

Mekanisme

Penanganan Keluhan

▪ Musyawarah Desa

▪ Pesan Whatsapp grup usaha tani dan media sosial lainnya

▪ Pertemuan informal yang ada

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

7 Pengelola pasar, pengumpul, kios input pertanian, dan distributor

Pengembangan Usaha Petani dalam

Pengembangan Produksi dan Rantai Nilai

• Rapat koordinasi, lokakarya

• Pesan Grup Whatsapp, telepon, dan email.

▪ Menyelaraskan program potensial antara pengelola pasar, pengepul, kios input pertanian, dan distributor dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan.

▪ Menginformasikan dan berkonsultasi dengan program ICARE dan mengidentifikasi potensi kerjasama dalam mengembangkan rantai nilai pertanian.

Selama pelaksanaan program, jika diperlukan

Kementerian Pertanian dan UPP

Mekanisme

Penanganan Keluhan

Sosialisasi, komunikasi media sosial.

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan UPP

8 Penjual buah dan penjual ternak

Pengembangan Usaha Petani dalam

Pengembangan Produksi dan Rantai

• Rapat koordinasi, lokakarya

• Pesan Grup Whatsapp, telepon,

▪ Menyelaraskan program potensial penjual buah dan penjual ternak dengan program ICARE di lokasi yang telah ditentukan.

Selama pelaksanaan program, jika diperlukan

Kementerian Pertanian dan UPP

(33)

33

No Pemangku

Kepentingan

Topik Pelibatan Strategi Pelibatan Kegiatan Pelibatan Tata Waktu Penanggung jawab

▪ Menginformasikan dan berkonsultasi dengan program ICARE dan mengidentifikasi potensi kerjasama dalam mengembangkan rantai nilai pertanian.

Mekanisme

Penanganan Keluhan

Sosialisasi, komunikasi media sosial.

▪ Mengelola keluhan dan masukan dari semua pemangku kepentingan dengan benar; dan

▪ Menghindari potensi konflik dari pihak- pihak yang terkena dampak Program.

Tahap awal pelaksanaan program

Kementerian Pertanian dan Balitbangtan

(34)

6.0 PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM MASA PANDEMI COVID – 19

Dalam rangka menghindari dan mengurangi penyebaran wabah COVID-19, Program akan memaksimalkan penggunaan sarana alternatif saat melakukan pelibatan pemangku kepentingan seperti menggunakan media virtual dan membatasi melakukan pertemuan yang melibatkan banyak peserta. Hal ini sesuai dengan himbauan pemerintah melalui Satuan Gugus Tugas COVID -19 untuk menjaga jarak, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.

Namun, ketika pertemuan tatap muka tidak bisa dihindari selama implementasi Program, maka Program telah menyusun mekanisme penanganan COVID-19 agar tetap memenuhi aspek kesehatan dan keselamatan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat. Mekanisme penanganan COVID-19 ini disusun sesuai dengan panduan penanganan COVID-19 dari World Health Organization (WHO) antara lain: (i) Panduan Kesiapsiagaan dan Respons Rencana Aksi Komunikasi Risiko dan Keterlibatan Masyarakat; (ii) kesiapan dan respon Komunikasi Risiko dan Keterlibatan Masyarakat; (iii) paket komunikasi risiko COVID-19 untuk fasilitas kesehatan; (iv) Mempersiapkan tempat kerja untuk menghadapi COVID-19; dan (v) panduan pencegahan dan penanganan stigma sosial terkait COVID- 19.

Detil mekanisme pelaksanaan pelibatan pemangku kepentingan yang sesuai dengan standard penanganan COVID-19 sesuai WHO adalah sebagai berikut:

A. Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan untuk memenuhi standard pelibatan pemangku kepentingan yang baik dan sesuai dengan mekanisme penanganan COVID-19 WHO, antara lain:

▪ Meninjau situasi penyebaran COVID-19 di rencana tempat pelaksanaan pertemuan, dan menentukan kelayakan dilakukannya sebuah pertemuan. Situasi penyebaran COVID-19 dapat mengacu pada status daerah yang diterbitkan oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 masing-masing daerah;

▪ Secara aktif memantau di mana COVID-19 beredar dan mengiformasikan kepada peserta sebelumnya bahwa jika memiliki gejala atau merasa tidak sehat, maka tidak diperbolehkan hadir;

▪ Menentukan kelayakan kebutuhan dilakukannya petemuan pada waktu tersebut;

▪ Memastikan bahwa lokasi pertemuan telah memenuhi protokol kesehatan yang dan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah untuk menahan penyebaran virus;

▪ Memastikan dan memverifikasi saluran informasi dan komunikasi terlebih dahulu dengan mitra utama seperti otoritas kesehatan dan perawatan kesehatan masyarakat;

▪ Pemesanan di muka persediaan dan bahan yang cukup, termasuk tisu dan pembersih tangan untuk semua peserta.

B. Selama pertemuan berlangsung, Tim Program akan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk memastikan semua pihak pengikuti protokol kesehatan yang telah diterapkan dengan cara sebagai berikut:

(35)

35

▪ Memberikan informasi atau pengarahan terkait kondisi dan Protokol COVID-19 yang diterapkan secara lisan mencakup:

o Mengingatkan peserta untuk terus mengenakan masker. Peserta disarankan untuk menggunakan masker medis;

o Menganjurkan peserta untuk tidak saling menyentuh atau membatasi kerumunan;

o Mengingatkan kepada peserta untuk mencuci tangan secara teratur atau menggunakan hand sanitizer untuk semua peserta pertemuan; dan

o Menganjurkan peserta menutupi wajah mereka dengan menekuk siku atau tisu jika mereka batuk atau bersin. Panitia akan menyediakan tisu dan tempat sampah tertutup untuk membuangnya.

Memasang dispenser atau menyediakan hand sanitizer di sekitar ruangan pertemuan;

▪ Melakukan penyemprotan disinfektan secara teratur ke ruangan dan peralatan yang dipergunakan selama pertemuan; dan

▪ Mengatur jarak kursi sehingga peserta setidaknya berjarak satu meter.

Setelah pelaksanaan pertemuan, Tim tetap melakukan pemantauan kepada peserta hingga kurang lebih 14 hari untuk memastikan kondisi kesehatan peserta. Jika, dalam waktu sebelum 14 hari terindikasi salah satu peserta menderita batuk ringan atau demam ringan (yaitu suhu 37,3o C atau lebih), mereka harus tinggal di rumah dan melakukan isolasi mandiri. Mereka juga diharapkan menghindari kontak dekat (1 meter atau kurang) dengan orang lain, termasuk anggota keluarga.

Peserta diharapkan dapat melakukan test COVID-19 berbasis antigen atau PCR untuk memastikan peserta terinfeksi COVID-19. Jika hasil test peserta dinyatakan positif terhadap COVID-19, maka sangat disarankan kepada peserta untuk melakukan test PCR SWAB COVID-19.

Para pemangku kepentingan didorong untuk dapat menyatakan pendapatnya di luar forum pertemuan yang terprogram baik secara langsung atau virtual. Program ICARE menyiapkan berbagai saluran alternatif untuk komunikasi antara lain melalui telepon seluler dan aplikasinya, sarana online seperti website Kementan, media sosial, surat dan email. Program ICARE juga terus berusaha untuk menjalin komunikasi dan pelibatan pemangku kepentingan selain pengawasan secara kontinu. Hal ini terutama untuk memfasilitasi kelompok-kelompok pemangku kepentingan tertentu yang mungkin saja termarjinal dan rentan seperti petani kecil. Kelompok-kelompok inilah yang terdampak oleh kondisi pandemi Covid- 19.

7.0 MEKANISME UMPAN BALIK DAN PENANGANAN KELUHAN

Program ICARE telah merancang Mekanisme Umpan Balik dan Penanganan Keluhan (atrau Aduan) atau Feedback Grievance Redress Mechanism (“FGRM” atau “Mekanisme”) yang bertujuan untuk mengatasi masalah dan keluhan dari para pemangku kepentingan. Untuk tahap awal Program, Tim UPP ICARE menyediakan saluran penanganganan keluhan pada website Balitbangtan melalui alamat https://www.litbang.pertanian.go.id/kerjasama/ICARE/. Selanjutnya seiring berjalannya program,

(36)

saluran penanganan umpan balik dan keluhan akan diperluas dengan memanfaatkan media komunikasi lain yang sudah ada di lingkup Kementerian Pertanian.

Penanganan keluhan akan dilakukan melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

▪ Objektif: Tanggapan dan tindakan untuk mengatasi keluhan yang diajukan harus diputuskan berdasarkan fakta dan/atau bukti yang dapat dinilai sesuai dengan kriteria yang ditetapkan;

▪ Kooperatif: Penanganan terhadap pengaduan harus dilakukan dengan kerja sama yang baik antara pihak yang berwenang dalam kepatuhan terhadap mekanisme, prosedur, dan administrasi yang terkait.

▪ Non-diskriminatif: Setiap pengaduan diperlakukan sama tanpa memandang suku, agama, ras, jenis kelamin, dan pertimbangan subjektifitas lainnya dari para pengadu.

▪ Efektif dan Efisien: Penanganan terhadap keluhan harus dilakukan dengan cara yang ditargetkan dan efisien serta berdasarkan jadwal penyelesaian yang ditentukan;

▪ Bertanggung jawab: Penanganan terhadap laporan dan tindak lanjutnya harus bertanggung jawab kepada masyarakat terdampak sesuai dengan hukum, peraturan, dan prosedur yang berlaku.

▪ Transparan: mekanisme untuk memproses pengaduan harus transparan dan terbuka sehingga orang-orang yang berkepentingan dapat mengikuti proses penangan pengaduan yang sedang berjalan.

Balitbangtan akan membentuk Tim ESF yang salah satu tugasnya adalah mengelola keluhan dari para pemangku kepentingan. Terdapat tiga Tim yang akan dibentuk, yaitu Tim yang berada di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kecamatan. Tim ESF Pusat bertanggungjawab menangani aspek lingkungan dan sosial secara keseluruhan untuk Program ICARE. Di tingkat provinsi, program akan menunjuk staf di bawah BPTP untuk menangani keluhan yang memerlukan penyelesaian di tingkat provinsi.

Sedangkan di tingkat kabupaten, program akan menunjuk staf penyuluh pertanian sebagai focal point penerima keluhan dari pemangku kepentingan di tingkat desa dan kecamatan.

Penanganan pengaduan dapat dilakukan secara sederhana baik melalui lisan maupun tulisan.

Pengaduan melalui lisan kepada focal point yang ditunjuk oleh pengelola program ICARE untuk ditindaklanjuti. Pengaduan tertulis dapat dilakukan oleh masyarakat melalui kotak pengaduan yang disediakan atau diserahkan langsung kepada focal point pengelola program ICARE di tingkat desa/kecamatan lokasi program. Contoh formulir penyelesaian keluhan/aduan disediakan pada Lampiran 6. Seluruh keluhan akan dicatat dan status masing-masing keluhan dapat dipantau oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Contok Matriks Pencatatan Keluhan dapat dilihat pada Lampiran 7.

Proses penyelesaian keluhan oleh masyarakat akan dilakukan secara berjenjang. Keluhan sedapat mungkin diselesaikan di tingkat yang paling bawah atau desa sehingga status keluhan dapat segera dinyatakan selesai atau “closed”. Jika tidak dapat diselesaikan di tingkat desa, keluhan dapat dinaikkan pada tingkat kabupaten. Jika permasalahan pengaduan tidak dapat diselesaikan di tingkat Kabupaten, tim program ICARE dapat mengajukan permasalahan pengaduan ke tingkat provinsi untuk mendapatkan solusinya. Selanjutnya permasalahan pengaduan di tingkat Provinsi yang tidak dapat diselesaikan, dapat diajukan ke tingkat nasional/pusat.

Gambar

Tabel 1  Ringkasan Singkat Kegiatan Bersama Pemangku Kepentingan Sebelumnya
Tabel 2  Identifikasi Pemangku Kepentingan Terdampak Program ICARE
Tabel 3  Identifikasi Pemangku Kepentingan yang Berkepentingan terhadap Program
Tabel 4  Strategi Pelibatan Pemangku Kepentingan Program
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sejak tahun 2002 pemerintah telah menetapkan rencana strategs sektor pertanian, yakni peningkatan laju pertumbuhan sektor pertanian melalui dua program utama: Program

Keberkesanan peranan Malaysia sebagai Pengerusi NAM terserlah melalui inisiatif- inisiatif serta usaha Penyuburan Semula NAM, yang telah digariskan secara terperinci di dalam

Mekanisme Umpan Balik dan Penanganan Keluhan atau Feedback Grievance Redress Mechanism (“FGRM” atau “Mekanisme”) bertujuan untuk menegakkan kinerja perlindungan

Coba Setelah program sekolah penggerak dilaksanakan selama satu tahun, ceritakan hal-hal baik yang sudah terjadi di sekolah Bapak/Ibu, bisa hal baik yang Bapak/Ibu rasakan

Pada pengujian pemutusan link (Link Failover) dengan parameter overhead routing dan delay, OSPF multiple area lebih unggul di bandingkan dengan single area, hal ini

Deskripsi singkat Admin dan user membuka aplikasi, melakukan login, apabila tidak diterima username dan password tidak akan bisa masuk, apabila diterima masuk kehalaman

Seringkali wawacan dari seni beluk ini berasal dari unsur budaya lokal pra-Islam kemudian dipadukan dengan unsur Islam seperti pada wawacan Ugin yang mengisahkan manusia

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, diperlukan solusi dalam bentuk surveilans dengan pemodelan matematis Susceptible, Infected, Recovered (SIR). Model ini dibangun berdasarkan