• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH CUT AIRIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH CUT AIRIN"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DANA ALOKASI KHUSUS (DAK), DAN DANA OTONOMI

KHUSUS (DOK) TERHADAP BELANJA DAERAH DENGAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH SEBAGAI

VARIABEL MODERATING PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH

TAHUN 2012-2015

OLEH

CUT AIRIN 150522047

PROGRAM STUDI STRATA 1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERNYATAAN

Judul Skripsi

PENGARUH DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DANA ALOKASI KHUSUS (DAK), DAN DANA OTONOMI

KHUSUS (DOK) TERHADAP BELANJA DAERAH DENGAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH SEBAGAI

VARIABEL MODERATING PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH

TAHUN 2012-2015

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) terhadap Belanja Daerah dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) sebagai variabel moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2012-2015” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dana/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Februari 2017 Yang Membuat Pernyataan

Cut Airin

NIM : 150522047

(3)

ABSTRAK

PENGARUH DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DANA ALOKASI KHUSUS (DAK), DAN DANA OTONOMI

KHUSUS (DOK) TERHADAP BELANJA DAERAH DENGAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH SEBAGAI

VARIABEL MODERATING PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH

TAHUN 2012-2015

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh DBH, DAU, DAK, dan DOK terhadap Belanja Daerah, serta menguji pengaruh Dana Bantuan Operasional Sekolah dalam memoderasi hubungan antara DBH, DAU, DAK, dan DOK dengan Belanja Daerah. Populasi penelitian ini sebanyak 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh. Sampel terpilih menggunakan metode purposive sampling berjumlah 23 Kabupaten/Kota dengan periode amatan dari tahun 2012-2015 sehingga diperoleh 92 unit analisis. Berdasarkan hasil penelitian, dengan uji F, variabel bebas DBH, DAU, DAK, dan DOK secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah . Berdasarkan hasil uji t, variabel bebas DBH, DAU, DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap Belanja Daerah, sementara DOK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Belanja Daerah. Berdasarkan hasil uji residual terbukti Dana Bantuan Operasional Sekolah mampu memoderasi hubungan antara DBH, DAU, DAK, dan DOK dengan Belanja Daerah.

Kata Kunci: Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Otonomi Khusus, Belanja Daerah, Dana Bantuan Operasional Sekolah

(4)

ABSTRACT

EFFECT OF SHARING FUND (DBH), GENERAL ALLOCATION FUND (DAU), SPECIAL ALLOCATION FUND (DAK), AND FUNDS SPECIAL

AUTONOMY (DOK) SHOPPING AREA ON THE FUNDS OPERATIONAL SUPPORT SCHOOLS AS ON

MODERATING VARIABLES DISTRICT GOVERNMENT/CITY IN THE

PROVINCE OF ACEH YEAR 2012-2015

This study aimed to analyze the influence of DBH, DAU, DAK, and DOK against regional expenditure, as well as examine the influence of the School Operational Assistance Fund in moderating the relationship between DBH, DAU, DAK, and DOK with regional expenditure. The population of this study were 23 regencies / cities in Aceh Province. Samples were selected using purposive sampling method amounted to 23 districts / municipalities with the period of observation of the Year 2012 to 2015 in order to obtain 92 units of analysis. Based on the findings, the F test, free prepaid variable DBH, DAU, DAK, and DOK simultaneously significant effect on regional expenditure. Based on the findings of the t test, free prepaid variable DBH, DAU, DAK positive and significant impact on regional expenditure, while DOK is a significant negative effect on regional expenditure.

Based on the findings of residual test proved the School Operational Assistance Fund is able to moderate the relationship between DBH, DAU, DAK, and DOK with regional expenditure.

Keywords: Sharing Fund, General Allocation Fund, Special Allocation Fund, Special Autonomy Fund, regional expenditure, the School Operational Assistance Fund.

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha pengasih lagi maha penyayang yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta senantiasa memberikan nikmat kesehatan, kesempatan, kemampuan dan kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) terhadap Belanja Daerah dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) sebagai variabel moderating Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2012-2015 ” disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Ekonomi dari Program S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi dan doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA., CA selaku Ketua Departemen Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM., Ak., CA selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(6)

3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak., CA selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM., Ak., CA selaku sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Arifin Akhmad, M.Si., Ak., CA selaku dosen pembimbing saya yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan petunjuk, pengarahan, dan bimbingan dari awal hingga selesainya skripsi ini dan Bapak Drs. Hotmal Jafar, M.M., Ak. selaku dosen penguji saya yang telah membantu penulis dengan memberikan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini dan Bapak Drs. Idhar Yahya, M.B.A., Ak., CA selaku dosen pembanding saya yang telah meluangkan waktu memberikan pengarahan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

5. Kedua orang tua tercinta, Papa dan Mama saya. H. Suhairi, S.T., M.M., dan Hj. Endang Surya serta adik – adik tersayang saya yang telah memberikan kasih sayang, doa, dukungan, serta bimbingan yang tidak terbatas kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Teman – teman seperjuangan S-1 Ekstensi Akuntansi angkatan 2015 yang telah memberikan bantuan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan yang disebabkan keterbatasan penulis dalam pengetahuan dan pengulasan skripsi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran yang membangun sehingga skripsi ini

(7)

dapat dijadikan acuan dalam penulisan karya-karya ilmiah selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Februari 2017 Penulis

Cut Airin

NIM : 150522047

(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 14

1.3. Tujuan Penelitian ... 15

1.4. Manfaat Penelitian ... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

2.1. Landasan Teori ... 17

2.1.1. Belanja Daerah ... 17

2.1.2. Dana Perimbangan ... 18

2.1.2.1. Dana Alokasi Umum ... 19

2.1.2.2. Dana Bagi Hasil ... 21

2.1.2.3. Dana Alokasi Khusus ... 22

2.1.2.3. Dana Otonomi Khusus ... 23

2.1.3. Dana Bantuan Operasional (Dana BOS) ... 25

2.2. Review Peneliti terdahulu ... 26

2.3. Kerangka Konseptual ... 39

2.3.1. Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Belanja Daerah ... 40

2.3.2. Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Daerah ... 41

2.3.3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Daerah ... 42

2.3.4. Pengaruh Dana Otonomi Khusus Terhadap Belanja Daerah ... 42

2.3.5. Pengaruh Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) Terhadap Belanja Daerah ... 43

2.4. Hipotesis Penelitian ... 43

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

3.1. Jenis Penelitian... 45

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 45

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 46

3.4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 47

3.4.1. Variabel Independen (X) ... 48

3.4.2. Variabel Dependen (Y) ... 50

3.4.3. Variabel Moderating (Z) ... 50

(9)

3.6. Metode Pengumpulan Data ... 52

3.7. Teknik Analisis Data ... 52

3.7.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 53

3.7.2. Uji Asumsi Klasik ... 53

3.7.2.1. Uji Normalitas... 53

3.7.2.2. Uji Multikoliniearitas ... 55

3.7.2.3. Uji Heteroskedastisitas ... 55

3.7.2.4. Uji Autokorelasi ... 56

3.7.3. Uji Hipotesis Penelitian ... 56

3.7.3.1. Analisis Regresi Linear Berganda ... 57

3.7.3.2. Koefisien Determinasi (R2) ... 58

3.7.3.3. Uji Simultan (Uji F Statistik) ... 59

3.7.3.4. Uji Signifikan Parsial (t-test) ... 59

3.7.3.5. Uji Variabel Moderating ... 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 63

4.1. Hasil Penelitian ... 63

4.1.1. Deskripsi Objek Penelitian ... 63

4.1.2. Analisis Statistik Deskriptif ... 63

4.1.3. Uji Asumsi Klasik ... 65

4.1.3.1. Uji Normalitas ... 65

4.1.3.2. Uji Multikoliniearitas ... 66

4.1.3.3. Uji Heteroskedastisitas ... 67

4.1.3.4. Uji Autokorelasi ... 68

4.1.4. Uji Hipotesis Penelitian ... 69

4.1.4.1. Koefisien Determinasi (R2) ... 69

4.1.4.2. Analisis Regresi Liner Berganda ... 70

4.1.4.3. Uji Simultan (Uji F Statistik) ... 71

4.1.4.4. Uji Signifikan Parsial (Uji t) ... 72

4.1.4.5. Uji Variabel Moderating ... 74

4.1.4.5.1. Uji Residual ... 74

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian membandingkan Hasil Penelitian ini dengan teori dan Hasil Penelitian Terdahulu ... 75

4.2.1. Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Otonomi Khusus berpengaruh terhadap Belanja Daerah secara simultan dan parsial ... 75

4.2.2. Peran Dana BOS dalam memoderasi hubungan antara Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus,

(10)

dan Dana Otonomi Khusus dengan Belanja Daerah ... 77

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 78

5.1. Kesimpulan ... 78

5.2. Keterbatasan ... 79

5.3. Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 81

DAFTAR LAMPIRAN ... 85

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman 1.1. Daftar Surplus/Defiit Laporan Realisasi APBD Pemerintah

Kabupaten/Kota Di Provinsi Aceh Tahun 2012-2015 ... 6

2.1. Ringkasan Review Penelitian Terdahulu ... 33

3.1. Populasi dan Sampel Penelitian ... 47

3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 51

3.3. Kriteria Terjadinya Autokorelasi ... 57

4.1. Statistik Deskriptif dari DBH, DAU, DAK, DOK, BD, dan DB ... 64

4.2. Uji Normalitas... 65

4.3. Uji Multikolinearitas ... 66

4.4. Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... ... .. 68

4.5. Koefisien Determinasi ... 69

4.6. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 70

4.7. Uji Pengaruh Simultan dengan Uji  ... 71

4.8. Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji ) ... .. 72

4.9. Uji Signifikansi DB dalam Memoderasi Hubungan DBH, DAU, DAK, dan DOK terhadap BD ( Uji Residual) ... 74

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1. Kerangka Konseptual ... 39

4.1. Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability Plot ... 66

4.2 Uji Heteroskedastisitas ... 68

4.3. Menghitung F tabel dengan Rumus FINV dalam Microsoft Excel ... 72

4.4. Menghitung t tabel dengan Rumus TINV dalam Microsoft Excel ... 73

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No.Lampiran Judul Halaman

1 Data Anggaran Dana Bagi Hasil (DBH) ... 85

2 Data Anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) ... 86

3 Data Anggaran Data Alokasi Khusus (DAK) ... 87

4 Data Anggaran Dana Otonomi Khusus (DOK) ... 88

5 Data Anggaran Belanja Daerah (BD) ... 89

6 Data Dana Bantuan Operasional Sekolah ... 90

7 Output SPSS Statistik Deskriptif ... 91

8 Output Uji Asumsi Klasik dan Regresi Linear Berganda ... 91

9 Output Pengujian Moderasi ... 94

10 Data Penelitian Belanja Daerah (BD), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Otonomi Khusus (DOK) ... 95

11 Data Penelitian Dana BOS (DB) ... 97

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Reformasi desentralisasi Indonesia yang dimulai pada tahun 2001 sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun tentang Pemerintah Daerah merupakan perwujudan dari komitmen Indonesia menuju pemerintahan daerah yang demokratis dan pembangunan yang berkelanjutan.

Dikeluarkannya Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah menjadi pertanda terbukanya kesempatan luas bagi usaha pembangunan daerah dan bagi partisipasi warga yang lebih besar dalam pemerintahan. Sejak awal penerapan kebijakan tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah telah menjawab kesempatan tersebut dengan antusias dan kreativitas yang luar biasa hingga menghasilkan capaian dan inovasi yang luar biasa pula. Dalam rangka melaksanakan otonomi daerah tersebut, maka Pemerintah Daerah dalam melaksanakan atau menyelenggarakan urusan pemerintaha» pembangunan dan kemasyarakatan harus sesuai dengan aspirasi dari masyarakat daerah tersebut.

Maka dari itu kebijakan Pemerintah Daerah tidak dapat dipungkiri lagi harus menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan kepada masyarakat. Tujuan pelayanan tersebut dapat diwujudkan melalui sistem manajemen dengan keterbukaan yang positif, efesiensi, efektivitas dan proaktif dalam setiap tindakan. Sebagai wujud nyata pelayanan prima pemerintah dalam bidang pendidikan adalah dengan dicanangkannya Wajib Belajar Pendidikan

(15)

Dasar (Wajardikdas) 9 (sembilan) tahun. Dalam rangka mendukung pencapaian program Wajardikdas tersebut, salah satu programnya adalah adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menyediakan bantuan bagi sekolah dengan tujuan membebaskan peserta didik dari iuran sekolah. Melalui program ini, Pemerintah Pusat memberikan dana kepada SD dan SMP. Kepedulian Pemerintah tersebut dalam rangka meringankan biaya pendidikan agar terjangkau oleh semua pihak sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak bersekolah.

Program BOS bertujuan untuk memberikan bantuan kepada sekolah dalam rangka membebaskan iuran peserta didik tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Sejalan dengan hal itu, program BOS dilakukan secara “block grant” yang ditransfer secara langsung ke sekolah- sekolah. Penggunaannya diserahkan kepada kepala sekolah bersinergi dengan komite sekolah yang secara rinci di tuangkan ke dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).

Desentralisasi fiskal pada intinya memberikan keleluasaan yang lebih besar kepada pemerintah daerah dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi berbagai kegiatan pemerintah dan pembangunan di wilayahnya. Implikasi yang diharapkan adalah pemerintah daerah dapat melaksanakan pemerintahan dan pembangunan secara efektif dan efisien, untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam kaitannya dengan aspek perekonomian, desentralisasi fiskal berujung pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat daerah. Sidik (2002a: 5) mengatakan, desentralisasi fiskal merupakan salah satu komponen utama dari desentralisasi.

(16)

Undang-Undang Nomor: 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 15 ayat 1, menyatakan: Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah meliputi: a) pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah; b) pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah; dan c) pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. Berdasarkan hal tersebut, salah satu indikator penting dari kewenangan keuangan daerah adalah besarnya otonomi fiskal daerah.

Kemampuan mengelola keuangan daerah tercermin pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menggambarkan kemampuan dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta pembangunannya dengan mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya.

Setiap pemerintahan daerah selalu melakukan perencanaan dalam melaksanakan kegiatan pemerintahannya. Untuk membiayai kebutuhan pelaksanaan pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat, pemerintahan daerah merencanakannya untuk satu tahun kedepan berdasarkan prioritas serta melihat sumber daya yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan tersebut tersusun dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah atau yang sering disebut dengan APBD. APBD terdiri dari rencana belanja dan rencana pendapatan. Menurut Erlina,dkk (2012) bagi sektor publik seperti pemerintah, anggaran tidak hanya sebuah rencana tahunan tetapi juga merupakan bentuk akuntabilitas atas pengelolaan dana publik yang disebabkan kepadanya.

(17)

Belanja daerah sangat berkaitan erat dengan anggaran, karena didalam anggaran terdapat: (1) rencana-rencana organisasi untuk melayani masyarakat atau aktivitas lain dapat mengembangkan kapasitas organisasi dalam pelayanan;

(2) estimasi besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam merealisasi rencana tersebut; (3) perkiraan sumber-sumber yang akan menghasilkan pemasukan serta seberapa besar pemasukan tersebut. (Erlina.dkk : 2012)

Untuk membawa daerah pada derajat otonomi yang berarti dan mengarah pada kemandirian daerah, faktor kemampuan keuangan daerah merupakan ciri utama yang menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi, hal ini merupakan salah satu bobot penyelenggaraan otonomi artinya daerah otonom memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai membiayai penyelenggaraan pembangunan daerah. Dukungan keuangan ini ditandai dengan semakin besarnya nilai PAD dan semakin menurunkan dukungan pusat dalam bentuk sumbangan /bantuan. Bentuk transfer yang berasal dari pemerintah pusat sesuai dengan undang-undang tersebut berupa Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Pemberian dana perimbangan ditujukan untuk mengurangi adanya kesenjangan kemampuan keuangan dan juga membantu daerah dalam membiayai kewenangannya.

Dalam pemberian hak otonomi khusus tersebut, menurut UU Nomor 18 tahun 2001 dana bagi hasil migas dan non migas menjadi lebih besar bagi daerah penghasil yaitu provinsi Aceh, sehingga menjadikan APBA (Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh) menjadi besar ditambah lagi dengan adanya dana

(18)

otonomi khusus, namun dalam peningkatan PAD daerahnya, provinsi Aceh masih belum dapat memenuhi target PAD yang ditetapkan. Hak dan kewenangan yang diberikan dalam penyelenggaraan otonomi khusus tidak hanya diberikan untuk provinsi Aceh saja, berdasarkan UU No 35 Tahun 2008 pemerintahan Indonesia memberikan hak otonomi khusus kepada Papua, daerah khusus ibukota Jakarta juga mendapatkan hak otonomi khusus tersebut dengan diberlakukannya UU No 34 tahun 1999 tentang pemerintahan provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta. Selanjutnya daerah yang diberikan hak khusus yaitu daerah istimewa Yogyakarta, namun hak yang diberikan adalah hak istimewa berdasarkan UU Nomor 13 tahun 2012 tentang keistimewaan daerah istimewa Yogyakarta.

Adanya peristiwa dimana tidak efektifnya dan tidak berorientasinya alokasi belanja pada kinerja, hal ini tentu akan membuat manajemen keuangan daerah memperhatikan sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran bagi pemerintah daerah itu sendiri. Hal ini terjadi pada hampir di seluruh Pemerintah Kabupaten/ Kota di Provinsi Aceh yang mengalami defisit dan surplus anggaran dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1.

Daftar Surplus/Defisit Laporan Realisasi APBD Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh T.A 2012-2015

(dalam jutaan rupiah)

DAERAH Surplus/Defisit APBD

2012 2013 2014 2015

Kabupaten Aceh Barat (5.316) (190) (11.642) (35.767) Kabupaten Aceh Besar (22.456) (26.130) (51.118) (129.234) Kabupaten Aceh Selatan (28.618) (3.866) (6.559) (26.178)

(19)

DAERAH Surplus/Defisit APBD

2012 2013 2014 2015

Kabupaten Aceh Tengah 1.897 (22.453) (70.182) (54.553) Kabupaten Aceh Tenggara (3.994) - (27.709) (55.164)

Kabupaten Aceh Timur 45.475 - (47.687) (8.531)

Kabupaten Aceh Utara (6.399) 4.201 (64.259) (2.250)

Kabupaten Bireuen 3.667 (8.910) - 1.500

Kabupaten Aceh Pidie (13.609) (10.490) (33.495) (36.488) Kabupaten Simeulue 4.906 (25.713) 13.315 (43.574)

Kota Banda Aceh 2.951 (1.049) 2.500 (16.380)

Kota Sabang (57.384) (65.050) (69.794) (73.193)

Kota Langsa 38.829 5.124 (9.322) (16.964)

Kota Lhokseumawe (10.600) (2.618) (32.241) (77.454)

Kabupaten Gayo Lues 1.500 2.537 30.548 (8.466)

Kabupaten Aceh Barat Daya (59.228) (20.843) (57.194) (79.861) Kabupaten Aceh Jaya (43.000) (65.000) (48.471) (50.962) Kabupaten Nagan Raya (30.003) (4.824) (34.734) (34.647) Kabupaten Aceh Tamiang (18.837) (2.812) (5.000) (24.247)

Kabupaten Bener Meriah - 9.202 9040 4.000

Kabupaten Pidie Jaya (1.096) (1.186) (19.103) 1.000 Kabupaten Subulussalam (8.500) - (3.474) (9.394)

Total (216.474) (251.919) (539.031) (831.702)

Sumber: Laporan Realisasi APBD www.djpk.depkeu.go.id diunduh tanggal 12/11/2016.

Dari tabel 1.1. terlihat hampir seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Aceh mengalami defisit. Defisit anggaran pada Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh pada tahun 2015 yang paling tinggi yaitu Rp. 831.702.000.000,00, tahun 2014 sekitar Rp. 539.031.000.000,00, tahun 2013 sekitar Rp.251.919.000.000,00 dan tahun 2012 sekitar Rp.216.474.000.000,00.

Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi yang berpotensi besar di Indonesia, dan Aceh juga mendapatkan hak otonomi daerah sama seperti daerah lain di Indonesia, namun Aceh memiliki keunikan tersendiri dalam penerimaan dana transfer dari pusat, hal ini berdasarkan hak otonomi khusus yang diberikan

(20)

penerimaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus, dan penerimaan tersebut diatur tata cara pengelolaannya dalam UU Nomor 2 tahun 2008. Dalam pemberian hak otonomi khusus tersebut, menurut UU Nomor 18 tahun 2001 dana bagi hasil migas dan non migas menjadi lebih besar bagi daerah penghasil yaitu provinsi Aceh, sehingga menjadikan APBA (Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh) menjadi besar ditambah lagi dengan adanya dana otonomi khusus, namun dalam peningkatan PAD daerahnya, provinsi Aceh masih belum dapat memenuhi target PAD yang ditetapkan.

Menurut beberapa para peneliti terdahulu seperti Handayani dan Nuraina (2012) yang melakukan penelitian tentang Pengaruh Pajak Daerah dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Alokasi Belanja Daerah Kabupaten Madiun, menyimpulkan bahwa secara parsial pajak daerah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap alokasi belanja daerah karena pajak daerah merupakan bagian pendapatan asli daerah terbesar. Sedangkan dana alokasi khusus tidak berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah, karena kebutuhan sulit diperkirakan dengan rumus alokasi umum dan kebutuhan merupakan komitmen atau prioritas nasional. Pajak Daerah dan Dana Alokasi Khusus secara simultan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Alokasi Belanja Daerah. Jika variabel pajak daerah dan dana alokasi khusus ditingkatkan, maka akan diikuti dengan meningkatnya alokasi belanja daerah dan sebaliknya.

Devita, Delis, dan Junaidi (2014) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Jumlah Penduduk Terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi. Dalam penelitian ini

(21)

mereka memberikan kesimpulan bahwa secara simultan dan parsial PAD dan DAU menunjukkan pengaruh signifikan positif dalam mempengaruhi belanja langsung. Sedangkan koefisien jumlah Penduduk memiliki hubungan yang negatif terhadap belanja langsung pada pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.

Gani dan Kristanto (2013) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Dana Alokasi Umum dan Khusus Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera”. Berdasarkan hasil penelitian nya, dapat ditarik simpulan bahwa secara parsial dana alokasi umum berpengaruh terhadap besarnya belanja daerah. Dan dana alokasi khusus berpengaruh terhadap besarnya belanja daerah.

Abdullah dan Febriansyah (2015) juga melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan”. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah secara parsial Pendapatan asli daerah (PAD) berpengaruh terhadap kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Bagian Selatan. Sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Bagian Selatan.

Afrizawati (2012) menganalisis Flypaper effect Pada Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan. Dari hasil analisis yang dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara simutan dan parsial berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya Belanja Daerah tujuh Kabupaten/kota induk di Sumatera Selatan. Hasil pengujian menunjukkan pengaruh DAU terhadap Belanja Daerah lebih besar

(22)

dibandingkan pengaruh PAD terhadap Belanja Daerah, yang artinya terjadi flypaper effect pada ketujuh Kabupaten/kota di Sumatera Selatan

Masdjojo dan Sukartono (2009) melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Dan Dana Perimbangan Terhadap Belanja Daerah Serta Analisis Flypaper effect Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2006-2008”. Hasil dari penelitian ini adalah secara simultan dan parsial PAD, DAU, DBH berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah diterima secara signifikan, dan DAK secara parsial berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah diterima namun tidak signifikan. Belanja Daerah pada kabupaten / kota di Jawa Tengah mengalami flypaper effect terbukti atau diterima.

Rachmawati (2012) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Alokasi Belanja Daerah Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah”. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa secara simultan dan parsial Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah. Dan Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah. Pemerintah Daerah yang memiliki DAU tinggi maka pengeluaran untuk alokasi belanja daerahnya juga semakin tinggi.

Nur (2015) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Daerah di Sulawesi Selatan”. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan secara parsial PAD dan DAK berpengaruh signifikan sedangkan DAU tidak pengaruh signifikan terhadap belanja daerah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Dan

(23)

Secara simultan PAD, DAU, dan DAK berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Laksono (2014), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Daerah”. Simpulan dalam penelitian ini menunjukkan variabel pajak daerah, retribusi daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus secara simultan berpengaruh terhadap belanja daerah. Pajak daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus berpengaruh positif terhadap belanja daerah. Sedangkan retribusi daerah tidak berpengaruh terhadap belanja daerah.

Listiorini (2012), telah melakukan penelitian dengan judul “Fenomena Flypaper effect Pada Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap

Belanja Daerah Pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara”. Berdasarkan penelitian ini maka ditarik kesimpulan bahwa secara simultan terjadi fenomena Flypaper effect pada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana

Bagi Hasil (DBH) dan Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dapat diterima. Secara parsial, terjadi fenomena Flypaper effect dimana nilai koefisien Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Daerah lebih besar dari nilai koefisien Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan keduanya berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah di Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Sedangkan variabel Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah. Penelitian ini juga menunjukkan variabel DAK dan DBH tidak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan Belanja Daerah.

(24)

Putra dan Dwirandra (2015), telah melakukan penelitian dengan judul

“Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Bali”. Simpulan dari penelitian ini adalah secara parsial Dana Alokasi Umum berpengaruh positif signifikan pada Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Dana Bagi Hasil berpengaruh positif signifikan pada Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Dana Alokasi Khusus berpengaruh positif namun tidak signifikan pada Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif signifikan pada Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Tidak terjadi fenomena flypaper effect pada Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali.

Wulandari (2014), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten dan Kota di Indonesia.” Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka yang dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini adalah secara parsial Dana Bagi Hasil menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap Belanja Daerah.

Fitri (2014), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukit Tinggi.” Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengelolaan dana BOS dalam hal perencanaan sudah terlaksana dengan baik (3,63) Sedangkan pemanfaatan penggunaan dana BOS terlaksana dengan baik (3,78). Dan yang terakhir pelaporan dan pertangungjawaban dana BOS sudah

(25)

terlaksana dengan cukup baik (3,30). Secara umum dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan dana BOS Sekolah Dasar di Kecamatan Mandiaingin Koto Selayan Kota Bukit Tinggi dapat dikategorikan terlaksana dengan cukup baik (3,57).

Untuk itu perlu kiranya bagi pengelola untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan pengelolaan dana BOS agar mendapat hasil yang baik.

Warouw, Nangoy, dan Runtu (2016), telah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Penggunaan Dana Otonomi Khusus pada Pemerintah Kota Sorong di Provinsi Papua Barat.” Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1. Anggaran/Dana Otonomi Khusus yang disalurkan oleh pemerintah pusat ke Kota Sorong selama tahun anggaran 2012 sampai dengan 2014 senantiasa mengalami peningkatan.

2. Realisasi Anggaran/Dana Otonomi Khusus yang disalurkan pada berbagai komponen peruntukkannya senantiasa terealisasi secara penuh.

3. Selama proses pengrealisasian Anggaran/Dana Otonomi Khusus tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaannya. Masyarakat Kota Sorong meyatakan bahwa Anggaran/Dana Otonomi Khusus yang berasal dari Pemerintah Pusat dirasakan masih kurang jika dibandingkan dengan banyaknya tuntutan/

keinginan masyarakat untuk melaksanakan pembangunan didaerah ini.

Faradisi (2015), telah melakukan penelitian dengan judul “Determinan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh.” Berdasarkan hasil regresi panel data dengan menggunakan model Fixed Effect dijelaskan bahwa pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh Tahun 2008-2011. Pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan dan negatif

(26)

terhadap pertumbuhan ekonomi. Determinan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh. Dana alokasi umum berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh tahun 2008-2011. Dana alokasi umum berpengaruh signifikan dan positif akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dana alokasi khusus berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh periode 2008-2011. Dana alokasi khusus berpengaruh tidak signifikan dan negatif akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Dana otonomi khusus berpengaruh tidak signifikan dan positif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh tahun 2008-2011. Dana otonomi khusus berpengaruh tidak signifikan dan positif. Berdasarkan hasil regresi data panel dengan menggunakan model Fixed Effect dijelaskan bahwa secara simultan bahwa pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana otonomi khusus berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh tahun 2008-2011.

Berdasarkan hasil peneliti terdahulu dan fenomena yang telah diuraikan diatas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Otonomi Khusus (DOK) terhadap Belanja Daerah dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) sebagai Variabel Moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2012- 2015”.

(27)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena yang telah di uraikan pada latar belakang, maka masalah yang hendak diteliti dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh secara parsial terhadap Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

2. Apakah Dana lokasi Umum (DAU) berpengaruh secara parsial terhadap Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

3. Apakah Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh secara parsial terhadap Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

4. Apakah Dana Otonomi Khusus (DOK) berpengaruh secara parsial terhadap Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

5. Apakah Dana Bagi Hasil (DBH), Dana lokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) berpengaruh secara simultan terhadap Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

6. Apakah Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) mampu memoderasi hubungan antara Dana Bagi Hasil (DBH), Dana lokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) dengan Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Belanja Daerah

(28)

2. Untuk mengetahui pengaruh Dana lokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh secara parsial.

3. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh secara parsial.

4. Untuk mengetahui pengaruh Dana Otonomi Khusus (DOK) terhadap Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh secara parsial.

5. Untuk mengetahui pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH), Dana lokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) terhadap Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh secara simultan.

6. Untuk mengetahui kemampuan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS) dalam memoderasi hubungan antara Dana Bagi Hasil (DBH), Dana lokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Otonomi Khusus (DOK) dengan Belanja Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan antara lain :

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan sebagai perbandingan bagi pihak-pihak yang mendalami bidang akuntansi sektor publik khususnya penganggaran pemerintahan dan sebagai tambahan

(29)

informasi dan referensi bagi peneliti selanjutnya yang memilih topik yang sama sebagai bahan penelitian.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan referensi untuk penelitian lebih lanjut oleh peneliti berikutnya.

3. Bagi Pemerintah Daerah

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah daerah agar lebih baik dalam melakukan penyusunan Dana Bagi Hasil (DBH), Dana lokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Otonomi Khusus (DOK) dan dapat digunakan sebagai masukan untuk mendukung pembuatan keputusan atau kebijakan mengenai Belanja Daerah. Dan apabila Pemerintah suatu daerah menerima Dana BOS, pemerintah daerah tersebut harus dapat mengalokasikannya dengan efisien demi kesejahteraan masyarakat.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Belanja Daerah

Pendapatan daerah yang diperoleh baik dari pendapatan asli daerah maupun dari dana perimbangan tentunya digunakan oleh pemerintah daerah untuk membiayai belanja daerah. Belanja daerah merupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam priode satu tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan di peroleh pembayarannya kembali oleh pemerintah (PP Nomor 71 Tahun 2010:80). Menurut Halim (2002: 68), “Belanja daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu periode anggaran”. Lebih lanjut Yuwono dkk, (2005:108) menyatakan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah atau kewajiban yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

Belanja daerah dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu belanja operasi, belanja modal dan belanja lain-lain/tak terduga (Peraturan Pemerintah RI No. 24 tahun 2005 :94).

Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupeten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang- undangan.

(31)

Sesuai UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemda Pasal 155, belanja daerah dilaksanakan untuk memadai urusan daerah yang sumber dana berasal dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), sedangkan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah didanai dari dan atas beban APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belanja daerah yaitu : pengaruh PAD terhadap belanja daerah dan pengaruh dana perimbangan terhadap belanja daerah.

2.1.2. Dana Perimbangan

Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004, Pasal 1 ayat 19). Menurut Bastian (2006: 338), Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antardaerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, serta kebutuhan daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.

Dana perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan antar-Pemerintah Daerah (pasal 3 ayat 2 UU nomor 33 tahun 2004). Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas:

1. Dana bagi hasil;

2. Dana alokasi umum; dan

(32)

3. Dana alokasi khusus.

2.1.2.1. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004, Pasal 1 ayat 21). Jumlah keseluruhan Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. Menurut Kuncoro (2004: 30), DAU merupakan block grant yang diberikan kepada semua kabupaten/kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antara kapasitas fiskal dan kebutuhan fiskalnya, dan didistribusikan dengan formula berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Dengan kata lain, tujuan penting alokasi DAU adalah dalam kerangka pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik antarpemerintah daerah di Indonesia.

Henley, et.al (dalam Mardiasmo, 2004: 157) mengidentifikasi beberapa tujuan pemerintah pusat memberikan dana bantuan dalam bentuk grant kepada pemerintah daerah, yaitu:

a. Untuk mendorong terciptanya keadilan antar wilayah (geo-graphical equity);

b. Untuk meningkatkan akuntabilitas (promote accountability);

c. Untuk meningkatkan sistem pajak yang lebih progresif;

d. Untuk meningkatkan keberterimaan (acceptability) pajak daerah.

Pemberian Dana Alokasi Umum (DAU) kepada setiap daerah didasarkan pada besar kecilnya bobot masing masing daerah. Jika bobot suatu daerah besar, maka DAU yang akan diterimanya besar, tetapi sebaliknya, bila bobot suatu daerah kecil, maka DAU yang akan diperolehnya juga kecil. Hal ini dikarenakan perhitungannya, nilai bobot

(33)

dikalikan dengan penerimaan dalam negeri (PDN) atau yang di alokasikan dalam APBN untuk DAU pada tahun bersangkutan.

Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan didalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain yang tidak penting. Semakin besar dana alokasi umum ke pemerintah daerah berarti semakin besar belanja daerah yang dilakukan pemerintah daerah (Abdullah & Halim 2003).

2.1.2.2. Dana Bagi Hasil

Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004, Pasal 1 ayat 20). Menurut Bird dan Vaillancourt (2000: 42), banyak negara menggunakan sistem bagi hasil pajak dengan mendistribusikan suatu persentase tetap pajak-pajak nasional tertentu, misalnya pajak pendapatan atau pajak pertambahan nilai ke pemerintah daerah. Sidik et.al (2004: 95) mengatakan, untuk menambah pendapatan daerah dalam rangka pembiayaan pelaksanaan fungsi yang menjadi kewenangannya dilakukan dengan pola bagi hasil penerimaan pajak dan bukan pajak (SDA) antara pusat dan daerah. Menurut buku dasar penyusunan APBD 2012, bagi pemerintah daerah yang mendapatkan dana bagi hasil yang cukup besar, seyogyanya pemanfaatan dana tersebut dilakukan secara optimal dalam rangka meningkatkan pelayanan publik dan pengembangan infrastruktur dasar di daerah.

(34)

Dana bagi hasil ini bersumber dari pajak dan kekayaan daerah. Dimana menurut Pasal 11 ayat 1 UU No. 33 Tahun 2004 menyatakan bahwa Dana Bagi Hasil yang berasal dari pajak terdiri dari : “1) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), 2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), 3) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21”. Sedangkan pada pasal 11 ayat 2 Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Dana Bagi Hasil yang berasal dari sumber daya alam terdiri dari “1) kehutanan, 2) pertambangan umum, 3) perikanan, 4) pertambangan minyak bumi, 5) pertambangan gas bumi, 6) pertambangan panas bumi”. Dana Bagi Hasil yang diperoleh pemerintah daerah diharapkan mampu untuk meningkatan alokasi Belanja Daerah guna meningkatkan pelayanan publik bagi daerah sebagai tujuan dari desentralisasi.

2.1.2.3. Dana Alokasi Khusus

Pada Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2005 Pasal 1 ayat 24 tentang Dana Perimbangan dinyatakan bahwa Dana Alokasi Khusus adalah “alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintah Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.” DAK ini diprioritaskan untuk kebutuhan daerah tertinggal, perbatasan, terluar, terpencil, kepulauan dan pasca bencana.

Sebagaimana terdapat di banyak negara lain, maka bentuk transfer yang bersifat khusus akan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga keselarasan arah pembangunan nasional. Disamping itu, DAK di Indonesia juga mempunyai fungsi untuk menjembatani pencapaian standar pelayanan minimum secara nasional, yang berarti bahwa DAK selayaknya dialokasikan kepada daerah tertentu yang belum bisa mencapai kualitas standar nasional pelayanan publik sebagaimana yang diharapkan. DAK tidak

(35)

dialokasikan kepada semua daerah, namun hanya kepada daerah tertentu yang mempunyai kondisi khusus.

Kuncoro (2004: 34) mengatakan, DAK ditujukan untuk daerah khusus yang terpilih untuk tujuan khusus. Karena itu, alokasi yang didistribusikan oleh pemerintah pusat sepenuhnya merupakan wewenang pusat untuk tujuan nasional khusus. Dana Alokasi Khusus menunjukkan apabila Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Belanja Daerah maka Dana Alokasi Khusus memungkinan ikut berpengaruh terhadap Belanja Daerah, hal ini disebabkan nilai Dana Alokasi Khusus yang diterima pemerintah daerah digunakan untuk mendanai kegiatan khusus dan merupakan urusan daerah.

Kegiatan khusus dimaksud harus sesuai dengan fungsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara, misalnya untuk layanan umum, pendidikan dan lain-lain. Hal ini berarti tidak boleh disalahgunakan untuk kegiatan diluar ketentuan.

2.1.2.4. Dana Otonomi Khusus

Dana otonomi khusus merupakan salah satu bentuk transfer Pemerintah Pusat kepada daerah yang memiliki status otonomi khusus. Tujuan utama implementasi transfer Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah adalah mengurangi ketidakseimbangan fiskal yang terjadi baik secara vertikal maupun horizontal (Siddik, 2004: 131- 132).

Selain itu, Pemberian dana otonomi khusus bertujuan untuk memacu daerah dengan status otonomi khusus untuk dapat mengejar ketertinggalannya dibandingkan daerah lainnya. Dana otonomi khusus yang merupakan transfer dari Pemerintah Pusat tentunya dapat mempengaruhi besarnya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) suatu daerah. Sebagai contoh, dana otonomi khusus yang diterima oleh Aceh, telah menjadi sumber pendapatan utama dan terbesar melebihi pendapatan Asli daerah PAD dan dana perimbangan lainnya sejak diberlakukannya status otonomi khusus Aceh (data DJPK).

Menurut UU No.18 Tahun 2001, Penerimaan dalam rangka otonomi khusus, berupa

(36)

tambahan penerimaan bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dari hasil sumber daya alam Migas di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam setelah dikurangi pajak, yaitu sebesar 55% untuk pertambangan minyak bumi dan sebesar 40% untuk pertambangan gas alam selama delapan tahun sejak berlakunya undang-undang ini.

Penerapan UU No. 11 Tahun 2006 memberikan perubahan terhadap sumber dana otonomi khusus untuk provinsi Aceh. Dana otonomi khusus dalam UU No. 11 Tahun 2006 adalah transfer pemerintah pusat kepada Aceh yang bersumber dari pagu dana alokasi umum (DAU) nasional berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas yang besarnya setara dengan 2% pagu dana alokasi umum nasional dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh yang besarnya setara dengan 1% pagu dana alokasi umum nasional.

2.1.3. Dana Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS)

BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar. Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen masukan instrumental yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah (Dedi Supriyadi, 2004). Hampir tidak ada upaya pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya, proses pendidikan di sekolah tidak akan berjalan. Biaya (cost) dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan dengan uang).

Bagaimana biaya-biaya itu direncanakan, diperoleh, dialokasikan, dan dikelola merupakan persoalan pembiayaan atau pendanaan pendidikan (educational finance).

Dana pendidikan adalah sumberdaya keuangan yang disediakan untuk menyelenggarakan

(37)

dan mengelola pendidikan. Pendanaan pendidikan adalah penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan untuk penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan (PP Nomor 48 Tahun 2008; pasal 1). Menurut PP No. 48 Tahun 2008 ada 3 jenis biaya pendidikan, yaitu: 1.Biaya Satuan Pendidikan adalah biaya penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan 2. Biaya Penyelenggaraan dan/atau Pengelolaan Pendidikan adalah biaya penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, atau penyelenggara/satuan pendidikan yang didirikan masyarakat 3. Biaya Pribadi Peserta Didik adalah biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya Satuan Pendidikan menurut PP No. 48 Tahun 2008 terdiri dari : 1. Biaya investasi, adalah biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap 2. Biaya operasi terdiri dari biaya personalia dan biaya non personalia 3. Bantuan biaya pendidikan yaitu dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya 4. Beasiswa adalah bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik berprestasi. Biaya Personalia dan non personalia menurut PP No. 48 Tahun 2008 yaitu: 1. Biaya Personalia terdiri dari gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan-tunjangan yang melekat pada gaji. 2. Biaya non personalia adalah biaya untuk bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. Dan biaya tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain-lain.

2.2. Review Penelitian Terdahulu

Handayani dan Nuraina (2012), telah melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pajak Daerah dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Alokasi Belanja Daerah

(38)

Kabupaten Madiun”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan PAD tahun 2003- 2010, laporan DAK tahun 2003-2010, laporan realisasi anggaran belanja daerah. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, analisis regresi linier berganda, uji t, dan uji F. Hasil analisis data menunjukkan bahwa : 1. Pajak daerah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap alokasi belanja

daerah karena pajak daerah merupakan bagian pendapatan asli daerah terbesar.

Sehingga semakin tinggi nilai pajak daerah maka semakin tinggi nilai belanja daerah yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dan sebaliknya.

2. Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah, karena kebutuhan sulit diperkirakan dengan rumus alokasi umum dan kebutuhan merupakan komitmen atau prioritas nasional. Namun pemerintah daerah yang menerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari nilai DAK yang diterimanya untuk mendanai kegiatan fisik. Dana Pendamping tersebut wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran berjalan.

3. Pajak Daerah dan Dana Alokasi Khusus secara simultan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Alokasi Belanja Daerah. Jika variabel pajak daerah dan dana alokasi khusus ditingkatkan, maka akan diikuti dengan meningkatnya alokasi belanja daerah dan sebaliknya.

Devita, Delis, dan Junaidi (2014), telah melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Jumlah Penduduk Terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi”. Indikator dalam penelitian ini adalah data APBD dan jumlah penduduk kabupaten kota di Provinsi Jambi dalam rentang waktu Tahun 2007-2012. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji parsial (uji t), uji simultan (uji F),

(39)

uji koefisien determinasi (R2). Penelitian ini menyimpulkan bahwa PAD dan DAU menunjukkan pengaruh signifikan positif dalam mempengaruhi belanja langsung.

Sedangkan koefisien jumlah Penduduk memiliki hubungan yang negatif terhadap belanja langsung pada pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.

Gani dan Kristanto (2013), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Dana Alokasi Umum dan Khusus Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan realisasi APBD Pemda Kabupaten/Kota Provinsi di Pulau Sumatera tahun 2007-2010. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, uji regresi berganda, uji t (uji parsial), dan uji F (uji simultan). Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik simpulan bahwa dana alokasi umum berpengaruh terhadap besarnya belanja daerah. Dan dana alokasi khusus berpengaruh terhadap besarnya belanja daerah.

Abdullah dan Febriansyah (2015), telah melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan”.

Indikator dalam penelitian ini adalah laporan realisasi APBD seluruh kabupaten/kota se- Sumatera Bagian Selatan tahun 2011-2013. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Hasil yang diperoleh dari pengolahan dan analisis data, maka bisa diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pendapatan asli daerah (PAD) berpengaruh terhadap kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Bagian Selatan periode 2011-2013. Hal ini menunjukkan bahwa pola manajemen pemerintah daerah kabupaten/kota se-Sumatera

(40)

Bagian Selatan mempertimbangkan pendapatan asli daerah (PAD) sebagai salah faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

2. Dana alokasi umum (DAU) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Bagian Selatan periode 2011-2013. Hal ini menunjukkan bahwa pola manajerial pemerintah daerah kabupaten/kota se-Sumatera Bagian Selatan tidak mempertimbangkan dana alokasi umum (DAU) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

3. Dana alokasi khusus (DAK) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Bagian Selatan periode 2011-2013. Hal ini menunjukkan bahwa pola manajemen pemerintah daerah kabupaten/kota se-Sumatera Bagian Selatan tidak mempertimbangkan dana alokasi khusus (DAK) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

Afrizawati (2012), telah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Flypaper effect Pada Belanja Daerah Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan”. Indikator dalam

penelitian ini adalah laporan realisasi APBD pada kabupaten/kota di Sumatera Selatan Tahun 2004-2009. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, uji regresi berganda, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), dan uji koefisien determinasi (R2). Dari hasil analisis yang dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Variabel Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan berpengaruh terhadap besarnya Belanja Daerah tujuh Kabupaten/kota induk di Sumatera Selatan. Hal ini terlihat bahwa kebijakan belanja daerah sebagian besar dipengaruhi oleh besarnya Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah,

(41)

dimana semakin besar pendapatan yang diterima oleh Kabupaten/kota maka Belanja Daerah akan semakin besar.

2. Hasil pengujian menunjukkan pengaruh DAU terhadap Belanja Daerah lebih besar dibandingkan pengaruh PAD terhadap Belanja Daerah, yang artinya terjadi flypaper effect pada ketujuh Kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa

Pemerintah Kabupaten/kota di Sumatera Selatan cenderung menunggu saja dana transfer (grants) dari pemerintah pusat, tetapi mereka belum berusaha secara optimal untuk mengelola sumber-sumber kekayaan alam yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Masdjojo dan Sukartono (2009), telah melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan Terhadap Belanja Daerah Serta Analisis Flypaper effect Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2006-2008”.

Indikator dalam penelitian ini adalah laporan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dalam waktu 3 tahun berturut – turut (2006, 2007, 2008) di Jawa Tengah. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), uji koefisien determinasi (R2), uji regresi berganda, uji regresi sederhana. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Model penelitian yang diajukan telah memenuhi uji kebaikan model (goodness of fit model) karena angka koefisien determinasi (adjusted R square) sebesar 0,936 yang

berarti 93,6% variasi perubahan variabel dependen BD dapat dijelaskan oleh variasi perubahan variabel – variabel bebas dalam model.

2. Hipotesis PAD, DAU, DBH berpengaruh positif terhadap BD diterima secara signifikan, sedangkan hipotesis DAK berpengaruh positif terhadap BD diterima namun tidak signifikan.

(42)

3. Hipotesis BD pada kabupaten / kota di Jawa Tengah mengalami flypaper effect terbukti atau diterima, respon BD masih lebih besar disebabkan oleh DP khususnya yang berasal dari komponen DAU.

Rahmawati (2012), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Alokasi Belanja Daerah Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari tahun 2007 hingga 2009. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, uji regresi linier berganda, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), dan uji koefisien determinasi (R2). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa :

1. Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah.

Pemerintah Daerah yang memiliki PAD tinggi maka pengeluaran untuk alokasi belanja daerahnya juga semakin tinggi.

2. Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap alokasi belanja daerah. Pemerintah Daerah yang memiliki DAU tinggi maka pengeluaran untuk alokasi belanja daerahnya juga semakin tinggi.

Nur (2015), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Daerah di Sulawesi Selatan”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan tahun 2009-2011. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), dan uji koefisien determinasi (R2). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan

(43)

Secara parsial PAD dan DAK berpengaruh signifikan sedangkan DAU tidak pengaruh signifikan terhadap belanja daerah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Dan Secara simultan PAD, DAU, dan DAK berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang memerlukan perbaikan dan pengembangan dalam penelitian-penelitian berikutnya, yang mungkin masih terdapat variabel-variabel lain yang merupakan faktor penting dalam sector publik, yaitu variabel bagi hasil, aspek keuangan dan penganggaran daerah.

Laksono (2014), telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Daerah”. Indikator dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA) tahun 2011 dan tahun 2012. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), dan uji koefisien determinasi (R2). Simpulan dalam penelitian ini menunjukkan variabel pajak daerah, retribusi daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus secara simultan berpengaruh terhadap belanja daerah. Pajak daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus berpengaruh positif terhadap belanja daerah. Sedangkan retribusi daerah tidak berpengaruh terhadap belanja daerah. Hal ini berarti kurang optimalnya penggalian, pengelolaan sumber daya yang dimiliki masing- masing daerah untuk dapat meningkatkan pendapatan asli daerahnya. Pemerintah daerah diharapkan dapat lebih mengoptimalkan potensi ekonomi di masing-masing daerah untuk menambah pendapatan asli daerah termasuk didalamnya mengoptimalkan hasil pajak daerah, retribusi daerah.

Listiorini (2012), telah melakukan penelitian dengan judul “Fenomena Flypaper effect Pada Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan

(44)

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara tahun 2005-2010. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi, uji regresi berganda, uji t (uji parsial), uji F (uji simultan), dan uji koefisien determinasi (R2). Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai analisa data penelitian maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara simultan terjadi fenomena Flypaper effect pada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dapat diterima.

2. Secara parsial, terjadi fenomena Flypaper effect dimana nilai koefisien Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Daerah lebih besar dari nilai koefisien Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan keduanya berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah di Kabupaten/Kota di SumateraUtara. Sedangkan variabel Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah.

Penelitian ini juga menunjukkan variabel DAK dan DBH tidak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan Belanja Daerah.

Putra dan Dwirandra (2015), telah melakukan penelitian dengan judul “Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Bali”. Indikator dalam penelitian ini adalah laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali tahun 2005-2012. Skala pengukuran dalam penelitian ini adalah skala rasio. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya maka simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Dana Alokasi Umum berpengaruh positif signifikan pada Belanja Daerah pada

Gambar

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas
Gambar 4.2. Uji Heteroskedastisitas
Tabel 4.5. Koefisien Determinasi
Tabel 4.7. Uji Pengaruh Simultan dengan Uji 
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Iklan Kreatif Dan Saluran Distribusi Terhadap

Berdasarkan fenomena yang terjadi dan hasil penelitian terdahulu yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai likuiditas,

Dari fenomena yang diuraikan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Country Of Origin dan Online Customer Review

Berlandaskan teori dan fenomena yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Pendapatan Premi, Pembayaran Klaim, dan

Berdasarkan pemaparan diatas terkait ditemukannya fenomena dan perbedaan hasil pada penelitian terdahulu membuat peneliti tertarik melanjutkan penelitian dengan judul

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dan berdasarkan pendapat dalam penelitian terdahulu maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul

Berdasarkan fenomena, dan beberapa hasil penelitian terdahulu yang masih beragam yang telah peneliti uraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

Berdasarkan fenomena penelitian terdahulu diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan menuliskannya pada skripsi yang dibuat dengan judul “Analisis Pengaruh Pertimbangan