• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, baik terbarukan dan tidak terbarukan. Salah satu Sumber Daya Alam, yang selanjutnya akan disingkat sebagai SDA, yang kita miliki adalah migas yang termasuk dalam golongan sumber daya tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peran penting dalam perekonomian nasional.

Sektor migas merupakan salah satu andalan untuk mendapatkan devisa dalam rangka kelangsungan pembangunan negara. (Cut Asmaul Husna TR, 2012:600) Dengan keberadaannya yang terbatas, namun perannya sebagai sumber energi utama belum tergantikan, minyak bumi terus menjadi perhatian seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. (Roziqin, 2015:129) Di Indonesia, energi migas masih menjadi andalan utama perekonomian Indonesia, baik sebagai penghasil devisa maupun pemasok kebutuhan energi dalam negeri.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi Minyak dan Gas Bumi terbesar di dunia (Ahmad Redi, 2009:3) memiliki cadangan minyak bumi sejumlah 7,9 miliar barel dengan 4,3 miliar barel cadangan terbukti dan cadangan gas bumi sejumlah 159 TSCF (Trilion Standard Cubic Feet).(Mahardika Satria Hadi, 2010) Hal ini menjadikan minyak dan gas bumi memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1970-an

Namun pada beberapa tahun belakangan ini, Industri Minyak dan Gas Bumi di Indonesia tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Mengingat kondisi di era tahun 1970-an dimana Indonesia dapat memproduksi 1,7 juta barel minyak per hari. Dimana saat ini, terlebih dengan adanya Pandemi Covid-19, Indonesia hanya dapat memproduksi sekitar 700 ribu barel per hari. Produksi yang menurun dan meningkatnya konsumsi dalam negeri

commit to user

(2)

membuat Indonesia menunda keikutsertaannya di dalam organisasi negara- negara penghasil Minyak dan gas Bumi (OPEC) pada tahun 2008.

(Wahyudin dan Giri, 2017:17) Tercatat pada tahun 2021 cadangan minyak bumi di Indonesia tersisa 4,17 miliar barel dengan cadangan terbukti sebesar 2,44 miliar barel, sedangkan untuk cadangan gas sebesar 62,4 TSCF (Trilion Standard Cubic Feet). (Muhammad Alvi Lubis, 2021)

Untuk mengelola industri hulu migas di Indonesia, sejak penjajahan Belanda hingga saat ini berbagai model pengelolaan SDA Migas sudah digunakan. Seluruhnya ada 4 model dengan 5 pola binis. Yang pertama adalah model konsesi. Model konsesi merupakan model pengelolaan SDA yang paling tua dibanding yang lainnya. Model konsesi yang digunakan berdasarkan Indische Mijnwet Tahun 1899 berlaku sejak diundangkan sampai tahun 1960. Konsesi berarti pemerintah hanya membebankan royalti tanpa turut campur dalam usaha. Pemerintah memberikan izin usaha pertambangan lalu membiarkan dikelola swasta. Konsesi memberikan keleluasaan bagi swasta untuk mengeksplorasi wilayah kerja Migas di Indonesia secara bebas. (Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, 2012:49) Sebagai “binatang ekonomi” wajar saja jika pihak investor yang merupakan pebisnis mengupayakan keuntungan yang sebesar-besarnya. (A. Rinto Pudyantoro, 2019:87) Karena hal tersebut mengakibatkan tidak terjadi alih teknologi serta pemerintah yang menanggung risiko yang timbul, maka model konsesi dihentikan.

Selanjutnya Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1959 yang membatalkan pemberlakuan Indische Mijnwet 1899. Lalu pada tanggal 26 Oktober 1960 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah pengganti Undang Undang Nomor 44 Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Pokok-pokok ketentuan dalam undang-undang tersebut adalah: (a) menegaskan tentang kuasa pertambangan, kepemilikan SDA migas, dan hak pengusahaan, (b) pertambangan minyak dan gas bumi dilaksanakan hanya oleh Perusahaan Negara (PN). Pemegang kuasa pertambangan membayar kepada negara commit to user

(3)

berupa: iuran pasti. Iuran eksplorasi dan eksploitasi, dan pembayaran- pembayaran lain. Aturan ini menegaskan dua hal, yaitu kuasa pertambangan bersifat absolut di tangan negara dan pengusahaannya oleh negara.

Kalaupun dilaksanakan oleh perusahaan, yang boleh melakukan pekerjaan tersebut adalah Perusahaan Negara yang 100% sahamnya dimiliki pemerintah atas nama negara. Namun, Indonesia mengalami dilema. Pada satu sisi negara memiliki intensi besar untuk pengelolaan SDA migas, namun di sisi lain pemerintah tidak memiliki dana untuk membiayai kegiatan mias. Menghadapi hal tersebut, pemerintah Indonesia berdasarkan peraturan yang ada mengajak Investor. Perusahaan swasta nasional dan multinasional diundang menjadi KKKS membantu pengembangan migas di Indonesia. Hubungan bisnis antara PN Pertamina dan KKKS, dibungkus dalam bentuk perjanjian karya yang sering juga dimaknai sebagai perjanjian kerja. Kontrak karya memiliki kelebihan untuk memicu Indonesia sesegera mungkin mengambil alih keterampilan dan teknologi dari para KKKS.

Namun pengelolaan SDA migas membutuhkan dana yang besar. Kalaupun pengalihan dan penguasaan teknologi segera terjadi, harus dibarengi dengan kemampuan finansial. Pada sisi lain bisnis menjadi kurang lincah karena peran swasta terbatas. Selain itu, setiap kali penetapan atau penegasan kontrak karya bagi perusahaan minyak, pemerintah mengeluarkan undang- undang. Hal ini berdampak pada perputaran investasi migas yang lambat atau bahkan dapat menghambat mengalirnya investasi migas.

Untuk memperbaiki kelemahan dalam model kontrak karya, pemerintah memperkenalkan skema perjanjian baru yang disebut Kontrak Bagi Produksi. Model ini pertama kali diberlakukan di Indonesia tahun 1966 ditandai dengan penandatanganan kontrak antara PN Permina dan Independence Indonesian American Oil Company (IIAPCO). Masih sama dengan semangat yang terkandung pada undang-undang sebelumnya, Undang Undang Migas Nomor 8 Tahun 1971 juga berisi penegasan bahwa kendali pemerintah kepada Pertamina penuh. Melalui usaha yang dilakukan PN Pertamina tersebut, pemerintah diharapkan akan mendapat hasil atau commit to user

(4)

penerimaan negara. Kelemahan Undang-Undang Migas Nomor 8 Tahun 1971 yang paling utama adalah substansi kuasa pertambangan migas yang masih berada di perusahaan.

Selanjutnya pada tahun 1998, yang menjadi tonggak penting bagi bangsa Indonesia, Orde Baru yang dinilai “super korup’ dan dituduh menjalani praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yang selanjutnya akan disingkat sebagai KKN, tumbang. Tuduhan mengenai korupsi dan praktek KKN juga menyasar pada PN Pertamina. Maka dari itu, pemerintah Bersama DPR dan didukung MPR mengeluarkan UU Migas untuk menggantikan UU No.8 Tahun 1971. UU Migas Nomor 22 Tahun 2001 mendefisikan ulang kontrak kerja sama, membuka luas pengertian kontrak kerja sama yang tidak hanya dibatasi pada model kontrak bagi produksi.

Selain untuk mencegah praktik KKN, bentuk kontrak kerja sama juga memberi lebih banyak keuntungan pada negara, karena memberikan pemasukan tidak hanya dari sisi penjualan semata, namun juga jumlah kuota migas yang diproduksi investor.

Kontrak Bagi Hasil diatur dalam sebuah prinsip dasar dimana pemerintah memberikan wilayah kerja tertentu pada perusahaan swasta dan perusahaan tersebut diberikan hak untuk meminta biaya-biaya pengganti (Cost Recovery) dari proses pengembangan produksi dan keuntungan yang diperjanjikan yang diambil dari hasil Migas yang diproduksi. Negara juga berhak atas bagian produksi yang diperjanjikan terlebih dahulu. (Mahmud, 2000:37)

Kedudukan Kontrak Bagi Hasil dalam pengusahaan pertambangan Minyak dan Gas bumi sangat penting, karena berdasarkan ketentuan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Nomor 22 Tahun 2001 mengharuskan setiap kegiatan usaha hulu dalam pertambangan minyak dan gas bumi dilaksanakan oleh badan usaha atau bedan usaha tetap berdasarkan kontrak Kerjasama dengan Badan Pelaksana. (Haris Retno Sumiyati, 2006:103)

commit to user

(5)

Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC) tetap digunakan hingga kini dan telah mengalami 3 kali perubahan sejak awal diterapkan. Pembagian pemerintah dengan Kontraktor Kontrak Kerjasama, yang dalam penulisan ini selanjutnya akan disingkat sebagai KKKS, Migas adalah 85% berbanding 15% untuk minyak bumi dan 70% dan 30% untuk gas bumi. Sistem bagi hasil antara Pemerintah dengan KKKS terjadi setelah sebelumnya dikurangi dengan Cost Recovery berdasarkan PP Nomor 79 Tahun 2010. Dapat dikatakan bahwa Cost Recovery adalah biaya yang dibayarkan Pemerintah kepada kontraktor sebagai penggantian biaya produksi dan investasi selama proses eksplorasi, eksploitasi, dan pengembangan blok migas yang tengah dikerjakan (Wiwiek Jumiati dan Danang Sismartono, 2018:107)

Pada tahun 2017 diberlakukan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, selanjutnya akan disingkat sebagai ESDM, Nomor 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split yang menetapkan Kontrak Bagi Hasil Gross Split sebagai konsep Kontrak Bagi Hasil yang dipakai pada Industri Migas di Indonesia. Terdapat beberapa latar belakang yang mendukung pemerintah untuk mengubah Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery ke Gross Split, yaitu kurangnya kegiatan eksplorasi di Indonesia yang mengakibatkan penurunan kegiatan lifting dan produksi minyak bumi.

(Budhi Refa Anjani dan Imam Baihaqi, 2018:65) serta untuk mengakhiri perdebatan mengenai dua permasalahan mendasar dari model skema Cost Recovery. Pertama, pelaksanaan Cost Recovery dianggap mendorong inefisiensi kontraktor dalam mengontrol biaya-biaya operasi. Kedua, berdasarkan kajian Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, terdapat praktik korup di dalam pelaksanaan Cost Recovery. Meski skema Kontrak Bagi Hasil Gross Split bisa mengatasi dua masalah mendasar pada skema Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan ada pula pendapat bahwa Gross Split dapat menarik investor dan dapat menyelamatkan keuangan negara (Andrey Hernandoko dan Mochammad Najib Imanullah, 2018:162), nyatanya di lapangan Skema Kontrak Bagi Hasil Gross Split kurang commit to user

(6)

diminati oleh investor. Hal ini menyebabkan disusunnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020 sebagai perubahan terhadap Peraturan Menteri ESDM Nomor 08 Tahun 2017, dimana bentuk dan ketentuan pokok kontrak kerja sama menggunakan bentuk: a. Kontrak Bagi Hasil Gross Split; b. Kontrak Bagi Hasil dengan mekanisme pengembalian biaya operasi; atau c. Kontrak kerja sama lainnya.

Dengan diberlakukan Kontrak Bagi Hasil baik dalam bentuk Cost Recovery maupun Gross Split sebagaimana yang telah disebutkan di atas merupakan suatu bentuk pertimbangan bisnis pemerintah dalam mengelola risiko untung rugi. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya kedua bentuk Kontrak Bagi Hasil tersebut menjadi instrumen penting dalam dunia usaha Migas sebagai nilai tawar pemerintah menggandeng investor sebagai mitra untuk mengelola sumber daya Migas karena bisnis pada sektor Migas merupakan bisnis yang padat modal, berisiko tinggi dan penuh ketidakpastian. (A. Rinto Pudyantoro, 2012:14)

Dalam penelitian tesis nya, Zakia Vonna (2019:9), menyatakan bahwa masalah yang menjadi sentral dalam penelitian tentang perbandingan Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split adalah mengenai sistem hukum kontrak dalam hukum positif Indonesia yang diterapkan dalam Kontrak Bagi Hasil Migas yang dilaksanakan antara Pemerintah Indonesia dengan KKKS dalam kaitannya dengan tujuan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam penelitiannya mengenai pengaruh perubahan Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery ke Gross Split Terhadap Investasi Minyak dan Gas Bumi di Indonesia, Andrey Hernandoko dan Mochammad Najib Imanullah (2018:160) mengkaji tentang perbedaan Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split serta dampaknya terhadap investasi Migas di Indonesia sebelum Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020 disahkan.

Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2018 setelah disahkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. commit to user

(7)

Cut Zurnali dan Alex Sujanto dalam penelitiannya yang berjudul

“Pentingnya Efisiensi dan Efektivitas Industri Migas Indonesia di Era Gross Gross Split” membahas mengenai efisiensi dan efektivitas skema Kontrak Bagi Hasil Gross Split terhadap Industri Migas di Indonesia sebelum disahkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020.

Terdapat penelitian yang berjudul “Tantangan Keekonomian Kontrak Bagi Hasil Gross Split dan Cost Recovery. Studi Kasus Lapangan Gas Offshore di Sumatera Bagian Utara.”. Dalam penelitian ini, Wiwiek Jumiati dan Danang Sismartono (2018:105) hanya membahas mengenai tantangan penerapan skema Gross Split dan Cost Recovery bagi pelaku industri hulu migas.

Faizal Kurniawan (2013:74) dengan penelitiannya yang berjudul

“Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Kekayaan Minyak dan Gas Bumi Sebagai Aset Negara Melalui Instrumen Kontrak” membahas bahwa Kontrak Bagi Hasil menjadi pilar dasar dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan kegiatan usaha minyak dan gas bumi. Penulis melihat bahwa penelitian ini dapat mendukung penelitian penulis mengenai dampak Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split terhadap tingkat ketertarikan investor pada Industri Minyak dan Gas Bumi di Indonesia.

Kedaulatan energi sudah semestinya menjadi cita-cita Bangsa Indonesia. Kedaulatan energi akan terwujud ketika amanat Pasal 33 UUD 1945 dilaksanakan. Salah satu langkah kongkrit yang bisa dilakukan adalah dalam bentuk kebijakan dan tata laku riil. Tindakan nyata dari para pihak yang menjadi pembuat kebijakan sangat diperlukan.

Berbeda dengan penelitian diatas, penelitian ini membahas mengenai perbandingan Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split yang memfokuskan pembahasannya pada dampak kedua konsep Kontrak Bagi Hasil terhadap ketertarikan investor pada Industri Migas di Indonesia setelah disahkannya Peraturan Menteri ESDM No.12 Tahun 2020.

Dalam penelitian ini dinyatakan bahwa Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2002 yang disahkan untuk meningkatkan gairah investasi commit to user

(8)

pada industri hulu migas belum memberikan dampak signifikan pada industri hulu migas serta dikhawatirkan KKKS akan lebih memilih Cost Recovery sebagai skema Kontrak Bagi Hasil yang digunakan.

Dikhawatirkan dua keberatan mendasar dari model skema Cost Recovery akan muncul kembali, yaitu terdorongnya inefisiensi kontraktor dalam mengontrol biaya-biaya operasi dan adanya praktik korupsi dalam pelaksanaan Cost Recovery. (Wahyudin Sunarya dan Giri Ahmad Taufik, 2017:135)

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam terkait dengan dampak Kontrak Bagi Hasil Gross Split dan Cost Recovery terhadap tingkat ketertarikan investor pada Industri Minyak dan Gas Bumi di Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis menyusun sebuah rumusan masalah untuk dapat dikaji lebih jelas, rinci dan terarah dalam pembahasannya. Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa perbedaan skema Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split, skema mana yang lebih menguntungkan bagi Negara dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama?

2. Bagaimana dampak Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split pada Industri Migas di Indonesia setelah disahkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020?

C. Tujuan Penelitian

Suatu penelitian memiliki tujuan yang hendak dicapai sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi sebagai arahan atau wawasan dalam melangkah. Penelitian ini memiliki dua macam tujuan, yaitu tujuan objektif dan tujuan subjektif. Adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Objektif commit to user

(9)

a. Untuk mengetahui perbedaan skema Kontrak bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split serta skema yang lebih menguntungkan bagi Negara dan KKKS.

b. Untuk mengetahui bagaimana dampak Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split pada industri Migas di Indonesia setelah disahkan peraturan ESDM No.12 Tahun 2020.

2. Tujuan Subjektif

a. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan penulis di bidang Ilmu Hukum khususnya Hukum Perdata.

b. Melatih kemampuan penulis dalam mengaplikasikan, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama belajar di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

c. Memenuhi persyaratan akademis guna meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan bagi penulis maupun orang lain. Sebab dengan adanya manfaat yang diberikan dapat menentukan nilai-nilai dari sebuah penelitian hukum.

Manfaat yang hendak dicapai dalam penulisan hukum ini ada dua, yakni manfaat teoritis yang berkaitan dengan pengembangan ilmu hukum dan manfaat praktis yang berkaitan dengan dengan pemecahan masalah yang diteliti. Adapun manfaat yang diharapkan dari penulis antara lain:

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada bidang Ilmu hukum khususnya dalam bidang Hukum Perdata.

commit to user

(10)

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi, literatur dan informasi bagi penelitian atau penulisan khususnya dalam dunia kepustakaan Hukum Perdata.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan terhadap penelitian-penelitian sejenis pada tahap selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan terhadap permasalahan yang diteliti oleh penulis.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman, pengetahuan dan pengalaman kepada penulis untuk mengetahui sejauh mana kemampuan penulis dalam menerapkan Ilmu Hukum yang diperoleh selama belajar di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan kepada penulis dan pihak-pihak terkait penelitian atau penulisan hukum yang sejenis sebagai referensi pada penelitian selanjutnya

E. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah unsur yang paling penting dalam penelitian untuk mendapatkan bahan hukum dengan validitas tinggi. Tanpa suatu metode maka seorang peneliti akan mengalami kesulitan dalam menentukan, merumuskan, dan memecahkan masalah dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk yang berguna untuk menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2010:35)

Berdasarkan penjalasan di atas adapun metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif . Penelitian hukum normatif memiliki definisi yang sama dengan penelitian doktrinal yaitu penelitian commit to user

(11)

berdasarkan bahan-bahan hukum primer dan sekunder. Sehingga dalam penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. (Peter Mahmud Marzuki, 2013:55-56) 2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif, yang merupakan suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya (Sukmadinata, 2006:72).

3. Pendekatan Penelitian

Di dalam penelitian hukum terdapat 5 (lima) pendekatan yakni pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach) dan pendekatan konseptual (conseptual approach) (Peter Mahmud Marzuki, 2014:33) Dari beberapa pendekatan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Pendekatan ini merupakan penelitian yang mengutamakan bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan sebagai bahan acuan dasar dalam melakukan penelitian.

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum Penelitian

Sumber penelitian ini terbagi menjadi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang-undangan dan aturan-aturan lainnya termasuk Putusan Pengadilan yang terkait dengan penulisan skripsi ini. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang mendukung bahan hukum primer.

Sedangkan bahan hukum sekunder terdiri dari semua publikasi tentang hukum seperti buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-commit to user

(12)

jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. (Peter Mahmud Marzuki, 2014:181). Penelitian ini menggunakan bahan hukum primer dan sekunder, dengan rincian sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer:

1) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

3) Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 12 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

4) Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder meliputi publikasi-publikasi tentang hukum antara lain adalah buku, artikel ilmiah (jurnal), skripsi, thesis dan publikasi yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah studi kepustakaan. Teknik ini digunakan dengan cara mengunduh, membaca, mengkaji, menganalisa peraturan perundang-undangan yang terkait dan menganalisa putusan pengadilan serta tulisan-tulisan yang berhubungan dengan masalah yang menjadi objek penelitian.

6. Validasi Bahan Hukum

Untuk memperoleh validasi mengenai penelitian yang penulis sedang teliti, maka penulis menggunakan metode triangulasi.

Triangulasi adalah Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain, di luar itu untuk keperluan pengecekan atau suatu pembanding terhadap data tersebut. (Lexy J. Moloeng, 2003:330). Penulis mengkaji data melalui beberapa sumber dan commit to user

(13)

memvalidasi hasil penelitian melalui jurnal-jurnal terkemuka mengenai Hukum Minyak dan Gas Bumi serta Kontrak Bagi Hasil.

7. Teknik Analisis Bahan Hukum

Penelitian hukum ini menggunakan teknik analisis bahan hukum dengan metode komparatif. Metode ini menggunakan cara membandingkan keberadaan suatu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara menarik kesimpulan dari kedua sampel yang berbeda.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Sistematika penulisan hukum disajikan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistematika penulisan hukum sebagai karya ilmiah yang disesuaikan dengan kaidah penulisan suatu karya ilmiah. Sistematika penulisan hukum diuraikan guna memberikan gambaran umum terhadap konteks pembahasan isu hukum sesuai dengan identifikasi masalah dan paparan pendukung dari pembahasan isu hukum tersebut. Guna mempermudah memahami penulisan hukum ini, maka penulis membaginya ke dalam 4 (empat) bab yang terdiri dari beberapa sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk mempermudah mengenai seluruh isi penulisan hukum ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini terdiri dari:

BAB I: PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis menguraikan beberapa sub bab yaitu Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menjabarkan mengenai landasan secara teoritik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti oleh penulis. Bagian ini terdiri dari kerangka teori serta kerangka pemikiran yang disusun dalam bentuk bagan yang menjadi dasar dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini yang meliputi:

A. Kerangka Teori commit to user

(14)

1. Tinjauan tentang Teori State Property

2. Tinjauan tentang Teori Keadilan Dalam Kontrak 3. Tinjauan tentang Studi Komparasi

4. Tinjauan tentang Kepastian Hukum 5. Tinjauan tentang Kontrak Bagi Hasil 6. Tinjauan tentang Cost Recovery 7. Tinjauan tentang Gross Split

8. Tinjauan tentang Industri Hulu Migas di Indonesia B. Kerangka Pemikiran

BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini, penulis membahas dan menjawab tentang permasalahan yang telah ditentukan yaitu mengenai Kontrak Bagi Hasil yang menguntungkan bagi Negara dan KKKS serta dampak Kontrak Bagi Hasil Cost Recovery dan Gross Split pada Industri Minyak dan Gas Bumi di Indonesia.

BAB IV: PENUTUP

Pada bab ini merupakan bagian akhir dari penelitian yang berisi mengenai keismpulan yang diambil dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan saran-saran sebagai tindak lanjut dari kesimpulan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Alternatif seperti pada gambar 3 (a) dan gambar 3 (b) kapasitas memimpin (lead), yakni kapasitas yang ada selalu melebihi permintaan tetapi gambar 3 (c) menunjukkan

pembimbing berkaitan dengan validitas konstruk yaitu seberapa jauh butir-butir instrumen tersebut telah mengukur indikator dari variabel prokrastinasi akademik. Setelah

Hal ini dikarenakan wisatawan yang berkunjung ke wisata memancing Tanjung Kait mayoritas adalah wisatawan yang berasal dari Tangerang, Jakarta Barat dan Bogor sehingga

Dengan demikian kita memiliki pengujian ke arah kanan, dan hipotesis alternatifnya adalah terdapat probabilitas bahwa lebih dari 50 persen konsumen akan mengatakan

Penelitian dengan judul “SISTEM INFORMASI PENGHITUNGAN STOK BARANG PADA TOKO SEPATU MEDLEY MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ)” Sistem stok barang merupakan

Sasaran yang akan dicapai sampai dengan tahun 2014 adalah tersedi- anya 1 (satu) juta ekor sapi induk dalam kurun waktu 5 tahun (200.000 ekor/tahun), untuk pembibitan sapi potong

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial mengandung arti bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri namun pasti akan selalu berhubungan dengan orang lain..