• Tidak ada hasil yang ditemukan

“UPACARA TRADISIONAL PETAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "“UPACARA TRADISIONAL PETAN"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

“UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG, KABUPATEN PINRANG”

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Dan Memperoleh Gelar Sarjana Pada Departemen Antropologi Fakultas Ilmu

Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Oleh

MUHAMMAD ARIS E5 11 11 281

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN 2018

(2)
(3)
(4)

iii ABSTRAK

E5 11 11 281, MUHAMMAD ARIS. Skripsi ini berjudul “Upacara Tradisional Petani Padi Sawah Di Desa Malimpung, Kabupaten Pinrang”. Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas hasanuddin, Makassar. Dibimbing oleh Prof. Dr. Muh.

Yamin Sani, MA dan Dr. Ansar Arifin, M. Si.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai Tahap-tahap Upacara Tradisional petani padi sawah di salah satu Dusun yang ada di Kabupaten Pinrang ialah Dusun Palita Desa Malimpung. Kegiatan Upacara pertanian yang ada di Dusun Palita berbeda dengan kegiatan upacara pertanian di Dusun lainnya yang ada di Desa Malimpung dalam hal tahap-tahap kegiatan upacara tradisional pertanian padi sawah, dengan fokus penelitian yang pertama bagamana proses upacara tradisional dalam aktifitas pertania padi sawah di Dusun Palita, kedua bagaimana perubahan proses upacara dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita, ketiga apa makna upacara tradisional pertanian padi sawah, keempat bagaimana implikasi berkenaan dengan perubahan prose upacara dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan pengamatan terlibat. Analisa yang diterapkan dalam penulisan berdasarkan hasil kerja lapangan sebagai analisa terhadap data primer. Tidak hanya data primer pada bagian tertentu, dalam penulisan analisa juga dilengkapi dengan analisa terhadap data sekunder.

Tahap-tahap atau proses kegiatan yang ada di Dusun lainnya hanyalah memulai dengan kegiatan turun sawah (mappalili’) dan setelahnya akan di akhiri dengan kegiatan pesta panen (mappadendang), Kegiatan tersebut dilakukan setahun sekali sedangkan kegiatan upacara pertanian di Dusun Palita akan di mulai dengan kegiatan massorong di- puata’ dan menyembelih ayam di teppo’ (DAM) sebelum memulai kegiatan turun sawah (mappalili’) serta di akhiri dengan kegiatan pesta panen (mappadendang), di Dusun tersebut dilakukan setiap selesai masa pemanenan atau dua kali dalam setahun. Kegiatan tersebut tak lepas dari keyakinan nenek moyang terdahulu yang diturunka secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya yang membudaya hingga sampai sekarang ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan upacara pertanian yang ada di Dusun Palita mampu memperlihatkan bagaimana suatu keyakinan yang di dasari dari nenek moyang terdahulu akan tetap ada apabila generasi-generasi berikutnya tetap kompak dalam menjalankan atau menjaga suatu kebudayaan tersebut.

Kata kunci: Upacara, Keyakinan, Petani.

(5)

iv ABSTRACT

E5 11 11 281, MUHAMMAD ARIS. This thesis entitled "the Traditional Ceremony of Rice Farmers In the Village of Malimpung, Pinrang District". Department of Anthropology Faculty of Social and Political Sciences Hasanuddin University, Makassar. Guided by prof. Dr. Muh.

Yamin Sani, MA and Dr. Ansar Arifin, M. Si.

This study aims to examine the Stages of Traditional Ceremony of paddy rice farmers in one of the existing Hamlet in Pinrang District is Palita Village Hamlet Malimpung. Activities The ceremony of agriculture in Hamlet Palita is different from the ceremonial activities of agriculture in other hamlets in Malimpung Village in terms of stages of traditional ceremonial activities of paddy rice, with the first focus of research on how the process of traditional ceremony in the field of rice field activity in Palita Hamlet, the second how the ceremonial process changes in rice farming activities in Hamlet Palita, the third what is the meaning of traditional ceremonies of rice paddy farming, the fourth how the implications related to changes in ceremonial process in rice field farming activities in Palita Hamlet.

The method used in this research is qualitative research method with in-depth interview technique and involved observation. Analysis applied in writing based on field work as an analysis of primary data. Not only the primary data in a particular section, in the writing of the analysis is also equipped with an analysis of secondary data.

The stages or processes of activities in other sub-districts are just starting with the activities of the rice fields (mappalili ') and afterwards will end with the harvesting party (mappadendang), the activity is done once a year while the agricultural ceremony activities in Palita Hamlet will start with massacre activities in-puata 'and slaughtering chicken in teppo' (DAM) before starting the wetland (mappalili ') activity and ending with harvesting party activities (mappadendang, in the Hamlet is done every time of harvest or twice a year. These activities can not be separated from the beliefs of ancestors who diturunka generations from generation to generation that has been entrenched until now. The results of this study indicate that the ceremonial activities of agriculture in Palita Hamlet are able to show how a belief that is based on the ancestors of the ancestors will still exist if the next generations remain compact in running or maintaining a culture.

Keywords: Ceremony, Confidence, Farmer.

(6)

v KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Upacara Tradisional Petani Padi Sawah Di Desa Malimpung, Kabupaten Pinrang ” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) pada Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin, Makassar. Tak lupa salawat dan salam kepada sang inspirasi yang di utus oleh-Nya sebagai pedoman hidup penulis dari tiap sisi kehidupan baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Penulis menyedarai dan mengakui penyelesaian skripsi tidak dapat tercapai tanpa bantuan dari berbagai pihak dalam berbagai bentuk baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Untuk itu, penulis merasa perlu menyapaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua Abdullah dan Saima, serta Saoda selaku nenek yang tak henti-hentinya memberi support dan kasih sayang selama penulisan ini. Doa-doa beliau sungguh memberi kekuatan terlepas dari bantuan secara material yang membuat penulis menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

(7)

vi 2. Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M. Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas hasanuddin Makassar beserta para staf-staf yang melaluinya penulis mengurus segala keperluan dalam penyusunan skripsi ini. Penulis mengucapkan terimakasih atas pelayanan yang diberikan kepada penulis.

3. Prof. Dr. Supriadi Hamdat, MA selaku Ketua Departemen Antropologi Program Studi S1 Universitas Hasanuddin Makassar beserta Sekertaris Depertemen Antropologi Yang membantu penulis dalam segala keperluan berkas Ujian. Penulis mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang diberikan kepada penulis.

4. Dr. Ansar Arifin M.Si selaku Penasehat Akademik sekaligus pembimbing II skripsi ini yang telah mengarahkan dengan cara menyenangkan selama penulis menjalani proses kuliah baik dari dalam diskusi kelas sampai bimbingan skripsi selesai. Dan Prof. Dr.

M. Yamin Sani. M.S selaku pembimbing I yang turut mengarahkan selama penulisan skripsi ini.

5. Prof. Dr. H. Pawennari Hijjang, MA, Prof. Nurul Ilmi Idrus,Ph.D. dan Dr. Tasrifin Tahara, M.Si selaku panitia ujian proposal skripsi yang menyumbangkan kritikan-kritikan yang membangun untuk penulisan ini.

(8)

vii 6. Seluruh staf Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas hasanuddin Makassar yang selalu bersikap baik dalam membantu penulis untuk pengurusan berkas-berkas ujian.

7. Seluruh Dosen dan Staf Departemen Antropologi Universitas Haasanuddin yang telah memberikan ilmu da pengetahuannya kepada penulis melalui kegiatan-kegiatan akademik serta diskusi- diskusi bangku perkuliahan.

8. Aparat Pemerintah pada umumnya se-Kabupaten pinrang Kepala Dinas KESBANG (kesatuan Bangsa dan Politik), Kepala Desa dan Sekertaris Desa Malimpung yang memberikan izinnya untuk meneliti di Desa Malimpung khususnya di Dusun Palita atas data yang sangat membantu penulis.

9. Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang dan Ketua Kelompok Tani Lapporang beserta para petani di Dusun Palita yang membantu penulis dengan ramah bersedia berbagi informasi selama penelitian.

10. Kedua kakak tercinta : Amirullah dan Fitriani, yang tak henti- hentinya selalu memberikan dukungan yang positif beserta inspirasi sampai penulis menyelesaikan skripsi ini.

11. Atlantis (Angkatan Antropologi 2011) : Irfan, Sultan, Pri, Ale, Cipta, Yudit, Ara, Ayat, Usman, Viktor, Ari, Arif, Fajeri, Ade, Adi, Angga, Ali, Acci, Arman, Batara, Kamil, Anwar, Kama’, Tomo, Dian, Sinta, Kelli, Risma, Isma, Vrista, Selda, Halisa, Deby, Ria, Ana, Nanna,

(9)

viii Ayu, Fahmi, Arida, Kina, Dan Tri. Semoga angkatan Atlantis selalu terjaga dan terjalin satu sama lain. Salah satu keistimewaan dan kebahagiaan penulis bisa mengenal kalian.

12. Kak Roni, kak Ramlan, Kak Heri, Kak Ucu, Kak Jaya, Kak Dadang, Kak Iqbal, Kak Manca, Kak Asdar dan seluruh kerabat senior yang nama baiknya tak dapat penulis tuliskan satu per satu yang telah meluangkan waktunya untuk direpotkan selama kuliah sampai penulis menyelesaikan perkuliahan, kalian sungguh berjasa membatu penulis ketika butuh arahan dari tiap-tiap pertanyaan yang membingungkan selama kuliah, penulisan, penelitian maupun dalam konsultasi bimbingan.

13. Teman-Teman : Ayu, Ria, Herman, Dina, Kasman, Masna, Nurisma, Salama, Fhucenk, Jufri, Suda, Guntur, Attang, Kamannyang beserta teman-taman yang tak dapat penulis tulisakan nama kalian satu persatu yang tak henti-hentinya memberikan support beserta inspirasi bagi penulis dalam setiap kesempatannya dan selalu menanyakan kapan penulis sarjana.

14. Wahyunis, Evi, Nunu, Bayu, Fian, Moko, Imam, Budi, Heri, Diman, Sakkir, Bobe, Ardi beserta kerabat antropologi yang juga memberikan support bagi penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari kekurangan-kekurangan yang ada dalam setiap langkah dan tahap penyusunan skripsi ini. Karena itu penulis

(10)

ix membuka diri menerima segala bentuk kritik dan saran yang berkenan dengan tulisan ini.

Semoga segala sifat, ucapan, sikap dan tingkah laku penulis tiada meninggalkan aib, kebencian serta kedengkian dari berbagai pihak.

Adapun jika terdapat kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kebaikan yang dicurahkan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Makassar, Agustus, 2018

Penulis

(11)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PENERIMAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACKT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Blakang Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II METODE DAN PROSEDUR KERJA A. Metode Dan Pendekatan Yang Di Gunakan ... 9

B. Prosedur Kerja Penelitian ... 9

B.1. Teknik Penentuan Lokasi ... 9

B.2. Teknik Penentuan Informan ... 10

B.3. Teknik Pengumpulan Data ... 11

B.3.a. Teknik Wawancara Mendalam ... 12

B.3.b. Teknik Observasi ... 13

B.4. Teknik Analisis Data ... 13

C. Sistematika penulisan ... 15

BAB III TINJAUAN KONSEP A. Penelitian Sebelumnya ... 17

(12)

xi A.1. Kajian Nilai-Nilai Tradisional Petani Komunitas Adat Blangkon

Kaitannya dengan Usaha Tani Sawah ... 17

A.2. Prosesi Dan Makna Simbolik Ritual Dalam Penggarapan Sawah ... 24

B. Konsep Penelitian ... 27

B.1. Konsep Tentang Religi Dan Ilmu Gaib ... 27

B.2. Konsep Tentang Makna Kebudayaan ... 41

B.3. Konsep Tentang Upacara Adat dan Ritual ... 43

B.4. Konsep Pertanian Tradisional ... 46

B.5 Konsep Petanian Modern ... 48

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Sosial Dan Ekonomi desa Malimpung ... 52

B. Sistem Kepercayaan Di Desa Malimpung ... 54

B. 1. Sistem Kepercayaan Di Puwata’ (Tempat Massorong) ... 55

B. 2. Sistem Kepercayaan Pada Kegiatan Mappadendang ... 60

B. 3. Sistem Kepercayaan Pada Kegiatan Maddowa’ ... 60

B. 4. Sistem Kepercayaan Di Waituo ... 61

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Pelaksanaan Tradisional Padi Sawah ... 64

A.1. Kegiatan Massorong Yase’Puwata’ ... 64

A.2. Kegiatan Mapalili’ ... 67

A.3. Kegiatan Maggugu’ Atau Maccalere’ ... 69

A.4. Kegiatan Mabbissa Bungka, Sipulung Tangnga, Dan Sipulung Cappa’ (Mabbulo) ... 72

A.5. Kegiatan Mappasoro’ ... 75

A.6. Kegiatan mallammang ... 77

A.7. Kegiatan Mappadendang ... 79

A.8. Kegiatan Maddowa’ ... 82

B. Perubahan-Perubahan Pada Proses Upacara Pertanian Padi Sawah 84 B.1. Kegiatan MaddojaBine ... 86

B.2. Kegiatan, Mallammang, Mappadendang Dan Maddowa’ ... 89

(13)

xii

C. Makna Upacara Tradisional Pertanian Padi Sawah... 92

C.1. Makna Kegiatan MassorongYase ‘ Puata’ ... 92

C.2. Makna Kegiatan Menyembelih Ayam Di Teppo’ (DAM) ... 93

C.3. Makna Kegiatan Mappalili’ ... 94

C.4. Makna Kegiatan MaddojaBine ... 95

C.5. Makna Kegiatan MabbissaBungka, Sipulung Tangnga, Dan SipulungCappa’ (Mabbulo) ... 96

C.5.a. Makna Kegiatan MabbissaBungka ... 96

C.5.b. Makna Kegiatan SipulungTangnga ... 97

C.5.c. Makna Kegiatan SipulungCappa’ (mabbulo) ... 97

C.6. Makna Kegiatan Massorong Di Waituo ... 99

C.7. Makna Kegiatan Mallammag, Mappadendang Dan Maddowa’ ... 101

D. Pengaruh Implikasi Terhadap Pelaksanaan Upacara Tradisonal Terhadap Pertanian ... 103

E. Pertanian Tradisional Dan Moderen Menurut Pengertian Lokal ... 110

E.1. Pengertian Pertanian Tradisional ... 110

E.2. Pengertian Pertanian Moderen ... 111

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 114

B. Saran ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 116

LAMPIRAN ... 118

(14)

xiii DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1 ... 65

GAMBAR 2 ... 70

GAMBAR 3 ... 73

GAMBAR 4 ... 75

GAMBAR 5 ... 78

GAMBAR 6 ... 81

GAMBAR 7 ... 83

GAMBAR 8 ... 97

GAMBAR 9 ... 100

(15)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Iklim yang teratur, curah hujan, aliran sungai serta tanah yang subur, merupakan faktor-faktor pendukung yang sangat penting (Ph. Subroto, 1985:3). Oleh karena keadaan geografis yang baik inilah maka sejak zaman dahulu mata pencaharian utama bangsa Indonesia adalah bercocok tanam.

Data arkeologis menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam telah dikenal sejak zaman prasejarah. Diperkirakan pada awalnya cara bercocok tanam yang dilakukan masih sangat sederhana dengan jenis tanaman antara lain berupa umbi-umbian. Mereka masih mempraktekkan sistem pertanian dengan cara membuka hutan untuk berladang. Hutan yang akan dijadikan tanah pertanian dibakar terlebih dahulu lalu dibersihkan. Setelah itu barulah mereka menanam tumbuh-tumbuhan berupa umbi-umbian. Sesudah musim panen selesai, tanah bekas pertanian yang lama ditinggalkan. Mereka mencari tanah baru untuk dipakai sebagai tempat pertanian baru. Hal ini dilakukan karena tanah yang lama dianggap sudah tidak dapat dipakai dalam jangka waktu cepat (R.P. Soejono, 1984:156-158).

Ternyata lahan pertanian yang tersedia semakin terbatas, sehingga cara bercocok tanam dengan cara berpindah-pindah tempat tidak dapat

(16)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 2 dipertahankan lagi. Mereka mulai mengubah sistem bercocok tanam dari membuka hutan beralih ke cara pengolahan tanah secara permanen. Dengan cara baru ini dikenal jenis tanaman baru, yaitu padi dan mereka mulai membudidayakannya. Mulai saat itulah pertanian padi muncul (Bambang Widyantoro, 1989:2).

Pada masa klasik, kegiatan pertanian mengalamai perkembangan yang pesat, perubahan tanah sudah mulai dikenal. Bukti-bukti ini dapat diketahui dengan adanya usaha pengairan/irigasi yang teratur seperti disebutkan dalam Prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman.

Isi dari prasasti tersebut adalah tentang penggalian sebuah sungai saluran yang disebut Gomati, sepanjang 12 km dan dikerjakan selama 21 hari.

Saluran ini kemungkinan sekali dipakai sebagai irigasi atau bendungan pengendalian banjir yang selalu melanda pantai utara Jawa Barat.

Kemungkinan lain dipakai sebagai pelayaran sungai. (Edhie Wuryantoro, 1977:59).

Sebagian besar dari penduduk Desa di Indonesia mengelolah sawah.

Kondisi ini sudah digeluti selama ratusan tahun secara turun-temurun sehingga membentuk culture dan ciri khas tersendiri bagi penduduk pedesaan di Indonesia. Khususnya di Dusun Palita, Desa Malimpung Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan terdapat kelompok petani yang masih mempertahankan budaya lokal yaitu upacara tradisional pertanian padi sawah. Terdapat beberapa kelompok tani yang ada di Dusun Palita, di

(17)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 3 antaranya Kelompok Tani Lapporang dan Kelompok Tani Sinar Lapporang yang saat ini masih mempertahankan budaya mappalili’ sampai mappadendang. Di dalam budaya ini terdapat beberapa rangkaian atau tahap-tahap pelaksanaan upacara yang selama ini rutin selalu dilaksanakan paggalung Lapporang, mulai dari budaya turun ke sawah, hingga pada pesta panen yang dikenal dengan istilah mappalili’ dan mappadendang. Budaya mappalili’ ini biasanya dilakukan oleh para petani sebelum memulai membajak sawah atau bisa disebut budaya turun ke sawah. Mappalili’ ini menandai permulaan musim tanam bagi paggalung Lapporang. Upacara adat yang dilakukan turun-temurun diyakini masyarakat setempat sebagai pedoman bagi petani untuk memulai musim tanam padi. Sedangkan mappadendang dilakukan pada saat padi sudah selesai dipanen.

Mappadendang merupakan salah satu bentuk rasa syukur dan tanda terimakasih masyarakat karena mereka sudah memperoleh hasil yang mereka tanam.

Dalam penelitian ini, tidak hanya membahas mengenai budaya mappalili’ dan mappadendang saja yang ada dalam masyarakat petani di Dusun Palita, melainkan masih terdapat beberapa rangkaian atau tahap- tahap upacara di dalamnya, setelah mereka membajak sawah. Beberapa tahap-tahap upacara tersebut akan dilakukan sesuai dengan umur padi.

Seperti mabbisa bungka yang biasa disebut pertemuan awal untuk melakukan syukuran (kande sukkuru’). Sipulung tangnga atau pertemuan

(18)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 4 tengah yang juga merupakan kegiatan syukuran, sipulung cappa’ atau pertemuan akhir dalam bentuk syukuran hingga selesainya masa pemanenan padi. Ada juga kegiatan mangappi’, kemudian mappasoro’. Mappasoro’ ini menandai bahwa padi sudah siap dipanen. Setelah panen ini sudah selesai dalam artian rata-rata sawah petani sudah habis dipanen, maka bebeapa minggu kemudian dilanjutkan dengan tahapan yang namanya mallammang,.

Setelah mallammang esok harinya pun adalah hari mappadendang yang menandai bahwa panggalung Lapporang sudah menuai hasil panennya masing-masing. Inilah yang membuat saya tertarik melakukan penelitian pada upacara tradisional padi sawah, karena di dalam rangkaian upacara ini terdapat beberapa tahap-tahap pelaksanaannya yang unik dan setiap tahap tersebut memiliki makna dan tujuan tersendiri.

Dalam proses membajak sawah, masyarakat tidak lagi menggunakan hewan ternak seperti sapi, dan kerbau sebagai alat pembajak sawah, tetapi menggunakan teknologi traktor yang mempermudah dan mempercepat pekerjaan membajak sawah yang kini sudah mulai digunakan oleh sebagian besar masyarakat petani yang ada pada Kelompok Tani Lapporang. Dalam hal ini, paggalung Laporang tidak tradisional lagi dalam hal membajak dan memanen, karena paggalung Lapporang sudah mengenal teknologi.

Teknologi panca usaha sebagai teknologi baru atau teknologi moderen dalam arti teknologi yang berubah dan berkembang, telah dimasukkan dalam masyarakat tani sulawesi selatan, khususnya kepada para petani padi sawah

(19)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 5 selama lebih dari dua dasa warsa yaitu sejak tahun 1964-1965 sampai pada tahun 1986 bahwan sampai pada sekarang ini. Dalam hal ini teknologi panca usaha dimasukkan ke dalam masyarakat tani khususnya di kalangan petani padi sawah di sulawesi selatan, melalui Program Demonstrasi Massal Swa Sembada Bahan Makanan (Dema SSBM) dalam tahun 1964/65 dilanjutkan dengan Program Bimbingan Massal Swa Sembada Bahan Makanan (Bimas SSBM) tahun 1965/66 dan seterusnya dengan berbagai program intensifikasi sampai sekarang (Ansar Arifin, 1987 :3).

Salah satu cara untuk menggerakkan tenaga kerja untuk bercocok tanam secara tradisional dalam komunitas pedesaan adalah sistem bantu- membantu yang lebih dikenal dengan istilah “gotong-royong”. Bagi mereka yang tidak memiliki lahan sebagai akibat dari pemadatan jumlah penduduk melakukan penggarapan sawah yaitu bagi hasil juga upahan. Namun dilihat dari perbandingannya pada era modern sekarang, sudah jarang kita menjumpai istilah gotong royong, karena zaman semakin canggih, alat-alat penggarap sawah pun sudah semakin canggih, mulai dari menggarap lahan hingga memanen, semuanya menggunakan mesin. Dalam kaitan dengan persawahan di daerah pedesaan, secara umum merupakan sawah tadah hujan. Hal ini memberikan perbedaan dengan sistem irigasi yang berada di daerah lain. Karenanya persawahan ini sangat bergantung pada kondisi alam dan cuaca hujan.

(20)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 6 Dalam penelitian ini akan membahas berbagai macam proses dan tahap upacara yang selalu dilakukan oleh para petani khususnya petani yang ada di Dusun Palita. Dari berbagai proses dan tahap tersebut, akan kita jumpai suatu kebudayaan tersendiri yang unik dari kelompok tani yaitu budaya sipulug. Memang kita sudah tidak asing lagi mendengar yang namanya sipulung atau tudang sipulung. Budaya sipulung ini kemudian terbagi dalam tiga bagian atau tiga proses yang berbeda hari pelaksanaanya, Inilah alasan saya memilih judul tersebut. Karena berbagai macam kelompok tani yang ada di Desa Malimpung hanya lokasi pertanian di Dusun Palita tersebut yang masih sering melakukan budaya tradisionalnya yaitu mappalili’

dan mappadendang yang rutin dilaksanakan sebelum turun ke sawah dan setelah panen. Dibanding lokasi pertanian lain yang hanya sesekali melakukan acara pesta panen tersebut sehingga sudah jarang dijumpai lagi acara mappadendang di kelompok tani yang lain kecuali kelompok tani di Dusun Palita.

Penelitian ini tidak bermaksud untuk menjastifikasi benar atau salahya suatu kepercayaan atau budaya dalam suatu masyarakat, karena itu hanya akan membawa kita pada sifat etnosentris. Tetapi maksud dan tujuan penelitian ini adalah ingin memahami sistem budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat petani padi sawah tersebut. Jadi bagaimana tahap pelaksanaan upacara tradisional penanaman padi sawah yang berlangsung pada masa

(21)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 7 lalu, dan yang berlangsung pada masa sekarang, serta apa saja tahap upacara tradisional penanaman padi sawah yang mengalami perubahan. Hal itulah yang ingin diungkap dalam penelitian ini.

B. Fokus Penelitian

a. Bagaimana proses upacara tradisional dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita, Kabupaten Pinrang?

b. Bagaimana perubahan proses upacara dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita, Kabupaten Pinrang?

c. Apa makna upacara tradisional petani padi sawah?

d. Bagaimana implikasi berkenan dengan perubahan proses upacara dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita Kabupaten Pinrang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses upacara tradisional dalam aktifitas pertanian padi sawah di Dusun Palita. Kemudian, mendeskripsikan perubahan proses upacara tradisional dalam aktifitas pertanian padi sawah, selanjutnya untuk mengetahui makna upacara tradisional petani padi sawah. serta, untuk mengetahui implikasi yang berkenaan dengan perubahan proses upacara tradisional dalam aktifitas pertanian padi sawah.

(22)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 8 D. Manfaat Penelitian

 Secara Teoritis, penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu sosial humaniora, khususnya bidang ilmu antropologi. Memberikan pemahaman mengenai upacara tradisional padi sawah. Serta dapat digunakan sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya.

 Secara Praktis, penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat agar tetap menjaga persatuan sesama masyarakat petani, tanpa memandang perbedaan kebudayaan mereka sendiri. Serta diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran kepada pemerintah daerah maupun pusat dalam rangka pengambilan keputusan untuk pembangunan daerah.

(23)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 9 BAB II

METODE DAN PROSEDUR KERJA

A. Metode dan Pendekatan yang Digunakan

Pendekatan kualitatif sengaja dipilih karena dapat mendeskripsikan makna dan alasan masyarakat untuk mempertahankan budaya lokal dalam pertanian padi sawah, Messkipun dilihat dari kenyataan yang ada pada sekarang berbagai daerah sudah tidak mempertahan berbagai kebudayaan lokalnya dikarenakan pengaruh globalisasi dan zaman modern.

Penggunaan metode etnografi dalam penelitian ini dikarenakan kekhasannya yang menekankan pada cara pandang masyarakat mempersentasikan diri dan kebudayaannya (native point of view), berdasarkan apa yang mereka pahami, alami dan lakukan. Kemudian dianalisis oleh peneliti untuk menjadi suatu hasil penelitian yang sesuai dengan kaidah penelitian kualitatif.

B. Prosedur Kerja Penelitian B. 1. Teknik Penentuan Lokasi

Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan apa yang penulis amati dan pahami Desa malimpung terbagi dalam beberapa bagian lokasi pertanian padi sawah seperti; lokasi Paggalung Malimpung, Pajalele, Lompo Tangnga, Labangkung, Lapporang (dusun palita) serta lokasi pertanian yang lain. Oleh karena itu, terkhusus pada lokasi Panggalung Lapporang saja yang

(24)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 10 menjadi tempat penelitian berlangsung dan tempat pengumpulan data, karena pada lokasi ini masih mempertahankan budaya lokalnya yaitu Mappalili sampai Mappadendang (upacara tradisional penanaman padi sawah) dan rutin melakukan pesta panen atau Mappadendang 2 kali dalam setahun, karena petani di Dusun Palita (paggalung Laporang) menuai hasil panen 2 kali dalam setahun.

B. 2. Teknik Penentuan Informan

Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria yang disarankan oleh Spradley (2006), bahwa informan tersebut terenkulturasi penuh dalam kasus ini memahami secara baik dan pernah melaksanakan Mappaalili sampai Mappadendang sebagai upacara tradisional petani padi sawah. Kemudian, selama penelitian dilakukan, informan tersebut masih terlibat langsung dalam berbagai upacara tradisional petani padi sawah.

Syarat tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Sjafri Sairin (2006), bahwa penelitian harus dapat membedakan informan yang dapat membedakan knowledge dan informan yang mengungkapkan social memory.

Walaupun knowledge dan social memory merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pengetahuan seseorang. Namun knowledge relatif lebih muda hilang dan dilupakan karena pemilikannya relatif bersifat singkat, terutama karena bukan didasarkan pada pengalaman langsung (indirect experience) dari pemiliknya, sedangkan social memory lebih bersifat permanen, karena berkaitan dengan pengalaman langsung (direct

(25)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 11 exprience). Perbedaan tersebut dilakukan agar peneliti tidak salah dalam memilih informan yang akan membawa dampak buruk pada keakuratan data yang diperoleh dan selanjutnya berpengaruh pada ketepatan dalam mengambil keputusan dalam menganalisis data.

Sesuai yang diungkapkan oleh Spradley dan Sjafri Sairin maka peneliti memilih informan dengan cara disengaja dan snowball. Pertama- tama peneliti meminta saran kepada orang tua sendiri (bapak dan ibu) untuk menunjukkan informan yang bisa diwawancarai sesuai dengan kriteria yang di ungkapkan oleh spradley. Setelah orang tua peneliti menunjukkan informan tersebut maka, peneliti mendatang rumah calon informan tersebut dan menyampaikan maksud dan tujuan peneliti. Setelah peneliti mewawancarai informan tersebut, selanjutnya informan tersebut menunjukan informan lain yang bisa diwawancarai dan seterusnya sampai peneliti selesai melakukan penelitian.

B.3. Teknik Pengumpulan Data

Data primer adalah data yang bersumber dari data lapangan yang peneliti kumpulkan sendiri di lokasi penelitian melalui wawancara dengan informan, observasi dalam berbagai kegiatan upacara masyarakat petani yang semuanya dituangkan ke dalam catatan lapangan (field note), serta dokumentasi visual berupa perekam suara, vidio dan foto yang dapat digunakan melengkapi data.

(26)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 12 Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber yang dijadikan tambahan dan penunjang data primer, seperti dokumen pribadi informan, dan data dari berbagai instansi pemerintah yang relevan dengan fokus penelitian ini.

Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, yang memiliki metode pengumpulan data berupa:

B.3.a. Teknik Wawancara Mendalam

Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data melalui tanya jawab atau deskripsi oleh informan berdasarkan apa yang dialami, dirasakan dan dipahaminya. Wawancara dilaksanakan berdasarkan pedoman wawancara yang telah dirancang sebelumnya, agar hasilnya sesusai dengan yang diharapkan, lebih terarah dan efektif. Seperti pendapat ahli berikut ini :

“Mengumpulkan informasi dari masyarakat setempat melalui wawancara langsung dan mendalam. Wawancara dilakukan dengan maksud melengkapi lowongan dalam data yang tidak dapat dicatat dari observasi”

(Paul, 1953:441-442 dalam Koentjaraningrat, 1997:129).

Informasi yang dikumpulkan melalui wawancara adalah mengenai upacara tradisional petani padi sawad di Desa Malimpung Kabupaten Pinrang, kemudian mengenai tahap-tahap yang dilakukan dalam sistem upacara tersebut.

(27)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 13 B.3.b Observasi

Pengamatan dapat memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengamati langsung apa yang ditelitinya, sehingga peneliti dapat memperoleh data mengenai kejadian sebenarnya. Observasi juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya bias informasi yang diberikan oleh informan melalui wawancara. Namun disisi lain, data dalam observasi dan wawancara dapat saling mengisi satu sama lain.

Selain melakukan pengamatan, peneliti juga terlibat langsung dalam dalam berbagai rangkaian pelakasanaan upacara yang dilakukan oleh masyarakat petani, agar peneliti dapat menginterpretasi sendiri pengalaman lapangannya. Melalui pengamatan dan partisipasi langsung dilapangan, diharapkan akan diperoleh data atau informasi yang akurat dan sesuai dengan fokus penelitian yang telah dirumuskan.

Informasi yang dikumpulkan melalui observasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat petani dalam berbagai tahapan upacara yang dilakukan. Pengamatan yang dilakukan untuk melihat berbagai tahapan yang dilakukan dalam masyarakat petani yaitu sistem upacara tradisionalnya.

B.4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis seperti yang dikemukakan oleh Cresweell (2010), ada 6 langkah dalam melakukan analisis data, yaitu; Langkah 1. Mengolah dan mempersiapkan data untuk analisis. Langkah ini melibatkan transkripsi wawancara, mengetik data

(28)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 14 lapangan atau memilah data berdasarkan sumber informasi. Langkah 2.

Membaca keseluruhan data, pada tahapan ini peneliti juga menulis catatan khusus mengenai gagasan-gagasan umum dari data yang diperoleh.

Langkah 3. Meng-coding data. Meng-coding terdiri dari tahap, yaitu;

mengambil data yang berupa tulisan atau gambaran yang telah terkumpul, kemudian mensegmentasi kalimat-kalimat (paragraf-paragraf) atau gambar tersebut kedalam kategori-kategori, selanjutnya melabeli kategori-kategori tersebut dengan istilah-istilah khusus yang seringkali didaasrkan pada bahasa yang berasal dari informan. Langkah 4. Menerapkan proses coding untuk mendeskripsikan orang-orang, kategori-kategori, dan tema-tema yang akan dianalisis. Dskripsi ini merupakan usaha menyampaikan informasi secara detail mengenai orang-orang, lokasi, atau peristiwa-peristiwa dalam keadaan tertentu. Langkah 5. Deskripsikan tema-tema yang telah dibuat beserta dengan subtema-subtema, ilustrasi-ilustrasi khusus, perspektif- perspektif, kutipan-kutipan dan penyajian visual yang berupa gambar atau tabel. Langkah 6. Menginterpretasi atau memaknai data. Dalam hal ini peneliti menegaskan apakah hasil penelitiannya membenarkan atau justru menyangkal informasi sebelumnya. Interpretasi ini juga bisa berupa pertanyaan-pertanyaan baru yang perlu dijawab atau pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari data dan analisis, dan bukan dari hasil ramalan peneliti.

(29)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 15 C. Sistematika Penulisan

Penulisan ini terdiri atas Enam bab yang tiap bagiannya tidak lepas dari masalah yang dibahas dan saling terkait antara satu dengan lainnya.

Penjelasan singkat mengenai sistematika tiap bab dalam skripsi tersebut adalah sebagai berikut :

Bab I: Berisikan tentang sub-sub bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penelitian, fokus penelitian, tujuan dan manfaat penelitian.

Bab II: berisikan tentang metode dan prosedur kerja yang terdiri atas metode dan pendekatan yang digunakan, prosedur kerja penelitian dan sistematika penulisan.

Bab III: Berisikan tentang tinjauan konsep mengenai teori yang berkaitan dengan penelitian tersebut.

Bab IV: Berisikan gambaran umum lokasi penelitian diantaranya sejarah Desa Malimpung, kondisi geografis Desa Malimpung dan keadaan sosial ekonomi Desa Malimpung.

Bab V: Berisakan hasil dan pembahasan yang terdiri atas proses pelaksanaan padi sawah, perubahan-perubahan pada tahap-tahap upacara, makna upacara tradisional padi sawah, pengaruh pelaksanaan upacara tradisional terhadap pertanian, sistem kepercayaan terhadap upacara tradisional pertanian serta pertanian tradisional dan moderen menurut pengertian lokal.

(30)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 16 Bab VI: Berisikan tentang kesimpulan akhir mengenai hasil penelitian yang diperoleh di lapangan serta memuat saran dan masukan dari penulis.

(31)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 17 BAB III

TINJAUAN KONSEP A. PENELITIAN SEBELUMNYA

Beberapa penelitian terkait dengan petani padi sawah yang membahas mengenai kegiatan ritual upacara pertanian di antaranya :

A.1. Kajian Nilai-Nilai Tradisional Petani Komunitas Adat Blangkon Kaitannya dengan Usaha Tani Padi Sawah

Sebuah studi kasus mengenai kajian nilai-nilai tradisional petani komunitas adat Blangkon di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas yang diteliti oleh Retnaningtyas, 2010 menjelaskan bagaimana petani komunitas adat blangkon yang sampai sekarang masih mengikuti ritual-ritual adat atau selamatan. Ritual yang mereka laksanakan yaitu ritual berdasarkan ritual bulanan, ritual umum,dan ritual berdasarkan siklus kehidupan. Ritual tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang cukup banyak. Kegiatan petani komunitas adat blangkonmau menerima dan melaksanakan anjuran dari pemerintah atau penyuluhan pertanian, akan tetapi proses adopsi inovasi mereka berjalan dengan lambat. Hal tersebut dikarenakan ilmu pengetahuan dan informasi yang mereka dapatkan dalam bidang pertanian masih sangat terbatas, selain itu sarana dan prasarana pada bidang pertanian yang masih kurang memadai.

Komunitas adat blangkon berawal dari ajaran yang diajarkan oleh salah satu tokoh dan para pengikut alirannya, yang disebut dengan Kyai

(32)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 18 Bonokeling. Kyai Bonokeling berasal dari daerah sekitar Purwokerto tepatnya daerah Pasir Luhur. Menurut cerita, daerah tersebut merupakan bekas kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Komunitas adat Blangkon tidak mengetahui dengan jelas kepindahan Kyai Bonokeling ke daerah Pekuncen Jatilawang.

Keberadaan Kyai Bonokeling di daerah Pekuncen dalam rangka among tani yaitu abad alas/hutan untuk kepentingan membuka lahan pertanian yang baru di daerah tersebut. Kehadiran Kyai Bonokeling di daerah Pekuncen selain membuka lahan yang baru, Kyai Bonokeling juga menyebarkan agama Islam dengan mengakomodasi berbagai tata nilai lokal. Salah satu karakteristik yang menonjol dari tradisi yang beliau kembangkan ialah tradisi selamatan untuk berbagai kepentingan. Keunikan dari komunitas adat blangkon dapat dilihat dari berbagai segi seperti: aspek historis, sistem kepercayaan, ritual selamatan, budaya dan struktur pemerintahan, serta sistem adat yang dijalankan. Ciri khas dari aliran tersebut ialah upacara selamatan yang jumlah dan ragamnya sangat banyak sesuai dengan kebutuhan dan momentum tertentu. Ritual yang mereka lakukan berpusat pada makam dan pasemuan.Makam yang disakralkan kelompok tersebutadalah makam Kyai Bonokeling yang diyakini sebagai tokoh sentral sebagai pembawa dan peletak pondasi ajaran yang mereka anut.

Pekuncen merupakan pusat dari kelompok tersebut. Diluar Desa Pekuncen sebagai tempat kelompok tersebut berada di Kabupaten Cilacap yaitu daerah Kroya dan Adipala. Sistem yang dianut kelompok tersebut ialah

(33)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 19 sistem kekerabatan. Pemimpin tertinggi dari kumunitas tersebut ialah Kyai Kunci yang merupakan pemimpin spiritual komunitas yang harus mengayomi, melindungi dan melestarikan adat istiadat dan nilai-nilai kepercayaan.

Pemilihan pemimpin spiritual tersebut dapat dipilih dengan melakukan musyawarah dari anggota kelompok komunitas tersebut. Pemilihan pemimpin spiritual tersebut harus diketahui oleh kepala desa setempat. Calon dari pemimpin spiritual tersebut diambil dari keluarga Kyai Kunci yang merupakan turunan ahli waris (laki-laki) baik dari turunan keluarga menyamping ataupun turunan dari keluarga ke bawah. Hal yang sama juga dilakukan apabila ingin memilih wakil Kyai kunci Bedogol dengan melakukan musyawarah anak putu/cucu dari bedogol yang meninggal dunia, hanya saja hal tersebut tidak perlu untuk memberitahukan kepada kepala desa setempat melainkan harus diketahui oleh Kyai Kunci.

Komunitas adat blangkon memiliki berbagai kegiatan ritual yang berisi doa selamatan dengan kegiatan yang disesuaikan dengan keperluan. Hampir setiap bulan terdapat kegiatan ritual yang bersifat rutin seperti: bulan sura, bulan sapar, bulan mulud, bulan madil awal, bulan madil akhir, bulan rejeb, bulan pasa, bulan syawal, bulan apit, dan bulan besar. Pada kegiatan upacara bulanan, terdapat beberapa nama kegiatan ritual yang berbeda dengan kegiatan ritual bulan lainnya.

Ritual berdasarkan siklus kehidupan yang dimiliki komunitas adat blangkon dapat dilihat dari siklus kehidupan manusia sejak lahir, menikah,

(34)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 20 melahirkan keturunan sampai ritual kematian. Pertama, setelah anak dilahirkan, dilakukan selamatan puput puser untuk memberi nama pada bayi.

Selanjutnya kegiatan Mlebu yang merupakan kegiatan selamatan untuk mendaftarkan sang anak kepada Kyai kunci atau bedogol untuk menjadi anggota adat blangkon sehingga bisa disebut anak putu/cucu dari Kyai kunci.

Kegiatan selamatan tersebut dilaksanakan pada hari jumat. Selanjutnya kegiatan sunatan/khitan yang dilakukan sebagaimana anak-anak pada umumnya, yang diundang pada acara tersebut seperti tetangga dan masyarakat sekitar dengan memberikan sumbangan seihklasnya kepada orang tua yang melakukan sunatan/khitan. Selanjunya kegiatan pernikahan/membaca kalimat syahadat. Lalu kegiatan keba yang merupakan acara selamatan dalam rangka kehamilan yang berusia 7 bulan, pada tanggal ke-27. Setelah kegiatan tersebut, dilanjutkan dengan acara selamatan. Karena adanya kematian pada kelompok tersebut, mereka melakukan gotong-royong untuk mempersiapkan upacara pemakaman dan berbagai hal yang berkaitan dengan peralatan penguburan.

Komunitas adat blangkon juga memiliki ritual yang bersifat umum seperti: ritual penanaman atau selamatan masa tanam yang dilakukan dengan tujuan agar tanaman yang mereka tanam menghasilkan panen yang melimpah. Selanjutnya selamatan masa panen yang merupakan wujud rasa syukur yang dilakukan setelah masa panen selesai, dengan harapan agar masa tanam selanjutnya dapat memperoleh hasil panen yang lebih melimpah

(35)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 21 dibanding dengan hasil panen sebelumnya. Kegiatan nyandra merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan pada bulan ruwa dikompleks makam Kyai Bonokeling, Desa Pekuncen Jatilawang. Pada komunitas adat Blangkon, kegiatan nyandra merupakan ritual yang paling besar. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengikut aliran tersebut yang tersebar di 2 kabupaten, yaitu : Banyumas dan Cilacap. Selanjutnya ritual turunan yang dilaksanakan pada bulan sadran yang dikenal dengan ritual nyadran.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari jumat, minggu kedua pada bulan syawal. Puncak acara tersebut diadakan di Pasemuan.

Hal yang berkaitan dengan penelitian penulis dengan komunitas adat blangkon adalah pada saat kegiatan selamatan. Pada komunitas adat blangkon, ritual-ritual untuk kegiatan selamatan (syukuran) dilaksanakan setelah bibit selesai ditanam, dengan tujuan agar dapat menghasilkan panen yang melimpah, dan dilanjutkan dengan kegiatan selamatan setelah masa panen, sebagai bentuk rasa syukur karena telah memperoleh hasil panen sesuai yang diharapkan dan berharap agar masa tanam selanjutnya dapat diberikan hasil panen yang lebih melimpah lagi dibandingkan dengan hasil panen sebelumnya. Komunitas adatblangkon memiliki berbagai ritual seperti : selamatan bulanan, selamatan berdasarkan siklus kehidupan, dan selamatan turunan. Adapun puncak kegiatan komunitas adat blangkon iyalah kegiatan nyandra yang merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan dibulan ruwa di kompleks makam Kyai Bonokeling di Desa Pekunceng Jatilawang.

(36)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 22 Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengikut aliran tersebut yang tersebar di 2 Kabupatenyaitu Banyumas dan Cilacap. Setelah kegiatan nyandra tersebut dilakukan, maka dilanjutkan dengan kegiatan turunan yaitu kegiatan nyandran pada hari jumat, minggu kedua di bulan syawal, kegiatan tersebut berpusat di Paseum. Sedangkan pada penelitian yang saya lakukan, terdiri dari berbagai ritual, seperti : kegiatan massorong di-Puwata’ yang merupakan kegiatan awal sebelum ke sawah atau biasa juga disebutmappalili’. Setelah kegiatan tersebut selesai dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menyembelih ayam di-teppo.Teppo’ merupakan tempat penampungan air para petani untuk keperluan irigasi. Kegiatan tersebut dilakukan bertujuan agar teppo’ tidak dirusak oleh makhlus halus penunggu tempat tersebut.Setelah diadakan makan bersama di-teppo’. dilanjutkan kegiatan mappalili’ yang merupakan kegiatan awal untuk memulai membajak sawah.Kegiatan tersebut dipimpin oleh pemangku adat (dulung). Setelah kegiatan mappalili’ selesai, kegiatan berikutnya dikembalikan kepada masing- masing petani untuk mulai membajak sawah mereka. Setelah kegiatan membajak sawah selesai, lalu dilanjutkan dengan kegiatan maccalere’, kegiatan maccalere’ dilakukan oleh masing-masing petani setelah sawah mereka sudah dibajak dan siap untuk ditaburi bibit. Setelah semua petani telah melakukan kegiatan maccalere’ atau menabur bibit, dilanjutkan dengan kegiatan mabbissa bungkayang merupakan kegiatan syukuran karena bibit yang telah ditabur telah tumbuh. Pada saat padi berumur sekitar 2 bulan,

(37)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 23 maka dilanjutkan kegiatan sipulungtangnga yang merupakan kegiatan syukuran atau makan bersama dirumah adat (sanggar tani). Selanjutnya setelah padi berumur sekitar 3 bulan atau buah padi telah keluar satu per satu, maka dilakukan kegiatan sipulungcappa’/mabbulo.Kegiatan tersebut merupakan kegiatan syukuran atau makan bersama di rumah adat sawah.

Namun pada kegiatan tersebut dilakukan kegiatan mangappi’ yang merupakan kegiatan memberikan ramuan obat tradisional kepada padi agar terhindar dari hama dan penyakit. Setelah kegiatan tersebut, atau berselang 2 atau 3 minggu, dilanjutkan dengan kegiatan mappasoro’ pada saat padi sudah siap panen. Kegiatan mappasoro’ merupakan kegiatan panen awal yang dipimpin oleh pemangku adat (dulung) sebelum padi dipanen dengan menggunakan mesin pemanen (oto passangking). Setelah kegiatan tersebut selesai maka dilanjutkan kegiatan pesta panen, yaitu kegiatan mallammang yang merupakan kegiatan syukuran karena telah menuai hasil panen.

Mallammangtersebut merupakan kegiatan membuat lemang dengar cara membakar beras ketan yang telah diisi ke dalam bambu dengan campuran santan. Setelah kegiatan mallammang tersebut selesai, keesokan harinya sudah memasuki puncak kegiatan pertanian di Dusun Palita dengan melakukan kegiatan mappadendang dan maddowa’ yang berpusat di rumah adat tani (sanggar tani). Pada puncak kegiatan tersebut, petani melakukan kegiatan massorong di waituo yang merupakan tempat yang disakralkan karena tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya makhlus halus

(38)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 24 (wariala) penjaga alam petanian dan segala aktifitas petani yang berlangsung. Dengan adanya tempat tersebut, maka petani di Dusun Palita tidak kekurangan air yang akan dialiri kesawah, karena waituo dalam bahasa Indonesia berarti mata air. Kegiatan mappadendang merupakan acara puncak setelahmasa panen, dan merupakan wujud tanda terima kasih petani karena telah diberikan hasil panen sesuai yang diharapkan.

A.2. Prosesi dan Makna Simbolik Ritual dalam Penggarapan Sawah Hasil penelitian yang dilakukan Sakti Dian Kumalasari (2009), pada masyarakat petani Adiarsa Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga dalam prosesi aktivitas pertanian terdapat tiga tahapan yakni terdiri dari petungan, mimiti, dan ngelep. Semua bagian tahapan ini tidak terlepas dari ritual-ritual dalam pelaksanaannya dikarenakan masih adanya kepercayaan masyarakat terhadap roh-roh yang menempati lahan pertaniannya sehingga perlu untuk menjaga hubungan dan memberikan sesaji-sesaji agar memperoleh hasil yang baik. pada segi kronologisnya sebenarnya urutan upacara yang dilakukan adalah tulak, mimiti, dan ngelep. Akan tetapi hanya dua tahap terakhir yang masih dipertahankan tahapan pertama tulek jarang lagi dilakukan karena masyarakat Adiarsa merasa malu meletakkan sesaji saat tulak di sawah karena dilihat oleh tetangga dan kyai desa.

Selain itu pada masyarakat adiarsa dalam pelaksanaan ritual juga menggunakan peralatan-peralatan dan hal-hal yang perlu disajikan sebagai simbol-simbol yang menpunyai makna dititnjau secara kejawen dan islam.

(39)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 25 Kepercayaan yang terutama dianut suku Jawa yakni kejawen sejak dulu memang tidak hilang meskipun agama Islam datang, ini dapat kita lihat pada pelaksanaan ritual penggarapan sawah masyarakat adiarsa keduanya saling berbaur dilihat dari simbol-simbol dan pemaknaan masyarakat akan objek tersebut.

Pada tahapan mimiti misalnya masyarakat harus dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar untuk bisa terlibat didalamnya untuk melakukan tahlil dengan maksud berdoa pada Allah dan mencari safaat dari Nabi Muhammad SAW sehingga peserta tahlil harus dalam keadaan suci.

Pada saat pemberian sesaji mimiti, sesaji itu terdiri dari jambe, tembakau, apu, gambir, sirih, dan air putih ini dipercaya masyarakat adiarsa sebagai simbol kesukaan penunggu sawah.

Padi merupakan tanaman utama pada masyarakat adiarsa yang dianggap sebagai sesuatu yang diturungkan sang pencipta oleh karenanya perlakuan terhadapnya harus melalui upacara-upacara/ritual-ritual yang mengagungkan dan menghormati sang pencipta alam dari sebelum melakukan penggarapan sawah hingga selesai, unsur keyakinan menjadi proses penting dalam proses pengelolaan pertanian. Terkait dengan mitos Dewi Sri dipercaya sebagai Dewinya petani yang memberikan kesuburan tanah pada kaum tani. Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa kegiatan pertanian pada masyarakat adiarsa tidak hanya sebagai kegiatan

(40)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 26 pertanian tapi juga sebagai kegiatan religious yaitu memberi penghormatan terhadap Dewi Sri.

Yang berkaitan dengan hasil penelitian penulis dengan penelitian tersebut iyalah, pada penelitian yang dilakukan Sakti Dian Kumalasari tahun 2009 pada masyarakat petani adiarsa dikabupaten purbalingga meneliti tentang aktivitas petani yang terdiri dari tahapan petungan, mimiti, dan ngelep. Semua tahapan tersebut merupakan kegiatan pelaksanaan dalam bentuk ritual dikarenakan masyarakat petani adiarsa masih mempercayai adanya roh-roh penunggu atau penghuni lahan pertanian. Tahapan kegiatan tersebut merupakan cara untuk menjaga hubungan dengan cara memberi sesaji-sesaji (sesajen) kepada mahkluk penunggu tersebut agar petani diberikan hasil panen yang melimpah. Masyarakat adiarsa mengaggap bahwa padi diturunkan oleh sang pencipta, oleh karena itu sebagai bentuk untuk menghormati atau mengagungkan sang pencipta dengan melalui kegiatan upacara atau ritual sebelum melakukan penggarapan sawah hingga pada acara pesta panen. Masyarakat adiarsa juga mempercayai bahwa Dewi Sri merupakan dewinya petani yang memberikan kesuburan tanah bagi kaum tani. Sedangkan pada penelitian saya menjelaskan tentang kepercayaan masyarakat petani dengan hal-hal gaib seperti mahkluk halus yang dapat menjaga segala aktifitas petani serta memperlancar aliran irigasi dan memberikan hasil panen yang melimpah. Kegiatan ritual atau penyembahan sesajen pada masyarakat petani di Dusun Palita dilakukan sebelum memulai

(41)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 27 pembajakan sawah dengan cara massorong di-puata. Kegiatan tersebut merupakan tahapan awal sebelum melakukan kegiatan mappalili yaitu kegiatan awal turun membajak sawah. Pada tahapan kegiatan yang lain di Dusun Palita yaitu kegiatan massorong di-Waituo, kegiatan massorong di- waituo dilakukan setiap ada kegiatan berlangsung dirumah adat (sanggar tani). Waituo tersebut merupakan tempat berkumpulnya mahklus halus (wariala) penjaga lokasi pertanian tersebut. puncak kegiatan di Dusun Palita iyalah kegiatan mappadendang yaitu kegiatan pesta panen yang di hadiri oleh para petani di Dusun tersebut.

B. KONSEP PENELITIAN

B.1. Konsep Tentang Sistem Religi Dan Ilmu Gaib

Salah satu cabang antropologi yang dapat memeberikan gambaran tentang adanya aktivitas religi pada manusia purba adalah ilmu Pre-histori atau Arkeologi. Melalui bukti-bukti ilmu tersebut, ternyata fosil Homo Neandertal yang pernah hidup di Eropa kira-kira 500.000 tahun yang lalu ditemukan dalam posisi terlentang seperti dimakamkan. Petunjuk ini membuktikan bahwa mahkluk tersebut bukan mati seperti binatang. Bahkan disekitar tubuhnya juga ditemukan benda-benda (artefak) yang secara sengaja diletakkan kedalam kuburnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada manusia purba telah ditemukan dasar-dasar aktivitas religi. Penguburan manusia berkaitan dengan adanya keyakinan bahwa ada kehidupan setelah

(42)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 28 kematian. Ada semacam keyakinan, adanya kehidupan di alam baka/alam kubur, Sugen Pujileksono, 2006:84-85).

Pada perkembangannya, Antropologi berusaha mengungkap latar belakang mengapa manusia percaya pada kekuatan supranatural? Mengapa pula manusia melakukan aktivitas-aktivitas yang beraneka ragam untuk melakukan dan mencari hubungan dengan kekuatan supranatural? Mengapa masyarakat yang satu dengan yang lainnya memiliki sistem religi yang berbeda-beda? Bagaimana pula sistem religi mengalami perubahan? Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemudian para Antropolog mencoba mengamati berbagai sistem religi yang ada di muka bumi ini dan kemudian mengklasifikasikan kedalam beberapa konsep. Salah satu hasil dari pengamatan tersebut, kemudian melahirkan pengertian tentang sistem religi (Sugen Pujileksono, 2006:85).

Beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: (a) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa; (b) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya; (c) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi dengan maksud untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka waktu hidup manusia; (d) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena ada kejadian-kejadian luar biasa dalam hidupnya dan dalam alam sekelilingnnya; (e) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi

(43)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 29 karena suatu getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga msyarakat; (f) kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia mendapat suatu firman dari Tuhan ( Koentjaraningrat, 1992:229).

Religi berasal dari kata religare dan relegare (latin). Religare memiliki makna ‘suatu perbuata yang memperhatikan kesungguh-sungguhan dalam melakukannya’. Relegare memiliki arti ‘perbuatan bersama dalam ikatan saling mengasihi’. Kedua istilah ini memiliki corak individual dan social dalam suatu perbuatan religious. Leslie A. White berpendapat bahwa religi atau salah satu unsur yang membentuk religi tersebut, yakni keyakinan (belief) adalah salah satu bagian dari sistem ideology. Sistem tersebut merupakan sslah satu wujud kebudayaan. Dengan demikian, religi merupakan bagian – dari dan terbentuk – dalam ruang lingkup kebudayaan manusia. Bagi Firth (1972: 216) keyakinan belumlah dapat dikatakan sebagai religi apabila tidak diikuti upacara yang terkait dengan keyakinan tersebut.keyakinan dan upacara ialah dua unsur penting alam religi yang saling memperkuat.

Keyakinan meggelorakan upacara dan upacara merupakan upaya membenarkan keyakinan. Menurut Goldschmitdt (1971: 562) upacara mengkomunikasikan keyakinan kepada sekalian orang. Keduanya tidak dapat dipisahkan, yang satu tidak dapat terlepas dari yang lainnya. Namun demikian, untuk memudahkan pengkajian secara antropologis, religi dapat

(44)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 30 dideskripsikan baik melalui aspek keyakinan maupun aspek upacara dengan mengindahkan kesalingtergantungan (Sugeng Pujileksono, 2006:86-87).

Konsep religi yang berkaitan dengan keyakinan dikemukakan oleh Edward B. Taylor yang melihat religi sebagai keyakinan adanya mahkluk halus (belief in spritual being). Konsep umum religi seringkali berkaitan dengan konsep mahkluk halus (spiritual being) dan konsep kekuatan tak nyata (inpersonal power). Mahklus halus diyakini berada disekitar kehidupan manusia, sedangkan kekuatan tidak nyata diyakini memberikan manfaat selain juga menimbulkan kerugian dan bencana (Sugen Pujileksono, 2006:87).

Koentjaraningrat mendefinisikan religi yang memuat hal-hal tentang keyakinan, upacara dan peralatan, sikap dan perilaku, alam pikiran dan perasaan disamping hal-hal yang menyangkut para penganutnya sendiri.

Definisi semacam ini dipengaruhi oleh konsepsi unsure dasar sistem religi yang terdiri dari empat, sebagaimana dijelaskan pada pembahasan berikutnya (Sugen Pujileksono, 2006:87).

Dalam mengidentifikasi keyakinan masyarakat, dapat dikumpulakan data tentang pandangan tentang hidup sesudah mati, konsep tentang sesuatu yang dianggap mahadahsyat, objek keramat dan dihormati. Data berupa upacara dapat dikumpulkan melalui pengamatan terhadap berbagai bentuk upacara seperti, berdoa, bersujud, bersaji, berkorban, makan bersama, menari dan bernyanyi, berprofesi, berseni drama suci, berpuasa,

(45)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 31 bertapa, bersamadi dan intoksinasi (koentjaraningrat, 1992: 262-269).

Pendapat senada dikemukakan oleh Anthony F.C. Wallace, seperti berdoa/sembahyang yang ditujukan kepada yang dikodrati (super-natural), memainkan alat dan memperdengarkan musik yang diringi oleh tarian dan nyanyian tertentu, melakukan perbuatan kinetik tertentu yang menggambarkan keadaan psikis tertentu, memberikan khotbah yang ditujukan kepada orang lain, mengucapkan mantra yang menyangkut mite, moral serta aspek tertentu dari sistem keyakinan, melakukan simulasi, menggunakan atau memakai benda tertentu yang diyakini memilki mana, berpantang tabu / tidak menggunakan atau menyentuh sesuatu, berpesta atau selamatan, berkorban dan menyerahkan sesaji, berkumpul bersama, berprosesi, berbait, atau peralatan simbolis tertentu (Sugen Pujileksono, 2006:87-88).

Tokoh lain, seperti J. van baal melihat religi sebagai sebuah sistem simbol. ‘Religi diartikan sebagai suatu sistem simbol yang dengan sarana tersebut manusia berkomunikasi dengan jagad rayanya. Simbol-simbol itu adalah sesuatu yang serupa dengan model-model yang menjembatani berbagai kebutuhan yang saling bertentangan untuk pernyataan diri dengan penguasaan diri. Bila tujuan (yakni objek yang dikomunikasikan itu) menyerupai sesuatu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lisan, maka simbol-simbol itu berfungsi sebagai perisai yang melindungi

(46)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 32 (menghalangi) seseorang dari kecenderungannya yang amat sangat untuk memperagakannya secara langsung’ (Sugen Pujileksono, 2006:89).

Emile Durkheim mengartikan religi sebagai keterkaitan sekalian orang pada sesuatu yang dipandang sakral yang berfungsi sebagai simbol kekuatan masyarakat dan saling ketergantungan orang-orang dalam masyarakat yang bersangkutan (Sugen Pujileksono, 2006:89).

Religi menurut Myron Bromley, berbeda dengan agama. Religi menekankan bentuk hubungan dengan proyek diluar dari manusia. Objek bersifat polytheis, lokal dan tidak berdasarkan wahyu tertulis. Sebaliknya agama lebih ditekankan pada bentuk hubungan dengan obyek yang bersifat monotheisme, universal dan berdasarkan wahyu tertulis serta teruji dalam sejarah yang panjang. R.N. Bellah (1988) mendefinisikan religi sebagai perangkat bentuk dan tindakan simbolik yang menghubungkan manusia dengan Yang Suci yang menjadi azas dasariah hidup manusia (Sugen Pujileksono, 2006:89).

Bagi orang Baliem (papua), religi adalah ketergantungan dengan objek diluar dirinya (Yang Kuasa) dan juga relasi dengan masyarakat atau lingkungannya. Dalam kehidupan sosio-religi, orang Baliem memiliki hasrat dasariah untuk mencapai keutuhan, kebulatan serta kesempurnaan dengan realitas yang mutlak (walhowak). Walhowak bersifat abstrak, sedangkan hasrat religiusnya sedemikian tinggi, sehingga mreka mencari bentuk-bentuk nyata sebagai lambang penyatuan itu. Wujud konkret tersebut dapat berupa

(47)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 33 benda-benda religi, seperti pusaka warisan leluhur yang menjadi simbol- simbol penting dan dianggap memiliki kekuatan. Kekuatannya mampu menjembatani komunikasi jiwa manusia dengan kekuatan reaksi mutlak (supranatural) kepada realitas nan mutlak (walhowak) dan masyarakat sekelilingnya (Sugen Pujileksono, 2006:89-90).

Berdasarkan definisi religi tersebut, dalam konteks ke-indonesia-an, sebutan religi tidak hanya dikenakan bagi agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dam Konghucu yang memiliki penganut terbesar dan kesemuanya berasal dari ‘luar Indonesia’, tetapi juga terhadap semua keyakinan dan upacara yang dianut oleh masyarkat suku/ indigeneus people/

masyarakat bersahaja/masyarakat terasing. Untuk kepentingan administrasi pemerintahan, Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu disebut disebut sebagai ‘agama’, sedangkan bentuk-bentuk religi yang bersifat lokalitas dan dianut oleh kelompok etnis tertentu disebut dengan

‘kepercayaan’ (Sugen Pujileksono, 2006:90).

Berdasarkan teori asal mula religi, dapat dilihat bahwa masing-masing ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan masing-masing ahli hanya melihat satu aspek dari religi. Namun demikian, dari bentuk-bentuk religi yang ada dimuka bumi ini, paling tidak terdapat lima unsur dasar religi, yaitu: (Sugen Pujileksono, 2006:91-92).

(48)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 34 B.1.a. Emosi Keagamaan

Emosi keagamaan merupakan getaran jiwa yang pernah dirasakan manusia dalam jangka waktu hidupnya yang mendorong berprilaku religi.

Emosi keagamaan yang menjadi dasar dari kelakuan seba religi tersebut menyebabkan munculnya sifat keramat (sacred value) pada kelakuan tersebut. munculnya emosi kegamaan pada diri manusia dapat dikarenakan beberapa hal, diantaranya: keyakinan adanya firman Tuhan, kesadaran akan adanya kekuatan supranatural, adanya mahkluk halus yang berada disekitar tempat tinggalnya, adanya krisis dalam kehidupan, keyakinan adanya gejala- gejala alam yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia (Sugen Pujileksono, 2006:92).

Masyarakat islam yang setiap harinya melakukan ritual sholat (minimal 5 kali) merupakan perwujudan dari keyakinan adanya firman Tuhan yang mewajibkan hambanNya untuk sholat. Dalam terminology Islam, emosi keagamaan ini dapat disejajarkan dengan konsep hidayah. Kelakuan religi sebagian masyarakat Jawa seperti membuang bunga di perempatan jalan pada Kamis Kliwon (malam Jum’at Legi) merupakan salah satu contoh dari emosi keagamaan yang didasarkan keyakinan akan adanya mahkluk halus atau ruh disekitar tempat tinggalnya. Ritual membuang sesaji di lautan (larung) juga merupakan contoh emosi keagamaan yang didasarkan atas keyakinan adanya gejala alam yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia.

Melalui ritual larung, dihrapkan masyarakat di sekitar pantai dapat terhindar

(49)

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 35 dari segala bencana/bahaya dan diberi berkah/hasil panen yang melimpah (Sugen Pujileksono, 2006:92-93).

B.1.b. Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan dalam religi berhubungan dangan banyangan manusia terhadap dunia gaib. Mahkluk dan kekuatan yang dianggap menduduki dinua gaib adalah dewa-dewa (theogoni), mahkluk halus (ruh leluhur, ruh jahat), kekuatan sakti. Konsepsi hidup setelah mati merupakan bentuk dari sistem kepercayaan. Dasar religi orang/suku Dani di Papua adalah penghormatan ruh nenek moyang yang upacaranya dipusatkan pesta babi. Konsep keagamaan yang terpenting adalah atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilinial. Kekuatan sakti ini dapat diturunkan kepada anak-anak pria maupun wanita, namun wanita tidak dapat meneruskannya kepada keturunannya. Kekuatan tersebut dapat digunakan untuk menjaga kebun pemiliknya dengan memasang sesuatu tanda khusus. Orang yang melanggaranya diyakini akan mengalami celaka.

Atou bisa juga mengenai pemiliknya sendiri, apabila pemilik itu melanggar salah satu ajaran atau adat nenek moyangnya. Atou juga dapat dipergunakan untuk menyembuhkan penyakit, menolak bahaya, meyuburkan tanah, member kekuatan, tenaga serta semangat hidup. Menurut keyakinan orang Dani, atou berada dalam nafas manusia, oleh karena itulah menghembuskan nafas adalah tindakan yang sering dipakai dalam usaha meyembuhkan orang sakit, meyadarkan orang pingsan, dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1993:

Referensi

Dokumen terkait

Pusat Khidmat Maklumat Akademik, Universiti Malaysia Sarawak dibenarkan membuat salinan tesis ini sebagai bahan pertukaran antara institusi pengajian tinggi.. ** Sila tandakan (

PERATURAN PERMARKAHAN KERTAS 2 3756/2 Prinsip Perakaunan Kertas 2 2020 2 1/2 jam. PROGRAM GEMPUR KECEMERLANGAN SIJIL PELAJARAN

Hasil pengujian kekerasan menggunakan microhardness tester MATSUZAWA tipe MMT-X7 pada permukaan AlSiCu yang tanpa nitridasi maupun yang dinitridasi untuk berbagai

Menurut Lickona (2010), pengembangan pendidikan karakter di kelas dapat dilakukan dengan: (a) Guru secara individu untuk : bertindak sebagai pemberi perhatian,

Apakah disekitar tempat tinggal ibu/bapak alat kontrasepsi tersedia dengan lengkap (pil, suntik, IUD/AKDR, implan/susuk)b.

Pusat-pusat Pertumbuhan Permukiman di Kawasan Perbatasan Negara Indonesia - Malaysia Paloh -Aruk Jagoi Babang Entikong Jasa Nanga Badau Long Nawang Long Midang Long Pahangai

berpendidikan tinggi masih ada yang kurang berminat ke posyandu disebabkan meskipun pendidikan tinggi dan memiliki kemampuan untuk menyerap informasi lebih banyak dan

Keempat ungkapan dengan nomor tabel di atas termasuk ke dalam ayat uslub al-hakim yang berbentuk pertanyaan yang dijawab pertanyaan, karena pada keempat ungkapan tersebut terdapat