i
LAPORAN AKHIR
RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL KOTA KENDARI
Kerjasama
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENANAMAN MODAL (BAPPEDA DAN PM)
KOTA KENDARI
dengan
LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR
PEKERJAAN:
RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL KOTA KENDARI
DIPERIKSA DAN DISETUJUI OLEH
PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN
DR. RAHAYU. SP, MSc., M.Env.Sc.
NIP. 19730101 200604 2 012
DIAJUKAN OLEH
DR. H. GAMSIR BACHMID, SE., MS.
NIP. 19640801 198803 1 001
MENGETAHUI
KEPALA BAPPEDA DAN PM KOTA KENDARI (SELAKU PENGGUNA ANGGARAN)
ASKAR, S.T., M.Si.
Pembina Gol IV/a NIP. 19710828 200212 1 007
iii DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.
1.1 Maksud dan Tujuan ... Error! Bookmark not defined.
1.2 Manfaat Kegiatan ... Error! Bookmark not defined.
1.3 Output Kegiatan ... Error! Bookmark not defined.
1.4 Metode Pelaksanaan ... Error! Bookmark not defined.
Lingkup Pekerjaan ... Error! Bookmark not defined.
a. Lingkup Wilayah Studi ... Error! Bookmark not defined.
b. Lingkup Kegiatan ... Error! Bookmark not defined.
Jenis Data ... Error! Bookmark not defined.
Sumber Data ... Error! Bookmark not defined.
Teknik Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined.
Teknik Analisa Data ... Error! Bookmark not defined.
2. FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERHATIKAN DALAM PENYUSUNAN RUPM 3. VISI, MISI, TUJUAN, DAN KEBIJAKAN DASAR PENANAMAN MODAL
3.1 Visi dan Misi Penanaman Modal Kota Kendari 2013 – 2025:Error! Bookmark not defined.
3.2 Misi Penanaman Modal Kota Kendari 2013 – 2025:Error! Bookmark not defined.
3.3 Azas Dan Tujuan ... Error! Bookmark not defined.
4. ARAH KEBIJAKAN INVESTASI
4.1 Investasi yang Terencana dan Berwawasan Lingkungan .. Error! Bookmark not defined.
4.2 Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK) Error!
Bookmark not defined.
4.3 Perbaikan Iklim Investasi ... Error! Bookmark not defined.
4.4 Promosi Penanaman Modal... Error! Bookmark not defined.
4.5 Persebaran Penanaman Modal ... Error! Bookmark not defined.
4.6 Pemberian Fasilitas, Kemudahan, dan Insentif Penanaman ModalError! Bookmark not defined.
5. ARAH DAN PANDUAN IMPLEMENTASI PENANAMAN MODAL
5.1 Kondisi Eksisting Penanaman Modal Kota KendariError! Bookmark not defined.
5.2 Ketersediaan Lahan... Error! Bookmark not defined.
5.3 Rencana Penataan Struktur Kota ... Error! Bookmark not defined.
6. PELAKSANAAN
6.1 Kaidah Pelaksanaan RUPM Kota Kendari ... Error! Bookmark not defined.
6.2 Pelaksanaan RUPM Kota Kendari ... Error! Bookmark not defined.
6.3 Tahapan Pelaksanaan ... Error! Bookmark not defined.
7. DAFTAR ACUAN ... Error! Bookmark not defined.
8. LAMPIRAN ... 66
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berkembangnya aktivitas masyarakat sejalan dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah sebagaimana telah diatur dalam Undang- Undang RI Nomor 32 Tahun 2004. Undang-undang ini memberikan peluang bagi Pemerintah Daerah selaku pengelola daerah untuk lebih berperan aktif dalam mengembangkan potensi daerahnya. Persaingan yang semakin tajam dalam era otonomi daerah menuntut pemerintah daerah menyiapkan daerahnya sedemikian rupa untuk menggali potensi ekonomi seoptimal mungkin dan mempunyai ketrampilan dalam pemasaran yang baik, sehingga dapat menarik minat investor baik dari pelaku lokal, nasional maupun internasional.
Peningkatan investasi pada suatu wilayah akan dapat menciptakan peluang munculnya kegiatan-kegiatan usaha lain karena bekerjanya proses yang berpengaruh ganda (multiplier effect), sehingga ekonomi masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai impikasinya posistif dari investasi antara lain adalah meningkatknya kesempatan kerja dan
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 2 peluang terjadinya peningkatan PAD, serta dapat mengurangi angka kemiskinan. Dengan kata lain bahwa investasi dapat menimbulkan multiplier effect bagi kemajuan ekonomi daerah. Manfaat pengembangan investasi
langsung (direct invesment) selain sifatnya jangka panjang juga terjadi adanya transformasi modal, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, akses ke pasar dunia,dan transfer kemampuan manajerial.
Proses pembangunan ekonomi dalam wilayah akan melibatkan kegiatan-kegiatan produksi (barang dan jasa) di semua sektor ekonomi domestik. Untuk keperluan kegiatan-kegiatan tersebut, perlu dibangun pabrik- pabrik, gedung perkantoran, mesin, dan alat-alat produksi. Selain itu juga perlu disiapkan tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM/human capital) yang terampil, untuk pengadaan semua itu, termasuk fasilitas seperti gedung sekolah, perpustakaan dan sebagainya buat mendukung penyiapan SDM, diperlukan dana yang disebut dana investasi (Tambunan, 2000).
Guna memperkokoh perekonomian daerah dan menjamin keberlangsungan dunia usaha, saat ini Pemerintah Kota Kendari berupaya memantapkan stabilitas ekonomi, politik, sosial, dan keamanan serta menjamin penegakan hukum, sehingga dapat berlangsung kegiatan-kegiatan perekonomian daerah yang menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi. Seiring dengan perkembangan ekonomi nantinya, akan diperlukan upaya-upaya penataan kawasan-kawasan pengembangan ekonomi sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah, sehingga akan saling mendukung dalam percepatan dan pemantapan pertumbuhan ekonomi.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 3 Dalam kerangka investasi/penanaman modal, pemerintah pusat telah mengeluarkan Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 tahun 2007 yang menjadi acuan bagi pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, dan merupakan peletakan kebijakan dasar untuk mendorong terciptanya iklim usaha di daerah yang lebih kondusif dalam rangka penguatan daya saing perekonomian daerah, dan mempercepat pengembangan investasi di daerah.
Secara lebih operasional, melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2012 tanggal 7 Februari lalu, pemerintah telah menerbitkan Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM), yang merupakan dokumen perencanaan penanaman modal jangka panjang, dan berlaku sampai dengan 2025. RUPM ini akan menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dalam menyusun kebijakan yang terkait dengan kegiatan penanaman modal. RUPM ini berfungsi untuk mensinergikan dan mengoperasionalisasikan seluruh kepentingan sektoral terkait agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penetapan prioritas sektor-sektor yang akan dipromosikan.
Dalam mencapai tujuan seperti diinginkan oleh Perpres tersebut, diperlukan suatu sinergi dari semua pelaku ekonomi dan pembangunan baik lintas sektoral maupun vertikal (provinsi, kabupaten perbatasan, atau provinsi perbatasan). Singkatnya Kota Kendari harus bisa memanfaatkan posisi strategis sebagai daerah ibukota, yang merupakan pintu masuk dan keluar utama sekaligus pusat berbagai bentuk pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat Sulawesi Tenggara.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 4 Potensi ekonomi Kota Kendari pada umumnya, dan potensi investasi khususnya, yang tersedia pada berbagai sektor ekonomi potensial seperti perdagangan, industri, pengangkutan, jasa-jasa, dan pertanian, di samping harus dikelola agar berkembang ke arah yang sesuai dengan kerangka pengembangan wilayah kota, juga harus dapat dikemas ke dalam seperangkat informasi yang sistematis dan informatif sehingga dapat menarik minat para pelaku ekonomi untuk berkiprah secara optimal dalam pengembangan berbagai potensi ekonomi dimaksud.
Mengingat pentingnya peran investasi dalam pencapaian visi, misi, dan sasaran pembangunan Kota Kendari, dan pada sisi lain sebagai tindak lanjut dan amanah dari Perpres Nomor 16/2012, maka Pemerintah Kota Kendari melalui Badan Perencanaan Pembangunanan Daerah dan Penanaman Modal (BAPPEDA dan PM) Kota Kendari merasa perlu menyiapkan suatu rancangan Rencana Umum Penanaman Modal yang berguna sebagai kerangka acuan/arah kebijakan dalam pembangunan, khususnya pengembangan Investasi di Kota Kendari.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan suatu dokumen perencanaan berupa Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari sebagai dasar pedoman, arah kebijakan, dan kerangka acuan pengembangan investasi di Kota Kendari sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah.
Secara tersirat, kalimat di atas sesungguhnya telah mencakup maksud dan tujuan yang dapat diredefinisi ke dalam suatu kalimat yang lebih rinci sebagai berikut:
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 5
Maksud pekerjaan ini adalah untuk menghasilkan suatu acuan dasar yang dapat menjadi pedoman, petunjuk, maupun arahan dalam upaya pengembangan investasi di Kota Kendari, yang memiliki sinkronisasi dengan kebijakan penataan ruang daerah.
Tujuan pekerjaan ini pada intinya untuk menghasilkan dokumen Rencana Umum sebagaimana dimaksud sebelumnya, sebagai suatu wujud nyata keberadaan acuan dasar sebagaimana pernyataan dalam maksud pekerjaan.
Dalam upaya mencapai maksud dan tujuan pekerjaan Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari, maka dokumen RUPM Kota Kendari ini akan memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Kajian kebijakan sektoral yang berhubungan dengan penanaman modal;
2. Data dan Informasi tentang kondisi fisik dan sosial-ekonomi, dan sosial- budaya, yang terdiri dari data statistik, deskriptif dan gambaran spasial berupa peta;
3. Informasi kondisi penanaman modal dalam sepuluh tahun belakangan, kondisi existing penanaman modal, dan perkiraan pertumbuhan penamaman modal ke depan;
4. Informasi bakal investasi, yang dibagi menjadi informasi bakal investasi yang Unggul, bakal investasi yang Andal, bakal investasi yang Potensial, dan bakal investasi yang masih bisa dijadikan Harapan;
5. Kajian ekonomi, sosial, fisik, dan budaya/perilaku wilayah dalam hubungannya dengan penanaman modal;
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 6 6. Perhitungan-perhitungan forecast jumlah penduduk 20 tehun ke depan, export import, produksi barang dan jasa, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan dan juga degradasi serta inflasi;
7. Penentuan visi, misi, strategi, kebijakan penanaman modal, program pembangunan yang mendukung penanaman modal, hingga rencana kegiatan tahunan sampai akhir tahun perencanaan
Hal-hal di atas selanjutnya dapat diperhatikan sebagai sasaran pekerjaan Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari yang dapat menjadi bahan acuan guna melengkapi arahan-arahan/langkah pelaksanaan pekerjaan, sebagaimana dijelaskan kemudian dalam lingkup pekerjaan ini.
1.3. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan pekerjaan Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari adalah:
Terinventarisasikannya kebijakan sektoral yang berhubungan dengan penanaman modal di Kota Kendari;
Tersedianya Informasi kondisi penanaman modal dalam sepuluh tahun belakangan, kondisi existing penanaman modal, dan perkiraan pertumbuhan penamaman modal ke depan
Tersedianya arahan strategis yang berfokus pada penyusunan prioritas kebijakan pembangunan dan distribusi peran masing-masing stakeholder dalam pelaksanaan pengembangan investasi Kota Kendari;
Ditetapkannya investasi prioritas sesuai dengan potensi, sumber daya alam, dan kondisi geografis Kota Kendari;
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 7
Tersedianya indikasi program-program investasi yang tertata dan terencana untuk mendukung upaya peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat Kota Kendari
Ditetapkannya tahap-tahap pelaksanaan pengembangan investasi yang disertai langkah-langkah aplikatif dan distribusi peran oleh stakeholder dalam pelaksanaan pengembangan pengembangan investasi;
Tersedianya bahan yang dapat digunakan untuk menyusun naskah akademik dalam rangka penyusunan draft Peraturan Walikota tentang RUPM
1.4. OUTPUT KEGIATAN
Output dari kegiatan penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal ini adalah dalam bentuk dokumen yang berisi informasi detail mengenai:
potensi dan kebijakan sektoral yang berhubungan dengan penanaman modal di Kota Kendari; Informasi kondisi existing penanaman modal, dan perkiraan pertumbuhan penamaman modal; arahan strategis penyusunan prioritas kebijakan pengembangan investasi Kota Kendari; prioritas investasi sesuai dengan potensi, sumber daya alam, dan kondisi geografis Kota Kendari; dan bahan yang dapat digunakan untuk menyusun naskah akademik dalam rangka penyusunan draft Peraturan Walikota tentang RUPM yang merupakan bagian dari Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari;
1.5. METODE PELAKSANAAN 1.5.1. Lingkup Pekerjaan
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 8 Lingkup pekerjaan Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari meliputi lingkup wilayah studi dan lingkup kegiatan.
a. Lingkup Wilayah Studi
Wilayah yang menjadi lingkup pekerjaan Rencana Umum Penanaman Modal di Kota Kendari adalah seluruh wilayah kecamatan yakni 10 (sepuluh) kecamatan, yang meliputi Kecamatan Abeli, Baruga, Poasia, Puuwatu, Mandonga, Kambu, Kendari Barat, Kendari, Wua-Wua, Kecamatan Kadia.
b. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan dalam Penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal di Kendari adalah:
a. Melakukan kajian/review terhadap berbagai rencana investasi sektoral yang telah ada di setiap Dinas terkait dan kebijakan pembangunan Kota Kendari lainnya. Rencana Umum Penanaman Modal ini harus menjadi bagian yang terintegrasi dengan kebijakan strategis, spasial, dan sektoral di Kota Kendari.
b. Melakukan identifikasi sub-sektor potensial/komoditas yang dapat menjadi unggulan dalam pengembangan investasi di Kota Kendari.
c. Menginventariasi potensi investasi yang meliputi kekuatan/keunggulan, kelemahan serta hambatan yang dihadapi, sehingga dapat menganalisa dan merencanakan pengembangan kawasan ekonomi seperti kawasan industri, pariwisata, pertanian dan lain-lain sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kendari.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 9 d. Melakukan identifikasi terhadap peluang pengembangan sektor-sektor strategis dan potensial untuk selanjutnya diidentifikasi kebutuhan pengembangan investasinya sehingga dapat memberikan nilai tambah terhadap sumberdaya potensial khususnya yang dimiliki oleh Kota Kendari.
e. Melakukan analisa-analisa bagi pengembangan sektor-sektor strategis terutama yang terkait dengan kebutuhan investasi penunjang, dukungan regulasi, ivestasi infrastruktur dan sektor lainnya yang menjadi tanggung jawab Pemerintah.
f. Menetapkan investasi prioritas sesuai dengan potensi, sumber daya alam dan geografis di Kota Kendari.
1.5.2. Jenis Data
Untuk mencapai maksud dan tujuan penelitian maka diperlukan berbagai informas kualitatif dan kuantitatif, baik lisan maupun secara tertulis (terdokumentasikan). Data tersebut antara lain adalah: Kondisi terkini (gografis, domografis dan sosial ekonomi Kota Kendari); Kebijakan investasi pemerintah pusat; Perda tentang investasi; Arah, strategi pembangunan Kota Kendari;
Potensi/keunggulan Kota Kendari; Kontribusi sektor/komoditi unggulan terhadap perekonomian saat ini dan prospeknya pada masa yang akan datang;
Informasi tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan investasi di Kota Kendari; Infrastruktur yang telah tersedia dan belum tersedia dalam rangka mendukung pengembangan komoditi/sektor unggulan; Asset dan usaha daerah yang dapat didayagunan secara ekonomi.
1.5.3. Sumber Data
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 10 Data yang diperlukan dalam penelitian ini akan diperoleh melalui wawancara, diskusi (FGD), baik formal maupun informal. Data yang bersifat dokumentatif (data sekunder) akan diperoleh pada beragai instansi terkait yakni BPS, Bank Indonesia, Bappeda dan PM Kota dan Provinsi, SKPD terkait dan situs internet.
1.5.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang akan digunakan untuk memperoleh data di atas adalah:
wawancara dan FGD, baik formal maupun non formal, studi kepustakaan yaitu menelaah data yang telah terdokumentasikan oleh lembaga terkait. Beberapa data dapat juga diperoleh melalui situs internet.
1.5.5. Teknik Analisa Data
Setelah data terkumpulkan maka dilakukan sortir data. Sortir data adalah kegiatan untuk memilah-milah data yang relevan dan data yang kurang relevan bahkan mungkin tidak bermanfaat dalam penelitian namun terikut dalam proses pengumpulan data sekunder. Selanjutnya data yang telah terpilah dianalisis dan kemudian disajikan secara deskriptif dan obyektif.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 11
BAB II
FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERHATIKAN DALAM PENYUSUNAN RUPM (MENURUT PERPRES 16/2012)
Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2012 tanggal 7 Februari lalu, telah menerbitkan Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM), yang merupakan dokumen perencanaan penanaman modal jangka panjang, dan berlaku sampai dengan 2025. RUPM ini akan menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dalam menyusun kebijakan yang terkait dengan kegiatan penanaman modal.
“RUPM berfungsi untuk mensinergikan dan mengoperasionalisasikan seluruh kepentingan sektoral terkait agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penetapan prioritas sektor-sektor yang akan dipromosikan,” bunyi dalam pendahuluan RUPM yang terlampir dalam Perpres tersebut, seperti dikutip dari website setkab. go.id.
Sementara pada Pasal 4 Ayat 1 dan 2 Perpres No. 16/2012 disebutkan, pemerintah provinsi menyusun Rencana Umum Penanaman Modal Provinsi (RPUMP) yang mengacu pada RUPM dan prioritas pengembangan potensi provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 12 Rencana Umum Penanaman Modal Kabupaten/Kota yang mengacu pada RUPM, RPUMP dan prioritas pengembangan potensi kabupaten/kota.
Perpres No. 16/2012 tentang RUPM ini juga menegaskan adanya pemberian fasilitas, kemudahan, dan intensif penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian fasilitas, kemudahan dan/atau insentif ini dievaluasi secara berkala oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dengan melibatkan Kementerian/LPNK dan Pemda terkait.
Pasal 6 Perpres No. 16/2012 tersebut juga mengamanatkan untuk secara berkala dilakukan evaluasi terhadap RUPM yang telah disusun, yakni paling sedikit 1 (satu) kali setiap 2 (dua) tahun. Oleh karena itu, masing- masing propinsi/kabupaten/kota, perlu menyediakan sumberdaya untuk kegiatan evaluasi minimal sekali dalam dua tahun. Evaluasi ini dilakukan untuk menyesuaikan RUPM yang disusun dengan perubahan yang mungkin tidak dapat diperkirakan pada saat penyusunan awal RUPM.
Dalam RUPM ini disebutkan, perlunya lembaga koordinasi penanaman modal kementerian teknis/sektor terkait, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota memiliki visi yang sama mengenai pembagian urusan pemerintahan di bidang penanaman modal, pelimpahan dan pendelegasian kewenangan di bidang penanaman modal, serta koordinasi yang efektif di antara lembaga-lembaga tersebut.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 13 Pemerintah mendorong pembangunan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PSTP) di bidang penanaman modal yang lebih efektif dan akomodatif terhadap penanaman modal dibandingkan dnegan sistem-sistem perizinan sebelumnya. Hal ini akan memberikan suatu kepastian dan kenyamanan berusaha, sehingga mendukung iklim penanaman modal yang kondusif.
RUPM juga menegaskan, agar pengaturan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.
Sementara bidang usaha yang terbuka ditetapkan dengan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan sumber daya alam, perlindungan dan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi, peningkatan partisipasi modal dalam negeri, serta kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk oleh pemerintah.
“Bidang-bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan harus jelas dapat diidentifikasi dan tidak menimbulkan multi tafsir,” bunyi poin empat Perbaikan Iklim Penanaman Modal dalam RUPM.
RUPM ini juga mendorong persebaran penanaman modal dengan pengembangan sentra-sentra ekonomi baru di luar Pulau Jawa; pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal yang mendorong
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 14 pertumbuhan penanaman modal di luar Pulau Jawa; pengembangan pusat- pusat pertumbuhan strategis melalui pendekatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia (KEI); pengembangan sumber energi yang bersumber dari energi baru dan terbarukan di luar Pulau Jawa; dan percepatan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dengan mengembangkan pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) dan non KPS.
RUPM juga menetapkan bidang pangan, infrastruktur dan energi sebagai isu strategis yang harus diperhatikan dalam pengembangan kualitas dan kuantitas penanaman modal. Arah kebijakan pengembangan penanaman modal pada bidang pangan, infrastruktur dan energi harus selaras dengan upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan, mandiri, serta mendukung kedaulatan Indonesia.
Sasaran penanaman modal bidang pangan dilakukan untuk mewujudkan: i) swasembada beras berkelanjutan; ii) swasembada dan pengekspor jagung berdaya saing kuat; iii) mengurangi ketergantungan impor dan swasembada kedelai; iv) swasembada gula berkelanjutan; dan seterusnya.
Adapun arah kebijakan pengembangan penanaman modal bidang pangan dilaksanakan di anatarnya melalui pengembangan tanaman pangan berskala besar (food estate) diarahkan pada daerah-daerah di luar Pulau Jawa. (setkab. go.id).
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 15
BAB III
VISI, MISI, TUJUAN, DAN KEBIJAKAN DASAR PENANAMAN MODAL KOTA KENDARI
3.1. VISI DAN MISI PENANAMAN MODAL KOTA KENDARI 2013 – 2025:
“MEWUJUDKAN PENANAMAN MODAL YANG BERDAYA SAING TINGGI, MANDIRI, DAN MENJADI PENGGERAK UTAMA PEREKONOMIAN DAERAH.”
3.2. MISI PENANAMAN MODAL KOTA KENDARI 2013 – 2025:
1. Meningkatkan infrastruktur di semua sektor yang menunjang untuk menjadikan Kota Kendari sebagai salah satu tujuan utama penanaman modal di wilayah Sulawesi dan Indonesia.
2. Meningkatkan iklim kondusif yang berdaya saing tinggi sesuai persepsi para stakeholders penanaman modal bagi upaya mempercepat pengembangan dan peningkatan penanaman modal di Kota Kendari.
3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penanaman modal untuk mewujudkan Kota Kendari sebagai daerah nyaman bagi penanaman modal di wilayah Sulawesi.
4. Mengembangkan semua potensi yang ada dalam desain penanaman modal yang menarik untuk mewujudkan peran investasi sebagai kontributor terbesar dalam pertumbuhan dan penggerak utama perekonomian daerah.
3.3. AZAS DAN TUJUAN
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 16 Penanaman modal daerah Kota Kendari diselenggarakan berdasarkan azas:
a. kepastian hukum;
b. keterbukaan;
c. akuntabilitas;
d. perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara berdasarkan ketentuan perundang-undangan;
e. kebersamaan;
f. efisiensi berkeadilan;
g. berkelanjutan;
h. berwawasan lingkungan;
i. kemandirian; dan
j. keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi daerah.
Sedangkan tujuan penyelenggaraan penanaman modal, antara lain untuk:
a. meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah;
b. menciptakan lapangan kerja;
c. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan;
d. meningkatkan daya saing dunia usaha nasional;
e. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi daerah;
f. mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan dan peran usaha mikro, kecil, menengah (UMKM);
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 17 g. mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri; dan
h. meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3.4. Kebijakan Dasar
Dalam rangka mendorong, meningkatkan, dan memajukan kegiatan penanaman modal, maka pemerintah darah menetapkan kebijakan dasr penanaman modal untuk:
a. mendorong terciptanya iklim usaha daerah yang kondusif bagi kegiatan penanaman modal dalam rangka penguatan daya saing daerah dalam perekonomian nasional dan global; dan
b. mempercepat peningkatan realisasi penanaman modal daerah.
Dalam menetapkan kebijakan dasar tersebut, pemerintah daerah memegang prinsip:
a. memberi perlakuan dan peluang yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional, menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal, sejak proses perizinan sampai berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;
b. membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi;
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 18 c. mengidentifikasi potensi sumberdaya daerah yang hasilnya disajikan dalam bentuk peta investasi daerah dan petunjuk tentang potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan kelembagaan;
d. mengidentifikasi dan menyusun daftar pengusaha mikro, kecil, menengah, dan besar dalam rangka program kemitraan;
e. menyusun program pengembangan penanaman modal daerah sesuai dengan program pembangunan daerah;
f. menetapkan bidang usaha unggulan yang menjadi prioritas sesuai potensi dan daya dukung daerah, dalam bentuk daftar bidang usaha unggulan daerah;
g. menetapkan bidang-bidang usaha yang tertutup mutlak untuk penanaman modal, tertutup untuk Penanaman Modal Asing, dan bidang-bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan tertentu;
h. menyusun profil-profil proyek penanaman modal atas bidang-bidang yang terbuka dengan persyaratan tertentu;
i. menyusun profil-profil investasi proyek kemitraan;
j. menetapkan kebijakan pemberian insentif, dan kemudahan penanaman modal di daerah;
k. melaksanakan pelatihan dan penyusunan teknis dan bisnis bagi usaha kecil dan menengah;
menyelenggarakan kewenangan lain di bidang kebijakan dan perencanaan pengembangan penanaman modal yang belum ditetapkan, sepanjang tidak bertentangan dengan kebjakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi.
3.5. Ketentuan Umum
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 19 Dalam kerangka Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari, terdapat beberapa ketentuan umum yang berfungsi sebagai batasan atau definisi operasional, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan penggunaan dan penanaman modal untuk melakukan kegiatan usaha, baik oleh penanam modal (investor) dalam negeri maupun investor asing;
b. Penanaman modal dalam negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia, yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri;
c. Penanaman modal asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri
d. Penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan penanaman modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing
e. Penanam modal dalam negeri adalah perseorangan warga negara Indonesia, badan usaha Indonesia, negara Republik Indonesia, atau daerah yang melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 20 f. Modal adalah aset dalam bentuk uang atau bentuk lain yang bukan uang yang dimiliki oleh penanam modal yang mempunyai nilai ekonomis
g. Modal asing adalah modal yang dimiliki oleh negara asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, badan hukum asing, dan/ atau badan hukum Indonesia yang sebagian atau seluruh modalnya dimiliki oleh pihak asing
h. Modal dalam negeri adalah modal yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia, perseorangan warga negara indonesia, atau badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum
i. Pajak daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat j. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah
pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan k. Pemberian Insentif adalah dukungan dari Pemerintah Daerah
kepada penanam modal dalam rangka mendorong peningkatan penanam modal di daerah
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 21 l. Pemberian Kemudahan adalah penyediaan fasilitas dari Pemerintah Daerah kepada penanam modal untuk mempermudah setiap kegiatan penanaman modal dalam rangka mendorong peningkatan penanaman modal di daerah
m. Kawasan Industri Kendari, yang selanjutnya disingkat KIK adalah Kawasan Industri yang dikelola oleh Pemerintah Daerah n. Pengaturan dan Disinsentif adalah pencegahan, pembatasan,
pengurangan dan pengaturan kegiatan perizinan dan non perizinan dari Pemerintah Daerah kepada penanam modal dalam rangka mengurangi dampak lingkungan dan persaingan usaha tidak sehat di daerah
o. Pelayanan terpadu satu pintu adalah kegiatan penyelenggaraan suatu perizinan dan non perizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 22
BAB IV
ARAH KEBIJAKAN INVESTASI
4.1. Investasi yang Terencana dan Berwawasan Lingkungan
1. Menetapkan bidang pangan, infrastruktur, dan pelayanan jasa sebagai isu strategis dalam penyediaan dan pengembangan kualitas dan kuantitas investasi dan penanaman modal.
2. Menentukan wilayah yang dikembangkan dengan mempertimbangkan isu strategis sebagai Fokus Pembangunan wilayah Kota Kendari yang sejalan RUTR Provinsi Sulawesi Tenggara dan Nasional.
3. Sinergi dengan kebijakan dan program pembangunan lingkungan hidup, khususnya program pengurangan emisi gas rumah kaca dan pencegahan kerusakan keanekaragaman hayati.
4. Peningkatan penggunaan teknologi dan proses produksi yang ramah lingkungan secara lebih terintegrasi, dari aspek hulu hingga aspek hilir;
5. Pengembangan wilayah yang memperhatikan tata ruang dan daya dukung lingkungan.
4.2. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK) 1. Kebijakan dasar investasi dan penanaman modal diarahkan pada pemberdayaan dan perlindungan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK).
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 23 2. Pemberdayaan UMKMK harus ditunjang oleh pembangunan pada
sektor primer, sekunder, dan tersier menuju pengembangan ekonomi hijau (green economy).
3. Memperkuat kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang responsif dan adaptif terhadap kebutuhan pasar, pemanfaatan hasil inovasi dan penerapan teknologi.
4. Mendorong peningkatan UMKMK menjadi usaha dengan skala lebih besar.
5. Memperkuat keterkaitan UMKMK dengan mitra strategis dalam berbagai bidang usaha.
4.3. Perbaikan Iklim Investasi
1. Penguatan Kelembagaan Badan Pelayanan Perizinan investasi dan Penanaman Modal Kota Kendari.
2. Pengaturan arah kebijakan prioritas pembangunan yang dapat menjamin peningkatan produktivitas dan inovasi secara berkelanjutan.
3. Pengaturan Perizinan dan Non Perizinan yang mempertimbangkan klasifikasi wilayah dalam rangka mendorong persebaran dan pemerataan investasi dan penanaman modal.
4. Pengaturan Persaingan Usahadan jaringan mitra strategis investasi dan penanaman modal.
5. Pengaturan kegiatan investasi dan penanaman modal yang strategis dan berkualitas, dengan menekankan pada peningkatan nilai tambah, peningkatan penanaman modal di sektor prioritas dan pengembangan wilayah.
4.4. Promosi Penanaman Modal
1. Promosi penanaman modal melalui penyebarluasan informasi potensi dan peluang penanaman modal secara terfokus, terintegrasi, dan berkelanjutan.
2. Penguatan image building sebagai daerah tujuan penanaman modal.
3. Pengembangan strategi promosi yang lebih fokus, terarah dan inovatif.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 24 4. Kegiatan promosi dilaksanakan untuk pencapaian target investasi yang
telah ditetapkan.
5. Peningkatan peran koordinasi promosi penanaman modal.
6. Penguatan peran fasilitasi hasil kegiatan promosi secara proaktif
4.5. Persebaran Penanaman Modal
1. Pengembangan pusat-pusat ekonomi, klaster-klaster industri dan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Kota Kendari.
2. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan strategis.
3. Pengembangan sumber energi yang bersumber dari energi baru &
terbarukan.
4. Pengembangan investasi tidak mengorbankan wilayah produktif untuk sektor riil dengan mempertimbangkan efisiensi dan ketersediaan sumberdaya.
5. Percepatan pembangunan infrastruktur perkotaan dengan menembangkan pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) dan non KPS yang diintegrasikan dengan rencana penanaman modal untuk sektor tertentu yang strategis .
4.6. Pemberian Fasilitas, Kemudahan, dan Insentif Penanaman Modal 1. Pemberian Insentif dan sangksi untuk mendorong daya saing dan iklim
yang kondusif untuk berinvestasi.
2. Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif investasi dan penanaman modal diberikan untuk Industri Pionir dan Prioritas Tinggi.
3. Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif investasi dan penanaman modal yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup.
4. Pemerintah daerah dapat memberikan insentif berupa pajak daerah dan kemudahan lainnya.
5. Fasilitas insentif dan kemudahan dari daerah (PP NO. 45 TAHUN 2008) :
PTSP di bidang penanaman modal.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 25
Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik.
Pengurangan, keringanan, atau pembebasan pajak daerah.
Pengurangan, keringanan, atau pembebasan retribusi daerah.
Pemberian dana stimulan; dan/atau
Pemberian bantuan modal.
Penyediaan data dan informasi peluang penanaman modal.
Penyediaan sarana dan prasarana.
Penyediaan lahan atau lokasi.
Pemberian bantuan teknis; dan/atau
Percepatan pemberian perizinan.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 26
BAB V
ARAH DAN PANDUAN IMPLEMENTASI PENANAMAN MODAL
5.1. Kondisi Eksisting Penanaman Modal Kota Kendari
Kegiatan penanaman modal yang dilaksanakan selama ini di Kota Kendari telah menjadi penggerak utama terjadinya peningkatan produksi sektoral yang kemudian secara kumulatif menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dan selalu berada di atas nasional dan provinsi, yakni di atas 10 persen rata-rata per tahun selama 4 tahun terakhir (2008 – 2011). Secara rinci, pertumbuhan produksi masing-masing sektor penanaman modal di Kota Kendari terlihat pada tabel berikut:
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 27 Tabel 1.
Pertumbuhan Produksi Masing-Masing Sektor Penanaman Modal Atas Dasar Harga Konstan, Periode 2008 – 2011 (Persen)
No. Sektor Penanaman Modal
Laju Pertumbuhan (%) Rata- Rata 2008 2009 2010 2011
1 Pertanian, Peternakan, Perikanan, Kehutanan
9,35 7,19 4,3 3,28 6,03 2 Pertambangan dan
Penggalian
23,75 11.13 11,25 11,18 14,33 3 Industri Pengolahan 13,23 19,84 8,76 10,72 13,14 4 Listrik dan Air Bersih 6,86 18,47 10,97 7,95 11,06 5 Konstruksi/Bangunan 10,21 9,27 12,68 18,59 12,69 6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran
11,52 12,32 10,74 11,08 11,41
7 Pengangkutan 10,01 13,57 9,9 8,37 10,46
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
13,10 12,20 18,23 19,32 15,69
9 Jasa-Jasa 7,51 8,29 4,24 3,39 5,86
Sumber: Kota Kendari Dalam Angka 2013 (diolah)
Mengacu pada informasi yang tersaji pada Tabel 1 nampak bahwa lima besar sektor penanaman modal yang mengalami pertumbuhan pesat dan konsisten selama 4 tahun terakhir adalah berturut-turut: sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; sektor pertambangan dan penggalian;
menyusul sektor industri pengolahan; sektor konstruksi/bangunan; dan di posisi kelima adalah perdagangan, hotel, dan restoran.
Sektor-sektor penanaman modal ini dalam kurun waktu sampai 2025 diperkirakan akan tetap menjadi unggulan dan memiliki peluang yang sangat besar untuk terus berkembang, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang potensinya relatif kecil.
Sektor lain seperti pengangkutan, listrik dan air bersih, serta pertanian khususnya pertanian tanaman pangan, perikanan dan peternakan, juga tetap menjanjikan sebagai sektor penanaman modal yang memiliki potensi untuk berkembang.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 28 Oleh karena itu, berbagai kebutuhan dalam rangka penyediaan iklim yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan penanaman modal pada masing- masing sektor tersebut harus terus menjadi prioritas.
5.2. Ketersediaan Lahan
Faktor pendukung utama terlaksananya penanaman modal baru maupun perluasan secara fisik adalah ketersediaan lahan. Kebutuhan terhadap lahan untuk investasi awal atau untuk perluasan investasi, termasuk ketersediaan lahan secara tepat berdasarkan pertimbangan lokasi, sering menjadi faktor kurang mendukung bagi upaya pengembangan penanaman modal. Hal ini terutama terjadi pada daerah-daerah yang secara fisik memiliki kawasan yang tidak luas.
Berdasarkan data penggunaan lahan diperoleh informasi bahwa lahan yang berstatus sementara tidak dimanfaatkan terdapat sebanyak kurang lebih 10 persen dari total luas lahan yang ada di Kota Kendari. Lahan yang sementara tidak diusahakan tersebut tersebar hampir secara merata di seluruh kecamatan, namun secara proporsional terdapat lebih banyak pada kecamatan yang wilayahnya relatif luas, seperti terlihat pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2.
Persebaran Lahan Potensil Untuk Kebutuhan Perluasan Penanaman Modal Di Kota Kendari Tahun 2012 (Ha)
No. Kecamatan Luas Lahan (Ha) %
1. Mandonga 192,4 6,78
2. Baruga 444,2 15,65
3. Puwatu 367,6 12,95
4. Poasia 349,4 12.31
5. Abeli 405,8 14,29
6. Kambu 227,9 8,03
7. Kadia 108,6 3,82
8. Wua-Wua 180,4 6,35
9. Kendari 253,5 8,93
10. Kendari Barat 309,2 10,89
Total 2.839 100,00
Sumber: Kota Kendari Dalam Angka 2013 (diolah)
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 29 Di samping lahan dengan status sementara tidak digunakan seperti terlihat pada tabel di atas, lahan yang potensil untuk investasi juga bisa berasal dari proses pergeseran penggunaan lahan, yang jumlahnya sangat ditentukan oleh pertimbangan ekonomi para pemilik lahan. Informasi ini mengindikasikan bahwa untuk kepentingan pengembangan kegiatan penanaman modal sampai pada tahun 2025, ketersediaan lahan cukup memadai.
Sektor penanaman modal yang lazimnya membutuhkan lahan lebih luas misalnya industri pengolahan, sesuai dengan arahan RTRW Kota Kendari diarahkan untuk dikembangkan pada wilayah kecamatan yang juga memiliki potensi lahan belum dimanfaatkan cukup luas, yakni Kecamatan Abeli dan Baruga seperti nampak pada Tabel 2 di atas.
Secara lebih rinci, kebutuhan penggunaan lahan Kota Kendari direncanakan (sesuai dengan RTRW) sebagai berikut:
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 30 Tabel 3.
Rencana Komposisi Penggunaan Lahan Kota Kendari
No. Pola Ruang Luas Ha
1 Campuran 519,94
2 Fasilitas Pelayanan 301,54
3 Hutan Kota 168,97
4 Hutan Lindung 3.561,86
5 Industri Terpadu 598,26
6 Industri terbatas 29,131
7 Kawasan Hutan produksi terbatas 3.132,95
8 Kawasan Pariwisata 1.304,63
9 Kawasan Pertanahan dan Keamanan
6,39
10 Komersial 1.103,36
11 Pelabuhan 179,29
12 Pemerintahan 680,40
13 Perkantoran 85,25
14 Pertanian Lahan Basah 537,73
15 Pertanian Lahan Kering 732,31
16 Perumahan Pedesaan 339,64
17 Perumahan Perkantoran 10.392,68
18 Sempadan Sungai 48,44
19 Taman BWK 7,28
20 Taman Kecamatan 33,28
21 Taman Kota 337,57
22 Taman Wisata Alam 2.577,30
23 Zona kepentingan Pariwisata 870,11
24 Zona Kepentingan Pariwisata &
nelayan
1.426,02
25 Zona kepentingan Pelabuhan 1.503,28
Total 30.739,78
5.3. Rencana Penataan Struktur Kota
Arah pengembangan kegiatan penanaman modal Kota Kendari sampai pada tahun 2025, juga mutlak dikaitkan dengan rencana penataan dan pengembangan struktur Kota Kendari pada Tahun 2025 mendatang yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Pengembangan pusat-pusat kegiatan skala besar yang telah berkembang di pusat kota, pusat pendidikan tinggi dan pemerintahan, maupun pusat-pusat kegiatan primer baru yang akan dikembangkan yaitu kawasan pelabuhan, kawasan industri
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 31 dan kawasan CBD. Pengembangan pusat primer akan menjadi magnet pertumbuhan kota yang tersebar di Kota Kendari.
Pengembangan Pusat Kota dan CBD. Pusat Kota Kendari yang akan dikembangkan sebagai pusat pemerintahan, permukiman, perdagangan dan jasa akan menyatu dengan kawasan CBD sehingga akan menjadi pusat kegiatan perkotaan skala besar
Perkembangan kawasan pendidikan tinggi dan pusat pemerintahan provinsi. Kawasan Pendidikan Tinggi dan Pemerintahan Provinsi akan Berfungsi sebagai simpul primer di selatan Kota Kendari dan berkembang sebagai pusat permukiman perkoataan baru dalam skala besar.
Pengembangan kawasan pelabuhan Pulau Bungkutoko dan Kawasan Industri. Kawasan Pulau Bungkutoko dikembangkan sebagai kawasan pelabuhan barang dan penumpang skala regional dan internasional.Fungsi tersebut menajdikan Pulau Bungkutoko menjadi pusat primer di kawasan timur Kota Kendari. Kawasan Industri sebagai kegiatan yang akan tumbuh sejalan dengan berfungsinya pelabuhan container Pulau Bungkutoko, akan menjadi kawasan yang memiliki kesatuan fungsional yang membentuk satu pusat pertumbuhan skala besar di kawasan Timur.
Pengembangan Kota Lama. Kota lama memiliki nilai historis bagi Kota Kendari, fungsinya tetap dipertahankan dan dijaga dari kemungkinan terdegratasinya fungsi ekonomi sebagai akibat pengembangan kawasan pelabuhan di Pulau Bungkutoko. Dengan tetap mempertahankan fungsinya, Kota Lama tetap akan menjadi simpul pusat kegiatan penting di kawasan timur Kota Kendari sebelah utara
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 32
Kawasan Terminal. Kawasan Terminal yang berada di persimpangan Jalur Regional, akan menjadi simpul pertumbuhan baru di selatan Kota Kendari. Lokasinya yang cukup strategis, dengan dukungan aksebilitas kawasan terminal akan menjadi pilihan potensial bagi pengembangan kawasan permukiman baru di bagian selatan Kota.
Pengembangan Sistem Transportasi. Sistem transportasi memiliki fungsi strategis dalam pembentukan struktur ruang kota. Hubungan fungsional antar pusat pertumbuhan diwujudkan dengan pengembangan pola jaringan jalan yang terhirarki dan terstruktur mengikuti hirarki struktur pusat pertumbuhan yang akan dibentuk.
Pengembangan pola jaringan yang tepat berdasarkan hirarki, menjadi faktor pendorong berfungsinya sistem pusat pelayanan.
2. Pertimbangan aspek daya dukung lingkungan.
Untuk mempertahankan dan menjaga perkembangan di kawasan sekitar teluk akibat dari perkembangan yang tidak terkendali, maka perlu dilakukan upaya-upaya preventif yaitu melalui pengembangan kawasan teluk yang terpola dan terencana.Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan skala besar disekitar kawasan teluk, perlu memperhatikan aspek lingkungan agar tidak menurunkan kualitas perairan kawasan teluk.
Tujuan dari kebijakan struktur tata ruang Kota Kendari adalah untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan, pelayanan dan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah dengan mempertahankan keseimbangan lingkungan dan ketersediaan sumber daya daearah.
Kebijakan pengembangan Struktur Kota Kendari meliputi:
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 33 1. Pengembangan pusat kota yang diarahkan untuk kegiatan perkantoran, perdagangan, jasa, pemerintahan dan kawasan permukiman.
2. Pusat pemerintahan provinsi dan kawasan perguruan tinggi sebagai magnet pertumbuhan baru di bagian selatan Kota Kendari sebagai pusat pengembangan kawasan permukiman baru di selatan Kota Kendari.
3. Pemindahan pelabuhan ke Pulau Bungkutoko yang akan memiliki kapasitas pelayanan terhadap banrang dan penumpang.
Pengembangan pelabuhan ini akan memiliki dampak terhadap pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi skala besar di sekitar Pulau Bungkutoko.
4. Pengembangan kawasan industri skala besar di Kecamatan Abeli sebagai antisipasi tumbuhnya permintaan kawasan industri sejalan dengan berfungsinya pelabuhan container di Pulau Bungkutoko.
5. Pengembangan terminal Tipe A, akan mendorong pertumbuhan kawasan disekitarnya.
6. Revitalisasi kota lama, untuk menghindari terdegradasinya fungsi ekonomi kawasan akibat pemindahan pelabuhan container ke Pulau Bungkutoko.
7. Pengembangan kawasan teluk sebagi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan kegiatan perdagangan, jasa dan pariwisata sebagai fungsi yang dikembangkan. Pengembangan kawasan teluk memperhatikan aspek lingkungan yang memiliki tingkat sensitfitas tinggi terhadap kegiatan perkotaan.
8. Mempertahankan kawasan di Kecamatan Puuwatu dan Mandonga sebagai pusat kegiatan pertanian, dan dikembangkan sebagai pusat kegiatan agrowisata dan pusat kegiatan wisata alam.
9. Pengembangan pusat-pusat kegiatan sekunder pada pusat-pusat kecamatan.
Rencana pengembangan Kota Kendari sesuai dengan Perda.
Nomor 1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 34 Kendari tahun 2010 - 2030 dibagi dalam 5 (lima) zona strategis yang memiliki muatan RPJMD dan Kebijakan Rencana Program sebagai berikut :
1. Kawasan Strategis Pusat Pemerintahan, Kawasan Pusat Bisnis (CBD)/Kawasan Strategis Ekonomi dan Lingkungan, yang mencakup Pusat Kegiatan Pemerintahan Kota Kendari, Pusat Perdagangan dan Jasa, Pusat Olah Raga dan sekitar Pantai Teluk Bagian Barat untuk Kegiatan Pariwisata Teluk dan Religi, Hutan Kota, Taman Kota, Daerah Sempadan Sungai, RTH, Daerah Resapan, Tahura serta Permukiman (penunjang).
2. Kawasan Strategis Kota Lama (sosial dan budaya), yang mencakup Kegiatan Pariwisata Teluk dan Religi terutama pada sepanjang pantai utara Teluk Kendari dan sebagai Wilayah Penyangga Pusat Kota dan sebagai Kawasan Perdagangan & Jasa, Perkantoran, Perhotelan, Heritage, Transportasi Laut, Hutan Kota, Tahura, Perumahan Kavling Besar (mewah) serta Permukiman.
3. Kawasan Strategis Pelabuhan dan Industri (pelabuhan regional), yang mencakup Kawasan Pelubuhan Kontainer Bungkutoko, Pusat Kegiatan Industri (terutama Agro-Industri, Perikanan Laut, Industri Kelautan, Industri berat logam dan kimia). Pusat Budidaya laut dan Pusat Kegiatan Pariwisata Bahari dengan Permukiman Nelayan sebagai penunjang, Daerah Resapan Air dan Tahura.
4. Kawasan Strategis Pemerintahan Propinsi dan Pendidikan Tinggi (pusat pertumbuhan), yang meliputi Pusat Pemerintahan Propinsi dan Perkantoran Umum, Pusat Pendidikan, Pusat Kesehatan dan Pusat Perdagangan Regional ditunjang dengan pasar grosir, Taman Wisata Alam, Kebun Raya dan Taman Marga Satwa termaksud didalamnya kawasan bumi praja yang direncanakan untuk Pengembangan Pemukiman berkepadatan rendah. Sebagian besar Kawasan Anduonohu ini adalah pengembangan pemukiman sebagai Kawasan Perluasan Kota.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 35 Pada bagian lainnya lagi untuk penghijauan yang berfungsi Kawasan Lindung, Hutan Produksi terbatas (hutan rakyat) dan Perkebunan.
5. Kawasan Terminal Baruga (terminal type A), yang meliputi Pusat Transportasi Regional, Pusat Industri Kerajinan, Pusat Agro-Industri, Peternakan. Sebagian besar kawasan ini berfungsi untuk Pengembangan Pemukiman, juga untuk Penghijauan berupa Hutan Kota.
Mengacu pada potensi wilayah dan arahan RTRW Kota Kendari 2010- 2030, maka rencana pengembangan kegiatan penanaman modal diarahkan pada masing-masing wilayah dan sektor penanaman modal sebagai berikut:
Tabel 4.
Prioritas Pengembangan Kegiatan Penanaman Modal Masing- Masing Kecamatan Di Kota Kendari (2013-2025)
No. Kecamatan Sektor Penanaman
Modal Prioritas
1. Mandonga - Perdagangan
- Transportasi - Agribisnis - Agrowisata
2. Baruga - Perdagangan
- Transfortasi - Industri
- Jasa-jasa Umum
3. Puwatu - Perdagangan
- Transportasi - Agribisnis - Agrowisata
4. Poasia - Perdagangan
- Jasa-jasa
- Industri Pariwisata
5. Abeli - Industri
- Perdagangan
6. Kambu - Pemerintahan
- Perdagangan dan jasa - Pendidikan Tinggi - Agrowisata/Agribisnis
7. Kadia - Pemerintahan
- Perdagangan dan jasa - Pariwisata
8. Wua-Wua - Pemerintahan
- Perdagangan dan jasa - Pariwisata
9. Kendari - Transportasi Laut
- Pergudangan
10. Kendari Barat - Transportasi Laut
- Perdagangan - Pariwisata
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 36 Dalam rangka implementasi kegiatan penanaman modal, dan mengacu pada peta panduan yang telah ditentukan, baik secara nasional maupun provinsi, seperti tertera pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 dan Peraturan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 19 Tahun 2012, maka ditentukan 4 (empat) fase rencana penanaman modal Kota Kendari dari tahun 2013 hingga 2025. Masing-masing fase berisikan implementasi RUPM jangka pendek sehingga jika diakumulasikan, maka keempat fase tersebut akan memuat implementasi RUPM dalam jangka panjang. Adapun penjabaran masing-masing fase dalam RUPM Kota Kendari, adalah sebagai berikut:
A. Fase I : Pengembangan Penanaman Modal Yang Relatif Mudah Dan Cepat Menghasilkan (Quickwins And Low Hanging Fruits).
Implementasi fase I dimaksudkan untuk mencapai prioritas penanaman modal jangka pendek, yaitu 1 (satu) tahun sampai dengan 2 (dua) tahun kedepan. pada fase ini kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, mendorong dan memfasilitasi penanam modal (calon investor) yang siap menanamkan modalnya, baik penanaman modal yang melakukan perluasan usaha atau melakukan penanaman modal baru, penanaman modal yang menghasilkan bahan baku/barang setengah jadi bagi industri lainnya, penanaman modal yang mengisi kekurangan kapasitas produksi atau memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan substitusi impor, serta penanaman modal penunjang infrastruktur.
Untuk mendukung implementasi fase I dan mendukung fase-fase lainnya, langkah-langkah kebijakan penanaman modal adalah sebagai berikut:
1. Membuka hambatan (debottlenecking) dan memfasilitasi penyelesaian persiapan proyek-proyek besar dan strategis agar dapat segera diaktualisasikan implementasinya.
2. Menata dan mengintensifkan strategi promosi penanaman modal ke negara-negara potensial.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 37 3. Memperbaiki citra Indonesia dan daerah Kota Kendari sebagai Negara/daerah tujuan investasi yang nyaman dan memiliki daya saing yang tinggi.
4. Mengidentifikasi proyek-proyek penanaman modal di daerah yang siap ditawarkan dan dipromosikan sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup dan karakteristik daerah dimaksud.
5. Menggalang kerjasama dan interkoneksitas dengan pemerintah daerah yang pro bisnis dalam rangka peningkatan nilai tambah, daya saing penanaman modal yang bernilai tarnbah tinggi dan pemerataan pembangunan.
6. Melakukan berbagai terobosan kebijakan terkait dengan penanaman modal yang mendesak untuk diperbaiki atau diselesaikan.
B. Fase II : Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Energi.
Implementasi fase II dimaksudkan untuk mencapai prioritas penanaman modal jangka menengah, sampai dengan 5 (lima) tahun ke depan. Pada fase ini kegiatan yang dilakukan adalah: penanaman modal yang mendorong percepatan infrastruktur fisik, diversifikasi, efisiensi, dan konversi energi berwawasan lingkungan. pada fase ini juga dipersiapkan kebijakan dan fasilitasi penanaman modal dalam rangka mendorong pengembangan industrialisasi skala besar.
Untuk mendukung implementasi fase II dan mendukung fase-fase lainnya, langkah-langkah kebjjakan penanaman modal adalah sebagai berikut:
1. Prioritas terhadap peningkatan kegiatan penanaman modal perlu difokuskan pada percepatan pembangunan infrastruktur dan energi melalui skema kerjasama pemerintah-swasta (kps), diantaranya pembangunan jalan tol, transportasi, pelabuhan, pembangkit tenaga listrik, pemenuhan kebutuhan gas untuk industri di dalam negeri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan.
pengembangan infrastruktur juga perlu memasukkan bidang infrastruktur lunak (soft infrastructure), terutama pada bidang pendidikan dan kesehatan.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 38 2. Melakukan penyempurnaan/revisi atas peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penanaman modal dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur dan energy.
3. Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal untuk kegiatan-kegiatan penanaman modal yang mendukung pengimplementasian kebijakan energi nasional oleh seluruh pemangku kepentingan terkait.
4. Penyiapan kebijakan pendukung termasuk peraturan perundang- undangan dalam rangka pengembangan energi di masa datang.
C. Fase III: Pengembangan Industri Skala Besar
Implementasi fase III dimaksudkan untuk mencapai dimensi penanaman modal jangka panjang (10-15 tahun). Hal tersebut mengingat pelaksanaannya baru bisa diwujudkan apabila seluruh elemen yang menjadi syarat kemampuan telah dimiliki, seperti tersedianya infrastruktur yang mencukupi, terbangunnya sumber daya manusia yang handal, terwujudnya sinkronisasi kebijakan penanaman modal pusat-daerah, dan terdapatnya sistem pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal yang berdaya saing. pada fase ini, kegiatan penanaman modal diarahkan untuk pengembangan industrialisasi skala besar melalui pendekatan klaster industri, diantaranya industri petrokimia dan turunannya yang terintegrasi, pengolahan hasil laut, klaster industri agribisnis dan turunannya, industri alat transportasi, dan industri pertahanan nasional.
Untuk mendukung implementasi fase III dan mendukung fase-fase lainnya, langkah-langkah kebijakan penanaman modal adalah sebagai berikut:
1. Pemetaan lokasi pengembangan klaster industri terrnasuk penyediaan infrastruktur keras dan lunak yang mencukupi termasuk pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal di pusat dan daerah.
2. Pemetaan potensi sumber daya dan value chain distribusi untuk mendukung pengembangan master-klaster industri dan pengembangan ekonomi.
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 39 3. Koordinasi penyusunan program dan sasaran kementerian/lembaga teknis dan instansi penanaman modal di pusat dan daerah dalam mendorong industrialisasi skala besar.
4. Pengembangan sumber daya manusia yang handal dan memiliki keterampilan (talent worker).
D. Fase IV: Pengembangan Ekonomi Berbasis Pengetahuan (knowledge- based economy)
Implementasi fase IV dimaksudkan untuk mencapai kepentingan investasi dan penanaman modal jangka waktu lebih dari 15 (lima belas) tahun, pada saat perekonomian indonesia sudah tergolong ke perekonomian maju.
pada fase ini, fokus penanganan adalah pengembangan kemampuan ekonomi ke arah pemanfaatan te knologi tinggi ataupun inovasi.
Untuk mendukung implementasi fase IV, langkah-langkah kebjjakan investasi adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan kebijakan dalam rangka mendorong kegiatan penanaman modal yang inovatif, mendorong pengembangan penelitian dan pengembangan (research and development), menghasilkan produk berteknologi tinggi, dan efisiensi dalarn penggunaan energi.
2. Menjadi negara industri yang ramah lingkungan.
3. Mendorong pemerintah daerah untuk membangun kawasan ekonomi berbasis teknologi tinggi (technopark).
LAPORAN AKHIR: Rencana Umum Penanaman Modal Kota Kendari Page 40
BAB VI
PELAKSANAAN
A. Kaidah Pelaksanaan RUPM Kota Kendari
Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Kota Kendari menjadi dokumen perencanaan di bidang investasi di tingkat daerah untuk mensinergikan kebijakan-kebijakan dasar kegiatan investasi. Sebagaimana diamanhkan dalam undang-undang penanaman modal dan Perpres tentang penanaman modal bahwa daerah-daerah yang memiliki prospek pengembangan investasi, diharapkan menyusun RUPM yang mengacu pada Master Plan Investasi Provinsi Sulawesi Tenggara dan Nasional sebagai dokumen perencanaan di bidang investasi pada tingkat provinsi dan nasional.
Investasi diarahkan kepada pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Kota Kendari melalui perencanaan pengembangan wilayah dan optimalisasi potensi investasi daerah, sehingga diharapkan mampu menjadi motor penggerak tumbuhnya sentra industri dan aktivitas ekonomi di Kota Kendari. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Kendari harus menyiapkan peta investasi yang menjadi prioritas pengembangan investasi secara komprehensif.
RUPM membutuhkan berbagai perincian lebih lanjut terutama terkait dengan arahan kebijakan dasar seperti perbaikan iklim investasi, layanan investasi dan pengembangan investasi sektor-sektor yang menjadi prioritas daerah. Sesuai dengan sifat investasi yang lintas sektoral, maka diperlukan