Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
40
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMAHAMAN MEMBACA DALAM MEMBACA EKSTENSIF DI KELAS X MADRASAH ALIYAH NEGERI 4 CIREBON
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
MASAROH 196709011999032001 [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa melalui metode Membaca Ekstensif. Subjek penelitian ini adalah 23 siswa dan kolaborator kelas MAN 4 Cirebon tahun pelajaran 2018/2019. Peneliti ini menerapkan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas. Dengan menggunakan teknik analisis data, dimana dalam penelitian ini digunakan teori Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan).
Kemudian data kualitatif diambil dari wawancara, catatan diary, lembar observasi, dan dokumentasi. Data kuantitatif diambil dari tes.
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata dari tes awal adalah 64,91. Dimana 6 siswa memenuhi kriteria skor hanya 26%, dan kriteria gagal 17 siswa skor 74%. Rerata siklus I adalah 72,60. Dimana 9 siswa yang lulus kriteria skor 39% dan 14 siswa gagal skor kriteria 61%. Dan rata-
rata siklus II 84,17. Dimana 19 siswa dinyatakan lulus skor kriteria 83%, dan skor kriteria gagal 4 siswa sebesar 17%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Extensive Reading dapat meningkatkan kemampuan pemahaman bacaan siswa. Hal tersebut diperkuat dengan observasi yang menunjukkan
bahwa sebagian besar siswa dalam proses pembelajaran aktif dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Mereka aktif berdiskusi dan memahami teks.
Kata kunci: Peningkatan Kemampuan Siswa, Pemahaman Membaca, dan Membaca Ekstensif
ABSTRACT
This research was conducted in order to improve students' reading comprehension skills through the Extensive Reading method. The subjects of this study were 23 students and collaborators in the
class of MAN 4 Cirebon for the 2018/2019 academic year. This researcher applies by using classroom action research. By using data analysis techniques, where in this study the theory of Miles and Huberman (data reduction, data presentation, and conclusion drawing) was used. Then the qualitative data were taken from interviews, diary notes, observation sheets, and documentation.
Quantitative data were taken from the test.
The analysis showed that the mean of the initial test was 64.91. Where 6 students meet the criteria for a score of only 26%, and the criteria for failing 17 students score 74%. The average cycle I was
72.60. Where 9 students who passed the criteria score of 39% and 14 students failed the criteria score of 61%. And the average cycle II is 84.17. Where 19 students passed the criteria score of
83%, and the criteria score for failing 4 students was 17%. This shows that the application of Extensive Reading can improve students' reading comprehension skills. This is reinforced by observations which show that most students in the learning process are active and serious in
participating in learning. They are active in discussing and understanding the text.
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
41
Keywords: Improving Student Ability, Reading Comprehension, and Extensive Reading A. LATAR BELAKANG
Pengajaran dengan menggunakn metode pemahaman membaca adalah agar siswa mampu memahami dan menafsirkan apa yang mereka baca. Selain itu, siswa juga mampu mengucapkan kata-kata dalam teks untuk memahami bagian mana yang penting atau tidak, dan untuk menentukan gagasan utama dari suatu tujuan dalam bacaan tersebut. Kemudian siswa juga mampu mencari informasi, yang artinya siswa ditunutut harus mampu memahami makna teks tersebut. Dan berdasarkan pedoman KTSP disebutkan bahwa standar kompetensi membaca di tingkat SMA yaitu siswa harus mampu mengidentifikasi gagasan pokok, informasi spesifik, inferensi, makna kata, frase dan kalimat teks fungsional dan karangan sederhana. Hal tersebut terlihat bahwa membaca merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai oleh siswa. Pada kenyataannya hasil yang diharapkan dari pembelajaran membaca belum tercapai. Berdasarkan pengalaman penulis, siswa MAN 4 Cirebonsiswa belum dapat pemahaman membaca dengan baik. Siswa juga memiliki kemampuan pemahaman bacaan yang rendah. Dimana masalah yang pertama siswa mendapatkan informasi yang kurang. Kemudian masalah yang kedua adalah siswa tidak mengetahui ide pokok dalam paragraf. Dan masalah yang ketiga adalah siswa mengalami kesulitan untuk memahami teks yang mereka baca.
Faktor lain dari penyebab rendahnya kemampuan pemahaman membaca siswa dalah dari Internal dan Eksternal. Faktor internal yaitu motivasi, IQ (Intelligence Quotient), minat, bakat dll.
Faktor eksternal yaitu guru, teman, orang tua, fasilitas, termasuk metode pengajaran membaca.
Maka dari itu, metode dapat menjadi menyebab kemampuan pemahaman bacaan siswa menjadi rendah, dan metode juga dapat membuat pengajaran dalam membaca lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa. Brown menyatakan bahwa banyak jenis metode membaca dapat terjadi di kelas,1 seperti skimming, scanning, intensif termasuk membaca ekstensif. Membaca ekstensif sebagai pendekatan pengajaran membaca dapat dianggap sebagai tujuan atau hasil.
Membaca ekstensif santai, informal, dan memungkinkan siswa untuk memilih materi berdasarkan tingkat kemahiran bahasa Inggris dan minat mereka. Juga, melibatkan membaca teks dalam jumlah besar untuk pemahaman umum tentang konten dengan tujuan bersenang-senang, dan termasuk membaca individu dan mandiri, yang memberi siswa kesempatan untuk memilih materi berdasarkan minat mereka sendiri.
1 H Douglas Brown, Teaching by principles: an interactive approach to language pedagogy Second edition, (San Francisco: Addition Wesley Logman,2000), p. 312
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
42
Membaca Ekstensif dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan, karena difokuskan untuk membantu siswa mencapai pemahaman umum tentang suatu teks. Sepertihalnya Carrell dan Carson mendefinisikan tentang membaca ekstensif yaitu melibatkan pembacaan cepat sejumlah besar materi atau bacaan yang lebih panjang untuk pemahaman umum, dengan fokus umumnya pada arti dari apa yang sedang dibaca dari bahasanya.2 Sedang ekstensif membaca adalah bacaan gratis untuk kesenangan, minat pada pokok bahasan, atau perolehan informasi. Membaca Ekstensif adalah kunci yang diperoleh siswa dalam kemampuan membaca, kebiasaan membaca, kompetensi linguistik, kosa kata, dan membantu siswa mendapatkan banyak informasi dari teks.
Itulah beberapa keunggulan membaca ekstensif yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan.
B. METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini Sanford mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah kegiatan langkah-langkah yang mempunyai semua karakteristik yang terdiri dari analisis, tindakan, menambah fakta baru dan evaluasi.3 Selain itu Bassey juga berpendapat bahwa menggambarkan sebuah penelitian tindakan itu sebagai bentuk inkuiri yang dilakukan untuk memahami, mengevaluasi juga kemudian mengubah, dalam rangka untuk meningkatkan praktik pendidikan.4
Berdasarkan penjelasan di atas penelitian dengan jenis ini adalah penelitian yang berbentuk pekerjaan yang menuju hasil praktis, dan juga tentang menciptakan bentuk pemahaman baru, karena tindakan tanpa pemahaman itu buta, seperti teori tanpa tindakan itu tidak ada artinya. Menurut Kemmis dan Mc Taggart ada beberapa manfaat dalam penelitian tindakan, yaitu 5 (1) Berpikir secara sistematis tentang apa yang terjadi di kelas. (2) Menerapkan tindakan di mana perbaikan dianggap mungkin dilakukan. (3) Memantau dan mengevaluasi efek tindakan dengan tujuan untuk terus melakukan perbaikan. (4) Memantau situasi kompleks secara kritis dan praktis. (5) Menerapkan pendekatan yang fleksibel untuk perbaikan kelas melalui tindakan dan refleksi. Dan
2 Willy A. Renandya, The Power of Extensive Reading (Los Angele:,SAGE Publications 2007 Vol 38(2) 133- 149), p.134
3 Jhoni Dimyati, Metode Penelitian Pendidikan dan Aplikasinya pada Anak Usia Dini,( Jakarta: kencana, 2013),p. 116
4 Valsa Koshy , Action Research for Improving Practice, (New Delhi: Paul Chapman Publihing, 2005 ),p. 8
5 Anne Bruns, Collaborative Action Research For English Language Teacher, (United kingdom: Cambridge University, 1999 ),p.16
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
43
dalam penelitian ini terdapat empat tahapan setiap siklus, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Siklus I.
Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes untuk mengumpulkan data menggunakan instrumentasi seperti ujian, pengamatan, wawancara, catatan harian dan dokumentasi.
Kemudian dalam analisis data menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif menggunakan uji-t untuk menganalisis nilai siswa dan data kualitatif menggunakan display data, verifikasi, dan reduksi data. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data kuantitatif dimana data kualitatif menggunakan lembar wawancara, lembar observasi, dan catatan diary untuk mendeskripsikan situasi selama proses pembelajaran, menurut Miles dan Huberman6 mengemukakan tiga alur kegiatan secara simultan dalam menganalisis data, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Penetapan validitas dan trustworthiness dalam penelitian ini digunakan Triangulasi data atau mendapatkan data dari berbagai sumber (wawancara, dokumen dll). Triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang menggabungkan beberapa metode dan sumber. Triangulasi mendorong peneliti dalam mengembangkan garis penyelidikan yang konvergen. Ini karena berbagai instrumen yang mengumpulkan data didukung dengan kesimpulan. Karena ada beberapa metode yang digunakan untuk mengumpulkan data. Metode yang digunakan adalah observasi kelas, dan wawancara. Pengamatan kelas dilakukan dengan melengkapi lembar observasi. Kemudian untuk bias ovoid penelitian, temuan diimbangi dengan informasi yang diperoleh dari wawancara.
C. PEMBAHASAN
1. Kemampuan Pemahaman Membaca
Kemampuan adalah potensi bawaan dari diri sendiri yang mewakili dan terkoordinasi dari kecerdasan individu. Dalam kerangka kerja, kemampuan atau potensial ini menentukan ruang kompetensi yang mungkin atau merupakan kemampuan yang direalisasikan.7 Selain itu, membaca sangat penting bagi kita, karena dengan membaca kita dapat memperbesar dan menambah pengetahuan kita. Allah SWT menganjurkan pada Al-Qur'an suci dalam Surat Al- Alaq 1-5: 7
6 Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analaysis, (USA:Sage Publications, 1994),p.10
7 Robert J. Sternberg and Elena L. Grigorenko, The Psychology of Abilities, Competencies and Expertise, (United Stated of Amerika: Cambridge University Press, 2003),p. 142
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
44
ۡ ۡ أَرۡقٱ
ِۡۡب
ِۡمۡسٱ
ۡ َكِّبَر ۡ يِ ذ
لَّٱ
ۡ
ۡ َقَلَخ ١
ۡۡۡ
ۡ َقَلَخ
َۡنَٰ َسنِ ۡ لۡٱ
ۡ ٍق َلَعۡۡنِن ۡ ٢
ۡۡۡ
ۡ ۡ أَرۡقٱ
ۡ
ۡ َكُّبَرَو
ُۡمَرۡك َ ۡ لۡٱ
ۡ ٣
ۡۡ
ۡ
ۡ يِ ذ
لَّٱ
ِۡبَۡم ذلَع ۡ
ِۡمَلَق ۡلٱ
ۡ ٤
ۡۡ
َۡمذلَع
َۡنَٰ َسنِ ۡ ۡ لۡٱ
ۡ
ۡۡمَلۡعَيۡۡمَلۡاَن ٥
ۡۡ
ۡ
ۡ Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Al-Alaq 1-5) 8
Ayat tersebut memiliki arti bahwa untuk mendapatkan lebih banyak ungkapan atau memperoleh lebih banyak informasi yang mereka miliki, maka dengan membacalah diharapkan siswa dapat lebih aktif dan kreatif untuk mengembangkan ilmunya, karena dalam membaca akan mendapatkan berbagai macam informasi dengan berbagai bidang ilmu yang dapat memberikan perubahan kepada siswa. Kemudian dalam belajar dengan tehnik membaca adalah proses aktif yang bergantung pada kemampuan penulis untuk menyampaikan makna menggunakan kata-kata dan kemampuan pembaca untuk menciptakan makna. Dan agar berhasil membaca, maka pembaca harus selalu menghubungkan apa yang sudah pembaca ketahui tentang informasi sipenulis. Sepertihalnya Iser mengungkapkan tentang membaca itu bukan hanya sekedar sebuah aktivitas berbasis teks, tetapi interaktif pembaca dan teks, dengan sama-sama berkontribusi pada makna yang berkembang9
Berdasarkan uraian tersebut, maka membaca bukanlah kegiatan yang mudah, tetapi membaca harus selalu menjadi makna proses mendapatkan dan menghubungkan informasi apa yang telah penulis tulis. Guru dapat menenangkan siswa dalam kegiatan membaca juga mendapatkan ide pokok dalam petikan yang dibaca. Selain itu, Korels mengatakan bahwa membaca hanya bersifat visual dimana lebih banyak informasi yang didapatkan oleh pembaca daripada oleh cetakan di halaman, dan mereka memahami apa yang mereka baca, karena mereka dapat mengambil stimulus di luar representasi dari grafik. 10
Membaca juga selalu memiliki tujuan tidak hanya dalam arti bahwa pembaca membaca dengan cara yang berbeda berdasarkan tujuan bacaan yang berbeda, tetapi juga dalam arti bahwa setiap motivasi untuk membaca teks tertentu dipicu oleh beberapa tujuan atau tugas individu,
8 Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Qur’an, p. 240
9 Flippo, and Rona F, Handbook of College Reading and Study Strategy Research, (London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc,2000),p.150
10 Sanggam siahaan, Issues in Linguistics, (Yogyakarta:graham ilmu2008) p. 111
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
45
baik yang dipaksakan secara internal maupun eksternal.11 Dalam hal tersebut terdapat tiga tujuan utama dalam membaca: (1) Membaca untuk mencari informasi sederhana: Membaca untuk mencari informasi sederhana adalah kemampuan membaca yang umum, meskipun beberapa peneliti melihatnya sebagai proses kognitif yang relatif independen. Ini sering digunakan dalam tugas membaca mungkin paling baik dilihat sebagai jenis kemampuan membaca. (2) Membaca untuk mengintegrasikan informasi, menulis dan mengkritik teks: Membaca untuk mengintegrasikan informasi memerlukan keputusan tambahan tentang relatif Pentingnya informasi yang saling melengkapi, saling mendukung atau bertentangan dan kemungkinan restrukturisasi kerangka retoris untuk mengakomodasi informasi dari berbagai sumber.
Keterampilan ini pasti membutuhkan evaluasi kritis terhadap informasi yang sedang dibaca sehingga pembaca dapat memutuskan informasi apa yang akan diintegrasikan dan bagaimana mengintegrasikannya untuk tujuan pembaca. (3) Membaca untuk pemahaman umum: Bangsa pemahaman bacaan umum sengaja disimpan untuk yang terakhir dalam pembahasan ini karena dua alasan. Pertama, ini adalah tujuan paling dasar untuk membaca, mendasari dan mendukung sebagian besar tujuan bacaan lainnya. Kedua, pemahaman bacaan umum sebenarnya lebih kompleks daripada yang diasumsikan secara umum. Membaca untuk pemahaman umum, jika dilakukan oleh pembaca yang fasih dan terampil, memerlukan pemrosesan kata yang sangat cepat dan otomatis, keterampilan yang kuat dalam membentuk representasi makna umum dari ide-ide utama, dan koordinasi yang efisien dari banyak proses di bawah batasan waktu yang sangat terbatas.
Membaca juga merupakan proses memahami. Bangsa pemahaman jelas dan halus. Jelas bahwa setiap orang dapat mengatakan bahwa memahami teks adalah tujuan membaca; ini kurang jelas dalam kaitannya dengan cara-cara pemahaman seperti itu dapat dilakukan oleh pembaca, seperti yang akan terlihat di bagian selanjutnya.12 Grabe menyatakan bahwa pemahaman membaca adalah prestasi luar biasa dalam menyeimbangkan dan sesuai dengan banyak kemampuan dalam rangkaian rutinitas yang sangat kompleks dan cepat yang membuat pemahaman aktivitas yang tampaknya mudah dan menyenangkan bagi pembaca fasih.13 artinya tidak hanya mengenali kata-kata tetapi juga berpikir menanggapi.
11 William grabe and fredricka L.Stoller, Teaching and Resercing Reading (Britian: pearson education, 2002)p.
12-14
12Siahaan, Sanggam, Issue in Linguistics, Yogyakarta: graham ilmu, 2008, p. 18
13 Grabe, Wand Stoler, FL,Teaching and Researching Reading (Malay: Logman, 2001)p.29
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
46
Pemahaman membaca adalah aktivitas yang sangat kompleks. Begitu banyak yang terlintas di benak pembaca saat mata melayang di atas kata-kata yang tercetak. Pembaca yang ulung (seperti kebanyakan dari kita) telah menjadi begitu mahir melalui latihan seumur hidup sehingga mudah untuk melupakan betapa sulitnya itu sebenarnya, betapa menyelesaikan proses pemahamannya.14
Berdasarkan uraian di atas, Pemahaman bacaan merupakan proses pemaknaan dari teks.
Oleh karena itu, tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang apa yang dijelaskan dalam teks daripada mendapatkan makna dari kata atau kalimat yang terisolasi.
Pembaca memiliki keunggulan dan kelemahan dari teks yang mereka baca. Keunggulan orang tersebut adalah dapat memahami apa yang mereka baca dan kelemahan mereka kurang memahami apa yang mereka baca.
Thomas Barrett (Clymer, 1968) mengembangkan taksonomi tiga tingkat sederhana yang berguna dalam memahami bagaimana pembaca memahami.15 (1) Pemahaman literal atau faktual.
Hal ini mengacu pada pemahaman sederhana atas informasi yang secara eksplisit tertuang dalam teks, terdapat beberapa kemampuan: (a) Pengetahuan tentang makna kata, (b) Ingat detail yang secara langsung dinyatakan atau diparafrasekan dengan kata sendiri. (c) Pengertian gramatikal klausa-subjek, verba, kata ganti, konjungsi, dan lain sebagainya. (d) Ingat kembali gagasan utama yang dinyatakan secara eksplisit. (e) Pengetahuan tentang urutan informasi yang disajikan dalam bacaan. (2) Pemahaman inferensial, pemahaman ide dan informasi yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam bacaan, ada beberapa kemampuan: (a) Penalaran dengan informasi disajikan untuk memahami nada, tujuan, dan sikap penulis. (b) Sebaliknya informasi faktual, gagasan utama, perbandingan, hubungan sebab-akibat tidak secara eksplisit disebutkan dalam bacaan. (c) Ringkasan isi cerita. (3) Pemahaman kritis, menganalisis, mengevaluasi, dan secara pribadi bereaksi terhadap informasi yang disajikan dalam suatu bagian, ada beberapa kemampuan: (a) Secara pribadi bereaksi terhadap informasi dalam bagian yang menunjukkan maknanya bagi pembaca. (b) Menganalisis dan mengevaluasi kualitas informasi tertulis dalam kaitannya dengan beberapa standar.
Ketiga tingkat pemahaman itu penting dan perlu dikembangkan. Di masa lalu, bagaimanapun, pemahaman literal adalah fokus utama pengajaran. Mungkin itu karena pemahaman literal lebih mudah bagi seorang guru untuk menghadapi fakta-fakta yang tidak
14 Larry lawin. Paving the Way in Reading and Writing (USA: published by jossy bass, 2003)p. 2
15 Arthur w. heilman dkk, Principle and Practices of Teaching Reading (USA: Charles E. Merril Publishing Co, 2005) p. 246
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
47
terbantahkan, dan pertanyaan-pertanyaan yang berfokus pada pemahaman literal mudah dikembangkan dan dievaluasi. Pemahaman literal, bagaimanapun, membutuhkan sedikit cara berpikir yang terlibat dan pemecahan masalah di pihak pembaca.
Pemahaman bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis di benak pembaca saat ia terlibat dengan media cetak, meskipun tampaknya demikian bagi pembaca mahir dewasa.
Jadi kesimpulan dari penjelasan di atas, pemahaman membaca sangat penting untuk dikuasai oleh siswa. Guru perlu mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam mengajar membaca. Untuk mencapai tujuan tergantung pada metode yang diterapkan oleh guru. Guru dapat menggunakan berbagai jenis media dan metode untuk membuat pengajaran lebih menarik.
2. Membaca Ekstensif
a. Definisi Membaca Ekstensif
Secara umum, siswa yang belajar membaca dalam bahasa Inggris tidak suka membaca dan jarang membaca. Dalam pengajaran bahasa asing pendekatan membaca diakui, Ini adalah pendekatan membaca ekstensif. Membaca ekstensif juga sebagai pendekatan pengajaran bahasa di mana peserta didik membaca sebanyak materi mudah dalam bahasa baru. Mereka memilih bahan bacaan mereka sendiri dan membacanya secara mandiri dari guru. Mereka membaca untuk arti umum, keseluruhan, dan mereka baca untuk informasi dan kesenangan.16 Douglas mengatakan, membaca ekstensif dilakukan untuk mencapai pemahaman umum tentang teks yang biasanya agak panjang (buku, artikel panjang, atau esai, dll). Sebagian besar bacaan ekstensif dilakukan di luar jam pelajaran. Kesenangan membaca seringkali merupakan bacaan ekstensif. Bacaan teknis, ilmiah, dan profesional, dalam keadaan khusus tertentu, dapat meluas ketika seseorang hanya berjuang untuk makna global atau umum dari bagian yang lebih panjang.17
Menurut Jacobs & Gallo Dalam Membaca Ekstensif, siswa membaca dalam hati dalam hati jumlah bahan. Bahan-bahan ini biasanya pada tingkat yang memungkinkan siswa untuk melakukannya mendapatkan setidaknya pemahaman yang adil tentang apa yang mereka baca tanpa bantuan dari luar18
16 Julian Bamford and Richard R.day, Extensive reading Activity for Teaching Language, Cambridge:
(Cambridge University Press, 2003)p. 1
17 Heilman, Arthur w. dkk, Principle and Practices of Teaching Reading, USA: Charles E. Merril Publishing Co, 2005, p.313
18 Jonathan Aliponga, Reading Journal: Its Benefits for Extensive Reading, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 3 No. 12 Special Issue – June 2013,p.73
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
48
Berdasarkan penjelasan di atas adalah bacaan siswa dengan teks yang lebih besar setuju dengan tingkat siswa dan dilakukan untuk mencapai pemahaman umum tentang apa mereka membaca. Membaca Ekstensif artinya adalah membaca gratis untuk kesenangan, untuk minat dalam materi pelajaran, atau untuk memperoleh informasi.
Jadi, kesimpulan dari penjelasan di atas Membaca ekstensif adalah kuncinya siswa kunci untuk keuntungan siswa dalam kemampuan membaca, kompetensi linguistik, kosa kata, ejaan, dan tulisan. Pembacaan ekstensif dilakukan untuk menemukan ide pokok dari sebuah tulisan teks. Siswa tidak harus memahami setiap kata dalam teks tertulis. Luas Membaca berarti membaca cepat, siswa mampu membaca teks tertulis dalam bahasa asing bahasa dengan pemahaman dan tanpa proses terjemahan mental, mengacu ke kamus sesering mungkin. Tujuan dari membaca ekstensif adalah untuk membangun pembaca kepercayaan diri dan kenikmatan. Membaca ekstensif selalu dilakukan untuk memahami ide-ide pokok, bukan untuk detail spesifik.
b. Prinsip Membaca Ekstensif.
Ada sepuluh prinsip dalam mengajar membaca ekstensif. Mereka adalah dasar utama yang dikembangkan oleh Day dan Bamford (2002). Yaitu 19: (a) Bahan bacaannya mudah. (b) Beragam bahan bacaan tentang berbagai topik harus tersedia. (c) Peserta didik memilih apa yang ingin mereka baca. (d) Peserta didik membaca sebanyak mungkin. (e) Tujuan membaca biasanya berhubungan dengan kesenangan, informasi dan pemahaman umum. (f) Membaca adalah hadiahnya sendiri. (g) Kecepatan membaca biasanya lebih cepat daripada lebih lambat.
(h) Membaca bersifat individual dan diam. (i) Guru mengarahkan dan membimbing siswa mereka. (j) Guru adalah panutan seorang pembaca.
c. Desain Membaca Ekstensif
Program membaca ekstensif dapat dirancang sebagai berikut 20: (a) Bahan bacaan ekstensif, Salah satu syarat mendasar dari membaca ekstensif yang berhasil adalah siswa harus memiliki materi bacaan yang dapat mereka pahami. Jika ada yang berjuang untuk memahami setiap kata, mereka hampir tidak bisa membaca untuk kesenangan. tujuan utama dari kegiatan ini. Artinya, kami perlu menyediakan buku-buku yang entah kebetulan, atau karena ditulis secara khusus, yang siap diakses oleh siswa kami. (b) Peran guru dalam membaca ekstensif, sebagian besar siswa tidak akan banyak membaca ekstensif sendiri
19 Day, R. R. & Bamford, J. Top Ten Principles for Teaching Extensive Reading. Reading in a Foreign Language, Vol 14 No. 2, October 2002
20 Jeremy Harmer, English Language Teaching Third Edition (England: Pearson Education Limited, 2001),p.210
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
49
kecuali jika didorong oleh guru mereka. Maka jelaslah, peran kita sangat penting. Kita perlu mempromosikan membaca dan dengan dukungan kita membaca sebagai pekerjaan yang valid, bujuk siswa tentang manfaatnya. Setelah meyakinkan siswa kami tentang manfaat membaca ekstensif, kami dapat mengatur program membaca di mana kami menunjukkan kepada siswa berapa banyak buku yang kami harapkan untuk mereka baca selama periode tertentu. (c) Tugas membaca ekstensif: karena siswa harus diperbolehkan untuk memilih teks bacaan sendiri, mengikuti kesukaan dan minat mereka, mereka tidak akan dapat membaca teks sekaligus. Untuk alasan ini dan karena kami ingin mendorong siswa untuk terus membaca, kami harus mendorong mereka untuk melaporkan kembali bacaan mereka dengan berbagai cara.
d. Prosedur Membaca Ekstensif
Prosedur dalam membaca ekstensif mengasumsikan bahwa siswa akan menikmati membaca buku yang telah mereka pilih tentang topik yang mereka minati lebih daripada mereka akan menikmati bacaan yang ditugaskan dari pembaca. Jika mereka telah memilih dengan benar, buku tersebut harus mudah dibaca untuk pemahaman umum.
Beberapa kegiatan atau prosedur diadaptasi dan dikembangkan dari buku berjudul
“Extensive Reading Activities For Teaching Language” oleh Day dan Bamford.21 Dalam implantasi terdapat dua aktivitas dasar; pekerjaan rumah dan pekerjaan kelas. (a) Membaca pekerjaan rumah adalah kegiatan dasar dalam membaca ekstensif. Dalam prosesnya, guru memberikan teks untuk dibaca oleh siswa. Kemudian, siswa diminta untuk memilih salah satu teks yang tersedia sebagai pekerjaan rumah membaca mereka. Dalam setiap pertemuan, ketuntasan pekerjaan rumah membaca siswa diperiksa oleh guru. (b) Pekerjaan Kelas; (1) Diskusi kelompok, dalam kegiatan ini guru membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari lima atau enam siswa dalam prosesnya, siswa berbicara dalam kelompok tentang apa yang telah mereka baca. Untuk mempermudah diskusi, guru memberikan daftar pertanyaan.
Untuk grup penilaian, siswa diminta membuat laporan dari diskusi kelompoknya. (2) Sharing tentang teks, dalam kegiatan ini perwakilan masing-masing kelompok diminta untuk membagikan kepada kelas tentang apa yang diperoleh dari diskusi kelompok berdasarkan
21 Day, R. R. & Bamford, J. Extensive Reading Activities For Teaching Language, (Cambridge: CUP, 2004)p.214
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
50
daftar pertanyaan. Setelah semua perwakilan kelompok membagikan hasil diskusinya, guru memberikan tanggapan tentang hasil diskusi siswa.
e. Keuntungan dan Kerugian Membaca Ekstensif
Ada beberapa keuntungan dan kerugian Membaca Ekstensif:22 Keuntungan Membaca Ekstensif adalah sebagai berikut: (a) Peningkatan pembelajaran bahasa di bidang-bidang seperti kosakata, tata bahasa, dan struktur teks. (b) Peningkatan pengetahuan tentang kata. (c) Peningkatan keterampilan membaca dan menulis. d) Kenikmatan membaca yang lebih besar.
(e) Sikap yang lebih positif terhadap membaca. (f) Kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengembangkan kebiasaan membaca. dan ada beberapa kelemahan dari membaca ekstensif, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: (a) Program Membaca Ekstensif mungkin mahal dan memakan waktu untuk menyiapkannya jika bahan belum tersedia. Mungkin sulit untuk mendapatkan dukungan dari Administrasi. (b) Pembaca ekstensif kurang memahami makna teks. (c) Pembaca ekstensif memiliki pengetahuan yang kurang tentang tata bahasa yang kompleks.
3. Tindakan Pertama
Peneliti pada tindakan pertama memberikan tes membaca, wawancara, dan lembar observasi. Tes membaca digunakan untuk mengevaluasi peningkatan siswa dalam pemahaman bacaan. Sekolah tersebut menjadikan 76 sebagai kriteria kelulusan minimum (Minimum Passing Grade) dalam pelajaran bahasa Inggris. Jumlah siswa yang mengikuti tes adalah 23, dari hasil nilai tes membaca pada pre-test adalah 1493 dan nilai rata-rata 64,91. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata siswa adalah 1493 dan persentase nilai pre-test adalah 6 siswa yang dinyatakan lulus dengan nilai 76 dan hanya 26%. Sedangkan 17 siswa gagal atau tidak mendapatkan nilai hingga 76 dan itu 74%. Berdasarkan hasil tersebut, peningkatan pemahaman bacaan siswa masih rendah. Artinya sebagian besar siswa belum mencapai nilai kelulusan minimal 76.
Data kuantitatif di atas didukung oleh data kualitatif berikut yang dikemukakan oleh salah satu guru bahasa Inggris, sebagai berikut: “Mereka masih sulit dalam memahami teks” (Mereka masih belum memahami teks) (Int.T1.D1). Data ini Artinya bahasa Inggris merasa siswa sulit dalam memahami teks.
Data lain yang dikemukakan siswa, sebagai berikut: “saya kurang suka membaca, karena saya tidak tahu artinya” (Saya tidak suka membaca karena, saya tidak mengerti arti teksnya)
22 Jack C. Richard and Willy A. Renandya, Methodology in Language Teaching : an Anthology of Current Practice ,(United Kingdom: Cambridge University Press, 2002),p. 298
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
51
(Int.S2.D1) . Data ini berarti siswa tidak mampu menjawab soal dan siswa tidak mengetahui arti dari kata-kata sulit dalam bahasa Inggris. Siswa lain menyatakan ”saya tidak suka membaca, karena saya tidak tahu artinya karena saya tidak mau buka kamus untuk mengartikan lagi” (Saya tidak suka membaca, karena saya tidak mengerti arti teks dan tidak membuka itu kamus) (Int.S3.D1). Data ini berarti siswa masih kurang dalam pemahaman bacaan teks, kurang suka membaca, malas membuka kamus untuk mencari arti dari kata-kata yang sulit.
Berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai pemahaman membaca siswa masih rendah. Oleh karena itu, peneliti ingin menerapkan Metode Membaca Ekstensif untuk meningkatkan pemahaman bacaan mereka.
4. Siklus I
Dalam siklus ini peneliti melakukan empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I ini ada dua pertemuan yang dilakukan kepada siswa. Sebuah tes diberikan di akhir proses pembelajaran. Langkah-langkah siklus ini adalah:
a. Perencanaan
Rencana tersebut disusun sebelum peneliti melakukan penelitian. Peneliti menyiapkan dan membuat rencana untuk dua kali pertemuan. Topik yang dibahas adalah tentang teks eksposisi analitik. (1) Menyusun program perencanaan pengajaran (RPP) berdasarkan materi yang akan dipikirkan. (2) Menyiapkan materi dan media, (3) Menyiapkan tugas membaca siswa untuk mengukur hasil belajar tersebut, (4) Menyiapkan lembar observasi untuk mengukur partisipasi siswa dalam pembelajaran dan sikap siswa selama proses pembelajaran.
b. Tindakan
Peneliti menerapkan apa yang telah direncanakan di dalam kelas. Peneliti menggunakan RPP sebagai pedoman untuk kegiatan yang terjadi di kelas. Pada tahap ini ada beberapa aktivitas yang dilakukan peneliti sebagai pengajar. (1) Menjelaskan prosedur metode Membaca Ekstensif, (2) Memberikan tiga teks, dan meminta siswa memilih salah satu topik sebagai bacaannya. (3) Diskusi kelompok, dalam kegiatan ini guru membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari lima atau enam siswa dalam prosesnya, siswa berbicara dalam kelompok tentang apa yang telah mereka baca. Untuk mempermudah diskusi, guru memberikan daftar pertanyaan. Kemudian siswa diminta membuat laporan
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
52
hasil diskusi kelompoknya. (4) Perwakilan masing-masing kelompok diminta untuk membagikan kepada kelas tentang apa yang diperoleh dari diskusi kelompok berdasarkan daftar pertanyaan. Setelah semua perwakilan kelompok membagikan hasil diskusinya, guru memberikan tanggapan tentang hasil diskusi siswa.
c. Pengamatan
Pada tahap ini terdapat dua macam hasil observasi yaitu dikumpulkan secara kuantitatif dan kualitatif, penulis memberikan post-test pada siklus pertama ini. Hasil post test siklus I menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan siswa meningkat menggunakan metode Membaca Ekstensif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan observasi data, terjadi peningkatan pada proses belajar mengajar.
Hasil Secara Kuantitatif pada pos test I siklus I nilai total siswa 1670 dan jumlah siswa yang mengikuti tes adalah 23, sehingga rata-rata siswa adalah 72,60. Terlihat bahwa nilai siswa dalam membaca meningkat. Persentase nilai posttest siswa adalah 9 siswa yang lulus atau mendapat nilai sampai dengan 76, itu hanya 39%. Di sisi lain, 14 siswa gagal atau tidak mendapatkan skor hingga 76 dan itu 61%. Jadi, post-test siklus I dikategorikan meningkat.
Pada siklus I nilai rata-rata siswa lebih baik dari pada nilai pre test. Data kuantitatif di atas diperkuat dengan data kualitatif. Peneliti menggunakan lembar wawancara yang telah disusun sebelumnya, dan hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa aktif dan antusias.
d. Refleksi
Evaluasi dua kali pertemuan menjadi refleksi peneliti dalam membuat siklus II.
Evaluasi dipandu dari hasil tes siswa dan observasi peneliti sikap siswa. Peneliti menggunakan catatan harian dan wawancara. Peneliti memeriksa hasil tes siswa berdasarkan penilaian. Ada banyak hal yang diamati sebagai berikut: (a) masih banyak siswa yang kesulitan membaca teks, (b) ada siswa yang kurang tertarik dengan topiknya, (c) banyak siswa yang kesulitan membuat ringkasan dengan bahasa mereka sendiri, ( d) masih banyak siswa yang mendapat nilai 76 di bawah ini. Dari data tersebut peneliti memutuskan untuk melanjutkan siklus II agar mendapatkan hasil yang lebih baik.
5. Siklus II
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
53
Siklus 2 ini akan lebih baik dari siklus I. Karena pada siklus ini sudah mendapatkan refleksi dari siklus I untuk dijadikan informasi tentang masalah siswa di kelas. Peneliti juga melakukan kegiatan siklus ini dengan tahapan yang sama pada siklus I yaitu:
a. Perencanaan
Membaca Ekstensif dalam mengajarkan pemahaman membaca dan memberikan penjelasan lebih banyak tentang bagaimana memahami teks melalui membaca ekstensif dengan mudah.
Peneliti melakukan siklus kedua dalam dua pertemuan dengan langkah yang sama.
Penelitian ini menciptakan kondisi yang lebih mendukung untuk mendorong siswa lebih banyak memberikan respon dan partisipasi aktif di kelas. Dengan tahapan dilakukan beberapa kegiatan antara lain: menyiapkan pembelajaran berdasarkan materi yang akan dipikirkan, menyiapkan materi dan media, lembar observasi untuk mengukur partisipasi siswa dalam pembelajaran dan sikap siswa selama proses pembelajaran.
b. Tindakan
Pada tahap ini peneliti kembali menerapkan metode membaca ekstensif. Sebelum proses belajar mengajar, peneliti menjelaskan tentang prosedur membaca ekstensif, Guru memberikan tiga teks, meminta siswa memilih salah satu topik sebagai pekerjaan rumah membaca dan berdiskusi dengan kelompoknya. Pada siklus ini semua siswa terlihat antusias membaca teks, mereka aktif dalam berdiskusi. Dan diakhir jam pertemuan, guru memberikan post test II untuk mengukur hasil belajar siswa kearah yang lebih baik, dan peneliti berharap siswa lebih tertarik membaca.
c. Pengamatan
Pada fase ini kemampuan pemahaman bacaan siswa dapat ditingkatkan. Mereka lebih antusias aktif dan serius. Siswa lebih aktif dan memberikan respon yang baik selama proses pembelajaran, dan siswa lebih serius dalam mengerjakan tes. Dari hasil tes terakhir menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menjawab soal. Sebagian besar siswa mendapat nilai 76. Berdasarkan data observasi, terjadi peningkatan pada proses belajar mengajar. Guru dapat meningkatkan pemahaman bacaan siswa. Hasil pos tes II pada siklus II menunjukkan bahwa nilai total siswa adalah 1936 dan jumlah siswa yang mengikuti tes adalah 23. Jadi rata-rata nilai tes siswa adalah 84,17. Terlihat bahwa nilai pemahaman bacaan siswa meningkat. Persentase nilai siswa pada posttest II adalah 19 siswa yang lulus atau mendapat nilai sampai dengan 76, yaitu 83%. Di sisi lain, 4 siswa gagal atau tidak mendapatkan nilai hingga 76 dan itu 17%. Jadi, post test II siklus II dikategorikan berhasil.
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
54
Berdasarkan data di atas, hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai siswa dari posttest I ke posttest II siklus II. Pada post test I siswa yang memperoleh nilai 76 atau lebih sebanyak 9 dari 23 siswa (39%). Pada posttest II siklus II siswa yang memperoleh nilai 76 atau lebih sebanyak 19 dari 23 siswa (83%). Peningkatan dari posttest I ke posttest II siklus II sebesar 44%. Dalam hal ini juga digunakan untuk menguji hipotesis peneliti, dari perhitungan di atas terlihat bahwa koefisien tobservered = 6,38 dan ttabel untuk df = N-1 = 23-1 = 22, dengan taraf fakta α = 0 , 05 adalah. Pada koefisien tobservered 6,38 ˃ 0,413 ttabel. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) yang mengatakan bahwa Membaca Ekstensif dapat meningkatkan pemahaman bacaan siswa.
d. Refleksi
Pada tahap ini, hasil observasi dan tes, peneliti dapat menyimpulkan bahwa setelah memeriksa tes membaca siswa, bahwa peneliti menemukan peningkatan nilai siswa.
Berdasarkan lembar observasi, kemampuan membaca siswa dengan metode membaca ekstensif meningkat.
Berdasarkan refleksi pada siklus II ini tidak perlu dilakukan pada siklus III. Siklus penelitian ini dapat dihentikan karena pemahaman membaca siswa telah meningkat.
KESIMPULAN
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca melalui Membaca Ekstensif dapat meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa, khususnya bagi siswa kelas X MAN 4 Cirebon. Jadi kesimpulannya sebagai berikut:
1. Pada studi pendahuluan dapat disimpulkan bahwa hasil pre-test adalah 64,91. Dan hasil peningkatan pemahaman bacaan siswa masih rendah. Artinya, sebagian besar siswa belum mencapai nilai ketuntasan minimal 76. Secara kuantitatif, hasil data menggambarkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami bacaan. Mereka tidak tahu arti kata-kata sulit dalam bahasa Inggris. Mereka sudah mempelajari tentang teks bacaan, tetapi mereka belum memahami isi teks tersebut.
2. Pada siklus I mendapatkan nilai kemampuan pemahaman membaca siswa adalah 72,60.
Disimpulkan bahwa rata-rata nilai siswa lebih baik dari pada pembelajaran pendahuluan.
Data kualitatif menggambarkan bahwa sebagian besar siswa aktif dan antusias.
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
55
3. Pada siklus II kemampuan pemahaman membaca siswa adalah 84,17. Dapat disimpulkan bahwa skor meningkat dari siklus I ke siklus II. Dari data kualitatif ditemukan bahwa siswa mampu membaca pemahaman teks dengan baik pada siklus I. Kesimpulan dari kegunaan Membaca Ekstensif secara signifikan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman.
Berdasarkan hasil penelitian peneliti memberikan saran kepada guru, siswa dan peneliti lainnya agar memiliki pemahaman yang jelas ketika mengajar teks bacaan dengan menggunakan kegiatan Membaca Ekstensif. Itu, diamana guru, untuk mengajarkan pemahaman bacaan melalui aktivitas membaca ekstensif, guru harus mengikuti prosedur dalam aktivitas membaca ekstensif.
Guru harus mengetahui karakteristik Membaca Ekstensif. Guru harus memilih materi yang sesuai dengan tingkat kemahiran siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Anne Bruns, Collaborative Action Research For English Language Teacher, United kingdom:
Cambridge University, 1999
Arthur w. heilman dkk, Principle and Practices of Teaching Reading, USA: Charles E. Merril Publishing Co, 2005
Day, R. R. & Bamford, J. Extensive Reading Activities For Teaching Language, Cambridge: CUP, 2004
Day, R. R. & Bamford, J. Top Ten Principles for Teaching Extensive Reading. Reading in a Foreign Language, Vol 14 No. 2, October 2002
Flippo, and Rona F, Handbook of College Reading and Study Strategy Research, London:
Lawrence Erlbaum Associates, Inc,2000
Grabe, Wand Stoler, FL,Teaching and Researching Reading, Malay: Logman, 2001
Heilman, Arthur w. dkk, Principle and Practices of Teaching Reading, USA: Charles E. Merril Publishing Co, 2005
Jack C. Richard and Willy A. Renandya, Methodology in Language Teaching : an Anthology of Current Practice ,United Kingdom: Cambridge University Press, 2002
Jeremy Harmer, English Language Teaching Third Edition, England: Pearson Education Limited, 2001
Jonathan Aliponga, Reading Journal: Its Benefits for Extensive Reading, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 3 No. 12 Special Issue – June 2013
Julian Bamford and Richard R.day, Extensive reading Activity for Teaching Language, Cambridge:
Cambridge University Press, 2003
Larry lawin. Paving the Way in Reading and Writing, USA: published by jossy bass, 2003
Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analaysis, USA:Sage Publications, 1994
Robert J. Sternberg and Elena L. Grigorenko, The Psychology of Abilities, Competencies and Expertise, United Stated of Amerika: Cambridge University Press, 2003
Sanggam siahaan, Issues in Linguistics, Yogyakarta:graham ilmu, 2008
Valsa Koshy , Action Research for Improving Practice, New Delhi: Paul Chapman Publihing, 2005
Jurnal EDUCATIONEM
Vol. 1 No. 02 Tahun 2019/ 1440 ISSN: 977-268-48020-0-3
56
William grabe and fredricka L.Stoller, Teaching and Resercing Reading, Britian: pearson education, 2002
Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Qur’an
H Douglas Brown, Teaching by principles: an interactive approach to language pedagogy Second edition, San Francisco: Addition Wesley Logman,2000
Jhoni Dimyati, Metode Penelitian Pendidikan dan Aplikasinya pada Anak Usia Dini, Jakarta:
kencana, 2013
Siahaan, Sanggam, Issue in Linguistics, Yogyakarta: graham ilmu, 2008
Willy A. Renandya, The Power of Extensive Readin, Los Angele:,SAGE Publications 2007 Vol 38(2) 133-149