INOKULUM
KELAS : B
KELOMPOK : 3
NAMA (NIM) : 1. Fannia Okta Aldayra (H0919043) 2. Fannisa Wardhani (H0919044) 3. Galih Dwi Prasetyo (H0919048) 4. Hanif Zaki Pratama (H0919049) 5. Nabilatuzzahro Nurunaja (H0919070)
Link artikel 1 :
https://ejournal.unib.ac.id/index.php/alotropjurnal/article/view/13705 Link artikel 2 :
https://jurnal.lppm.unram.ac.id/index.php/prosidingsaintek/article/view/279/278 Review Artikel 1 (Isolasi dan Identifikasi Mikroba)
1. Jelaskan sumber isolat yang diperoleh dan dugaan alasan memilih sumber tersebut.
➔ Sumber isolat bakteri asam laktat yang diperoleh yaitu pada produk pangan
“lemea”, merupakan makanan olahan khas suku Rejang yang dibuat dari bahan dasar rebung bambu petung (Dendrocalamus asper) dan ikan yang difermentasi selama 3-7 hari. Alasan dipilihnya produk lemea sebagai sumber isolat bakteri asam laktat karena Bakteri Asam Laktat (BAL) menjadi pemeran utama dalam proses fermentasi pada “lemea”. Selain itu, isolasi dan identifikasi bakteri asam laktat pada “lemea” masih belum dilakukan sehingga perlu diinvestigasi lebih lanjut. Isolasi dan identifikasi ini perlu dilakukan untuk memperkirakan genus dari isolat bakteri asam laktat, serta mempermudah penelitian mendatang dalam pengujian kelayakan Isolat bakteri asam laktat pada “lemea” sebagai kandidat probiotik atau sebagai bakteriosin.
2. Jelaskan metode isolasi mikroba yang digunakan.
➔ Isolasi diawali dengan mensuspensikan 0,5 mL cairan sampel lemea kedalam 4,5 mL NaCl 0,85% secara aseptis. Kemudian, dilakukan pengenceran secara bertahap sampai 10-6 . Masing-masing seri pengenceran dituangkan sebanyak 0,1 mL pada medium MRS yang telah disuplementasi dengan 0,5% CaCO3 dan selanjutnya petridis diinkubasi pada suhu 37 0C selama 48 jam. Seleksi bakteri dilakukan dengan mencuplik koloni yang menghasilkan zona bening dengan jarum ose steril, lalu digoreskan pada MRS. Agar yang sudah beku dan diinkubasi pada kondisi yang sama membentuk goresan kuadran dan proses ini dilakukan sampai mendapat koloni yang seragam. Koloni yang telah murni dipilih
kemudian di inokulasikan lebih lanjut kedalam MRS Broth dan diinkubasi kembali pada suhu 37 0C selama 48 jam. Kemudian, kultur dipindahkan kembali ke dalam tabung MRS dengan kandungan 0,2% agar dan CaCO3 untuk kultur stok, sedangkan kultur kerja dibuat dalam agar miring yang disimpan dalam lemari es.
3. Jelaskan cara identifikasi dari isolat mikroba.
Identifikasi bakteri asam laktat dari makanan tradisional berupa “lemea”
dilakukan dengan phenotypic method secara makroskopik dan mikroskopik. Secara teknis, phenotypic method lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan metode lain seperti immunological method dan genotypic method, meskipun jenis pengujian yang dilakukan lebih banyak. Identifikasi secara makroskopik dilakukan untuk mengetahui bentuk koloni, warna koloni, dan bentuk permukaan koloni yang dilakukan dengan cara memilih strain isolat yang berbeda setelah proses isolasi. Koloni yang diduga bakteri asam laktat berwarna putih hingga putih kekuningan, berbentuk bulat, dan tepian berwarna bening. Daerah yang jernih menandakan bahwa koloni itu adalah bakteri asam laktat, yang sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan media MRSA yang ditambah dengan 1% CaCO3, dimana koloni yang diindikasikan sebagai koloni bakteri asam laktat tumbuh dengan adanya zona jernih di sekitarnya.
Isolat bakteri asam laktat yang memiliki koloni yang sama dianggap sebagai 1 jenis (strain) didasarkan pada morfologi koloni. Hasil dari isolasi bakteri yang berjumlah 46 koloni bakteri selanjutnya diidentifikasi makroskopik serta dikelompokkan berdasarkan pada morfologi koloni yang memiliki kesamaan bentuk, permukaan tepi warna, dan ukuran. Berdasarkan hasil seleksi didapatkan 3 jenis (strain) bakteri yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Indentifikasi Makroskopik Bakteri Hasil Isolasi dari “Lemea”
Berdasarkan Tabel 1. dapat diketahui bahwa isolat dengan kode LK1 dan LK2 memiliki persamaan baik dari permukaan yang cembung, tepi utuh, dan warna putih susu hanya saja memiliki ukuran yang berbeda. Kedua isolat ini memiliki ciri- ciri
bakteri asam laktat jika dilihat dari morfologi koloni. Sedangkan isolat LK3 memiliki bentuk bulat, permukaan datar, tepi bergelombang, dan berwarna putih pucat.
Berdasarkan pengamatan morfologi secara makroskopik dimungkinkan bahwa isolat dengan kode LK3 bukan bakteri asam laktat. Hasil identifikasi makroskopik pada isolat bakteri yang diduga sebagai bakteri asam laktat yaitu isolat bakteri dengan kode LK1 dan LK2 kemudian dilanjutkan dengan identifikasi mikroskopik yaitu dengan teknik pewarnaan Gram. Pewarnaan Gram dilakukan untuk mengetahui jenis Gram dari isolat bakteri, yang merupakan penentuan karakter isolat berdasarkan perbedaan struktur dinding sel. Hasil identifikasi mikroskopik isolat bakteri asam laktat dari
“lemea” disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Identifikasi Mikroskopik Bakteri Asam Laktat dari “Lemea”
Hasil pengamatan karakterisasi mikroskopik dengan teknik pewarnaan Gram dari kedua isolat berbentuk kokus, tidak memiliki endospora, dan termasuk Gram positif. Diduga kedua isolat LK1 dan LK2 ini tergolong bakteri asam laktat karena berkesesuaian dengan hasil pewarnaan Gram yaitu Gram positif, bentuk bakteri bulat atau batang, tidak membentuk spora, mampu memfermentasi karbohidrat, dan bersifat katalase negatif. Pada proses pewarnaan Gram, dinding sel bakteri Gram positif akan berwarna ungu sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna merah. Hal tersebut dikarenakan bakteri Gram positif memiliki kandungan lipid yang lebih rendah, sehingga dinding sel bakteri akan lebih mudah terdehidrasi akibat perlakuan dengan alkohol yang menyebabkan ukuran pori-pori sel menjadi lebih kecil dan daya permeabilitasnya berkurang sehingga zat warna kristal violet yang merupakan zat warna utama tidak dapat keluar dari sel. Pada hasil penelitian, kedua isolat (LK1 dan LK2) memiliki dinding sel berwarna ungu yang menandakan kedua isolat bakteri merupakan bakteri Gram positif. Berdasarkan uji pewarnaan Gram terhadap isolat bakteri dari “lemea” didapat dua isolat bakteri asam laktat yang memiliki bentuk morfologi sel kokus dengan susunan rantai dua atau diplokokus serta tidak memiliki spora dan diduga kedua isolat ini merupakan genus Leuconostoc. Bakteri Leuconostoc adalah bakteri Gram positif , bentuk sel kokus (bulat), nonmortil (tidak memiliki spora), serta terdapat secara berpasangan atau rantai pendek. Berdasarkan identifikasi mikroskopik dapat disimpulkan bahwa kedua isolat bakteri LK1 dan LK2 dipastikan
sebagai keluarga bakteri asam laktat dari genus Leuconostoc yang merupakan bakteri heterofermentatif.
Review Artikel 2 (Seleksi Mikroba)
1. Sebutkan variasi mikroba yang digunakan serta jelaskan alasan ditetapkannya variasi tersebut.
➔ Variasi mikroba yang digunakan yaitu L. plantarum, L. acidophilus dan A. xylinum.
Alasan ditetapkannya variasi tersebut yaitu karena, pada penelitian terdahulu jenis BAL seperti L. plantarum, L. acidophilus, A. xylinum telah dilaporkan mampu menghasilkan enzim untuk mendegradasi pati dan jenis starter yang digunakan sangat menentukan kualitas tepung Mocaf yang dihasilkan. Pada penelitian Khairatunnisa (2019) dikatakan bahwa perlakuan BAL terbaik pada tepung gadung adalah tepung dengan starter L. acidophilus. Sementara itu, hasil penelitian Urbaya (2018), pada tepung umbi gadung dengan konsentrasi L. plantarum 20% dengan lama fermentasi selama 48 jam merupakan perlakuan terbaik untuk menghasilkan tepung gadung yang baik. Kemudian, pada penelitian Pertiwi (2015) dimana fermentasi dengan A. xylinum dan kefir air menghasilkan Mocaf dengan sifat fisikokimia mirip kecuali volume spesifik roti kukus, yaitu lebih tinggi untuk Mocaf yang dibuat dengan A. xylinum. Sehingga pada artikel ini dilakukan perlakuan tiga variasi mikroba tersebut pada tepung Mocaf untuk mengetahui jenis BAL yang terbaik untuk digunakan pada pembuatan tepung mocaf.
2. Jelaskan metode kultivasi (pengembangbiakan) masing-masing mikroba yang digunakan.
Mikroba yang digunakan dalam penelitian tepung mocaf yaitu L. plantarum, L. acidophillus dan A. xylinum. Ketiga mikroba yang digunakan melalui proses preparasi inokulum yang sama, isolate BAL diremajakan pada media MRSB yang mengandung pati (10%) sebagai sumber karbon. Proses peremajaan bertujuan untuk memperbanyak jumlah mikroorganisme. Selanjutnya adalah proses penginkubasian, mikroba dilakukan selama 3 hari pada suhu 370C. penginkubasian bertujuan agar isolat L. plantarum, L. acidophillus dan A. xylinum mendapatkan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhannya. Setelah selesai diinkubasi selama 3 hari, selanjutnya dilakukan pemanenan menggunakan jarum ose. Kemudian isolate disuspensi ke dalam akuades steril. Setelah itu dilakukan pengukuran dan penghitungan jumlah sel menggunakan metode TPC pada media MRSA. Isolate yang kemudian siap untuk
digunakan. Dalam percobaan ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan percobaan 2 faktor yaitu jenis Bakteri Asam Laktat dan lama fermentasi. Variasi lama fermentasi yang digunakan ialah 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan.
Faktor I : Jenis bakteri asam laktat (B) (konsentrasi = 15%) B1 = Lactobacillus plantarum
B2 = Lactobacillus acidophillus B3 = Acetobacter xylinum Faktor II : Lama Fermentasi (F) F1 = 24 jam
F2 = 48 jam F3 = 72 jam
3. Sebutkan mikroba terpilih/terbaik berdasarkan hasil riset pada artikel tersebut serta jelaskan alasan pemilihan mikroba tersebut.
Perlakuan terbaik/terpilih diperoleh pada jenis BAL Lactobacillus plantarum dengan lama fermentasi 48 jam dengan kandungan protein sebesar 2,06%, nilai pH 5,44, kadar air 2,55%, rendemen 25,32%, Total BAL 6,2 CFU/g, aroma normal dan warna putih. Alasan pemilihan mikroba dan lama fermentasi tersebut dikarenakan interaksi antara jenis BAL dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap kadar protein, kadar air, randemen, aroma, dan warna tepung Mocaf. Dimana diperoleh protein lama waktu fermentasi 48 jam yang relatif tinggi sedangkan waktu fermentasi 24 jam yang sangat rendah. Untuk kadar air waktu fermentasi 48 jam didapat kadar air yang sedikit, sedangkan waktu fermentasi 24 jam didapat kadar air yang sangat tinggi.
Untuk randemen waktu fermentasi 48 jam diperoleh randemen yang normal (25,32%), sementara waktu 24 jam dan 72 jam diperoleh randemen yang tinggi (25,96%) dan rendah (24,26%). Total BAL yang paling banyak terdapat pada waktu fermentasi 48 jam. Untuk aroma tidak terlalu asam dan warna tidak terlalu kuning.
KESIMPULAN
Pada penelitian artikel 1 dapat disimpulkan hasil identifikasi isolat bakteri asam laktat pada “lemea” yang diproduksi di industri rumahan di Desa Daspetah Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang diperoleh dua isolat bakteri asam laktat dengan kode isolat LK1 dan LK2 yang memiliki bentuk kokus, gram positif, yang diduga ke dalam genus Leuconostoc.
Hasil Pengujian aktivitas bakteri asam laktat dalam memproduksi asam laktat, untuk kedua
isolat baik LK1 dan LK2 terbukti sama- sama mampu memproduksi asam laktat, dimana isolat LK1 memiliki aktivitas lebih tinggi yaitu dengan produksi asam laktat 1,92 % dibandingkan dengan isolat LK2 yang hanya memproduksi 1,56%.
Pada penelitian artikel 2 dapat disimpulkan interaksi antara jenis BAL dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap kadar protein dan kadar air tepung mocaf. Jenis BAL memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai pH, kadar protein, kadar air, serta aroma dan warna tepung mocaf. Dan lama fermentasi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai pH, kadar protein, kadar air, rendemen, serta aroma dan warna tepung mocaf. Sementara perlakuan terbaik/terpilih pada artikel 2 diperoleh pada jenis BAL L.
plantarum dengan lama fermentasi 48 jam dengan kandungan protein sebesar 2,06%, nilai pH 5,44, kadar air 2,55%, rendemen 25,32%, Total BAL 6,2 CFU/g, aroma normal dan warna putih.
DAFTAR PUSTAKA
Khairatunissa, A., 2019. Pengaruh Jenis Starter Bakteri Asam Laktat Terhadap Mutu Tepung Umbi Gadung (Discorea Hispida Dennst) Termodifikasi. Skripsi. Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri. Universitas Mataram. Mataram.
Urbaya, L.N., 2017. Pengaruh Konsentrasi Lactobacillus plantarum terhadap Mutu Tepung Gadung (Discorea hispida Dennst). Skripsi. Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri. Universitas Mataram. Mataram.
Pertiwi, E., N. Novidahlia., dan i. Kartika, 2015. Sifat Mutu Tepung Singkong yang Dimodifikasi dengan Acetobacter xylinum dan Kefir Air. Jurnal Agroindustri Halal.
Vol 1(1):33-41.