24
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Birokrasi Max Weber
Birokrasi berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli adalah suatu sistem dalam organisasi yang dibuat dan dirancang berdasarkan aturan-aturan yang rasional dan sistematis,dengan bertujuan untuk mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas kerja individu dalam rangka penyelesaian tugas-tugas administrasi berskala besar.
Pengertian Birokrasi juga dapat dilihat dengan jenis atau karakteristik dari Birokrasi itu sendiri, namun para pakar ilmu sosial masing-masing memiliki definisi yang berbeda-beda. Birokrasi menurut Max Weber dapat dikatakan sebagai suatu organisasi yang besar dengan mempunyai ciri-ciri otoritas legal rasional, legitimasi, ada pembagian kerja dan bersifat imperasional.
Konsep dasar birokrasi tidak bisa dilepaskan dari konsep yang telah digagas oleh Max Weber sosiolog ternama asal Jerman yakni dalam karyanya ”The Theory of Economy and Social Organization” yang telah dikenal melalui ideal-type (tipe ideal) birokrasi modern.1 Model ini yang sering di adopsi dalam berbagai rujukan Birokrasi berbagai negara, termasuk di Indonesia. Konsepsi Birokrasi yang dikemukakan oleh Max Weber tersebut dapat dilihat dari legitimasi kekuasaan yang ada, yang kemudian dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu :
1. Rational-legal authority (Otoritas Legal Rasional) yaitu otoritas dimana legitimasi yang didasarkan pada keyakinan akan alat hukum yang diciptakan secara rasional dan juga pada kewenangan seseorang yang melaksanakan tata hukum sesuai prosedur. Max Weber yakin bahwa
1 Said Hamzali,”Reformasi Birokrasi” (aidhamzali.wordpress.com/catatan-kuliah-ip-2010- umy/reformasi-birokrasi/)diakses pada tanggal 10 november,09.10
25 otoritas ini dapat diandalkan karena ini merupakan bentuk otoritas yang paling memuaskan dari segi teknis.
2. Traditonal authotiy (Otoritas Tradisional) yaitu otoritas dimana sebuah legitimasi yang bertumpu pada kepercayaan dan rasa hormat pada tradisi dan masing-masing pengemban tradisi. Menurut Max Weber otoritas ini merupakan sarana ketidaksetaraan yang diciptakan dan dipelihara karena jika tidak ada yang menentang otoritas ini maka pemimpin atau kelompok pemimpin akan tetap dominan.
3. Charismatic type (Otoritas Kharismatik) yaitu otoritas dimana legitimasi dilandaskan kepada kharisma yang dimiliki oleh seorang pemimpin sehingga ia dihormati dan dikagumi oleh pengikutnya.2
2.2 Kerangka Teori
2.2.1 Birokrasi Max Weber
2 Midkholus Surur “birokrasi Weberian:Propotional approach”. jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan.Vol.11 No.2 tahun 2019 Hal.89.
1.Sentralisasi kekuasaan
Pusat memiliki kekuasaan atas kontrol pengambilan
keputusan dan pembagian kerja 2.Pembagian Kerja
Sesuai dengan fungsi dan bidangnya masing-masing 3.Sistem hierarki
Sistem hierarki secara vertikal dan jelas
4.Aturan tertulis Yang dibuat oleh pusat
BIROKRASI
26 Jadi birokrasi adalah bentuk organisasi yang dicirikan oleh pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan dengan jelas, peraturan dan ketetapan yang rinci dan sejumlah hubungan impersonal. Dalam praktek desain organisasi ideal mengalami adaptasi, tetapi jiwanya masih tetap melekat pada pembentukan organisasi Pemerintahan. Birokrasi merupakan suatu sistem admintrasi serta pelaksanaan tugas yang dimana yang terstruktur secara hierarki yang dengan jelas dilakukan dengan adanya agen ,aturan dan ketetapan normal,impersonalitas serta bagian-bagian yang lainnya. Orang- orang yang terpilih karena kemampuan dan keahlian mereka ada dibidang nya. Jadi kesimpulanya adalah Birokrasi yakni sistem admintrasi dan pelaksanaan tugas keseharian yang terstruktur. Yang ada di dalam sistem hierarki yang jelas, dilakukan dengan aturan tertulis dilakukan oleh bagian- bagian tertentu yang terpisah oleh bagian yang lainnya sedangkan untuk orang yang dipilih karena keahlian dan kemampuan dibidangnya.
Dalam penelitian ini menggunakan Birokrasi Rational Legal Autorithy (otoritas legal rasional)
Traditional authority
Kekuasaan yang berasal dari kepercayaan tradisional
Rational legal authority
Berdasarkan kemampuan individu
Charismatic authority
Berdasarkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi
/ menarik hati org lain.
FUNGSI KEKUASAAN
27
2.3 Literatur Review 2.3.1 Jurnal ke-1
Judul Daya juang menghadapi diskriminasi kerja pada penyandang Tuna Daksa
Jurnal Fakultas Psikologi-fisip Unmul
Volume dan
Halaman
1-12
Tahun 2017
Penulis Meita Setyawati Tanggal 30 oktober 2020
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran daya juang penyandang tunadaksa yang bekerja ketika dihadapkan dengan permasalahan diskriminasi kerja, bagaimana respon subjek ketika mengalami diskriminasi serta bentuk diskriminasi yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini memiliki daya juang yang berbeda satu sama lain. karena subjek memenuhi keseluruhan aspek dari daya juang. Memiliki pendidikan yang baik membuat subjek percaya diri menghadapi setiap diskriminasi yang muncul. Kemampuan ini yang membuat subjek mampu bekerja dengan baik.
Subjek Penelitian ini berfokus kepada penyandang tuna daksa Pendahuluan Pada dasarnya penyandang tunadaksa memiliki kesamaan
dengan manusia normal pada umumnya , hanya saja terdapat
28 perbedaan yang terletak pada kelainan bentuk tubuh dan ketidakberfungsian kondisi tubuh. Dampak dari kecacatan yang dialami individu dan reaksi lingkungan sosial yang tidak mendukung, biasanya membuat usaha yang dilakukan individu tuna daksa menjadi pupus begitu saja, sehingga individu tunadaksa kurang dapat mengembangkan potensi dirinya Dalam hal ini, penyandang tunadaksa juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dengan mengembangkan potensi agar dapat hidup layak dan sejajar dengan warga masyarakat lainnya. Salah satu cara untuk mendapatkan kehidupan yang layak adalah dengan bekerja.
Setiap orang memiliki hak-hak dasar dan kesamaan dalam pekerjaan tanpa perlu mendapatkan diskriminasi hanya karena perbedaan fisik yang nampak.
Metode Penelitian
Jenis metode penelitian ini menggukana kualitatif dengan penelitian naturalistik natural setting (Creswell, 2013),pendekatan yang dipakai dengan fenomenologi penentuan informan dengan purposive sampling, karena informan yag dipilih ialah yang terkait dengan judul penelitian tersebut hal ini karena dinilai dapat mampu memberikan informasi yang lebih.
Hasil Penelitian Dari penelitian diatas peneliti menggunakan 3 subyek yang berbeda, bahwa 3 subyek memiliki daya juang dalam menghadapi diskriminasi kerja walaupun mereka memiliki kekurangan dengan kondisi fisik yang sangat berbeda dengan orang awam lainnya. Para subyek memiliki perbedaan daya tahan untuk melewati diskriminasi melamar pekerjaan hingga akhirnya mereka bisa diterima bekerja dan memperlihatkan bagaimana usaha keras mereka untuk
29 bekerja sesuai apa yang mereka kuasai dalam lingkup pekerjaan.dari subyek 3 diatas terdapat aspek origin dan ownership ,kontrol atau kendali, endurance atau daya tahan
Kesimpulan Pada subjek D, terlihat pada aspek kontrol atau kendali D terhadap masalah yang pasrah dengan semua diskriminasi yang ada, Pada subjek M, terlihat pada aspek kontrol atau kendali M menghadapi masalah. Kenyataan harus menerima perubahan fisik membuat M merasa dunianya hancur.
Perubahan ini membuat M pada awalnya menjadi orang yang sangat tertutup. Akan tetapi, tanggung jawab M terhadap orangtuanya membuat M kembali bersemangat untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya. Pada subjek T, terlihat pada aspek kontrol atau kendali T menghadapi masalah. T merasa mampu mampu menghadapi setiap kesulitan yang muncul karena T menganggap itu bukanlah hal yang tidak bisa T lakukan. Pada aspek origin dan ownership (O2),
2.3.2 Jurnal ke-2
Judul Peran Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak Ketenagakerjaan Penyandang Difabel Kota Semarang
Jurnal Ilmu Pemerintahan FISIP Undip,Semarang
Volume dan
Halaman
1-17
30
Tahun 2018
Penulis Azmi Anti Mutiah Tanggal 30 oktober 2020
Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi peran Komunitas Sahabat Difabel sebagai Community based Organization(CBO) dalam pemenuhan hak ketenagakerjaan penyandang difabel. Bagaimana sebuah komunitas difabel menjalankan perannya sehingga bisa berhasil dalam memperjuangkan hak- hak ketenagakerjaan penyandang difabel serta berbagai peluang dan hambatan yang dihadapi oleh komunitas.
Hak ketenagakerjaan yang dimaksud adalah berdasarkan pada Perda Jawa Tengah tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas
Subjek Komunitas sahabat difabel,
Pendahuluan Para penyandang difabel seharusnya memiliki hak-hak dan kesempatan yang sama seperti yang lainnya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun banyak dari mereka yang ingin bekerja tapi tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan karena berbagai hambatan. Seperti yang terjadi di Kota Semarang, banyak pengusaha di Jawa Tengah yang tidak merekrut pekerja dari kaum difabel. Tenaga kerja difabel masih belum sepenuhnya terakomodasi untuk bekerja di sejumlah perusahaan.Direktur Jenderal Rehabilitas Sosial Kementerian Sosial, Samsudi mengakui baru 25%
perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas.
31 Minimnya peluang kerja dan seringnya terjadi penolakan yang dialami oleh penyandang difabel tak jarang membuatnya putus asa. Maka dari itu diperlukan adanya suatu komunitas yang bisa mewadahi para penyandang difabel agar bisa saling berinteraksi dan menuangkan aspirasinya. Kekuatan suatu komunitas adalah kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sosial yang biasanya didasarkan atas kesamaan latar belakang budaya, ideologi, sosial, dan ekonomi.
Disamping itu, secara fisik suatu komunitas biasanya diikat oleh batas lokasi atau geografis masing-masing komunitas, karenanya akan memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam menanggapi dan menyikapi keterbatasan yang dihadapinya serta mengembangkan kemampuan kelompoknya. Dengan berkomunitas diharapkan akan terjalin interaksi sosial yang saling menguatkan dalam kebaikan
Metode Penelitian
`Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif analitis melalui pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa data primer yang berasal dari hasil wawancara mendalam terhadap informan penelitian dan data sekunder berupa arsip dan dokumentasi kegiatan Komunitas Sahabat Difabel. Teknik pemilihan informan menggunakan purpossive sampling.
Hasil Penelitian hak penyandang difabel sebagai tenaga kerja adalah mendapatkan penghasilan yang adil dan perlindungan, serta memperoleh pengawasan kerja.Tugas ini merupakan kewajiban pemerintah dan perusahaan. Akan tetapi, sebagai
32 organisasi pemerhati difabel, Komunitas Sahabat Difabel memiliki peran untuk memastikan agar hak-hak tersebut terpenuhi. Seperti yang dikatakan oleh founder komunitas Ibu Noviana, bahwa jaminan akan hak-hak itu akan ditanyakan pada saat Komunitas Sahabat Difabel mendampingi proses rekrutmen tenaga kerja difabel.
Namun diakuinya, keterlibatan komunitas dalam hak ini tidak terlalu banyak, karena hal itu merupakan kesepakatan antara perusahaan dan calon tenaga kerja.
Kesimpulan Berdasarkan hasil temuan penelitian peneliti mengambil kesimpulan bahwa peran Komunitas Sahabat Difabel dalam mengadvokasi hak penyandang difabel sudah berhasil karena Komunitas Sahabat Difabel sudah menjalankan fungsi-fungsinya sebagai Community-based Organization. Komunitas Sahabat Difabel selalu berusaha untuk melibatkan diri dalam forum-forum kepemerintahan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah melalui kegiatan advokasi. Kemitraan yang dilakukan antara komunitas dan pihak swasta dapat dilihat dari adanya kerjasama dalam bidang ketenagakerjaan. Komunitas Sahabat Difabel mendampingi proses rekrutmen tenaga kerja dan menjadi bahan pertimbangan perusahaan ketika ada tenaga kerja difabel yang mengalami permasalahan dengan perusahaan. Komunitas Sahabat Difabel telah berhasil dalam menjalankan perannya untuk pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan sesuai Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 11 Tahun 2014 Peluang yang dimiliki Komunitas Sahabat Difabel adalah reputasi di mata pemerintah, swasta, dan kalangan masyarakat difabel serta letak strategis komunitas yang ada di pusat kota di Jawa Tengah. Sedangkan hambatan dalam
33 pemenuhan hak ketenagakerjaan penyandang difabel adalah perilaku tenaga kerja difabel yang kerap menjadi perselisihan hubungan industrial, persyaratan kerja yang memberatkan difabel, dan stigma dunia usaha terhadap kemampuan penyandang difabel
2.3.3 Jurnal ke-3
Judul Penyandang Disabilitas Dalam Dunia kerja Jurnal Pekerjaan sosial
Volume dan
Halaman
Vol1,No.3,hlm 234-244
Tahun 2018
Penulis Geminastiti Purinami , Nurliana Cipta Apsari, Nandang Mulyana
Tanggal 30 oktober 2020
Abstrak Penyandang disabilitas, mempunyai hak yang setara dengan orang lain. Meski begitu, diskriminasi masih kerap dirasakan karena mereka dianggap tidak mandiri. Demi mencapai kemandirian, penyandang disabilitas melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan keterampilan sosial. Kurang tersedianya lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas membuat penyandang disabilitas lebih memilih untuk bekerja pada sektor usaha.
Adanya undang-undang no 8 tahun 2006, membuat beberapa penyandang disabilitas bekerja di suatu perusahaan. Hal ini
34 menjadi tantangan tersendiri bagi penyandang disabilitas karena mereka harus dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja
Subjek Pekerja sosial,penyandang disabilitas
Pendahuluan Setiap manusia memiliki hak asasi yang sama. Hak manusia tidak dibedakan oleh perbedaan fisik, warna kulit, ras, suku maupun kepercayaan yang dianutnya. Diskrimiasi yang dialami oleh penyandang disabilitas menjadikan penyandang disabilitas kesulitan untuk memperoleh pekerjaan. Padahal dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 31 disebutkan bahwa “Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri”. Berdasarkan Undang-undang tersebut penyandang disabilitas juga mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan memperoleh pekerjaan.
Metode Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif analitis melalui pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa data primer yang berasal dari hasil wawancara mendalam terhadap informan penelitian
Hasil Penelitian Pekerjaan sosial sebagai profesi pertolongan kemanusiaan memiliki akses dan peran dalam memberikan pelayanan sosial terhadap penyandang disabilitas. Sebagai salah satu sasaran profesi pekerjaan sosial, penyandang disabilitas menjadi bagian yang penting dalam perspektif pekerjaan sosial. Pekerja sosial berfungsi untuk menjembatani antara kepentingan penyandang disabilitas dan perusahaan karena
35 perlu ada keseimbangan di antara keduanya. Dalam semua konteks, pekerja sosial berfokus pada kekuatan dan kebutuhan individu, keluarga, dan komunitas, dan bekerja secara kolaboratif untuk mendukung penyandang disabilitas untuk mencapai kehidupan yang mereka inginkan. Pekerja sosial mengambil pendekatan holistic yang mencakup faktor individu dan sistemik. Praktik pekerja sosial dengan disabilitas adalah sepanjang masa hidup, dan termasuk bekerja dengan anak-anak, orang dewasa, keluarga, pengasuh, kelompok, dan komunitas. Pekerja sosial melakukan pelayanan untuk penyandang disabilitas dengan mengadvokasi hak-hak mereka, memfasilitasi pemberdayaan mereka (dan keluarga mereka) dan mencapai kebutuhan dan aspirasi mereka.
Kesimpulan Kondisi fisik bahkan kondisi sosial penyandang disabilitas yang pada umumnya dinilai rentan, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, keterampilan, maupun kemasyarakatannya menyebabkan penyandang disabilitas belum seluruhnya dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan sebagai suatu kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Padahal, penyandang disabilitas bekerja bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan secara ekonomi, namun juga berpengaruh dalam bidang sosial. Penyandang disabilitas bekerja bukan hanya semata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka bekerja untuk mengingkatkan keterampilan sosial. Dengan bekerja, penyandang disabilitas dapat dengan sepenuhnya terjun di dalam lingkungan sosial dengan meningkatkan jaringan sosial, keterampilan sosial, kemandirian dan menjalankan berbagai peran sosial. Penyandang disabilitas juga bekerja untuk memperoleh kebutuhan akan
36 penghargaan dan pengakuan sebagai bentuk dari eksistensi diri.
2.3.4 Jurnal ke-4
Judul Pilihan Rasional Pemilik Perusahaan Kosmetik Merekrut Difabel
Jurnal Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial-Politik
Volume dan
Halaman
Vol 7,No.3
Tahun 2019
Penulis Fitri Puji Astutik, Pambudi Handoyo Tanggal 30 oktober 2020
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pilihan rasional perusahaan dalam merekrut tenaga kerja difabel.
Mendeskripsikan pembagian kerja difabel dalam perusahaan. Lokasi penelitian berada di PT United Farmatic Indonesia di Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo..
Tindakan perusahaan telah memenuhi regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahkan telah melebihi ketentuan pemerintah. Adanya kerja sama yang dibangun oleh pihak perusahaan dan pihak yayasan berlandaskan sebuah kepercayaan (trust). Menjadi bagian proses subjek mengaktualisasi pilihan rasionalnya. Aktor korporat
37 memberikan akses besar bagi para difabel untuk bekerja di perusahaan
Subjek pemilik perusahaan, kepala manager HRD perusahaan, pihak penyalur tenaga kerja difabel, dan pendamping calon tenaga kerja difabel. Beberapa tenaga kerja yang bekerja di PT United Farmatic Indonesia juga akan menjadi subjek penelitian untuk memperkuat data.
Pendahuluan Pada dasarnya semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Terutama dalam mendapatkan hak untuk memperolah pekerjaan. Usia produktif yang telah menempuh pendidikan selama 12 tahun berhak untuk mendapatkan kesempatan dan peluang untuk bekerja serta diterima di perusahaan yang di inginkan. Begitu pula dengan kaum difabel juga mempunyai keinginan yang sama dalam mendapatkan kesempatan kerja. Fokus dari penelitian ini adalah bagaimana pilihan rasional pihak PT. United Farmatic Indonesia merekrut difabel. Sedangkan tidak sedikit orang normal yang menginginkan untuk menjadi karyawan perusahaan tersebut. Dari segi pengalaman dan kemampuan (softskill) yang lebih unggul dibandingkan difabel. Kebanyakan perusahaan membuat syarat yang komplek dan kaku (rigid)
Metode Penelitian
`Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori pilihan rasional James S. Coleman. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive.
Subjek ditentukan berdasarkan ciri-ciri tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian, Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data pendukung dalam penelitian ini
38 diperoleh dari pihak kedua. Data yang diperoleh bersifat given. selain itu data pendukung lainnya diperoleh dari situs resmi BPS, jurnal, buku atau referensi lain. Penelitian ini menggunakan sebuah alat analisis teori pilihan rasional (rational choice). Terdapat dalam karya Moleong beberapa langkah untuk menganalisis yakni pemrosesan satuan, melakukan 3 kategorisasi, penafsiran data. (Moleong, 2015:
249- 260)
Hasil Penelitian Lulusan difabel yang direkrut oleh PT United Farmatic Indonesia rata-rata lulusan SMA Luar Biasa. Pihak Yayasan Mandiri yang telah menyalurkan pada perusahaan. Usia tenaga kerja difabel yang diterima perusahaan berkisar antara 19 – 25 tahun. Lebih mengutamakan skill dibandingkan usia. Seperti apa yang dikatakan oleh James S.
Coleman bahwa aktor akan lebih berkuasa terhadap sumber daya yang dimilikinya. Bukan hanya untuk mengatur syarat dan ketentuan untuk bekerja di perusahaan. Hal lain juga diatur seperti tingkah laku menyangkut etika kesopanan tenaga kerja difabel. Seperti apa yang dikatakan oleh pemilik perusahaan setiap bulannya ada laporan khusus mengenai kriteria penilaian tenaga kerja difabel mauapun tenaga kerja reguler. Hal itu menjadi indikator perusahaan untuk menentukan bagaimana perkembangan tenaga kerja difabel Kesimpulan Merekrut tenaga kerja merupakan sebuah keuntungan bagi
perusahaan. Pada awal mula berdiri dapat membayar murah gaji para difabel. Hal itu dilakukan karena adanya efek dari krisis moneter yang terjadi. Seiring dengan berjalannya waktu perusahaan mengalami meningkatan yang signifikan pada sisi keuntungan. Pada akhirnya dapat menggaji tenaga kerja difabel sesuai dengan UMK. Pertukaran yang terlihat
39 adalah pihak yayasan telah menawarkan lulusan difabel dan untuk mengucapkan rasa teima kasih. Pihak perusahaan telah memberikan dana sebesar Rp 450.000.000,00.
Bertujuan untuk merenovasi SMA Putra Mandiri dan Yayasan Karya Mandiri.. Kinerja dari tenaga kerja difabel sangatlah mempengaruhi kepercayaan yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada pihak yayasan. Hal ini ditunjang oleh pernyataan pemilik perusahaan bahwa ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja difabel. Pihak yayasan telah siap untuk membantu. Artinya pihak yayasan telah dipercaya untuk menyalurkan lulusannya.
2.3.5 Jurnal ke-5
Judul Kajian hukum terhadap fasilitas Pelayanan Publik bagi Penyandang Disabilitas
Jurnal
Volume dan
Halaman
Vol V,No,3
Tahun 2016
Penulis Fanny Priscyllia Tanggal 1 november 2020
Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab negara terhadap jaminan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas sesuai dengan
40 peraturan perundangundangan dan bagaimana aksesibilitas terhadap fasilitas pelayanan publik bagi penyandang disabilitas di Indonesia, Pelayanan publik merupakan hak dasar warga negara dan tanggung jawab negara untuk memenuhinya dalam rangka kesetaraan Hak Asasi Manusia termasuk dalam bentuk fasilitas pelayanan publik yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Pemerintah telah menjamin aksesibilitas terhadap fasilitas publik bagi penyandang disabilitas yang diatur dalam beberapa kebijakan.
Subjek Pemerintah
Pendahuluan Permasalahan yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia antara lain kurangnya akses informasi tentang pentingnya melakukan rehabilitasi, kurangnya fasilitas umum yang mempermudah para penyandang disabilitas melaksanakan kegiatan sehari-hari dan kurangnya akses pekerjaan untuk penyandang disabilitas.5 Sebagai warga negara Indonesia, penyandang disabilitas juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang mempunyai kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama dengan warga negara lainnya. Bahkan UUD 1945 telah mengatur bahwa “Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”
Metode Penelitian
`Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan Skripsi ini ialah metode penelitian yuridis normatif guna meneliti peraturan perundang-undangan dan literatur yang sesuai dengan permasalahan yang dibahas. Jenis penelitian ini hanya menggunakan data sekunder yang dikumpulkan dari
41 bahan-bahan kepustakaan hukum seperti: bahan hukum primer yaitu: peraturan perundang-undangan; bahan hukum sekunder yaitu : buku-buku literatur dan karya-karya ilmiah hukum. Bahan hukum tersier, terdiri dari : Kamus Hukum dan Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif dan normative
Hasil Penelitian Para penyandang disabilitas atau difabel masih menemui kesulitan untuk mengakses fasilitas publik. Pemenuhan hak- hak kaum difabel atau penyandang disabilitas mutlak untuk direalisasikan oleh pemerintah, yakni pemenuhan aksesibilitas fasilitas publik untuk kaum difabel. Sebagai warga negara, kaum difabel memiliki hak untuk mengakses ruang publik dan memanfaatkan fasilitasnya. Langkah awal yang mungkin bisa dijalankan pemerintah adalah melibatkan kaum difabel dalam setiap perumusan konsep hingga tahap akhir pembangunan infrastruktur publik. Dengan demikian, harapannya tidak ada lagi warga negara yang hanya bisa menjadi penonton pembangunan infrastruktur publik tanpa bisa mengaksesnya. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya bersungguh-sungguh mewujudkan aspirasi difabel.
Kesimpulan Pelayanan publik merupakan hak dasar warga negara dan tanggung jawab negara untuk memenuhinya dalam rangka kesetaraan Hak Asasi Manusia termasuk dalam bentuk fasilitas pelayanan publik yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Pemerintah telah menjamin aksesibilitas terhadap fasilitas publik bagi penyandang disabilitas yang diatur dalam beberapa kebijakan.
42 Dalam literatur yang di dapat oleh peneliti dengan tema dan judul terkait “Birokrasi Rasional Dalam Rekruitmen Penyandang Difabel”, dari lima jurnal atau literasi yang didapat oleh peneliti yakni jurnal pertama yang mengangkat judul tentang”Daya Juang Menghadapi Diskriminasi Kerja Pada Tuna Daksa” dalam penelitian ini peneliti mengatakan bahwa para penyandang Tuna Daksa mampu melawan diskriminasi kerja sehingga mereka akhirnya dapat diterima di suatu pekerjaan fokus penelitian ini terhadap upaya tuna daksa melawan adanya diskriminasi di lingkup pekerjaan hal ini dapat dilihat bahwa fenomena terhadap diskriminasi pekerjaan di masyarakat masih ada diskiriminasi pekerjaan sehingga membuat para penyandang tuna daksa pesimis hal ini didukung menggunakan teori bahwa adanya diskriminasi pekerjaan makibatkan adanya hambatan seseorang di dunia kerja untuk melakukan kegiatan yang mendapatkan bayaran(Vellazques,2005) .
Penelitian kedua dalam judul “Peran Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak Ketenagakerjaan Penyandang Difabel Kota Semarang” yang mengatakan bahwa adanya kekuatan suatu komunitas adalah suatu kepentingan bersama demi mencapai kebutuhan kehidupan sosial yang berdasarkan kesamaan latar belakang, Ideologi, ekonomi dan sosial.berfokus pada para penyandang difabel, Judul ini mengangkat tema yang sama dengan peneliti yakni dimana peran komunitas sangat diperlukan untuk menyuarakan hak-hak kerja para disabilitas peran seperti yang sangat diperlukan adanya suatu komunitas untuk dijadikan sebagai wadah para Difabel sebagai tempat agar bisa saling berinteraksi dan menuangkan aspirasinya hal ini dikuatkan dengan teori peran Soerjano Soekanto dimana adanya aspek dinamis,perilaku sosial dan bagian aktivitas yang dimainkan oleh seseorang.
Penelitian ketiga terkait ”Penyandang Disabilitas Dalam Dunia Kerja ” disini terdapat kebaharuan dengan penelitian pertama, penelitian ini lebih memfokuskan pada pembahasan bagaimana para penyandang Difabel dapat menyesuaikan diri di dalam lingkungan kerja namun tujuan peneliti hampir
43 sama yakni mengubah stigma negatif masyarakat terhadap para disabilitas dalam dunia kerja.
Penelitian ke-empat ”Bagaimana Pilihan Rasional Pihak PT.United Farmatic Indonesia Merekrut Difabel ” penelitian ini menunjukan bahwa pemilik perusahaan sangat berperan penting dalam pengambilan memuat keputusan,pemilik perusahaan disini dikatakan sebagai aktor dimana tindakan yang akan diambil untuk mencapai sebuah kepentingan.dalam penelitian ini hanya berfokus pada pemilik perusahaan dan kebaharuan pada penelitian ini dimana adanya tujuan untuk menggali serta mengetahui pertimbangan pihak perushaan dalam rekruitmen pegawai difabel.
Penelitian ke-lima “Kajian Hukum Terhadap Fasilitas Pelayanan Publik Bagi Penyandang Difabel ”yang dimana penelitian ini berfokus pada layanan publik ,penelitian tersebut mengangkat isu dengan ikatan kajian hukum namun dalam penelitian ini hanya melibatkan apartur negara tanpa melibatkan bagaimana kepuasan para penyandang disabilitas tersebut.
Maka dari itu dari lima literature review yang peneliti temui yang membedakan dengan penelitian ini terletak pada bagaimana pemerintah sebagai apartur negara yang menjadi tangan untuk para difabel menuangkan aspirasi dan kelebihan mereka,dengan didukung menggunakan teori Birokrasi Max Weber lebih menekankan kepada Otoritas legal Rasional dimana ini terletak pada kemampuan masing-masing individu pada kelebihannya dan ditempatkan di divisi sesuai kemampuan masing-masing para penyandang difabel sesuai dengan yang telah dituliskan dalam aturan negara yaitu Undang-Undang sehingga disini tidak ada diskriminasi kerja semua pegawai penyandang difabel diperlakukan sama rata seperti yang lainnya. yang dimana disini berfokus kepada Instansi Pemerintah, kebaharuan yang dimiliki berupa peran serta komunitas dan karang taruna yang dimana telah berani untuk bekerjasama dibawah naungan dengan Dinas Sosial Kota Batu dalam membantu para penyandang difabel untuk bisa bekerja di dalam naungan pemerintahan.
44 Kebaharuan dari tabel literature review yang peneliti temui dengan penelitian sebelumnya terletak juga kepada sasaran penelitian pertama hanya berfokus kepada para penyandang tuna daksa dengan menggunakan teori Vellazques yakni diskriminasi kerja, penelitian kedua komunitas penyandang difabel penelitian ini hampir sama dengan peneliti yakni berfokus pada komunitas akan tetapi yang membedakanya peneliti menggunakan subyek lain tidak hanya bertumpu kepada komunitas saja dan penelitian ini didukung oleh teori peran Soerjono Soekanto, penelitian ketiga pekerja sosial dan penyandang disabilitas penelitian ini hampir sama dengan penelitian pertama terkait diskriminasi pekerja yang dimana untuk menunjang dan mempermudah para difabel dalam beraktivitas di lingkup pekerjaan, penelitian ke-empat pemilik perusahaan, kepala manager HRD perusahaan, pihak penyalur tenaga kerja difabel, dan pendamping calon tenaga kerja difabel. Beberapa tenaga kerja yang bekerja di PT United Farmatic Indonesia dan terakhir pemerintah akan tetapi penelitian ini hanya berpusat kepada layanan publik
45