• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN PEMECAHANNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN PEMECAHANNYA"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

11

BAB 2

PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN PEMECAHANNYA

RUMAH SUSUN DENGAN PENDEKATAN FLEKSIBILITAS DI KAWASAN SUNGAI KAHAYAN KOTA PALANGKARAYA

Pada bab kali ini akan menjelaskan kajian teori terkait perancangan Rumah Susun . Kajian teori tersebut meliputi Kajian Site, mengenai lokasi terpilih pada perancangan serta kajian Rumah Susun , fleksibilitas, budaya, dan keselarasan bangunan & RTH.

2.1 Kondisi Site

Lokasi perancangan terletak di Kalimantan Tengah, Kota Palangkaraya. Palangkaraya adalah Sebuah kota dengan beragam budaya dan keindahan alamnya, sebuah kota yang mengalir ditengahnya sungai cantik (Sungai Kahayan) dengan pemandangan khas tropis sebagai salah satu sarana roda perekonomian dan kegiatan penduduk. Geliat perkembangan pembangunan dan wisata mulai mengemuka, maka dari itu kawasan pinggiran sungai yang tadinya menjadi kawasan kumuh dan tidak tertata akan di jadikan sebagai wajah kota Palangkaraya dengan mengembalikan fungsi dari Ruang Terbuka Hijau dan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang masih rendah.

Gambar 2.1 Peta Kalimantan Tengah ( Sumber : Mellianae Merkusi, 2014 )

(2)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

12

Gambar 2.2 Peta Kota Palangkaraya ( Sumber : Mellianae Merkusi, 2014 )

Beberapa kecamatan yang ada di Kota Palangkaraya memiliki tingkat kepadatan penduduk yang berbeda – beda . Kecamatan yang masuk kedalam daftar Program Pemerintah yaitu Kecamatan Pahandut, penyebabnya adalah Kawasan tersebut berada di tepian Sungai Kahayan dan hampir rata – rata permukimannya tidak memiliki izin mendirikan bangunan sehingga akan dilakukan penataan kawasan permukiman oleh Pemerintah.

(3)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

13

Gambar 2.3 Peta batasan Kecamatan Pahandut Sumber : Penulis 2018

Gambar 2.4 Peta batasan Desa Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangkaraya Sumber : Penulis 2018

(4)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

14

2.2 Peta Kondisi Fisik

Gambar 2.5 Kondisi Fisik sekitar Kawasan site (Sumber : Analisis penulis, 2017)

Kondisi permukiman di pinggiran sungai Kahayan memiliki tingkat kepadatan yang cukup tinggi yaitu di daerah Kecamatan Pahandut. Selain itu tanah – tanah yang digunakan untuk membangun suatu bangunan adalah tanah milik pemerintah Kota.

(5)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

15

2.3 Data Lokasi dan Peraturan bangunan terkait

2.3.1 Lokasi

Program pemerintah tentang pengembalian tepian sungai mencakup beberapa kecamatan diantara nya terletak di Kecamatan Pahandut , Kota palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pahandut adalah salah satu desa di KecamatanPahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia dengan luas total area 8,201 km2. Desa Pahandut termasuk dalam bagian desa yang sudah lama didirikan di Kota Palangkaraya sebelum menjadi 16 desa pada tahun 2002. Jumlah penduduk Desa Pahandut sampai bulan Desember Tahun 2015 sebanyak 42.383 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 12.000 KK yang tersebar di 26 Rukun Warga (RW) dan di 96 Rukun Tetangga (RT), dengan perincian sebagai berikut :

1. Laki – laki : 21.829 Jiwa 2. Perempuan : 20.554 Jiwa.

3. Jumlah : 42.383 Jiwa

Gambar 2.6 Desa Pahandut yang termasuk dalam program pemerintah Sumber : Penulis 2018

(6)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

16

2.3.2 Penentuan Site dan Data ukuran lahan

Titik perancangan program pemerintah yang mencakup beberapa wilayah kecamatan di Kota Palangkaraya yaitu sebagai berikut :

Gambar 2.7 Cakupan wilayah dari Program pemerintah

( Sumber :Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan tengah , 2017 )

Gambar 2.8 Cakupan wilayah dari Program pemerintah

( Sumber :Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan tengah , 2017 )

(7)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

17

1. Kepadatan penduduk : Jumlah kepadatan penduduk di blok 4, 5 , dan 6 adalah jumlah kepadatan yang paling banyak di bandingkan kawasan pinggiran sungai lainnya, yaitu berada di kelurahan Pahandut.

2. Program pemerintah : Dari 6 blok yang masuk kedalam perencanaan program pemerintah blok yang sampai tahun 2018 ini telah di bangun yaitu blok 1, dan 2, blok 3 dalam proses pembangunan pemerintah Kota Palangkaraya. Sedangkan blok yang belum masuk ke dalam perancangan maupun pembangunan adalah blok 4, 5, dan 6, sehingga perlu penataan kawasan permukiman yang akan di relokasi.

Gambar 2.9 Program Pemerintah yang telah terbangun

( Sumber :Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan tengah , 2017 )

3. Adanya Fasilitas Permukiman : Rumah lanting, Rumah Panggung Lanting yang berada di permukiman tersebut kebanyakan tidak memiliki izin pembangunan sehingga dalam program pemerintah ini tentang penataan kawasan sungai dan permukiman tersebut harus di relokasi.

(8)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

18

Dari peta program pemerintah terasebut, titik lokasi yang akan di rancang untuk Rumah Susun yaitu : Lokasi terletak di Jl Kalimantan , Kecamatan Pahandut, Kelurahan Pahandut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Gambar 2.10 Lokasi Perancangan Rumah Susun di Desa Pahandut (Sumber : Penulis,2018)

Lokasi ini banyak dipenuhi dengan bangunan - bangunan rumah lanting yang telah melewati garis sempadan sungai dan tidak memiliki izin, kawasan yang terlihat kumuh membuat pemerintah kurang menyetujui adanya bangunan di sekitar pinggiran sungai tersebut.

Gambar 2.11 Luas keseluruhan kawasan (Sumber : Penulis,2018)

(9)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

19

Batas – batas dari lokasi yang di rancang :

a. Bagian utara berbatasan langsung dengan Sungai Kahayan dan Kecamatan Pahandut Seberang.

b. Bagian Barat berbatasan dengain Danau Seha.

c. Bagian Timur berbatasan langsung dengan permukiman – permukiman rumah lanting.

d. Bagian Selatan berbatasan dengan jalan Kalimantan dan juga Kota Palangkaraya.

Prediksi Site :

a. Luas keseluruhan kawasan sebesar 120.000 m2 . b. Luas Lahan Rumah Susun 20.500 m2

c. Dekat dengan sungai dan Jalan utama sehingga dikelilingi oleh kawasan – kawasan kota.

d. Aksesibilitas terbilang mudah dikarenakan langsung bersinggungan dengan jalan besar.

e.

Terdapat di kawasan yang memiliki budidaya ikan

.

Gambar 2.12 Luas pada tiap kawasan (Sumber : Penulis,2018)

(10)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

20

2.3.3 Data peraturan bangunan terkait

Data peraturan bangunan yang digunakan di daerah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk Kawasan pinggiran sungai meliputi :

Peraturan Izin mendirikan bangunan ( KDB,KLB, Garis Sempadan sungai, dan Ketinggian bangunan ) 2.3.3.1 Koefisien Dasar bangunan

Berdasarkan peraturan daerah Kota Palangkaraya nomor 16 Tahun 2009 mengenai izin mendirikan bangunan Gedung , KDB yang di tentukan dalam perancangan bangunan yaitu tercantum dalam pasal 10 dengan bunyi :

1. Setiap bangunan gedung yang dibangun dan dimanfaatkan harus memenuhi kepadatan bangunan yang di atur dalam Koefisien Dasar bangunan (KDB) sesuai yang di tetapkan untuk lokasi yang bersangkutan.

2. Koefisien Dasar bangunan ( KDB) ditentutkan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan/

resapan, air permukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsi bangunan, keselamatan dan kenyamanan bangunan.

3. Ketentuan besarnya KDB pada ayat (1) disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang kota atau yang diatur dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan untuk lokasi yang sudah memilikinya, atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

4. Setiap bangunan umum apabila tidak detentukan lain, ditentukan KDB maksimum 60%

2.3.3.2 Koefisien Lantai Bangunan

KLB yang ditentukan dalam perancangan bangunan gedung yaitu tercantum dalam pasal 11 dengan bunyi :

1. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) detentukan atas dasar pelestarian lingkungan/resapan air permmukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukkan, fungsi bangunan, keselamatan dan kenyamanan bangunan, keselamatan dan kenyamanan umum.

2. Ketentuan besarnya KLB pada ayat (1) disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Kota atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

3. Setiap bangunan umum ditentukan KLB 3.0

(11)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

21

2.3.3.3 Garis Sempadan Sungai/Pantai/Danau

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota palangkaraya mengenai izin mendirikan bangunan gedung, Garis Sempadan sungai yang ditentukan dalam perancangan bangunan gedung yaitu tercantum dalam pasal 15 yang berbunyi :

1. Garis sempadan untuk bangunan gedung yang dibangun di tepi pantai/danau/sungai, apabila tidak ditetapkan laon adalah sebesar 100 m dari garis pasang tertinggi untuk bangunan gedung di tepi pantai, dan 50 m untuk bangunan gedung di tepi danau/sungai.

2. Besarnya garis sempadan pantai/danau/sungai diluar ayat (1) ditetapkan oleh walikota setelah mendengar pertimbangan para ahli.

2.3.3.4 Ketinggian Bangunan Gedung

Berdasarkan Peraturan daerah Kota Palangkaraya mengenai izin mendirikan bangunan Gedung , Ketinggian bangunan yang ditentukan dalam perancangan bangunan gedung yaitu tercantum dalam pasal 13 yang berbunyi :

1. Ketinggian bangunan ditentukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang

2. Ketinggian bangunan deret maksimum 4 (empat) lantai dan selebihnya harus berjarak dengan persil tetangga.

Gambar 2.13 Peraturan Izin Mendirikan Bangunan Gedung Kota palangkaraya (Sumber : Penulis,2017)

(12)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

22

Lokasi yang dapat dibangun Rumah Susun hanya di blok 6, dikarenakan pada blok 6 adalah area yang bukan pasang surut dan area perkerasan sehingga dengan adanya pembangunan rumah susun tidak membahayakan bagi para penggunanya.

Peraturan pembangunan pada blok 6 memiliki maksimal ketinggian bangunan yaitu 15m dan 60% jumlah Koefisien Dasar Bangunan.

2.3.3.5 Data Klien dan Pengguna

Rumah susun yang dirancang untuk masyarakat rumah lanting sebagai pengganti rumah mereka yang di relokasi oleh pemerintah, pemerintah hanya menyediakan beberapa perumahan di kawasan tersebut dan tidak sepenuhnya mendapatkan tempat. Berikut pengguna dari Rumah Susun :

Gambar 2.14 Data pengguna bangunan Rumah Susun (Sumber : Penulis,2017)

2.4 Kajian Teori Rumah Susun

Istilah Rumah Susun berasal dari terjemahkan kata flat dalam Bahasa inggris yang berarti rumah tinggal yang bertingkat dan beratap datar atau loteng sebagai tempat tinggal atau kediaman tersendiri (Andasmita, 1986 : 7 dalam Arifin 2004).

Rumah susun1 adalah bangunan Gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian – bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertical dan merupakan satuan – satuan yang masing – masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama (Menurut UU No.16 tahun 1985 tentang rumah susun)

(13)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

23

Rumah susun2 adalah bangunan yang direncanakan dan digunakan sebagai tempat kediaman oleh bebrapa keluarga serta mempunyai tingkat minimum dua lantai dengan beberapa unit hunian.

Berdasarkan pengertian tersebut, ada beberapa konsep penting terkait rumah susun :

1. Satuan rumah susun yang selanjutnya disebut sarusun adalah unit rumah susun yang tujuan utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai tempat hunian dan mempunyai sarana penghubung ke jalan umum (Pasal 1 angka 3 UU Rusun).

2. Tanah bersama adalah sebidang tanah hak atau tanah sewa untuk bangunan yang digunakan atas dasar hak bersama secara tidak terpisah yang di atasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan batasnya dalam persyaratan izin mendirikan bangunan (Pasal 1 angka 4 UU Rusun).

3. Bagian bersama adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun (Pasal 1 angka 5 UU Rusun).

4. Benda bersama adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun melainkan bagian yang dimiliki bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama (Pasal 1 angka 6 UU Rusun).

Dalam UU No.16 Tahun 1985 pasal 3 ayat 1 dijelaskan bahwa tujuan pembangunan rumah susun adalah antara lain :

a. Memenuhi kebutuhan perumahan yang layak bagi rakyat, terutama bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yang menjamin kepastian hukum dalam pemanfaatannya.

b. Meningkatkan daya guna dan hasil guna tanah didaerah perkotaan dengan memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan menciptakan lingkungan permukiman yang lengkap, serasi dan seimbang.

Berdasarkan kelompok sasarannya pembangunan rumah susun sederhana dikategorikan dalam dua jenis, yaitu : rumah susun sederhana untuk dimiliki (rusunami) dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Perumahan dan Permukiman No.

10/KPTS/M/1999 disebutkan bahwa sasaran prioritas bagi masing – masing kategori rumah susun tersebut berbeda satu sama laindengan penjelasan sebagai berikut :

(14)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

24

1. Rumah Susun sederhana milik

Rumah susun sederhana ini diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang secara ekonomi mampu untuk membeli (tunai atau dengan KPR) unit rumah susun. Investasi Pemerintah dalam batas memberi insentif kemudahan perijinan dan petunjuk teknis, karena pembangunannya menunjang kebijakan Pemerintah.

2. Rumah susun sederhana sewa tanpa subsidi

Rumah susun sederhana ini diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang secara ekonomi mampu, tetapi memilih untuk tinggal dirumah sewa (karena tinggal sementara atau alasan lain). Investasi Pemerintah dalam batas memberi insentif kemudahan perijinan dan petunjuk teknis, karena pembangunannya menunjang kebijakan Pemerintah.

3. Rumah Susun sewa bersubsidi ini secara umum dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Subsidi terrbatas : diprioritaskan bagi kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah kebawah yang mampu membayar meskipun terbatas. Intervensi Pemerintah dapat dilakukan dalam penyediaan tanah, pembiayaan, pembangunan, maupun pengolahannya, namun tetap diperhitungkan pengembalian dananya, agar dapat bergulir untuk proyek selanjutnya.

b. Subsidi penuh : diprioritaskan bagi kelompok yang kemampuan ekonominya sangat terbatas, hanya mampu membayar sewa untuk menutup ongkos operasi dan pemeliharaan rutin saja. Intervensi Pemerintah dilakukan dengan memberi subsidi pembangunan (tanah,bangunan, prasarana dan sarana dasar lingkungan) sepenuhnya (social housing)

(15)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

25

Gambar 2.15 Kategori Rumah Susun sederhana berdasarkan kelompok sasaran calon penghuni (Sumber : Lampiran Keputusan Menteri Negara Perumahan dan permukiman

No.10/KPTS/M/1999)

A. Klasifikasi Rumah Susun 1. Menurut

Peruntukan

Di dalam menentukan peruntukan rumah susun untuk berbagai golongan masyarakat, ada tiga pedoman/ pegangan untuk dapat mengklasifikasikan menurut peruntukkannya, terutama untuk golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah (rumah susun sederhana dan rumah susun sangat sederhana ),menurut ( Rumah seluruh rakyat, 1991 ; Siswono ) tentang klasifikasi Rumah Susun sederhana tipe A yaitu :

Type – 18 : - Ruang Multi Fungsi - Kamar mandi

Type – 27 : - Kamar Tidur (2) - Kamar mandi - Ruang Tamu - Dapur

- Balkon / Ruang jemur

(16)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

26

Type – 45 : - Kamar Tidur

- Ruang Tamu - Dapur

Rumah susun memiliki karakteristik yang berbeda dengan hunian horizontal. Rumah susun mengandung dualism sistem kepemilikan perseorangan dan bersama baik dalam bentuk ruang maupun benda.

Tabel 2.1 Rumah Menurut Golongan

(Sumber : Rumah Seluruh rakyat, 1991; Menurut Daniel (1998:20-21)

Menurut Surat keputusan menteri Negara Perumahan Rakyat No. 02/KPTS/1993 , Rumah Susun Sederhana yaitu dengan tipe : T-12, T-15, T-18 , T-21. Berdasarkan pada golongan pendapatan penghuni serta luasan satuan unit rumah susun, rumah susun di Indonesia dibagi menjadi (Kantor menneg Perumahan Rakyat , 1986):

a) Rumah susun sederhana , yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan sederhana atau rendah . Luas satuan rumah antara 21-36 m2 , tanpa perlengkapan mekanikal dan elektrikal .

b) Rumah susun menengah , rumah susun dengan luas satuan 36-54 m2. Kadang dilengkapi dengan perlengkapan mekanikal dan elektrikal tergantung dari konsep dan tujuan pembangunannya . rumah susun ini diperuntukkan bagi mayarakat golongan bepenghasilan menengah .

c) Rumah Susun mewah , rumah susun bagi golongan berpenghasilan atas.Luas ruang , kualitas bangunan , perlengkapan bangunan tergantung dari konsep dan tujuan pembangunannya . dengan beberapa fasilitas lengkap dan status kepemilikan tertentu.

Rumah susun mewah ini disebut juga kondominium .

(17)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

27

2. Menurut Ketinggian

Menurut John Mascai dalam “Housing” (1980, hal 225-226), Rumah susun dibedakan menjadi :

a. Rumah susun dengan ketinggian sampai dengan 4 lantai (low rise) . Rumah susun ini menggunakan tangga konvensional sebagai alat transportasi vertikal .

b. Rumah susun dengan ketinggian 5-8 lantai (medium rise). Rumah susun ini sudah menggunakan escalator sebagai alat transportasi vertical .

c. Rumah susun dengan ketinggian lebih dari 8 lantai (high rise). Rumah susun ini menggunakan elevator sebagai alat transportasi vertikal .

3. Menurut Pelayanan Koridor

Berdasarkan pelayanan koridor Menurut John Mascai dalam “Housing” (1980, hal 226- 262), Rumah susun dibedakan menjadi :

a) Eksterior corridor system

Disebut juga single loaded corridor, merupakan system corridor yang melayani unit-unit hunian dari satu sisi saja. Ciri utama bangunan yang menggunakan system ini adalah tiap unit hunian memiliki dua wilayah ruang luar.Bentuk ini memungkinkan unit-unit apartemen mendapatkan ventilasi silang dan pencahayaan dari dua arah secara alamiah.

Bentuk bangunan secara keseluruhan pada umumnya merupakan bentuk massa memangjang dan bukan merupakan tipe yang ekonomis, karena dengan luasan yang sama hanya diperoleh jumlah unit hunian jika menggunakan double louded system.

Gambar 2.16 Exterior Corridor System (Sumber : Mascai, John 1982)

(18)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

28

b) Central Corridor System

Disebut juga dengan system double loaded, merupakan sistem koridor yang melayani unit- unit hunian dari dua sisi.

Gambar 2.17 Central Corridor (Sumber : Mascai, John 1982)

c) Point Block System

Merupakan pengembangan dari sistem double loade dengan corridor yang sangat pendek, sehingga terjadi perubahan dari koridor linier menjadi bujur sangkar.

Sistem koridor ini memiliki core yang secara langsung berhubungan dengan unit-unit hunian yang tersusun mengelilingi core. Unit-unit hunian yang ada terbatas antara 4 sampai 6 unit.

Bentuk bangunan secara keseluruhan pada umumnya merupakan bentuk menara.

Gambar 2.18 Point Block System (Sumber : Mascai, John 1982)

d) Multicore System

Sistem ini digunakan untuk memenuhi tuntutan yang lebih bervariasi dari bangunan hunian. Faktor utama yang menentukan penggunaan jenis ini adalah kondisi tapak, pemandanga dan jumlah unit.

(19)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

29

Gambar 2.19 Multicore System (Sumber : Mascai, John 1982)

4. Standar Ukuran Hunian

Menurut SNI 03-7013-2004 Tata cara perencanaan fasilitas lingkungan rumah susun sederhana, yaitu sebagai berikut :

- Rumah susun sederhana bangunan bertingkat berfungsi untuk mewadahi aktivitas menghuni yang paling pokok, dengan luas tiap unit minimal 18 m2 dan maksimal 36 m2.

Tabel 2.2 Luas lahan untuk fasilitas lingkungan rumah susun dengan KDB 50 - 60%

Sumber : SNI 03-7013-2004

(20)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

30

Tabel 2.3 Tipe Hunian Bedasarkan Luasan dan Fasilitias

Sumber : SNI 03-7013-2004

2.5 Teori Fleksibilitas (Penggunaan Ruang)

Fleksibilitas adalah Kelenturan atau keluwesan, penyesuaian diri secara mudah dan cepat.

Fleksibilitas penggunaan ruang adalah suatu sifat kemungkinan yang di gunakan dalam sebuah ruang untuk berbagai macam kegiatan dan dapat dirubah sewaktu - waktu sesuai susunan yang di tentukan tanpa harus mengubah tatanan/bentuk bangunan.Kriteria pertimbangan fleksibilitas adalah :

a. Segi teknik, yaitu kecepatan perubahan, Kepraktisan, resiko rusak kecil, tidak banyak aturan, memenuhi persyaratan ruang.

b. Segi ekonomis, yaitu murah dari segi biaya pembuatan dan pemeliharaan.

Fleksibilitas arsitektur dengan menggunakan berbagai macam solusi dalam mengatasi perubahan - perubahan aspek terbangun di sekitar tapak sehingga dapat dianalisa pada kajian temporer yaitu dimana fleksibilitas arsitektur ini dapat berubah sesuai dengan yang pengguna butuhkan. Sifat temporer ini dapat di analisa pada tiga aspek temporal dimension oleh Carmona, et al (2003) : 1. Time Cycle and Time management

"Activity are fluid in space and time, environment are used differently at different times". Dari pernyataan ini dapat disarikan bagaimana aktivitas selalu berubah sesuai dengan ruang maupun sesuai dengan waktu seperti sebuah zat cair yang nantinya akan memerlukan sebuah wadah untuk memberikan kekuatan aktivitas tersebut. Disinilah arsitek sebagai pencipta ruang harus selalu kritis melihat celah - celah terbentuknya ruang yang berubah sesuai dengan perubahan waktu yang juga memberikan reaksi pada penggunaan lingkungan sekitarnya.

(21)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

31

2. Continuity and Stability

"Although environment relentlessy change over time, a high value is often placed on some degree of continuity and stability" Walaupun lingkungan selalu berubah dari waktu ke waktu sebuah keberadaan desain seharusnya mampu beradaptasi dengan perubahan - perubahan lingkungan tersebut, sehingga keberlanjutan desain yang diharapkan dari sebuah karya arsitektur memiliki fungsi optimal yang stabil dalam bereaksi dengan lingkungan terbangun.

3. Implemented Over Time

Sebagai seorang Arsitek, perencana ruang, hal ini merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Bagaimana desain nantinya bukan bekerja di jamannya saja tetapi juga justru bisa melampaui jamnya. Sehingga pemikiran - pemikiran yang inovatif harus terus dihadirkan untuk menghadirkan strategi yang dapat mengatasi segala perubahan akan lingkungan.

Penerapan elemen Fleksibilitas ruang, menurut Ahsana, dkk (dalam Toekio,2000) terdapat tiga konsep fleksibilitas ruang, sebagai berikut :

a. Ekspansibilitas (Expansibility)

Ekspansi memungkinkan terjadinya perubahan ruang, dengan cara memperluas atau memodifikasi ruang. Dimana dalam waktu kedepan pertumbuhan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

b. Konvertibilitas (Convertibility)

Perubahan suasana dan orientasi bangunan dimungkinkan dalam jangka waktu kedepan sesuai keinginan pengguna, tanpa harus merombak secara keseluruhan.

c. Versatilitas (Versatility)

Memungkinan penggunaan ruang multifungsi yang dapat mewadahi aktivitas beragam dalam satu ruang sama dengan jangka waktu yang berbeda.

(22)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

32

Fleksibilitas terkait dengan waktu :

Adaptasi dengan aktivitas dan pola kegiatan sangat diperlukan. Bentuk - bentuk khusus yang dirancang atau spesifik pada suatu tempat saja karena sangat tidak dianjurkan karena dianggap tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan pengguna bangunan yang memiliki berbagai macam aktivitas dan pola kegiatan yang beragam.

Fleksibilitas terkait dengan ruang :

1. Flexibility by technical mean

Konsep fleksibilitas dalam sebuah bangunan merupakan sebuah perlakuan teknis yang berbeda dengan cara perlakuan - perlakuan pada elemen - elemen arsitektur dengan fungsi ruangan yang tetap tetapi elemen - elemen dinding, atap maupun lantai dapat dibongkar pasang sesuai dengan penambahan ataupun pengurangan yang diinginkan.

2. Flexibility by special redundancy

Penghadiran luasan ruang yang besar seperti yang dilakukan koolhas pada penjara Arnhern merupakan sebuah contoh bangunan arsitektur yang menginginkan sebuah kefleksibelan. Ini didasarkan bagaimana dalam tiap kurun waktu ruangan dapat berubah sesuai dengan tuntunan fungsi yang diinginkan.

3. Flexibility by open plan

Bagaimana desain ini bersifat fleksibel pengorganisasian ruang yang saling berhubungan dehingga dibutuhkan sebuah tuntunan penggantian fungsi ruang dapat berubah suatu waktu dengan meminimalkan transformasi ruang.

Kesimpulan Teori Fleksibilitas :

Dalam perancangan Rumah Susun dengan pendekatan Fleksibilitas, aspek yang digunakan dalam perancangan yaitu :

Expandibility & Implemented Over Time (Bangunan harus dapat menyesuaikan kebutuhan penghuni dalam kurun waktu yang lama.) dan Time Cycle & Time Management (Aktivitas ruang yang diperlihatkan secara dinamis atau layout ruang yang dapat berubah - ubah sesuai kebutuhan pengguna dalam waktu dan aktivitas yang berbeda) .

(23)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

33

Dengan adanya pertimbangan dari masyarakat tentang permukiman kembali, sesuai dengan aspek yang di gunakan yaitu dari segi rutinitas maupun budayanya, penyesuaian ruang dalam khusus untuk pengguna dan struktur - struktur fleksibilitas yang digunakan, sehingga kebiasan maupun rutinitas sehari - hari mereka tetap dapat dilakukan di Rumah Susun.

Kajian Preseden (Fleksibilitas) :

Artling Pavilion in Marina Bay (Architect : Bence Pap & Parsa Khalili)

Gambar 2.20 Exterior Art Pavilion ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

Paviliun ini dirancang dengan prinsip-prinsip kontinuitas dan fleksibilitas, Paviliun Artling menyediakan ruang yang dapat disesuaikan serta mengakomodasi program yang berkembang dan dipastikan konstan terhadap kebutuhan penghuni.

Konfigurasi Artling Pavilion didasarkan pada platform terbuka yang menyediakan ruang dasar untuk tuntutan programnya. Platform ini diapit oleh sistem modular dinding yang terbuat dari bahan industri prefabrikasi. Di tengah galeri, karya arsitektur patung yang dinamis tidak hanya berfungsi sebagai furnitur untuk pengunjung, tetapi juga memungkinkan konfigurasi bergeser karena komponennya dapat didistribusikan ke seluruh ruang.

(24)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

34

Gambar 2.21 Exterior Art Pavilion ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

Gambar 2.22 Interior Art Pavilion ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

Ketika konfigurasi Paviliun ditutup, menonton pertunjukan seni dengan suasana tertutup/private.

Menyediakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk pertunjukan pribadi dan pertunjukan lainnya.

Terlepas dari tampilan area terbuka dan area resepsionis, zona kedua menjadi ruang makan,bar,dan ruang lelang untuk pengunjung yang semuanya dapat dikonfigurasi ulang seperlunya. Ruang-ruang yang dapat beradaptasi ini bersinggungan dengan patung bergerak, sehingga menghasilkan ruang yang merupakan karya seni itu sendiri, memiliki kemungkinan konfigurasi ruang yang tak terbatas untuk berevolusi dengan para penghuninya.

(25)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

35

Gambar 2.23 Open Position/ Zones ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

Gambar 2.24 Closed Position Room ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

Gambar 2.25 Section A- A' ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )

(26)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

36

Kesimpulan Preseden :

Referensi yang didapat yaitu penggunaan elemen ruang yang dapat di optimalkan bukan hanya menjadi satu fungsi, tetapi dapat digunakan dengan berbagai aktifitas sesuai apa yang di butuhkan. Seperti pada 1 ruang layout pameran ketika digunakan untuk memamerkan karya seni ruang tersebut bersifat terbuka atau bebas dan ketika menonton karya seni, ruang tersebut bersifat tertutup atau private sehingga ruang yang akan mengikuti apa keinginan dari pengguna nya itu sendiri. Platform Art Pavillion ini diapit oleh sistem modular dinding yang terbuat dari bahan industri prefabrikasi.

Architects propose 120 Incremental Social Houses for Iquitos, Peru

(Architect : Rafael Arana Parodi, Carlos Suasnabar Martínez, Amed Aguilar Chunga, dan Santiago Nieto Valladares)

Gambar 2.26 Exterior Social Houses ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Membangun dan berkembang adalah dua tindakan yang harus dipertimbangkan secara bersamaan. Desain ini berhubungan dengan perumahan sosial yang bertema "Membangun untuk Tumbuh" , melihat dari pembangunan yang ada sekarang dengan menopang gaya hidup

fleksibel.Proyek ini mengusulkan 120 rumah tambahan yang secara bergantian memungkinkan pengguna nya untuk memodifikasi dan memperluasnya sesuai dengan kebutuhan dan sarana ekonomi mereka.

(27)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

37

Gambar 2.27 Situasi & Siteplan ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Konteks yang di ambil dengan menganalisis bagaimana perumahan sosial bisa di jalankan di Peru yang di dasarkan pada pendekatan kuantitatif murni, yang memberikan hasil yang dapat di prediksi. Proyek ini menggunakan pendekatan campuran dan memenuhi persyaratan teknis yaitu adalah Modular, ekonomis, progresif dan mudah dibangun. Rumah - rumah ini terletak sedemikian rupa sehingga tercipta ruang publik, area rekreasi yang luas dengan skala yang sesuai untuk pengguna lainnya. Sementara itu mereka dapat bersosialisasi satu sama lainnya dan dapat mengidentifikasi dengan lingkungan mereka.

Gambar 2.28 Ruang Terbuka Social Houses ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Modul Perumahan : Konsep modul perumahan didasarkan pada penyediaan bahan - bahan mulia dengan layanan dasar yang dilengkapi dengan struktur kayu sehingga akan tersisa ruangan.

(28)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

38

Gambar 2.29 Modul Perumahan ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Gambar 2.30 Denah Bangunan ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Denah tiap rumah yang isinya terdiri dari area sosial rumah, dapur, dan kamar mandi, yang merupakan satu - satunya bagian rumah yang mengakomodasi jaringan air dan drainase, dan jaringan listrik utama. Memiliki sirkulasi silang yang memungkinkan rumah bertambah di 4 sisinya. Tahapan progres bersifat modular dan fleksibel yang memungkinkan pemilik untuk memilih penggunanya dan jenis material untuk finishing. Desain yang di usulkan membuat pertumbuhan progresif rumah agar selalu teratur karena dibatasi oleh atap.

(29)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

39

Gambar 2.31 Interior Social Houses ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )

Modul satu lantai dikhususkan untuk rumah keluarga tunggal dan model dua lantai sebagai rumah terpisah, atau berbeda keluarga.

Gambar 2.32 Eksterior 2 lantai Social Houses ( Sumber : Delia Bayona, 2018 ) Kesimpulan Preseden :

Dengan tema konsep "Membangun untuk Tumbuh" menjadikan nilai lebih untuk pembuatan 120 rumah sosial ini. Mereka mementingkan pengguna bangunan dengan merancang ruang modular dan fleksibel yang memungkinkan pemilik untuk memilih penggunanya dan jenis material untuk finishing. Menggunakan pendekatan campuran dan memenuhi persyaratan teknis yaitu adalah Modular, ekonomis, progresif dan mudah dibangun. Rumah - rumah ini terletak sedemikian rupa sehingga tercipta ruang publik, area rekreasi yang luas dengan skala yang sesuai untuk pengguna lainnya. Sementara itu mereka dapat bersosialisasi satu sama lainnya dan dapat mengidentifikasi dengan lingkungan mereka. Penerapan tema konsep pada Rumah Susun nantinya bagaimana membangun suatu bangunan yang dapat Tumbuh , dengan mementingkan pengguna

(30)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

40

bangunan sehingga rancangan - rancangan dalam yang bersifat fleksibel dan dapat berubah sewaktu - waktu tanpa merubah bentuk bangunan aslinya.

2.6 Kebudayaan ,Rutinitas Masyarakat, dan Karakteristik Rumah Lanting

Keberadaan rumah lanting di kota Palangkaraya merupakan wujud dari penyikapan manusia terhadap kondisi lingkungannya. Kondisi kota Palangkaraya yang dikelilingi oleh sungai menyebabkan masyarakatnya memanfaatkan sungai dalam kehidupan sehari - hari mereka terutama sebelum adanya jalur transportasi darat. Menurut pengurus pusat pengkajian islam Bidang Sejarah dan Budaya Banjar, peradaban Banjar berasal dari sungai dan lanting, dimana rumah lanting telah ada sebelum rumah adat Banjar lainnya. Pada abad ke 18 hingga 19, perairan di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan pada umumnya masih banyak dipenuhi oleh rumah - rumah terapung yang disangga oleh balok - balok kayu utuh. Penataan lanting yang berderet tersebut memunculkan kekaguman dari para pendatang dan masuk dalam berita Dinasti Ming di China tahun 1618 yang menyebutkan di Banjarmasin terdapat rumah di atas rakit seperti yang ada di Palembang. Dengan pertambahan penduduk tiap tahunnya membuat masyarakat lebih memilih tinggal di kawasan yang dapat mendukung perekonomian mereka, sehingga kawasan pinggiran sungai yang ada di Banjarmasin semakin dipenuhi masyarakat untuk tinggal dan Rumah Lanting tersebut menyebar hingga ke beberapa sungai yang ada di Kalimantan salah satunya adalah Kota Palangkaraya,Kalimantan Tengah.

Gambar 2.33 Wujud Rumah Lanting di berbagai wilayah Kota (Sumber: Dinas Tata Ruang, Cipta Karya dan Perumahan Kota Banjarmasin)

Rumah Lanting merupakan satu - satunya tipe rumah adat yang mengapung diatas air. Adapun ciri Arsitektur rumah lanting menurut Syamsiar S. dan Irhamna (2001:87 - 88), yaitu :

(31)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

41

1. Bentuk segi empat panjang, konstruksi atap berbentuk pelana

2. Pondasi berupa pelampung batang kayu besar dan gelegar ulin sebagai penyokong lantai lantai papan

3. Kayu lanan digunakan sebagai material dinding

4. Ruang dalam terbagi dua, yaitu ruang keluarga dan kamar tidur 5. Dapur gantung pada bagian belakang rumah

6. Sebagai penghubung lanting dan daratan digunakan titian 7. Tali kawat besar digunakan sebagai tali pengikat

Keberadaan Sungai di Kalimantan Tengah berperan penting dalam kehidupan masyarakat Banjar. Kebudayaan sungai menjadi suatu bentuk kebudayaan yang khas masyarakat Banjar (Brotomoeljono, dkk, 1986). Menurut Seman (1982), kehidupan sehari - hari masyarakat Banjar sangat bergantung pada sungai. Sungai berfungsi sebagai jalur penghubung, penyediaan air minum, air untuk memasak, dan keperluan MCK. Kondisi ini melahirkan budaya air pada masyarakat Banjar.

Selain itu masyarakat pinggiran sungai memiliki rasa kekeluargaan yang erat dan kegiatan apapun selalu dilakukan bersama, sehingga kenyamanan tinggal di kawasan pinggir sungai tersebut yang menjadikan mereka betah ataupun tidak ingin pindah meskipun wilayah tersebut tidak memiliki izin.

Budaya sungai merupakan produk dari keluwesan, pengalaman hidup, dan adaptasi mereka dengan kehidupan di pinggiran atau di sepanjang bantaran sungai (Jurnal Kandil Edisi 7, Tahun II, November 2004-Januari 2005). Budaya sungai ini mewarnai segala aspek ekonomi, sosial, tak ketinggalan kehidupan politik masyarakat Banjar. Tak pelak, sungai berperan membentuk pola hubungan perdagangan, interaksi sosial, dan jaringan kekuasaan pada sebagian besar masyarakat Banjar.

Gambar 2.34 Aktivitas masyarakat pinggiran sungai (sumber:Debu Yandi Blogger Kalteng, 2017)

(32)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

42

Karakteristik Rumah Lanting dan Rumah di pinggiran Sungai

Gambar 2.35 Wujud Rumah Lanting (Sumber: M. Aulia Rahman, Jurnal 2014)

Kawasan Pinggiran Sungai terdapat 3 jenis bangunan, yaitu bangunan Rumah Lanting yang berada di atas sungai dengan menggunakan pondasi bambu sebagai struktur pendiri bangunan, Rumah Lanting yang berada di tepian sungai menggunakan pondasi kayu sebagai penopang bangunan, dan jenis bangunan ketiga yaitu Rumah Lanting panggung yang berada di bantaran sungai menggunakan pondasi kayu, kayu yang digunakan adalah jenis kayu yang ketika terkena air terus menerus akan semakin tahan lama.

Secara umum, tipe rumah lanting dapat dibedakan berdasarkan fungsinya. Yaitu lanting dengan fungsi hunian tunggal dan lanting dengan fungsi komersial. Pada lanting dengan fungsi hunian dan usaha, bagian depan lanting dibuat terbuka sebagai area untuk usaha, sedangkan pada lanting dengan fungsi hunian tunggal, bentuk bangunan dibuat tertutup bahkan terkesan masif.

Gambar 2.36 Tampak Depan Rumah Lanting Hunian & Komersial (Sumber: M. Aulia Rahman, Jurnal 2014)

(33)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

43

Rumah Lanting sebagai tempat tinggal memberikan perlindungan dari gangguan alam. Fungsi rumah lanting sebagai tempat tinggal tidak berbeda seperti rumah tinggal pada umumnya, hanya saja pola ruangnya lebih sederhana.

Gambar 2.37 Denah Rumah Lanting sebagai tempat tinggal (Sumber: M. Aulia Rahman, Jurnal 2014)

Dari beberapa denah yang ada, pengelompokan tipe organisasi ruang tidak dapat dilakukan.

Pola yang tetap dari tiap - tiap sampel rumah lanting tidak dapat digeneralisasikan. Perletakan dan fungsi ruang yang ada berbeda-beda tergantung kepada kebutuhan penghuni masing masing.

Fungsi ganda ditemukan pada beberapa rumah lanting, jadi rumah lanting tidak hanya sebagai tempat tinggal/hunian namun juga sebagai tempat usaha. Denah pada rumah lanting terbagi atas dua area yang memiliki fungsi yang berbeda. Area yang menghadap darat merupakan area hunian, sedangkan area yang berorientasi ke sungai digunakan sebagai area usaha.

(34)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

44

Gambar 2.38 Denah Rumah Lanting sebagai tempat tinggal dan usaha (Sumber: M. Aulia Rahman, Jurnal 2014)

Kesimpulan Teori budaya masyarakat Rumah Lanting :

Dari beberapa pendapat bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan masyarakat Banjar, semua kegiatan, aktivitas, maupun keseharian mereka lakukan di sungai, contoh seperti MCK, memasak,bekerja,penyediaan air minum dsb menjadi nilai budaya tersendiri untuk masyarakat pinggiran sungai. Sungai dan bentuk permukiman yang menyatukan mereka dalam satu lingkungan, sehingga dengan program relokasi mereka tidak ingin kehilangan budaya, pekerjaan, rutinitas maupun lingkungannya, dan bagaimanapun caranya agar ketika mereka dipindahkan ciri khas masyarakat Banjar masih tetap ada di lingkungan tersebut. Serta karakteristik ruang dalam pada rumah Lanting yang memiliki nilai tersendiri sehingga ketika merancang ruang unit pada rumah susun nantinya yang mempertimbangkan karakter ruang – ruang pada rumah Lanting sebelumnya. Perancangan Rumah Susun dengan pertimbangan budaya masyarakat lebih kepada ruang dalam serta sirkulasi untuk memberikan kesan lingkungan yang biasa mereka huni.

(35)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

45

Kajian Preseden :

Wuyuan skywells Hotel in Wuyuan, Shangrao, Jiangxi, China (Architect : Anyscale, Andreas Thomczyk)

Gambar 2.39 Exterior Wuyuan skywells Hotel ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

Wuyuan Skywells antara warisan Cina dan Kenyamanan Modern. Tim arsitek merenovasi rumah besar berusia 300 tahun yang diabadikan selama beberapa dekade menuju kejayaan nya dulu. Mereka berfikir bahwa warisan Cina serta kebudayaan yang harus di timbulkan kembali dalam era yang modern ini pada bangunan lama.

Gambar 2.40 Exterior Wuyuan skywells Hotel ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

(36)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

46

Konsep dari bangunan hotel ini adalah menciptakan pengalaman hotel yang lebih berkesan terhadap budaya cina, tetapi juga dapat menikmati esensi dari bangunan dan meningkatkan semangat dari sejarah yang ada. Bagaimana menerapkan konsep tersebut? permainan material ruang dalam, dan interior yang digunakan pada ruang - ruang tentunya memiliki nilai yang berbeda.

Gambar 2.41 Interior Wuyuan skywells Hotel ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

Penggunaan warisan arsitektur seperti Tian jing (Skywells) yang menerangi ruang dalam, bingkai kayu, dan ukiran kayu yang rumit di halaman, ukiran tersebut diciptakan kembali dengan bantuan pengrajin lokal yang sangat kaya.

Interior Kontemporer dari 14 rangkaian yang masih digunakan di era awal desain, memberikan kontras yang halus dengan desain Huizhou tradisional pada area publik, yang memberikan kesan kagum terhadap para tamu yang datang.

Gambar 2.42 Exterior & Ruang tangga

( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

(37)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

47

Gambar 2.43 Layout interior ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

Elegan, Mewah, dan sepenuhnya otentik, bangunan ini memadukan selera dengan konteks fisiknya sehingga terkesan heritage namun modern. Dengan penggunaan material - material yang terlihat bersejarah pada jaman dulunya, dan bentuk bukaan serta ruang maupun sirkulasi yang di padukan dengan era jaman dulu dan sekarang. Desa ini tetap mempertahankan kehadiran yang mencolok.

Gambar 2.44 Floorplan

( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

(38)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

48

.Gambar 2.45 Floorplan 2 ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

Gambar 2.46 Floorplan 3 ( Sumber : Mini Clubman, 2018 )

(39)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

49

Gambar 2.47 Section Building ( Sumber : Mini Clubman, 2018 ) Kesimpulan Preseden :

Wuyuan Skywell Hotel tetap menggunakan konsep budaya jaman dahulu dari cina di era yang modern ini untuk menarik perhatian masyarakat yang berkunjung ke hotel, dalam artian suatu bangunan akan terlihat menarik jika memiliki arti atau makna dalam suatu ruangnya, sehingga banyak peminat yang ingin mencoba ataupun merasakan kebudayaan yang dulu pernah ada dan sekarang di timbulkan dalam suatu bentuk ruang, pola ruang, dan isi dari ruang tersebut begitupun pada masyarakat pinggiran sungai yang nantinya akan di pindah tempat tinggal mereka menuju tempat yang lebih layak dan modern, tetapi bagaimana bangunan tersebut dapat dinilai nyaman dengan penggunanya? dengan memasukan unsur - unsur budaya dan Rutinitas yang sering dilakukan mereka ketika berada di kawasan rumah lanting menuju Rumah Susun nantinya tetapi tetap terkesan modern, agar pengguna Rumah Susun tersebut dapat merasakan kenyamanan dari segi apapapun dan tidak terbebani.

2.7 Teori Kesesuaian antara Ruang Terbuka Hijau Kawasan dengan Ruang Terbuka Hijau pada bangunan

Dalam proses pembangunan hunian vertikal sebaiknya tidak hanya terbatas dengan penyediaan aspek fisik bangunannya saja tetapi juga harus memperhatikan ketersediaan fasilitas ruang terbuka. Berdasarkan Undang - Undang RI no. 26 tahun 2007 mengenai Penataan Ruang bahwa luas RTH kota ditentukan adalah minimal 30% dari luas kota tersebut atau menurut Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum (2006) penentuan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk, dimana luas ruang terbuka hijau (taman) di lingkungan permukiman untuk bermain dan berolahraga adalah 1,5 m2/jiwa. Tetapi dengan adanya pertambahan jumlah penduduk yang terus menerus menyebabkan semakin sempit lahan yang digunakan untuk permukiman, sehingga terkadang penyediaan ruang terbuka dalam satu

lingkungan terabaikan.

(40)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

50

Selain itu juga ruang terbuka hijau memiliki fungsi secara ekologis, arsitektur dan ekonomi, antara lain (Supriyatno, 2009):

1. Secara Ekologis : Ruang Terbuka Hijau dapat menurunkan temperatur kota, mengurangi polusi udara, mencegah banjir, dan meningkatkan kualitas air tanah.

2. Secara Sosial Budaya : Keberadaan ruang terbuka dapat memberikan fungsi sebagai ruang berinteraksi, sarana reaksi dan sebagai tanda kota berbudaya. Wujudnya seperti taman kota, lapangan olahraga atau makam.

3. Secara Arsitektur : Ruang terbuka dapat meningkatkan keindahan dan kenyamanan kota melalui keberadaan taman - taman kota, jalur - jalur hijau dan jalan - jalan kota.

4. Secara Ekonomi : Jika ruang terbuka hijau ini dikelola dengan baik dan menarik maka akan mengundang penghuni kota hadir berekreasi dan membangkitkan sektor ekonomi di sekitarnya seperti jasa parkir, warung, tempat makan dan sebagainya.

Menurut Gio Abi Van Houkes Tahun 2017, Apa saja alasan harus dibuatnya Ruang Terbuka Hijau?

1. Necessary (Keperluan)

Mengapa RTH adalah sebuah keperluan? Karena RTH dapat meminimalisir bahkan memproteksi sebuah kawasan dari bencana alam. Contohnya adalah bencana banjir. RTH yang di dalamnya terdapat banyak pohon menjadikan tempat penyerapan air. Penyerapan air ini juga dapat mengembalikan air tanah yang hilang akibat pembangunan gedung dan lain sebagainya. Selain itu, pohon-pohon di dalam RTH juga berfungsi sebagai sirkulasi udara perkotaan yang pengap akibat polusi udara dari kendaraan bermotor.

2. Profitable (Menguntungkan)

Selain itu, RTH juga bisa sangat menguntungkan, terutama untuk pengembang properti. Apabila suatu bangunan berlokasi di dekat RTH, maka harga jualnya bisa sangat tinggi. Seperti yang ada di New York City dimana bangunan-bangunan yang memiliki akses dekat dengan Central Park memiliki nilai jual yang tinggi. Perumahan yang memiliki RTH yang luas juga dapat meningkatkan nilai jual.

(41)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

51

3. Useful (Berguna)

RTH merupakan kawasan yang sangat berguna. Dari segi ekologis, RTH dapat memperbaiki alam dan memperkaya ekosistem alam di tengah perkotaan. Dari segi sosial, RTH dapat menjadi kawasan untuk saling berinteraksi antar masyarakat.

4. Imperative (Penting)

RTH ini penting karena sudah menjadi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Seperti target Jakarta untuk RTH yang sesuai RDTR Jakarta 2020 dimana RTH akan ada sebanyak 30% dari luas Jakarta.

Menurut Piddington dalam anwar (1998), dikatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia yang bersifat universal adalah kebutuhan sosial yaitu salah satunya adalah berkomunikasi/berinteraksi serta melakukan kegiatan bersama dengan orang lain. Dengan demikian, keberadaan ruang terbuka hijau atau taman yang merupakan bagian dari lingkungan rumah susun dapat memberikan kontribusi positif terhadap ruang sosial bagi para penghuni dimana ibu rumah tangga merupakan kelompok yang paling sering berada di lingkungan rumah susun sepanjang hari (Yosica,2011). Mereka bahkan menggunakan ruang terbuka yang ada di rumah susun untuk berinteraksi dengan penghuni lainnya.

Berdasarkan Permendagri No. 1 tahun 2007, ruang terbuka dinyatakan sebagai ruang - ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur, dimana lebih bersifat terbuka dalam penggunaan dan pada dasarnya tanpa bangunan.

Lebih spesifik lagi, ruang terbuka hijau (RTH) adalah bagian dari ruang terbuka yang pemanfaatannya sebagai tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam (Budi daya tanaman), seperti lahan pertanian, pertamanan, perkebunan dan sebagainya (UU RI No.26 Tahun 2007).

Sedangkan tujuan pengadaan dan penataan RTH di wilayah perkotaan menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 :

1. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan.

2. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan bagi kepentingan masyarakat.

3. Meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat, indah, bersih, dan nyaman.

Proporsi RTH pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, ini merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta dapat meningkatkan nilai estetika kota.

(UU RI No.26 Tahun 2007). Oleh karena itu, pengadaan ruang terbuka hijau (taman) pada lingkungan

(42)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

52

permukiman adalah sangat penting. Dengan menyatukan Hunian Vertikal dan Ruang terbuka hijau menjadikan sebagai paru - paru kawasan juga dapat menjadi daerah resapan air.

Kesimpulan Teori :

Dalam proses pembangunan Rumah Susun sebaiknya tidak hanya terbatas dengan penyediaan aspek fisik bangunannya saja tetapi juga harus memperhatikan ketersediaan fasilitas ruang terbuka.

Dengan adanya desain perancangan Ruang Terbuka Hijau dari pemerintah tentu saja Rumah Susun yang nantinya akan dibangun harus menyesuaikan dengan lingkungan alami maupun buatan yang ada di sekitarnya. Keberadaan ruang terbuka hijau atau taman yang merupakan bagian dari lingkungan Rumah Susun, dapat memberikan kontribusi positif terhadap ruang sosial bagi para penghuni dimana ibu rumah tangga merupakan kelompok yang paling sering berada di lingkungan rumah susun sepanjang hari. Konsep yang akan digunakan menyesuaikan dengan Konsep Ruang Terbuka Hijau dari pemerintah yang telah di rancang untuk disesuaikan dengan Rumah Susun nantinya.

Kajian Preseden :

Landscape and Building Merge in New Czech Forestry Commission Centre (Architect : CHKAU,K4, Ivan Stolek, Jan Stolek & Tomas Babka)

Gambar 2.48 Exterior Landscape & Building ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Pusat administrasi baru untuk komisi kehutanan Ceko di Hradec Kralove. Proyek ini berfokus kepada hubungan simbiosis antara bangunan dan hutan yang berdekatan, dimana lanskap alam diluar mulai berbaur dengan ruang kantor yang ada di dalamnya.

(43)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

53

Gambar 2.49 Exterior Landscape & Building ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Chybik & Kristof menjelaskan bahwa inspirasi desain berasal dari kungjungan situs awal mereka, dimana mereka menjelajahi hutan Hradec yang berdekatan dengan kantor pusat komisi kehutanan saat ini. Mereka melihat adanya perbedaan yang mencolok antara ruang dalam kantor yang panas dan lingkungan dari hutan yang sejuk, yang menyebabkan filosofi desain mereka menciptakan ruang dimana tempat kerja berhubungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dengan mengupayakan ruang kerja yang transparan, namun private dan terlihat rapi. Dengan konsep ini kami memilih tata letak kantor yang radial yang mengandalkan halaman tengah dari area bangunan menuju area hutan dan area hutan menuju bangunan.

Gambar 2.50 Interior Kafetaria, perpustakaan, dan ruang pertemuan ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

(44)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

54

Halaman tengah dua lantai dijadikan pusat pengunjung, ruang pertemuan, perpustakaan dan kafetaria, sehingga membentuk pusat sosial dari keseluruhan desain. Pusat pengunjung ini diterangi oleh atap skylight dan kolom pendukung yang digunakan untuk mengingatkan pengunjung dengan batang pohon yang ada di dalam hutan.

Gambar 2.51 Interior ruang kerja ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Arsitek merancang area kantor ini dengan maksud "Tempat kerja sebagai hutan" dimana dalam area kantor ini menggunakan sistem modular untuk menciptakan ruang terbuka dengan sub- pusat yang menahan tangga pusat, area penyimpanan, dan dapur kecil. Dengan mensegmentasikan rencana lantai dasar ke dalam limna bagian dan dipastikan bahwa semua area mendapatkan sinar matahari dalam jumlah yang cukup pada siang hari.

(45)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

55

Gambar 2.52 Exterior landscape ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Bagian integral dari desain adalah kesan alam yang mengelilingi bangunan. Mulai dari atap gedung dengan presentase tentang hutan lestari, kesan alam berlanjut dengan membawa pengunjung ke bagian halaman. Kemudian membawa pengunjung ke jalan berliku yang ada diluar, di sekitar lima bagian lain dari desain. Lima bagian tersebut akan memberikan pengalaman hutan lokal yang berbeda seperti pohon cemara, pohon pinus dan hutan oak. Selama bertahun - tahun, pengalaman hutan di sekitarnya akan tumbuh dan berubah, dengan pohon - pohon yang berperan untuk menyejukkan suatu bangunan.

Gambar 2.53 Pemanfaatan Bentuk ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

(46)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

56

Gambar 2.54 Siteplan ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Gambar 2.55 Floorplan ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

(47)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

57

Gambar 2.56 Potongan B- B' ( Sumber: Yiling Shen, 2018 )

Gambar 2.57 Tampak depan ( Sumber: Yiling Shen, 2018 ) Kesimpulan Preseden :

Landscape and Building adalah menyatukan lingkungan sekitar dengan bangunan yang ada sehingga dapat memberikan efek positif bagi pengguna bangunan dan juga alam nya. Adanya perbedaan yang mencolok antara ruang dalam kantor yang panas dan lingkungan hutan yang sejuk, yang menyebabkan filosofi desain mereka menciptakan ruang dimana tempat kerja berhubungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dengan mengupayakan ruang kerja yang transparan, namun private dan terlihat rapi.Setiap bangunan tidak akan bisa berdiri tanpa adanya lingkungan sekitar yang mendukung, dengan adanya Rumah Susun yang di rancang nanti, bagaimana bangunan tersebut dapat mendukung lingkungan luarnya ataupun landscape yang ada melihat dari kawasan yang berada di pinggiran sungai dan penuh dengan kelestarian alamnya sehingga dapat di manfaatkan untuk pengaruh ruang dalam bangunan dan penggunanya, sehingga bangunan tersebut

(48)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

58

tidak sia - sia berdiri di tengah lingkungan yang masih banyak kelestarian alam yang bisa di tonjolkan lewat keselarasan bangunan dan ruang terbuka hijau nya.

2.8 Kajian dan Konsep fungsi bangunan yang di ajukan

2.8.1 Analisis Fungsi

Rumah Susun di pinggiran Sungai Kahayan ini mewadahi masyarakat Rumah Lanting yang di relokasi dari tempat sebelumnya ke Rumah Susun. Di samping itu para pengguna nantinya tetap bisa melakukan aktivitas keseharian mereka ketika berada di Rumah Susun dan tidak terbatasi oleh ruang.

2.8.2 Analisis kegiatan pengguna

Analisis kegiatan pengguna bangunan Rumah Susun yang terdiri dari penghuni rusun dan Pengelola

a. Analisis Kegiatan Penghuni Rumah susun

Penghuni Rumah susun yang mencakup 3 anggota keluarga meliputi ayah, ibu , dan anak memiliki kegiatan yang berbeda - beda. Analisis tersebut akan di jabarkan sebagai berikut :

1. Kegiatan Laki – Laki dalam Rumah Susun

Penghuni laki – laki memiliki aktifitas yang berbeda dengan perempuan, keseharian mereka bekerja sebagai nelayan maupun sebagai lainnya, berikut akan dijelaskan pola kegiatan yang akan dilakukan oleh laki – laki penghuni Rumah Susun :

Gambar 2.58 Analisis kegiatan laki – laki dalam Rumah Susun Sumber : analisis penulis, 2018

Jika dimasukan kedalam bentuk skema, maka pola kegiatan yang dilakukan laki – laki penghuni rumah susun akan di paparkan sebagai berikut :

(49)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

59

Gambar 2.59 Skema Kegiatan Laki -laki dalam Rumah Susun Sumber : analisis penulis, 2018

2. Kegiatan Perempuan dalam Rumah Susun

Penghuni rusun perempuan lebih banyak melakukan kegiatan di sekitar bangunan, contoh berbelanja dekat dari tempat tinggal selain itu mereka mempersiapkan atau berbenah rumah dan sangat jarang ada yg bekerja.

Berikut akan dijelaskan pola kegiatan yang dilakukan perempuan dalam Rumah susun yaitu :

Gambar 2.60 Analisis kegiatan perempuan dalam rumah susun Sumber : analisis penulis , 2018

(50)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

60

Jika dimasukan kedalam bentuk skema, maka pola kegiatan yang dilakukan perempuan penghuni rumah susun akan di paparkan sebagai berikut :

Gambar 2.61 Skema kegiatan perempuan dalam rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

3. Kegiatan Anak dalam Rumah Susun

Pola aktifitas anak – anak seperti pada umumnya yang keseharian harus belajar dan bermain. Berikut akan dijelaskan pola kegiatan yang dilakukan anak dalam Rumah susun yaitu :

Gambar 2.62 Analisis kegiatan anak dalam rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

Jika dimasukan kedalam bentuk skema, maka pola kegiatan yang dilakukan anak penghuni rumah susun akan di paparkan sebagai berikut :

(51)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

61

Gambar 2.63 Skema kegiatan anak dalam rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

b. Analisis Kegiatan Pengelola Rumah Susun

Pengelola Rumah susun yaitu masyarakat penghuni rusun , mereka mengelola Bersama agar lebih aman dan nyaman. Tugas mereka menjaga keamanan, kebersihan dan lainnya yang dapat meningkatkan kualitas Rumah Susun. Berikut akan dijelaskan pola kegiatan yang akan dilakukan pengelola Rumah Susun :

Gambar 2.64 Analisis kegiatan pengelola rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

(52)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

62

Jika dimasukan kedalam bentuk skema, maka pola kegiatan yang dilakukan pengelola rumah susun akan di paparkan sebagai berikut :

Gambar 2.65 Skema kegiatan pengelola rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

Dalam menganalisis ruang sebagai salah satu pemecahan persoalan perancangan pada Rumah Susun, terdapat beberapa analisis yang akan menjadi acuan perancangan. Aspek yang di analisis terkait dengan pemecahan persoalan rancangan meliputi kebutuhan ruang, dimensi ruang, keterkaitan antar ruang, dan bentuk ruang. Setelah mengetahui ruang apa saja yang akan di perlukan dalam perancangan Rumah Susun, maka konsep ruang akan di aplikasikan sesuai kebutuhan yang ada. Dari jumlah data Pemerintah Kota Palangkaraya tentang jumlah KK pada blok zonasi yang digunakan untuk merancang yaitu blok 4, 5,dan 6 , dan untuk mengetahui jumlah pengguna bangunan rumah rumah susun berikut rincian data yang di dapatkan :

(53)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

63

Gambar 2.66 Jumlah pengguna Rumah Susun Sumber : analisis penulis, 2018

Dalam satu bangunan tempat tinggal memiliki jumlah anggota keluarga yang berbeda - beda, ada yang tinggal sendiri, ada yang tinggal lebih dari 5 anggota keluarga dll. Tujuan mengetahui jumlah anggota keluarga dalam satu bangunan rumah yaitu untuk memudahkanrelokasi dan pemindahan dari rumah yg dulu ke bangunan rumah susun, agar di sediakan ukuran ruang ataupun menyesuaikan jumlah anggota keluarga. Berikut banyaknya jumlah anggota keluarga dalam satu rumah dilihat dari tampilan grafik di bawah ini :

(54)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

64

Gambar 2.67 Grafik Rata - rata jumlah anggota keluarga dalam satu rumah (Sumber : Laporan Kuisioner, Ulumuddin Abrar, Januari 2018)

Dari data yang di dapatkan hampir rata - rata tiap bangunan rumah memiliki 5 anggota keluarga dalam satu bangunan, Jika dilihat dari standar ukuran ruang rumah lanting dan jumlah 5 anggota keluarga dalam satu bangunan sirkulasi, kenyamanan yang ada di dalam bangunan tersebut sangatlah kurang atau tidak nyaman di karenakan jumlah orang di dalamnya yang terlalu banyak, sehingga ruang di dalamnya tidak luas dan sangat terbatas. Proses relokasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka dari segi ruang maupun kelayakan tempat tinggal agar masyarakat lebih nyaman dalam menempati ruang – ruang yang di sediakan untuk lebih bebas dan tidak terbatasi pergerakannya.

2.8.3 Konsep analisis Hubungan Ruang

Beberapa hubungan ruang yang ada di hunian Rumah susun, serta ruang apa saja yang dapat di jangkau ataupun bersebelahan, berikut analisis hubungan ruang berdasarkan pengguna rumah susun yaitu :

2.8.3.1

Ruang Unit Hunian Rumah Susun

Ruang hunian dapat menjangkau beberapa ruang yang ada di sekitarnya, berikut analisis rancangan hubungan ruang berdasarkan hunian rumah susun :

0 20 40 60 80 100 120

Anggota Keluarga dalam satu rumah

1 sampai 5 6 sampai 10

(55)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

65

Gambar 2.68 Analisis rancangan hubungan ruang unit rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

2.8.3.2

Ruang Pengelola

Pengelola rumah susun juga memiliki ruangan tersendiri agar lebih

memudahkan untuk mengelola rumah susun dan tidak mengganggu penghuni lainnya, berikut analisis rancangan hubungan ruang pengelola rumah susun, yaitu :

(56)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

66

Gambar 2.69 Analisis rancangan hubungan ruang pengelola rumah susun sumber : analisis penulis, 2018

2.8.4 Analisis Kebutuhan Ruang

Setelah menganalisis pola kegiatan penghuni dan pengelola yang terlibat dalam aktivitas Rumah Susun, maka dari kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan ruang yang akan dirancang di dalam Rumah Susun yakni sebagai berikut :

Tabel 2.4 Kebutuhan Ruang berdasarkan Pengguna

No Jenis Pengguna Aktifitas Kebutuhan Ruang

1. Penghuni Rumah Susun

Laki – Laki dalam Rumah Susun

1. Parkir Kendaraan 2. Berkumpul 3. Istirahat 4. Makan 5. Ibadah

1. Area Parkir 2. Ruang Keluarga (Teras depan &

belakang hunian) &

Ruang kumpul Rusun

(57)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

67

6. Mandi 3. Kamar Tidur 4. Dapur

5. Tempat ibadah 6. Kamar Mandi Perempuan dalam

Rumah Susun

1. Berkumpul 2. Istirahat 3. Bersih – Bersih 4.Berjualan 5. Masak 6. Makan 7. Ibadah 8. Berkumpul

1. Ruang Kumpul Rusun

2. Kamar Tidur 3. Ruang Keluarga, teras depan, teras belakang hunian 4.Tempat berjualan 5. Dapur

6. Tempat ibadah Anak dalam Rumah

Susun

1. Berkumpul 2. Bermain 3. Istirahat 4. Makan 5. Ibadah 6. Belajar

1. Ruang

Berkumpul Rusun 2. Ruang Terbuka Hijau

3. Kamar tidur 4. Dapur

5. Tempat ibadah 2. Pengelola

Rumah Susun

Pengelola 1. Parkir 2. Kantor Pengelola 3. Patroli 4. Istirahat 5. Makan 6. Ibadah

1. Area Parkir 2. Ruang Pengelola 3. Sirkulasi

4. Kamar Tidur unit 5. Dapur unit 6. Tempat ibadah

Sumber : analisis penulis, 2018

Dari kebutuhan ruang yang dijelaskan berdasarkan jenis pengguna, maka dapat dijelaskan lebih rinci mengenai ruang – ruang apa saja yang akan di rancang di dalam rumah susun. Berikut pemaparan ruang yang akan dirancang :

(58)

Rumah Susun – Pendekatan Fleksibilitas | 14.512.190

68

Tabel 2.5 Kebutuhan Ruang berdasarkan jenis ruang

No Jenis Ruang Kebutuhan Ruang

1 Private 1. Kamar Tidur

2. Kamar Mandi 3. Kantor Pengelola 4. Ruang keluarga 5. Dapur

2 Publik 1. Area Parkir

2. Ruang kumpul rusun 3.Tempat ibadah 4. Ruang Terbuka Hijau 5. lobby

6. Koridor

Sumber : analisis penulis, 2018

2.8.5 Analisis Pendekatan perancangan

Analisis pendekatan perancangan merupakan kajian untuk mendapatkan garis besar perancangan sebagai solusi untuk permasalahan desain. Penekanan permasalahan pada perancangan Rumah Susun adalah :

Bagaimana merancang rumah susun yang mempertimbangkan budaya dan ekonomi di daerah pinggiran sungai Kahayan.

Rumusan Masalah khusus :

Bagaimana merancang rumah susun dengan pendekatan fleksibilitas? Dan RTH bangunan dapat menyesuaikan RTH kawasan

2.8.6 Analisis Konsep arsitektur bangunan

Untuk konsep arsitektur bangunan pada rumah susun nantinya akan menerapkan konsep fleksibel ruang dalam dengan menggunakan dinding modular sekaligus menerapkan beberapa karakteristik tentang ruang dalam rumah lanting dan karakteristik rumah Kalimantan Tengah, seperti pada fasad bangunan nantinya yang menggunakan konsep modern Kalimantan. Dari segi fasad menggunakan ornament ukiran Dayak.

Gambar

Gambar 2.15 Kategori Rumah Susun sederhana berdasarkan kelompok sasaran calon penghuni  ( Sumber : Lampiran Keputusan Menteri Negara Perumahan dan permukiman
Gambar 2.20 Exterior Art Pavilion  ( Sumber : Holly Giermann, 2015 )
Gambar 2.31 Interior Social Houses  ( Sumber : Delia Bayona, 2018 )
Gambar 2.34 Aktivitas masyarakat pinggiran sungai  (sumber:Debu Yandi Blogger Kalteng, 2017)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Means for groups in homogeneous subsets are

Peningkatan dan penurunan dari inventory turn over terhadap Profitabilitas(Gross profit Margin) tidak sesuai dengan penelitian terdahu yang dilakukan oleh Meythi

Konsep rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya melakukan dan bertanggungjawab dalam kegiatan pembudidayaan,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, Net Interest

bahwa penunjukan Bendahara Pengeluaran , Bendahara Penerimaan dan Penetapan Rekening pada Satuan Kerja Perangkat Daerah ( SKPD) di Lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon

Menurut aspek pendidikan, definisi ketunanetraan didasarkan pada fungsi penglihatan untuk kepentingan pendidikan, sehingga diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu:

Kenaikan biaya produksi yang cukup tinggi secara langsung berimbas pada kenaikan harga semen di pasaran sehingga perlu dilakukan peningkatan efisiensi di semua lini, khususnya

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan pada LPP RRI Manado.Peningkatan atau