• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : KHAIRUL RAMADHAN SINAGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh : KHAIRUL RAMADHAN SINAGA"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI USIA PRODUKTIF MENJADI TENAGA KERJA INDOESIA DI KELURAHAN TANJUNG

MARULAK KECAMATAN RAMBUTAN KOTA TEBING TINGGI

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S-1) Ilmu Sosial Departemen Kesejahteraan Sosial

Oleh :

KHAIRUL RAMADHAN SINAGA 160902049

DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(2)

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI USIA PRODUKTIF MENJADI TENAGA KERJA INDONESIA DI KELUARAHAN TANJUNG

MARULAK, KECAMATAN RAMBUTAN ABSTRAK

Penempatan tenaga kerja keluar negeri dilakukan dalam rangka memanfaatkan pasar kerja internasional dengan meningkatkan kualitas kompetensi tenaga kerja dan disertai dengan perlindungan yang optimal sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja di luar negeri sampai tiba kembali di Indonesia. Kontribusi pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri dari sisi sosial dan tujuan pembangunan adalah membantu devisa negara, terbuka lapangan kerja, mengurangi tekanan masalah, merasakan pendapatan tinggi, dan mengurangi pengganguran. Hal ini menjadi tentu berdampak positif dari adanya pekerjaan dan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri. Tentunya berbeda jika dipandang dari sisi negara yang mempunyai tanggung jawab sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi kehidupan masyarakatnya demi melangsungkan aktivitas ekonomi. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan keuntungan dan kerugian yang berkaitan dengan kedua daerah. Migrasi bukan hanya terjadi karena faktor dorongan yang ada pada daerah asal tetapi juga adanya faktor penarik pada daerah tujuan. Tujuan utama migrasi adalah meningkatkan taraf hidup migran dan keluarganya, sehingga umumnya mereka mencari pekerjaan yang dapat memberikan pendapatan dan status sosial yang lebih tinggi di daerah tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif bermigrasi menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi usia produktif bermigrasi menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Keluarahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan adalah berkurangnya sumber-sumber kehidupan, menyempitnya lapangan pekerjaan di daerah asal, alasan pendidikan dan pekerjaan, adanya harapan memperbaiki kehidupan, adanya kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, keadaan lingkungan hidup yang menyenangkan, latar belakang keluarga dan peran agensi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran bagi pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas masyarakat dengan melengkapi sarana dan prasarana seperti balai latihan kerja dan bertanggung jawab atas pra, menjadi dan pasca Tenaga Kerja Indonesia bekerja di luar negeri serta kepada pihak agensi disarankan bertanggung jawab terhadap setiap orang yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia melalui upaya rekrutmen yang dilakukan.

Kata kunci : Faktor-faktor, Usia Produktif, Migrasi, Tenaga Kerja Indonesia

(3)

FACTORS AFFECTING THE PRODUCTIVE AGE OF INDONESIAN LABOR IN THE TANJUNG MARULAK VILLAGE, RAMBUTAN DISTRICT

Abstract

Placement of workers abroad is carried out in order to take advantage of the international labor market by improving the quality of labor competencies and accompanied by optimal protection from before departure, while working abroad until arriving back in Indonesia. The contribution of sending Indonesian workers abroad in terms of social and development goals is to help foreign exchange, open employment opportunities, reduce pressure problems, feel high income, and reduce unemployment. This has certainly had a positive impact on the existence of jobs and sending Indonesian Workers abroad. Of course, it is different when viewed from the side of the state which has the responsibility of providing employment opportunities for the life of its people in order to carry out economic activities. Migration decisions are based on a comparison of the advantages and disadvantages associated with the two regions. Migration occurs not only because of the push factors that exist in the area of origin but also because of the pull factor in the destination area. The main objective of migration is to improve the standard of living of migrants and their families, so that they generally look for jobs that can provide income and higher social status in the destination areas.

The purpose of this study was to determine the factors that influence the productive age of migrating to Indonesian workers in Tanjung Marulak Village, Rambutan District. This research uses qualitative research methods, using descriptive data analysis techniques. The results show that the factors that influence the productive age of migrating to Indonesian Workers in the Tanjung Marulak Village, Rambutan District are the reduced sources of life, the narrowing of employment in the area of origin, reasons of education and work, the hope of improving life, the opportunity to get a better education better, a pleasant environment, family background and agency roles. Based on the results of the research that has been carried out, the researcher provides suggestions for the government in providing employment opportunities, improving the quality of the community by completing facilities and infrastructure such as job training centers and being responsible for pre, becoming and post Indonesian Workers working abroad and to the agency it is suggested responsible for every person who becomes an Indonesian Worker through the recruitment efforts carried out.

Keywords: Factors, Productive Age, Migration, Indonesian Workers

(4)
(5)

i Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan penulis kesehatan, kesabaran, kemudahan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Usia Produktif Menjadi Ekspatriat (TKI) Di Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan

Selama menjalani proses penelitian dan penulisan skripsi, peneliti memperoleh bantuan moril dan materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Randa Kasae Sinaga, S.Sos, M.Kesos, selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang selalu membimbing, mengarahkan, sabar dan meluangkan waktunya dalam masa perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

5. Kepada Ayah dan Ibu saya yang telah melahirkan dan membesarkan penuh kasih sayang, mendoakan, membantu, mengarahkan dan memberikan motivasi kepada saya dalam setiap proses perkuliahan hingga sampai penyelesaian skripsi ini. Terima kasih yang sedalam- dalamnya kepada orang tua saya. Semoga Allah memberikan kesehatan, memberikan umur yang panjang, dikasihi, dan diberi perlindungan.

6. Kepada seluruh dosen dan staff pegawai Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang telah membantu dan memberikan bimbingan kepada penulis

(6)

ii 7. Kepada Kak Siah, Kak Wulan, Hafifah Afni, dan Nia Syahputri selaku teman saya yang telah mengizinkan saya melakukan penelitian baik secara tatap muka maupun secara daring hingga terselesaikannya skripsi ini.

8. Kepada teman-teman jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Stambuk 2016 9. Kepada teman-teman Solidaritas Enam Belas Jaya Selamanya (Senja)

yang telah mewarnai kehidupan di dunia kampus

10. Kepada organisasi Himpunan Mahasiswa Islam, baik kepada kepengurusan sebelumnya dan sampai dengan kepengurusan periode 2019/2020 yang telah memberikan segudang manfaat kepada penulis 11. Kepada teman-teman kepengurusan HMI yang bertahan sampai akhir

bersama penulis, yakni Bagas Effendi, Benni Karim, Ahmad Sayyid, Ahmad Budiono, Fadhlan Alfaridzi, Heru Plansyah, Fatma Zahra, Nur Afifah, dan Yuli Assari

12. Kepada Annisa Isnadini sebagai teman perempuan dari jurusan berbeda dan organisasi yang sama telah menemani dalam keadaan senang dan sulit selama jenjang perkuliahan

13. Kepada pemilik kontrakan yakni Ibu Dahniar Manaf yang telah memberikan kontrakan dengan harga murah

14. Kepada teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu dalam membantu saya sebelum sampai dengan selesainya penulisan skripsi Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan membalas segala kebaikan kepada semua pihak yang berjasa membantu setiap proses penyusunan skripsi.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ditemukan kesalahan di dalam skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi kepada pembaca.

Medan, September 2020 Penulis

Khairul Ramadhan Sinaga

(7)

iii Daftar Isi

COVER ...

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 9

1.3. Tujuan Masalah ... 9

1.3.1. Tujuan Penelitian... 9

1.3.2. Manfaat Penelitian... 10

1.4. Sistematika Penulisan... 11

BAB II ... 12

TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1. Landasan Teoritis ... 12

2.1.1. Faktor Pendukung dan Faktor Penarik ... 12

2.1.2. Perubahan Sosial ... 14

2.1.3. Migrasi ... 15

2.1.4. Usia Produktif ... 19

2.1.5. Tenaga Kerja Indonesia dan Ekspatriat ... 19

2.2. Penelitian Yang Relevan ... 22

2.3. Kerangka Pemikiran ... 25

BAB III ... 28

METODE PENELITIAN ... 28

3.1. Jenis Penelitian ... 28

3.2. Lokasi Penelitian ... 28

3.3. Jenis dan Teknik Penentuan Informan ... 29

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 30

3.5. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV ... 34

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 34

4.1. Letak Geografis Kelurahan Tanjung Marulak ... 34

4.2. Sejarah Perkembangan Kelurahan Tanjung Marulak ... 35

4.3. Profil Kelurahan Tanjung Marulak ... 36

4.4. Visi, Misi dan Tujuan Kelurahan Tanjung Marulak ... 37

4.5. Struktur Organisasi/ Lembaga... 38

4.6. Sarana dan Prasarana... 42

(8)

iv

BAB V ... 43

HASIL PENELITIAN ... 43

5.1. Deskripsi Hasil Penelitian ... 43

5.1.1. Profil Informan ... 44

5.1.2. Hasil Observasi ... 51

5.2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 59

5.3. Keterbatasan Penelitian ... 69

BAB VI ... 70

PENUTUP ... 70

6.1. Kesimpulan ... 70

6.2. Saran ... 74

Daftar Pustaka ... 75 Lampiran-lampiran

(9)

1 BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Penempatan tenaga kerja keluar negeri dilakukan dalam rangka memanfaatkan pasar kerja internasional dengan meningkatkan kualitas kompetensi tenaga kerja dan disertai dengan perlindungan yang optimal sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja di luar negeri sampai tiba kembali di Indonesia (Widodo, 2005:9; dalam Prihatin, 2007). Berkaitan dengan pendapat sebelumnya, membuat pemerintah semakin menggenjot warga negaranya dengan cara mencari pekerjaan dan kehidupan yang layak bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia.

Menurut Prihatin (2007), faktor utama yang mendorong migrasi tenaga kerja ini adalah perbedaan upah tenaga kerja di Indonesia dengan negara yang menjadi tujuan para TKI. Hal ini tentu menjadi dasar bagi seseorang memilih untuk bekerja di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Jika saja upah nominal yang diterima tidak berselisih terlalu jauh, maka memungkinkan mereka untuk memilih bekerja di dalam negeri.

Menurut Kurnia Giawa (2017), “Dinamika penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri merupakan salah satu fenomena penting karena tidak lepas dari proses pembangunan dan kebijakan pemerintahan”. Ini tentunya memiliki makna penting terhadap penempatan dan kebijakan ketenagakerjaan Indonesia, khususnya TKI yang ingin ke luar negeri sehingga terbukanya lowongan pekerjaan bagi masyarakat.

(10)

2 Kontribusi pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri dari sisi sosial dan tujuan pembangunan adalah membantu devisa negara, terbuka lapangan kerja, mengurangi tekanan masalah, merasakan pendapatan tinggi, dan mengurangi penganguran (Giawa, 2017). Hal ini menjadi tentu berdampak positif dari adanya pekerjaan dan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri.

Menurut Bachtiar (2004), mengatakan bahwa “bekerja keluar negeri merupakan usaha untuk mengatasi problem tenaga kerja yang ada pada suatu daerah atau negara”. Tentunya berbeda jika dipandang dari sisi negara yang mempunyai tanggung jawab sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi kehidupan masyarakatnya demi melangsungkan aktivitas ekonomi.

Migrasi merupakan perpindahan orang dari daerah asal ke daerah tujuan.

Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan keuntungan dan kerugian yang berkaitan dengan kedua daerah. Tujuan utama migrasi adalah meningkatkan taraf hidup migran dan keluarganya, sehingga umumnya mereka mencari pekerjaan yang dapat memberikan pendapatan dan status sosial yang lebih tinggi di daerah tujuan (Tjiptoherijanto, 2000).

Menurut Osaki (2003; dalam Puspitasari, 2017), “migrasi penduduk terjadi karena adanya buruh yang bersifat hakiki (intrinsic labor) pada masyarakat industri modern”. Berdasarkan pernyataan ini migrasi terjadi didasari adanya keperluan tenaga kerja tertentu pada daerah atau negara yang telah maju. Migrasi bukan hanya terjadi karena faktor dorongan yang ada pada daerah asal tetapi juga adanya faktor penarik pada daerah tujuan.

(11)

3 Upah tenaga kerja Indonesia di Malaysia adalah sekitar empat kali lebih besar dibandingkan upah di dalam negeri. Jika biaya perjalanan ikut diperhitungkan, harga tenaga kerja Indonesia di Malaysia masih sekitar tiga kali lebih tinggi dari harga di dalam negeri. Pilihan untuk mengambil jalur ilegal, tidak jarang dilakukan karena para TKI tidak mau kehilangan bagian upahnya untuk ongkos perizinan. Memang mereka tetap harus keluar biaya keamanan agar bisa tetap ada di sana, namun biaya tersebut bisa ditekan lebih rendah (Susilo, 2002;

dalam Prihatin, 2007).

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat remitansi yang dihasilkan oleh tenaga kerja Indonesia (TKI) hingga bulan Oktober 2016 mencapai US$ 7,4 miliar atau setara dengan Rp 97,5 triliun. Data yang diperoleh dari Bank Indonesia juga mengungkap jumlah remitansi yang dihasilkan selalu meningkat setiap tahunnya hingga US$ 7,5 juta per tahun. Sektor formal telah mendominasi jumlah penempatan secara keseluruhan, yaitu sebanyak 114.171 orang TKI atau setara dengan 54 persen.

Sementara sektor informal mencapai 98.729 orang TKI atau 46 persen. (Mauliana, 2016)

Persamaan budaya dan agama mayoritas TKI menjadi faktor penting mudahnya arus pekerja Indonesia ke Malaysia. Selain itu, TKI dinilai lebih mahir dan pekerja keras dibanding pekerja dari negara lain (Nor Azizan Idris, 2005;

dalam Maksum, 2019: hal 2). Berdasarkan hal ini, negara penerima dengan senang hati untuk membuka pintu lowongan pekerjaannya dan menerima masyarakat Indonesia sendiri.

(12)

4 Abubakar Eby Hara (2009) menyatakan bahwa, “aktor non-negara seperti media massa, lembaga swadaya masyarakat (LSM) didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi (ICT) menjadikan dunia tanpa sekat dan tidak terbatas” (dalam Maksum, 2019: hal 11). Hal ini dapat terlihat dari penyebaran informasi lowongan kerja mengenai Tenaga Kerja Indonesia melalui media sosial yang terhubung dengan internet.

Migrasi juga seringkali dikaitkan dengan isu keamanan baik yang terkait dengan masyarakat secara umum, maupun berhubungan dengan isu ancaman identitas negara, kesejahteraan sosial (Huysmans, 2006) dan isu kejahatan (Aas Franko, 2005; Bigo, 2003; Pinyol-Jiménez, 2012; dalam Maksum 2019: hal 15).

Kondisi ini menjelaskan adanya permasalahan sosial dan kejahatan seperti, kasus pembunuhan, kelaparan, penelantaran, dan bahkan juga perampokan yang tidak menutup kemungkinan terlibatnya tenaga kerja berasal dari Indonesia.

Tingginya jumlah pengangguran di Indonesia dan menyempitnya lapangan pekerjaan, membuat sebagian besar penduduk memilih untuk bermigrasi keluar negeri guna mendapatkan pekerjaan. Kondisi negara tidak sanggup menyediakan kesempatan kerja yang lebih daripada pertambahan penduduk, sehingga masalah pengangguran dari tahun ke tahun semakin serius. Apabila hal tersebut tidak segera diatasi dan dicari jalan keluarnya, maka akan dapat menimbulkan kerawanan sosial dan berpotensi menambah tingkat kemiskinan. (Siswosoemarto, 2012; dalam Puspitasari, 2017).

(13)

5 Selain untuk mendapatkan pekerjaan, migrasi tenaga kerja ke luar negeri bertujuan untuk mengumpulkan modal finansial yang akan digunakan untuk membuka usaha ekonomi setelah kembali ke daerah asal (Piracha & Vadean, 2010; dalam Noveria, 2017). Penghasilan di luar negeri yang pada umumnya lebih besar daripada di daerah asal memungkinkan pekerja migran memiliki tabungan untuk modal menjalankan usaha ekonomi di daerah asal (Demurger & Xu, 2011;

de Haas & Fokkema, 2011; Black, King & Tiemoko, 2003; dalam Noveria, 2017)

Menurut Hampshire (2002), bahwa “orang yang sangat miskin akan menjadikan migrasi sebagai pilihan yang paling terakhir ketika alternatif untuk keluar dari status kemiskinan yang lain gagal” (dalam Nabila. 2014: hal 169). Berbeda dengan yang dikatakan oleh Gibson dan McKenzie (2011), bahwa

“hingga saat ini masih banyak negara berkembang yang belum memanfaatkan potensi cara mengurangi kemiskinan melalui migrasi” (dalam Nabila, 2014: hal 169)

Data yang juga dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik, jumlah pengangguran pada Februari 2017 berjumlah 7 juta orang. Sementara, jika dibandingkan jumlah pengangguran pada Februari 2018 berjumlah 6.8 juta orang (BPS, 2016). Dan berdasarkan data yang dipublikasi oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, penempatan Pekerja Migran Indonesia (ekspatriat) berjumlah 1.497 orang pada Juni 2017 untuk wilayah Sumatera Utara (BNP2TKI, 2019).

(14)

6 Berdasarkan pada penjelasan sebelumnya menunjukkan bahwa ada perubahan tingkat pengangguran di Indonesia menurut sebanyak ±200 orang pada tahun 2018 dan data tersebut kemudian didukung oleh informasi yang diperoleh dari Badan Nasional dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Penempatan Migran Indonesia (ekspatriat) dalam jumlah ribuan pada tahun 2017.

sumber : Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia

Berdasarkan data penempatan Pekerja Migran Indonesia Periode 2019 (April s.d Juni), dapat diketahui adanya peningkatan tenaga kerja Indonesia di bulan Mei sebanyak 6.164 jiwa. Sedangkan pada bulan Juni diketahui bahwa terjadi penurunan jumlah tenaga kerja Indonesia sebanyak 5.243 jiwa.

(15)

7

sumber : Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia

Berdasarkan pada gambar diatas, dapat diketahui bahwa Provinsi Sumatera Utara telah mengalami penaikan dan penurunan jumlah Tenaga Kerja Indonesia pada setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan pada gambar tabel yang didapatkan, yakni pada Juni 2017 diketahui bahwa sebanyak 1.497 jiwa telah bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia. Pada Juni 2018, jumlah Tenaga Kerja Indonesia mengalami penurunan sebanyak 226 jiwa menjadi 1.271 jiwa. Sementara pada April – Mei mengalami kenaikan sebanyak 325 jiwa, tetapi mengalami penurunan sebanyak 565 jiwa menjadi 1.215 jiwa. Total secara keseluruhan jumlah individu yang menjadi tenaga kerja Indonesia berdasarkan data yang didapat dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia sebanyak 4.663 jiwa (BNP2TKI, 2019).

(16)

8 Kementerian Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, mengubah nama Tenaga Kerja Indonesia menjadi Ekspatriat bukan sekedar perubahan pada namanya, melainkan sebagai cerminan tekad pemerintah untuk peningkatan kualitas dan potensi warganya yang bekerja di luar negeri. (Ratya, 2017)

Migrasi tenaga kerja internasional diperkirakan akan terus berlangsung selama masih terjadi perbedaan kesempatan kerja dan upah antar negara serta adanya permintaan tenaga kerja di negara-negara maju, khususnya yang mengalami kekurangan penduduk usia produktif (Noveria, 2017).

Lebih lanjut, proses globalisasi yang tengah melanda dunia memfasilitasi terjadinya migrasi dalam jumlah yang makin meningkat dan secara geografis memperluas negara tujuan migrasi (Czaika & de Haas, 2014; dalam Noveria, 2014). Kemajuan teknologi dan makin meluasnya jaringan komunikasi mempermudah migrasi, misalnya dengan tersedianya informasi terkait kondisi dan kesempatan kerja di daerah tujuan (Constant, Nottmeyer, & Zimmermen, 2012;

dalam Noveria, 2014).

Semakin luasnya jaringan sosial, misalnya keberadaan diaspora di berbagai negara, memudahkan orang untuk pindah ke berbagai negara (The Global Commission on International Migration, 2005; dalam Noveria, 2014).

Berdasarkan yang dikemukakan sebelumnya dapat diketahui bahwa keberadaan diaspora di berbagai negara semakin memudahkan setiap individu berpindah tempat ke berbagai negara di dunia dan sebagai gantinya, arus migrasi internasional akan semakin masif.

(17)

9 Berdasarkan latar belakang yang telah dituliskan diatas, penulis mendapatkan informasi bahwa penduduk khususnya di Kecamatan Rambutan, Kelurahan Tanjung Marulak, Kota Tebing Tinggi yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia dan sudah berstatus bekerja di luar Indonesia menjadi daya tarik untuk dilakukannya sebuah penelitian, sehingga penulis tertarik mendalami proses yang mendorong Tenaga Kerja Indonesia memutuskan untuk bekerja di luar negeri dan hasilnya disajikan dalam bentuk skripsi berjudul “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI USIA PRODUKTIF MENJADI TENAGA KERJA INDONESIA DI KELURAHAN TANJUNG MARULAK, KECAMATAN RAMBUTAN”

1.2. Rumusan Masalah

Dengan didasarkan pada pengamatan pra-penelitian, penelitian ini dilakukan untuk menyoroti persoalan yang terjadi pada masyarakat, yakni faktor-faktor yang memengaruhi TKI pada usia produktif Kecamatan Rambutan, Kelurahan Tanjung Marulak ini melakukan migrasi ke luar negeri untuk bekerja. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dan dari hasil pengamatan pra penelitian, penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: “Seperti apa faktor- faktor yang Memengaruhi Usia Produktif menjadi Ekspatriat (TKI) di Kecamatan Rambutan, Kelurahan Tanjung Marulak?”

(18)

10 1.3. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif menjadi Ekspatriat (TKI) di Kecamatan Rambutan Kelurahan Tanjung Marulak 1.3.2. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan dan menambah wawasan penulis tentang faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif menjadi Tenaga Kerja Indonesia

2. Bagi Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial

Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi mahasiswa fakultas dan memberikan sumbangan kepustakaan yang berguna bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian yang sama dengan objek dan tempat yang berbeda

3. Bagi Pemerintah

Penelitian ini dapat menjadi referensi kajian bagi pemerintah Indonesia dalam mengambil kebijakan terkait Tenaga Kerja Indonesia

(19)

11 1.4. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah : BAB I : Pendahuluan

Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan uraian konsep yang berkaitan dengan masalah dan objek yang diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan kondisi yang terjadi

BAB III : Metode Penelitian

Bab ini berisikan tentang tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi, teknik pengumpulan data serta teknik analisis data.

BAB IV : Deskripsi Lokasi Penelitian

Bab ini berisikan gambaran umum lokasi penelitian dimana penulis melakukan penelitian.

BAB V : Hasil Penelitian

Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian dilapangan

BAB IV : Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang bermanfaat sehubungan dengan penelitian yang dilakukan

(20)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Faktor Pendorong dan Faktor Penarik

Faktor adalah hal keadaan, peristiwa yang ikut menyebabkan (memengaruhi) terjadinya sesuatu (KBBI). Berdasarkan defenisi tersebut dapat diketahui bahwa faktor dapat memberikan dorongan sebagai landasan seseorang agar melakukan sesuatu terjadi pada dirinya.

Mengenai faktor yang memengaruhi individu menjadi Tenaga Kerja Indonesia dapat dihubungkan dengan adanya mobilitas horizontal. Mobilitas horizontal adalah perpindahan penduduk secara teritorial dan spasial atau geografis (Lembaga Demografi FE UI, 2004). Berdasarkan defenisi tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa adanya individu yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia merupakan bagian dari suatu mobilitas horizontal.

Mobilitas horizontal yang selanjutnya merupakan bagian dari migrasi meninjau kondisi kependudukan. Adanya faktor-faktor pendorong dan penarik bagi orang-orang untuk melakukan migrasi menjadikan arus aktivitas ini semakin meningkat.

Menurut Lembaga Demografi FE Universitas Indonesia (2010), migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/ negara maupun batas administratif bagian dalam suatu negara. Jadi, migrasi dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk yang relatif permanen dari suatu daerah ke daerah lain. Ada 2 dimensi penting yang perlu ditinjau dalam penelaahan migrasi, yakni dimensi waktu dan daerah.

(21)

13 Faktor-faktor yang memengaruhi seseorang migrasi pada dasarnya ada dua pengelompokkan, yakni faktor pendorong dan faktor penarik (Lembaga Demografi FE UI, 2010)

Faktor-faktor pendorong dapat berupa hal-hal sebagai berikut ini :

1) Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan, seperti menurunnya daya dukung dalam lingkungan dan menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh, seperti hasil tambang, kayu, atau bahan pertanian

2) Menyempitnya lapangan pekerjaan ditempat asal

3) Adanya tekanan-tekanan politi, agama, dan suku sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal

4) Alasan pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan

5) Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang atau wabah penyakit

Faktor-faktor penarik dapat berupa hal-hal sebagai berikut ini :

1) Adanya harapan untuk memperoleh kesempatan guna memperbaiki kehidupan

2) Adanya kesempatan untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik

3) Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, seperti iklim, perumahan, sekolah, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya

4) Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, atau pusat kebudayaan yang merupakan daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk bermukim di kota besar

(22)

14 2.1.2 Perubahan Sosial

Kecenderungan terjadinya perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ogburn (dalam Soekanto, 2014) bahwa perubahan sosial juga terjadi disertai adanya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya seperti geografis, biologis, dan ekonomis. Kemudian, perubahan sosial juga bisa terjadi pada yang bersifat periodik dan non periodik. Terlebih bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian yang terjadi. Soekanto (2014) dalam karyanya berjudul Sosiologi; Suatu Pengantar, berpendapat bahwa perubahan sosial dapat dimengerti dengan sebagai berikut :

“Selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok.

Ada pula perubahan yang berpengaruh terbatas maupun luas serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga perubahan yang berjalan cepat. Perubahan bisa berkaitan dengan nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat kekuasaan dan wewenang serta lain-lainnya. Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku di antara kelompok dalam masyarakat”

Sugihen (1997) mengemukakan, “Perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan didalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan”.

Senada dengan pendapat sebelumnya, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1994; dalam Soekanto 2014) juga mengemukakan pendapatnya bahwa,

(23)

15

“Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya”.

Berdasarakan teori perubahan sosial diatas menunjukkan berbagai hal yang penting pada proses dan mekanisme perubahan, dimensi perubahan sosial serta kondisi dan faktor-faktor perubahan sosial serta dimaknai sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi dari bentuk-bentuk masyarakat.

2.1.3 Migrasi

Peribahasa “ada gula ada semut” menjelaskan kondisi paling cocok dengan adanya fenomena proses migrasi desa-kota. Para migran berperilaku seperti semut, maksudnya bila semut menemukan makanan di suatu tempat, makanan itu tidak dimakan di tempat itu, tetapi dibawa bersama teman-temannya ke sarangnya (Ida Bagoes, 2000). Menurut Oishi (2002; dalam Purnomo, 2009) menjelaskan bahwa “di negara-negara pengirim migran, informasi tentang pekerjaan dan standar hidup di luar negeri secara efisien disampaikan melalui jaringan personal seperti teman dan tetangga yang telah beremigrasi”. Ini menunjukkan adanya pengaruh untuk berpindah tempat atau melakukan migrasi melalui jaringan seperti lingkungan sosial sekitar.

Beberapa bentuk-bentuk mobilitas penduduk, yaitu mobilitas vertikal dan horizontal. Bila dilihat dari ada tidaknya niatan untuk menetap di daerah tujuan, mobilitas penduduk dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu mobilitas penduduk

(24)

16 permanen atau migrasi; dan mobilitas penduduk non-permanen. Migrasi/

mobilitas permanen adalah gerak penduduk yang melintas batas wilayah asal menuju ke wilayah tujuan dengan niatan menetap. Sebaliknya, mobilitas penduduk non-permanen adalah gerak penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan (Mantra, 2000; dalam Purnomo 2009). Sedangkan bila seseorang menuju ke daerah lain dan sejak semula sudah bermaksud tidak menetap di daerah tujuan, orang tersebut digolongkan sebagai pelaku mobilitas non-permanen walaupun bertempat tinggal di daerah tujuan dalam jangka waktu lama. (Mantra, 2000; dalam Purnomo 2009).

Lebih lanjut lagi, dalam arti luas migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara pemranen atau semi permanen. Tidak ada pembatasan, baik pada jarak dan perpindahan maupun sifatnya, yaitu apakah tindakan itu bersifat suka rela atau terpaksa, serta tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi keluar negeri (Lee, 1991; dalam Nasution, 1999).

Proses migrasi terjadi sebagai jawaban terhadap adanya sejumlah perbedaan antar tempat. Perbedaan tersebut menyangkut faktor-faktor ekonomi, sosial dan lingkungan baik pada tataran individu maupun masyarakat (Bandiono, 1997:

dalam Nasution, 1999). Banyak studi migrasi menunjukkan bahwa alasan migrasi terutama karena alasan ekonomi, yaitu adanya kesempatan memperoleh pendapatan, pekerjaan dan alasan yang lebih baik. Dengan melakukan migrasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas kehidupnya.

Faktor ekonomi merupakan faktor primer yang memengaruhi migrasi.

Faktor ekonomi tersebut seperti mobilitas jabatan (mobilitas sosial), upah yang

(25)

17 lebih tinggi, kesempatan kerja yang lebih banyak dan lainnya. Aswatini (1995;

dalam Nasution, 1999) mengemukakan bahwa alasan pindah biasanya disebabkan faktor ekonomi, sosial, budaya dan keamanan, kesulitan ekonomi, tekanan penduduk dan faktor geografis.

Berdasarkan buku Lembaga Demografi FE UI (2004), ada beberapa jenis migrasi yang diketahui, antara lain adalah :

1) Migrasi Masuk, proses masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan

2) Migrasi Keluar, adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal

3) Migrasi Neto, merupakan selisih amtara jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar. Apabila migrasi yang masuk lebih besar dari pada migrasi keluar maka disebut migrasi neto positif sedangkan jika migrasi keluar lebih besar daripada migrasi masuk disebut migrasi neto negatif

4) Migrasi Bruto, jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar

5) Migrasi Total, adalah seluruh kejadian migrasim mencakup migrasi semasa hidup dan migrasi pulang

6) Migrasi Internasional, merupakan perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi yang merupakan masuknya penduduk ke suatu negara disebut Imigrasi sedangkan sebaliknya jka migrasi itu merupakan keluarnya penduduk dari suatu negara disebut Emigrasi.

7) Migrasi Semasa Hidup, adalah migrasi berdasarkan tempat kelahiran.

Mereka yang pada waktu pencacahan sensus penduduk bertempat tinggal di daerah yang berbeda dengan daerah tempat kelahirannya.

(26)

18 8) Migrasi Parsial, adalah jumlah migran ke suatu daerah tujuan dari satu daerah asal, atau dari daerah asal ke suatu daerah tujuan. Migrasi ini merupakan ukuran dari arus migrasi antara dua daerah asal dan tujuan.

9) Arus Migrasi, merupakan jumlah atau banyaknya perpindahan yang terjadi dari daerah asal ke daerah tujuan dalam jangka waktu tertentu.

10) Urbanisasi, bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan daerah kota. Defenisi urban bisa berbeda-beda, tetapi biasanya pengertian ini berhubungan dengan kota atau daerah pemukiman yang lebih padat.

11) Transmigrasi, adalah salah satu bagian dari migrasi. Istilah ini memiliki arti sama dengan “resettlementí” atau “settlement” dalam literatur.

Tramigrasi adalah pemindahan dan atau kepindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah Republik Indonesia guna kepentingan pembangunan negara atau karena alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang-undang Trasmigrasi No.3 Tahun 1972.

(27)

19 2.1.4 Usia Produktif

Usia produktif adalah umur ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2020. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masuk dalam rentang usia antara 15 - 64 tahun.

Penduduk usia itu dianggap sudah mampu menghasilkan barang maupun jasa dalam proses produksi dan penduduk yang berusia lebih dari 64 tahun sudah tidak mampu lagi menghasilkan barang maupun jasa (Sukmaningrum, 2017)

Penduduk usia produktif dianggap sebagai bagian dari penduduk yang ikut andil dalam kegiatan ketenagakerjaan yang sedang berjalan. Penduduk usia produktif saat ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat dengan rentang usia diatas 20 tahun yang sudah selesai menempuh pendidikannya. Saat ini, remaja usia muda yang masih bersekolah pun sudah banyak yang memiliki usahanya sendiri. Di beberapa kota kejadian seperti ini sudah biasa terlihat. Keterlibatan kaum muda dalam bekerja diawali sebagai tenaga pembantu di usaha keluarga, sebelum akhirnya mereka berusaha sendiri (BKKBN, 2014:29).

2.1.5 Tenaga Kerja Indonesia dan Ekspatriat

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003, sebagaimana dimaksud denggan “tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/ atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.”

Masih berdasarkan Undang-undang Republik No 13 Tahun 2003, Tenaga Kerja Asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia

(28)

20 kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya selain kegiatan pribadi (BPS).

Tenaga kerja dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengeluarkan usaha pada tiap satuan waktu guna menghasilkan sesuatu baik berupa barang atau jasa, yang digunakan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain (Handono, 2004; dalam Pratiwi, 2007)

Sumarsono (2003; dalam Pratiwi 2007) mengatakan bahwa

“tenaga kerja adalah semua orang yang bersedia sanggup bekerja, dimana tenaga kerja ini meliputi semua orang yang bekerja baik untuk diri sendiri ataupun untuk anggota keluarganya yang tidak menerima imbalan dalam bentuk upah atau semua orang yang sesungguhnya bersedia dan mampu untuk bekerja, dalam arti mereka yang sesungguhnya bersedia dan mampu untuk bekerja, dalam arti mereka menggangur dengan terpaksa karena tidak adanya kesempatan kerja”.

Senada dengan pendapat Sumarsono, Dumairy (2004; dalam Pratiwi, 2007), mengatakan bahwa, “tenaga kerja adalah semua penduduk yang mempunyai umur didalam batas usia kerja”. Berdasarkan definisi sebelumnya, dapat dipahami bahwa setiap negara berhak menentukan batas usia yang berbeda dan masing-masing tergantung dari situasi tenaga kerja di negara yang bersangkutan.

Dalam Sensus Penduduk tahun 2000, yang termasuk tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih (Badan Pusat Statistik). Hal ini

(29)

21 menunjukkan dengan jelas rentang usia yang dimulai untuk seseorang dapat dikatakan tenaga kerja diakui oleh negara

Berdasarkan UU No 39 Tahun 2004 disebutkan bahwa, Tenaga Kerja Indonesia atau disebut dengan TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.

Berdasarkan definisi diatas dapat dikatakan bahwa Tenaga Kerja Indonesia dan/ atau calon TKI adalah warga negara Indonesia (WNI) baik laki-laki maupun perempuan yang telah dan/ atau akan bekerja di luar negeri dengan jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja dan mendapatkan upah melalui prosedur penempatan TKI.

(30)

22 2.2 Penelitian Yang Relevan

Adapun penelitian yang relevan dalam penulisan skripsi berjudul Faktor- faktor yang Memengaruhi Usia Produktif Menjadi Ekspatriat (TKI) Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan adalah sebagai berikut :

1. Kurnia Giawa, Agus Joko Pitoyo dan Djaka Marwasta (2017)

Judul Jurnal : Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Ke luar Negeri Tahun 2013-2015

Tujuan Penelitian : Untuk mengkaji fenomena pekerja migran Indonesia yaitu distribusi (status pekerja, negara-negara tujuan pekerja migran Indonesia), dan karakteristik pekerja migran (jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lapangan usaha).

Kesimpulan : Fenomena pekerja migran Indonesia disimpulkan bahwa pekerja migran perempuan lebih dominan yang bekerja keluar negeri daripada lakilaki lebih kecil. Penempatan TKI terbanyak berdasarkan tingkat pendidikan di tingkat pertama yaitu SMP SD, SMU dan perguruan tinggi. Dominan pekerja migran yang bekerja di sektor lapangan usaha yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pengolahan industri, jasa ke masyarakat, dan perorangan.

2. Maulidyah Amalina Rizqi (2018)

Judul Jurnal : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Untuk Menjadi Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri (Studi Kasus Pada Masyarakat Gresik Utara)

(31)

23 Tujuan Penelitian : untuk mengungkap faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat Kabupaten Gresik Utara untuk menjadi TKI di Luar Negeri selain faktor ekonomi (finansial).

Kesimpulan : Banyaknya Masyarakat Indonesia yang menjadi TKI tidak menghiraukan faktor legalitas yang berdampak pada banyak hal, seperti asuransi kerja, keamanan dan kenyamanan saat hidup saat berada di negara yang mereka tinggali, serta kepemilikan akan properti di negara tersebut, karena sesungguhnya apabila TKI tersebut legal maka akan mudah pula untuk berganti status kewarganegaraan. Faktor yang mempengaruhi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kabupaten Gresik Utara untuk menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri ada berbagai hal. Diantaranya faktor ekonomi (finansial), sempitnya lahan pekerjaan di Indonesia, rendahnya tingkat pendidikan di wilayah pedesaan, dan juga pengaruh lingkungan sekitar. Menjadi TKI tidak menjadi jaminan untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, karena untuk menjadi lebih baik semuanya tergantung kepada individu yang menjalaninya. Karena setiap kehidupan manusia memiliki resiko dan ujiannya masing-masing tetapi tidak semua manusia dapat menghadapi dan berlaku bijaksana dalam menghadapinya.

3. Khusnatul Zulfa Wafirotin, (2013)

Judul Jurnal : Dampak Migrasi Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga TKI Di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo

Tujuan Penelitian : Faktor- faktor yang menyebabkan TKI di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo melakukan migrasi ke luar negeri.

(32)

24 Kesimpulan : Ada empat faktor yang menyebabkan tenaga kerja asal Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo melakukan migrasi ke luar negeri yaitu ada 4 faktor-faktor pendorong yang berasal dari daerah asal seperti Pendapatan yang rendah, sempitnya lapangan pekerjaan, dan kondisi fisik Kecamatan Babadan yang tidak mendukung, sehingga dengan melakukan migrasi ke luar negeri dapat meningkatkan pendapatan, dan memperoleh pekerjaan dengan gaji yang relatif tinggi.

Sedangkan faktor-faktor penarik yang berasal dari negara tujuan yaitu gaji yang tinggi, peluang kerja yang luas dan pengalaman. Faktor Rintangan menunjukkan bahwa tidak ada factor rintangan yang menghambat mereka untuk melakukan migrasi ke luar negeri. Baik dari faktor jarak, biaya, maupun keluarga. Secara pribadi para migran memutuskan untuk bermigrasi dan bekerja ke luar negeri karena ingin hidup mandiri atau bergantung pada orang lain dan semata-mata demi masa depan keluarga mereka. Sedangkan dampak dari hasil menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri adalah mampu meningkatkan status sosial ekonomi mereka dan keluarga mereka di tengah kehidupan masyarakat walaupun ada juga dampak negatifnya.

(33)

25 2.3 Kerangka Pemikiran

Kemiskinan adalah gejala penurunan kemampuan seseorang atau sekelompok orang atau wilayah sehingga mempengaruhi daya dukung hidup seseorang atau sekelompok orang tersebut, dimana pada suatu titik waktu yang secara nyata mereka tidak mampu mencapai kehidupan yang layak”.

Kemudian dengan keadaan atau kondisi kurang seperti ini menambah kesulitan kelompok dalam melakukan aktivitas ekonomi. Pendapatan yang kiranya tidak dapat memenuhi kebutuhan satu keluarga menyulitkan dalam berbagai aspek kehidupan juga, seperti akses pendidikan, akses transportasi dan sebagainya.

Melakukan aktivitas ekonomi yang serba kekurangan memberikan dorongan untuk berbuat lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak secara keseluruhan mau dan memiliki etos kerja demi membangkitkan daya ekonomi kelompok dan mencari penghasilan tambahan baru.

Kasus kemiskinan bukan merupakan kasus yang baru di Indonesia dan negara lain. Kasus ini sudah menjadi isu global yang setiap negara masing-masing masih mencari solusi dan alternatif terbaik bagi bangsa mereka. Upaya dalam memberantas kemiskinan masih juga dinilai kurang masif dan memuaskan.

Kemiskinan merupakan fakta yang sepanjang masa dan dimana saja dapat dilihat.

Hal ini di luar menunjukkan bahwa kemiskinan itu dekat dan menyatu dengan masyarakat dan tidak mudah dipahami secara holistik.

Tekanan-tekanan baik itu bersifat melalui internal dan eksternal terhadap kondisi kemiskinan mendorong individu/ kelompok harus berjuang keras dan

(34)

26 bertahan untuk hidup. Strategi bertahan hidup dimaknai sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara standar oleh individu dan rumah tangga yang Menengah ke bawah secara sosial ekonomi.

Melalui strategi yang dilakukan oleh seseorang, bisa menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber yang lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Selain itu, strategi bertahan hidup menerapkan pola nafkah ganda yang merupakan bagian dari strategi ekonomi. Dalam meningkatkan taraf hidup, individu dapat menambahkan jenis pekerjaan dan merubah pola mata pencaharian. Pola nafkah ganda yang dilakukan perempuan biasanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Sulitnya menemukan lapangan pekerjaan di dalam negeri menyebabkan individu harus mengadu nasib keluar untuk mencari penghidupan layak.

Pemerintah juga yang kurang melihat keadaan masyarakat yang tertekan, sehingga mereka memaksa dirinya untuk bekerja di luar.

Kemudahan akses globalisasi yang semakin canggih, menemukan akses informasi lapangan pekerjaan di luar negeri. Sebagai kondisi yang memastikan keamanan dan keselamatan pekerja migran ini, pemerintah memberikan akses legalitasnya melalui Badan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk memberikan penempatan yang sesuai dengan mekanisme dan mementingkan keselamatan para pekerja TKI. Tentunyaya bagi pemerintah Indonesia ini suatu hal yang positif, seperti menekan pengangguran dan menambah devisa negara.

(35)

27 Bagan 2.1.1

Alur Kerangka Pemikiran

Migrasi Perubahan Sosial (TKI)

Faktor Pendorong Makin

berkurangnya sumber- sumber

kehidupan Menyempitnya

lapangan pekerjaan Adanya berbagai

macam tekanan hak asasi

Alasan pendidikan, pekerjaan atau

perkawinan Bencana alam

Faktor Penarik Harapan

memperbaiki kehidupan Kesempatan memperoleh pendidikan

Keadaan lingkungan dan

aktivitas kota besar

Tenaga Kerja Indonesia/

Ekspatriat

(36)

28 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2011).

Penelitian yang dilakukan ini juga merupakan penelitian kepustakaan (library research) yakni dengan menggunakan bahan-bahan tertulis seperti buku, majalah, surat kabar dan dokumen lainnya.

Melalui penelitian yang dilakukan ini, peneliti ingin mengungkapkan seperti apa faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan. Maka diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini diperoleh data-data dari sumber informasi baik secara lisan maupun secara tulisan yang akan dihimpun, ditranskrip, dideskripsikan, dan dianalisa dengan penelitian kualitatif.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan. Kota Tebing Tinggi memiliki beberapa Kecamatan dan Kelurahan yang masing-masing berjumlah 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan, dengan luas wilayah mencapai 5,935 km². Peneliti menjadikan Kelurahan Tanjung Marulak

(37)

29 sebagai lokasi penelitian dikarenakan besarnya jumlah usia produktif yang telah menjadi Tenaga Kerja Indonesia pada kelurahan ini.

Adapun rencana studi dalam penelitian ini akan dilakukan dalam rangkaian waktu sebagai berikut:

Tabel 3.1.1 Skema Waktu Penelitian

Kegiatan 2020

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Kajian

Literatur Seminar Proposal Perbaikan Proposal Pengambilan Data

Lapangan Penulisan Hasil

Seminar Hasil Sidang Hasil Perbaikan Skripsi

Sumber : diolah oleh Penulis

3.3 Jenis dan Teknik Penentuan Informan

Informan adalah orang-orang yang dipilih untuk di observasi dan di wawancarai sesuai dengan tujuan peneliti untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Suyanto, 2005:171-172). Orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian, yakni seseorang yang pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia. Adapun informan dalam penelitian ini meliputi informan utama, informan kunci dan informan tambahan.

(38)

30 A. Informan Utama

Informan Utama adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial dengan memberikan dampak terhadap permasalahan tersebut (Suyanto &

Sutinah, 2005:171-172). Informan utama dalam penelitian ini adalah mereka yang terlibat langsung dan menjadi pelaku Tenaga Kerja Indonesia

B. Informan Kunci

Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian (Suyanto dan Sutinah, 2005:171-172).

Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Lingkungan 3 Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan.

C. Informan Tambahan

Informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah bagian dari salah satu keluarganya yang telah menjadi Tenaga Kerja Indonesia.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan terkait Tenaga Kerja Indonesia sebagai berikut :

1) Data Primer

Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut:

(39)

31 a) Observasi

Observasi adalah pengamatan terhadap objek dan fenomena yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, yaitu Tenaga Kerja Indonesia. Dalam pengamatan terhadap objek dan fenomena ini dilakukan dengan prinsip physical distancing (khususnya dalam mengumpulkan informasi) dan

menggunakan alat pelindung diri seperti masker serta sarung tangan sebagai upaya pencegahan dari penularan peneliti terhadap virus corona disease (covid-19).

b) Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian mengenai Tenaga Kerja Indonesia dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan yang informan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara. Teknik wawancara yang dilakukan mengikuti anjuran pemerintah dengan membuat jarak 1 meter, dan bila tidak memungkinkan penelitian bisa dilakukan dengan wawancara via telepon dan video call yang terhubung dengan akses internet.

c) Dokumentasi

Dokumentasi adalah mempelajari dokumen yang relevan dimana dokumen bisa berasal dari lembaga, bisa juga berasal dari informan kunci dan informan utama.

(40)

32 2) Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui :

a) Studi Kepustakaan, yaitu proses memperoleh data atau informasi yang menyangkut masalah yang diteliti, yakni Tenaga Kerja Indonesia melalui penelaah buku, jurnal dan karya tulis lainnya.

b) Studi Lapangan adalah pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Siagian 2011:206).

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data yang terkumpul, mempelajari data, menelaah menyusun dalam satu satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta mendefinisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2004:54). Setiap data dari informasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian berupa catatan lapangan sebagai data utama dari hasil wawancara maupun data penunjang lainnya dilakukan dengan menganalisis data, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan suatu analisis data yang baik dan dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian.

(41)

33

Artefak, Dokumen, Map, Observasi Orang Lain

Perekaman Visual

Jotte d

Memilah dan Menggolong kan Open Coding

Axial Coding

Selective Coding

Ingatan &

emosi

Perekaman Suara

Catatan

Sumber lain

Data

2

Data

3

Menganalisis Data Mengumpulkan

Data

Mendengar kannn

Mengamati

Mewawan cara

Data

1

Bagan 2.1.2 Alur Analisis Data

diadaptasi dari Ellen (1984) oleh Neuman (2014: 488)

Berdasarkan bagan yang diadaptasi dari Ellen oleh Neuman diatas memberikan penjelasan bahwa proses analisis data yang telah dilakukan pada lapangan, peneliti dapat mengumpulkan data dengan 3 cara, yakni mendengarkan, mengamati dan mewawancarai. Hasil data 1 (diperoleh dari pengumpulan data) berupa data mentah yang menjadi pengalaman bagi peneliti. Kemudian data 1 dapat diwujudkan ke dalam bentuk ingatan & emosi, catatan tertulis (bersumber dari catatan lapangan), dan perekaman visual serta perekaman suara yang kemudian menghasilkan data 2 sebagai proses penelitian yang telah berlagsung.

Pada proses menganalisis data 2, peneliti melakukan analisis data dengan cara memilah dan menggolongkan, open coding, axial coding, selective coding serta menerjemahkan dan menyelidikinya sesuai dengan pengalaman penelitian.

Selanjutnya data 3 merupakan hasil yang dipilih dan diproses dalam laporan akhir.

(42)

34

BAB IV

DESKRIPSI KELURAHAN TANJUNG MARULAK

4.1. Letak Geografis Kelurahan Tanjung Marulak

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari buku profil kelurahan (10 Juli 2020), diketahui bahwa Kelurahan Tanjung Marulak merupakan kelurahan yang terletak di Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara dengan luas administratif 0,4819 km2 dan kelurahan ini kemudian menjadi berkembang atau mengalami pemekaran sebagai daerah pemukiman dan perkantoran yang terdiri dari 4 Lingkungan. Adapun batas-batas kelurahan Tanjung Marulak ini adalah sebagai berikut :

Sumber : Google Maps

Gambar 4.1.1

(43)

35 Sebelah Utara : Kelurahan Lalang

Sebelah Selatan : Kelurahan Karya Jaya

Sebelah Barat : Perkebunan PTPN III Serdang Bedagai

Sebelah Timur : Kelurahan Marulak Hilir dan Sri Padang

4.2. Sejarah Perkembangan Kelurahan Tanjung Marulak

Berdasarkan informasi dari seorang perangkat kelurahan yang merupakan sekretaris kelurahan, SP (10.57 WIB) bahwa Kelurahan Tanjung Marulak dalam sejarahnya diawali dari adanya keberadaan Kabupaten Deli Serdang yang merupakan wilayahnya bagian Rantau Laban. Di Kota Tebing Tinggi, Rantau Laban merupakan kelurahan yang berada di kota madya tersebut. Letak Rantau Laban merupakan bagian dari 4 kelurahan di kecamatan dan diawali mekar pada tahun 1996 menjadi 3 kelurahan, yaitu Rantau Laban, Lalang, dan Tanjung Marulak. Kemudian pada tahun 2006, kelurahan Tanjung Marulak mekar kembali dan menghasilkan satu kelurahan baru yang disebut Tanjung Marulak Hilir. Total kelurahan yang ada di kota Tebing Tinggi menjadi 35 kelurahan sampai sekarang.

(44)

36 4.3. Profil Kelurahan

Sumber diambil dan diolah oleh peneliti

Didalam buku profil (10 Juli 2020) milik pemerintah kota menjelaskan bahwa Kelurahan Tanjung Marulak memiliki luas wilayah tanah kering seluas 47,87 Ha tanah kering dan seluas 0,32 Ha tanah untuk fasilitas umum. Memiliki luas tanah 47,87 Ha, masing-masing tanah untuk pemukiman seluas 46,37 Ha dan pekarangan seluas 1,50 Ha. Luas tanah untuk perkantoran pemerintah seluas 0,12 Ha dan jalan seluas seluas 0,20.

Kelurahan Tanjung Marulak memiliki topografi seperti dataran rendah seluas 1 Ha dan bantaran sungai seluas 0,01 Ha. Kelurahan ini tidak memiliki sumber penghasilan dalam bidang pertanian, apotik hidup, kehutanan, peternakan, perikanan, dan sumber daya alam.

Gambar 4.3.1

(45)

37 Jumlah kepadatan penduduk laki-laki dan perempuan kelurahan Tanjung Marulak berjumlah 6.364 orang/ 1782 KK. Dari jumlah kepadatan penduduk tersebut ditemukan Usia Produktif sebanyak 1.673 orang. Jenis pekerjaan yang paling umum banyak ditemukan dari kelurahan ini adalah Pegawai Negeri Sipil dan Swasta, masing-masing berjumlah 659 orang dan 1.075 orang. Jika melihat dari angkatan kerja pada kelurahan ini berjumlah 1673 orang. (Data tersebut diperoleh dari buku profil Kelurahan Tanjung Marulak)

4.4. Visi, misi, dan tujuan Visi

"Menjadikan Kota Tebing Tinggi Menjadi Kota Jasa dan Perdagangan yang Beriman, Cerdas, Layak, Mandiri dan Sejahtera Dengan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas"

Misi

"Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Kota Tebing Tinggi yang Baik, Mewujudkan Kota Tebing Tinggi Sebagai Pusat Kegiatan Wilayah dan Perdagangan, Mewujudkan Kota Tebing Tinggi Sebagai Kota Jasa, Meningkatkan Kualitas Sarana dan Prasarana Perkotaan"

Informasi visi dan misi ini juga didapatkan melalui buku profil Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan (10 Juli 2020) yang dimana menjadi visi misi Kota Tebing Tinggi sampai sekarang.

(46)

38 4.5. Struktur organisasi/ lembaga

1) Kepala Kelurahan

Kepala Kelurahan Tanjung Marulak yang dimana pada saat ini di kepalai oleh Plt Lurah, mempunyai beberapa tugas yaitu melaksanakan tugas dalam rangka pembinaan ketentraman dan ketertiban pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, melaksanakan pelayanan administrasi publik, menyelenggarakan pelayanan teknis kesektariatan, meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat, membagi tugas kepada bawahan sesuai bidang tugasnya dan memberi petunjuk kepada bawahan secara lisan maupun melalui rapat staf dalam rangka pembinaan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala daerah, menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran keuangan desa.

2) Sekretaris Lurah

Sekretaris Lurah dalam tugasnya melakukan penyusunan rencana dan kegiatan sekretariatan, pengkordinasian penyusunan rencana program kelurahan, pelaksanaan dan penyelenggaraan pelayanan administrasi kesekretariatan kelurahan yang meliputi (administrasi umum, kepegawaian, dan kerumahtanggan kelurahan), pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan tugas-tugas kelurahan, melakukan penyiapan (bahan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian), melaksanakan (monitoring, evaluasi dan pelaporan), serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh lurah/Plt.

Lurah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(47)

39 3) Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan

Mempunyai tugas meliputi, penyusunan rencana program dan kegiatan seksi Tata Pemerintahan menyusun tata petunjuk teknis lingkup tata pemerintahan, menyelenggarakan pelayanan kependudukan seperti (KTP,KK, mencatat surat Kelahiran dan Kematian), melakukan persiapan bahan (pembinaan kegiatan sosial, politik, ideologi negara dan kesatuan bangsa), melaksanakan proses pelayanan administrasi lainnya yang berada pada lingkup tata pemerintahan, melakukan pencatatan monografi kelurahan, membantu tugas di bidang pemungutan PBB. Serta melakukan persiapan bahan untuk monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas.

4) Kepala Seksi (Kasi) Ketentraman dan Ketertiban Umum

Dalam hal ini Kepala Seksi (KASI) Ketentraman dan Ketertiban umum di Kelurahan Tanjung Marulak bertugas melakukan penyusunan rencana program dan kegiatan ketentraman dan ketertiban umum, menyusun petunjuk teknis lingkup keamanan dan ketertiban umum, penyiapan bahan pembinaan perlindungan masyarakat, penyiapan pembinaan siskamling, penyelenggaraan kegiatan administrasi ketahanan sipil, melakukan persiapan bahan pelaksanaan koordinasi dan instansi terkait dalam penyelenggaraan (ketertiban umum, keamanan dan penertiban terhadap pelanggaran peraturan daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya, pelayanan masyarakat lingkup ketertiban dan ketentraman, melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh lurah/Plt.lurah dalam lingkup keamanan.

(48)

40 5) Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan

Rakyat

Kepala Seksi (KASI) Pembangunan Kelurahan Tanjung Marulak mempunyai tugas antara lain mengumpulkan, mengelola, dan mengevaluasi data di bidang pemberdayaan masyarakat, melaksanakan upaya peningkatan pelayanan publik, perencanaan pembinaan dan pemberdayaan, menyusun konsep kualitas sumberdaya, lembaga dan program pengentasan kemiskinan masyarakat, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan dan pelayanan sosial seperti kepemudaan, peran wanita, olahraga dan kehidupan keagamaan serta kebudayaan.

Kepala seksi ini juga melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait tentang rencana kegiatan pembangunan sarana dan prasarana fisik masyarakat, melaksanakan pembinaan dan pengawasan kegiatan swadaya dan gotong royong, melaksanakan monitoring evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan tugas serta kedinasan lain yang diberikan atasan.

6) Kepala Lingkungan (Kepling)

Kepala Lingkungan Kelurahan Tanjung Marulak memiliki beberapa tugas antara lain membantu pelaksanaan kepala kelurahan dalam wilayah kerjanya, melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan swadaya dan gotong-royong masyarakat, melakukan kegiatan penerangan tentang program pemerintah kepada masyarakat, membantu Kepala Kelurahan dalam pembinaan dan pengkordinasian kegiatana RT/RW di wilayah kerjanya melaksanakan ketentraman dan ketertiban masyarakat di wilayahnya.

(49)

41 Adapun perangkat/ lembaga kelurahan Tanjung Marulak peneliti dapatkan ini adalah bersumber dari Kantor Kelurahan dengan struktur sebagai berikut :

Tabel 4.5.1 Tabel Struktur Jabatan Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan

Nama Alamat Pangkat Jabatan

RITA SUZANA JL. Gunung Lauser Blok F2 NO. 21 LK. II

III/D - Penata Tingkat I

Lurah

SYAHRIAL PURBA

Komplek Perumahan BP7 Tebing Tinggi

III/C - Penata Sekretaris

RIZKI ELY S.

NASUTION

Kampung Lalang Tebing Tinggi

III/C – Penata Kasi

Pemerintahan

BUDI ILHAM, SH Komplek Perumahan BP7 Tebing Tinggi

III/C – Penata Kasi Trantibum

ADI IRVAN DALIMUNTHE

Jl. Gunung Martimbang II Tebing Tinggi

III/A - Penata Muda

Kasi Kesra

(50)

42 Berdasarkan posisi struktural kelembagaan :

4.6. Sarana dan Prasarana

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti (11-12 Juli 2020), sarana dan prasarana yang telah dimiliki kelurahan Tanjung Marulak terlihat memadai.

Hal ini juga terlihat dari terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan jaringan penerangan (PLN), mendapatkan akses air bersih (PAM), posyandu, sekolah, dan rumah ibadah serta kondisi jalan yang diaspal, ditopang aksesibilitas yang mudah pada kelurahan ini seperti berdekatan dengan kantor-kantor pemerintahan, antara lain adalah Disdukcapil, Polsek Rambutan, Kantor BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, Lapangan Bola Ramlan Yatim, Kantor BKD, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Kantor Camat Rambutan.

Lurah Rita Suzana

Kasi Pemerintahan Rizki Ely S. Nasution

Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra

Adi Irva Dalimunthe

PLKB Zaini Sofyan

Bidan Fatimah

Kepala Lngkungan II Dewi Junia

Kepala Lngkungan III Agus Primanto

Kepala Lngkungan IV A. Syahlin Lubis Kepala Ligkungan I

Suparno

Kasi Trantib Fasilitas Umum Budi Ilham, SH Sekretataris

Syahrial Purba

Gambar

Tabel 3.1.1 Skema Waktu Penelitian
Tabel  4.5.1  Tabel  Struktur  Jabatan  Kelurahan  Tanjung  Marulak,  Kecamatan  Rambutan
Gambar  1.  Foto  wawancara  sedang  berlangsung  bersama  salah  satu  informan utama/ Tenaga Kerja Indonesia bernama Nia Syahputri
Gambar  3.  Foto  wawancara  sedang  berlangsung  bersama  salah  satu  informan  utama/  Tenaga  Kerja  Indonesia  bernama  Wulan  secara  online  melalui aplikasi WhatsApp
+2

Referensi

Dokumen terkait