• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN GENERAL ARRANGEMENT AND GROSS TONNAGE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN GENERAL ARRANGEMENT AND GROSS TONNAGE"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada dasarnya rencana umum dan pengukuran tonase kapal merupakan salah satu item desain atau rancangan kapal. Merancang suatu kapal harus mempertimbangkan dan memenuhi beberapa factor yang telah ditentukan. Factor pertama memenuhi fungsi (Design for Function). Dalam hal ini dalam hal ini sesuai dengan kehendak pemakai misalnya kekuatan, kecepatan, stabilitas, kelayakhunian (habitability), dan hemat (cost effective).

Faktor kedua mempertimbangkan kemudahan (design for making) dalam hal ini berarti produk (kapal) harus bisa dibuat dengan mudah. Oleh karena itu sepatutnya mahasiswa mempunyai pengetahuan (aspek kognitif), pengalaman (aspek afektif) dan keterampilan (aspek psikomotorik) mengenai penataan dan peletakan ruang, awak, peralatan dan perlengakapan kapal berdasarkan atau mempertimbangkan regulasi/peraturan yang berlaku misalnya yang dikeluarkan oleh ISO, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, dan Biro-biro klasifikasi.

Sekarang ini perancangan rencana umum mengalami perhatian serius terutama dari ILO (organisasi buruh internasional) hal ini dikarenakan menyangkut kelayak hunian (habitability) yang berarti berhubungan dengan masalah motivasi kerja, kesehatan dan kinerja. Pada dasarnya tujuan utama mendesain kelayakhunian adalah untuk memberi kontribusi yang baik terutama efektifitas pekerjaan dan lingkungan kerja di kapal dengan cara memperhatikan kondisi fisik pekerjaan dan dukungan fasilitas terhadap pekerja.

Begitupula pengukuran tonase kapal, hal ini juga mendapat perhatian terutama oleh Pemerintah Republik Indonesia, setelah meratifikasi peraturan TMS 1969 (International Convention on Tonnage Measurement of Ships, 1969) dari IMO dengan Kepres No. 5 Tahun 1989 tanggal 25 Januari 1989. Pemerintah RI dalam hal ini kementrian perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor:PM 8 Tahun 2013 tentang pengukuran kapal, tanggal 12 Februari 2013. Berdasarkan uraian diatas maka sebagai mahasiswa perlu melakukan pendalaman terhadap peraturan-peraturan dengan membuat tugas rencana umum dan mengukur tonase kapal.

Materi tugas dibagi dua tahap yaitu tahap pertama mencakup perancangan rencana umum dan tahap kedua pengukuran tonase. Pada Tahap Pertama dilakukan penataan dan peletakan ruang-ruang utama ( ruang muat, kamar mesin, ruang awak dan penumpang,

(2)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 2

tangki-tangki dan lain-lain) yang dibatasi oleh lambung kapal dan bangunan atas. Secara bersamaan penataan ini mempertimbangkan penempatan sekat-sekat, serta ketersediaan akses. Pada tahap kedua dilakukan pegukuran tonase kapal dengan metode internasional menurut peraturan PM 8 Tahun 2013. Gambar-gambar yang dihasilkan menggunakan aplikasi perangkat lunak (software) 2D dari AutoDesk berupa Autocad.

1.2. Rumusan Masalah

Didalam merencanakan dan mendesain Rencana Umum dan Tonase dibutuhkan gambar Lines Plan, data dan jumlah awak kapal, dan daya mesin utama.

1.3. Maksud

Tugas dari mata kuliah “Rencana Umum dan Tonase” ini dimaksudkan agar Mahasiswa mampu mengetahui peletakan ruangan, tangki, alat angkat, alat tambat dan lain sebagainya.

1.4. Tujuan

Mampu memahami teori dasar dalam merancang suatu kapal.

Mampu merancang suatu kapal berdasarkan ketentuan Biro Klasifikasi dan Pemerintah

Mampu merancang penataan ruang-ruang utama pada kapal termasuk peletakan peralatan dan perlengkapan kapal.

Mampu mengukur tonase bersih dan tonase koto berdasarkan metode internasional

(3)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Rencana Umum

Desain rencana umum dan tonase ( general arrangement ) merupakan sebuah aspek utama didalam merencanakan sebuah bangunan kapal. Didalam merencanakan sebuah kapal ada beberapa factor yang sangat berpengaruh terhadap rencana umum pada kapal kargo ( General Cargo ) yaitu harus bisa di pastikan bahwa muatan yang direncanakan harus dengan biaya semurah mungkin didalam ruang muat yang di desain, juga harus dipastikan muatan dalam keadaan yang baik sampai ditempat tujuan dan dengan method bongkar muat yang cepat dan ekonomis. Ada 3 aspek penting dalam mendesain general arrangement yaitu:

Rencana umum meliputi deskripsi rancangan tata letak ruangan, area dan peralatan/perlengkapan kapal

Desain rencana umum merupakan analisis kebutuhan ruang dan area peralatan/perlengkapan serta detail perhitungannya.

Visualisasi desain rencana umum berbentuk gambar yang memperlihatkan tampak atas masing-masing geladak, tampak samping, tampak depan, dan tampak belakang kapal.

Desain General Arrangement harus mempertimbangkan kesesuaian dengan rencana garis yang telah di kembangkan, kesesuaian terhadap DWT, kapasitas dan kecepatan yang dbutuhkan. General arrangement digunakan untuk beberapa kegunaan, tidak hanya sekedar menunjukan jenis kapal dan featurenya , Galangan kapal juga menggunakan untuk membuat kalkulasi awal biaya pembangunan kapal serta sebagai dasar untuk membuat detail drawing.

Proses rancangan general arrangement disusun dan dikembangkan secara gradual atau berjenjang satu persatu mulai dari tahap trial, evaluasi dan perbaikan. Tentang beberapa permasalahan dalam rancangan general arrangement, maka pendekatan pertama yang dilakukan untuk penyelesaiannya adalah minimal berdasarkan informasi berikut meliputi :

Besar kebutuhan ruang muat didasarkan dari jenis dan jumlah muatan.

Metode penyimpanan dan system penanganan muatan,

Besar kebutuhan kamar mesin didasarkan dari jenis dan BHP atau SHP mesin

(4)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 4

Besar kebutuhan ruang akomodasi didasarkan dari jumalh awak kapal, penumpang dan standar akomodasi.

Besar kebutuhan tanki-tanki, utamanya tanki bahan bakar dan tolak bara (ballast) didasarkan dri jenis mesin bahan bakar dan jarak pelayaran.

Ukuran standar pembagian ruangan dan batasan jarak sekat melintang Perkiraan ukuran utama meliputi panjang, lebar, tinggi dan sarat kapal.

Perkiraan rencana garis.

Tata letak GA dilakukan untuk mengalokasikan ruang-ruang utama yang didasarkan informasi diatas, sekat ceruk haluan dan buritan serta alas ganda, dipasang berdasarkan aturan/regulasi lambung kapal. Sekat melintang lainnya diletakkan guna memenuhi syarat pembagian ruangan yang didasarkan pada prarancangan kuva kebocoran / lengkung sekat.

Geladak-geladak ditempatkan sesuai dengan mempertimbangkan ruang muat, permesinan, akomodasi dan lain-lain serta persyaratan kekuatan kapal. Kelonggaran ruangan karena deduksi struktur harus mempertimbangkan besar kebutuhan dan tinggi geladak.

Kapal-kapal modern menggunakan sheer yang berfungsi untuk menjamin kebutuhan freeboard yang disyaratkan oleh regulasi, kompensasi bisa dilakukan dengan menambah tinggi geladak pada tengah kapal, kebutuhan freeboard yang lebih tinggi bisa dilakukan dengan menambah tinggi poop deck dan atau forecastle deck.

Tinggi geladak accomodasi tidak boleh kurang dari 2,4 meter untuk memastikan kecukupan head room untuk ABK atau penumpang setelah dikurangi tinggi beam serta kabel dan pipa ventilasi dll. Geladak akomodasi sebaiknya dibangun tanpa camber untuk memudahkan pemasangan furniture, blok akomodasi sedapat mungkin dibangun dengan dinding yang lurus tanpa curvature.

Pada sisi Poop deck harus terdapat ruang terbuka sebagai tempat berjalan dengan lebar 800 hingga 1000 mm ditambah 300 hingga 400 mm untuk penyimpanan tangga akomodasi. Bagian belakang Poop deck harus terdapat ruang terbuka paling kurang 5 meter dari stern untuk memberi ruang yang cukup bagi penempatan mesin-mesin geladak pada bagian buritan, seperti capstan, bollard, winch, emergency exit ruang kemudi. Bagian depan blok akomodasi biasanya merupakan penerusan dari sekat depan kamar mesin.

2.2. Pembagian Lambung Kapal

Lambung kapal dibagi secara melintang oleh sekat-sekat.

(5)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 5

Sekat tubrukan (Collision Bulkhead) pada stem(linggi haluan) berjarak (0,05 – 0,08) LBP dari FP, untuk kapal penumpang berjarak 0,05 LBP + 3,5 meter, sekat tubrukan harus menerus hingga main deck lebih lanjut hingga ke Fore castle deck, bukaan yang terdapat pada sekat antara main deck dan fore castle deck harus ditutup dengan pintu kedap air.

Propeller post pada stern –ujung belakang dari bagian lambung bawah air- harus memberikan aliran air yang baik untuk propeller, Posisi propeller post yang sesuai berjarak antara 0,035 hingga 0,040 LBP didepan AP, pada bagian ini seringkali dibuat stern bulb untuk meningkatkan kinerja propeller atau bahkan bentuk stern asimetri.

Sekat tabung poros (Stern tube bulkhead) sekat bagian belakang ruang mesin paling kurang harus berjarak 3 jarak gading dari ujung stern tube, sekat ini haris menerus hingga poop deck

Sekat depan kamar mesin dilokasikan sejauh mungkin kebelakang untuk memberi kapasitas ruang muat yang lebih besar, pada umumnya lokasi sekat depan kamar mesin berjarak 17% hingga 22% didepan AP, lokais sekat ini pada satu sisi tergantung dari panjang mesin pada sisi lain tergantung pada fullness (kegemukan) kapal, kapal-kapal high blok(gemuk) memberikan ruang yang lebih besar pada lantainya dibanding dengan kapal langsing.

Sekat ruang muat , jumlah sekat pada ruang muat tergantung pada tuntutan keamanan atau pemisahan muatan. Jumlah minimum sekat ruang muat termasuk sekat tubrukan, Stern tube bulkhead, sekat depan kamar mesin untuk

Panjang kapal 65 meter diperlukan 3 sekat (tidak diperlukan tambahan sekat di Ruang muat)

Panjang kapal 85 meter diperlukan 4 sekat (satu tambahan sekat pada ruang muat) selanjutnya untuk setiap penambahan panjang 20 meter diperlukan tambahan sekat 1 (satu) buah

Double Bottom, Untuk kapal dengan panjang tidak lebih dari 50 meter tidak disyaratkan adanya Double bottom, untuk kapal yang besar klasifikasi mensyaratkan double bottom mulai dari sekat tubrukan hingga sekat tabung buritan (stern tube bulkhead) , tinggi Double bottom adalah h= 0,35 + 0,045 B, untuk alasan praktis dimana orang bisa bekerja didalamya, tinggi double bottom paling tidak adalah 0,75 meter. Pada kamar mesin, tinggi double bottom disesuaikan dengan dengan kebutuhan tinggi fondasi mesin, pada umumnya lebih tinggi dibanding double bottom yang ada di ruang muat.

Penggunaan Double Bottom, Ruang double bottom bisa digunakan untuk air tawar, ballast, bahan bakar dan waste oli tetapi tidak untuk air minum, Minyak pelumas hanya

(6)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 6

dapat disimpan di double bottom bila kapal memiliki separator (purifier) untuk menghindari kontaminasi air laut dan atau kotoran lainnya. Semua tangki ballast harus bersih, tidak bisa digunakan untuk untuk bahan bakar atau minyak pelumas, antara tangki minyak dan tangki air harus dipisahkan oleh koferdam untuk menghidari kontaminasi akibat kebocoran, Peak tanks (tangki ujung) depan dan belakang hanya digunakan sebagai tangki ballast dan tangki trim.

Main deck, area antara sekat depan blok akomodasi dan sekat tubrukan digunakan untuk lubang palka ( cargo hatches ) dan rumah geladak ( deck houses ), lubang palka harus memiliki panjang total sebesar 0.5 LBP, lebar lubang palka dibuat sek=lebar mungkin untuk memudahkan bongkar muat dan menghindari kerusakan muatan, lebar palka 0.8 Bmld harus bias dicapai. Tinggi lubang palka ( hatches ) ditentukan oleh tipe penutup palka ( hatch cover ), tipe cargo dan total volume cargo yang diinginkan, tinggi minimum hatch sekitar 1.1 meter, panjang hatch ( lubang Palka ), ruang penyimpanan hatch cover ( penutup palka ), gang ( walkways) dari sisi kiri kapal ke sisi kanan kapal, dan panjang rumah geladak harus di desain secara sesuai.

Lebar geladak (deck) pada ujung-ujung kapal, Fore castle deck harus memiliki lebar yang cukup untuk instalasi windlass dan mesin-mesin/peralatan lainnya yang berhubungan dengan mooring (penambatan) dan anchoring (jangkar), kebutuhan lebar fore castle akan tercukupi bila gading (frame) 5% LBP dibelakang Fpmemiliki lebar pada fore castle selebar (0,5 hingga 0,6) Bmld. Poop deck akan memiliki lebar yang cukup bila pada ujung belakang geladak memiliki lebar (80% hingga 95%) Bmld.

Jarak Gading (Frame spacing), BKI 1996 vol II, jarak gading normal/main frame (ao) untuk daerah 0,1 dari sekat tubrukan dan sekat buritan, untuk LBP < 100 m adalah

ao = L/500 + 0,48 m ( biasanya diambil 0,6 meter )

2.3. Blok Akomodasi

Pada saat mendesain blok akmodasi kapal cargo hal utama yang harus diperhatikan adalah jumlah geladak dimana blok akomodasi berada, pertimbangannya adalah adanya visibilitas dari wheelhouse ke forecastle deck atau melampaui hambatan maximum visibilitas yang diakibatkan oleh container.

2.4. Pembagian Geladak

Pembagian pada geladak yaitu : Navigation Deck

(7)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 7

Pada geladak ini ditempatkan ruangan navigasi, ruang radio, ruang baterai dan ruang peta.

Peralatan-peralatan navigasi diletakkan pada ruangan navigasi diantaranya nautical almanac, Global Positioning System (GPS), depth sounder gear, compass, radio direction finder, radar, telegraph, voice tube dan telephone. Selain itu terdapat pula lampu samping pada starboard side dan portside pada fly wheel house.

Bridge Deck

Pada geladak ini ditempatkan akomodasi crew, kantor dan beberapa fasilitas beberapa crew diantaranya Kapten, Chief Engineer, dan First Engineer.

Boat Deck

Selain tempat akomodasi crew, pada boat deck ditempatkan sekoci disisi sampingnya bagian belakang. Adapun crew yang ditempatkan di boat deck meliputi muallim I, Radio Operator, Masinis I, Masinis II. Pada geladak ini terdapat beberapa fasilitas. Boat Deeck juga disebut geladak sekoci karena di identikkan dengan peletakan sekoci.

Poop Deck

Pada sisi poop deck harus terdapat ruang terbuka sebagai tempat berjalan dengan lebar 800-1000 mm ditambah 300-400 mm untuk penyimpanan tangga akomodasi. Bagian belakang pada poop deck harus terdapat ruang terbuka paling kurang 500mm dari system untuk memberi ruang yang cukup bagi penempatan mesin-mesin geladak pada bagian buritan, diantaranya capstan, bollard, winch, emergency exit ruang kemudi.

Main Deck

Geladak utama merupakan geladak yang menerus selebar kapal dan memanjang dari linggi satu ke linggi lainnya. Pada geladak utama juga ditempatkan geladak akomodasi, alat angkat berserta perlengkapannya, ventilator, dan ambang palka.

Forecastle Deck

Forecastle deck atau geladak akil degunakan untuk tempat alat-alat tambat seperti bollard, windlass, jangkar haluan dan lain-lain. Forecastle deck terletak pada haluan kapal.

2.5. Pembagian Ruang dibawah Deck Utama

Dibawah deck utama diletakkan beberapa ruangan diantaranya :

(8)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 8

Ruang Muat

Fungsi dari ruang muat yaitu merupakan penempatan muatan yang telah direncakan.

Dimensi ruang ditentukan oleh jarak dari sekat tubrukan sampai sekat kamar mesin.

Menurut peraturan BKI panjang ruang muat tidak boleh melebihi 30 meter. Oleh karena itu dibuatkan sekat melintang atau sekat ruang muat yang berfungsi sebagai penambah kekuatan melintang dan memanjang kapal. Muatan kapal (cargo) merupakan objek dari pengangkutan dalam system transportasi laut, dengan mengangkut muatan sebuah perusahaan pelayaran niaga dapat memperoleh pendapatan dalam bentuk uang tambang (freight) yang sangat menentukan dalam kelangsungan hidup perusahaan dan membiayai kegiatan dipelabuhan.

Muatan kapal merupakan segala macam bentuk barang dan barang dagangan yang diserahkan kepada pengangkut untuk diangkut dengan kapal, guna diserahkan kepada orang/barang dipelabuhan atau pelabuhan tujuan atau merupakan seluruh jenis barang yang dapat dimuat ke kapal dan diangkut ketempat lain baik merupakan bahan baku atau hasil produksi dari suatu proses pengolahan.

Geladak Antara ( tween deck )

Pembagian ketinggian yang tepat diatas dasar ganda antara penyimpanan (hold) dengan geladak (deck) tergantung pada kondisi perdaganan (volume dan jenis muatan).

Tinggi geladak antara bisa berkisar antara 2,4 dan 3,0, geladak antara bawah berkisar 2,7 dan 4,6 m dan dasar ruang antara 3,0 dan 6,1m. umumnya dasar ruang kargo ketinggian terbatas sekitar 5,5 m atau kurang guna meminimalkan kerusakan muatan atau peremukan muatan.

(9)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 9

Kamar Mesin

Kamar mesin diletakkan pada buritan kapal tepatnya setelah ceruk buritan. Dimensi kamar mesin ditentukan menurut dimensi mesin yang digunakan agar mesin dapat diakomodasi dengan baik. Fungsi peletakan pada kamar mesin yaitu :

- Tempat menata letak mesin utama ( ME dan AE ) - Peralatan botol angina dan compressor

- Panel utama dan panel bantu ( penerangan, pompa dan alat kancing) - Ruang pengaturan pompa-pompa

Beberapa prinsip-prinsip harus diikuti dalam mengatur pemilihan lokasi ruang mesin dan bentuk ruang mesin, antara lain :

- Memberikan akses yang cukup dalam penginstalan, pengoperasian, dan pelayanan mesin.

- Meminimalkan gangguan atau konflik antar fungsi-fungsi utama kapal-kapal komersial, terutama dalam mengangkut kargo.

- Kemampupadanan (kompatibilitas) antara besar atau berat mesin dengan peletakan sekat kedap air terhadap stabilitas kapal dan standar pembagian ruangan atau peletakan sekat-sekat.

- Menghindari trim yang esktrim dalam berbagai kondisi pemuatan kapal karena besar atau berat mesin penggerak kapal

(10)

DEDI IRWANSYAH ARHAM | D311 12 104 10

- Panjang poros yang wajar antara unit penggerak (drive) dan baliing-baling (propeller).

Panjang ruang mesin sangat penting, di samping lokasi dan kebutuhan ruang, karena dalam desain kapal panjang ruang mesin merupakan faktor yang berpengaruh berdasar floodable lenght (kebocoran).

Ceruk Haluan

Fungsi dari ceruk haluan adalah

- Berfungsi sebagai penampung air ballast ( Ballast Tank ) yang tujuannya sebagai pengatur trim atau stabilitas kapal. Tidak menutup kemungkinan bahwa peletakan tanki ballast pada haluan kapal dan disesuaikan perencanaan. Persyaratan peletakan tangki ballasr dihaluan apabila pada double bottom tidak mencukupi untuk peletakan ballast tersebut.

- Sebagai tempat bak rantai jangkar ( Chain Locker ) dan kotak lumpur ( Mud Box )

Ceruk Buritan

Ceruk buritan juga bisa berfungsi sebagai tempat tanki ballast tetapi sama halnya pada ceruk haluan bahwa penempatan tangki ballast pada buritan tergantung dari perancangan dengan syarat tertentu. Ceruk buritan juga berfungsi sebagai tempat gudang tali temali, rantai jangkar dan alat tambat lainnya.

Alas Ganda ( Doublle Bottom )

Fungsi dari alas ganda adalah untuk manambah kekuatan memanjang kapal, sebagai tempat penempatan tanki, apabila kapal bocor maka air tidak seluruhnya akan masuk dalam kapal. Pada ruangan ini diletakkan beberapa jenis tangki, diantaranya tangki bahan bakar ( fuel oil tank ), tanki air tawar ( fresh water tank ), tangki minyak diesel ( diesel oil tank ).

Selain itu juga ditempatkan tanki ballast ( ballast tank ).

2.6. Number of Crew

Dalam penentuan jumlah awak kapal tergantung dari Ukuran kapal

Type kapal

Referensi

Dokumen terkait

Umumnya lokasi Puskesmas berada di ibu kota Kecamatan dan dekat dengan permukiman penduduk (95,1%). Analisis diskriptif juga menunjukkan bahwa hampir 93% bangunan

Fasilitas kegiatan dan pertunjukan seni untuk lingkup Ibukota Jakarta dapat ditemukan di beberapa lokasi dengan kapasitas yang beragam, seperti Gedung Kesenian

Ruang Rawat Instalasi Paviliun Garuda adalah ruang yang menyediakan fasilitas kelas VIP B dengan kapasitas tempat tidur 20, VIP A dengan kapasitas tempat tidur 16, VVIP

 Mampu memberikan unjuk kerja pada efisiensi yang tinggi dengan beroperasi pada range tekanan dan kapasitas yang besar karena pada umumnya jenis kompresor sentrifugal merupakan

Kriteria sebagai pesaing adalah memiliki harga kamar dan jumlah kamar yang sama, klasifikasi bintang yang setara dan juga lokasi yang berdekatan dengan Bintang

Berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya yang ditujukan untuk santri dengan kondisi normal, Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Kudus mengkhususkan diri untuk

Dan prasarana pendidikan yang meliputi ruang perpustakaan, kantor madrasah, UKS, kamar kecil, ruang osis, dan tempat parkir, yang meliputi berbagai rangkaian

Lyza Tahura (2013) bahwa variabel mesin dengan satuan rata-rata kapasitas mesin yang terpakai perjam saat berproduksi menunjukkan pengaruh positif dan