KITAB RISALAH ADAB SULUKIL MURID
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Siti Nurjanah NIM 11160110000078
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULAH
JAKARTA
2021
i
KEMENTRIAN AGAMA UIN JAKARTA FITK
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412 Jakarta
FORM (FR)
No. Dokumen : FITK-FR-AKD-089 Tgl Terbit : 01 Maret 2010 No. Revisi : 01
Hal : 1/1
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Siti Nurjanah
Tempat/Tgl. Lahir : Kuningan, 01 Mei 1998
NIM : 11160110000078
Jurusan Prodi : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid
Dosen Pembimbing : Dr. Dimyati, M.Ag
NIP : 19640704 1993031003
dengan ini menyatakan bahwa skripsi skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh ujian munaqasah.
Jakarta, 05 Juli 2021 Mahasiswa Ybs.
Siti Nurjanah NIM. 11160110000078
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING
RELASI GURU DAN MURID PERSPEKTIF HABIB ABDULLAH BIN ALAWI AL-HADDAD DALAM KITAB
RISALAH ADAB SULUKIL MURID
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Menjadi Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)
oleh:
Siti Nurjanah NIM. 11160110000078
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Skripsi
Dr. Dimyati, M.Ag NIP. 196407041993031003
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
iii
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi berjudul “Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad ” disusun oleh Siti Nurjanah NIM. 11160110000078, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas`
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 28 Juni 2021 Yang Mengesahkan,
Dr. Dimyati, M.Ag NIP. 19640704 199303 1 003
v
ABSTRAK
Siti Nurjanah (NIM: 11160110000078). Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana relasi guru dan murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid. Peneilitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penulis menggunakan metode dokumentasi, yakni menelusuri dan mengumpulkan sumber data dari data tertulis seperti buku, jurnal, dan literatur lainnya yang berhubungan dengan relasi guru dan murid. Adapun sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah kitab karangan Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang berjudul Risalah Adab Sulukil Murid.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Relasi guru dan murid perspektif Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid ialah hubungan interaktif antara guru dan murid yang dibangun untuk mencapai tujuan yakni sampainya seorang murid kepada Allah swt. Untuk menciptakan hubungan yang baik antara keduanya, masing-masing pihak harus memenuhi kualifikasi tertentu diantaranya memiliki kepribadian yang shalih. Guru juga harus menjalankan etika yang baik terhadap murid, dan murid harus mengamalkan etika yang baik terhadap guru.
Adapun etika guru terhadap murid ialah: (1) menguji kesungguhan murid dalam mencari guru yang baik, dan (2) mendidik muridnya secara totalitas.
Sedangkan, etika murid terhadap guru ialah: (1) bersungguh-sungguh dalam mencari guru, (2) menjadikan guru sebagai teladan dan menghukumi segala permasalahan, (3) husnudzan, (4) taat secara lahir dan batin, (5) bersikap terbuka kepada guru, (6) menjaga perasaan guru, (7) tidak meminta guru menujukkan karamahnya (kehebatannya), (8) tidak berguru kepada guru yang lain tanpa seiizinnya, (9) meminta nasihat ketika berada di tempat yang jauh dari gurunya, (10) menjaga etika ketika bertanya, dan (11) memohon maaf kepada guru atas segala kesalahan.
ABSTRACT
Siti Nurjanah (NIM. 11160110000078). Teacher and Student Relations Perspective Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad in the Book of Risalah Adab Sulukil Murid.
The purpose of this study is to find out how the relationship of teachers and students Perspective Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad in the book of Risalah Adab Sulukil Murid. This research is a type of qualitative research using a descriptive approach. The author uses a documentation method, which is to browse and collect data sources from written data such as books, journals, and other literature related to teacher and student relationships. The primary data source used in this study is a book by Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad entitled Risalah Adab Sulukil Murid.
The results of this study showed that the relationship between teachers and students perspective Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad in the book of Risalah Adab Sulukil Murid is an interactive relationship between teachers and students that is built to achieve the goal of the arriving of a student to Allah swt. To create a good relationship between the two, each party must meet certain qualifications such as having a good personality. Teachers must also exercise good ethics towards students, and students must practice good ethics towards teachers.
The ethics of teachers towards students are: (1) testing the seriousness of students in finding good teachers, and (2) educating their students in totality.
Meanwhile, the ethics of students towards teachers are: (1) earnest in finding teachers, (2) make the teacher an example and punish all problems, (3) husnudzan, (4) obey the teacher physically and mentally, (5) be open to the teacher, (6) keep the teacher's feelings, (7) do not ask the teacher to show his karamah (greatness), (8) do not teach to other teachers without his permission, (9) ask for advice when in a place far from his teacher, (10) maintain ethics when asking questions, and (11) apologize to the teacher for any wrongdoing.
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah saya panjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt., atas rahmat dan karunia-Nya, serta kekuatan-Nya saya dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, para keluarganya, para sahabatnya, dan semoga sampai kepada kepada kita selaku uamatnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal Skripsi ini begitu banyak hambatan dan kesulitan sehingga tidak lepas dari bimbingan dan arahan serta do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. Abdul Haris, M.Ag, selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Drs. Rusdi Jamil, M.Ag, selaku sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag, selaku Dosen Penasihat Akademik yang telah membimbing dan memberi arahan kepada penulis.
6. Dr. Dimyati, M.Ag, sebagai Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan, arahan dan nasihat yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.
7. Ayahanda Abdul Majid dan Ibunda Siti Latipah, Kakanda Nana Manarul dan Ai Siti Nurhidayati, serta Adik Muhammad Abdul Basith yang selalu memberikan semangat, doa yang tidak pernah henti, kasih sayang yang tidak pernah terkira serta motivasi yang begitu besar. Semoga Allah selalu melindungi dan menyayangi, serta membalas kebaikan mereka.
8. Teman-teman kostan, Ernawati (Erna), Puspa Mawarni (Puspa), Ummi Hani (Hani), terima kasih telah menemani memberikan semangat, bantuan, dan do’a kepada penulis.
9. Kakak Kamalia Istifadati dan Dwi Larasati yang telah meluangkan waktunya untuk memberi semangat, bantuan dan do’a kepada penulis.
10. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Agama Islam kelas C 2016 yang telah menemani saya dari awal perkuliahan hingga saat ini.
11. Teman-teman Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2016.
Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terima kasih atas dukungan, doa, dan bantuannya. Semoga semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal ini mendapat balasan kebaikan dari Allah Swt. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan khazanah ilmu pengetahuan bagi umumnya.
Ciputat, 28 Juni 2012 Penulis
Siti Nurjanah
ix
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 12
C. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah ... 13
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 14
BAB II KAJIAN TEORI ... 15
A. Pengertian Relasi Guru dan Murid ... 15
1. Pengertian Relasi ... 15
2. Pengertian Relasi Guru dan Murid ... 16
3. Karakteristik Relasi Guru dan Murid ... 19
B. Pengertian Guru dan Murid ... 20
1. Pengertian Guru ... 20
2. Pengertian Murid ... 24
C. Tugas, Peran, dan Fungsi Guru ... 25
1. Tugas Guru ... 25
2. Peran Guru ... 28
3. Fungsi Guru ... 30
D. Kode Etik Guru ... 32
E. Hak dan Kewajiban Murid ... 34
1. Hak Murid ... 34
2. Kewajiban Murid ... 34
F. Hasil Penelitian yang Relevan ... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 40
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40
B. Metode Penelitian... 40
C. Fokus Penelitian ... 41
D. Prosedur Penelitian... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45
A. Biografi Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ... 45
1. Riwayat Hidup Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ... 45
2. Guru-guru Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad... 48
3. Murid-Murid Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ... 49
4. Karya-karya Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ... 49
B. Kitab Risalah Adab Sulukil Murid ... 50
1. Latar Belakang Kitab Risalah Adab Sulukil Murid ... 50
2. Sistematika Penulisan Kitab Risalah Adab Sulukil Murid ... 50
C. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid ... 52
1. Konsep Guru Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad ... 52
2. Konsep Murid Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad... 57
3. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran-saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 73
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini Indonesia telah memasuki era generasi revolusi industri 4.0 atau dikenal dengan generasi milenial. Salah satu yang menandai lahirnya generasi ini adalah adanya gawai. Gawai diartikan sebagai peralatan teknologi canggih, sehingga kehidupan masyarakat saat ini tidak terlepas dari unsur teknologi informasi.1
Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat terjadinya revolusi di dunia. Dimana revolusi pertama terjadi pada abad ke-18, ketika mesin-mesin uap ditemukan dan menjadikan manusia beralih tenaga, dari tenaga hewan ke tenaga mesin. Revolusi kedua terjadi pada tahun 1870, ketika perindustrian dunia beralih ke tenaga kerja listrik yang mampu menciptakan produksi massal.
Revolusi industri ketiga terjadi pada tahun 1960-an pada saat perangkat elektronik mampu menghadirkan otomatisasi produksi. Dan revolusi keempat terjadi pada saat sekarang ini, di mana semua mesin terhubung dengan jaringan internet dan semuanya serba digital.2
Di era ini, teknologi digital telah mendorong sistem otomatisasi dalam semua proses aktivitas. Teknologi internet yang semakin masif bukan hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara online. Seperti Shopee, Lazada, Toko Pedia, Gojek, Grab, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi aktivitas manusia dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat. Berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan manusia telah berubah secara fundamental.3
1 Meti Hendayani, “Problematika Pengembangan Karakter Peserta Didik di Era 4.0”, Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, Vol.7, No.2, 2019, h. 185.
2 Leni Sri Ramadhani Sirega, “Pendidikan Karakter Di Era Revolusi Industri 4.0”, Prosiding Seminar Nasional Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Vol. 3, 2019, h. 899.
3 Ibid., h. 901.
Seiring berjalannya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang pendidikan pun mengalami perubahan mendasar dalam perilaku dan cara mendapatkan sumber belajar. Kini, arus informasi yang semakin terbuka, bahan, media, model, dan strategi pembelajaran yang semakin beragam dan seringkali berkembang di luar prediksi, dapat mengarah ke penguatan moral, kreativitas dan produktivitas, namun dapat juga mengarah ke arah yang sebaliknya. Seorang murid tidak lagi memandang guru sebagai sumber pengetahuan, sehingga pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja, termasuk media teknologi informasi.4
Walaupun demikian, peran guru dalam proses pembelajaran tetaplah sangat penting dan tidak bisa tergantikan walau dengan kecanggihan teknologi sekalipun, sebab dalam diri seorang guru terdapat unsur manusiawi. Seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-sebagainya. Tujuan pendidikan pun adalah memanusiakan manusia bukan merobotkan manusia.
Guru mewariskan nilai-nilai dan norma-norma, sedangkan kecanggihan teknologi berfungsi sebagai sarana dalam proses pembelajaran.5
Kemunculan teknologi telah menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan, arus globalisasi yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun di dunia ini menjadikan adanya ketergantungan antara suatu negara dengan negara lainnya untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya. Ketergantungan ini tidak terhenti hanya saling membeli dan menjual, akan tetapi berkembang memasuki wilayah investasi untuk mengembangkan sebuah industri. Ketika memasuki wilayah investasi, mereka membawa dua faktor yaitu modal dan teknologi, mereka membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk bisa mengoperasikan teknologi tersebut dan mengelolanya dengan baik. Untuk itu sumber daya manusia Indonesia harus dipersiapkan, sehingga mereka
4 Muhamad Nurdin, Muhammad Harir Muzakki, dan Sutoyo, “Relasi Guru Dan Murid (Pemikiran Ibnu ‘Athaillah Dalam Tinjauan Kapitalisme Pendidikan)”, Kodifi kasia, Vol. 9, No. 1, 2015, h. 121-122.
5 Annisa Anita Dewi, Guru Mata Tombak Pendidikan, (Yogyakarta: Jejak Publisher, 2016), h. 19.
3
mampu berdaya saing dan compatible dengan sumber daya manusia negara lainnya.6
Pendidikan yang baik hendaknya bukan hanya mengedepankan aspek keilmuan dan teknologi saja, melainkan juga harus mengedepankan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Habibie, bahwa pembangunan bangsa itu harus seperti dua sayap pesawat terbang, “sayap sebelah kanan adalah iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sayap sebelah kiri adalah pembangunan ilmu dan teknologi”.7
Perkembangan teknologi dan arus globalisasi saat ini, telah membawa dampak positif dan juga negatif dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Joseph & Chandra mengatakan terdapat 8 (delapan) kebaikan dan 13 (tiga belas) keburukannya. Di antara kebaikannya iallah dapat memenuhi kebutuhan manusia dengan mudah dan cepat, komunikasi yang lebih mudah dan murah, serta informasi dan ilmu pengetahuan yang mudah diakses juga disebarluaskan.
Sedangakan di antara keburukannya ialah terjadinya penyebaran budaya konsumen yang bertentangan dengan nilai kerohanian dan moral, penyebaran budaya pop Amerika yang “menyegarkan panca indera dan mematikan roh, pembanjiran informasi yang tidak berguna. peng-internasional-an kriminal yang menyulitkan kriminal dibendung, dan peng-internasional-an penyakit.8
Hal tersebut menunjukkan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi lebih banyak dari pada dampak positifnya, hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya upaya ektra untuk mencegah dampak negatifnyat. Betapa banyak masyarakat yang mengalami kemajuan dengan adanya teknologi yang semakin berkembang pesat, namun tidak sedikit juga masyarakat yang mengalami kemunduran akibat kemajuan teknologi.
Kemajuan dan kemunduran yang dimaksud adalah dari segi karakter dan moral. Tidak sedikit masyarakat, terutama generasi millenial yang terjerat
6 Dede Rosyada, Madrasah dan Profesionalisme Guru dalam Arus Dinamika Pendidikan Islam di Era Otonomi Daerah, (Depok: Kencana, 2017), h. 289-290.
7 Kalfaris Lalo, “Menciptakan Generasi Milenial Berkarakter dengan Pendidikan Karakter guna Menyongsong Era Globalisasi”, Jurnal Ilmu Kepolisian, Vol. 12, No. 2, 2018, h. 72.
8 Ibid., h. 71-72.
dalam kasus kriminal, seperti penggunaan narkoba, pergaulan bebas, mengkonsumsi minuman keras yang mengandung alkohol, pergaulan seks bebas layaknya suami istri, aborsi, dan lain sebagainya.
Hal itu terjadi karena salah satu faktor penyebabnya ialah dampak negatif dari pada arus globalisasi. Informasi yang tersebar melalui jaringan internet tidak dapat dibendung oleh siapapun, pemerintah tidak dapat memfilter penyebaran informasi secara masif, sehingga hanya diri sendiri-lah yang mampu memfilter segala informasi yang mengandung unsur negatif, pemanfaatan teknologi bukan hanya digunakan oleh sebagian orang dewasa saja, melainkan digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, perlu adanya upaya pencegahan dampak negatif arus globalisasi, proses pendidikan diharapkan mampu menjadi salah satu upaya filterasasi segala informasi yang kurang baik, dan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan dan pembelajaran merupakan dua hal yang berbeda dalam lingkup pekerjaan yang sama. Perbedaan konotasi kedua istilah tersebut turut dijelaskan oleh para pakar ilmuwan lainnya. Dalam bahasa inggris, kedua istilah tersebut dibedakan dengan makna konotatif education dan learning.
Sedangkan dalam bahasa arab, para ahli pendidikan membedakan antara al- tarbiyah wa al-ta’lim.9
Mahatma Ghandi berpendapat bahwa pendidikan dan pembelajaran merupakan dua hal yang berbeda, namun keduanya saling berkaitan.
Pendidikan memberikan penekanan pada perubahan dan transformasi.
Sedangkan, perubahan dan transformasi hanya akan terjadi apabila didukung oleh pengetahuan dan pemahaman terhadap pengetahuan baru. Dan pemahaman terhadap pengetahuan baru hanya akan didapat melalui proses pembelajaran di sekolah, yakni di dalam kelas melalui interaksi antara siswa dengan sumber belajar, baik itu guru, buku, maupun teman sejawatnya.10
9 Rosyada, op. Cit., h. 89.
10 Ibid., h. 89-90.
5
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk kemudian memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.11
Sebagai upaya sadar dan terencana, pendidikan memiliki fungsi dan tujuan sebagai berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensipeserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.12
Dalam kamus psikologi, pendidikan merupakan tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan untuk menyempurnakan perkembangan individu, pengembangan ilmu pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan lain sebagainya.13
Berdasarkan pengertian di atas, sebelum kepada tujuan akhir pendidikan, yakni menciptakan generasi unggul, pendidikan betujuan menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran, hal ini menunjukkan bahwa, syarat terjadinya pendidikan adalah adanya proses pembelajaran.
Tujuan pendidikan hanya akan dicapai melalui proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Mahtma Ghandi bahwa pendidikan mengarah kepada perubahan transformasi, sedangkan perbahan hanya dapat terwujud apabila adanya sebuah pemahaman terhadap pengethauan baru, dan pemahaman terhadap pengetahuan baru hanya di peroleh melalui proses pembelajaran.
11 Ramayulis, Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta:
Kalam Mulia, 2015), h. 16.
12 Syafril dan Zelhendri Zen, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Depok: Kencana, 2017), h.
21.
13 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2014), h. 11.
Pembejalan adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.14 Pembelajaran adalah upaya guru dalam membelajarkan siswa.15 Sedangkan Belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat adanya latihan dan pengalaman.16 Dalam manajemen sekolah, guru memiliki peran yang sangat penting, posisi dan perannya cukup central dan strategis, yakni sebagai penentu keberhasilan proses pendidikan melalui interaksi edukatif dalam proses pembelajaran.17
Tujuan pendidikan nasional merupakan dunia cita yang sangat sulit diwujudkan. Ia berada di dunia sana yang ada dalam angan-angan. Perlu adanya usaha yang sangat maksimal untuk mewujudkannya. Oleh karenanya, tujuan pendidikan dibuat secara berjenjang seperti anak tangga. Untuk mencapai anak tangga yang paling atas, harus melalui anak tangga dibawahnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, haruslah dimulai dengan pencapaian tujuan pembelajaran atau indikator, kemudian kompetensi dasar, lalu standar kompetensi, tujuan institusional, dan terakhir tujuan pendidikan nasional. Hal ini memudahkan pencapaian sesuatu yang abstrak, dengan pencapaian yang konkrit terlebih dahulu.18
Untuk mencapai tujuan pendidikan, diperlukan adanya pola hubungan guru siswa yang baik dan saling menguntungkan. Secara umum guru harus memiliki capacity dan loyalty. Capacity berarti memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya disertai kemampuan teoritik dan praktik tentang bagaimana cara mengajar yang baik, mulai dari perencanaan, implementasi, sampai evaluasi pembelajaran. Sedangkan loyalty berarti memiliki loyalitas yang tinggi terhadap tugas-tugas keguruan yang bukan hanya di dalam kelas,
14 UU No. 20 Tahun 2003, h. 2.
15 Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kharisma Putra Pertama, 2017), h. 85.
16 Ibid., h. 77.
17 Fauzan, Kurikulum dan Pembelajaran, (Tangerang Selatan: Gaung Persada Press, 2017), h. 11.
18 Sulaiman Saat, “Faktor-Faktor Determinan dalam Pendidikan”, Jurnal At-Ta’dib, Vol.
8, No. 2, 2015, h. 9.
7
tetapi juga di luar kelas, yang bukan hanya di kelas, tapi juga sebelum dan sesudah kelas.19
Kemampuan guru di luar kelas, sebelum dan sesudah kelas menuntut kemampuan yang tidak hanya sebatas pada proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, melainkan lebih kepada kemampuan untuk menjalin hubungan dengan siswa yang saling menguntungkan dan membutuhkan melalui proses pendekatan komunikasi intensif. Sehingga dalam pelaksanaannya, guru bukan hanya berperan sebagai pendidik dan pengajar, namun juga berperan sebagai pembimbing, pemberi solusi, pengarah, mediator, motivator, dan pemicu semangat belajar siswa.20
Pola hubungan antara murid dengan guru sangatlah penting, seorang siswa tidak dapat menumbuhkembangkan potensinya dengan sendirinya tanpa ada bantuan dari orang lain yang lebih dewasa darinya. Guru berfungsi sebagai orang dewasa yang dapat mengarahkan, membimbing, membina, memberi contoh atau menjadi teladan, dan lain sebagainya. Peserta didik akan mengalami kelambatan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya apabila tidak ada orang dewasa yang mengarahkan, membimbing, dan lain sebagainya sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun secara naluriahnya, manusia dapat belajar dari lingkungan yang ada dan alam semesta. Namun tetap diperlukan adanya bimbingan khusus yang telah direncanakan sebagaimana pendidikan yang terselenggara di Indonesia agar mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Dewi Hamalatin Ni’mah mengutip pendapat Redja Mudyahardjo tentang pentingnya pola hubungan antara guru dengan murid, “pendidikan berpusat pada relasi antara pendidik dengan si terdidik atau situasi pendidikan”.
Artinya, interaksi antara guru dengan murid merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran maupun tujuan pendidikan. Pola hubungan antar keduanya menjadi sebuah modal dasar untuk
19 Fauzan, op cit., h. 187.
20 Fauzan, loc. cit.
mencapai tujuan. Komunikasi antara guru dengan murid dapat menjadikan murid termotivasi untuk mengembangkan potensi dirinya dan menentukan tujuan hidupnya di masa yang akan datang.21
Terdapat sebuah kasus yang menggambarkan pola hubungan antara guru dengan murid yang tidak baik sehingga tujuan pembelajaran dan pendidikan sulit untuk diwujudkan. Telah terjadi kasus kekerasan yang dilakukan oknum guru terhadap siswa di SMAN 12 Kota Bekasi, guru tersebut memukul anak muidnya di tengah lapangan lantaran terlambat datang ke sekolah. Kejadian tersebut direkam oleh salah satu siswa dan kemudian diunggah ke media sosial hingga viral. Dalam video tersebut tampak sang guru memukul pundak dan kepala dua anak muridnya beberapa kali. Guru tersebut memang dikenal temperamental, tetapi sangat disiplin. Selain jabatannya sebagai guru, guru tersebut juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah yang menangani bidang kesiswaan. Pada kasus tersebut, siswa telah menggelar pembelaan untuk sang guru, namun guru tersebut tetap dinyatakan salah dan akan diberikan sanksi berupa dinonaktifkan serta dipindahkan ke tempat yang lain.22
Kasus lainnya ialah kekerasan yang dilakukan oleh Guru Penjaskes di SMK Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan. Guru tersebut menampar siswa dengan penuh emosi dan sangat keras kepada 13 muridnya. Guru tersebut memberi alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Menurutnya, para murid sudah diperingatkan berkali-kali untuk tidak merokok di lingkungan sekolah, namun tetap saja mereka melanggar. Para murid sering kepergok guru tersebut ketika sedang merokok di sekitar warung di Sekolah. Selain karena merokok, para siswa tersebut dinilai tidak disiplin, mereka sering meninggalkan jam pelajaran, dan berperilaku tidak sopan terhadap guru itu sendiri, mereka memanggil guru tersebut dengan nama panggilan layaknya teman biasa.
21 Dewi Hamalatin Ni’mah, “Relasi Guru Dengan Murid Perspektif Kh. Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim”, Tesis pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, 2019, h. 6, tidak dipublikasikan.
22 Cynthia Lova, “Nasib Guru Pukul Murid di SMAN 12 Bekasi, Dibela Anak Didik Tapi Berujung Dimutasi”, https://kompas.com diakses pada tanggal 12 November pukul 07:09 WIB.
9
Sedangkan salah seorang siswa yang menjadi korban kekerasan guru tersebut menyampaikan beberapa perilaku yang membuat gurunya hilang kesabaran.
Antara lain berteriak-teriak saat jam pelajaran, memukul meja dengan maksud menghasilkan irama musik, dan memanggil guru tersebut dengan sebutan nama secara langsung tanpa sebutan “Pak” atau yang lainnya.23
Hal ini menunjukkan kedua belah pihak sama-sama tidak menunjukkan perilaku yang terpuji, tidak memenuhi syarat terjadinya pola hubungan yang baik antara guru dengan murid. Seorang guru, seharusnya dapat mengingatkan dengan cara yang baik, dengan cara keteladanan, sebagaimana Rasulullah saw lakukan ketika berdakwah. Tugas guru hanya mengingatkan dan menyampaikan disertai dengan keteladanan, sedangkan yang memberi hidayah adalah Allah, tidak ada kewajiban guru untukmemaksa kehendak murid atau bahkan siapa pun. Seorang guru harus pandai mengontrol dirinya, tetap bersabar dan berlaku lemah lembut. Dalam pandangan humanis, manusia hanya ingin diperlakukan sebagaimana ia mau diperlakukan. Artinya, seorang guru harus memperlakukan muridnya seperti apa yang ia harapkan atas perlakuan orang lain terhadap dirinya. Itulah yang dimaksud dengan memanusiakan manusia, sehingga murid akan lebih mudah menerima pesan, nasihat, dan hikmah yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya, apabila dilihat dari sisi sang murid, murid juga tidak seharusnya berperilaku demikian, seorang murid harus tetap menghormati gurunya walau memang guru tersebut melakukan kesalahan, harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru, bersih hati dari segala kotoran dan dosa, terus berupaya lebih dekat dengan guru, menunjukkan kesungguhan belajar, serta sabar dan menjauhkan diri dari perlakuan yang kurang baik.
Selain kasus di atas, penulis sendiri masih sering menemukan murid atau siswa bahkan mahasiwa yang membicarakan kejelekan guru di belakang yankni dengan membicarakan bersama teman-temannya. Bagaimana akan
23 Suki Nurhalim, “Cerita Lengkap Kasus Guru Tampar 13 Murid di Kota Pasuruan yang Viral”, https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-4756436/cerita-lengkap-kasus-guru- tampar13-murid-di-kota-pasuruan-yang-viral, Diakses pada tanggal 12 Agustus pukul 08:42 WIB.
tercapai tujuan pendidikan bangsa ini apabila bangsanya sendiri telah rusak karakter dan moralnya. Dengan demikian, antara guru dan murid merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam mencapai tujuan pendidikan.
Guru harus menyadari peranannya yang sangat penting dalam pendidikan dan murid pun menyadari posisi dirinya sebagai orang yang sedang diusahakan untuk menjadi manusia yang paripurna.
Relasi guru-siswa merupakan hubungan interpersonal yang bersifat timbal balik dan menyatu. Relasi guru-siswa memiliki fungsi preventif dalam kasus kekerasan yang sering terjadi di sekolah. Relasi yang positif akan menciptakan iklim sekolah yang posititif, sehingga dapat menumbuhkan kepedulian antar sesama, baik guru dengan murid, atau murid dengan murid.
Kualitas relasi yang positif ditandai dengan tingginya tingkat kedektan, rendahnya konflik dan ketergantungan. Sedangkan kualitas relasi yang rendah, ditandai dengan rendahnya kedekatan dan tingginya tingkat konflik dan ketergantungan. Ketika guru memiliki relasi yang baik dengan siswa, maka siswa akan merasa nyaman berada di sekolah dan menganggap gurunya sebagai sosok yang dapat membantunya di saat situasi sulit.24
Dalam proses pembelajaran terdapat interaksi antara guru dengan murid, dalam interaksi tersebut terdapat persyaratan yang harus dipenuhi oleh guru dan murid untuk terjalin pola hubungan yang baik dan saling menguntungkan. Persyaratan seorang guru, secara garis besar memiliki empat kompetensi dasar yakni kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Dalam hal penguasaan ilmu yang diajarkannya, seorang guru harus merupakan lulusan dari lembaga pendidikan tinggi dengan kualifikasi minimal S1, juga mampu mengembangkan ilmunya sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam hal kemampuan menyampaikan pengetahuan, guru harus memiliki ilmu mendidik, ilmu psikologi anak, sosiologi, teori pembelajaran, dan ilmu lain yang terkait dengan pembelajaran. Sedangkan
24 Philosophia Natalia Agnes Wisung, “Hubungan antara Kualitas Relasi Guru-Siswa dan Kompetensi Sosial pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah”, Skripsi pada Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2018, h. 3-4, tidak dipublikasikan.
11
yang berkenaan dengan kepribadian atau akhlaknya, seorang guru harus memiliki budi pekerti yang sesuai dengan agama. Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh seorang murid dalam proses pembelajaran ialah memiliki sikap sebagai pribadi dan penuntut ilmu. Sebagai pribadi, seorang murid harus memiliki hati yang bersih dari segala kotoran dan dosa agar mendapat pancaran ilmu dari Tuhan dan dapat dengan mudah menangkap pelajaran, menghafal, dan mengamalkannya, bersikap rendah hati pada ilmu dan guru, terus berupaya lebih dekat dengan guru agar mendapatkan pemahaman yang sepurna dan tidak sulit, menunjukkan kesungguhan belajar, serta sabar dan menjauhkan diri dari perlakuan yang kurang baik dari guru.25
Begitu pun dengan pendapat Habib Abdullah bin Alawi Alhaddad dalam kitabnya Risalah Adab Sulukil Murid. Di dalam kitab tersebut disebutkan serangkaian syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru dan murid dalam membangun sebuah relasi yang baik guna mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Kitab ini juga membahas tentang bagaimana sikap atau adab yang harus dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya dan seorang murid kepada gurunya. Garis besarnya, kitab ini membahas seputar etika guru dan murid.
Habib Abdullah bin Alawi Al-haddad merupakan salah satu tokoh ulama terkemuka yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan Islam.
Beliau merupakan seorang da’i yang mengajak orang lain ke jalan Allah dengan merealisasikannya dalam tutur kata dan perilakunya yang mulia sehingga orang-orang yang hidup di masanya dan menyaksikan tutur kata dan perilakunya menaruh simpati kepada beliau.26 Beliau merupakan ulama terunggul yang berakidah ahl as-sunnah yang berjalan di atas faham asy-‘Ariy dan menempati posisi terdepan dalam jalan hidup dan pendidikan para sufi.
Beliau juga merupakan keturunan yang nasabnya sampai kepada al-Imam
25 Fauzan, op. Cit., h. 190.
26 Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Perjalanan Menuju Allah, Terj dari Adab Suluk al-Murid oleh Yunus al-Mudhor, (Surabaya: Cahaya Ilmu, 2011) h. 1.
Husain bin Ali bin Abi Thalib putra Fatimah binti Rasulullah Saw.27 Beliau merupakan ulama yang produktif dalam menulis, sehingga khazanah keilmuannya yang tinggi masih dapat kita jumpai sat ini, berbagai karya beliau diantaranya an-Nashaa’ih ad-Diniyah wal-Washaya al-Imaniyah, ad-Dakwah at-Tammah, Risalah al-Mudzakarah ma’al Ikhwan wal-Muhibbin, al-Hikam, Risalah Adab Sulukil Murid, Risalah al-Mu’awanah, dan lain sebagainya.28
Risalah Adab Sulukil Murid merupakan salah satu kitab karya beliau yang sering dijadikan sumber belajar di berbagai instansi pendidikan, khususnya di pesantren. Kitab ini berisikan nasihat tentang sikap yang harus dilakukan oleh seseorang yang hendak menempuh perjalanan menuju Allah Swt. Kitab ini sering dijadikan bahan pembelajaran dalam pendidikan akhlak, karena di dalamya terdapat konsep yang luar biasa bagi seorang murid juga guru mengenai etika dan akhlak.
Dengan demikian, penulis bermaksud untuk meneliti lebih dalam karya beliau tentang bagaimana perspektif beliau tentang relasi guru-murid dalam kitabnya yang berjudul Risalah Adab Sulukil Murid dengan memberikan judul penelitian “Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid”.
B. Identifikasi Masalah
1. Suksesnya pendidikan terletak pada situasi pendidikan atau relasi guru dan murid. Namun, masih banyak dijumpai relasi yang tidak baik antara guru dan murid.
2. Tidak harmonisnya relasi guru dan murid.
3. Masing-masing pihak, guru dan murid mengalami krisis akhlak.
4. Maraknya kasus kriminal yang dilakukan oleh oknum guru terhadap peserta didiknya seperti pencabulan, kekerasan, narkotika, dan lain sebagainya.
27 Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Langkah Praktis Mendekat Kepada Allah, Terj dari Adab Suluk al-Murid oleh Husin Nabil as-Saqqaf, (Tangerang: Putera Bumi, 2017), h. 5.
28 Ibid., h. 8
13
5. Maraknya kasus kriminal yang terjadi di masyarakat khususnya generasi milenial. Seperti narkotika, pergaulan sex bebas, tawuran, dan lain sebagainya.
6. Krisis akhlak dan moral terjadi pada pendidik dan peserta didik.
7. Kitab Risalah Adab Sulukil Murid karya Habib Abdullah bin Alawi al- Haddad merupakan kitab yang memiliki konsep luar biasa terhadap pendidikan akhlak, namun masih jarang diketahui, dikaji, dan diamalkan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama pada seorang guru dan murid di Sekolah.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang dari pokok permasalahan, maka penulis membatasi masalah hanya kepada masalah yang berkaitan dengan relasi guru dan murid perspektif habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya yang berjudul Risalah Adab Sulukil Murid.
2. Perumusan Masalah
Dengan adanya permasalahan yang dimuat pada latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:
a. Bagaimana konsep guru menurut Habib Abdullah bin Alawi al- Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid?
b. Bagaimana konsep murid menurut Habib Abdullah bin Alawi al- Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid?
c. Bagaimana relasi guru dan murid menurut Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid?”
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Unntuk mengetahui bagaimana konsep guru menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid.
b. Untuk mengetahui bagaimana konsep murid menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid.
c. Untuk mengetahui bagaimana relasi guru dan murid menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid dan relevansinya dengan pendidikan saat ini.
2. Manfaat Penelitian a. Kegunaan teoritis
1) Menambah khazanah keilmuan tentang relasi guru dan murid perspektif Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid.
2) Memberikan sumbangsih pemikiran tentang pendidikan sehingga dapat menjadi rujukan dasar dalam penelitian ilmiah-akademis selanjutnya
b. Kegunaan praktis
1) Penelitian ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah teoritis.
2) Bagi seorang guru dan murid, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan dalam mempelajari dan mengamalkan etika yang baik antara murid terhadap guru dan guru terhadap murid menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid .
3) Bagi penulis sendiri, penelitian ini bermanfaat dalam pengembangan dan pengamalan ilmu pengetahuan serta sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana dan menyelesaikan program studi.
15
BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Relasi Guru dan Murid 1. Pengertian Relasi
Dalam KBBI, relasi memiliki arti hubungan, perhubungan, pertalian, kenalan, dan pelanggan.29 Ade Masturi dalam jurnalnya yang berjudul “Membangun Relasi Sosial Melalui Komunikasi Empatik”
mengartikan relasi sebagai hubungan antar manusia yang dibangun melalui interaksi dan komunikasi.30 Interaksi adalah hal saling melakukan aksi, sedangkan komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.31 Adapun definisi relasi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Christensson dan Robinson
Relasi adalah ikatan dan komunikasi yang terjalin antara satu dengan yang lainnya yang merupakan warga masyarakat dalam suatu daerah tertentu.
b. George Hillery Jr.
Relasi adalah hubungan interaksi satu sama lain dalam sebuah lingkungan atau sekelompok orang yang tinggal di suatu daerah tertentu. Sehingga hubungan interkasi tersebut menjadikan satu sama lainnya saling mengenal.
c. Hartono Widodo dan Judiantoro
Relasi juga berkaitan dengan hubungan kerja, di mana seseorang melakukan kegiatan pengerahan tenaga atau jasa seseorang secara teratur demi kepentingan orang lain yang memerintahnya, sebagaimana perjanjian kerja yang telah disepakati.
29 https://www.kbbi.web.id/relasi diakses pada tanggal 10 Maret 2021, pukul 12:22 WIB.
30 Ade Masturi, “Membangun Relasi Sosial Melalui Komunikasi Empatik”, Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, Vol.4, No.1, 2010, h. 1.
31 www.kbbionline.com diakses pada tanggal 19 Juni 2021, pukul 10:21 WIB.
d. Zakapedia
Relasi merupakan sebuah kumpulan populasi manusia yang berada dalam suatu wilayah yang mana para anggotanya melakukan interaksi satu sama lainnya.32
Berdasarkan pengertian di atas, penyusun menyimpulkan bahwa relasi adalah hubungan antara dua personal atau lebih dalam suatu aktifitas tertentu, baik yang akan, sedang, atau telah dilakukan. Hubungan ini melibatkan dua pihak atau lebih yang saling memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Artinya dalam sebuah relasi pasti terdapat interaksi dan komunikasi antara keduanya. Relasi juga bisa disebut sebagai kenalan atau pelanggan apabila dalam aktifitas tertentu terdapat tujuan untuk menambah hal itu (kenalan atau pelanggan. Dengan demikian, relasi adalah hubungan yang memiliki tujuan dan perencanaan, bukan yang terjadi secara tidak disengaja dan tidak memiliki tujuan.
2. Pengertian Relasi Guru dan Murid
Dalam konteks pendidikan, Fauzan mengartikan relasi guru dan murid adalah pola hubungan yang dibangun antara guru dan murid.
Keduanya merupakan komponen utama yang memiliki pengaruh besar terhadap kegiatan pembelajaran. Guru dipahami sebagai pendidik profesional yang bertanggung jawab terhadap segala perubahan siswa.
Keduanya harus saling mengisi secara edukatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, yakni menjadikan masyarakat Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlakul karimah, sehat jasmani dan ruhani, berilmu, berpengetahuan, cakap, kreatif, mandiri, memiliki kreatifitas yang tinggi, demokratis, dan bertanggung jawab.33
Sardiman mengartikan relasi guru dan murid sebagai kegiatan interaksi edukatif atau kegiatan belajar-mengajar. Dalam kegiatan tersebut
32 https://jagad.id/pengertian-relasi/ diakses pada tanggal 14 Maret 2021, pukul 10:43 WIB.
33 Fauzan, Kurikulum dan Pembelajaran, (Tangerang Selatan: Gaung Persada Press, 2017), h. 187.
17
terdapat interaksi dan komunikasi antara pihak guru sebagai tenaga pengajar dan pihak murid sebagai warga belajar, keduanya harus ada timbal balik dan mengandung maksud tertentu, yakni untuk mencapai tujuan pendidikan nasional melalui proses pembelajaran.34
Interaksi edukatif adalah interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi tersebut memunculkan istilah guru sebagai pihak pertama dan murid sebagai pihak kedua. Keduanya memiliki posisi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama yakni mencapai tujuan pendidikan. Guru bertanggung jawab terhadap murid untuk mengantarkannya ke arah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan bimbingan. Sedangkan murid berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dengan bantuan dan bimbingan guru.35
Muhamad Nurdin, Muhammad Harir Muzakki, dan Sutoyo juga mengatakan bahwa relasi guru dan murid adalah hubungan antara guru dengan murid, yang mencakup etika guru dan murid, apa-apa yang harus dilakukan oleh seorang guru terhadap muridnya dan apa-apa yang harus dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya.36
Berdasarkan pengertian di atas, penyusun menyimpulkan bahwa relasi guru dan murid adalah interaksi edukatif antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam interaksi tersebut harus terdapat maksud dan tujuan, yakni untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional hanya akan dicapai apabila telah mencapai tujuan pembelajaran. Karena itu guru dan murid merupakan dua
34 Sardiman A. M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali pers, 2016), h. 8.
35 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta 2014), h. 10-11.
36 Muhamad Nurdin, Muhammad Harir Muzakki, dan Sutoyo, “Relasi Guru Dan Murid (Pemikiran Ibnu ‘Athaillah Dalam Tinjauan Kapitalisme Pendidikan)”, Kodifi kasia, Vol. 9, No. 1, 2015, h. 122.
komponen yang saling berkaitan, murid adalah peserta didik yang membutuhkan arahan serta bimbingan orang dewasa untuk bisa menjadi manusia seutuhnya dengan segala potensi yang dimilikinya, sedangkan guru dianggap sebagai orang dewasa yang mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya dengan mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya.
Dalam interaksi edukatif, guru dan murid harus aktif, tidak mungkin terjadinya interaksi edukatif apabila hanya salah satu unsur yang aktif. Aktif di sini mencakup aktif dalam sikap, mental, maupun perbuatan.
Ada tiga pola komunikasi antar guru dan murid dalam proses interaksi edukatif yaitu:
a. Komunikasi sebagai aksi
Komunikasi sebagai aksi disebut juga dengan komunikasi satu arah.
Guru perperan sebagai pemberi aksi, dan murid berperan sebagai penerima aksi. Guru aktif, sedangkan murid pasif. Sehingga mengajar dianggap sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
b. Komunikasi sebagai interaksi
Komunikasi sebagai interaksi disebut juga dengan komunikasi dua arah, yang mana guru berperan sebagai pemberi aksi dan penerima aksi, begitupun sang murid, bisa memberi aksi, bisa juga menerima aksi. Antara guru dan murid akan terjadi dialog.
c. Komunikasi sebagai transaksi
Komunikasi dalam transaksi disebut juga dengan komunikasi banyak arah, bukan lagi dua arah. Artinya, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan murid, melainkan guru dengan murid, murid dengan guru, dan murid dengan murid lainnya.37
3. Karakteristik Relasi Guru dan Murid
37 Djamarah, op. Cit., h. 11-12.
19
Menurut Djamarah, relasi guru dan murid merupakan interaksi normatif yang memiliki ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai tujuan
Relasi guru murid yang merupakan interaksi edukatif merupakan interaksi yang sadar akan tujuan yakni untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat perhatian, sedangkan unsur lainnya merupakan pengantar dan pendukung.
b. Mempunyai prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan Untuk mencapai tujuan secara optimal, diperlukan adanya langkah- langkah yang sistematik dan relevan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lainnya, mungkin membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda-beda.
c. Penggarapan materi khusus
Untuk mencapai tujuan, diperlukan adanya desain materi khusus yang sekiranya cocok. Materi tersebut harus sudah didisain dan disiapkan sebelum berlangsung interaksi edukatif.
d. Aktivitas anak didik
Sebagai konsekuensi dari pada peserta didik yang memiliki posisi sentral dalam kegiatan interaksi edukatif, peserta didik harus mempunyai aktivitas baik secara fisik maupun mental aktif.
e. Guru berperan sebagai pembimbing
Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadinya proses interaksi edukatif yang kondusif. Guru harus berperan sebagai mediator dalam setiap kondisi interaksi edukatif, sehingga guru akan menjadi sosok yang dilihat dan ditiru setiap tingkah lakunya oleh peserta didik.
f. Membutuhkan disiplin
Disiplin dalam interaksi edukatif merupakan suatu pola tingkah laku yang telah diatur dan disepakati untuk ditaati dengan sadar oleh pihak guru dan peserta didik. Mekanisme konkritdari ketaatan terhadap ketentuan atau tata tertib tersebut terlihat dari pelaksanaan prosedur.
Apabila terjadi penyimpangan dari prosedur, maka penyimpangan tersebut merupakan pelanggaran disiplin.
g. Mempunyai batas waktu
Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa dihilangkan. Setiap tujuan kan diberi waktu tertentu, kapan tujuan tersebut harus sudah tercapai.
h. Diakhiri dengan evaluasi
Dari seluruh kegiatan tersebut, evaluasi merupakan bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Karena, evaluasi bertujuan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya suatu tujuan. Apabila seandainya tidak tercapai, maka perlu adanya perencanaan ulang terkait prosedur atau banyak hal lainnya.38
B. Pengertian Guru dan Murid 1. Pengertian Guru
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Digugu artinya diindahkan atau dipercayai. Sedangkan ditiru artinya dicontoh atau diikuti.
Guru berasal dari bahasa sansekerta yang merupakan gabungan dari kata gu dan ru. Gu artinya kegelapan, kejumudan, atau kekelaman. Sedangkan ru artinya melepaskan, menyingkirkan atau membebaskan. Hamka mendefenisikan guru sebagai seorang manusia yang berjuang membebaskan manusia lainnya dari kegelapan dan kebodohan.39
38 Djamarah, op. Cit., h. 13-15.
39 Hamka Abdul Aziz, Karakter Guru Profesional, (Jakarta Selatan: Al-Mawardi Prima, 2016), h. 19.
21
Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.40
Dalam UU kata guru dimasukkan ke dalam genus pendidik.
Sebenarnya, kata guru dan pendidik memiliki makna yang berbeda, kata pendidik merupakan padanan dari kata educator dalam bahasa inggris yang artinya pendidik, spesialis di bidang pendidikan, atau ahli pendidikan, sedangkan kata guru merupakan padanan dari kata teacher dalam bahasa inggris yang artinya seseorang yang mengajar, khususnya di sekolah.41
Pengertian tersebut memilki kesesuaian dengan tugas utama guru yang dibedakan antara mendidik dan mengajar. Mendidik lebih mengarah kepada perubahan dan pembentukan karakter baru, sesuai dengan tujuan pendidikan yang diidealkan oleh masyarakatnya. Di Indonesia tujuan pendidikan yang telah dirumuskan yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.42 Sedangkan, mengajar lebih mengarah kepada pekerjaan intelektual, pekerjaan variatif, melakukan sharing, dan terus mengembangkan bahan ajar yang terus menantang.43
Sedangkan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupannya dengan memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
40 Dede Rosyada, Madrasah dan Profesionalisme Guru dalam Arus Dinamika Pendidikan Islam di Era Otonomi Daerah, (Depok: Kencana, 2017), h. 279.
41 Bisri M. Djaelani, Etika dan Profesi Guru, (Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan, 2010), h. 1.
42 Rosyada, op. cit., h. 281.
43 Ibid., h. 280.
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.44 Artinya, tidak semua orang dapat menjadi seorang guru. Guru merupakan pekerjaan yang tidak mudah, bukan hanya dituntut menguasai materi dan menyampaikan materi, melainkan lebih dari pada itu. Seorang guru harus memiliki panggilan hati, sehingga yang dicari bukan hanya gaji dari aktifitasnya mengajar, namun lebih kepada mendidik dengan penuh keikhlasan, kesadaran, dan kesabaran. Sehingga guru mampu menjadi suri tauladan bagi peserta didik, keluarga, dan juga juga masyarakatnya.
Dholina Inang Pambudi juga menjelaskan bahwa, guru merupakan ujung tombak sekaligus garda terdepan dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yakni kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Seorang guru tidak hanya mampu menguasai materi yang diajarkannya, tapi juga mampu membelajarkan siswanya, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan siswa menjadi semakin termotivasi ketika sedang belajar karena sosok guru yang mampu memberikan inspirasi.45
Muhamad Anwar menjelaskan empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru sebagai berikut: Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kerpibadian meliputi kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berakhlak mulia, dan berwibawa, dan kemudian dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Kompetensi sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional meliputi penguasaan terhadap
44 Muhammad Anwar, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta: Kencana, 2018), h. 23.
45 Annisa Anita Dewi, Guru Mata Tombak Pendidikan, (Yogyakarta: Jejak Publisher, 2016), h. 21.
23
substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi, dan menguasai struktur dan metode keilmuan.46
Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya., agar peserta didik mampu mencapai tingkat kedewasaannya, yakni mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri.47
Guru dalam literatur Islam juga sering digunakan dengan istilah lain, seperti ustâdz, mu’allim, murabbi, mursyid, mudarris, muaddib, muzakkî dan tâlî. Rahendra Maya menjadikan guru sebagai istilah yang paling populer karena memiliki pengertian yang lebih umum dan luas, yakni memiliki cakupan tugas esensial yang terkandung juga dalam berbagai istilah lainnya, yakni sebagai orang yang melakukan proses pendidikan dan pembelajaran.48
Dengan demikian, penyusun menyimpulkan bahwa guru adalah bagian dari pendidik yang memiliki tugas dan tanggung jawab mendidik terhadap peserta didiknya di lembaga pendidikan formal, seperti pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan menengah. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, seorang guru harus memiliki standar kompetensi yakni kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Untuk dapat memiliki empat kompetensi tersebut seorang guru harus mengikuti pendidikan profesi.
2. Pengertian Murid
Menurut Sardiman, murid merupakan subjek belajar yang turut menjadi penentu dalam proses pembelajaran.49 Hal ini menunjukkan
46 Anwar, op. Cit., h. 47-49.
47 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2017), h. 17.
48 Rahendra Maya, Karakter (Adab) Guru Dan Murid Perspektif Ibn Jamâ’ah Al-Syâfi’î, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 06, No.12, 2017, h. 29.
49 Sardiman, op. cit., h. 111.
bahwa bukan hanya guru yang menjadi penentu dalam proses pembelajaran, tapi juga murid. Guru merupakan orang dewasa yang bertugas membimbing dan membina murid untuk mencapai tingkat kedewasaannya. Sedangkan murid ialah orang yang belum dewasa yang memerlukan bimbingan untuk mencapai tingkat kedewasaannya.
Pernyataan belum dewasa bukan berarti tidak memiliki potensi dan kemampuan, akan tetapi belum optimal dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya. Sehingga, hal pertama yang perlu diperhatikan sang guru ialah memahami bagaimana karakteristik murid, bagaimana potensi dan kemampuannya, baru setelah itu menentukan komponen lainnya, seperti bahan apa yang diperlukan dan tindakan seperti apa yang diperlukan agar tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik murid. Murid bukanlah barang pasif yang dapat diapakan saja dan dibawa kemana saja sesuai dengan kehendak guru, melainkan murid juga merupakan manusiawi yang memiliki kehendak, cita-cita dan tujuan yang ingin dicapainya secara optimal.
Dalam pendidikan Islam, kata murid merupakan isim fail yang berasal dari kata arada yuridu muridan yang berarti orang yang menghendaki sesuatu. Istilah murid lebih sering digunakan bagi pengikut ajaran tasawuf, ialah orang yang menghendaki hakikat kebenaran spiritual di bawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid).
Istilah murid juga sering digunakan pada seseorang atau peserta didik yang sedang menempuh pendidikan sekolah dasar dan menengah. Murid memiliki makna yang lebih khusus dari pada peserta didik. Peserta didik merupakan individu yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Peserta didik cakupannya lebih luas dari pada anak didik. Peserta didik meliputi usia anak-anak dan juga orang dewasa.
Peserta didik bukan hanya orang yang belum dewasa akan tetapi meliputi orang yang sudah dewasa yang masih memerlukan bimbingan, dan peserta didik ini bukan hanya di pendidikan formal seperti sekolah, melainkan
25
juga di lenbaga pendidikan nonformal seperti majelis taklim dan paguyuban.50
Menurut Hamka, murid adalah orang yang sedang belajar atau menuntut ilmu dalam bimbingan seorang atau beberapa orang guru. Siapa saja yang datang kepada seorang guru untuk belajar atau menuntut ilmu, ia layak disebut sebagai murid. Sebagai seorang murid, peserta didik dituntut untuk menerima apa saja yang diajarkan guru-gurunya dan mau mengerjakan pekerjaan yang didiktekan atau ditentukan oleh guru- gurunya tanpa reserve. Hal ini, bukan berarti murid tidak boleh bersikap kritis terhadao gurunya, akan tetapi boleh bersikap kritis selagi sikap kritisnya itu disampaikan dengan cara yang baik, sopan dan tetap dalam akhlak mulia.51
C. Tugas, Peran, dan Fungsi Guru
1. Tugas Guru
Tugas merupakan tanggung jawab yang diamanahkan kepada seseorang untuk dilaksanakan atau dikerjakan. Berikut ini adalah tugas pertama dan utama seorang guru menurut Hamka:
a. Membaca
Seorang guru hendaknya tidak boleh merasa sudah selesai dalam belajar, rasa haus akan ilmu pengetahuan dan rasa ingin selalu belajar harus senantiasa tertanam dalam jiwanya. Hanya dengan membacalah guru disebut sebagai manusia pembelajar. Membaca yang dimaksud bukan hanya sekedar merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi sebuah pengertian dan pemahaman.
Namun lebih dari pada itu, yakni membaca dengan Ismu Allah sebagaimana firman Allah dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakanmanusia dari segumpal darah.
50 Abudin Nata, op. cit., h. 151-152.
51 Hamka Abdul Aziz, op. cit., h. 73-74.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Seorang guru harus belajar membaca dengan sifat Allah, berarti melebur kepentingan atas kehendak Allah, bukan mengedepankan keinginan dirinya sendiri. Membaca dengan sifat Allah juga berarti menganalisis dan mengevaluasi. Mampu bersikap kritis untuk kebaikan banyak orang tanpa keluar dari koridor (syariat) yang telah Allah tetapkan. Membaca dengan sifat Allah juga diartikan sebagai kemampuan memaksimalkan potensi sifat Allah yang ada di dalam dirinya.
b. Mengenal
Secara sederhana mengenal diartikan sebagai mengetahui dengan tepat, pasti, jelas dan benar. Guru diharapkan dapat menggunakan semua potensi kemanusiaannya untuk mencurahkan ilmunya kepada murid. Ia akan mendekati murid-muridnya dengan hatinya bukan dengan mulutnya. Dia akan mengenali murid-muridnya dengan kelembutan seorang ibu yang penuh kasih sayang. Bukan dengan kekuatan dan juga kekuasaannya. Guru yang mengenal, menganggap tugasnya sebagai wujud nyata pengabdiannya kepada Allah, bukan untuk mengukuhkan eksistensinya atau menunjukkan kehebatannya.
Guru yang mengenal menjadikan interaksinya dengan murid-murid dan lingkungannya sebagai hubungan batin. Sedangkan batin manusia akan dapat melahirkan sifat-sifat Allah, yang menjelma dalam perilaku luhur manusia, ialah qalbun (hati). Qalbun-lah satu-satunya potensi batin manusia yang dapat memahami tujuan hidup. Apabila guru mampu mengenali murid dengan qalbun-nya, maka ia akan menjadikan murid sebagai abdi Allah sebagaimana dirinya. Tidak membeda-bedakan muridnya. Sebagaimana sifat Rahman dan Rahim Allah yang tidak membedakan hamba-hamba-Nya berdasarkan
27
parameter yang dibuat manusia, tapi semata-mata berdasarkan ketaatan dan ketaqwaannya.
c. Berkomunikasi
Berkomunikasi adalah melakukan hubungan dengan seseorang atau lebih dalam rangka menyampaikan pikiran dan menerima pesan.
Berkomunikasi yang dimaksud adalah hubungan timbal balik antara guru dan murid yang mempunyai makna dan nilai. Guru dalam menyampaikan pelajarannya kepada murid dilandasi dengan sifat Allah. Ia akan mendekati murid-muridnya dengan senang hati dan rasa tanggung jawab. Komunikasi yang dijalin adalah komunikasi dua arah, sehingga murid menjadi penerima yang aktif dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya, mengkritisi atau memberi saran. Ketika guru mampu berkomunikasi dengan sifat Allah, maka manfaat yang diperoleh sang murid bukan hanya sekedar ilmu, tapi juga mendapatkan pencerahan secara spritual.52
Sedangkan menurut Moh. Uzer Usman, tugas guru dikelompokkan ke dalam tiga kelompok jenis tugas guru, yakni sebagai profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas dalam kemasyarakatan.
a. Tugas dalam bidang profesi meliputi mendidik, megajar, dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan pada siswa.
b. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan, seorang guru harus menjadi manusia yang disenangi dan diminati banyak orang, terlebih oleh para siswanya. Di sekolah, guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, mampu menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Dengan demikian, apapun yang disampaikan oleh guru
52 Hamka, op. cit., h. 21-26.
dalam pemlajaran, dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam hal belajar.
c. Tugas guru dalam masyarakat yakni mencerdaskan bangsa Indonesia dan menjadikannya bangsa yang bermoral pancasila.53
2. Peran Guru a. Motivator
Seorang guru hendaknya dapat mendorong peserta didiknya untuk senantiasa semangat dan aktif dalam belajar. Bukan hal yang tidak mungkin apabila peserta didik mengalami kesulitan atau bahkan malas ketika belajar. Maka seorang guru harus pandai menganalisis faktor penyebab peserta didiknya malas belajar, seerta mampu memberikan solusi, memberikan bantuan dan mendorongnya untuk tetap kembali bersemngat dalam belajar.
b. Inspirator
Guru hendaknya dapat memberikan inspirasi atau ilham yang baik untuk kemajuan peserta didiknya, dalam hal ini, diperlukan adanya sosok teladan guru yang bisa diikuti oleh sang murid. Ada kalanya murid mengalami kesulitan dalam belajar hingga membutuhkan solusi dan arahan sang guru. Peran guru di sini, diharapkan mampu memberi bantuan dan solusi terhadap peserta didiknya berdasarkan pengalamannya sendiri. Agar peserta didik menemukan contoh rillnya dalam kehidupan sehari-hari dan dapat disaksikan pula secara konkrit.
c. Inisiator
Sebagai inisiator, guru harus mencetuskan ide-ide baru yang mengarah pada kemajuan dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran, guru harus mampu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Guru harus mampu menggunakan media dan strategi pembelajaran yang sesuai
53 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), h. 6-7.