Dampak Penggusuran Pedagang Buku Bekas Lapangan Merdeka Medan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Keluarga

16 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Dampak

Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. Aktifitas tersebut dapat bersifat alamiah, baik social, ekonomi, fisik, kimia maupun biologi. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dampak adalah benturan, pengaruh yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif.

Dampak dapat bersifat positif dan negatif serta dampak langsung dan tidak langsung. Sifat positif dan negatif identik dengan baik dan buruk. Baik dan buruk tidaklah mutlak. Dunia fana ini suatu hal selalu mengandung sifat baik dan buruk. Kadar baik dan buruk suatu hal tergantung pada sudut pandang, Sudut pandang itu menentukan tolok ukur yang dipakai untuk menilai hal tersebut.

Pengaruh adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi.

Banyak faktor memperngaruhi penentuan apakah dampak itu baik (positif) atau buruk (negatif). Salah satu faktor penting dalam penentuan itu adalah apakah seseorang diuntungkan atau dirugikan oleh sebuah aktifitas.

2.2 Penggusuran

2.2.1 Pengertian Penggusuran

(2)

wilayah rural penggusuran biasanya terjadi atas nama pembangunan proyek prasarana besar seperti misalnya bendungan.

wib).

2.3 Perdagangan

2.3.1 Pengertian Pedagang

Pengertian pedagang secara etimologi adalah orang yang berdagang atau bisa juga disebut saudagar. Jadi pedagang adalah orang-orang yang melakukan kegiatankegiatan perdagangan sehari-hari sebagai mata pencaharian mereka.

Damsar (1997:106) mendefinisikan pedagang sebagai berikut: “Pedagang adalah orang atau instansi yang memperjual belikan produk atau barang kepada

konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung”

Sedangkan menurut Undang-undang nomor 29 Tahun 1948 Pasal 1 Angka 2 Tentang Perdagangan menyebutkan, pedagang adalah orang atau badan membeli, menerima atau menyimpan barang penting dengan maksud untuk dijual, diserahkan atau dikirim kepada orang atau badan lain baik yang masih berwujud barang penting asli, maupun yang sudah dijadikan barang lain.

22.40 wib).

2.3.2 Jenis-jenis Pedagang

(3)

1. Penjual Borongan (Punggawa)

Penjual borongan (punggawa) adalah istilah umum yang digunakan diseluruh Sulawesi selatan untuk menggambarkan perihal yang mempunyai cadangan penguasaan modal lebih besar dalam hubungan perekonomian. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan para wiraswasta yang memodali dan mengorganisir sendiri distribusi barang-barang dagangannya.

2. Pengecer Besar

Pengecer besar dibedakan dalam dua kelompok, yaitu pedagang besar yang termasuk pengusaha warung di tepi jalan atau pojok depan sebuah halaman rumah, dan pedagang pasar yaitu mereka yang memiliki hak atas tempat yang tetap dalam jaringan pasar resmi.

3. Pengecer Kecil

Pengecer kecil termasuk katergori pedagang kecil sektor informal mencakup pedagang pasar yang berjualan dipasar, ditepi jalan, maupun mereka yang menempati kios-kios dipinggiran pasar yang besar.

Adapun yang dikemukakan Damsar (1997) membedakan pedagang menurut jalur distribusi barang yang dilakukan, yaitu:

1. Pedagang distributor (tunggal), yaitu pedagang yang memegang hak distribusi satu produk dari perusahaan tertentu.

(4)

3. Pedagang eceran, yaitu pedagang yang menjual produk langsung kepada konsumen.

2.3.3 Pedagang kaki Lima

Pedagang kaki lima adalah suatu usaha yang memerlukan modal relatif sedikit, berusaha dalam bidang produksi dan penjualan untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu. Usahanya dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam lingkungan yang informal.

Pedagang kaki lima menurut An-nat (1983:30) bahwa istilah pedagang kaki lima merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Inggris. Istilah ini diambil dari ukuran lebar trotoar yang waktu dihitung dengan feet (kaki) yaitu kurang lebih 31 cm lebih sedikit, sedang lebar trotoar pada waktu itu adalah lima kaki atau sekitar 1,5 meter lebih sedikit.

Jadi orang berjualan di atas trotoar kemudian disebut pedagang kaki lima (PKL). Sedangkan Karafir (1977:4) mengemukakan bahwa pedagang kaki lima adalah pedagang yang berjualan di suatu tempat umum seperti tepi jalan, taman-taman, emper-emper toko dan pasar-pasar tanpa atau adanya izin usaha dari pemerintah. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pedagang kaki lima adalah mereka yang berusaha di tempat-tempat umum tanpa atau adanya izin dari pemerintah. Bromley (dalam Manning, 1991:228) menyatakan bahwa: “Pedagang kaki lima adalah suatu pekerjaan yang paling nyata dan penting dikebanyakan kota di Afrika, Asia, Timur Tengah, atau Amerika Latin. Namun

meskipun penting, pedagang-pedagang kaki lima hanya sedikit saja memperoleh

(5)

Pedagang kaki lima adalah orang yang menjajakan barang dagangannya di tempat tempat yang strategis, seperti di pinggir jalan, diperempatan jalan, dibawah pohon yang rindang,dan lain lain.Barang yang dijual biasanya makanan, minuman, pakaian, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

Tempat penjualan pedagang kaki lima pada umumnya relatif permanen yaitu berupa kios-kios atau gerobak dorong atau lainnya dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pada umumnya tingkat pendidikannnya rendah.

2. Memiliki sifat spesialis dalam kelompok barang/jasa yang diperdagangkan.

3. Barang yang diperdagangkan berasal dari produsen kecil atau hasil produksi sendiri.

4. Pada umumnya modal usahanya kecil, berpendapatan rendah, serta kurang mampu memupuk dan mengembangkan modal.

5. Hubungan pedagang kaki lima dengan pembeli bersifat komersial.

2.4. Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah kebijakan –kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masyarakat dimana penyusunannya melalui berbagai tahapan.

Menurut William Dunn (1990) Kebijakan public adalah suatu daftar pilihan yang disusun oleh instansi atau pejabat pemerintah antara lain dalam bidang pertanahan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, pengendalian kriminalitas dan pembangunan perkotaan.

(6)

1. Penyusunan Agenda

Penyusunan agenda adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah ada ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan agenda publik perlu diperhitungkan. Penyusunan agenda kebijakan seyogianya berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder.

2. Formulasi Kebijakan

Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada.

3. Adopsi/Legitimasi Kebijakan

Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan.

4. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)

Pada tahap inilah alternatif pemecahan yang telah disepakati tersebut dilaksanakan. Dalam tahap ini suatu kebijakan seringkali menemukan berbagai kendala. Rumusan-rumusan yang telah ditetapkan secara terencana dapat saja berbeda dilapangan

(7)

2.5. Perlawanan (Resistensi)

Timbulnya perlawanan menurut Alisjahbana (2005:167-169) terurai ketika menggambarkan bagaimana pertarungan antara mereka yang berkuasa dengan mereka yang tidak berkuasa, antara mereka yang memiliki aksesbilitas dengan mereka yang tidak memiliki, antara mereka yang memiliki modal kecil, terus terjadi dalam setiap kebijakan yang dirumuskan pemerintah dalam pengembangan kota. Pada dasarnya sektor informal lebih suka berdialog dibandingkan harus melakukan perlawanan (resistensi). Resistensi dilakukan ketika mereka harus dihadapkan pada sebuah perlakuan yang menurut mereka keterlaluan atau diluar batas kewajaran. Keberanian kelompok ini melakukan perlawanan (resistensi) adalah proses akumulasi dari berbagai fenomena yang melatarbelakangi, antara lain:

1. Adanya model penataan sektor informal yang selalu menggunakan pendekatan represif, bukan persuasif.

2. Adanya sikap ketidakpedulian pemerintah kota terhadap keberadaan sektor informal sehingga selalu dimarginalkan.

3. Terbungkamnya suara sektor informal. Budaya top down dalam setiap pembuatan kebijakan yang mengatur sektor informal menyebabkan terjadinya resistensi terhadap kebijakan pemerintah kota.

4. Adanya kesan negatif yang ditempelkan pemerintah terhadap keberadaan sektor informal.

(8)

Gerakan perlawanan wong cilik atau pedagang berbeda dengan gerakan perlawanan yang dilakukan oleh petani ataupun buruh. Banyak perlawanan yang diakhiri dengan kekerasan berhadapan dengan aparat negara. Perlawanan yang ditimbulkan oleh pedagang memang tidak jarang menimbulkan kekerasan. Semakin represif model penataan yang dilakukan oleh pemerintah, semakin keras pula perlawanan yang diberikan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebaliknya, semakin keras sikap PKL terhadap pemerintah, semakin keras pula tindakan pemerintah. Dari sudut kebijakan, perlawanan yang dilakukan PKL meliputi tiga kategori:

1) Perlawanan yang dikembangkan utuk menolak lahirnya peraturan daerah, dilakukan dengan cara demonstrasi, memimta izin secara paksa kepada camat dan lurah, membentuk paguyuban PKL, dan mencari dukungan dan mahasiswa.

2) Perlawanan terhadap program relokasi berupa melakukan demonstrasi, membentuk paguyuban dan mencari dukungan LSM dan mahasiswa.

3) Perlawanan terhadap penggusuran, dilakukan dengan adu mulut, memblokade jalan, mengintimidasi aparat dan melakukan demonstrasi.

(9)

2.6. Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial dalam artian yang sangat luas mencakup berbagai tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Taraf hidup yang lebih baik ini tidak hanya diukur secara ekonomi dan fisik belaka, tetapi juga ikut memperhatikan aspek sosial, mental dan segi kehidupan spiritual (Adi, 2003:41).

Menurut Fridlander (dalam Fahrudin 2012: 9), “Kesejahteraan sosial adalah system yang terorganisasi dari pelayanan-pelayanan sosial dan institusi yang dirancang untuk membantu individu-individu dan kelompok-kelompok guna mencapai standar hidup dan kesehatan yang memadai dan relasi-relasi personal dan sosial sehingga memungkinkan orang mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sepenuhnya selaras dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, “Kesejahteraan sosial adalah suatu kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan membantu penyesuaian timbale balik antara individu-individu dengan lingkungan sosial mereka (dalam Fahrudin, 2012:9).

(10)

2.7. Keluarga

Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran minimum, terutama pada pihak yang awalnya mengadakan suatu ikatan. Dengan kata lain, keluarga tetap merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada didalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka kearah kedewasaan. Keluarga sebagai organisasi, mempunyai perbedaan dari organisasi-organisasi lainnya, yang terjadi hanya sebagai sebuah proses (Khairuddin, 1997:4)

Menurut UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau lurus kebawah sampai derajat ketiga.

Ciri-ciri keluarga menurut Iver dan Page ( dalam Khairuddin 1997:3) meliputi :

1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

2. Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawninan yang sengaja dibentuk dan dipelihara.

3. Suatu sistem tata-tata norma termasuk perhitungan garis keturunan

(11)

5. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau bagaiamana pun tidak mungkin terpisah dalam kelompok keluarga.

Fungsi keluarga menurut Horton dan Hunt ( dalam Kamanto Sunarto, 2004: 63) 1. Keluarga berfungsi mengatur penyaluran seks. Tidak ada masyarakat yang memperbolehkan hubungan seks sebebas-bebasnya antara siapa saja dalam masyarakat.

2. Reproduksi berupa pengembangan keturunan pun selalu dibatasi dengan aturan yang menempatkan kegiatan ini dalam keluarga.

3. Mensosialisasikan anggota baru masyarakat sehingga dapat memerankan apa yang diharapkan darinya.

4. Fungsi afeksi. Keluarga memberikan cinta kasih pada seorang anak.

5. Keluarga memberikan status pada seseorang bukan hanya status yang diperoleh seperti status yang terkait dengan jenis kelamin, kelahiran, hubungan kekerabatan tetapi termasuk juga didalamnya status yang diperoleh orang tua yaitu status dalam suatu kelas tertentu.

6. Keluarga memberikan perlindungan kepada anggotanya, baik perlindungan fisik maupun yang bersifat kejiawaan. Akhirnya keluarga pun menjalankan berbagai fungsi ekonomi tertentu seperti produksi, distribusi dan konsumsi.

2.8. Keluarga Sejahtera

(12)

didesa yang pada umumnya tingkat pendidikannya relative rendah untuk mengukur derajat kesejahteraan para anggotanya sekaligus sebagai pegangan untuk melakukan intervensi maka indikator tersebut selain harus memiliki validitas yang tinggi juga dirancang sedemikian rupa sehingga cukup sederhana dan secara operasional dapat dipahami dan dilakukan oleh masyarakat di desa.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan 5 tahapan keluarga sejahtera sebagai berikut:

1. Keluarga prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.

2. Keluarga sejahtera tahap 1 adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu melaksanakan ibadah menurut agama yang dianut, makan 2 (dua) kali sehari atau lebih, memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian, bagian terluas dari lantai rumahnya bukan dari tanah, dan apabila sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa kesarana kesehatan atau petugas kesehatan.

(13)

dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat, paling kurang 1 (satu) anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap, seluruh aggota keluarga dari usia 10 - 60 tahun bisa membaca tulisan latin, seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini, dan bila memiliki 2 anak atau lebih maka keluarga tersebut memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil).

4. Keluarga sejahtera tahap 3 adalah keluarga yang memenuhi kebutuhan dasar, sosial dan psikologis dan syarat pengembangan keluarga yaitu mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama, sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga, biasantya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antaranggota keluarga, ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya, mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali per 6 bulan, dapat memperoleh berita dari surat kabar, tv atau majalah, dan anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat.

5. Keluarga sejahtera tahap 3 plus adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan keluarga telah terpenuhi serta secara teratur atau pada waktu tertentu dengan suka rela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat, kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus pekumpulan, yayasan, atau institusi masyarakat.

(14)

tentang Kesejahteraan Sosial Bab I, Pasal 1 ayat 2 bahwa Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. 2.9. Kerangka Pemikiran

Kemiskinan merupakan suatu masalah yang tidak diharapkan setiap manusia. Untuk menghindari kemiskinan setiap manusia pasti akan berusaha keras untuk mencukupu kebutuhan hidup. Mengingat harga mekanisme pasar yang saat ini sangat tinggi mengharuskan setiap manusia harus kerja ekstra untuk menyesuaikannya. Terkhusus yang dihadapi oleh rakyat kecil yang kurang terhadap akses membuat mereka sangat sulit dan bahkan banyak yang gagal dan menjadi miskin.

Pengertian pedagang kaki lima menurut Aris Ananta (1985) adalah orang-orang golongan ekonomi lemah, yang berjualan barang–barang kebutuhan sehari- hari, makanan, atau jasa yang modalnya relatif sangat kecil, modal sendiri atau modal orang lain, baik berjualan di tempat terlarang maupun tidak. Pedagang Kaki Lima merupakan pedagang yang terdiri dari orang–orang yang menjual barang– barang atau jasa dari tempat–tempat masyarakat umum, terutama di jalan–jalan atau di trotoar.

Pedagang merupakan sektor informal yang menjadi penopang perekonomian negara, bahkan ditengah masa krisis moneter pada tahun 1998 yang melanda indonesia, pedagang kecil dan menengah (UMKM) mampu bertahan dan menjadi penopang perekonomian indonesia dari dampak kriris tersebut.

(15)

tenaga kerja yang kurang memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai untuk bekerja di sektor formal karena rendahnya tingkat pendidikan yang mereka miliki.

(16)

Bagan 2.1 Bagan Alur Pemikiran

Pedagang Buku Bekas Lapangan Merdeka

Penggusuran Pedagang Buku Bekas Lapangan

Merdeka

Analisis Dampak 1. Dampak Negatif 2. Dampak Positif

Kesejahteraan Keluarga

Sesudah Sebelum

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...