Pemindahan Ibukota Dalam Perspektif
Administrasi Negara
PENDAHULUAN
Ibukota memainkan peran yang sangat strategis bagi suatu negara, karena menjadi pusatdari berkumpulnya kekuasaan politik dan ekonomi, karena menjadi tempat kedudukan pemerintahan negara dan perwakilan rakyat (parlemen). Pada umumnya, ibukota juga merupakan salah satu kota terbesar dan seringkali merefleksikan keunikan karakter suatu bangsa, seperti keberagaman suku bangsa, agama, kebudayaan, haluan politik, sejarah perjuangan dan pemersatu semangat kebangsaan. Dalam perspektif hubungan internasional, ibukota juga menjadi gerbang utama dari suatu negara, yang menjadi tempat kedudukan perwakilan diplomatik negara lain dan organisasi internasional, serta menjadi miniatur suatu negara.
Dengan predikat tersebut, maka ketika dengan berbagai alasan dan faktor pendorong tertentu sebuah ibukota dipandang harus dipindahkan ke tempat lain – baik dipindahkan ke kota besar lain ataupun dipindahkan ke kota lain yang baru dibentuk; baik pemindahan secara keseluruhan maupun komponen tertentu saja – debat dan diskursus akan pemindahan dan penentuan ibukota baru menjadi tak terelakkan, seiring dengan tarik menarik kepentingan di dalamnya.
Hal yang sama terjadi ketika muncul wacana akan adanya pemindahan Ibukota NKRI ke luar Jakarta. Banyak ide, perdebatan, diskusi yang muaranya adalah pada pemilihan yang terbaik dari pilihan yang ada, dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang – ekonomi, politik, kesatuan bangsa, demografi, pertahanan dan keamanan, serta lingkungan yang semuanya didasarkan pada latar belakang dan tarik ulur kepentingan yang ada.
Ide pemindahan ibukota ke luar Jakarta sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru. Dengan pertimbangan keterbatasan yang dimiliki Jakarta, pada era tahun 1950an mantan Presiden Soekarno pernah melontarkan gagasannya untuk memindahkan ibukota ke Palangkaraya dengan berbagai alasannya. Selanjutnya, mantan Presiden Soeharto pun pada sekitar 15 tahun yang lalu pernah mewacanakan pemindahan ibukota dari Jakarta ke Jonggol.
Dalam konteks kekinian, urgensi pemindahan ibukota yang utama didasari atas berbagai keterbatasan dan persoalan yang membelit Jakarta sehingga dipandang tidak lagi ideal dalam menjalankan perannya sebagai pusat ekonomi, politik dan budaya. Dari perspektif lingkungan, selain memang topografi Jakarta merupakan dataran rendah, saat ini disadari bahwa kota ini sedang mengalami kemerosotan daya dukung lingkungan yang ditandai dengan berkurangnya cadangan air tanah, turunnya level permukaan tanah, kecilnya rasio antara ruang terbuka hijau dan ruang tertutup bangunan, instrusi air laut, banjir, kekeringan, polusi udara, air dan suara, semakin turunnya luasan daerah resapan, dan berbagai masalah lingkungan lainnya.
tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah, serta permasalahan lain yang diakibatkan beban populasi yang tinggi.
Sementara itu sisi spasial kota memperlihatkan pola-pola yang tidak beraturan. Rencana Tata Ruang Wilayah yang ada hanya sekedar menjadi dokumen; pembangunan sentra-sentra bisnis besar menggusur hak spasial pelaku ekonomi lemah; arah pembangunan keruangan tidak jelas dan saling tumpang tindih antara pusat bisnis dan residensial; urban sprawl, slum area dan keterbatasan ruang publik merupakan sedikit contoh dari semrawutnya tata ruang Jakarta.
Pada sisi manajemen perkotaan yang lain, terlihat pula adanya kegagalan pemerintah dalam melakukan pengelolaan sampah. Setali tiga uang, penyedian air bersih yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat pun nampaknya masih menjadi persoalan serius terkait dengan sumber air yang terbatas dan kesulitan distribusi yang berkeadilan.
Permasalahan utama yang sedang menjadi sorotan adalah sistem transportasi massa yang memprihatinkan. Dari sisi infrastruktur, terlihat dengan jelas buruknya infrastruktur transportasi Jakarta. Kecilnya rasio panjang jalan berbanding luas wilayahnya, kualitas jalan yang buruk, infrastruktur perkeretaapian yang menyedihkan, dan kendaraan umum yang sangat tidak terawatt, dan masih banyak lagi permasalahan transportasi yang membelit, pada akhirnya mengakibatkan kemacetan, kesemrawutan dan lebih jauh lagi berimplikasi pada gangguan pada sektor ekonomi, perusakan lingkungan, pemborosan sumber daya, dan meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat baik fisik maupun psikologis. Inefisiensi Jakarta pun sangat luar biasa karena kemacetan dan keruwetan tata kotanya.
Di samping alasan-alasan di atas, faktor politis, ekonomis, ketahanan dan ketatanegaraan pun menjadi hal yang tidak dapat dinegasikan. Posisi geografis Jakarta yang berada di belahan barat kepulauan Indonesia mengakibatkan ketimpangan pembangunan yang berat ke barat. Dalam bidang ekonomi, wilayah Indonesia timur menjadi lebih tertinggal di banding Indonesia bagian barat. Ketertinggalan ini kemudian merembet ke semua indikator pembangunan. Padahal, dari sudut ketersediaan sumber daya, wilayah Indonesia timur menyimpan potensi yang besar. Posisi Jakarta yang tidak berada di tengah cakupan wilayah Indonesia menyebabkan pula kurangnya semangat kebangsaan dari penduduk yang letaknya sangat jauh dari pusat kekuasaan ini, seperti misalnya yang terjadi pada daerah terdepan, terluar dan perbatasan. Apabila dibiarkan, hal semacam ini akan sangat berbahaya terutama bagi persatuan dan kesatuan NKRI.
Dalam berbagai diskursus tentang pemindahan ibukota, beberapa pilihan untuk memindahkan atau tidak memindahkan telah banyak dilontarkan. Disamping itu telah pula muncul sejumlah lokasi yang diusulkan menjadi ibukota baru. Namun tulisan ini mencoba untuk tidak terjebak dalam pusaran perdebatan mengenai teknis penentuan lokasi semata.
mengenai pemindahan ibukota Negara, khususnya yang berkaitan dengan sisi administrasi negara.
IBUKOTA DAN PEMINDAHAN IBUKOTA Ibukota
Ibukota diambil dari bahasa Latin caput yang berarti kepala (head) dan terkait dengan kata capitol yang terkait dengan bangunan dimana pusat pemerintahan utama dilakukan. Ibukota (diambil dari terminology a capital; capital city; political capital) adalah kota utama yang diasosiakan dengan pemerintahan suatu Negara; secara fisik difungsikan sebagai kantor pusat dan tempat pertemuan dari pimpinan pemerintahan dan ditentukan berdasarkan hukum (Sutikno , 2007). Terminologi political capital sejalan dengan definisi dalam politik dimana ibukota secara politik merupakan pusat pemerintahan.Capitol sendiri dalam kamus mengacu pada bangunan dimana pusat urusan pemerintahan dilaksanakan. Pada umumnya ibukota ditetapkan melalui peraturan tertentu. Ibukota Negara merupakan merupakan simbolisasi dan kebanggaan suatu Negara. Ibukota Negara merepresentasikan kejayaan nasionaldanidentitas bangsa yang pada akhirnya akan menggambarkan citra suatu Negara. Pemilihan ibukota Negara pada umumnya memiliki benang merah dengan sejarah terbentuknya suatu Negara. Ibukota berbagai Negara secara resmi tercantum dalam konstitusi Negara.
Jika dilihat dari sejarah ibukota-ibukota di dunia, ibukota sebagai pusat ekonomi utama dari suatu wilayah sering menjadi titik pusat dari kekuatan politik, dan menjadi suatu ibukota melalui suatu penaklukan atau penggabungan. Ibukota secara alamiah mempunyai daya tarik tersendiri sehingga lama kelamaan Ibukota bisa menjadi pusat ekonomi, budaya atau pusat intelektual.
Pada umumnya ibukota Negara memiliki multifungsi. Namun terdapat pula beberapa Negara memisahkan berbagai fungsi yang biasa dimiliki ibukota dalam kota-kota yang berbeda. Tidak seperti DKI Jakarta yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat dari kekuatan politik sekaligus pusat bisnis, beberapa negara justru memisahkan atau mengkonsentrasikan salah satu fungsi pada kota-kota yang berbeda. Oleh karena itu tidak selalu ibukotanegara menjadi kota utama yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan. Dengan adanya beberapa kota yang menjalankan fungsi ibukota yang berbeda, Negara tersebut sering dianggap memiliki lebih dari satu Negara. Kota-kota semacam ini dikenal sebagai split capitals (Rawat,2005). Contoh-contoh ibukota Negara dan keragamannya dapat dirangkum dalam suatu tipologi berikut.
Tabel1. Contoh Ibukota Negara dan Tipologi Fungsinya
Negara Ibukota Multifungsi Split Capitals Tidak memiliki ibukota
Indonesia Jakarta menjadi ibukota Negara sebagai pusat pemerintahan dimana lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif berkantor. Selain itu juga menjadi tempat berkantornya seluruh perwakilan diplomatik negara lain, pusat bisnis, keuangan, bahkan juga pusat pendidikan.
sebutan ibukota negara, menjadi tempat kedudukan parlemen sekaligus pusat komersial dan finansial Malaysia.
Bolivia La Paz merupakan ibukota
administrative Bolivia semenjak 1989 Kota ini merupakan tempat di mana pemerintah eksekutif dan legislative berkantor. SementaraSucre merupakan ibukota konstitutional Bolivia, menjadi tempat berkantornya bagian Judisial pemerintahan Bolivia, juga merupakan tempat di mana Mahkamah Agung Berada.
Afrika
Selatan Ibukota administratif berada diPretoria, Ibukota legislatif berada di Cape Town, sementara ibukota
Sumber: diolah dari berbagai sumber
Pemindahan ibukota
Pemindahan Ibukota negara bukan merupakan suatu hal yang tidak bisa dilakukan. Pemindahan ibukota membantu mengatasi ketimpangan demografis di akibat kondisi geografis tertentu di suatu Negara. Ibukota yang baru juga bisa menjadi motor bagi pembangunan daerah sekelilingnya (Rawat, 2005).
Ada beberapa negara yang melakukan pemindahan ibukota dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. Ibukota baru bisa merupakan kota yang telah ada sebelumnya yang kemudian difungsikan menjadi ibukota (relocated capital) atau kota baru yang dibangun dari awal untuk menjadi ibukota. Berikut adalah contoh-contoh negara yang telah memindahkan ibukota negaranya:
Tabel3. Pemindahan Ibukota di Berbagai Negara
Negara Ibukota
Lama IbukotaBaru Alasan Pemindahan Keterangan Kazakhtan Almaty Astana Untuk mengatasi ketimpangan
Lumpur akibat terlalu padat
Brasilia Memindahkan ibukota Brazil dari Rio De Janeiro ke lokasi yang berada di tengah-tengah negara Brazil
Pemindahan ibukota Brazil ke Brasillia dianggap kurang berhasil karena lokasinya yang terlalu dipelosok, maka hanya sektor pemerintahan saja yang dapat hidup dan berkembang disana, sehingga dinamika kota disana cenderung statis. Hal ini bisa menjadi suatu hambatan dalam usaha mencari solusi pemerataan penduduk
Bolivia Sucre La Paz La paz memiliki pertumbuhan bisnis yang paling pesat, kontribusi kinerja ekonomi yang lebih besar. Di samping
Indonesia bahkan tercatat pernah memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta dan Bukittinggi sebelum dipindahkan ke Jakarta lagi. Pemindahan yang pernah dilakukan tersebut banyak dilatarbelakangi alasan kedaulatan dan kedaruratan keamanan Negara pada masa awal kemerdekaan RI.
Dalam kondisi di luar masa perjuangan kemerdekaan, pemindahan ibukota perlu dipertimbangkan secara matang dan seyogyanya memiliki visi ke depan, tidak bersifat darurat. Sebagaimana beberapa contoh di atas, pemindahan ibukota harus dikaitkan dengan kondisi geografis Indonesia dan kondisi masyarakat lainnya.
Dari berbagai ibukota yang ada, dapat dilihat bahwa bentuk ibukota administrasi pemerintahan daerah ibukota suatu Negara bervariasi. Suatu wilayah ibukota dapat memiliki status kedudukan tertentu dan bentuk administrasi pemerintahan daerah yang spesifik diatur dalam ketentuan perundangan. Terdapat pula ibukota Negara yang tidak memiliki bentuk administrasi pemerintahan daerah secara khusus yang diformalkan dalam ketentuan hukum. Berikut berbagai contoh ibukota Negara dan kekhususan administrasi pemerintahan daerahnya.
Tabel 3. Contoh Kekhususan Administrasi Pemerintahan Daerah Ibukota
Negara Ibukota Keterangan Kekhususan
Australia Canberra The Australian Capital Territory (ACT) didirikan secara khusus untuk tempat berkatornya pemerintah. Meskipun ACT memiliki Chief Minister dan legislatur sendiri (legislative assembly), namun Parlemen Federal tetap mengatur legislasi di ACT. Di samping memerintah ACT, the Legislative Assembly juga bertindak sebagai pemerintah kota Canberra. Gubernur Jenderal Australia memegang hak-hak tertentu yang pada level state dilakukan oleh state governor.
Brazil Brasília Didirikan dalam Brazilian Federal District atau Distrito Federal, di mana beberapa kota lainnya juga berada dalam state tersebut. Federal District merupakan unit federasi yang khas karena tidak diorganisasikan seperti halnya municipality. Meskipun memiliki tingkatan yang sama, unit tersebut tidak memiliki otonomi sebagaimana state lainnya dan sangat
Ibukota merupakan distrik khusus. Sebelumnya merupakan Provinsi Santo Domingo.
India New Delhi New Delhi sebagai ibukota India berada dalam The National Capital Territory of Delhi (NCT) yang merupakan gabungan teritori khusus di India, tergabung bersama dengan Delhi dan Delhi Cantonement. Pemerintah pusat memiliki sedikit control atas teritori tersebut dibanding gabungan teritori lainnya. NCT berbeda karena municipal control ada pada pemerintahan yang terpilih, namun area seperti kepolisisn dan administrasi dipegang oleh pemerintah pusat.
Indonesia DKI Jakarta DKI Jakarta merupakan provinsi otonom yang dipimpin oleh seorang gubernur, bukan walikota. Terbagi atas 5 daerah administratif yang tidak memiliki parlemen daerah seperti daerah otonom.
Malaysia Kualalumpur Kuala Lumpur sebagai ibukota Negara Malaysia berada di Federal Territory of Kuala Lumpur ,sementara The Federal Government Administrative Centre of Putrajaya berada pada the Federal Territory of Putrajaya. Keduanya berada di Negara bagian Selangor.
Korea
Selatan Soul Seoul merupakan kota khusus, namun walikota Seoul dianggap setaradengan gubernur. Amerika
Serikat
Washington DC Pusat pemerintahan Amerika Serikat merupakan distrik federal yang dikenal sebagai District of Columbia. Sejak diundangkannya the Home Rule Act of 1973, District of Columbia dipimpin oleh walikota terpilih dan dewan kota. Kongress masih memegang otoritas terhadap distrik tersebut dan mempunyai hak untuk mereview anggaran dan pajak daerah, menganulir peraturan yang dikeluarkan dewan kota, dan menghentikan home rule.
konstitusi pada tahun 1999 menghapuskan pemerintahan distrik tersebut dan membentuk suatu metropolitan district of caracas, dengan jurisdiksi mencakup juga beberapa kota di sekelilingnya, berada di Negara bagian Miranda.
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Terkait dengan administrasi pemerintahan daerah ibukota, perlu dipertimbangkan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia. Penerapan konsep ibukota negara di negara kesatuan dengan federal pun bisa berbeda. Hal ini terjadi karena dalam negara kesatuan, semua kekuasaan prinsipnya merupakan milik pemerintah pusat. Prinsipnya adalah pemerintah pusat tapi status khusus diberikan pada entitas
tertentu yang mempunyai tanggungjawab atas wilayah yang diberikan berdasarkan statusnya[1]. Di
samping itu dalam menentukan bentuk ibukota baru perlu dicermati bagaimana kondisi wilayah yang akan menjadi ibukota.
GAGASAN ALTERNATIF PEMINDAHAN IBUKOTA
Saat ini, apakah ibukota Jakarta akan tetap dipertahankan atau perlu dilakukan pemindahan ke wilayah lain, masih merupakan bahan perdebatan yang belum terselesaikan. Belum ada keputusan yang jelas mengenai opsi pemindahan ibukota. Setidaknya ada beberapa skenario yang saat ini berkembang dalam isu pemindahan ibukota negara RI, yaitu:
Status quo
Status quo, di mana ibu kota tetap di Jakarta, masih dianggap sebagai salah satu skenario yang cukup realistis. Meskipun demikian, harus ada pilihan kebijakan untuk menata, dan memperbaiki beberapa persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan urban, banjir, dan tata ruang wilayah. Argumen yang menyatakan bahwa pemindahan ibukota dirasa tidak perlu antara lain karena masalah Jakarta saat ini hanyalah kemacetan yang sebenarnya merupakan masalah infrastruktur[2]. Solusinya, pemerintah pusat dan daerah harus bersama-sama membereskan segala kesemrawutan di Jakarta sekarang ini.
Keunggulan dari pilihan ini sebagaimana disampaikan para pendukungnya ini antara lain dilandasi argumen-argumen bahwa masalah-masalah Jakarta dapat diperbaiki dengan biaya lebih kecil daripada ongkos memindahkan Ibukota. Di samping itu, memindahkan Ibukota juga dianggap tidak serta merta menghilangkan segala masalah yang ada di Jakarta saat ini seperti kemacetan.
Namun jika Ibukota tetap berada di Jakarta ada beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan, seperti: kondisi Jakarta yang rentan terhadap berbagai bencana dikhawatirkan mengurangi efektifitasnya sebagai ibukota. Selain itu dengan tetap dipertahankannya Jakarta dengan berbagai fungsinya, laju urbanisasi dan ketimpangan pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta seperti saat ini akan terus berlanjut.
Skenario Pemisahan fungsi Ibukota
Salah satu keunggulan yang melandasi pilihan ini adalah bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat menjangkau daerah dengan lebih baik dan hasil-hasil pembangunan akan lebih dapat didistribusikan ke daerah-daerah dengan merata.
Namun ada kelemahan dari skenario ini, antara lain karena membangun kota baru akan membutuhkan dana yang sangat besar. Khususnya terkait dengan penyediaan sarana pemerintahan dan infrastruktur wilayah, jaringan transportasi yang terpadu, serta prasarana pendukung lainnya. Di samping itu, dengan Jakarta tetap sebagai ibukota secara simbolis memungkinkan adanya kesulitan dari sisi yuridis terkait dengan beberapa pasal dalam Undang-Undang Dasar Negara yang menyebutkan kedudukan beberapa lembaga Negara. Salah satu alternatif solusinya dapat dilakukan dengan menetapkan Jakarta sebagai pusat bisnis saja. Sementara ibukota Negara ditetapkan di wilayah yang nantinya juga akan dijadikan pusat pemerintahan yang baru.
Skenario Penyebaran Fungsi-Fungsi Pemerintahan atau Zona-Zona Pemerintahan Skenario ini kurang begitu diperbincangkan, namun gagasan lain melakukan penyebaran fungsi pemerintahan dapat dipertimbangkan. Berbagai kementrian yang selama ini berkantor di Jakarta dapat dipindahkan ke lokasi lain. Misalnya kementrian yang mengurusi bidang pariwisata berkantor di Bali, kementrian kehutanan berkantor di Kalimantan, dan sebagainya. Pemikiran lain yang bisa dipertimbangkan dalam rangka meningkatkan efisiensi adalah dengan menyelenggarakan membagi wilayah NKRI ke dalam berbagai zona dan mendirikan Kantor-kantor regional di zona-zona tersebut. Dengan adanya kantor-kantor regional ini pemerintah daerah cukup berkoordinasi dengan kantor-kantor regional. Rasional dari kedua gagasan ini adalah, untuk mengurangi konsentrasi pemerintahan di Pusat, mendekatkan pelayanan dan menurunkan ongkos penyelenggaraan pemerintahan.
Skenario Pemindahan Ibukota Negara
Dalam skenario ini, akan dibentuk suatu Daerah Khusus Ibukota di tempat lain. Sebagaimana halnya DKI Jakarta, daerah ini akan memiliki berbagai fungsi sebagai ibukota sekaligus juga menjadi pusat perekonomian. Diharapkan bahwa dengan membangun suatu ibukota baru, akan dapat terbentuk ibukota yang lebih terencana sekaligus membuka pusat perekonomian baru.
Namun pilihan ini barangkali paling kurang feasible dibandingkan dengan pilihan sebelumnya. Terutama dikarenakanbiaya yang dibutuhkan akan lebih besar dibandingkan hanya memindahkan pusat pemerintahan saja.
Pilihan opsi untuk mengatasi persoalan ibukota perlu segera dipertegas, guna mempersiapkan segala sesuatunya. Pemindahan ibukota Negara akan membawa konsekuensi politis, administratif pemerintahan, sosial, ekonomi, dan berbagai konsekuensi lainnya. Tanpa disain kebijakan yang tepat dan implementasi yang baik, pemindahan ibukota barangkali tidak akan memberikan manfaat yang berarti bagi pemerataan wilayah dan tujuan lainnya.
PERSPEKTIF ADMINISTRASI NEGARA DALAM PEMINDAHAN IBUKOTA
direkomendasikan. Dari sudut pandang administratif, pilihan yang diambil dinilai paling feasible dan dan dapat meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan.
Namun keputusan pemindahan ibukota tentu tidak berhenti pada pemilihan ibukotanya. Lebih dari itu diperlukan kebijakan-kebijakan terkait lainnya yang memungkinkan kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik. Dari sudut pandang administrasi Negara, pemindahan ibukota perlu mencermati berbagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan administrasi Negara.
- Segi Kebijakan
Sebagai sebuah kebijakan, pemindahan ibukota tidak boleh bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi. Peraturan yang mengatur tentang ibukota harus sejalan dengan Undang-Undang Dasar dan peraturan lain yang lebih tinggi dari ketentuan tersebut. Secara yuridis formal terdapat beberapa Pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan ibu kota. Namun Pasal 2 Ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: “Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara”.Ketentuan Pasal 2 Ayat (2) UUD 1945 hanya menyebutkan bahwa sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dilaksanakan di ibu kota negara, dan tidak disebutkan “dilaksanakan di Jakarta”. Karena hanya menyebutkan di ibukota Negara, dengan demikian, apabila ibu kota Indonesia dipindahkan maka hal tersebut tidak menyebabkan perubahan UUD 1945.
Pemindahan ibukota Negara akan membawa konsekuensi yuridis terhadap berbagai ketentuan yang terkait dengan kedudukan DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Beberapa peraturan yang perlu dicermati antara lain UU No 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pada Pasal 226 dan Pasal 227. Perpindahan ibu kota Indonesia dari DKI Jakarta ke wilayah lain perlu mengubah UU No 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merevisi UU No 32 Tahun 2004, yang di dalamnya terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan kedudukan DKI Jakarta sebagai ibu kota negara. Antara lain, Pasal 226 UU No 32 Tahun 2004, dan Pasal 227 UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang terkait dengan kedudukan DKI Jakarta sebagai ibu kota. Perubahan undang-undang tersebut juga harus disertai dengan pembentukan undang-undang yang menyatakan wilayah yang baru tersebut sebagai ibu kota Indonesia, dan undang-undang yang mengatur status wilayah ibukota tersebut sebagai daerah khusus ibu kota.
- Administrasi pemerintahan daerah Ibukota
Bagaimana administrasi pemerintahan daerah Ibukota merupakan konsekuensi lain yang perlu diperhatikan. Di samping itu, kedudukan Provinsi DKI Jakarta yang bukan lagi sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bagaimana bentuk otonominya perlu ditata kembali.
Pemerintahan daerah yang akan menjadi ibukota sebagai daerah otonom bisadiberikan status istimewa karena kedudukannya sebagai ibukota negara namun bisa saja diberikan alternatif lain seperti halnya dibahas pada bab sebelumnya mengenai ibukota negara. Sebagai daerah otonom, apakah daerah tersebut memiliki otonomi tunggal pada provinsi atau bentuk otonomi lainnya. Terdapat beberapa pilihan dalam hal ini yakni:
1. Daerah yang terdapat ibukota di dalamnya tidak diberikan status khusus
tersebut dimungkinkan akan menghadapi persoalan yang lebih kompleks yang membutuhkan dukungan sumber daya yang lebih besar. Meskipun jika keberadaan pemerintahan Pusat dan infrastruktur yang mendukungnya didanai oleh anggaran Pusat, dengan keberadaan Pendapatan Asli Daerah yang pada umumnya masih tergolong kurang, pemerintah daerah akan memiliki beban yang cukup berat.
2. Pemberian status khusus bagi daerah yang terdapat ibukota di dalamnya
Daerah yang berperan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekhususan tugas, hak, kewajiban, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan.Posisinya akan berimpitan dengan pusat pemerintahan negara dan pelaksana kebijakan desentralisasi dan dekonsentrasi sekaligus. Status khusus ini akan berimplikasi pada masalah finansial dan sumberdaya khusus lainnya yang diperuntukkan bagi daerah tersebut dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai ibukota.
3. Bentuk Kawasan Khusus Ibukota
Daerah khusus ibukota juga dapat diatur secara berbeda dari daerah lain karena kekhususannya, sebagaimana dimungkinkan dalam pengaturan tentang kawasan khusus. Kawasan khusus adalah kawasan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan fungsi tertentu pemerintahan dan penyelenggaraan negara yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. Suatu ibukota tentu saja mempunyai fungsi yang penting secara nasional sehingga dapat dijadikan kawasan khusus. Tidak dipungkiri bahwa wacana pemindahan ibukota dapat diwarnai berbagai kepentingan dan akan ada berbagai daerah yang berlomba-lomba mengajukan diri menjadi ibukota. Pilihan membentuk kawasan khusus ibukota yang sama sekali baru ini dapat dianggap sebagai pilihan yang cukup netral untuk menghadapi berbagai kepentingan tersebut. Administrasi pemerintahan di kawasan khusus ini sepenuhnya bi bawah Pemerintah Pusat.
Adapun bagi Provinsi DKI Jakarta, dengan berhentinya DKI Jakarta menjadi ibukota, status DKI dimungkinkan akan berubah. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan kedudukannya sebagai Ibukota memiliki status khusus sebagaimana dinyatakan dalam UU No 29 tahun 2007. Setelah tidak menjadi ibukota, kemungkinan pertama, Jakarta tidak lagi berstatus sebagai daerah khusus sebagaimana dinyatakan dalam peraturan tersebut. Oleh karena itu, perlu mempertimbangkan kembali ketentuan dalam pasal 18 ayat 1,2, dan 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa propinsidibagi atas kabupaten dan kota otonom, yang tiap-tiap propinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, setiap pemerintahan kabupaten/kota tersebut memiliki DPRD masing-masing. Di samping itu salah kajian juga memperlihatkan bahwa terdapat berbagai masalah kelembagaan dalam disain otonomi tunggal tersebut (P3M STIA LAN-Biro Administrasi Wilayah Jakarta, 2006). Oleh karena itu dimungkinkan bahwa dengan pemindahan ibukota akan merubah status kabupaten/kota administratif yang saat ini berada dalam wilayah Propinsi DKI menjadi daerah otonom.
- Kelembagaan
dan daerah. Cheema and Rondinelli(1983) menekankan bahwa hal-hal semacam ini sangat penting dalam menentukan hasil pelaksanaan desentralisasi.
Untuk kepentingan ke depan, ada beberapa model kelembagaan yang dapat dikembangkan. Masing-masing skenario di atas memiliki kelemahan dan kelebihan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Berikut ini akan digambarkan
1. Kelembagaan yang terpusat
Disain ini dimaksudkan bahwa nantinya lembaga pemerintahan seluruhnya (sebagian besar) akan dipindahkan dan berkantor di ibukota administrasi.
2. Kelembagaan pemerintahan yang tersebar
Disain ini dimaksudkan bahwa nantinya dimungkinkan tempat kedudukan kantor pemerintahan tersebar di beberapa wilayah. Lembaga-lembaga yang tetap dapat menjalankan fungsinya di lokasinya saat ini dapat dipertahankan berada di lokasi tersebut.
3. Pembagian zona wilayah NKRI dan mendirikan Kantor-kantor regional di zona-zona tersebut Pengaturan ini terkait dengan pemikiran untuk membagi wilayah NKRI ke dalam berbagai zona dan mendirikan Kantor-kantor regional di zona tersebut. Dengan adanya zona-zona tersebut, pemerintah daerah cukup berkoordinasi dengan kantor regional.
- Perencanaan Pembangunan Ibukota
Pemindahan ibukota memerlukan perencanaan yang matang dan waktu yang cukup panjang. Pemindahan ibukota administratif Malaysia ke putrajaya misalnya, dimulai pada tahun 1995 dan mulai dipindahkan pada tahun 1999 yang selanjutnya menjadi wilayah federal pada tahun 2001. Untuk itu dibutuhkan suatu rencana strategis pemindahan ibukota yang dituangkan dalam kebijakan khusus. Pemerintah perlu menetapkan suatu perencanaan dalam berbagai tahapan untuk memindahkan ibukota. Misalnya melalui tahapan persiapan, penyiapan infrastruktur, selanjutnya pemindahan lembaga-lembaga pemerintahan secara bertahap, dan pemantapan.
- Komitmen Politik
Aspek politik juga perlu mendapat perhatian dalam wacana ini. Ibu kota memang identik dengan politik. Dikarenakan pusat pemerintahan dan pengambilan kebijakan strategis terletak di kota itu. Faktor politik mengambil peranan dominan dibandingkan faktor lain. Tidak terealisasinya wacana pemindahan ibukota yang sebelumnya pernah muncul antara lain juga berkaitan dengan aspek politik, di mana terjadi pergantian pimpinan politik. Hal ini memberikan pelajaran bahwa jika pilihan pemindahan ibukota telah ditetapkan, tidak mendapat pertentangan ketika kepemimpinan nasional berganti. Di samping itu, dengan sifat pelaksanannya yang multiyears dan membutuhkan dukungan dana yang besar, tentu memerlukan komitmen politik yang kuat. Diharapkan bahwa Presiden memiliki keberanian yang kuat untuk mengusulkan kebijakan pemindahan ibukota kepada DPR. Berbagai sejarah pemindahan ibukota memperlihatkan bahwa peran pemimpin yang mengusung gagasan tersebut memainkan peranan penting (Rawat, 2005). Salah satu contohnya adalah pemindahan ibukota Kazakhtan dari Almaty ke Astana yang mendapat dukungan kuat dari Presiden Nursuktan Nazarbayev.
multikultural Indonesia. Penentuan suatu ibukota tidak hanya dimaksudkan untuk kepentingan kelompok masyarakat tertentu, namun ibukota adalah untuk kepentingan Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat sebagai representasi masyarakat diharapkan dapat menjembatani aspirasi masyarakat yang mencerminkan kepentingan nasional.
Pemindahan Ibukota dan Penguatan Proses Desentralisasi
Pemindahan ibukota akan mempengaruhi pelaksanaan proses desentralisasi. Hal ini erat kaitannya dengan perubahan hubungan antar organisasi pemerintahan yang dapat berubah dengan diterapkannya kebijakan tersebut. Cheema and Rondinelli(1983) berpendapat bahwa hubungan antar organisasi pemerintahan (intergovernmental relationship) dapat berdampak pada kebijakan desentralisasi dalam hal-hal seperti hasil-hasil kebijakan, dampak bagi kapasitas dan institusi pemerintah daerah dalam perencanaan, mobilisasi sumber daya, implementasi, di samping juga pada akses terhadap fasilitas pemerintahan.
Tujuan pemindahan ibukota sangat mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu pemindahan ibukota harus dipandang sebagai suatu instrumen untuk meperkuat proses desentralisasi. Dengan kata lain bahwa pemindahan ibukota perlu ditujukan untuk memperkuat upaya-upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pelayanan publik, dan memperkuat daya saing daerah.
PENUTUP
Berbagai masalah yang terjadi di Jakarta menjadikan wilayah ini dianggap sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsinya sebagai ibukota Negara RI. Hal ini mendorong munculnya kembali pemikiran untuk melakukan pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke tempat lain.Memindahkan ibukota Negara dari suatu wilayah ke wilayah lain tentu bukan merupakan persoalan yang mudah. Terlebih bagi Negara kesatuan seperti Republik Indonesia yang memiliki kondisi geografis yang unik berupa Negara kepulaun. Jika pun ibukota Negara dipindahkan, seyogyanya tidak sekedar ditujukan untuk mengatasi permasalahan kepadatan dan kemacetan Jakarta. Jika pemindahan ibukota jadi dilakukan, Ibukota yang baru akan memiliki peranan yang penting sebagaimana DKI Jakarta dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan Negara Republik Indonesia.
Diperlukan kesiapan dari berbagai aspek, termasuk diantaranya penyiapan kebijakan, disain administrasi pemerintahan, pengorganisasian kelembagaan, perencanaan secara bertahap dalam pembangunan ibukota, dan didukung oleh komitmen politik yang kuat. Tidak kalah pentingnya dalam merumuskan kebijakan pemindahan ibukota adalah bahwa tujuan pemindahan ibukota perlu diletakkan dalam kerangka penguatan proses pelaksanaan desentralisasi.
Penulis menyadari bahwa paparan dalam tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan. Saran dan masukan yang bersifat membangun sangat diharapkan sehingga ke depan dapat bermanfaat bagi telaah pemindahan ibukota yang lebih mendalam. Sejalan dengan tujuan tulisan ini, kiranya hasil dari diskusi yang dilakukan pada hari ini juga dapat memberikan perbaikan positif guna penyempurnaan rekomendasi kebijakan yang disusun.
Cheema, G. Shabir dan Dennis Rondinelli, Decentralization and Development Policy Implementation in Developing Country, 1983, Sage Publication, New Delhi
P3M STIA LAN, Biro Administrasi Wilayah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Otonomi Tunggal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,2007,Jakarta
PKKOD-LAN, Administrasi Pemerintahan Daerah yang Memiliki Otonomi Khusus, 2008, Lembaga Administrasi Negara, Jakarta
Rawat, Rajiv, Capital City Relocation: Global Perspectives in The Search for An Alternative Modernity, 2005, Department of Geography York University, Toronto
Rosenberg, Countries With Multiple Capital City,http://geography.about.com/od/political geography/a/multiple capital.htm
Sutikno (2007), Perpindahan Ibukota Negara Suatu Keharusan atau Wacana, makalah disampaikan dalam diskusi “Sejarah, Kota, dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Sejarah”, 11-12 April 2007, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
Situs internet
http://sites.google.com/site/boliviacapital/facts-la-paz http: //www.perlukah ibukota dipindahkan
http://sites.google.com/site/boliviacapital/the-answer-to-why-bolivia-has-two-capital-cities http://wapedia.mobi/en/Capital_districts_and_territories
http://www.babylon.com/definition/capital_city/ http://www.politik.vivanews.com
http://www.memkokesra.go.id/context/view/7146/1/ , Pusat Pemerintahan Sebaiknya dipindah ke Jonggo Kedutaan besar Kazakhtan, http:// www.kazakhembus.com/index.php?page=astana
Rosenberg, Countries With Multiple Capital City,http://geography.about.com/od/political geography/a/multiple capital.htm
The Jakarta Post, SBY:New Capital City Needs Consideration,12 April 2009
[1]Dikutip dari situs http://wapedia.mobi/en/Capital_districts_and_territories
[2] Dikutip dari situs vivanews.com
Diposkan oleh DR. ADI SURYANTO di 21.54
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lama
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Entri Populer
Pemindahan Ibukota Dalam Perspektif Administrasi Negara
PENDAHULUAN Ibukota memainkan peran yang sangat strategis bagi suatu negara, karena menjadi pusat dari berkumpulnya kekuasaan politik dan...
Governance means there is no one centre but multiple centres; there is no sovereign authority ... ” (Rhodes 1997: 109) Governance is “ the ...
Hakekat Pemerintah Daerah Dalam Kerangka NKRI
Pendahuluan Sejarah bangsa Indonesia telah memberikan pelajaran bagi kita betapa sulitnya para pendiri bangsa ini memikirkan dan memutuskan...
Pengikut
Arsip Blog
▼ 2011 (3)o ▼ Januari (3)
Pemindahan Ibukota Dalam Perspektif Administrasi N...
Upaya Pemerintah Kota Mewujudkan GLG di Era Otda
Hakekat Pemerintah Daerah Dalam Kerangka NKRI
Mengenai Saya
DR. ADI SURYANTO
bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Dr. Adi Suryanto, dilahirkan di KEBUMEN Jawa tengah (1969, adalah Kepala Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah di Lembaga Administrasi Negara; selain itu juga sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi pada Program Magister...Mengajar di berbagai Diklat PNS, baik Pim Tk II, III maupun IV. Aktivitas lainnya juga menjadi Pengajar di Sespim POLRI untuk mata ajar OTONOMI DAN PEMBANGUNAN DAERAH, menjadi narasumber di berbagai seminar dan diskusi, baik lokal, nasional maupun internasional. Adi Suryanto juga aktif menjadi anggota Tim Teknis Nasional Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemda, Tim Nasional Penilaian Citra Pelayanan Publik (CPP).
Lihat profil lengkapku