Stabilitas Politik dan Demokrasi Ekonomi

15 

Teks penuh

(1)

Stabilitas Politik dan Demokrasi Ekonomi sebagai Dasar

Pembangunan: Perspektif Pancasila

1

Oleh: Donie Kadewandana Malik

2

I. Pendahuluan: Menengok Sejarah, Melihat Realitas Kekinian

Stabilitas politik dan pembangunan ekonomi merupakan subjek penting

sekaligus menarik untuk dibahas, terutama bila dikaitkan dengan negara yang

sedang membangun (developing country)3. Ketika kita mendiskusikan subjek ini,

tentu tak bisa dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan negara. Siapa pun

pemimpin negara yang tengah berkuasa pasti menginginkan stabilitas politik yang

kokoh agar roda pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik.

Bila kita membuka catatan sejarah, kosakata “stabilitas” dan

“pembangunan” porsinya lebih banyak kita saksikan di masa Pemerintahan Orde

Baru yang dikomandoi oleh Soeharto. Di masa itu, stabilitas menjadi prasyarat

utama yang ditanamkan sebagai pondasi pembangunan. Di masa

pemerintahannya, Soeharto merencanakan dan menyelenggarakan pembangunan

berbasis stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan.

1

Disampaikan dalam diskusi interaktif “Internalisasi Pancasila dalam Peningkatan Stabilitas

Politik sebagai Upaya Memperkokoh Ketahanan Nasional,” Pusat Studi Pancasila (PSP), Universitas Pancasila, Jakarta,17 Maret 2017. Paper ini kemudian dijadikan prosiding ilmiah oleh Pusat Studi Pancasila UP.

2 Dosen Komunikasi Politik dan Pancasila, Universitas Pancasila, Jakarta. 3

(2)

Semua penghambat pembangunan, termasuk segala hal yang dapat

memantik instabilitas bangsa harus ditiadakan (untuk tidak menyebut

dilenyapkan). Hal itu sejalan dengan trilogi yang kerap digaungkan oleh Orde

Baru, yakni Trilogi Pembangunan, yaitu terwujudnya stabilitas nasional yang

sehat dan dinamis, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pemerataan

pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi

seluruh rakyat.

Trilogi ini merupakan grand design yang diintrodusir Soeharto guna

mewujudkan tujuan negara sebagaimana amanat Pembukaan Undang-Undang

Dasar 1945, yaitu: mewujudkan pemerintahan yang melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan negara

itu, dalam kerangka negara Orde Baru mesti dicapai berdasarkan Pancasila.

Di dalam tulisan ini, penulis tidak akan menjelaskan lebih jauh mengenai

stabilitas politik dan pembangunan di masa Pemerintahan Orde, namun penulis

hanya menyinggung sedikit untuk memberikan gambaran singkat dan mengambil

pelajaran dari sisi positif. Ini perlu dilakukan karena stabilitas yang dibangun oleh

Orde Baru begitu terencana dan aplikatif, terlepas dari sisi negatifnya.

Tulisan ini lebih bertujuan untuk menyoroti dan mengkaji lebih dalam

stabilitas politik-keamanan dan pembangunan ekonomi di dalam pemerintahan

(3)

ini dibuat, usia Pemerintahan Jokowi-JK hampir memasuki tahun ke-3 (dilantik

sebagai presiden-wakil presiden pada 20 Oktober 2014). Masa Pemerintahan Joko

Widodo-Jusuf Kalla berbeda dengan Orde Baru, dalam kategori Samuel

Huntington4, masa saat ini dikatakan telah memasuki fase gelombang ketiga

menuju konsolidasi demokrasi, sehingga tidak bisa dibandingkan secara apple to

apple dengan masa Orde Baru yang sentralistik.

Bangunan pemerintahan yang terbentuk di Era Reformasi sudah

desentralistik dan demokratis. Pemilu telah berjalan secara reguler dan relatif

inklusif. Sistem kepartaian pun sudah tidak menganut apa yang di sebut Giovani

Sartory dengan Hegemonic Party Sistem5, sebagaimana yang diterapkan Orde

Baru dengan Golkar sebagai partai pemerintah yang dominan. Rakyat diberikan

kebebasan untuk menyatakan pendapat dan berekspresi secara terbuka. Media pun

juga sudah bebas berdiri dan tak ada campur tangan dari pemerintah, serta tak ada

sensor maupun pembreideilan.

II. Stabilitas Politik-Keamanan dalam Bingkai Pancasila

Pada bagian pembahasan ini, penulis akan menjelaskan mengenai

stabilitas politik-keamanan dan pembangunan ekonomi yang terbentuk di dalam

Pemerintahan Jokowi-JK selama dua setengah tahun. Kedua aspek ini dibahas dan

dianalisis secara terpisah untuk memberikan ulasan yang terperinci sehingga dapat

4 Samuel P. Huntington, Gelombang Demokrasi Ketiga, Jakarta: Grafiti Pers, 1995, hlm.77 5 Lihat Afan Gaffar, Javanese Voters: A Case of Election under a Hegemonic Party System,

(4)

memberikan pemahaman yang jelas. Selain itu, kedua aspek ini akan dianalisis

dalam perspektif Pancasila, yang merupakan dasar dalam bernegara.

A. Stabilitas Politik dalam Sistem Multipartai dan Keamanan Domestik

Pasca Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden-Wakil Presiden pada 20

Oktober 2014, rancang bangun pemerintahan dan peta politik terlihat begitu

dinamis. Sebagaimana diketahui, pemerintahan Jokowi-JK dibentuk melalui

proses koalisi beberapa partai politik. Ini terjadi karena di Pemilu Legislatif 2014

tidak ada partai yang mendapat suara mayoritas (50% lebih). Jangankan 50%,

partai yang mencapai 20% pun tidak ada. PDI Perjuangan yang menjadi

pemenang Pemilu Legislatif pun hanya mendapat 18,95%. Padahal untuk dapat

mengusung calon presiden sesuai UU Pemilu Tahun 2012, sebuah partai wajib

mendapat 20% suara secara nasional. Sehingga pada saat itu, mau tidak mau

partai-partai yang ada harus berkoalisi guna mendapat tiket Pemilihan Presiden

2014.

Koalisi yang dibangun partai-partai dalam Pemilihan Presiden 2014

terbagi menjadi dua. Partai pendukung Jokowi-JK (Koalisi Indonesia Hebat)

berjumlah 4 partai, yaitu PDI Perjuangan, PKB, Hanura, dan Partai Nasdem.

Sedangkan Golkar, Gerindra, PAN, PPP, dan PKS (Koalisi Merah Putih)

mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sementara Partai Demokrat memilih

untuk menjadi partai non-blok.

Ketika di awal Pemerintahan Jokowi-JK, kondisi politik di parlemen

(5)

pemerintah. Pada waktu itu, Pemerintahan Jokowi-JK kerap mengalami kesulitan

di dalam membuat kebijakan-kebijakan yang efektif di lingkar eksekutif. Karena

itu, Presiden Jokowi kerap melakukan komunikasi politik dengan partai yang

berada di barisan oposisi.

Berkat komunikasi politik yang intensif, akhirnya Golkar dan PAN

menyatakan diri bergabung ke dalam partai pemerintah. Dengan bergabungnya

Golkar dan PAN di barisan pemerintah, maka kekuatan politik di legislatif secara

otomatis berubah. Di barisan koalisi pendukung pemerintah terdapat enam partai

politik dengan kekuatan 347 kursi di DPR, yaitu PDI Perjuangan (109 kursi),

Partai Golkar (91 kursi) PAN (48 kursi), PKB (47 kursi), Partai Nasdem (36

kursi), dan Partai Hanura (16 kursi).

Sedangkan di lini oposisi, yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih,

hanya menyisakan tiga partai yang kekuatannya berjumlah 152 kursi, yaitu Partai

Gerindra (73 kursi), PKS (40 kursi), dan PPP (39 kursi). Pasca bergabungnya

Golkar dan PPP ke barisan pendukung pemerintah, Koalisi Merah Putih akhirnya

dibubarkan karena mengalami defisit suara. Partai lainnya, seperti PKS terlihat

secara samar merapat ke barisan pemerintah setelah KMP bubar. Sementara PPP

terbelah karena konflik internal. Kubu PPP Romahurmuzy mendekat ke

pemerintah, sedang kubu PPP Suryadarma Ali-Djan Faridz berada di luar

pemerintah. Namun, kedua kubu tersebut saat tulisan ini dibuat akhirnya

(6)

Alhasil, kini partai oposisi hanya satu yang bertahan yakni Gerindra.

Sementara Partai Demokrat lebih nyaman disebut sebagai partai penyeimbang.

Dengan demikian, kekuatan politik di DPR berhasil dikuasai oleh partai koalisi

pendukung pemerintah. Stabilitas politik yang ada perlahan mulai kondusif dan

kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak menghadapi pertentangan

yang tajam.

Walaupun demikian, kehadiran oposisi juga tetap dibutuhkan sebagai

fungsi check and balance guna menyeimbangkan jalannya pemerintahan agar

tetap berada di rel yang benar. Bahkan menurut Robert Dahl, keberadaan oposisi

dapat menjadi tolok ukur tingkat kadar sehat atau tidaknya negara demokrasi.6 Hal ini juga senada dengan apa yang pernah diungkapkan oleh sejarawan politik

Inggris Lord Acton, bahwa kekuasaan pemerintahan yang terlalu besar dan tanpa

adanya pengawasan berpotensi terjadinya kesewenang-wenangan.

Kendati kondisi politik di tingkat nasional dapat dikondusifkan, namun

situasi politik mulai kembali memanas tatkala Pemilihan Gubernur DKI Jakarta

2017 berlangsung. Partai-partai yang berkoalisi di DPR, pada tataran Pilkada DKI

terbelah. PDI Perjuangan, Nasdem, Golkar, dan Hanura, berada di barisan

pendukung cagub-cawagub Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-DJarot Saiful

Hidayat. Sementara Partai Demokrat, PKB, PAN, PPP mengusung Agus

Harimurti Yudhoyono-Silviana Murni. Kemudian, Gerindra dan PKS mendukung

Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno.

(7)

Sampai dengan tulisan ini dibuat, dari hasil Pemilihan Gubernur DKI

Jakarta ternyata tidak ada calon yang memenangkan pemilihan karena tidak ada

yang mendapat suara mayoritas 50% lebih, sehingga harus dilakukan pemilihan

tahap kedua. Dari data KPU7, hasil pemilihan menunjukkan Agus Harimurti

Yudhoyono-Sylviana Murni mendapat suara sebanyak 936.609 (17.07%), Basuki

Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sebanyak 2.357.637 (42.96%), dan

Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno sebanyak 2.193.636 (39.97%).

Di tahap kedua ini pasangan cagub-wagub yang lolos adalah Basuki Tjahaya

Purnama (Ahok)-Jarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Sementara partai yang tadinya mendukung Agus Harimurti Yudhoyono-Silviana

Murni mulai mendekat ke salah satu pasangan calon yang maju ke tahap dua.

Hemat penulis, walaupun nuansa politik memanas di Pemilihan Gubernur

DKI, terlebih banyak isu agama yang dibawa di dalam proses kampanye, namun

stabilitas politik di tingkat nasional masih terlihat kondusif. Dalam hal ini, roda

Pemerintahan Jokowi-JK (eksekutif) relatif berjalan dengan baik, terutama dalam

proses pembuatan kebijakan dan relasi dengan legislatif (DPR). Namun, bukan

berarti harus pemerintah lepas tangan. Sentimen keagamaan yang terlalu kuat

dalam politik, khususnya pilkada, berpotensi memicu disintegrasi bangsa. Oleh

karena itu, pemerintah bersama-sama civil society, ormas Islam, dan para tokoh

agama diharapkan dapat bergandeng tangan guna menangani polemik sentimen

keagamaan yang sudah melampaui batas apalagi sampai menciderai nilai-nilai

Pancasila.

(8)

Dari elaborasi di atas, menunjukan bahwa siapapun pemimpin (presiden)

yang berkuasa di era multipartai seperti sekarang ini akan terlihat kesulitan jika

hanya mengandalkan kekuatan satu partai. Karena dengan banyaknya partai, maka

dipastikan tetap harus ada koalisi untuk menstabilkan kondisi politik di parlemen.

Inilah harga yang diharus dibayar jika sistem kepartaian menganut multipartai

terlebih dengan sistem pemilu proporsional yang mengandalkan suara terbanyak.

Karena itu, saran dan rekomendasi penulis untuk demokrasi yang lebih

stabil ke depannya, penyederhanaan partai perlu dilakukan, tentunya dengan tidak

menghambat proses demokratisasi seperti zaman Orde Baru dahulu. Menurut

penulis 5 partai adalah angka yang sesuai untuk mencapai demokrasi dan politik

pemerintahan yang lebih stabil. Lima partai tersebut meliputi: 2 partai nasionalis,

1 partai Islam berbasis massa islam NU, 1 partai berbasis massa Islam

Muhammadiyah, dan 1 partai berasas Islam.

Dalam konteks negara Pancasila, sirkulasi kekuasaan yang berputar di

masa Reformasi sudah berjalan dengan semestinya karena berlangsung secara

teratur dan demokratis. Jadi, pemilu dan pilkada yang ada di masa Reformasi

sudah sesuai dengan demokrasi politik. Artinya, rakyat sebagai pemegang

kedaulatan utama sudah diberi ruang kebebasan yang luas untuk mengekspresikan

sikap politiknya dan memilih pemimpin yang dikehendaki sesuai dengan

aspirasinya masing-masing. Tinggal bagaimana strategi presiden (eksekutif)

mengkonsolidasikan dan menstabilkan kekuatan politik di parlemen (legislatif),

(9)

dan efisien melalui mekanisme musyawarah mufakat, yang pada akhirnya

pembangunan dapat berjalan stabil.

Selain itu, dalam hal stabilitas keamanan di paruh Pemerintahan

Jokowi-JK relatif kondusif. Hanya ada beberapa peristiwa yang sempat membuat

mencekam pemerintahan. Seperti adanya aksi massa bela Islam oleh segelintir

masyarakat dan kelompok Islam yang dipicu oleh pernyataan Basuki Tjahaja

Purnama alias Ahok terkait Surat Al-Maidah ayat 51. Peristiwa ini muncul di kala

proses Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 tengah berjalan. Kemudian, adanya

aksi teror bom di beberapa tempat yang sempat membuat riuh situasi. Namun,

gangguan-gangguan kemanan itu dengan cepat dan taktis dapat diantisipasi oleh

pihak aparat keamanan, baik itu kepolisian maupun TNI. Hubungan Presiden

dengan TNI dan Polri pun relatif solid di dua tahun setengah pemerintahan

berjalan, sehingga membuat erat koordinasi di antar keduanya, terutama ketika

ada ancaman keamanan.

B. Demokrasi Ekonomi dalam Bingkai Pancasila

Ide mengenai demokrasi ekonomi hampir sama dengan demokrasi politik.

Keduanya mesti bertumpu pada rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.

Bahkan Bung Hatta pernah mengingatkan, “Demokrasi politik saja tidak dapat

(10)

pula berlaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka,

persamaan dan persaudaraan belum ada.”8

Sebagaimana ide demokrasi politik, demokrasi ekonomi juga didasarkan

pada pengalaman buruk peradaban manusia masa lalu ketika kediktatoran

penguasa mengekploitasi kehidupan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Pada

saat itu, raja-raja tidak hanya berkuasa penuh secara politik dan juga militer tetapi

juga ekonomi. Berbagai macam kekayaan alam, tanah, beserta sumber daya

lainnya dimonopoli oleh negara.9

Dalam kerangka Pancasila, Yudi Latif di dalam bukunya Revolusi

Pancasila mengemukakan tujuan revolusi pancasila yang salah satunya adalah

revolusi ekonomi. Di dalamnya disebutkan bahwa revolusi ekonomi bertujuan

untuk penghapusan sistem ekonomi kapitalistik-kolonialistik, menjadi sistem

ekonomi yang merdeka, berkeadilan, dan berkemakmuran. Ini bermakna bahwa

tujuan revolusi pancasila sebagai emansipasi kemanusiaan harus sejalan dengan

tujuan kemerdekaan yang terkandung dalam alinea kedua Pembukaan UUD NKRI

1945, yakni mewujudkan perikehidupan kebangsaan dan kewargaan, yang

merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur (material dan spiritual),

berlandaskan nilai-nilai Pancasila.10

Lebih jauh, gagasan revolusi pancasila yang disusun Yudi Latif terdiri atas

tiga basis: superstruktur mental-kultural, basis material, dan agensi politikal.

8

Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, Jakarta: Panji Masyarakat, 1960.

9 Jimly Asshiddiqie, “Memperkenalkan Gagasan Konstitusi Ekonomi“, dipresentasikan di

Universitas Trisakti, Jakarta, 12 Juli. Diakses dari http://www.jimly.com

(11)

Dimensi demokrasi ekonomi tertuang di dalam basis material yang diarahkan

untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan

berkemakmuran; berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong-royong) dan

penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting-yang menguasai

hajat hidup orang banyak, serta atas bumi, air, dan kekayaan alam yang

terkandung di dalamnya; seraya memberikan peluang bagi hak pribadi dengan

fungsi sosial.11

Dalam konteks itu, demokrasi ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai

Pancasila tidak sekadar mengacu pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi lebih

dari itu akses terhadap ekonomi harus menyentuh rakyat secara keseluruhan,

sehingga terjadi pemerataan. Bukan yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap

miskin. Tapi semuanya dapat mengakses ekonomi secara berkeadilan dan

berkemakmuran, berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong-royong).

Jika kita melihat realitas cakupan kebijakan ekonomi yang selama ini ada,

maka kebijakan pengentasan kemiskinan di Indonesia dominan masih terpusat di

Jawa. Lebih dari setengah orang Indonesia tinggal di Jawa sehingga wajar jika

orang miskin juga sebagian besar menetap di Jawa. Di sisi lain, jika kita melihat

tingkat kemiskinan, sebenarnya program pengentasan kemiskinan harus berfokus

pada daerah-daerah non-Jawa, khususnya Indonesia bagian Timur. Sebagai

gambaran, tingkat kemiskinan di Jawa dan Bali pada September 2014 itu rata-rata

hanya berkisar 10,4 persen atau 15,3 juta orang. Tetapi tingkat kemiskinan di

(12)

timur Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) nyaris mencapai 20 persen,

sekitar 3 juta jiwa.12

Lalu bagaimana dengan kebijakan pembangunan ekonomi yang dibuat

oleh Pemerintahan Jokowi-JK? Penulis tidak bisa menyimpulkan secara

mendalam mengingat usia pemerintahan baru setengah perjalanan, dan proses

pembangunan masih terus berjalan. Namun, berdasarkan penelusuran penulis dari

laporan media massa, hingga awal 2017, Jokowi telah membuat 15 paket

kebijakan ekonomi yang tujuannya untuk menstabilisasi perekonomian domestik

di tengah tekanan ekonomi global. Kebijakan yang dibuat dalam sudut pandang

pemerintah sebagaimana dilaporkan media, tidak saja berupa stimulus bagi dunia

usaha, tetapi juga langsung kepada rakyat banyak terutama yang berpenghasilan

rendah. 15 paket kebijakan ekonomi ini bila dicermati mencoba untuk

memberikan akses ekonomi yang seluas-luasnya bagi rakyat banyak di berbagai

daerah di Indonesia. Terutama bagi akses penduduk di luar Jawa. Yang terpenting

dari semua itu, bahwa keputusan yang diambil pemerintah melalui proses dan

pertimbangan yang baik sehingga hasilnya diharapkan dapat berkualitas dan

bertumpu pada kepentingan rakyat banyak.

12

Dzulfian Syafrian dan Didik J. Rachbini, Stabilitas Politik dan Demokrasi Ekonomi di

Indonesia, diakses pada 14 Maret 2017, dari

(13)

III. Kesimpulan

Di awal kekuasaan Pemerintahan Jokowi-JK, kondisi politik nasional,

tepatnya di parlemen cenderung belum stabil. Hal itu terlihat, dari adanya

kegaduhan politik di DPR sehingga pemerintah kerap mengalami kesulitan di

dalam membuat kebijakan-kebijakan yang efektif di lingkar eksekutif. Namun

setelah Presiden Jokowi intens melakukan komunikasi politik dengan partai yang

berada di barisan oposisi, kekuatan politik di DPR kemudian berhasil dikuasai

oleh partai koalisi pendukung pemerintah. Stabilitas politik saat ini terlihat mulai

kondusif dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak menghadapi

pertentangan yang tajam. Selain itu, pilkada yang sudah digelar secara serentak

menunjukan bahwa demokrasi politik relatif berjalan baik dan partisipasi politik

juga terlihat relatif mengalami kenaikan. Ini menunjukan adanya kesesuaian

dengan amanat Pancasila, terutama sila keempat. Masalah keamanan nasional pun

relatif terkendali dengan adanya koordinasi yang erat di antara penegak hukum,

walaupun ada riak-riak kecil yang muncul.

Dari sisi pembangunan perekonomian, khususnya bidang infrastruktur, di

masa Pemerintahan Jokowi-JK masih terus berjalan, sehingga terlalu dini bila

penulis memberi penilaian secara dalam. Namun, kita semua berharap

perekonomian yang berkeadilan, berlandaskan gotong-royong, dan pemerataan

diharapkan dapat tercapai. Sehingga demokrasi ekonomi yang diamanatkan

konstitusi dan Pancasila dapat benar-benar terpenuhi, paling tidak sudah on the

(14)

Terakhir, dapat disimpulkan bahwa relasi stabilitas politik-keamanan dan

pembangunan ekonomi sesungguhnya tak dapat dipisahkan. Bila stabilitas

politik-keamanan tercipta, maka pembangunan ekonomi akan bisa terselenggara dengan

baik pula. Yang menjadi tantangan ke depan adalah terkait sistem multipartai. Jika

ke depannya kita masih menganut sistem tersebut, kondisi politik bangsa relatif

sulit berjalan dengan baik terlebih jika pemimpin nasional tidak bisa menjaga

hubungan baik dan melakukan komunikasi politik antar partai. Maka dari itu, ke

depannya penyederhanaan partai diperlukan guna menghasilkan pemerintahan

yang stabil, namun hal itu harus dilakukan dalam koridor yang demokratis.

(15)

Daftar Pustaka

Asshiddiqie, Jimly,“Memperkenalkan Gagasan Konstitusi Ekonomi“,

dipresentasikan di Universitas Trisakti, diakses dari www.jimly.com

Dahl, Robert A., On Democracy, USA: Yale University Press, 1989.

Gaffar, Afan, Javanese Voters: A Case of Election under a Hegemonic Party

System, Yogyakarta: UGM Press, 1992.

Hatta, Mohammad, Demokrasi Kita, Jakarta: Panji Masyarakat, 1960.

Huntington, Samuel P., Gelombang Demokrasi Ketiga, Jakarta: Grafiti Pers,

1995.

Latif, Yudi, Revolusi Pancasila, Jakarta: Mizan, 2015.

Syafrian, Dzulfian dan Didik J. Rachbini, Stabilitas Politik dan Demokrasi

Ekonomi di Indonesia, diakses dari https://dzulfiansyafrian.wordpress.com

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...