Efektivitas Kinerja Pemerintah Daerah Dalam Pemulihan Kondisi Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo (Studi pada Desa Bekerah,Simacem,Suka Meriah)

41 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sinabung adalah salah satu

menjadi puncak tertinggi ke 2 di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.451

meter.Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak

aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010.

Pada

Pada tanggal

2010, 17.15 UTC), gunung Sinabung mengeluarkan lava.

Status gunung ini dinaikkan menjadi Awas. Dua belas ribu warga

disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung

cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagia

Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi

sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00

WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer.

Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa

(2)

Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini

merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29

Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu

vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.

Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, sampai 18

September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal

15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Pada

17 September 2013, terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari. Letusan ini

melepaskan

akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Hujan

abu mencapai kawasan

dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke

kawasan aman.

Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke level 3 menjadi

Siaga. Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada tanggal 29

September 2013 status diturunkan menjadi level 2, Waspada. Namun demikian,

aktivitas tidak berhenti dan kondisinya fluktuatif.

Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas dengan

letusan-letusan yang semakin menguat, sehingga pada tanggal 3 November 2013 pukul

03.00 status dinaikkan kembali menjadi Siaga. Pengungsian penduduk di

desa-desa sekitar berjarak 5 km dilakukan.

Letusan-letusan terjadi berkali-kali setelah itu, disertai luncura

(3)

2013 semenjak sore, dilanjutkan pada hari berikutnya, sebanyak lima kali.

Terbentuk kolom abu setinggi 8000 m di atas puncak gunung. Akibat rangkaian

letusan ini

vulkanik. Pada tanggal 24 November 2013 pukul 10.00 status Gunung Sinabung

dinaikkan ke level tertinggi, level 4 (Awas).

Status level 4 (Awas) ini terus bertahan hingga memasuki tahun 2014.

Guguran lava pijar dan semburan awan panas masih terus terjadi sampai 3 Januari

2014. Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan

luncuran awan panas terus-menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa

tambahan warga untuk mengungsi, hingga melebihi 20 ribu orang.

Setelah kondisi ini bertahan terus, pada minggu terakhir Januari 2014

kondisi Gunung Sinabung mulai stabil dan direncanakan pengungsi yang berasal

dari luar radius bahaya (5 km) dapat dipulangkan.

Namun demikian, sehari kemudian 14 orang ditemukan tewas dan 3 orang

luka-luka terkena luncuran awan panas ketika sedang mendatangi Des

(sumber:

Dalam peristiwa ini, Desa desa yang terletak di kaki Gunung Sinabung

dengan radius 3 km yaitu Desa Bekerah, Suka Meriah, dan Simacem sama sekali

tidak lagi layak dihuni. Tiga Desa ini, yang dulunya merupakan Desa tersubur

karena kekayaan alam nya akan tanaman jeruk dan kopi, kini hancur terkena awan

sinabung. Hanya debu pekat Gunung Sinabung yang menyelimuti Tiga Desa

tersebut, awan panas juga tidak henti hentinya meluncur ke tiga desa tersebut.

(4)

jika sudah terkena awan panas dan debu tidak akan ada harapan untuk

menghasilkan.

Dalam menghadapi bencana Gunung Sinabung yang masih terjadi hingga

sekarang, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bekerja sama untuk

membangun kembali kehidupan warga yang terkena himbas Gunung Sinabung

terutama warga di Simacem, Bekerah, dan Suka Meriah. Langkah yang dilakukan

pemerintah awalnya membuat posko pengungsian untuk menampung korban

Gunung Sinabung. Warga di Tiga Desa yang berada di kaki Gunung Sinabung

tersebut diletakkan dalam satu posko yakni posko pengungsian Universitas Karo

(UK). Langkah selanjutnya yang dilakukan Pemerintah yang diwakili oleh BNPB

(Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan BPBD (Badan Penanggulangan

Bencana Daerah) Kabupaten Karo memberikan jatah hidup kepada warga tiga

Desa tersebut.

Tabel 1.1. Data Pos Penampungan Pengungsi

POS PENAMPUNGAN ALAMAT JUMLAH

Jambur Sempakata Jl.Jamin Ginting samping PLN Kabanjahe 2308 Klasis GBKP Jl. Kiras Bangun Kabanjahe 547 GBKP Kota (Gedung KKR) Jl. Kiras Bangun Kabanjahe 300 GBKP Kota (Serbaguna) Jl. Kiras Bangun Kabanjahe 220

(5)

Tabel 1.1. Data Pos Penampungan Pengungsi (Lanjutan)

KWK Berastagi Jl. Udara Berastagi 1560

Mesjid Agung Jl. Veteran simpang 3 Kabanjahe 182 Sentrum (PPWG Kabanjahe)Jl. Nabung Surbakti 86

GBKP Simp. VI Jl. Mariam Ginting 36

Gereja Katolik Jl.Irian 122

TOTAL 5781

(sumber:http://www.detikmedan.com/2013/09/inilah-daftar-posko-penampungan-bencana.html)

Pada tahun 2014, BNPB berencana merelokasi warga korban bencana

Gunung Sinabung terhadap 3 Desa karena melihat kelayakan hidup yang kurang

memadai di posko pengungsian. Tiga Desa tersebut direncanakan di relokasi ke

Hutan Produksi Siosar. Relokasi ini berada di Kecamatan Merek, Kabupaten

Karo, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 17 km dari kota Kabanjahe, ibu kota

Kabupaten Karo. Relokasi ini dilakukan secara bertahap,tidak sekaligus karena

memerlukan waktu yang lama.

Pada tanggal 5 Mei 2015, Kepala Badan Nasional Penanggulangan

Bencana (BNPB), Prof. Dr. Syamsul Maarif M.Si. dan Menteri Lingkungan

Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., bersama Ketua Komisi

VIII DPR RI Saleh Partaonan Daulay, menyerahkan 103 unit rumah dari 370 unit

yang direncanakan untuk tahap pertama kepada pengungsi dari desa Bekerah.

Pada acara ini dilakukan penyambutan oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana S.H.,

laporan dari Danrem 023 Kolonel (Inf) Fachri SIP. serta penandatanganan prasati

(6)

disaksikan masyarakat pengungsi dan tamu undang yang satu diantaranya adalah

Gubernur Sumatera Utara H. Gatot Pujo Nugroho.

Rumah yang dibangun sudah lengkap dengan fasilitas seperti listrik, air,

pembukaan lahan pemukiman seluas 30 Ha, juga telah diselesaikan pekerjaan

perbaikan dan pengerasan jalan sepanjang 9,2 Km. Pembuatan akses jalan yang

membelah hutan ini menelan biaya sebesar Rp 11,5 miliar dan memanfaatkan 11

hektar hutan lindung milik Kementerian Kehutanan RI.

Pembangunan rumah akan dilanjutkan untuk merelokasi penduduk yang

berasal dari desa Simacem dan Suka Meriah. Rumah-rumah yang dibangun

dengan tipe 36 ini berdiri atas dukungan tim gabungan yang terdiri dari

masyarakat pengungsi, masyarakat setempat, serta tenaga 495 prajurit TNI AD

dari Kodam I Bukit Barisan. Total jumlah rumah yang direncanakan dibangun

adalah 2.053 yang secara bertahap dilanjutkan tahun ini. Sedangkan jumlah

pengungsi Sinabung yang rencana akan direlokasi sebanyak 1.700 kepala keluarga

(KK). Terdiri dari masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang

bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman

Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem). Dan untuk lahan pertanian, telah

disiapkan lahan di Siosar seluas 416 hektar.(sumber:

Berdasarkan paparan di atas Peneliti mengangkat konsep tersebut sebagai

bahan skripsi dengan judul Efektivitas Kinerja Pemerintah Daerah Dalam

Pemulihan Kondisi Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten

Karo (Studi di Desa Bekerah,Simacem,Suka Meriah).

(7)

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka

yang menjadi masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Bagaimana Efektivitas Kinerja Pemerintah Daerah dalam Pemulihan

Kondisi Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo (Desa

Bekerah,Simacem,Suka Meriah)?”.

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, tujuan yang hendak dicapai

dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Sejauhmanakah Efektivitas Kinerja Pemerintah

Daerah dalam Pemulihan Kondisi Masyarakat Pasca Erupsi Gunung

Sinabung di Kabupaten Karo (Desa Bekerah,Simacem,Suka Meriah).

2. Untuk menganalisis efektivitas Kinerja Pemerintah Daerah dalam

Pemulihan Kondisi Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung di

Kabupaten Karo (Desa Bekerah,Simacem,Suka Meriah).

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menambah

pengetahuan dan mengembangkan wawasan berfikir yang dilandasi

konsep ilmiah khususnya mengenai keefektivitasan kinerja pemerintah

dalam pemulihan kondisi masyarakat kabupaten karo pasca erupsi

(8)

2. Secara Teoritis, dari penelitian ini akan diperoleh informasi empirik

berdasarkan pijakan teori yang mendukung terhadap efektivitas

kinerja pemerintah.

3. Secara Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi

atau masukan bagi Pemerintah Kabupaten Karo dalam pemulihan.

4. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi

peneliti lainnya yang tertarik dalam bidang ini.

1.5.Kerangka Teori

Kerangka teori diperlukan unuk memudahkan penelitian sebagai pedoman

berfikir bagi peneliti. Oleh karena itu, seorang peneliti harus menyusun suatu

kerangka teori terlebih dahulu sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan

dari sudut mana ia menyoroti masalah yang dipilihnya. Selanjutnya, menurut

Singarimbun dan Effendi teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruksi,

defenisi, dan proporsisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara

sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.1

1.5.1. Efektivitas

Dalam penelitian ini, yang menjadi kerangka teorinya adalah sebagai

berikut :

1.5.1.1.Pengertian Efektivitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang mengandung pengertian

dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas

1

(9)

selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang

sesungguhnya dicapai. Efektivitas menurut Hidayat yang menjelaskan bahwa2

Menurut Agung Kurniawan dalam bukunya Transformasi Pelayanan

Publik

:

“Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target

(kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase

target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya”

Dalam teori Hidayat tersebut,efektivitas hasil dari tercapainya

kuantitas,kualitas,dan waktu dengan sesuai yang sudah ditentukan

sebelumnya.Tidak lari dari sasaran,dalam arti tepat tujuan sesuai dengan yang

dibutuhkan.

3

Adapun Martoyo memberikan definisi sebagai berikut :

“Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi

kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya

yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya”

Berbeda dengan pendapat Hidayat yang melihat dari target yang dicapai,

Agung Kurniawan mengartikan Efektivitas lebih mengacu kepada pelaksanaannya

yang tidak mengandung unsur paksaan tetapi dengan senang hati tanpa ada

tekanan yang dialami selama proses untuk mencapai tujuan dalam organisasi.

4

“Efektivitas dapat pula diartikan sebagai suatu kondisi atau keadaan, dimana

dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana yang digunakan, serta

:

2

Hidayat,Teori Efektifitas Dalam Kinerja Karyawan,(Yogyakarta:Gajah Mada University Press,1986),hlm.12

(10)

kemampuan yang dimiliki adalah tepat, sehingga tujuan yang diinginkan dapat

dicapai dengan hasil yang memuaskan”.

Pendapat Martoyo efktivitas tentang Bagaimana kondisi,tujuan,sarana dan

kemampuan yang dimiliki sejalan dan sesuai,tidak melebihi dan tidak juga

mengurangi.Karena jika tujuan tidak sesuai dengan sarana dan kemampuan yang

tersedia,maka akan sulit untuk menggapai tujuan tersebut.

Sedangkan Schein dalam bukunya yang berjudul Organizational

Psychology Dalam mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai kemampuan

untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan juga bertumbuh, lepas

dari fungsi-fungsi tertentu yang dimiliki oleh organisasi tersebut, Schein dalam

bukunya yang berjudul Organizational Psychology menggambarkan empat hal

tentang Efektivitas :

1. Mengerjakan hal-hal yang benar, dimana sesuai dengan yang seharusnya

diselesaikan sesuai dengan rencana dan aturannya.

2. Mencapai tingkat diatas pesaing, dimana mampu menjadi yang terbaik

dengan lawan yang lain sebagai yang terbaik.

3. Membawa hasil, dimana apa yang telah dikerjakan mampu memberi hasil

yang bermanfaat.

4. Menangani tantangan masa depan Efektivitas pada dasarnya mengacu

pada sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan. 5

Dapat ditarik kesimpulan dari teori-teori diatas bahwa Efektivitas

merupakan salah satu dimensi dari produktivitas, yaitu mengarah kepada

5 Schein, Edgar H, Organizational Culture and Leadership,(San Francisco:Jossey

(11)

pencapaian untuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan

dengan kualitas, kuantitas dan waktu sesuai denga tujuan yang sudah dirancang

atau ditentukan di awal program pelaksanaan kegiatan dalam sebuah organisasi.

1.5.1.2.Pendekatan Efektivitas

Menurut Martani dan Lubis,ada tiga pendekatan dalam mengukur

efektivitas organisasi, yaitu 6

1.5.1.3.Kriteria Pengukuran Efektivitas

:

1. Pendekatan sumber(resource approach) yakni mengukur efektivitas dari

input. Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk

memperoleh sumber daya, baik fisik maupun non fisik yang sesuai dengan

kebutuhan organisasi.

2.Pendekatan proses(process approach)adalah untuk melihat sejauh mana

efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau

mekanisme organisasi.

3.Pendekatan sasaran(goals approach) dimana pusat perhatian pada output,

mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang

sesuai dengan rencana. Steers mengemukakan bahwa efektivitas bersifat

abstrak, oleh karena itu hendaknya efektivitas tidak dipandang sebagai

keadaan akhir akan tetapi merupakan proses yang berkesinambungan dan

perlu dipahami bahwa komponen dalam suatu program saling berhubungan

satu sama lain dan bagaimana berbagai komponen ini memperbesar

kemungkinan berhasilnya program.

6 Martani Huseini dan S.M Hari Lubis,Teori Organisasi,(Jakarta:Pusat antara universitas

(12)

Selain itu, Gibson, Ivancevich dan Donnely memberikan batasan dalam

kriteria efektivitas organisasi melalui pendekatan teori sistem antara lain:7

1. Produksi

Produksi merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi

jumlah dan mutu output sesuai dengan permintaan lingkungan, berapa jumlah

yang dapat dihasilkan dalam memenuhi permintaan.

2. Efisiensi

Konsep efisiensi didefinisikan sebagai angka perbandingan antara

output dengan input. Ukuran efisiensi harus dinyatakan dalam perbandingan

antara keuntungan dan biaya atau dengan waktu atau dengan output.

3. Kepuasan

Kepuasan menunjukkan sampai di mana organisasi memenuhi

kebutuhan para karyawan dan pengguna.

4. Adaptasi

Kemampuan adaptasi adalah sampai seberapa jauh organisasi dapat

menenggapi perubahan ekstern dan intern.

5. Perkembangan

Organisasi harus dapat berkembang dalam organisasi itu sendiri untuk

memperluas kemampuannya untuk hidup terus dalam jangka panjang.

6. Hidup terus

Organisasi harus dapat hidup terus dalam jangka waktu yang panjang.

Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau

tidak, sebagaimana dikemukakan oleh S.P. Siagian ,yaitu:8

7 Gibson, Donnell,dan Ivancevich, Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, Jilid I,

(13)

1. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan supaya

karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan

tujuan organisasi dapat tercapai.

2. Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah

“pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam

mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak

tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.

3. Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap,berkaitan dengan

tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan artinya

kebijakan harus mampu menjembatani tujuan-tujuan dengan usaha-usaha

pelaksanaan kegiatan operasional.

4. Perencanaan yang matang, pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang

apa yang dikerjakan oleh organisasi dimasa depan.

5. Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu

dijabarkan dalam program - program pelaksanaan yang tepat sebab apabila

tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan

bekerja.

6. Tersedianya sarana dan prasarana kerja, salah satu indicator efektivitas

organisasi adalah kemamapuan bekerja secara produktif. Dengan sarana

dan prasarana yang tersedia dan mungkin disediakan oleh organisasi.

7. Pelaksanaan yang efektif dan efisien, bagaimanapun baiknya suatu

program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka

(14)

organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan

pelaksanaan organisasi semakin didekatkan pada tujuannya.

8. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik mengingat

sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut

terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.

Melihat dari teori di atas teori kriteria pengukuran efektivitas organisasi

merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang

akan dicapai serta menunjukan pada tingkat sejauh mana organisasi,

program/kegiatan melaksanakan fungsifungsinya secara optimal. keefektifan

harus mencerminkan hubungan timbal balik antara organisasi dan lingkungan

sekitarnya. Ini berarti bahwa suatu organisasi dapat berjalan efektif jika organisasi

tersebut dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat pengguna layanan.

1.5.2. Kinerja

1.5.2.1.Pengertian Kinerja

Menurut Swanson,kinerja organisasi adalah mempertanyakan apakah

tujuan atau misi suatu organisasi telah sesuai dengan kenyataan kondisi atau

faktor ekonomi, politik, dan budaya yang ada; apakah struktur dan kebijakannya

mendukung kinerja yang diinginkan; apakah memiliki kepemimpinan, modal dan

infrastuktur dalam mencapai misinya; apakah kebijakan, budaya dan sistem

insentifnya mendukung pencapaian kinerja yang diinginkan; dan apakah

organisasi tersebut menciptakan dan memelihara kebijakan-kebijakan seleksi dan

pelatihan, dan sumber dayanya.9

(15)

Suyadi Prawirosentono mengartikan kinerja sebagai performance,yaitu

hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu

organisasi,sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam

rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak

melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.10

Kinerja organisasi yang dikemukakan oleh Bastian dalam Hessel Nogi

sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan tugas dalam suatu

organisasi,dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi tersebut.11

1.5.2.2.Indikator Kinerja

Dari beberapa pengertian diatas,dapat disimpulkan bahwa kinerja

organisasi mengenai tingkat pencapaian tugas anggota organisasi dengan

mengikuti peraturan yang sudah ditentukan oleh organisasi dalam mencapai

tujuan organisasi tersebut.

Adapun indikator kinerja karyawan menurut Guritno dan Waridin adalah

sebagai berikut12

10

Suyadi Prawirosentono,Kebijakan Kinerja Karyawan,(Yogyakarta : BPFE,1999),hlm.2

11

Hessel Nogi S.Tangkilisan,Manajemen Publik,(Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia,2005),hlm.175

12

Guritno dan Waridin,Pengaruh Persepsi Karyawan Mengenai Perilaku Kepemimpinan,Kepuasan Kerja dan Motivasi terhadap kinerja,hlm.63-74

:

1. Mampu meningkatkan target pekerjaan.

2. Mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

3. Mampu menciptakan inovasi dalam menyelesaikan pekerjaan.

4. Mampu menciptakan kreativitas dalam menyelesaikan pekerjaan.

(16)

Berdasarkan keseluruhan pengertian diatas dapat dilihat bahwa kinerja

pegawai merupakan output dari penggabungan faktor-faktor yang penting yakni

kemampuan dan minat, penerimaan seorang pekerja atas penjelasan delegasi tugas

dan peran serta tingkat motivasi seorang pekerja. Semakin tinggi faktor-faktor

diatas, maka semakin besarlah kinerja karyawan yang bersangkutan.

1.5.2.3.Unsur-unsur Kinerja

Adapun unsur-unsur kinerja yang dikutip dari Tika:13

1. Hasil-hasil fungsi pekerjaan

Hasil-hasil fungsi pekerjaan merupakan hasil kerja yang dapat dicapai baik

secara kualitas maupun kuantitas dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi yang

diemban oleh masing-masing pegawai.

2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi karyawan atau pegawai Beberapa hal yang berpengaruh terhadap prestasi pegawai, di antaranya

kualitas sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung serta motivasi

dari pimpinan untuk berprestasi.

3. Pencapaian tujuan organisasi

Kinerja pegawai dalam suatu organisasi dapat dilihat dari pencapaian

tujuan organisasi. Apakah hasil kerja yang dicapai tersebut sesuai dengan tujuan

organisasi yang direncanakan sebelumnya atau tidak. Apabila sesuai dengan

tujuan organisasi, maka dapat dikatakan bahwa kinerja pegawai tersebut sudah

baik.

13

(17)

4. Periode waktu tertentu

Suatu pencapaian kinerja dapat pula dilihat dari periode waktu yang

diperlukan oleh pegawai dalam rangka penyelesaian pekerjaan. Apabila pekerjaan

dapat selesai tepat waktu atau lebih cepat dari yang direncanakan, maka dapat

dikatakan bahwa kinerja pegawai tersebut sudah baik.

1.5.2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Menurut Atmosoeprapto, dalam Hessel Nogi mengemukakan bahwa

kinerja organisasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, secara

lebih lanjut kedua factor tersebut diuraikan sebagai berikut :14

14Hessel Nogi,Op.Cit.,181

a.Faktor eksternal, yang terdiri dari :

1)Faktor politik, yaitu hal yang berhubungan dengan keseimbangan kekuasaan

Negara yang berpengaruh pada keamanan dan ketertiban, yang akan

mempengaruhi ketenangan organisasi untuk berkarya secara maksimal.

2)Faktor ekonomi, yaitu tingkat perkembangan ekonomi yang berpengaruh pada

tingkat pendapatan masyarakat sebagaidaya beli untuk menggerakkan

sektor-sektor lainya sebagai suatu system ekonomi yang lebih besar.

3)Faktor sosial, yaitu orientasi nilai yang berkembang di masyarakat, yang

mempengaruhi pandangan mereka terhadap etos kerja yang dibutuhkan bagi

peningkatankinerja organisasi.

b.Faktor internal, yang terdiri dari :

1)Tujuan organisasi, yaitu apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin diproduksi

(18)

2)Struktur organisasi, sebagai hasil desain antara fungsi yang akan dijalankan

oleh unit organisasi dengan struktur formal yang ada.

3)Sumber Daya manusia, yaitu kualitas dan pengelolaan anggota organisasi

sebagai penggerak jalanya organisasi secara keseluruhan.

4)Budaya Organisasi, yaitu gaya dan identitas suatu organisasi dalam pola kerja

yang baku dan menjadi citra organisasi yang bersangkutan.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak

faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja dalam suatu organisasi. Namun secara

garis besarnya, faktor yang sangat dominan mempengaruhi kinerja organisasi

adalah faktor internal(faktor yang datang dari dalam organisasi) dan faktor

eksternal(faktor yang datang dari luar organisasi). Setiap organisasi akan

mempunyai tingkat kinerja yang berbeda-beda karena pada hakekatnya setiap

organisasi memiliki ciri atau karakteristik masing-masing sehingga permasalahan

yang dihadapi juga cenderung berbeda tergantung pada factor internal dan

eksternal organisasi

1.5.3. Bencana

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007,Bencana adalah peristiwa

atau rangkaian peristiwa yang mengancam kehidupan dan penghidupan

masyarakat yang disebabkan,baik oleh factor alam dan/atau non alam maupun

factor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa

manusia,kerusakan lingkungan,kerugian harta benda,dan dampak psikologis.

Sedangkan menurut Kepmen No.17/kep/Menko/Kesra/x/95,Bencana

adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam,manusia,dan

(19)

harta benda,kerusakan lingkungan,kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum

serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan

masyarakat.Menurut WHO,bencana adalah setiap kejadian yang menyebabkan

kerusakan,gangguan ekologi,hilangnya nyawa manusia,atau memburuknya derajat

kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon

dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena15.John Oliver dalam buku Hand

Book Disaster Research mendefenisikan bencana sebagai 16

Menurut Gustin,bencana itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua

kategori

:

”part of the environmental process that is of greater than expected frequency and

magnitude and causes major “human hardship with significant damage”.(Bagian

dari proses lingkungan yang lebih besar dari frekuensi yang diharapkan dan

penyebab utama ‘kesulitan manusia dengan kerusakan yang signifikan.)

17

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bencana

merupakan peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia,terjadi

secara tiba-tiba atau perlahan-lahan,sehingga menyebabkan hilangnya jiwa : bencana alam atau lingkungan dan bencana yang terjadi karena ulah

manusia atau ciptaannya (teknologi).Bencana alam meliputi seperti angin

puyuh,tornado,banjir,serta gempa bumi.Sementara contoh lain dari bencana yang

disebabkan oleh manusia meliputi kecelakaan material,kecelakaan

radiologi,kecelakaan transportasi,peledakan bom serta kegagalan listrik.

15Ferry Efendi dan Makhfudli,Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam

Keperawatan,(Jakarta:Salemba Medika,2009)

16

Quarantelli E.L & Dynes R.R Rodriquez,Handbook of Disaster Research,(New York:Springer,2007),hlm.9

17Gustin,Disaster and Recovery Planning:A Guide for facility Managers,(Lilburn:The Fairmont

(20)

manusia,harta benda dan kerusakan lingkungan,kejadian ini terjadi di luar

kemampuan masyarakat dengan segala sumberdayanya.

1.5.4. Manajemen Bencana

Manajemen Bencana adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bencsna

beserta segala aspek yang berkaitan dengan bencana,terutama resiko bencana dan

bagaimana menghindari resiko bencana.Manajemen bencana merupakan proses

dinamis tentang bekerjanya fungsi-fungsi manajemen yang kita kenal seperti

planning, organizing,actuating,dan controlling.Cara bekerja manajemen bencana

adalah melalui kegiatan-kegiatan yang ada pada tiap bidang yaitu

pencegahan,mitigasi dan kesiap siagaan,tanggap darurat,serta

pemulihan.Sedangkan tujuannya melindungi masyarakat beserta harta bendanya

dari bencana.

Manajemen bencana sebagaimana dikemukakan oleh Nick Carter dalam

buku The Disaster Management Cycle,digambarkan di bawah ini18

18Nurjanah,dkk,Manajemen Bencana,(Bandung:Alfabeta,2012),hlm.42

(21)

Gambar 1.1 Format Standar Manajemen Bencana

Gambar format standar manajemen di atas hendaknya dimaknakan bahwa

jika telah dilakukan langkah-langkah kegiatan sejak fase pencegahan/mitigasi,dan

kesiapsiagaan,jika kemudian terjadi bencana maka hal tersebut memasuki fase

tanggap darurat,kemudian fase pemulihan dan kemudian kembali lagi ke fase

pencegahan/mitigasi.

Menurut Damon P.Coppola Manajemen bencana secara efektif memanfaatkan

setiap komponen dalam cara berikut19

Merupakan usaha-usaha untuk mengurangi atau menghilangkan bahaya.Mitigasi

berusaha untuk mengobati bahaya yang mempengaruhi masyarakat untuk tingkat

yang lebih rendah.Mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu

dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana sesuai dengan :

1.Mitigasi

19Damon.P.Coppola,Introduction to International Disaster

Management,(Oxford:Butterworth-Heinemann,2007),hlm.8

Response

Rehabilitation

Reconstruction Mitigation

Preparedness

(22)

tujuan utamanya yaitu mengurangi atau meniadakan korban dan kerugian yang

mungkin timbul,maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya

bencana,yaitu terutama kegiatan peredaman.Dapat dikatakan bahwa mitigasi

merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi resiko bahaya untuk

meminimalisir dampak negative yang ditimbulkan.

2.Kesiapsiagaan

Merupakan usaha untuk memperlengkapi orang-orang yang mungkin terkena

dampak oleh bencana atau yang mungkin dapat membantu mereka yang terkena

dampak dengan alat untuk meningkatkan kesempatan mereka untuk bertahan

hidup dan untuk meminimalkan kerugian keuangan dan lainnya.Kesiapsiagaan

merupakan tindakan dimana individu akan mengetahui apa yang harus dikerjakan

utama dalam menghadapi bencana.

3.Tanggap Darurat

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang digunakan dengan

segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang

ditimbulkan,meliputi kegiatan penyelamatan serta pemulihan sarana dan

prasarana.

4.Pemulihan

Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat

dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan mengfungsikan kembali

kelembagaan,prasarana,sarana dengan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi

(23)

Penanggulangan bencana harus didasarkan pada azas/prinsip-prinsip praktis

sebagai berikut20

Penanggulangan bencana pada koordinasi yang baik dan saling

mendukung .Sedangkan keterpaduan dimaksudkan sebagai upaya :

1.Cepat dan tepat

Cepat dan tepat adalah bahwa penanggulangan bencana dilaksanakan

secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan .

2.Prioritas

Prioritas dimaksudkan sebagai upaya penanggulangan bencana yang

didasarkan pada koordinasi yang baik dan saling mendukung.Sedangkan

keterpaduan dimaksudkan sebagai upaya penanggulangan bencana dilaksanakan

oleh berbagai sector secara terpadu yang didasarkan pada kerjasama yang baik

dan saling mendukung.

3.Berdayaguna dan berhasilguna

Dalam mengatasi kesulitan masyarakat dilakukan dengan tidak

membuang waktu,tenaga dan biaya yang berlebihan.

4.Transparansi dan Akuntabilitas

Penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat

dipertanggung jawabkan,sedangkan akuntabilitas adalah bahwa penanggulangan

bencana secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan

hukum.

5.Koordinasi dan keterpaduan

(24)

penanggulangan bencana dilaksanakan oleh berbagai sector secara terpadu yang

didasarkan kerjasama yang baik dan saling mendukung.

6.Kemitraan

Penanggulangan bencana harus melibatkan berbagai pihak secara

seimbang.

7.Pemberdayaan

Penanggulangan bencana dilakukan dengan melibatkan korban bencana

secara aktif.Korban bencana hendaknya tidak dipandang sebagai obyek semata.

8.Non Diskriminatif

Penanggulangan bencana tidak memberikan perlakuan yang berbeda

terhadap jenis kelamin,suku,agama,ras,dan aliran politik apapun.

9.Non-Proselitisi

Dalam penanggulangan bencana dilarang menyebarkan agama atau

keyakinan.

1.5.6 Manajemen Pemulihan

Pemulihan merupakan awal upaya pembangunan kembali dan menjadi

bagian dari pembangunan pada umumnya yang dilakukan melalui rehabilitasi dan

rekonstruksi.Rehabilitasi dapat diartikan sebagai segala upaya perbaikan untuk

mengembalikan fungsi secara minimal terhadap sarana,prasarana dan fasilitas

umum yang rusak akibat bencana.Sedangkan rekonstruksi dapat diartikan sebagai

segala upaya pembangunan kembali sarana,prasarana dan fasilitas umum yang

rusak akibat bencana baik pada level pemerintahan maupun

(25)

biaya/sumberdaya yang besar,sehingga perlu memasukkan ke dalam rencana

pembangunan jangka menengah/panjang.

Aspek pemulihan terkait dengan perbaikan dan pemulihan semua

aspek layanan publik/masyarakat sampai tingkat memadai,termasuk

pemulihan sosial-ekonomi untuk jangka menengah-panjang.Sasarannya adalah

normalisasi/berfungsinya secara wajar berbagai aspek pemerintahan dan

kehidupan masyarakat.Kegiatan Manajemen Pemulihan dilaksanakan sejak

proses penilaian kerusakan dan

kerugian,perencanaan,pelaksanaan,pemantauan,evaluasi pelaksanaan kegiatan

rehabilitasi dan rekonstruksi serta pengawasan yang didukung pendanaan secara

memadai.

1.5.7 Upaya Pemulihan Pasca Bencana

DamonP.Coppola mendefenisikan pemulihan merupakan fungsi dari

manajemen bahaya yang dilakukan oleh Negara,dimana setiap

komunitas,keluarga dan memperbaiki individu,merekonstruksi atau mendapatkan

kembali apa yang hilang ketika bencana terjadi.Idealnya,mengurangi resiko dari

kejadian yang sama ketika bencana tersebut terjadi lagi di masa yang akan

datang21.Setelah terjadi bencana,tindakan pemulihan terencana dan tidak

terencana harus dilaksanakan dan mungkin diperpanjang selama

berminggu-minggu,bulan dan bahkan bertahun-tahun 22

Pada kenyataannya, upaya pemulihan merupakan langkah yang sulit

dan tidak tentu, termasuk informasi,semuanya memiliki peran dalam upaya .

(26)

pemulihan di masyarakat.Pemulihan melibatkan lebih dari sekedar mengganti

apa yang ada.Ini adalah proses yang kompleks,terkait erat dengan tiga fase lain

dari manajemen bencana dan membutuhkan jumlah besar perencanaan,koordinasi

dan pendanaan .

Bagian yang paling penting dalam upaya pemulihan adalah termasuk

rekonstruksi fisik dalam sebuah pembangunan lingkungan. Contoh spesifiknya

meliputi membangun dan memperbaiki bangunan yang rusak,rumah,kawasan

perniagaan,sarana publik,seperti taman,gedung,umum, dan lain-lain.Dalam masa

pemulihan,pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat vital dalam

menentukan seberapa cepat daerah tersebut bisa pulih.

Adapun tipe tipe pemulihan menurut Coppola dapat dibedakanmenjadi:

1. Publik Assistance

Tipe ini mencakup seperti struktur,system dan pelayanan yang

berhubungan dengan pemerintah.Dalam hal ini pemerintah merupakan pihak

yang paling bertanggung jawab dalam memproteksi ketiga hal tersebut,di

samping itu faktor lingkungan juga termasuk ke dalam kategori ini.Tanggung

jawab pemerintah untuk mengatasi bencana yang berkaitan dengan lingkungan

yang cenderung dapat menimbulkan penderitaan pada masyarakat.Apabila

pemerintah gagal,hal itu dapat mengakibatkan bertambahnya resiko bencana

di masa depan.

2.The Housing Sector

Prioritas utama pemerintah adalah untuk mensuplai inspector

perumahan yang memapu mendeterminasi struktur mana yang harus

(27)

diperlukan sama sekali. Untuk mengatasi masalah ini,seorang perencana

harus mengidentifikasi dengan cepat area mana yang bisa untuk

direkonstruksikan,mana yang membutuhkan rekayasa ulang dan mana yang

memerlukan evaluasi lebih lanjut.Untuk daerah yang beresiko tinggi terhadap

pembangunan kawasan perumahan setelah bencana sebaiknya meninggalkan

rencana tersebut dan mencari daerah alternative yang lebih aman untuk

membangun rumah mereka kembali.

3.Economic Recovery

Kehilangan pekerjaan,kehilangan factor produksi,kehilangan kesempatan

bisnis serta pengeluaran pemerintah yang sangat besar merupakan beberapa

dampak bencana terhadap kejatuhan kondisi ekonomi yang harus dikembalikan

sesegera mungkin agar kembali stabil.Pada dasarnya,upaya pemulihan di bidang

ekonomi harus diawali dengan pembangunan industry tersebut.Mengembalikan

eonomi local harus menjadi prioritas utama dalam pemulihan ekonomi bagi

para perencana.Hal itu sangat vital karena bisnis local kembali ke dalam kapasitas

penuh khusunya dalam periode awal upaya pemulihan23

Pemulihan pada masyarakat berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan

mental dalam diri individu,keluarga dan grup sosial

Banyak bisnis yang berimbas kepada bencana secara umum akan

menemukan kegagalan sebagai hasil dari kerugian jangka panjang.Hal ini

khususnya pada bisnis kecil.

4.Individual,Family and Sosial Recovery

24

23

Rittinghouse dan Ransome,Business Continuity and Disaster Recovery for Infosec Managers,(Burlington:Elsevier Digital Press,2005),hlm.171

24 Marsella,Johnson,Watson dan Grycyznski,Ethnocultural Perspectives on Disaster and Trauma

:Foundations,Issues,and Applications,(New York:Springer),hlm.47-48

(28)

gedung-gedung,rumah dan komponen infrastruktur lainnya sudah diperbaiki,masyarakat

akan tetap menderita sampai kebutuhan sosial mereka terpenuhi.Upaya dari

kondisi darurat sosial kemanusiaan yang kompleks,dimana gangguan

keamanan penuh juga cenderung terjadi,seringkali membutuhkan perhatian

yang cukup.

Bencana yang mengakibatkan orang cendera dapat menyebabkan

bertambahnya kebutuhan mengenai rehabilitasi fisik melebihi dampak yang

ditangani oleh masyarakat dan mereka yang sebelumnya mengalami cacat

fisik akan merasakan kerugian yang sangat besar ketika panti sosial dimana

(29)

5.Cultural Recovery

Setelah bencana,masyarakat seringkali menemukann warisan mereka

hancur.Bangunan bersejarah dan struktur lainnya,seni,pakaian dan tradisi

hilang.Kehilangan dari komponen budaya seperti ini dapat menyebabkan

hilangnya identitas masyarakat yang sekarang menjadi tinggal dan

menggunakan dalam bangunan yang tidak menunjukkan kebutuhan budaya

mereka.Mereka mungkin saja menggunakan pakaian yang donasikan oleh

donator yang tidak formal untuk mereka dan makan makanan yang tidak

biasanya mereka makan.Sangat penting untuk memahami nilai-nilai budaya

untuk menentukan langkah pemulihan seperti apa yang tepat untuk

diterapkan di wilayah tersebut.

Menyelenggarakan kegiatan budaya seperti mengikuti kesenian dan

upacara adat yang sudah ada sebelumnya.Dalam pemulihan ini,pemerintah juga

harus mampu meningkatkan jumlah anggota masyarakat dan budaya yang terlibat

dalam kegiatan budaya.Dalam pemulihan ini karakter sari masyarakat juga harus

dipertimbangkan,kondisi,serta situasi masyarakat.Pemerintah juga harus

menyediakan tempat berlangsungnya upacara adat tersebut.25

Adapun tipe-tipe pemulihan menurut Undang-Undang BNPB No.24 tahun

2007:26

25

Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana,No.11/2008

26

Undang undang Republik Indonesia No.24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana

a. rehabilitasi; dan

(30)

Rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a dilakukan

melalui kegiatan:

a perbaikan lingkungan daerah bencana;

b. perbaikan prasarana dan sarana umum;

c. pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;

d. pemulihan sosial psikologis;

e. pelayanan kesehatan;

f. rekonsiliasi dan resolusi konflik;

g. pemulihan sosial ekonomi budaya;

i. pemulihan keamanan dan ketertiban;

j. pemulihan fungsi pemerintahan; dan

k. pemulihan fungsi pelayanan publik.

Rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf b, dilakukan

melalui kegiatan pembangunan yang lebih baik, meliputi:

a. pembangunan kembali prasarana dan sarana;

b. pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;

c. pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat;

d. penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih

baik dan tahan bencana;

e. partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi

kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat;

f. peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;

g. peningkatan fungsi pelayanan publik; dan

(31)

1.5.6.1 Komponen Pemulihan

Adapun komponen dari upaya pemulihan menurut Coppola adalah 27

Dalam perencanaan untuk upaya pemulihan adalah adanya upaya

perbaikan rekonstruksi atau aksi-aksi lainnya yang dapat bertahan lama yang

dapat menopang kehidupan masyarakat.Salah satu opsi yang dapat

membantu manajer bencana seperti memperlakukan penangguhan pada

konstruksi baru.Dalam memulai sebuah perencanaan,diharuskan

mengembangkan sebuah peta kerusakan atas dampak bencana

tersebut.Biasanya dimulai dari dua atau tiga hal yang paling mendesak untuk

dilakukan .

:

1.Perencanaan

28

Koordinasi ketika melakukan proses upaya pemulihan merupakan hal

yang sulit untuk dicapai,tetapi hal tersebut sangat vital untuk mensukseskan

tujuan dari upaya pemulihan di samping mengurangi resiko yang

ada.Kesuksesan dari koordinasi upaya pemulihan pasca bencana bergantung

pada kemampuan perencana untuk mencapai gambaran secara luas dalam

struktur koordinasi

Meskipun usaha yang terbaik sudah dilakukan oleh manajer untuk

melakukan apa yang sudah direncanakan secepat yang dia bisa,ada beberpa

konstruksi yang tidak bisa dikerjakan secara cepat.

2.Koordinasi

29

27Damon P.coppola, Op. Cit.,302

28

Gregory,IT Disaster Recovery Planning For Dummies,(Indiana:Wiley Publishing,Inc,2008), hlm.13

29Schneid & Collins,Disaster Management and Preparedness,(Florida:CRC Press

LLC,2001),hlm.39

(32)

Dalam melakukan koordinasi,dibutuhkan komunikasi dua arah yang

baik antara pihak penerima dan pengirim. Tanpa kedua hal

tersebut,koordinasi yang baik tidak akan tercapai.Komunikasi yang baik

membuat segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya pemulihan berlangsung

aman30

Pengkajian kerusakan dapat membantu perencana atau

mengidentifikasi jumlah dan tipe bangunan yang hancur ataupun perencana

untuk mengidentifikasi jumlah dan tipe bangunan yang hancur ataupun

rusak

.Apabila struktur yang dibentuk sudah benar,hasil dari mekanisme

koordinasi akan menjadi tempat penyimpanan informasi dan bantuan untuk

semua kelompok ataupun individu yang terlibat. Terputusnya hubungan yang

sering terjadi dalam perencanaan dan koordinasi upaya pemulihan seringkali

berasal dari pemahaman yang tidak akurat mengenai apa yang terbaik bagi

masyarakat.

3.Pengkajian Kerusakan

31

.Selama proses perencanaan upaya pemulihan,pengkajian ini akan

bertindak sebagai panduan utama untuk menentukan wilayah yang

membutuhkan prioritas yang seperti apa serta bagaimana mendistribusikan

sumberdaya yang ada secara efektif.Hal ini diperlakukan untuk mendukug

proses pemulihan sebagai sebuah system.Sistem inilah yang nantinya akan

menentukan seberapa cepat proses pemulihan itu berlangsung 32.Dengan

mekanisme koordinasi yang baik dan memaksimalkan jumlah organisasi yang

berpartisipasi,upaya pengkajian akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

30J.F Gustin,Op.Cit., 46

(33)

4.Uang dan Perlengkapan

Tanpa dana yang mencukupi,akan sulit untuk memulihkan suatu

wilayah yang terkena bencana meskipun banyak relawan lokal dan

internasional memberikan bantuan peralatan serta perlengkapan.Investasi

keuangan dalam rekonstruksi suatu komunitas sangat dibutuhkan untuk

memenuhi target upaya pemulihan seperti memperbaiki dan membangun

kembali bangunan yang hancur,memulai kembali perekonomian ataupun

kegiatan lainnya.Tanggung jawab mengenai dana dan rekonstruksi ditentukan

oleh berbagai macam sector dalam komunitas 33

33Rittinghouse dan Ransome ,Op.Cit., 13

Pemerintah merupakan pihak yang bertanggung jawab secara umum

dalam membangun kembali fasilitas umum.Pihak swasta termasuk industri,

individu dan keluarga akan berada di garis depan dalam membangun

kembali sektor perumahan perdagangan,meskipun pemerintah turut

mempunyan andil dalam hal tersebut.Sektor publik dan swasta akan

bekerjasama dan saling berbagi mengenai dana rekonstruksi.Seberapa cepat

Negara yang terkena bencana mampu mengorganisir keuangan dan

sumber-sumber lainnya akan menentukan seberapa cepat dan selektif Negara tersebut

melakukan upaya pemulihan atas terjadinya suatu bencana.Seberapa cepat

Negara yang terkena bencana mengkoordinir faktor keuangan dan sumber

sumber lainnya akan menentukan seberapa cepat Negara tersebut akan pulih

(34)

1.5.7 Peran pemerintah saat pemulihan

Sistem dan alat-alat bahwa pemerintah memiliki kemampuan untuk

mengatasi bahaya yang terjadi dalam masyarakat cenderung relatif sama di

seluruh dunia.Meskipun setiap organisasi manajemen bencana di setiap

Negara telah berkembang secara mandiri dari berbagai macam sumber

daya,sebagai tambahan globalisasi telah memfasilitasi standardisasi

praktik,protokol dan peralatan yang digunakan oleh organisasi manajemen

bencana.

1.5.8 Pelayanan Publik

1.5.8.1 Pengertian Pelayanan Publik

Pelayanan Publik menurut Sinambela dkk adalah sebagai setiap kegiatan

yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap

kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan

menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara

fisik34

Pelayanan publik menurut Wasistiono adalah pemberian jasa baik oleh

pemerintah, pihak swasta atas nama pemerintah ataupun pihak swasta kepada

masyarakat, dengan atau tanpa pemb`ayaran guna memenuhi kebutuhan dan atau

kepentingan masyarakat .

35

Menurut Robert,Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan

pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan

lingkungan badan usaha milik negara atau daerah dalam, barang atau jasa baik .

34

Sinambela,dkk,Reformasi Pelayanan Publik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2010),hlm.128

(35)

dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka

pelaksanaan ketertiban-ketertiban.36

Menurut JokoWidodo,Pelayanan publik adalah pemberian layanan

(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada

organisasi tersebut sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang tekah

ditetapkan37

Secara umum, pelayanan dapat berbentuk barang yang nyata (tangible), barang

tidak nyata (intangible), dan juga dapat berupa jasa. Layanan barang tidak nyata

dan jasa adalah jenis layanan yang identik. Jenis-jenis pelayanan ini memiliki

perbedaan mendasar, misalnya bahwa pelayanan barang sangat mudah diamati

dan dinilai kualitasnya, sedangkan pelayanan jasa relatif lebih sulit untuk dinilai.

Walaupun demikian dalam prakteknya keduanya sulit untuk dipisahkan. Suatu

pelayanan jasa biasanya diikuti dengan pelayanan barang, demikian pula

sebaliknya pelayanan barang selalui diikuti dengan pelayanan jasanya. .

Menurut pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pelayanan

publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh

instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan badan usaha milik negara

atau daerah dalam, dan melayani keperluan orang atau masyarakat yang

mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut sesuai dengan aturan pokok dan

tata cara yang tekah ditetapakan.

1.5.8.2 Ruang Lingkup Pelayanan Publik

36Robert,Pelayanan Publik,(Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1996),hlm.30

37Joko Widodo,Etika birokrasi dalam pelayanan publik,(Malang:CV CITRA

(36)

Nurcholismembagi fungsi pelayanan publik ke dalam bidang-bidang sebagai

berikut38

1.5.8.3 Faktor Pendukung Pelayanan :

a. Pendidikan.

b. Kesehatan.

c. Keagamaan.

d. Lingkungan: tata kota, kebersihan, sampah, penerangan.

e. Rekreasi: taman, teater, museum.

f. Sosial.

g. Perumahan.

h. Pemakaman.

i. Registrasi penduduk: kelahiran, kematian.

j. Air minum.

k. Legalitas (hukum), seperti KT

P, paspor, sertifikat, dan lain-lain.

Ruang lingkup pelayanan publik mencakup semua kebutuhan yang akan kita

penuhi selama menjalani seluruh aktivitas di kehidupan sehari-hari.Dengan

adanya bidang bidang seperti yang di atas,membuat pelayanan bisa semakin

terstruktur dan tidak bercampur satu bidang dengan bidang lainnya.

Menurut Moenir, ada beberapa masalah pokok dari pelayanan yang diberikan

kepada masyarakat, dimana faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan

tersebut antara lain39

38 Nurcholis Hanif,teori dan praktikPemerintahan dan otonomi daerah,(Jakarta:PT.Grasindo

Jakarta,2005)Hlm.180

(37)

1. Tingkah laku yang sopan

2. Cara penyampaian

3. Waktu menyampaikan yang cepat

4. Keramah-tamahan

Dalam pelayanan terdapat beberapa faktor pendukung yang penting , antara lain

faktor kesadaran, aturan, organisasi, keterampilan petugas, dan sarana, Urainnya

adalah sebagai berikut :

1. Faktor kesadaran, yaitu kesadaran para pejabat serta petugas yang

berkecimpung dalam kegiatan pelayanan. Kesadaran pegawai pada segala

tingkatan terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya, membawa

dampak sangat positif terhadap organisasi. Ia akan menjadi sumber

kesungguhannya dan disiplin dakan melaksanakan tugas, sehingga

hasilnya dapat diharapkan melalui standar yang telah ditetapkan

2. Faktor aturan, aturan dalam organisasi yang menjadi landasan kerja

pelayanan. Aturan ini mutlak kebenarannya agar orgnaisasi dan pekerjaan

dapat berjalan lancar teratur dan terarah. Agar peraturan dapat mencapai

apa yang dimaksud, maka ia harus dipahami oleh semua orang yang

bertugas dalam bidang yang diatur dengan disertai displin yang tinggi.

3. Faktor organisasi, yaitu merupakan alat serta sistem yang memungkinkan

berjalannya mekanisme kegiatan pelayanan. Sebagai suatu sistem,

organisasi merupakan alat yagn efektif dalam usaha pencapaian tujuan,

dalam hal ini pelayanan yang baik dan memuaskan. Agar organisasi

(38)

berfungsi dengan baik perlu ada pembagian, baik dalam hal organisasi

maupun tugas pekerjaan sampai pada jenis organisasi atau pekerjaan yang

paling kecil.

4. Faktor pendapatan, pendapatan pegawai yang berfungsi sebagai

pendukung pelaksana pelayanan. Pendapatan yang cukup akan memotivasi

pegawai dalam melaksanakan pekerjaan dengan baik sehingga ia tidak

melakukan penyimpangan yang dapat merugikan organisasi

5. Faktor keterampilan tugas, yaitu kemampuan dan keterampilan para

pegawai dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan.

6. Faktor sarana sarana yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas pekerjaan

layanan. Sarana terbagi atas dua macam : pertama, sarana kerja meliputi

peralatan, perlengkapan, dan alat bantu; kedua, fasilitas meliputi segala

kelengkapannya dengan fasilitas komunikasi dan segala kemudahan

lainnya.

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian layanan terhadap publik menurut

Henry40

1. Public Service adalah pengertian yang ditujukan kepada suatu pelayanan

terhadap kebutuhan yang bersifat umum dari masyarakat, karena itu dapat

dituntut agar dilaksanakan :

2. Public Utilities berupa pelayanan atas komoditi dan jasa dengan

mempergunakan sarana milik umum, yang dapat dilakukan oleh

(39)

orang/badan keperdataan namun harus dengan pelayanan tanpa

diskriminasi

3. Public Interest law (pro bono publico) adalah dalam bentuk karya

pekerjaan/pelayanan yang dilakukan karena belas kasihan demi

kemanfaatan umum. Pendapat tersebut menunjukkan bagaimana

seharusnya pemerintah memberi perhatian dan bersikap terhadap layanan

publik.

1.6. Definisi Konsep

Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan unuk menggambarkan

secara abstrak kejadian, keadaan kelompok, atau individu yang menjadi pusat

perhatian ilmu sosial tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan

menghindai terjadinya interpretasi ganda dari variable yang diteliti41

1. Efektivitas adalah suatu keadaaan yang menunjukkan sejauhmana rencana

dan sasaran dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai,

maka semakin efektif pula kegiatan tersebut, sehingga efektivitas dapat

juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dapat dicapai sesuai

dengan tujuan yang hendak dicapai.

. Maka

berdasarkan uraian diatas penulis mengemukakan definisi dari konsep yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu:

2. Kinerja organisasi mengenai tingkat pencapaian tugas anggota organisasi

dengan mengikuti peraturan yang sudah ditentukan oleh organisasi dalam

mencapai tujuan organisasi tersebut.

41

(40)

3. Pemulihan adalah proses pembangunan kembali terhadap pembangunan

yang sudah tidak layak menjadi lebih baik dan lebih layak.

4. Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang

dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan

badan usaha milik negara atau daerah dalam, dan melayani keperluan

orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi

tersebut sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang tekah ditetapakan.

1.7.Sistematika Penulisan

BAB I :PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang,perumusan masalah,tujuan

penelitian,manfaat penelitian,kerangka teori,defenisi konsep,dan

sistematika penulisan.

BAB II :METODE PENELITIAN

Bab ini terdiri dari bentuk penelitian,lokasi penelitian,informan

penelitian,teknik pengumpulan data dan teknik analisis data dalam

penelitian

BAB III: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang gambaran umum tentang objek atau lokasi

penelitian yang relevan dengan topik penelitian.

BAB IV: PENYAJIAN DATA PENELITIAN

Bab ini peneliti akan menyajikan data menggunakan metode

kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara secara mendalam

(41)

BAB V :ANALISIS DATA

Bab ini berisi tentang uraian data-data yang akan diperoleh setelah

melaksanakan penelitian.

BAB VI : PENUTUP

Bab ini memuat kesimpulan dan saran hasil penelitian yang

Figur

Tabel 1.1. Data Pos Penampungan Pengungsi
Tabel 1 1 Data Pos Penampungan Pengungsi . View in document p.4
Tabel 1.1. Data Pos Penampungan Pengungsi (Lanjutan)
Tabel 1 1 Data Pos Penampungan Pengungsi Lanjutan . View in document p.5
Gambar 1.1 Format Standar Manajemen Bencana
Gambar 1 1 Format Standar Manajemen Bencana . View in document p.21

Referensi

Memperbarui...