EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING PADA MATERI ASAM BASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK KELAS XI SMA NEGERI 1 MUNTILAN.

62 

Teks penuh

(1)

i EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING

PADA MATERI ASAM BASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK KELAS XI

SMA NEGERI 1 MUNTILAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Elsa Rahmaningrum 11314544015

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

ii HALAMAN PERSETUJUAN

Skirpsi yang berjudul “Efektivitas Penerapan ModelProject Based Learning Pada Materi Asam Basa Terhadap Prestasi Belajar dan Nilai Karakter Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan” yang disusun oleh Elsa Rahmaningrum, NIM 11314244015 ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diujikan.

Disetujui pada tanggal

___________________

Yogyakarta, Mengetahui

Ketua Program Studi Pendidikan Kimia Dosen Pembimbing

(3)

iii HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.

Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau

diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan

karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli.

Jika tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode berikutnya.

Yogyakarta, _______ 2015 Yang menyatakan,

(4)

iv HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Efektivitas Penerapan Model Project Based Learning Pada Materi Asam Basa Terhadap Prestasi Belajar dan Nilai Karakter Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan”, yang disusun oleh Elsa Rahmaningrum, NIM

11314244015 ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada

tanggal___________dan dinyatakan lulus.

DEWAN PENGUJI

Nama Jabatan TandaTangan Tanggal

Prof. A. K. Prodjosantoso, Ph. D. Ketua Penguji ……. …….

Regina Tutik Padmaningrum, M.Si Sekretaris Penguji ……. …….

Dr. Suyanta Penguji Utama ……. ……

I Made Sukarna, M.Si Penguji Pendamping ……. ……

Yogyakarta, __________2015

Fakultas MIPA

UniversitasNegeri Yogyakarta

Dekan,

Dr. Hartono

(5)

v MOTTO

Never give up.

Hari kemarin adalah kenagan, hari ini adalah tantangan, hari esok adalah masa depan.

Pengalaman adalah guru yang terbaik.

(6)

vi HALAMAN PERSEMBAHAN

Sebuah persembahan yang akan saya sampaikan kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Orang tua ku tersayang H. Rohmad Slamet dan Hj. Sri Sukesi, S,Pd. yang selalu mendukung saya dalam hal apapun dan memiliki andil besar dalam hidup saya selama ini.

3. Kakakku tersayang Yudhi Matofani, SP. yang telah mengajari saya banyak hal selama ini.

4. Prof. A. K. Prodjosantoso, Ph.D. yang dengan sabar membimbing saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

5. Sahabat-sahabatku tersayang tempat berbagi masalah selama ini.

6. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Kimia Internasional 2011 yang selama ini memberikan banyak pengalaman kepada saya.

7. Teman-teman kost cerah membiru yang selama ini menemani saya.

8. Teman-teman UKM Bulutangkis UNY yang lebih hanya sekedar teman biasa.

9. Teman-teman KKN 396 dan PPL SMA Negeri 1 Muntilan yang luar biasa. 10.Almamaterku Universitas Negeri Yogyakarta.

(7)

vii EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING

PADA MATERI ASAM BASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK KELAS XI

SMA NEGERI 1 MUNTILAN Oleh

Elsa Rahmaningrum NIM 11314244015

Pembimbing : Prof. A. K. Prodjosantoso, Ph.D ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model

Project Based Learning pada materi Asam Basa untuk meningkatkan prestasi belajar dan nilai karakter peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Muntilan.

Model Project Based Learning dilakukan dalam penelitian ini. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun ajaran 2014/2015. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel penelitian. Terdapat 2 nilai karakter yang dicoba untuk diimplementasikan dalam penelitian ini, yaitu rasa ingin tahu dan kreatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalalah angket nilai karakter dan soal tes prestasi belajar kimia. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik angket dan teknik penilaian hasil belajar peserta didik. Analisis data penelitian menggunakan t sama subjek, uji-t beda subjek, dan uji anakova yang sebelumnya dilakukan uji prasyarauji-t analisis statistik yaitu uji normalitas dan uji homogenitas untuk mendapatkan suatu kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan nilai karakter pada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model

Project Based Learning dan tidak terdapat perbedaan nilai karakter pada peserta didik yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan model Project Based Learning di kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015, (2) terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai karakter peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan dan tanpa menggunakan model Project Based Learning di kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015, dan (3) terdapat perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan dan tanpa menggunakan model Project Based Learning di kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015.

(8)

viii THE EFFECTIVENESS OF PROJECT BASED LEARNING MODEL

TO IMPROVE CHEMISTRY STUDENT ACHIEVEMENT AND CHARACTER VALUES IN SMA NEGERI 1 MUNTILAN

By

Elsa Rahmaningrum NIM 11314244015

Supervisor : Prof. A. K. Prodjosantoso, Ph.D ABSTRACT

The aims of this research were to know the effectiveness of Project Based Learning method in Acid Base material to improve chemistry student achievements and character values XI class students in SMA Negeri 1 Muntilan.

Project Based Learning method had carried out in this research. Population of this research is XI class students in SMA Negeri 1 Muntilan academic year 2014/2015. Purposive sampling techniques is taken to determine sample. There are two character values that tried to implement in this research there are curiosity and creativity. Instrument that used in this research is student character values questionnaire and student achievements task. The data of this research were collected by questionnaire technique and test technique. Theresearch data are analyzed by t-test same subject, t-test different subject, and anacova test. Before using anavoca test used prerequisite test, i.e. normality test and homogenity test.

The result of the research showed that (1) there was no difference improvement against character values students which follow this lesson without Project Based Learning method and there was difference improvement against character values students which follow this lesson with Project Based Learning method in XI class of SMA Negeri 1 Muntilan academic year 2014/2015, (2) there was difference improvement significantly against character values students without or with Project Based Learning method to this lesson in XI class of SMA Negeri 1 Muntilan academic year 2014/2015, and (3) there was difference improvement significantly against student achievement without or with Project Based Learning method to this lesson in XI class of SMA Negeri 1 Muntilan academic year 2014/2015.

(9)

ix KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi ini. Pelaksanaan dan penelitian hingga penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Hartono selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Dr. Hari Sutrisno selaku Ketua Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY.

3. Ibu Rr. Lis Permana Sari, M. Si. selaku Koordinator Prodi Pendidikan Kimia FMIPA UNY

4. Bapak Prof. A. K. Prodjosantoso, Ph.D. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi ini.

5. Bapak Suwardi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Muntlan yang telah mengizinkan untuk melaksanakan penelitian di SMA Negeri 1 Muntilan.

6. Bapak Markun, S.Pd selaku guru SMA Negeri 1 Muntilan.

Penulis memohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan Tugas Akhir Skripsi ini yang tidak disengaja. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar menjadi lebih baik.

Demikian laporan Tugas Akhir Skripsi ini penulis susun, semoga bermanfaat untuk semua pihak yang berkepentingan. Terimakasih.

Yogyakarta, 15 Februari 2015

(10)

x

B. Identifikasi Masalah... 3

C. Batasan Masalah ... 4

5. Pendidikan Karakter... 17

6. Materi Pokok Kimia Kelas XI ... 23

B. Penelitian yang Relevan ... 27

(11)

xi

D. Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

A. Desain Penelitian ... 33

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 33

1. Variabel Bebas ... 33

2. Variabel Terikat ... 33

3. Variabel Kendali ... 34

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling ... 34

1. Populasi Penelitian ... 34

2. Sampel Penelitian... 34

3. Teknik Sampling ... 34

D. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 35

1. Instrumen Penelitian ... 35

2. Analisis Instrumen Penelitian ... 37

3. Teknik Pengumpulan Data ... 41

E. Teknik Analisis Data ... 41

1. Uji Normalitas ... 42

2. Uji Homogenitas ... 43

3. Uji Hipotesis ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 49

A. Deskripsi Setting Penelitian ... 49

B. Validitas Instrumen Penelitian ... 51

(12)

xii

3. Uji Anakova ... 61

H. Pembahasan ... 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

A. KESIMPULAN ... 81

B. SARAN ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(13)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kriteria Penilaian Skala Linkert ... 37

Tabel 2. Kriteria Validitas Perangkat Pembelajaran ... 38

Tabel 3. Kisi-kisi Angket Nilai Karakter ... 39

Tabel 4. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar ... 40

Tabel 5. Skor Hasil Validasi RPP ... 52

Tabel 6. Skor Hasil Validasi Soal Tes Prestasi Belajar dan Angket Nilai Karakter ... 53

Tabel 7. Ringkasan Data Pengetahuan Awal ... 54

Tabel 8. Ringkasan Data Nilai Karakter ... 55

Tabel 9. Ringkasan Data Prestasi Belajar ... 56

Tabel 10. Ringkasan Uji Normalitas Nilai Karakter ... 56

Tabel 11. Ringkasan Uji Normalitas Prestasi Belajar ... 57

Tabel 12. Ringkasan Uji Homogenitas Nilai Karakter ... 58

Tabel 13. Ringkasan Uji Homogenitas Prestasi Belajar ... 58

Tabel 14. Ringkasan Uji-t Sama Subjek ... 59

Tabel 15. Ringkasan Uji-t Beda Subjek ... 60

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Permohonan Validasi Instrumen ... 86

Lampiran 2. Instrumen Penelitian Sebelum Validasi ... 87

Lampiran 3. Penilaian Ahli Terhadap Instrumen Penelitian ... 156

Lampiran 4. Instrumen Penelitian Setelah Validasi ... 249

Lampiran 5. Validitas Logis Instrumen ... 294

Lampiran 6. Data Nilai Ulangan Kelas Kontrol ... 320

Lampiran 7. Data Nilai Ulangan Kelas Eksperimen ... 321

Lampiran 8. Data Nilai Karakter Kelas Kontrol ... 322

Lampiran 9. Data Nilai Karakter Kelas Eksperimen ... 324

Lampiran 10. Data Prestasi Belajar Kelas Kontrol ... 326

Lampiran 11. Data Prestasi Belajar Kelas Eksperimen ... 330

Lampiran 12. Uji Normalitas Kelas Kontro ... 334

Lampiran 13. Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 336

Lampiran 14. Uji Homogenitas Kelas Kontrol ... 338

Lampiran 15. Uji Homogenitas Kelas Eksperimen ... 340

Lampiran 16. Uji-t Sama Subjek Kelas Kontrol ... 342

Lampiran 17. Uji-t Beda Subjek Kelas Eksperimen ... 343

Lampiran 18. Uji-t Beda Subjek ... 344

Lampiran 19. Uji Anakova ... 345

Lampiran 20. Dokumentasi Kegiatan ... 346

Lampiran 21. Surat Izin Penelitian... 348

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah dan rakyat Indonesia, dewasa ini tengah gencar-gencarnya mengimplementasikan pendidikan karakter di institusi pendidikan; mulai dari tingkat dini (PAUD), sekolah dasar (SD/MI), sekolah menengah (SMA/MA), hingga perguruan tinggi. Melalui pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam institusi pendidikan, diharapkan krisis degradasi karakter atau moralitas anak bangsa ini bisa segera teratasi. Lebih dari itu, diharapkan di masa yang akan datang terlahir generasi bangsa dengan ketinggian budi pekerti atau karakter (Agus Wibowo, 2013: 1).

(16)

2 Pendidikan karakter dapat diterapkan dalam semua bidang pelajaran baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi tak terkecuali dalam pelajaran kimia. Melalui mata pelajaran kimia dengan model pembelajaran Project Based Learning diperoleh nilai karakter agar tidak salah persepsi dalam Ilmu Kimia untuk mengubah perilaku manusia secara umum yang sekarang ini terjadi dekadensi karakter.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek adalah penentuan pertanyaan mendasar, menyusun perencanaan proyek, menyususn jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman (Permendikbud, 2014 : 975-976)

(17)

3 ingin tahu. Model pembelajaran Project Based Learning dapat digunakan oleh guru untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu metode pembelajaran yang masih monoton dengan metode ceramah. Melalui model pembelajaran berbasis proyek mengakibatkan siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan memiliki rasa tahu yang tinggi.

Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik

untuk mengetahui bagaimana “Efektivitas Penerapan Model Project Based Learnig (PjBL) pada Materi Asam Basa Terhadap Nilai Karakter dan Prestasi

Belajar Kimia Peserta Didik Kelas XI Semester 2 SMA Negeri 1 Muntilan”

dalam meningkatkan nilai karakter dan prestasi belajar peserta didik. Selain peneliti ingin memberikan inovasi dalam sebuah pembelajaran, peneliti juga dapat mengetahui apakah metode tersebut layak atau tidak layak untuk digunakan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

1. Pendidikan sangat berpengaruh terhadap moral dan karakter peserta didik. 2. Pendidikan harus disertai dengan penanaman pendidikan karakter yang

(18)

4 3. Metode pembelajaran yang digunakan guru saat ini masih tergolong

monoton yang pada umumnya masih menggunakan metode ceramah yang mengakibatkan peserta didik menjadi pasif.

4. Kurangnya variasi metode pembelajaran kimia sehingga peserta didik menganggap pelajaran kimia sulit karena pelajaran kimia bersifat abstrak. 5. Model Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran

yang menarik dan dapat dijadikan model pembelajaran dalam menanamkan nilai karakter.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka dapat dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut :

1. Penanaman nilai-nilai karakter pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan melalui mata pelajaran kimia.

2. Materi pembelajaran dalam penelitian ini dibatasi pada materi pokok Asam Basa untuk peserta didik kelas XI Semester 2 sesuai dengan kurikulum 2013.

3. Metode pembelajaran yang dipilih dan dipakai dalam penelitian ini adalah model Project Based Learning (PjBL).

(19)

5 D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Adakah perbedaan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan yang mengikuti proses pembelajaran kimia dengan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning

(PjBL) pada materi asam basa?

2. Adakah perbedaan yang signifikan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan yang mengikuti proses pembelajaran kimia menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dengan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning

(PBL) pada materi asam basa?

3. Adakah perbedaan yang signifikan prestasi belajar peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan yang mengikuti proses pembelajaran kimia menggunakan metode Project Based Learning (PBL) dengan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan metode Project Based Learning

(PBL) pada materi asam basa?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

(20)

6 dengan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning

(PjBL) pada materi asam basa.

2. Mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan yang mengikuti proses pembelajaran kimia menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dengan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa.

3. Mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan prestasi belajar peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan yang mengikuti proses pembelajaran kimia menggunakan model Project Based Learning (PBL) dengan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning (PBL) pada materi asam basa.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang terkait dalam penelitian ini, seperti :

1. Bagi peserta didik

(21)

7 2. Bagi guru

Guru dapat memperoleh model baru dalam mengajar yaitu model Project Based Learning (PjBL) sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran. 3. Bagi peneliti

(22)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori 1. Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang akan diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989: 28). Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2006: 105) belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan pada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan.

Harold Spears dalam Eveline (2011: 4) mengemukakan pengertian belajar dalam perspektifnya yang lebih detail. Menurut Spears “learning is to observe, to read, to imiate, to try something them selves, to listen, to

follow direction”. Belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar, dan mengikuti aturan.

(23)

9 keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang di dalamnya terkandung beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah :

1. Bertambahnya jumlah pengetahuan.

2. Adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi. 3. Ada penerapan pengetahuan.

4. Menyimpulkan makna.

5. Menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas. 6. Adanya perubahan sebagai pribadi.

Cronbach (dalam Hosnan, 2014: 3) memberi batasan bahwa,

learning is shown by change in behavior as a result of experience

(belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman). Makna dari definisi yang dikemukakan oleh Cronbach ini lebih dalam lagi, yaitu belajar bukanlah semata-mata perubahan dan penemuan, tetapi sudah mencakup kecakapan-kecakapan yang dihasilkan akibat perubahan dan penemuan tadi. Setelah terjadi perubahan dan menemukan sesuatu yang baru, maka akan timbul suatu kecakapan yang memberikan manfaat bagi kehidupannya.

(24)

10 dapat menerapkan dalam lingkungannya, dan adanya perubahan atau sikap moral serta karakter yang terbentuk selama proses belajar.

2. Pembelajaran Kimia

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Rusman, 2011: 3). Sedangkan pembelajaran menurut Mulyati Arifin (2005: 2) adalah kegiatan belajar mengajar ditinjau dari sudut kegiatan peserta didik berupa pemberian pengalaman belajar peserta didik yang direncanakan guru untuk membangun pengetahuan baru dan mengaplikasikannya.

Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Karena itu istilah “pembelajaran” mengandung makna yang lebih luas daripada “mengajar”, pembelajaran merupakan usaha yang dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar pada diri seseorang (Eveline, 2011: 12).

(25)

11 Dalam Standar Isi (SI) mata pelajaran kimia dinyatakan bahwa tujuan mata pelajaran kimia di SMA/MA adalah agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:

1. Membangun kesadaran tentang keteraturan dan keindahan alam serta wujud kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memupuk sikap ilmiah yang mencakup; sikap jujur dan obyektif terhadap data; disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan; sikap terbuka (bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar); ulet dan tidak cepat putus asa; kritis terhadap pernyataan ilmiah (tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi/data empiris); dan bekerjasama dengan orang lain.

3. Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana peserta didik melakukan pengujian hipotesis dengan melakukan eksperimen (yang mungkin melibatkan penggunaan instrumen), pengambilan data, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.

(26)

12 5. Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya sebagai

bekal belajar kimia di perguruan tinggi.

6. Menerapkan konsep-konsep kimia untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.

7. Membentuk sikap positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena kemampuan kimia menjelaskan secara molekuler sebagai peristiwa alam dan berperan penting dalam pengembangan teknologi. (Permendikbud, 2013: 951-952)

Ilmu kimia mempunyai ciri-ciri yang khas, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan teknik belajar tertentu tanpa meninggalkan karakteristik ilmu kimia sebagai produk dan proses. Beberapa ciri kimia menurut Tresna Sastrawijaya (Yoshinta, 2010: 9-10) adalah sebagai berikut :

a. Kimia lebih bersifat abstrak sehingga diperlukan teknik pembelajaran kimia untuk dapat membayangkan atau menciptakan gambaran-gambaran. Gambaran-gambaran dapat membantu peserta didik mengingat yang dibahas dalam ilmu kimia seperti ion, molekul, dan ikatan.

(27)

13 c. Bahan pelajaran kimia tidak hanya menyelesaikan soal-soal sehingga

di dalam pembelajaran kimia diperlukan teknik-teknik yang berbeda. Setiap materi yang berbeda mungkin diperlukan suatu metode yang dapat membantu memahami dan menguasai materi kimia dengan baik. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang berlangsung antara pendidik dan peserta didik di dalam konteks pelajaran atau ilmu kimia baik berupa teori maupun praktikum. Dalam pembelajaran ini dapat diterapkan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa.

3. Project Based Learning (PjBL)

Menurut M. Hosnan (2014: 3) Project Based Learning (PjBL) atau model pembelajaran berbasis proyek (PBP) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan peserta didik untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sistesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

(28)

14 a. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam

pembelajaran.

b. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah. c. Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah yang

kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa.

d. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas. e. Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PJBL yang

bersifat kelompok (M. Hosnan, 2014: 325).

Pembelajaran berbasis proyek merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberikan penekanan pada pemecahan masalah sebagai usaha kolaboratif dalam periode pembelajaran tertentu. Tahap-tahap pengembangan pembelajaran berbasis proyek meliputi enam Tahap-tahap, yaitu :

a. searching, yaitu menghadapkan peserta didik pada masalah riil di lapangan dan mendorong mereka mengidentifikasi masalah riil tersebut. Peserta didik didorong untuk mempelajari berbagai karakteristik dan mengidentifikasi permasalahan serta menetapkan masalah yang akan dipecahkan melalui proyek;

(29)

15 pemecahan masalah menggunakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip sosiologi;

c. designing, yaitu perencanaan atau perumusan cara kerja;

d. creating, yaitu kelompok kerja membuat produk, sebagaimana telah didesain sebelumnya;

e. evaluating, peserta didik melakukan pengujian untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan produk yang dihasilkan;

f. sharing, yaitu peserta didik mempresentasikan produk yang dihasilkan kepada kelompok lain agar mendapatkan tanggapan baik kritik maupun saran (Soenarto, 2005).

(30)

16 Pembelajaran berbasis proyek memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. peserta didik membuat keputusan dan membuat kerangka kerja, b. terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditemukan sebelumnya, c. peserta didik merancang proses untuk mencapai hasil,

d. peserta didik bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan,

e. melakukan evaluasi secara kontinu,

f. peserta didik secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan,

g. hasil akhir berupa produk dan dievaluasikan kualitasnya,

h. kelas memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan (Waras Khamdi, 2008: 8).

Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa

Project Based Learning (PjBL) merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk dapat menghasilkan suatu produk dengan merancang sendiri prosesnya bersama dengan timnya dan guru hanya sebagai fasilitator.

4. Prestasi Belajar

(31)

17 afektif, dan psikomotorik. Beberapa kegunaan hasil belajar kimia antara lain :

a. Untuk menentukan keberhasilan peserta didik (achievement).

b. Untuk melakukan seleksi peserta didik (selection).

c. Untuk melakukan penempatan (placement).

d. Untuk melakukan diagnosis remedial (diagnostic and remedial.)

e. Untuk melakukan bimbingan (counseling).

f. Untuk melakukan perbaikan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran (Sukardjo, 2007: 5-6).

Menurut Purwanto (Yoshinta, 2010: 24), prestasi belajar kimia dapat diungkap menggunakan soal tes prestasi belajar kimia. Soal tes prestasi belajar kimia yang digunakan berbentuk pilihan ganda dengan 5 alternatif jawaban dan untuk setiap soal hanya ada satu jawaban yang benar. Aspek yang dikembangkan menurut Bloom yaitu ingatan atau hafalan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), dan analisis, sintesis, evaluasi (C4,5,6).

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajarnya hingga mencapai apa yang dituju dengan berbagai metode pembelajaran.

5. Pendidikan Karakter

(32)

18 terjelma sebagai tenaga; cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara; serangkaian sikap (attitudes),

perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills); watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (vitues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap, dan bertindak (Agus Wibowo, 2013: 12).

Menurut Mundilarto (2013: 156-158) nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Religius : sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang akan dilakukan; memiliki keberanian untuk melakukan hal yang benar; dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur : perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Bersikap jujur : tidak menipu, tidak main curang, atau tidak mencuri; dapat diandalkan; apa yang dikatakan membangun reputasi baik; setia pada keluarga, teman, dan negara.

(33)

19 tutur bahasa baik; menjaga perasaan orang lain; tidak mengancam, memukul, atau melukai siapapun; bersikap damai terhadap kemarahan, penghinaan, dan perselisihan.

d. Disiplin : tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras : perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif : berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

g. Mandiri : sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

h. Demokratis : cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain. Bertindak sesuai aturan; mau bergiliran dan berbagi; berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain; tidak mengambil keuntungan dari orang lain; tidak menyalahkan orang lain serta sembarangan; memperlakukan semua orang secara

fair.

i. Rasa ingin tahu : sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

(34)

20 dan kelompoknya. Menjalankan upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi masyarakat; bekerjasama terlibat dalam urusan sosial atau masyarakat; menjadi tetangga yang baik; patuh terhadap hukum dan peraturan; menghormati otoritas; melindungi lingkungan; bersikap relawan.

k. Cinta tanah air : cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

l. Menghargai prestasi : sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

m.Bersahabat/komunikatif : tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

n. Cinta damai : sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

o. Gemar membaca : kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.

(35)

21 q. Peduli sosial : sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan

pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Bertindak secara baik, penuh kasih dan memperlihatkan sikap peduli dan rasa syukur; mengampuni orang lain; membantu orang yang membutuhkan.

r. Tanggung jawab : sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan; memiliki rencana kedepan; tekun : terus mencoba; selalu melakukan yang terbaik; pengendalian diri, disiplin; berpikir sebelum bertindak-mempertimbangkan konsekuensi; bertanggungjawab terhadap kata-kata, tindakan, dan sikap; memberi contoh yang baik bagi orang lain.

Pendidikan karakter merupakan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Menurut Fatchul (2011: 27) karakter memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut :

1. Karakter adalah “siapakah dan apakah kamu pada saat orang lain sedang melihat kamu” (character is what you are when nobody is looking).

2. Karakter merupakan hasil nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan

(character is the result of values and beliefs).

(36)

22 4. Karakter bukanlah reputasi atau apa yang dipikirkan oleh orang

lain terhadapmu (character is not reputation or what others think about you).

5. Karakter bukanlah seberapa pihak kamu daripada orang lain

(character is not how much better you are than others).

6. Karakter tidak relatif (character is not relative).

Seorang peserta didik tidak akan bisa memiliki pendidikan karakter bila sebelumnya tidak diberikan pendidikan karakter tersebut oleh pendidiknya yaitu orang tua, guru, dan masyarakat. Pendidikan karakter bisa diberikan kepada anak di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Karakter tidak hanya dibangun di sekolah . Karakter tidak hanya berasal dari pendidikan formal tetapi juga dari contoh-contoh di rumah dan di masyarakat. Namun sekolah memiliki andil yang sangat besar dalam pendidikan karakter anak. Intinya bahwa ternyata membangun karakter itu harus diiringi dengan karakter yang memberi contoh. Karakter guru yang jelek sering melahirkan peserta didik yang kehilangan karakter. Suatu contoh nyata adalah karakter mengajar guru yang membosankan bisa membuat kita tidak menyukai pelajaran yang disampaikannya (Fatchul, 2011: 27).

(37)

23 didik untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat dan lingkungannya.

6. Materi Pokok Kimia Kelas XI Asam Basa

Materi pokok yang digunakan dalam penelitian ini adalah asam basa yaitu mengenai analisis sifat larutan. Penerapan model pembelajaran

Project Based Learning diterapkan dalam indikator alami untuk menganalisis sifat larutan asam, basa, atau netral.

Materi pembelajaran disesuaikan dengan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar, dan Materi Pokok pada silabus kelas XI yang mengacu pada Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi yaitu:

a. Kompetensi Inti :

KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

(38)

24 ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

b. Kompetensi Dasar

1.1 Menyadari adanya keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju reaksi, kesetimbangan kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai hasil kreativitas manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.

(39)

25 2.2 Menunjukkan perilaku kerjasama, santun, toleran, cinta damai

dan peduli lingkungan serta hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.

2.3 Menunjukkan perilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan.

3.10 Menganalisis sifat larutan berdasarkan konsep asam basa dan/atau pH larutan.

4.10 Mengajukan ide/gagasan tentang penggunaan indikator yang tepat untuk menentukan keasaman asam/basa atau titrasi asam/basa.

c. Materi Pokok

1) Perkembangan konsep asam dan basa a) Teori asam basa Arrhenius

Asam adalah suatu zat yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion hidronium (H+). Asam yang hanya menghasilkan sebuah ion H+ disebut sebagai asam monoprotik (asam berbasa satu), asam yang menghasilkan dua ion H+ setiap molekulnya disebut asam diprotik. Sementara, basa adalah suatu senyawa yang didalam air dapat menghasilkan ion OH-.

(40)

26 Penjelasan asam basa menurut Arrehnius tidak memuaskan untuk menjelaskan tentang sifat asam basa pada larutan yang bebas air, atau pelarutnya bukan air. Menurut teori Bronsted-Lowry, asam adalah spesi yang berperan sebagai proton donor (pemberi proton atau H+) kepada suatu spesi yang lain. Basa adalah spesi (molekul atau ion) yang bertindak menjadi proton akseptor(penerima proton atau H+)

c) Teori asam basa Lewis

Menurut G. N. Lewis, asam lewis adalah suatu senyawa yang mampu menerima pasangan elektron dari senyawa lain, atau akseptor pasangan elektron, sedangkan basa lewis adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada senyawa lain atau donor pasangan elektron.

2) Mengenal Asam dan Basa

Cara yang dapat digunakan untuk mengenali suatu larutan bersifat asam atau basa adalah dengan menggunakan indikator asam basa. Biasanya indikator asam basa berupa zat kimia yang mempunyai warna yang berbeda apabila ditambahkan ke dalam larutan asam dan basa.

(41)

27 dalam larutan yang akan diuji. Kertas lakmus dibedakan menjadi dua, yaitu :

a) Kertas lakmus biru akan memberikan perubahan warna menjadi merah jika dicelupkan dalam larutan asam, tetapi tidak akan berubah warna bila dicelupkan dalam larutan yang bersifat basa atau netral.

b) Kertas lakmus merah akan memberikan perubahan warna menjadi biru jika dicelupkan dengan larutan basa, tetapi tidak akan berubah warna bila dicelupkan dalam larutan yang bersifat asam atau netral.

Selain indikator asam basa tersebut, terdapat pula indikator yang berasal dari tumbuhan yang disebut dengan indikator alam. Indikator alam dapat dapat dibuat dari bagian tanaman yang berwarna seperti kelopak bunga sepatu, daun kubis ungu, bunga bugenvil, daun bayam merah, kayu secang, dan kunyit.

B. Penelitian yang Relevan

(42)

28 Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Antuni Wiyarsi dan Crys Fajar Partana tentang Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Perkuliahan Workshop Pendidikan Kimia untuk Meningkatkan Kemandirian dan Prestasi Belajar Mahasiswa. Hasil penelitiannya yaitu: penerapan pembelajaran berbasis proyek pada perkuliahan workshop Pendidikan cukup efektif dilihat dari (1) aspek kemandirian kelompok dalam merancang media pembelajaran, yaitu adanya peningkatan kelompok dengan kriteria yang lebih baik pada siklus 2 (lima kelompok) dibandingkan pada siklus 1; (2) aspek kerjasama kelompok, yaitu adanya peningkatan jumlah kelompok dengan kriteria kerjasama yang lebih baik pada siklus 2 (empat kelompok) dibandingkan dengan siklus 1 yang mana belum ada satu pun kelompok yang memiliki kemampuan kerjasama yang baik serta; (3) aspek penguasaan psikomotorik mahasiswa dengan seluruh kelompok memiliki kemampuan psikomotorik yang baik pada siklus 2.

C. Kerangka Berfikir

(43)

29 membentuk dan membangun karakter peserta didik untuk menghadapi kehidupannya dimanapun dia berada. Pendidikan yang diberikan pada sekolah formal pun jangan hanya semata-mata memberikan pendidikan yang berupa materi pelajaran tetapi juga memberikan pendidikan karakter untuk peserta didiknya. Kesimpulan sementara adalah bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mengajarkan nilai karakter.

Seiring dengan perkembangan teknologi maka banyak sekali tercipta berbagai bentuk media komunikasi. Media komunikasi yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah komunikasi media massa terutama radio dan televisi yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat. Menurut Nana (2009: 73) hal itu karena kedua media tersebut bukan hanya berfungsi memberikan informasi tetapi juga memberikan hiburan. Melalui situasi hiburan tersebut secara tidak disadari banyak informasi, program dan kegiatan pembangunan, mungkin juga konsep-konsep, gagasan-gagasan, nilai-nilai yang terserap oleh masyarakat.

(44)

30 sekarang ini banyak sekali acara televisi yang kurang patut dan sewajarnya tidak ditayangkan karena mengandung moral negatif yang bisa dicontoh oleh anak-anak sehingga moral anak menjadi merosot. Dalam hal ini pendidikan moral dan pendidikan karakter harus ditanamkan dan diterapkan pada generasi-generasi muda bangsa ini sejak dini.

Untuk menghadapi masalah tersebut dapat dilakukan penataan dan perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh dan meningkatkan kualitas pendidikan yang sudah ada. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dimulai dari perubahan kurikulum. Kurikulum berbasis karakter diharapkan mampu memecahkan berbagai masalah atau persoalan pendidikan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan sasaran. Oleh karena itu pemerintah (Mendikbud) mencanangkan kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter.

Terori kontruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang guru kepada orang lain (peserta didik) (Eveline, 2011: 39). Pembelajaran kontruktivistik dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia yang membantu membangun nilai karakter.

(45)

31 Peneliti menggunakan sampel satu kelas yang diberikan pembelajaran dengan model Project Based Learning (PJBL) dan satu kelas yang diberikan pembelajaran tanpa menggunakan model Project Based Learning (PJBL). Melalui model Project Based Learning (PJBL) kemudian dianalisis tentang keefetivitasnya dalam meningkatkan prestasi belajar dan nilai-nilai karakter melalui tes sebelum dan sesudah perlakuan. Nilai-nilai karakter yang diidentifikasi meliputi rasa ingin tahu dan kreatif.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka teori diatas, maka peneliti mencoba untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya yang dapat dibuktikan melalui penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti lebih lanjut, yaitu : 1. Terdapat perbedaan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1

Muntilan tahun pelajaran 2014/2015 yang mengikuti proses pembelajaran kimia menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan proses pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning

(PjBL) pada materi asam basa (Ha).

(46)

32 3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar peserta didik

(47)

33 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelititan yang termasuk dalam jenis penelitian eksperimen. Metode penelitian eksperimen adalah suatu jenis penelitian yang temuan kebenarannya didapatkan dari eksperimen terhadap desain penelitian satu faktor, dua sampel, dan satu kovariabel. Satu faktor yang dimaksud adalah penggunaan model Project Based Learning (PjBL) pada pembelajaran kimia, dua sampel disini adalah dua kelas yang diperbandingkan yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Satu kovariabel sebagai kendalinya adalah pengetahuan awal kimia peserta didik.

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu : 1. Variabel Bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah pembelajaran kimia menggunakan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa dengan peserta didik aktif dan pendidik memfasilitasi.

2. Variabel Terikat

(48)

34 3. Variabel Kendali

Variabel yang dikendalikan pada penelitian ini adalah pengetahuan awal peserta didik yang berupa nilai prestasi belajar peserta didik yang diperoleh dari tes awal sebelum dilaksanakan proses pembelajaran.

C. Populasi, Sampel, Penelitian dan Teknik Sampling 1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI semester 2 peminatan Matematika dan Ilmu Alam SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015.

2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian sebanyak dua kelas yaitu sebagai kelas eksperimen (kelas yang diberi perlakuan) dengan jumlah 32 peserta didik dan kelas pembanding (kontrol) dengan jumlah peserta didik 28 orang. 3. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling,

artinya pengambilan sampel ditentukan oleh peneliti dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Pengambilan data ini dilakukan didasarkan pada pertimbangan keberagaman karakteristik dari peserta didik yang akan dijadikan sampel. Peneliti dalam hal ini mengambil dua kelas yang karakteristiknya hampir sama dalam mengikuti pembelajaran.

(49)

35 D. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen perlakuan yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrumen pengambilan data yang berupa soal tes prestasi belajar dan angket nilai karakter belajar kimia.

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Dalam penelitian ini dibuat dua macam RPP, yaitu RPP untuk pembelajaran di kelas eksperimen, yaitu dengan model Project Based Learning dan RPP untuk pembelajaran di kelas kontrol dengan model diskusi dan demonstrasi. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

b. Soal Uji Pengetahuan Awal

(50)

36 c. Angket Nilai Karakter

Angket nilai karakter peserta didik disusun berdasarkan indikator nilai-nilai karakter yang terdapat dalam Pusat Kurikulum, (2010: 3, 37). Nilai karakter peserta didik yang akan diukur adalah rasa ingin tahu dan kreatif. Angket terdiri dari 10 butir pertanyaan yang harus dijawab sejujurnya oleh peserta didik. Instrumen tersebut menggunakan skala Linkert dengan alternatif jawaban yaitu : selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KD), jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Untuk bentuk pernyataan positif skornya 5, 4, 3, 2, 1, sedangkan untuk penyataan negatif skornya 1, 2, 3, 4, 5. Angket nilai karakter peserta didik selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. Pengambilan angket nilai karakter bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan terhadap nilai karakter peserta didik. d. Soal Tes Prestasi Belajar

(51)

37 adalah memudahkan peneliti dalam mengukur prestasi belajar peserta didik. Soal prestasi belajar kimia peserta didik sebelum divalidasi dan setelah divalidasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

2. Analisis Instrumen Penelitian

Validitas instrumen berupa rencana pelaksanaan pembelajaran, soal tes prestasi belajar, dan angket karakter melalui validitas logis, yaitu penilaian dari pakar atau judgement experts. Teknik analisis dari data tersebut dikelompokkan berdasarkan kualifikasi produk yang akan dinilai oleh pakar atau judgement experts kemudian dilakukan perhitungan rata-rata atas data yang telah dilakukan pengelompokkan. Dari rata-rata-rata-rata yang telah didapatkan kemudian diubah kedalam kriteria kualitatif dengan ketentuan seperti pada Tabel 1. Tabel 1 diadaptasi dari Direktorat Pembinaan SMA (2010: 59-60) dan digunakan untuk mengetahui kualitas produk yang dikembangkan. Adapun tabel kriteria penilaian skala linkert yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Kriteria Penilaian Skala Likert

Interval Kriteria

̅ Sangat baik

̅ Baik

̅ Cukup

̅ Kurang

̅ Sangat Kurang

Sumber : Direktorat Pembinaan SMA (2010: 59-60) Keterangan :

(52)

38 = Rata-rata ideal = ½ (skor maksimum ideal + skor minimum ideal)

= Standar deviasi ideal = (skor maksimum ideal – skor minimum ideal)

Skor maksimum ideal = Σ butir kriteria × skor tertinggi

Skor minimum ideal = Σ butir kriteria × skor terendah

Validasi perangkat pembelajaran yang berupa rencana pelaksanaan pembelajaran divalidasi oleh lima validator, sedangkan untuk soal tes prestasi belajar dan angket nilai karakter divalidasi oleh tiga validator. Dari data yang diperoleh kemudian dikumpulkan berdasarkan produk yang dikembangkan. Analisis dilanjutkan dengan menentukan rata-rata akhir dari data yang diperoleh dan menentukan kategori produk sesuai dengan kriteria validitas. Berdasarkan kriteria pada Tabel 1 kemudian dibuat kriteria validitas untuk produk yang dikembangkan. Karena banyak item pada lembar validasi maka kevalidan dari RPP, soal tes prestasi belajar, dan angket nilai karakter mempunyai kriteria validitas yang berbeda-beda. Kriteria validitas untuk masing-masing produk yang dikembangkan dapat dilihat pada Tabel 2. Adapun tabel kriteria validitasnya adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Kriteria Validitas Perangkat Pembelajaran Interval Sumber : Direktorat Pembinaan SMA (2010: 59-60)

(53)

39 a. Validitas Instrumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Untuk mengetahui apakah instrumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tersebut telah memenuhi validitas isi, maka akan dilakukan dengan meminta penilaian dari pakar atau judgement experts. Hasil validasi RPP selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang divalidasi meliputi empat RPP yang terdiri dari dua RPP untuk kelas eksperimen dan dua RPP untuk kelas kontrol. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. b. Validitas Instrumen Angket Nilai Karakter

Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut telah memenuhi validitas isi, maka dilakukan dengan meminta penilaian dari pakar atau judgement experts.

Tabel 3. Kisi-kisi Angket Nilai Karakter

No Aspek Indikator b. Bertanya kepada guru dan teman

tentang materi pelajaran. 2 c. Bertanya kepada guru mengenai

informasi yang diperoleh dari guru, teman, orang tua, radio, atau televisi.

3 d. Mencari tahu kebenaran

informasi yang didengar dengan literatur-literatur.

4

2 Kreatif

a. Mengajukan pendapat yang berkaitan dengan materi pokok pelajaran.

(54)

40 b. Mampu merakit berbagai

pemikiran untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan d. Gemar berpikir dan menuangkan

pemikiranya ke dalam suatu

c. Validitas Instrumen Soal Tes Prestasi Belajar

Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut telah memenuhi validitas isi, maka dilakukan dengan meminta penilaian dari pakar atau judgement experts.

Tabel 4. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar

(55)

41

Data yang digunakan oleh peniliti ada dua macam, yaitu data nilai karakter peserta didik yang diperoleh dengan memberikan angket nilai karakter yang telah divalidasi pada peserta didik kelas XI MIA untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dan data prestasi belajar yang diperoleh dengan memberikan soal tes prestasi belajar yang telah divalidasi secara logis.

E. Teknik analisis data

(56)

42 peserta didik, kemudian analisis dengan menggunakan anakova untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar kimia peserta didik. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan hipotesis yang meliputi uji homogenitas dan uji normalitas.

1. Uji normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Cara yang digunakan untuk uji normalitas adalah dengan uji Chi kuadrat (X2). Langkah-langkahnya yaitu (Lis Permana Sari, 2007: 25) :

a. Menyusun data dari yang tertinggi ke data yang terendah b. Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas c. Menghitung harga z dengan rumus:

= S ̅

dengan, ̅ = rerata kelas, SB = simpangan baku

d. Harga z diubah menjadi luasan daerah kurva normal dengan menggunakan tabel kurva normal.

e. Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva normal. f. Menghitung harga X2 dengan rumus:

,

(57)

43 g. Menjumlahkan harga X2 pada langkah (6), kemudian

membandingkannya dengan harga X2 tabel pada taraf signifikansi 5% dan db = k-1.

h. Data terdistribusi normal jika harga X2hitung<X2tabel atau analisis menggunakan program komputer jika diperoleh p > 0,05. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan program komputer SPSS 16.0 for windows.

2. Uji homogenitas

Uji homogenitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui suatu sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Uji homogen ini dilakukan terhadap data prestasi belajar kimia peserta didik. Menurut Lis Permana Sari (2007: 25) langkah-langkah uji homogenitas yaitu: a. Menghitung variansi masing-masing kelompok (SB)

b. Menghitung harga F dengan rumus: F =

atau

(58)

44 3. Uji Hipotesis

a. Uji-t Sama Subjek

Uji-t sama subjek digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan keadaan satu faktor dengan dua kali pengamatan. Pengukuran nilai karakter dilakukan sebelum dan sesudah proses pembelajran kimia, baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Hipotesis nolnya (H0) adalah tidak ada perbedaan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015 sebelum dan sesudah pembelajaran kimia dengan menggunakan model

Project Based Learning. Hipotesis nol tersebut diuji dengan menggunakan uji-t sama subjek, dengan rumus sebagai berikut (Sugiyono, 2010: 122):

∑ √ ∑

dengan :

d =

= data kasus 1 yaitu data nilai karakter awal

= data kasus 2 yaitu data nilai karakter akhir n = jumlah kasus

Xd = did d =

(59)

45 H0: µA1 = µA2 Ha: µA1 ≠ µA2

Harga t0 dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi 5%. Pengujian hipotesis menggunakan uji dua pihak jika –t(1-0,5α)db< t0< t

(1-0,5α)db maka H0 diterima. b. Uji-t Beda Subjek

Uji-t beda subjek digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan keadaan faktor dengan dua sampel. Uji-t beda subjek dilakukan terhadap gain skor, yaitu selisih antara skor nilai karakter awal dan skor nilai karakter akhir, baik dalam kelas ekspeimen maupun kelas kontrol. Hipotesis nol (H0) nya adalah tidak ada perbedaan yang signifikan nilai karakter peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015 yang mengikuti pembelajaran kimia dengan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa. Hipotesis nol diuji dengan menggunakan uji-t beda subjek dengan rumus sebagai berikut (Burhan Nugiantoro,dkk., 2002 : 171):

̅ ̅ √

Keterangan :

̅1 = rerata pada distribusi sampel 1

(60)

46 = simpangan baku

= simpangan baku untuk data kelompok 1

= simpangan baku untuk data kelompok 2

= jumlah anggota kelompok 1

= jumlah anggota kelompok 2

Besarnya t0 hasil perhitungan dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikasi 5% dengan Dalam penelitian ini uji-t beda subjek dilakukan dengan SPSS 16.0 for windows dan apabila Sig. < 0,05 maka H0 ditolak dan ada perbedaan yang signifikan.

c. Uji Anakova

Analisis ini digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan antara prestasi belajar kimia peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran kimia tanpa menggunakan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa, jika pengetahuan awal dikendalikan secara statistik. Hipotesis nol (H0) nya adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan pada prestasi belajar peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Muntilan tahun pelajaran 2014/2015 yang menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan tanpa menggunakan model Project Based Learning (PjBL) pada materi asam basa.

(61)

47

D A

RJK

RJK

F

0

dengan, F0 = F hitung (observasi)

RKA = rerata kuadrat antar kelompok RKD = rerata kuadrat dalam kelompok

Harga F0 dibandingkan dengan harga Ftabel pada taraf signifikan 5%. Apabila harga F0≥ Ftabelatau p ≤ 0,05 maka H0 ditolak.

Korelasi antara prestasi belajar kimia (Y) dengan kovariabel pengetahuan awal kimia (X) dapat ditentukan dengan rumus analisis regresi linear satu prediktor dengan rumus sebagai berikut (Burhan Nugiantoro, dkk., 2002: 125-126)

dengan, rxy : harga koefisien korelasi X : prediktor

Y : kriterium

(62)

Figur

Tabel 1. Kriteria Penilaian Skala Likert
Tabel 1 Kriteria Penilaian Skala Likert . View in document p.51
Tabel 2. Kriteria Validitas Perangkat Pembelajaran
Tabel 2 Kriteria Validitas Perangkat Pembelajaran . View in document p.52
Tabel 3. Kisi-kisi Angket Nilai Karakter
Tabel 3 Kisi kisi Angket Nilai Karakter . View in document p.53
Tabel 4. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar
Tabel 4 Kisi kisi Soal Tes Prestasi Belajar . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (62 Halaman)
Related subjects : SMA Negeri 1 Muntilan