BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan

Teks penuh

(1)

11

Menurut Badudu (2001), Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari suatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.

Dari definisi pengaruh diatas diambil kesimpulan bahwa pengaruh adalah daya yang kemudian akan membentuk sesuatu.

2.2 Auditing

2.2.1 Definisi Auditing

Menurut Islahuzzaman (2012), pengertian dari auditing dinyatakan sebagai berikut :

“Suatu penugasan atestasi yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik yang berupa pernyataan suatu pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah untuk memberikan kredibilitas (keterandalan) pada laporan keuangan”.

Sedangkan menurut Agoes (2012), definisi dari auditing dinyatakan sebagai berikut :

“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

(2)

Menurut Arens et al yang diterjemahkan Wibowo (2008), auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan.

Defini auditing secara umum memiliki unsur – unsur penting yang diuraikan sebagai berikut :

1. Suatu proses sistematik

Auditing merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, berkerangka, dan terorganisir.

2. Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif.

Proses sistematik tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti – bukti tersebut.

3. Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi

Yang dimaksud dengan pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi di sini adalah hasil proses akuntansi. Akuntansi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi inilah yang menghasilkan suatu pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan. 4. Menetapkan tingkat kesesuaian

Pengumpulan bukti mengenai persyaratan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat

(3)

kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.

5. Kriteria yang telah ditetapkan

Kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (yang berupa hasil proses akuntansi) dapat berupa :

a. Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif.

b. Anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen. c. Prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia (generally accepted

accounting principles). 6. Penyampaian hasil

Penyampaian hasil auditing sering disebut dengan atestasi (attestation). Penyampaian hasil dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report). Atestasi dalam bentuk laporan tertulis ini dapat menaikan atau menurunkan tingkat kepercayaan pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang diaudit.

7. Pemakai yang berkepentingan

Dalam dunia bisnis, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti : pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor dan kreditur, organisasi buruh, dan kantor pelayanan pajak.

(4)

2.2.2 Jenis Audit

Menurut Mulyadi (2002) Auditing umumnya digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :

a. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. b. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu

c. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional merupakan review yang sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daipadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu

Menurut Agoes (2012) ditinjau dari jenis pemeriksaan, audit dapat dibedakan atas 4 (empat) yaitu:

a. Management Audit (Operational Audit)

Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien dan ekonomis.

(5)

b. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan)

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak eksternal (Pemerintah, Bapepam LK, Bank Indonesia, Direktorat Jendral Pajak, dan lain-lain). Pemeriksaan bisa dilakukan baik oleh KAP maupun bagian Internal Audit.

c. Internal Audit (Pemeriksaan Intern)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan. Laporan internal auditor berisi temuan pemeriksaan (audit findings) mengenai penyimpangan dan kecurangan yang ditemukan, kelemahan pengendalian internal, beserta saran-saran perbaikannya (recommendations).

d. Computer Audit (Audit Komputer)

Pemeriksaan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan Electronic Data Processing System. 2.3 Audit Internal

2.3.1 Definisi Audit Internal

Audit internal dapat diartikan sebagai aktivitas pemeriksaan dan penilaian dalam suatu perusahaan secara menyeluruh, yang bertujuan untuk membantu semua tingkatan manajemen dalam melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif. Sekarang ini profesi audit internal harus mengalami perkembangan sesuai

(6)

dengan tuntutan berkembangnya dunia usaha dan perekonomian yang menuntut suatu perusahaan untuk menjalankan operasinya secara profesional yang berartti pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efesien sesuai dengan tujuan perusahaan. Kebutuhan akan fungsi audit internal akan muncul seiring dengan perkembangan tersebut.

Audit internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam suatu organisasi, yang bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan organisasi melalui pemberian saran untuk memperbaiki kinerja organisasi dalam menjalankan kegiatan operasional secara keseluruhan dan membantu manajemen dalam melaksanakan tugas dalam mencapai tujuan yang maksimal dari organisasi tersebut. Kegiatan audit internal adalah mengawasi dan menilai efektivitas dan kecukupan-kecukupan sistem pengendalian internal yang ada di organisasi.

Pengertian audit internal menurut Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal dalam Standar Profesi Audit Internal (SPAI 2004) menyatakan bahwa:

“Audit internal merupakan kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses governace”.

Tunggal (2010) menyatakan bahwa audit internal merupakan auditor yang dipekerjakan di dalam suatu perusahaan untuk melakukan suatu pemeriksaan secara internal.

(7)

Sedangkan menurut Halim (2008), menyatakan bahwa definisi dari audit internal adalah :

“Audit internal adalah suatu kontrol organisasi yang mengukur dan mengevaluasi efektivitas organisasi. Informasi yang dihasilkan ditujukan untuk manajemen organisasi itu sendiri. Audit internal itu sendiri merupakan karyawan suatu perusahaan tempat mereka melakukan audit”. Menurut Institute of Internal Auditor (IIA) dalam Andayani (2011), mendefinisikan audit internal yaitu sebagai suatu fungsi penilaian independen yang ada dalam organisasi untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitas organisasi sebagai pemberian jasa kepada organisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian audit internal, dapat disimpulkan bahwa audit internal adalah bagian dari perusahaan yang memberikan jaminan dan jasa konsultan dimana seorang auditor harus objektif dan independen untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan operasional perusahaan, serta memberikan nilai tambah dan inovasi-inovasi, membantu para anggota perusahaan agar mereka dapat melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif sesuai dengan pengendalian intern yang telah ditetapkan dan membantu perusahaan dalam meminimalisir risiko atau manajemen risiko yang efektif.

2.3.2 Tujuan Audit Internal

Secara umum tujuan dari audit internal adalah untuk membantu semua anggota organisasi dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif dengan memberikan penilaian, rekomendasi yang objektif dan komentar penting mengenai aktifitas yang diaudit. Tujuan lainnya adalah meningkatkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang wajar.

(8)

Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (SPAI 2004) menyatakan bahwa:

“Tujuan, kewenangan dan Tanggungjawab fungsi audit internal harus dinyatakan secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan Standar Profesi Audit Internal (SPAI) dan mendapat persetujuan dari pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi”.

Sedangkan menurut Agoes (2008), mengatakan bahwa tujuan dari audit internal yaitu :

“Tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor internal adalah membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya”.

Dilihat dari tujuannya, tujuan utama audit internal dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Memeriksa atau menilai baik atau tidaknya pelaksanaan akuntansi dan keuangan, pengendalian operasional lainnya serta meningkatkan efektivitas

2. Memastikan bahwa kebijakan-kebijakan, rencana-rencana, prosedur-prosedur telah dipatuhi dan berjalan sesuai dengan yang ditetapkan.

3. Memeriksa seberapa jauh data manajemen dapat diandalkan. 4. Memeriksa sejauh mana asset perusahaan dapat dilindungi. 5. Memeriksa dan menilai kualitas dan hasil kerja para pegawai.

6. Memberikan sarana perbaikan dan rekomendasi atas aktifitas perusahaan. (Tunggal, 2010)

(9)

2.3.3 Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal

Fungsi audit internal adalah membantu manajemen dengan cara memberikan landasan bagi manajemen untuk mengambil keputusan ataupun suatu tindakan. Fungsi audit internal yang dikemukakan Kurniawan (2012) adalah:

“Fungsi audit internal adalah memberikan berbagai macam jasa kepada organisasi termasuk audit kinerja dan audit operasional yang akan dapat membantu manajemen senior dan dewan komisaris di dalam memantau kinerja yang dihasilkan oleh manajemen dan para personil di dalam organisasi sehingga auditor internal dapat memberikan penilaian yang independen mengenai seberapa baik kinerja organisasi”.

Sedangkan Hery (2010) mengatakan bahwa fungsi dari audit internal yaitu:

“Auditor internal memiliki fungsi untuk memeriksa dan menilai baik buruknya pengendalian atas akuntansi keuangan dan operasi lainnya, memeriksa sampai sejauh mana hubungan para pelaksana terhadap kebiijakan, rencana dan prosedur yang telah ditetapkan, memeriksa sampai sejauh mana aktiva perusahaan dipertanggungjawabkan dan dijaga dari berbagai macam bentuk kerugian, memeriksa kecermatan pembukuan dan data lainnya yang dihasilkan oleh perusahaan, menilai prestasi kerja para pejabat/pelaksana dalam menyelesaikan tanggung jawab yang telah ditugaskan”.

Dari definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa fungsi audit internal adalah untuk memantau kinerja pengendalian suatu organisasi, menelaah dan mempelajari, menilai kegiatan perusahaan memberiakan saran-saran kepada manajemen dalam pengendalian suatu keputusan serta memberikan nilai tambah organisasi.

Ruang lingkup audit internal harus meliputi pengujian dan pengevaluasian kememadaian dan keefektifan sistem pengendalian internal organisasi dan kualitas kinerja dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan. Ruang lingkup audit internal meliputi penilaian terhadap keefektifan sistem pengendalian internal

(10)

serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan.

Ruang lingkup dari pekerjaan internal audit yang terdapat di dalam Standar Profesi Akuntan Internal yang dikeluarkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004) yaitu fungsi audit intern melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance, dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh.

Maksud yang terkandung dari pernyataan di atas adalah audit internal membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian internal. Hal-hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Evaluasi Pengelolaan Risiko

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.

2. Evaluasi Pengendalian

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisien dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.

(11)

3. Evaluasi Proses governance

Fungsi audit internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai tujuan 2.3.4 Tanggung Jawab Audit Internal

Tanggung jawab audit internal adalah memberikan pelayanan semaksimal mungkin terhadap manajemen dan dewan direksi dengan menjaga agar tanggung jawab tersebut konsisten dan berpedoman kepada standar profesional audit internal dan standar pelaksanaan professional kode etik. Selain itu juga melakukan koordinasi kegiatan audit internal dengan kegiatan bagian lainnya sebagai tujuan audit internal dan tujuan perusahaan dapat tercapai.

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP, 2004) menyatakan bahwa tanggung jawab auditor internal yaitu

“Auditor internal bertanggung jawab untuk menyediakan data analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi, menginformasikan kepada manajemen satuan usaha dan dewan komisaris atau pihak lain yang setara dengan wewenang dan tanggung jawab tersebut. Audit internal mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab audit internal adalah memberikan informasi dan rekomendasi kepada manajemen mengenai aktivitas didalam perusahaan dan mengevaluasi pengendalian interal entitas. 2.3.5 Peran Auditor Internal

Internal auditor memiliki peran yang penting dalam membantu manajemen mencapai kinerja perusahaan yang baik dan ditujukan untuk membantu memperbaiki kinerja perusahaan. Internal Auditor membantu manajemen mencapai kinerja yang baik dengan memperkenalkan pendekatan yang sistematis

(12)

untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengendalian intern serta memberikan catatam atas kekurangan yang ditemukan selama melakukan evaluasi.

Menurut Kumaat (2011), menyatakan peran dari audit internal adalah : “Peranan dan tujuan auditor internal tidak hanya bersifat internal, namun sudah lebih dimodifikasi yang mana saat ini auditor internal modern lebih menekankan pada adanya suatu value added atau nilai tambah pada semua hal yang berkaitan dengan risiko, tata kelola (governance) dan pengendalian.”

Sedangkan menurut Agoes (2008), audit internal memiliki peran untuk menilai efektivitas sistem manajemen risiko, yaitu dengan mengevaluasi sistem yang telah ada dan melakukan pemantauan terhadap perbaikan sistem tersebut.

Menurut Hiro Tugiman (2006) dalam perkembangannya, peran yang dijalankan auditor internal dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu sebagai watchdog, konsultan, dan katalis. Berikut merupakan penjelasan dari bagian tersebut:

a. Watchdog

Watchdog adalah peran tertua dari auditor internal yang mencakup pekerjaan menginspeksi, observasi, menghitung dan cek dan ricek. Adapun tujuannya adalah memastikan ketaatan terhadap hukum, peraturan dan kebijakan organisasi. Proses audit yang dilakukan adalah audit kepatuhan.

b. Konsultan

Melalui peran ini, manajemen akan melihat bahwa selain sebagai watchdog, auditor internal dapat memberikan manfaat lain berupa saran

(13)

dalam pengelolaan sumber daya organisasi yang dapat membantu tugas para manajer. Peran konsultan membawa auditor internal untuk selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang profesi auditor maupun aspek bisnis, sehingga dapat membantu manajemen dalam memecahkan masalah.

c. Katalis

Katalis adalah suatu zat yang berfungsi untuk mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi. Peran auditor internal sebagai katalisator yaitu memberikan jasa kepada manajemen melalui saran-saran konstruktif dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan perusahaan namun tidak ikut dalam aktivitas operasional perusahaan.

2.3.6 Program Audit Internal

Program audit internal adalah tindakan atau langkah kerja yang terperinci yang akan dilaksanakan dalam audit berdasarkan atas tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta informasi yang ada atas obyek yang diperiksa. Untuk dapat melakukan audit yang sistematis dan terarah maka pada saat audit dimulai, audit internal terlebih dahulu menyusun suatu perencanaan atau program audit yang akan dilakukan. Program audit ini dapat dipergunakan sebagai alat perencanaan dan pengawasan yang efektif atas pekerjaan audit secara keseluruhan.

Menurut Mulyadi (2002) menyatakan definisi program audit internal yaitu:

“Program audit merupakan daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu, sedangkan prosedur audit adalah intruksi rinci untuk menentukan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit”.

(14)

Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004) menyatakan dalam merencanakan penugasan, auditor internal harus mempertimbangkan sasaran penugasan, ruang lingkup penugasan, alokasi sumber daya penugasan, serta program kerja penugasan.

Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya program audit antara lain : a. Memberikan bimbingan prosedur untuk melaksanakan pemeriksaan. b. Memberikan checklist pada saat pemeriksaan berlangsung.

c. Merevisi program audit sebelumnya, jika ada perubahan standard dan prosedur yang digunakan perusahaan.

Keunggulan program audit antara lain sebagai berikut : a. Meratanya pembagian kerja diantara auditor.

b. Program audit yang rutin hasilnya lebih baik dan menghemat waktu. c. Program audit memilih tujuan yang penting saja.

d. Program audit yang telah digunakan dapat menjadi pedoman untuk tahun berikutnya.

e. Program audit menampung pandangan manajer atas mitra kerja.

f. Program audit memberikan kepastian bahwa ketentuan umum akuntansi telah dijalankan.

g. Penanggung jawab pelaksanaan audit jelas. Kelemahan program audit antara lain :

a. Tanggung jawab audit pelaksanaan terbatas pada program audit saja. b. Sering menimbulkan hambatan untuk berpikiran kreatif dan membangun. c. Kegiatan audit menjadi monoton.

(15)

2.3.7 Pelaksanaan Audit Internal

Pelaksanaan audit menurut Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004), dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi informasi, menganalisi, mengevaluasi, dan mengdokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan. Dalam melaksanakan aktivitasnya, tahapan proses penugasan yang dilakukan audit internal adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan penugasan

Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencanauntuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup, sasaran , waktu dan alokasi sumberdaya.

b. Pelaksanaan penugasan

Dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.

c. Komunikasi hasil penugasan

Auditor internal harus mengkomunikasikan hasil penugasannya secara tepat waktu.

d. Pemantauan tindak lanjut

Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga sistem untuk memantau tindak lanjut hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepada manajemen.

(16)

2.3.8 Norma Praktek Profesional Internal Audit

Dalam melakukan pekerjaannya harus mengikuti standar profesi dan kode etik serta aturan lain yang berkaitan. Menurut Tugiman (2006), norma internal audit adalah sebagai berikut :

1. Indepedensi

Independensi yaitu sikap mental yang bebas. Suatu kejujuran yang tidak memihak dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya. Hal ini berarti bahwa dalam mempertimbangkan fakta-fakta yang dipakai sebagai dasar pemberian pendapatnya auditor harus obyektif dan tidak berprasangka. Independensi menyangkut dua aspek :

a) Status Organisasi, haruslah berperan sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas dengan baik serta mendapat dukungan dari pimpinan tingkat atas, status yang dikehendaki adalah bahwa bagian audit internal harus bertanggungjawab pada pimpinan yang memiliki wewenang yang cukup untuk menjamin jangkauan audit yang luas, pertimbangan dan tindakan yang efektif atas temuan audit dan saran perbaikan.

b) Obyektivitas, yaitu bahwa auditor internal dalam melaksanakan fungsi dan tanggungjawab harus memperhatikan sikap netral dan kejujuran dalam melaksanakan pekerjaannya. Agar dapat mempertahankan sikap tersebut hendaknya auditor internal dapat dibebaskan dari tanggungjawab oprasionalnya.

(17)

2. Kemampuan Profesional

Seorang auditor internal harus memiliki tingkat kemampuan teknis yang tinggi agar dapat mempertanggungjawabkan dengan benar. Kemampuan teknis meliputi penyusunan staf, pengetahuan, kererampilan dan disiplin ilmu, keseuaian dengan standar profesi, hubungan antar manusia, pendidikan berkelanjutan, serta keahlian profesional. Kemampuan profesional meliputi:

1. Departemen Audit Internal a) Penyusunan staf

Adanya kesesuaian antara kemampuan teknis dan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh para auditor internal

b) Pengetahuan, keterampilan, dan disiplin

Dalam melaksanakan tanggung jawab audit bagian audit internal harus memiliki atau mendapatkan penegtahuan, keterampilan dan disiplin ilmu yang diperlukan.

c) Supervisi

Bagian audit internal harus memberikan keyakinan bahwa audit internal telah disupervisi dengan benar.

2. Audit Internal

a) Ketaatan terhadap standar perilaku

(18)

b) Pengetahuan, keterampilan, dan disiplin ilmu

Dalam melakukan audit internal para auditor harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan disiplin ilmu yang esensial.

c) Hubungan dan komunikasi antarkaryawan

Para auditor internal harus terampil dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

d) Pendidikan yang berkelanjutan

Para auditor internal harus mengembangkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan yang berkelanjutan.

e) Keahlian professional

Dalam pelaksanaan audit internal para auditor harus menggunakan keahlian professional.

3. Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan audit internal meliputi keandalan informasi, kesesuaian dengan kebijaksanaan, perlindungan terhadap harta, penggunaaan sumber daya secara ekonomis dan efisien, serta pencapaian tujuan. Lingkup pekerjaan meliputi:

a) Keandalan Informasi

Auditor internal harus memeriksa keandalan informasi keuangan dan pelaksanaan pekerjaan dengan cara-cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi tersebut.

(19)

b) Kesesuaian dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan

Auditor internal harus memeriksa sistem yang ditetapkan untuk memastikan ketaatan terhadap kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan.

c) Perlindungan terhadap harta

Auditor internal harus memeriksa kesesuaian sarana yang digunakan untuk melindungi harta kekayaan organisasi.

d) Penggunaaan sumber daya secara ekonomis dan efisien

Auditor internal harus menilai keekonomisan dan efisiensi sumber daya yang digunakan.

e) Pencapaian tujuan

Agar tujuan dan sararan yang telah ditetapkan sesuai dengan apa yang dicapai maka auditor internal harus memeriksa operasi dan program. 4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor adalah untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya.

a) Perencanaan pemeriksaan

(20)

b) Pengujian dan pengevaluasian informasi

Untuk mendukung hasil audit auditor internal harus mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mendokumentasikan informasi. c) Penyampaian hasil pemeriksaan

Auditor internal harus menyampaikan hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaannya.

d) Tindak lanjut hasil pemeriksaan

Auditor internal harus meninjau untuk memastikan bahwa telah dilakukan tindakan yang tepat atas temuan audit yang dilaporkan. 5. Manajemen Bagian Internal Audit

Agar dapat bekerja secara efektif, fungsi audit internal harus dikelola secara tepat. Pimpinan audit internal bertanggungjawab mengelola bagian audit internal secara tepat, sehingga pekerjaan pemeriksaan memenuhi tujuan umum dan tanggung jawab disetujui oleh manajemen senior dan diterima oleh dewan.

a) Tujuan, kewenangan dan tanggung jawab

Pimpinan audit internal harus memiliki pernyataan tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagi bagian audit internal.

b) Perencanaan

Pimpinan audit internal harus merencanakan segala sesuatu untuk pelaksanaan tanggung jawab bagian audit internal.

(21)

c) Kebijaksanaan

Sebagai pedoman bagi para staf audit maka pimpinan audit internal harus membuat kebijakan dan prosedur secara tertulis.

d) Manajemen personel

Untuk memilih dan mengembangkan sumber daya manusia bagian audit internak maka pimpinan audit internal harus menetapkan program.

e) Auditor eksternal

Pimpinan audit internal harus mengkoordinasikan upaya antara auditor internal dan auditor eksternal.

f) Pengendalian mutu

Untuk mengevaluasi berbagai kegiatan bagian audit internal, pimpinan audit internal harus menetapkan dan mengembangkan pengendalian mutu atau jaminan kualitas.

2.3.9 Laporan Audit

Hasil akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses penyusunan yang baik dan teratur. Laporan ini merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan pertanggungjawaban kepada manajemen. Menurut Arens et al (2008), tahap terakhir dalam proses audit adalah menyiapkan laporan audit (audit report), yang menyampaikan temuan-temuan auditor kepada pemakai.

(22)

Menurut Tampubolon (2005), menjelaskan tentang kriteria laporan audit adalah sebagai berikut:

a. Hasil audit yang dikomunikasikan harus mencakup tujuan luas atau ruang lingkup, kesimpulan, rekomendasi, dan rencana tindak perbaikan yang telah disepakati.

b. Observasi dan rekomendasi yang dimuat dalam laporan harus didasarkan pada atribut-atribut sebagai berikut:

1) Kondisi, yaitu keadaan sebenarnya sesuai bukti yang ditemukan auditor dalam kegiatan pemeriksaannya. Dalam hal ini auditor mengidentifikasi sifat dan luasnya temuan atau sebuah jawaban dari kondisi yang tidak memuaskan.

2) Kriteria, yaitu standar, ukuran, atau harapan yang ditetapkan dan digunakan untuk melakukan evaluasi dan/atau verifikasi.

3) Akibat yang mungkin ditimbulkan (effect), yaitu risiko atau eksposur yang diperoleh karena kondisi tidak konsisten dengan kriteria. Tingkat signifikasnsi dari kondisi atau temuan yang ada biasanya ditentukan dari nilai risikonya.

4) Penyebab (cause), yaitu alasan yang menyebabkan adanya perbedaan antara yang diharapkan (criteria) dan kondisinya yang nyata. Mengidentifikasi penyebab dari kondisi atau temuan yang tidak memuaskan merupakan prasyaray bagi rekomendasi atau tindak perbaikan yang tepat.

(23)

5) Rekomendasi, yaitu saran auditor untuk megatasi risiko atau untuk mengatasi masalah yang ada. Hubungan antara rekomendasi dan penyebab yang mendasarinya haruslah jelas dan logis. Rekomendasi harus secara tepat mengarah kepada apa yang harus diperbaiki atau diubah dan siapa yang bertanggung jawab melakukannya. Biaya untuk mengimplementasikan dan memelihara rekomendasi tersebut harus selalu dibandingkan dengan risiko.

c. Auditor harus mengkomunikasikan pendapatanya secara menyeluruh. d. Laporan mengenai progress audit,baik format maupun isi harus

ditetapkan dan disesuaikan dengan sifat pemeriksaan dan kebutuhan dari pengguna laporan.

2.4 Kinerja Keuangan

2.4.1 Definisi Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan adalah gambaran setiap hasil ekonomi yang mampu diraih oleh perusahaan pada periode tertentu melalui aktivitas-aktivitas perusahaan untuk menghasilkan keuntungan secara efisien dan efektif. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon investor untuk menentukan investasi saham. Bagi sebuah perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham tersebut tetap eksis dan tetap diminati oleh investor.

Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan

(24)

yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Menurut Sucipto (2003) pengertian kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam menghasilkan laba. Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2007) definisi dari kinerja keuangan adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya.

Istilah kinerja atau performance sering dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Menurut Sutrisno (2009) kinerja keuangan adalah prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Fahmi (2011) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga dapat melihat prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan baik perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada. Suatu perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila telah mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

2.4.2 Pengukuran Kinerja Keuangan

Pengukuran kinerja keuangan merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan digunakan perusahaan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan keuangan suatu perusahaan.

(25)

Menurut Hanafi (2004) pengukuran kinerja keuangan dinyatakan sebagai berikut:

“Salah satu rasio untuk menilai prestasi perusahaan atau kinerja keuangan perusahaan adalah rasio profitabilitas yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Rasio profitabilitas ini mengukur perusahaan menghasilkan keuntungan (profitable) pada tingkat penjualan, asset dan modal saham”.

Menurut Kasmir (2008) pengukuran kinerja keuangan dapat digunakan sebagai berikut:

“Hasil pengukuran dapat dijadikan sebagai alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Kegagalan atau keberhasilan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaan laba ke depan, sekaligus kemungkinan untuk menggantikan manajemen yang baru terutama setelah manajemen lama mengalami kegagalan. Oleh karena itu, rasio profitabilitas ini sering disebut sebagai salah satu alat ukur kinerja manajemen”.

Dalam melakukan pengukuran kinerja keuangan, perusahaan biasanya menggunakan rasio yang menghubungkan kinerja keuangan. Menurut Jumingan (2006), rasio keuangan adalah :

“Analisis rasio keuangan merupakan analisis dengan membandingkan satu pos laporan dengan dengan pos laporan keuangan lainnya, baik secara individu maupun bersama-sama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun dalam laporan laba rugi.”

Menurut Nainggolan (2004) ada beberapa rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu:

a. EPS (Earning per Share)

Merupakan laba yang diperoleh perusahaan per lembar saham. Laba per saham merupakan alat ukur yang berguna untuk membandingkan laba dari berbagai entitas usaha yang berbeda dan untuk membandingkan laba suatu entitas dari waktu ke waktu jika terjadi perubahan dalam struktur modal.

(26)

b. DER (Debt to Equity Ratio)

Merupakan rasio yang mengukur besarnya hutang yang ditanggung melalui modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Debt to Equity Ratio adalah instrumen untuk mengetahui kemampuan ekuitas atau aktiva bersih suatu perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban.

c. PER (Price Earning Ratio)

Rasio harga dengan penghasilan atau Price Earning Ratio sering digunakan untuk membandingkan peluang investasi. Suatu rasio harga dan penghasilan saham dihitung dengan membagi harga pasar per lembar saham (market price share) dengan penghasilan perlembar saham (PER). d. ROI (Return on Investment)

Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam menghasilkan pendapatan dari pengelolaan aset

e. ROE (Return on Equity)

Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang ada untuk mendapatkan net income..

Banyak penulis yang memberi masukan jenis rasio yang bisa digunakan untuk memahami kondisi perusahaan. Beberapa rasio yang umumnya dikenal antara lain rasio likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas, akan tetapi masih banyak lagi rasio yang dapat dihitung dari laporan keuangan perusahaan yang kemudian dapat memberikan informasi bagi para pemakai laporan keuangan. Dalam penelitian ini

(27)

menggunakan indikator yang didapat pada penelitian Sariah (2010) yaitu:

1. Kinerja Laba

Meliputi laba yang dapat diukur secara keuangan yang merupakan selisih antara pendapatan dan biaya. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi, serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi

2. Kinerja Investasi

Kinerja investasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengambilan (return) atas aset (selain kas) yang dimanfaatkan dalam menjalankan bisnis, dan yang kedua adalah pengambilan atas investasi lainnya yang didanai oleh surplus kas yang dimiliki perusahaan. Cara sederhana untuk melakukan pengukuran investasi pada unit bisnis adalah dengan menghitung return on investmen (ROI)

2.4.3 Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan

Menurut Munawir (2010), pengukuran kinerja keuangan perusahaan mempunyai beberapa tujuan diantaranya :

1 Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.

(28)

2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

3. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan rentabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang dibandingkan dengan penggunaan aset atau ekuitas secara produktif. 4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan

dalam menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang diukur dari kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami kesulitan atau krisis keuangan. 2.4.4 Pentingnya Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Menurut Hasibuan (2007), menyatakan bahwa kinerja adalah Kinerja merupakan perwujudan kerja yang dilakukan oleh karyawan yang biasanya dipakai sebagai dasar penilaian terhadap karyawan atau organisasi.

Kinerja yang baik merupakan langkah untuk tercapainya tujuan organisasi. Sehingga perlu diupayakan usaha untuk meningkatkan kinerja. Menurut Srimindarti (2004) Kinerja merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang

(29)

dimiliki. Sedangkan menurut Rivai (2008) menyatakan kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan mencari keuntungan yaitu dengan menghasilkan sesuatu yang mengadakan suatu transaksi atau usaha.

2.4.5 Manfaat Penilaian Kinerja

Mengenai manfaat penilaian kinerja, Sedarmayanti (2009) mengemukakan adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan prestasi kerja.

Dengan adanya penilaian, baik pimpinan maupun karyawan memperoleh umpan balik dan mereka dapat memperbaiki pekerjaan/prestasinya.

2. Memberikan kesempatan kerja yang adil.

Penilaian akurat dapat menjamin karyawan memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan sesuai kemampuannya.

3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan.

Melalui penilaian kinerja, terdeteksi karyawan yang kemampuannya rendah sehingga memungkinkan adanya program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

4. Penyesuaian kompensasi.

Melalui penilaian, pimpinan dapat mengambil keputusan dalam menentukan perbaikan pemberian kompensasi, dan sebagainya.

(30)

5. Keputusan promosi dan demosi.

Hasil penilaian kinerja dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mempromosikan atau mendemosikan karyawan.

6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan.

Kinerja yang buruk mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian kinerja dapat membantu mendiagnosis kesalahan tersebut.

7. Menilai proses rekrutmen dan seleksi.

Kinerja karyawan baru yang rendah dapat mencerminkan adanya penyimpangan proses rekruitmen dan seleksi.

2.5 Laporan Keuangan

Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Baridwan (2004) Laporan Keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari suatu transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

Sedangkan Harahap (2009), menjelaskan tentang laporan keuangan adalah sebagai berikut :

“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan posisi keuangan”.

(31)

Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009) laporan Keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen – komponen berikut ini:

a. Neraca

Merupakan laporan posisi keuangan yang menggambarkan asset, kewajiban, dan modal suatu perusahaan dalam suatu tanggal tertentu. b. Laporan Laba Rugi

Merupakan laporan operasi perusahaan selama periode akuntansi yang menyajikan seluruh hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil, laba atau rugi perusahaan.

c. Laporan Perubahan Ekuitas

Merupakan laporan keuangan yang menunjukan perubahan ekuitas setelah digunakan untuk membiayai kegiatan usaha selama satu periode.

d. Laporan Arus Kas

merupakan laporan keuangan yang berisi informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama periode tertentu.

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Merupakan catatan tambahan dan informasi yang ditambahkan ke akhir laporan keuangan untuk memberikan tambahan informasi kepada pembaca dengan informasi lebih lanjut.

(32)

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berkaitan dengan audit internal dan kinerja keuangan yang telah dilakukan oleh para penelitian-penelitian sebelumnya, sehingga hasil penelitian sebelumnya dapat digunakan dan beberapa poin penting dijadikan dasar dalam penelitian ini. Berikut ini beberapa penelitian terdahulu mengenai audit internal dan kinerja keuangan

Berdasarkan hasil penelitian Sari (2013) yang berjudul Pengaruh audit internal terhadap kinerja keuangan perbankan, hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukan bahwa audit internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dan pengaruhnya bersifat positif. Maka dapat dikatakan bahwa semakin baik Audit Internal maka Kinerja Keuangan juga akan semakin meningkat.

Penelitian yang dilakukan Hanifah (2009) mengatakan bahwa audit internal secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap kinerja keuangan. Keberpengaruhan ini mengandung makna jika audit internal secara bersama-sama saling bersinergi maka dapat meningkatkan kinerja keuangan.

Rahayu (2013) meneliti pengaruh audit internal dan intellectual capital terhadap kinerja keuangan. Dihasilkan, audit internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hubungan audit internal terhadap kinerja keuangan terbilang cukup erat dikarenakan kinerja keuangan dapat dijelaskan dengan audit internal. Sehingga dapat dikatakan apabila audit internal tidak memadai maka kinerja keuangan akan menurun.

(33)

Hasil pengujian dari para penelitian terdahulu dapat dilihat dari tabel 2.1 sebagai berikut :

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Peneliti (Tahun)

Variabel yang Digunakan

Hasil Penelitian

1 Hanifah (2009) Struktur kepemilikan, Budaya Organisasi, Komite Audit, Audit Internal, Good Corporate Governance, dan Kinerja Keuangan

Audit internal secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap kinerja keuangan.

2 Eka Noviana Sari (2013)

Audit Internal dan Kinerja Keuangan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukan bahwa audit internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dan pengaruhnya bersifat positif..

3 Rizki Listiani Rahayu (2013)

Audit Internal,

Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan

Audit Internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.

(34)

2.7 Kerangka Pemikiran

2.7.1 Pengaruh Audit Internal Terhadap Kinerja Keuangan

Audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan. Audit internal dapat dijadikan sebagai suatu pengawasan yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk membantu pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran, dan komentar mengenai kegiatan yang di audit. Dengan dilaksanakan audit internal akan mendapatkan kedisiplinan dalam pelaksanaan kegiatan usaha. Kedisiplinan dalam pelaksanaan kegiatan usaha yang dilaksanakan akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan tersebut.

Menurut Hardanto (2006), audit internal menjadi acuan ketepatan waktu seluruh pelaporan keuangan dan menentukan kinerja keuangan pada perusahaan. Sedangkan menurut Umar (2002), menyatakan adanya pengaruh audit internal dengan kinerja keuangan yaitu sebagai berikut:

“Untuk membuat informasi keuangan data yang dibutuhkan antara lain dari hal-hal yang berhubungan dengan kinerja keuangan dalam perusahaan dari data internal perusahaan yang diperoleh dari hasil proses audit internal dan dari hasil intelijen keuangan”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh audit internal dalam melakukan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kewajaran keuangan perusahaan tersebut. Selain itu, audit internal dapat memberikan saran-saran yang dibutuhkan di perusahaan untuk meningkatkan kualitas kinerja dalam menghasilkan informasi keuangan yang berguna untuk pihak-pihak yang berkepentingan.

(35)

Menurut penelitian yang dilakukan Hanifah (2009) menyatakan audit internal secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dengan arahan positif terhadap kinerja keuangan. Keberpengaruhan ini mengandung makna jika audit internal efektif bersama-sama saling bersinergi maka dapat meningkatkan kinerja keuangan. Sejalan dengan penelitian Hanifah (2009), menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukan bahwa audit internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dan pengaruhnya bersifat positif. Maka dapat dikatakan bahwa semakin baik audit internal maka kinerja keuangan juga akan meningkat.

Dari beberapa penjelasan yang telah dikemukakan diatas, penulis beranggapan bahwa adanya pengaruh antara audit internal terhadap kinerja keuangan. Adapun anggapa ini dituangkan dalam bagan kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

(36)

2.8 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris. Berdasarkan tinjauan teoritis, rumusan masalah dan tinjauan penelitian terdahulu yang telah dikemukakan di awal, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

Figur

Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran p.35

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :