8
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (friedman, 1998).
Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang peranannya sangat penting untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan kepada individu dimulai dan dari keluarga inilah akan tercipta tatanan masyarakat yang baik sehingga ubtuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya dimulai dari keluarga. Keluarga adalah sebagian unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Setiadi, 2008).
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama melalui ikatan perkawinan dan kedekatan emosi yang masing – masing mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Ester, 2007).
9 Berdasarkan berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu unit terkecil yang terdiri dari dua orang atau lebih yang tinggal di satu tempat atau rumah, saling berinteraksi satu sama lain, mempunyai peran masing-masing dan mempertahankan suatu kebudayaan.
2. Struktur Keluarga
Menurut Effendy (1998) struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga keluarga istri.
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga keluarga suami.
e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak keluarga yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan suami istri.
10
3. Tipe dan Bentuk Keluarga
Menurut Effendy (1998) ada beberapa tipe keluarga yaitu :
a. Keluarga Inti ( Nuclear Family ), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar ( Extended Family ), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya : nenek, kakek, keponakan, sepupu, paman dan sebagainya.
c. Keluarga Berantai ( Serial Family ), adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan keluarga inti.
d. Keluarga Duda atau Janda ( Single Family ), adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga Berkomposisi ( composite ), adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga Kabitis ( cohabitation ), adalah dua orang yang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
4. Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut : a. Fungsi Biologis.
Untuk meneruskan keturunan, Memelihara dan membesarkan anak, Memenuhi kebutuhan gizi keluarga, Memelihara dan merawat anggota keluarga.
11 b. Fungsi Psikologis.
Memberikan kasih sayang dan rasa aman, Memberikan perhatian diantara anggota keluarga , Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga, Memberikan identitas keluarga.
c. Fungsi sosialisasi.
Membina sosialisasi pada anak, Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
d. Fungsi Ekonomi.
Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kenbutuhan keluarga, Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan keluarga di masa yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya. e. Fungsi Pendidikan.
Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat, minat yang dimilikinya, Mempersiapkan anak untuk kehidupan semasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebgai orang dewasa, Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkatnya.
12
5. Tugas Kesehatan Keluarga
Tugas kesehatan keluarga (friedman, 1998) adalah sebagai berikut : a. Mengenal masalah kesehatan.
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat. c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat. e. Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan
masyarakat.
6. Peran Perawat Keluarga
Dalam melakukan asuhan keperawatan keluarga, perawat perlu memerhatikan prinsip-prinsip berikut :
a. Melakukan kerja bersama keluarga secara kolektif.
b. Memulai pekerjaan dari hal yang sesuai dengan kemampuan keluarga.
c. Menyesuaikan rencana asuhan keperawatan dengan tahap perkembangan keluarga.
d. Menerima dan mengakui struktur keluarga. e. Menekankan pada kemampuan keluarga.
13 Peran perawat keluarga adalah sebagai berikut :
a. Sebagai pendidik, perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga,terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan.
b. Sebagai koordinator pelaksana pelayanan keperawatan, perawat bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif.
c. Sebagai pelaksana pelayanan perawatan, pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki masalah kesehatan. d. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan, perawat melakukan
supervise ataupun pembinaan terhadap keluarga melalui kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap keluarga berisiko tinggi maupun yang tidak.
e. Sebagai pembela (advokat), perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hak-hak keluarga sebagai klien.
f. Sebagai fasilisator, perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga, dan masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah.
14 g. Sebagai peneliti, perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga.
h. Sebagai modifikasi lingkungan, perawat komunitas juga harus dapat memodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekitarnya agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.
(Sudiharto dan Sri Setyowati, 2007)
B. Konsep Tumbuh Kembang Balita
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu yang selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal inilah yang membedakan anak dari orang dewasa. Jadi anak tidak bisa diidentikkan dengan dewasa dalam bentuk kecil. Ilmu Pertumbuhan (Growth) dan Perkembangan (Development) merupakan dasar Ilmu Kesehatan Anak dan kedua istilah itu disatukan menjadi Ilmu Tumbuh-Kembang. Oleh Karena Itu,meskipun merupakan proses yang berbeda, keduanya tidak berdiri sendiri tettapi saling berkaitan satu sama lain. (Tanuwidjaya, 2002)
Aspek tumbuh kembang pada anak dewasa ini adalah salah satu aspek yang diperhatikan secara serius oleh para pakar, karena hal tersebut merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan seseorang
15 baik secara fisik maupun psikososial. Namun,sebagian orang tua belum memahami hal ini terutama orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan dan social ekonomi yang relatif rendah. Mereka menganggap bahwa selama anak tidak sakit, berarti anak tidak mengalami masalah kesehatan termasuk pertumbuhan dan perkembangannya. Sering kali para orang tua mempunyai pemahaman bahwa pertumbuhan dan perkembangan mempunyai pengertian yang sama. (Ambarwati & Nasution, 2012)
1. Perkembangan
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur atau fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ dan sistemnya. (Dr.Nursalam, Susilaningrum, & Utami, 2008).
Perkembangan seorang anak secara umum digambarkan dalam periode-periode. Salah satunya adalah Periode Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari satu sampai dengan lima tahun atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 12-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.
16 Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan bagi perkembangan selanjutnya. (Ronald, 2011)
2. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi ( bertambah banyak ) sel – sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel. (Ambarwati & Nasution, 2012)
Pertumbuhan fisik pertambahan berat badan menurun, terutama diawal balita. Hal ini terjadi karena balita menggunakan banyak energi untuk bergerak. Pertumbuhan Balita ( BB,PB,LK ) UMUR BERAT BADAN PANJANG BADAN LINGKAR KEPALA ( Kg ) ( Cm ) ( Cm ) 1 BULAN 3,0 – 4,3 49.8 – 54.6 33 – 39 2 BULAN 3,6 – 5,2 52.8 – 58.1 35 – 41 3 BULAN 4.2 – 6.0 55.5 – 61.1 37 – 43
17 4 BULAN 4.7 – 6.7 57.8 – 63.7 38 – 44 5 BULAN 5.3 – 7.3 59.8 – 65.9 39 – 45 6 BULAN 5.8 – 7.8 61.6 – 67.8 40 – 46 7 BULAN 6.2 – 8.3 63.2 – 69.5 40.5 – 46.5 8 BULAN 6.6 – 8.8 64.6 – 71.0 41.5 – 47.5 9 BULAN 7.0 – 9.2 66.0 – 72.3 42 – 48 10 BULAN 7.3 – 9.5 67.2 – 73.6 42.5 – 48.5 11 BULAN 7.6 – 9.9 68.5 – 74.9 43 – 49 12 BULAN 7.8 – 10.2 69.6 – 76.1 43.5 – 49.5 15 BULAN 8.4 – 10.9 72.9 – 79.4 44 – 50 1,5 TAHUN 8.9 – 11.5 75.9 – 82.4 44.5 – 50.5 2 TAHUN 9.9 – 12.3 79.2 – 85.6 45 – 51 2,5 TAHUN 10.8 – 13.5 83.7 – 90.4 45.5 – 52.5 3 TAHUN 11.7 – 14.6 87.8 – 94.9 46 – 53 3,5 TAHUN 12.5 – 15.7 91.5 – 99.1 46.5 – 53.3 4 TAHUN 13.2 – 16.7 96.4 – 102.9 47 – 53.8 4,5 TAHUN 13.8 – 17.7 99.7 – 106.6 47.5 – 53.8 5 TAHUN 14.5 – 18.7 102.7 – 109.9 47.8 – 54
18
C. Konsep Malnutrisi
1. Pengertian Malnutrisi
Gizi ( Nutrition ) adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang di konsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbs, transportasi. Penyimpanan metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energy (Nyoman, 2001).
Malnutrisi adalah suatu keadaan dimana tubuh mengalami gangguan penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh (Raharjeng, 2009).
Kurang Energi Protein (KEP) adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) ( Depkes RI, 1997).
Kurang Energi Protein ( KEP ) adalah keadaan kurang gizi akibat konsumsi pangan tidak cukup mengandung energy dan protein serta karena gangguan kesehatan (Dekes RI, 2000).
Kurang Energi Protein ( KEP ) adalah keadaan dimana kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan
19 sehari-hari yang tidak memenuhi Angka Kebutuhan Gizi ( AKG ) (Manjoer Arif, 2000).
Dari berbagai macam pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Malnutrisi kurang energy protein adalah suatu keadaan dimana tubuh mengalami gangguan dalam penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitass akibat konsumsi pangan tidak cukup mengandung energy dan protein serta karena gangguan kesehatan.
2. Anatomi dan Fisiologi
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
20 Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
a. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan.
b. Tenggorokan ( Faring).
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
c. Kerongkongan (Esofagus).
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung.
d. Lambung.
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang
21 berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
e. Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
f. Usus Besar (Kolon).
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
g. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar.
h. Umbai Cacing (Appendix).
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. i. Rektum dan anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat
22 penyimpanan sementara feses. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar – BAB), yang merupakan fungsi utama anus j. Pankreas
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). k. Hati
Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan.
1. Kandung empedu
Kandung empedu adalah organ berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7- 10 cm dan berwarna hijau gelap – bukan karena warna jaringannya, melainkan karena warna cairan empedu yang dikandungnya.
23 Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu:
1) Membantu pencernaan dan penyerapan lemak.
2) Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol.
(http://blogs.unpad.ac.id/haqsbageur/2010/03/26/)
3. Etiologi
Kurang Gizi pada anak bisa terjadi di usia Balita (Bawah Lima Tahun). “ Pedoman untuk mengetahui anak kurang gizi adalah dengan melihat berat dan tinggi badan anak kurang dari normal”. Jika tinggi badan anak tidak terus bertambah atau kurang dari normal itu menandakan bahwa kurang gizi pada anak tersebut sudah berlangsung lama.
Menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurang gizi pada anak.
Pertama, jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut mempengaruhi. Dengan demikian, perhatian ibu untuk kakak sudah tersita dengan keberadaan adiknya sehingga kakak cenderung tidak terurus dan tidak diperhatikan makanannya. Oleh karena itu akhirnya kakak menjadi kurang gizi. “Balita itu konsumen pasif, belum bisa mengurus dirinya sendiri, terutama untuk makan”.
24
Kedua, anak yang mulai bisa berjalan mudah terkena infeksi atau juga
tertular oleh penyakit-penyakit lain.
Ketiga adalah karena lingkungannya yang kurang bersih sehingga
anak mudah akit-sakitan. Karena sakit-sakitan tersebut anak menjadi kurang gizi.
Keempat, kurangnya pengetahuan orangtua teruatama ibu mengenai
gizi. “Kurang gizi yang murni adalah karena makanan.” Ibu harus dapat memberikan makanan yang kandungan gizinya cukup.
Kelima, kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit. Faktor ini cukup
banyak mempengaruhi karena jika anak sudah jarang makan, maka otomatis mereka akan kekurangan gizi.
Keenam, selain karena makanan, anak kurang gizi bisa juga karena adanya penyakit bawaan yang memaksa anak harus dirawat misalnya penyakit jantung dan paru-paru bawaan (Siswono, 2001).
4. Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolong-kan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
25 Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan untuk digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan kematian.
5. Klasifikasi
Penyakit malnutrisi dengan kekurangan energy protein atau tidak mencukupinya makanan bagi tubuh seringkali dikenal dengan marasmus dan kwashiorkor. Namun malnutrisi dibagi menjadi tiga yaitu :
26
a. Kwarsiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan protein baik segi kualitas maupun kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan mengakibatkan kekurangan asam amino essensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolism terutama sebagai pertumbuhan dan perbaikan sel, makin berkurangnya asam amino dalam serum menyebabkan berkurangnya produksi albumin oleh hati. Anak terlihat gemuk semua akibat oedema yaitu penumpukan cairan di sela-sela sel dalam jaringan. Walaupun terlihat gemuk namun otot-otot tubuhnya mengalami pengurusan ( wasting ). Oedema dikarenakan kekurangan asupan protein secara akut misalnya karena penyakit infeksi padahal cadangan protein dalam tubuh sudah habis. Kulit akan tampak bersisik dan kering karena depigmentasi. Anak dapat mengalami gangguan pada mata karena kekurangan vitamin A. Kekurangan mineral khususnya besi, kalsium dan zheng. (Hanum Marimbi,2010)
b. Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan
kalori dan protein. Pada marasmus ditandai dengan atropi jaringan terutama lapisan subcutan dan badan tampak kurus seperti orang tua. Pada marasmus metabolisme lemak kurang terganggu daripada kwarsiorkor sehingga kekurangan vitamin biasanya minimal atau tidak ada. Pada marasmus tidak ditemukan edema akibat dari hipoalbuminemia atau retensi sodium. Pemenuhan kebutuhan dalam
27 tubuh masih dapat ditemui dengan adanya cadangan protein sebagai sumber energy (Yuliani, 2006)
c. Marasmus-Kwasiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula. (Dekes RI, 2000)
6. Manifestasi Klinik
a. Tanda dan gejala terjadinya kurang energy protein :
1) Badan kurus di timbang pada KMS berada di bawah garis merah atau pita kuning bagian bawah.
2) Lemah lesu.
3) Selera makan kurang.
4) Gangguan pertumbuhan pada anak.
5) Ganguan kecerdasan kepada anak mudah terkena penyakit. b. Kategori KEP berdasarkan kriteria KMS yang baru di bedakan
28 1) KEP sedang – berat.
Anak disebut masuk dalam kategori sedang –berat bila berat badan kurang dari 70% baku rujukan BB/u WHO- NCHS, pada KMS artinya sama dengan di bawah garis merah.
2) KEP ringan.
Anak di sebut KEP ringan bila berat badan 70% sampai kurang dari 80% baku rujukan BB/u WHO- NCHS.
Table kategori KEP menurut standar baku WHO-NCHS
Kategori Kriteria
WHO-NCHS
Kriteria menurut KMS
KEP Ringan 70 - <80 %
Pita warna kuning (antara pita warna hijau
dan garis merah
KEP Sedang-berat < 70 % BGM
Tabel Kategori KEP
c. Cara mendeteksi KEP:
1) KEP dapat di deteksi dengan cara antropometri yaitu mengukur BB dan umur yang di bandingkan dengan indeks BB/u baku standar WHO-NCHS sebagai mana tercantum dalam KMS. 2) Badan kurus biala di timbang BB pada KMS berada di bawah
garis merah.
3) Lemah lesu dan cengeng.
4) Gangguan pertumbuhan badan kurang. 5) Selera makan kurang.
29 7) Sikap anak kurang tanggap.
d. Penyakit penyerta yang menyertai KEP yaitu : 1) Kwasiokor.
Kwasiokor dapat di jumpai pada usia anak bayi yang masih di sapih atau pada anak usia pra sekolah yang merupakan golongan umur yang relatif memerlukan banyak protein untuk tubuh. Tanda dan Gejala Kwasiokor :
a) Gejala yang terpenting adalah pertumbuhan yang terganggu. b) Gejala gastrointestinal.
c) Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah di cabut tanpa rasa sakit, rontok/ perubahan pada rambut.
d) Kulit penderita kering.
e) Oedem di seluruh tubuh dan terutama pada kaki. f) Wajah membulat atau sembab.
g) Pandangan mata anak tampak sayu.
Pengobatan Kwasiokor : Prinsisp Kwasiokor ialah memberikan makanan yang mengandung banyak protein yang bernilai hayati tinggi.
30 2) Marasmus.
Gejala marasmus : Pertumbuhan kurang atau terhenti, Anak masih suka menangis, Konstipati diare, Lemak pipi menghilang wajah penderita seperi wajah orang tua.
Komplikasi yang akan terjadi : Infeksi, Diare, Gangguan keseimbangan elektrolit, Defisiensi vitamin A, Anemi.
Pencegahan: Pendidikan kesehatan, Rutin ke posyandu,Program makanan tambahan, Pemberian zat besi, Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, Pemberian kapsul minyak beryodium (Ngastiyah, 2005).
7. Komplikasi
Bahaya komplikasi pada pasien malnutrisi energi protein sangat mudah mendapat infeksi karena daya tubuhny rendah terutama system kekebalan tubuh. Infeksi yang paling sering adalah bronkopneumonia dan tuberculosis. adanya atrofilis usus menyebabkan penyerapan terganggu mengakibatkan pasien sering diare. Melihat komplikasi tersebut sukar untuk di cegah yang perlu di perhatikan adalah kebersihan mulut, kulit, dan hipotermia (Ngastiyah, 2005).
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan malnutrisi (tingkat ringan dan sedang) dilakukan dengan memberikan makanan yang bergizi, menu yang seimbang, mengandung karbohidrat dan protein dalam jumlah yang cukup. Selain
31 itu, perlu juga mengobati penyakit lain yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak (misalnya diare). Anak dengan keadaan malnutrisi berat sering berada dalam keadaan darurat dan sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan (Riyadi, 2009)
D. Proses Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan pada Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Malnutrisi kurang energi protein menurut (friedman, 1998) antara lain :
a. Identitas Data.
Nama keluarga, alamat dan no telepon, komposisi keluarga, tipe bentuk keluarga, latar belakang kebudayaan, identifikasi religi, status kelas keluarga, dan aktifitas-aktifitas rekreasi atau aktifitas waktu luang.
b. Tahap perkembangan dan riwayat keluarga.
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini : Malnutrisi kurang energi protein sering ditemukan pada keluarga dengan anggota keluarganya baik anak atau pun yang dewasa.
32 3) Riwayat keluarga inti : Adanya anggota keluarga yang terkena malnutrisi kurang energi protein (balita) mempunyai resiko terhambatnya tumbuh kembang.
4) Riwayat keluarga asal dari kedua orang tua. c. Data Lingkungan.
1) Karakteristik rumah : Rumah yang kurang nyaman, serta sanitasi yang kurang hygienis dapat mempengaruhi kebersihan makanan dan minuman, Status rumah yang dihuni keluarga apakah rumah sendiri atau menyewa dapat mempengaruhi keperdulian keluarga dalam menjaga kebersihan.
2) Karakteristik lingkungan, sekitar rumah dan lingkungan yang lebih besar (tetangga dan masyarakat yang lebih luas : Tempat tinggal yang sempit, padat, sanitasi yang tidak terjaga,lingkungan dengan keluarga ekonomi menengah ke bawah).
3) Fasilitas dan pelayanan kesehatan : Tingkat ekonomi yang rendah dapat mengakibatkan sulitnya pengobatan malnutrisi kurang energi protein. Ketidak efektifannya dan keluarga dalam mengunjungi pelayanan kesehatan yang ada.
4) Fasilitas transportasi : Transportasi merupakan sarana yang penting dan sangat diperlukan agar penderita mendapatkan
33 pelayanan kesehatan dengan segera. Ketiadaan sarana transportasi menjadikan masyarakat enggan berkunjung ke pelayanan kesehatan sehingga kondisi akan semakin memburuk.
d. Struktur Keluarga.
1) Struktur komunikasi : Berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga merupakan tugas keluarga, dan dapat menurunkan beban masalah.
2) Struktur kekuasaan : Kekuasaan dalam keluarga dipegang oleh pemegang keputusan yang mempunyai hak dalam menentukan masalah dan kebutuhan dalam mengatasi masalah kesehatan diare dalam keluarga.
3) Struktur peran : Peran antar kelurga menggambarkan perilaku interpersonal yang berhubungan dengan masalah kesehatan dalam posisi dan situasi tertentu.
e. Nilai-nilai keluarga.
Beban kasus keluarga sangat bergantung pada nilai kekuasaan dan kebutuhan akan asuhan keperawatan keluarga.
f. Fungsi Keluarga.
1) Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang disebabkan oleh : Kurangnya pengetahuan keluarga tentang malnutrisi kurang energi protein, anggapan bahwa penyakit
34 malnutrisi kurang energi protein adalah biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya.
2) Ketidak kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan serta dalam mengambil tindakan yang tepat tentang malnutrisi kurang energi protein berhubungan dengan :
a) Tidak memahami mengenai sifat berat dan meluasnya masalah malnutrisi kurang energi protein.
b) Ketidak mampuan keluarga dalam memecahkan masalah karena kurangnya pengetahuan dan sumber daya keluarga seperti : latar belakang pendidikan dan keuangan keluarga. c) Ketidak mampuan keluarga memilih tindakan diantara
beberapa alternatif perawatan dan pengobatan terhadap malnutrisi kurang energi protein.
d) Ketidak mampuan keluarga dalam merawat anggota kelurga yang sakit berhubungan dengan tidak mengetahui keadaan malnutrisi kurang energi protein misal : sifat malnutrisi kurang energi protein, penyebab malnutrisi kurang energi protein, dan tanda gejala yang menyertai malnutrisi kurang energi protein.
35 g. Koping keluarga.
Koping keluarga dipengaruhi oleh situasi emosional keluarga, sikap dan pandangan hidup, hubungan kerja sama antara anggota keluarga serta adanya support system dalam keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan
Perumusan masalah dilakukan dengan menggunakan data yang diperoleh dari pengkajian keluarga. Struktur diagnosis keperawatan.
Keluraga terdiri dari masalah (problem), penyebab (etiologi) dan atau tanda atau gejala. Maslah adalah suatu pernyataan tidak terpenuhi kebutuhan dasar manusia yang dialami keluarga atau anggota keluarga.
Penyebab adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu pada liam tugas keluarga yaitu mengenal masalah, mengambil keputusan yang tepat, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Tanda/gejala adalah sekumpulan data objektif dan subjektif yang diperoleh oleh perawat dari kelurga yang mendukung maslah dan penyebab.
Diagnosis keperwatan keluarga merupakan respons keluarga terhadap masalah kesehatan yang dialami, baik actual, risiko ataupun potensial, yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan secara mandiri maupun kolektif yang terdiri dari maslah, etiologi, serta tanda dan gejala(PES).
36 Diagnosis keperawatan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu diagnosis keperwatan actual, risiko/risiko tinggi, dan potensial/wellness.
a. Diagnosis actual, menunjukan keadaan yang nyata dan sudah terjadi pada saat pengkajian di keluarga.
b. Risiko/ risiko tinggi. Merupakan maslah yang belum terjadi pada pengkajian. Namun dapat menjadi maslah actual bila tidak diulakukan pencegahan dengan cepat.
c. Potensial/ Wellness. Merupakan proses pencapaian tingkat fungsi yang lebih tinggi. Potensial juga merupakan suatu keadaan sejahtera dari keluarga yang sudah mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan. Diagnosis Potensial dapat dirumuskan tanpa disertai etiologi.
3. Penetapan Prioritas Masalah
Dalam suatu keluarga, perawat dapat menemukan masalah lebih dari satu diagnosis keperawatan keluarga. Oleh karena itu perawat perlu menentukan prioritas terhadap diagnosis keperawatan keluarga yang ada dengan menggunakan skala proritas asuhan keperawatan keluarga (Bailon dan Maglaya, 1978). Prioritas masalah adalah penentuan prioritas urutan masalah dalam merencanakan penyelesaian maslah keperawatan melalui perhitungan skor. Skala ini memiliki empat kriteria, masing – masing
37 kriteria memiliki skor dan bobot yang berbeda disertai dengan pembenaran atau alasan penentuan skala tersebut.
a. Kritera pertama : sifat masalah dengan skala actual (skor 3), risiko (skor 2), dan wellness (skore 1) dengan bobot 1, pembenaran sesuai dengan masalah yang sudah terjadi, akan terjadi atau kearah pencapaian tingkat fungsi yang lebih tinggi.
b. Kriteria kedua : Kemungkinan maslah dapat di ubah dengan skala mudah (skor 2), sebagian (skor 1), dan tidak dapat (skor 0) dengan bobot 2. Pembenaran di tunjang dengan data pengetahuan (pengetahuan klien/keluarga, teknologi, dan tindakan untuk menangani masalah yang ada), sumberdaya keluarga (dalam bentuk fisik, keuangan, dan tenaga) sumber daya perawat (pengetahuan, ketrampilan, dan waktu), dan sumber daya masyarakat (dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyrakat dan sokongan masyarakat).
c. Kriteria ketiga : Potensial masalah untuk di cegah dengan skala skor tinggi (skor 3) cukup (skor 2), dan rendah (skor 1) dengan bobot 1. Pembenaran di tunjang dengan data kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah. Lamanya masalah (waktu masalah itu ada), tindakan yang sedang dijalankan(tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah), dan adanya kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.
38
d. Kriteria keempat : Menonjolnya masalah dengan skala segera (skor 2), tidak perlu segera (skor 1), dan tidak dirasakan (skor 0) dengan bobot.
Pembenaran di tunjang dengan data persepsi keluraga dalam melihat masalah yang ada, Untuk lebih jelasnya skala dalam menentukan prioritas dapat dilihat dalam tabel.
NO KRITERIA SKOR BOBOT PEMBENARAN
1 Sifat masalah. Skala: aktual Risiko Potensial/wellness 3 2 1 1 Masalah dapat dicegah karena keluarga mampu mencegah. 2 Kemungkinan masalah dapat diubah. Skala : Mudah Sebagian Tidak dapat 2 1 0 2 Masalah dapat diatasi sebagian karena keluarga mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah. 3
Potensi masalah untuk dicegah. Skala : Tinggi Cukup Rendah 3 2 1 1 Potensial diubah tinggi karena di sekitar lingkungan keluarga terdapat posyandu. 4 Menonjolnya masalah. Skala : Segera
Tidak perlu segera Tidak dirasakan 2 1 0 1 Masalah segera ditangani dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Tabel skala untuk menentukan prioritas askep keluarga
Setelah kita mampu menentukan skor dari tiap criteria kemudian kita lakukan perhitungan menggunakan rumus berikut untuk menetapkan nilai masalah. skor dibagi angka tertinggi di kali bobot, jumlahkan
39 skornya. skor tertinggi merupakan prioritas diagnosis yang akan kita tanggulangi lebih dahulu.
Skor
X Bobot = Nilai
Skala tertinggi
4. Rencana Asuhan Keperawatan
Perencanaan adalah penyusunan rencana asuhan keperawatan yang terdiri dari komponen tujuan umum, tujuan khusus, criteria, rencana tindakan, dan standar untuk meyelesaikan masalah keperawatan keluarga berdasarkan prioritas dan tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penyusunan prioritas, menetapkan tujuan, identifikasi sumber daya keluarga, dan menyeleksi intervensi keperawatan. Penetapan tujuan meliputi tujuan umum dan khusus, serta dilengkapi dengan criteria dan standar.
Tujuan umum adalah bagian dari perencanaan yang meliputi perumusan tujuan sampai penyelesaian masalah yang berorientasi pada masalah keperawatan (problem). Tujuan khusus adalah bagian dari perencanaan yang meliputi perumusan tujuan sampai pada penyelesaian masalah yang berorientasi pada penyebab masalah (etiologi).
Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus
40 yang ditetapkan. Kriteria adalah suatu hasil yang secara rasional mampu dicapai keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan.Keluarga ataupun memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga. Standar adalah tolok ukur pencapaian hasil intervensi keperawatan terhadap masalah keperawatan atau kebutuhan kesehatan keluarga, apakah hasilnya telah sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
5. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah tahap penyelesaian masalah keperawatan keluarga berdasarkan perencanaan yang ditetapkan melalui prosedur spesifik yang terdiri dari partisipasi aktif keluarga, penyuluhan kesehatan, konseling, kontrak, manajemen kasus, kolaborasi, dan konsultasi.
Partisipasi aktif keluarga adalah suatu pendekatan esensial yang dimasukkan dalam setiap strategi pelaksanaan tindakan keperawatan keluarga dengan melibatkan keluarga dalam memecahkan masalah, mendiskusikan, serta memutuskan pendekatan yang paling tepat untuk digunakan agar mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.
Penyuluhan kesehatan adalah proses belajar mengajar yang dilakukan pada keluarga tentang pemeliharaan kesehatan / perawatan dengan tujuan member dukungan terhadap perilaku sehat atau mengubah perilaku yang tidak sehat.
Konseling adalah suatu bantuan interaktif yang diberikan perawat sebagai konselor dan klien yang ditandai dengan komponen penerimaan,
41 empati, ketulusan, dan kesesuaian melalui berbagai teknik aktif / pasif yang berfokus pada kebutuhan, masalah, atau perasaan klien yang terganggu.
Kontrak adalah persetujuan kerja yang dibuat dua orang atau lebih antara perawat dan keluarga dalam melaksanakan rangkaian perawatan kesehatan keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi sehingga keluarga terlibat dalam menyelesaikan masalah yang merupakan tanggung jawabnya. Didalam kontrak juga dicantumkan tujuan yang hendak dicapai dan tanggung jawab dari anggota-anggota yang terlibat.
Manajemen kasus adalah strategi dan proses pengambilan keputusan klinis atau proses untuk penentuan, pengintegrasian, dan pemantauan kebutuhan klien yang kompleks, yang meliputi partisipasi aktif klien, orientasi holistic, oerientasi perawatan diri, koordinasi dan penggunaan berbagai pelayanan kemanusiaan yang efisien.
Kolaborasi adalah perawatan yang diberikan oleh sejumlah tenaga professional dalam bidang perawatan.kesehatan yang bekerja bersama untuk meberikan perawatan yang komprehensif dan terintegrasi.
Konsultasi adalah kegiatan memberi nasihat atau pelayanan / bantuan kepada keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan tertentu.Pelaksanaan yang sudah disusun dilaksanakan dengan memobilisasi sumber – sumber daya yang ada dikeluarga, masyarakat,
42 dan pemerintah setempat. Tindakan keperawatan terhadap keluarga mencakup hal dibawah ini :
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberi informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan, dan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara mengidentifikasi konsekuensi bila tidak melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan mendiskusikan tentang konsekuensi tiap tindakan.
c. Memberi kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat fasilitas yang ada dirumah, dan mengawasi keluarga dalam melakukan perawatan.
d. Membantu keluarga untuk menemukan cara membuat lingkungan menjadi sehat yaitu dengan menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan oleh keluarga dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga dan membantu keluarga menggunakan fasilitas tersebut.
43
6. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan menilai keefektifan intervensi yang telah dilaksanakan. Evaluasi dilakukan bersama antara keluarga dan tenaga kesehatan.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan pada keluarga berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan malnutrisi kurang energi protein.
2. Gangguan tumbuh kembang pada keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan malnutrisi kurang energi protein.
3. Resiko infeksi sekunder pada anggota keluarga berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan malnutrisi
44 F. Rencana Asuhan Keperawatan
NO Tanggal Diagnosa Tujuan Rencana Keperawatan Intervensi
Umum Khusus Kriteria Standar
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan pada keluarga berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan malnutrisi kurang energi protein. Setelah dilakukan tindakan selama 3 hari diharapkan keluarga mampu melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga. 1. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan
selama 1x15 menit keluarga mampu mengenal masalah malnutrisi a. Keluarga dapat menyebutkan pengertian malnutrisi. b. Keluarga dapat menyebutkan penyebab malnutrisi. c. Keluarga dapat
menyebutkan tanda dan gejala malnutrisi.
Respon Verbal
Respon Verbal
Respon Verbal
Arti dari gizi buruk atau malnutrisi adalah keadaan kurang gizi tingkat berat
pada anak yang
disebabkan kurangnya
asupan gizi yang
berlangsung lama.
Penyebab malnutrisi :
1. Sosial ekonomi
kurang.
2. Cara penyapihan yang kurang tepat.
3. Pemasukan gizi kurang
baik dari segi
karbohidrat dan
protein. 4. Sering sakit.
Tanda dan gejala : 1. Badan kurus.
2. Rambut tipis, warna
kemerahan, mudah
1. Berikan penkes
tentang
pengertian,penyeba b,tanda dan gejala dan komplikasi. 2. Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya. 3. Tanyakan kembali
tentang materi yang telah diberikan. 4. Berikan
reinforcement positif atas jawaban keluarga.