PENGEMBANGAN MODUL DIGITAL PEMBELAJARAN KATA SERAPAN BAHASA INDONESIA BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SKRIPSI

175 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN MODUL DIGITAL PEMBELAJARAN KATA SERAPAN BAHASA INDONESIA BAGI MAHASISWA

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Disusun oleh: Rangga Herdyawan

161224074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penulis persembahkan karya ini sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini bisa

terselesaikan.

2. Bapak dan Ibuku, Siswoko dan Widyastuti atas doa, kasih sayang, dukungan, kepercayaan dan motivasi yang selalu diberikan selama ini.

3. Adikku tersayang, Sabilla Puspita Dewi atas dukungan, penghiburan, dan motivasi yang diberikan selama ini.

4. Ibu Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., atas kesempatan yang diberikan untuk bergabung dalam bimbingan beliau serta atas kesabaran dan dedikasi beliau dalam membimbing penulis.

5. Para dosen PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan penuh kesabaran serta dedikasi luar biasa telah mengajar dan membimbing penulis selama menjadi mahasiswa.

6. Seluruh sahabat, teman, dan semua orang yang turut memberikan dukungan, pengalaman, dan pelajaran hidup bagi penulis selama ini.

(3)

v MOTTO

“Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu.”

(2 Tawarikh 15:7)

“You’re not rich until you have something that money can’t buy.” (Unknown)

“Jangan pernah berhenti! Setidaknya, kamu harus tahu bahwa keajaiban terjadi setiap saat.”

(4)

viii ABSTRAK

Herdyawan, Rangga. 2020. Pengembangan Modul Digital Pembelajaran Kata Serapan Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakulats Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana pengembangan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia guna meningkatkan pengetahuan mengenai kata serapan bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research & Development (R&D) yang mengacu pada langkah Borg dan Gall. Pengembangan modul digital pembelajaran dikembangkan melalui langkah pengembangan menurut Borg dan Gall yang disederhanakan menjadi empat langkah, yaitu: penelitian dan pengumpulan informasi berupa analisis kebutuhan pembelajaran, pengembangan produk, validasi modul digital, revisi berdasarkan hasil validasi. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik kuesioner, wawancara, dan telaah buku.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan mempelajari kata serapan bahasa Indonesia karena kurangnya sumber rujukan yang dapat digunakan untuk mempelajari kata serapan bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, peneliti mengembangkan modul digital kata serapan bahasa Indonesia. Kelayakan modul digital divalidasi oleh dosen ahli I dan dosen ahli II berdasarkan lima aspek, meliputi aspek isi/materi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafikan, dan aspek media. Hasil validasi oleh dosen ahli I dan dosen ahli II menunjukkan perolehan skor rata-rata 3,73 dengan persentase 74,6%. Jadi, berdasarkan hasil validasi tersebut modul digital dengan judul Modul Kata Serapan Bahasa Indonesia layak digunakan.

(5)

ix ABSTRACT

Herdyawan, Rangga. 2020. The Development of Indonesian Loanwords Digital Module for Indonesian Language Education and Arts Study Program Students. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language Education and Arts Study Program, Language Education and Arts Department, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University.

The problem formulation on this research is how the development of Indonesian loanwords digital module for Indonesian Language Education and Arts Study Program students increases the Indonesian loanword knowledge of Indonesian Language Education and Arts Study Program students. This research aims to produce a digital module on Indonesian loanwords for Indonesian Language Education and Arts Study Program students.

This study employed Research & Development (R&D) method according to Borg and Gall’s steps. The digital module learning development was developed through development steps according to Borg and Gall that were simplified into four steps, i.e.: research and data gathering in the form of learning needs analysis, product development, digital module validation, revision based on validation result. The research data was gathered using questionnaire, interview, and book review techniques.

The research result shows that students had a problem when they learn about Indonesian loanwords due to the lack of reference sources that could be used to learn about Indonesian loanwords. Based on the results of the preliminary study, Indonesian loanwords Digital Module was developed. The digital module feasibility was validated by two expert lecturers based on five aspects, i.e. : content/material, presentation, language, graphics, and media aspects. The validation result showed average score of 3.73 with percentage of 74.6%. Thus, the digital module entitled “Modul Digital Kata Serapan Bahasa Indonesia” is feasible to be used.

(6)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPERLUAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR BAGAN ... xviii

DAFTAR GRAFIK ... xix

DAFTAR GAMBAR ... xx

DAFTAR DIAGRAM ... ..xxii

DAFTAR LAMPIRAN ... xxiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Batasan Masalah ... 6

(7)

xiv

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

1.6 Definisi Operasional ... 8

1.7 Spesifikasi Produk ... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

2.1 Penelitian yang Relevan ... 12

2.2 Landasan Teori ... 15

2.2.1 Hakikat Bahasa Indonesia ... 16

2.2.2 Fonologi ... 17

2.2.3 Morfologi Bahasa Indonesia ... 18

2.2.4 Morfofonemik ... 20

2.2.5 Kosakata Bahasa Indonesia ... 22

2.2.6 Kata Serapan Bahasa Indonesia ... 23

2.2.6.1 Hakikat Kata Serapan ... 24

2.2.6.2 Faktor-Faktor Pemungutan Kata ... 25

2.2.6.3 Bentuk Kata Serapan ... 27

2.2.6.4 Penulisan Unsur Serapan dalam Bahasa Indonesia ... 29

2.2.7 Hakikat Modul ... 33

2.2.7.1 Hakikat Modul Digital ... 33

2.2.7.2 Karakteristik Modul ... 35

2.2.7.3 Prosedur Penulisan Modul ... 37

2.2.7.4 Struktur Penulisan Modul ... 42

(8)

xv

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 49

3.1 Jenis Penelitian ... 49

3.2 Data dan Sumber Data ... 50

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 50

3.4 Instrumen Penelitian... 51

3.5 Teknik Analisis Data ... 53

3.6 Prosedur Penelitian... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 62

4.1 Hasil Penelitian ... 62

4.1.1 Hasil Penelitian dan Pengumpulan Informasi ... 62

4.1.1.1 Deskripsi Hasil Wawancara Dosen Ahli ... 64

4.1.1.2 Deskripsi Instrumen Kuesioner Penelitian Pengembangan Modul Bahasa Indonesia Bagi Mahasiswa ... 66

4.1.2 Pengembangan Modul Digital Kata Serapan Bahasa Indonesia ... 69

4.1.2.1 Penentuan Tujuan ... 70 4.1.2.2 Pemilihan Bahan ... 70 4.1.2.3 Penyusunan Kerangka ... 72 4.1.2.4 Pengumpulan Bahan ... 72 4.1.3 Uji Validasi ... 73 4.1.4 Revisi Produk ... 78

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 86

4.2.1 Deskripsi Modul ... 86

(9)

xvi

4.2.1.2 Aspek Penyajian ... 91

4.2.1.3 Aspek Bahasa ... 93

4.2.1.4 Aspek Kegrafikan ... 94

4.2.1.5 Aspek Media ... 96

4.2.2 Deskripsi Hasil Validasi ... 97

4.2.3 Deskripsi Analisis Kelayakan Modul ... 99

4.2.4 Kajian Produk Akhir ... 104

BAB V PENUTUP ... 111 5.1 Kesimpulan ... 111 5.2 Saran ... 112 DAFTAR PUSTAKA ... 115 BIOGRAFI PENULIS ... 118 LAMPIRAN ... 119

(10)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kriteria Skor ... 54

Tabel 3.2 Kriteria Kelayakan ... 56

Tabel 4.1 Hasil Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 67

Tabel 4.2 Kesimpulan Kolom Uraian Kuesioner Penelitian Pengembangan Modul Kata Serapan Bahasa Indonesia ... 68

Tabel 4.3 Tujuan Pembelajaran ... 70

Tabel 4.4 Skor Rata-Rata Validasi Dosen Ahli I dan Dosen Ahli II ... 74

Tabel 4.5 Tujuan Pembelajaran ... 87

Tabel 4.6 Rekapitulasi Rata-Rata Hasil Validasi Dosen Ahli ... 98

Tabel 4.7 Analisis Kelayakan Modul Berdasarkan Validasi Dosen Ahli I dan Dosen Ahli II ... 100

(11)

xviii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir ...48 Bagan 3.1 Prosedur Penelitian Pengembangan Menurut Borg dan Gall ...59 Bagan 3.2 Prosedur Penelitian Pengembangan Modul Digital oleh Peneliti ...61

(12)

xix

DAFTAR GRAFIK

(13)

xx

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Pemberian Contoh ... 79

Gambar 4.2 Sebelum dan Sesudah Revisi Penambahan Pilihan Ganda ... 80

Gambar 4.3 Sebelum dan Sesudah Revisi Tugas 1 ... 81

Gambar 4.4 Pemberian Daftar Bagan dan Tabel ... 82

Gambar 4.5 Sebelum dan Sesudah Revisi Aspek Kebahasaan ... 83

Gambar 4.6 Sebelum dan Sesudah Revisi Jarak Antarbaris ... 84

Gambar 4.7 Sebelum dan Sesudah Revisi Ukuran Huruf pada Judul ... 85

Gambar 4.8 Tugas 1 dan Refleksi ... 89

Gambar 4.9 Tes Formatif 1 ... 89

Gambar 4.10 Tugas 2 dan Refleksi ... 90

Gambar 4.11 Tes Formatif 2 ... 90

Gambar 4.12 Kilas Kata Kita ... 91

Gambar 4.13 Padanan Istilah Bahasaku ... 91

Gambar 4.14 Rasionalisasi ... 92

Gambar 4.15 Petunjuk Penggunaan Modul ... 92

Gambar 4.16 Tujuan Pembelajaran dan Peta Konsep ... 93

Gambar 4.17 Aspek Kegrafikan dalam Modul ... 95

Gambar 4.18 Tampilan Modul Digital ... 96

Gambar 4.19 Pemberian Contoh dalam Modul ... 105

Gambar 4.20 Penambahan Pilihan Ganda Modul ... 105

Gambar 4.21 Pemberian Daftar Bagan dan Tabel dalam Modul ... 106

(14)

xxi

Gambar 4.23 Jarak Antarbaris Final ... 108

Gambar 4.24 Petunjuk Instalasi Modul ... 109

Gambar 4.25 Tampilan Modul Digital ... 109

(15)

xxii

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Skor Rata-Rata Validasi Dosen Ahli I dan Dosen Ahli II

pada Tiap Aspek ... 75 Diagram 4.2 Data Rata-Rata Hasil Validasi oleh Dosen I dan II ... 97

(16)

xxiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kisi-Kisi Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 120

Lampiran 2 Kisi-Kisi Validasi Modul Digital Dosen Ahli ... 121

Lampiran 3 Hasil Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 122

Lampiran 4 Rangkuman Hasil Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 130

Lampiran 5 Kategori Analisis Kuesioner Mahasiswa ... 136

Lampiran 6 Rekap Analisis Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 137

Lampiran 7 Komentar Instrumen Kuesioner Mahasiswa ... 138

Lampiran 8 Transkrip Wawancara ... 139

Lampiran 9 Instrumen Validasi oleh Dosen Ahli I ... 141

Lampiran 10 Instrumen Validasi oleh Dosen Ahli II ... 146

Lampiran 11 Hitungan Hasil Validasi Dosen Ahli ... 151

Lampiran 12 Data Hasil Validasi Dosen Ahli ... 155

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini akan mengkaji tujuh subbab, yaitu latar belakang, batasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan spesifikasi produk. Berikut uraian ketujuh subbab pada bagian pendahuluan.

1.1Latar Belakang

Dewasa ini, dunia berada pada fase revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 ini adalah fase yang menunjukkan bahwa dunia sedang dalam masa perkembangan teknologi yang sangat pesat. Kemajuan teknologi juga berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, mulai dari segi ekonomi dan bisnis, segi kebudayaan, hingga bidang pendidikan. Kemunculan robot pintar, kecanggihan internet, dan teknologi virtual reality adalah beberapa wujud penerapan kecanggihan teknologi saat ini.

Dalam dunia pendidikan, kemajuan teknologi menunjukan peranan yang sangat penting. Kemajuan teknologi mampu meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Peserta didik dapat dengan mudah mencari informasi secara daring apabila menemui kesulitan dalam mencari pengetahuan secara konvensional dengan menggunakan buku (idntimes.com, 29 April 2019). Pengaruh positif teknologi mampu memumbuhkan semangat instansi pendidikan dan peserta didik untuk mencari informasi lebih mendalam guna menunjang proses pembelajaran. Menurut Rosenberg dalam G. Gunawan

(18)

(2009) (dalam Sudibyo, 2011), dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi maka terdapat lima proses pergeseran dalam pembelajaran, yaitu (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke daring atau saluran, (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Teknologi informasi dalam dunia pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia (Sukadi, 2008) dalam Sudibyo (2011).

Perkembangan teknologi berpengaruh pula terhadap bidang kebahasaan. Setiap kecanggihan teknologi memiliki bahasa yang digunakan sebagai pengantar, termasuk bahasa Indonesia. Dewasa kini banyak aplikasi canggih yang menyematkan penggunaan bahasa Indonesia di dalamnya. Guna memenuhi kebutuhan perkembangan zaman, bahasa Indonesia beradaptasi cepat dengan memasukkan istilah-istilah asing ke dalam tatanan bahasa Indonesia. Istilah-istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah ‘kata serapan’.

Kata serapan adalah kata yang diserap atau diadopsi dari bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Kridalaksana (1985), mejelaskan bahwa kata serapan adalah “pinjaman” berupa bunyi, fonem, unsur gramatikal atau unsur leksikal yang diambil dari bahasa lain. Dalam bahasa Indonesia, banyak kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jepang, bahasa Arab,

(19)

bahasa Portugis, dan bahasa daerah, seperti bahasa Jawa. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh jajahan dari negara-negara tersebut kepada Indonesia dan pengaruh dari komunikasi perdagangan dari timur tengah yang masuk ke Indonesia.

Penggunaan kata serapan di Indonesia dimaksudkan untuk memperkaya leksikon atau kosakata bahasa Indonesia sehingga meminimaliasi penggunaan istilah asing dalam proses komunikasi maupun semua proses kebahasaan demi tujuan yang lebih besar, yaitu internasionalisasi bahasa Indonesia . Namun, hal tersebut memiliki tantangan yang berat karena pada kenyataannya, masyarakat Indonesia belum mengenal lebih jauh tentang penggunaan kata serapan yang telah ada dalam bahasa Indonesia dan lebih memilih menggunakan istilah asing maupun bahasa daerahnya dalam proses kebahasaan yang dilakukannya. Banyak faktor yang menyebabkan penggunaan bahasa asing. Menurut artikel yang dimuat dalam kompasiana.com pada 13 Maret 2018 dengan judul “Mengapa Kita Masih Sering Memakai Istilah Asing?”, Penggunaan kata-kata asing dicampur dengan bahasa Indonesia baik secara tulis maupun lisan menunjukkan sebuah praktik kedwibahasaan yang terjadi di masyarakat. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya istilah-istilah atau kata bahasa asing yang dikenali oleh masyarakat yang salah satunya diakibatkan oleh kemajuan pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, sehingga ketika mereka melakukan percakapan, seseorang akan menggunakan kata-kata asing yang diketahuinya demi maksud tertentu.

(20)

Alasan penggunaan kata asing dalam berkomunikasi dan berbahasa erat kaitannya dengan fungsi bahasa. Menurut Popper (1972), fungsi bahasa tidak melulu untuk menyampaikan keterangan atau informasi kepada orang lain (fungsi informatif), namun juga berfungsi untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran (fungsi ekspresif), memaparkan suatu benda atau objek (fungsi deskriptif), serta menyajikan dan menilai alasan-alasan atau penjelasan (fungsi argumentatif). Dalam penerapannya ketika berkomunikasi secara lisan, fungsi tersebut sering kali muncul secara bersamaan, sehingga memicu terjadinya penggunaan istilah-istilah asing. Selain faktor tersebut, banyak masyarakat yang belum mengetahui kata atau kosakata yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, karena tidak banyak media yang dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, diperlukan adanya pembaharuan atau sebuah inovasi baru seperti digitalisasi pada penggunaan kata serapan guna menyebarluaskan pemahaman mengenai kosakata yang terdapat dalam bahasa Indonesia sekaligus meminimalisasi penggunaan istilah asing yang digunakan pada proses komunikasi.

Dari sekian banyak kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, belum banyak ditemukan media pembelajaran yang mampu digunakan untuk mengajarkan kata serapan atau istilah asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Media pengajaran kata serapan dapat dibilang masih sangat sedikit apabila melihat kondisi saat ini. Media pembelajaran kata serapan masih terpaku pada buku konvensional dan terbatas pada kamus digital yang hanya berisi istilah kata serapan, namun tidak disertai tentang pengertian dan

(21)

bagaimana proses berlangsungnya penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia itu sendiri.

Kemajuan era teknologi saat ini mampu mengubah pola pembelajaran yang sebelumnya bersifat konvensional dengan bertatap muka secara langsung menjadi pembelajaran jarak jauh (remote learning) dengan menggunakan media digital. Selaras dengan hal tersebut, seorang pengajar dituntut untuk dapat memilih media yang sesuai dengan materi pembelajaran guna mempermudah penyampaian materi. Oleh sebab itu, diperlukan media yang dapat menimbulkan daya tarik peserta didik, salah satunya adalah modul digital atau modul elektronik (e-modul). Menurut Ditektorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2017:3), e-modul merupakan sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran tertentu, yang disajikan dalam format elektronik, dimana setiap kegiatan pembelajaran didalamnya dihubungkan dengan tautan (link) sebagai navigasi yang membuat peserta didik menjadi lebih interaktif dengan program, dilengkapi dengan penyajian video tutorial, animasi dan audio untuk memperkaya pengalaman belajar. Penggunaan modul elektronik memiliki banyak keunggulan, di antaranya dapat meningkatkan motivasi peserta didik, mampu menciptakan suasana belajar yang interaktif dan lebih dinamis, serta mampu memberikan kemudahan untuk mengakses sumber informasi yang ingin dipelajari di manapun dan kapanpun.

Oleh sebab itu, peneliti ingin mengangkat tema pengembangan modul digital pembelajaran kata serapan. Modul digital mengenai kata serapan yang

(22)

dikembangkan oleh peneliti diharapkan dapat mengatasi permasalahan keterbatasan wawasan masyarakat mengenai kata serapan bahasa Indonesia. Selain itu, dengan adanya modul digital kata serapan bahasa Indonesia, diharapkan mampu memudahkan pengguna terutama mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia serta meminimalisasi penggunaan bahasa asing dalam proses komunikasi lisan maupun tulis.

1.2Batasan Masalah

Untuk membatasi ruang lingkup penelitian ini, penulis melakukan pembatasan masalah. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada pengembangan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembatasan masalah dalam penelitian diuraikan di bawah ini.

1. Penelitian ini dibatasi pada pengembangan modul digital kata serapan bahasa Indonesia meskipun banyak alternatif lain yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.

2. Penelitian ini dibatasi dengan hanya melakukan empat langkah prosedur penelitian dan pengembangan dari sepuluh prosedur penelitian dan pengembangan Borg dan Gall yang dijadikan acuan penelitian ini meliputi (1) proses pengumpulan informasi mengenai produk yang akan dikembangkan, (2) tahap pengembangan modul digital kata serapan bahasa Indonesia, (3) uji validasi, dan (4) revisi produk.

(23)

1.3Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, peneliti merumuskan rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu “Bagaimana pengembangan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?”

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul digital kata serapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

1.5 Manfaat Penelitian

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti lain dalam menggunakan serta mengembangkan penelitian yang serupa. Adapun, manfaat secara praktis penelitian ini diuraikan sebagai berikut.

1) Bagi Mahasiswa

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu mempermudah mahasiswa untuk menguasai kata serapan bahasa Indonesia yang berasal dari berbagai bahasa dan dengan berbagan berbagai proses penyerapannya.

2) Bagi Dosen

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi dosen untuk mengajarkan pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia dengan lebih efektif dan efisien.

(24)

3) Bagi Peneliti Lain

Peneliti berharap penelitian ini dapat menginspirasi penelitian lain untuk mengembangkan kamus digital lainnya yang mampu mempermudah pemahaman mengenai kata serapan bahasa Indonesia.

Secara teoretis, hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu bahan ajar kata serapan bahasa Indonesia. Penelitian ini juga diharapkan mampu dijadikan sebagai referensi bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian serupa.

1.6Definisi Operasional

Peneliti memberikan definisi operasional atau batasan istiah untuk menyamakan konsep dari berbagai istilah dan pengertian yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut adalah batasan dari istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini.

1) Modul Digital

Modul merupakan bahan ajar yang dirancang agar peserta didik dapat mempelajari materi secara mandiri. Direktorat Tenaga Kependidikan (2008:3) memaparkan bahwa modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, Smaldino (2011:279) mendefinisikan modul sebagai unit pengajaran yang lengkap yang dirancang untuk

(25)

digunakan oleh siswa atau sekelompok kecil tanpa kehadiran seorang guru. Oleh sebab itu, modul dapat disebut sebagai media pembelajaran yang dapat dioperasikan secara mandiri oleh peserta didik. Modul elektronik atau e-modul merupakan tampilan informasi atau naskah dalam format buku yang direkam secara elektronik dengan menggunakan hard disk, disket, CD, atau flash disk dan dapat dibuka maupun dibaca dengan mrnggunakan komputer atau alat pembaca buku elektronik (Sitepu, 2006:142). Oleh sebab itu, modul digital mengandung makna sebagai suatu modul yang dapat dioperasikan secara digital menggunakan laptop dan gawai.

2) Kata Serapan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, serapan berarti pemasukan ke dalam; penyerapan masuk ke dalam lubang-lubang kecil. Kridalaksana (1985), mejelaskan bahwa kata serapan adalah “pinjaman” berupa bunyi, fonem, unsur gramatikal atau unsur leksikal yang diambil dari bahasa lain. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kata serapan ialah kata yang diserap dari bahasa lain baik bahasa asing maupun bahasa daerah yang digunakan ke dalam bahasa Indonesia dengan cara penulisan yang mengalami perubahan maupun tidak mengalami perubahan.

1.7Spesifikai Produk

Modul digital yang dikembangkan oleh peneliti dilakukan berdasarkan studi pendahuluan berupa studi dokumen, wawancara dosen, dan persepsi mahasiswa tentang media pembelajaran mengenai kata serapan yang tersedia.

(26)

Penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan produk berupa modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia yang ditujukan kepada mahasiswa. Modul digital yang dikembangkan adalah modul interaktif yang dirancang melalui aplikasi Flip PDF Professional. Flip PDF Professional merupakan sebuah perangkat lunak yang mempermudah pengguna untuk membuat sebuah buku elektronik atau e-book. Perangkat lunak ini memiliki keunggulan berupa memberikan efek flipbook terhadap buku elektronik atau modul elektronik yang dibuat. Efek tersebut memberikan pengalaman kepada pengguna seolah-olah pengguna sedang membaca buku sungguhan dengan membuka atau membalik lembar demi lembar halaman buku. Selain itu, perangkat lunak ini dapat mengolah berkas teks, gambar, audio, dan video yang dapat memperkaya pengalaman belajar pengguna. Oleh sebab itu, peneliti mengembangkan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia dengan menggunakan perangkat lunak Flip PDF Professional guna memperbanyak referensi dan variasi media pembelajaran digital kata serapan bahasa Indonesia yang dapat dioperasikan dengan mudah oleh mahasiswa.

Pada bab pertama, modul memuat materi pengetahuan mengenai kata serapan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang meliputi (1) mampu menjelaskan pengertian kosakata, (2) mampu menjelaskan hakikat kata serapan, dan (3) mampu menjelaskan faktor yang menyebabkan terjadinya pemungutan kata. Selanjutnya, bab kedua memuat materi mengenai kata serapan berdasarkan tujuan pembelajaran yang meliputi dua tujuan, yaitu (1) mampu mengklasifikasikan bentuk kata serapan dan (2) mampu menjelaskan

(27)

proses penulisan unsur serapan bahasa Indonesia. Tiap bab modul yang dikembangkan oleh peneliti juga dilengkapi dengan contoh guna memudahkan pengguna untuk memahami materi yang disampaikan dalam modul.

Modul dilengkapi dengan gambar/ilustrasi, peta konsep, tabel, bagan, kotak informasi penunjang dengan judul “Kilas Kata Kita” dan “Padanan Istilah Bahasaku”, serta glosarium guna menambah wawasan dan pengetahuan pengguna modul mengenai materi yang ingin disampaikan. Selain itu, modul juga dilengkapi dengan aktivitas, tugas, tes formatif dalam bentuk pilihan ganda maupun uraian, serta kunci jawaban yang berfungsi untuk mengukur tingkat pemahaman pengguna, khususnya mahasiswa terhadap materi yang telah dipelajari.

(28)

12 BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini mengkaji tiga subbab yaitu penelitian yang relevan, landasan teori, dan kerangka berpikir. Penelitian yang relevan berisi tentang penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Selain itu, penelitian yang relevan digunakan untuk menentukan posisi penelitian yang dilakukan oleh peneliti guna menghindari adanya duplikasi. Subbab landasan teori berisi tentang teori-teori dari para ahli yang digunakan sebagai dasar penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Berikut rincian ketiga subbab yang dikaji pada bagian landasan teori.

2.1Penelitian yang Relevan

Peneliti menemukan dua penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian tersebut dilakukan oleh Yuliana (2012), Mellyna (2011), Degaf (2016), dan Devi (2019). Penelitian Yuliana, Mellyna, Degaf dan Devi relevan dengan konsep penelitian berupa pengembangan modul digital kata serapan bahasa Indonesia yang akan dilakukan oleh peneliti. Berikut uraian dari keempat penelitian yang relevan tersebut.

Penelitian relevan yang pertama dilakukan oleh Yuliana (2012) dengan judul Analisis Pemakaian Kata Serapan Dan Istilah Asing dalam Artikel Opini Harian Kompas Edisi Mei-Juni 2012. Penelitian ini berisi tentang analisis peneliti terhadap kata serapan dan istilah asing yang terdapat dalam koran kompas dalam rentang edisi tertentu. Penelitian ini menghasilkan beberapa data yang menunjukkan penggunaan kata serapan atau istilah asing yang

(29)

terdapat dalam koran kompas pada rentang waktu tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana (2012) dianggap relevan karena memiliki topik yang sama dengan topik kajian yang akan diteliti oleh peneliti mengenai leksikon dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Yuliana terletak pada obyek kajian yang diteliti. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana terbatas pada penggunaan kata serapan yang terdapat dalam koran kompas periode tertentu, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti membahas tentang pemahaman kata serapan bahasa Indonesia secara umum. Selain itu, perbedaan penelitian oleh Yuliana dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada jenis penelitiannya. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana merupakan penelitian kualitatif, yang berarti tidak sampai dengan pembuatan produk, sedangkan penelitian kali ini merupakan penelitian pengembangan yang dikembangkan hingga tahap pembuatan produk.

Penelitian relevan yang kedua dilakukan oleh Mellyna (2011) dengan judul Kata Serapan dan Kata Non-Serapan dalam Orang Asing dan Sang Pemberontak: Sebuah Kajian Semantis. Penelitian yang dilakukan oleh Mellyna berisi tentang analisis peneliti terhadap sebuah karya bahasa Perancis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Mellyna dianggap relevan dengan judul penelitian yang dikaji oleh peneliti mengenai leksikon serapan. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada fokus pembahasan penelitian.

(30)

Penelitian yang dilakukan Mellyna berfokus pada pembahasan mengenai kajian makna, sedangkan pada penelitian yang dilakukan peneliti berfokus pada pengembangan produk digital leksikon atau kosakata yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Penelitian relevan yang ketiga dilakukan oleh Degaf (2016) dengan judul Kata Serapan Bahasa Jawa dalam Penggunaan Bahasa Indonesia Oleh Masyarakat Jawa. Penelitian yang dilakukan oleh Degaf menghasilkan beberapa kesimpulan mengenai latar belakang penggunaan leksikon bahasa Jawa dalam proses komunikasi. Penggunaan leksikon bahasa Jawa dianggap mampu menunjukkan penghormatan kepada mitra tutur daripada bahasa Indonesia karena dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Penelitian yang dilakukan oleh Degaf dianggap relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai kata serapan bahasa Indonesia. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Degaf dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada jenis penelitian yang dilakukan. Penelitian Degaf mengkaji secara kualitatif faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan leksikon bahasa Jawa pada proses komunikasi bahasa Indonesia, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti merupakan jenis penelitian pengembangan yang akan berfokus pada pengembangan produk digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia.

Penelitian relevan yang keempat dilakukan oleh Devi (2019) dengan judul Pengembangan Modul Digital Menulis Cerpen dengan Memanfaatkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Legenda Asal Mula Huruf Jawa untuk Siswa Kelas

(31)

IX. Penelitian yang dilakukan oleh Devi menghasilkan beberapa kesimpulan mengenai kurangnya muatan nilai kearifan lokal yang dibuat oleh siswa. Oleh sebab itu, penelitian Devi (2019) mencoba memadukan keterampilan menulis cerpen dengan nilai-nilai kearifan lokal yang dituangkan dalam bentuk modul digital.Penelitian yang dilakukan oleh Devi (2019) dianggap relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai pembuatan produk berupa modul digital. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada objek kajian penelitian. Penelitian oleh Devi (2019) mengkaji tentang cerita pendek dan nilai-nilai kearifan lokal, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengkaji tentang kata serapan bahasa Indonesia.

Dari keseluruhan penelitian yang telah dipaparkan, belum terdapat penelitian yang berfokus pada pengembangan produk berupa modul digital kata serapan bahasa Indonesia. Dengan pengembangan produk modul digital mengenai kata serapan, diharapkan masyarakat dan mahasiswa mampu memahami kata serapan dengan lebih mudah dan efektif serta mampu meminimalisasi penggunaan istilah asing dalam proses komunikasi.

2.2Landasan Teori

Landasan teori kali ini memaparkan berbagai teori yang digunakan dalam penelitian pengembangan modul digital pembelajaran kata serapan bahasa Indonesia. Melalui landasan teori ini, peneliti akan memaparkan mengenai (1) Hakikat Bahasa Indonesia, (2) Fonologi, (3) Morfologi Bahasa

(32)

Indonesia, (4) Morfofonologi (5) Kosakata Bahasa Indonesia (6) Kata Serapan Bahasa Indonesia, dan (7) Hakikat Modul.

2.2.1 Hakikat Bahasa Indonesia

Pada dasarnya bahasa adalah sarana yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan melakukan interaksi sosial. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjabarkan bahwa bahasa merupakan lambang bunyi yang bersifat arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Kridalaksana (1997), menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri. Ilmu yang mempelajari tentang kebahasaan disebut dengan ilmu linguistik. Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan, dapat diambil kesimpulan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh manusia secara arbitrer untuk berkomunikasi. Ilmu linguistik memiliki banyak cabang ilmu, diantaranya adalah fonologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa, morfologi yang mempelajari tentang pembentukan kata, sintaksis yang mempelajari struktur kalimat, dan lainnya.

Bahasa yang bersifat arbitrer menyebabkan variasi bahasa yang digunakan di seluruh dunia. Bahasa yang arbitrer juga mempengaruhi banyaknya variasi bahasa daerah di Indonesia. Namun, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki banyak bahasa daerah memiliki bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia yang terdiri dari beragam latar belakang kebudayaan. Latar belakang kebudayaan secara tidak langsung mempengaruhi

(33)

bahasa Indonesia sehingga memunculkan kata serapan yang diambil dari bahasa daerah atau bahasa asing.

2.2.2 Fonologi

Istilah fonologi berasal dari kata phonology, berupa gabungan kata phone dan kata logy. kata phone dapat diartikan sebagai bunyi bahasa, baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Sedangkan kata logy berarti ilmu pengetahuan, metode dan pikiran. Muslich (2008:1) menjelaskan bahwa fonologi merupakan kajian linguistik yang mendalami bunyi-bunyi ujar. Lebih lanjut, Kridalaksana (2008:63) mendefinisikan fonologi sebagai bidang linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya, seperti menyelidiki sistem fonem dari suatu bahasa. Istilah fonologi juga dapat didefinisikan sebagai bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 2003:102). Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa fonologi merupakan suatu cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang bunyi.

Fonem merupakan bagian penting pada saat mempelajari fonologi. Istilah fonem dapat dipahami sebagai satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan makna. Selaras dengan hal tersebut, Bloomfield (1961:79) memaparkan bahwa fonem merupakan suatu unit terkecil bunyi yang membedakan. Sejalan dengan dua pendapat yang telah dikemukakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.kemdikbud.go.id) menjelaskan bahwa fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Oleh sebab itu, fonem dapat dipahami sebagai satuan bunyi terkecil yang

(34)

mampu membedakan makna. Fonem dalam bahasa Indonesia diklasifikasikan menjadi dua, yaitu fonem vokal yang meliputi /a/, /e/, /i/, /o/, dan /u/ serta konsonan seperti /b/, /c/, /d/, /f/, /g/, /h/.

Penjelasan mengenai ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa dipaparkan peneliti sebagai pengantar karena berhubungan dengan topik yang sedang dikembangkan oleh peneliti mengenai kata serapan dalam bahasa Indonesia yang dalam praktiknya mengalami perubahan bentuk secara fonologis, misalnya pada kata captain dari bahasa Inggris menjadi ‘kapten’, kata actor menjadi ‘aktor’, focus menjadi ‘fokus’ dan lobby menjadi ‘lobi’. 2.2.3 Morfologi Bahasa Indonesia

Secara etimologi kata morfologi berasaldari kata morf yang berarti ‘bentuk’ dan kata logi yang berarti ‘ilmu’ (Chaer, 2008: 3). Secara harfiah kata morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk’. Lebih lanjut, Verhaar (2012:97) menyatakan bahwa morfologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar sebagai satuan gramatikal. Selain beberapa pendapat tersebut, morfologi dapat diartikan sebagai cabang linguistik yang mempelajari struktur dan bentuk-bentuk kata (Samsuri, 1988:15). Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang bentuk kata.

Ramlan (1985:47) menyebutkan bahwa proses morfologis hanya dibagi menjadi tiga, yaitu proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan. Sependapat dengan Ramlan, Keraf (1991) menyebutkan bahwa proses morfologis dibagi menjadi tiga proses, yaitu kata majemuk

(35)

(kompositum), afiksasi, dan reduplikasi. Topik kajian yang sedang dikembangkan oleh peneliti berhubungan dengan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa asing. Penyerapan unsur asing dapat berupa bunyi, fonem, unsur gramatikal dan unsur leksikal yang berasal dari bahasa lain, termasuk afiksasi.

Afiksasi dapat didefinisikan sebagai proses pembubuhan afiks, yaitu pembubuhan afiks pada sesuatu satuan, baik satuan itu bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata (Ramlan, 1985: 47). Berbeda dengan pendapat Ramlan, Kridalaksana (2007:28) menjelaskan bahwa afiksasi merupakan proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Sementara itu, Alwi (2000:31) berpendapat bahwa afiks merupakan bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata. Jadi, afiksasi adalah proses penambahan bentuk atau morfem terikat untuk membentuk kata. Berdasarkan jenisnya, afiks dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu prefiks, infiks, sufiks, konfiks, simulfiks, dan kombinasi. Keenam jenis afiks tersebut dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

1) Prefiks (awalan), yakni afiks yang ditempatkan di depan kata dasar. Contoh bentuk prefiks: ber-, meN-, se-, per-, pe-, dan ter-.

2) Infiks (sisipan), yakni afiks yang di tempatkan di dalam bentuk dasar. Contoh bentuk infiks: -el-, -er-, -em-, dan -in-.

3) Sufiks (akhiran), yaitu afiks yang diletakakan di belakang kata dasar. Contoh bentuk sufiks: -an, -kan, -i.

(36)

yang di campur pada bentuk dasar. Simulfiks dapat dimanifestasikan dengan nasalisasi dari fonem pertama suatu bentuk dasar, dan fungsinya ialah membentuk verba atau memverbakan nomina, adjektiva, atau kelas kata lainnya.

5) Konfiks, yakni afiks yang terdiri dari dua unsur, yakni imbuhan di depan dan imbuhan di belakang bentuk dasar. Konfiks berguna sebagai suatu morfem terbagi. Konfiks harus dibedakan dengan kombinasi afiks (imbuhan gabung. Contoh konfiks dalam bahasa Indonesia adalah ke-an, peN-ke-an, per-ke-an, dan ber-an.

6) Kombinasi afiks (imbuhan gabung), yaitu kombinasi dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan bentuk dasar.

Konsep afiksasi memiliki kesesuaian dengan penelitian yang dilakukan mengenai kata serapan bahasa Indonesia. Proses pengimbuhan kata serapan dapat dilihat seperti pada imbuhan -ah dari bahasa Arab, dapat menjadi -ah, -at dalam bahasa Indonesia, misalnya kata ‘ijazah’ tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya ijazah; amanah diserap menjadi ‘amanah’ dan ‘amanat’. Selain iitu, banyak imbuhan lain yang berasal dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia misalnya imbuhan -ein dari bahasa Belanda, -oid dari bahasa Inggris dan ‘menginput’ dari prefiks meN- yang dikombinasikan dengan kata input dari bahasa Inggris.

2.2.4 Morfofonemik

Schane (dalam Jerniati, 2017) menyatakan bahwa morfofonologis terjadi ketika morfem-morfem bergabung untuk membentuk kata,

(37)

segmen-segmen dari morfem-morfem yang berdekatan, berjejeran, dan kadang-kadang mengalami perubahan. Senada dengan hal tersebut, Ramlan (1985:75), menjelaskan bahwa morfofonemik adalah proses yang mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dipelajari bagaimana morfem direalisasikan dalam tingkat fonologi (Kridalaksana, 2007:183). Alwi (2000:31), berpendapat bahwa proses morfofonemik adalah proses pengubahan bentuk yang diisyaratkan oleh jenis fonem atau morfem yang digabungkan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa morfofonologis atau morfofonemik adalah proses yang mempelajari perubahan bunyi yang timbul akibat pertemuan atau penggabungan dua morfem.

Proses morfofonemik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses hilangnya fonem (Ramlan, 1985:76-87). Ketiga proses morfofonemik menurut Ramlan diuraikan sebagai berikut.

1) Proses perubahan fonem, yaitu proses perubahan bunyi yang terjadi sebagai akibat pertemuan morfem dengan bentuk dasarnya. Contoh: imbuhan imbuhan -oir pada kata trotoir dan repertoire dari bahasa Inggris diserap menjadi ‘trotoar’ dan ‘repertoar’ yang mengalami pengubahan fonem /i/ menjadi fonem /a/.

2) Proses penambahan fonem, yaitu proses penambahan bunyi yang terjadi sebagai akibat pertemuan morfem dengan bentuk dasar yang terdiri dari

(38)

satu suku. Contoh: click diserap menjadi ‘klik’ dengan penamban fonem meN- atau peN- menjadi ‘mengeklik’ atau ‘pengeklik’ dan ‘pengeklikan’.

3) Proses penghilangan fonem, yaitu proses pelesapan bunyi yang terjadi sebagai akibat pertemuan atau penggabungan morfem. Contoh: imbuhan -aat pada kata advocaat dari bahasa Belanda diserap menjadi ‘advocat’ yang mengalami penghilangan fonem /a/.

Beberapa contoh perubahan fonem tersebut menunjukkan bahwa terdapat penyesuaian maupun perubahan bunyi kosakata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa proses morfofonemik menyertai proses penyerapan kosakata asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan bahasa penerima.

2.2.5 Kosakata Bahasa Indonesia

Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa, seseorang dapat mengungkapkan pendapat melalui kumpulan kosakata yang terangkai dalam suatu kalimat. Kridalaksana (1984:110) menjelaskan bahwa kosakata adalah kekayaan atau perbendaharaan kata yang dimiliki oleh seseorang. Sejalan dengan pendapat Kridalaksana, Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:597) memaparkan bahwa kosakata merupakan ‘perbendaharaan kata’. Adapun menurut Soedjito (1992:34), kosakata dapat didefinisikan sebagai (1) semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa; (2) kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau penulis; (3) kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan; dan (4) daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan secara singkat

(39)

dan praktis. Melalui beberapa pendapat yang telah dipaparkan oleh beberapa ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa kosakata adalah kekayaan atau perbendaharaan kata yang dimiliki oleh seorang penutur bahasa.

Penguasaan kosakata dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yudiono (1984:47) memaparkan bahwa terdapat beberapa faktor dominan yang mempengaruhi tingkat penguasaan kosakata seseoraang, yaitu latar belakang pengetahuan atau disiplin ilmu tertentu, usia, tingkat pendidikan, dan referensi. Kosakata seseorang semakin banyak dan diperluas sesuai dengan usia. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak hal yang diketahuinya (Keraf, 1986:64). Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penguasaan kosakata dapat dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan, usia, tingkat pendidikan, dan referensi. Faktor tersebut mempengaruhi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki banyak penutur dari berbagai latar belakang kebudayaan dan bahasa daerah. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia melakukan berbagai cara untuk memperkaya perbendaharaan kata yang dimiliki dengan cara menyerap unsur-unsur dari bahasa daerah atau bahasa asing. Kajian ini sesuai dengan topik penelitian mengenai kata serapan yang berpengaruh terhadap daftar kosakata dalam bahasa Indonesia.

2.2.6 Kata Serapan Bahasa Indonesia

Bagian ini membahas mengenai empat hal, yaitu (1) Hakikat Kata Serapan, (2) Faktor-Faktor Pemungutan Kata, (3) Bentuk Kata Serapan, dan (4) Penulisan Unsur Serapan dalam Bahasa Indonesia. Pembahasan lebih rinci dapat dilihat sebagai berikut.

(40)

2.2.6.1 Hakikat Kata Serapan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.kemdikbud.go.id), kata pungutan atau dapat disebut dengan kata pinjaman dan kata serapan adalah kata yang diserap dari bahasa lain berdasarkan kaidah bahasa penerima. Samsuri (1987:50), menyatakan bahwa serapan berarti “pungutan”. Sedangkan Kridalaksana (1985:8) memahami kata serapan adalah “pinjaman” berupa bunyi, fonem, unsur gramatikal atau unsur leksikal yang diambil dari bahasa lain. Kata serapan adalah kata yang diserap dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa asing maupun bahasa daerah, yang digunakan dalam bahasa Indonesia dengan adanya pengubahan cara penulisannya maupun tidak mengalami pengubahan.

Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan bahasa Indonesia salah satunya disebabkan karena proses penyerapan unsur kebahasaan dari bahasa lain, misalnya bahasa Inggris, Belanda, Arab, Portugis, dan bahasa daerah seperti bahasa Jawa. Hal tersebut dipertegas oleh pendapat Chaer (2008:239) yang memaparkan bahwa penyerapan adalah proses pengambilan kosakata dari bahasa asing Eropa (seperti bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Portugis, dan sebagainya), maupun bahasa asing Asia (seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Sansekerta, bahasa Cina dan sebagainya), termasuk dari bahasa-bahasa Nusantara (seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Bali, dan sebagainya). Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyerapan merupakan proses pengambilan unsur dari suatu bahasa (asal

(41)

bahasa) ke dalam bahasa lain (bahasa penerima) yang kemudian oleh penuturnya dipakai sebagaimana layaknya bahasa sendiri.

2.2.6.2 Faktor-Faktor Pemungutan Kata

Moeliono (1989:33-34), menjelaskan bahwa terdapat enam faktor yang dapat melatarbelakangi terjadinya pemungutan kata. Keenam faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1) Kehematan

Pemungutan kata baru dianggap sebagai suatu cara yang lebih hemat dibanding mencari kata atau definisi baru dalam bahasanya sendiri. Kata pungutan dalam bahasa Indonesia yang memenuhi kriteria kehematan adalah penggunaan kata parlemen untuk menggantikan Dewan Perwakilan Rakyat.

2) Kejarangan bentuk

Kejarangan bentuk adalah kondisi pada saat kata asli jarang digunakan pada pemakaian kata sehari-hari penutur. Kata yang sering dipakai akan lebih mudah diingat sehingga cenderung lebih dipilih daripada menggunakan kata yang jarang digunakan. Contoh kata yang sudah jarang digunakan dalam bahasa Indonesia saat ini adalah kata dursila yang digantikan dengan kata asusila.

3) Keperluan akan kata yang searti

Seorang yang memiliki kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih (dwibahasawan) memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pembaruan kata dibandingkan dengan orang yang hanya

(42)

mempunyai pengetahuan akan satu bahasa (ekabahasawan). Seorang dwibahasawan dapat menerapkan pengetahuannya mengenai bahasa lain, seperti menggunakan kata asimilasi untuk menggantikan kata penyerapan, dan menggunakan kata vital sebagai bentuk yang memiliki makna sejajar dengan kata penting.

4) Perasaan seorang dwibahasawan bahwa pembedaan arti dalam bahasanya sendiri tidak cukup cermat

Perasaan ini timbul karena adanya pengaruh oleh pembandingan seorang penutur bahasa dengan bahasa asing yang dikenalinya. Dwibahasawan merasa perlu untuk membedakan kata politik dan politis, ekonomi dan ekonomis, ataupun demokrasi dan demokratis.

5) Dorongan gengsi yang lekat pada pemahaman bahasa asing

Seorang dwibahasawan beranggapan bahwa kedudukan sosialnya akan bertambah penting apabila dapat memperlihatkan kefasihannya dalam menggunakan bahasa tertentu. Kefasihan dalam menggunakan bahasa tersebut dianggap sebagai sebuah kebanggaan tertentu bagi sebagian orang yang mempunyai anggapan seperti yang telah dijelaskan ketika mereka menggunakan kata evaluasi daripada penilaian, dan bujet alih-alih kata anggaran.

6) Kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia

Pada zaman dahulu, banyak kalangan berpengaruh yang lebih menguasai bahasa asing dibanding dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pendudukan bangsa lain yang menjajah Indonesia.

(43)

Kondisi tersebut mempengaruhi pilihan kata yang mereka gunakan, yang sebagian hanya dapat dipahami jika diterjemahkan kembali ke bahasa asing yang bersangkutan, seperti bentuk dalam mana, atas mana, untuk mana, kepada siapa, dan dengan siapa (waarin, waarop, waarvoor, aan wie, dan met wie).

2.2.6.3 Bentuk Kata Serapan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa, selalu mengalami penambahan kosakata baru. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mampu bersifat dinamis, artinya bahwa bahasa Indonesia dapat beradaptasi atau dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Saat ini, banyak kosakata baru yang hadir dalam bahasa Indonesia. Munculnya kata daring dan luring sebagai kosakata yang menggantikan kata online dan offline, gawai yang menggantikan kata gadget, swafoto guna menggantikan selfie, warganet yang diserap menggantikan netizen, derau untuk menggantikan noise, komedi tunggal yang diterjemahkan dari standup comedy, pratayang yang dihadirkan dari kata preview, pranala sebagai kata yang dapat menggantikan link, serta kata narahubung yang diterjemahkan dari contact person.

Ferdric W.Field (dalam Rohbiah, 2017) memaparkan bahwa kata serapan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni kata serapan utuh (loanword), kata serapan sebagain (loanblend), dan kata serapan pergeseran (loanshift). 1) Loanword adalah perpindahan bentuk makna dengan adanya persamaan

(44)

ini merupakan perpindahan pada target, misalnya pada kata hamburger. Orang Indonesia memiliki pengetahuan bahwa hamburger adalah makanan kecil atau berat. Tidak ada lain kata disamping kata tersebut yang digunakan oleh orang Indonesia karena memang belum ditemukan kata yang ekuivalen, sehingga kata-kata dalam bahasa Indonesia mengadopsi ejaan maupun pengucapan yang digunakan dalam bentuk-bentuk aslinya.

2) Loanblend adalah kombinasi bentuk kata asli dan bahasa asingnya. Bentuk loanblend memiliki kesamaan dalam pengucapan baik di dalam bahasa asingnya maupun bahasa aslinya. Suatu contoh di dalam bahasa Inggris kata club menjadi klub dalam bahasa Indonesia. Pengucapannya sama, tapi ejaannya berbeda.

3) Loanshift adalah makna konsep bahasa asing yang direpresentasikan oleh bentuk aslinya, termasuk di dalamnya adalah terjemahan, misalnya dalam bahasa Indonesia tangkapan layar dan guliryang diambil dari bentuk bahasa Inggris screenshot dan scroll, makna kata yang bentuk maknanya diekspresikan oleh bentuk asli yang diperluas untuk memasukkan bentuk barunya.

Selanjutnya, Soedjito (1998:73) mengemukakan kata umum unsur serapan dibagi tiga golongan, yaitu:

1) Adopsi adalah pungutan secara utuh tanpa perubahan dan penyesuaian. Contoh :

acara yang diserap dari bahasa Sansekerta ‘acara’ pena yang diserap dari bahasa Portugis ‘pena’

(45)

aula yang diserap dari bahasa Belanda ‘aula’ nabi yang diserap dari bahasa Arab ‘nabi

2) Adaptasi adalah penyerapan yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Dalam penyesuaian kata–kata asing tersebut diusahakan tidak berbeda dengan ejaan asingnya. Perubahan hanya seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan ejaan asingnya. Contoh :

kongres dari bahasa Inggris ‘congress’ aparat dari bahasa Belanda ‘aparaat’ baca dari bahasa Sansekerta ‘vaca’ madah dari bahasa Arab ‘maddah’

3) Terjemahan merupakan pengutan yang dihasilkan dengan menerjemahkan kata/istilah tanpa mengubah makna konsep gagasan (makna konsep harus sama/sepadan). Bentuk terjemahan yang dihasilkan ada dua macam, yaitu: a) Sama, contoh : ponsel – handphone, dan daring – online.

b) Tidak sama, contoh makalah – working paper.

2.2.6.4 Penulisan Unsur Serapan dalam Bahasa Indonesia

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, China, atau Inggris. Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2016), memaparkan bahwa berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke

(46)

dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur yang dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Contoh dari unsur tersebut adalah sebagai berikut.

Indonesia aslinya

Aksi action (Inggris)

Oktaf octaaf (Belanda)

Pesta festa (Portugis)

Derajat darrajat (Arab)

Bahagia bahagya (Sansekerta)

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2016) juga memaparkan bahwa terdapat akhiran-akhiran asing yang disesuaikan dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh. Contoh akhiran dapat dilihat sebagai berikut.

Indonesia aslinya

Akuntan accountant (Inggris)

Anarki anarchy (Inggris)

Publikasi publication (Inggris) Persentase percentage (Belanda) Ibadah, ibadat ibadah (Arab)

(47)

Melalui penjelasan yang telah dipaparkan, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat dua bentuk penulisan unsur serapan dari bahasa asing yang dimuat dalam bahasa Indonesia. Pertama, unsur serapan yang tidak mengalami penyesuaian atau ditulis seperti bentuk aslinya, seperti penulisan khusus dari bahasa Arab, stereo dari bahasa Belanda, dan acara dari bahasa Sansekerta. Kedua, penulisan unsur serapan dengan disertai penyesuaian atau perubahan baik secara fonologis dan morfologis.

Proses fonologis merupakan proses suatu bunyi yang mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan di sekitarnya (Odden, 2005). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perubahan bentuk secara fonologis unsur serapan adalah perubahan atau penyesuaian bunyi yang disesuaikan dengan pelafalan bahasa peminjam, seperti pada kata ratio menjadi ‘rasio’, çabda menjadi ‘sabda’, dan effect menjadi ‘efek’. Penjelasan penyesuaian atau perubahan bunyi tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Kata ratio dari bahasa Belanda disesuaikan dengan cara pengucapan dalam bahasa Indonesia dengan mengubah fonem /t/ menjadi fonem /s/ sehingga menjadi ‘rasio’.

2) Kata çabda dari bahasa Sansekerta mengalami perubahan atau penyesuaian bentuk pada fonem /ç/ menjadi fonem /s/ sesuai dengan fonem ejaan bahasa Indonesia. Bentuk lain yang serupa adalah çastra yang disesuaikan menjadi ‘sastra’.

3) Kata effect dari bahasa Inggris mengalami penyesuaian bunyi sesuai dengan cara pengucapan bahasa Indonesia dengan mengganti bentuk /ect/

(48)

menjadi /k/. Selain itu, konsonan ganda pada kata effect diserap menjadi konsonan tunggal, kecuali dapat membingungkan (Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2016:70).

Proses morfologis didefinisikan sebagai proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1987:51). Sementara itu, Samsuri (1988:190) mendefinisikan proses morfologis sebagai cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan morfologis kata serapan adalah perubahan pembentukan kata pada unsur serapan, ditandai dengan adanya penambahan atau perubahan sufiks atau imbuhan pada unsur serapan yang dimuat dalam bahasa Indonesia seperti pada kata economical (Inggris) atau economisch (Belanda) menjadi ‘ekonomis’, dan technology (Inggris) atau technologie (Belanda) menjadi ‘teknologi’. Penjelasan penyesuaian atau perubahan tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Kata economical (Inggris) atau economisch (Belanda) tidak diserap satu-persatu seperti economy dan -ical atau economie dan -sch, tetapi diserap secara utuh sebagai satu-kesatuan dengan mengalami penyesuaian pada bentuk imbuhan -ical atau -isch karena tidak sesuai bentuk ibuhan pada sistem ejaan bahasa Indonesia. Bentuk imbuhan disesuaikan dalam bahasa Indonesia menjadi -is sehingga penulisannya menjadi ‘ekonomis’.

2) Kata technology (Inggris) atau technologie (Belanda) tidak diserap satu-persatu seperti techno dan -logy atau techno dan -logie, tetapi tetapi diserap

(49)

secara utuh sebagai satu-kesatuan dengan mengalami penyesuaian pada bentuk imbuhan -logy atau -logie karena tidak sesuai dalam bentuk imbuhan pada sistem ejaan bahasa Indonesia. Bentuk imbuhan disesuaikan dalam bahasa Indonesia menjadi -logi sehingga penulisannya menjadi ‘teknologi’.

2.2.7 Hakikat Modul

Materi mengenai kata serapan akan disajikan peneliti dalam bentuk modul digital. Oleh sebab itu, peneliti harus mengetahui lebih dalam mengenai modul terlebih dahulu. Bagian ini menjelaskan tentang hakikat modul digital, karakteristik modul, struktur penulisan modul, dan prosedur penulisan modul. Keempat teori tersebut dijelaskan secara lebih rinci pada penjelasan berikut. 2.2.7.1 Hakikat Modul Digital

Smaldino (2011:279) mendefinisikan modul sebagai unit pengajaran yang lengkap yang dirancang untuk digunakan oleh siswa atau sekelompok kecil tanpa kehadiran seorang guru. Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta pembelajaran (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:3). Lebih lanjut, Direktorat Tenaga Kependidikan menjelaskan bahwa modul digital merupakan bahan ajar mandiri yang disusun secara digital dengan tujuan agar siswa dapat belajar dengan bimbingan guru maupun belajar secara mandiri secara efisien. Modul dapat dikatakan sebagai media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Dengan kata lain, pembaca dapat

(50)

melakukan kegiatan belajar secara mandiri tanpa kehadiran pengajar secara langsung. Menurut Purwanto (2007), modul merupakan bahan belajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu. Ditektorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2017:3), e-modul merupakan sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran tertentu, yang disajikan dalam format elektronik, dimana setiap kegiatan pembelajaran didalamnya dihubungkan dengan tautan (link) sebagai navigasi yang membuat peserta didik menjadi lebih interaktif dengan program, dilengkapi dengan penyajian video tutorial, animasi dan audio untuk memperkaya pengalaman belajar. Modul elektronik atau e-modul merupakan tampilan informasi atau naskah dalam format buku yang direkam secara elektronik dengan menggunakan hard disk, disket, CD, atau flash disk dan dapat dibuka maupun dibaca dengan mrnggunakan komputer atau alat pembaca buku elektronik (Sitepu, 2006:142). Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa modul digital merupakan bahan ajar berisi materi yang disusun dengan sistematis serta dapat dioperasikan secara mandiri melalui media elektronik seperti gawai, laptop, dan media elektronik lainnya.

Berdasarkan paparan mengenai modul dan modul digital tersebut, tidak ada perbedaan yang mendasar antara modul dan modul digital. Perbedaan antara modul dengan modul digital hanya terletak pada bentuk penyajian secara fisik. Modul disajikan secara konvensional dalam bentuk cetak, sedangkan

(51)

modul digital disajikan dalam bentuk digital yang dapat diakses dengan menggunakan komputer maupun gawai.

2.2.7.2 Karakteristik Modul Digital

Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2017:3) menjelaskan bahwa karakteristik modul digital mencakup beberapa hal sebagai berikut.

1) Self instructional, artinya bahwa melalui modul tersebut, seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakteristik tersebut, maka sebuah modul harus memuat tujuan, materi pembelajaran, contoh dan ilustrasi, menyajikan soal latihan, hingga menyediakan sumber referensi.

2) Self contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau subkompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan pembelajar mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. Pembagian atau pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang harus dikuasai.

3) Stand alone (berdiri sendiri), berarti bahwa modul yang dikembangkan tidak boleh bergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama

(52)

dengan media pembelajaran lain. Jika masih menggunakan dan bergantung pada media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.

4) Adaptive, yaitu modul yang memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan. Modul dapat dikatakan sebagai modul yang adaptif jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.

5) User friendly, yaitu modul yang bersahabat dengan pemakainya. Artinya, setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon serta mengakses sesuai dengan keinginan. Contoh dari “user friendly” antara lain dengan menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang umum digunakan.

Selain beberapa karakteristik modul pada umumnya, modul digital memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh modul biasa, di antaranya: (1) Konsisten dalam penggunaan font, spasi dan tata letak, (2) Modul digital disampaikan dengan menggunakan suatu media elektronik berbasis komputer, (3) Modul digital dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai fungsi media elektronik sehingga disebut sebagai multimedia, (4) Modul digital dirancang dengan memanfaatkan berbagai fitur yang ada pada

(53)

aplikasi perangkat lunak, serta (5) Modul digital memerlukan desain secara cermat dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran.

2.2.7.3 Prosedur Penulisan Modul

Penulisan modul merupakan proses penyusunan materi pembelajaran yang dikemas secara sistematis sehingga siap dipelajari oleh pemelajar untuk mencapai kompetensi atau subkompetensi. Penyusunan modul belajar mengacu pada kompetensi yang terdapat di dalam tujuan yang ditetapkan. Terkait dengan hal tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan (2008:12-16) memaparkan bahwa terdapat lima prosedur yang harus dilakukan dalam pembuatan modul. Kelima prosedur tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Analisis Kebutuhan Modul

Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis kompetensi/ tujuan untuk menentukan jumlah dan judul modul yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kompetensi tersebut. Penetapan judul modul didasarkan pada kompetensi yang terdapat pada garis-garis besar program yang ditetapkan. Analisis kebutuhan modul bertujuan untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan. Analisis kebutuhan modul menurut Direktorat Tenaga Kependidikan (2008:12) dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu: (1) menetapkan kompetensi yang terdapat di dalam garis-garis besar program pembelajaran yang akan disusun modulnya, (2) mengidentifikasi dan menentukan ruang lingkup unit kompetensi, (3) mengidentifikasi dan menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan, (4) mentukan judul modul yang akan ditulis,

Figur

Memperbarui...

Related subjects :