SKRIPSI EFEKTIVITAS FUNGSI KEPALA DESA DALAM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DI DESA TOMPOTANA KECAMATAN MAPPAKASUNNGU KABUPATEN TAKALAR

74 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

EFEKTIVITAS FUNGSI KEPALA DESA DALAM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DI DESA TOMPOTANA KECAMATAN

MAPPAKASUNNGU KABUPATEN TAKALAR

ARLIS

Nomor Stambuk: 105610529215

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

i Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara

Disusun Dan Diajukan Oleh ARLIS

Nomor Stambuk 105610529215 Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Mahasiswa : ARLIS

Nomor Stambuk : 105610529215

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, Februari 2020 Yang Menyatakan,

(6)

v

ABSTRAK

ARLIS. Efektivitas fungsi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar (dibimbing oleh Andi Rosdianti Razak Dan Abdi)

Penelitian ini membahas tentang Efektivitas fungsi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar. Efektivitas fungsi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan ini menggunakan tiga indikator efektivitas yaitu pencapaian tujuan, integrasi dan adaptasi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif dengan penentuan 5 dan menggunakan teknik purposive sampling.Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder dengan tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan sudah cukup efektif hal ini dapat di lihat dari pencapaian tujuan di mana dalam pelaksanaan pembangunan Desa, sebagian besar telah mencapai tujuan sesuai yang di tentukan mulai dari kurun waktu dalam aspek pelaksanaan pembangunan di desa tompotana hanya memerlukan waktu kurang lebih satu tahun pelaksanaan serta dari aspek sasaran juga telah mencapai target yang telah di tentukan sebelumnya serta sudah di rasakan manfaatnya oleh masyarakat meskipun masih ada beberapa keluarga yang masih perlu di berikan bantuan pembangunan .dari aspek integrasi kepala Desa juga selalu memberikan arahan dan menyampaikan kepada setiap kepala dusun untuk selalu berusaha menyukseskan pembangunan khususnya di dusun masing-masing, kepala desa juga selalu berkoordinasi kepada kepala dusun dan juga masyarakat kemudian bentuk adaptasi yang di lakukan kepala desa yaitu dari setiap pelaksanaan pembangunan kepala esa selalu menyusaikan dengan kebutuhan masyarakat Desa tompotana.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahny-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas fungsi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar”

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1.Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

2.Bapak Nasrul Haq, S.Sos, M.PA selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Dr.Jaelan Usman, M.Si selaku Penasehat Akademik selama menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)

vii

pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 5.yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan peneliti

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

6.Para Dosen jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang ikhlas telah memberikan ilmunya kepada penulis.

7. Terkhusus kepada kedua orang tua saya T Dg.Ngawing dan L. Dg.Tarring dan seluruh keluarga yang telah mendidik, mendukung, mendoakan dan senantiasa memberikan nasehat kepada saya.

8.Untuk sahabat-sahabat saya Muh Nursal, Rahmat Amiruddin Sahabuddin, Muh Ilham, yang tidak pernah berhenti menyemangati saya, selalu menemani dengan setia, memberikan motivasi, dukungan serta kasih sayang kepada saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

9. teman-teman seperjuangan jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Angkatan 2015 untuk dukungan dan bantuannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

10. Untuk seluruh pegwai dinas sosial yang telah bersedia peneliti wawancara dan telah membantu dalam proses penelitian saya ucapkan banyak terima kasih. 11. Untuk semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini

yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terima kasih banyak atas bantuannya.

Keluarga besar penulis tanpa terkecuali yang telah mendukung dan mendoakan selama ini.Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan

(9)

viii

masukan bagi pembaca Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, “Manusia adalah kejadian sempurna, tetapi kebanyakan dari perbuatannya adalah ketidak sempurnaan”. Oleh karena itu penulis mengharapkan demi pengembangan wawasan penulis kedepannya.

Billahifisabililhaqfastabikhulkhaerat, Wassalamualaikum Wr.Wb.

Makassar, februari 2020

(10)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN TIM ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. ManfaaT Penelitian ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian, konsep dan teori ... 8

1.Teori Efektivitas ... 8

2.Teori Administrasi Pembngunan... 16

3.Pengertian Desa dan Kepala Desa... 20

B. Kerangka Pikir ... 26

C. Fokus Penelitian ... 27

(11)

x BAB III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi penelitian ... 30

B. Jenis dan Tipe penelitian ... 30

C. Sumber Data ... 30

D. Informan Penelitian ... 31

E. Teknik Pengumpulan Data ... 31

F. Teknik Analisis Data... 32

G. Pengabsahan Data ... 33

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 34

B. Efektivitas fungsi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan ... 45

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan... 54

B. Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN

(12)

1

Perkembangan dalam negeri serta persaingan global dipandang perlu menyelenggarakan pemerintahan didaerah. Dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara professional yang dinyatakan dengan peraturan perundang-undangan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta potensi dan keanekaragaman daerah yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelaksanaan pembangunan nasional yang ditujukan bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang sebagian besar berada dipedesaan maka bagi kelangsungan kegiatan pembangunan lebih diarahkan kepada pembangunan pedesaan, sehingga pembangunan nasional akan berhasil apabila pembangunan pedesaannya meningkat. Berdasarkan Undang-Undang No.23 Tahun 2014 yang dimaksud pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(13)

2

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya, dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urursan pemerintahan di luar yang menjadi urusan pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab, prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas dan wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya, sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraanya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pembangunan merupakan suatu usaha atau serangkaian usaha pertumbuhan atau perubahan yang dilaksanakan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah dari pembangunan dalam rangka pembinaan bangsa. Pendapat diatas menjelaskan pembangunan merupakan suatu usaha perubahan arah kehidupan yang layak dan lebih baik yaitu mensejahterahkan kehidupan bangsa secara adil dan merata.

(14)

3

Pembangunan dan pembinaan desa menjadi pusat perhatian pemerintah. Pemerintahan desa merupakan pemerintahan formal dari kesatuan masyarakat desa, sebagai badan kekuatan terendah, pemerintah desa memiliki kekuasaan atau wewenang untuk mengatur rumah tangga sendiri (otonomi desa) serta wewenang dan kekuasaan sebagai pelimpahan dari pemerintahan diatas, dimana desa tempat segala urusan dari segenap unsur kesatuan masyarakat desa. Untuk tercapainya tujuan pembangunan desa yang merupakan bagian pembangunan yang penting. Artinya, dalam pelaksanaan dan pertanggung jawaban pembangunan tersebut diserahkan kepada kepala desa sebagai koordinator dan pelaksana pembangunan desa yang dipimpinnya. Kepala desa yang merupakan pemimpin tertinggi haruslah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dalam proses penyelenggaraan pembangunan. Selanjutnya tugas dan fungsi kepala desa diatur dalam permendagri No. 84 tahun 2015 tentang struktur organisasi tata kerja (SOTK) Pemerintahan Desa.

Permendagri ini tugas dan fungsi Kepala Desa dimaksudkan pada bagian 2 pasal 6. Pada ayat 1 disebutkan kepala desa berkedudukan sebagai kepala pemerintah desa yang memimpin penyelengaraan pemerintah desa, melaksanakan pembnagunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat. Di dalam permendagri itu disebutkan fungsi kepala desa seperti menyelenggarakan pemerintahan, seperti tata praja pemerintahan, penetapan peraturan desa, pembinaan masalah pertahanan, pembinaan ketentraman dan ketertiban ,melakukan upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, pernyataan dan pengelolaan wilayah. Fungsi kepala Desa lainnya adalah

(15)

4

melaksanakan pembangunan seperti pembangunan sarana prasarana perdesaan, pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan. Pada ayat 3 di sebutkan, fungsi kepala Desa lainnya adalah melakukan pemberdayaan masyarakat, sosial budaya masyarakat keagamaan dan ketenagakerjaan. Kepala Desa juga berfungsi secara rasional ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemudah olahraga dan karang taruna. Fungsi lainnya adalah membangun hubungan kemitraan dengan lembaga lainnya. Sebagai orang nomor satu dalam struktur pemerintahan desa, kepala Desa memang memiliki tugas dan fungsi yang luas dan menyeluruh pada berbagai aspek kehidupan pemerintahan desa.di satu sisi hal itu menempatkan kepala Desa sebagai orang yang memiliki aksebilitas kekuasaan yang luas baik keluar maupun ke dalam. Tetapi di sisi lain kepala Desa juga menjadi orang yang paling memiliki resiko tinggi terhadap berbagai bentuk pertanggung jawaban kerja. Soalnya, melalui kepala Desalah beragam keputusan dan laporan pertanggung jawaban penyelenggaraan pemerintahan Desa berpusat.

Menyelenggarakan urusan pemerintah. Urusan pemerintah yang diselenggarakan antara lain pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa, pembentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa, dan kerjasama antar desa.

Pembangunan pedesaan yang terncana dan terarah dengan baik maka diperlukan perencanaan, pergerakan, bimbingan, dan pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan, tanpa adanya ini semuanya tidak akan dapat berlangsung dan terlaksana dengan baik. Karena itu, perlu adanya seorang

(16)

5

pemimpin yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan hal tersebut (Kartono, 2006). Pada hakekatnya tujuan pembagunan suatu desa itu bertujuan untuk Mengembangkan swadaya dan gotong-royong masyarakat agar mampu berperan secara aktif dalam setiap kegiatan pembangunan pedesaan,, Meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan menuju tercapainya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945, Melaksanakan upaya pembangunan secara mandiri yang didorong oleh peran aktif kepala desa sebagai pelaksana pembangunan.

Organisasi merupakan proses kerjasama dua orang atau lebih yang dilakukan secara rasional untuk mencapai tujuan bersama (Siagian,2006), sesuai dengan defenisi diatas desa dipandang perlu sebagai sebuah konsep organisasi, administrasi, dan manajemen yang menjalankkan kepada arah tujuan yang ingin dicapai yaitu pembangunan pedesaan. Sejalan dengan proses percepatan, pertumbuhan, dan perkembangan pembangunan pedesaan. Untuk itu, segenap komponen dan unsur pemerintah desa bertekad untuk membangun semua kekuatan dan potensi yang dimiliki khususnya pada fungsi Kepala Desa sebagai pemimpin dan pelaksana pembangunan didesa yang dipimpinnya. Untuk melaksanakan fungsinya dimana kepala desa dipandang sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pembangunan karena dialah penggagas, penggerak, dan penyelenggara serta pelaksana pembangunan didesanya.

Melaksanakan fungsi pembangunan secara baik dalam proses pembangunan bukan merupakan hal yang mudah, tidak jarang kepala desa dihadapkan pada kendala-kendala dan kegagalan dalam menjalankan fungsinya

(17)

6

tersebut. Sebagai sampel untuk mengetahui efektivitas fungsi kepala desa sebagai pelaksana pembangunan, penulis mengambil sampel yaitu dengan alasan desa ini dilihat dari pembangunan fisik desa sudah berkembang namun tertinggal di pembangunana jalan penghubung antar desa terkhusus daerah ke pulauan yang ada dikecamatan mappakasunggu kabupaten takalar Padahal berdasarkan pendapatan asli daerah, itu sangat membantu atau mendukung masyarakat dalam proses pertumbuhan dan pekembangan yang lebih baik.

Pada salah satu program yang di dirikan pada awal 2019 yaitu program internet desa, pada awalnmya berjalan kurang maksimal. Maka dari itu di perlukan adanya penelitian untuk mengetahui keefektipan fungsi kepala Desa dalam meleksanakan pembangunan agar desa tompotana bisa menjadi jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah penelitian yang telah peneliti kemukakan, maka judul penelitian ini adalah “Efektivitas Fungsi Kepala Desa Dalam Pelaksanaan Pembangunan di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunnggu Kabupaten Takalar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dan masalah utama penelitian, jadi rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana efektivitas fungsi kepala desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar?

(18)

7 C. Tujuan Peneltian

Berdasarkan rumusan masalah, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut; untuk mengetahui Efektivitas fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar!

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat praktis.

a) Sebagai aplikasi dari teori-teori yang berkaitan dengan masalah pengembangan ilmu administrasi Negara, khususnya kepemimpinan dan kebijakan pemerintah desa di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar.

b) Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan arah dan langkah dalam pembangunan pedesaan yang lebih lanjut, sehingga dimasa yang akan datang pembangunan lebih berhasil mencapai tujuan.

2. Manfaat Teoritas

a) Sebagai salah satu bahan bacaan atau sumber referensi yang dimiliki oleh perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar.

b) Sebagai salah satu bahan referensi dasar bagi para mahasiswa dan peneliti yang berminat untuk melakukan penelitian.

(19)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian, Konsep dan Teori 1. Teori Efektivitas

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efetivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan.

Efektivitas umumnya dipandang sebagai tingkat pencapaian operatif dan operasional. Dengan demikian pada dasarnya efektivitas adalah tingkat pencapaian tujuan atau sasaran organisasional sesuai yang ditetapkan. Efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan,sejauh mana seseorang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan ini. Ini dapat diartikan, apabila sesuatu pekerjaan dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan , dapat dikatakan efektif tanpa memperhatikan waktu,tenaga dan yang lain.

Efektivitas sebagai tingkat pencapaian organisasi jangka pendek dan jangka panjang (Robbin dalam Pabundu Tika 2005:129). Efektivitas dapat didefinisikan sebagai tingkat ketepatan dalam memilih atau meggunakan suatu metode untuk melakukan sesuatu (do right things) (Triton Pb : 2010 :80).

(20)

9

Efektivitas organisasi adalah kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri dan tumbuh , lepas dari fungsi tertentu yang dimilikinya. (Schein dalam Pabundu Tika 2005:129).

Konsep efektivitas yaitu : suatu ukuran yang dinyatakan seberapa jauh target (kualitas, kuantitas, waktu) telah dicapai. Makin besar target yang dicapai maka semakin tinggi tingkat efektivitas. Konsep ini orientasinya lebih tertuju pada keluaran. Pada umumnya organisasi pemerintah (yang tidak mencari laba) berorientasi ke pencapaian efektivitas. (Saxena (1986 :07) dalam Adam Ibrahim Indrawijaya).

Keefektifan organisasi dapat didefinisikan sebagai tingkatan pencapaian organisasi atas tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang didekati berdasarkan nilai-nilai bersaing dari nilai-nilai organisasinya. Istilah efektif (efektive) menunjukkan seberapa baik proses atau ukuran dalam memenuhi pencapaian tujuan organisasi. (Nevizond Chatab : 2007 : 18).

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah ditentukan. Hal ini sesuai dengan pendapat H. Emerson yang dikutip Soewarno Handayaningrat S. (1994:16) yang menyatakan bahwa “Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.”

Sedangkan Georgopolous dan Tannembaum (1985:50), mengemukakan: “Efektivitas ditinjau dari sudut pencapaian tujuan, dimana keberhasilan suatu organisasi harus mempertimbangkan bukan saja sasaran organisasi tetapi juga

(21)

10

mekanisme mempertahankan diri dalam mengejar sasaran. Dengan kata lain, penilaian efektivitas harus berkaitan dengan mesalah sasaran maupun tujuan.”

Selanjutnya Steers (1985:87) mengemukakan bahwa “Efektivitas adalah jangkauan usaha suatu program sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan sarana tertentu untuk memenuhi tujuan dan sasarannya tanpa melumpuhkan cara dan sumber daya itu serta tanpa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap pelaksanaannya”.

Menurut Agung Kurniawan dalam bukunya Transformasi Pelayanan Publik mendefinisikan efektivitas, sebagai berikut: “Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya” (Kurniawan, 2005:109).

Dari beberapa pendapat di atas mengenai efektivitas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa :“Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya”.

Upaya mengevaluasi jalannya suatu organisasi, dapat dilakukan melalui konsep efektivitas. Konsep ini adalah salah satu faktor untuk menentukan apakah perlu dilakukan perubahan secara signifikan terhadap bentuk dan manajemen

(22)

11

organisasi atau tidak. Suatu kegiatan dikatakan efisien apabila dikerjakan dengan benar dan sesuai dengan prosedur sedangkan dikatakan efektif bila kegiatan tersebut dilaksanakan dengan benar dan memberikan hasil yang bermanfaat. a). Ukuran Efektivitas

Mengukur efektivitas organisasi bukanlah suatu hal yang sangat sederhana, karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan tergantung pada siapa yang menilai serta menginterpretasikannya. Tingkat efektivitas juga dapat diukur dengan membandingkan antara rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang telah diwujudkan.

Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan tidak tepat sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang diharapkan, maka hal itu dikatakan tidak efektif. Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau tidak, sebagaimana dikemukakan oleh S.P. Siagian (1978:77), yaitu:

a) Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksdukan supaya karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan tujuan organisasi dapat tercapai.

b) Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah “pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.

c) Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap, berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan artinya kebijakan harus

(23)

12

mampu menjembatani tujuan tujuan dengan usaha-usaha pelaksanaan kegiatan operasional.

d) Perencanaan yang matang, pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang apa yang dikerjakan oleh organisasi dimasa depan.

e) Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam program-program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan bekerja. f) Tersedianya sarana dan prasarana kerja, salah satu indikator efektivitas

organisasi adalah kemamapuan bekerja secara produktif.

g) Pelaksanaan yang efektif dan efisien, bagaimanapun baiknya suatu program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan pelaksanaan organisasi semakin didekatkan pada tujuannya.

h) Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik mengingat sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.

Adapun kriteria untuk mengukur efektivitas suatu organisasi ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, seperti yang dikemukakan oleh Martani dan Lubis (1987:55), yakni:

a) Pendekatan Sumber (resource approach) yakni mengukur efektivitas dari input. Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

(24)

13

b) Pendekatan proses (process approach) adalah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi.

c) Pendekatan sasaran (goals approach) dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana.

Selanjutnya Strees dalam Tangkilisan (2005:141) mengemukakan lima kriteria dalam pengukuran efektivitas, yaitu:

a) Produktivitas

b) Kemampuan adaptasi kerja c) Kepuasan kerja

d) Kemampuan berlaba e) Pencarian sumber daya .

Sedangkan Duncan yang dikutip Richard M. Steers (1985:53) dalam bukunya “Efektrivitas Organisasi” mengatakan mengenai ukuran efektivitas, sebagai berikut:

a) Pencapaian Tujuan

Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan harus dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti pentahapan pencapaian bagian-bagiannya maupun pentahapan dalam arti periodisasinya. Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu: Kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongktit.

(25)

14 b) Integrasi

Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensusan komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Integrasi menyangkut proses sosialisasi.

c) Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk itu digunakan tolak ukur proses pengadaan dan pengisian tenaga kerja.

b). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas

Ada empat faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja, seperti yang dikemukakan oleh Richard M. Steers dalam bukunya yang berjudul Efektivitas Organisasi, yaitu:

1). Karakteristik Organisasi

Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan teknologi organisasi yang dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektivitas dengan berbagai cara. Yang dimaksud struktur adalah hubungan yang relatif tepat sifatnya, seperti dijumpai dalam organisasi, sehubungan dengan susunan sumber daya manusia, struktur meliputi bagaimana cara organisasi menyusun orang-orangnya dalam menyelesaikan pekerjaan, sedangkan yang dimaksud teknologi adalah mekanisme suatu organisasi untuk mengubah masukan mentah menjadi keluaran (output). 2). Karakteristik Lingkungan

(26)

15

Aspek lingkungan luar dan lingkungan dalam juga telah dinyatakan mempunyai pengaruh terhadap efektivitas kerja. Kedua aspek tersebut sedikit berbeda, namun saling berhubungan. Lingkungan luar yaitu semua kekuatan yang timbul di luar batas-batas organisasi dan mempengaruhi keputusan serta tindakan di dalam organisasi. Pengaruh faktor semacam ini terhadap dinamika organisasi pada umumnya dianggap meliputi derajat kestabilan yang relatif dari lingkungan, derajat kompleksitas lingkungan dan derajat ketidak pastian lingkungan. Sedangkan lingkungan dalam yang pada umumnya disebut iklim organisasi, meliputi macam macam atribut lingkungan kerja yang mempunyai hubungan dengan segi-segi tertentu dari efektivitas, khususnya atribut-atribut yang diukur pada tingkat individual. Keberhasilan hubungan organisasi dengan lingkungan tampaknya amat tergantung pada tingkat variabel kunci yaitu tingkat keterdugaan keadaan lingkungan, ketepatan persepsi atas keadaan lingkungan dan tingkat rasionalisme organisasi. Ketiga faktor iniempengaruhi ketepatan tanggapan organisasi terhadap perubahan lingkungan.

3). Karakteristik Pekerja

Pada kenyataannya para anggota organisasi merupakan faktor pengaruh yang paling penting karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan memperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi. Pekerja merupakan sumber daya yang langsung berhubungan dengan pengelolaan semua sumber daya yang ada di dalam organisasi, oleh sebab itu perilaku pekerja sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Pekerja merupakan modal utama di dalam organisasi yang akan berpengaruh besar terhadap efektivitas, karena walaupun

(27)

16

teknologi yang digunakan merupakan teknologi yang canggih dan didukung oleh adanya struktur yang baik, namun tanpa adanya pekerja maka semua itu tidak ada gunanya.

4). Kebijaksanaan dan Praktek Manajemen

Secara umum, para pemimpin memainkan peranan sentral dalam keberhasilan suatu organisasi melalui perencanaan, koordinasi dan memperlancar kegiatan yang ditunjukan kearah sasaran. Kewajiban mereka para pemimpin untuk menjamin bahwa struktur organisasi konsisten dengan dan menguntungkan untuk teknologi dan lingkungan yang ada. Sudah menjadi tanggung jawab dari para pemimpin untuk menetapkan suatu sistem imbalan yang pantas sehingga para pekerja dapat memuaskan kebutuhan dan tujuan pribadinya sambil mengejartujuan dan sasaran organisasi.

Peranan pemimpin ini mungkin merupakan fungsi yang paling penting. Dengan makin rumitnya proses teknologi dan makin rumit dan kejamnya keadaan lingkungan, peranan manajemen dalam mengkoordinasi orang dan proses demi keberhasilan organisasi tidak hanya bertambah sulit, tapi juga menjadi semakin penting artinya.

2. Teori Administrasi pembangunan

Defenisi dari Administrasi Pemabngunan menurut Mustopadidjaya (Faried Ali 2015: 118) adalah “ Administrasi Pembangunan adalah ilmu dan seni tentang bagaimana pembangunan suatu system administrasi Negara dilakukan sehingga system administrasi mampu menyelenggarakan berbagai fungsi pemerintahan dan pembangunan secara efesien dan efektif.

(28)

17

Administrasi pembangunan merupakan keseluruhan proses usaha yang digerakkan oleh suatu Negara atau bangsa untuk, berkembang, bertumbuh dan berubah secara nasional dan terencana dalam semua segi kehidupan dan penghidupan Negara yang bersangkutan dalam pencapaian tujuan pada akhirnya (Siagian, 2005:5). “

kedua defenisi yang dikemukakan diatas memfokuskan pada perbaikan suatu system pemerintahan dan perubahan secara terencana serta pencapaian tujuan”. Selanjutnya dari berbagai perkembangan dalam ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu sosial, teori administrasi yang berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran manusia baik atas dasar pemikiran filsafat lainnya, berkembang dalam kerangka temuan, dukungan dan bantahan dari para pemikir dan peneliti. Oleh sebab itu, administrasi dalam pengembangannya perlu adanya perangkat yang administratif sendiri dengan ditingkatkannya dan dikembangkan agar memungkinkan dalam mengkoordinasi dan melakukan pendekatan multi fungsional kearah pemecahan masalah secara nasional dalam pembangunan (Lukman,2011)Dalam artian luas bahwa pemabgunan seiring dimaksud sebagai suatu upaya untuk perbaikan dan perubahan menjadi kearah yang lebih baik. Dengan demikian perubahan dapat diartikan untuk menuju arah peningkatan dalam keadaan sebelumnya, ada pula bersubtansikan bahwa pembangunan juga merupaka pertumbuhan,. Berdasarkan spekulasinya sampai saat ini belum ditemukan adanya suatu kesepakatan yang dapat merubah atau menolak asumsi tersebut.

(29)

18

(Siagian,1983) mengemukakan pembangunan menunjukkan suatu perubahan, menciptakan atau mewujudkan suatu kondisi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat kearah yang lebih baik dari keadaan sekarang, sedangkan pembangunan dikatan suatu pertumbuhan karena adanya kemampuan dan keinginan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik secara khusus maupun secara umum serta membenarkan bahwa sesuatu tersebut harus terjadi dalam proses pembangunan. “ dengan pembangunan, intinya pembangunan dapat menyebabkan terjadinya suatu pertumbuhan dengan kata lain pertumbuhan akan terjadi aapabila adanya pembangunan”

Adanya system administrasi Negara yang mampu menyelenggarakan pembanguna menjadi prasyarat bagi berhasilnya pembangunan, dilain pihak, system pemerintahan Negara-negara berkembang pada awal kemerdekaannya, umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Kelembagaan mewarisi system administrasi colonial yang sangat terbatas cakupanyya karena tujuan pemerintahan colonial yang sangat terbatas cakupannya karena tujuan pemerintahan colonial yang bukan memajukan bangsa jajahan, melainkan mengeksploitasinya.

2. Sumber daya manusianya terbatas dalam kulaitas. Jabatan banyak diisi oleh orang-orang yang tidak emenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk jabatan itu.

3. Kegiatan system pemerintahan, terutama untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan yang bersifat umum atau ruitin dan tidak berorentasi kepada pembangunan.

(30)

19

Pembangunan system administrasi tradisional menjadi system administrasi modern yang mampu mneyelenggarakan pembangunan merupakan salah satu tujuan administrasi pembangunan.

Administrasi pembangunan secara umum memiliki dua fungsi yaitu, pembangunan dibidang administrasi dan Administrasi dibidang pembangunan fungsi keduanya saling terkait serta saling melengkapi dalam proses pembangunan kebijakan.

Dengan kata lain, ada dua poin yang harus dibedakan, berikut penjelasan singkatnya

1. Administrasi bagi pembangunan Merupakan kegiatan administrasi dilakukan untuk pembnagunan dalam pelaksanaannya secara umum menggunakan pendekatan manajemen karena berkaitan dengan manajemen pembangunan, yang mencakup:

a. Perencanaan dalam bidang pembangunan b. Sumber daya

c. Penganggaran

d. Pembanguna administrasi

Pembangunan administrasi didasari dengan pembaharuan adminitrasiyang berkelnajutan, dengan adanya perubahan birikrasi dengan maksud sebagai berikut: a. Birokrasi harus mampu mendorong parisipasi masyarakat

b. Birokrasi seharusnya netral tidak berpihak kepada yang lebih berkuasa, namun harus berorientasi kepada yang betul-betul memiliki kebutuhan.

(31)

20

c. Birokrasi mampu berperan dalam memberikan mengarahkan dan pemberdayaan terhadap masyarakat.

d. Terbuka dan bertanggung jawab harus dimiliki oleh birokrasi yang berorientasi terhadapa masyarakat.

3. Pengertian Desa dan Kepala Desa.

Kata “Desa” di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Mr. Herman Warner Muntinghe seorang Belanda yang merupakan pembantu gubernur Inggris yang menyebut tentang adanya desa-desa didaerah-daerah pesisir utara Pulau Jawa. Dan di kemudian hari ditemukan juga desa-desa dikepulauan luar Jawa yang kurang lebih sama dengan desa yang ada di Jawa. ( Soetarjo, dalam Wasistiono, 2007).

Menurut (Yulianti,2003) mengatakan bahwa desa sendiri berasal dari bahasa India yakni Swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang berujuk pada satu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batas yang jelas.

Sesuai dengan penjelasan diatas jelaslah bahwa desa merupakan sebuah kesatuan masyarakat hukum yang masih asli adat tradisinya, sosial kemasyarakatannya masih murni, dan rasa semangat kegotongroyongannya sangat kuat yang dipimpin seorang kepala desa sebagai satu kesatuan hidup dan dengan kesatuan norma, serta memiliki wilayah hukum yang jelas dengan memiliki batas-batas yang sah. Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau dan suku bangsa banyak kita jumpai istilah-istilah desa, diantaranya seperti Dusun bagi mayarakat

(32)

21

Sumatera Tengah dan Selatan, Dati bagi masyarakat Maluku, Nagari bagi masyarakat Minanang Kabau, dan Wanua bagi masyarakat Minahasa.

Menurut (Suhartono,2000 ) ditinjau dari segi ekonomi desa merupakan sebagai tempat orang hidup dalam ikatan keluarga dalam suatu kelompok perumahan dengan saling ketergantungan yang besar dibidang sosial ekonomi. Pendapat diatas menjelaskan bahwa desa merupakan kelompok sosial ekonomi kecil yang berasaskan ikatan kekeluargaan dimana rasa saling tolong-menolong dan rasa setia kawanan sosial lebih diutamakan.

Desa adalah suatu wilayah yang ditempati sejumlah penduduk sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintah terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ditempati oleh sejumlah penduduk yang mempunyai organisasi pemerintah terendah yang berhak menyelenggarakan pemerintahan atau rumah tangganya sendiri. (kansil, 2001)

Secara faktual, pada perkembangannya bentuk sebagian besar desa di Indonesia pada hakekatnya sampai sekarang masih tetap merupakan kesatuan masyarakat hukum asli, dengan berlandaskan pada aturan hukum adat. Oleh karenanya pemerintahan desa yang lahir dari sistem hukum yang berlaku bersifat demokratis sesuai dengan filosofi terbentuknya desa dan diharapkan pemerintah desa dapat menjalankan tiga peranan utamanya yaitu: sebagai struktur perantara, sebagai pelayan masyarakat, dan sebagai agen pembaharuan. (Wasistiono,2007).

(33)

22

Defenisi tentang desa sendiri sampai sekarang masih perlu dikaji karena batasannya menjadi perdebatan panjang dikalangan para ahli. Desa dibentuk berdasarkan kebutuhan daerah-daerah tertentu yang satu dengan daerah lain berbeda kulturnya. Saparin (dalam Hanif, 2011) yaitu Kepala Desa pada dasarnya adalah pemimpin organisasi pemerintah Desa yang secara langsung di pilih oleh masyarakat dari calon yang memenuhi syarat.

Dalam Undang-Undang nomor 6 tanun 2014 tentang Desa Pasal 1 ayat 2 pemerintah Desa merupakan Kepala Desa atau yang di sebut dengan nama lain di bantu dengan perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Desa. Kepala Desa mempunyai beberapa tanggung jawab yang harus dijalankan baik dalam penyelenggara pemerintahan Desa, melaksanakan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat. Untuk itu Kepala Desa harus mempunyai komitmen dalam menjalankan tugasnya agar bisa mecapai tujuan Pemerintahan Desa.

a) Tugas Kepala Desa

Kepala Desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan Desa, melaksanakan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa. Dengan demikian Kepala Desa wajib melaksanakan keempat tugasnya tersebut. Wujud konkret dari pelaksanaan tugas Kepala Desa adalah dengan merealisasikan tugas yang di berikan kepadanya. b) Wewenang Kepala Desa

1) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan Desa 2) Mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa

(34)

23

3) Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan aset Desa 4) Menetapkan peraturan Desa

5) Menetapkan anggaran pendapatan dan belanja Desa 6) Mambina kehidupan masyarakat Desa

7) Membina ketentraman dan ketertiban masayarakat Desa

8) Membina dan meningkatkan perekonomian Desa serta mengintegrasikan agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat DesaMengembangkan sumber pendapatan Desa.

9) Mengusulkan dan menerima perlimpahan sebagai kekayaan Negara guna meningkatkan kesejahteraan masayarakat Desa.

10) Mengembangkan kehidupan sosial budaya masayarakat Desa. 11) Memanfaatkan teknologi tepat guna.

12) Mengoordinasikan pembangunan Desa secara partisipatif.Mewakili Desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan,

13) Melaksanakan wewenang lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, maka Kepala Desa kiranya dapat melaksanakan kewenagan yang di berikan kepadanyan dengan baik.

c) Kewajiban Kepala Desa

1) Memegang teguh dan mengamalkan pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan

(35)

24

memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.

2) Meningkatkan kesejahteraan masayarakat Desa.

3) Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat Desa. 4) Menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan.

5) Melaksanakan kehidupan demokrasai dan berkeadilan gender.

6) Menerapkan prinsip tata pemerintahan Desa yang akuntabel, transparansi, professional, efektif dan efesien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

7) Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Desa.

8) Menyelenggarakan administrasi pemerintahan Desa yang baik. 9) Mengelola keuangan dan aset Desa.

10) Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenagangan Desa. 11) Menyelesaikan perselisihan masyarakat Desa.

12) Mengembangkan perekonomian masayarakat Desa. 13) Membina dan melestarikan nilai budaya masyarakat Desa.

14) Memperdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di Desa.

15) Mengembangakan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; dan

16) Memberikan informasi kepada masyarakat Desa

Sesuai dengan prinsip Demokrasi, Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan Desa kepada Bupati,

(36)

25

memberikan laporan pertanggung jawaban kepada BPD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan Kepala Desa mempunyai fungsi yaitu sebagai berikut:

a) Menyelenggarakan pemerintahan Desa, seperti tata praja pemerintahan, penetapan peraturan di Desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, melakukan upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah.

b) Melaksanakan pembangunan, seperti pembangunan sarana prasarana pedesaan, dan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan.

c) Pembinaan kemasyarakatan, seperti pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, sosial buadaya masyarakat, keagamaan, dan ketenagakerjaan.

d) Pemberdayaan masyarakat, seperti tugas sosialisasi dan motivasi masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna.

e) Menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan lembaga lainnya.

Kepala Desa Dalam menjalankan tugasnya mempunyai fungsi-fungsi yang harus di laksanakan oleh karena itu seorang Kepala Desa harus paham tugas pokok dan fungsinya serta tanggung jawabnya sebagai Kepala Desa sehingga dapat mengelola pemerintahan Desa dengan baik.

Kewenangan desa menurut Undang-Undang No 32. tahun 2004 tentang Pemerintaha Daerah adalah sebagai berikut:

(37)

26

a) Kewenangan yang sudah berdasarkan hak asal-usul.

b) Kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, belum dilaksanakan oleh pemerintah desa dan pemerintah.

c) Tugas pembantu dari pemerintah, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten.

Menurut Undang-undang ini juga menjelaskan Pemerintahan desa terdiri dari : a) Kepala desa dan perangkat desa.

b) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya. c) Sekretaris Desa atau pegawai negri sipil yang memenuhi persyaratan.

Dalam pasal 203 Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa kepala desa dipilih langsung dari penduduk desa warga Repupblik Indonesia, dilantik oleh Bupati atau Walikota paling lambat tiga puluh hari setelah pemilihan. Desa dipimpin oleh seorang kepala desa yang dipilih oleh penduduk setempat sedangkan kelurahan dipimpin oleh seorang Lurah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dari pegawai negri yang telah memenuhi persyaratan yang telah d itetapkan oleh undang-undang. Kepala Desa sebagai pemimpin terdepan sebagai pemerintahan yang paling dekat serta berhubungan langsung dengan masyarakat.

B. Kerangka Berpikir

Berdasarkan judul efektivitas fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa tompotana kecamatan mappakasunggu kabupaten takalar

(38)

27

maka penelitian ini akan di laksanakan menggunakan teori Duncam yang di kutip oleh Richard M. Steers dalam buku Efektrivitas Organisasi.

Bagan kerangka pikir

Efektivitas Fungsi Kepala Desa Dalam Pelaksanaan Pembangunan Di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar

C. Fokus Penelitian

Untuk memberikan suatu pemahaman, sehingga dapat memudahkan dalam penelitian, maka peneliti perlu adanya beberapa batasan penelitian dan fokus penelitian. Maka dari itu fokus penelitian menunjukkan bagaimana Efektivitas Fungsi Kepala Desa Dalam Pelakasanaan Pembangunan di Desa

Duncam dalam R.M.Steers : 1995 :

1.Pencapaian tujuan 2.Integrasi

3.Adaptasi

(39)

28

Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar melalui 3 aspek yaitu pencapaian tujuan, integrasi dan adaptasi.

D. Deskripsi focus penelitian 1. pencapaian tujuan

Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan harus dipandang sebagai suatu proses. Maka untuk mengetahui keefektivan fungsi kepala desa dalam melaksanakan pembangunan kita juga dapat melihat dari tercapainya suatu tujuan. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti pentahapan pencapaian bagian-bagiannya maupun pentahapan dalam arti periodisasinya. Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu: kurun waktu, dan sasaran.

2. Integrasi

Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan kepala desa dan aparatur desa dalam mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensus dan komunikasi dengan masyarakat dalam mengembangkan pembangunan di desa. Dalam instansi pemerintahan desa integrsai menjadi suatu hal yang penting karna dengan adanya integrasi kita bisa mengukur tingkat kefektivan fungsi kepala desa dalam pelaksanaan pembangunan hal tersebut dapat di ketahui dari proses kepala desa melakukan sosolisasi dan pengembangan kosensus dan komunikasi baik kepada masyarakat maupun sosiloisai kepada aparatur desa terutama dalam mensosialisasikan permasalahan pembangunan yang akan dilaksanakan di desa. Maka keefektivan fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan dapat juga di lihat melalui integrasi.

(40)

29 3. Adaptasi

Adaptasi sangat berpengaruh dalam organisasi pemerintahan desa karena ketika kepala desa mampu beradaptasi dengan baik kepada masyarakatnya maka akan terjalin kerja sama yang baik pula terutama dalam hal pembangunan. Hal tersebut menjadi tugas penting yang harus dilakukan kepala desa sehingga tidak terjadi bias. Adapun langkah-langkah yang dilakukan kepala desa seperti mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat terutama dalam bidang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya pembinaan tersebut wawasan masyarakat menjadi luas sehingga mengetahui apa dan tindakan yang harus dilakukan dalam pembangunan desa.

Kepala desa sebagai pimpinan teratas terhadap masyarakat harus dapat memberi contoh yang baik serta berperan penting dalam menyukseskan pembangunan desa yang dibantu langsung oleh aparat desa dan masyarakat yang telah dibekali dengan adanya pembinaan dan pelatihan.

(41)

30 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan lokasi penelitian

Penelitian ini di laksanakan dalam waktu 2 (dua) bulan yaitu mulai 19 Oktober sampai dengan 19 Desember 2019. Lokasi penelitian berada di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar karena berdasarkan pertimbangan yaitu pelaksanaan pembangunan masih ada berbagai ke kurangan. B. Jenis dan tipe penelitian

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan memberikan gambaran Efektivitas fungsi kepala desa dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Tompotana Kecamata Mappakasunggu bulanKabupaten Takalar.

2. Tipe penelitian

Adapun tipe penelitian ini adalah deskriptif yang di maksudkan untuk mengungkapkan atau memberikan gambaran mengenai masalah-masalah mengenai bagaimana Efektivitas fungsi kepala desa dalam pelaksanaan Pembangunan Di Desa Tompotana Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar.

C. Sumber data

1. Data primer; yang di peroleh secara langsung dari informan yang bersangkutan dengan cara wawancara untuk mendapatkan jawaban yang berkaitan dengan

(42)

31

Efektivitas fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di desa tompotana kecamatan mappakasunggu kabupaten takalar.

2. Data sekunder; yang di peroleh dari literature dan dokumen sebagai data pendukung dalam penelitian.

D. Informan penelitian

Adapun informan dalam penelitian ini adalah : Tabel 1. Informan penelitian

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1. Observasi; melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian secara mendalam terhadap suatu objek pengamatan pada tempat yang sama ataupun

NO Nama/inisial Jabatan/Tugas 1 SP kepala Desa 2 IR BPD 3 KH Kaur Pembanguan 4 NT Tokoh Masyarakat 5 RM Tokoh MSSasyarakat

(43)

32

berbeda. Observasi di fokuskan pada pengamatan langsung terhadap Efektivitas fungsi kepala desa dalam pelaksanaan pembangunan.

2. Wawancara; wawancara di lakukan dengan mewawancarai kepala desa, sekretaris desa, kepala dusun,BPD, dan masyarakat di desa tompotana. Pertanyaan yang diajukan yaitu menggunakan pedoman wawancara.

3. Dokumentasi; dilakukan guna mendapatkan data sekunder dengan cara melakukan kajian terhadap data-data dokumen pribadi dan dokumen resmi, baik visual maupun berupa tulisan yang berkaitan dengan masalah penelitian. F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data interaktif dari miles dan huberman (1992:20), yaitu ;

1. Reduksi data , yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok,memfokuskan hal-hal yang penting, mencari tema dan pola dari data. Meruduksi data adalah cara pemilihan yang terbaik,pemusatan perhatian dan perubahan data kasar dari lapangan.

2. Penyajian data, dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan atau gambar, dan kutipan wawancara. Tujuannya agar mudah di pahami oleh pembaca untuk menarik kesimpulan. Tahapan ini peneliti menggunakan display ( penyajian data ) dengan sistematis, untuk lebih mudah di pahami.

3. Verifikasi data dan menarik kesimpulan, Penarikan kesimpulan pada waktu pengumpulan data, dengan membuat asumsi yang berhubungan dengan kondisi lapangan, selajutnya akan di kaji secara berulang-ulang terhadap data yang di

(44)

33

terima. Kemudian hasil yang di dapatkan masih bersifat sementara dan berubah bila mendapatkan bukti-bukti yang valid untuk mendukung pengumpulan data selajutnya.

G. Pengabsahan Data

Dalam penelitian ini dalam menguji ke absahan data menggunakan teknik triangulasis yaitu :

1. Triangulasi sumber, yaitu perbandingan antara data hasil wawancara dengan data hasil pengamatan langsung di lapangan, membandingkan apa yang diutarakan di depan banyak orang atau secara umum dengan apa yang diutarakan secara personal atau pribadi, dan membandingkan wawancara dengan dokumen yang berkaitan.

2. Triangulasi tehnik, yaitu Sebagai pengecekan derajat kepercayaan penemuan terhadap hasil penelitian dalam beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda.

3. Triangulasi waktu. berarti waktu dapat juga mempengaruhi kredibilitas data. untuk itu, yang harus dilakukan dalam pengujian kredibilitas data dengan cara melakukan pengecekan melalu observasi, wawancara atau menggunakan teknik yang sesuai dengan waktu atau situasi yang berbeda.

(45)

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambarang Umun Desa Tompotana, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar

Tompotana adalah sebuah Desa yang terletak di Ujung Timur Kepulauan

Tanakeke Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Kapan dan oleh siapa

nama “Tompotana” diberikan kepada Desa ini, sampai saat ini belum ada satu

orang pun masyarakat Desa Tompotana dan sekitarnya yang bisa

menceritakannya. Namun menurut cerita yang berkembang di masyarakat

nama “Tompotana” itu sendiri diberikan lebih karena faktor Geografis.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat bahwa Tompotana

awalnya sebuah “Gusung”. Gusung ini terbentuk karena adanya tanah dan pasir

laut yang naik menggumpal di permukaan laut dan membentuk sebuah daratan.

Olehnya itu dari proses inilah sehingga masyarakat memahami dan memberikan

nama “Tompotana”. Tompotana terdiri dari 2 (dua) kata yang merupakan bahasa

Makassar yaitu (Tompo artiya atas sedangkan Tana artinya Tanah atau Pasir)

yang artinya Tanah atau pasir yang menggumpal diatas permukaan

laut. Tompotana awalnya adalah sebuah wilayah dusun di Kepulauan Tanakeke

Desa Maccini Baji Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Takalar Nomor: 06 Tahun 2010

tanggal 15 Desember 2010 Dusun Tompotana berubah menjadi Desa Tompotana

(46)

35

 Sebelah Utara adalah Perairan Selat Tanakeke

 Sebelah Selatan adalah Desa Maccini Baji

 Sebelah Timur adalah Perairan Selat Tanakeke

 Sebelah Barat adalah Desa Rewataya.

2. Topografi Desa

Desa Tompotana merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari Pulau-pulau kecil, yang terdiri dari beberapa dusun. Diantara dusun-dusun tersebut, ada beberapa diantaranya adalah merupakan dataran tanah dan sebagian lainnya adalah dataran buatan masyarakat (area mangrove yang di konversi/ditimbun menjadi daratan untuk pemukiman).

3. Iklim dan Curah Hujan

Desa Tompotana memiliki Iklim tropis dan dua musim, yaitu: musim hujan dan musim kemarau, pada musim hujan semua lahan rumput laut aka ditanami dengan rumput laut jenis cottoni, sementara untuk lahan sawah sendiri mulai di garap, mengingat semua areal sawah yang ada di desa maccini baji adalah sawah tadah hujan. Sementara untuk musim kemarau, areal rumput laut ditanami dengan rumput laut laut jenis cottoni dan spinusiun (SP), sementara untuk lahan persawahan ditanami jagung, ubi, dan kacang-kacangan.

4. Hidrologi dan Tata air

Desa Tompotana tidak memiliki sumber air tawar dari sumur yang berada di Dusun Dande-dandere. Itupun hanya bisa dimanfaatkan pada saat musim hujan, sementara pada musim kemarau air sumur menjadi payau. Sedangkan dusun

(47)

36

lainnya mendapat air tawar dari Desa tetangga (Mattiro Baji), daratan Takalar dan air hujan pada saat musim hujan.

5. Sektor Pertanian

Desa Tompotana sebagai Desa yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani rumput laut dan nelayan karena desa tompotana adalah desa yang berada di kepulauan tanakeke.

a. Sektor Jasa

Masyarakat Desa tompotana yang memiliki pekerjaan pada sektor jasa ada bermacam-macam seperti pengusaha,pembawa kapal, dan tukang, Ada yang mempunyai usaha jual beli umumnya hanya menjual kebutuhan sehari-hari rumah tangga dan makanan kecil. Sebagian penjual secara berkeliling dan ada juga yang menjual di lokasi tempat tinggalnya.

a. Kependudukan 1. Kondisi penduduk

Penduduk Desa tompotana 100% adalah pemeluk Agama Islam, serta 99% suku Makassar selebihnya adalah suku Bugis hasil perkawinan antara suku. a. Jumlah penduduk

Jumlah penduduk Desa tompotana dapat di jabarkan dalam tabel jumlah per Dusun berdasarkan data yang ada di Desa adalah sebagai berikut:

(48)

37 Tabel: 2 Jumlah penduduk perdusun

NO DUSUN JMLH KK JUMLAH PENDUDUK L P JML 1 Tompotanah 101 185 201 386 2 Ujungtanah 131 233 234 487 3 Cambayya 50 85 75 160

Sumber: Dasa Wisma b. Sarana dan prasarana Desa

1. Pemerintahan

Sarana pemerintahan adalah sarana yang ada di Desa sebagai tempat pelayanan masyarakat, pertemuan masyarakat dengan lembaga pemerintahan yang ada di Desa dan tempat pengaduan masyarakat terhadap pemerintah Desa, sarana tersebut adalah Kantor Desa tompotana.

2. Transportasi

Transportasi di Desa tompotana seperti jalan baik itu Desa dan jalan Dusun merupakan satu prasarana dalam menunjang sekaligus memperlancar perekonomian masyarakat dan akan mempermudah lalu lintas barang. Adapun jalan menurut jenisnya yang ada di Desa tompotana adalah sebagai berikut:

a. Jalanan paving b. Jembatan

3. Kesehatan, dan sanitasi a. Prasarana kesehatan

(49)

38

No Prasarana Kesehatan Jumlah

1. Postu 1 Buah

2. Posyandu 1 Buah

Sumber : Dasa wisma b. Sarana pendidikan

Tabel: 4 Sarana pendidikan yang terdapat di desa tompotana No Sarana pendidikan Jumlah

1. TK 1 Buah

2. Sekolah Dasar 1 Buah

3. SMP/MTS 1 Buah

Sumber: Dasa wisma c. Pekerjaan Pokok Masyarakat

Yang paling banyak di geluti masyarakat Desa Tompotana di setiap Dusun adalah Petani.

Sebagian masyarakat Desa tompotana ada juga yang memiliki 2 (Dua) pekerjaan (pokok dan sampingan) yakni ada yang bekerja sebagai petani rumput laut dan ada juga yang bekerja sebagai budidaya tambak.

d. Sarana umum

Sarana umum Desa Tompotana yang di gunakan Masyarakat untuk kegiatan sehari-hari adalah:

1. Dermaga

2. Tempat pemekaman umum 3. Poskamling

(50)

39 Tabel 5. sarana dan prasarana Desa

No Jenis prasarana dan sarana Desa Jumlah Keterangan

1 Sarana jalan: Jalanan paving Jembatan 5 2 Sarana pemerintahan Kantor Desa 1 Pustu 1 Posyandu 1 Poskamling 1 3 Sarana pendidikan Gedung TK 1 Gedung SD/MI 1 Gedung SMP/MTS 1 4 Sarana Sosial Masjid 2 Dermaga 1

Sumber: Dasa wisma

e. Visi dan Misi Visi

Terlaksananya Tata Kelola Pemerintahan Yang Religius, Sejahtera,

(51)

40 Misi

Dalam rangka mencapai visi seperti tersebut diatas, dirumuskan sejumlah misi sebagai berikut:

1) Meningkatkan kapasitas penyelenggara pemerintahan desa dan

lembaga-lembaga desa agar mampu menjalankan peran dan fungsinya Masing-masing;

2) Masyrakat mampu mengamalkan dan mengajarkan Nilai-nilai Keagamaan

dalam kehidupan bermasyarakat;

3) Meningkatkan sarana dan parasana umum desa yang mudah di akses oleh

masyarakat Desa Tompotana seperti sarana pendidikan, Kesehatan, Pertanian,

Listrik dan sarana jalan;

4) Meningkatkan partisifasi peserta didik dan menciptakan Sumber Daya

Manusia (SDM) desa yang terdidik dan terampil;

5) Meningkatkan pelayanan Terhadap Masyrakat secara merat

Tabel 6. Nama-nama pejabat pemerintahan Desa Tompotana

NO JABATAN NAMA

1 Kepala Desa Supriadi.SE.M.SI 2 Sekretaris Desa Agus.S.IP

3 Kaur keuangan Awaluddin S.Pd 4 Kaur urusan tata usaha

dan umum

Bernianto S.Pd 5 Staf TU dan urusan

umum

Kaharuddin S.Pd

6 Kasi Pemerintahan Subandi.S.IP 7 Kasi kesejahteraan Rabasia 8 Kasi pelayanan Nawir S.Pd

(52)

41 9 Kepala Dusun Tompotanah Baso Dg.Ngama 10 Kepala Dusun Ujungtanah Alwi.S.Pd

11 Kepala Dusun cambayya Abd.Hafid Dg.Ngitung Sumber: data Desa tompotana

a. Kepala Desa

Kepala Desa berkedudukan sebagai Kepala Pemerintahan Desa yang memimpin pelenggaraan Pemerintahan Desa.

1. Tugas Kepala Desa yaitu:

a. menyelenggarakan Pemerintahan Desa. b. melakasanakan Pembangunan Desa.

c. pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa. 2. Fungsi Kepala Desa yaitu:

a) Menyelenggarakan pemerintahan Desa, seperti tata praja pemerintahan, penetapan peraturan di Desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, melakukan upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah.

b) Melaksanakan pembangunan, seperti pembangunan sarana prasarana pedesaan, dan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan

c) Pembinaan kemasyarakatan, seperti pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, sosial buadaya masyarakat, keagamaan, dan ketenagakerjaan.

(53)

42

d) Pemberdayaan masyarakat, seperti tugas sosialisasi dan motivasi masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna.

e) Menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan lembaga lainnya

b. Sekretaris Desa

Sekretaris Desa berkedudukan sebagai unsur pimpinan Sekretaris Desa. Tugas sekretaris Desa adalah membantu Kepala Desa dalam bidang administrasi pemerintahan.

Fungsi sekretaris Desa yaitu:

1. Melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi.

2. Melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat desa, penyediaan sarana prasarana perangkat Desa dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian aset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum. 3. Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan adaministrasi keuangan, administrasi sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, dan administrasi penghasilan Kepala Desa, perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan Desa lainnya.

4. Melaksanakan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja Desa, menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring, dan evaluasi program, serta penyusunan laporan.

(54)

43 c. Kepala urusan

Kepala urusan berkedudukan sebagai unsur staf sekretaris.

Kepala urusan bertugas membantu Sekretaris Desa dalam urusan pelayanan administrasi pendukung pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan.

Fungsi kepala urusan yaitu: 1. Kepala urusan tata usaha

Kepala urusan tata usaha dan umum memiliki fungsi seperti melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi, dan penataan administrasi perangkat Desa, penyediaan prasarana perangkat Desa dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian aset, inventrisasi, perjalan dinas, dan pelayanan umum

2. Kepala urusan keuangan

Kepala urusan keuangan memiliki fungsi seperti melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan adaministrasi keuangan, administrasi sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, dan administrasi penghaasilan Kepala Desa, perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan Desa lainnya.

3. Kepala urusan perencanaan

Kepala urusan perencanaan memiliki fungsi mengoordinasikan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja Desa,

(55)

44

menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring dan evaluasi program, serta penyusunan Laporan.

d. Kepala seksi

Kepala seksi berkedudukan sebagai unsur pelaksana teknis.

Tugas kepala seksi membantu Kepala Desa sebagai pelaksana tugas oprasional.

Fungsi Kepala seksi yaitu: 1. Kepala seksi pemerintahan

Kepala seksi pemerintahan mempunyai fungsi melaksanakan manajemen tata praja pemerintahan, menyusun rancangan regulasi data, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya perlindungan masyarakat, kependudukan, penataan dan pengelolaan wilayah, serta pendataan dan pengelolaan profil Desa.

2. Kepala seksi kesejahteraan

Kepala seksi kesejahteraan mempunyai fungsi melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana perdesaan, pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, dan tugas sosialisasi serta motivasi masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna.

3. Kepala seksi pelayanan

Kepala seksi pelayanan mempunyai fungsi melaksanakan penyuluhan dan motivasi terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, meningkatkan

(56)

45

uapya partisipasi masyarakat, pelestarian nilai sosial budaya masyarakat, keagaamaan, dan ketenagakerjaan.

4. Kepala kewilayahan

Kepala kewilayahan berkedudukan sebagai unsur satuan tugas kewilayahan yang bertugas membatu Kepala Desa dalam pelaksanan tugasnya di wilayahan.

Fungsi Kepala Kewilayahan yaitu:

1.Pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya perlindungan masyarakat, mobolitas kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah. 2. Mengawasi pelaksanaan pembangunan di wilayahanya

3. Melaksanakan pembinaan kemasyarakatan dalam meningkatkan kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

4.Melakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam menunjang kelancaran penyelengaraan pemerintah dan pembangunan.

E. Badan Permusyawaratan Desa

Fungsi Badan Permusyawaratan Desa yaitu:

1. Membahas dan menyepakati rancangan peraturan Desa bersama Kepala Desa 2. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa

3. Melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.

B. Efektivitas fungsi kepala Desa dalam pelaksanaan pembangunan di desa tompotana kecamatan mappakasunggu kabupaten takalar

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :