Sken 3 B-11 Menggigil Disertai Demam

57 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

WRAP UP WRAP UP Skenario 3 Skenario 3

Menggigil Disertai Demam Menggigil Disertai Demam

Disusun oleh Disusun oleh KELOMPOK B8 KELOMPOK B8 Ketua

Ketua : : Rezky Rezky dwiputra dwiputra (1102013248)(1102013248) Sek

Sekretaretaris ris : : Raihan Raihan alhazmi alhazmi (1102013243)(1102013243) Anggota

Anggota : : Rais kamal Rais kamal (1102013242)(1102013242) Reynaldi

Reynaldi Fattah Fattah Z Z (1102013246)(1102013246) Rezki

Rezki ramadhan ramadhan (1102013247)(1102013247) Rian

Rian nurdiansyah nurdiansyah (1102013249)(1102013249) Riesha

Riesha Amanda Amanda fitria fitria (1102013250)(1102013250) Silvi

Silvi nadia nadia (1102013272)(1102013272) Sinta

Sinta dwi dwi maharani maharani (1102013273)(1102013273)

FAKULTAS KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI UNIVERSITAS YARSI 2013/2014 2013/2014

(2)
(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Skenario 3 Skenario 3………...1...1 Hipotesa………. Hipotesa………..2.2 Definisi Plasmodium... Definisi Plasmodium...………...3...3 Klasifikasi Plasmodium. Klasifikasi Plasmodium.………4………4 Morfologi

Morfologi PlasmodiumPlasmodium..………...5...5 Siklus Hidup Plasmodium

Siklus Hidup Plasmodium………..1..144 Vektor... Vektor...……… 1818 Cara Penularan Cara Penularan……… ...27...27 Definisi Malaria Definisi Malaria……….………. ...28...28 Klasifikasi Malaria Klasifikasi Malaria………....………....2929 Epidemiologi Malaria Epidemiologi Malaria………..………....30..30 Etiologi Malaria Etiologi Malaria………...32...32 Manifestasi Klinis Manifestasi Klinis………....33....33 Diagnosis dan Diagnosis Banding

Diagnosis dan Diagnosis Banding………...36...36 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan………..………...39...39 Pencegahan dan Program Pemerintah

Pencegahan dan Program Pemerintah……….………...46...46 Komplikasi Komplikasi………...………...51...51 Prognosis... Prognosis...………...………...52...52 Patogenesis Patogenesis………...53...53 Daftar Pustaka Daftar Pustaka………..………...57...57

(4)

Skenario 3 Skenario 3

Menggigil disertai demam Menggigil disertai demam

Tn C, laki-laki, 35 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan utama demam sejak satu Tn C, laki-laki, 35 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan utama demam sejak satu

minggu lalu. Demam dirasakan setiap dua hari sekali. Setiap kali demam didahului menggigil minggu lalu. Demam dirasakan setiap dua hari sekali. Setiap kali demam didahului menggigil dan diakhiri berkeringat. Setelah demam dapat pulih seperti biasa. Pasie

dan diakhiri berkeringat. Setelah demam dapat pulih seperti biasa. Pasie n baru kembali darin baru kembali dari melakukan studi lapangan di Sumatera Selatan selama dua minggu. Setelah melakukan melakukan studi lapangan di Sumatera Selatan selama dua minggu. Setelah melakukan  pemeriksaan sediaan hapus darah tepi, dokter mengatakan pasien terinfeksi

 pemeriksaan sediaan hapus darah tepi, dokter mengatakan pasien terinfeksi Plasmodium Plasmodium vivax

vivax

1 1

(5)

Hipotesa Hipotesa

Malaria disebabkan oleh Plasmodim vivax yang merupakan parasit endemis tropik, yang Malaria disebabkan oleh Plasmodim vivax yang merupakan parasit endemis tropik, yang dapat di tularkan pada manusia melalui vektor nyamuk Anopheles betina dengan gejala awal dapat di tularkan pada manusia melalui vektor nyamuk Anopheles betina dengan gejala awal menggigil dan berkeringat setelahnya seperti pola demam intermitten dan dapat di diagnosis menggigil dan berkeringat setelahnya seperti pola demam intermitten dan dapat di diagnosis dengan pemeriksaan SADT , apabila tidak di tangani dengan tepat maka dapat menimbulkan dengan pemeriksaan SADT , apabila tidak di tangani dengan tepat maka dapat menimbulkan komplikasi (splenomegali, hepatomegali, kolestrol).

komplikasi (splenomegali, hepatomegali, kolestrol).

2 2

(6)

Sasaran belajar Sasaran belajar LI. 1

LI. 1 mahasiswa mampu mahasiswa mampu memahami dan memahami dan menjelaskan plasmodiummenjelaskan plasmodium LO 1.1 Definisi

LO 1.1 Definisi

Sporozoa dari genus plasmodium adalah parasite amoeboid intraseluler pada vertebrata Sporozoa dari genus plasmodium adalah parasite amoeboid intraseluler pada vertebrata yangyang menghasilkan pigmen, dengan satu habitat dalam sel darah merah dan yang lainnya dalam menghasilkan pigmen, dengan satu habitat dalam sel darah merah dan yang lainnya dalam sel-sel jaringan lain. Penularan kepada

sel-sel jaringan lain. Penularan kepada manusia adalah manusia adalah melalui gigitan nyamuk anmelalui gigitan nyamuk anophelesopheles  betina penghisap darah dari berbagai spesies.

 betina penghisap darah dari berbagai spesies.

3 3

(7)

LO 1.2 Klasifikasi

Ada empat macam plasmodium yang menyebabkan malaria (XamthoneTM, 2013):

 Falciparum, penyebab penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa menimbulkan kematian.

 Vivax, penyebab malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan sulit kambuh.  Malariae, penyebab malaria quartana. Di Indonesia penyakit ini tidak ban yak ditemukan.  Ovale, penyebab penyakit malaria Ovale. Tidak terdapat di Indonesia.

(8)

LO 1.3 Morfologi

Morfologi plasmodium dirinci berdasarkan spesies, yang pada wrap up ini hanya difokuskan pada spesies plasmodium yang menyebabkan malaria.

a. Plasmodium vivax

Gambar 1 Morfologi plasmodium vivax

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

 Umur relatif sel darah merah yang terinfeksi hanya yang muda & belum matang.  Penampilan sel darah merah yang terinfeksi membesar.

Bentuk cincin:

• cincin sitoplasma berukuran 1/3 diameter sel darah merah • Satu titik kromatin

• Cincin mengelilingi vakuola

Gambar 2 Bentuk cincin

(9)

Tropozoit

• Penampilan ameboid irregular  • Sisa-sisa cincin biasa

• Pigmen coklat

Gambar 3 Tropozoit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Skizon

Skizon belum matang: • Beberapa badan kromatin • Pigmen coklat

skizon matang:

• 12 sampai 24 merozoit mayoritas menempati sel-sel darah merah • merozoit dikelilingi oleh sitoplasma

• Coklat pigmen mungkin ada

Gambar 4 Skizon

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Gametosit

Mikrogametosit:

• Merah besar dengan massa kromatin ungu dikelilingi oleh lingkaran cahaya berwarna  pucat

• Umumnya berpigmen coklat Makrogametosit:

(10)

• Massa kromatin eksentrik 

• Coklat muda halus hadir diseluruh sel pigmen

Gambar 5 Gametosit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

b.  Plasmodium ovale

Gambar 6 Morfologi Plasmodium ovale

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

 Umur relatif sel darah merah yang terinfeksi hanya yang muda & belum matang.

 Penampilan sel darah merah yang terinfeksi berbentuk oval & membesar, dinding sel compang camping

Bentuk cincin:

• Menyerupai P. vivax

• Cincin lebih besar dari P. vivax

• Cincin sering tercentang & agak ameboid dalam tampilannya

(11)

Gambar 7 Bentuk cincin

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Tropozoit

• Penampilan cincin biasanya dipertahankan sampai akhir perkembangannya • Kecenderungan ameboid tidak jelas seperti P. vivax

Gambar 8 Tropozoit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html Skizon

Skizon belum matang:

• Kromatin dikelilingi oleh sitoplasma, mempertahankan bentuk melingkarnya di awal perkembangan

Skizon matang:

• Parasit menempati tiga perempat sel darah merah • Adanya 8 sampai 12 merozoit

• Rata-rata 8 merozoit pada rosettes

Gambar 9 Skizon

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

(12)

Gametosit

• Serupa dengan P. vivax, hanya lebih kecil dalam ukuran

Gambar 10 Gametosit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html c.  Plasmodium malariae

Gambar 11 Morfologi Plasmodium malariae Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

 Serupa dengan P. vivax, hanya lebih kecil dalam ukuran, sel darah merah yang diinfeksi hanya sel darah merah matang

 Penampilan sel darah merah yang terinfeksi dalam ukuran normal, tidak ada dist orsi

Bentuk cincin:

• Ukuran lebih kecil dari P. vivax • Menempati 1/6 dari sel darah merah • Titik kromatin tebal

• Vakuola mungkin terisi • Pigmen terbentuk lebih awal

(13)

Gambar 12 Bentuk cincin

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html Tropozoit

• Sitoplasma padat non-ameboid yang mungkin dianggap bulat, oval, band, atau bentuk batang

• Sitoplasma mengandung pigmen coklat gelap kasar yang dapat menutupi materi kromatin

• Vakuola yang tidak ada dalam tahap matang

Gambar 13 Tropozoit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html Skizon

Skizon belum matang:

• Mirip dengan P. vivax, hanya lebih kecil dan mungkin berisi butiran perifer atau sentral besar & gelap

Skizon matang:

• 6 sampai 12 merozoit diatur dalam rosettes atau kelompok yang tidak teratur  • Susunan tengah pigmen coklat-hijau dapat terlihat

Gambar 14 Skizon

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Gametosit

• Serupa dengan P. vivax, hanya lebih kecil dalam ukuran & pigmen biasanya lebih gelap & lebih kasar

(14)

• bentuk lama mengasumsikan bentuk oval

Gambar 15 Gametosit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

d.  Plasmodium falsiparum

Gambar 16 Morfologi Plasmodium malariae Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html  Sel darah merah yang terinfeksi mencakup segala usia

 Penampilan sel darah merah yang terinfeksi ukuran normal, tidak ada distorsi Bentuk cincin:

• Lingkaran konfigurasi (satu titik kromatin) atau headphone konfigurasi (dua titik kromatin)

• Hanya sedikit sitoplasma & vakuola kecil • Beberapa cincin umum

(15)

Gambar 17 Bentuk cincin

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Tropozoit

• " cincin tebal" sama dengan butiran pigmen halus • bentukmatang hanya terlihat pada infeksi berat

Gambar 18 Tropozoit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html Skizon

Skizon belum matang:

• Beberapa badan kromatin dikelilingi oleh sitoplasma • Hanya terdeteksi pada infeksi berat

Skizon matang:

• 8-36 merozoit (rata-rata 24) dalam penyusunan kelompok • hanya terdeteksi pada infeksi berat

Gambar 19 Skizon

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

Gametosit

Mikrogametosit:

(16)

• kromatin pusat tersebar dengan terlihat pigmen hitam Makrogametosit:

• Sosis atau bentuk sabit • kromatin padat

• terlihatpigmen hitam

Gambar 20 Gametosit

Sumber: http://diagnosticparasitology.weebly.com/malaria.html

(17)

1.4 siklus hidup dan perbedaan  Plasmodium  falciparum  Plasmodium vivax  Plasmodium ovale  Plasmodium malariae Daur praeritrosit

5,5 hari 8 hari 9 hari 10-15 hari

Hipnozoit - + +

-Jumlah mer ozoit h ati

40.000 10.000 15.000 15.000 Ski zon hati 60 mikron 45 mikron 70 mikron 55 mikron

Daur erotr osit 48 jam 48 jam 50 jam 72 jam

Eritrosit yang dihinggapi Muda dan normosit Retikulosit & normosit Retikulosit & normosit muda  Normosit Pembesaran eritrosit - ++ + -Titik-titik eritrosit

Maurer Schuffner Schuffner (James)

Ziemann

Sikl us aseksual 48 jam 48 jam 48 jam 72 jam

Pigmen Hitam Kuning

tengguli

Tengguli tua Tengguli hitam Jumlah merozoit eritrosit 8-24 12-18 8-10 8 Daur dalam nyamuk pada 27°C

10 hari 8-9 hari 12-14 hari 26-28 hari

( Inge, 2009)

siklus hidup Plasmodium

Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai 2 hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk. Siklus aseksusal di dalam hospes vertebrata dikenal sebagai skizogeni, sedangkan siklus seksual yang membentuk sporozoit di dalam nyamuk sebagai sporogoni. Siklus seksual dimulai dengan bersatunya gamet jantan dan gamet betina untuk membentuk ookinet dalam  perut nyamuk. Ookinet akan menembus dinding lambung untuk membentuk kista di selaput

luar lambung nyamuk. Waktu yang diperlukan sampai pada proses ini adalah 8-35 hari,

(18)

tergantung pada situasi lingkungan dan jenis parasitnya. Pada tempat inilah kista akan membentuk ribuan sporozoit yang terlepas dan kemudian tersebar ke seluruh organ nyamuk termasuk kelenjar ludah nyamuk. Pada kelenjar inilah sporozoit menjadi matang dan siap ditularkan bila nyamuk menggigit manusia.

Manusia yang tergigit nyamuk infektif akan mengalami gejala sesuai dengan jumlah sporozoit, kualitas plasmodium, dan daya tahan tubuhnya. Sporozoit akan memulai stadium eksoeritrositer dengan masuk ke dalam sel hati. Di hati sporozoit matang menjadi skizon yang akan pecah dan melepaskan merozoit jaringan. Merozoit akan memasuki aliran darah dan menginfeksi eritrosit untuk memulai siklus eritrositer. Merozoit dalam erotrosit akan mengalami perubahan morfologi yaitu : merozoit > bentuk cincin > trofozoit -> merozoit. Proses perubahan ini memerlukan waktu 2-3 hari. Di antara merozoit-merozoit tersebut akan ada yang berkembang membentuk gametosit untuk kembali memulai siklus seksual menjadi mikrogamet (jantan) dan makrogamet (betina). Siklus tersebut disebut masa tunas instrinsik . Eritrosit yang terinfeksi biasanya pecah yang bermanifestasi pada gejala klinis. Jika ada nyamuk yang menggigit manusia yang terinfeksi ini, maka gametosit yang ada pada darah manusia akan terhisap oleh nyamuk. Dengan demikian, siklus seksual pada nyamuk dimulai, demikian seterusnya penularan malaria.

(19)

Gambar 21 Siklus hidup Plasmodium penyebab Penyakit Malaria Sumber: www.dpd.cdc.gov/dpdx

Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk anopheles betina.

1. Siklus Pada Manusia

Pada waktu nyamuk anopheles infektif mengisap darah manusia, sporozoit yang berada dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama kurang lebih 30 menit. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang memjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat  bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh). Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran

(20)

darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut  berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus inilah yang disebut dengan siklus eritrositer. Setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang meninfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual yaitu gametosit jantan dan  betina.

2. Siklus Pada Nyamuk Anopheles Betina

Apabila nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan gamet betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot ini akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Di luas dinding lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit yang nantinya akan bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. Masa inkubasi atau rentang waktu yang diperlukan mulai dari sporozoit masuk ke tubuh manusia sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam bervariasi, tergantung dari spesies Plasmodium. Sedangkan masa prepaten atau rentang waktu mulai dari sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.

(21)

1.5 vektor

Vektor adalah organisme, seperti nyamuk atau kutu, yang membawa mikroorganisme  penyebab penyakit dari satu host ke yang lain (www.thefreedictionary.com, 2013)

Klasifikasi nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria:

Phylum : Arthropoda

Classis : Hexapoda / Insecta

Sub Classis : Pterigota

Ordo : Diptera

Familia : Culicidae

Sub Famili : Anophellinae

Genus : Anopheles

Spesies Anopheles

Ada beberapa spesies Anopheles yang penting sebagai vektor malaria

di Indonesia antara lain :

a. Anopheles sundaicus

Spesies ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Bali. Jentiknya ditemukan pada air payau yang biasanya terdapat tumbuh – tumbuhan enteromopha, chetomorpha dengan kadar garam adalah 1,2 sampai 1,8 %. Di Sumatra jentik ditemukan pada air tawar seperti di Mandailing dengan ketinggian 210 meter dari permukaan air laut dan Danau Toba pada ketinggian 1000 meter.

 b. Anopheles aconitus

Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir di seluruh kepulauan, kecuali Maluku dan Irian. Biasanya terdapat dijumpai di dataran rendah tetapi lebih banyak di daerah kaki gunung pada ketinggian 400 – 1000 meter dengan persawahan bertingkat. Nyamuk ini merupakan vektor pada daerah – daerah tertentu di Indonesia, terutama di Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.

c. Anopheles barbirostris

Spesies ini terdapat di seluruh Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Jentik biasanya terdapat dalam air yang jernih, alirannya tidak begitu cepat, ada tumbuh – tumbuhan air dan pada tempat yang agak teduh seperti pada tempat yang agak teduh seperti pada sawah dan parit.

(22)

d. Anopheles kochi

Spesies ini terdapat diseluruh Indonesia, kecuali Irian. Jentik biasanya ditemukan pada tempat perindukan terbuka seperti genangan air, bekas tapak kaki kerbau, kubangan, dan sawah yang siap ditanami.

e. Anopheles maculatus

Penyebaran spesies ini di Indonesia sangat luas, kecuali di Maluku dan Irian. Spesies ini terdapat didaerah pengunungan sampai ketinggian 1600 meter diatas permukaan air laut. Jentik ditemukan pada air yang  jernih dan banyak kena sinar matahari.

f. Anopheles subpictus

Sepesies ini terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Nyamuk ini dapat dibedakan menjadi dua spesies yaitu :

1) Anophelessubpictus subpictus

Jentik ditemukan di dataran rendah, kadang – kadang ditemukan dalam air payau dengan kadar garam tinggi.

2) Anopheles subpictus malayensis

Spesies ini ditemukan pada dataran rendah sampai dataran tinggi.

Jentik ditemukan pada air tawar, pada kolam yang penuh dengan rumput  pada selokan dan parit.

g. Anopheles balabacensis

Spesies ini terdapat di Purwakarta, Jawa Barat, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan. Jentik ditemukan pada genangan air bekas tapak binatang, pada kubangan bekas roda dan pada parit yang aliran airnya terhenti.

(Anonim, 2013)

(23)

vektor malaria

Gambar 23 Morfologi anopheles

Sumber :http://www.enchantedlearning.com/subjects/insects/mosquito/Mosquito.shtml

Anatomi:  Seperti semua serangga, nyamuk memiliki tubuh dibagi menjadi tiga bagian (kepala, dada, dan perut), exoskeleton keras, dan enam buah kaki bersendi panjang. Nyamuk  juga memiliki sepasang sayap berurat. Mereka memiliki jerami seperti belalai dan hanya bisa

makan cairan (EnchantedLearning.com, 2010)

(24)

Tabel 4 Perbedaan morfologi siklus hidup tribus Anophilini dan Culisini

Sumber :http://cc.shsmu.edu.cn/G2S/Template/View.aspx?courseId=5240&topMenuId=2744 9&action=view&type=&name=&menuType=1&curfolid=57082

menjelaskan sifat dan karakteristik vektor malaria

 Nyamuk Anopheles yang aktif mengisap darah adalah yang betina karena darah diperlukan untuk perkembangan telurnya. Nyamuk Anopheles apabila aktif mencari darah maka akan berkeliling sampai ditemukan rangsangan dari inang yang cocok. NyamukAnopheles mencari darah berdasarkan inangnya dibedakan atas kesukaan mengisap darah hewan (zoofilik), darah manusia (antropofilik) dan

(25)

kedua-duanya baik darah hewan maupun darah manusia (zooantropofilik). Berdasarkan tempat nyamuk mencari darah inangnya dibedakan atas endofagik dan eksofagik, yakni mengisap darah di dalam dan di luar rumah, sedangkan berdasarkan tempat istirahat dibedakan endofilik dan eksofilik. Hadi dan Koesharto (2006) menyatakan bahwa beberapa spesies nyamuk memasuki rumah untuk mencari makan (endofagik) dan istirahat di dalam rumah (endofilik), dan ada beberapa spesies masuk rumah hanya untuk makan (endofagik) dan menghabiskan waktu istirahatnya di luar rumah (eksofilik); ada pula yang mengisap darah di luar rumah (eksofagik) dan istirahat di luar rumah (eksofilik).

Daerah yang disenangi nyamuk adalah suatu daerah yang tersedia tempat untuk beristirahat, adanya inang yang disukai, dan tempat untuk berkembangbiak (Ditjen PP&PL2007). Pertumbuhan dan perkembangan populasi nyamuk pada habitatnya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber pakan (darah) serta lingkungan yang sesuai, seperti suhu udara, kelembaban udara yang cocok, tersedia tempat-tempat berkembangbiak dan tempat istirahat. Untuk kepentingan pengendalian vektor, perilaku nyamuk Anopheles mengisap darah  berdasarkan tempat perlu diketahui, demikian pula dengan waktu puncak aktif mengisap

darah pada waktu malam hari. Kepadatan vektor, intensitas kontak antara manusia dan vektor merupakan salah satu faktor penting dalam penularan malaria. Apabila suatu spesies Anopheles memiliki kemampuan bertahan hidup terhadap infeksi Plasmodium, masa hidup yang lebih panjang, dan lebih bersifat antropofilik maka akan terjadi

 penularan malaria (Rao 1981). Nyamuk Anopheles spp. pada suatu tempat menunjukkan  perilaku yang berbeda-beda.

(IPB, 2013)

(26)

Karakteristik morfologi nyamuk Anopheles (Anonim, 2013):  Tidak memiliki siphon

 Jentik nyamuk anopheles akan sejajar dipermukaan air kotor  Pada bagian thoraks terdapat stoot spine

 Bentuk tubuh kecil dan pendek

 Antara palpi dan proboscis sama panjang  Menyebabkan penyakit malaria

 Pada saat hinggap membentu sudut 90º  Warna tubunya coklat kehitam

 Bentuk sayap simetris

 Berkembang biak di air kotor atau tumpukan sampah

Waktu keaktifan mencari darah dari masing -masing nyamuk berbeda –  beda tergantung spesies. Genus Anopheles mempunyai kebiasaan aktif menggigit pada malam hari. Khusus untuk anopheles, nyamuk ini bila menggigit mempunyai perilaku bila siap menggigit langsung keluar rumah (Nurmaini, 2003).

siklus hidup & habitat vektor malaria Siklus hidup nyamuk Anopheles:

 Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyarnuk terdapat 4 stadia dengan 3 stadium berkembang di dalam air dari satu stadium hidup dialam bebas :

1.Telur nyamuk

 Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang keberadanya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda -beda tergantung dari jenisnya.

-Nyamuk anopeles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu atau  bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung.

-Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas pemlukaan air secara bergerombolan dan  bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung.

-Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air atau menempel pada pemlukaan benda yang merupakan tempat air pada batas pemukaan air dan tempatnya. Sedangkan nyamuk mansonia meletakkkan telurnya menempel pada tumbuhan-tumbuhan air, dan diletakkan secara bergerombol berbentuk karangan bungan. Stadium telur ini memakan waktu 1 -2 hari.

(27)

2. Larva nyamuk

Larva mempunyai thorax yang lebar dan mempunyai abdomen yang bersegmen-segmen. Larva belum mempunyai kaki. Berbeda dengan larva lain, larva Anopheles tidak mempunyai siphon sehingga posisi larva paralel terhadap permukaan air. Larva bernafas melalui sepasang spirakel yang berada pada segmen abdomen ke-8, sehingga seringkali larva harus naik ke  permukaan air. Larva menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memakan alga, bakteri dan mikroorganisme lain yang ada di lapisan permukaan air yang tipis. Larva akan segera menyelam bila mengalami gangguan, bergerak dengan menggerakkan seluruh anggota  badannya. Larva mengalami 4 tahap perkembangan selama 9-12 hari (Barodji et al. 1985).

Setelah mencapai larva 4, larva akan berubah menjadi pupa. Larva umumnya ditemukan di air yang bersih, rawa, hutan mangrove, sawah, parit, tepi sungai dan genangan air hujan. Spesies lain dapat ditemukan di tempat yang banyak tumbuh-tumbuhan.

3. Pupa nyamuk

Pupa dilihat dari samping berbentuk seperti koma. Kepala dan thorax menyatu

menjadi cephalothorax dengan abdomen melengkung. Seperti halnya larva, pupa seringkali naik ke permukaan air untuk bernafas. Pupa bernafas menggunakan sepasang alat respirasi  berbentuk terompet yang ada di dorsal cephalothorax.Seteleh beberapa hari, bagian dorsal

daricephalothorax akan sobek dan nyamuk dewasa akan muncul. Umur pupa pada suhu 23-320C dan kelembaban 58-85% rata- rata dua hari (Barodjiet al. 1985).

4.Nyamuk dewasa

 Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada  beberapa faktor antara lain temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk. Lama  perkembangan dari telur menjadi dewasa bervariasi tergantung pada suhu lingkungan, kelembaban dan makanan. Nyamuk dapat berkembang dari telur menjadi dewasa paling cepat 5 hari, tetapi umumnya membutuhkan waktu 10-14 hari pada iklim tropis.  Anopheles dewasa mempunyai bentuk tubuh yang ramping terdiri dari tiga bagian tubuh; kepala,thorax dan abdomen. Kepala mempunyai kemampuan khusus untuk menangkap informasi melalui sensor. Kepala mempunyai sepasang mata dan antena yang bersegmen-segmen. Antena merupakan bagian yang penting untuk mendeteksi bau induk semang dan mendeteksi tempat yang cocok untuk bertelur. Kepala juga mempunyai probosis yang digunakan untuk menghisap darah dan mempunyai dua sensor palpi. Thorax berfungsi sebagai alat lokomosi. Tiga pasang kaki dan sepasang sayap juga terletak di bagian thorax. Abdomen berfungsi sebagai tempat pencernaan dan tempat perkembangan telur. Segmen abdomen dapat melebar pada saat menghisap darah. Darah yang telah dihisap dan disimpan di dalam abdomen, dicerna sebagai sumber protein yang berguna dalam pematangan telur (Clements 2000). Nyamuk  Anopheles dapat dibedakan dengan nyamuk yang lain dari palpi dan sayap. Palpi pada  Anopheles mempunyai panjang yang sama dengan probosis, sedangkan pada sayap terdapat bentukan balok berwarna hitam putih. Anopheles dewasa  juga mempunyai ciri khas pada saat posisi istirahat, baik jantan maupun betina akan nungging pada saat istirahat. Setelah beberapa hari muncul dari pupa menjadi dewasa, Anopheles dewasa akan melakukan perkawinan. Proses perkawinan biasanya terjadi

(28)

di sore hari dengan cara jantan yang mendatangi sekawanan betina. Antara nyamuk jantan dan betina dapat dibedakan dari antenanya. Antena jantan bersifat plumose sedangkan yang  betina bersifat pilose. Jantan hidup sekitar satu minggu dengan menghisap nektar atau gula dari sumber yang lain. Betina juga membutuhkan nektar untuk energi selain darah. Setelah kenyang darah, betina akan beristirahat selama beberapa hari sementara darah akan dicerna dan telur mengalami perkembangan. Proses ini tergantung pada suhu, umumnya membutuhkan 2-3 hari pada iklim tropis. Betina di alam dapat hidup 2-3 minggu, tetapi di laboratorium betina dapat hidup selama satu bulan atau lebih. Lama hidup Anopheles sangat tergantung pada suhu, kelembaban dan kemampuan dalam mencari darah (Yoshida et al. 2007; Anonim 1997).

(Nugroho, 2011; Nurmaini, 2003)

Gambar 22 Siklus hidup nyamuk Sumber: dinafrasasti.blogspot.com

(29)

Habitat nyamuk Anopheles:

Spesies Anopheles secara garis besar dapat dibedakan menjadi 3 kawasan (Utami, 2013) yaitu:

 Kawasan pantai: Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus

 Kawasan pedalaman: Anopheles aconitus, Anopheles barbirostris dan Anopheles sinensis  Kawasan kaki gunung: Anopheles balabacencis dan Anopheles maculatus

26 Tempat perindukan larva Vector

Sungai An. Sundaicus, An. Punctulatus, An. Ludlowi, An. Flavirostris, An. Barbumbrosus.

Sawah / Rawa An. Aconitus, An. Barbirostris, An. Farauti, An.  Nigerrimus, An. Sinensis,

Air tergenang di tanah An. Subpictus, An. Balabacensis, An. Letifer, An. Koliensis

Air pegungungan An. Maculatus, An. Karwari, An. Ludlowi

(30)

1.6 cara penularan

Penyakit malaria dikenal ada berbagai cara penularan malaria: 1. Penularan secara alamiah (natural infection)

 penularan ini terjadi melalui gigitan nyamuk anopheles. Bila nyamuk anopheles mengigit orng yang sakit malaria, maka parasit akan ikut t erhisap bersama darah

 penderita. Dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembang biak. Sesudah 7-14 hari apabila nyamuk tersebut mengigit orang sehat, maka parasit ters ebut akan di tularkan ke orang tersebut. Di dalam tubuh manusia parasit akan berkembang biak, menyerang sel-s el darah merah. Dalam wktu kurang lebih 12 hari, orang tersebut akan sakit malaria

2. Penularan yang tidak alamiah. a. Malaria bawaan (congenital).

Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali pusat atau placenta.

 b. Secara mekanik.

Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik. Penularan melalui  jarum suntik yang tidak steril lagi. Cara penularan ini pernah dilaporkan terjadi disalah satu

rumah sakit di Bandung pada tahun 1981, pada pe nderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intra vena dengan menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik  beberapa pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai (disposeble).

c. Secara oral (Melalui Mulut).

Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam (P.gallinasium) burung dara (P.Relection) dan monyet (P.Knowlesi).

Pada umumnya sumber infeksi bagi malaria pada manusia adalah manusia la in yang sakit malaria baik dengan gejala maupun tanpa gejala klinis.

Masa inkubasi ini bervariasi antara 9 -30 hari tergantung pada species parasit, paling  pendek pada plasmodium Falciparum dan paling panjang pada plasmodium malaria. Masa

inkubasi ini tergantung pada intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan tingkat imunitas penderita.

Cara penularan, apakah secara alamiah atau bukan alamiah, juga mempengaruhi. Penularan bukan alamiah seperti penularan malalui transfusi darah, masa inkubasinya tergantung pada jumlah parasit yang turut masuk bersama darah dan tingkat imunitas  penerima arah. Secara umum dapat dikatakan bahwa masa inkubasi bagi plasmodium

falciparum adalah 10 hari setelah transfusi, plasmodium vivax setelah 16 hari.

(31)

LI 2 mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan malaria LO 2.1 definisi

adalah penyakit bawaan yang disebabkan oleh parasit protozoa.Penyakit Malaria meluas di kawasan tropika maupun subtropika, termasuk sebahagian dari Amerika, Asia, dan Afrika. Setiap tahun Penyakit Malaria dapat menyebabkan lebih dari 650 juta orang dan bisa

membunuh 1-3 juta jiwa, Dan perlu anda ketahui kebanyakan korban adalah kanak-kanak Penyakit Malaria merupakan salah satu penyakit yang menular. Penyakit Malaria

disebabkan oleh parasit protozoa dari genusPlasmodium. Penyakit Malaria yang paling  bahaya dapat di sebabkan oleh Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.

(32)

LO 2.2 klasifikasi

1. Plasmodium vivax, penyebab malaria tertiana benigna/malaria vivax

2. Plasmodium falciparum, penyebab malaria tertiana maligna/ malaria tropika. 3. Plasmodium malariae, penyebab malaria kuartana/malaria malariae

4. Plasmodium ovale, penyebab malaria tertiana benigna/malaria ovale.

(33)

LO 2.3 epidemiologi malaria Distribusi Frekuensi Malaria a. Orang

Di Indonesia, malaria merupakan masalah kesehatan yang penting, oleh karena penyakit ini endemik di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di luar Jawa dan Bali. Epidemi malaria seringkali dilaporkan dari berbagai wilayah dengan angka kematian yang lebih tinggi  pada anak-anak di bawah 5 tahun dibanding orang dewasa. Penelitian Yulius (2007) dengan desain case series di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau tahun 2005-2006 terdapat 384  penderita malaria, 243 orang (63,3%) laki-laki dan 141 orang (36,7%) perempuan, kelompok umur 5-14 tahun 23 orang (6%), 15-44 tahun 326 orang (84,9%), dan >45 tahun 35 orang (9,1%). Penelitian Yoga dalam Sarumpaet dan Tarigan (2006) tahun 1999 di Kabupaten Jepara Jawa Tengah, diperoleh bahwa dari 145 kasus malaria yang diteliti, 44% berasal dari  pekerjaan petani serta tidak ditemukan pada PNS/TNI/POLRI. Penelitian Sunarsih, dkk tahun 2004-2007 dengan desain kasus kontrol, kasus malaria di wilayah Puskesmas Pangkalbalam Kota Pangkalpinang banyak diderita responden berumur 21-25 tahun (17,6%), umur 36-40 tahun (14,7%). Namun secara keseluruhan fenomena tersebut menunjukkan bahwa penyakit malaria menyerang hampir seluruh kelompok umur, 80 orang mempunyai jenis kelamin lakilaki (58,8%), perempuan 41,2% (56 orang).

 b. Tempat

Batas dari penyebaran malaria adalah 64°LU (Rusia) dan 32°LS (Argentina). Ketinggian yang dimungkinkan adalah 400 meter di bawah permukaan laut (Laut mati dan Kenya) dan 2600 meter di atas permukaan laut (Bolivia). Plasmodium vivax mempunyai distribusi geografis yang paling luas, mulai dari daerah beriklim dingin, subtropik sampai kedaerah tropik. Malaria di suatu daerah dikatakan endemik apabila kesakitannya yang disebabkan oleh infeksi alamiah, kurang lebih konstan selama beberapa tahun berturut-turut. Berdasarkan hasil Spleen Rate (SR), yaitu persentase penduduk yang limpanya membesar dari seluruh  penduduk yang diperiksa pada kelompok umur 2-9 tahun, suatu daerah dapat diklasifikasikan

menjadi 4 tingkat endemisitas : i. Hipoendemik SR < 10% ii. Mesoendemik SR 11-50%

iii. Hiperendemik SR > 50% (SR dewasa tinggi > 25 %) iv. Holoendemik SR >75 % (SR dewasa rendah).

Berdasarkan AMI, daerah malaria dapat diklasifikasikan menjadi : i. Low Malaria Incidence, AMI < 10 kasus per 1.000 penduduk ii. Medium, AMI 10-50 kasus per 1.000 penduduk

iii. High, AMI > 50 kasus per 1.000 penduduk

Penelitian Ahmadi, dkk tahun 2008 di di Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim, terlihat bahwa dari 54 responden, yang positif malaria terdapat 53 (98,1 %) responden yang mempunyai tempat tinggal dengan jarak kurang dari 200 m dari

(34)

hutan/kebun/semak-semak/sawah dan 1 (1,9 %) responden yang mempunyai tempat tinggal yang berjarak lebih dari 200 m. Digunakan jarak 200 m adalah karena 200 m adalah jarak terbang maksimum nyamuk.

c. Waktu

Menurut data Profil Dinkes Sumut dalam Sarumpaet dan Tarigan (2006), di Propinsi Sumatera Utara terjadi kasus malaria klinis rata-rata 82.405 per tahun (selama tahun 1996-2000). Penyakit malaria sampai saat ini menduduki rangking ke-7 dari 10 penyakit terbesar di Propinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data laporan bulanan malaria, kejadian malaria di Kawasan Ekosistem Leuser berdasarkan Annual Malaria Incidence (AMI) terjadi  peningkatan malaria, yaitu dari 12,8 ‰ tahun 2003 meningkat menjadi 14,3 ‰ tahun 2004

dan 25,4 ‰ tahun 2005.

(35)

LO 2.4 etiologi malaria

Ada empat jenis parasit malaria (Universitas Sumatera Utara, 2013), yaitu: 1. Plasmodium falciparum

Menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana yang maligna (ganas) atau dikenal dengan nama lain sebagai malaria tropika yang menyebabkan demam setiap hari.

2. Plasmodium vivax

Menyebabkan malaria vivax atau disebut juga malaria tertiana benigna (jinak).

3. Plasmodium malariae

Menyebabkan malaria kuartana atau malaria malariae. 4. Plasmodium ovale

Jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat, menyebabkan malaria ovale.

(36)

LO 2.5 manifestasi klinis

1. Gejala awal: lesu, sakit kepala, mual, muntah 2. Serangan demam yang khas:

a. Sering dimulai siang hari, 8 –  12 jam

 b. Lama demam tergantung tiap spesies malaria c. Suhu turun > masuk stadium apireksia

3. Menggigil/frigoris (15 –  60 menit, rasa dingin )

4. Puncak demam/acme ( 2 –  6 jam, panas sp 41 celcius ) 5. Berkeringat/sudoris (2 –  4 jam, suhu turun )

6. Apireksia (sampai demam berikutnya)

Malaria sebagai penyebab infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium mempunyai gejala utama yaitu demam. Demam yang terjadi diduga berhubungan dengan proses

skizogoni (pecahnya merozoit atau skizon), pengaruh GPI (glycosyl phosphatidylinositol) atau terbentuknya sitokin atau toksin lainnya. Pada beberapa penderita, demam tidak terjadi (misalnya pada daerah hiperendemik) banyak orang dengan parasitemia tanpa gejala.

Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodik, anemia dan splenomegali.

1. Masa inkubasi àBiasanya berlangsung 8-37 hari tergantung dari spesies parasit (terpendek untuk P. falciparum dan terpanjang untuk P. malariae), beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya atau pada derajat resistensi hospes. Selain itu juga cara infeksi yang mungkin disebabkan gigitan nyamuk atau secara induksi (misalnya transfuse darah yang mengandung stadium aseksual)

2. Keluhan-keluhan prodromal à Keluhan dapat terjadi sebelum terjadinya demam, berupa: malaise, lesu, sakit kepala, sakit tulang belakang, nyeri pada tulang dan otot, anoreksia, perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. Keluhan prodromal sering terjadi pada P. vivax dan P. ovale, sedangkan P. falciparum dan P. malariae keluhan  prodromal tidak jelas

Gejala-gejala umum à Gejala-gejala klasik umum yaitu terjadinya trias malaria (malaria  proxym) secara berurutan:

1. Stadium dingin

Mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin.Gigi gemeretak dan penderita  biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi

cepat tetapi lemah.Bibir dan jari jemarin ya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan

 pucat.Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini  berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperature.

(37)

2. Stadium demam

Wajah penderita terlihat merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tubuh tetap tinggi, dapat sampai 40ºC atau lebih, penderita membuka selimutnya, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah dan dapat terjadi s yok. Periode ini

 berlangsung lebih lama dari fase dingin dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat

3. Stadium berkeringat

Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang sampai dibawah suhu normal. Penderita  biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada

gejala lain, stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 j am.gejala klinis yang berat biasanya teljadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Hal ini

disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk t rofosoit dan sison). Untuk  berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga

menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut.Gejala

mungkin berupa koma/pingsan, kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal.Black water fever yang merupakan gejala berat adalah munculnya hemoglobin pada air seni yang

menyebabkan warna air seni menjadi merah tua atau hitam. Gejala lain dari black water fever adalah ikterus dan muntah-muntah yang warnanya sama dengan warna empedu, black water fever biasanya dijumpai pada mereka yang menderita infeksi P. falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi yang cukup berat.

Plasmodium Masa

inkubasi(hari)

Tipe panas (jam)

Relaps Recrudensi Manifestasi klinik Falciparum 12 (9-14) 24,36,48 - + Gejala gastrointestinal, hemolysis, anemia, icterus hemoglobinuria, syok, algid malaria, gejala serebral, edema paru, hipoglikemi, gangguan kehamilan, kelainan retina, kematian.

(38)

Vivax 13 (12-17) à12 bulan 48 ++ - Anemia kronik, splenomegali rupture limpa.

Ovale 17 (16-18) 48 ++ - Saman dengan

vivax Malariae 28 (18-40) 72 - + Rekrudensi sampai 50 tahun, splenomegali menetap, limpa  jarang ruptur, sindroma nefrotik. Ket :

- Serangan primer : keadaan mulai dari akhir sama inkubasi dan mulai terjadi serangan  paroksismal yang terdiri dari menggigil, panas dan berkeringat. Serangan paroksismal ini

dapat pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan parasite dan keadaan imunitas  penderita.

- Recrudescense : berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah  berakhirnya serangan primer. Recrudensi dapat terjadi berupa berulangnya gejala klinik

sesudah periode laten dari serangan primer.

- Relaps : berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodik dari infeksi primer yang setelah periode yang lama dari masa latent

(sampai 5 tahun), biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit hati pad malaria vivaks atau ovale.

(39)

LO 2.6 Diagnosis dan diagnosis banding Diagnosis Malaria

Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis,  pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan

dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostic cepat (RDT –  Rapid Diagnostic Test)

- ANAMNESIS

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan :

a. Keluhan utama : demam,menggigil, berkeringat, dan dapat disertai sakit kepala,mual,muntah,diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.

 b. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria c. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria

d. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir e. Riwayat mendapat transfuse darah

Selain hal-hal di atas pada malaria tersangka malaria berat, ditemukan keadaan : a. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat

 b. Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri) c. Kejang-kejang

d. Panas sangat tinggi e. Mata atau tubuh kuning

f. Perdarahan hidung,gusi, atau saluran pencernaan g. Nafas cepat dan atau sesak nafas

h. Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum

i. Warna air seni seperti teh tua dan dapat sampai kehitaman  j. Jumlah air seni kurang (oliguria) sampai tidak ada (anuria)

k. Telapak tangan sangat pucat

- PEMERIKSAAN FISIK 

· Demam (pengukuran dengan thermometer > 37,5 C) · Konjungtiva atau telapak tangan pucat

· Pembesaran limpa (splenomegali) · Pembesaran hati (hepatomegali)

Pada tersangka malaria berat ditemukan tanda-tanda klinis : · Temperatur rektal lebih dari sama dengan 40 C

· Nadi cepat dan lemah/kecil

(40)

· Frekuensi nafas > 35 x per menit pada orang dewasa atau > 40 x per menit pada balita, anak di bawah 1 tahun > 50 x per menit

· Penurunan derajat kesadaran dengan Glasgow coma scale < 11 · Manifestasi perdarahan (petekie,purpura, hematom)

· Tanda dehidrasi (mata cekung,turgor dan elatisitas kulit berkurang,bibir kering,dan  produksi air seni berkurang)

· Tanda-tanda anemia berat · Terlihat mata kuning/ikterik · Pembesaran limpa atau hepar

· Gagal ginjal ditandai oliguria sampai demam

- DIAGNOSIS ATAS DASAR PEMERIKSAAN LABORATORIUM · Pemeriksaan dengan mikroskop

Pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis untuk menentukan : 1) Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negative)

2) Spesies dan stadium plasmodium 3) Kepadatan parasit :

a. Semi kuantitatif

(-) = negatif (tidak ditemukan parasit)

(+) = positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 lapangan pandang besar) (++) = positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB

(+++) = positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB) (++++) = positif 4 (ditemukan .10 parasit dalam 1 LPB)  b. Kuantitatif

Jumlah parasit dihitung per mikro liter darah pada sediaan darah tebal (leukosit) atau sediaan darah tipis (eritrosit). Contoh = bila dijumpai 1500 parasit per 200 leukosit sedangkan jumlah leukosit 8000/mikroL maka hitung parasit = 8000/200 x 1500 parasit = 60.000

 parasit/mikroL. Bila dijumpai 50 parasit per 1000 eritrosit = 5 % . Bila jumlah eritrosit 450.000 maka hitung parasite 450.000/1000 x 50 = 225.000 parasit/mikroL

Untukpenderita malaria berat perlu memperhatikan :

1. Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu diperiksa ulang setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut.

2. Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut tidak ditemukan  parasite maka diagnosis malaria disingkirkan

(41)

Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria dengan menggunakan metode imunokromatografi dalam bentuk dipstick. Tes ini sangat bermanfaat pada UGD pada saat terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yg tidak tersedia fasilitas lab serta untuk survei tertentu.

Tes yang tersedia di pasaran saat ini mengandung :

Ø HRP-2 (Histidine rich protein 2 yang diproduksi oleh trofozoit, skizon, dan gametosit muda P. falciparum

Ø Enzim parasite lactate dehydrogenase (p-LDH) dan aldolase yang diproduksi oleh parasite  bentuk aseksual atau seksual Plasmodium falciparum,P. vivax, P.ovale, dab P. malariae

Kemampuan rapid test yang beredar pada umumnya ada 2 jenis yaitu : a. Single yang mampu mendiagnosis hanya infeksi P. falciparum

 b. Combo yang mampu mendiagnosis infeksi infeksi P. falciparum dan non falciparum

· Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat(malaria dengan komplikasi) : 1. Hemoglobin dan hematocrit

2. Hitung jumlah leukosit, trombosit

3. Kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin, SGOT & SGPT, alkali fosfatase, albumin/globulin, ureun, kreatinin, natrium dan kalium, analisis gas darah)

4. EKG

5. Foto toraks

6. Analisis cairan serebrospinalis 7. Biakan darah dan uji serologi 8. Urinalisis

(Departement Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Gebrak Malaria. Departemen Kesehatan RI. 2009)

- Diagnosis Banding

1. Diagnosis banding malaria tanpa komplikasi

a. Demam tifoid  b. Demam dengue

c. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) d. Leptospirosis ringan

e. Infeksi virus akut lainnya

2. Diagnosis banding malaria dengan komplikasi

a) Radang otak (meningitis/ensefalitis)  b) Stroke (gangguan serebrovaskuler)

c) Tifoid ensefalopati d) Hepatitis

e) Leptospirosis berat

f) Glomerulonefritis akut atau kronik g) Sepsis

h) Demam berdarah dengue atau dengue shock syndrome

(42)

LO 2.7. Penatalaksanaan Pengobatan

A. Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi 1. Malaria Falciparum:

1.1. Lini Pertama:

Artesunat + Amodiakuin + Primakuin 1.2. Lini Kedua:

Kina + Doksisilin / tetrasiklin + Primakuin 1.3. Malaria Mix:

Artesunat + Amodiakuin + Primakuin 2. Malaria Vivaks, Ovale, Malariae

2.1. Lini Pertama:

Klorokuin + Primakuin 2.2. Lini Kedua:

Kina + Primakuin 2.3. Malaria Vivaks relaps

Klorokuin + Primakuin

Pemeriksaan Follow Up untuk setiap penderita dgn konfirmasi laboratorium positif: Penderita di follow up untuk diperiksa ulang Sediaan Darahnya pada H3, 7, 14, 28 dan Pv dilanjutkan sp akhir bulan 3.

3. Catatan:

3.1. Sudah ada sarana diagnostik malaria, dan blm ada obat ACT:

P falciparum: sulfadoksin + pirimetamin (3 tab dosis tunggal) + Primakuin 2 –  3 tab,

 bila tidak efektif:

Kina + doksisiklin/tetrasilin + Primakuin 3.2. Belum ada sarana diagnostik malaria:

Pdrt gejala klinik malaria: Klorokuin + Primakuin B. Pengobatan Malaria dengan Komplikasi:

1. Pilihan Utama:

Derivat artemisin parenteral (Artesunat intravena atau intramuskuler; Artemeter intramuskuler) 2. Obat Alternatif:

Kina dihidroklorida parenteral Sifat/Cara Kerja Obat

 Klorokuin :

- Sizontosid darah

- anti gametosid, P.vivax dan P.malarie  SP :

(43)

- Sporontosidal  Kina :

- Sizontosid darah

- Anti gametosid, P.vivax dan P.malarie  Primaquin : - Anti gametosid - Anti hipnosoit,  Artesunat : - Sizontosid darah,  Amodiakuin :

- Struktur dan aktivitas sama dgn klorokuin  Tetracyclin :

- Sizontosid darah

Kemasan dan cara pemberian derivat artemisin parenteral Artesunat:

 Vial yg berisi 60 mg serbuk kering

 Pelarut dalam ampul 0,6 ml natrium bikarbonat 5 %  Keduanya dicampur dan ditambah dext 5 % 3 –  5 ml

 Loading dose: 2,4 mg/kgBB, IV, selama 2 menit, Diulang setelah 12 jam  Selanjutnya: 1 x perhari (dosis dan cara sama)

 Diberikan sampai pdrt mampu minum obat oral, lini 1 P falciparum Artemeter IM:

 Ampul 40 mg dlm lar minyak  Loading dose: 3,2 mg/kg BB,IM  Selanjutnya: 1,6 mg/Kg BB, IM,

1x/hari, sampai pdrt mampu minum obat, lini 1 P Falcifarum Kemasan dan cara pemberian kina parenteral

 Kemasan: ampul 2 ml berisi 500 mg  Dosis (dewasa termasuk bumil):

Loading dose: 20 mg/kg BB dilarutkan dlm 500 ml dext 5% atau NaCl 0,9 % diberikan selama 4 jam pertama (40 gtt/mnt), selanjutnya 4 jam kedua dext/NaCl kosong, selanjutnya 4 jam ketiga 10 mg/KgBB, dst.

Atau: 10 mg/KgBB selama 8 jam, sampai pdrt sadar

Catatan: Untuk mencegah resistensi digunakan terapi artemisin kombinasi Obat antimalaria dapat dibagi dalam 9 golongan yaitu :

1.kuinin (kina) 2.mepakrin

(44)

4.proguanil, klorproguanil 5.Primakuin

6.pirimetamin

7.sulfon dan sulfonamide 8.kuinolin methanol 9.antibiotic

Tindakan Umum pada penderita malaria berat (tindakan perawatan di ICU). 1. Pertahankan fungsi vital : sirkulasi, respirasi, ke butuhan cairan dan nutrisi. 2. Hindarkan trauma : dekubitus, jatuh dari tempat tidur.

3. Hati-hati kompikasi : kateterisasi, defekasi, edema paru karena over hidrasi.

4. Monitoring : temperatur, nadi, tensi, dan respirasi tiap ½ jam. Perhatikan timbulnya ikterus dan perdarahan.

5. Monitoring : ukuran dan reaksi pupil, kejang, tonus otot. 6. Baringkan/posisi tidur sesuai dengan kebutuhan.

7. Sirkulasi : hipotensi posisi Trendenlenburg’s, perhatikan warna dan temperatur kulit. 8. Cegah hiperpireksi :

a. Tidak pernah memakai botol panas/selimut listrik  b. Kompres air/air es/akohol

c. Kipas dengan kipas angin/kertas d. Baju yang tipis/terbuka

e. Cairan cukup

9. Pemberian cairan : oral, sonde, infus, maksimal 1500 ml. a. Cairan masuk diukur jumlah per 24 jam

 b. Cairan keluar diukur per 24 jam

c. Kurang cairan akan memperberat fungsi ginjal d. Kelebihan cairan menyebabkan edema paru

10. Diet : porsi kecil dan sering, cukup kalori, karbohidrat, dan garam. 11. Perhatikan kebersihan mulut

(45)

13. Kebersihan kulit : mandikan tiap hari dan keringkan

14. Perawatan mata : hindarkan trauma, tutup dengan kain/gas lembab. 15. Perawatan anak :

a. Hati-hati aspirasi, hisap lendir sesering mungkin  b. Letakkan posisi kepala sedikit rendah

c. Posisi dirubah cukup sering

d. Pemberian cairan dan obat harus hati-hati

(Sina, 2010) Penanganan Penderita Tanpa Komplikasi ( Malaria Biasa)

Prinsip pengobatan malaria :

1) Penderita tergolong malaria biasa (tanpa komplikasi) atau penderita malaria berat/ dengan komplikasi. “ Penderita dengan komplikasi/ malaria berat memakai obat  parenteral dan malaria biasa diobati dengan per oral ”.

2) Penderita malaria harus mendapatkan pengobatan yang efektif,tidak terjadi kegagalan  pengobatan dan pencegahan terjadinya transmisi yaitu dengan pengobatan dengan

ACT ( Artemisinin base Combination Therapy).

3) Pemberian obat dengan ACT harus berdasarkan hasil pemriksaan malaria yang positif dan dilakukan monitoring  efek atau respon pengobatan.

4) Pengobatan malria klinis/tan hasil pemeriksaan malaria memakai obat non-ACT. Pengobatan malaria di terdiri atas 2 pengobatan,antara lain :

1. Pengobatan ACT (Ar temi sin in base Combination T herapy ).

Secara global WHO telah menetapkan dipakainya pengobatan malaria dengan memakai obat ACT. Golongan antermisinin (ART) telah dipilih sebagai obat utama karena efektif mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobatan, dapat membunuh  plasmodium dalam semua stadium termasuk gametosit, dan efektif terhadap semua spesies  plasmodium.

Penggunaan obat ACT dapat berupa:  Kompbinasi obat tetap (fixed dose)

Kombinasi dosis tetap lebih memudahkan pemberian pengobatan. Contohnya ialah :

 “Co-Artem” yaitu kombinasi artemeter (20mg)  + lumefantrine (120mg). Dosis Co-Artem 4 tablet 2x1 hari selama 3 hari.

 “Artekin” yaitu kombinasi dihidroartemisinin (40mg) + piperakuin (320mg). Dosis artekin untuk dewasa : dosis awal 2 tablet, 24 jam dan 32 jam masing-masing 2 tablet.

 Kombinasi tidak tetap ( non-fixed dose) Kombinasi ACT yang tidak tetap misalnya :

 Artesunat + meflokuin  Artesunat + amodiakuin  Artesunat + klorokuin

 Artesunat + sulfadoksin-pirimetamin  Artesunat + pironaridin

(46)

 Artesunat + chlorproguanil-dapson (CDA/lapdap plus)  Dihidroartemisinin + piperakuin + trimethoprim (Artekom)  Artecom + primakuin (CV8)

 Dihidroartemisinin + naptokuin

Yang ada di Indonesia saat ini adalah kombinasi artesunat + amodiakuin dengan nama dagang “Artesdiaquine” atau Artesumoon. Dosis untuk orang dewasa yaitu artesunat (50mg/tablet) 200mg pada hari I-III (4 tablet). Untuk amodiakuin (200mg/tablet) yaitu 3 tablet hari I dan II dan 11/2 tablet hari III. Artemusoon ialah kombinasi yang dikemas sebagai  blister (kantong kecil berisi cairan) dengan aturan pakai tiap blister/hari (artesunat + amodiakuin) diminum selama 3 hari. Dosis amodiakuin adalah 25-30 mg/kgBB selama 3 hari.Dosis untuk anak-anak adalah artesumoon merupakan gabungan artesunat 2mg/kgBB sekali sehari selama 3 hari, untuk hari pertama diberi 2 dosis dan amodiakuin hari I dan II 10 mg/kgBB dan hari III 5 mg/kgBB.

Catatan  : untuk pemakaian obat golongan artemisinin harus di sertai/dibuktikan dengan pemeriksaan parasit yang positif, setidaknya dengan tes cepat antigen yang positif. Bila malaria klinis/tidak ada hasil pemeriksaan parasitologik tetap menggunakan obat non-ACT.

2. Pengebotan malaria dengan obat-obat Non-ACT Obat non-ACT ialah :

 Klorokuin difosfat/sulfat

250 mg (150 mg basa), dosis 25 mg basa/kgBB untuk 3 hari, t erbagi 10 mg/kgBB hari I dan hari II, 5 mg/kgBB pada hari ke III. Pada orang dewasa biasa dipakai dosis 4 tablet hari I dan II, 2 tablet pada hari III. Dipakai untuk P.falciparum maupun P.vivax .

 Sulfadoksin-pirimetamin (SP)

(500 mg sulfadoksin + 25 mg pirimetamin), dosis orang dewasa 3 tablet dosis tunggal (1 kali). Atau dosis anak memakai takaran pirimetamin 1,25 mg/kgBB. Obat ini hanya dipakai untuk P.falciparum dan tidak efektif untuk P.vivax. Bila terjadi kegagalan dengan obat klorokuin dapat menggunakan SP.

 Kina sulfat

(1 tablet 220 mg), dosis yang dianjurkan ialah 3x10 mg/kgBB selama 7 hari, dapat dipakai untuk P.falciparum  maupun P.vivax. Kina dipakai sebagai obat cadangan untuk mengatasi resistensi terhadap klorokuin dan SP. Pemakaian obat ini untuk waktu yang lama (7 hari) menyebabkan kegagalan untuk memakai sampai selesai.  Primakuin

(1 tablet 15 mg), dipakai sebagai obat pelengkap/pengobatan radical   terhadap  P.falciparum  maupun P.vivax. pada  P.falciparum dosisnya 45 mg (3 tablet) dosis tunggal untuk membunuh gamet; sedangakan untuk  P.vivax  dosisnya 15 mg/hari selama 14 hari yaitu untuk membunuh gamet dan hipnozoit (anti-relaps).

Penggunaan obat kombinasi Non-ACT

Apabila pola resistensi masih rendah,belum tejadi multiresistensi, dan belum tersedianya obat antemisinin, dapat menggunakan obat standar yang dikombinasikan. Contohnya adalah :

a) Kombinasi klorokuin + SP.  b) Kombinasi SP + kina

c) Kombinasi klorokuin + doksisiklin/tetrasiklin d) Kombinasi SP + doksisiklin/tetrasiklin

e) Kina + doksisiklin/tetrasiklin f) Kina + klimdamisin

(47)

Pemakain obat-obat kombinasi ini juga harus dilakukan monitoring respon  pengobatan sebab perkembangan resistensi terhadap obat malaria berlangsung cepat

dan meluas.

Penangan Penderita Malaria Dengan Komplikasi (Berat)

Pengobatan malaria berat secara garis besar terdiri atas 3 komponen,yaitu : A. Pengobatan suportif (perawatan umum dan pengobatan simtomatis)

 Menjaga keseimbangna cairan elektrolit dan keseimbangan asam basa.karena pada malaria terjadi gangguan hidrasi, maka sangat penting mengatasi keadaan hipovolemia ini. selain cairan perlu diperhatikan oksigenasi dengan memperlihatkan tekanan O2, lancarnya saluran nafan dan kalau perlu dengan ventilasi bantu.

 Bila suhu 400C (hyperemia),maka : 1) Kompres dingin intesif

2) Pemberian anti piretik (obat penurun suhu tubuh) untuk mencegah hipertermia,  parasitamol 15 mg/kgBB/kali,diberi setiap 4 jam.

 Bila anemia diberi transfuse darah, yaiut bila Hb < 5 g/dl atau hematokrit < 15%. Pada keadaan asidosis perbaikan anemi merupakan tindakan yang utama sebelum pemberian koreksi bikarbonat.

 Kejang diberi diazepam 10-20 mg intravena diberikan secara perlahan atau Phenobarbital 100 mg um/kali (dewasa) diberikan 2 kali sehari.

B. Pengobatan spesifik  Artemisin

Golongan artemisin merupakan pilihan pertama Karen kebanyakan malaria falciparum telah resisten dengan klorokuin maupun kuinin. Golongan artemisin yang dipakai untuk  pengobatan malaria berat antara lain :

o Artemether.

Artemether diberikan dengan dosis 3,2 mg/kgBB/hari im pada hari pertama, kemudian dilanjutkan dengan 1,6 mg/kgBB/hari (biasanya diberikan dengan dosis 160 mg dilanjutkan dengan dosis 80 mg) sampai 4 hari (penderita dapat minum obat), kemudian dilanjutkan dengan obat kombinasi peroral.

o Artesunate

Artesunate diberikan dengan dosis 2,4 mg/kgBB iv pada waktu masuk (time=0), kemudian pada jam ke 12 dan jam ke 24, selanjutnya setiap kali sekali sampai  penderita dapat minum obat dilanjutkan dengan obat oral kombinasi.

Pengobatan lanjutan peroral pada penderita yang sebelumnya mendapatkan pengobatan dengan artemether im atau artesunate iv dapat berupa kombinasi artesunate dengan amodiaquin selama 3 hari atau kombinasi dengan tetrasiklin/dosisiklin/klimdamisin selama 7 hari.

 Kuinin HCL

o Kuinin HCL 25% 500 mg (dihitung BB rata-rata 50 kg) dilarutkan dalam 500cc

dekstrose 5 % atau dekstrose dalam larutan saline diberikan selam 8 jam, atau  pemberian infus dalam cairan tersebut diberikan selama 4 jam, kemudian

(48)

diulang dengan cairan yang sama terus menerus sampai penderita dapat minum obat lalu dilanjutkan dengan pemberian kuinil peroral dengan dosis 3 kali sehari 10 mg /kgBB (3x600 mg), dengan total pemberian kuinin keseluruhannya selama 7 hari.

o Kuinin HCL 25 % dengan dosis loading  20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan

dekstrose 5% (NaCl o,9%) selama 4 jam, dan dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 ml dekstrose 5% diberikan dalam waktu 4 jam. Selanjutnya diberikan dengan dosis dan cairan serta waktu yang sama setiap 8  jam. Apabila penderita sudah sadar penderita dapat minum obat dan dilanjutkan dengan pemberian kuinin peroral dengan dosis 3 kali sehari10 mg/kgBB (3x600 mg), dengan total pemberian kuinin keseluruhannya selama 7 hari. Dosis loading ini tidak dianjurkan pada penderita yang telah mendapat pegobatan kuinin, atau meflokuin dalam 24 jam sebelumnya, penderita usia lanjut atau  pada penderita dengan pemanjangan Q-Tc interval/aritmia pada hasil  pemeriksaan EKG.

Selama pemberian kuinin parentral monitoring : 1). Gula darah setiap 8 jam, 2). EKG. Kuidinin glukonate diberikan dengan dosin 7,5 mg/kgBB selama 4 jam setiap 8 jam sampai penderita dapat minum obat.

 Klorokuin

Dengan adanya kasus-kasus P. falciparum resisten terhadap klorokuin, maka saat ini klorokuin jarang dipakai untuk pengobatan malaria berat. Klorokuin diberikan bila masih sensitif atau pada kasus demam kencing hitam (black water fever ) atau pada mereka yang diketahui hipersensitif terhadap kina. Keuntungannya tidak menyebabkan hipoglikemi dan tidak mengganggu kehamilan. Klorokuin basa diberikan dengan :

o Dosis  loading → 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 500 ml NaCl 0,9%

diberikan dalam 8 jam, kemudian dilanjutkan dosis 5 mg/kgBB per infuse selama 8 jam dan sebanyak 3 kali (dosis total 25 mg/kgBB selama 32 jam)

o Bila secara intravena tidak memungkinkan, dapat diberikan secara

intramuscular atau subkutan dengan cara : 3,5 mg/kgBB klorokuin basa dengan interval setiap 6 jam, atau 2,5 mg/kgBB klorokuin basa dengan interval setiap 4 jam.

 Transfuse Ganti.

Tindakan transfusi ganti dapat menurunkan secara cepat pada keadaan parasitemia. Tindakan ini berguna untuk mengeluarkan eritrosit yang berparasit, menurunkan toksin hasil parasit dan metabolismenya (sitokin dan radikal bebas) serta mempebaiki anemia. Indikasi transfuse tukar :

o Parasitemia > 30% tanpa komplikasi berat

o Parasitemia > 10% disertai komplikasi berat : malaria serebral, gagal ginjal

akut, edema paru/ARDS, ikterik (bilirubin > 25 mg/dl) dan anemia berat.

o Parasitemia > 10% dengan gagal pengobatan setelah 12-24 jam pemberian

kemoterapi anti mlaria yang optimal, atau didapatkan skizon matang pada sediaan darah perifer.

(49)

LO 2.8. Pencegahan dan Program Pemerintah

Upaya pencegahan malaria telah dilakuakan bertahun-tahun dengan cara  pencegahan dari dalam yaitu dengan obat-obatan maupun pencegahan dari luar yaitu dengan menggunakan kelambu dan sebagainya. Upaya pencegahan malaria dengan menggunakan obat-obatan umumnya dengan menggunakan jenis obat yang sama dengan  jenis obat yang digunakan untuk mengobati malaria, bahkan obat-obatan ini bekerja dengan

lebih baik sebagai pencegah karena akan langsung dapat membunuh parasit yang masih sensitif pada saat baru memasuki sistem tubuh manusia.

Obat Klorokuin sangat efektif untuk mencegah parasit plasmodium falciparum untuk masuk lebih lanjut ke dalam sistem tubuh manusia. Obat ini digunakan satu kali seminggu selama dua minggu sebelum tiba di daerah dengan intensitas malaria tinggi, yang kemudian dilanjutkan dengan pemakaian selama 4 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut. Berikut adalah daftar obat yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit malaria. 1. Atovaquone/Proguanil (Malarone)

Alasan yang membuat anda mungkin memilih obat ini :

 Obat ini dapat digunakan 1-2 hari sebelum melakukan perjalanan ke daerah epidemi malaria (dibanding dengan obat lain yang harus digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang)  Pilihan terbaik untuk waktu perjalanan yang lebih singkat ke daerah epidemi malaria karena

obat ini hanya digunakan dalam waktu 7 hari setelah perjalanan ke daerah epidemi, dibandingkan dengan obat lain yang harus digunakan 4 minggu sepulangnya dari daerah epidemi malaria.

 Efek samping yang sangat rendah (hampir tidak ada efek samping)  Mudah untuk dibeli di apotek.

Alasan yang membuat anda mungkin tidak memilih obat ini :  Tidak dianjurkan digunakan oleh wanita hamil.

 Tidak dapat digunakan oleh orang dengan gangguan ginjal berat.  Harga yang lebih mahal.

2. Klorokuin

Alasan yang membuat anda mungkin memilih obat ini :

 Pilihan yang baik untuk perjalanan yang panjang ke daerah epidemi malaria karena obat ini digunakan mingguan (satu minggu sekali)

(50)

 Dapat digunakan oleh wanita hamil.

 Beberapa orang lebih suka mengambil dosis mingguan.

Alasan yang membuat anda mungkin tidak memilih obat ini :

 Tidak dapat digunakan pada daerah dimana plasmodium telah mengembangkan kekebalan  pada obat ini.

 Obat digunakan dalam jangka yang cukup panjang yaitu 4 minggu setelah pulang dari daerah epidemi, dan haru digunakan 2 minggu sebelum berangkat ke daerah epidemi malaria.

3. Doxycycline

Alasan yang membuat anda mungkin memilih obat ini :

 Obat ini dapat diambil 1-2 hari sebelum tiba di tempat epidemi malaria.  Obat malaria yang paling murah di pasaran saat ini.

 Obat ini juga melindungi dari beberapa infeksi lain seperti Rickettsiae and leptospirosis. Alasan yang membuat anda mungkin tidak memilih obat ini :

 Obat ini bernahaya bagi ibu hamil dan anak-anak.

 Obat ini harus digunakan selama 4 minggu setiap hari setelah pulang dari tempat epidemi malaria.

 Obat ini dapat meningkatkan rasa sensitif terhadap sinar matahari.

 Beberapa orang dapat mengalami gangguan perut dalam penggunaan obat ini. 4. Mefloquine

Alasan yang membuat anda mungkin memilih obat ini :

 Sangat cocok untuk perjalanan panjang dan lama ke tempat epidemi malaria karena obat ini hanya digunakan seminggu sekali.

 Dapat digunakan oleh wanita hamil.

Alasan yang membuat anda mungkin tidak memilih obat ini :

 Tidak dapat digunakan di daerah yang mana plasmodium malaria telang mengembangkan kekebalan terhadap obat ini.

 Tidak dapat digunakan pada pasien dengan kasus psikologi tertentu.  Tidak dianjurkan untuk pasien sakit jantung

 Tidak dapat digunakan pada pasien yang mengalami kejang.

(51)

 Obat ini haru terus digunakan selama 4 minggu setelah kembali dari daerah epidemi malaria.

5. Primakuin

Alasan yang membuat anda mungkin memilih obat ini :

 Obat ini sangat efektif menangkal plasmodium vivax sehingga sangat cocok digunakan di daerah epidemi malaria vivax.

 Obat hanya perlu digunakan 7 hari setelah meninggalkan tempat epidemi.  Obat digunakan 1-2 hari sebelum ke tempat epidemi malaria.

Alasan yang membuat anda mungkin tidak memilih obat ini :  Tidak dapat digunakan oleh ibu hamil.

 Dapat menyebabkan gangguan perut pada orang tertentu. Menghindar dari gigitan nyamuk

a. Memakai kelambu atau kasa anti nyamuk  b. Menggunakan obat pembunuh nyamuk

3. Vaksin malaria

Vaksin malaria merupakan tindakan yang diharapkan dapat membantu mencegah penyakit ini, tetapi adanya bermacam stadium pada perjalanan penyakit malaria menimbulkan

kesulitan pembuatannya. Penelitian pembuatan vaksin malaria di tujukan pada 2 jenis vaksin, yaitu :

1). Proteksi terhadap ketiga stadium parasit : a. sporozoit yang berkembang dalam nyamuk dan menginfeksi manusia, b. merozoit yang menyerang eritrosit, dan c. gametosit yang menginfeksi nyamuk

2). Rekayasa genetika atau sintesis polipeptida yang relevan.

Jadi, pendekatan pembuatan vaksin yang berbeda-beda mempunyai kel ebihan dan

kekurangan masing-masing, tergantung tujuan mana yang akan di capai. Vaksin sporozoit P.falciparum merupakan vaksin yang pertama kali di uji coba, dan apabila telah berhasil, dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas malaria tropika terutama pada anak dan ibu hamil.

Awal tahun 1997 dilaporkan bahwa WHO akan mensponsori pembuatan va ksin dr.Patorroyo (Colombia). Vaksin ini hanya memberikan perlindungan terhadap malaria tropika sebanyak 30% dari orang yang disuntik, tetapi mengingat adanya lebih dari 1 juta orang pengidap malaria yang meninggal setiap tahunnya di afrika, maka kampanye vaksinasi akan terus dilangsungkan.

(Jauhari, 2007) 48

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :