• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 555/PERPUS/UG/2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 555/PERPUS/UG/2020"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE

BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Nomor Pengunggahan

SURAT KETERANGAN

Nomor: 555/PERPUS/UG/2020

Surat ini menerangkan bahwa:

Nama Penulis : SHELLA NUR AZIZAH Nomor Penulis : 26216992

Email Penulis : [email protected]

Alamat Penulis : Gang kedondong Desa Pabuaran Kec. Bojong Gede Kab. Bogor dengan penulis lainnya sebagai berikut:

Penulis ke-2/Nomor/Email : RENI ANGGRAINI, SE. MMSI / 010955 / [email protected]

Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :

Nomor Induk : FILKOM/KA/PENELITIAN/555/2020

Judul Penelitian : Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Pada Kota Malang Periode 2014 – 2018

Tanggal Penyerahan : 03 / 12 / 2020

(2)

Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Pada

Kota Malang Periode 2014 – 2018

Shella Nur Azizah

[email protected]

Reni Anggraini

[email protected]

Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma

ABSTRACT

Regional financial management will affect the progress of an area. Good financial management not only requires reliable human resources but also adequate regional financial capacity. One of the levels of regional financial capacity can be measured by the amount of regional revenue, especially Regional Original Income Collection (PAD).

The government needs measurement tools to see the region's ability to manage finances and carry out regional autonomy. Financial performance analysis can be done to assess revenue and can also measure regional financial performance by calculating the Fiscal Decentralization Degree Ratio, Regional Financial Independence Ratio, PAD Growth Ratio, and Regional Financial Efficiency Ratio.

Based on the results of research and discussions that have been conducted regarding the analysis of the performance of local governments in Malang, it can be concluded that according to the financial performance ratio, Malang City's revenue is already good in managing its regional income and Malang City's regional spending is also good in spending capital needs. It can be seen from the Malang regional income ratio that is Good already good in managing its regional income, because the realization of Malang City's revenue is greater than its budget. Judging from the ratio of the variance in regional shopping in Malang City is already good because the realization of regional spending is always smaller than the spending budget. However, the growth ratio in Malang is low. Because the growth ratio of Malang City has decreased. The decrease that occurred in the level of revenue growth of Malang City Government was due to the less than maximum amount of revenue received by the Malang City Government. The growth of PAD in Malang City every year stems from balance funds, local tax and local levies.

(3)

ABSTRAKSI

Pengelolaan keuangan daerah yang baik akan berpengaruh terhadap kemajuan suatu daerah. Pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang handal tetapi juga kemampuan keuangan daerah yang memadai. Tingkat kemampuan keuangan daerah salah satunya dapat diukur dari besarnya penerimaan daerah khususnya Pendapataan Asli Daerah (PAD).

Pemerintah memerlukan alat ukur untuk melihat kemampuan daerah dalam mengelola keuangan serta menjalankan otonomi daerah. Analisis Kinerja keuangan yang dapat dilakukan untuk menilai dari sisi pendapatan dan juga dapat mengukur kinerja keuangan daerah dengan menghitung Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Pertumbuhan PAD, dan Rasio Efisiensi Keauangan Daerah.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai analisis kinerja pemerintah daerah pada Kota Malang, maka dapat disimpulkan bahwa menurut rasio kinerja keuangan pendapatan daerah Kota Malang sudah baik dalam mengelola pendapatan daerahnya dan belanja daerah Kota Malang juga sudah baik dalam membelanjakan kebutuhan modal. Dapat dilihat dari rasio pendapatan daerah Kota Malang sudah baik dalam mengelola pendapatan daerahnya, karena realisasi pendapatan Kota Malang lebih besar daripada anggarannya. Dilihat dari rasio varians belanja daerah Kota Malang sudah baik dikarenakan realisasi belanja daerahnya selalu lebih kecil dibanding anggaran belanjanya. Akan tetapi Rasio pertumbuhan pada Kota Malang termasuk rendah. Karena rasio pertumbuhan Kota Malang mengalami penurunan. Penurunan yang terjadi pada tingkat pertumbuhan pendapatan Pemerintah Kota Malang dikarenakan kurang maksimalnya jumlah pendapatan yang diterima Pemerintah Kota Malang. Pertumbuhan PAD Kota Malang setiap tahunnya bersumber dari dana perimbangan, pajak daerah, dan retribusi daerah.

Kata Kunci: APBD, Pendapatan Daerah, Belanja Daerah

PENDAHULUAN

Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang seusai dengan UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, menjelaskan otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur sendiri urusan

pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu perwujudan pelaksanaan otonomi daerah

adalah pelaksanaan

(4)

desentralisasi yaitu penyerahan urusan, tugas dan wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dengan tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001 pada Pemerintahan Kota Malang, mengalami penurunan dalam tingkat kemiskinan. Dalam setahun terakhir tingkat kemiskinan di Kota Malang mengalami penurunan sebesar 0,07 persen poin menjadi 4,10 persen pada tahun 2018. Dibandingkan dengan periode sebelumnya penurunan tahun 2018 mengalami perlambatan, karena pada tahun 2017 tingkat kemiskinan menurun sebesar 0,16 persen poin.

Jumlah angkatan kerja di Kota Malang pada Agustus 2018 meningkat 2,67 persen dibandingkan Agustus 2017 atau bertambah hampir 12 ribu orang

menjadi sekitar 454,85 ribu orang. Walaupun terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja, penyerapan tenaga kerja menunjukkan kinerja yang cukup positif, terlihat dari penambahan jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2018 sebanyak hampir 13 ribu orang.

Ada hal menarik dari perilaku masyarakat di pasar kerja jika dilihat dari tingkat pendidikan yang mereka miliki. Pada kelompok berpendidikan SMP terjadi penambahan agregat cukup tinggi, yaitu lebih dari 3 ribu orang (5,07 persen) dan yang berpendidikan SMA justru turun 3 ribu orang lebih (-4,97 persen). Meningkatnya partisipasi yang berpendidikan SMP tentunya perlu menjadi perhatian khusus karena karakteristik tenaga kerja pada kelompok ini cenderung kurang memiliki keahlian khusus yang pada akhirnya berdampak pada tingkat produktivitas yang tercermin dari upah yang mereka peroleh.

(5)

Pengelolaan keuangan daerah yang baik akan berpengaruh terhadap kemajuan suatu daerah. Pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang handal tetapi juga kemampuan keuangan daerah yang memadai. Tingkat kemampuan keuangan daerah salah satunya dapat diukur dari besarnya penerimaan daerah khususnya Pendapataan Asli Daerah (PAD).

Oleh sebab itu, pemerintah memerlukan alat ukur untuk melihat kemampuan daerah dalam mengelola keuangan serta menjalankan otonomi daerah.

Analisis Kinerja keuangan yang dapat dilakukan untuk menilai dari sisi pendapatan dan juga dapat mengukur kinerja keuangan daerah dengan menghitung Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Pertumbuhan PAD, dan Rasio Efisiensi Keauangan Daerah.

Hasil analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah, mengukur efisiensi dan efektivitas dalam merealisasikan pendapatan daerah, mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan pendapatan daerahnya, mengukur kontribusi

masing-masing sumber

pendapatan dalam pembentukan pendapatan daerah, dan melihat

pertumbuhan atau

perkembangan perolehan pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu (Halim, 2007).

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dan setiap tahunnya pendapatan asli daerah Kota Malang mengalami peningkatan, maka judul dari penelitian ini adalah “Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Pada Kota Malang Periode 2014 - 2018”.

(6)

Realisasi Pendapatan – Anggaran Pendapatan

KAJIAN PUSTAKA

Analisis Pendapatan Keuangan Daerah

Analisis rasio keuangan

APBD dilakukan dengan

membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat

diketahui bagaimana

kecenderungan yang terjadi. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada APBD ini adalah sebagai berikut: DPRD, pihak

eksekutif, pemerintah

pusat/provinsi, serta masyarkat dan kreditor (Abdul Halim 2007).

Menurut Mahmudi (2010) dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pemerintah dituntut untuk memiliki kemandirian keuangan daerah yang lebih besar. Dengan tingkat kemandirian keuangan yang lebih besar berarti daerah tidak akan lagi sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat dan propinsi melalui dana

transfer. Beberapa analisis yang digunakan untuk mengukur analisis pendapatan dan kemandirian keuangan daerah adalah sebagai berikut:

a. Varians Pendapatan Daerah

Analisis Varians Pendapatan Derah dilakukan dengan cara menghitung selisih antara realisasi pendapatan dengan yang dianggarkan. Informasi selisih anggaran tersebut sangat membantu pengguna laporan

dalam memahami dan

menganalisis kinerja keuangan pendapatan. (Mahmudi 2010).

b. Derajat Desentralisasi Fiskal

Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Total Pendapatan Daerah. Rasio ini menunjukkan derajat kontribusi PAD terhadap Total Pendapatan Daerah. Semakin tinggi kontribusi PAD

(7)

maka semakin tinggi kemampuan pemerintah daerah

dalam penyelenggaraan desentralisasi (Mahmudi, 2010). Tabel 2.1 Kriteria Derajat Desentralisasi Fiskal Sumber : Mahmudi,2010 c. Rasio Kemandirian Rasio kemandirian

adalah rasio yang

menunjukan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, penggunaan pelayanan

kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain, misalnya bantuan pemerintah pusat atau pinjaman (Mahmudi 2010). Tabel 2.2 Kriteria Tingkat Kemandirian Sumber : Mahmudi,2010 Keterangan : 1. Pola Hubungan Instruktif, peran pemerintah pusat lebih DDF (%) Keterangan 00,00-10,00 Sangat Kurang 10,01-20,00 Kurang 20,01-30,00 Cukup 30,01-40,00 Sedang 40,01-50,00 Baik >50,00 Sangat Baik Kemandirian (%) Keterangan 0-25 Instruktif 25-50 Konsultatif 50-75 Partisipatif 75-100 Delegatif

Pendapatan Asli Daerah 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑓𝑒𝑟 ×100% Pendapatan Asli Daerah

(8)

dominan dari pada kemandirian

Pemerintah Daerah. Daerah tersebut tidak mampu melaksanakan otonomi daerah

2. Pola Hubungan

Konsultatif, dimana

campur tangan

pemerintah pusat sudah mulai berkurang, karena daerah dianggap sedikit lebih mampu, melaksanakan otonomi. 3. Pola Hubungan Partisipatif, peranan pemerintah pusat semakin berkurang, mengingat daerah bersangkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi. 4. Pola Hubungan Delegatif, campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mampu dan

mandiri dalam melaksanakan urusan otonomi daerah. d. Efektivitas PAD Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan pendapatan yang direncanakan, kemudian dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Semakin tinggi Rasio Efektivitas menggambarkan

kemampuan daerah yang semakin baik. (Mahmudi, 2010). Tabel 2.3 Kriteria Efektivitas PAD Efektivitas (%) Keterangan >100 Sangat Efektif 100 Efektif 90-99 Cukup Efektif 75-89 Kurang Efektif <75 Tidak Efektif Sumber : Mahmudi,2010 Realisasi PAD 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝐴𝐷 ×100%

(9)

e. Analisis Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Rasio efisiensi menggambarkan tingkat kemampuan pemerintah dalam mengefisiensikan biaya yang dikerluarkan oleh pemerintah. Semakin kecil rasio efisien berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. Rumus yang digunakan yaitu : Tabel 2.4 Kriteria Efisiensi Keuangan Daerah Sumber : Mahsun,2012 f. Pertumbuhan PAD Analisis pertumbuhan pendapatan bermanfaat untuk mengetahui apakah pemerintah daerah dalam

tahun anggaran

bersangkutan atau selama beberapa periode anggaran,

kinerja anggarannya mengalami pertumbuhan pendapatan secara positif ataukah negatif. Pemerintah mengharapkan pertumbuhan pendapatan positif dan cenderung meningkat. Namun apabila terjadi pertumbuhan yang negative maka hal itu menunjukkan terjadi penurunan kinerja pendapatan (Mahmudi 2010).

Analisis Belanja Keuangan Daerah

Mahmudi (2010) analisis belanja daerah sangat penting dilakukan untuk mengevaluasi apakah pemerintah daerah telah menggunakan APBD secara ekonomis, efisien, dan efektif. sejauh mana pemerintah daerah telah melakukan efisiensi

anggaran, menghindari

pengeluaran yang tidak perlu dan pengeluaran yang tidak tepat sasaran. Melalui Laporan Efisiensi (%) Kriteria >100 Tidak Efisien 100 Efisien Berimbang <100 Efisien Rasio Efisiensi = 𝐵𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ× 100% 𝑃𝐴𝐷 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑡 −𝑃𝐴𝐷 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 (𝑡−1) 𝑃𝐴𝐷 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 (𝑡−1) ×100%

(10)

Realisasi Anggaran, dapat melakukan analisis yaitu :

a. Rasio Varians Belanja Daerah

Analisis varians merupakan analisis terhadap perbedaan atau selisih antara realisasi belanja dengan anggaran. b. Rasio Keserasian Rasio Keserasian menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada Belanja Rutin

dan Belanja

Pembangunannya secara optimal. Ada 2 perhitungan dalam Rasio Keserasian ini, yaitu :

a) Rasio Belanja Modal merupakan perbandingan antara total realisasi belanja modal dengan total belanja daerah.

Menurut Mahmudi

(2010) pada umumnya proporsi belanja modal degan belanja daerah adalah antara 5-20%. Belanja modal ini

dirumuskan sebagai berikut:

b) Rasio Belanja Operasi merupakan perbandingan antara total Belanja Operasi dengan Total Belanja Daerah. Pada umumya proporsi Belanja Operasi mendominasi total belanja daerah, yaitu antara 60 - 90%. Menurut Mahmudi (2010) didalam pemerintah daerah dengan tingkat pendapatan yang tinggi cenderung memiliki porsi belanja operasi yang lebih tinggi dibandingkan pemerintah daerah yang tingkat pendapatannya rendah. Rasio belanja operasi dirumuskan sebagai berikut : Realisasi Belanja – Anggaran

Belanja

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ ×100%

Rasio Belanja Operasi = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖

(11)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.12

Rangkuman Penelitian

No Keterangan 2014 2015 2016 2017 2018 Rata-Rata Kriteria

1 Varians Pendapatan Daerah 111,55% 107,51% 96,19% 110,66% 103,85% 105,95% Baik

2 Derajat Desentralisasi Fiskal 21,11% 23,23% 27,42% 29,83% 27,29% 25,78% Cukup

3 Rasio Kemandirian 38,94% 45,87% 44,66% 50,08% 47,14% 45,34% Konsultatif

4 Rasio Pertumbuhan PAD 17,24% 14,06% 12,38% 23,19% -5,34% 12,31% Rendah

5 Rasio Efektivitas PAD 110,79% 120,23% 125,72% 143,67% 113,51% 122,78% Sangat Efektif

6 Rasio Efisisiensi Keuangan 90,83% 98,59% 98,20% 91,98% 94,36% 94,79% Efisien

7 Varians Belanja Daerah 95,21% 99,98% 92,83% 99,96% 93,31% 96,26% Baik

8 Rasio Belanja Modal 19,87% 18,72% 11,33% 18,77% 18,24% 17,39% Baik

9 Rasio Belanja Operasi 80,69% 81,24% 88,65% 81,23% 81,75% 82,71% Baik

(12)

Analisis Pembahasan :

Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat bahwa rasio pendapatan daerah Kota Malang sudah baik dalam mengelola pendapatan daerahnya, karena dilihat dari rasio varians pendapatan daerah Kota Malang dikatakan baik dimana realisasi pendapatan Kota Malang lebih besar daripada anggarannya. Rasio varians pendapatan daerah Kota Malang dapat dilihat bahwa sumber pendapatan asli daerah Kota Malang berasal dari dana perimbangan, pajak daerah, dan retribusi daerah.

Derajat Desentralisasi Fiskal Kota Malang dapat dikatakan cukup

baik, karena sejak tahun 2014 - 2017

rasio derajat desentralisasi fiskal Kota Malang terus mengalami kenaikan yang disebabkan kenaikan PAD dan pendapatan dana perimbangan, walaupun ditahun 2018 rasio derajat destralisasi fiskal mengalami penurunan, akan tetapi rasio derajat desentralisasi fiskal Kota Malang pada tahun 2014 - 2018 selalu berada di atas 20%. Semakin tinggi tingkat kontribusi PAD maka

semakin tinggi kemampuan

pemerintah daerah dalam

penyelenggaraan desentralisasi, dapat dilihat bahwa Kota Malang sudah cukup mampu dalam penyelenggaraan desentralisasi.

Rasio kemandirian Kota Malang bersifat konsultatif, karena rata – rata dari rasio kemandirian Kota Malang masih dibawah 50%, dapat dilihat bahwa dana perimbangan Kota Malang masih lebih besar dibandingkan dengan PAD Kota Malang, hal ini lah yang membuat tingkat kemandirian Kota Malang masih dibawah 50% yang berarti Kota Malang masih bergantung kepada pemerintah pusat. Pola hubungan konsultatif adalah dimana campur tangan pemerintah pusat sudah mulai berkurang, karena daerah dianggap sedikit lebih mampu, melaksanakan otonomi.

Rasio pertumbuhan pada Kota Malang termasuk rendah. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2018 rasio pertumbuhan Kota Malang mengalami penurunan yang sangat signifikan. Penurunan ini terjadi pada tingkat pertumbuhan

(13)

pendapatan Pemerintah Kota Malang, dikarenakan meningkatnya pemberiaan dana pemerintah pusat kepada daerah Kota Malang, yang artinya Kota Malang masih belum dapat memaksimalkan penggunaan dana dari pendapatan asli daerah yang digunakan untuk mengelola keuangan daerah. Terlambatnya Penetapan APBD Perubahan 2018 yang baru rampung pada bulan Oktober yang mengakibatkan banyaknya kegiatan yang gagal lelang, diantaranya ada 18 paket yang gagal. Pertumbuhan PAD Kota Malang setiap tahunnya bersumber dari dana perimbangan, pajak daerah, dan retribusi daerah.

Rasio efektivitas PAD Kota Malang sangat efektif. Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 4.12 dapat dikatakan bahwa rasio efektivitas PAD Kota Malang 2014-2018 rata-rata sudah sangat efektif karena rasio efektivitas Kota Malang secara rata-rata selalu berada diatas 100%. Artinya kemampuan Kota

Malang dalam memperoleh

pendapatan asli daerah secara rata-rata sudah sangat baik. Hal ini terjadi

karena realisasi PAD Kota Malang setiap tahunnya selalu meningkat meskipun pada tahun 2018, realisasi PAD masih lebih kecil dari tahun sebelumnya, akan tetapi hasil yang didapat masih dalam kategori sangat efektif pada tahun 2018. Peningkatan realisasi PAD setiap tahunnya diperoleh dari peningkatan pajak daerah Kota Malang dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan yang selalu lebih besar dari anggarannya.

Rasio efisiensi keuangan daerah Kota Malang pada tahun 2014 – 2018 sangat baik. Dikarenakan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja keuangan pemerintah daerah dalam melakukan

pemungutan pendapatan

dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai dibawah 100%. Semakin kecil rasio efisiensi keuangan daerah berarti kinerja keuangan pemerintah daerah

(14)

pemerintah Kota Malang dalam mengefisiensi biaya yang dikeluarkan dimana belanja daerah Kota Malang masih dibawah pendapatan daerah Kota Malang.

Rasio varians belanja daerah Kota Malang sudah baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.9 serta grafik 4.7, Hal ini dapat dilihat pada tahun 2014, dan 2016 – 2018 dimana realisasi belanja daerahnya selalu lebih kecil dibanding anggaran belanjanya yang artinya Kota Malang mampu menggunakan anggaran belanja dengan baik. Kemudian pada tahun 2015, realisasi belanja daerahnya lebih tinggi dari anggarannya. Hal ini terjadi karena lebih besarnya belanja pegawai, dan belanja hibah

Rasio belanja modal daerah Kota Malang sudah baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.11 serta grafik 4.9, menunjukan bahwa rasio belanja modal fluktuatif. Belanja modal terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu 11,33% dengan realisasi belanja modal sebesar Rp. 193.667.164.391. Sedangkan belanja modal terbesar terjadi pada tahun

2014 yaitu 19,87% dengan realisasi belanja modal sebesar Rp. 318.462.052.422. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas perekonomian Kota Malang semakin baik dibanding tahun sebelumnya. Akan tetapi secara rata-rata Total belanja daerah Kota Malang periode 2014 – 2018 masih dalam rentang normal karena pada umumnya rasio belanja modal daerah berada direntang 5% – 20%.

Rasio belanja operasi daerah Kota Malang sudah baik. Berdasarkan Tabel 4.10 dan grafik 4.8, menunjukan bahwa rasio belanja operasi berfluktuatif. Rasio belanja operasi terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu 80,69% dengan realisasi belanja operasi sebesar Rp. 1.293.446.205.759. Sedangkan rasio belanja operasi terbesar terjadi pada tahun 2016 yaitu 88,65% dengan realisasi belanja operasi sebesar Rp. 1.515.999.562.533. Hal ini menujukkan bahwa pada tahun 2016 sebagian besar realisasi anggaran lebih banyak dipergunakan untuk kegiatan yang bersifat rutin.

(15)

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai analisis kinerja pemerintah daerah pada Kota Malang, maka dapat disimpulkan bahwa menurut rasio kinerja keuangan pendapatan daerah Kota Malang sudah baik dalam mengelola pendapatan daerahnya dan belanja daerah Kota Malang juga sudah baik dan efisien dalam membelanjakan kebutuhan modal.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis uraikan di atas, maka saran untuk Kota Malang adalah pemerintah harus lebih mampu meningkatkan tingkat kemandirian kuangan Daerah, maka Kota Malang harus semaksimal mungkin meningkatkan PADnya. Inisiatif dan kemauan pemerintah daerah sangat

diperlukan dalam upaya

meningkatkan PAD, sebaiknya Pemerintah Daerah Kota Malang menggali potensi penerimaan PAD seperti meningkatkan jumlah wirausahawan dan mengembangkan

BUMD. Sebaiknya pemerintah Kota Malang dalam menyusun penetapan APBD bisa lebih tepat waktu agar semua rencana yang sudah disusun bisa berjalan dengan baik dan juga bisa memaksimalkan penggunaan dana dari pendapatan asli daerah yang digunakan untuk mengelola keuangan daerah. Pemerintah Kota Malang juga harus mampu mempertahankan kinerja dalam mengelola belanja daerah yang sudah baik dan efisien agar terus terjadi keserasian antara belanja modal dan belanja operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim dan Syam Kusufi. 2012. Akuntansi Sektor Publik : teori, konsep dan aplikasi. Salemba Empat : Jakarta. Abdul Halim. 2007. Akuntansi Sektor

Publik. Akuntansi Keuangan Daerah, Salemba Empat Jakarta.

Adisasmita, Rahardjo. 2011. Pengelolaan Pendapatan &

Anggaran Daerah.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Anim Rahmayati. (2016).

"ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH

DAERAH KABUPATEN

(16)

ANGGARAN 2011-2013” Jurnal EKA CIDA Vol. 1 No. 1

Arfie Yasri. (2017). "ANALISIS

KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN ANGGARAN 2014-2016" JURNAL RISET INSPIRASI MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN Volume 1 No. 2 Arthaingan H.Mutiha. (2016). "ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KOTA BOGOR TAHUN ANGGARAN 2010 -2014" Volume 4, Nomor 2

Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta: Penerbit Erlangga

Mardiasmo. 2005. Akuntansi Sektor Publik Edisi 2. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Mega Oktavia Ropa. (2016). "ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH

KABUPATEN MINAHASA

SELATAN” Jurnal EMBA 738 Vol.4 No.2

Melsiano Yosias Melatuna, Sherly Pinatik. (2019). "Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kota Sorong” Jurnal EMBA Vol.7 No.3

Mohammad Mahsun. 2011.

Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: BPFE.

Mohammad Mahsun. 2012.

Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta : BPFE

Mosses Nelwan dan Iis Siti Aisah. (2017). "ANALISIS KINERJA

KEUANGAN DAERAH

TAHUN ANGGARAN 2011 –

2015 DI KABUPATEN

SUMEDANG PROVINSI

JAWA BARAT" JURNAL

ILMU PEMERINTAHAN

WIDYA PRAJA p-ISSN 0216-4019 Vol. 43, No. 2

Muhamad Wahyudi, Eva Wulandari. (2017). "Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah (Studi Kasus Pemerintah Daerah Kota Magelang)" Volume 2, Nomor 3

Novira Sartika, Adrian Irnanda Pratama. (2019). "Analisis Rasio Keuangan Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten Siak Tahun Anggaran 2012 - 2016" eJournal, Vol 6 No. 2

Putri Kemala Dewi Lubis. (2017).

"ANALISIS RASIO

KEUANGAN UNTUK

MENGUKUR KINERJA

KEUANGAN PEMERINTAH

DAERAH KABUPATEN

LABUHAN BATU TAHUN ANGGARAN 2011–2013" Volume 1, Nomor 1

Suparmoko. 2012. Ekonomi

Pembangunan. Edisi

kelima.Yogyakarta. BPFE. UGM.

(17)

Wahyuddin, Nora Sugianal. (2017). "ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH

KOTA LHOKSEUMAWE”

JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN Volume 5, Nomor 1

Badan Pusat Statistik Malang Kota. https://malangkota.bps.go.id/ (diakses pada 06 Mei 2020) Laporan Realisasi APBD Kota

Malang.

https://djpk.kemenkeu.go.id (diakses pada 12 Juni 2020)

Gambar

Tabel 4.12  Rangkuman Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Selain diwajibkan mengakses materi pembelajaran mata kuliah adaptif pengembangan soft skill berdasarkan semester yang sedang ditempuh, mahasiswa juga diwajibkan untuk

Berdasarkan olah data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa 1) Profitabilitas, Solvabilitas, Ukuran Perusahaan dan Ukuran Kantor Akuntan Publik secara

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, penulis dapat memberikan saran Klinik Erha agar menjaga ke stabilan layanan karena apabila pelayanan yang diberikan menurun

Dari tahapan pengujian konsep di atas didapatkan hasil berdasarkan survei yang dilakukan pada situs internet google form yaitu konsep yang dipilih pelanggan adalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh visibility, credibility, attraction, power endoser

Berdasarkan hal tersebut diatas, pembuatan modul pelatihan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan transfer pengetahuan pemasaran online yang terdiri dari

1. Berdasarkan hasil pengujian dapat dilihat bahwa variabel harga memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,001. Nilai ini lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis H1 diterima,

Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat diketahui bahwa harga adalah nilai dari suatu produk dalam bentuk uang yang harus dikorbankan atau dikeluarkan oleh konsumen