• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. Peta Lokasi Penelitian Desa Pondok Batu Kecamatan Sarudik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. Peta Lokasi Penelitian Desa Pondok Batu Kecamatan Sarudik"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.1.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Desa Pondok Batu Kecamatan Sarudik . Desa Pondok Batu ini memiliki areal-areal kelautan yang luas dan masyarakat yang tinggal dan menetap di sana menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari.

(2)

3.1.2 Waktu Penelitian

Waktu dalam melakukan penelitian ini direncanakan selama satu bulan setelah proposal disetujui.

3.2 Sumber Data

Penentuan sumber data penelitian ini menggunakan data primer. Data primernya yaitu kata-kata yang didapat dari informan guyub tutur bahasa Pesisir Sibolga Desa Pondok Batu Kecamatan Sarudik. Data dalam penelitian ini berupa kosakata-kosakata yang terdapat pada lingkungan kelautan di Desa Pondok Batu. 3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitif. Metode kuantitatif lebih dominan digunakan pada penelitian ini. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong 2006:6). Metode penelitian kuantitatif yaitu pendekatan ilmiah yang memandang suatu realitas itu diklasifikasikan , konkrit, teramati dan terukur, hubungan variabelnya bersifat sebab akibat dimana data penelitiannya berupa angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. (Sugiyono, 2008).

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang secara langsung turun ke lapangan untuk memperoleh data yang akan digunakan dalam penelitian. Data-data leksikon kelautan bahasa Pesisir Sibolga diperoleh dengan metode cakap, observasi, wawancara mendalam, serta memberikan kuesioner kepada informan. Metode cakap terdiri atas cakap semuka, rekam, dan catat. Peneliti akan menggunakan metode cakap semuka dan catat. Peneliti juga akan melakukan wawancara mendalam kepada informan tentang lesikon yang terdapat dalam kelautan. Leksikon tersebut dicatat untuk dijadikan data dalam penelitian.

(3)

Proses wawancara akan dilengkapi dengan teknik catat. Wawancara dipandu dengan sejumlah daftar tanyaan yang berhubungan dengan leksikon lingkungan kelautan. Ketika melakukan wawancara dengan informan digunakan bahasa Indonesia dan bahasa Pesisir Sibolga.

Informan berjumlah 3 orang. Informan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan. Syarat-syarat dari informan menurut (Mahsun, 2005:134), yaitu:

1. Berjenis kelamin pria dan wanita.

2. Berusia antara 25-65 tahun (tidak pikun).

3. Orang tua, istri atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa tersebut serta jarang atau tidak pernah meninggalkan desanya.

4. Berpendidika (minimal tamatan SD).

5. Berstatus sosial menengah (tidak rendah atau tidak tinggi ) dengan harapan tidak terlalu tinggi mobilitasnya.

6. Memiliki kebanggaan terhadap isolek dan masyarakat isoleknya. 7. Pekerjaannya nelayan.

8. Dapat berbahasa Indonesia.

9. Sehat jasmani dan rohani. Sehat jasmani maksudnya tidak cacat berbahasa dan memiliki pendengaran yang tajam untuk menangkap pertayaan-pertayaan dengan tepat dan sehat rohani maksudnya sedang tidak gila atau pikun.(Mahsun,2005:141-142).

Dalam penelitian ini informan minimal 3 orang. Wawancara dilakukan berdasarkan daftar pertayaan yang terdiri atas:

1. Leksikon lingkungan kelautan yang terdiri dari nomina. 2. Istilah-istilah tradisional dan modren alat kelautan.

Proses wawancara itu dilengkapi dengan teknik rekam dan teknik catat. Dalam berinteraksi dengan informan digunakan bahasa Indonesia. Hal ini berdasarkan temuan di lapangan bahwa semua penutur bahasa Pesisir Sibolga fasih berbicara dalam bahasa Indonesia. Data yang sudah terkumpul kemudian direduksi dan dikategorikan berdasarkan perangkat kelas katanya. Setelah data leksikon nomina kelautan terkumpul, peneliti mendaftarkannya menjadi kuisioner

(4)

untuk ditanya kepada sejumlah responden. Peneliti bertanya untuk mengetahui bagaimana pemahaman mereka terhadap leksikon tersebut.

Kuisoner yang diajukan kepada responden untuk mengetahui tingkat pengetahuan informan tentang kegiatan, alat dan bahan diajukan empat pilihan jawaban pada tiap responden, yaitu:

a. Mengenal, pernah melihat, dan Pernah mendengarkan b. Pernah mendengar , dan melihat

c. Tidak tau (tidak pernah melihat).

Syarat-syarat responden menurut Mubin dan Cahyadi (2006:115): Responden dibagi atas 3 kelompok usia, yaitu:

1. Usia 15-20 tahun, 2. Usia 21-45 tahun, dan 3. Usia di atas 46 tahun. 4. Laki-laki dan perempuan

Adapun alasan pembagian kelompok usia tersebut adalah sebagai berikut: a. kelompok usia remaja (15-20 tahun).

b. kelompok usia dewasa, yaitu awal masa dewasa (21-45 tahun).

c. kelompok pertengahan masa dewasa dan masa dewasa lanjut atau masa tua (di atas 46 tahun).

Kuisoner yang diajukan kepada responden untuk mengetahui tingkat pengetahuan informan tentang kegiatan, alat dan bahan diajukan tiga pilihan jawaban pada tiap responden, yaitu:

(5)

1. Mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan. 2. Pernah mendengar dan melihat.

3. Tidak tau ( tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengarkan )

Jumlah penduduk yang memenuhi criteria responden berjumlah 1.250 orang. Responden yang berusia remaja berjumlah 400 orang, dewasa berjumlah 400 orang, dan tua berjumlah 450 orang. Jumlah responden diambil dari tiap usia adalah 10%. Jadi, responden berusia remaja berjumlah 40 orang, dewasa berjumlah 40 orang, dan tua 45 orang. Jumlah keseluruhan responden adalah 125 orang.

3.5 Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, data yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, hasil kuesioner, dokumen-dokumen, dan sebagainya. Untuk menjawab permasalahan pertama yaitu mendeskripsikan leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga digunakan dalam metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 19993:13). Metode padan yang digunakan adalah metode padan referensial. Teknik yang digunakan dalam metode ini yaitu teknik pilah unsur penentu. Adapun alatnya adalah daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitiannya untuk mencari pengelompokkan kata benda dan kata kerja (Sudaryanto, 1993:21).

Dalam menjawab permasalahan kedua dan ketiga menggunakan metode kuantitatif. Untuk melihat pemertahanan leksikon kelautan digunakan variabel kelompok usia yang berbeda. Dengan menggunakan rumus:

(6)

P=𝐹𝐹 𝑁𝑁× 100% Ket : p: Angka persentase f: Jumlah temuan n : total informan

Rumus di atas dimodifikasi dari Arikunto : 246 (Lihat juga Rizkyansyah 2015) Sebelum dihitung dengan rumus, data yang diuji dengan menggunakan teknik berikut ini :

Ket :

1. Mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan,pernah menggunakan. 2. Tidak mengenal, tidak pernah melihat, pernah mendengar, dan tidak

pernah menggunakan.

3. Tidak mengenal , tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar, dan tidak pernah menggunakan. Simanjuntak (2014); Kesuma(2014); Rizkyansyah (2015).

Analisis data akan dimulai sejak pengumpulan data dilakukan dan sesudah meninggalkan lapangan. Dalam menganalisis data, jawaban dari setiap No Lek

Sikon

Remaja Dewasa Tua

1 2 3 1 2 3 1 2 3 L k p r l k p r l k p r l k p r l k p r l k p r l k p r lk p r lk p r

(7)

informan disimbolkan dalam bentuk angka. Angka-angka tersebut kemudian dijumlahkan dan diubah ke dalam bentuk persen kemudian ditabulasikan untuk Desa Pondok Batu menurut kriteria usianya.

3.6 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan infomal. Metode informal digunakan untuk menyajikan hasil analisis data dengan kata-kata biasa. Metode tersebut digunakan untuk menyajikan hasil analisis leksikon lingkungan kelautan. Metode formal digunakan untuk menyajikan hasil penelitin dengan rumusan dan angka seperti singkatan , rumus (%), (×) dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk menyajikan hasil analisis masalah yang kedua dan ketiga (Sudaryanto 1993:145).

(8)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Ekoleksikon Lingkungan Kelautan

Leksikon-leksikon yang terdapat di dalam penelitian ini merupakan hasil proses interaksi dan interelasi masyarakat Pesisir Sibolga dengan lingkungan kelautannya. Sebagai masyarakat yang bergantung dengan laut, bentuk interaksi dan interelasi berupa pemanfaatan lingkungan, seperti kegiatan menangkap sumber daya laut, kegiatan penjemuran ikan, kegiatan mengasinkan ikan, dan kegiatan jual-beli hasil laut.

Dari kegiatan kelautan tersebut ,Pesisir Sibolga secara umum memang bermatapencaharian sebagai nelayan. Dilihat dari dimensi lingkungan sosial, masyarakat Pesisir Sibolga yang plural dan heterogen. Sejak dahulu masyarakat Pesisir Sibolga merupakan jalur perdagangan yang ramai, terutama di pelabuhannya.

Berdasarkan parameter ekolinguistik, lingkungan memiliki keberagaman atau diservitas.keberagaman dalam suatu lingkungan dapat berupa unsur-unsur hayati (biotik) dan unsur nonhayati (abiotik). Adanya proses interaksi dan interelasi yang berjalin secara intensif antara masyarakat dengan lingkungannya, membentuk seperangkat pemahaman di dalam kognisi masyarakatnya. Pemahaman-pemahaman inilah yang termanifestasi ke dalam bentuk-bentuk bahasa lingkungan (ekoleksikon atau ekowacana). Dalam konteks ini, bahasa adalah milik manusia dan berada di dalam sistem kognisi manusia.

Dilihat dari dimensi lingkungan fisik, masyarakat Pesisir Sibolga yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah (tapteng). Sebagian daerah yang berada di Wilayah Pesisir (dekat dengan laut), masyarakat Pesisir Sibolga menyimpan potensi kelautan yang baik, sehingga menjadi sumber pemasokan ikan laut terbesar di Tapanuli Tengah (tapteng). Bahkan di antara pulau Poncan , pulau Kalinatung dan pulau Mursala terdapat potensi kelautan berupa ikan Tanggiri(ikan tenggiri)dan ikan Turisi (Kakap Merah) yang cukup menggiurkan,

(9)

dipasarkan hingga ke luar negeri. Di lain pihak, penangkapan sumber daya kelautan yang dilakukan oleh masyarakat Pesisir Sibolga juga digunakan untuk konsumsi diri sendiri, atau dijadikan umpan atau memeroleh tangkapan yang lebih besar. Pemanfaatan kekayaan alam (laut) yang dimiliki perairan pulau Sumatera, menjadikan masyarakat Pesisir Sibolga akrab dengan biota-biota laut tertentu

Gambar 1 : Bentuk-Bentuk Interaksi dan Interelasi Masyarakat Pesisir Sibolga Desa Pondok Batu, Kecamatan Sarudik , Kabupaten Tapanuli Tengah dengan

Lingkungan Kelautan (dokumentasi Pribadi)

Salah satu lingkungan ekonomi di masyarakat Pesisir Sibolga yang berhubungan dengan kelautan, yaitu Tempat Pendaratan Ikan (TPI) merupakan salah satu fasilitas pendukung ekonomi masyarakat. Tempat ini berfungsi sebagai tempat pengumpulan, penyimpanan, serta pemasaran hasil tangkapan nelayan. Selain itu, di masyarakat Pesisir Sibolga juga biasa dilakukan setiap hari para pedagang dari berbagai daerah yang berada di Tapanuli Tengah (tapteng) berkumpul untuk melakukan kegiatan jual-beli yang menjadi salah satu bentuk

(10)

interaksi dan interelasi merupakan hal yang cukup penting. Melalui proses atau kegiatan inilah masyarakat yang tidak secara langsung memeroleh ikan di laut (sebagai nelayan) dapat mengenal sejumlah biota-biota laut yang ada (tuntunan pemenuhan kebutuhan hidup. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Masyarakat Pesisir Sibolga, Desa Pondok Batu, Kecamatan Sarudik , Kabupaten Tapanuli Tengah, leksikon nomina terdiri atas 125 leksikon yang ditemukan dalam lingkungan kelautan dibedakan atas empat kelompok leksikon , yaitu : (1) Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan (96 Leksikon) ; (2) Leksikon Flora Lingkungan Kelautan (6 Leksikon), (3) Leksikon Sarana/Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan (12 Leksikon); dan (4) Leksikon Nomina Lingkungan Kepantaian (6 Leksikon). Sementara itu, leksikon verba merupakan aktivitas atau kegiatan kelautan masyarakat.

4.1.1 Leksikon Nomina

Nomina merupakan salah satu kategori atau kelas kata. Secara struktural nomina disebut juga dengan kata benda. Secara sintaksis, nomina tidak berpotensi untuk bergabung dengan partikel tidak dan berpotensi untuk di dahului partikel (Kridaklasana,2007 :68). Dalam penelitian ini kategori yang dimiliki oleh leksikon-leksikon lingkungan kelautan Masyarakat Pesisir Sibolga.

4.1.1.1 Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan

Fauna didefinisikan lingkungan hewan yang mencakup semua jenis hewan dan kehidupan yang berada suatu habitat, daerah,atau strata geologi tertentu. Leksikon fauna lingkungan kelautan adalah kelompok leksikon yang referensinya mengacu pada hewan-hewan (animalia) yang memiliki hubungan tentang hewan yang menyakup ke segala jenis serta juga macam hewan dan kehidupannya yang berada pada wilayah serta pada masa tertentu. keeretan terhadap lingkungan laut karena hidup atau berada di daerah sekitar laut/pesisir. Dari penelitian yang dilakukan , terkumpul 96 leksikon fauna lingkungan kelautan. Berikut ini adalah leksikon fauna lingkungan kelautan yang dipahami oleh masyarakat Pesisir Sibolga.

(11)

Tabel 4 1.

Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan

No. LEKSIKON GLOS/DESKRIPSI SINGKAT 1. Gambolo Sejenis ikan kembung kuning 2. Aso-aso Sejenis ikan kembung

3. Balautauce Sejenis ikan selayang 4. Timpik Ikan tongkol/umang-umang 5. Karamojo Ikan cakalang

6. Sisik Ikan madihang

7. Gurapu Ikan gurapu

8. Turisi Sejenis ikan kakap merah 9. Teter Baracuda ekor panjang

10. Baledang Ikan layar dengan bentuk tubuh panjang 11. Kapur – kapur Ikan timah-timah

12. Balanak Ikan balanak 13. Marang Ikan marang

14. Pari Ikan pari

15. Iyu Hiyu

16. Gaguk Ikan berkumis seperti lele/ ikan mayung

17. Jabung Ikan ayam-ayam

18. Kampi-kampi Ikan lubin kapas

19. Bada Ikan teri

20. Selar Ikan selar

21. Todak Ikan todak

22. Mangsi-mangsi Cumi-cumi 23. Kapur-kapur Timah-timah 24. 25. Baracun Taba bibi

Sejenis ikan kakap hijau

(12)

26. Tando Ikan jinaha

27. Kakap Ikan kakap

28. Tuan deman Sejenis ikan kembung halus 29. Balotokuning Ikan selar kuning / selar gelek

30. Kaling-kaling Sejenis ikan yang mempunyai ekor tegang / cincaru

31. Kape-kape Ikan kapas-kapas

32. Gabu Ikan kue

33. Sumbu-sumbu Sejenis ikan baracuda halus 34. Buttal Ikan buttal

35. Maning Ikan tamban

36. Bada Ikan teri

37. Todak Ikan todak

38. Cabe-cabe Sejenis ikan marang/partapus

39. Selar Ikan selar

40. Stermin Ikan dencis 41. Sambala Ikan sembela 42. Lidah-lidah Ikan lidah-lidah

43. Udang Udang

44. Kapiting Kepiting

45. Sotong Sejenis cumi-cumi besar

46. Gurita Gurita

47. Bajan Ikan moa

48. Bona Sejenis ikan bawal gajah 49. Jarang gigi Sejenis kakap kuning 50. Lumba-lumba Lumba-lumba

51. Marlin Ikan layaran 52. Sumbelang Ikan sumbelang

53. Maco aji Ikan berbentuk pipih agak lebar seperti bawal

54. Gaguk Ikan melayang

(13)

56. Bonta Ikan bonta

57. Aji-aji Sejenis ikan kerong bali 58. Jubaak Sejenis ikan kurapu 59. Bulan-bulan Ikan bulan-bulan 60. Palu-palu Palu-palu

61. Bawal Bawal

62. Cakalang Ikan cakalang

63. Sisik Seperti ikan tongkol (daging dalam lebih putih )

64. Sumpit-sumpit Ikan sumpit 65. Tenggiri Ikan tenggiri

66. Todak Ikan cendro

67. Ula lawik Ular laut

68. Walet Burung wallet

69. Gambolo Ikan gambolo 70. Sumedang Ikan sumedang 71. Strimin Ikan strimin

72. Samuk Semut

73. Nyamuk Nyamuk

74. Mancik Tikus

75. Lidah-lidah Ikan lidah

76. Lokan Kepah/kerang

77. Sepatu-sepatu Seperti kerang hijau 78. Pato-pato Sejenis kerang hijau 79. Simarhuruan Kerang

80. Siput Siput

81. Biduan Kepah/ kerang yang berwarna hijau 82. Rimis Kepah / kerang yang berwarna putih 83. Beliung Sejenis kerang hitam

84. Udang bingkarung Udang lopster 85. Udang kancing Udang lopster

(14)

86. Udang gostan Udang gostan 87. Udang windu Udang windu

88. Udang baring Sejenis udang yang bentuknya kecil 89. Bangao Burung bangau

90. Buayo Buaya

91. Kalilawar Kalilawar 92. Ubur-ubur Ubur-ubur

93. Bajan Sejenis ikan kerondong 94. Lulupoang Umang-umang

95. Bulu babi Bulu babi (berduri keras) 96. Kura-kura Kura- kura

Dari khazanah leksikon fauna lingkungan kelautan yang didaftarkan di atas, secara biologis hewan-hewan tersebur masuk ke dalam kelompok ikan, kelompok udang, kelompok kepiting, kelompok kerang, kelompok burung, kelompok serangga, dan kelompok reptil. Sebagai contoh , berikut ini dipaparkan beberapa fauna lingkungan kelautan. Leksikon-leksikon tersebut dipilih karena keeratannya , terhadap tingkat interaksi dan interelasi Masyarakat Pesisir Sibolga.

a) Timpik ‘ikan tongkol’

Leksikon timpik dalam bahasa Indonesia memiliki makna ‘ ikan tongkol’. Secara konseptual ikan timpik merupakan salah satu jenis ikan basah yang berukuran besar, memiliki banyak daging, ikan yang hidup di laut, bersisik. Pemahaman secara biologis ini dikodekan ke dalam bentuk lingual lainnya , yaitu sejenis ikan kembung mengacu pada timpik yang memiliki warna kehitam-hitaman. Timpik merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Hal ini menyebabkan timpik merupakan yang cukup berkelas di masyarakat dengan rasa yang paling enak (dimensi ideologis). Oleh sebagian masyarakat, timpik biasa disajikan di dalam hidangan gulai, seperti pada bentuk lingual manggule timpik ‘menggulai timpik ‘ atau gulai timpik ‘ (dimensi sosiologis).

(15)

Gambar 1.Timpik ‘ikan tongkol’ (dokumentasi pribadi) b) Bada ‘ikan teri’

Leksikon bada dalam bahasa Indonesia nemiliki makna ‘ikan teri’ secara konseptual bada merupakan salah satu jenis ikan basah dan kering yang diasinkan , memiliki sedikit daging,berbentuk pipih dengan ukuran yang relatif kecil.

Selain itu, terdapat bentuk lingual lain berupa bada jaring, bada nasi yang dapat ditelisik dari dimensi biologisnya. Bada jaring memiliki badan yang silindris, kepala pendek , berwarna pucat dengan ukuran sedikit lebih besar dari bada yang lain. Bada nasi merupakan larva teri yang masih halus dengan ukuran yang paling kecil. Dilihat dari dimensi sosiologis , bada banyak ditangkap karena memiliki arti penting sebagai bahan makanan , baik sebagai ikan segar maupun dikeringkan. Bada nasi cukup digemari oleh para penikmat kuliner laut, karena memiliki aroma yang khas.

(16)

Gambar 2 bada/ikan teri yang basah (dokumentasi pribadi)

Gambar 3 bada/ikan teri yang diasinkan (dokumentasi pribadi) c) Mangsi-mangsi ‘cumi-cumi’

Leksikon mangsi-mangsi dalam bahasa Indonesia memiliki makna ‘cumi-cumi’. Secara konseptual , adalah sejenis ikan laut yang memiliki bentuk tubuh yang agak aneh dari ikan laut pada umumnya, bentuk tubuh ikan

(17)

cumi-cumiadalah silinder kerucut memanjang dengan warna dasar bening kaca transparan disertai warna-warna lainnya sesuai kamuflase pada area tempat cumi-cumi itu berada. Habitat cumi-cumi-cumi-cumi ada pada perairan dangkal maupun perairan

dalam.

Gambar 4 mangsi-mangsi/cumi-cumi (dokumentasi pribadi) d) Teter ‘ baracuda’

Leksikon teter dalam bahasa Indonesia memiliki makna ‘ikanbaracuda’(Actinopterygii). Secara konseptual , ikan ini merupakan ikan yang memiliki mulut yang panjang berisi gigi besar tajam seperti pisau. Tubuhnya yang ramping dan kuat membantu mereka berenang dengan cepat. Mereka memiliki dua sirip di bagian belakang dan sisik kecil pada tubuh. Ikan ini memiliki habitat hidup pada daerah pantai yang berkarang.

e) Udang ‘udang’

Leksikon ini memiliki bentuk dan makna yang sama dalam bahasa Indonesia (penaeidae). Di lihat dari KBBI, secara konseptual udang merupakan binatang tidak bertulang , hidup dalam air, berkulit keras, berkaki sepuluh, berekor pendek, dan bersepit dua pada kaki depannya, binatang yang hidup diperairairan, khususnya kelautan Pesisir Sibolga. Pemahaman secara biologis ini dikodekan ke dalam bentuk udang bingkarung, udang kancing, udang baring, udang kelong, udang windu. Udang merupakan salah satu makanan protein bagi

(18)

tubuh. Namun, oleh sebagian kalangan sajian udang dianggap makanan pantangan salah satu bagi penderita alergi makanan laut. Gambar- gambar jenis udang :

Gambar 5 Udang bingkarung (dokumentasi pribadi)

(19)

Gambar 7 Udang baring (dokumentasi pribadi)

(20)

Gambar 9 Udang windu (dokumentasi pribadi) f) kapiting ‘kepiting’

Leksikon kapiting bermakna ‘kepiting’ dalam bahasa Indonesia. Di lihat dari KBBI ,secara konseptual , kepiting merupakan ketam yang hidup di pantai,binatang anggota krustasea, berkaki sepuluh, mempunyai ekor yang sangat pendek, tubuh kepiting dilindungi oleh cangkang yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah nama lain dari kepiting.

(21)

4.1.1.2 Leksikon Flora Lingkungan Kelautan

Leksikon flora lingkungan kelautan adalah kelompok leksikon yang referensinya mengacu sebagai alam tumbuhan-tumbuhan yang memiliki hubungan keeratan terhadap lingkungan laut karena hidup atau berada di daerah sekitar laut/pesisir. Masyarakat Pesisir Sibolga. Leksikon-leksikon tersebut merupakan leksikon yang tergolong kepada kategori lingkungan biotik (makhluk hidup). Dari penelitian yang di lakukan terkumpul 6 leksikon flora lingkungan kelautan . berikut ini adalah leksikon flora lingkungan kelautan secara kolektif dipahami oleh masyarakatnya.

Tabe 4 2.

Leksikon Flora Lingkungan Kelautan

NO LEKSIKON GLOS/DESKRIPSI SINGKAT

1. Bako (mangrove) Tumbuhan bakau (mangrove)Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri yang menyolok berupa tertutup daun penumpu yang meruncing. 2. Pandan Pohon pandan merupakan tumbuh liar di tepi

sungai, tepi rawa, dan di tempat-tempat yang agak lembab, tumbuh subur dari daerah laut. 3. Terumbu karang Terumbu karang merupakan habitat hidup

sejumlah spesies bintang laut, tempat pemijahan, peneluran dan pembesaran anak-anak ikan.

4. Karambi Pohon kelapa merupakan tumbuhan palem yang berbatang tinggi, buahnya tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging yang mengandung santan dan air.

(22)

5. Ketapang Ketapang (Terminalia catappa) adalah nama sejenis pohon tepi laut yang rindang. Lekas tumbuh dan membentuk tajuk indah bertingkat-tingkat, ketapang kerap dijadikan pohon peneduh di taman-taman dan tepi laut. 6. Rumput laut Rumput laut merupakan salah satu sumber

daya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut.

a) Bako ‘bakau’

Leksikon bako dalam bahasa Indonesia bermakna ‘bakau’. Secara konseptual bakau adalah tumbuhan yang memiliki ciri-ciri yang mencolok berupa akar tunjang yang besar dan berkayu, pucuk yang tertutup daun penumpu yang meruncing. Khusus tumbuhan bakau ini hidupnya di pinggir pantai, tumbuhan bakau ini memiliki akar tunjang yang menyolok bercabang-cabang, akar tunjang merupakan bentuk adaptasi tumbuhan bakau di daerah lingkungan pantai, daun tunggal terletak berhadapan terkumpul di ujung ranting dengan kuncup tertutup, daun penumpu yang menggulung runcing, daun helai eliptis tebal dan licin serupa kulit hijau atau hijau muda kekuning-kuningan, berujung runcing dan bertangkai. Kayu bakau memiliki kegunaan yang baik sebagai bahan bangunan,dan kayu bakar (dimensi sosiologis).

(23)

Gambar 11 bako ‘bakau’ (dokumentasi pribadi)

b) Terumbu karang ‘terumbu karang ‘

Leksikon terumbu karang dalam bahasa Indonesia bermakna ‘terumbu karang’. Secara konseptual terumbu karang adalah (coral reef) bukan sekedar menjadi tempat hidup dan berkembang biota laut belaka. Namun terumbu karang mempunyai fungsi dan peran yang tidak bisa diremehkan bagi lingkungan secara keseluruhan (baik di laut, pesisir, maupun darat), dan bagi kehidupan manusia. Secara garis besar, fungsi dan manfaat terumbu karang bagi lingkungan dan manusia dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yakni manfaat secara ekologi, ekonomi, dan sosial.

c) Karambi ‘pohon kelapa’

Leksikon karambi dalam bahasa Indonesia bermakna ‘pohon kelapa’.Di lihat dari KBBI kelapa secara konseptual merupakan tumbuhan palem yang

(24)

berbatang tinggi, buahnya tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging yang mengandung santan dan air.

Karambi atau pohon kelapa merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai kegunaan yang cukup besar. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk segala kebutuhan. Dari dimensi biologis tanaman karambi terdapat ungkapan yang merujuk pada bagian-bagian tanaman tersebut, seperti buah karambi’ buah kelapa’, daun karambi’daun kelapa’ ai karambi’air karambi’, sabuk karambi’sabut kelapa’, batok karambi’batok kelapa’. Dari dimensi sosiologis, daun karambi biasa digunakan sebagai salah satu komponen untuk membuat janur kuning dalam pesta pernikahan.

Gambar 12 karambi ‘pohon kelapa’ (dokumentasi pribadi)

4.1.1.3 Leksikon Sarana/Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan

Sarana merupakan segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan. Prasana merupakan segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Leksikon sarana dan prasana aktivitas lingkungan kelautan adalah kelompok leksikon yang referensinya

(25)

merujuk kepada alat atau segala sesuatu yang menjadi penunjang dalam kegiatan lingkungan kelautan.

Tabel 4.3

Leksikon Sarana/Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan

No LEKSIKON GLOS/DESKRIPSI SINGKAT

KETERANGAN FUNGSI ENTITAS

1. Pukek Pukat adalah semacam jaring besar dan panjang untuk menangkap ikan.

Alat penangkap ikan yang besar dan panjang untuk menangkap ikan

2. Jaring Jaring adalah alat yang digunakan untuk menangkap ikan yang biasanya dibentuk oleh benang jahitan yang relatif tipis mengikat.

Alat tangkap ikan yang berupa tali atau benang yang membentuk mata jala.

3. Tanggok Tangguk merupakan

peralatan tangkap tradisional Pesisir yang digunakan untuk menangkap ikan, udang atau hewan air lainnya.

Keranjang dari rotan untuk menangkap ikan, udang atau hewan air lainnya.

4. Jala Jaladisebut (jaring lempar) adalah jaring ikan yang berbentuk lingkaran kecil dengan pemberat pada tepi-tepinya yang dilempar atau ditebar oleh nelayan.

Alat untuk penangkap ikan yang merupakan jaring bulat (penggunaannya dengan cara dilempar atau ditebar ke air).

(26)

5. Bagan Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan pelagis kecil.

Pangkalan tiang dan kayu untuk menangkap ikan

6. Sampan Sampan adalah alat transportasi air, yang digunakan untuk menangkap ikan

Perahu kecil yang digunakan untuk menangkap ikan

7. Kai

Kail adalah salah satu alat untuk menangkap ikan yang digunakan untuk memancing

Kawat yang ujungnya berkait dan tajam, yang

digunakan untuk menangkap ikan.

8. Pelabuhan Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari dataran dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi

tempat kapal bersandar, berlabuh naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang

9. Jaring banam Jaring benam adalah alat yang

digunakan untuk menangkap ikan Jaring benam

biasanya dibentuk oleh benang

Alat yang digunakan untuk menangkap ikan

(27)

jahitan yang relatif tipis mengikat.

Dari data leksikon di atas, leksikon sarana dan prasana aktivitas lingkungan kelautan dapat berupa alat-alat tangkap sumber daya kelautan yang biasa digunakan oleh masyarakat, alat-alat transportasi, tempat atau bangunan , serta bahan atau alat penjemuran ikan. Alat-alat transportasi berupa bagan dan sampan, bangunan atau tempat pengolahan ikan berupa pelabuhan.

4.1.1.4 Leksikon Nomina Lingkungan Kelautan

Leksikon nomina lingkungan kelautan adalah leksikon nomina berupa hal-hal yang berkaitan erat dengan daerah laut. Dari penelitian yang dilakukan, terkumpul enam leksikon nomina leksikon kelautan. Leksikon kelautan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4

Leksikon Nomina Lingkungan Kelautan

No. LEKSIKON GLOS/ KETERANGAN

1. Bade Badai merupakan angin kencang

yang menyertai cuaca buruk (yang datang secara tiba-tiba)

2. Suruk Surut merupakan pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala

3. Kasik Pasir merupakan butir-butir batu yang halus atau timbunan pasir halus 4. Karang Karang merupakan batu kapur di laut

yang terjadi dari zat yang dikeluarkan oleh binatang kecil di laut

(28)

turunnya posisi permukaan perairan oleh pengaruh oleh gaya gravitasi bulan dan matahari

6. Luluk Lumpur merupakan tanah lunak dan berair (tanah becek)

4.2 Pemahaman Masyarakat Desa Pondok Batu terhadap Leksikon Nomina dalam Bahasa Pesisir Sibolga

Untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat Desa Pondok Batu terhadap leksikon nomina yang telah dikumpulkan, Jumlah penduduk yang memenuhi criteria responden berjumlah 1.250 orang. Responden yang berusia remaja berjumlah 400 orang, dewasa berjumlah 400 orang, dan tua berjumlah 450 orang. Jumlah responden diambil dari tiap usia adalah 10%. Jadi, responden berusia remaja berjumlah 40 orang, dewasa berjumlah 40 orang, dan tua 45 orang. Jumlah keseluruhan responden adalah 125 orang. dilakukan pengujian kepada 125 orang responden yang telah dibagi menjadi tiga kelompok. Daftar leksikon ini diujikan kepada 125 orang responden tersebut dengan memberikan tiga pilihan jawaban yaitu: (a) Mengenal, pernah melihat, dan Pernah mendengarkan, (b) Pernah mendengar , dan melihat , (c) Tidak tau (tidak pernah melihat).

4.2.1 Pemahaman Leksikon Nomina Fauna Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 15-20 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 15-20 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 96 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.5 ,leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 2,975 (77,4%), kategori II jumlah pemahamn 626 (16,5%) , kategori III jumlah pemahaman 245 (6,5%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon Fauna dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman (JP) 245 (6,5%) Dengan demikian secara keseluruhan

(29)

pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 15-20 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 2,975 (77,4) dan kategori III (tidak pernah tahu) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 245 (6,5%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia 15-20 tahun tidak bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.5

Deskripsi Pemahaman Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia 15-20 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Gambolo 40 100 0 0 0 0 2. Aso-aso 35 87,5 5 12,5 0 0 3. Balautauce 37 92,5 0 0 3 7,5 4. Timpik 21 52,5 19 47,5 0 0 5. Karamojo 30 75 30 75 0 0 6. Sisik 27 67,5 13 32,5 0 0 7. Gurapu 24 60 16 40 0 0 8. Turisi 25 62,5 0 0 15 37,5 9. Teter 20 50 20 50 0 0 10. Baledang 39 97,5 1 2,5 0 0 11. Kapur – kapur 33 82,5 7 17,5 0 0 12. Balanak 22 55 0 0 18 45 13. Marang 19 47,5 21 52,5 0 0 14. Pari 15 37,5 25 62,5 0 0 15. Iyu 12 30 0 0 28 70 16. Gaguk 18 45 22 55 0 0

(30)

17. Jabung 34 85 6 15 0 0 18. Kampi-kampi 16 40 24 60 0 0 19. Bada 33 82,5 0 0 7 17,5 20. Selar 14 35 26 65 0 0 21. Todak 32 80 8 20 0 0 22. Mangsi-mangsi 23 57,5 0 0 17 42,5 23. Kapur-kapur 13 32,5 27 67,5 0 0 24. 25. Baracun Taba bibi 26 17 65 42,5 14 0 35 0 0 23 0 57,5 26. Tando 10 25 30 75 0 0 27. Kakap 36 90 4 10 0 0 28. Tuan deman 11 27,5 0 0 29 72,5 29. Balotokuning 28 70 0 0 12 30 30. Kaling-kaling 31 77,5 9 22,5 0 0 31. Kape-kape 29 72,5 11 27,5 0 0 32. Gabu 33 82,5 7 17,5 0 0 33. Sumbu-sumbu 38 95 0 0 2 5 34. Buttal 40 100 0 0 0 0 35. Maning 40 100 0 0 0 0 36. Bada 40 100 0 0 0 0 37. Todak 40 100 0 0 0 0 38. Cabe-cabe 40 100 0 0 0 0 39. Selar 40 100 0 0 0 0 40. Stermin 40 100 0 0 0 0 41. Sambala 40 100 0 0 0 0 42. Lidah-lidah 40 100 0 0 0 0 43. Udang 40 100 0 0 0 0 44. Kapiting 40 100 0 0 0 0 45. Sotong 40 100 0 0 0 0 46. Gurita 40 100 0 0 0 0

(31)

47. Bajan 40 100 0 0 0 0 48. Bona 40 100 0 0 0 0 49. Jarang gigi 40 100 0 0 0 0 50. Lumba-lumba 40 100 0 0 0 0 51. Marlin 9 22,5 31 77,5 0 0 52. Sumbelang 22 55 18 45 0 0 53. Maco aji 14 35 0 0 26 65 54. Gaguk 31 77,5 9 22,5 0 0 55. Jumbo 28 70 12 30 0 0 56. Bonta 8 20 0 0 32 80 57. Aji-aji 17 42,5 23 57,5 0 0 58. Jubaak 24 60 16 40 0 0 59. Bulan-bulan 27 67,5 13 32,5 0 0 60. Palu-palu 33 82,5 7 17,5 0 0 61. Bawal 19 47,5 21 52,5 0 0 62. Cakalang 25 62,5 15 37,5 0 0 63. Sisik 40 100 0 0 0 0 64. Sumpit-sumpit 21 52,5 0 0 19 47,5 65. Tenggiri 21 52,5 19 47,5 0 0 66. Todak 29 72,5 11 27,5 0 0 67. Ula lawik 40 100 0 0 0 0 68. Walet 40 100 0 0 0 0 69. Gambolo 38 95 2 5 0 0 70. Sumedang 30 75 10 25 0 0 71. Strimin 23 57,5 17 42,5 0 0 72. Samuk 40 100 0 0 0 0 73. Nyamuk 40 100 0 0 0 0 74. Mancik 40 100 0 0 0 0 75. Lidah-lidah 25 62,5 15 37,5 0 0 76. Lokan 40 100 0 0 0 0 77. Sepatu-sepatu 19 47,5 21 52,5 0 0

(32)

78. Pato-pato 10 25 30 75 0 0 79. Simarhuruan 40 100 0 0 0 0 80. Siput 40 100 0 0 0 0 81. Biduan 40 100 0 0 0 0 82. Rimis 40 100 0 0 0 0 83. Beliung 31 77,5 0 0 9 22,5 84. Udang bingkarung 40 100 0 0 0 0 85. Udang kancing 40 100 0 0 0 0 86. Udang gostan 40 100 0 0 0 0 87. Udang windu 40 100 0 0 0 0 88. Udang baring 40 100 0 0 0 0 89. Bangao 40 100 0 0 0 0 90. Buayo 40 100 0 0 0 0 91. Kalilawar 40 100 0 0 0 0 92. Ubur-ubur 40 100 0 0 0 0 93. Bajan 35 87,5 0 0 5 12,5 94. Lulupoang 35 87,5 0 0 5 12,5 95. Bulu babi 40 100 0 0 0 0 96. Kura-kura 40 100 0 0 0 0 Total 2.975 7.437,5 626 1.587 245 625 Rata-rata 77,4 16,5 6,5

4.2.2 Pemahaman Leksikon Nomina Fauna Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 21-45 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 21-45 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 96 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.6 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 3.011 (77,6%) kategori II jumlah pemahamn 603 (16,3) , kategori III jumlah pemahaman 221

(33)

(6,16%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon Fauna dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 21-45 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 3.011 (77,6%) dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 603 (16,3%) Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia 21-45 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.6

Deskripsi Pemahaman Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan Nomina Generasi 21-45 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Gambolo 37 92,6 0 0 3 7,5 2. Aso-aso 35 87,5 5 12,5 0 0 3. Balautauce 40 100 0 0 0 0 4. Timpik 30 75 30 75 0 0 5. Karamojo 24 60 16 40 0 0 6. Sisik 27 67,5 13 32,5 0 0 7. Gurapu 39 97,5 1 2,5 0 0 8. Turisi 20 50 20 50 0 0 9. Teter 25 62,5 0 0 15 37,5 10. Baledang 33 82,5 7 17,5 0 0 11. Kapur – kapur 21 52,5 19 47,5 0 0 12. Balanak 15 37,5 25 62,5 0 0

(34)

13. Marang 22 55 0 0 18 45 14. Pari 19 47,5 21 52,5 0 0 15. Iyu 34 85 6 15 0 0 16. Gaguk 18 45 22 55 0 0 17. Jabung 12 30 0 0 28 70 18. Kampi-kampi 14 35 26 65 0 0 19. Bada 33 82,5 0 0 7 17,5 20. Selar 16 40 24 60 0 0 21. Todak 26 65 14 35 0 0 22. Mangsi-mangsi 23 57,5 0 0 17 42,5 23. Kapur-kapur 32 80 8 20 0 0 24. 25. Baracun Taba bibi 13 10 32,5 25 27 30 67,5 75 0 0 0 0 26. Tando 17 42,5 0 0 23 57,5 27. Kakap 28 70 0 0 12 30 28. Tuan deman 11 27,5 0 0 29 72,5 29. Balotokuning 33 82,5 7 17,5 0 0 30. Kaling-kaling 29 72,5 11 27,5 0 0 31. Kape-kape 31 77,5 9 22,5 0 0 32. Gabu 36 90 4 10 0 0 33. Sumbu-sumbu 40 100 0 0 0 0 34. Buttal 38 95 0 0 2 5 35. Maning 40 100 0 0 0 0 36. Bada 40 100 0 0 0 0 37. Todak 40 100 0 0 0 0 38. Cabe-cabe 40 100 0 0 0 0 39. Selar 40 100 0 0 0 0 40. Stermin 40 100 0 0 0 0 41. Sambala 40 100 0 0 0 0 42. Lidah-lidah 40 100 0 0 0 0

(35)

43. Udang 40 100 0 0 0 0 44. Kapiting 40 100 0 0 0 0 45. Sotong 40 100 0 0 0 0 46. Gurita 40 100 0 0 0 0 47. Bajan 40 100 0 0 0 0 48. Bona 40 100 0 0 0 0 49. Jarang gigi 9 22,5 31 77,5 0 0 50. Lumba-lumba 40 100 0 0 0 0 51. Marlin 40 100 0 0 0 0 52. Sumbelang 31 77,5 9 22,5 0 0 53. Maco aji 40 100 0 0 0 0 54. Gaguk 22 55 18 45 0 0 55. Jumbo 8 20 0 0 32 80 56. Bonta 28 70 12 30 0 0 57. Aji-aji 24 60 16 40 0 0 58. Jubaak 17 42,5 23 57,5 0 0 59. Bulan-bulan 27 67,5 13 32,5 0 0 60. Palu-palu 25 62,5 15 37,5 0 0 61. Bawal 33 82,5 7 17,5 0 0 62. Cakalang 19 47,5 21 52,5 0 0 63. Sisik 40 100 0 0 0 0 64. Sumpit-sumpit 29 72,5 11 27,5 0 0 65. Tenggiri 21 52,5 0 0 19 47,5 66. Todak 21 52,5 0 0 19 47,5 67. Ula lawik 40 100 0 0 0 0 68. Walet 40 100 0 0 0 0 69. Gambolo 30 75 10 25 0 0 70. Sumedang 38 95 2 5 0 0 71. Strimin 23 57,5 17 42,5 0 0 72. Samuk 40 100 0 0 0 0 73. Nyamuk 40 100 0 0 0 0

(36)

74. Mancik 40 100 0 0 0 0 75. Lidah-lidah 10 25 30 75 0 0 76. Lokan 40 100 0 0 0 0 77. Sepatu-sepatu 25 62,5 15 37,5 0 0 78. Pato-pato 19 47,5 21 52,5 0 0 79. Simarhuruan 40 100 0 0 0 0 80. Siput 40 100 0 0 0 0 81. Biduan 40 100 0 0 0 0 82. Rimis 40 100 0 0 0 0 83. Beliung 31 77,5 0 0 9 22,5 84. Udang bingkarung 40 100 0 0 0 0 85. Udang kancing 40 100 0 0 0 0 86. Udang gostan 40 100 0 0 0 0 87. Udang windu 40 100 0 0 0 0 88. Udang baring 40 100 0 0 0 0 89. Bangao 40 100 0 0 0 0 90. Buayo 40 100 0 0 0 0 91. Kalilawar 40 100 0 0 0 0 92. Ubur-ubur 40 100 0 0 0 0 93. Bajan 40 100 2 5 0 0 94. Lulupoang 40 100 0 0 4 10 95. Bulu babi 40 100 0 0 0 0 96. Kura-kura 40 100 0 0 0 0 TOTAL 3.011 7.456,6 603 1.572 221 592 RATA-RATA 77,6 16,3 6,16

(37)

4.2.3 Pemahaman Leksikon Nomina Fauna Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia ≥ 46 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia ≥ 46 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 96 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.7, leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 45 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 3.654 (85,2%) kategori II jumlah pemahamn 1.015 (10,39%), kategori III jumlah pemahaman 137 (2,221%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon Fauna dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi ≥ 45 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 3.654 (85,2%) dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 1.015 (10,39%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia ≥46 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.7

Deskripsi Pemahaman Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan Nomina Generasi ≥ 46 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Gambolo 45 100 0 0 0 0 2. Aso-aso 40 88,88 5 11,11 0 0 3. Balautauce 38 84,44 7 15,55 0 0 4. Timpik 42 93,33 3 6,66 0 0

(38)

5. Karamojo 41 91,11 4 8,88 0 0 6. Sisik 45 100 0 0 0 0 7. Gurapu 45 100 0 0 0 0 8. Turisi 39 86,66 6 13,33 0 0 9. Teter 45 100 0 0 0 0 10. Baledang 45 100 0 0 0 0 11. Kapur – kapur 45 100 0 0 0 0 12. Balanak 43 95,55 0 0 2 4,44 13. Marang 27 60 0 0 18 40 14. Pari 45 100 0 0 0 0 15. Iyu 45 100 0 0 0 0 16. Gaguk 45 100 0 0 0 0 17. Jabung 40 88,88 5 11,11 0 0 18. Kampi-kampi 40 88,88 5 11,11 0 0 19. Bada 45 100 0 0 0 0 20. Selar 28 62,22 17 37,77 0 0 21. Todak 43 95,55 2 4,44 0 0 22. Mangsi-mangsi 45 100 0 0 0 0 23. Kapur-kapur 26 57,55 19 42,22 0 0 24. 25. Baracun Taba bibi 31 29 68,88 64,44 0 16 0 35,55 14 0 31,11 0 26. Tando 18 40 27 60 0 0 27. Kakap 24 53,33 21 46,66 0 0 28. Tuan deman 45 100 0 0 0 0 29. Balotokuning 41 91,11 4 8,88 0 0 30. Kaling-kaling 43 95,55 0 0 2 4,44 31. Kape-kape 45 100 0 0 0 0 32. Gabu 45 100 0 0 0 0 33. Sumbu-sumbu 45 100 0 0 0 0 34. Buttal 27 60 0 0 18 40

(39)

35. Maning 45 100 0 0 0 0 36. Bada 45 100 0 0 0 0 37. Todak 24 53,33 21 46,66 0 0 38. Cabe-cabe 45 100 0 0 0 0 39. Selar 21 46,66 24 53,33 0 0 40. Stermin 19 42,22 26 57,77 0 0 41. Sambala 15 33,33 30 66,66 0 0 42. Lidah-lidah 11 24,44 34 75,55 0 0 43. Udang 45 100 0 0 0 0 44. Kapiting 45 100 0 0 0 0 45. Sotong 45 100 0 0 0 0 46. Gurita 45 100 0 0 0 0 47. Bajan 23 51,11 0 0 22 48,88 48. Bona 28 62,22 0 0 17 37,77 49. Jarang gigi 40 88,88 5 11,11 0 0 50. Lumba-lumba 45 100 0 0 0 0 51. Marlin 31 68,88 14 31,11 0 0 52. Sumbelang 23 51,11 22 48,88 0 0 53. Maco aji 40 88,88 5 11,11 0 0 54. Gaguk 24 53,33 21 46,66 0 0 55. Jumbo 11 24,44 34 75,55 0 0 56. Bonta 15 33,33 0 0 30 66,66 57. Aji-aji 27 60 18 40 0 0 58. Jubaak 21 46,66 24 53,33 0 0 59. Bulan-bulan 25 55,55 20 44,44 0 0 60. Palu-palu 34 75,55 11 24,44 0 0 61. Bawal 37 82,22 8 17,77 0 0 62. Cakalang 41 91,11 4 8,88 0 0 63. Sisik 45 100 0 0 0 0 64. Sumpit-sumpit 31 68,88 0 0 14 31,11 65. Tenggiri 45 100 0 0 0 0

(40)

66. Todak 23 51,11 22 48,88 0 0 67. Ula lawik 45 100 0 0 0 0 68. Walet 45 100 0 0 0 0 69. Gambolo 45 100 0 0 0 0 70. Sumedang 45 100 0 0 0 0 71. Strimin 45 100 0 0 0 0 72. Samuk 45 100 0 0 0 0 73. Nyamuk 45 100 0 0 0 0 74. Mancik 45 100 0 0 0 0 75. Lidah-lidah 45 100 0 0 0 0 76. Lokan 45 100 0 0 0 0 77. Sepatu-sepatu 45 100 0 0 0 0 78. Pato-pato 45 100 0 0 0 0 79. Simarhuruan 45 100 0 0 0 0 80. Siput 45 100 0 0 0 0 81. Biduan 45 100 0 0 0 0 82. Rimis 45 100 0 0 0 0 83. Beliung 45 100 0 0 0 0 84. Udang bingkarung 45 100 0 0 0 0 85. Udang kancing 45 100 0 0 0 0 86. Udang gostan 45 100 0 0 0 0 87. Udang windu 45 100 0 0 0 0 88. Udang baring 45 100 0 0 0 0 89. Bangao 45 100 0 0 0 0 90. Buayo 45 100 0 0 0 0 91. Kalilawar 45 100 0 0 0 0 92. Ubur-ubur 45 100 0 0 0 0 93. Bajan 45 100 0 0 0 0 94. Lulupoang 45 100 0 0 0 0 95. Bulu babi 45 100 0 0 0 0 96. Kura-kura 45 100 0 0 0 0

(41)

TOTAL 3.654 8.186 1.015 997,6 137 304,4

RATA-RATA 85,2 10,39 3,27

4.2.4 Pemahaman Leksikon Nomina Flora Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 15-20 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 15-20 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.8, leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 217 (90,41%) ,kategori II jumlah pemahamn12 (5%) , kategori III jumlah pemahaman 11 (4,58%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon flora dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 11 (4,58%) Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 15-20 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 217 (90,41%) dan kategori III (tidak pernah tahu) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 11 (4,58%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia 15-20 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

(42)

Tabel 4.8

Deskripsi Pemahaman Leksikon Flora Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia 15-20 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bako (mangrove) 40 100 0 0 0 0 2. Pandan 37 92,5 0 0 3 7,5 3. Terumbu karang 40 100 0 0 0 0 4. Karambi 32 80 0 0 8 20 5. Ketapang 29 72,5 11 27,5 0 0 6. Rumput laut 39 97,5 1 2,5 0 0 TOTAL 217 542,5 12 30 11 27,5 RATA-RATA 90,41 5 4,58

4.2.5 Pemahaman Leksikon Nomina Flora Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 21-45 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 21-45 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.9, leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 227 (81,25%) kategori II jumlah pemahamn 4 (3%) kategori III jumlah pemahaman 21 (0,41%) Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon Flora dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 21-45 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah

(43)

pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 227 (81,25%) dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 4 (3%) Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia 21-45 tahun tidak bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.9

Deskripsi Pemahaman Leksikon Flora Lingkungan Kelautan Nomina Generasi 21-45 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bako (mangrove) 40 100 0 0 0 0 2. Pandan 39 97,5 1 2,5 0 0 3. Terumbu karang 39 97,5 0 0 1 2,5 4. Karambi 40 100 0 0 0 0 5. Ketapang 37 92,5 3 7,5 0 0 6. Rumput laut 32 0 0 8 20 0 TOTAL 227 487,5 4 18 21 2,5 RATA-RATA 81,25 3 0,41

4.2.6 Pemahaman Leksikon Nomina Flora Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia ≥ 46 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia ≥ 46 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.10, leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 45 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut

(44)

diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 234 (88,60%) kategori II jumlah pemahamn 19 (7,03%), kategori III jumlah pemahaman 17 (6,29%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon Fauna dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi ≥ 46 tahun jumlah pemahaman le ksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 234 (88,60%) dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 19 (7,03%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna dalam lingkungan kelautan pada usia ≥ 46 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.10

Deskripsi Pemahaman Leksikon Flora Lingkungan Kelautan Nomina Generasi ≥ 46 Tahun N0 LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bako (mangrove) 45 100 0 0 0 0 2. Pandan 42 105 3 6,66 0 0 3. Terumbu karang 35 77,77 0 0 10 22,22 4. Karambi 45 100 0 0 0 0 5. Ketapang 29 64,44 16 35,55 0 0 6. Rumput laut 38 84,44 0 0 7 15.55 TOTAL 234 531,65 19 42,21 17 37,77 RATA-RATA 88,60 7,03 6,29

(45)

4.2.7 Pemahaman Leksikon Nomina Sarana/Prasana Aktivitas Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 15-20 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 15-20 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 10 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.11 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 316 (7,9%), kategori II jumlah pemahamn 64 (2,69%), kategori III jumlah pemahaman 15 (3,75%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon sarana/prasana aktivitas dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman JP 15 (3,75%). Demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 15-20 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman dan kategori 316 (7,9%), III (tidak pernah tahu) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 15 (3,75%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon sarana/prasana aktivitas lingkungan kelautan nomina pada usia 15-20 tahun tidak bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

(46)

Tabel 4.11

Deskripsi Pemahaman Leksikon Sarana/Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia 15-20 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Pukek 40 100 0 0 0 0 2. Jaring 23 57,5 17 42,5 0 0 3. Tanggok 13 32,5 27 67,5 0 0 4. Jala 35 87,5 5 12,5 0 0 5. Bagan 39 97,5 0 0 1 2,5 6. Sampan 40 100 0 0 0 0 7. Kai 26 65 0 0 14 35 8. Pelabuhan 39 97,5 1 2,5 0 0 9. Garam 40 100 0 0 0 0 10. Jaring benam 21 52,5 19 47,5 0 0 RATA-RATA 316 790 64 172,5 15 37,5 TOTAL 7,9 17,25 3,75

4.2.8 Pemahaman Leksikon Nomina Sarana/Prasana Aktivitas Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia 21-45 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 21-45 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 10 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.12 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 342 (85,5%), kategori II jumlah pemahaman 41 (2,5%), kategori III jumlah pemahaman 17

(47)

(4,25%) Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon sarana/prasana aktivitas dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 21-45 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 342 (85,5%) dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 41 (10,25%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon sarana/prasana aktivitaas lingkungan kelautan nomina pada usia 21-45 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.12

Deskripsi Pemahaman Leksikon Sarana/Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan Nomina Generasi 21-45 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Pukek 23 57,5 17 42,5 0 0 2. Jaring 40 100 0 0 0 0 3. Tanggok 17 42,5 23 57,5 0 0 4. Jala 35 87,5 0 0 5 12,5 5. Bagan 39 97,5 1 2,5 0 0 6. Sampan 40 100 0 0 0 0 7. Kai 40 100 0 0 0 0 8. Pelabuhan 31 77,5 0 0 9 22,5 9. Garam 40 100 0 0 0 0 10. Jaring benam 37 92,5 0 0 3 7,5 TOTAL 342 855 41 102,5 17 42,5 RATA-RATA 85,5 10,25 4,25

(48)

4.2.9 Pemahaman Leksikon Nomina Sarana/Prasana Aktivitas Dalam Lingkungan Kelautan Generasi Usia ≥ 46 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia ≥ 46 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 10 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.13, leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 45 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 405 (91,05%), kategori II jumlah pemahaman 34 (7,55%), kategori III jumlah pemahaman 11 (2,44%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon sarana/prasana aktivitas dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi ≥ 46 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 405 (91,05%), dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 11 (2,44%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina sarana/prasana aktivitas dalam lingkungan kelautan pada usia ≥ 46 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.13

Deskripsi Pemahaman Leksikon Sarana/ Prasana Aktivitas Lingkungan Kelautan Nomina Generasi ≥ 46 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Pukek 45 100 0 0 0 0 2. Jaring 30 66,66 15 33,33 0 0 3. Tanggok 39 86,66 6 13,33 0 0 4. Jala 42 93,33 3 6,66 0 0

(49)

5. Bagan 41 91,11 0 0 4 8,888 6. Sampan 45 100 0 0 0 0 7. Kai 45 100 0 0 0 0 8. Pelabuhan 38 95 0 0 7 15,55 9. Garam 45 100 0 0 0 0 10. Jaring benam 35 77,77 10 22,22 0 0 TOTAL 405 910,53 34 75,54 11 24,43 RATA-RATA 91,05 7,55 2,44

4.2.10 Pemahaman Leksikon Nomina Lingkungan Kelautan 15-20 Tahun Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 15-20 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.16 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 193 (79,19%), kategori II jumlah pemahaman 35 (14,58%), kategori III jumlah pemahaman 12 (5%) Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon lingkungan kepantaian dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 12 (5%) Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 15-20 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 193 (79,19%), dan kategori III (tidak pernah tahu) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 12 (5%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon lingkungan kelautan nomina pada usia 15-20 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

(50)

Tabel 4.15

Deskripsi Pemahaman Leksikon Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia 15-20 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bade 40 100 0 0 0 0 2. Suruk 23 57,5 17 42,5 0 0 3. Kasik 31 77,5 9 22,5 0 0 4. Karang 28 62,66 0 0 12 30 5. Pasang 31 77,5 9 22,5 0 0 6. Luluk 40 100 0 0 0 0 TOTAL 193 475,16 35 87,5 12 30 RATA-RATA 79,19 14,58 5

4.2.11 Pemahaman Leksikon Nomina Lingkungan Kelautan Usia 21-45 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia 21-45 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.16 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 40 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 215 (89,58%), kategori II jumlah pemahaman 22 (2,5%), kategori III jumlah pemahaman 3 (1,25%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon lingkungan kelautan dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi 21-45 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan

(51)

kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 215 (89,58%), dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 22 (9,16%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon lingkungan kelautan nomina pada usia 21-45 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.16

Deskripsi Pemahaman Leksikon Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia 21-45 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bade 40 100 0 0 0 0 2. Suruk 39 97,5 0 0 1 2,5 3. Kasik 31 77,5 9 22,5 0 0 4. Karang 27 67,5 13 32,5 0 0 5. Pasang 40 100 0 0 0 0 6. Luluk 38 95 0 0 2 5 TOTAL 215 537,5 22 55 3 7,5 RATA-RATA 89,58 9,16 1,25

4.2.1.2 Pemahaman Leksikon Nomina Lingkungan Kelautan Generasi Usia ≥ 46 Tahun

Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga pada generasi usia ≥ 46 Tahun terhadap leksikon nomina terdiri atas 6 leksikon yang diujikan kepada 125 informan. Dari uraian tabel 4.13 , leksikon nomina yang dikelompokkan menjadi 45 kelompok. Pemahaman leksikon kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga khususnya dalam kelautan dalam kelompok usia tersebut diperoleh jumlah pemahaman pada kategori I jumlah pemahaman 238 (88,14%),

(52)

kategori II jumlah pemahaman 17 (13,70%), kategori III jumlah pemahaman 10 (3,70%). Kelompok leksikon terendah diperoleh leksikon lingkungan kelautan dalam lingkungan kelautan jumlah pemahaman 0 (0%). Dengan demikian secara keseluruhan pemahaman leksikon lingkungan kelautan dalam bahasa Pesisir Sibolga untuk generasi ≥ 60 tahun jumlah pemahaman leksikon lingkungan kelautan yang paling tinggi adalah pada kategori I (mengenal, pernah melihat, pernah mendengarkan) dengan jumlah pemahaman 238 (88,14%), dan kategori II (pernah mendengar) memperoleh persentase pemahaman terendah dengan jumlah pemahaman 17 (13,70%). Hal ini membuktikan pemahaman leksikon lingkungan kelautan nomina pada usia ≥ 60 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Tabel 4.17

Deskripsi Pemahaman Leksikon Lingkungan Kelautan Nomina Generasi Usia > 60 Tahun NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Bade 45 100 0 0 0 0 2. Suruk 43 95,55 2 4,444 0 0 3. Kasik 40 88,88 5 11,11 0 0 4. Karang 35 77,77 0 0 10 22,22 5. Pasang 30 66,66 10 66,66 0 0 6. Luluk 45 100 0 0 0 0 TOTAL 238 528,86 17 82,214 10 22,22 RATA-RATA 88,14 13,70 3,70

(53)

4.2.1.3 Pemahaman Masyarakat Desa Pondok Batu Kecamatan Sarudik Oleh Gabungan Oleh Tiga Generasi Usia ≥ 46 Tahun, Usia 21 -45 Tahun, dan Usia 15-20 Tahun Terhadap Leksikon Fauna Lingkungan Kelautan Nomina Bahasa Pesisir Sibolga

Pemahaman masyarakat Desa Pondok Batu terhadap 121 jumlah leksikon nomina bahasa Pesisir Sibolga dengan tiga kelompok responden yang dibagi berdasarkan kelompok usia yaitu ≥ 46 tahun , usia 21 -45 tahun, dan usia 15-20 tahun dengan jumlah 125 orang. Jumlah informan tiap kelompok usia adalah 40-45 orang. Dengan demikian, pilihan jawaban responden pada I dan II dikategorikan leksikon yang masih dikenal atau diketahui, pilihan jawaban III dikategorikan leksikon yang kurang diketahui . Berdasarkan analisis data dan hasil pengujian, pengetahuan leksikon kelautan di Desa Pondok Batu dapat dideskripsikan dengan menghitung persentase leksikon dalam tiap generasi dihitung dengan menggunakan rumus :

P=𝐹𝐹 𝑁𝑁× 100% Ket : p: Angka persentase f: Jumlah temuan n: total informan

Dari hasil pengujian dan analisis data yang dilakukan, maka pemahaman masyarakat Desa Pondok Batu terhadap leksikon nomina dapat dideskripsikan pada tabel di bawah ini.

(54)

Tabel 4.1.8

Persentase Pemahaman Masyarakat Desa Pondok Batu terhadap Leksikon Fauna Nomina Bahasa Pesisir Sibolga Oleh Gabungan Tiga Generasi

Usia ≥ 46 Tahun, Usia 21-45 Tahun, dan Usia 15-20 Tahun

NO LEKSIKON KATEGORI I II III JP % JP % JP % 1. Gambolo 125 100 0 0 0 0 2. Aso-aso 120 96 5 4,16 0 0 3. Balautauce 110 88 15 12 0 0 4. Timpik 90 72 35 28 0 0 5. Karamojo 95 76 30 24 0 0 6. Sisik 75 60 50 40 0 0 7. Gurapu 80 64 40 32 0 0 8. Turisi 86 68,8 39 39 0 0 9. Teter 125 100 0 0 0 0 10. Baledang 60 48 65 52 0 0 11. Kapur – kapur 125 100 0 0 0 0 12. Balanak 85 68 40 32 0 0 13. Marang 60 48 0 0 65 52 14. Pari 78 62,4 0 0 47 37,6 15. Iyu 88 70,4 37 29,6 0 0 16. Gaguk 75 60 48 38,4 0 0 17. Jabung 70 56 0 0 55 44 18. Kampi-kampi 65 52 60 48 0 0 19. Bada 73 58,4 52 41,6 0 0 20. Selar 50 40 75 60 0 0 21. Todak 89 71,2 36 28,8 0 0 22. Mangsi-mangsi 125 100 0 0 0 0

(55)

23. Kapur-kapur 56 44,8 69 55,2 0 0 24. 25. Baracun Taba bibi 58 62 46,4 49,6 67 63 53,6 50,4 0 0 0 0 26. Tando 89 71,2 36 28,8 0 0 27. Kakap 125 100 0 0 0 0 28. Tuan deman 125 100 0 0 0 0 29. Balotokuning 125 100 0 0 0 0 30. Kaling-kaling 120 96 0 0 24 19,2 31. Kape-kape 125 100 0 0 0 0 32. Gabu 125 100 0 0 0 0 33. Sumbu-sumbu 115 92 0 0 10 8 34. Buttal 121 96 0 0 4 3,2 35. Maning 125 100 0 0 0 0 36. Bada 125 100 0 0 0 0 37. Todak 108 86,4 17 13,6 0 0 38. Cabe-cabe 99 79,2 0 0 26 20,8 39. Selar 57 45,6 50 40 0 0 40. Stermin 65 52 60 48 0 0 41. Sambala 44 35.2 0 0 81 64,8 42. Lidah-lidah 71 56.8 54 43,2 0 0 43. Udang 125 100 0 0 0 0 44. Kapiting 125 100 0 0 0 0 45. Sotong 125 100 0 0 0 0 46. Gurita 125 100 0 0 0 0 47. Bajan 109 87.2 0 0 16 12,8 48. Bona 116 92.8 9 7,2 0 0 49. Jarang gigi 123 98.4 2 1,6 0 0 50. Lumba-lumba 125 100 0 0 0 0 51. Marlin 111 88.8 14 11,2 0 0 52. Sumbelang 100 80 25 20 0 0

(56)

53. Maco aji 125 100 0 0 0 0 54. Gaguk 98 78.4 0 0 27 21,6 55. Jumbo 77 61,6 48 38,4 0 0 56. Bonta 89 71,2 36 28,8 0 0 57. Aji-aji 79 63,2 46 36,4 0 0 58. Jubaak 70 56 55 44 0 0 59. Bulan-bulan 88 70,4 0 0 37 29,6 60. Palu-palu 80 64 45 36 0 0 61. Bawal 120 96 5 4 0 0 62. Cakalang 110 88 0 0 15 12 63. Sisik 124 99,2 0 0 1 0,8 64. Sumpit-sumpit 122 97,6 3 2,4 0 0 65. Tenggiri 124 99,2 2 1,6 0 0 66. Todak 125 100 0 0 0 0 67. Ula lawik 90 72 35 28 0 0 68. Walet 91 72,8 34 27,2 0 0 69. Gambolo 125 100 0 0 0 0 70. Sumedang 59 47,2 66 52,8 0 0 71. Strimin 46 36,8 79 63,2 0 0 72. Samuk 125 100 0 0 0 0 73. Nyamuk 125 100 0 0 0 0 74. Mancik 125 100 0 0 0 0 75. Lidah-lidah 35 28 0 0 90 72 76. Lokan 125 100 0 0 0 0 77. Sepatu-sepatu 60 48 65 52 0 0 78. Pato-pato 56 48,8 69 55,2 0 0 79. Simarhuruan 110 88 0 0 15 12 80. Siput 125 100 0 0 0 0 81. Biduan 100 80 25 20 0 0 82. Rimis 120 96 5 4 0 0 83. Beliung 54 43,2 71 56,8 0 0

(57)

84. Udang bingkarung 99 79,2 26 20,8 0 0 85. Udang kancing 125 100 0 0 0 0 86. Udang gostan 95 76 29 23,2 0 0 87. Udang windu 76 60,8 49 39,2 0 0 88. Udang baring 125 100 0 0 0 0 89. Bangao 43 34,4 82 65,6 0 0 90. Buayo 125 100 0 0 0 0 91. Kalilawar 125 100 0 0 0 0 92. Ubur-ubur 125 100 0 0 0 0 93. Bajan 62 49,6 63 50,4 0 0 94. Lulupoang 125 100 0 0 0 0 95. Bulu babi 125 100 0 0 0 0 96. Kura-kura 125 100 0 0 0 0 TOTAL 9.930 7.164,8 2.031 1.932,36 513 410,4 RATA-RATA 74,63 20,12 4,27

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Pondok Batu terhadap 96 leksikon adalah Kategori I diperoleh jumlah pemaham sebanyak 9.930 dan rata-rata berjumlah 74,63%. Kategori II jumlah pemaham sebanyak 2.031 dan rata-rata berjumlah 20,12%. Kategori III jumlah pemaham 513 dan jumlah rata-rata 4,27%. Berikut ini akan diuraikan deskripsi rangkuman persentase pengetahuan leksikon dari tiga generasi usia terhadap kelompok kegiatan pada leksikon Fauna nomina Bahasa Pesisir Sibolga. Persentase Pemahaman masyarakat Desa Pondok Batu terhadap leksikon flora nomina bahasa Pesisir Sibolga oleh gabungan tiga generasi usia ≥ 46 tahun, usia 21 -45 tahun, dan usia 15-20 tahun. Hal ini membuktikan pemahaman leksikon nomina fauna pada dalam lingkungan kelautan gabungan tiga generasi usia ≥ 46 tahun, usia 21-45 tahun, dan usia 15-20 tahun masih bertahan dalam aktifitas sehari-hari.

Gambar

Gambar 1 : Bentuk-Bentuk Interaksi dan Interelasi Masyarakat Pesisir Sibolga  Desa Pondok Batu,  Kecamatan Sarudik , Kabupaten Tapanuli Tengah dengan
Gambar 1.Timpik ‘ikan tongkol’  (dokumentasi pribadi)   b)  Bada ‘ikan teri’
Gambar 3 bada/ikan teri yang diasinkan (dokumentasi pribadi)  c)  Mangsi-mangsi ‘cumi-cumi’
Gambar 4 mangsi-mangsi/cumi-cumi (dokumentasi pribadi)  d)  Teter ‘ baracuda’
+6

Referensi

Dokumen terkait

Kokora Kecamatan Wewewa Tengah Kabupaten Sumba Barat Daya-NTT, didapatkan sebelum berikan relaksasi meditasi pernafasan keseluruhan (100%) responden mengalami

perilaku petani dalam menjual hasil panen terhadap fluktuasi harga lada dan apa. faktor - faktor yang menyebabkan petani menjual hasil panen serta

memiliki presentase yang berbeda karena siswa siswi tidak. semua membiasakan untuk sarapan sebelum

Penelitian yang akan datang juga dapat menganalisis pengaruh gambaran maskulinitas pada iklan produk perawatan laki-laki pada keseharian laki- laki sebenarnya dan

Artinya ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, seperti bahasa Jawa atau bahasa Arab, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umunya, bahasa yang menjadi

Perusahaan mengkomunikasikan aspek-aspek yang membangun bran d kepada karyawannya, dengan tujuan terbentuknya perilaku yang sesuai dengan misi brand tersebut di

Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan uji korelasi yang bertujuan untuk mendeteksi variasi pada suatu faktor berkaitan

Reliabilitas berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu instrumen dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.. kelompok yang sama pada waktu atau