Tahap 6, No. 8
Maret – April 2014
DAFTAR ISI
Diterbitkan oleh:
Sub Bid. Pembinaan Warga Gereja Sinode Gereja Kristus Yesus
Ketua: Pdt. Joni Sugicahyono Editor Umum: GI. Purnama
Penulis:
Pdt. Hari Sudjatmiko, GI. Dessy Natalia Pane, GI Fifi Wijaya, GI Purnama, GI. Wirawaty Yaputri
Redaksi ... 3
Mengenal Allah Melalui Kitab 1 Raja-raja ... 4
Renungan Tanggal 1 – 25 Maret 2014 ... 5
Mengenal Allah Melalui Kitab 2 Raja-raja ...30
Renungan Tanggal 26 Maret - 12 April 2014 ...31
Saat-saat Akhir Yesus Kristus ... 49
Renungan Tanggal 13-26 April 2014 ... 50
Menegakkan Kebenaran dalam Kitab Kolose ...65
Renungan Tanggal 27-30 April 2014 ... 66
Daftar Gereja Sinode GKY ... 70
1-2 Raja-raja • Kolose
Alamat Redaksi : Jl. Mangga Besar I/74, Jakarta 11180. Telepon: (+62-21) 6010405-08.
Website: www.gky.or.id • e-Mail: [email protected] Dapatkan dan bacalah renungan GEMA melalui: 1. Buku renungan.
2. Online di website GKY (www.gky.or.id - bagian literatur GEMA). 3. Unduh ke perangkat telepon genggam:
- www.fourteenfloor.com/files/gema-id-201403.jar (GEMA bahasa Indonesia bulan Maret 2014). - www.fourteenfloor.com/files/gema-id-201404.jar (GEMA bahasa Indonesia bulan April 2014).
4. Unduh ke perangkat Android dan Apple (iPhone, iPad, iPod Touch):
- www.gky.or.id lalu klik download pada salah satu dari 2 pilihan (Android atau IOS).
Gerakan Membaca Alkitab sejak tahun 1999
Redaksi
Salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Banjir dahsyat yang terjadi di berbagai kota di Indonesia serta ben-cana meletusnya Gunung Sinabung yang berkepanjangan mengingat-kan kita bahwa manusia itu terbatas. Kita tidak sanggup menguasai alam. Saat Allah menciptakan manusia, Allah berfirman agar manusia memenuhi dan menaklukkan bumi (Kejadian 1:28). Sayangnya, ma-nusia hanya memenuhi bumi, namun tidak menaklukkan bumi. Seha-rusnya, “menaklukkan” bumi berarti bahwa manusia harus “mengu-sahakan dan memelihara” bumi (bandingkan dengan Kejadian 2:15). Akan tetapi, manusia bukan hanya tidak memelihara bumi, melainkan manusia merusak bumi. Kerusakan bumi membuat berbagai sungai menyempit dan semakin dangkal. Suhu bumi memanas sehingga es abadi di berbagai belahan bumi meleleh dan membuat permukaan air laut naik. Akibatnya, iklim di bumi menjadi kacau sehingga di sebagian tempat terjadi kebanjiran dan di tempat lain terjadi cuaca panas yang luar biasa. Siklus musim yang dulu berulang setiap tahun, sekarang menjadi tidak teratur dan tidak bisa diduga. Semua bencana yang ter-jadi pada masa kini merupakan peringatan bagi kita akan datangnya penghakiman akhir saat setiap orang harus menghadap takhta penga-dilan Kristus (2 Korintus 5:10).
Dalam edisi ini, kita akan merenungkan kitab 1-2 Raja-raja dan kitab Kolose, serta merenungkan peristiwa-peristiwa yang membawa Kristus ke kayu salib. Kitab 1-2 Raja-raja akan menolong kita untuk semakin mengenal Allah melalui cara Allah memperlakukan bangsa Israel. Allah itu baik dan setia, namun kesucian-Nya membuat Dia tidak bisa membiarkan dosa merajalela. Sekalipun demikian, kasih-Nya membuat Dia menyediakan anugerah pengampunan. Bahkan, hukuman pun merupakan bagian dari anugerah Allah untuk mem-bawa umat-Nya kembali kepada-Nya. Kitab Kolose mengingatkan kita bahwa ajaran sesat bukan hanya merupakan ancaman bagi jemaat di kota Kolose, tetapi juga menjadi ancaman bagi umat Tuhan pada masa kini, walaupun dalam bentuk yang berbeda. Merenungkan kisah-kisah yang membawa Kristus ke kayu salib diharapkan membuat kita lebih menghayati betapa berharganya anugerah keselamatan yang dise-diakan Allah di dalam Kristus bagi kita. Kami berharap bahwa renungan GEMA edisi ini menjadi berkat bagi pembaca sekalian.
Mengenal Allah Melalui Kitab 1 Raja-raja
K
itab 1 Raja-raja merupakan sebuah kitab yang mengisahkan tentang pe-cahnya Kerajaan Israel menjadi dua buah kerajaan, yaitu Kerajaan Yehuda (Kerajaan Israel Selatan) dan Kerajaan Israel (yang dimaksud adalah Kerajaan Israel Utara). Perpecahan ini amat menyedihkan bila kita mengingat penye-bab dan akibat dari terjadinya perpecahan tersebut. Perpecahan tersebut terjadi karena Salomo—yaitu raja Israel sebelum terjadinya perpecahan— berhasil disesatkan oleh istri-istrinya yang berasal dari bangsa-bangsa kafir untuk mendua hati, yaitu dia tetap beribadah kepada Allah, tetapi dia ber-ibadah pula kepada berhala-berhala yang dibawa oleh istri-istrinya (1 Raja-raja 11:1-13). Akibat dari perpecahan itu, Yerobeam—yaitu Raja-raja pertama Kerajaan Israel Utara—berusaha mencegah agar rakyatnya tidak beribadah di Yerusalem dengan membuat dua buah patung anak lembu emas sebagai alternatif. Yang satu diletakkan di Betel—yaitu kota perbatasan di sebe-lah Selatan yang berbatasan dengan Kerajaan Yehuda—sedangkan yang satu lagi diletakkan di kota Dan—yaitu kota perbatasan di sebelah Utara (12:29-30). Akibatnya, semua raja yang memerintah Israel menjadi raja yang jahat. Perlu diingat bahwa patung anak lembu emas ini dianggap sebagai wujud dari Allah Israel yang seharusnya tidak bisa dilihat! Jelas bahwa pembuatan dua patung anak lembu emas ini merupakan pembe-rontakan terhadap ketetapan Allah (Lihat Keluaran 20:4-5).Riwayat perpecahan Kerajaan Israel ini memberikan pengajaran pen-ting bagi kita saat ini; Pertama, kesucian Allah membuat Ia membenci dosa dan tidak bisa memberikan toleransi terhadap dosa. Walaupun Allah telah memberkati Raja Salomo karena sikapnya yang sangat baik di awal pemerintahannya, Allah tidak merasa sungkan atau sayang un-tuk menghukum Raja Salomo yang telah mengkhianati Allah. Kedua, ketidaksetiaan manusia tidak membatalkan kesetiaan Allah. Walaupun dosa Raja Salomo membuat Kerajaan Israel pecah, kesetiaan Allah ter-hadap janji-Nya kepada Raja Daud membuat Dia menyisakan suku Ye-huda (Ingatlah bahwa Raja Daud adalah suku YeYe-huda) ditambah suku Benyamin dan suku Lewi (suku ini tidak ikut dihitung karena tidak me-miliki warisan tanah) untuk tetap diperintah oleh keturunan Raja Daud.
Ketiga, walaupun Allah selalu menghukum dosa, anugerah Allah selalu
tersedia bagi umat-Nya yang mau berbalik dan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, sejarah kedua kerajaan di atas selalu diwarnai oleh hu-kuman Allah bila mereka mengabaikan Allah dan pemulihan bila mereka kembali kepada Allah. [P]
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 1
Sejarah tidak ditentukan oleh kebiasaan atau adat, melainkan oleh Allah. Menurut kebiasaan pada zaman itu—dan kebiasaan itu masih berlaku di berbagai tempat sampai saat ini—yang paling berhak untuk menjadi pewaris takhta kerajaan adalah anak yang paling tua. Amnon—anak sulung Raja Daud (2 Samuel 3:2)—telah mati dibunuh oleh Absalom (13:28-29), sedangkan Absalom—anak ketiga Raja Daud (3:3)—telah mati dibunuh oleh Yoab, panglima Raja Daud (18:10-15). Kileab—anak kedua Raja Daud—tidak menonjol dan tidak ada berita sama sekali ten-tang dia. Adonia adalah anak Raja Daud yang keempat. Oleh karena itu, secara kepantasan, jelas bahwa Adonia lebih berhak untuk menjadi raja menggantikan Raja Daud bila dibandingkan dengan Salomo (banding-kan dengan 1 Raja-raja 2:15). Sekalipun demikian, Raja Daud memiliki hak veto untuk menentukan siapa yang akan menjadi pengganti dirinya (1:29-40), sehingga penunjukan Salomo untuk menjadi raja mengganti-kan ayahnya merupamengganti-kan penunjumengganti-kan yang sah.
Di dalam Alkitab, Allah kadang-kadang melakukan intervensi ter-hadap aturan hak kesulungan. Misalnya, Yakub adalah pewaris hak ke-sulungan, padahal seharusnya yang menjadi pewaris hak kesulungan adalah Esau. Contoh lain adalah pemilihan Daud untuk menjadi raja menggantikan Raja Saul. Saat Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mene-mui keluarga Isai, dia mengira bahwa Eliab—kakak Daud—adalah orang yang dipilih Tuhan, tetapi ternyata dugaannya salah (1 Samuel 16:6-7) dan yang dipilih Tuhan adalah Daud—anak yang bungsu (16:11-12). Jelaslah bahwa sejarah ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh adat atau kebiasaan. [P]
1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa
yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Allah adalah Penentu
Sabtu 1 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 2:1-12
Setiap orang memiliki kekuatan (hal yang baik) dan kelemahan (hal yang buruk). Bila kita tidak memiliki sikap terbuka untuk meneliti dan mengoreksi diri sendiri, kita hanya akan melihat kebaikan diri sendiri dan sulit melihat kelemahan diri kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh membiarkan diri kita terbuai oleh pujian orang lain terhadap diri kita, melainkan kita harus dengan rendah hati mengoreksi sikap buruk kita terhadap orang lain.
Bagian awal dari pesan Raja Daud terhadap anaknya (2:2-4) meru-pakan pesan yang amat baik, yaitu bahwa kunci sukses adalah menaati firman Allah. Seharusnya setiap orang tua Kristen menyimak baik-baik pesan tersebut dan menyampaikan hal yang sama saat memberi na-sihat kepada anak-anak mereka! Akan tetapi, bagian selanjutnya dari pesan Raja Daud (2:5-9) harus ditanggapi secara kritis. Dari satu sisi, benar bahwa pembunuhan terhadap Abner dan Amasa yang dilakukan oleh Yoab itu patut disesalkan, baik karena waktunya tidak tepat (pem-bunuhan dilakukan saat perang sudah berakhir) maupun karena kedua pembunuhan itu dilakukan dengan cara yang licik. Akan tetapi, reaksi Raja Daud terhadap kedua pembunuhan itu menunjukkan bahwa Raja Daud tidak bisa menghargai Yoab yang telah berulang kali memperta-ruhkan nyawa untuk membela Raja Daud. Lagi pula, mengapa Raja Daud harus meminjam tangan putranya untuk menghukum Yoab? Sikap Raja Daud terhadap Barzilai (2:7) patut dihargai. Akan tetapi, sikap terhadap Simei bin Gera (2:8-9) menunjukkan bahwa Raja Daud adalah seorang pendendam. Dia membiarkan Simei bin Gera mengutuk dirinya, tetapi sebenarnya dia tidak memaafkan Simei bin Gera secara tulus. [P]
Mazmur 139:23-24
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Kekuatan dan Kelemahan
Minggu 2 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 2:13-46
Adonia, Imam Abyatar, Yoab, dan Simei adalah orang-orang yang melaku-kan kesalahan pada masa kekuasaan Raja Daud. Sayangnya, mereka ti-dak segera menyelesaikan masalah mereka sampai tuntas. Akibatnya, mereka menerima hukuman saat Raja Salomo berkuasa.
Kelemahan Raja Daud dalam mendidik anak-anaknya—yaitu bahwa dia bersikap terlalu protektif (melindungi) dan tidak tega memberikan hukuman (bahkan menegur pun tidak tega)—membuat sebagian anak-anaknya (khususnya Amnon, Absalom, dan Adonia) tidak bisa mengua-sai diri mereka dan mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa mempertimbangkan apakah perbuatan mereka benar atau salah. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Adonia menginginkan Abisag, gadis Su-nem yang merupakan perawat Raja Daud. Walaupun Abisag merupakan perawat, dalam pandangan umum pada masa itu, Abisag adalah gundik Raja Daud. Oleh karena itu, mengambil gundik ayah sebagai istri meru-pakan dosa yang harus diganjar dengan hukuman mati (Imamat 20:11). Pengkhianatan Imam Abyatar dan Yoab merupakan keputusan yang tragis. Mereka telah berjuang bertahun-tahun untuk membela Raja Daud, tetapi mereka kehilangan kesetiaan pada akhir masa pemerin-tahan Raja Daud. Dukungan mereka terhadap Adonai merupakan peng-khianatan terhadap Raja Daud sehingga mereka tidak bisa lolos dari hu-kuman. Baik Yoab maupun Simei seharusnya sadar bahwa mereka telah membuat Raja Daud menjadi sakit hati. Karena mereka tidak segera membereskan masalah mereka, mereka akhirnya harus mengalami
hu-kuman pancung di bawah pemerintahan Raja Salomo. [P]
Mazmur 32:5
“Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan;
aku berkata:
“Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”
Bila Kesalahan Tidak Dibereskan
Senin 3 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 3
Manakah yang lebih penting: hak atau kewajiban? Banyak orang lebih mengutamakan hak, tetapi mengabaikan kewajiban. Hal ini terlihat jelas dalam pelayanan pegawai maupun pejabat publik (di Indonesia) pada umumnya. Sikap mengutamakan hak membuat seseorang mempriori-taskan pelayanan terhadap orang yang bisa memberi keuntungan lebih banyak serta mengabaikan pelayanan terhadap orang yang dianggap tidak bisa memberi keuntungan. Akibatnya, korupsi merajalela. Oleh karena itu, saat muncul seorang pejabat tinggi yang memandang pela-yanan terhadap semua orang sebagai kewajiban yang harus diprioritas-kan, para bawahannya menjadi gelisah.
Di awal pemerintahannya, Salomo adalah seorang raja yang mengu-tamakan kepentingan rakyatnya. Dia tidak memikirkan fasilitas apa yang bisa dia nikmati dalam kedudukannya sebagai raja, melainkan ia dengan sungguh-sungguh memikirkan bagaimana bisa memimpin rakyatnya se-cara bijaksana. Hal ini tercermin dari permintaan yang ia ajukan kepada Allah (3:9). Permintaan yang tidak mementingkan diri sendiri itu amat dihargai Tuhan, sehingga Tuhan bukan hanya mengabulkan permintaan Raja Salomo, tetapi Dia juga mengaruniakan berkat-berkat lain yang ti-dak diminta oleh Raja Salomo (3:10-14).
Saat kita membaca kasus yang ditangani oleh Raja Salomo dalam ba-caan Alkitab hari ini (3:16-27), perlu kita perhatikan bahwa kasus terse-but adalah kasus pereterse-butan anak antara dua orang perempuan sundal (pelacur) yang hidup tanpa suami. Jelas bahwa menangani kasus sema-cam itu tidak akan mendatangkan keuntungan secara materi bagi Raja Salomo. [P]
1 Raja-raja 3:13
“Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan,
sehingga sepanjang umurmu
takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja.”
Hak dan Kewajiban
Selasa 4 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 4
Ada beberapa macam pengertian tentang kata “hikmat”. Pertama, hik-mat adalah kemampuan atau ketrampilan untuk mengerjakan peker-jaan seni. Seorang yang bisa mengerjakan karya seni yang indah yang ti-dak bisa dikerjakan oleh orang lain bisa kita sebut sebagai seorang yang memiliki hikmat. Kedua, hikmat adalah kemampuan untuk memahami dan mengatasi masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Hikmat yang di-miliki Salomo adalah hikmat dalam pengertian yang kedua ini. Ketiga, hikmat adalah cara pandang dan cara hidup yang secara moral benar. Dalam kitab Amsal, Raja Salomo mengajarkan tentang hikmat dalam pengertian yang ketiga ini. Sayangnya, kehidupan Raja Salomo tidak se-lalu sesuai dengan apa yang dia ajarkan dalam kitab itu. Seorang yang memiliki hikmat dalam pengertian ketiga ini seharusnya adalah seorang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Keempat, hikmat adalah pola pikir yang sesuai dengan pola pikir Allah. Dalam Perjanjian Baru, apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Tuhan Yesus merupakan hikmat Allah. Keselamatan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib merupa-kan hikmat Allah yang sulit dipahami oleh orang-orang yang berpikir dalam pola pikir filsafat Yunani.
Memiliki hikmat seperti Raja Salomo memang penting dalam men-jalani hidup di dunia ini. Akan tetapi, memiliki hikmat seperti itu belum cukup! Kita perlu memiliki hikmat yang membuat kita hidup benar se-cara moral; dan hikmat seperti ini adalah hikmat yang dimulai dengan sikap takut akan Allah (Amsal 9:10; Mazmur 111:10). Hikmat yang paling tinggi adalah bila kita berpikir dengan pola pikir Allah. Hikmat semacam inilah yang membuat Rasul Paulus dan banyak orang beriman lainnya rela dan berani menyerahkan hidup mereka untuk dipakai Allah. [P]
Yesaya 33:6
“Masa keamanan akan tiba bagimu;
kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion.”
Pengertian Hikmat
Rabu 5 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 5
Apakah persahabatan Raja Salomo (dan juga Raja Daud) dengan Raja Hiram tidak melanggar perintah Allah agar bangsa Israel tidak bergaul dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka?
Pertama, kita tidak melihat pengaruh negatif Tirus terhadap iman
bangsa Israel. Hal ini mungkin disebabkan karena bangsa Tirus adalah bangsa pelaut, sedangkan bangsa Israel bukan. Oleh karena itu, persa-habatan di antara mereka bukanlah persapersa-habatan dalam kehidupan se-hari-hari yang membawa pengaruh langsung dalam kehidupan.
Kedua, perhatikan bahwa hubungan antara Raja Salomo dan Raja
Hi-ram dalam pasal ini adalah hubungan dagang, bukan kerja sama untuk membangun Bait Suci atau kerja sama dalam rangka ibadah. Lagi pula, hubungan antara Raja Salomo dengan Raja Hiram menghasilkan penga-ruh positif yang terlihat dari komentar Raja Hiram, “Terpujilah TUHAN pada hari ini” (5:7). Sebutan “TUHAN” di sini adalah terjemahan dari “Yahweh” yang menunjuk kepada Allah Israel.
Ketiga, para pekerja Israel yang bekerja bersama-sama dengan
orang-orang Tirus hanya bekerja selama sebulan, lalu beristirahat di rumah selama dua bulan, lalu bekerja lagi selama sebulan, dan seterus-nya. Dengan demikian, interaksi dengan sesama umat Allah masih lebih banyak dibandingkan interaksi dengan bangsa asing.
Pada masa kini, kita tidak dapat menghindari kerja sama dengan orang-orang yang tidak beriman. Namun, kita akan aman bila kita me-ngenal batas, yaitu bahwa kita harus membatasi hubungan kerja sama dengan orang-orang yang tidak seiman dan tetap menjalin relasi dengan saudara-saudara seiman. [P]
1 Raja-raja 5:13-14a
“Raja Salomo mengerahkan orang rodi dari antara seluruh Israel, maka orang rodi itu ada tiga puluh ribu orang. Ia menyuruh mereka ke gunung Libanon, sepuluh ribu orang dalam sebulan berganti-ganti:
selama sebulan mereka ada di Libanon, selama dua bulan di rumah.
Mengenal Batas
Kamis 6 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 6
Rumah TUHAN atau Bait Allah yang didirikan oleh Raja Salomo sangat megah. Sekalipun demikian, Allah hanya berkenan untuk diam di sana bila umat Allah (khususnya Raja Salomo) hidup dalam ketaatan terha-dap segala ketetapan, peraturan, dan perintah Allah (6:12-13).
Dari satu sisi, keberadaan rumah TUHAN yang megah merupakan kebanggaan bagi umat Israel dan sekaligus merupakan kesaksian bagi bangsa-bangsa lain. Orang-orang dari bangsa-bangsa lain datang khu-sus untuk melihat kemegahan bangunan tersebut. Dengan demikian, keberadaan bangunan itu menjadi sarana kesaksian bagi umat Allah. Di sisi lain, keberadaan rumah TUHAN yang megah itu menjadi tidak ber-arti bila tidak disertai oleh ketaatan umat Allah. Umat TUHAN harus me-nyadari bahwa Allah lebih menuntut ketaatan daripada persembahan. Kemegahan rumah TUHAN yang mewah itu menakjubkan bagi manusia, tetapi tidak bagi Allah. Bila Allah menghendaki, jelas bahwa Allah sang-gup mendirikan bangunan yang jauh lebih indah daripada bangunan yang dibuat oleh manusia.
Bila orang Kristen pada masa kini ingin membangun gereja yang megah, ingatlah bahwa pembangunan rumah TUHAN yang megah harus disertai dengan hasrat yang menyala-nyala untuk memuliakan TUHAN dan memperkenalkan Dia kepada dunia ini. Rumah TUHAN yang megah menjadi tidak bernilai tanpa sikap ketaatan dari umat TUHAN. Ingatlah bahwa Allah lebih menghargai iman dan ketaatan kita dibandingkan
de-ngan rumah besar yang kita persembahkan kepada-Nya. [P]
1 Raja-raja 6:12-13
“Mengenai rumah yang sedang kaudirikan ini, jika engkau hidup menu-rut segala ketetapan-Ku dan melakukan segala peraturan-Ku dan tetap
mengikuti segala perintah-Ku dan tidak menyimpang dari padanya, maka Aku akan menepati janji-Ku kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud, ayahmu, yakni bahwa Aku akan diam di tengah-tengah
orang Israel dan tidak hendak meninggalkan umat-Ku Israel.”
Rumah TUHAN
Jumat 7 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 7
Dalam alam pikir orang-orang pada zaman dulu, kemegahan rumah TUHAN menggambarkan kemuliaan Allah dan kemegahan istana raja menggambarkan kebesaran sang raja. Bisa pula kita katakan bahwa kemegahan rumah TUHAN dan kemegahan istana raja menunjukkan bahwa Allah memberkati Raja Salomo. Rumah TUHAN dibangun selama tujuh tahun (6:38), sedangkan istana raja dibangun selama tiga belas ta-hun. Hal ini tidak berarti bahwa istana raja lebih megah daripada rumah TUHAN, tetapi lamanya pembangunan istana itu disebabkan karena kompleks istana lebih luas daripada rumah TUHAN. Perlu diperhatikan bahwa Hiram, tukang tembaga dari Tirus itu (7:13) berbeda dengan Raja Hiram (5:1). Pada zaman itu (dan bahkan sampai masa kini) bukan meru-pakan hal yang mengherankan bila dua orang bernama sama!
Perlu diperhatikan pula bahwa kemuliaan dan hikmat yang dimiliki Raja Salomo merupakan berkat Tuhan yang patut disyukuri. Sekalipun demikian, seharusnya Raja Salomo menyadari bahwa kemuliaan yang patut disyukuri itu juga harus diwaspadai. Tindakan Salomo memba-ngun sebuah gedung yang megah bagi putri Firaun yang menjadi istri-nya (7:8) merupakan tindakan yang melampaui batas dan membaha-yakan iman umat Tuhan. Dari satu sisi, kesungguhan Raja Salomo untuk membangun rumah TUHAN yang megah merupakan teladan bagi kita agar memperhatikan kepentingan pekerjaan Tuhan, bukan hanya me-ngumpulkan kekayaan bagi diri sendiri. Dari sisi lain, berkat Tuhan bagi kita harus kita waspadai agar tidak membuat kita bertindak melampaui batas sampai kehilangan iman. [P]
1 Tawarikh 29:11
“Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!
Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan
Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.”
Kemuliaan Harus Diwaspadai
Sabtu 8 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 8:1-53
Sampai pada pasal ini, Salomo adalah seorang hebat yang rendah hati. Dia tidak beranggapan bahwa rumah TUHAN yang ia dirikan merupakan bukti kehebatan dirinya, melainkan bukti kesetiaan TUHAN terhadap janji-Nya kepada Raja Daud (8:17-24). Walaupun Raja Salomo menga-takan bahwa ia telah mendirikan rumah kediaman bagi Allah, tempat Allah menetap selama-lamanya (8:13), ia juga mengakui bahwa ke-megahan rumah TUHAN itu tidak sebanding dengan kebesaran Allah. Allah yang Mahabesar itu tidak mungkin bisa dikungkung dalam sebuah rumah yang ia dirikan (8:27). Sekalipun demikian, Raja Salomo memo-hon agar Allah berkenan membuat rumah TUHAN itu sebagai tempat Allah mendengar doa dari umat-Nya (8:28-53).
Berdoa merupakan bagian yang amat penting dalam ibadah. Sayang-nya, keyakinan umat Tuhan saat ini tentang pentingnya berdoa dalam rumah Tuhan mulai luntur. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa berdoa di mana pun sama saja, sehingga berdoa di rumah TUHAN di-anggap tidak begitu penting. Memang benar bahwa kita bisa berdoa di mana pun. Akan tetapi, doa yang bebas kita lakukan di mana pun itu umumnya adalah doa pribadi. Di samping berdoa secara pribadi, umat TUHAN perlu berdoa sebagai satu umat (kumpulan orang beriman). Ber-doa bersama di rumah TUHAN akan membuat kita tidak merasa sendi-rian dan kita bisa saling menguatkan. Tuhan Yesus pun pernah bersabda bahwa ada berkat khusus dalam doa bersama, “Dan lagi Aku berkata ke-padamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20). [P]
1 Raja-raja 8:29
“Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana;
dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.”
Berdoa di Rumah TUHAN
Minggu 9 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 8:54-66
Pada masa awal pemerintahannya, Raja Salomo memberikan teladan yang amat baik bagi para pemimpin Kristen. Di depan rakyatnya, Raja Salomo memanjatkan doa dan permohonan kepada TUHAN sambil ber-lutut (8:54). Dengan demikian, walaupun dia adalah pemimpin Israel, Salomo memperlihatkan bahwa dia tunduk kepada TUHAN. TUHAN adalah pemimpin nomor satu, sedangkan Raja Salomo adalah pelaksana kehendak TUHAN. Teladan Raja Salomo ini merupakan tantangan bagi para pemimpin Kristen untuk memperlihatkan kepada anak buahnya bahwa dia tunduk kepada kehendak Allah.
Sebagai pemimpin, Raja Salomo mengajak rakyatnya untuk mengi-ngat berkat TUHAN pada masa lampau. Dia menegaskan bahwa TUHAN telah memenuhi semua janji-Nya (8:56). Oleh karena itu, kesetiaan Allah merupakan landasan bagi umat Allah untuk bersandar kepada Allah dalam menghadapi masa depan. Bersandar kepada Allah merupakan hal yang sulit bagi umat Allah sepanjang masa karena cara kerja Allah tidak ditentukan oleh logika manusia. Dosa membuat kita harus berhadapan dengan kesukaran dan penderitaan. Kita menginginkan agar kesukaran dan penderitaan segera berlalu, tetapi Allah seringkali membiarkan kita mengalami kesukaran dan penderitaan untuk mendidik dan mendewa-sakan kerohanian kita. Kesukaran dan penderitaan merupakan sarana di tangan Allah untuk membuat kita bersandar kepada Allah dan memper-cayai Dia. Bila kita menolak didikan Allah, kita akan menjadi “manusia duniawi” yang bertindak dan berpikir seperti cara tindak dan cara pikir orang yang tidak beriman. Bila kita bersedia mengikuti didikan TUHAN, kita akan menjadi dewasa secara rohani! [P]
1 Raja-raja 8:56
“Terpujilah TUHAN yang memberikan tempat perhentian kepada umat-Nya Israel tepat seperti yang difirmankan-Nya;
dari segala yang baik, yang telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan Musa, hamba-Nya, tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi.”
Teladan bagi Pemimpin Kristen
Senin 10 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 9
Mendirikan rumah TUHAN merupakan karya agung Raja Salomo yang dipersembahkan kepada TUHAN. Selesainya pembangunan rumah TUHAN menunjukkan bahwa Raja Salomo memiliki kesungguhan hati untuk memuliakan Allah, mengingat bahwa pembangunan rumah TUHAN tersebut memakan waktu tujuh tahun (6:38). Rumah TUHAN tersebut merupakan kebanggaan umat Israel dan menimbulkan keka-guman bagi bangsa-bangsa lain. Sekalipun demikian, bagi TUHAN, ke-sungguhan saja tidak cukup. Allah menuntut kesetiaan. Walaupun Raja Salomo telah mempersembahkan suatu karya yang agung, Allah tetap menuntut kesetiaan seumur hidup (9:4-9).
Peringatan terhadap Raja Salomo ini sekaligus merupakan peri-ngatan bagi para pemimpin—termasuk para aktivis—Kristen, bahwa tuntutan Allah adalah tuntutan kesetiaan seumur hidup. Bila kita per-nah melakukan hal-hal besar untuk Allah, tidak berarti bahwa kita telah berjasa kepada Tuhan, sehingga kita boleh hidup semau gue. Sungguh menyedihkan bahwa pada masa kini masih ada orang-orang yang mem-banggakan jasa atau jabatan mereka dalam melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi kemudian mereka mengalami kemunduran secara rohani. Penu-lis kitab Ibrani mengatakan, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7). [P]
1 Raja-raja 9:6-7
“Tetapi jika kamu ini dan anak-anakmu berbalik dari pada-Ku dan tidak berpegang pada segala perintah dan ketetapan-Ku
yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya,
maka Aku akan melenyapkan orang Israel dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, dan rumah yang telah Kukuduskan
bagi nama-Ku itu, akan Kubuang dari hadapan-Ku, maka Israel akan menjadi kiasan dan sindiran di antara segala bangsa.”
Kesungguhan dan Kesetiaan
Selasa 11 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 10
Allah menepati janji-Nya kepada Raja Salomo (3:11-13) dengan menga-nugerahkan hikmat dan kekayaan (10:7). Kita telah membaca tentang hikmat Raja Salomo dalam memecahkan masalah perebutan anak dalam 3:16-27. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita bisa membaca bahwa saat Ratu Syeba datang mengunjungi Raja Salomo, ia terpesona menyaksi-kan hikmat Raja Salomo, baik dalam hal menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan maupun dalam hal pengaturan istana dan rumah TUHAN (10:3-7). Hikmat Raja Salomo yang luar biasa itu membuat banyak orang dari berbagai tempat di seluruh dunia berdatangan untuk menyaksikan hikmat Raja Salomo (10:24).
Kita perlu mengingat bahwa Raja Salomo memiliki hikmat yang luar biasa bukan karena dia memang hebat, melainkan karena Allah mem-berikan hikmat di dalam hatinya (10:24). Hikmat Allah jauh melampaui hikmat dunia ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila hikmat Allah yang Dia berikan kepada Raja Salomo melampaui hikmat seluruh dunia ini. Selama hikmat yang diberikan Allah dipergunakan dengan benar, hik-mat itu merupakan sarana untuk memuliakan Allah (10:9). Akan tetapi, bila hikmat yang diberikan Allah dipakai untuk meninggikan diri, hikmat itu bisa menjadi sumber kejatuhan ke dalam dosa.
Allah adalah sumber segala hikmat. Hikmat Allah bukan hanya di-berikan kepada Raja Salomo, melainkan didi-berikan pula kepada semua orang percaya yang berharap penuh kepada Allah dan yang bersedia merendahkan diri untuk meminta hikmat itu dalam iman kepada Allah (bandingkan dengan Yakobus 1:5). [P]
1 Raja-raja 10:6b-7
“Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat
dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.”
Hikmat yang Luar Biasa
Rabu 12 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 11
Dalam renungan tanggal 5 Maret, telah dibahas tentang berbagai peng-ertian mengenai kata “hikmat”. Raja Salomo memiliki hikmat yang luar biasa dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hikmat yang dimiliki oleh Raja Salomo tidak memiliki landasan moral yang benar. Hikmat yang dimiliki Raja Salomo membuat dia sangat popu-ler, dan selanjutnya membuat banyak negara ingin menjalin hubungan persekutuan dengan Raja Salomo. Pada zaman dulu, persekutuan di an-tara dua negara seringkali diperkuat dengan memberikan seorang putri raja untuk diperistri oleh raja yang hendak dijadikan sekutu. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Raja Salomo yang amat populer itu me-miliki banyak perempuan asing sebagai istri, apalagi nampaknya Raja Salomo adalah seorang yang mata keranjang. Akibatnya, istri-istri yang masing-masing memiliki dewa sendiri itu akhirnya berhasil mencon-dongkan hati Raja Salomo kepada ilah-ilah lain, sehingga Raja Salomo tidak sepenuh hati berpaut kepada Allah (11:1-8).
Kisah Raja Salomo dalam bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita agar kita selalu bersikap waspada, terutama bila kita memiliki kelebihan tertentu yang membuat kita menjadi orang yang populer. Kesombongan, kemewahan, dan hawa nafsu yang tidak terkendali merupakan contoh dari bahaya yang mengancam orang-orang yang populer. Hal ini tidak berarti bahwa kita boleh merasa puas dengan menjadi orang Kristen yang “biasa-biasa saja”, tetapi berarti bahwa kita perlu waspada agar kesuksesan tidak menjauhkan kita dari Allah. Kesuksesan bisa menjadi alat untuk memuliakan Allah, tetapi kesuksesan juga bisa membuat kita menyingkirkan Allah! [P]
1 Raja-raja 11:4
“Sebab pada waktu Salomo sudah tua,
isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN,
Allahnya, seperti Daud, ayahnya.”
Waspadalah Saat Anda Sukses!
Kamis 13 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 12
Sikap Raja Rehabeam dan sikap Raja Yerobeam menunjukkan ciri-ciri dari hikmat dunia ini. Saat menjadi raja, Raja Rehabeam mengabaikan nasi-hat yang bijaksana dari para tua-tua yang mendampingi Raja Salomo, tetapi mengikuti nasihat teman-teman sebayanya yang tidak berpeng-alaman dan yang bersikap congkak (12:6-14). Sikap Raja Rehabeam ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25). Akibat dari sikap duniawi ini adalah bahwa Raja Yerobeam kehilangan sebagian besar wilayah kerajaannya.
Yerobeam seharusnya sadar bahwa dia dipilih Tuhan menjadi raja, bu-kan karena dia memiliki keunggulan, tetapi karena Allah hendak menghu-kum Raja Salomo yang mulai meninggalkan Allah (1 Raja-raja 11:29-33). Melalui Nabi Ahia, Allah berjanji bahwa Ia akan menyertai Yerobeam bila Yerobeam taat kepada-Nya. Sayangnya, setelah menjadi raja, Ye-robeam melupakan janji Allah itu dan mulai memakai hikmat duniawi untuk mem-pertahankan kekuasaannya, yaitu ia mencegah rakyat Israel pergi beriba-dah ke Yerusalem dengan membuat dua buah patung anak lembu emas dan meletakkan patung anak lembu emas itu di Betel—kota perbatasan di sebelah Selatan yang berbatasan dengan Kerajaan Yehuda—serta di Dan—kota perbatasan di sebelah Utara (12:26-29). Akibatnya, rakyat Israel Utara jatuh dalam penyembahan berhala. [P]
1 Raja-raja 11:38
“Dan jika engkau mendengarkan segala yang Kuperintahkan kepadamu dan hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan apa yang
benar di mata-Ku dengan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku seperti yang telah dilakukan oleh hamba-Ku Daud, maka Aku akan menyertai engkau dan Aku akan membangunkan bagimu suatu keluarga yang teguh seperti yang Kubangunkan bagi
Daud, dan Aku akan memberikan orang Israel kepadamu.”
Hikmat Dunia Penyebab Bencana
Jumat 14 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 13
Walaupun Allah telah mengingatkan Raja Yerobeam bahwa Allah hanya akan menyertai bila dia menaati perintah Allah (11:38), Yerobeam lebih meyakini logikanya sendiri, sehingga ia membuat dua patung anak lem-bu emas untuk mencegah rakyatnya beribadah di Yerusalem (12:26-30). Dalam bacaan Alkitab hari ini, TUHAN mengutus seorang abdi Allah un-tuk menyampaikan berita penghukuman kepada Raja Yerobeam (13:1-2). Walaupun anugerah Allah telah dinyatakan melalui kesembuhan ta-ngannya yang mendadak menjadi kaku (13:4-6), Raja Yerobeam tetap tidak bertobat dari kelakuannya yang jahat. Secara membabi buta, ia menahbiskan siapa saja yang mau menjadi imam untuk bertugas di bukit-bukit pengorbanan (13:33), padahal yang boleh menjadi imam menurut peraturan hukum Taurat hanyalah keturunan Harun.
Kisah keberdosaan Raja Yerobeam merupakan peringatan keras bagi umat TUHAN sepanjang zaman. Allah telah menetapkan hukum-hukum yang bisa kita baca di dalam firman-Nya. Bila kita ingin memperoleh ber-kat Allah, kita harus hidup dalam ketaatan. Bila kita tidak bersedia untuk hidup taat, hukuman Allah pasti akan menimpa kita. Bila kita berbuat dosa, kita harus segera bertobat dan memohon pengampunan Allah. Bila kita tidak mau bertobat, dosa yang telah kita lakukan akan mendo-rong kita untuk melakukan dosa berikutnya. Tuhan Yesus telah datang dari sorga untuk menebus dosa kita. Akan tetapi, bila kita tidak mau me-rendahkan diri dan bersandar kepada pengorbanan Tuhan Yesus, dosa akan terus mengikat kita dan kita tidak akan sanggup melepaskan diri kita dari rantai dosa yang semakin lama semakin menjauhkan kita dari Tuhan. [P]
1 Raja-raja 13:33
“Sesudah peristiwa ini pun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan
rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan.”
Jangan Membabi Buta
Sabtu 15 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 14
Saat anaknya sakit, Raja Yerobeam menyuruh istrinya untuk pergi me-nyamar dan mencari Nabi Ahia guna menanyakan tentang apa yang akan terjadi dengan anak mereka (14:1-3). Tindakan ini menunjukkan bahwa Raja Yerobeam masih memiliki “iman” terhadap TUHAN. Sayangnya, iman Raja Yerobeam adalah iman yang setengah hati. Hal ini terlihat dari tindakannya membuat dua buah patung anak lembu emas dan meletak-kan yang satu di kota Betel dan yang satu lagi di kota Dan, sehingga dia membuat rakyat Kerajaan Israel Utara berdosa terhadap TUHAN dengan menyembah patung (12:26-30). Akibatnya, Tuhan menetapkan untuk memberikan malapetaka kepada seluruh keluarga Yerobeam (14:10-11).
Raja Rehabeam juga beriman dengan setengah hati. Dari satu sisi, ia masih beribadah kepada TUHAN (14:28). Dari sisi lain, dia membi-arkan rakyatnya berbuat dosa dengan mendirikan tempat-tempat pe-ngorbanan, tugu-tugu berhala, dan tiang-tiang berhala di atas setiap bukit yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun, bahkan me-reka menyelenggarakan pelacuran bakti (14:23-24). Akibatnya, TUHAN membiarkan Sisak, Raja Mesir, mengalahkan pasukan Kerajaan Yehuda dan merampas barang-barang perbendaharaan rumah TUHAN serta ba-rang-barang perbendaharaan rumah raja, sehingga Raja Rehabeam ha-rus mengganti perisai-perisai emas yang telah dirampas musuh dengan perisai-perisai tembaga (14:25-27), padahal kekayaan yang diwariskan Raja Salomo merupakan sumber kebanggaan yang dikagumi oleh bang-sa-bangsa lain. Raja Yerobeam dan Raja Rehabeam harus menerima
hu-kuman karena mereka beriman dengan setengah hati! [P]
1 Raja-raja 14:9
“Sebab engkau telah melakukan perbuatan jahat lebih dari semua orang yang mendahului engkau
dan telah membuat bagimu allah lain dan patung-patung tuangan, sehingga engkau menimbulkan sakit hati-Ku,
bahkan engkau telah membelakangi Aku.”
Kepercayaan Setengah Hati
Minggu 16 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 15:1-32
Pada umumnya, teladan orang tua sangat berpengaruh terhadap anak-anak mereka. Dalam bacaan Alkitab hari ini, terdapat dua orang anak-anak yang hidup dalam dosa karena meniru ayah mereka, yaitu Raja Abiam (yang meniru Raja Rehabeam, 15:3) dan Raja Nadab (yang meniru Raja Yerobeam, 15:26). Akan tetapi, ada pula anak raja—yaitu Raja Asa— yang tidak hidup mengikuti dosa ayahnya (yaitu Raja Abiam) melainkan mengikuti teladan kakek buyutnya (yaitu Raja Daud, 15:11). Selain di-pengaruhi oleh ayahnya, setiap orang umumnya juga didi-pengaruhi oleh ibunya. Dalam Alkitab, bila nama seorang Ibu disebutkan (misalnya “Maakha” dalam 15:2), berarti bahwa ibu tersebut berpengaruh besar, bahkan mungkin lebih berpengaruh daripada suaminya.
Saat membaca kisah para raja di dalam kitab 1 Raja-raja, kita ha-rus mengingat beberapa hal, yaitu: Pertama, teladan orang tua amat berpengaruh terhadap kelakuan anak-anak mereka. Iman orang tua bisa ditiru oleh anak-anak mereka, tetapi kejahatan orang tua juga bisa menurun pada diri anak-anak mereka. Dalam riwayat raja-raja Kerajaan Israel Utara, kejahatan Raja pertama—yaitu Raja Yerobeam—ditiru oleh keturunannya, bahkan juga oleh para pengganti raja yang memperoleh kekuasaan melalui kudeta. Kedua, anugerah Allah selalu tersedia. Ada orang tua yang jahat, tetapi anak mereka tidak meniru kejahatan orang tua mereka. Dalam riwayat Kerajaan Yehuda (Israel Selatan), ada raja-raja yang jahat, tetapi keturunannya justru meniru iman bapa leluhurnya, yaitu Raja Daud. Sekalipun anugerah Allah selalu tersedia, ingatlah bah-wa anugerah Allah seharusnya membuat kita lebih bertanggung jabah-wab,
bukan membuat kita mengabaikan tanggung jawab kita. [P]
1 Raja-raja 15:2b-3
“Nama ibunya ialah Maakha, anak Abisalom.
Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada
TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya.
Pengaruh Orang Tua
Senin 17 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 15:33-16:34
Raja Salomo tidak setia kepada TUHAN, padahal TUHAN telah memberi-kan anugerah yang luar biasa berupa hikmat dan kekayaan. Akibatnya, Kerajaan Israel dikoyakkan oleh TUHAN menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) dan Kerajaan Israel (Utara). Kerajaan Israel Utara diserahkan TUHAN kepada Yerobeam, tetapi Raja Yerobeam malah membuat dua buah patung anak lembu emas di daerah perba-tasan, yaitu di kota Betel serta kota Dan, untuk mencegah agar rakyat-nya tidak beribadah di kota Yerusalem. Kelakuan Raja Yerobeam yang berdosa itu kemudian ditiru oleh anaknya, yaitu Raja Nadab (15:25-26). Dosa Raja Yerobeam membuat Allah memutuskan untuk melenyapkan seluruh keluarga Raja Yerobeam (14:14) dan menyerahkan Kerajaan Israel ke tangan Baesa (15:27-28). Sayang, Raja Baesa juga mengikuti dosa yang sama dengan yang dilakukan oleh Raja Yerobeam, sehingga keluarga Raja Baesa juga dimusnahkan oleh TUHAN (16:2-3, 12).
Yerobeam dan Baesa adalah dua orang yang telah mendapat anugerah TUHAN. Sayangnya, mereka tidak menjaga anugerah TUHAN tersebut, melainkan mereka berkhianat kepada TUHAN dan membuat bangsa Israel ikut berdosa. Pada masa kini, terdapat banyak orang yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang telah dilakukan oleh Raja Yerobeam dan Raja Baesa. Ada orang-orang yang latar belakang kehi-dupannya amat berdosa, kemudian menemukan anugerah Allah dalam Yesus Kristus. Sayangnya, sebagian di antara mereka ada yang kemudian kembali ke dalam kehidupan yang berdosa! [P]
1 Raja-raja 16:2-3
“Oleh karena engkau telah Kutinggikan dari debu dan Kuangkat menjadi raja atas umat-Ku Israel, tetapi engkau telah hidup seperti Yerobeam dan telah menyuruh umat-Ku Israel berdosa, sehingga mereka
menimbulkan sakit hati-Ku dengan dosa mereka, maka sesungguhnya Aku akan menyapu bersih Baesa dan keluarganya, kemudian Aku akan
membuat keluargamu seperti keluarga Yerobeam bin Nebat.”
Jangan Sia-siakan Anugerah Tuhan!
Selasa 18 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 17
Sejarah para raja Kerajaan Israel Utara merupakan gambaran tentang orang-orang berdosa yang keras kepala dan keras hati. Mereka tidak mempedulikan teguran Allah dan terus-menerus memberontak terha-dap kehendak Allah. Dosa Raja Yerobeam ditiru secara turun-temurun oleh para penggantinya. Raja Ahab yang mulai disebut dalam 16:28 adalah seorang raja yang lebih jahat daripada raja-raja yang mendahului dia, sehingga kelakuannya menimbulkan sakit hati Tuhan (16:33). Aki-batnya, melalui mulut Nabi Elia, Tuhan menyampaikan berita penghu-kuman berupa bencana alam kekeringan dan kelaparan selama jangka waktu yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri (17:1).
Tuhan menghukum raja-raja Israel yang jahat, tetapi Dia mengingat hamba-Nya, yaitu Nabi Elia, dan juga mengingat keluarga janda di Sarfat yang telah menyediakan makanan bagi Nabi Elia. Allah dapat memberi-kan mamemberi-kanan kepada Nabi Elia dengan memakai burung gagak (17:3-6), tetapi Dia juga bisa memberikan makanan dengan memakai seorang janda yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak (17:9-16). Allah memelihara hamba-Nya—yaitu Nabi Elia—yang telah berani menghadapi Raja Ahab yang jahat dengan iman. Allah juga memelihara janda di Sarfat yang dengan iman berani membagi persediaan makanan-nya yang sangat sedikit itu dengan Nabi Elia.
Dari satu sisi, bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita agar kita ti-dak mengeraskan hati dan terus-menerus hidup dalam dosa karena hu-kuman Tuhan pasti akan datang. Dari sisi lain, bila kita berani mengambil langkah ketaatan dengan iman, kita bisa yakin bahwa Allah pasti akan menjaga dan memelihara kita. [P]
1 Raja-raja 17:1
Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani,
sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”
Bencana Alam Sebagai Hukuman
Rabu 19 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 18
Pada umumnya, manusia selalu berusaha menghindar dari risiko yang bisa merugikan dirinya. Sayangnya, kita tidak selalu bisa menghindar dari risiko. Apa pun juga yang kita lakukan selalu mengandung risiko. Melakukan hal yang baik pun juga kadang-kadang membuat kita harus berhadapan dengan risiko yang bisa membuat kita mengalami kerugian. Demikian pula halnya dengan kesaksian hidup kita sebagai umat beri-man. Bila kita menunggu sampai tidak ada risiko, mungkin kita tidak akan pernah bersaksi.
Obaja, kepala istana Kerajaan Israel Utara, adalah seorang yang be-rani mengambil risiko dalam situasi yang sulit. Dia adalah seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN, tetapi dia harus melayani Raja Ahab yangmenentang TUHAN. Ratu Izebel, yaitu istri Raja Ahab, hendak melenyapkan nabi-nabi TUHAN. Secara diam-diam, Obaja menentang rencana tersebut dan dia menyembunyikan seratus nabi TUHAN dalam gua, serta mengurus makanan dan minuman mereka (18:3-4). Tindakan Obaja ini amat mengesankan, apalagi mengingat bahwa Obaja adalah orang biasa, bukan nabi! Dia berani mengambil risiko: Bila tindakannya ketahuan, dia pasti akan dibunuh oleh Ratu Izebel!
Pada masa kini, setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus adalah saksi Kristus (Lihat Lukas 24:48; Kisah Para Rasul 1:8). Sayangnya, ada banyak saksi Kristus yang tidak berani mengam-bil risiko sehingga memilih bungkam saat mendapat kesempatan untuk bersaksi. Sebenarnya orang Kristen tidak perlu takut bersaksi! Yang ha-rus diingat adalah bahwa bersaksi tidaklah berarti memaksa orang lain mengikuti keyakinan kita serta bahwa bersaksi harus dilakukan secara sopan dan bijaksana. [P]
Kisah Para Rasul 1:8
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh
Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Bersaksi dalam Situasi Sulit
Kamis 20 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 19
Depresi (gangguan jiwa yang disebabkan oleh stres dalam jangka waktu lama) adalah masalah yang bisa menimpa siapa saja, termasuk para hamba Tuhan dan para aktivis gereja. Elia adalah seorang nabi yang he-bat. Dia berani menentang Ahab, raja Israel Utara yang jahat itu! Dia berani—seorang diri—menantang dan menghadapi 450 nabi Baal dan 400 orang nabi Asyera. Akan tetapi, dalam bacaan hari ini, nampak bah-wa Nabi Elia mengalami stres yang amat hebat, bahkan sudah sampai pada tingkat depresi. Depresi yang dialami oleh Nabi Elia ini ditandai oleh perasaan sangat lelah (secara kejiwaan) dan ingin mati (19:4) serta perasaan “merasa sendiri” (19:14).
Depresi harus diobati dan sedapat mungkin dicegah. Terhadap Nabi Elia yang mengalami depresi, TUHAN tidak menghakimi, melainkan melakukan “terapi”: Pertama, TUHAN mengutus seorang malaikat un-tuk memberikan makanan dan minuman (19:5-7). Kondisi fisik yang baik akan membuat seseorang bisa menghadapi masalah dengan lebih san-tai. Kedua, Elia harus berjalan ke gunung Horeb selama empat puluh hari empat puluh malam (19:7-8). Melakukan perjalanan jauh (meninggalkan lingkungan yang menyebabkan stres) merupakan salah satu cara untuk lebih cepat melepaskan diri dari depresi. Ketiga, TUHAN menetapkan Elisa untuk menjadi seorang nabi yang akan menggantikan (menerus-kan) pelayanan Nabi Elia. Di samping itu, TUHAN juga menjelaskan bah-wa masih ada tujuh ribu orang di Israel yang tidak sujud menyembah Baal. Dengan demikian, Elia tidak memiliki alasan untuk merasa
sendi-rian dalam menghadapi para penyembah Baal (19:14-18). [P]
1 Raja-raja 19:5-6
“Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya:
“Bangunlah, makanlah!” Ketika ia melihat sekitarnya,
maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.”
Depresi dalam Pelayanan
Jumat 21 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 20
Raja Ahab adalah seorang yang tidak bisa menghargai anugerah Allah. Dia merasa tak berdaya menghadapi Benhadad, raja Aram. Saat meng-hadapi tuntutan Raja Benhadad, dia memilih untuk menyerah. Akan tetapi, saat tuntutan Raja Benhadad diperberat, Raja Ahab akhirnya melawan. Tentu tidak terduga bagi Raja Ahab bahwa tiba-tiba TUHAN mengutus seorang nabi untuk menyampaikan berita bahwa Allah akan memberikan kemenangan kepadanya. Bagi Ahab, jelas bahwa keda-tangan nabi TUHAN ini mengejutkan karena dia adalah seorang raja yang memberontak kepada TUHAN dengan mengikuti kemauan istrinya untuk mencari dan membunuh nabi-nabi Allah. Kemenangan yang di-berikan TUHAN ini bukan hanya sekali, tetapi dua kali.
Bila kita membaca dengan teliti, jelas bahwa Allah memberi keme-nangan kepada Raja Ahab karena orang Aram telah meremehkan keku-atan Allah. Sayangnya, Raja Ahab tidak bisa menghargai anugerah Allah itu. Raja Ahab melepaskan Benhadad, raja Aram, padahal seharusnya Raja Ahab membunuh Raja Benhadad agar bisa terbebas dari ancaman bangsa Aram di masa depan. Dengan demikian, tentara Aram masih tetap merupakan sumber ancaman bagi rakyat Israel Utara. Jelas bahwa tindakan Raja Ahab itu merupakan tindakan yang bodoh!
Dalam kehidupan kita, kadang-kadang Allah memberikan kita ber-bagai kesempatan yang harus kita ambil. Bila kesempatan tersebut kita abaikan, belum tentu kita bisa menemukan kesempatan yang sama di masa depan. Bila kita sudah bisa mengenali dengan jelas kehendak Allah dalam hidup kita, kita harus segera menaati kehendak Allah itu tanpa banyak pertimbangan agar kita tidak kehilangan anugerah Allah. [P]
1 Raja-raja 20:42
Kata nabi itu kepadanya:
“Beginilah firman TUHAN: Oleh karena engkau telah membiarkan lolos orang yang dikhususkan bagi-Ku untuk ditumpas, maka nyawamu
adalah ganti nyawanya dan rakyatmu ganti rakyatnya.”
Jangan Sia-siakan Anugerah Allah!
Sabtu 22 Mar
Hati-hati Terhadap Pembisik!
Minggu 23 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 21
Ahab adalah seorang raja yang jahat yang kelakuannya membuat Tuhan menjadi sakit hati. Sekalipun demikian, sebenarnya kejahatan yang di-lakukannya itu terutama disebabkan oleh pengaruh istrinya. Istrinya membuat dia menyembah dewa Baal (dewa badai) serta Asyera (dewi kesuburan, ibu dari dewa Baal), yaitu dewa-dewi yang disembah oleh orang Kanaan. Dalam bacaan hari ini, sebenarnya tidak terpikir bagi Raja Ahab untuk membunuh Nabot. Pembunuhan terhadap Nabot itu diran-cang dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Ratu Izebel, istri Raja Ahab. Akan tetapi, sebagai suami dan sebagai raja di Israel, Raja Ahab harus bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan tersebut. Sayang, kita tidak melihat adanya penyesalan dalam sikap Raja Ahab selanjutnya.
Kisah pembunuhan terhadap Nabot ini merupakan suatu peringatan bagi para suami dan para pemimpin bahwa para pembisik yang berada di sekitar kita yang sifatnya nampak baik terhadap diri kita belum tentu melakukan tindakan yang benar di hadapan Allah. Bagi Anda yang be-lum menikah, ingatlah bahwa menikah dengan orang yang salah dapat menjauhkan kita dari TUHAN. Bagi Anda yang telah menikah, Anda harus berjuang untuk memberikan pengaruh yang positif terhadap pa-sangan Anda. Jangan mencari jalan yang gampang atas masalah hidup yang Anda jumpai, tetapi Anda harus mencari jalan yang benar! Seorang istri harus mendorong pasangannya untuk tabah menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Seorang suami harus memimpin is-trinya dengan tegas untuk taat terhadap kehendak Allah. [P]
1 Raja-raja 21:25-26
“Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala,
tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 22:1-40
Raja Ahab sebenarnya sadar bahwa 400 nabi yang dia kumpulkan adalah nabi-nabi palsu yang hanya berusaha menyenangkan hati Raja Ahab. Dia sadar pula bahwa nabi TUHAN yang sesungguhnya adalah Nabi Mikha bin Yimla. Yang menjadi masalah, Nabi Mikha selalu menyampaikan fir-man TUHAN apa adanya. Karena kelakuan Raja Ahab sering menyakit-kan hati TUHAN, firman TUHAN yang disampaimenyakit-kan melalui Nabi Mikha selalu mengenai malapetaka (hukuman TUHAN). Sayangnya, Raja Ahab tidak cukup rendah hati untuk menerima teguran. Oleh karena itu, dia membenci Nabi Mikha. Dia hanya mau mendengar firman TUHAN yang enak (menghibur, membesarkan hati), dan dia tidak mau mendengar fir-man TUHAN yang tidak enak (bersifat menegur).
Dalam hidup kita, mungkin saja kita bersikap seperti Raja Ahab. Bila kita melakukan kesalahan, kita tidak mau mendengar teguran dan kita membenci orang yang menegur kita. Marilah kita mengintrospeksi diri kita: Bila kita mendengar khotbah, apakah kita beranggapan bahwa khotbah yang baik adalah khotbah yang lucu dan menghibur? Apakah kita beranggapan bahwa khotbah yang selalu mengulas firman Tuhan secara teliti kita anggap sebagai khotbah yang membosankan? Bila kita membaca Alkitab, apakah kita senang mengulang-ulang membaca ba-gian yang menyenangkan dan menghindari baba-gian Alkitab yang membo-sankan? Apakah kita menganggap gereja yang tidak pernah menyampai-kan teguran TUHAN sebagai gereja yang baik? Bila jawaban kita adalah “ya”, kita bisa terjebak untuk bersikap seperti Raja Ahab! [P]
1 Raja-raja 22:8
Jawab raja Israel kepada Yosafat:
“Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia
menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.”
Kata Yosafat: “Janganlah raja berkata demikian.”
Keterbukaan Terhadap Teguran
Senin 24 Mar
Pengaruh Lingkungan
Selasa 25 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 1 Raja-raja 22:41-53
Yosafat—raja Yehuda—adalah seorang yang hidup melakukan apa yang benar di mata TUHAN, terutama di masa awal pemerintahannya. Se-lain dipengaruhi oleh kesalehan ayahnya (22:43), penyebutan nama ibunya—yaitu Azuba (22:42)—menunjukkan bahwa ibunya ikut berpe-ngaruh dalam pembentukan karakter dan iman Raja Yosafat (banding-kan dengan renungan tanggal 17 Maret). Walaupun Raja Yosafat tidak langsung menjauhkan bukit-bukit pengorbanan (tempat mempersem-bahkan korban kepada Allah, padahal seharusnya korban hanya boleh dipersembahkan di Bait Suci yang terletak di Yerusalem), Raja Yosafat memusnahkan sisa pelacuran bakti yang masih ada pada zaman Raja Asa (22:47). Ketaatan Raja Yosafat terhadap perintah-perintah Allah serta ketulusannya dalam mencari Allah membuat Allah mengokohkan Kerajaan Yehuda, sehingga akhirnya ia bisa melanjutkan reformasi ro-hani dengan menjauhkan segala bukit pengorbanan dan tiang berhala, sekalipun tidak sepenuhnya berhasil (2 Tawarikh 17:3-6; 20:33).
Patut disayangkan bahwa kondisi negara yang stabil membuat Raja Yosafat melakukan kesalahan yang berakibat fatal, yaitu dia menjadi be-san Raja Ahab yang jahat itu. Persahabatan Raja Yosafat dengan Raja Ahab membuat Raja Yosafat menerima teguran Allah melalui Nabi Yehu bin Hanani. Raja Yosafat juga bersekutu dengan Raja Ahazia—anak Raja Ahab—dalam membuat kapal. Akibatnya, TUHAN menegur Raja Yosafat melalui Eliezer bin Dodawa, kemudian TUHAN menghancurkan kapal itu. Peristiwa ini membuat Yosafat menghentikan kerja sama dengan Raja Ahazia (2 Tawarikh 18:1; 19:2; 20:37; 1 Raja-raja 22:50). [P]
2 Tawarikh 20:37
Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: “Karena engkau bersekutu dengan Ahazia,
maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.” Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis.
Mengenal Allah Melalui Kitab 2 Raja-raja
A
lkitab selalu menyaksikan siapa Allah melalui segala karya dan perbu-atan-perbuatan-Nya di dalam sejarah bangsa-bangsa, yaitu bahwa Allah itu berdaulat dan penuh kasih. Sekalipun demikian, Dia tidak akan segan-se-gan untuk menghukum/mendisiplin mereka yang tidak menaati-Nya. Hal itu disebabkan karena Allah sangat membenci dosa dan Ia tidak akan bersikap “pandang bulu”. Siapa pun yang melanggar perintah-Nya pastilah Ia hukum, termasuk umat pilihan-Nya, Israel, seperti yang kita baca dalam kitab 2 Raja-raja. Sejarah kitab 2 Raja-raja terbagi atas dua bagian utama:• Pertama, Sejarah kedua kerajaan sebelum keruntuhan Kerajaan
Israel Utara (yang terdiri dari sepuluh suku) pada tahun 722 BC (pasal 1-17).
• Kedua, Sejarah Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) setelah
kerun-tuhan Kerajaan Israel Utara hingga kejakerun-tuhannya sendiri pada tahun 586 BC (pasal 18-25).
Kitab 2 Raja-raja mengambarkan kejatuhan sebuah kerajaan yang terpecah. Para nabi terus memperingatkan umat Allah tentang penghu-kuman Allah yang dekat, namun mereka tidak mau bertobat. Kerajaan Israel Utara dipimpin oleh raja-raja yang jahat, sedangkan raja-raja Ke-rajaan Yehuda sebagian baik dan sebagian jahat.
Di tengah kemurtadan hebat yang terjadi di Israel, Allah membang-kitkan nabi-nabi perkasa seperti Nabi Elia dan Nabi Elisa untuk me-manggil bangsa itu dan para pemimpinnya agar kembali kepada Allah dan perjanjian-Nya (pasal 1-9). Kitab 2 Raja-raja melanjutkan penelu-suran kemerosotan Kerajaan Israel Utara dan Yehuda, yang dimulai seki-tar tahun 852 BC. Kitab ini mencatat dua musibah nasional besar yang mengakibatkan hancurnya kedua kerajaan itu: Pertama, penghancuran kota Samaria, ibu kota Israel Utara, dan pembuangan penduduk negeri itu ke Asyur pada tahun 722 BC. Kedua, penghancuran kota Yerusalem dan pembuangan rakyat Yehuda ke Babel pada tahun 586 BC. Sekalipun nantinya umat Allah berada dalam tawanan, sejarah membuktikan bah-wa Allah tetap setia pada perjanjian-Nya dengan memelihara sisa-sisa bangsa itu bagi diri-Nya sendiri. Bahkan, Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa Allah di dalam kesetiaan-Nya menggenapi janji per-janjian-Nya kepada Daud melalui Yesus Kristus, “Anak Daud” (Matius 1:1; 9:27; 21:9), yang masa pemerintahan dan kerajaan-Nya takkan per-nah berakhir (Lukas 1:32-33; bandingkan dengan Yesaya 9:6). [DP]
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 1
“Like father, like son”, demikianlah kata pepatah yang artinya adalah bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh seorang anak sama atau mirip dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Dalam bacaan Alkitab hari ini, diceritakan bahwa pada suatu hari, Raja Ahazia—anak Raja Ahab—terluka karena jatuh. Raja Ahazia mengutus orang untuk meminta petunjuk dari para imam atau nabi dari Baal-Zebub, yaitu ilah di Ekron, di negeri Filistin (1:2). Secara tidak langsung, misi ini menun-jukkan bahwa dalam pandangan Raja Ahazia, bukan Allah—melainkan Baal—yang dianggap berkuasa dan mampu menjadi penentu/pengen-dali masa depannya. Tentu saja hal itu membuat TUHAN sangat marah. Akibatnya, Tuhan menetapkan bahwa Ahazia tidak akan sembuh dari sakitnya (1:3-4, bandingkan dengan ayat 17, “Maka matilah raja sesuai dengan firman TUHAN yang dikatakan oleh Elia”).
Jika Raja Ahazia menggantungkan kehidupan dan masa depannya pada nabi Baal dan menganggap Baal sebagai Tuhan yang berkuasa, bagaimana dengan kita? Pada saat pergumulan hidup menerpa kehi-dupan kita—entahkah itu berupa sakit-penyakit, pasangan hidup yang mengkhianati kita, anak-anak yang sulit diatur, krisis ekonomi rumah tangga, tekanan pekerjaan di kantor, dan lain-lain—bagaimanakah kita menyikapi masalah seperti itu? Apakah kita seperti Raja Ahazia yang mencari orang atau ilah yang bukan Tuhan yang berkuasa untuk meng-atur dan mengendalikan hidup kita supaya menjadi lebih baik? Apakah kita mencari orang atau ilah lain yang dianggap berkuasa untuk menen-tukan masa depan kita? Sebaliknya, apakah kita justru mencari Tuhan dan menyerahkan segala persoalan hidup kita kepada Dia yang kita percayai sebagai Allah yang berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Pilihan ada di tangan Anda! [DP]
Yesaya 55:6
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”
Allah atau “dia” yang Berkuasa?
Rabu 26 Mar
Permintaan yang Dikabulkan
Kamis 27 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 2
Kekuatan bangsa Israel terletak pada para pemimpinnya yang saleh—bu-kan pada tentara yang hebat—dan para nabi adalah pertahanan Israel yang sejati. Nabi Elisa menyadari bahwa ia adalah ahli waris pelayanan Nabi Elia, sehingga ia meminta juga untuk menjadi pewaris kekuatannya (2:9). Permintaan Nabi Elisa akan dua bagian dari roh Nabi Elia bukanlah permintaan yang congkak dan serakah, melainkan permintaan yang wa-jar dari seorang ahli waris yang merupakan “anak sulung” yang berhak atas dua bagian dari segala kepunyaan ayahnya (Ulangan 21:17).
Apakah Allah berkenan akan permintaan Elisa itu? Ya, Allah me-ngabulkan permintaan Elisa karena ayat-ayat selanjutnya mengisahkan bagaimana Tuhan memberi kuasa/otoritas kepada Nabi Elisa, termasuk untuk melakukan mujizat (2 Raja-raja 2:14-22). Allah mengabulkan apa yang diminta Nabi Elisa karena tujuan permintaan Nabi Elisa bukanlah untuk menjadikan dirinya lebih hebat atau lebih berkuasa daripada Elia, melainkan agar dia dapat mengerjakan tugas panggilan dari Allah seba-gai nabi yang menggantikan Elia.
Apabila motivasi kita murni, janganlah kita takut untuk meminta se-suatu yang besar dari Tuhan. Namun, kita perlu terlebih dahulu meng-uji keinginan dan motivasi kita dalam meminta (berdoa) kepada Tuhan, apakah permintaan kita itu dimaksudkan untuk kepentingan atau kepu-asan diri sendiri atau tidak. Roh Kudus yang ada di dalam diri kita akan menolong dan memberi kepekaan akan apa yang sepatutnya kita minta kepada Tuhan, serta menolong kita untuk menyadari apakah doa/per-mintaan kita itu memuliakan Tuhan atau tidak. [DP]
Yohanes 15:7
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki,
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 3
Di dalam pasal 3 ini, kembali diceritakan mengenai pemerintahan Israel yang dipimpin oleh anak Raja Ahab, yakni Raja Yoram. Meskipun tidak sejahat Raja Ahab, ayahnya; ia tidak berusaha memperbaiki keadaan buruk yang disebabkan oleh leluhurnya, yaitu Raja Yerobeam bin Nebat. Setelah Raja Ahab mati, raja Moab memberontak terhadap Israel dan berniat untuk menguasai Israel. Lalu, Raja Yoram mengajak raja Edom dan Yosafat, raja Yehuda, untuk bersama-sama berperang melawan Moab. Setelah tujuh hari mereka berjalan dan tidak ada lagi air untuk tentara dan hewan yang mengikuti mereka (krisis air), timbullah dua macam reaksi yang amat berbeda. Reaksi pertama datang dari Raja Yo-ram yang menyalahkan TUHAN atas situasi yang mereka hadapi (3:10). Reaksi kedua datang dari Raja Yosafat yang menanyakan, “Tidak adakah di sini seorang nabi TUHAN,” karena ia yakin bahwa melalui nabi Tuhan, pasti ada firman dan petunjuk (3:11-12). Di dalam Perjanjian Lama, nabi Tuhan diasosiasikan (dikaitkan) dengan firman Tuhan karena ia dapat menyampaikan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Saat memperhatikan kedua reaksi dalam menghadapi krisis di atas, kita perlu bertanya, “reaksi apakah yang paling sering muncul ketika kita menghadapi krisis dalam hidup ini?” Apakah kita bereaksi seperti Raja Yoram yang hanya kecewa dan mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, atau kita bereaksi seperti Raja Yosafat yang datang mencari Tuhan dan percaya pada firman dan janji-janji-Nya? Datang pada Tuhan tidak akan pernah membuat kita rugi, melainkan akan membuat kita beruntung! [DP]
2 Raja-raja 3:11-12b
“Tetapi bertanyalah Yosafat: Tidak adakah di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita meminta petunjuk TUHAN?
Lalu salah seorang pegawai raja Israel menjawab, katanya: “Di sini ada Elisa bin Safat, yang dahulu melayani Elia.
Berkatalah Yosafat: Memang padanya ada firman TUHAN.”
Reaksi yang Benar Terhadap Krisis
Jumat 28 Mar
Menyatakan Kehadiran dan
Kemahakuasaan Tuhan
Sabtu 29 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 4
Empat kisah dalam 2 Raja-raja 4 yang kita baca hari ini sesungguhnya hendak mengkonfirmasi (menegaskan) kehadiran dan kemahakuasaan Tuhan melalui kehadiran hamba-Nya di tengah suburnya pemujaan Baal di Israel Utara. Kisah pertama (4:1-7) adalah kisah tentang salah seorang janda dari istri nabi yang terjepit oleh masalah hutang, sehingga anak-anaknya terancam hendak dijadikan budak untuk membayar hutang-hu-tang tersebut. Akhirnya, Nabi Elisa menolong janda itu sehingga dia bisa membayar hutang-hutangnya. Kisah kedua (4:8-37)adalah kisah tentang seorang perempuan Sunem kaya yang setia menjamu Nabi Elisa makan, namun tidak memiliki anak. Tahun berikutnya, Tuhan memberikan anak sebagaimana yang dijanjikan-Nya melalui Nabi Elisa. Namun, tak lama kemudian, anak laki-laki itu mati, lalu Nabi Elisa menghidupkan kem-bali anak laki-laki itu. Kisah ketiga (4:38-41) adalah kisah tentang rom-bongan nabi di Gilgal yang merasa terkejut saat sedang makan karena ada “maut” (tanaman yang berbahaya/beracun) dalam kuali mereka. Ke-mudian, Nabi Elisa melemparkan tepung ke kuali itu, sehingga makanan itu akhirnya bisa dimakan dan tidak berbahaya. Kisah keempat (4:42-44) adalah kisah tentang Elisa melipatgandakan makanan, sehingga dua puluh roti jelai serta sekantong gandum cukup untuk dipakai memberi makan 100 orang, bahkan masih ada sisanya.
Kehadiran Nabi Elisa sebagai nabi Tuhan merupakan konfirmasi dari kehadiran dan kuasa Tuhan di tengah umat-Nya. Kehadirannya menjadi berkat di mana pun dia berada. Biarlah hal itu mendorong kita sebagai orang-orang Kristen agar kehadiran kita selalu bisa menyatakan keha-diran dan kuasa Tuhan yang besar, sehingga orang lain pun diberkati melalui kehadiran kita dan memuliakan Bapa kita di Sorga. [DP]
1 Petrus 2:12a,c
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi, supaya mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 5
Motivasi yang salah dalam pelayanan bisa mendatangkan masalah ter-hadap diri sendiri. Pasal 5 ini memperlihatkan kontras antara Nabi Elisa dan bujangnya, Gehazi. Pada waktu itu, Naaman, panglima Aram yang handal, terkena penyakit kusta dan disembuhkan TUHAN melalui Nabi Elisa. Ketika Naaman hendak memberikan imbalan (5:4), Nabi Elisa me-nolaknya dengan tegas, bahkan ketika terus-menerus didesak oleh Naa-man, Nabi Elisa tetap menolaknya (5:16). Mengapa? Karena bagi Nabi Elisa, kemurahan dan belas kasihan Allah tidak bisa dibeli dengan apa pun. Akan tetapi, sikap Nabi Elisa ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Gehazi. Karena kerakusannya, Gehazi melakukan tiga tindakan yang berakibat fatal, yakni: Pertama, dia menginginkan uang yang sebenarnya diperuntukkan bagi Nabi Elisa. Kedua, dia berpikir bahwa kemurahan Allah bisa ditukar dan dibeli dengan uang. Ketiga, dia menutupi kerakusannya akan harta dengan kebohongan, sekalipun yang dia minta jauh lebih kecil daripada imbalan yang hendak diberikan ke-pada Nabi Elisa (5:22).
Pasal ini bukan dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa uang itu ja-hat atau bahwa kita tidak boleh menerima pemberian (uang) dalam pe-layanan, namun pasal ini merupakan peringatan terhadap motivasi yang salah dalam pelayanan (khususnya nafsu rakus/tamak). Motivasi yang benar dalam pelayanan adalah motivasi yang dilandasi oleh kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama, tanpa maksud mencari keuntungan. Marilah kita memeriksa motivasi kita di hadapan Tuhan yang Mahatahu, karena sesungguhnya kita tidak bisa melayani Tuhan dan uang secara
bersamaan (bandingkan dengan Matius 6:24b). [DP]
2 Raja-raja 5:16
“Tetapi Elisa menjawab: Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa. Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.”
Waspadai Dosa Kerakusan!
Minggu 30 Mar
Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 6
Seorang yang penglihatannya kurang jelas tentu akan sangat tertolong bila menggunakan kacamatanya. Dengan begitu, barulah ia dapat me-lihat dengan jelas tanpa mengalami gangguan berupa kaburnya pan-dangan.
Ketika Raja Aram datang untuk menangkap Nabi Elisa, nabi terse-but sangat yakin kepada Tuhan. Keyakinannya dia ungkapkan kepada bujangnya dengan berkata bahwa “lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka” (6:16). Dalam hal ini, Nabi Elisa me-makai “kacamata iman” di tengah tekanan dan himpitan yang ada. Ke-yakinan Nabi Elisa ini berbanding terbalik dengan ketakutan bujangnya. Menghadapi kepungan tentara Aram, bujangnya menganggap hal itu bisa mengakibatkan celaka dan dia tidak melihat adanya jalan keluar. Namun, Nabi Elisa berdoa dan meminta agar mata bujangnya terbuka sehingga bujangnya akhirnya bisa “melihat” bahwa gunung di sekitar mereka tinggal penuh dengan tentara Sorga beserta kuda dan kereta berapi yang mengelilingi mereka (6:17-18).
Ketika kita menghadapi masalah atau tekanan hidup yang tidak bisa kita atasi dan yang seolah-olah tidak memiliki jalan keluar, ingatlah kisah dalam 2 Raja-raja 6 ini. Ingatlah bahwa ketika kita memandang masalah hidup dengan kacamata iman, kita akan menyadari bahwa Allah senan-tiasa menyertai kita dan Dia sedang bekerja melalui masalah yang Dia izinkan terjadi atas hidup kita. Apabila kita tidak bisa melihat bahwa Allah sedang bekerja melalui masalah yang sedang kita hadapi, bisa jadi masalahnya adalah karena kita tidak memandang masalah tersebut de-ngan kacamata iman. [DP]
2 Raja-raja 6:16
“Jawabnya:
Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.”
Kacamata Iman
Senin 31 Mar