• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARKET BRIEF PELUANG USAHA PRODUK PAKAIAN PRIA (HS 6201) DI ITALIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MARKET BRIEF PELUANG USAHA PRODUK PAKAIAN PRIA (HS 6201) DI ITALIA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1 INDONESIAN TRADE PROMOTION CENTER

ITPC MILAN

Via Vittor Pisani, 8 – 6° Piano 20124 Milan (MI), ITALY

Tel. +39 02 3659 8182 Fax. +39 02 3659 8191

MARKET BRIEF

PELUANG USAHA PRODUK PAKAIAN PRIA

(HS 6201) DI ITALIA

2016

INDONESIAN TRADE PROMOTION CENTER ITPC MILAN

Via Vittor Pisani, 8 – 6° Piano 20124 Milan (MI), ITALY Tel. +39 02 3659 8182 Fax. +39 02 3659 8191

(2)

2 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL 1 DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 I. PENDAHULUAN I. 1 Pemilihan Produk 10

I. 2 Profil Geografi Italia 14

II. POTENSI PASAR PRODUK PAKAIAN PRIA DI ITALIA II. 1 Ekspor Produk Pakaian Pria Italia ke Dunia 16

II. 2 Potensi Pasar Produk Pakaian Pria di Italia 18

II. 3 Regulasi Impor Produk Pakaian Pria di Italia 23

II. 4 Saluran Distribusi Produk Pakaian Pria di Italia 30

II. 5 Hambatan dan Tantangan Lainnya 31

III. PELUANG & STRATEGI III. 1 Peluang 33

III. 2 Strategi 34

(3)

3

KATA PENGANTAR

Dalam upaya penyediaan informasi pasar produk 10 – 10 – 3 dan sesuai dengan keputusan Menteri Perdagangan RI No. 706/M-DAG/KEP/9/2011 tentang Pedoman Penyusunan dan Mekanisme Pelaporan Perwakilan Perdagangan di Luar Negeri, ITPC Milan, Italia telah melakukan penyusunan Market Brief yang didasarkan pada studi literatur (desk study). Informasi pasar ini diharapkan dapat berguna sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh pimpinan dan atau sebagai bahan referensi pelaku usaha dibidangnya. Penulisan Market Brief merupakan rangkaian kajian yang terus dilakukan selama 1 tahun untuk memenuhi target yaitu menyiapkan 10 Market Brief.

Pada topik ini dipilih produk pakaian pria (HS 6201) sesuai data yang mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar serta adanya peluang pasar untuk produk pakaian pria di Italia. Di dalam Market Brief ini akan diinformasikan mengenai latar belakang pemilihan produk, profil Italia, potensi pasar, serta peluang dan strategi memasuki pasar di Italia.

Untuk itu penyusunan laporan ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang berguna bagi pihak Pemerintah maupun Swasta di Indonesia, khususnya bagi kalangan eksportir dan pengusaha produk terkait dalam menyikapi peluang ekspor di italia.

Disadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan ini sangat kami harapkan.

Semoga Laporan Market Brief ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan informasi tentang produk pakaian pria.

Milan, September 2016 Kepala ITPC Milan Agung Pramudya FR.

(4)

4 Abtraksi

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memainkan peranan penting dalam meningkatkan orientasi ekspor di negara-negara Asia, seperti Indonesia, Hong Kong, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Cina, Thailand, dan Vietnam. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa Indonesia. Selain mempunyai kontribusi yang besar di dalam PDB dan devisa, industri TPT juga menyerap banyak tenaga kerja, baik yang bekerja secara langsung ataupun tidak langsung.

Industri ini merupakan salah satu produk ekspor andalan Indonesia, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar tujuan ekspor TPT Indonesia. Negara- negara tujuan ekspor industri TPT Indonesia lainnya adalah Jepang, Turki, Korea Selatan, Inggris, Uni Emirat Arab, RRT, Brasilia, Malaysia, Belgia, Italia, Belanda, Spanyol, Kanada, Saudi Arabia, Thailand, Prancis, Vietnam, Taiwan. 1

Akan tetapi, Industri tekstil dan pakaian jadi menjadi salah satu sektor industri yang menorehkan kinerja negatif tahun 2015 lalu. Sampai kuartal III–2015, kinerja industri ini turun 6,14%. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, industri tekstil ini tumbuh positif 1,38%. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor tekstil dan pakaian jadi periode Januari–November 2015 tercatat US$ 3,589 miliar, atau hanya naik 1,19% ketimbang ekspor pada periode yang sama tahun lalu senilai US$ 3.547 miliar. Salah satu cara menggenjot ekspor tekstil untuk mencapai kenaikan hingga dua kali lipat adalah membuka perdagangan bebas dengan Amerika Serikat dan Eropa.2

Upaya-upaya untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia untuk produk pakaian pria ini perlu segera diimplementasikan mengingat sejak tahun 1998, konsumsi belanja pria untuk produk fashion terutama pakaian semakin meningkat. Berdasarkan laporan terbaru dari Euromonitor, industri pakaian secara global

110 Komoditi Utama Ekspor Indonesia, http://www.kargonews.com/articles/10-komoditi-utama-ekspor-indonesia, diakses

pada 7 September 2016

2“Ekspor Melambat, Kinerja Industri Tekstil Kian Lemah”,

(5)

5 tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi yang melanda Amerika Utara dan Eropa beberapa tahun belakangan ini. Performa penjualan pakaian pria bahkan melampaui penjualan pakaian wanita di berbagai pasar utama dunia seperti di Inggris, Jerman dan Amerika Serikat, dimana nilai transaksi pasar pada tahun 2016 ini diperkirakan akan mencapai USD 450 trilyun.3

Di Eropa, Jerman merupakan negara pengimport utama untuk produk pakaian. Berdasarkan data Eurostat 2015 mengenai distribusi di pasar fashion Eropa tiga pasar terbesar adalah Jerman, Inggris dan Perancis yang mewakili hampir separuh dari sektor retail pakaian pria di Eropa. Italia sendiri menduduki peringkat ke 4. Bersama dengan Perancis, Italia merupakan negara-negara pengimport produk pakaian yang juga dikenal sebagai tempat kelahiran produk-produk fashion dan apparel (pakaian) kreatif dan inovatif. Sementara itu negara-negara eropa timur seperti Polandia, Rumania dan Slovakia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang signifikan si sektor ini, dengan adanya pertumbuhan dalam pasar domestik dan akses yang mudah ke negara-negara Uni Eropa, Rusia, Turki dan negara-negara Timur Tengah. 4

Italia memiliki 4 musim. Musim gugur di Italia Utara, Tengah, dan Selatan berturut-turut adalah adalah 7°C, 12°C, dan 16°C. Musim dingin dimulai dari minggu ketiga Desember hingga pertengahan bulan Maret. Suhu di Italia Utara mencapai -2°C dan maksimum 5°C. Di Italia Tengah, suhu minimum mencapai 4°C dan maksimum 13°C.

Sementara itu untuk Musim semi yang dimulai pada pertengahan Maret sampai dengan pertengahan Juni, suhu di Italia Utara berkisar pada 4º C mínimum dan 21º C maksimum. Italia Tengah berkisar pada 6º C sampai 25º C dan di Italia Selatan 16º C mínimum dan 25 º C maksimum. Sedangkan pada musim panas yang dimulai pada pertengahan Juni sampai dengan minggu kedua September,

3“The Rise of Man Shopping in Five Studly Charts, http://qz.com/186074/the-rise-of-man-shopping-in-five-studly-charts/,

diakses pada 7 September 2015.

(6)

6 suhu mínimum di Italia Utara, Tengah dan Selatan berturut-turut adalah 16º C, 19º C dan 23º C dengan suhu maksimum antara 30º C - 40º C (http://www.Italylogue.com/weather).

Suhu yang cukup dingin, berangin dan tingginya curah hujan di musim gugur dan musim dingin serta suhu yang cukup hangat di musim semi dan musim panas menjadi salah satu faktor penting akan kebutuhan produk pakaian pria (HS 6201). Potensi ekspor produk ke Italia tidak hanya didukung oleh faktor iklim saja yang jelas memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap kenaikan trend impor produk HS 6201 dari dunia pada periode tahun 2011-2015 sebesar 6,59 %.5 , tetapi juga oleh faktor budaya berbusana di Italia. Budaya “la bella

figura” atau memberikan kesan yang baik adalah salah satu bagian dari tradisi masyarakat Italia, salah satunya melalui busana yang dikenakan. Fashion dianggap sebagai bagian penting dalam kultur Italia.

Oleh karena itu, kita dapat mengambil hipotesis awal bahwa peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk pakaian pria (HS 6204) ke Uni Eropa khususnya Italia masih terbuka lebar. Untuk dapat mengambil peluang tersebut, maka Indonesia perlu melakukan beberapa langkah strategis sebagai berikut:

a. Strategi produksi

Strategi ini meliputi manufaktur dengan mengutamakan konsep Corporate Social Responsibility (CSR). Produk ekologis, organik, atau teknis dan pengurangan Carbon footprint.

b. Strategi produk

Strategi ini meliputi memberikan layanan kepada retailer-retailer Eropa, dalam bentuk kontribusi membantu pemenuhan selera konsumen dan memberikan peningkatan kualitas layanan bagi pengimpor.

(7)

7 c. Strategi transaksi

Strategi ini meliputi membangun hubungan baik dengan pembeli dan menjamin transparansi dalam proses distribusi produk dan memperluas saluran distribusi

d. Strategi promosi

Strategi ini meliputi partisipasi dalam pameran berskala internasional seperti Milan Fashion Week, dan sebagainya serta bekerja sama dengan ITPC setempat untuk membangun citra Indonesia yang positif, serta melakukan promosi penjualan langsung ke konsumen melalui website, dan penggunaan media sosial dan media fashion sebagai sarana untuk mempromosikan perusahaan atau produk

(8)

8 I. PENDAHULUAN

Eropa masih merupakan tujuan ekspor sektor apparel yang menarik bagi negara-negara berkembang walaupun krisis ekonomi belakangan ini telah membuat konsumsi produk apparel cenderung menurun di Eropa. Konsumsi sektor apparel diperkirakan tetap berkembang antara tahun 2012-2017.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Eropa memiliki investasi sebesar kurang lebih 4 milyar Euro pada tahun 2014. Seiring dengan kebangkitan dalam aktivitas bisnis di Eropa dimana perdagangan eksternal EU menjadi lebih dinamis, sekitar 173 ribu perusahaan di industri TPT memiliki nilai ekspor sebesar 43 milyar euro dan nilai impor sebesar 99 milyar euro dari negara-negara berkembang. 6

Berdasarkan Figur 1, Italia merupakan negara penghasil terbesar produk pakaian jadi di eropa dengan nilai produksi mencapai 46%. Di kenal dengan reputasinya sebagai salah satu negara yang menjadi rujukan tren fashion dunia, Italia mendominasi dengan nilai poduksi hampir separuh dari keseluruhan nilai produksi negara-negara eropa lainnya, dan berada jauh diatas Spanyol dan Rumania yang berada di posisi kedua dan ketiga dengan nilai produksi sebesar 10% dan 8%. Meskipun Italia merupakan negara penghasil pakaian terbesar di Eropa, peluang bagi para produsen pakaian jadi untuk memasuki pasar Italia masih terbuka lebar mengingat Italia juga merupakan salah satu negara konsumen terbesar bagi produk pakaian jadi.

(9)

9 Figur 1 : Negara-negara penghasil produk pakaian jadi di Eropa pada 2015

Sumber : Eurostat 2015

Sementara itu, berdasarkan figur 2, Italia berada di posisi ke empat sebagai konsumen produk pakaian jadi di negara-negara Uni Eropa dengan nilai konsumsi sebesar 11%. Posisi pertama sebagai negara konsumen terbesar untuk produk pakaian jadi di Uni Eropa adalah Jerman dengan total nilai konsumsi sebesar 17%. Posisi kedua dan ketiga diduduki oleh Inggris dan Perancis dengan total nilai konsumsi sebesar 16% dan 12%.

Konsumsi di beberapa negara konsumen besar untuk produk pakaian jadi ini seperti Jerman dan Italia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu penurunan terbesar dialami beberapa negara di Eropa Selatan, terutama Spanyol dan Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk mengekspor produk pakaian jadi ke Italia masih terbuka lebar, terutama untuk produk-produk yang inovatif dengan harga relatif murah.

(10)

10 Figur 2 : Konsumsi negara-negara Eropa untuk produk pakaian jadi pada 2015

Sumber : Eurostat 2015

I. 1 PEMILIHAN PRODUK

Industri fashion di Eropa adalah industri yang mengalami perubahan cukup pesat setiap tahunnya, dimana trend gaya, bahan, dan warna busana cenderung berganti pada setiap musim.

Disamping jenis bahan (serat buatan, katun dan wol), warna juga merupakan hal penting lainnya yang perlu diperhatikan. Di italia, trend warna busana berubah seiring bergantinya musim. Pada musim dingin, busana yang dikenakan umumnya memiliki dominasi warna gelap seperti hitam, abu-abu, dan coklat tua. Pada musim semi dan musim panas, busana yang dikenakan cenderung menggunakan warna terang dan bermotif. Sementara, busana yang dikenakan pada musim gugur cenderung berwarna coklat, oranye, kuning, merah, dan juga warna-warna netral gelap seperti hitam dan abu-abu.

(11)

11 Untuk pakaian pria, umumnya terbagi dalam berbagai kategori seperti Kemeja, Jas, Celana Pendek, Celana Panjang, Jaket, Blazer, Mantel dan aksesoris pendukung berupa Ikat Pinggang, Scarf, Sarung Tangan dan sebagainya.

Gambar 1 : Jenis-jenis Pakaian Pria

Secara garis besar, pasar sektor apparel dibedakan menjadi enam segmen. Segmentasi pasar selengkapnya dapat disimak pada Tabel 1. Segmen terbawah ditandai dengan adanya produksi massal dengan kualitas produk mendasar. Semakin ke atas, kualitas barang yang diproduksi semakin baik dan jumlah item yang diproduksi pun semakin terbatas dan eksklusif. Berdasarkan klasifikasi

(12)

12 tersebut, terlihat bahwa harga produk pakaian pria jadi berbanding lurus dengan kualitas dan ekslusifitasnya.

Tabel 1: Segmentasi pasar produk pakaian jadi di Eropa

Segmentasi Kualitas Range

harga Branding Saluran distribusi Volume Pemesanan Jumlah Toko Cabang High-end Haute Couture Kualitas unggul dengan jumlah produksi sedikit-sedang Lebih dari 1000€ Brand-brand eksklusif dengan desainer terkenal Toko-toko desainer Kurang lebih 300 potong - High end Pret-a-Porter Kualitas unggul dengan jumlah produksi sedikit-sedang 120€-1000€ Brand-brand eksklusif dengan desainer terkenal Toko-toko desainer dan toko-toko independen khusus 500-1500 potong Antara 10-25 Menengah ke atas Kualitas bagus dengan jumlah produksi sedikit-sedang 100€-500€ Brand-brand dengan desainer yang tidak begitu kondang, menekankan pentingnya branding Toko-toko independen dan department store eksklusif 1500-4500 potong Antara 25-35

Menengah Kualitas bagus dengan jumlah produksi sedang 60€-200€ Brand tunggal, dan menekankan pentingnya branding Toko-toko independen, toko cabang, department store, pemesanan lewat pos 1000-10.000 potong Lebih dari 50 Menengah ke bawah Kualitas sedang dan diproduksi 20-120€ Privat, sebagian Toko-toko independen, toko cabang, 5000-30.000 potong Lebih dari 100

(13)

13 dalam skala sedang-besar dengan branding department store, pemesanan lewat pos Bawah Komoditas produksi masal dengan kualitas dasar 2-20 € Privat, tanpa brand Factory outlet, hypermarket 10.000-50.000, 50.000-100.000 potong Lebih dari 150 Sumber: Cbi.nl

Orientasi konsumen Eropa terhadap pakaian pria berkaitan erat dengan budaya. Gaya berpakaian ditentukan oleh status sosial, umur, kepentingan bisnis, dan tradisi. Di negara-negara Eropa khususnya di Italia, setiap konsumen memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dari segi orientasi berbusana, preferensi kualitas dan harga. Trend fashion menjadi hal yang tersebar dengan mudah melalui media pers dan internet.

Berikut ini daftar negara pemasok terbesar produk pakaian pria bagi Italia berdasarkan Atlas of Economic Complexity 2015:

Figur 3 : Negara-negara pemasok produk pakaian pria ke Italia pada 2015

(14)

14 Dari data tersebut, negara-negara Asia yang berada di peringkat teratas sebagai pemasok produk pakaian pria ke Italia adalah Cina, Bangladesh dan Vietnam. Oleh karena itu, dengan strategi yang tepat yang akan dibahas kemudian, Indonesia masih berpeluang untuk mengejar ketinggalannya dari negara-negara tersebut dan meningkatkan ekspor produk pakaian prianya ke negara-negara Eropa terutama ke Italia.

I.2 Profil Geografi Italia

Italia sebelah utara berbatasan langsung dengan empat negara Eropa yaitu Perancis, Swiss, Austria dan Slovenia. Memiliki posisi yang strategis yaitu berada di tengah-tengah antara Eropa dan Afrika, Italia meiliki keuntungan sebagai negara yang memberikan akses ke negara-negara Eropa Utara, negaranegara Mediterania dan negara-negara Eropa Timur. Wilayah Italia meliputi luas kedaulatan 301.340 km2 termasuk dua pulau utama yaitu pulau Sisilia dan pulau Sardinia, yang merupakan dua pulau utama di samping 38 pulau lainnya. Italia memiliki dua teritorial yang independen yaitu Kota Vatican dan Republik San Marino.

Kota perdagangan di Italia adalah Milan dengan GDP per kapita pada awal tahun 2014 mencapai € 35.137. Milan disebut-sebut sebagai salah satu kota utama untuk keuangan dan bisnis dimana GDP-nya merupakan ke-4 tertinggi di Eropa dan ke-26 tertinggi di dunia. Milan juga menduduki 20 besar sebagai kota dengan finansial terbaik.

Diantara kota-kota di Italia, Milan merupakan kota dengan jumlah tenaga kerja produktif terbesar yaitu 50.7% dari total jumlah penduduk di kota Milan. Milan juga dikenal sebagai pusat mode dunia. Kondisi perekonomian Milan yang juga merupakan kekuatan dan potensinya adalah banyaknya jumlah perusahaan asing

(15)

15 yang beroperasi yaitu sekitar 19.500 perusahaan. Milan juga merupakan kota no-2 di dunia setelah New York dalam hal jumlah konsultan asing. Hal ini menunjukkan potensi dan peluang yang cukup besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk mencoba meningkatkan ekspornya ke Italia

Milan terletak di Propinsi Lombardia, yang memiliki area perdagangan seluas 550,000 meter persegi yang dikelola oleh “La Fiera Milano”. Setiap tahun lebih dari 30,000 pameran perdagangan diselenggarakan. Nilai perdagangan asing mencapai angka € 250 juta. Setiap tahun nilai ekspor Lombardia mencapai angka € 75 miliar sementara nilai impor mencapai €95 miliar. Tingginya nilai impor dibanding nilai ekspor tetap merupakan peluang yang baik bagi para pelaku usaha Indonesia untuk menggenjot nilai ekspornya dan mengembangkan sayapnya ke pasar Italia melalui Lombardia.

Berdasarkan estimasi sensus yang dilakukan oleh ISTAT pada Desember 2013, populasi di Italia mencapai 60.782.668 jiwa dengan dua wilayah berpenduduk terbesar di wilayah Italia-Utara sebanyak 27 % dari jumlah populasi dan wilayah Italia-Selatan sebanyak 23 % dari jumlah populasi

Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Italia. Mayoritas penduduk Italia beragama Katolik dengan persentase sebesar 83%. Italia dikenal sebagai negara yang penuh dengan peninggalan sejarah dan jenius dalam kebudayaan. Saat ini Italia memiliki 400 buah museum, galeri dan situs arkeologi.

Italia memiliki fasilitas transportasi yang sangat baik, dimana jaringan kereta api dikontrol oleh Trenitalia, Ferrovie dello Stato (Perusahaan Kereta Api Italia) yang rata-rata mengangkut setidaknya 23,3 juta ton komoditas sejak tahun 2005 dan kecenderungan jumlah penumpang yang selalu meningkat.

Jaringan jalan raya untuk pengangkutan kargo dan truk serta transportasi penumpang juga terus bertambah. Sementara komoditas minyak menggunakan pelayaran sebagai moda transportasi utama dengan jaringan pelabuhan antara lain di Genova, La Spezia, Napoli, Trieste, Livorno dan Venezia. Untuk moda penerbangan, Italia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan sejak tahun 2005 dimana tercatat setidaknya terdapat 48,9 juta penumpang domestik dan 63,2 juta penumpang internasional. Italia telah membangun dua bandara udara yang modern di Roma yaitu Fiumicino dan Ciampino serta dua di Milan yaitu Linate dan

(16)

16 Malpensa yang mencatat 50% kedatangan dan penerbangan internasional dilakukan di Milan.

Beberapa sektor yang turut mendukung kondisi ekonomi Italia diantaranya adalah sektor pos dan telekomunikasi. Italia telah mengalami reorganisasi yang dilakukan pada tahun 2004 dimana Italia berhasil menggabungkan 3.440 perusahaan skala kecil menjadi beberapa perusahaan skala besar. Beberapa perusahaan komunikasi yang berskala multinasonal antara lain: Vodavone, Telecom, Tele2, Wind, H3g serta memiliki pasar yang terus berkembang, dimana 70% populasi memiliki setidaknya satu telepon selular. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Italia juga mulai memberikan insentif kepada perusahaan swasta. Italia juga memiliki sistem IT yang sangat baik pada kantor-kantor administrasi lokalnya.

Otoritas sektor perbankan Italia berada di bawah Bank of Italia yang berdasarkan hukum perbankan Eropa bertanggung jawab sebagai peninjau, pemeriksa serta menganalisa sistem perbankan di seluruh negeri.

II.POTENSI PASAR PRODUK PAKAIAN PRIA DI ITALIA II.1 Ekspor Produk Pakaian Pria Italia ke Dunia

Berdasarkan Tabel 2, ekspor HS 6201 ke dunia pada tahun 2015 mengalami penurunan year-on-year sebesar -10,34 %, meskipun secara keseluruhan menunjukkan trend kenaikan sebesar 6,59 % selama periode 5 tahun terakhir (2011-2015). Kenaikan tren ekspor ini tidak lain dilatarbelakangi oleh semakin maraknya perusahaan manufaktur dan desain produk pakaian pria Italia yang diakui sebagai inovator dan trendsetter moda dunia melakukan ekspansi ke pasar internasional yang saat ini dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan pasar dalam negeri. Kenaikan ini juga disebabkan adanya kenaikan nilai konsumsi pria di pasar Eropa dan Amerika untuk produk-produk fashion seperti pakaian pria dan aksesorinya

(17)

17 Tabel 2 : Kinerja Ekspor Produk Pakaian Pria Italia dengan Dunia

(2011-2015)

Italia-World Balance of Trade - HS 6201 (Men’s Apparel) 2011 – 2015

Value: Million USD

2011 2012 2013 2014 2015 Trend (%) 11-15 Change (%) 15/14 Export 759.97 755.32 882.72 1,009.13 904.80 6.59 -10.34 Import 900.06 760.37 762.75 887.10 796.95 -0.89 -10.16 Balance of Trade -140.08 -5.05 119.97 122.04 107.85 Source: WTA/Istat

Di lain pihak, Impor HS 6201 Italia dari dunia pada tahun 2015 mengkontribusikan total nilai sebesar 796,95 juta USD atau menurun 10,16 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai 887,10 juta USD. Dalam jangka periode 5 tahun terakhir (2011-2015), tren impor Italia dari dunia mengalami penurunan sebesar 0,89 %. Sejak tahun 2012, Italia terlihat mengalami penurunan permintaan impor untuk produk HS 6201 menyusul jatuhnya daya beli konsumen domestik akibat krisis. Nilai permintaan untuk produk ini sempat mengalami kenaikan pada kurun 2013-2014 sebelum kembali mengalami penurunan pada periode selanjutnya (2014-2015).

Kinerja ekspor produk pakaian pria Italia ke negara lain di dunia dapat dilihat pada Tabel 3. Secara keseluruhan, Italia mengalami penurunan kinerja ekspor produk pakaian pria ke dunia sebesar 10,34 % pada tahun 2015 apabila dibandingkan dengan data pada tahun 2014.

Berdasarkan data tahun 2015 yang terdapat pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa Jerman menjadi negara tujuan ekspor di peringkat ke-1 dengan total nilai ekspor pada tahun 2015 sebesar US$ 101,97 juta. Perancis berada di peringkat ke-2 dengan total nilai ekspor pada tahun 2015 sebesar 96,55 juta, diikuti oleh Swiss dengan di peringkat ke-3 dengan total nilai ekspor pada tahun 2015 sebesar US$ 94,67 juta, Inggris di peringkat ke-4 dengan total nilai ekspor pada tahun 2015

(18)

18 sebesar US$ 91,98 juta, dan Amerika Serikat di peringkat ke-5 dengan total nilai ekspor pada tahun 2015 sebesar US$ 65,07 juta. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-92 dimana total nilai ekspor produk pakaian pria Italia ke Indonesia hanya sebesar US$ 0,07 juta

Tabel 3 : Kinerja Ekspor Produk Pakaian Pria Italia ke Dunia berdasakan Negara Tujuan

Italia's Export Partners of HS 6201 (Men’s Apparel) 2011 - 2015

Value: Million USD

Rank Country 2011 2012 2013 2014 2015 Trend (%) 11-15 Change (%) 15/14 World 759.97 755.32 882.72 1,009.13 904.80 6.59 -10.34 1 Germany 87.36 89.51 104.19 122.05 101.97 6.39 -16.45 2 France 109.64 102.64 112.69 120.53 96.55 -0.93 -19.89 3 Switzerland 55.97 62.73 74.43 105.28 94.67 16.99 -10.07 4 United Kingdom 67.29 65.87 82.40 97.17 91.98 10.67 -5.34 5 United States 29.62 33.25 39.25 58.70 65.07 23.89 10.86 6 Spain 59.30 53.88 53.07 64.07 56.04 0.60 -12.54 7 Netherlands 35.92 32.76 40.36 51.65 43.61 8.80 -15.57 8 China 21.47 25.01 37.26 38.89 40.68 18.76 4.62 9 Japan 34.97 36.37 36.64 36.71 38.30 1.93 4.35 10 Hong Kong 34.67 32.23 40.38 44.29 35.08 3.48 -20.79 92 Indonesia 0.14 0.03 0.02 0.12 0.07 -2.37 -45.40 Sumber : Istat

II.2 Potensi Pasar Produk Pakaian Pria di Italia

Italia banyak mengimpor produk pakaian pria dari negara – negara seperti Cina, Rumania, Vietnam, Jerman dan Belgia (data dapat dilihat pada Tabel 4). Secara garis besar, dalam kurun waktu 2014-2015 terjadi penurunan ekspor produk HS 6201 di Italia sebesar -0,89 %. Indonesia sendiri menempati peringkat ke 13 di antara dua puluh besar negara pengekspor HS 6201 bagi Italia, Indonesia termasuk negara yang mengalami kenaikan nilai ekspor dengan kenaikan sebesar

(19)

19 2,13,%, yaitu dari 13.04 juta USD pada tahun 2014 menjadi 13,32 juta USD pada tahun 2015.

Meskipun kenaikan nilai ekspor tersebut belum signifikan, hal ini menunjukkan bahwa ekspor produk pakaian pria Indonesia ke Italia masih berpotensi besar untuk terus dikembangkan. Oleh karena itu industri TPT Indonesia harus mampu bersaing dalam pemenuhan kapasitas produksi dengan biaya yang kompetitif dan sesuai dengan persyaratan yang diwajibkan oleh Uni Eropa.

Saat ini kelemahan sektor industri TPT di Indonesia berasal dari beberapa tekanan dalam negeri seperti birokrasi berupa regulasi yang belum memihak industri kecil dan adanya kemudahan bagi proses impor tekstil ke Indonesia sehingga hal ini dapat menjadi hambatan bagi pengembangan industri tekstil dalam negeri. Salah satunya adalah longgarnya ketentuan label seperti tidak adanya label berbahasa Indonesia bagi barang-barang impor tekstil. Tanpa label berbahasa Indonesia, keterangan dan kualitas barang sulit diketahui masyarakat umum. Dengan begitu, barang murahan berkualitas rendah pun bisa beredar dengan mudah. Industri lokal bakal dirugikan karena harus berkompetisi dengan barang impor berharga miring, sedangkan masyarakat juga dirugikan karena bisa saja barang berkualitas rendah tersebut membahayakan keselamatan.

Faktor lain adalah infrastruktur yang kurang memadai baik jalan maupun fasilitas pelabuhan untuk transportasi dan distribusi sehingga berpotensi mengakibatkan biaya ekonomi tinggi, serta adanya kenaikan suku bank yang menyebabkan pinjaman modal menjadi mahal. Kenaikan tarif dasar listrik sebesar 39% pada tahun 2014 turut mempengaruhi biaya produksi yang menjadi semakin tinggi. Selain itu hingga saat ini masih banyak peralatan mesin industri yang tua dan membutuhkan revitalisasi dan restrukturisasi mesin. Diperlukan mesin-mesin baru yang lebih efisien serta mampu meningkatkan kapasitas produksi.

(20)

20 Terlepas dari hal-hal tersebut diatas, kemampuan produk Indonesia untuk memenuhi persyaratan ekspor ke Uni Eropa termasuk Italia masih dapat terus ditingkatkan mengingat jumlah penduduk yang tinggi memungkinkan berkembangnya industri tekstil di Indonesia mengingat sektor industri ini membutuhkan banyak tenaga kerja (padat karya). Kondisi politik yang relatif stabil di Indonesia juga turut berkontribusi dengan memberikan iklim berinvestasi yang kondusif bagi investor-investor asing.

Selain itu, upah tenaga kerja industri tekstil di Indonesia yang relatif rendah membuat Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya dan memiliki comparative advantage sebagai tujuan outsourcing bagi perusahaan-perusahaan Eropa.

Perusahaan-perusahaan di Eropa cenderung untuk melakukan alih produksi (outsourcing) ke negara-negara luar dengan upah pekerja yang cukup rendah guna mengurangi biaya produksi. China masih memimpin sebagai sumber utama untuk industri apparel dunia. Pesaing Indonesia di kawasan Asia adalah Vietnam dan Bangladesh yang menempati peringkat ke 3 dan ke 11 dalam daftar negara-negara pengekspor produk pakaian pria ke Italia berdasarkan tabel 4. Di pasar global, Bangladesh sudah menempati posisi kedua setelah China sebagai eksportir produk apparel untuk merek-merek internasional. Di Bangladesh, saat ini sektor industri tekstil memperkerjakan sekitar 45% dari total buruh industri.

Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ramon Bangun mengungkap prospek industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini masih dapat eksis. Namun, dengan catatan, Indonesia harus memosisikan diri pada segmen menengah ke atas. Negara seperti Vietnam dan Bangladesh telah lebih dahulu bermain di segmen low-end. Kalau barang yang biasa akan sulit bersaing. Apalagi, Bangladesh mendapat fasilitas kerjasama perdagangan tekstil ke Eropa dan Vietnam mendapat fasilitas

(21)

21 ke Amerika Serikat, sementara Indonesia belum mendapatkan fasilitas kerjasama perdagangan (Free Trade Area) baik dengan Amerika Serikat maupun Uni Eropa7

Gambar 2: Pakaian Buatan Indonesia

Jarak antar sesama negara anggota Uni Eropa yang lebih dekat merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan besarnya impor produk HS 6104 Italia dari sejumlah negara di kawasan Uni Eropa yang mampu menawarkan biaya produksi yang lebih rendah, seperti Rumania dan Belgia.

Tabel 4. Kinerja Impor Italia terhadap Produk Pakaian Pria (2011-2015)

Italy's Import Partners of HS 6201 (Men's Apparel) 2011 - 2015

Value: Million USD

Rank Country 2011 2012 2013 2014 2015 Trend (%) 11-15 Change (%) 15/14 World 900.06 760.37 762.75 887.10 796.95 -0.89 -10.16 1 China 504.90 386.62 379.96 434.75 403.72 -3.25 -7.14 2 Romania 72.81 74.14 62.78 61.72 61.66 -5.03 -0.09 3 Vietnam 36.86 34.94 31.96 54.02 39.07 5.68 -27.67 4 Germany 25.01 20.17 18.91 23.78 23.26 0.19 -2.17 5 France 22.55 19.13 20.05 26.70 23.04 3.83 -13.71 6 United Kingdom 25.91 28.93 19.12 26.92 22.89 -3.14 -14.95 7 Czech Republic 9.02 9.08 11.47 15.74 17.88 21.16 13.62

7“Industri Tekstil Ingin Geser Dominasi India

(22)

22 8 Netherlands 29.19 27.03 28.00 21.97 17.11 -11.98 -22.13 9 Moldova 6.60 8.13 12.94 17.57 16.49 29.71 -6.18 10 Hungary 12.65 14.68 24.17 32.08 14.75 11.52 -54.02 11 Bangladesh 11.81 12.07 13.22 11.79 14.36 3.74 21.77 12 Bulgaria 17.98 17.06 18.95 17.56 14.16 -4.38 -19.36 13 Indonesia 15.99 14.65 16.55 13.04 13.32 -4.71 2.13 14 Belgium 15.05 13.34 14.41 13.32 12.57 -3.54 -5.57 15 Armenia 9.54 6.85 10.63 12.91 11.46 10.54 -11.22

Berdasarkan data pada tabel 5, Cina berada di peringkat ke-1 dengan menyumbang nilai impor sebesar 50,65% dari total nilai impor pada tahun 2015. Rumania berada di peringkat ke-2 yang menyumbang sebesar 7,75% dari total nilai impor pada tahun 2015, Vietnam berada di peringkat ke-3 yang menyumbang sebesar 4,9% dari total nilai impor pada tahun 2015, diikuti dengan Jerman dan Perancis yang berada di peringkat ke-4 dan ke-5 yang menyumbang sebesar 2,9% dan 2,89% dari total nilai impor pada tahun 2015. Sementara itu Indonesia sendiri berada di peringkat ke-13 yang menyumbang 1,67 % dari total nilai impor pada tahun 2015.

Tabel 5 : 10 Besar Negara Pengimpor Produk HS 6201 ke Italia

Italy's TOP 10 Import Partners of HS 6201 (Men's Apparel)

Rank Country Share (%)

2015 1 China 50.66 2 Romania 7.74 3 Vietnam 4.90 4 Germany 2.92 5 France 2.89 6 United Kingdom 2.87 7 Czech Republic 2.24 8 Netherlands 2.15 9 Moldova 2.07 10 Hungary 1.85 13 Indonesia 1.67 Others 18.04 Source: WTA/Istat

(23)

23 II.3 Regulasi Produk Pakaian Pria di Italia

Italia menerapkan kebijakan yang secara umum mengacu pada garis besar ketentuan impor yang telah ditetapkan oleh Uni Eropa. Dalam hal Standar Kualitas dan Persyaratan Sertifikasi, kebijakan impor serta regulasi ekspor yang perlu dipenuhi terkait persyaratan bagi pembeli secara umum dari Eropa dapat dibedakan menjadi tiga jenis:

1. Persyaratan-persyaratan wajib, yaitu yang harus dipenuhi eksportir untuk memasuki dan memasarkan produk di pasar Eropa seperti ketentuan hukum.

2. Persyaratan-persyaratan umum, yaitu yang harus dipenuhi untuk diikuti untuk memenuhi persyaratan pasar.

3. Persyaratan-persyaratan pasar niche untuk segmen-segmen tertentu.

Tabel 6. Persyaratan Wajib dalam Kebijakan dan Regulasi Ekspor Produk Tekstil yang diterapkan oleh Uni Eropa

No.

Jenis

Persyaratan Deskripsi Singkat

1

Persyaratan

Wajib Terdiri atas :

1. Keamanan produk (The General Product Safety

Directive) – berlaku untuk semua produk.

Ketentuan umum keamanan produk pada dasarnya

menetapkan bahwa semua produk yang akan dipasarkan ke Uni Eropa harus aman untuk digunakan. Apabila tidak terdapat ketentutan-ketentuan legal khusus untuk produk yang akan dipasarkan, ketentuan umum untuk keamanan produk juga berlaku sebagai tambahan, meliputi semua aspek keselamatan yang mungkin belum dibahas seluruhnya secara spesifik. Peraturan ini menjelaskan beberapa persyaratan keamanan umum yang berlaku bagi seluruh produk

(24)

24 kondisi yang telah dipakai, baik yang baru maupun yang telah diperbaiki, selama produk tersebut tidak dijual sebagai barang antik, atau harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum

digunakan. Atas dasar Directive tersebut, produk tekstil yang tidak aman (berbahaya) akan ditolak dari pasar Uni Eropa (http://inatrims.kemendag.go.id/id)

2. Zat-zat kimia – khusus untuk produk-produk tekstil, kulit, dan aksesoris – REACH

REACH adalah legislasi EU yang berhubungan dengan penggunaan zat-zat kimia. Legislasi ini berlaku wajib di EU sejak Juni 2007. REACH menetapkan sistem multiphase untuk zat-zat kimia yang ada maupun yang baru beserta ketentuan-ketentuannya bagi produsen-produsen di EU dan importir.

3. Regulasi (EU) No. 1007/2011 dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 27 September 2011 mengenai nama serat tekstil dan pelabelan serta penandaan komposisi serat pada produk tekstil. Regulasi ini mengatur pelabelan

dan penandaan (marking) yang terpadu untuk produk tekstil serta metode analisis yang akan diterapkan untuk verifikasi informasi yang tercantum di label dan tanda tersebut.

Peraturan ini berlaku untuk produk tekstil yang mengandung paling sedikit 80% serat tekstil dari beratnya, termasuk produk mentah, produk setengah diolah atau yang telah diolah, produk semi manufaktur atau manufaktur, produk setengah jadi atau produk jadi, serta produk yang diperlakukan sama dengan produk tekstil, kecuali produk yang dikontrakkan kepada pekerja rumahan, produk yang dibuat di perusahaan independen tanpa pemindahan barang, serta produk tekstil yang dibuat oleh penjahit outsourcing.

(25)

25

4. Directive1999/34/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 10 Mei 1999 yang mengamandemen Council

Directive 85/374/EEC mengenai pendekatan hukum, peraturan dan ketetapan administratif pada negara anggota terkait dengan tanggung jawab terhadap produk cacat (http://inatrims.kemendag.go.id/id)

5. Directive 99/44/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa

tertanggal 25 Mei 1999 mengenai aspek tertentu pada penjualan barang-barang konsumen dan jaminan-jaminannya berlaku terhadap kontrak untuk persediaan barang konsumen yang akan diproduksi. Menurut

Directive tersebut, penjual bertanggung jawab kepada konsumen atas segala ketidaksesuaian pada produk dalam jangka waktu dua tahun setelah produk tersebut dikirim. Negara Anggota dapat memberlakukan peraturan lebih tegas untuk menjamin tingkat perlindungan konsumen yang lebih tinggi (http://inatrims.kemendag.go.id/id).

6. Directive 2005/29/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa

tertanggal 11 Mei 2005 mengenai praktik komersial yang

tidak adil antara pelaku bisnis terhadap konsumen dalam pasar Uni Eropa, dan mengamandemen Council Directive 84/450/EEC, Directives 97/7/EC, 98/27/EC dan 2002/65/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa serta Regulation (EC) No. 2006/2004 dari Parlemen dan Dewan Eropa (“Unfair

Commercial Practices Directive”) bertujuan untuk memastikan kelancaran aktivitas pasar internal Uni Eropa, karena

peraturan tersebut bermanfaat bagi konsumen dengan melindungi mereka dari praktik komersial yang tidak adil (http://inatrims.kemendag.go.id/id).

Persyaratan-Persyaratan Sukarela

Standar sukarela ditetapkan dan didukung oleh industri atau sektor terkait (dibandingkan dengan perundang-undangan wajib dalam bentuk peraturan teknis

(26)

26 yang diberlakukan untuk tujuan keselamatan dan kesehatan lingkungan hidup serta perlindungan konsumen). (http://inatrims.kemendag.go.id/id).

Persyaratan-persyaratan untuk tekstil dan produk tekstil di antaranya adalah sebagai berikut:

CEN/TC 248 –Tekstil dan produk tekstil

 EN ISO 12945-1:2000: Determination of fabric propensity to surface fuzzing and to pilling - Part 1: Pilling box method (ISO 12945-1:2000).  EN 1773:1996 - Textiles. Fabrics. Determination of width and length.  EN 1102:1995 - Textiles and textile products. Burning behaviour. Curtains

and drapes. Detailed procedure to determine the flame spread of vertically oriented specimens.

 EN ISO 105-E10:1996 – Textiles. Tests for colour fastness. Part E10: Colour fastness to decatizing.

 EN ISO 105-E03:2010 – Textiles. Tests for colour fastness. Part E03: Colour fastness to chlorinated water (swimming-pool water).

 EN 14971:2006 - Textiles. Knitted fabrics. Determination of number of stitches per unit of length and unit area.

 EN ISO 105-Z10:1999 - Textiles. Tests for colour fastness. Determination of relative colour strength of dyes in solution.

 EN ISO 139:2005/A1:2011 - Textiles. Standard atmospheres for conditioning and testing.

 EN 14621:2005 - Textiles. Multifilament yarns. Methods of test for textured or non-textured filament yarns.

 EN ISO 30023:2012 – Textiles. Qualification symbols for labelling workwear to be industrially laundered.

Berdasarkan peraturan negara-negara Uni Eropa untuk pemberian label pada produk mode dan tekstil, informasi yang tertera pada label harus mencantumkan keterangan mengenai jenis serat yang digunakan, negara tempat produk tersebut diproduksi, instruksi standar perawatan tekstil. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan-ketentuan tersebut :

(27)

27 1. Jenis Serat yang Digunakan :

Label harus menyertakan informasi mengenai jenis serat utama yang digunakan dan persentasinya, misalnya 80% wool, 20% katun dan sebagainya. Informasi yang diberikan harus dapat dipahami oleh pasar dimana produk tersebut dijual. Jika ekspor dilakukan ke negara-negara Uni Eropa, informasi hanya dalam Bahasa Inggris tidak memenuhi syarat. Contohnya di Italia, informasi yang tertera dalam label harus tertera dalam Bahasa Italia

2. Negara Tempat Produk Tersebut Diproduksi

Hal ini diperlukan untuk memberi informasi kepada konsumen mengenai asal usul dari produk yang mereka beli. Memberikan keterangan palsu dalam label mengenai tempat asal produk tersebut diproduksi adalah illegal.

3. Simbol Standar Perawatan Tekstil

Pencantuman instruksi pencucian produk tidak diwajibkan namun sangat disarankan. Standar yang digunakan diseluruh Eropa adalah GINETEX simbol

Pemberian label – ketentuan khusus untuk produk tekstil

Gambar : Simbol standar perawatan tekstil

Untuk produk-produk pakaian pria jadi yang dipasarkan di Italia, informasi yang tertera pada label harus ditulis dalam bahasa Italia. Label tersebut harus mencantumkan trademark/style produsen, manufaktur, importir, atau retailer dan jenis serat yang digunakan berdasarkan komposisi secara berurutan. Informasi selengkapnya tentang label dapat diperoleh dengan menghubungi institusi berikut ini:

Sistema Moda Italia

Federazione Tessile Moda Milan, Italia

tel: +39 02-641191

(28)

28 Sistema Moda Italiana (Sistem Mode Italia) merupakan salah satu organisasi terbesar di Eropa yang merepresentasikan industri mode dan tekstil. Organisasi ini, yang mewakili lebih dari empat ratus ribu karyawan dan sekitar lima puluh ribu perusahaan, merupakan komponen kunci dalam ekonomi dan industry produksi di italia. Organisasi ini bertujuan untuk melindungi dan mempromosikan kepentingan dari industri mode dan tekstil berikut semua anggotanya, mewakili seluruh jaringan baik secara nasional maupun internasional, dalam kaitannya dengan institusi, otoritas public, organisasi ekonomi, politik dan social. Secara khusus, Sistem Mode Italia bertujuan untuk menjadikan sektor mode dan tekstil sebagai sektor yang paling berpengaruh secara ekonomi di Italia. 8

Selain label yang mencantumkan informasi-informasi tersebut diatas, yang juga penting untuk diketahui adalah traceability label untuk produk pakaian yang diimpor Italia atau Uni Eropa dalam bentuk batch code atau barcode. Label ini dibuat untuk melacak asal usul produk berupa informasi-informasi mengenai pembuat produk, importir, distributor, penjual dan sebagainya. Hal ini penting untuk dilakukan jika suatu saat penarikan produk dari pasar perlu dilakukan, karena memungkinkan pihak berwenang untuk melacak produk mulai dari pabrik pembuatan sampai ke tangan konsumen, dan membantu produsen untuk melakukan control yang efektif terhadap proses produksi dan distribusi produk yang mereka hasilkan.

Uni Eropa memberikan kebebasan bagi para produsen untuk memilih teknologi yang mereka gunakan untuk sistem pelacakan (traceability) label , tergantung pada jenis apa yang paling sesuai bagi produk dan system distribusi mereka (cetak atau moulding), selama label tersebut mencantumkan informasi sebagai berikut :

1. Nama dan Alamat Produsen

Produsen harus mencantumkan nama yang tercatat sebagai merk dagang mereka dan alamat dimana mereka bisa dihubungi, di dalam produk atau dalam

(29)

29 dokumen yang menyertai produk. Hal ini merupakan keharusan, baik bagi produsen yang berada di Uni Eropa maupun yang berada di luar Uni Eropa. 2. Nama dan Alamat Importir

Peraturan yang sama juga berlaku bagi importir, namun importir tidak boleh meletakkan nama dan alamat dalam cara yang bisa menutupi atau menghalangi informasi yang disediakan oleh produsen.

3. Elemen Identifikasi

Produsen harus memastikan bahwa produk mereka memiliki tipe, serial atau nomer model dan elemen lain yang memungkinkan untuk dapat diidentifikasi. Jika ukuran atau jenis produk tidak memungkinkan bagi produsen untuk mencantumkan informasi tersebut pada produk, maka informasi tersebut harus dicantumkan pada kemasan atau dalam dokumen yang menyertai produk. 4. Identifikasi Operator Ekonomi

Identifikasi para operator ekonomi, baik yang memberi dan yang diberikan pasokan produk. Hal ini berlaku dalam periode minimal 10 tahun, meskipun diharapkan para pihak menyimpan dokumen-dokumen terkait (yang memungkinkan untuk dilakukannya proses pelacakan seperti invoices) dalam jangka waktu lebih lama, untuk mengantisipasi kemungkinan dokumen-dokumen tersebut perlu ditunjukkan sebagai bukti kepada otoritas yang berwenang terhadap pengawasan pasar. 9

9European Commission. (2013). The ‘Blue Guide’ on the implementation of EU product rules.

(30)

30 II.4 Saluran Distribusi

Berikut ini diuraikan distribusi produk pakaian pria jadi di Eropa.

Figur 4 : Saluran Distribusi Produk Pakaian Pria di Eropa secara Umum

Sumber: Cbi.nl

Berdasarkan Figur 4 , Saluran distribusi untuk produk pakaian pria di Eropa dikelompokkan menjadi lima jalur sebagai berikut:

1. Jalur langsung, yaitu produsen menjual produknya secara langsung ke konsumen atau pengguna akhir, misalnya perusahaan-perusahaan yang melakukan penjualan via pos.

2. Jalur Retailer, yaitu produsen menjual barang ke retailer lalu retailer menjualnya ke konsumen.

3. Jalur Grosir/Penjual Skala Besar, yaitu ketika produsen menjual produk ke retailer, dan retailer menjual produk tersebut ke konsumen.

4. Jalur Agen/broker, saluran distribusi ini biasanya digunakan untuk produk-produk yang diimpor dari negara-negara berkembang. Eksportir dari negara berkembang akan menjual produk ke agen, kemudian barang akan

(31)

31 dijual ke penjual skala besar atau grosir, dan dilanjutkan ke retailer, lalu dari retailer ke konsumen akhir atau pengguna akhir.

5. Multi Jalur, yaitu apabila lebih dari satu saluran distribusi digunakan untuk memasarkan produk untuk konsumen yang bervariasi.

Sementara itu, para pelaku pasar dalam saluran distribusi produk pakaian wanita mencakup Agen/Broker, Importir/Grosir/Distributor, Produsen Eropa, Retailer, Designer Shop/Gerai Desainer, Toko Independen, Toko Cabang Brand Tertentu, Departement Store, Hypermarket dan Supermarket, Factory Outlet, Pemesanan via pos, Webshop dan Pasar.

Sebagai contoh untuk mendapatkan gambaran lebih jauh mengenai jalur distribusi adalah merk Zara dari Spanyol. Merk ini menerapkan market oriented strategy. Harga di negara negara lainnya lebih tinggi berkaitan dengan jalur distribusi yang lebih panjang. Zara menempatkan pabrik pabrik yang dekat dengan negara tujuan selain pabrik utama di Spanyol. Hal tersebut untuk menghindari harga yang terlalu tinggi bagi negara negara seperti Asia yang secara geografis letaknya jauh dari Spanyol.

Untuk market entry strategy, di Indonesia Zara menggunakan sistem Franchise dengan distributor yang berhak atas brand zara. Dikarenakan Indonesia juga sama dengan Fillipina, Malaysia dan negara negara Arab , dipandang Zara masih sebagai negara negara yang mempunyai ancaman tinggi, dalam arti secara kebudayaan dan lokasi jauh berbeda dengan pusat dan pasar yang lebih kecil dan prediksi penjualan kecil. Distributor menggunakan sistem beli putus. Sehingga untuk stok apabila masih ada sisa maka tidak bisa direfund kembali.

II.5 Hambatan dan Tantangan

Hambatan dan tantangan yang akan dihadapi oleh eksportir produk biji kopi dari negara berkembang untuk masuk ke pasar Uni Eropa tak terkecuali Italia adalah sebagai berikut:

(32)

32 Tabel 7. Hambatan dan Tantangan yang Dihadapi oleh Eksportir Produk

Pakaian Pria dari Indonesia

No. Kategori Deskripsi Hambatan dan Tantangan

1 Pasar Pasar retail Eropa untuk bahan pakaian pria saat ini

mendapat tekanan yang cukup berat. Berkurangnya profit disebabkan oleh resesi ekonomi dan jatuhnya kepercayaan konsumen. Berdasarkan permintaan konsumen, koleksi pakaian pria akan berganti lebih cepat dan retailer

diharapkan mampu memenuhi kualitas bahan pakaian pria dengan harga yang setara, sehingga memberikan

pengalaman berbelanja yang memuaskan dan memenuhi permintaan pasar.

2 Kompetisi Persaingan di kalangan para retailer Eropa cukup ketat, khususnya untuk segmen menengah dikarenakan kondisi pasar yang jenuh. Berbagai jenis saluran distribusi

diperkirakan akan berkembang untuk memenuhi permintaan belanja konsumen akhir, terutama untuk pakaian pria yang tailored. Sebagian besar koleksi dan item produk pakaian pria didatangkan dari Asia termasuk Indonesia, namun retailer-retailer Eropa juga terus mencari alternatif pemasok dari negara-negara lain yang lebih kompetitif.

3 Komunikasi Para pembeli dari Uni Eropa umumnya tidak hanya tertarik dengan eksportir yang mengandalkan produk dan profil perusahaannya saja melainkan juga kondisi perekonomian negara eksportir. Reputasi dari negara eksportir dapat memberikan pengaruh terhadap pembeli misalnya

beberapa negara yang pernah mengirim produk yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku terbukti tidak berhasil dalam finalisasi kontrak akhir.

(33)

33 III. PELUANG DAN STRATEGI

III.1 Peluang

Berdasarkan data dari Euromonitor Internasional, pasar global untuk pakaian pria di proyeksikan akan mencapai sekitar USD 33 trilyun di tahun 2020, naik sebanyak 14% dari nilainya di tahun 2015 sebesar USD 29 trilyun.10

Sementara itu, berdasarkan Tabel 5 Indonesia hanya menduduki peringkat ke-13 sebagai negara eskportir produk pakaian pria ke Italia dengan nilai ekspor sebesar US$ 13,32 juta pada tahun 2015 dibawah Cina dan Vietnam yang menduduki peringkat ke-1 dan ke-3. Dengan memasukkan asumsi proyeksi kenaikan nilai pasar global sebesar 14% untuk produk pakaian jadi bagi pria seperti tersebut diatas, maka kita dapat mengambil hipotesis awal bahwa peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk pakaian pria ke Uni Eropa khususnya Italia masih terbuka lebar.

Salah satu produk yang berpeluang untuk diekspor ke Italia adalah produk tekstil dan pakaian batik. Motif dan corak batik yang beragam memiliki peluang besar untuk mendapatkan tempat di pasar Italia mengingat batik memiliki keunikannya tersendiri. Beragamnya motif dan corak batik memberikan kesan ekslusif dalam segi desain. Motif dan corak yang cerah juga cocok untuk digunakan di Italia pada musim semi dan musim panas. Selain itu, pakaian muslim Indonesia memiliki peluang untuk yang cukup besar untuk segmen pasar internasional. Meskipun pasar ekspor utama pakaian muslim masih didominasi negara-negara berpenduduk muslim. Namun, Indonesia juga mulai melirik negara nonmuslim seperti Amerika Serikat dan Eropa. Pakaian muslim belum memiliki HS

10Menswear Movement Dead, Mens Fashion Market Growth https://www.businessoffashion.com/articles/intelligence/

(34)

34 Code tersendiri namun masih digabungkan dengan kode untuk pakaian untuk pakaian wanita dan pria pada umumnya. 11

III.2 Strategi

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa strategi sebagai berikut.

Tabel 8. Strategi Peningkatan Ekspor Produk Pakaian Wanita HS 6104 ke Italia

No Strategi Deskripsi Outcome

1 Strategi Produksi

Manufaktur dengan mengutamakan konsep Corporate Social

Responsibility (CSR). Produk ekologis, organik, atau teknis dan pengurangan Carbon footprint. Industri pakaian pria Italia saat ini berkembang ke arah keberlanjutan lingkungan (environmental

sustainability). Saat ini mulai

bermunculan brand-brand yang merangkul konsumen dalam hal lingkungan, menggunakan materi yang bersahabat dengan lingkungan, dan menggalakkan daur ulang.

Eksportir dapat memasok pakaian pria dalam

kuantitas yang lebih besar lagi ke Uni Eropa karena semakin banyak produk yang memenuhi syarat dan ketentuan yang

diberlakukan oleh negara-negara Uni Eropa , terutama syarat dan ketentuan yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan

2 Strategi Produk

Memberikan layanan kepada retailer-retailer Eropa, dalam bentuk kontribusi membantu pemenuhan selera konsumen dan memberikan peningkatan kualitas layanan bagi

Dengan menyediakan jasa layanan konsumen yang memadai , memahami selera konsumen dan menghasilkan produk yang

11“Batik Indonesia Disukai Orang AS Hingga Jerman, Ini Penyebabnya. http://www.kemendag.go.id/id/news/

(35)

35 pengimpor. Segmen menengah ke

atas merupakan segmen yang cukup menantang dan merupakan pangsa pasar potensial bagi eksportir-eksportir di negara-negara berkembang.

sesuai, terutama di

segmen menengah ke atas yang merupakan pangsa pasar terbesar dan potensial di Uni Eropa, maka peluang produk HS 6201 produksi Indonesia untuk dapat terserap dan diterima di Uni Eropa terutama Italia semakin besar

3 Strategi Transaksi

Karena outsourcing masih akan menjadi trend produksi, maka para supplier perlu membangun hubungan baik dengan pembeli dan menjamin transparansi dalam proses distribusi produk.

Produksi dan rantai suplai diharapkan mampu

memenuhi standar kualitas Eropa sehingga hal ini dapat menjadi salah satu titik kekuatan dalam melakukan marketing.

Memperluas Saluran Distribusi.

Menurut analisa Euromonitor, beberapa perubahan terjadi setelah adanya krisis ekonomi. Retailer independen kehilangan volume dan hasil penjualan. Pada tahun 2012, share untuk produk pakaian pria yang didistribusikan melalui departemen store dan mass

merchandiser mengalami penurunan. Jumlah franchise retail cabang di Italia meningkat karena adanya kenaikan jumlah cabang retail di seluruh Italia. Brand dan aksesibilitas menjadi lebih penting peranannya.

Dengan diperluasnya saluran distribusi, produk HS 6201 dari Indonesia akan meningkat

aksesibilitasnya, yang akan berdampak pada

meningkatnya kuantitas pembelian produk

(36)

36 4 Strategi

Promosi

Melakukan promosi penjualan langsung ke konsumen melalui website, dan penggunaan media sosial dan media fashion sebagai sarana untuk mempromosikan perusahaan atau produk. Diperkirakan pada tahun-tahun mendatang jumlah pembelian secara online akan terus meningkat. Online store juga dapat digunakan sebagai media untuk memberikan penawaran koleksi-koleksi khusus, misalnya produk-produk yang bersifat fair trade dan berkelanjutan

Melalui promosi penjualan secara online, brand dan produk produksi Indonesia akan semakin dikenal, yang pada akhirnya akan

meningkatkan impor produk pakaian pria Indonesia ke Italia

Berpartisipasi dalam pameran bahan

di Eropa dan pameran-pameran fashion pria, untuk mendapatkan informasi tentang bahan-bahan yang sedang populer untuk pakaian pria outwear.

Meningkatnya impor produk pakaian pria dari Indonesia ke negara-negara Uni Eropa lainnya

Bekerjasama dengan Indonesia

Trade Promotion Center (ITPC) setempat untuk membangun citra Indonesia yang positif bagi negara Uni Eropa khususnya Italia

Meningkatnya impor produk pakaian pria dari Indonesia sebagai hasil dari citra positif yang dimiliki oleh Indonesia

5 Strategi Distribusi

Kerjasama atau kemitraan dengan agen-agen atau perusahaan yang mengorganisir pengalaman berbelanja alternatif.

Memperluas pangsa pasar melalui kerjasama

kemitraaan dengan memanfaatkan jaringan bisnis yang sudah dimiliki oleh mitra kerja tersebut.

(37)

37 Milan Fashion Week

Milan Fashion Week atau Pekan Mode Milan merupakan pagelaran busana yang diselenggarakan dua kali dalam setahun di kota Milan. Event yang digelar untuk menampilkan koleksi pakaian jadi untuk musim gugur dan musim dingin digelar setiap bulan Februari/Maret setiap tahunnya, sedangkan pagelaran untuk koleksi musim semi dan musim panas digelar di bulan September/Oktober setiap tahunnya. Pekan Mode Milan merupakan bagian dari serangkaian pekan mode lainnya yang juga diselenggarakan di kota-kota mode dunia lainnya, yaitu di New York, London dan Paris. Untuk bisa bergabung dalam event ini, desainer dapat berpartisipasi dengan menampilkan koleksinya dalam Pop Up Store dan Pagelaran Busana

IV. INFORMASI PENTING

6.1 Kedutaan Italia di Indonesia

Jalan Diponegoro no. 45 Menteng

10310 Jakarta - INDONESIA Tel: (+62-21) 31937445 Fax: (+62-21) 31937422

E-mail: ambasciata.jakarta@esteri.it

6.2 Trade Promotion Office Italia di Indonesia

Italian Trade Commission (ICE Jakarta)

Trade Promotion Section of the Italian Embassy BRI II, 29TH FLOOR, Suite 2902

Jl. Jend. Sudirman KAV. 44-46 10210 Jakarta - INDONESIA Tel: (0062) 215713560 Fax: (0062) 215713561 E-mail: giacarta@ice.it

(38)

38 6.3 Asosiasi Dagang Italia di Indonesia

Italian Business Association Indonesia (IBAI) Wisma BRI II, 15th Floor, Suite 1501

Jend. Sudirman No. 44-46 Jakarta 10210 Indonesia Tel. +62 (21) 571-3540

Fax +62 (21) 571-9013

Email: luigicarlo.gastel@pirelli.com

Contact person : Dr. Luigi Carlo Gastel, President

6.4 Kantor Promosi Perdagangan Indonesia di Italia

Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Milan Via Vittor Pisani, 8 - 6° Piano

20124 Milano (MI) - Italia Tel. +39 02 3659 8182 Fax. +39 02 3659 8191 Email: itpcmilan@live.it

6.5 Perwakilan Indonesia di Italia

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma Via Campania 53-55

00187 Roma, Italia Tel: +39064200911

Fax:+39064880280 / +390648904910 Website: www.embassyofindonesia.it

6.6 Asosiasi Produk Tekstil di Italia

 Sistema Moda Italia

Federasi Italia yang mewakili sektor tekstil dan industri fashion di Italia. Website: http://www.sistemamodaitalia.com

Milan head office

Viale Sarca 223, 20126 Milano

(39)

39 E-mail: info@sistemamodaitalia.it

 Associazione Tessile Italiana (A.T.I.) Website: http://www.asstex.it

Sede centrale vle Sarca 223 20126 MILANO MI

Tel. 02 66103404

6.7 Daftar Pameran Produk Tekstil (HS 6201) di Italia

 Milano Unica (Salone Italiano del Tessile) – www.milanounica.it –

diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Februari dan September di Milan, Italia.

 Milano Moda Uomo (Fashion Show) – www.milanomodauomo.it –

dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari dan Juni di Milan, Italia.

 Pitti Immagine Uomo – www.pittimmagine.com – diselenggarakan setiap

bulan Januari di Florence, Italia.

6.8 Daftar Importir Produk Tekstil di Italia

 Auchan S.p.a

Bisnis utama : Departemen store Website : www.auchan.it

Alamat : Strada 8 Palazo N., 20089 Rozzano, Milano Fiori, MI Telp/fax : 02 57581/02 57583189

Email :export.mifiori@auchan.it, import.mifiori@auchan.it

 COMEI – Compagnia Mercantile Internazionale SRL

Bisnis utama : Pakaian dan trading – eksport dan import

Website : www.comei.com

Alamat : Via I. Pogliaghi, 5 20146 Milano MI Telp/fax : 02 4241481/0248958335

Email : comei@comei.com

(40)

40 Bisnis utama : Garmen, aksesoris, retailer perlengkapan rumah – ekspor dan impor

Website : www.gruppocoin.it

Alamat : Via Terraglio, 17 30174 Mestre VE Telp/fax : 0412398267/041940102

 Nortons Spa

Bisnis utama : Import dan distribusi pakaian anak-anak

Alamat : Via Damiano Chiesta 37, 20026 Novate Milanese MI Telp/fax : 02 3545651 – 3546551/02 39100445

Email : nortons@nortons.it

 Onward Luxury group Spa

Bisnis utama : Produksi dan distribusi garmen fashion pria dan Website : www.jilsander.com

Alamat : Foro Buonaparte 71, 20121 Milano MI Telp/Fax : 02 8069131/ 02 72001877

 Pam Panorma Spa

Bisnis utama : GDO – importer dan buyer Website : www.gruppopam.it

Alamat legal : Via San Marco 5278, 30124 Venezia VE Alamat operasional: Via delle Industrie 8, 30038 Spinea VE Telp/Fax : 0415495486 / 0415495810

 SIMAR di Bigoni Edoardo Ciro & C. SAS Bisnis utama : Importer dan Eksporter Website : www.simar-tex.com

Alamat legal & Operasional : Via C. Battisti 22, 24062 Costa Volpino BG

Email : erica@simar-tex.com

(41)

41 Referensi :

1. 10 Komoditi Utama Ekspor Indonesia,

http://www.kargonews.com/articles/10-komoditi-utama-ekspor-indonesia, diakses pada 7 September 2016

2. “Ekspor Melambat, Kinerja Industri Tekstil Kian Lemah”,

http://kemenperin.go.id/artikel/13921/Ekspor-Melambat,-Kinerja-Industri-Tekstil-Kian-Lemah , diakses pada 7 September 2016

3. “The Rise of Man Shopping in Five Studly Charts,

http://qz.com/186074/the-rise-of-man-shopping-in-five-studly-charts/, diakses pada 7 September 2015.

4. CBI Trade Statistics – Apparel . www.cbi.edu, diakses pada 8 September 2016

5. 5. “Italy – World Balance of Trade – HS 6201 (Men’s Apparel) 2011-2015”, WTA/ISTAT, 9 September 2015

6. (Fashion Economic Trends-Camera Nazionale della Moda Italiana), 9 September 2016

7. Industri Tekstil Ingin Geser Dominasi India

http://www.kemenperin.go.id/artikel/6858/Industri-Tekstil-Nasional-Ingin-Geser-Dominasi-India, diakses pada 9 September 2016

8. http://www.sistemamodaitalia.com/it/federazione/chi-siamo, diakses pada 10 September 2016

9. European Commission. (2013). The ‘Blue Guide’ on the implementation of EU product rules. https://cemarking.net/traceability-requirements/, diakses pada 10 September 2016

10. Menswear Movement Dead, Mens Fashion Market Growth

https://www.businessoffashion.com/articles/intelligence/menswear-movement-dead-mens-fashion-market-growth, diakses pada 10

September 2016

11. “Batik Indonesia Disukai Orang AS Hingga Jerman, Ini Penyebabnya.

http://www.kemendag.go.id/id/news/2014/10/02/batik-indonesia-disukai-orang-as-hingga-jerman-ini-penyebabnya, diakses pada 10 September 2016

(42)

Gambar

Figur 1 :  Negara-negara penghasil produk pakaian jadi di Eropa pada 2015
Figur 2 :  Konsumsi negara-negara Eropa untuk produk pakaian jadi pada 2015
Gambar 1 : Jenis-jenis Pakaian Pria
Tabel 1: Segmentasi pasar produk pakaian jadi di Eropa
+7

Referensi

Dokumen terkait

HAMKA WILAYAH KOTA

Gambar 4.27 Soal latihan siswa konsep perbesaran bayangan pada

Game juga menyediakan goals(tujuan) untuk pengguna, sehingga pengguna mempunyai tujuan dalam memainkan game tersebut, jika game tidak mempunyai goals mungkin pengguna akan

Saran yang dapat peneliti berikan adalah pengambilan darah vena sebaiknya melalui vena ekor untuk meminimalkan terjadinya stress pada tikus, digunakan kadar minyak jelantah

Setelah pemberian jus mentimun dan tomat selama 7 hari, pada hari ke-8 dilakukan pengambilan darah post-test pada kelompok kontrol dan perlakuan untuk mengetahui kadar glukosa

Penarikan MS-manipulator ke daerah operasi merupakan kunci keberhasilan untuk mengatasi kerusakan booting dan terputusnya mekanisme pada gerakan naik-turun slave arm

Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh yang berlebihan karena penggantian cairan yang tidak cukup akibat asupan yang tidak memenuhi kebutuhan tubuh dan

Rata-rata penurunan kadar glukosa darah pada kelompok minuman berkarbohidrat lebih kecil daripada kelompok kontrol, akan tetapi menurut statistik tidak ada