BAB I PENDAHULUAN. yang penting terutama dalam rangka proses konsolidasi demokrasi. Pendekatan

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Dalam sistem politik yang demokratis, partai politik memiliki peranan yang penting terutama dalam rangka proses konsolidasi demokrasi. Pendekatan institusional memandang partai politik sebagai lembaga yang memiliki struktur dan fungsi untuk mencapai tujuan1. Secara ideal partai politik dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, dan memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara damai2. Partai politik merupakan representatif of ideas yang harus ada dalam kehidupan politik modern yang demokratis3. Melalui partai politiklah sirkulasi kepemimpinan politik sebuah Negara penganut sistem demokrasi berjalan.

Eksistensi sebuah partai politik ditentukan dari keikutsertaan mereka dalam pemilihan umum untuk memperoleh suara dari konstituen agar mendapatkan kekuasaan di pemerintahan. Partai politik yang gagal dalam pemilihan umum akan terancam eksistensinya dalam persaingan mempertahankan dan merebut kekuasaan. Indonesia sebagai Negara penganut paham demokrasi tentunya tidak terlepas dari peran penting yang dilakukan oleh partai politik. Tidak semua partai politik di Indonesia mampu memberikan kontribusi secara komprehensif dan optimal terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia. Hal

1 Rahman Arifin, 2002, Sistem Politik Indonesia Dalam Perpektif Struktural Fungsional, Surabaya: SIC, halaman 21

2

T May.Rudy, 2003, Pengantar Ilmu Politik Wawasan Pemikiran dan Kegunaannya, Bandung, Refika Aditama, halaman 87.

3 Robert Michael, 1984, Partai Politik Dalam Kecenderungan Oligarkis Dalam

(2)

2

ini salah satunya dikarenakan proses pelembagaan (institusionalisme) partai politik Indonesia masih belum optimal dan memiliki kompleksitas permasalahan internal.

Terdapat banyak partai politik yang sudah lama melintang di Indonesia yang terlibat dalam proses demokratisasi, baik di dalam struktur pemerintahan pusat maupun didalam struktur pemerintahan wilayah atau daerah. Pemilu legislatif tahun 2009 menjadi lebih istimewa dari pada pemilu sebelumnya karena diikuti oleh partai politik lokal Aceh. Terhitung ada 6 partai politik lokal Aceh yang ikut serta pada pemilu legislatif tersebut baik tingkat Propinsi atau tingkat Kabupaten/Kota di Aceh.

Partai politik lokal di Aceh muncul pasca dicapainya kesepakatan dalam nota kesepahaman antara perwakilan dari pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Finlandia pada 15 Agustus tahun 2005 silam. Salah satu butir nota kesepahaman itu menyepakati dibentuknya partai politik lokal di Aceh. Partai politik lokal merupakan partai poltik yang jaringannya terbatas pada suatu daerah (propinsi atau Negara bagian) secara sederhana, partai poltik lokal dapat dipahami sebagai partai politik yang didirikan dan berbasis di daerah, serta bekerja untuk kepentingan daerah4.

Pada pemilu legislatif perdana yang diikutinya, partai lokal Aceh berhasil memperoleh suara yang signifikan khususnya di tingkat Propinsi. Partai Aceh (PA) yang merupakan partai lokal yang dibentuk oleh eks kombatan GAM muncul sebagai penguasa tunggal dan menjadi pemenang pada Pemilu legislative

4 Ahmad Farhan Hamid, 2008, Partai Poltik Lokal di Aceh, Jakarta, kemitraan, halaman 34.

(3)

3

tersebut. Partai Aceh sukses meraih 46,93 persen suara sehingga berhasil memperoleh 33 kursi dari 69 kursi di DPR Aceh yang tersedia pada saat itu. Partai Daulat Aceh yang juga merupakan partai lokal hanya mampu memperoleh 1,85 persen suara dan mendapatkan 1 kursi di parlemen. Sementara 4 partai lokal lainnya tidak mampu membuktikan kemampuan mereka dalam merebut suara pemilih di Aceh.

Hal tersebut berbanding terbalik pada pemilu legislatif tahun 2014, Partai Aceh (PA) yang merupakan partai yang mendapatkan hampir 50 persen kursi di parlemen Aceh pada periode sebelumnya hanya mampu meraih 34,30 persen suara pada pemilu tersebut. Partai Aceh hanya mampu memperoleh 29 dari 81 kursi di DPR Aceh tahun 2014. Jumlah tersebut menurun dibandingkan hasil pemilu legislatif sebelumnya (Vivanews.co.id, Minggu, 27 April 2014). Dilihat dari perspektif kelembagaan, instability perolehan suara yang dialami oleh Partai Aceh tersebut disebabkan oleh faksionalisme yang terjadi diinternal Partai Aceh pada Pilkada tahun 2012 lalu yang mengakibatkan eksodusnya beberapa tokoh penting dari Partai Aceh yang kemudian membentuk partai lokal baru yakni Partai Nasional Aceh (PNA).

Berdasarkan fenomena mengenai instability perolehan suara yang dialami Partai Aceh pada pemilu legislatif tahun 2014 akibat perpecahan internal tersebut, penulis ingin mengkaji tentang pelembagaan Partai Aceh yang berfokus terhadap pelembagaan aspek internal yakni pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh pada Pilkada Aceh tahun 2012 yang berdampak terhadap penurunan perolehan suara Partai Aceh pada pemilu legislatif tahun 2014.

(4)

4

Pelembagaan partai dalam aspek pengelolaan organisasi internal partai merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan partai meraih suara dalam pemilu. Seperti yang dikemukakan oleh Firmanzah (2008), bahwa peran partai secara institusional sebagai pusat yang mengendalikan kemenangan dalam pemilu itu sendiri. Aspek organisasi partai politik merupakan ententitas yang penting untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan pada sebuah pemerintahan. Keberhasilan sebuah partai politik terletak bagaimana mekanisme internal partai tersebut5. Kemampuan partai politik dalam mencapai fungsi dan tujuannya merupakan integrasi dari struktur organisasi, perilaku aktor dan kelompok dalam organisasi, serta proses di dalam partai politik tersebut. Apabila internal partai bermasalah, maka sangat kecil kemungkinan harapan partai untuk dapat mencapai fungsi dan tujuannya secara optimal.

Pencapaian sebuah partai politik merupakan kesinambungan dari struktur dan mekanisme dalam tubuh partai itu sendiri. Untuk menjamin kemampuan dalam mencapai fungsi dan tujuannya, organisasi partai politik harus dikelola dengan tepat. Aspek pengelolaan internal partai politik akan menentukan kuat atau lemahnya sebuah partai. Pengelolaan internal partai politik yang dilaksanakan dengan tepat akan mampu menghasilkan sebuah partai yang kuat secara struktural. Dengan memiliki struktur pelembagaan yang kuat maka partai akan memiliki basis massa yang kuat dan besar pula.

5 Miriam Budiarjo, 2006, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, halaman 161.

(5)

5

Pelembagaan sangat penting agar sebuah partai dapat survive dalam kancah perpolitikan6, apabila partai sudah telembaga maka partai akan memiliki daya tahan yang tangguh dan bisa menyuguhkan pemerintahan yang baik dan dapat dipercaya rakyat sehingga mendorong pembangunan demokrasi. Pelembagaan partai akan menjadikan partai bekerja sesuai dengan fungsi-fungsi yang semestinya. Hanya partai politik yang kuat dan terinstitusionalisasi yang menjanjikan pembangunan demokrasi yang lebih baik7. Pelembagaan partai juga berpengaruh terhadap terlembaganya sistem kepartaian yang melahirkan pola kompetisi partai politik yang stabil8.

Sebagai pilar demokrasi, partai politik merupakan lembaga yang sangat penting untuk ditingkatkan derajat pelembagaannya agar terbentuk suatu budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip dasar sistem demokrasi. Partai politik merupakan salah satu bentuk lembaga sebagai wujud ekpresi ide-ide, pikiran-pikiran, pandangan dan keyakinan dalam demokrasi9. Baik buruknya demokrasi terletak pada kualitas partai politik. Partai yang terinstitusionalisasi dengan baik akan mampu menciptakan kemajuan demokrasi10. Karenanya memperbaiki demokrasi tanpa menyentuh pembaharuan partai politik dan sistem kepartaian

6

Samuel P Huntington (1968), Pendapat ini dikutip oleh Akbar Tandjung , 2007 Dalam

The Golkar Way: Survival Partai Golkar Di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, halaman 23.

7

S.P Huntington, 1993, The Third Wave : Democratization in The Late Twentieth Century, Norman, University of Oklahoma Press, halaman 12.

8 Scott Mainwaring dan Mariano Torcal, 2006, Party System Institutionalization and

Party System Theory After the Third Wave of Democratization dalam Katz, Richard. S dan William Crotty (editor). Hand Book of Party Politics, London: Sage, halaman 206-207.

9

Jimly Asshiddiqie, 2005, Kemerdekaan Berserikat, Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Konstitusi Press, halaman 52

10 Todd Landman, 2000, Issues and Methods in comparative politics, London and New York: Routledg, halaman 189

(6)

6

adalah pembaharuan yang tidak esenssial11. Sehingga sejatinya, pada titik inilah pelembagaan partai politik menjadi penting dan urgens.

Pelembagaan partai politik merupakan fase akhir perkembangan partai politik, sekaligus sebagai penanda hadirnya organisasi partai politik yang mapan dan modern. Untuk mendukung terciptanya partai politik yang terlembaga dengan baik, dibutuhkan penguatan keorganisasian partai politik itu sendiri. Pelembagaan partai politik tidak terlaksana dengan baik dan optimal karena terdapat kegagalan diinternal partai menyangkut dengan proses penguatan internal dan pengelolaan partai. Kegagalan terhadap penguatan internal terjadi karena timbulnya konflik diinternal partai akibat terciptanya faksi- faksi diinternal partai. Kegagalan terhadap pengelolaan internal partai politik juga disebabkan buruknya tata kelola diinternal sebuah partai politik. Sebagai akibatnya, partai tersebut tidak mampu bersaing dan berkompetisi dengan partai politik lain di arena pemilu maupun kebijakan public serta lemah dalam memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis memiliki anggapan bahwasanya pelembagaan internal sebuah partai politik dapat tercipta apabila partai politik tersebut dapat mengelola faksi-faksi yang terdapat diinternal partai. Sebuah partai politik yang telah terlambaga secara internal dapat menyelesaikan permasalahan internal yang timbul akibat terjadinya faksionalisasi diinternal partai dengan memiliki pola system atau mekanisme penguatan internal partai yang baik dan demokratis. Dimana aturan-aturan dan norma-norma penguatan kesatuan organisasi tersebut secara formal dan

11 Sigit Pamungkas, 2011, Partai Politik Teori Dan Praktek Di Indonesia, Yogyakarta: Institute For Democracy And Welfarism, halaman 62

(7)

7

informal terdapat didalam mekanisme penyelenggaraan internal partai dan tertanam dalam pola-pola perilaku elit partai. Dengan adanya mekanisme yang terlembaga tersebut, maka setiap permasalahan yang menimbulkan faksionalisme diinternal partai tidak selalu berakhir dengan perpecahan dan pembentukan partai baru.

Kemampuan sebuah partai politik dalam mengelola faksionalisme merupakan peranan vital yang mengintegrasikan tingkat kepercayaan serta dukungan warga negara (konstituen) terhadap partai politik itu sendiri secara massif. Partai politik akan mendapatkan legitimasi, penerimaan di masyarakat, dan tentunya mengakarnya partai politik tersebut. Hal ini pulalah yang mampu menjadi salah satu indikator penilaian tentang proses pelembagaan dalam sebuah partai politik, apakah partai sudah terlembagakan secara baik atau belum.

Dalam studi kepartaian di Indonesia, partai lokal menjadi isu penting baru untuk dikaji. Kehadiran partai politik local tentu memberi warna tersendiri dalam catatan sejarah demokratisasi Indonesia. Salah satunya tentang bagaimana partai lokal dengan semua dinamisasinya mengelola internal partainya sehingga dapat terlembaga dengan baik. Masih terbatasnya penulisan terkait pelembagaan partai politik local dan partai politik eks kombatan GAM juga menjadi pendorong dilakukannya kajian tentang ini.

Pelembagaan aspek internal Partai Aceh menarik untuk diangkat karena partai tersebut merupakan partai yang bentuk oleh eks kombatan GAM pasca perundingan damai sebagai transformasi gerakan bersenjata ke gerakan politik. Peran para actor politik Aceh yang didominasi para eks kombatan GAM di Partai

(8)

8

Aceh menambah catatan khusus dalam dinamika proses demokratisasi di Indonesia, khususnya di Propinsi Aceh. Bila sebelumnya sebagai kelompok GAM mereka merupakan organisasi yang solid, namun pasca transformasi ke gerakan politik kelompok ini gagal mempertahankan keutuhan internalnya. Kegagalan Partai Aceh dalam mempertahankan keutuhan internal yang mengakibatkan kemerosotan perolehan suara pada pemilu legislatif tahun 2014 ini juga menarik untuk diangkat karena Partai Aceh merupakan partai politik lokal yang mendominasi perolehan suara pada pemilu sebelumnya yakni pemilu legislatif tahun 2009 di Aceh.

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan diatas, dapat ditegaskan rumusan masalah yang hendak dikaji, yakni :

Bagaimanakah pelembagaan aspek internal Partai Aceh (PA) ?

a. Bagaimana pelembagaan internal Partai Aceh mengelola faksionalisme yang terjadi?

b. Bagaimana sytemness (aturan dan pelaksanaan fungsi-fungsi internal kepartaian) diinternal Partai Aceh dalam pengelolaan faksionalisme internal partai?

c. Bagaimana konsekuensi dan implikasi pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh terhadap performance partai?

(9)

9

I.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengemban tujuan dan misi akademis guna menjawab rumusan masalah sesuai harapan. Pertama, untuk mengetahui bagaimana proses pelembagaan aspek internal Partai Aceh. Kedua, untuk mengetahui bagaimana pelembagaan internal Partai Aceh mengelola faksionalisme internal dan bagaimana sytemness (aturan dan pelaksanaan fungsi-fungsi internal kepartaian) diinternal Partai Aceh, khususnya terkait pengelolaan faksionalisasi diinternal partai yang berdampak terhadap penurunan perolehan suara partai pada pemilu legislatif tahun 2014.

Sejalan dengan motivasi penulis, misi penulisan tesis ini hendak memberikan gambaran mengenai pelembagaan aspek internal Partai Aceh khususnya mengenai pengelolaan problematika (faksionalisme) internal Partai Aceh. Secara teoritik, diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan wawasan pengetahuan yang dipadukan dengan teori yang sesuai dengan realitas sosial dan politik sehingga dapat dijadikan referensi bagi ilmu pengetahuan.

I.4. Literatur Review

Literatur tentang pelembagaan partai secara umum, salah satunya yang telah dikemukakan oleh seorang ilmuan politik Amerika Serikat, Samuel P Huntington (2004) dalam tulisannya tertib politik pada masyarakat yang sedang

berubah, (terjemahan. Political Order in Changing Societies, 1968), mengatakan

bahwa, untuk dapat survive partai politik harus memiliki kelembagaan yang kuat. Pelembagaan ialah proses tata cara organisasi memperoleh nilai baku dan

(10)

10

kestabilan. Ada empat dimensi di dalamnya, antara lain: penyesuaian diri

(adaptability), kompleksitas (complexity), otonomi (autonomy), dan kesatuan

(coherence)12. Penyesuaian diri dapat ditelaah dari umur organisasi, usia generasi,

dan fungsi. Kompleksitas diukur dari sisi keragaman sub unit organisasi. Otonomi diteropong dari pembedaan dan ketergantungan dengan kelompok lain. Serta unsur kesatuan bisa disorot dari derajat konsensus di dalam pelaksanaan fungsi organisasi. Walaupun di dalam teori, otonomi dan kesatuan adalah karakter yang terpisah, namun dalam prakteknya kedua unsur ini sering saling bergantung satu sama lain. Huntington menekankan pentingnya partai politik untuk memperkuat kelembagaan politik, karena partai politik mengorganisir partisipasi politik, dan mempengaruhi batas-batas sampai mana partisipasi tersebut bisa diluaskan. Stabilitas, kekokohan partai dan sistem kepartaian tergantung dengan derajat rendah pelembagaan partai politik.

Pandangan lain dikemukan oleh Sigit Pamungkas (2011) dalam bukunya,

Partai politik teori dan praktik diindonesia. Salah satu bab dibuku tersebut

membahas mengenai bagaimana pola pelembagaan suatu partai politik. Pelembagaan partai politik merujuk pada proses dimana partai politik tertentu mendapatkan nilai baku dan stabil. Dimensi pelembagaan partai politik diantaranya yaitu derajat kesisteman, otonomi keputusan, reifikasi, dan penanaman nilai dalam masyarakat. Menurutnya partai politik akan kuat sejauh dia mampu melembagakan dukungan massa. Kekokohan partai juga mencerminkan wawasan dukungan dan derajat pelembagaan. Sigit Pamungkas

12 Samuel P.Huntington, Tertib Politik pada Masyarakat yang Sedang Berubah, (terj.

(11)

11

mengutip konseptualisasi dari Basedau dan Stroh yang merupakan modifikasi dari konsep pelembagaan partai politik Randall dan Svasand. Basedau dan Stroh menyebutkan empat aspek pelembagaan partai politik, meliputi pengakaran di masyarakat, aspek otonomi, organisasi, dan koherensi. Pengakaran partai di masyarakat menunjuk pada sejauh mana partai memiliki akar yang stabil dalam masyarakat. Otonomi menunjuk pada sejauh mana partai politik independen dari individu dari dalam dan dari luar partai. Dimensi organisasi menunjuk pada sejauh mana apparatus organisasi partai hadir konsisten disemua level administrasi dan bertindak dalam kerangka kepentingan partai. Dan koherensi menunjuk pada sejauh mana perilaku partai sebagai sebuah kesatuan organisasi dan sejauh mana tingkat tertentu toleransi partai atas perselisihan dalam partai13.

Point penting yang ditemukan dari literarur review diatas adalah bahwa pelembagaan partai partai merupakan faktor penentu keberhasilan agar suatu partai politik dapat stabil dan survive. Semakin lemahnya pelembagaan partai maka akan membuat partai tersebut semakin tidak stabil.

Literature tentang keterkaitan antara pelembagaan partai politik dengan perolehan suaranya dalam pemilihan umum telah ditandai oleh berbagai karya salah satunya karya Akbar Tanjung (2007). Dalam karyanya yang berjudul The Golkar Way : survival partai Golkar ditengah turbuliensi partai politik era

transisi, Akbar Tanjung mengatakan bahwa kelembagaan partai yang kuat akan

membuat partai mampu survive dan sekaligus dapat berperan penting dalam menghadapi berbagai dinamika politik dalam proses konsolidasi demokrasi.

13 Pendapat ini dikutip oleh Sigit Pamungkas , Partai Politik Teori Dan Praktek Di

(12)

12

Akbar Tanjung mengungkapkan bagaimana keberhasilan partai Golkar bertahan hidup (survive) dan meraih dukungan suara dipemilu 1999 dan menjadi pemenang pada pemilu 2004. Hal ini dikarena partai Golkar mampu beradaptasi dengan sistem politik yang baru setelah reformasi. Partai Golkar mampu mengubah sistem dan struktur politiknya serta jaringan eksternal baru yang telah berubah menjadi demokratis. Agar dukungan dan peran politik partai Golkar dapat diterima dilingkungan politik nasional, partai Golkar juga melakukan demokratisasi internal melalui perubahan mekanisme dan proses politik. Adaptasi tersebut didukung oleh penerapan pola kepemimpinan yang terbuka dan berorientasi kedepan (transformational leadership) dalam mengkomunikasikan visi baru organisasi (paradigma baru partai golkar) pada seluruh jajaran partai secara intensif. Paradigma baru tersebut menyebutkan bahwa partai Golkar adalah partai yang demokratis, mandiri, berakar dan responsif terbadap aspirasi dan kepentingan rakyat.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dirk Tomsa (2008) dalam karyanya Party Politics and Democratization in Indonesia: Golkar in the

post-Suharto era, mengemukakan tiga argument utama mengapa partai golkar stabil.

Pertama, Partai Golkar merupakan partai yang memiliki pelembagaan yang

sangat baik di Indonesia, keuntungan kelembagaan yang dimiliki Partai Golkar merupakan konsekuensi langsung dari sejarah panjangnya sebagai partai hegemonik selama Orde Baru. Secara signifikan, tingkatan institusinalisasi partai telah memberikan keuntungan langsung dalam pemilu, partai telah memanfaatkan kekuatan itu untuk mengamankan jumlah suara dalam pemilu pada tahun 2004.

(13)

13

Kedua, yang paling mengagumkan adalah proses inkremental pelembagaan, hal

ini dipicu oleh kombinasi faktor internal dan ekstenal yang dapat menimbulkan tantangan serius bagi partai di masa depan. Ketiga, kelemahan yang dimiliki partai Golkar tidak mampu dimanfaatkan oleh partai lain, pada saat partai Golkar mendapat sentiment pasca reformasi partai-partai baru tidak dapat memanfaatkannya dengan pengecualian partai Keadilan Sejahtera. Partai-partai lain telah gagal mengembangkan infrastruktur partai yang efektif dan/atau menghadirkan platform kebijakan yang menarik. Sebaliknya, mereka mencoba membangun daya tarik pada kharismatik pemimpin individu, penggunaan gaya lama seperti politik uang atau eksploitasi sentiment sektarian secara sempit. Akibatnya, partai Golkar mampu menegakkan dan bahkan memperkuat cengkeramannya pada sistem kepartaian.

Petunjuk lain tentang keterkaitan antara pelembagaan partai politik dengan perolehan suaranya dalam pemilihan umum ditandai oleh jurnal karya Hanta Yuda AR (2009), Politik Indonesia 2009: Partai Politik, Pemilu, Koalisi

Pemerintahan dan Prospek Demokrasi. Karya ini menunjukkan fenomena

kegagalan partai-partai besar pemenang Pemilu 2004 dalam merawat konsituen dan membina soliditas internal partai menjadi faktor kekalahan beberapa partai seperti PDIP dan Golkar. Kegagalan partai-partai, terutama PDIP dan Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004, dalam merawat kepercayaan pemilih dan merawat soliditas internal juga menjadi faktor menyokong kemenangan Demokrat. Hal ini juga menunjukkan masih rendahnya institusionalisasi partai politik di Indonesia. Rendahnya tingkat kesetiaan pemilih terhadap partai

(14)

14

sekaligus menghancurkan mitos istilah partai besar. Kekalahan Partai Golkar dan PDIP, serta kemenangan Partai Demokrat setidaknya menggambarkan realitas tersebut.

Point penting yang ditemukan dari beberapa review tersebut adalah bahwa pelembagaan partai merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu partai dalam meraih suara pada pemilu. Semakin kuatnya pelembagaan partai maka akan semakin suksenya suatu partai tersebut dalam meraih suara pada pemilu.

Perbedaan beberapa penulisan karya diatas dengan tulisan ini adalah menyangkut spesifikasi objek penelitian yang membahas mengenai pelembagaan partai lokal yakni Partai Aceh dan tulisan ini juga tidak menganalisa secara keseluruhan aspek pelembagaan, akan tetapi tulisan ini berfokus terhadap pelembagaan aspek internal partai yaitu pengelolaan problematik (faksionalisme) internal Partai Aceh.

Penulis juga menemukan beberapa hasil riset studi terdahulu mengenai Partai Aceh yang menjadi referensi bagi penulis untuk mengembangkan studi yang dilakukan, sekaligus melakukan positioning untuk mempertegas keaslian penelitian ini. Beberapa buku yang membahas tentang Partai Aceh, diantaranya hasil riset yang dituliskan oleh Arya Budi (2012) yakni, Partai Aceh:

Tranformasi GAM ? riset tersebut berusaha menjelaskan mengapa dan bagaimana

Partai Aceh hadir dan menjadi leading party dalam praktek partai politik local pasca pemilu 2009 dengan melihat transformasi GAM menjadi Partai Aceh dalam tiga elemen organisasi yaitu leadership, organization dan membership.

(15)

15

Selanjutnya karya penelitian yang dilakukan oleh Iskandar Zulkarnaen, Fauzi, Taufik Abdullah dan Muntasir (2009) yakni, Transformasi perjuangan GAM pasca Mou Helsinki: dari perjuangan bersenjata ke perjuangan politik. Penelitian ini mencoba menjelaskan proses transformasi GAM pasca Mou Helsinki dari organisasi bersenjata ke organisasi politik dengan mengungkap program dan agenda kerja politik GAM pasca transformasi.

Perbedaan beberapa hasil penelitian tentang Partai Aceh sebelumnya tersebut dengan penelitian ini yaitu, penelitian ini membahas fase akhir dari perkembangan Partai Aceh dengan mengkaji tentang pelembagaan Partai Aceh yang berfokus terhadap pelembagaan aspek internal yakni pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh pada Pilkada Aceh tahun 2012 yang berdampak terhadap penurunan perolehan suara Partai Aceh pada pemilu legislatif tahun 2014.

I.5. Kerangka Teoritik

5.1. Pelembagaan Partai Politik

Untuk mengkaji dan menganalisa bagaimana pelembagaan aspek internal Partai Aceh khususnya mengenai pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh, maka akan digunakan beberapa teori tentang pelembagaan partai politik. Teori pelembagaan (institusionalisasi) sangat beragam dengan berbagai perspektif.

Pelembagaan partai menurut menurut Vicky Randall dan Lars Svasand adalah proses pemantapan partai politik baik secara struktural dalam rangka mempolakan perilaku maupun secara kultural dalam mempolakan sikap atau

(16)

16

budaya (the process by wich the party become established in terms of both

integrated patterns on behaviour and of attitude and culture)14. Proses

pelembagaan ini mengandung dua aspek yaitu aspek internal-eksternal, dan aspek struktural-kultural.

Apabila kedua aspek ini dipersilangkan maka akan dihasilkan sebuah tabel empat sel, yaitu (1) derajat kesisteman (systemnes) sebagai hasil persilangan aspek internal dengan struktural. (2) derajat identitas nilai (value infusion) suatu partai sebagai hasil persilangan aspek internal dengan kultural. (3) derajat otonomi suatu partai dalam pembuatan keputusan (decisional autonomy) sebagai hasil persilangan aspek eksternal dan struktural. (4) derajat pengetahuan atau citra publik (reification) sebagai hasil persilangan aspek eksternal dengan kultural.

Terdapat dua dimensi yaitu internal dan eksternal serta terdapat dua elemen yaitu elemen structural dan sikap/cultural (budaya) pada pelembagaan partai. Dimensi internal menjelaskan mengenai hubungan antar bagian dalam tubuh partai, yang dimana pada bagian ini berimplikasi pada peningkatan kontinuitas dan prospek terhadap akuntabilitas pemilu. Dimensi eksternal menjelaskan bahwa partai dalam melembagakan dirinya tidak hanya membentuk bagian dirinya internal saja melainkan perlu membentuk hubungan diluar partai dalam hal ini hubungan antara partai dengan pemerintahan atau bahkan dengan organisasi selaras lainnya.

Sebagaimana yang diukir dari komposisi dari beberapa dimensi pelembagaan partai diatas, terdapat empat (4) aspek yang menentukan bagaimana

14 Vicky Randall dan Lars Svasand, “Party Institutionalization In New Democracies”, jurnal Party Politics, Vol. 8, no 1. Januari 2002, halaman 12.

(17)

17

sebuah partai politik dapat dilihat dan dianalisis drajat pelembagaan partai politiknya dengan melakukan penaksiran (assessment) terhadap tingkat pelembagaan yang telah berlangsung dalam suatu partai politik :

Pertama, Dimensi kesisteman. yang dimaksudkan dengan kesisteman yaitu pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik yang dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur dan mekanisme yang disepakati dan ditetapkan oleh partai politik dalam Anggaran dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) secara komprehensif. Kesisteman ini meliputi ruang lingkup, keanggotaan dan keberlangsungan interaksi yang membentuk partai menjadi sebuah struktur.

Dalam konteks negara dunia ketiga, drajat kesisteman suatu partai bervariasi menurut: (a) asal-usul partai politik (origins), yaitu bagaimana proses pembentukan partai politik,apakah dibentuk dari atas, dari bawah, atau dari atas yang disambut dari bawah; (b) sumber daya (resources) yang dimiliki partai politik, terutama pendanaan, apakah partai memiliki sumber daya yang menjamin kemendiriannya atau masih tergantung pada aktor yang memiliki sumber daya yang berlebih; (c) kepemimpinan (leadership), melihat siapakah yang lebih menentukan dalam partai: seorang pemimpin partai yang disegani ataukah pelaksanaan kedaulatan anggota menurut prosedur dan mekanisme yang ditetapkan oleh organisasi sebagai suatu kesatuan; (d) faksionalisme

(factionalism), menyoroti siapakah yang menentukan dalam pembuatan

keputusan: faksi-faksi dalam partai ataukah partai secara keseluruhan; dan (e) implikasi klientalisme (clientalism) menyelidiki bagaimana partai memelihara hubungan dengan anggota dan simpatisan, yaitu apakah dengan klientelisme

(18)

18

(pertukaran dukungan dengan pemberian materi) ataukah menurut konstitusi partai (AD/ART)15.

Kedua, Dimensi identitas nilai. Identitas nilai ini berkaitan dengan identitas partai poilitik berdasarkan ideologi atau platform partai, dan karena itu berdasarkan basis sosial pendukungnya, dan identifikasi anggota terhadap pola dan arah perjuangan yang diperjuangkan partai politik tersebut. Karena itu derajat identitas nilai suatu partai politik berkaitan dengan (a) hubungan partai dengan kelompok populis tertentu (popular bases), yaitu apakah suatu partai politik mengandung dimensi sebagai gerakan sosial yang didukung oleh kelompok populis tertentu, seperti buruh, petani, kalangan masyarakat tertentu, komunitas agama tertentu, komunitas kelompok etnik tertentu, dan (b) pengaruh klientelisme dalam organisasi, yaitu apakah hubungan partai dengan anggota cenderung bersifat instrumentalis (anggota selalu mengharapkan tangible resources berupa materi dari partai) ataukah lebih bersifat ideologis (anggota mengenal dan mengharapkan partai bertindak berdasarkan identifikasi terhadap ideologi partai). Partai politik yang mempunyai basis sosial pendukung yang spesifik niscaya akan memiliki identitas nilai yang jelas.

Ketiga, Dimensi otonomi. Derajat otonomi suatu partai politik dalam pembuatan keputusan berkaitan dengan hubungan partai dengan aktor luar partai baik dengan sumber otoritas tertentu (penguasa, pemerintah), maupun dengan sumber dana (pengusaha, penguasa, negara atau lembaga luar) dan sumber dukungan massa (organisasi masyarakat): (a) apakah partai tergantung kepada aktor luar tersebut

(19)

19

ataukah hubungan itu bersifat saling tergantung (interdependen), dan (b) apakah keputusan paitai ditentukan oleh aktor luar ataukah hubungan itu berupa jaringan (linkage) yang memberi dukungan kepada partai.

Keempat, Dimensi reifikasi. Reifikasi menunjukkan Derajat pengetahuan publik tentang partai politik yang merujuk pada pertanyaan apakah keberadaan partai politik tersebut telah tertanam pada imajinasi publik. Bila keberadaan partai politik tertentu telah tertanam pada imajinasi publik, maka pihak lain baik para individu maupun lembaga akan menyesuaikan aspirasi dan harapan ataupun sikap dan perilaku mereka dengan keberadaan partai politik tersebut. Derajat pengetahuan publik ini merupakan fungsi dari waktu dan kiprah partai tersebut.

Selanjutnya, menurut Vicky dan Lars Svasand, ada sebuah persoalan terkait pelembagaan yang belum terpecahkan, yakni terkait dengan masalah adaptabilitas (adabtability). Secara implicit konsep pelembagaan ini berdemensi waktu, karena pelembagaan membutuhkan waktu. Dipihak lain pelembagaan berkonotasi daya tahan dan stabilitas. Dengan demikian, dalam jangka panjang, kemampuan partai politik hidup sebagai sebuah lembaga menunjukkan kemampuan partai politik tersebut beradaptasi. Adaptasi ini merupakan konsep yang lebih pro aktif, dibandingkan bertahan dan stabilitas. Selain itu adabtasi juga menunjukkan proses penyesuaian diri terhadap tekanan yang muncul baik dari eksternal maupun internal partai16.

Basedau dan Stroh yang modifikasi konsep pelembagaan partai politik menurut Vicky Randall dan Lars Svasand, menyebutkan empat aspek dalam

16 Akbar Tanjung, Ringkasan Desertasi : Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era

(20)

20

mengukur pelembagaan partai politik, yaitu meliputi pengakaran di masyarakat, aspek otonomi, organisasi, dan koherensi. Pengakaran partai di masyarakat menunjuk pada sejauh mana partai memiliki akar yang stabil dalam masyarakat. Otonomi menunjuk pada sejauh mana partai politik independen dari individu dari dalam dan dari luar partai. Dimensi organisasi menunjuk pada sejauh mana apparatus organisasi partai hadir konsisten disemua level administrasi dan bertindak dalam kerangka kepentingan partai. Dan koherensi menunjuk pada sejauh mana perilaku partai sebagai sebuah kesatuan organisasi dan sejauh mana tingkat tertentu toleransi partai atas perselisihan dalam partai17.

Melihat penjelasan diatas nampak bahwa proses institusionalisasi partai politik merupakan proses dimana partai melembagakan dirinya secara menyeluruh, terutama secara internal sehingga membentuk stabilitas dan pencapaian nilai tertentu. Proses pelembagaan partai politik tidak terlepas dari kondisi internal partai yang menghasilkan konstruksi atas pencapain stabilitas dan nilai tersebut.

Pelembagaan partai politik menurut Guillermo O’Donnell merupakan hal yang sulit dilakukan, karena selalu saja ada upaya-upaya pembajakan partai politik oleh segelintir elit maupun oligarki partai politik untuk kepentingan politik mereka. Terkadang partai politik juga tidak bisa mengelola rutinisasi perilakunya karena tercipta dysfunctional factionalism (disfungsional

(21)

21

faksionalisme) diinternal yang membuat partai politik sulit untuk menjadi aktor politik yang tunggal akibat pertarungan faksi-faksi18.

Menurut Larry Diamond dan Richard Gunther ada seperangkat cara yang perlu dilakukan oleh partai pada masa transisional untuk melembagakan dirinya sendiri agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan peran dan fungsi yang sejatinya . Sedikitnya terdapat tiga bidang yang perlu diperhitungkan manakala pelembagaan pengembangan partai poltik hendaknya dikedepankan, yaitu :

 Pertama, keutuhan internal. suatu keutuhan partai dapat dilihat dari ada tidaknya pembelahan dalam partai (faksionalisme internal). Adanya dialog dalam partai memang prasyarat penting bagi tumbuhnya wacana yang sehat, namun tumbuhnya perdebatan bahkan lahirnya faksionalisme dalam partai akan dapat merugikan pengembangan partai politik ke depan.

 Kedua, ketangguhan organisasi. partai politik memiliki tujuan dan kepentingan untuk meraih konstituen guna pembangunan legitimasi politik dirinya. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila partai politik berhasil menyebarkan sumber daya ke level-level yang lebih rendah dari pada di tingkat Pusat/nasional. Hal ini menunjukkan bahwa ketangguhan partai politik di semua level adminitrasi pemerintahan perlu dibangun sedemikian rupa, sehingga sumber-sumber daya (manusia, finansial. serta metode) dapat bekerja demi kepentingan dan tujuan partai politik dalam jangka pendek dan jangka panjang.

18 Efriza, 2012, Political Explore-Sebuah kajian Ilmu Politik, Bandung : Alfabeta, halaman 240.

(22)

22  Ketiga, identitas politik partai. Identitas partai menjadi penting ketika partai berupaya untuk mengejar jabatan di pemerintahan. Karena itu gagasan yang jelas dan konstruktif, prinsip-prinsip yang berorientasi publik, pelibatan anggota partai, serta program-program yang matang menjadi citra yang perlu dibangun dalam mengonstruksi identitas partai yang kuat. Untuk tujuan itu, partai politik harus memiliki gagasan yang jelas mengenai realisasi kebutuhan pemilih19.

Pengembangan kelembagaan partai politik menurut IMD (Netherlands Institute for Multiparty Democracy) dapat diukur berdasarkan kriteria dan indikator berikut:

 Ketangguhan organisasi, partai politik berkepentingan meraih pemilih dan kekuasaan politik. Hal ini hanya dapat dicapai secara memuaskan melalui penyebaran sumber-daya partai secara efektif, pada tingkat lokal, regional dan nasional. Ketangguhan institusional suatu partai dapat diukur melalui berbagai kelompok sosial-ekonomi yang dapat dipengaruhi atau dimasuki dan diwakili oleh partai: semakin banyak kelompok sosial-ekonomi yang dimasuki serta semakin luas perwakilan partai atas kelompok ini, maka semakin besar pula tingkat institusionalisasi dan kapasitas organisasi partai.

 Demokrasi internal partai, nilai-nilai dan praktik demokrasi sangatlah penting bagi institusionalisasi demokratis dan perkembangan ketangguhan partai. Demokrasi internal partai berarti bahwa partai yang memiliki aturan dan prosedur yang bersifat impersonal (tidak tergantung pada orang) untuk

19 Larry Diamond & Richard Gunther, 2001, Political Parties and Democracy, London: The John Hopkins University Press, halaman 21.

(23)

23

menghindari terjadinya kontrol sewenang-wenang dalam pemilihan internal (misalnya dalam penyusunan daftar calon legislatif ) serta berfungsinya partai di bawah kendali pimpinan partai atau klik tertentu.

 Identitas politik, partai politik yang mengejar jabatan haruslah mengenali dirinya serta mengetahui apa yang diperjuangkannya agar dapat merangkul para pemilih. Gagasan-gagasan yang kabur, prinsip-prinsip yang saling bertentangan dan program-program yang tidak matang mustahil untuk membuat partai dikenal dengan jelas dan didambakan para calon pemilih.

 Keutuhan internal, suatu partai politik dapat dikatakan tidak memiliki keutuhan internal atau menderita faksionalisme kalau partai tersebut mengalami pembelahan yang menggangu sehingga dapat mengancam fungsi atau kinerjanya. Kenyataan bahwa anggota-anggota partai bisa sependapat atau berbeda pendapat mengenai suatu isu, tidak diragukan lagi manfaatnya, terutama demi kinerja partai. Tetapi yang lebih penting demi kelangsungan hidup dan perkembangan partai adalah bagaimana perbedaan pendapat itu disampaikan dan diselesaikan dalam politik intra-partai. Memiliki atau tidak memiliki identitas yang kuat, faksionalisme haruslah dihindari oleh partai. Sebab hal tersebut dapat menyeruak secara destruktif di semua bidang kegiatan partai: di legislatif (misalnya ditunjukkan dalam pemberian suara anggota parlemen) dan hal-hal lain yang berkenaan dengan isu-isu penting seperti ideologi dan kepemimpinan serta strategi dan taktik partai.. Suatu kemiripan dengan faksionalisme secara tak terelakkan terjadi dari waktu ke waktu, sehingga membuat proses penyelesaian konflik di dalam partai

(24)

24

semakin penting artinya. Konsekuensi terburuk faksionalisme berupa perpecahan dan hilangannya kepercayaan publik, dapat dikurangi dengan adanya aturan-aturan yang disepakati bersama dan selanjutnya dijalankan dengan proses yang benar, sehingga pluralisme demokratis tidak mengarah pada pembelahan mendalam. Secara umum, hal ini dapat dicapai dengan memantapkan demokrasi internal serta memenuhi prinsip, program dan Anggaran Dasar partai. Yang perlu dilakukan oleh partai untuk menjaga keutuhan internalnya :

a. Mendorong dialog di dalam partai;

b. Meresapi berbagai prinsip dan kebijakan partai;

c. Memiliki mekanisme yang menjamin berlakunya proses dan prosedur yang benar ketika muncul pertikaian20.

 Kapasitas berkampanye, dukungan suara bagi partai tidaklah datang dengan sendirinya. Dukungan suara harus dicari melalui serangkaian langkah dan diraih dengan menjamin terpenuhinya syarat-syarat penting tertentu. Kapasitas partai untuk berkampanye boleh jadi merupakan cara singkat terbaik untuk menunjukkan dan menggabungkan segenap sumber-daya organisasi (manusia dan materi, finansial, ideologi dan hal-hal yang berkaitan dengan citra) yang tersedia bagi suatu partai sehingga dapatmmenghadirkan dirinya secara menyakinkan dan dengan cara yang efektif terhadap semua pesaing dalam konteks nasional tertentu.

20 Netherlands Institute for Multiparty Democracy (IMD), 2006, Suatu kerangka kerja

pengembangan partai politik yang demokratis, Den Haag : The Netherlands Institute for Multiparty Democracy, halaman 15

(25)

25

5.2. Rangkaian Teori Pelembagaan Internal Partai Politik

Pemaparan dari teori pelembagaan (institusionalisasi) partai politik diatas menampilkan beberapa argumen dari para aktor konsep pelembagaan

(institusionalisasi) partai politik, akan tetapi dalam kelanjutan penelitian dan

pembahasan ini yang berfokus terhadap pelembagaan aspek internal partai, yakni pengelolaan problematika (faksionalisme) diinternal partai, maka penulis lebih merujuk pada berbagai parameter pelembagaan aspek internal partai yang bisa digunakan untuk melakukan penaksiran (assesment) terhadap pelembagaan aspek internal partai politik yaitu Partai Aceh.

Hal tersebut dilakukan dengan cara mengelaborasi berbagai teori aspek pelembagaan internal partai yang telah diajukan oleh para ahli dalam teori pelembagaannya, yaitu :

 Teori dimensi systemness oleh Vicky Randall dan Lars Svasand, yakni pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik yang dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur dan mekanisme yang disepakati dan ditetapkan oleh partai politik dalam Anggaran dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) secara komprehensif. Drajat kesisteman drajat partai politik dapat dilacak dan diukur berdasarkan, pertama, asal usul partai politik, kedua, sumber daya yang dimiliki, ketiga, kepemimpinan yaitu melihat siapa yang lebih menentukan dalam partai, keempat, diukur berdasarkan klientalisme. Ukuran ini didasarkan bagaimana partai memelihara hubungan dengan anggota dan simpatisan, yaitu apakah dilakukan dengan cara-cara pragmatis atau berdasarkan aturan main dalam konstitusi partai.

(26)

26  Teori koherensi oleh Basedau dan Stroh, yakni sejauh mana perilaku partai sebagai sebuah kesatuan organisasi dan sejauh mana tingkat tertentu toleransi partai atas perselisihan dalam partai politik melalui kebijakan yang diambil oleh partai.

 Teori keutuhan internal oleh Larry Diamond dan Richard Gunther, yakni suatu keutuhan partai dapat dilihat dari ada tidaknya pembelahan dalam partai (faksionalisme internal). Adanya dialog dalam partai bagi tumbuhnya wacana yang sehat, namun tumbuhnya perdebatan bahkan lahirnya faksionalisme dalam partai akan dapat merugikan pengembangan partai politik ke depan.

 Konsep keutuhan internal partai oleh IMD (Netherlands Institute for Multiparty Democracy), yakni suatu partai politik dapat dikatakan tidak memiliki keutuhan internal atau menderita faksionalisme kalau partai tersebut mengalami pembelahan yang menggangu sehingga dapat mengancam fungsi atau kinerjanya. Konsekuensi terburuk faksionalisme berupa perpecahan dan hilangannya kepercayaan publik, dapat dikurangi dengan adanya aturan-aturan yang disepakati bersama dan selanjutnya dijalankan dengan proses yang benar, sehingga pluralisme demokratis tidak mengarah pada pembelahan mendalam. Secara umum, hal ini dapat dicapai dengan memantapkan demokrasi internal serta memenuhi prinsip, program dan Anggaran Dasar partai. Yang perlu dilakukan oleh partai untuk menjaga keutuhan internalnya yaitu : Mendorong dialog di dalam partai, meresapi berbagai prinsip dan kebijakan partai dan memiliki mekanisme yang menjamin berlakunya proses dan prosedur yang benar ketika muncul pertikaian.

(27)

27

Elaborasi ini dilakukan untuk memperlengkap dan mempermudahkan analisis pelembagaan aspek internal partai poltik. Adapun pemahaman-pemahan yang lainnya juga digunakan dalam membantu analisis pembahasan.

5. 3. Faksionalisme Partai Politik

Belloni (1978) memilah tiga jenis faksi atau pengelompokan dalam organisasi internal partai, yaitu: Pertama, jenis faksi yang terbentuk kesamaan pandang dalam melihat isu-isu politik. Dengan ikatan yang informal, faksi jenis ini biasanya tidak berusia panjang dan hanya eksis saat merespons isu-isu strategis dalam partai. Kedua, kelompok dalam partai yang terbentuk denga pola patron klien atau pemimpin dan pengikut. Biasanya sangat dipengaruhi faktor personal

leadership, yaitu persaingan tokoh-tokoh berpengaruh dari suatu partai yang

masing-masing mempunyai konstituen jelas. Ketiga, tipe faksi yang palin formal dan terorganisasi. Faksi jenis ini biasanya tidak saja mempunyai nama resmi, tetapi juga kesekretariatan dan program-program tersendiri. Bahkan, pada banyak kasus seperti di Jepang dan Italia, eksistensi faksi ini dijamin oleh anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai21.

Faksionalisme sering diasumsikan sebagai hal negatif. Pandangan ini bukan tidak mempunyai landasan teoritis. Samuel Huntington (1965) atau Panibianco (1988) memandang secara apriori gejala faksionalisme. Menurut mereka, organisasi politik seperti partai politik harus memperhatikan faktor koherernsi dan soliditas. Semakin solit dan lekat suatu organisasi politik, semakin

(28)

28

tinggi tingkat institusionaliasi politiknya. Faksionalisme dianggap sebagai antithesis dari koherensi dan soliditas, serta hanya akan memberi dampak negatif terhadap performa partai politik. Artinya, faksionalisme hanya akan menimbulkan inefektivitas, disfungsi, lalu melemahkan otoritas dan legitimasi kepengurusan partai. Pada skala tertentu, faksionalisme kerap berujung eksodus secara masif dari partai, lalu mendirikan partai-partai baru yang selanjutnya dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungannya sistem kepartaian dan dan stabilitas politik. Sebaliknya, tidak sedikit penelitian kesimpulannya22.

I.6. Kerangka Pikir

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan lembaga (new

institusionalism approach) dengan melihat lembaga (institusi) sebagai organ yang

terdiri atas dua elemen yang saling terkait, yakni struktur institusi dan aktor yang berkecimpung didalamnya23.

Fokus yang dijadikan alat dalam menganalisa pelembagaan aspek internal Partai Aceh ialah kesisteman (systemness) dan pengelolaan faksionalisme diinternal Partai Aceh. Berikut skema pikir penelitian ini :

22 Rasid Pora, Konflik Elit Dalam Kontestasi Kekuasaan Internal Partai Politik (Studi Pada DPW Partai Amanat Nasional Propinsi Maluku Utara Tahun 2013), Journal of Governance and Public Policy(JGPP)Volume 1 No 1 April 2014, halaman 84

23 Lihat B. Guy Peters, Institutional Theory: Problem and Prospect, dalam Reihe, 2000, Politikwissenschaft Political Science Series, Vienna: Institute for Advanced studies, halaman 10

(29)

29

6.1 Skema Pikir :

I. 7. Definisi Konsepsional

Untuk dapat lebih memberikan arahan pada fokus studi ini perlu dilakukan pembatasan dan penegasan definisi konsep sebagai berikut:

a. Partai politik adalah kelompok orang-orang berpendirian sama, yang mencari kekuasaan dan pengaruh ditingkat pemerintahan, untuk dapat mempengaruhi pembentukan kehendak/tujuan dan mewujudkan pandangan politik bersama. Partai politik menjadi transmisi (perantara) dalam proses pengambilan keputusan antara masyarakat dan pemerintah24. Partai politik yang dimaksud di sini adalah kumpulan orang yang tergabung dalam suatu kelompok dan memiliki kesamaan tujuan guna memperoleh legitimasi kekuasaan melalui pemilihan umum.

24 Peter Schroder, 2003, Strategi politik, Jakarta: Friedrich-Naumann-Stiftung, halaman 300.

PARTAI ACEH

(PA)

PELEMBAGAAN PARTAI (systemness) Aspek Pelembagaan internal partai

Performa

dan Perolehan

suaraPartai

(30)

30

b.Pelembagaan partai politik adalah, proses pemantapan partai politik baik secara struktural dalam rangka mempolakan perilaku maupun secara kultural dalam mempolakan sikap atau budaya25. Dimensi internal pelembagaan partai politik menjelaskan mengenai hubungan antar bagian dalam tubuh partai, yang dimana pada bagian ini berimplikasi pada peningkatan kontinuitas dan prospek terhadap akuntabilitas pemilu. Untuk melakukan penaksiran

(assesment) terhadap pelembagaan aspek internal partai politik, dapat dilihat

dari :

Dimensi systemness, yakni pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik yang dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur dan mekanisme yang disepakati dan ditetapkan oleh partai politik dalam Anggaran dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) secara komprehensif. Kesisteman dalam pandangan ini menyangkut ruang lingkup, keanggotaan, dan keberlangsungan yang membentuk partai menjadi suatu struktur. Aturan-aturan yang ada mengandung drajat rutinitas dan perkembangan kebiasaan untuk menuntun perilaku individu.

Dimensi koherensi, yakni sejauh mana perilaku partai sebagai sebuah kesatuan organisasi dan sejauh mana tingkat tertentu toleransi partai atas perselisihan dalam partai.

Dimensi keutuhan internal, yakni suatu keutuhan partai dapat dilihat dari ada tidaknya pembelahan dalam partai (faksionalisme internal). Faksionalisme didalam partai dilihat apabila partai tersebut mengalami

25 Vicky Randall dan Lars Svasand, “Party Institutionalization In New Democracies”, jurnal Party Politics, Vol. 8, no 1. Januari 2002, halaman 12.

(31)

31

pembelahan yang menggangu sehingga dapat mengancam fungsi atau kinerjanya. Konsekuensi terburuk faksionalisme berupa perpecahan dan hilangannya kepercayaan publik. Yang perlu dilakukan oleh partai untuk menjaga keutuhan internalnya yaitu : Mendorong dialog di dalam partai, meresapi berbagai prinsip dan kebijakan partai dan memiliki mekanisme yang menjamin berlakunya proses dan prosedur yang benar ketika muncul pertikaian.

c. Faksionalisme partai politik adalah pengelompokan dalam sebuah organisasi internal partai. Faksionalisme dianggap sebagai antithesis dari koherensi dan soliditas, serta hanya akan memberi dampak negatif terhadap performa partai politik.

1.8 Definisi Operasional

Setelah penulis memposisikan definisi konsep sebelumnya, penulis juga memberikan kerangka operasional sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam memaknai penelitian ini, perlu dikemukakan definisi operasional sebagai berikut. a. Pelembagaan partai politik disini dilihat sebagai proses pemantapan partai

politik baik secara struktural dalam rangka mempolakan perilaku maupun secara kultural dalam mempolakan sikap atau budaya agar sebuah partai politik survive dan stabil. Pelembagaan internal partai politik yakni mengenai hubungan antar bagian dalam tubuh partai (aturan dan pengelolaan), yang dimana pada bagian ini berimplikasi pada peningkatan kontinuitas dan

(32)

32

prospek terhadap pencapaian dan keberhasilan partai dalam perolehan suara pada pemilu.

b. Indikator yang dilihat dari pelembagaan aspek internal partai politik yaitu :

Dimensi systemness, yakni proses pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik apakah dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur dan mekanisme yang disepakati dan ditetapkan oleh partai politik dalam Anggaran dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) secara komprehensif. Drajat kesisteman drajat partai politik dapat dilacak dan diukur berdasarkan,

pertama, asal usul partai politik, kedua, sumber daya yang dimiliki,

ketiga, kepemimpinan yaitu melihat siapa yang lebih menentukan dalam

partai, keempat, diukur berdasarkan klientalisme. Ukuran ini didasarkan bagaimana partai memelihara hubungan dengan anggota dan simpatisan, yaitu apakah dilakukan dengan cara-cara pragmatis atau berdasarkan aturan main dalam konstitusi partai.

Dimensi koherensi, yakni sejauh mana perilaku partai sebagai sebuah kesatuan organisasi dan bagaimana tingkat tertentu toleransi partai atas perselisihan dalam partai politik melalui kebijakan yang diambil oleh partai. Bagaimana pengelolaan keberagaman diinternal partai dan mekanisme penyelesaian konflik, termasuk membendung lahirnya friksi diinternal partai.

Dimensi keutuhan internal, yakni ada tidaknya pembelahan dalam partai (faksionalisme internal). Faksionalisme didalam partai dilihat apabila partai tersebut mengalami pembelahan yang menggangu sehingga dapat

(33)

33

mengancam fungsi atau kinerjanya. Apakah partai sudah melakukan hal-hal berikut: mendorong dialog di dalam partai, meresapi berbagai prinsip dan kebijakan partai dan memiliki mekanisme yang menjamin berlakunya proses dan prosedur yang benar ketika muncul pertikaian untuk menjaga keutuhan internalnya.

c. Faksionalisme disini dilihat hanya akan menimbulkan inefektivitas, disfungsi, lalu melemahkan otoritas dan legitimasi kepengurusan partai.

I.9. Metode Penelitian 9.1. Jenis Penelitian

Dari beberapa metode penelitian yang ada, studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menjelaskan pelembagaan Partai Aceh khususnya pelembagaan aspek internal partai yakni pengelolaan problematika (faksionalisme) internal partai26, dengan menggunakan metode ini peneliti dapat menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tulisan, dan tingkah laku yang dapat diamati dari pengurus, anggota dan kader Partai Aceh dan elit-elit, anggota dan kader yang tidak lagi tergabung didalam Partai Aceh27.

Penelitian ini menggunakan model pendekatan studi kasus untuk menjelaskan pelembagaan aspek internal Partai Aceh. Ada dua hal yang mengarahkan penulis pada penggunaan studi kasus, pertama, studi kasus dapat memahami suatu permasalahan atau situasi tertentu dengan amat mendalam

26

Lihat Creswell, John W, 2008, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, California: Sage Publication, halaman 15.

27 Lihat Hendarso, Emy Susanti, 2007, Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif

(34)

34

dimana peneliti dapat mengidentifikasi persoalan besar yang ada dibalik fenomena kegagalan Partai Aceh dalam mengelola problem diinternal partai (faksionalisme), dan studi kasus merupakan metode yang tepat untuk memberi batasan-batasan terhadap pelembagaan partai aceh karena penelitian ini hanya melihat pelembagaan Partai Aceh dari aspek pelembagaan internal partai berdasarkan fenomena kegagalan partai aceh dalam mengelola problem diinternal partai pada Pilkada tahun 2012. Kedua, penelitian ini membahas peristiwa yang sudah terjadi, yakni kegagalan Partai Aceh dalam mengelola problem internal pasca pilkada Aceh tahun 2012 yang berdampak terhadap penurunan perolehan suara Partai Aceh pada pemilu legislatif tahun 2014. Hal ini membuat peneliti memang tidak bisa mengontrol peristiwa atau sangat kecil peluang mengontrol peristiwa yang sudah terjadi tanpa menggunakan studi kasus untuk membangun gambaran permasalahan yang mendalam28.

Ada tiga alasan penulis menggunakan studi kasus, pertama, penulis beranggapan penelitian tentang pelembagaan aspek internal Partai Aceh yang merupakan partai lokal adalah kajian baru dalam studi kepartaian di Indonesia.

Kedua, penulis merasa terdapat hal unik dalam penelitian ini yakni mengenai

Partai Aceh yang merupakan sebuah partai yang dibentuk oleh eks kombatan GAM yang dibangun dari akar rumput (grass root party) sebagai transformasi dari gerakan bersenjata ke gerakan politik, namun gagal dalam mempertahankan keutuhannya. Ketiga, penulis memiliki keterbatasan untuk melakukan studi mengenai seluruh aspek pelembagaan Partai Aceh.

28 Lihat Robert K. Yin, 2006, Studi Kasus Desain dan Metode, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, halaman 1- 3.

(35)

35

9.2. Unit Analisis Data

Studi ini mengambil totalitas dari karakter atau unit yang diteliti, yakni mengenai pelembagaan Partai Aceh yang berfokus terhadap aspek pelembagaan internal Partai Aceh yaitu pengelolaan problematika (faksionalisme) internal Partai Aceh yang di dilakukan di lokasi kantor pusat Partai Aceh dan kantor pusat Partai Nasional Aceh (PNA) yakni di wilayah kota Banda Aceh Propinsi Aceh supaya dapat mengetahui pelembagaan aspek internal Partai Aceh khususnya pengelolaan problematika (faksionalisme) internal Partai Aceh dengan menjadikan elit-elit, anggota dan kader Partai Aceh dan eks elit-elit, anggota dan kader Partai Aceh yang telah membentuk partai baru yakni Partai Nasional Aceh sebagai informan utama. Kemudian untuk mendukung studi ini, penulis mencoba menambahkan beberapa informan lainnya yang relevan dengan studi ini. Studi ini dilakukan di Banda Aceh, dimana para informan berdomisili dan juga didasarkan pertimbangan Banda Aceh merupakan ibukota propinsi Aceh yang merupakan pusat dari segala aktivitas perpolitikan dan pemerintahan Aceh.

Adapun informan tersebut adalah dalam table berikut:

Tabel I.1. Daftar Informan Penelitian

No Nama Waktu

Wawancara Keterangan Informan

1 Irwandi Yusuf 15 Februari 2015

Mantan gubernur Aceh, Elit yang keluar dari Partai Aceh pasca kegagalan pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh dan ketua dewan pembinan Partai Nasional Aceh Utama 2 Suadi Sulaiman (Adi Laweng) 12 Februari 2015

Juru bicara Partai Aceh

(36)

36

3 Yahya Muadz 23 Februari 2015

Mantan Sekjend Partai Aceh dan ketua tim pembentukan Partai Aceh

Utama

4

Mukhsalmina

(Irwansyah) 30 Januari 2015

Ketua Partai Nasional Aceh dan Eks Partai

Aceh, dan elit GAM Utama

5

Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak)

03 Maret 2015

Wakil Ketua Umum Partai Aceh dan Eks Panglima wilayah GAM

Utama 6 Syardani M. Syarif (Teungku Jamaica) 02 Maret 2015

Mantan juru bicara militer GAM Wilayah Samudra Pase dan Eks GAM non partai

Utama 7 Tgk. Nashiruddin Bin Ahmad 17 Februari 2015

Elit GAM yang terpilih untuk menjadi calon gubernur dari GAM pada tahun 2006 dirapat Ban Sigom Donya dan mantan juru runding GAM non partai

Utama

8 Effendi Hasan 26 Januari 2015

Akademisi Ilmu Politik Aceh

Universitas Syiah Kuala

Pendukung

9 Aryos Nivada 25 Februari

2015 Pengamat Politik Aceh Pendukung

10 Iskandar Zulkarnain

28 Februari 2015

Akademisi Ilmu Politik Universitas Malikul Saleh

Pendukung

11 Dahlan 24 Februari

2015

Kader Partai Aceh dan mantan aktivis 1998 Aceh

Utama

12 Thamrin

Ananda 26 Januari 2015

Sekjend Partai Nasional Aceh dan mantan tim pemenangan Irwandi Yusuf pada Pilkada tahun 2012

Pendukung

13 Askari 07 Maret 2015

Mantan anggota Legislatif dari Partai Aceh

(37)

37

14 Rizal 12 Maret 2015

Masyarakat Pemilih Aceh pada Pemilu

2009-2014 Utama

15 Zulfikar 08 Maret 2015

Masyarakat Pemilih Aceh pada Pemilu 2009-2014 wilayah basis GAM

Utama

16 Taufik Abda 20 Februari 2015

Mantan Ketua Partai Lokal Sira dan Mantan aktivis Aceh 1998

Pendukung

17 Alfian

01 Maret 2015 Direktur LSM MAta Pendukung

9.3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, guna mencapai tujuan yang sesuai dengan metode atau pendekatan yang digunakan, maka pengumpulan data dilakukan dengan teknik obsevasi, studi pustaka dan wawancara mendalam (depth interview). Langkah pertama dalam penelitian ini adalah observasi dengan melakukan pengamatan terhadap perilaku, aktivitas individu-individu dan fenomena-fenomena yang terjadi diinternal Partai Aceh yang berkaitan dengan pelembagaan aspek internal Partai Aceh. Kemudian langkah kedua melakukan studi pustaka melalui buku-buku teks, jurnal, surat kabar dan lain-lain, untuk mendapatkan informasi mengenai Partai Aceh khusunya terkait pelembagaan aspek internal Partai Aceh. Langkah pertama dan kedua dilakukan sebelum turun kelapangan guna mendapatkan data awal.

Langkah selanjutnya dilakukan dengan wawancara untuk menggali informasi berkenaan dengan pelembagaan aspek internal Partai Aceh, untuk

(38)

38

menelusuri kedalaman informasi tentang pengelolaan faksionalisme internal Partai Aceh. Wawancara dilakukan dengan mendalam dan intensif secara terbuka dan fleksibel. Dalam mekanismenya peneliti juga merujuk pada Marsh dan Stoker, dimana wawancara mendalam yang dilakukan semestinya didasarkan pada sebuah panduan wawancara, pertanyaan-pertanyaan terbuka, dan penyelidikan informal untuk memfasilitasi diskusi-diskusi antara peneliti dengan informan terkait pelembagaan aspek internal partai aceh khususnya pengelolaan problematika internal partai aceh, dan pertanyaan-pertanyaan yang penulis buat dengan cara tidak terstruktur. Pertanyaan terbuka juga digunakan agar memungkinkan terbangun eksplorasi dan menemukan inti dari yang meluas untuk membangun terwawancara berbicara panjang lebar tentang pelembagaan aspek internal partai aceh mengenai fenomena‐fenomena tentang isu‐isu terkait pengelolaan problematika internal partai29.

Guna memenuhi semua data yang diperlukan dalam mengungkap hal tersebut, maka data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dua data, yakni data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat perekam dan alat tulis. Beberapa temuan dari hasil wawancara menjadi data primer. Sedangkan sebagai data sekundernya temuan dari hasil observasi dan studi pustaka yang berupa catatan, buku-buku, media massa, jurnal, laporan penelitian, dan sebagainya.

29 David Marsh dan Gerry Stoker, 2010, Teori dan Metode dalam Ilmu Politik, Bandung: Nusa

(39)

39

9.4. Teknik Analisis Data

Data-data yang didapatkan dari lapangan dianalisis secara interpretatif dan dijabarkan secara kualitatif yakni dengan mengumpulkan data, menganalisa data, kemudian menafsirkan data dan membuat kesimpulan dari data tersebut. Data dipilah dan dipilih untuk menentukan kesesuaian data dengan fokus penelitian tanpa meninggalkan data sekunder tertulis dari berbagai sumber terkait. Penulis juga mengidentifikasi kata-kata kunci yang diperoleh dari informan.

I.8. Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan, bab ini berisi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Literature Review, Pendekatan Teoritik, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

Bab II Dari medan tempur ke medan politik, bab ini mengurai sejarah dan kondisi umum Partai Aceh.

Bab III Turbulensi dan keretakan internal Partai Aceh, bab ini mendeskripsikan terjadinya faksionalisasi dalam Partai Aceh dan menjelaskan kegagalan Partai Aceh dalam mengelola problem internal pasca Pilkada aceh tahun 2012.

Bab IV Pelembagaan internal Partai Aceh sebagai upaya mengelola faksionalisme, bab ini menganalisa mengenai pelembagaan aspek internal Partai Aceh dari dimensi sytemness, koherensi, dan keutuhan internal serta implikasi dan kaitannya terhadap penurunan perolehan suara Partai Aceh pada pemilu legislatif tahun 2014.

(40)

40

Bab V Kesimpulan, bab ini menjadi bagian penutup sehingga dapat memberikan kesimpulan dari penelitian ini dan refleksi teoretis atas kasus yang diteliti serta pada akhir tulisan ini penulis mengutarakan keterbatasan hasil penelitian ini sebagai dasar perlunya studi lanjutan.

Figur

Tabel I.1. Daftar Informan Penelitian

Tabel I.1.

Daftar Informan Penelitian p.35

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :