ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PANDANGAN
TENAGA MEDIS RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK NYAI
AGENG PINATIH GRESIK TENTANG DONOR AIR SUSU IBU
SKRIPSI
Oleh :
Durrotul Lum’ah
NIM. C01212012
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Fakultas Syari’ah dan Hukum
Jurusan Hukum Perdata Islam Prodi Hukum Keluarga Islam
ABSTRAK
Skripsi ini adalah hasil penelitian lapangan dengan judul Analisis Hukum Islam Terhadap Pandangan Tenaga Medis Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai Ageng Pinatih Gresik Tentang Donor Air Susu Ibu. Rumusan masalah adalah bagaimana pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor air susu ibu? bagaimana analisis hukum Islam terhadap pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor air susu ibu?
Penelitian ini menggunakan metode analisis data deskriptif (kualitatif) karena dalam penelitian ini tidak berhubungan dengan angka-angka. Data penelitian dihimpun melalui wawancara dan studi dokumentasi yang selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif analisis dengan pola pikir induktif deduktif.
Pandangan tenaga medis tentang donor ASI terdapat dua perbedaan pendapat. Sebagian tenaga medis pro terhadap pelaksanaan donor ASI dengan catatan melakukan sesuai aturan yang berlaku yakni fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 28 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 pasal 11. Karena berdasarkan analisis hukum Islam apabila tenaga medis pro terhadap pelaksanaan donor ASI itu sesuai dengan firman Allah QS. al-Maidah ayat 2 yang menerangkan tentang tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Hal ini termasuk al-mas}lah}ah al-d}aru>riyyah yakni kemaslahatan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan asasi manusia, tepatnya dalam memelihara jiwa dan keturunan. Sedangkan sebagian tenaga medis kontra terhadap pelaksanaan donor ASI karena dikhawatirkan tidak dapat bertanggungjawab atas hukum mah}ram akibat rad}a>’ (persusuan) dan akan menimbulkan kemafsadatan, hal ini sesuai konsep kaidah fiqhiyah yang mana bahaya harus dihilangkan dan juga ada hadis yang artinya tinggalkanlah yang membuat anda ragu.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO ... v
ABSTRAK ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TRANSLITERASI ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 11
C. Rumusan Masalah ... 12
D. Kajian Pustaka ... 13
E. Tujuan Penelitian ... 15
F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 15
G. Definisi Operasional ... 16
H. Metode Penelitian ... 17
I. Sistematika Pembahasan ... 20
BAB II KONSEP RAD{A<’AH DALAM ISLAM DAN METODE IJTIHAD BERDASARKAN SADDU ADH-DHARI<’AH A. Konsep Rad{a>’ah dalam Islam ... 22
1. Pengertian Rad{a>’ah ... 22
2. Dasar Hukum Rad{a>’ah ... 23
4. Hal-Hal Yang Menetapkan Rad{a>’ah ... 30
B. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 28 Tahun 2013 Dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Pasal 11Tentang Donor Air Susu Ibu (ASI) ... 33
C. Saddu adh-dhari>’ah ... 35
1. Pengertian adh-dhari>’ah ... 35
2. Pengelompokan Saddu adh-dhari>’ah... 36
3. Dasar Hukum Saddu adh-dhari>’ah ... 38
4. Pandangan Ulama Tentang Saddu adh-dhari>’ah ... 39
BAB III PANDANGAN TENAGA MEDIS RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK NYAI AGENG PINATIH GRESIK TENTANG DONOR AIR SUSU IBU A. Gambaran Umum Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai Ageng Pinatih Gresik ... 42
B. Pandangan Tenaga Medis (Dokter) Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai Ageng Pinatih Gresik Tentang Donor Air Susu Ibu ... 44
C. Pandangan Tenaga Medis (Bidan) Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai Ageng Pinatih Gresik Tentang Donor Air Susu Ibu ... 54
BAB IV DONOR AIR SUSU IBU MENURUT DOKTER DAN BIDAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK NYAI AGENG PINATIH GRESIK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Analisis Pandangan Tenaga Medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik Tentang Donor Air Susu Ibu ... 61
B. Pandangan Dokter dan Bidan RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik yang Pro Terhadap Donor Air Susu Ibu dalam Perspektif Hukum Islam ... 65
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 79 B. Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 82
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia yang lahir di muka bumi ini merupakan takdir Allah.
Allah memberikan bermacam kenikmatan yang tiada terkira bagi manusia.
Diantara kenikmatan tersebut ialah nikmat gizi yang Allah berikan sejak kita
dilahirkan yaitu melalui menyusui. Setiap bayi yang baru dilahirkan memiliki
hak atas dirinya yang harus dipenuhi ibu kandungnya.
Menyusukan artinya memberikan air susu kepada si bayi untuk
penutup lapar dan haus bagi si bayi itu sehingga darah dan dagingnya tumbuh
dengan air susu tersebut.1
Menyusui anak bagi setiap ibu, dengan cara memberikan ASI
merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan dan kelangsungan
hidup manusia di dunia ini. ASI merupakan minuman dan makanan pokok
bagi setiap anak yang baru lahir.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar kesehatan
menunjukkan bahwa anak-anak yang di masa bayinya mengkonsumsi ASI
jauh lebih cerdas, lebih sehat, dan lebih kuat daripada anak-anak yang di
masa kecilnya tidak menerima ASI.2
1 Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin S, Fiqh Madzab Syafi’i, buku 2, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 419.
2
Menyusui sebenarnya tidak saja memberikan kesempatan pada bayi
untuk tumbuh menjadi manusia yang sehat secara fisik dan cerdas, tetapi
mempunyai emosional yang stabil, perkembangan spiritual yang positif, serta
perkembangan sosial yang lebih baik.3
ASI merupakan bahan makanan yang diberikan Allah Swt. kepada
seorang bayi melalui payudara ibunya selama dua tahun pada awal masa
kehidupannya. Menyusui sebaiknya dilakukan setelah proses kelahiran bayi
dan setiap kali bayi menetek. Dan sebaiknya bayi pada masa itu diberikan
dengan susu kolustrum yakni susu awal yang dihasilkan payudara selama
beberapa hari pertama persalinan, susu awal ini berwarna kekuning-kuningan,
kental dan lengket.4 Itu merupakan nutrisi pertama paling penting bagi bayi,
karena mengandung antibodi yang melindungi bayi dari infeksi dan faktor
pertumbuhan yang membantu perkembangan secara normal dan pematangan
pencernaan.
Islam mewajibkan ibu untuk menyusui anak yang dilahirkannya
hingga berusia dua tahun. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat
al-Baqarah ayat 233 sebagai berikut:
... َةَعاَضَرلا َمِتُي ْنَأ َداَرَأ ْنَمِل َِْْلِماَك َِْْلْوَح َنَُد ََْوَأ َنْعِضْرُ ي ُتاَدِل اَوْلاَو
Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anak mereka selama dua tahunpenuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna…..5
3 Rudi Hartono dan Sulis Setianingsih, Manfaat ASI Eksklusif Untuk Buah Hati Anda, (Yogyakarta: Pustaka Baru, 2014), 3.
4 Mangku Sitepoe, ASI Eksklusif: Arti Penting Bagi Kehidupan, (Jakarta Barat: PT. Indeks, 2013), 24.
3
Perintah itu bukan merupakan perintah wajib, karena dipahami dari
potongan ayat liman ara>da an yutimma al-rad{a>’ah (bagi yang ingin
menyempurnakan susuan). Akan tetapi, anjuran ini sangat ditekankan,
seolah-olah merupakan perintah wajib. Apabila kedua orang tuanya sepakat
untuk mengurangi masa tersebut, maka tidak mengapa. Akan tetapi
hendaknya jangan lebih dari dua tahun, karena dua tahun telah dinilai
sempurna oleh Allah. Di sisi lain, masa dua tahun itu menjadi tolak ukur bila
terjadi perbedaan pendapat antara ibu bapak.6
Ulama mazhab Māliki berpendapat bahwa seorang hakim dapat
memaksa seorang ibu untuk menyusui anaknya. Sedangkan, jumhur ulama
berpendapat bahwa seorang ibu hanya dianjurkan (mandu>b) untuk menyusui
anaknya. Oleh karena itu hakim tidak berhak memaksa, kecuali hanya dalam
keadaan darurat.7
Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan pemahaman dalam
memahami ayat 233 dalam surat al-Baqarah. Sebagian ulama memahami
bahwa ayat ini sebagai perintah pada seorang ibu untuk menyusui anaknya.
Pendapat ini didukung dengan potongan lain dalam surat al-Baqarah ayat 233
yang menyatakan:
ُلْوَم َََو اَِدَلَوِب ٌةَدِلاَو َراَضُت ََ
... ِهِدَلَوِب ُهَل ٌدو
..
...
...janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya...8
6 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid I0, (Jakarta: Gema Insani, 2011), 41. 7 Ibid., 43.
4
Jumhur ulama memahami perintah dalam ayat ini bukanlah perintah
wajib melainkan sunnah (mandu>b), disamping ayat itu merupakan petunjuk
bagi suami istri dalam persoalan menyusukan anak. Didukung dengan firman
Allah Swt. dalam surat al-Tala>q ayat 6:
....
ىرْخُا ُهَل ُعِضْرُ تَسَف ُُْْرَساَعَ ت ْنِاَو
….dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh
menyusukan (anak itu) untuknya.9
Kemudian para ulama sepakat bahwa menyusui anak itu hukumnya wajib bagi seorang ibu dalam tiga hal berikut:
1. Si anak tidak menerima susuan orang lain selain ibu kandungnya. Dalam hal ini sang ibu wajib menyusui anak demi keselamatannya. Demikian juga bagi wanita yang menyusui dengan imbalan, jika memang si anak tidak menerima susuan selain darinya.
2. Tidak menemukan wanita lain yang menyusui anaknya selain dirinya sendiri. Dalam hal ini juga wajib baginya untuk menyusui anaknya demi keselamatan si anak.
3. Jika suami atau si bayi tidak mempunyai harta untuk biaya sewa wanita yang mau menyusui maka seorang ibu wajib menyusui anaknya agar tidak meninggal dunia.10
Dengan adanya penyusuan itu maka timbul akibat hukum yaitu
terdapat hal yang istimewa di antaranya adalah penghalang bagi seseorang
untuk menikah dengan wanita yang menyusuinya yang lebih dikenal dengan
rad{a>’ah. Persusuan akan menjadikan orang yang disusui menjadi mah}ram bagi
ibu rad{a>’ah sebagaimana menjadi kemah}raman bagi anak laki-laki terhadap
setiap orang yang diharamkan baginya dari keturunan ibu kandung.11
9 Ibid., 559.
5
Kebiasaan menyusui anak orang lain ini telah dikenal di kalangan
bangsa Arab dan merupakan sesuatu yang lumrah bagi mereka. Rasulullah
saw. sendiri memiliki beberapa ibu susuan, di antaranya Halimah
Al-Sa’diyyah. Selama dua tahun Nabi Muhammad tinggal bersama ibu
susuannya. Setelah masa dua tahun lalu Nabi Muhammad disapih dan
kemudian diserahkan kembali kepada ibu kandungnya (Aminah).12
Menyusui merupakan hal yang esensial bagi manusia, maka sebagian
orang berpikir tentang beragam cara agar semua orang dengan segala
aktivitas dapat menyusui tanpa mengganggu kinerja kerjanya. Maka para
ilmuan Eropa menghadirkan ide untuk mendirikan Bank ASI dengan tujuan
membantu para ibu yang tidak bisa menyusui bayinya secara langsung, baik
karena kesibukan bekerja maupun kesulitan yang lain seperti ASI yang tidak
bisa keluar, ibu mengidap penyakit yang mempengaruhi produksi ASInya dan
membantu bagi bayi yang lahir secara prematur maupun yang ditinggal mati
ibunya. Oleh sebab itu masih terdapat rasa kekhawatiran dari sebagian
masyarakat mengenai timbulnya mah}ram antara donatur susu (para ibu)
dengan para bayi yang menyusu, sehingga ketika bayi sudah mencapai usia
dewasa, kemudian dia menikahi wanita yang menyusuinya, maka
dikhawatirkan terjadi pernikahan yang dilarang karena hubungan persusuan.13
Semenjak itu pendirian Bank ASI menimbulkan kritik dari kalangan ulama Islam dalam menyikapinya. Seperti lembaga musyawarah Majma' Fiqih Al-Islami melalui Badan Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22-28 Desember 1985 atau 10-16 Rabiul Akhir 1406 H.
12 Muhammad Husain Haekal, Hayāt Muhammad, Alih Bahasa, Ali Audah, (Jakarta: Pustaka Lintera Antarnusa, 2001), 50-51.
6
Lembaga ini dalam keputusannya menentang keberadaan Bank ASI di seluruh negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari Bank tersebut, dengan tiga alasan sebagai berikut:14
1. Bank ASI merupakan eksperimen bangsa Barat. Namun institusi ini semakin kurang mendapat perhatian karena timbul analisa-analisa negatif berdasarkan kajian dan tinjauan ilmiah.
2. Bahwa dalam Islam telah disepakati bahwa sesuatu yang diharamkan sebab persusuan sama dengan yang diharamkan sebab nasab, sementara Islam datang dengan tujuan menjaga kepentingan keturunan nasab, sedangkan Bank ASI justru menyebabkan percampuran keturunan dan menyebarkan keraguan.
3. Bayi-bayi yang kekurangan berat badan atau mengidap penyakit-penyakit tertentu masih boleh dirawat melalui proses penyusuan biasa pada ibu kandung atau penyusu upahan. Dari sudut ini, institusi bank susu dilihat tidak relevan diwujudkan.
Dengan beberapa sebab tersebut, majelis menetapkan bahwa: menentang kewujudan bank-bank susu ibu di seluruh negara Islam dan mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.15
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan boleh tidaknya donor
ASI yang berasal dari bank ASI. Sebagian ulama membolehkan seperti Yusuf
al-Qardhawi serta Syeikh Ahmad Sharbashi dan sebagian lagi melarang
seperti Wahbah Zuhaili. Perbedaan tersebut disebabkan oleh ada atau
tidaknya dampak donor ASI tersebut kepada kemah}raman.16
Ulama yang membolehkan beralasan bahwa donor ASI dari bank ASI
tidak memengaruhi kemah}raman. Pasalnya, meminum ASI yang
memengaruhi kemah}raman adalah apabila ketika diminum dilihat oleh dua
orang saksi dan langsung diminum dari puting sang ibu. Jika tidak demikian
maka tidak memengaruhi kemah}raman. Sementara yang melarang tidak
mensyaratkan hal tersebut. Menurut mereka keberadaan saksi tidak wajib dan
14 http://m.inilah.com/news/detail/2174673/tentang-donor-asi-dan-bank-air-susu-ibu diakses pada, 6 Oktober 2015.
15 Ibid.
7
meminumnya tidak harus dari puting. Cukup memengaruhi kemah}raman
apabila ia diminum oleh bayi yang usianya kurang dari dua tahun sebanyak
lima kali susuan mengenyangkan.17
Setelah berkembangnya zaman pelaku donor ASI di Indonesia
dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 pasal 11 yang
berisi persyaratan-persyaratan khusus untuk para pendonor dan penerima
donor ASI, yaitu:
1. Donor ASI dilakukan sesuai permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.
2. Identitas, agama dan alamat pendonor ASI diketahui jelas oleh ibu kandung atau keluarga bayi penerima ASI.
3. Mendapat persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI.
4. Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis.
5. ASI tidak diperjualbelikan.18
Majelis Ulama Indonesia juga menimbang, mengingat,
memperhatikan dan kemudian memutuskan dalam fatwanya Nomor 28 tahun
2013, menetapkan bahwa:
1. Seorang ibu boleh memberikan ASI kepada anak yang bukan anak kandungnya. Demikian juga sebaliknya, seorang anak boleh menerima ASI dari ibu yang bukan ibu kandungnya sepanjang memenuhi ketentuan
syar’i.
2. Kebolehan memberikan dan menerima ASI harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Ibu yang memberikan ASI harus sehat, baik fisik maupun mental, b. Ibu tidak sedang hamil.
3. Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ketentuan angka 1 menyebabkan terjadinya mah}ram (haramnya terjadi pernikahan) akibat rad}a>’ (persusuan).
4. Mah}ram akibat persusuan sebagaimana pada angka 2 dibagi menjadi delapan kelompok sebagai berikut: a. Ushulu Al-Syakhsi (pangkal atau
17 Ibid., 103.
8
induk keturunan seseorang), b. Al-Furuu’ Min Al-Radhaa’ (keturunan dari anak susuan), c. Furuu’ Al-Abawaini min Al-Radhaa’ (keturunan dari orang tua susuan), d. Al-Furuu’ Al-Mubaasyirah Min Jaddi wa Al-Jaddati min Al-Radhaa’ (keturunan dari kakek dan nenek sesusuan), e. Ummu Al-Zawjah wa Jaddaatiha min Al-Radhaa’ (ibu sesusuan dari Istri dan nenek moyangnya), f. Zawjatu Al-Abi wa Al-Jaddi min Al-Radhaa’
(istri dari bapak sesusuan dan kakek moyangnya), g. Zawjatu Al-Ibni wa Ibni Al-Ibni wa Ibni Al-Binti min Al-Radhaa’ (istri dari anak sesusuan dan istri dari cucu sesusuan serta anak laki dari anak perempuan sesusuan), h. Bintu Al-Zawjah min Al-Radhaa’ wa Banaatu Awlaadihaa
(anak perempuan sesusuan dari istri dan cucu perempuan dari anak lakinya anak perempuan sesusuan dari Istri).
5. Terjadinya mah}ram (haramnya terjadi pernikahan) akibat rad}a’
(persusuan) jika: a. Usia anak yang menerima susuan maksimal dua tahun qamariyah, b. Ibu pendonor ASI diketahui identitasnya secara jelas, c. Jumlah ASI yang dikonsumsi sebanyak minimal lima kali persusuan, d. Cara penyusuannya dilakukan baik secara langsung ke puting susu ibu (imtishash) maupun melalui perahan, e. ASI yang dikonsumsi anak tersebut mengenyangkan.
6. Pemberian ASI yang menjadikan berlakunya hukum persusuan adalah masuknya ASI tersebut ke dalam perut seorang anak dalam usia antara 0 sampai 2 tahun dengan cara penyusuan langsung atau melalui perahan. 7. Seorang muslimah boleh memberikan ASI kepada bayi non muslim,
karena pemberian ASI bagi bayi yang membutuhkan ASI tersebut adalah bagian dari kebaikan antar umat manusia.
8. Boleh memberikan dan menerima imbalan jasa dalam pelaksanaan donor ASI, dengan catatan: a. Tidak untuk komersialisasi atau diperjualbelikan, dan b. Ujrah (upah) diperoleh sebagai jasa pengasuhan anak, bukan sebagai bentuk jual beli ASI.19
Munculnya perbedaan pendapat mengenai timbul atau tidaknya
hubungan mah}ram karena proses persusuan dalam Bank ASI merupakan
masalah yang memerlukan perhatian yang tinggi, sehingga umat Islam akan
terjauh dari perbuatan yang dilarang oleh agama karena percampuran nasab
yang jelas telah dilarang oleh agama Islam.
Perlu diketahui juga pengertian mah}ram disini adalah sebatas tidak
boleh menikahinya, boleh melihatnya dan tidak batal wudhu pada saat
9
menyentuhnya. Mah}ram di sini juga tidak berkaitan dengan pemberian
nafkah dan saling mewarisi, sebagaimana halnya mah}ram dikarenakan
nasab.20
Adapun dampak yang harus diwaspadai ketika melakukan donor ASI
yakni:
1. Penerima donor seringkali tidak pernah tahu ibu pendonor ASI
benar-benar sehat atau tidak, kecuali mereka yang telah memiliki rekam medis
yang menguatkan hal ini.
2. Faktor budaya, kepercayaan dan agama dari si penerima donor ASI akan
menjadi saudara sepersusuan bagi semua anak pendonor ASI, yang berarti
mereka menjadi mah}ram dan tidak boleh saling menikah selamanya. ASI
merupakan saripati makanan ibu yang akan tumbuh menjadi daging dan
tulang bagi anak yang meminum ASI tersebut, karena itu perlu dipastikan
benar bahwa pendonor ASI tidak pernah mengonsumsi hal-hal yang
haram.21
Seorang pendonor ASI perlu melakukan skrining ada tidaknya
penyakit, seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau TBC sebelum mendonorkan
ASInya. Meskipun lebih rumit dan butuh biaya lebih banyak tetapi hal ini
wajib dilakukan demi kebaikan dan kenyamanan bersama. Ibu-ibu yang
memiliki penyakit tersebut di atas dilarang mendonorkan ASInya. Bahkan di
negara-negara maju, secara rutin ASI donor di-pasteurisasi (dihangatkan
20 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 6…, 93.
10
dengan suhu rendah dalam jangka waktu tertentu sehingga sebagian besar
kuman mati namun nutrisinya masih terjaga) sehingga relatif lebih aman.
Kualitas ASI perah baik yang pernah dibekukan atau dipasteurisasi menurun
dibandingkan ASI langsung, tetapi tetap jauh lebih baik ASI perah
dibandingkan susu formula.22
Perlu diketahui bahwa komposisi ASI memiliki lebih dari 200
biofaktor (nutrisi yang terintegrasi dalam jumlah dan perbandingan yang
tepat, sehingga menghasilkan nutrisi tumbuh kembang dan imunitas)
sedangkan susu formula hanya sekitar 30-40 biofaktor. Penelitian
menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ poin 4,3 lebih
tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8,3
poin lebih tinggi pada usia 8,5 tahun, dibandingkan bayi yang tidak diberi
ASI. Dengan menyusui akan merangsang terbentuknya Emotional
Intelligence pada anak (EQ) serta meningkatkan kualitas hubungan antara ibu
dan anak, sehingga anak mempunyai kecerdasan rohani yang optimum
(SQ).23
Dengan dipaparkannya dampak serta manfaat yang timbul ketika
donor ASI dilakukan, nampaknya berbagai pendapat tenaga medis juga
bermacam-macam. Baik dalam hal hukum Islam, kami juga membutuhkan
pemaparan atau ketentuan-ketentuan oleh tenaga medis tentang ilmu
kesehatannya secara jelas. Maka dari itu kami akan meneliti pandangan
tenaga medis tentang donor ASI. Sehingga nantinya dapat diketahui bahwa
22 Ibid.
11
antara hukum Islam dengan ilmu kesehatan mengenai donor ASI dapat
seimbang dan ini bisa diketahui juga disepakati oleh masyarakat luas. Bukan
hanya lembaga (bank ASI) saja yang bertanggung jawab atas prosedur donor
ASI, namun para ibu jika ingin mendonorkan ASInya secara individual juga
mengetahui prosedur dan hukumnya. Apabila tenaga medis atau seorang ibu
yang melakukan donor ASI tanpa atau belum adanya pengetahuan maka akan
menimbulkan sebuah kemafsadatan (kemadaratan). Jadi sesuatu yang
mengakibatkan suatu kemadaratan maka donor ASI harus dicegah.
Dalam hal ini penulis meneliti tenaga medis dikarenakan perlunya
pengetahuan terkait donor ASI, karena bukan hanya Islam saja yang
memperhatikan donor ASI namun dalam sisi kesehatan tepatnya pandangan
tenaga medis juga harus diperhatikan. Oleh karena itu di RSIA Nyai Ageng
Pinatih Gresiklah tempat yang dirasa penulis tepat dalam melakukan
penelitian ini.
Penelusuran ilmiah tersebut akan penulis laksanakan dalam wujud
penelitian sebagai syarat akademik dengan judul penelitian ‚Analisis Hukum
Islam Terhadap Pandangan Tenaga Medis Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai
Ageng Pinatih Gresik Tentang Donor Air Susu Ibu‛.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Dari paparan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi
12
1. Pandangan tenaga medis terhadap ketentuan donor ASI menurut ilmu
kesehatan
2. Pandangan tenaga medis tentang setuju atau tidaknya dengan
pelaksanaan donor ASI
3. Pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor
air susu ibu
4. Pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor
air susu ibu dalam perspektif hukum Islam
Kemudian untuk menghindari penjelasan yang akan keluar dari
pembahasan maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1. Pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor
air susu ibu
2. Pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor
air susu ibu dalam perspektif hukum Islam
C. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah penyusunan skripsi ini, maka disusun rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik
tentang donor air susu ibu ?
2. Bagaimana analisis pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih
13
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian atau penelitian
yang sudah pernah dilakukan seputar masalah yang akan diteliti, sehingga
terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan
pengulangan atau duplikasi dari kajian atau penelitian yang telah ada.
Berdasarkan deskripsi tersebut, posisi penelitian yang akan dilakukan harus
dijelaskan.24
Sejauh penelurusan yang penulis lakukan, masalah donor air susu ibu
dalam hal kesehatan, yang mana langsung dipaparkan oleh tenaga medis yang
pada ahlinya sangatlah kurang. Jika mengenai hukumnya memang sudahlah
jelas, dan dalam pembahasan masalah terdapat beberapa masalah yang
menurut penulis berdekatan dengan apa yang penulis lakukan seperti yang
dilakukan oleh :
1. Amin Yati. Dengan judul penelitian Bank ASI dalam Perspektif Hukum
Islam Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Sya>fi’i. Tahun 2004.
Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah UIN Sunan Ampel Surabaya. Menyimpulkan
bahwa menurut Mazhab Hanafi bahwa air susu yang sudah terpisah dari
seorang ibu dianggap telah menjadi bangkai dan haram menjual air susu
ibu, sehingga pendirian Bank ASI tidak diperbolehkan, sedangkan
menurut Sya>fi’i bahwa pemisahan air susu dari seorang ibu, maka ASI
tersebut tetap suci dan boleh dikonsumsi namun tetap mengakibatkan
hukum mah}ram, dan diperbolehkan menjual ASI karena dianggap seperti
14
makanan sebagaimana susu yang lain pada umumnya, sehingga bila
ditinjau dari pendapat ini, maka Bank ASI boleh didirikan.25
2. Subandi. Analisis pemikiran Yusuf Qardawi tentang Bank ASI (Air Susu
Ibu) dan Implikasinya Terhadap Hukum Rad}a>'ah. Tahun 2009. Al-Ahwal
Al-Syakhsiyyah UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang menyimpulkan bahwa
menurut Qardawi bank ASI boleh didirikan karena tidak ada alasan
penghalang untuk melarangnya asalkan sesuai dengan tujuan ma}sla}ha}h
syar’iyyah yaitu membantu bayi yang ditinggal mati oleh ibunya.26
3. Istianah. Donor Asi (Air Susu Ibu) dan Implikasinya Terhadap Hubungan
Kemah}raman. Tahun 2010. Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah Fakultas Syari’ah
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan kesimpulan
bahwa praktik donor ASI tidak dapat membawa konsekuensi hukum
mah}ram antara perempuan pemilik (pendonor) ASI dengan anak
pengguna (pengkonsumsi) ASI tersebut. Sebab praktik pendonoran ASI
tidak memiliki beberapa kriteria dan syarat bagi terwujudnya hubungan
mah}ram rad}a’ (persusuan). Beberapa hal yang dianggap tidak memenuhi
kriteria tersebut adalah: (1) penyusuan tidak dilakukan secara langsung;
(2) ASI tidak murni; (3) tidak adanya persaksian dalam proses
pendonoran dan penyusuan. Ketiga syarat ini harus semuanya dipenuhi,
25 Amin Yati, ‚Bank ASI Dalam Perspektif Hukum Islam Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syāfi’i‛ (Skripsi—IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2004), iii.
15
jika hanya salah satu maka tidak bisa dimasukkan dalam hubungan
mah}ram rad}a>’.27
Dalam penulisan tersebut penulis bermaksud untuk menjelaskan
tentang pendapat tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik mengenai
donor air susu ibu, dalam hal kesehatan harus diketahui apa manfaat dan
dampaknya secara detail. Hal tersebut sangat berpengaruh penting terhadap
hukum Islam, khususnya mengenai rad}a>’ah yang mengakibatkan
kemah}raman.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih
Gresik tentang donor air susu ibu
2. Untuk mengetahui pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih
Gresik tentang donor air susu ibu dalam perspektif hukum Islam
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini sebagai berikut:
1. Aspek teoritis
Berdasarkan manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan
berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terkait rad{a>’ah,
16
khususnya tentang syarat dan ketentuan melaksanakan donor ASI sesuai
agama dan negara.
2. Aspek praktis
Bagi peneliti dalam penelitian selanjutnya, diharapkan mampu
menjadi penyatuan persepsi serta rujukan pertimbangan khususnya yang
berkaitan tentang pandangan tenaga medis terhadap donor air susu ibu.
G. Definisi Operasional
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami penulisan penelitian
ini, dan untuk berbagai pemahaman interpretatif yang bermacam-macam,
maka peneliti akan menjelaskan beberapa istilah yang digunakan dalam
penelitian ini, sebagai berikut:
1. Hukum Islam : dalam penelitian ini yang di maksud hukum Islam
adalah al-Quran, Hadits, Fatwa MUI Nomor 28
tahun 2013 tentang donor air susu ibu dan hasil
ijtihad ulama.
2. Tenaga Medis : yaitu orang yang mahir dan paham dalam bidang
kedokteran khususnya mengenai kesehatan ibu dan
bayi setelah melahirkan. Dalam hal ini yang
menjadi tenaga medis yakni dokter umum, anak,
kandungan dan bidan.
3. Donor Air Susu Ibu : yaitu seorang ibu yang memiliki stok ASI hingga
17
bayi yang membutuhkan karena ibu kandungnya
meninggal, mempunyai penyakit yang
dikhawatirkan bisa menular, bayi yang lahir secara
prematur sehingga ASI ibunya belum keluar.
Sampai bayi tersebut dirasa kenyang, baik disusui
secara langsung dari putting atau tidak langsung.
H. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah bentuk penelitian
lapangan (field research) yakni menghimpun data yang berasal dari hasil
wawancara tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik yang
berkaitan dengan donor air susu ibu.
2. Data yang dikumpulkan
Data yang dikumpulkan yaitu pandangan tenaga medis. Biodata
tenaga medis dan profil RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik merupakan data
pendukung saja.
3. Sumber data
Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian adalah
sebagai berikut:
a. Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama
18
dan bidan yang mahir dan paham dalam bidang kedokteran khususnya
mengenai kesehatan ibu dan bayi.
b. Sekunder, yaitu data yang berasal dari bahan pustaka antara lain:
1) Keutamaan Air Susu Ibu karya Abdul Hakim Abdullah
2) ASI Eksklusif: Arti Penting Bagi Kehidupan karya Mangku
Sitepoe
3) Ilmu Ushul Fiqih karya Rachmat Syafe’i
4) Fiqh dan Ushul Fiqh Metode Istinbath dan Istidlal karya
Hasbiyallah
5) Asybah Wannodhoin karya Imam Jalaluddin Abdur Rohman As
Suyuti
6) Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq
7) Al-Fiqh al-Islam wa Ad’illatuhu, Juz X karya Wahbah Zuhaili
8) Tuhfatul Bari Bisyarhi Shohihul Bukhori Juz V karya Syekh Islam
Abi Yahya Zakariya Muhammad Al Anshori
9) Fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor 28 tahun 2013.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mempermudah dalam memperoleh data dalam pembahasan
ini, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui
wawancara, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh peneliti untuk
19
pertanyaan-pertanyaan pada responden.28 Wawancara ini dilakukan
dengan tenaga medis.
5. Teknik Pengelolaan Data
Setelah data dalam penelitian berhasil dikumpulkan, peneliti
melakukan pengolahan data (data processing).29
a. Editing
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah
dikumpulkan.30 Teknik ini digunakan untuk memeriksa kelengkapan
yang sudah penulis dapatkan pada tenaga medis.
b. Organizing
Organizing adalah menyusun kembali data-data yang telah didapat
dalam penelitian yang diperlukan dalam karangka paparan yang sudah
direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis.31 Penulis
melakukan pengelompokan data yang dibutuhkan.
6. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses penyederhanaan seluruh data yang
dikumpulkan, menyajikannya dalam suatu susunan yang sistematis,
kemudian mengelola, menafsirkan dan menjadikan suatu kesimpulan.32
Dalam hal ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif
28 P. Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 87.
29 Pius A Paratanto. M. Dahlan Al-Bary, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 2001), 253. 30 Ibid.
31 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), 245.
20
(lapangan), secara langsung peneliti mencari data kelapangan untuk
mengetahui bagaimana pendapat tenaga medis mengenai donor air susu
ibu.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif analisis dengan pola pikir induktif deduktif. Penelitian
deskriptif analisis adalah metode yang diawali dengan menggambarkan
atau menguraikan sesuatu hal menurut apa yang ada dilapangan tentang
donor air susu ibu. Pola pikir induktif deduktif dipergunakan untuk
menggambarkan pandangan tenaga medis tentang donor ASI selanjutnya
deskripsi tersebut dianalisis menggunakan pola pikir induktif deduktif
yakni hukum Islam.
I. Sistematika Penulisan
Demi tersusunnya skripsi yang sistematis, terarah dan mudah untuk
difahami maka dalam penelitian ini perlu dibuatkan sistematika pembahasan
yang tersusun sebagai berikut:
Bab pertama adalah pendahuluan; yaitu meliputi latar belakang
masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka,
tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode
penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua adalah kajian teori, membahas tentang konsep rad}a>’ah
21
fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 28 tahun 2013 tentang donor
air susu ibu.
Bab ketiga adalah data penelitian: yaitu berisi tentang gambaran
umum Rumah Sakit Ibu dan Anak Nyai Ageng Pinatih Gresik, profil singkat
dokter dan bidan yang bersangkutan beserta pandangannya terhadap donor air
susu ibu.
Bab keempat adalah kajian analisis atau jawaban dari rumusan
permasalahan dalam penelitian ini. Bab ini berisi analisis terhadap pandangan
tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor air susu ibu
dan pandangan tenaga medis RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik tentang donor
air susu ibu dalam perspektif hukum Islam.
BAB II
KONSEP RAD{A<’AH DALAM ISLAM DAN METODE IJTIHAD BERDASARKAN SADDU ADH-DHARI<’AH
A. Konsep Rad{a>’ah dalam Islam
1. Pengertian Rad{a>’ah
Rad{a>’ah secara bahasa adalah proses menyedot puting, baik hewan
maupun manusia. Sedangkan secara syara’ diartikan dengan sampainya
air susu manusia pada lambung anak kecil yang belum genap berumur dua
tahun.1 Dikatakan juga bahwa rad{a>’ah secara terminologis cara
penghisapan yang dilakukan anak ketika proses menyusu pada puting
manusia dalam waktu tertentu.2
Secara etimologis, al-rad{a>’ah atau al-rid{a>’ah adalah sebuah istilah
bagi isapan susu, baik isapan susu manusia maupun binatang. Dalam
pengertian etimologis tidak disyaratkan bahwa yang disusui itu (al-rad{i’)
berupa anak kecil (bayi) atau bukan. Adapun dalam pengertian
terminologis, sebagian ulama fiqh mendenifisikan al-rad{a>’ah sebagai
sampainya (masuknya) air susu manusia (perempuan) ke dalam perut
seorang anak (bayi) yang belum berusia dua tahun (24 bulan).3
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan rad{a>’ah atau
susuan. Menurut Hanafiyah rad{a>’ah adalah seorang bayi yang menyusu
1 Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘Ala al’Mazahib al-Arba’ah, Juz IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 219.
23
langsung ke puting payudara seorang perempuan pada waktu tertentu.
Sedangkan Malikiyah mengatakan rad{a>’ah adalah masuknya susu manusia
ke dalam tubuh yang berfungsi sebagai gizi. Al-Syafi’iyah mengatakan
rad{a>’ah adalah sampainya susu seorang perempuan ke dalam perut
seorang bayi. Al-Hanabilah mengatakan rad{a>’ah adalah seorang bayi di
bawah dua tahun yang menghisap puting payudara perempuan yang
muncul akibat kehamilan, atau meminum susu tersebut atau sejenisnya.4
Mencermati pengertian diatas, ada tiga unsur batasan untuk bisa
disebut al-rad{a>’ah al-syar’iyyah (persusuan yang berlandaskan etika
islam), yaitu: pertama, adanya air susu manusia (labanu adamiyyatin).
Kedua, air susu itu masuk ke dalam perut seorang bayi (wushuluhu ila
jawfi thiflin), dan ketiga, bayi tersebut belum berusia dua tahun (duna
al-hawlayni).
2. Dasar Hukum Rad{a>’ah
Dasar hukum rad{a>’ah banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Quran
dan hadits Nabi. Setidaknya ada enam ayat dalam al-Quran yang
membicarakan perihal penyususan anak (al-rad{a>’ah). Enam ayat ini
terpisah ke dalam lima surat, dengan topik pembicaraan yang
berbeda-beda. Namun enam ayat ini mempunyai keterkaitan (munasabah) hukum
yang saling melengkapi dalam pembentukan hukum. Selain enam ayat
tersebut, rad{a>’ah juga mendapatkan perhatian dari Nabi Muhammad saw.
24
dalam menjelaskan ayat-ayat tersebut. Baik al-Quran maupun hadits,
kedua-duanya sangat berarti bagi kekokohan landasan hukum rad{a>’ah.
a. Ayat al-Quran
QS. al-Baqarah ayat 233
وُلْوَمْلا ىَلَعَو َةَعاَضرلا مِتُي ْنَأ َداَرَأ ْنَمِل َِْْلِم اَك َِْْلْوَح نَُد ََْوَأ َنْعِضْرُ ي ِتاَدِلاَوْلاَو
ِد
َُل
ْفَ ن ُفلَكُت ََ ِفوُرْعَمْلاِب نُهُ تَوْسِكَو نُهُ قْوِر
َََو اَ ِدَلَوِب ٌةَدِلاَو رآضُت ََ اَهَعْسُو َِإ ٌس
َََف ٍرُواَشَتَو اَمُهْ ِم ٍضاَرَ ت ْنَع َاَصِف اَداَرَأ ْنِإَف َكِلَذ َلْثِم ِثِراَوْلا ىَلَعَو ِِدَلَوِب ُل ٌدْوُلْوَم
َد ََْوَأ اْوُعِضْرَ تْسَت ْنَأ ُْْْدَرَأ ْنِإَو اَمِهْيَلَع َحاَُج
ْمُتْيَ تآ آم ْمُتْملَس اَذِإ ْمُكْيَلَع َحاَُج َََف ْمُك
َرْ يِصَب َنْوُلَمْعَ ت اَِِ َّللا نَأ اْوُمَلْعَو َللا اْوُق تاَو ِفْوُرْعَمْلاِب
: ةرقبلاُ
٣٢٢
َ
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.5
QS. al-Hajj ayat 2
ُك ُلَ ْذَت اَه نَرَ ت َمْوَ ي
َسا لا ىَرَ تَو اَهَلَْْ ٍلَْْ ِتاَذ لُك ُعَضَتَو ْتَعَضْرَأ آمَع ٍةَعِضْرُم ل
: جحاُ ٌدْيِدَش ِّللا َباَذَع نِكَلَو ىَرَكُسِب ْمُاَمَو ىَرَكُس
٣
َ
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanitayang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal
25
sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.6
QS. al-Qashash ayat 7
َحْوَأَو
َِزََْ َََو ِِاَََ َََو ِمَيْلا ِِ ِْيِقْلَََف ِْيَلَع ِتْفِخ اَذِإَف ِْيِعِضْرَأ ْنَأ ىَسْوُم ِمُأ ََِإ آَْ ي
انِإ
: صصقلاُ َِْْلَسْرُمْلا َنِم ُْوُلِع اَجَو ِكْيَلِإ ُودآر
٧
َ
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‚Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya (salah seorang) dari para rasul.‛7
QS. al-Qashash ayat 12
ْمرَحَو
َُل ْمَُو ْمُكَل َُنْوُلُفْكَي ٍتْيَ ب ِلَْأ ىَلَع ْمُكلُدَأ ْلَ ْتَلاَقَ ف ُلْبَ ق ْنِم َعِضاَرَمْلا ِْيَلَع اَ
: صصقلاُ َنْوُحِصَن
۲۱
َ
Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: ‚Maukah kamu aku tunjukkan
kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan
mereka dapat berlaku baik kepadanya.‛8
QS. al-Thalaq ayat 6
ُقِ يَضُتِل نُورآَضُت َََو ْمُك ِدْجُو ْنِم ْمُتَْكَس ُثْيَح ْنِم نُ ْوُ ِكْسَأ
نُك ْنِإَو .نِهْيَلَع اْو
نَُرْوُجُأ نُ وُتَََف ْمُكَل َنْعَضْرَأ ْنِإَف .نُهَلَْْ َنْعَضَي َِح نِهْيَلَع ْاْوُقِفْنَََف ٍلَْْ ِتَلْوُأ
: قََلاُ ىَرْخُأ َُل ُعِضْرُ تَسَف ُْْْرَساَعَ ت ْنِإَو ٍفْوُرْعَِِ ْمُكَْ يَ ب اْوُرََِْأَو
٦
َ
Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu
6 Ibid., 332.
26
untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarakanlah diantara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.9
QS. al-Nisa ayat 23
ُتاََ بَو ِخْأا ُتاََ بَو ْمُكُت ََاَخَو ْمُكُتامَعَو ْمُكُتاَوَخَأَو ْمُكُتاََ بَو ْمُكُتَهمُأ ْمُكْيَلَع ْتَمِرُح
ِةَعاَضرلا َنِم ْمُكُتَاوَخَأَو ْمُكَْعَضْرَأ ِِلا ْمُكُتَاهمُأَو ِتْخُأا
ِِلا ْمُكُبِئَبَرَو ْمُكِئآَسِن ُت َهمُأَو
َنْيِذلا ُمُكِئآَْ بَأ ُلِئَلَحَو ْمُكْيَلَع َحاَُج َََف نِِِ ْمُتْلَخَد ِِلا ْمُكِئآَسِن ْنِم ْمُك ِرْوُجُح ِِ
نِإ َفَلَسْدَقاَمَِإ َِْْ تْخُْأا ََْْ ب اْوُعَمََْ ْنَأَو ْمُكِبَلْصَأ ْنِم
: ءاس لاُ ا مْيِحر ا رْوُفَغ َناَك َللا
٣٢
َ
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara-saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.10
b. Hadits
َق ُلْيِع اَِْْإ اََ ث دَح
ا
َِِْأ ِنْب ّللا ِدْبَع ْنَع ٌكِلاَم َِِْث دَح َل
ِدْبَع ِتِْب َةَرْمَع ْنَع ٍرْكَب
َلْوُسَر نَأ اَهْ تَرَ بْخَأ ْملَسَو ِْيَلَع ّللا ىلَص ِِِلا َجْوَز َةَشِئاَع نَأ ِنَْْرلا
ّللا ىلَص ّللا
َناَك ْملَسَو ِْيَلَع
ْتَعَِْ اَه نَأَو اَ َدِْع
َص
ِتْيَ ب ِِْ ُنِذ ََْتْسَي ٍلُجَر َتْو
ْتَل اَق َةَصْفَح
ُاَرُأ ْملَسَو ِْيَلَع للا ىلَص ِِِ لا َلاَقَ ف َكِتْيَ ب ِِْ ُنِذََْتْسَي ٌلُجَراَذَ ّللا َلْوُسَر اَي ُتْلُقَ ف
9 Ibid., 559.
27
اَضرلا ْنِم اَهِمَعِل ايَح ٌن ََُف َناَك ْوَل ُةَشِئاَع ْتَلاَق ِةَعاَضّرلا ْنِم َةَصْفَح ِمَعِل ا ن ََُف
ِةَع
.ُةَد َََولا ُمِرََُ اَم ُمِرََُ ُةَعاَضرلا ْمَعَ ن َلاَقَ ف يَلَع َلَخَد
11Dari Aisyah RA, bahwa suatu ketika Rasulullah berada dirumah Aisyah. Saat itu Aisyah mendengar suara laki-laki yang meminta izin masuk ke rumah Hafshah. Aisyah berkata
‚Ya Rasulallah, laki-laki itu meminta izin ke rumah engkau.‛
Lalu beliau menjawab ‚aku lihat dia adalah anak si fulan (anak
paman Hafshah dari saudara susuan).‛ Kata Aisyah, aku berkata ‚wahai Rasulullah, seaindainya fulan hidup (paman Aisyah dari saudara susuan) apakah dia boleh masuk
kerumahku?‛ beliau menjawab ‚ya boleh, karena susuan itu menyebabkan mahram sebagaimana hubungan kelahiran.‛
3. Syarat dan Rukun Rad{a>’ah
Menurut jumhur ulama, syarat rad{a>’ah ada 3, yaitu:12
a. Air susu harus berasal dari manusia (
ةيمدأا
نل
), menurut jumhur ulamabaik sudah mempunyai suami atau tidak mempunyai suami.
b. Air susu itu masuk ke dalam perut bayi (
لفط فوج يإ لوصو
), baikmelalui isapan langsung dari puting payudara maupun melalui alat
penampung susu seperti gelas, botol dan lain-lain. Menurut madzab
empat terjadinya rad{a>’ah tidak harus melalui penyedotan pada puting
susu, namun sampainya ASI pada lambung bayi yang dapat
menumbuhkan tulang dan daging. Namun mereka berbeda pendapat
mengenai jalan lewatnya ASI, menurut Imam Malik dan Hanafi harus
11 Syekh Islam Abi Yahya Zakariya Muhammad Al Anshori, Tuhfatul Bari Bisyarhi Shohihul Bukhori Juz V, (Beirut Libanon: Darul Kitab ‘Alamiyah, 960H) 323.
28
melalui rongga mulut, sedangkan menurut Hambali adalah sampainya
pada lambung dan otak besar.
c. Bayi tersebut belum berusia dua tahun (
ْلولا نود
). Menurut madzabfiqh empat dan jumhur ulama, susuan itu harus dilakukan pada usia
anak sedang menyusu. Oleh karena itu, menurut mereka apabila yang
menyusu itu adalah anak yang sudah dewasa di atas usia dua tahun,
maka tidak mengharamkan nikah. Alasannya adalah firman Allah
Swt. dalam surat al-Baqarah ayat 233 yang menyatakan bahwa
sempurnanya susuan adalah dua tahun, dan juga disebutkan dalam
surat Lukman ayat 14:
َع ا َْو .ُمُأ ُْتَلََْ ِْيَدَلَوِب َناَسْنِْإا اَْ يصَوَو
َِ ْرُكْشا ِنَأ َِْْماَع ِِ .ُُلَصِفَو ٍنَْو ىَل
: نامقلُ ُرْ يِصَمْلا َِإ َكْيَدِل اَوِلَو
۲٤
َ
Dan Kami hanya perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.13
Menurut jumhur ulama, selain Abu Hanifah, menetapkan bahwa
rukun rad{a>’ah ada 3, yaitu:14
a. Anak yang menyusu (
عيضرلأ
)
13 Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: CV. Pustaka Al-Kautsar, 2009), 412.
29
b. Perempuan yang menyusui (
ةعضرما
). Wanita yang menyusui menurutbeberapa pendapat ulama disyaratkan adalah seorang wanita, baik
dewasa, dalam keadaan haid, hamil atau tidak. Namun ulama berbeda
pendapat tentang air susu dari wanita yang sudah meninggal. Menurut
Syafi’i, air susu harus berasal dari wanita yang masih hidup,
sedangkan menurut Imam Hanafi dan Malik boleh meskipun wanita
tersebut sudah mati. 15
c. Kadar air susu (
نللا رادقم
)
yang memenuhi batas minimal. Batasminimalnya yaitu 3 isapan, hal ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim:
ا لا وُرْمَعَو ََََْ ُنْب ََََْ اََ ثدَح
ظْفّللاوُ رِمَتْعُمْلا نَع ْمُهلُك .َمْيِاَرْ بِإ ُنْب ُقَحْسِإَو ُدِق
اَنَرَ بْخَأ .َ ََْحَيِل
َناَمْيَلُس ُنْب ُرِمَتْعُمْلا
ْنَع
ِنْب هاِدْبَع ْنَع .ِلْيِلَْْا َِِأ ْنَع ُثِدََُ ،َبْو يَأ
، ِثِراَْحا
َع
ْن
ُأ ِم
ْلا َف
ْض
ِل
َق َلا
ْت
َد
َخ
َل َأ
ْع َر
يِِا
َع َل
َن ى
ِِِ
َص ها
ل
ُها ى
َع
َل ْي ِ
َو
َس ّل
َو م
ُ َو
ِِْ
َ ب ْي
ِْت
َ ف َق
َلا
َي
َن ا
ِِ
ِإ ها
ِ
َك
َنا
ْت
ِْي
ْما َر َأ
ٌة
َ ف َ ت َز
و
ْج
ُت
َع َل
ْ ي َه
ُأ ا
ْخ َر
َ ف ى
َز َع
َم
ِت
ْما
َر َأ
ِت
ُأا
ََو
َأ ن
َه
َأ ا
ْر َض
َع
ْت
ْما
َر َأ
ِْت
ُْحا
ْد َث
ى
َر
ْض
َع ة
َأ ْو
َر ْض
َع َ ت
ِْْ
.
َ ف َق
َلا
َن
ِِ
ِها
َص ل
ُها ى
: ملسو يلع
ُ
ََ
ََُ
ِر ُم
ِْإا
ْم ََ
َج ُة
َو
ِْإا
ْم ََ
َج َت
ِنا
ِنْب ِثِراَْحا ِنْب ِها ِدْبَع ْنَع :ِِتَياَوِر ِِ وٌرْمَع َلاَق َ
.ٍلَفْوَ ن
16Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Amru
Naqid dan Ishaq bin Ibrahim. Mereka dari Mu’tamir (lafadznya dari Yahya). Mengabarkan kepada kita Mu’tamir bin Sulaiman dari Ayyub, menceritakan dari Abi Kholil dari
15 Adurrahman al-Jaziriy, al-Fiqh..., 221-223.; Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Jilid II (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 191.; Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, Juz II (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1988), 39-40.
30
Abdullah bin Harist dari Ummu Fadhil mengatakan bahwa
‚Seorang Arab pedalaman datang kepada Nabi yang ketika itu
beliau ada di rumahku, lalu orang itu berkata, ‚Wahai Nabi! Saya mempunyai seorang istri, lalu saya menikah lagi. Kemudian istriku yang muda dengan sekali atau dua kali
susuan?.‛ Nabi Saw. bersabda: ‚Sekali hisapan dan dua kali
hisapan tidaklah menjadikan mah}ram‛. (HR. Muslim)
Suatu kasus bila disebut al-rad{a>’ah al-syar’iyyah, dan karenanya
mengandung konsekuensi-konsekuensi hukum yang harus berlaku, apabila
tiga unsur ini bisa ditemukan padanya. Dan apabila salah satu unsur saja
tidak ditemukan, maka al-rad{a>’ah dalam kasus ini tidak bisa disebut
al-rad{a>’ah al-syar’iyyah, yang karenanya konsekuensi-konsekuensi hukum
syara’ tidak berlaku padanya. Adapun wanita yang menyusui itu
disepakati oleh para ulama (mujma’alayh) bisa perempuan yang sudah
baligh atau juga belum, sudah menopause atau juga belum, gadis atau
sudah nikah, hamil atau tidak hamil. Semua air susu mereka bisa
menyebabkan al-rad{a>’ah asy-syar’iyyah, yang berimplikasi pada
kemahraman bagi anak yang disusuinya.17
4. Hal-Hal Yang Menetapkan Rad{a>’ah
Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam menetapkan seorang
anak benar-benar disusui oleh seorang wanita selain ibunya, ulama fiqh
menetapkan bahwa perlu alat bukti untuk menetapkan hal tersebut
sebagai berikut:
31
a. Ikrar
Menurut madzab Hanafi, ikrar dalam persusuan adalah
pengakuan persusuan dari pihak laki-laki dan wanita secara bersama
atau salah satu dari mereka. Apabila ikrar itu dilakukan sebelum
menikah, maka keduanya tidak boleh menikah dan apabila mereka
menikah maka akad batal. Apabila ikrar itu dilakukan setelah
perkawinan, maka mereka harus berpisah. Ketika mereka memilih
enggan untuk berpisah, maka hakim berhak memaksa mereka untuk
berpisah. Menurut Malikiyyah, rad{a>’ah dapat terjadi dengan adanya
ikrar kedua pasangan suami istri secara bersama, atau pemberitahuan
salah satu dari orang tua mereka berdua, atau hanya dengan
pemberitahuan dari suami yang mukallaf meskipun dilakukan setelah
akad, atau pemberitahuan dari seorang istri yang sudah baligh dan
dilakukan setelah akad. Madzab Syafi’i menetapkan bahwa ikrar harus
dilakukan oleh dua orang laki-laki karena dianggap lebih unggul
dalam ikrar.18
b. Persaksian
Yaitu kesaksian yang dikemukakan orang yang mengetahui
secara pasti bahwa laki-laki dan wanita itu sepersusuan. Adapun
jumlah saksi yang disepakati ulama fiqh yaitu minimal dua orang
saksi laki-laki atau satu orang laki-laki dengan dua orang wanita.
32
Akan tetapi ulama fiqh berbeda pendapat tentang kesaksian seorang
laki-laki atau seorang wanita atau empat orang wanita.
Menurut ulama madzab Hanafi kesaksian tersebut tidak dapat
diterima karena ‘Umar bin Khattab mengatkan, ‚Saksi yang diterima
dalam masalah susuan hanyalah persaksian dua oang laki-laki.‛ Para
sahabat lain tidak membantah ketetapan ‘Umar bin Khattab ini,
karenanya menurut mereka, ketetapan ini menjadi ijma’ para sahabat,
dan ijma’ para sahabat dapat dijadikan sandaran hukum.
Ulama madzab Maliki mengatakan bahwa kesaksian seorang
wanita sebelum akad adalah tidak sah kecuali ibu laki-laki itu sendiri.
Adapun kesaksian seorang laki-laki dengan seorang wanita atau
kesaksian dua orang wanita, menurut mereka dapat diterima apabila
diungkapkan sebelum akan. Menurut madzab Syafi’i dan Hambali,
kesaksian empat orang wanita dalam masalah susuan dapat diterima
karena masalah susuan merupakan masalah khusus kaum wanita.
Akan tetapi, apabila kurang dari empat orang wanita, kesaksiannya
tidak diterima, karena dua orang wanita nilainya sama dengan satu
orang lelaki dalam persaksian. Menurut Ibnu Rusyd para ulama
berpendapat bahwa persaksian dalam hadits tersebut bersifat
sunnah.19
33
B. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 28 Tahun 2013 Dan Peraturan
Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Pasal 11 Tentang Donor Air Susu Ibu
(ASI)
Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menimbang, mengingat,
memperhatikan dan kemudian memutuskan dalam fatwanya nomor 28 tahun
2013 tentang donor air susu ibu, yang menetapkan bahwa:
1. Seorang ibu boleh memberikan ASI kepada anak yang bukan anak kandungnya. Demikian juga sebaliknya, seorang anak boleh menerima ASI dari ibu yang bukan ibu kandungnya sepanjang memenuhi ketentuan
syar’i.
2. Kebolehan memberikan dan menerima ASI harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Ibu yang memberikan ASI harus sehat, baik fisik maupun mental, b. Ibu tidak sedang hamil.
3. Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ketentuan angka 1 menyebabkan terjadinya mah}ram (haramnya terjadi pernikahan) akibat
rad}a’ (persusuan).
4. Mah}ram akibat persusuan sebagaimana pada angka 2 dibagi menjadi delapan kelompok sebagai berikut: a. Ushulu Al-Syakhsi (pangkal atau induk keturunan seseorang), b. Al-Furuu’ Min Al-Radhaa’ (keturunan dari anak susuan), c. Furuu’ Al-Abawaini min Al-Radhaa’ (keturunan dari orang tua susuan), d. Al-Furuu’ Al-Mubaasyirah Min Jaddi wa Al-Jaddati min Al-Radhaa’ (keturunan dari kakek dan nenek sesusuan), e. Ummu Al-Zawjah wa Jaddaatiha min Al-Radhaa’ (ibu sesusuan dari Istri dan nenek moyangnya), f. Zawjatu Al-Abi wa Al-Jaddi min Al-Radhaa’
(istri dari bapak sesusuan dan kakek moyangnya), g. Zawjatu Al-Ibni wa Ibni Al-Ibni wa Ibni Al-Binti min Al-Radhaa’ (istri dari anak sesusuan dan istri dari cucu sesusuan serta anak laki dari anak perempuan sesusuan), h. Bintu Al-Zawjah min Al-Radhaa’ wa Banaatu Awlaadihaa
(anak perempuan sesusuan dari istri dan cucu perempuan dari anak lakinya anak perempuan sesusuan dari Istri).
5. Terjadinya mah}ram (haramnya terjadi pernikahan) akibat rad}a’
34
6. Pemberian ASI yang menjadikan berlakunya hukum persusuan adalah masuknya ASI tersebut ke dalam perut seorang anak dalam usia antara 0 sampai 2 tahun dengan cara penyusuan langsung atau melalui perahan. 7. Seorang muslimah boleh memberikan ASI kepada bayi non muslim,
karena pemberian ASI bagi bayi yang membutuhkan ASI tersebut adalah bagian dari kebaikan antar umat manusia.
8. Boleh memberikan dan menerima imbalan jasa dalam pelaksanaan donor ASI, dengan catatan: a. Tidak untuk komersialisasi atau diperjualbelikan, dan b. Ujrah (upah) diperoleh sebagai jasa pengasuhan anak, bukan sebagai bentuk jual beli ASI.20
Dalam Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2012 tepatnya pada
bagian ketiga menjelaskan tentang pendonor air susu ibu yakni pasal 11 yang
berbunyi:
Pasal 11
1. Dalam hal ibu kandung tidak dapat memberikan ASI eksklusif bagi bayinya sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan oleh pendonor ASI.
2. Pemberian ASI eksklusif oleh pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan persyaratan:
a. Permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan
b. Identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI
c. Persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI
d. Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 7, dan
e. ASI tidak diperjualbelikan.
3. Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial budaya, mutu, dan keamanan ASI
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian ASI eksklusif dari pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat 1, 2, dan 3 diatur dengan peraturan menteri.21
20 http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/No.-28-Seputar-Masalah-Donor-ASI.pdf/ diakses pada, 6 Oktober 2015.
35
C. Saddu adh-dhari>’ah
1. Pengertian adh-dha>ri’ah
Adh-dhari>’ah adalah perantara, yaitu suatu yang akan
mengantarkan kepada sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang
dihalalkan, dan dari sunnahlah hukum itu diambil. Dengan demikian
adh-dhari>’ah itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu Saddu adh-dhari>’ah (yang
dilarang) dan fath adh-dhari>’ah (yang dianjurkan).22
a. Saddu adh-dhari>’ah
Menurut al-Syatibi dalam kitab Ilmu Ushul Fiqih, Saddu
adh-dhari>’ah adalah melaksanakan suatu pekerjaan yang semula
mengandung kemaslahatan menuju pada suatu kerusakan. Dari
pengertian di atas dapat diketahui bahwa perbuatan yang mulanya
dibolehkan (mengandung kemaslahatan), tetapi berakhir dengan suatu
kerusakan. Menurut beliau ada kriteria yang menjadikan suatu
perbuatan itu dilarang, yaitu:
1) Perbuatan yang tadinya boleh dilakukan itu mengandung
kerusakan
2) Kemafsadatan lebih kuat daripada kemaslahatan
3) Perbuatan yang dibolehkan syara’ mengandung lebih banyak unsur
kemafsadatannya.23
22 Miftahul Arifin, Ushul Fiqh Kaidah-Kaidah Penerapan Hukum Islam, (Surabaya: Citra Media, 1997), 157.
36
Sedangkan Abdul Karim Zaidan mendefinisikan saddu
adh-dhari>’ah sebagai berikut :
ُنِا
ِم
ْن
ِباَب
َِم
ِع
ِلِئاَسَولْا
ْا
ُ
م ؤ
ِد َي ُة
ِا
ََ
ْا َم َاف
ِس
ِد
Menutup jalan yang membawa kepada kebinasaan atau kejahatan.24
b. Fath adh-dhari>’ah
Fath adh-dhari>’ah adalah kebalikan dari saddu adh-dhari>’ah,
yaitu perbuatan yang mulanya mengandung kemafsadatan menuju
pada perbuatan kemaslahatan. Seperti melihat aurat seorang
perempuan (kemafsadatan) tetapi demi pengobatan (kemaslahatan)
maka diperbolehkan. 25
2. Pengelompokan Saddu adh-dhari>’ah
Adh-dhari>’ah dapat dikelompokkan dengan melihat kepada
beberapa segi:
a. Dengan memandang kepada akibat (dampak) yang ditimbulkannya,
Ibn Qayyim membagi adh-dhari>’ah menjadi empat, yaitu:
1) Adh-dhari>’ah yang memang pada dasarnya membawa kepada
kerusakan seperti minuman-minuman yang memabukkan yang
membawa kepada kerusakan akal atau mabuk, perbuatan zina
yang membawa kerusakan pada keturunan.
24 Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh Metode Istinbath dan Istidlal, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2013), 118
37
2) Adh-dhari>’ah yang ditentukan untuk sesuatu yang mubah, namun
ditujukan untuk perbuatan yang buruk yang merusak, baik dengan
sengaja seperti nikah muhallil. Nikah itu sendiri hukumnya halal
tetapi ketika pernikahan ditujukan untuk menghalalkan yang
haram maka menjadi haram.
3) Adh-dhari>’ah yang semula ditentukan untuk mubah, tidak
ditujukan untuk kerusakan, namun biasanya sampai juga kepada
kerusakan yang mana kerusakan itu lebih besar dari kebaikannya,
seperti perkawinan yang dilakukan oleh anak di bawah usia 20
tahun yang mana perkawinan merupakan anjuran Nabi akan tetapi
kerusakan atau kemadharatan yang timbul setelahnya lebih besar
dari pada kemaslahatannya.
4) Adh-dhari>’ah yang semula ditentukan untuk mubah, namun
terkadang membawa kepada kerusakan, sedangkan kerusakannya
lebih kecil dibandingkan kebaikannya. Contohnya: melihat wanita
yang dipinang.26
b. Dari segi tingkat kerusakan yang ditimbulkan, Abu Ishak al-Syatibi
membagi adh-dhari>’ah menjadi empat jenis, yaitu:
1) Perbuatan itu dapat dipastikan akan mengakibatkan kebinasaan.
Contohnya: menggali lubang di tempat yang gelap yang biasa
dilalui oleh orang.
38
2) Perbuatan yang mengandung kemungkinan untuk menuju ke yang
dilarang. Contohnya: menjual anggur kepada orang yang tidak
terkenal sebagai produsen khamr (minuman keras).
3) Perbuatan yang dasarnya adalah mubah namun kemungkinannya
akan membawa kepada kebinasaan yang lebih besar dibandingkan
kemaslahatannya. Contohnya: perkawinan yang dilakukan oleh
anak di bawah usia 20 tahun yang mana perkawinan merupakan
anjuran Nabi akan tetapi kerusakan/kemadharatan yang timbul
setelahnya lebih besar dari pada kemaslahatannya.
4) Perbuatan yang dasarnya mubah karena mengandung
kemaslahatan, tetapi pada pelaksanaannya kemungkinan terjadi
sesuatu yang dilarang. Contohnya: akad jual beli yang mungkin
digunakan sebagai upaya mengelak dari riba.27
3. Dasar Hukum Saddu adh-dhari>’ah
Dasar hukum dari Saddu adh-dhari>’ah adalah Quran dan
al-Hadits, yaitu :
َََو
ْاوبُسَت
َنْيِذلا
َنْوُعْدَي
ْنِم
ِنْوُد
ِها
اْو بُسَيَ ف
َها
اَوْدَع
ِْيَغِب
ٍمْلِع
ُ
ماعنأا
:
۲۰۱
َ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.28
27 Ibid., 453
39
Mencaci maki berhala pada hakikatnya tidak dilarang oleh Allah,
akan tetapi ayat ini melarang kaum muslimin mencaci dan menghina
berhala, karena larangan ini dapat menutup jalan kearah tindakan
orang-orang musyrik mencaci maki Allah secara melampaui batas.29
Di dalam hadits Rasulullah bersabda :
َََأ
ْنَاَو
َىَِْ
ِها
ِْيِصاَعَم
ْنَمَف
َماَح
َلْوَح
ىمَْحا
ُكَشْوُ ي
ْنَا
َعَقَ ي
ِْيِف
Ketahuilah bahwa tanaman Allah adalah perbuatan ma’siat yang
dilakukan kepadanya. Barang siapa yang menggembalakan ternaknya sekitar tanaman itu, ia akan terjerumus kedalamnya.30
Hadits ini menerangkan bahwa mengerjakan perbuatan dapat
mengarah pada perbuatan maksiat lebih besar kemungkinannya akan
terjerumus mengerjakannya dari pada kemungkinan dapat memelihara diri
dari kemaksiatan itu. Tindakan yang paling selamat adalah melarang
perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan.31
4. Pandangan Ulama Tentang Saddu adh-dhari>’ah
Tidak ada dalil yang jelas dan pasti dalam bentuk nash atau ijma’
ulama tentang boleh atau tidaknya menggunakan saddu adh-dhari>’ah.
Oleh karena itu, pengambilannya hanya semata-mata ijtihad dengan
berdasa