• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 15 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 15 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

15

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Teori yang Digunakan

Pada penelitian ini, ada beberapa teori yang digunakan oleh peneliti sebagai landasan penelitian. Beberapa teori yang menjadi teori utama adalah teori komunikasi organisasi, pendekatan komunikasi organisasi, arah aliran komunikasi organisasi, cara penyampaian komunikasi organisasi, dan tingkat keresmian komunikasi organisasi, serta teori utama lainnya yaitu teori hambatan komunikasi dan teori motivasi.

2.1.1 Komunikasi Organisasi

Menurut Stohl (1995) “Organizational communication is a complex and continuous process through which organizational members create, maintain, and change the organization. Two important issues need to be addressed with this definition. First, it is important to note that all organizational members participate in this process. Communication is not the sole responsibility or privilege of managers.

Even if managers create and send most of the messages, their subordinates and peers create meaning from those messages. Second, while the process is said to be transactional in which all parties enact both sender and receiver roles to create mutual and shared meanings of messages, shared meaning is not always achieved in organizational settings. Certainly, the process is mutual, and understandings are created. However, the interpretations is created or derived from these interactions may not be mutual” (Keyton, 2003, p. 13)

Pengertian diatas dapat diartikan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses yang kompleks dan berkesinambungan dimana anggota organisasi menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi tersebut. Dua isu penting yang perlu diperhatikan dengan definisi ini. Pertama, penting untuk dicatat bahwa semua anggota organisasi berpartisipasi dalam proses ini. Komunikasi bukanlah tanggung jawab atau hak istimewa dari manajer. Bahkan jika manajer membuat dan mengirim sebagian besar pesan, bawahan dan rekan-rekan membuat makna dari pesan-pesan

(2)

16

Universitas Kristen Petra

tersebut. Kedua, sedangkan proses tersebut dikatakan transaksional di mana semua pihak memberlakukan kedua peran pengirim dan penerima untuk menciptakan makna bersama dan berbagi pesan, makna berbagi tidak selalu dicapai dalam pengaturan organisasi. Tentu saja, proses ini dilakukan bersama, dan pemahaman diciptakan.

Namun, interpretasi dibuat atau berasal dari interaksi ini mungkin tidak saling bertimbal balik.

Sedangkan menurut Wursanto, komunikasi dalam organisasi adalah suatu proses penyampaian informasi, ide-ide, di antara para anggota organisasi secara timbal balik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Wursanto, 2005, p.157)

2.1.2. Pendekatan Komunikasi Organisasi

Miller (2003) menyampaikan bahwa dalam komunikasi organisasi terdapat beberapa pendekatan, yaitu pendekatan klasik, pendekatan hubungan manusia, pendekatan sumber daya manusia, pendekatan budaya, pendekatan kritikal, dan pendekatan sistem. Sedangkan untuk penelitian ini, pendekatan yang sesuai digunakan adalah pendekatan hubungan manusia (human relations approaches).

Pada pendekatan ini dijelaskan bahwa terjadi peralihan dari pendekatan sebelumnya yaitu pendekatan klasik dimana yang terjadi berlaku secara mekanik dan kaku, berubah kepada adanya kemungkinan bahwa kebutuhan manusia dan interaksi sosial memiliki peran penting dalam fungsi organisasi. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa perhatian manajemen untuk karyawan dan komunikasi sosial sangat berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas karyawan.

Pendekatan ini menyebutkan ada beberapa teori yang berkaitan yaitu teori hierarki kebutuhan Maslow, teori motivasi-higiene Herzberg, dan teori X dan Y McGregor. Pada teori hierarki kebutuhan Maslow dijelaskan menyatakan bahwa manusia dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat pada diri setiap manusia yang cenderung bersifat bawaan, dimana terdiri dari lima jenis yang tersusun berdasarkan level pemenuhannya, dari yang paling rendah hingga paling tinggi kebutuhan pemenuhannya.

(3)

17

Universitas Kristen Petra

Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain adalah kebutuhan fisiologis (kebutuhan dasar manusia dalam sandang, pangan, dan pakan, dimana pemenuhan untuk kebutuhan ini yang memotivasi manusia untuk bekerja), kebutuhan rasa aman (kebutuhan manusia untuk mendapatkan keamanan dan perlindungan di dalam bekerja), dan kebutuhan sosial (kebutuhan untuk dicintai dan mencintai dalam berhubungan dengan orang lain) sebagai tiga jenis kebutuhan yang berada di tingkat bawah serta tersusun secara berkala. Sedangkan dua kebutuhan lainnya adalah kebutuhan harga diri (kebutuhan dari manusia yang mengharapkan akan faktor-faktor internal seperti harga diri, otonomi dan prestasi, serta faktor-faktor eksternal seperti status, pengakuan dan perhatian) dan kebutuhan aktualisasi diri (Kebutuhan yang mendorong untuk menjadi apa yang mampu dia lakukan meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi diri, dan pemenuhan kebutuhan diri sendiri) yang berada di tingkatan pemenuhan yang tertinggi.

Pada teori motivasi-higiene Herzberg dijelaskan bahwa teori ini menerapkan wawasan kepada kegiatan organisasi, berteori bahwa daerah kepuasan kerja akan sama yaitu, ketidakpuasan kerja bukan hanya kebalikan dari kepuasan kerja. Premis dasar dari teori ini adalah bahwa ada seperangkat karakteristik kerja yang berfungsi untuk memuaskan dan membuat seseorang bahagia dan satu set terpisah yang berfungsi untuk menunjukkan seseorang merasa tidak puas dan membuat seseorang bahagia. Herzberg menggunakan label motivator atau faktor motivasi untuk mengidentifikasi aspek pekerjaan yang membuat seseorang merasa puas dan bahagia.

Dan yang termasuk dalam kategori motivator adalah tanggung jawab, prestasi, pengakuan, pekerjaan yang menantang, dan kemajuan dalam organisasi. Herzberg berteori bahwa jika faktor-faktor tersebut diikutsertakan pekerjaan. seorang individu akan senang dan puas dengan pekerjaan. Termasuk dalam kategori faktor higien antara lain kondisi fisik kerja, gaji, tunjangan, kebijakan perusahaan, dan kualitas teknis yang akan mengarah pada ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan karyawan.

Sedangkan teori lainnya adalah Teori X dan Teori Y oleh McGregor dimana teori ini mewakili asumsi berbeda bahwa manajer dapat menampung semua fungsi organisasi. Teori X merupakan perwakilan dari seorang manajer yang dipengaruhi

(4)

18

Universitas Kristen Petra

oleh aspek-aspek paling negatif dari teori manajemen klasik. Sebaliknya, Teori Y adalah yang menganut ajaran hubungan manusia. Dengan demikian, seorang manajer Teori X mengasumsikan bahwa sesuatu yang kuat dan sangat penting berguna untuk memanfaatkan upaya pekerja yang pada dasarnya tidak termotivasi. Seorang manajer Teori Y mengasumsikan bahwa pekerja sangat termotivasi untuk memenuhi prestasi dan kebutuhan aktualisasi diri dan bahwa tugas manajer adalah untuk membawa keluar kecenderungan alami dari para pekerja yang cerdas dan termotivasi. McGregor percaya bahwa perilaku seseorang berasal dari asumsi manajerial yang akan menyebabkan tenaga kerja lebih puas dan lebih produktif.

Pada pendekatan hubungan manusia, hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi seperti isi komunikasi, arah aliran komunikasi, saluran dan gaya komunikasi lebih ditekankan untuk menciptakan hubungan yang baik antara organisasi dengan karyawannya. Isi komunikasi yang digunakan pada pendekatan ini lebih mementingkan komunikasi yang menjaga kualitas hubungan para karyawan di dalamnya, walaupun komunikasi yang berkaitan dengan tugas-tugas pekerjaan juga tetap dijalankan seperti biasanya. Sedangkan untuk arah aliran komunikasi yang digunakan pada pendekatan hubungan manusia ini tidak menghilangkan kebutuhan untuk arus informasi vertikal (ke atas dan ke bawah). Namun, pendekatan hubungan manusia tidak membatasi aliran komunikasi arah ini, komunikasi horizontal sangat dianjurkan penggunaannya dalam pendekatan ini.

Selain itu pada saluran komunikasi pada pendekatan ini lebih menganjurkan penggunaan komunikasi non-verbal serta tatap muka yang lebih menjamin interaksi sosial berjalan dengan lebih baik, karena komunikasi tertulis tidak memungkinkan untuk adanya proses timbal balik dan pertukaran isyarat. Pada gaya komunikasi, gaya secara informal yang digunakan pada pendekatan ini dikarenakan pendekatan hubungan manusia merupakan upaya untuk memecah perbedaan status antara manajer dan karyawan sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan sosial.

Pengaruh yang terjadi pada pendekatan hubungan manusia dapat terlihat jelas dalam sikap umum dari manajemen terhadap karyawan. Selain itu juga berkaitan dengan pengayaan pekerjaan (job enrichment) yang semakin berkembang melalui

(5)

19

Universitas Kristen Petra

pendekatan ini, dimana tujuan pengayaan pekerjaan adalah untuk merancang tugas- tugas yang akan membantu untuk memenuhi beberapa tingkat kebutuhan karyawan (kebutuhan untuk aktualisasi diri) melalui penyediaan faktor motivasi kerja. (Miller, 2003, p.30-44)

2.1.3. Arah Aliran Komunikasi Organisasi

Condruz–Băcescu (2012) menyatakan bahwa pembagian arah aliran informasi dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Downward communication usually belongs to hierarchical relationships, developing at the level of top management, towards the levels of performance.

Its content is given by decisions, regulations, instructions, tasks submission, request for information.

(Komunikasi ke bawah biasanya dimiliki oleh hubungan hirarkis, berkembang di tingkat manajemen puncak, terhadap tingkat kinerjanya konten yang diberikan oleh keputusan, peraturan, petunjuk, penyerahan tugas, permintaan untuk informasi)

b. Upward communication is the conveyance of messages by subordinates to direct bosses and, successively to higher levels of management. Reports, requests, opinions, complaints pass through them. The role of upward communication is essential to the effectiveness of the communication process because it certifies the messages sent by the manager.

(Komunikasi ke atas adalah penyampaian pesan dari bawahan langsung kepada atasan dan, berturut-turut ke tingkat yang lebih tinggi dari manajemen.

Penyampaian laporan, permintaan, pendapat, keluhan melewati mereka. Peran komunikasi ke atas adalah penting untuk efektivitas proses komunikasi karena mengesahkan pesan yang dikirim oleh manajer)

c. Horizontal communication is established between individuals or departments located at the same hierarchical level. The role of this type is to facilitate coordination of activities aimed at common objectives, excluding senior managers’ intervention.

(6)

20

Universitas Kristen Petra

(Komunikasi horizontal terjadi antara individu atau departemen yang terletak pada tingkat hirarki yang sama. Peran jenis ini adalah untuk memfasilitasi koordinasi kegiatan yang bertujuan yang sama, termasuk intervensi senior manajer) (Condruz–Băcescu, 2012, p. 58)

Komunikasi horizontal memiliki fungsi memperlancar aktifitas organisasi dalam melakukan koordinasi perencanaa, dan pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan, menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi bersama, dan lain sebagainya. (Ishak & Ayatullah, 2003, p.37)

2.1.4. Cara Penyampaian Komunikasi Organisasi

Penyampaian komunikasi organisasi yang sesuai dengan penelitian ini terkait dengan pendekatan hubungan manusia adalah dengan 2 cara, yaitu:

a. Verbal communication is the most commonly used within the organization.

This type of communication develops by means of language. In terms of management relations, verbal communication has some advantages: it establishes direct personalized relations between managers and performers, giving employees a sense of participation in the life of the organization; it allows flexibility of expression; information may be more nuanced and persuasive; it allows rapid valorization of some situations; the costs are reduced by 50% compared to written communication. The disadvantages of this type of communication are the following: it requires the simultaneous presence of interlocutors, multiplying the time spent; the successive transmission through different hierarchical levels is difficult and informational substance is lost.

(Komunikasi lisan adalah yang paling umum digunakan dalam organisasi..

Jenis komunikasi berkembang dengan cara penggunaan bahasa. Dalam hal hubungan manajemen, komunikasi verbal memiliki beberapa keuntungan:

menetapkan hubungan pribadi langsung antara manajer dan karyawan, memberikan karyawan rasa partisipasi dalam kehidupan organisasi, yang memungkinkan fleksibilitas ekspresi, informasi mungkin lebih bernuansa dan

(7)

21

Universitas Kristen Petra

persuasif, yang memungkinkan cepat kenaikan harga dari beberapa situasi, biaya berkurang sampai 50% dibandingkan dengan komunikasi secara tertulis.

Kelemahan dari jenis komunikasi ini adalah sebagai berikut: memerlukan kehadiran simultan, memakan lebih banyak waktu, transmisi berurutan melalui tingkat hirarki yang berbeda adalah substansi yang sulit dan transisi informasi hilang)

b. Non-verbal communication can be an effective instrument which, handled skillfully, and facilitates the interpretation of messages. The characteristic of this type of communication is its competition with verbal communication, which allows transmission of messages even while partners are talking.

(Komunikasi non-verbal dapat menjadi instrumen yang efektif, ditangani dengan terampil, memfasilitasi penafsiran pesan. Karakteristik komunikasi ini adalah adanya persaingan dengan komunikasi verbal, yang memungkinkan transmisi pesan bahkan ketika mitra berbicara)

The means of transmitting non–verbal messages are:

• facial expression: due to increased socialization people have learned to suppress their mood, controlling their expressions in a remarkable way. (ekspresi wajah: karena peningkatan sosialisasi, orang telah belajar untuk menekan suasana hati mereka, mengontrol ekspresi mereka dengan cara yang hebat)

• eye contact: through the eyes, people supervise the course of communication to quickly adapt to the interlocutor’s reactions. Eye movements, gaze duration and intensity are synchronized, usually with speech rhythm and fluency. (Melalui mata, orang mengawasi jalannya komunikasi untuk cepat beradaptasi dengan reaksi lawan itu. Gerakan mata, tatapan durasi dan intensitas yang disinkronkan, biasanya dengan irama pidato dan kefasihan.)

• the use of space: it can also provide interesting non-verbal messages.

Each individual is surrounded by a comfort zone, which protects him from intruders. When the zone is violated, a psychological coercion is

(8)

22

Universitas Kristen Petra

exerted over the individual, accompanied by unpleasant feelings. (itu juga dapat memberikan menarik non-verbal pesan. Setiap individu dikelilingi oleh zona nyaman, yang melindungi dia dari orang lain.

Ketika zona ini dilanggar, sebuah paksaan psikologis diberikan kepada individu, disertai dengan perasaan yang tidak senang) (Condruz–

Băcescu, 2012, p. 58-59)

2.1.5. Tingkat Keresmian Komunikasi Organisasi

Keresmian komunikasi organisasi yang digunakan pada penelitian ini adalah secara informal dan formal yang dapat disampaikan oleh Condruz–Băcescu (2012), yaitu:

a. Formal communication includes all upward and downward messages, which move through organizational relations channels. It can exist in different forms: spoken, written, direct and indirect, multilateral and bilateral.

Whatever form is used,“communication remains a need for regulating the organizations’ functioning” ( Pop, 2000: 89). (Komunikasi formal mencakup semua pesan atas dan ke bawah, yang bergerak melalui saluran hubungan organisasi. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk: diucapkan, ditulis, langsung dan tidak langsung, multilateral dan bilateral. Apapun bentuk yang digunakan, “komunikasi tetap menjadi kebutuhan untuk mengatur fungsi organisasi”)

b. Informal communication includes rumors and gossip. Caused by lack of information or information that may appear truncated in the process of interpersonal relationships, informal communication is trying to eliminate nuncertainty, curiosity or anxiety of people” (Komunikasi informal termasuk rumor dan gosip. Disebabkan oleh kurangnya informasi atau informasi yang mungkin muncul dalam proses hubungan interpersonal yang terpotong atau tidak sempurna, komunikasi informal sedang mencoba untuk menghilangkan ketidakpastian, rasa ingin tahu atau kecemasan orang lain) (Condruz–Băcescu, 2012, p. 59-60)

(9)

23

Universitas Kristen Petra

2.1.6. Hambatan Komunikasi

“Tidaklah mudah untuk melakukan komunikasi secara efektif. Ada banyak hambatan yang bisa merusak komunikasi.” (Effendy, 2003, p.45). Menurut Shannon

& Weaver (1949) gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang mengganggu salah satu elemen komunikasi, sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara efektif (Cangara, 2009, p. 153). Liliweri (2004, p.96) mengungkapkan “hambatan atau gangguan komunikasi adalah pengaruh dari dalam maupun dari luar individu atau lingkungan yang merusak aliran atau isi pesan yang dikirimkan atau yang diterima”.

Menurut Condruz–Băcescu (2012, p.64) menyampaikan bahwa

“Communication as an exchange of ideas, opinions, and informations through words, gestures, and attitudes is the basis for the coordination of human activities. If writing and speech are relatively simple actions, the main difficulty is the correct understanding of communication” yang dapat diartikan komunikasi sebagai pertukaran gagasan, pendapat, dan informasi melalui kata-kata, gerak tubuh, dan sikap adalah dasar koordinasi kegiatan manusia. Jika tulisan dan pidato adalah tindakan yang relatif sederhana, kesulitan utama dalam komunikasi adalah pemahaman yang benar dari komunikasi yang disampaikan tersebut.

Beberapa hambatan komunikasi yang disampaikan oleh Wursanto (Masmuh, 2010, p.82-85) terbagi menjadi 6 macam, yaitu :

a. Hambatan yang bersifat teknis

Hambatan ini antara lain: kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan oleh organisasi; kondisi fisik memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif; penguasaan teknik dan metode berkomunikasi yang tidak memadai.

b. Hambatan perilaku

Seperti: pandangan yang sifatnya apriori; prasangka yang didasarkan kepada emosi; suasana otoriter; ketidakmauan untuk berubah; sifat yang egosentris.

c. Hambatan bahasa

Yang dimaksud bahasa di sini adalah semua bentuk yang dipergunakan dalam proses penyampaian berita; yaitu bahasa lisan, bahasa tertulis, gerak-gerik,

(10)

24

Universitas Kristen Petra

dan sebagainya. Penggunaan bahasa oleh seorang pemimpin atau komunikator tanpa menghiraukan kemampuan bawahan atau orang yang diajak berbicara akan menimbulkan salah pengertian (miscommunication)

d. Hambatan struktur

Hambatan ini dapat juga disebut sebagai hambatan organisasi; yaitu hambatan yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat, perbedaan pekerjaan dalam struktur organisasi. Kadang-kadang seorang bawahan merasa takut atau malu apabila berhubungan dengan atasannya atau pimpinannya, apalagi pimpinan yang bersangkutan seorang yang cukup berwibawa dan disegani. Karena adanya rasa takut atau malu, maka komunikasi antara bawahan dengan atasan tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan.

e. Hambatan jarak

Hambatan ini juga disebut hambatan geografis. Dari segi jarak atau geografis, komunikasi akan lebih mudah berlangsung apabila antara kedua belah pihak yang saling mengadakan interaksi itu berada di suatu tempat yang tidak berjauhan. Akan tetapi, tidak selamanya para karyawan atau pegawai itu berada di suatu tempat tertentu, apalagi suatu organisasi yang mempunyai cabang-cabang yang tersebar di berbagai tempat atau wilayah sehingga komunikasi dalam organisasi itu mengalami kesulitan apabila tidak ditunjang dengan suatu peralatan komunikasi yang memadai, yang akan mengakibatkan keterlambatan berita yang disampaikan.

f. Hambatan latar belakang.

Setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan latar belakang dapat menimbulkan suatu gap atau hambatan dalam proses komunikasi. Hambatan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu latar belakang sosial dan latar belakang pendidikan.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan teori hambatan komunikasi yang disampaikan oleh Wursanto. Menurut pemahaman peneliti pada teori tersebut, semua konteks hambatan komunikasi yang disampaikan tepat apabila digunakan dalam organisasi.

(11)

25

Universitas Kristen Petra

2.1.7. Motivasi Kerja

Menurut Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (1996) menyampaikan motivasi adalah suatu konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan dorongan- dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Motivasi memiliki pengertian kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.

Jadi, motivasi bermakna membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu untuk mencapai suatu kepuasan atau suatu tujuan. (Masmuh, 2010,p.227).

Sedangkan, menurut George dan Jones (2005), “motivasi kerja didefinisikan sebagai suatu dorongan secara psikologis kepada seseorang yang menentukan arah dari perilaku (direction of behavior) seseorang dalam suatu organisasi, tingkat usaha (level of effort), dan tingkat kegigihan atau ketahanan di dalam menghadapi suatu halangan atau masalah (level of persistence)” ( p. 175). Levy dalam Blue (2011, p.1) menjelaskan bahwa motivasi kerja adalah “a force that drives people to behave in a way that energizes, directs, and sustains their work behavior” (kekuatan yang mendorong orang untuk berperilaku dengan cara yang memberikan energi, mengarahkan, dan memelihara perilaku kerja mereka).

Pentingnya motivasi kerja juga disampaikan oleh Herwig W. Kressler,

“Everybody who works in businesses and other organizations are subject to certain influences that affect behavior. This need not even have anything to do with targeted 'motivational measures'. More everyday means can generate aspirations in the workers, giving them impetus and activating motives, having a specific task, being responsible for something, having a part to play, having goals to work towards, achieving a certain level of performance and knowing what is expected of them.

Motivation and performance are thus decisive variables that can determine success.”

(Kressler, 2003, p.2 & 11)

(12)

26

Universitas Kristen Petra

2.1.8. Elemen Motivasi Kerja

Dalam motivasi kerja terdapat beberapa elemen yang disampaikan oleh George & Jones (2005, p.175-176), yaitu arah perilaku, tingkat usaha, dan tingkat kegigihan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Arah perilaku: Perilaku manakah yang dipilih seseorang untuk ditunjukkan?

Dalam pekerjaan manapun, arah perilaku (direction of behavior) mengacu pada perilaku yang dipilih oleh seseorang dari banyak pilihan perilaku yang dapat mereka jalankan baik tepat maupun tidak. Banyak contoh perilaku tidak tepat yang dapat dilakukan oleh seorang karyawan, perilaku-perilaku ini nantinya akan menjadi suatu penghambat bagi organisasi di dalam mencapai tujuannya (perilaku tersebut disfungsional terhadap tujuan organisasi).

Sedangkan untuk mencapai tujuan perusahaan secara maksimal, karyawan harus memiliki motivasi untuk memilih perilaku yang fungsional dan dapat membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Setiap karyawan diharapkan dapat bekerja tepat waktu, mengikuti peraturan yang berlaku, serta kooperatif dengan sesama rekan kerja.

b. Tingkat usaha: Seberapa keras seseorang bekerja untuk menunjukkan perilaku yang dipilihnya? Tingkat usaha (level of effort) berbicara mengenai seberapa keras usaha seseorang untuk bekerja sesuai dengan perilaku yang dipilih. Di dalam bekerja, seorang karyawan tidaklah cukup jika hanya memilih arah perilaku yang fungsional bagi pencapaian tujuan perusahaan namun juga harus memiliki motivasi untuk bekerja keras di dalam menjalankan perilaku yang dipilih.

c. Tingkat kegigihan: Ketika menghadapi rintangan, jalan buntu, dan tembok batu, seberapa keras seseorang tetap mencoba untuk menunjukkan perilaku yang dipilihnya dengan baik? Tingkat kegigihan (level of persistence) mengacu pada motivasi karyawan ketika dihadapkan pada suatu masalah, rintangan atau halangan dalam bekerja, seberapa keras seorang karyawan tersebut terus berusaha untuk menjalankan perilaku yang dipilih.

(13)

27

Universitas Kristen Petra

2.2. Nisbah Antar Konsep

Dalam berkomunikasi manusia berhubungan dengan orang lain dimana terjadi proses penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak yang lainnya. Komunikasi juga terjadi di dalam organisasi dimana banyak manusia yang terdapat di dalamnya dan menjadi sebuah kesatuan. Komunikasi organisasi sendiri menjadi sebuah faktor yang penting dalam kinerja perusahaan agar segala sesuatu di dalamnya dapat berjalan dengan lancar dan baik sesuai dengan tujuan perusahaan.

Berdasarkan salah satu pendekatan komunikasi organisasi, yaitu pendekatan hubungan manusia, maka dapat dijelaskan bahwa di dalam organisasi perlu adanya hubungan yang baik di antara semua anggota organisasi, tidak hanya antar karyawan saja namun juga antara atasan dengan karyawannya. Komunikasi yang terjadi di dalam organisasi, tidak hanya mencakup para golongan-golongan penting dalam organisasi saja, melainkan semua anggota organisasi yang terdapat di dalamnya, sehingga komunikasi di dalamnya terjadi secara luas dan saling berhubungan.

Komunikasi organisasi yang terjadi sesuai dengan pendekatan ini berupa komunikasi ke atas, ke bawah, dan ke samping. Selain itu, juga terdapat komunikasi verbal dan non-verbal, serta komunikasi informal.

Saat penyampaian pesan atau komunikasi yang terjadi di dalam organisasi tersebut tidak menutup kemungkinan dapat terjadi hambatan yang kemudian akan mempengaruhi pesan yang disampaikan. Apalagi dengan pendekatan hubungan manusia yang lebih memusatkan pada interaksi sosial yang terjadi di dalam organisasi. Hambatan-hambatan komunikasi yang dapat terjadi antara lain berupa hambatan teknis, hambatan perilaku, hambatan bahasa, hambatan struktur, hambatan jarak, dan hambatan latar belakang.

Komunikasi organisasi yang melibatkan semua anggota organisasi dimana sangat diperlukan dalam menunjang kinerja perusahaan yang hanya dapat terpenuhi dengan baik melalui pekerjaan-pekerjaan dan kualitas yang diberikan oleh semua karyawannya. Komunikasi organisasi yang terjadi secara berkesinambungan setiap waktunya tentu dapat memberikan pengaruh pada motivasi kerja karyawan yang sangat dibutuhkan dalam melakukan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Motivasi

(14)

28

Universitas Kristen Petra

adalah dorongan semangat yang membuat para karyawan menjadi terpacu untuk melakukan dan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sebaik mungkin. Motivasi dapat dilihat atau diukur berdasarkan beberapa elemen yaitu arah perilaku, tingkat usaha dan tingkat kegigihan dalam melakukan pekerjaan yang dijalani oleh para karyawan di dalam organisasi. Dengan kata lain, komunikasi organisasi yang terjalin dengan baik atau tidak dimana hal tersebut dapat dilihat dari hambatan komunikasi yang terjadi di dalamnya berkaitan dengan motivasi kerja karyawan yang setiap harinya melakukan komunikasi di dalam organisasi tersebut.

(15)

29

Universitas Kristen Petra Rumusan Masalah

Apakah terdapat pengaruh hambatan komunikasi terhadap motivasi kerja karyawan di dalam organisasi PT. Liebherr Indonesia Perkasa, Balikpapan?

Hambatan Komunikasi 1. Hambatan yang bersifat

teknis

2. Hambatan perilaku 3. Hambatan bahasa 4. Hambatan struktur 5. Hambatan Jarak

6. Hambatan Latar Belakang (Wursanto, dalam Masmuh, 2010)

Motivasi Kerja

Tiga elemen utama yang menentukan motivasi:

1. Arah Perilaku 2. Tingkat Usaha 3. Tingkat Kegigihan (George & Jones, 2005, p.175)

H0 :

Hambatan Komunikasi Tidak Berpengaruh Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di dalam

organisasi PT. Liebherr Indonesia Perkasa, Balikpapan.

H1:

Hambatan Komunikasi Berpengaruh Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di dalam organisasi PT. Liebherr Indonesia

Perkasa, Balikpapan.

Komunikasi organisasi penting bagi perusahaan dan juga dapat terjadi hambatan di dalamnya dilihat melalui:

-Pendekatan Komunikasi Organisasi (Miller,2003)

-Hambatan Komunikasi Organisasi (Wursanto, 2010, p.82-85)

PT. Liebherr Indonesia Perkasa memperhatikan motivasi kerja sebagai sesuatu yang penting untuk melihat pekerjaan karyawan. Motivasi kerja karyawan di PT. Liebherr Indonesia Perkasa, Balikpapan mengalami perubahan setiap tahunnya. (Sumber: HRD PT. Liebherr)

PT. Liebherr Indonesia Perkasa sebagai perusahaan global memiliki banyak bagian managerial yang merupakan WNA dan sebagian besar karyawan adalah WNI. Komunikasi

penting antara karyawan dengan atasan untuk kelancaran pekerjaan, tetapi dapat terjadi hambatan dalam prosesnya.

2.3. Kerangka Berpikir

Bagan 2.2. Kerangka Pemikiran (Sumber : Olahan Penulis, 2013)

(16)

30

Universitas Kristen Petra

2.4. Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan teori dan penjelasan yang telah disampaikan di atas, maka peneliti mengambil hipotesa atau kesimpulan :

 H0 : Hambatan Komunikasi Tidak Berpengaruh Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di dalam organisasi PT. Liebherr Indonesia Perkasa, Balikpapan.

 H1 : Hambatan Komunikasi Berpengaruh Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di dalam organisasi PT. Liebherr Indonesia Perkasa, Balikpapan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa financial literacy atau pengetahuan akan keuangan merupakan kemampuan seseorang dalam memahami hal-hal

Computer mediated communication adalah proses komunikasi yang terjadi melalui penggunaan dua atau lebih jaringan komputer yang terkoneksi internet dalam sebuah

Hubungan antara Motivasi Berwirausaha dengan Inovasi Produk Dari model penelitian Shane dapat dilihat bahwa motivasi berwirausaha memiliki dampak atau pengaruh baik

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan variasi

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi kepada

Dari pengertian di atas dapat dilihat bahwa customer-centric management terdiri dari dua aspek yaitu memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dan

mencapai tujuan yang sesuai dengan keinginan-nya maka secara langsung kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh personal trainer tergolong baik, karena dalam