REPRESENTASI FAKTA SOSIAL DALAM NOVEL WASRIPIN DAN SATINAH KARYA KUNTOWIJOYO SERTA RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA DI MADRASAH ALIYAH*)
(Representation of Social Facts in Wasripin and Satinah Novel by Kuntowijoyo and Their Relevance to Indonesian Language Learning at Madrasah Aliyah)
Mirantika1 dan Sri Lestari2
1, 2UIN Raden Mas Sahid Surakarta
Jalan Pandawa, Dusun IV, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia Telepon penulis (WhatsApp): +6285879298568
Pos-el: [email protected]
*)Diterima: 1 Oktober 2021, Disetujui: 14 Oktober 2021
ABSTRAK
Novel Wasripin dan Satinah (WdS) menceritakan peristiwa sejarah berkaitan dengan permasalahan dan fakta sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Permasalahan tersebut yaitu problematika sosial politik bangsa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan dunia Kuntowijoyo, struktur teks novel WdS, struktur sosialnovel WdS, dan relevansi novel WdS dengan pembelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah. Penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat untuk mengumpulkan data dan teknik analisis data menggunakan model dialektik. Hasil penelitian ini yaitu:
(1) Humanisme teosentris sebagai pandangan dunia Kuntowijoyo; (2) Struktur novel WdS menekankan pada tokoh hero sebagai media penyampaian pandangan dunia pengarang; (3) Struktur sosial novel WdS berupa representasi fakta sosial dari penguasa, masyarakat, dan lembaga negara yang relevan dengan pembelajaran bahasa Indonesia kelas XII sesuai dengan kurikulum 2013 KD 3.8 dan 4.8.
Kata kunci: fakta sosial, novel, representasi, strukturalisme genetik
ABSTRACT
The novel Wasripin and Satinah tells of historical events related to social problems and facts in social life. This study aims to describe Kuntowijoyo's world view, the text structure of the WdS novel, the social structure of the WdS novel, and the relevance to Indonesian language learning at MA. This study uses listening and note-taking techniques to collect data and data analysis techniques using a dialectical model. The results of this study are: (1) Theocentric humanism as Kuntowijoyo's world view; (2) The structure of the WDS novel emphasizes the hero character as a medium for conveying the author's world view; (3) The social structure of the WdS novel is a representation of social facts from the authorities, society, and state institutions that are relevant to learning Indonesian for class XII in accordance with the 2013 curriculum KD 3.8 and 4.8.
Keywords: social facts, novels, representation, genetic structuralism
234 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan pantulan, cerminan, dan gambaran dari kehidupan. Satu di antaranya adalah mencerminkan peristiwa sejarah.
Dengan kata lain, adanya karya sastra terlahir dari pandangan pengarang atas fakta sosial yang ada di sekitarnya, Audriana (2018: 2). Fakta sosial tersebut dapat berupa permasalahan ekonomi, sosial, maupun politik.
Yenhariza, dkk., (2012: 168) menyebutkan, satu di antara bentuk karya sastra yang berperan sebagai alat untuk memahami berbagai persoalan kehidupan manusia yaitu novel.
Novel Wasripin dan Satinah merupakan salah satu novel yang erat kaitannya dengan problematik politik.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Raditawati (2018: 2), bahwa konflik politik yang disajikan di dalam novel Wasripin dan Satinah banyak memuat konflik pada zaman pemerintahan Orde Baru. Baik itu perebutan kedudukan, kekuasaan, atau kekayaan. Namun, konflik politik tidak hanya terjadi pada masa Orde Baru, bahkan kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih sarat dengan konflik politik, sehingga hal itu menjadi fakta sosial.
Penelitian ini mengkaji objek berupa novel berjudul Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo. Novel ini menarikan untuk diteliti karena novel ini menyuguhan cerita sejarah yang masih kental dengan surealistik berpadu dengan spiritualisme Islam berakulturasi dengan budaya Jawa.
Selain itu, di dalam novel Wasripin dan Satinah terdapat hubungan dengan kehidupan masyarakat yang digambarkan oleh Kuntowijoyo mengenai permasalahan dan fakta sosial yang ada di dalam masyarakat. Fakta sosial dijelaskan oleh Durkheim (dalam Susanti, dkk., 2020: 345) sebagai setiap upaya perbuatan yang berkesanggupan untuk mengendalikan individu dengan paksaan dari luar, atau setiap upaya melakukan tindakan yang memiliki sifat umum dalam masyarakat tertentu, akan tetapi pada waktu yang serupa (fakta sosial), tidak terikat dari individu.
Fakta sosial dalam pandangan Durkheim terbagi menjadi dua jenis yang dijelaskan (dalam Brahmana, 2013: 102). Pertama, fakta sosial yang bersifat material (material entity).
Fakta sosial ini menjadi bagian atas dunia nyata (external world). Fakta ini acap kali mengungkapkan kekukuhan moral yang lebih kuat. Semuanya ada di luar individu dan mengatur mereka.
Kedua, fakta sosial yang bersifat non material (non-material entity) adalah suatu hal yang diyakini keberadaannya atau sesuatu yang dipandang nyata (external). Fakta ini disebut fakta fiksi, yaitu penggunaan fakta-fakta sosial secara imajiner guna menerangkan ideologi, estetika, etika, edukatif, komunikasi, kreativitas, dan hiburan dalam karya sastra.
Fakta sosial yang direpresen- tasikan oleh Kuntowijoyo sebagai pengarang adalah berbagai permasalahan sosial politik, yaitu perebutan kedudukan antar kubu
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 235 politik, penyalahgunaan kekuasaan
untuk mendesak rakyat kecil, kesenjangan hukum, klenik kebatinan dan tradisi Jawa yang masih dilakukan mayarakat, dan yang lainnya. Konflik politik yang berlangsung dalam novel ini merupakan gambaran pertentangan politik pada masa Orde Baru, yaitu tahun 1968—1998.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan dunia kelas sosial Kuntowijoyo sebagai pengarang dalam novel Wasripin dan Satinah, struktur teks novel WdS, struktur teks novel WdS, struktur sosial yang ada di dalam novel WdS. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan relevansi novel Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo dengan pembelajaran di Madrasah Aliyah dengan memperhati-kan KD SMA/MA kelas XII yang sesuai, yaitu KD 3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca dan 4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang, serta menganalisis kesesuaian novel untuk menjadi bahan ajar sastra dan bahasa di Madrasah Aliyah (MA) dengan memperhatikan beberapa aspek dalam pemilihan bahan ajar sastra sesuai dengan penjelasan Rahmanto (dalam Yulistiawan, 2019), yakni aspek bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya.
Novel WdS dapat dijadikan sebagai alternatif dan atau referensi baru dalam pemilihan bahan ajar karena problematik di dalam novel WdS relevan dengan permasalahan yang terus terjadi, yakni Pemilu, politic money, kampanye terselubung,
kesenjangan hukum, dan lainnya. Atas dasar hal tersebut, maka novel Wasripin dan Satinah (2013) dapat dijadikan sebagai referensi baru dalam pemilihan bahan ajar bahasa Indonesia.
Pendapat yang dikemukakan oleh Yasa (dalam Helaluddin 2019: 3), teori strukturalisme genetik menjadi bagian dari sosiologi sastra yang mencampurkan antara konteks sosial, struktur teks, dan pandangan dunia pengarang. Strukturalisme genetik bermaksud untuk menemukan pandangan pengarang dalam karya sastra. Hal tersebut dikuatkan oleh pendapat Damono (dalam Lastari 2017:
65), bahwa pengarang menggunakan strukturalisme genetik untuk menerangkan pertalian antara perlengkapan sastra dengan alam buatan pengarang yang telah dilukiskannya. Penjelasan lain disampikan oleh Ratna (2004: 5) bahwa strukturalisme genetik singkat- nya digunakan untuk menelaah unsur instrinsik dan ekstrinsik karya sastra.
Dalam memahami pola kehidupan masyarakat, pengarang berperan sebagai perwakilan golongan sosial dalam masyarakat yang menyampaikan pandangan dunia ke dalam sastra yang dibuatnya.
Pandangan dunia yang dimaksud oleh Goldmann (dalam Hapsari, 2017: 269) adalah perasaan, pemikiran, dan harapan yang dirumuskan untuk mempertalikan bagian suatu golongan sosial tertentu secara bersama dan yang menjadikannya berlainan dengan kelompok sosial lain. Kuntowijoyo berupaya mempertentangkan kelom- pok kaum elite (penguasa) yang
236 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 bersifat otoriter dengan kelompok
sosial kaum cendekiawan muslim.
Kelompok sosial kaum cende- kiawan muslim menjadi kelompok Kuntowijoyo yang tergambar dalam novel Wasripin dan Satinah. Goldmann menyampaikan pendapat-nya (dalam Nurdayana, 2019: 411), bahwa pengarang berperan sebagai perwakilan dari sebuah kelompok sosial tertentu dalam masyarakat yang menyampaikan pandangan dunia ke dalam karya sastra yang dibuatnya.
Sosok cendekiawan muslim menurut Kuntowijoyo (dalam Zulheri, 2012: 23) yakni mereka yang tidak tercabut dari akar sosialnya, yang memijakkan kaki di atas bumi dan mempunyai sadar terhadap tanggung jawab sosial guna ikut serta dalam membinasakan kejahatan, menaruh sikap pedulinya pada kaum dhu’afa, serta melakukan pembelaan pada kaum mustadh’afin.
Penelitian yang relevan dilakukan oleh Lestari (2017) berjudul
“Representasi Sosok Perempuan Jawa dalam novel Gadis-Gadis Amangkurat Karya Rh Widada: Nilai Pendidikan Karakter Peduli Sosial dan Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sastra di Perguruan Tinggi (Tinjauan Strukturalisme Genetik)”. Persamaan dengan penelitian ini terletak pada pendekatan yang digunakan, yaitu struktura-lisme genetik, tetapi terdapat perbedaan, yakni teknik analisis data yang digunakan oleh Lestari menggunakan teknik analisis model interaktif untuk menemukan repre- sentasi perempuan Jawa dalam novel Gadis-gadis Amangkurat, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan
teknik analisis model dialektik untuk menemukan representasi fakta sosial dalam novel Wasripin dan Satinah.
Penelitian relevan selanjutnya dilakukan oleh Sugianto & Huda (2017) berjudul “Strukturalisme Genetik dalam Cerpen Slum Karya Hanif Nashrullah” Persamaan dengan penelitian ini terletak pada pende-katan yang digunakan, yaitu struktura-lisme genetik. Namun, terdapat perbedaan, objek penelitian yang digunakan Sugianto & Huda berupa cerpen sedangkan penelitian ini menggunakan novel sebagai objek penelitian dan temuan yang berbeda karena penelitian tersebut mengemu-kakan fakta kemanusiaan secara menyeluruh, sedangkan penelitian ini lebih terfokus pada bagian dari fakta kemanusiaan, yaitu representasi fakta sosial dalam novel Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo.
Penelitian relevan lainnya dilakukan oleh Hardi & Hanugrah (2019) berjudul “Melihat Penyimpangan Politik Masa Orde Baru dari Kacamata Karya Sastra (Sebuah Studi Historigrafi)”, persamaan dengan penelitian ini terletak pada objek penelitian, yakni novel Wasripin dan Satinah, akan tetapi terdapat perbedaan fokus penelitian yaitu penelitian yang dilakukan Hardi & Hanugrah membahas mengenai penyimpangan politik dalam novel Wasripin dan Satinah, sedangkan dalam penelitian ini membahas representasi fakta sosial dalam novel Wasripin dan Satinah.
Berdasarkan beberapa penelitian relevan yang sudah diuraikan di atas, penelitian mengenai representasi fakta
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 237 sosial dalam novel Wasripin dan
Satinah karya Kuntowijoyo dengan menggunakan pendekatan struktural- isme genetik belum pernah dilakukan, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk menambah wawasan bidang pengetahuan khususnya strukturalisme genetik.
Metode yang digunakan dalam srukturalisme genetik, yaitu metode sosial historis, meliputi tipe deskriptif murni mengenai sejarah sosial dan tipe analitik yang diterapkan pada seni (sastra). Metode ini disampaikan oleh Endraswara (2013: 56) untuk mengungkap sejarah dan asal-usul terciptanya teks sastra.
Penelitian ini memuat sumber data primer, yaitu novel Wasripin dan Satinah Karya Kuntowijoyo dan sumber data sekunder, yakni sumber tertulis berupa buku referensi, jurnal, dan artikel yang menggambarkan keadaan kehidupan sosial pengarang dan kejadian sosial di Indonesia yang menciptakan novel tersebut. Data penelitian ini adalah teks, kata, ungkapan, dan kutipan dalam novel Wasripin dan Satinah.
Penelitian ini memanfaatkan teknik simak dan catat untuk mengumpulkan data. Tahapan dari teknik simak yang dilakukan yaitu sebagai berikut: (1) peneliti membaca novel secara berulang dan menyimak isi cerita secara cermat, (2) peneliti menandai setiap bagian novel yang dianggap penting sebagai data yang dibutuhkan dalam penelitian, dengan coretan. Teknik catat melalui tahapan sebagai berikut; (1) peneliti mencatat data yang dirasa memuat fakta sosial,
(2) peneliti mengelompokkan data berdasarkan jenisnya, (3) setelah melakukan pengelompokan data, selanjutnya yaitu menganalisis data untuk menemukan hasil dari rumusan masalah dalam penelitian.
Peneliti memanfaatkan triangu- lasi teori dalam penelitian ini.
Triangulasi teori yaitu pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan dua teori atau lebih untuk dibenturkan dan disatukan, Moleong dalam (Saputri, 2016: 5). Triangulasi teori dikerjakan dengan mengumpulkan berbagai teori dari beberapa ahli mengenai fakta sosial teori Durkheim (dalam Ikbal, 2015: 38) dan Brahmana (2013: 14), strukturalisme genetik teori Goldmann (dalam Faruk, 2012: 71), Teeuw (2015: 55), Endraswara (2013:
34), serta teori pembelajaran sastra teori Rahmanto (dalam Yulistiawan, 2019). Teori tersebut kemudian digunakan untuk membandingkan serta memvalidasi data yang sudah terkumpul agar sesuai dengan beberapa teori yang digunakan, sehingga tidak goyah dan terbukti keabsahannya.
Penelitian ini memanfaatkan teknik analisis model dialektik dalam pendekatan strukturalisme genetik.
Makna yang saling berhubungan menjadi hal terpenting dalam model dialektik yang dijelaskan oleh Endraswara (2013: 61). Prinsip dasar metode ini dijelaskan oleh Junus (dalam Sitepu, 2009: 45) bahwa karya sastra dengan realitas masyarakat mempunyai keterkaitan yang dialektika (tersirat). Teknik analisis model dialektik memajukan dua konsep, yakni “keseluruhan-bagian” dan
238 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021
“pemahaman-penjelasan” dengan tahap sebagai berikut. Pertama, menganalisis bagian per bagian dari data novel. Untuk mendapatkan pemaknaan, bagian tersebut haruslah dilihat dalam pertaliannya sebagai keseluruhan. Perhatian utama yang diberikan peneliti dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara tokoh dengan tokoh lain atau dengan lingkungannya, sehingga tampak persoalan yang dialami tiap-tiap tokoh. Kedua, peneliti harus memberi-kan penjelasan agar hubungan bagian keseluruhan novel mampu dipahami. Peneliti menyampaikan penjelasannya dengan upaya mempertalikan antara struktur novel dan struktur sosial pengarang yang mencakup kehidupan sosial pengarang dan sejarah yang dipandang turut menciptakan keadaan pengarang ketika menciptakan novel.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti memilih novel Wasripin dan Satinah sebagai sumber data dalam penelitian dan memfokuskan peneliti- an ini dengan judul Representasi Fakta Sosial dalam Novel Wasripin dan Satinah Karya Kuntowijoyo serta Relevansi-nya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah menggunakan pendekatan struktural- isme genetik teori Lucien Goldmann.
Strukturalisme genetik tidak hanya bertujuan untuk menyamakan apa yang ada di dalam novel dengan kejadian sebenarnya, tetapi juga untuk mengetengahkan otonomisasi penga- rang yang tercermin dalam karya sastra melalui fakta sosial yang berhubungan dengan struktur sosial.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini membahas mengenai pandangan dunia Kuntowijoyo sebagai pengarang dalam novel Wasripin dan Satinah, struktur teks novel Wasripin dan Satinah, struktur sosial yang ada di dalam novel Wasripin dan Satinah, serta relevansinya dengan pembelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA).
Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Wasripin dan Satinah
Cendekiawan Muslim sebagai Kelompok Sosial Kuntowijoyo
Kuntowijoyo berupaya untuk meng- kritisi nasib rakyat kecil akibat perlakuan penguasa pada masa pemerintahan Orde Baru melalui sosok Wasripin. Wasripin dinyatakan bersalah atas tuduhan yang sudah direncanakan oleh penguasa (Ketua Partai Randu dan Tentara) sebagai PKI atau DI/TII. Wasripin juga mendapat fitnah telah menyimpan granat yang akan digunakan untuk melawan aparat.
Wasripin dinyatakan bersalah dalam hal ini dan akhirnya dijemput paksa, kemudian dibunuh. Begitu berkuasanya kekuasaan hingga penguasa bisa sewenang-wenang bertindak pada rakyat kecil, hal ini dilakukan semata-mata karena penguasa (Ketua Partai Randu) merasa kekuasaannya akan terancam dengan kehadiran Wasripin yang digadang- gadang rakyat untuk bisa menjadi pemimpin baru yang lebih adil dan
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 239 menjamin kesejahteraan warga
nelayan, karena selama ini Partai Randu dapat meraih kemenangan atas dukungan suara dari warga nelayan.
Pembunuhan itu dirasa oleh para cendekiawan tidaklah mencerminkan sifat manusiawi, apalagi tudahan yang diberikan tidaklah benar adanya.
Berikut kutipannya.
PAGINYA, TVRI dan koran-koran memberitakan bahwa Wasripin mati ditembak tentara waktu berusaha merebut senjata. Mayatnya dikubur- kan di suatu tempat yang dirahasiakan karena dapat menimbulkan syirik. “Bohong!”
“Tadi sore anak saya bersembunyi di kolong dipan Wasripin, senjata itu tak ada.” “Munafik!” “Kita harus membalas!” “Sampai titik darah penghabisan!” (WdS, 119—220).
Humanisme Teosentris sebagai Pandangan Dunia Kuntowijoyo dalam novel Wasripin dan Satinah
Keadilan dan juga kebenaran membawa Kuntowijoyo untuk menyingkap fakta historis ke dalam sebuah karya sastra. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Miftahuddin, dkk, (2014: 27), bahwa Kuntowijoyo berupaya untuk melakukan aksi dan misi manusia sebagai pelaku sejarah atas dasar tiga misi, humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (memerdekakan), dan transendensi (beriman kepada Tuhan).
Konsep humanisasi berpangkal pada humanisme teosentris sebagai pandangan dunia Kuntowijoyo,
sehingga hal itu tidak bisa dimengerti secara utuh apabila tidak memahami pula konsep transendensi sebagai dasarnya. Tahap selanjutnya yakni mengusahakan liberasi guna melepas- kan dari kemiskinan, penindasan ataupun kebodohan.
Humanisme teosentris, bermak- sud agar manusia harus mengarahkan diri ke satu titik, yakni Tuhan, tetapi tujuannya guna keperluan manusia itu sendiri. Dalam humanisme teosentris, keimanan tidaklah hanya berakhir pada Tuhan, tetapi pada perhatian sosial.
Jadi, humanisme teosentris menurut Kuntowijoyo (dalam Isfaroh 2019:
205) yakni menerapkan ajaran keimanan pada Tuhan guna kebutuhan hidup manusia.
Berhubungan dengan WdS, Kuntowijoyo berupaya memunculkan keinginan rakyat biasa atau kaum massa yang diwakili oleh warga nelayan untuk mendapatkan pemimpin yang dapat memberikan kebebasan dan jaminan keselamatan pada rakyat, seperti sosok Wasripin. Berikut ini Kuntowijoyo memberikan gambaran keinginan rakyat yang ingin bebas (liberasi) dari kendali penguasa yang sewenang-wenang.
“Kalau begitu, akhirnya Dia mengabulkan doa kita.” “Tak sudi lagi ada yang sewenang-wenang!”
“Tak sudi lagi dipaksa-paksa!”
“Kita perlu pemimpin!” “Yang muda!” “Pemberani!” (WdS, 23)
Lebih lanjut, Kuntowijoyo berusaha memberikan gambaran melalui tokoh Wasripin dalam upaya memberikan perubahan dalam pemikiran
240 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 masyarakat nelayan. Kuntowijoyo juga
mencoba mengingatkan pemahaman massa yang sedang beku. Kuntowijoyo berupaya mengingatkan cara berpikir juga perilaku massa dan sebagian elite yang banyak dikuasai oleh pemahaman mistis atau ideologis. Melalui sosok Wasripin, Kuntowijoyo menuangkan pemikirannya tersebut untuk menyadarkan para dukun santet yang selama ini bekerja sama dengan para penguasa dalam melancarkkan rencana liciknya untuk mempertahan-kan kekuasaan mereka. Berikut kutipannya.
…Ditemuinya seorang dukun yang bisa membuat niatnya kesampaian.
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menolong. Saya sudah membuang ilmu saya. Saya mau mati sempurna.
Sebaikbaik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain kata Nabi. Selama ini saya sudah salah jalan. (WdS, 204).
Berdasarkan pemaparan di atas, humanisme teosentris dalam diri Kuntowijoyo menjadi perwakilan untuk mengingatkan pemahaman massa yang sedang beku.
Kuntowijoyo berupaya
mengingatkan cara berpikir juga perilaku massa dan sebagian elite yang banyak dikuasai oleh pemahaman mistis atau ideologis.
Selain itu, juga untuk menyadarkan manusia agar berani bersuara dalam menuntut kebenaran. Para penguasa dalam hal ini bersifat otoriter. Kaum massa atau rakyat tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung kemenangan partai, tetapi juga
dibodohi untuk memberikan keuntungan bagi para penguasa.
Struktur Teks Novel Wasripin dan Satinah
Struktur teks dalam strukturalisme genetik menurut Goldmann (dalam Lestari 2017: 128) berpusat pada tokoh hero yang menanggung permasalahan, baik problematik tokoh hero dengan tokoh lain maupun dengan objek atau dunia.
Hal ini relevan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2017) yang menganalisis struktur teks novel Gadis-Gadis Amangkurat dengan menekankan pada tokoh hero. Problematik tersebut yang menjadi sebab tokoh hero harus berusaha menemukan nilai-nilai otentik dalam keterkaitannya dengan tokoh lain maupun dunia.
Tokoh hero dimanfaatkan pengarang untuk menyampaikan pandangan dunianya. Tokoh hero di dalam WdS yakni Wasripin. Selain tokoh hero, Kuntowijoyo juga meng-gunakan sosok Pak Modin yang mempunyai alur sama seperti tokoh Wasripin. Kuntowijoyo menjadikan keduanya sebagai perwakilan dari humanisme teosentris sebagai pandangan dunianya. Proses yang dialami Wasripin dan Pak Modin sebagai rakyat biasa yang menjadi tahanan intelejen tentara diperankan untuk mencerminkan pandangan dunia Humanisme teosentris. Proses
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 241 tersebut secara kronologis yakni
sebagai berikut:
Wasripin, seorang laki-laki yang lugu dan baik hati, tenaganya dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu para wanita termasuk emak angkatnya. Wasripin mendapatkan anugerah yang dipercaya mendatangkan keuntungan hingga menjadi bahan rebutan para penguasa untuk memenangkan pemilu. Ketidakmauan Wasripin untuk bergabung dengan partai dan lebih memihak Pak Modin menjadi ancaman para penguasa. Ia dipersangkakan telah mengajarkan ajaran sesat, biang kerok pembunuhan, golput, PKI malam.
Wasripin akhirnya dibunuh oleh intelejen tentara karena dituduh telah menyimpan granat di bawah tempat tidurnya.
Berikut merupakan kronoligis kejadian Pak Modin yang turut membawa Kuntowijoyo untuk menyampaikan pandangan humanisme teosentris.
Pak Modin adalah sosok imam surau yang sangat dihormati warga nelayan. Warga nelayan menginginkan agar Pak Modin ikut pemilu cakades sebagai pemimpin desa. Keikutsertaan Pak Modin dalam pemilu dianggap membahayakan kedudukan penguasa, sehingga penguasa mulai merencana-kan penyingkiran Pak Modin. Penguasa menuduh Pak Modin sebagai penganut aliran Rifaiyah dan ekstrem kanan.
Tuduhan tersebut berakhir pada penculikan dan penyiksaan Pak
Modin oleh intelejen tentara hingga akhirnya dipulangkan dalan keadaan mengalami gangguan jiwa.
Berhubungan dengan penamaan tokoh, Kuntowijoyo banyak meng-gunakan nama-nama penguasa yang diubah dengan bersumber pada nama-nama kaum elite atau penguasa era Orde Baru, seperti Danramil, Polisi, Tentara, Camat, Kades, Ketua Partai Randu, Partai Langit, dan presiden Danarto.
Hal ini menunjukkan bahwa penaman yang hampir serupa dengan sejarah yang digunakan untuk menunjukkan totalitas makna dan menyempurnakan karakter tokoh. Selebihnya, tokoh Waripin, Satinah, Pak Modin, warga nelayan, paman Satinah, emak angkat Wasripin, dan orang tua Satinah merupakan penamaan Jawa untuk kaum massa.
Penggunaan latar dalam WdS terkait dengan kehidupan di Kota Jakarta dan masyarakat di desa yang berpusat di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, TPI, Surau, Sungai, Perkampungan Nelayan, Koplakan, Pengadilan, Kantor Polisi, Rumah Pak Modin, dan rumah Samping Surau. Latar waktu ditunjukkan melalui peritiwa di dalam WdS yang menggambarkan peristiwa masa pemerintahan Orde Baru, dan latar sosial yakni sistem kepemimpinan masa pemerintahan Orde Baru. Alur campuran yang digunakan sangat berhubungan erat dengan karakter yang terbentuk dalam WdS. Jalinan cerita dalam WdS digambarkan oleh
242 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 Kuntowijoyo menggunakan sudut
pandang orang.
Sesuai dengan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa meskipun analisis struktur teks dalam strukturalisme genetik lebih terpusat pada hubungan antar tokoh, akan tetapi harus tetap memperhatikan elemen lainnya. Hal ini perlu dilakukan karena mengingat, bahwa keutuhan makna dapat dicapai melalui unsur-unsur karya sastra yang saling membangun. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Teeuw (2015: 61) bahwa analisis struktural menjadi hal yang diutamakan sebelum analisis lainnya, apabila tidak melakukan analisis struktural, maka keutuhan intrinsik yang hanya dapat ditemukan dari karya sastra itu sendiri tidak bisa diungkap. Karya sastra yang baik haruslah mempunyai kepaduan, yakni tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang.
Struktur Sosial Novel Wasripin dan Satinah
Berkaitan dengan representasi fakta sosial di dalam novel WdS, struktur sosial WdS terbagi atas (1) representasi fakta sosial dari penguasa; (2) representasi fakta sosial dari masyarakat; dan (3) representasi fakta sosial dari Lembaga Negara.
Representasi Fakta Sosial dari Kaum Elite (Penguasa)
Pertikaian antar partai politik untuk memenangkan pemilu
Novel WdS menggambarkan peristiwa pertikaian antar ketiga partai politik, yakni Partai Randu, Partai Langit, dan Partai Kuda.
Kedua partai, Randu dan Langit saling memperebutkan dukungan dari rakyatnya agar bisa memenangkan suara terbanyak ketika pemilu. Dalam rangka mendapatkan dukungan, mereka menyusun rencananya masing- masing, akan tetapi Partai Kuda jarang dimunculkan di dalam cerita karena Partai Kuda tidak ikut membantu dalam pertikaian yang terjadi di antara lawan politiknya untuk merebutkan kekuasaan.
Kehadiran Wasripin dipercaya telah mendapatkan wahyu dari Nabi Khidir menjadi pertikain di antara Partai Randu dan Partai Langit.
Kedua partai tersebut ingin menarik Wasripin untuk ikut gabung ke dalam partai karena dipercaya akan mampu meberikan keuntungan pada partai. Kedua partai berlomba untuk mendapatkan Wasripin dengan imin g-iming akan diberikan kedudukan dalam partai.
… Wasripin akan sangat me- nguntungkan bagi kemenangan partai mereka di perkampungan nelayan itu dalam pemilu yang sudah di ambang pintu. Partai Randu memutuskan untuk
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 243 memberi jabatan koordinator
pemenangan pemilu bagi Wasripin. Partai Langit
memutuskan untuk
mengangkatnya jadi salah satu ketua. (WdS, 31).
Kecurangan partai randu untuk mendapatkan kekuasaan
Berbagai bentuk kecurangan dilaku- kan Partai untuk memenangkan kedudukan dalam pemerintahan, dari mulai mencuri start dalam melakukan kampanye, mengumbar janji yang akan diwujudkan pada saat terpilih-nya partai, dan juga pemberian uang untuk membeli suara rakyat. Berikut kutipannya.
Pengumuman calon diadakan dua minggu sebelum hari-H untuk menghindari kampanye terselubung dan obral uang (money politics). Namun, beberapa calon sudah mencuri start. Mereka membentuk kader kampanye door-to-door, mengadakan rapat diam-diam, dan menjanjikan ini itu (WdS, 78—79).
Uraian dalam WdS di atas yang menunjukan penyimpangan politik masa Orde Baru menjadi fakta sosial yang bersifat material (fakta faktual) atau dapat ditemukan keberadaannya. Partai Randu, Partai Langit, dan Partai Kuda dijelaskan oleh Raditawati (2018:66) sebagai cerminan dari Partai Golkar, Partai PPP, dan Partai PDI pada masa Orde
Baru. Permasalahan dalam WdS di atas merupakan peristiwa yang terjadi pada masa Orde Baru, hal tersebut relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanugrah &
Hardi (2019), yakni masa Orde Baru dalam buku yang ditulis oleh Emmerson berjudul “Indonesia Beyond Suharto” (dalam Hanugrah
& Hardi 2019: 379), bahwa dalam sistem politik otoriter masa Orde Baru, prosedur pemilu hanya tiga partai yang diperbolehkan ikut serta dalam pemilu, yakni Golkar (Golongan Rakyat), PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan PDI (Partai Demokrat Indonesia). Pada masa Orde Baru, penguasa melakukan korupsi. Korupsi yang dilakukan bukan hanya penyelewengan jabatan, tetapi korupsi bisa dalam bentuk pemerasan, penggelapan dalam jabatan, perbuatan curang, dan suap.
Bahkan politik uang digunakan untuk melancarkan jabatan politik sekaligus program politik untuk memberikan keuntungan bagi diri dan kelompoknya tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka uraian mengenai pertikaian antar partai politik dan cara partai untuk mendapatkan kekuasaan yang digam-barkan oleh Kuntowijoyo di dalam WdS merupakan fakta sosial yang bersifat material (Fakta Faktual) karena dapat dicari keberadannya sesuai dengan kondisi dunia politik pada masa Orde Baru.
244 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 Perdukunan yang dilakukan oleh
ketua partai randu
Kepercayaan mistik yang digambar- kan Kuntowijoyo di dalam WdS salah satunya adalah perdukunan.
Keper-cayaan masyarakat nelayan mengenai kemampuan dukun dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak seharusnya, seperti mengirim santet, guna-guna, bahkan membunuh. Kaum elite pun ikut percaya dan memanfaatkan dukun untuk membantu menyelesaikan rencananya guna mendapatkan kekuasaan.
Itu bukan perkara sulit bagi Ketua Departemen Khusus. Ditemuinya seorang dukun yang bisa membuat niatnya kesampaian. “Maaf, Pak.
Saya tidak bisa menolong. Saya sudah membuang ilmu saya. Saya mau mati sempurna. Sebaik-baik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain, kata Nabi.” (WdS, 204).
Perdukunan yang telah dilakukan oleh Partai Randu merupakan bentuk dari fakta sosial yang bersifat ekternal. Fakta sosial akan tetap tetap ada meskipun ada atau tidaknya individu. Sebelum seseorang lahir, adat istiadat dalam masyarakat sudah ada dan tetap ada setelah ia meninggal (Durkheim dalam Ikbal, 2015: 38). Brahmana (2013: 181) menyampaikan bahwa dukun sangat kental dengan budaya tradisi yang menjadi penolong orang sakit atau menjadi perantara dunia nyata dengan dunia gaib.
Perdukunan erat kaitannya dengan kepercayaan. Dukun memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Mereka percaya bahwa dukun tempat untuk mendapatkan saran dan pendapat, membantu memperoleh keberhasilan dan kesuksesan.
Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ulya (2019: 33) bahwa praktik perdukunan dalam masyarakat Jawa biasanya dijalankan guna mencukupi nafsu manusia dalam pemuasan hal duniawi. Seperti memperlancar jodoh, mencari kekayaan, hingga guna-guna, tenun, maupun santet untuk menjatuhkan musuhnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka perdukunan yang dilakukan oleh Partai Randu untuk mempertahankan kekuasaan-nya merupakan fakta sosial yang bersifat material (fakta faktual) karena hal tersebut dapat ditemukan kebenarannya pada masa kepemim- pinan Presiden Suharto.
Representasi Fakta Sosial dari kaum Massa (Masyarakat)
Kesenjangan hukum antara warga nelayan dengan kaum elite
Novel WdS menggambarkan proble- matik sosial berupa kesenjangan hukum yang dirasakan masyarakat desa nelayan. Masyarakat merasa bahwa hukum tidak memberikan keadilan pada rakyat kecil. Hukum di dalam
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 245 WdS digambarkan lancip ke bawah dan
tumpul ke atas. Berikut kutipannya.
Mereka kembali sangat kecewa.
Mereka terus saja di Markas.
Mereka berteriak-teriak. “Pak Polisi, mana tanda jasanya?”
“Mana penghargaan?” “Rakyat berjasa tak dihargai!” “Penggede korupsi malah jadi pahlawan!”
“Ini demokrasi Pancasila. Yang gedhe diémuk-émuk, yang kecil dikérasi!” (Diemuk-emuk artinya dibuat enak). (WdS, 181).
Bahkan, ketika Camat pengganti telah terbukti menggelapkan uang pajak dan mengaku bahwa ia melakukan itu dalam rangka melancarkan misi Partai Randu dalam menyukseskan pemilu yang akan datang. Akan tetapi permasalahan tersebut tidak ditindak- lanjuti oleh hukum. Berikut kutipan- nya.
“Saya disuruh menyukseskan Pemilu yang akan datang dengan segala cara. Itulah cara saya.” “Tapi jangan sampai masuk koran. Itu memalukan Partai. Meskipun uang keluar juga, tapi Rapim Partai Randu menyepakati untuk melayangkan surat protes.
Alasannya, soal uang pajak itu adalah masalah intern pemerintah, sepatutnya koran tak turut campur.
Koran pun mengambil untung.
(WdS, 90).
Permasalahan sosial berupa kesen- jangan hukum dalam uraian di atas menjadi fakta sosial. seperti yang kita ketahui, bahwa hukum di
Indonesia seharusnya sesuai dengan UUD 1945 pasal 28 D ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindung-an, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”. Dalam pasal tersebut memuat kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, artinya setiap warga negara memiliki hak yang sama dan tidak di banding- bandingkan dengan kekaya-an, status, jabatan maupun keturunan.
Sementara kondisi hukum sekarang ini, seperti yang dijelaskan oleh Waluyo (2014: 17) dalam penelitiannya bahwa sistem hukum yang berlaku belum bisa menyediakan perlindungan dan kepentingan ter-hadap kaum massa atau rakyat biasa. Hal ini berlaku karena proses hukum tidak berlangsung secara otomatis, tidak terukur sebagaimana proses penegakan hukumnya. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kesenjangan hukum yang tergambar di dalam WdS sebagai fakta sosial yang bersifat material (fakta faktual) karena dapat ditemukan kebenarannya.
Tradisi Jawa yang dilakukan masyarakat
Novel WdS merupakan salah satu novel yang memuat unsur budaya Jawa di dalamnya. Salah satunya, yaitu tradisi ruwatan yang ada di dalam novel WdS. Tradisi Jawa berupa ruwatan ini digambarkan
246 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 oleh Kuntowijoyo melalui
gambaran keluarga Satinah yang melaku-kan ruwatan guna meminta kebaikan dan keselamatan. Keluarga Satinah menggelar tradisi ruwatan karena mereka percaya, bahwa apabila sesorang tidak diruwat maka akan dimakan Batara Kala. Berikut kutipannya.
Selain pengajian, Satiyem juga diikutkan dalam acara ruwatan yang diselenggarakan sebuah paguyuban aliran kepercayaan. dalam upacara ruwatan Satiyem diguyur dengan bunga mawar. Kemudian ada wayang dengan cerita Ruwatan Murwokolo. Seorang sukerto (kotor) harus diruwat, sebab kalau tidak diruwat dia akan dimakan Batara Kala. (WdS, 46).
Selain tradisi ruwatan, novel WdS juga menggambarkan tradisi pemberian sesajen sebagai salah satu kepercayan Jawa. Tradisi sesajen digambarkan oleh Kuntowijoyo melalui sosok warga nelayan yang memberikan sajen berupa kembang dan kemenyan setiap malam Jumat. Pemberian sesajen dipercaya warga nelayan untuk mendapat perlindungan dari dayang kuburan. Bahkan warga nelayan percaya pada risiko yang akan diterima, yakni mereka kan jatuh sakit dan mati apabila tidak memberikan tumbal bayi sesuai permintaan dayang kuburan. Berikut kutipannya.
Setelah omong-omong sebentar, restu memang diberikan, dan
permainan nanti diharapkan ber- jalan lancar seperti biasa. Tapi, rupanya restu bersyarat: danyang minta sajen, salah satu bayi di lingkungan keluarga pemain akan jatuh sakit, dan mati. Ketua rombongan yang tahu syarat itu sangat sedih, sebab biasanya tidak ada sajen apa pun, kecuali kembang- menyan setiap malem Jumat. dan mampir ke kuburan sebelum berangkat. (WdS, 109).
Salah satu budaya Jawa yang tergambar di dalam novel WdS adalah penamaan anak.
Kepercayaan ini digambarkan Kuntowijoyo melalui tokoh orang tua Satinah. Orang tua Satinah berulang kali merubah nama Satinah karena dianggap kurang sesuai menyandang nama tersebut. Orang tua Satinah percaya bahwa nama menentukan nasib anaknya kelak.
Nama pertama yang mereka pilih adalah nama Waliyem. Nama Waliyem kemudian diganti menjadi Satiyem karena dianggap terlalu berat. Sati artinya setia dalam bahasa Hindu. Berikut kutipannya.
Nama Waliyem terlalu berat untuk orang gunung seperti dia. Si orang pintar menyatakan bahwa nama itu perlu diganti. Pasangan itu menyerahkan soal nama baru yang sesuai kepada si orang pintar.
“Bagaimana kalau Satiyem?” “Itu bagus. Tapi apa artinya, Eyang?”
“Sati itu bahasa Hindu, artinya setia.” (WdS, 44).
Tradisi Jawa berupa ruwatan, sesajen, dan penamaan anak yang telah
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 247 dipaparkan di atas menjadi bentuk dari
fakta sosial yang bersifat ekternal.
Fakta sosial akan tetap tetap ada meskipun ada atau tidaknya individu.
Sebelum seseorang lahir, adat istiadat dalam masyarakat sudah ada dan tetap ada setelah ia meninggal, Durkheim (dalam Ikbal, 2015: 38). Penjelasan yang disampaikan oleh Harahap (2009:
105) bahwa hukum adat yang ada menjadi norma yang mengatur kehidupan orang Jawa sangatlah kuat sehingga masyarakatnya memiliki sifat konservatif dan statis. Sehingga berakibat, melahirkan tradisi ruwatan yang dilakukan masyarakat sebagai ritual untuk menghilangkan sial.
Pandangan masyarakat menge- nai budaya ruwatan bermula dari agama Hindu yang memberi pengaruh di Jawa. Tradisi ruwatan diyakini secara mendalam lewat cerita dongeng yang disampaikan turun-temurun oleh masyarakatnya. Selain itu, tradisi sesajen juga digunakan sebagai media ritual keagama-an guna meminta restu leluhur. Melalui ritual ini, masyarakat percaya bahwa roh nenek moyang adalah ‘pengemong’ yang akan melindungi keluarga yang masih hidup.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harahap (2009) berjudul Mitologi Jawa dalam Novel- Novel Kuntowijoyo bahwa kehidupan masyarakat Jawa yang digambarkan oleh Kuntowijoyo sebagai pengarang dalam novel Wasripin dan Satinah masih kental dengan beberapa tradisi dan klenik kebatinan. Uraian mengenai tradisi jawa yang dilakukan masyarakat Jawa dalam novel WdS juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Bahaudin (2015) berjudul Mistik dan Politik: Praktek Perdukunan dalam Politik Indonesia, bahwa pada masa pemerintahan Presiden Suharto dipercaya melakukan paham leluhur dan juga nglakoni seperti menyelenggarakan selametan dalam jangka waktu tertentu, puasa, dan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap mempunyai kekuatan supernatural. Salah satu sejarawan bernama MC Ricklefs (dalam Bahaudin, 2015: 367) mengatakan, bahwasanya Soeharto begitu kental dengan keyakinannya pada klenik kebatinan Jawa pedalaman, sebuah klenik yang hanya memberi pengakuan terhadap Islam dalam wujud esotorisme dan hukum agama hanya mempunyai kekuatan kecil.
Orang Jawa ketika menunjukkan suatu keyakinannya juga selalu mempertimbangkan hari-hari baik.
Orang Jawa mengerti adanya hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon), Harahap (2009:106).
Perputaran waktu selama tujuh hari (Saptawaca), yakni Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hal ini yang digunakan orang Jawa untuk memilih nama sesuai dengan perhitungan hari yang baik.
Berdasaran uraian di atas, maka tradisi Jawa yang tergambar di dalam WdS merupakan fakta sosial yang masuk dalam jenis fakta faktual karena dapat ditemukan beredaannya, sesuai dengan penjelasan Soekanto (dalam Brahmana, 2013:101), bahwa fakta sosial sudah dibentuk secara alamiah, sejalan dengan perkembangan masyarakat.
248 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 Interaksi sosial masyarakat jawa yang
tergambar dari warga nelayan terhadap Wasripin
Masyarakat Jawa memiliki hubungan sosial yang bagus, yakni berupa sifat kekeluargaan antara satu sama lain.
Novel WdS menunjukkan gambaran suasana harmonis, perduli satu sama lain, saling tolong menolong. Interaksi sosial di tengah masyarakat nelayan dapat dilihat ketika Wasripin akan menikah dengan Satinah dalam keadaan miskin, sehingga warga secara sukarela membantunya dengan cara patungan untuk menanggu-langi biaya pernikahan mereka. Warga nelayan secara bersamasama menyum-bang untuk Wasripin. Mereka bergotong- royong memasang tenda untuk menggelar acara pernikahan Wasripin dan Satinah. Berikut kutipannya.
Para nelayan patungan menang- gulangi biaya. Orang tahu bahwa surau akan punya hajatan. Beras, ketan, gula, kopi, dan teh. Panitia juga mencatat siapa akan menyumbang apa. Sumbangan berupa daging, ikan segar, dan sayur akan diserahkan sehari sebelum walimahan. Tenda akan dipasang sehari sebelum pernikahan. (WdS, 197).
Berdasarkan urain diS atas, WdS memuat sikap orang Jawa yang tergambar melalui interaksi sosial yang dilakukan warga nelayan terhadap Wasripin. Uraian di atas menjadi fakta sosial yang berhubu-ngan dengan pejelasan fakta sosial yang disampaikan oleh Soekanto (dalam
Brahmana, 2013:100) merupakan setiap hal yang dapat diidentifikasi yang berkaitan dengan hakikat hubungan sosial, nilai sosial atau proses sosial. Hal ini juga sesuai dengan kehidupan masyarakat Jawa yang mempunyai cita-cita luhur mengenai budaya damai sebagai salah satu keistimewaannya. Suwardi (dalam Ningrum, 2019:38) menyampaikan bahwa kedamaian akan menjadikan suasana aman tenteram dan tenang.
Apabila tiap-tiap individunya saling menghormati, menjaga sopan santun, dan saling menghargai satu sama lain dapat menjadikan kerukunan di tengah masyarakat. Jiwa kekeluargaan, konsep tepa salira, dan gotong royong selalu diutamkan dalam kehidupannya.
Dalam serat Negarakertagama karya Empu Prapanca yang dijelaskan oleh Ningrum, (2019:39), bahwa orang Jawa sudah sejak lama memangku prinsip dunia damai. Orang Jawa senang menebar kebaikan terhadap sesama (tetangga). Gambaran hubungan sosial antara warga nelayan terhadap Wasripin merupakan cerminan sikap masyarakat Jawa yang memiliki budi luhur untuk membantu sesama, sehingga hal tersebut merupakan fakta sosial karena memang benar adanya dan sesuai kebenaran.
Representasi Fakta Sosial dari Lembaga Negara
Timbulnya tunduhan PKI dari badan pengawasan agama hingga berakhir terbunuhnya Wasripin
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 249 Masyarakat nelayan percaya, bahwa
Wasripin telah mendapatkan wahyu dari Nabi Khidir, sehingga ia dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit, menghilangkan santet, dan melihat hal gaib. Semua orang memuja kehebatan Wasripin dan sangat menghormatinya. Hal tersebut justru menjadi kontoversi. Kemampuan Wasripin terdengar sampai ke telinga Badan Pengawas Agama yang pada akhirnya, Wasripin dianggap telah menyebarkan ajarah sesat hingga akhirnya Badan Pengawas Agama memerintahkan agar Polisis menyeli- diki perkara ini. Berikut kutipannya.
Wasripin ternyata dapat menyembuhkan macam-macam penyakit, kemasukan jin, sampai kena santet. Ilmunya membawa banyak manfaat bagi masyarakat, tetapi mendatangkan fitnah baginya dari pejabat-pejabat dan partai berkuasa di daerah. Menurut berita, Wasripin membagi-bagikan jimat, mengajarkan ilmu kebal. Menurut peraturan, itu ajaran sesat. Berita itu membuat Badan Pengawasan Agama penasaran, hingga ia dipersangkakan telah mengajarkan ajaran sesat. (WdS, 99).
Kekuasaan Badan Pegawas Agama yang digunakan untuk menyingkirkan Wasripin semakin memperlancar rencana Partai Randu dalam mempertahankan kekuasaannya. Partai Randu menggunakan tuduhan Badan Pengawas Agama terhadap Wasripin yang telah menyebarkan ajaran sesat yang bertentangan dengan ajaran Islam dan sebagai alasan untuk bisa
menyingkirkan Wasripin dengan tuduhan sebagai PKI. Hingga Wasripin diculik oleh tentara atas perintah Partai Randu untuk menculiknya dan akhirnya ia mati di tangan intelejen tentara karena dituduh menyimpan granat.
Ketua Partai menoleh ke kanan dan ke kiri. “Satgas saya tugaskan untuk menculik Wasripin, sampai besok siang pukul 12.00.” PAGINYA, TVRI dan koran-koran memberitakan bahwa Wasripin mati ditembak tentara waktu berusaha merebut senjata. Mayatnya dikuburkan di suatu tempat yang dirahasiakan karena dapat menimbulkan syirik. Kemudian juga dikatakan bahwa dia Komandan DI/TII Pantura, anti-Pancasila dan ingin mendiri-kan Negara Islam dengan kekuatan senjata. (WdS, 218).
Berdasarkan uraian di atas, novel WdS menggambarkan adanya permasalahan anti PKI dan otoritas Partai Randu dan Tentara sebagai fakta sosial. Proble- matik tersebut dijadikan sebagai fakta sosial.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, permasalahan anti PKI memang benar adanya. Gambaran masa Orde Baru yang dijelaskan oleh Kusmarwanti (2015: 150) bahwa pemerintah tidak takut-takut berbuat tindakan represif, semacam penang- kapan dan pembunuhan.
Otoritas Partai Randu dan Tentara dalam WdS merupakan cerminan dari “duet-historis” antara Golkar dan militer di lembaga
250 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 Legislatif pada masa Orde Baru. Sesuai
dengan penjelasan yang disampaikan oleh Raditawati (2018: 66) bahwa Partai Randu identik dengan gambaran dari partai Golkar. Golkar dalam penjelasan yang disampaikan oleh Nisaa dkk., (2017: 142) menjadi organisasi politik yang tersohor pada masa Orde Baru. Dengan disokong oleh kekuatan dari berbagai sisi, Golkar mampu untuk terus mencapai kemena- ngan dalam pemilu pada masa Orde Baru.
Militer menjadi salah satu kekuatan politik yang menjadi pendukung kemenangan Golkar.
Peranan politik mulai dimainkan oleh Militer dengan menyerahkan dukungan dan membangun kawan kerja pada Golkar ketika melawan PKI.
Penjelasan tersebut menjadi bukti bahwa kutipan di dalam novel yang menunjukkan peristiwa anti PKI dan otoritas Partai Randu dan Tentara merupakan fakta sosial yang termasuk dalam jenis fakta faktual karena benar- benar terjadi dan dapat dicari kebenarannya. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusmarwanti (2015) berjudul Tokoh Orang Tua dan Refleksi Politik Orde Baru dalam Novel-Novel Karya Kuntowijoyo, bahwa pada masa pemerintahan Orde Baru, permasala- han anti PKI memang benar adanya.
Gambaran masa Orde Baru yang dijelaskan oleh bahwa tidak adanya ruang berpendapat yang menjadi bentuk kontrol pada pemerintah pada masa Orde Baru, terlebih lagi pemerintah tidak takut-takut berbuat tindakan represif, semacam penang-
kapan dan pembunuhan. Adanya perbedaan dan keragaman dianggap dapat mengurangi kekuatan sehingga pemerintah tidak menginginkan sistem banyak partai.
Relevansi terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di MA
Pada pembelajaran bahasa Indonesia tingkat SMA/MA khususnya kelas XII terdapat beberapa KD mengenai kajian novel. Salah satu KD yang relevan dengan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada poin sebelumnya, yaitu KD 3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca dan 4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang.
Novel WdS relevan apabila dijadikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia KD 3.8 dan 4.8 karena WdS merupakan salah satu karya sastra yang memuat pandangan pengarang, yang dapat ditemukan ketika membaca novel tersebut, karena pada dasarnya sebuah karya sastra lahir dari pendangan pengarangnya.
Pandangan dunia Kuntowijoyo dalam WdS berupa Humanisme teosentris. Humanisme teosentris maknanya yaitu manusia harus mengarahkan diri pada satu titik yakni pada Tuhan, tetapi tujuannya tetap untuk kebutuhan manusia sendiri.
Selain penjelasan di atas, pemilihan novel sebagai bahan ajar menurut Rahmanto (dalam Yulistiawan, 2019), haruslah memper- hatikan tiga aspek. Aspek kebahasaan,
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 251 dalam novel Wasripin dan Satinah
memuat kalimat-kalimat kompleks, kosakata yang beragam, serta menggunakan gaya bahasa yang bervariasi. Berikut kutipannya yang memuat kalimat kompleks.
Perempuan itu makin merangsek mencoba merangkul, tetapi Wasripin selalu menghindar…
(WdS, 66).
Danramil ingin dia tidak lulus seleksi, sedangkan Camat dan Kapolsek ingin dia lulus. (WdS, 81).
Dengan tambak: jika para lelaki harus melaut supaya dapat ikan, sedangkan para perempuan bisa mendapat ikan tanpa melaut. (WdS, 188).
Berikut kutipan penggunaan gaya bahasa yang bervariasi.
Wasripin (dipersangkakan mendapat ilmu dari Nabi Hidhir, tangan kanan Pak Modin). (WdS, 150).
Tangan kanan merupakan bentuk dari majas metafora yang memiliki arti sebagai orang kepercayaan.
Wasripin mengulurkan tangan, menyentuh pipi Satinah. Dia gemetar. Ada perasan yang aneh.
Bahkan hanya dengan menyentuh pipi! (WdS, 154).
Kutipan tersebut mengandung majas hiperbola, yaitu yang menggambarkan perasaan jatuh cinta secara berlebihan yang menjadikan Wasripin gemetar setelah menyentuh pipi Satinah
Aspek psikologi, secara umum peserta didik tingkat SMA disampai- kan oleh Kurniati (2017: 50) tergolong ke dalam tingkat generalisasi, yaitu usia 16 tahun ke atas. Pada tingkatan tersebut, anak akan cenderung lebih tertarik untuk mencari konsep-konsep abstrak dengan melakukan analisis pada suatu peristiwa dan merumuskan penyebabnya yang akan mengarah ke pemikiran kritis untuk membuat ketetapan moral. Berhubungan dengan hal tersebut, maka novel WdS memenuhi apek psikologi karena merupakan salah satu novel sejarah yang menceritakan problematik politik pada masa pemerintahan Orde Baru, sehingga cerita tersebut dapat membuat peserta didik mampu menimbang secara kritis mengenai persoalan yang terjadi di dalamnya sesuai kematangan psikologi siswa pada tingkatan SMA/MA.
Aspek latar belakang budaya, permasalahan dalam penelitian ini, terutama mengenai pandangan dunia pengarang dalam novel Wasripin dan Satinah yang dianalisis menggunakan pendekatan struturalisme genetik Lucien Goldmann dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan dan pemahaman pada peserta didik dalam proses pembelajaran apresiasi novel khusnya materi pandangan pengarang dalam novel.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang sudah dipaparkan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa strukturalisme genetik memberikan
252 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 tiga poin untuk mengkaji totalitas
makna dalam sebuah karya. Pertama, Kuntowijoyo menempati sosok cende- kiawan muslim sebagai kelompok sosialnya yang selalu mencari kebe- naran sejati. Kuntowijoyo setuju dan sejalan dengan pemikiran kelompok cendekiawan muslim untuk mengubah perilaku dan kepercayaan mengenai klenik kebatinan Jawa yang disalah- gunakan. Pandangan Kuntowijoyo digunakan sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemerintahan Orde Baru yang menyeng-sarakan kaum massa melalui tokoh hero, yaitu Wasripin.
Kedua, struktur teks novel WdS menekankan pada tokoh hero sebagai pusat konflik yang mempengaruhi tokoh dan keadaan di dalam novel dan hubungan antara tokoh hero dengan tokoh yang lainnya, tetapi tetap memperhatikan unsur intrinsik novel, yaitu tema, alur, penokohan, dan sudut pandang. Ketiga, struktur sosial WdS berkaitan dengan peran dan status yang terbagi atas fakta sosial bersifat material (fakta faktual) dan fakta sosial yang bersifat non-material (fakta fiksi).
Representasi fakta sosial yang termuat di dalam novel WdS terbagi atas (1) representasi fakta sosial dari penguasa;
(2) representasi fakta sosial dari masyarakat; (3) representasi fakta sosial dari Lembaga Negara.
Permasalahan di dalam WdS tersebut menjadi fakta sosial yang bersifat material (fakta faktual) karena dapat ditemukan keberadaannya.
Relevansinya dengan pembelajaran bahasa Indonesia di MA sesuai dengan sepasang kompetensi dasar 3.8 Menafsir pandangan pengarang
terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca dan 4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang kelas XII SMA/MA kurikulum 2013 dan sesuai dengan tiga aspek penting, yakni aspek kebahasaan, psikologi, dan latar belakang budaya dalam pemilihan novel sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Audriana, S. (2018). Representasi Realitas Sosial dalam novel Tan Karya Hendri Teja: Perspektif Realisme Sosialis Georg Lukacs.
Jurnal Bapala, 5(1), 1–10.
Bahaudin. (2015). Mistik dan Politik:
Praktek Perdukunan dalam Politik Indonesia. Jurnal Keamanan Nasional, 1(3), 365–386.
Brahmana, P. S. (2013). Anutan Rohani dan Fakta Sosial dalam novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Karya Pramoedya Ananta Toer:
Kajian Sosiologi Sastra.
Universitas umatera Utara.
Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi.
Jakarta: Caps.
Faruk. (2012). Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik Sampai PostModernisme.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hanugrah, S. N., & Hardi, E. (2019).
Melihat Penyimpangan Politik Masa Orde Baru Dari Kaca Mata Karya Sastra (Studi Histografi).
Jurnal Pama Aksara, 1(3), 375–
395.
Hapsari, T. P. R. N. (2017). Nilai
Representasi Fakta Sosial dalam Novel … (Mirantika dan Sri Lestari) 253 Budaya Lokal dalam Cerpen
Warung “Penajem” dan Relevansinya dalam Pengajaran Sastra di Perguruan Tinggi. Jurnal Transformatika, 1(2), 269–285.
Harahap, M. (2009). Mitologi Jawa dalam Novel-Novel Kuntowijoyo.
Universitas Sumatera Utara.
Helaluddin. (2019). Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann dalam Pengkajian Karya Sastra. Jurnal Preprints, 3(1), 1–12.
Ikbal, A. F. H. (2015). Fakta Sosial Emile Durkheim dalam Membentuk Lingkungan Sosial Pendidikan Islam Indonesia.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Isfaroh. (2019). Humanisme Teosentris : Telaah Sosiologi Pengetahuan Pemikiran
Kuntowijoyo. Jurnal
Panangkaran, Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat, 3(2), 197–212.
Kurniati, E. (2017). Perkembangan Bahasa pada Anak dalam Psikologi Serta Implikasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 17(3), 47–56.
Kusmarwanti. (2015). Tokoh Orang Tua dan Refleksi Politik Orde Baru dalam Novel-Novel Karya Kuntowijoyo. Jurnal Litera, 14(1), 148–156.
Lestari, S. (2017). Representasi Sosok Perempuan Jawa dalam novel Gadis-Gadis Amangkurat Karya Rh Widada: Nilai Pendidikan Karakter Peduli Sosial dan Relevansinya sebagai Bahan Ajar
Sastra di Perguruan Tinggi (Tinjauan Strukturalisme Genetik). Universitas Negeri Sebelas Maret.
Lastari, A. (2017). Pandangan Dunia Pengarang dalam Kumpulan Puisi Blues Untuk Bonnie Karya Rendra (Kajian Strukturalisme Genetik). Jurnal Aksis, 1(1), 1-68.
Miftahuddin, Sudrajat, A., &
Djumarwan. (2014). Kuntowijoyo dan Pemikirannya : dari Sejarawan Sampai Cendekiawan.
Ningrum, S. (2019). Interaksi Sosial Masyarakat Jawa di Daerah Transmigrasi (Studi Kasus pada Masyarakat di Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Lampung Timur). Universitas Negeri Semarang.
Nisaa, N. I., Na’imb, M., & Umamahc, N. (2017). Strategy Of Golongan Karya To Be Winner In Election Year 1971-1997. Jurnal Historica, 1(1), 141–151.
Nurdayana, I. (2019). Stratifikasi Kelas Sosial dalam Pandangan Dunia Pengarang novel Wanita Bersampur Merah Karya Intan Andaru: Kajian Struktralisme Genetik. Jurnal Prosiding Senabasa, 3(2), 409–417.
Raditawati, V. (2018). Konflik Politik pada Masa Orde Baru dalam novel Wasripin dan Satinah Karya Kuntowijoyo Tinjauan Sosiologi Sastra. Universitas Sanata Dharma.
Ratna, N. K. (2004). Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saputri, N. (2016). Penggunaan Diksi
254 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 2, November 2021 pada Bak Truk di Sekitar Jalan
Ringroad Mojosongo sebagai Bahan Ajar Pelajaran Bahasa Indonesia di Smp. Universitas Mhammadiyah Surakarta.
Sitepu, G. (2009). Strukturalisme Genetik Asmaraloka. Universitas Sumatera Utara.
Sugianto, I., & Huda, N. (2017).
Strukturalisme Genetik dalam Cerpen Slum Karya Hanif Nashrullah. Jurnal Fonema, 4(1), 112–123.
Susanti, S., Mursalim, & Hanum, I. S.
(2020). Fakta Sosial Emile Durkheim dalam novel Hafalan Shalat Delisa Karya Tere Liye : Tinjauan Sosiologi Sastra. Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 4(2), 340–353.
Teeuw, A. (2015). Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Ulya, M. (2019). Mistik Kejawen dalam Novel Candhika Kapuranta Karya Sugiarta Sriwibawa.
Universitas Negeri Semarang.
Waluyo, S. (2014). Kritik Sosial terhadap Sistem Hukum dalam Novel Bukan Karena Kau Karya Toha Mohtar (sebuah Tinjuan Sosiologi). Jurnal Humanika, 20(2), 1-25.
Yenhariza, Devi, Nurizzati, dan Ellya Ratna. 2012. “Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Eliana.”
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 1 (1): 167–
74.
Yulistiawan, R. (2019). Kelayakan novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi Sebagai Bahan Ajar Apresiasi Sastra Untuk Sma.
Universitas Negeri Semarang.
Zulheri. (2012). Ilmu Sosial Profetik
(Tela’ah Pemikiran
Kuntowijoyo). Uin Sultan Syarif Kasim.