Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
LUTFI ABDUL LATIF NIM. 11150440000108
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1442 H/2020 M
ii Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
LUTFI ABDUL LATIF NIM. 11150440000108
Pembimbing:
Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum.
NIP. 19570408 198603 1 002
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1442 H/2020 M
iii
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Pengutipan dalam skripsi ini telah dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 28 September 2020
Lutfi Abdul Latif
iv
Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 28 September 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Strata Satu (S1) Sarjana Hukum (S.H.) pada Program Studi Hukum Keluarga.
Jakarta, 28 September 2020 Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A.
NIP: 19760807 200312 1 001 1. Ketua : Dr. Hj. Mesraini, S.H., M.Ag.
NIP. 19760213 200312 2 001
(...) 2. Sekretaris : Ahmad Chairul Hadi, M.A.
NIP. 19720531 200710 1 002
(...) 3. Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum.
NIP. 19570408 198603 1 002
(...) 4. Penguji I : Dr. Hj. Azizah, M.A.
NIP. 19630409 198902 2 0011
(...) 5. Penguji II : Hotnidah Nasution, S.Ag., M.A.
NIP. 19710131 199703 2 0101 rs. H. Wahyu na, M.A.
NIP. 19520918 197803 1 003
(...)
v
Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/2020 M.
Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan perbandingan secara vertikal, horizontal, dan diagonal mengenai ketentuan hadhanah yang meliputi siapa yang berhak mengasuh, urutan pengasuhan setelah ibu, syarat orang yang mengasuh, pembiayaan pengasuhan anak, usia boleh memilih pengasuh, dan aturan tentang anak dibawa ke luar negeri dalam perbandingannya antara Fikih Syafi`i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif dan Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui kajian kepustakaan (library research) dengan melakukan pengkajian terhadap kitab fikih klasik dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
Dari hasil analisis perbandingan vertikal ditemukan bahwa Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa sama-sama telah melakukan keberanjakan hukum dari aturan yang terdapat dalam Fiqih Mazhab Syafi‟i yang merupakan mazhab mayoritas dari kedua negara tersebut. Keberanjakan Hukum Keluarga Indonesia dari Fikih Syafi`i hanya masa pengasuhan anak termasuk usia untuk memilih, syarat-syarat menjadi pengasuh anak dan tidak diaturnya pengasuh anak pergi ke luar negeri. Keberanjakan Hukum Keluarga Maladewa dari Fikih Syafi`i yaitu hanya masa pengasuhan anak termasuk usia untuk memilih, orang yang berhak mengasuh anak setelah ibu, dan ketentuan pengasuh anak pergi ke luar negeri. Sedangkan secara perbandingan horizontal, Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki persamaan sekaligus perbedaan.
Persamaan tersebut dapat dilihat dari bentuk pelaksanaan penetapan hadhanah yaitu hadhanah sebagai aturan yang tertulis dan dilegislasi oleh pemerintah, yang paling berhak mendapatkan hadhanah, dan siapa yang membiayai pemeliharaan anak. Sedangkan perbedaan antara kedua negara tersebut adalah Pengasuhan setelah ibu, syarat-syarat mengasuh anak, batas usia anak boleh memilih wali asuh, dan aturan anak dibawa ke luar negeri. Kemudian, secara perbandingan diagonal, dapat ditemukan bahwa Indonesia dan Maladewa memiliki keunggulannya masing-masing. Keunggulan Indonesia yang tidak ditemukan di Maladewa dapat dilihat dari syarat mengasuh anak dan batas usia anak boleh memilih wali asuh. Sedangkan keunggulan yang dimiliki Maladewa namun tidak dimiliki Indonesia adalah aturan mengenai pengasuhan anak dibawa ke luar negeri
vi
Kata kunci : Hadhanah, Pengasuhan anak, Maladewa, Indonesia.
Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum.
Daftar Pustaka : 1982 s.d. 2020
vii
istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب b be
خ t te
ث ts te dan es
ج j je
ح h ha dengan garis bawah
خ kh ka dan ha
د d de
ر dz de dan zet
س r er
ص z zet
س s es
ش sy es dan ye
ص s es dengan garis bawah
ض d de dengan garis bawah
ط t te dengan garis bawah
viii
غ gh ge dan ha
ف f ef
ق q qo
ك k ka
ل l ef
م m em
ن n en
و w we
ه h ha
ء ` apostrof
ي y ya
b. Vokal
Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
a fathahﹻ
i kasrahix
Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
ي ai a dan i
ﹷ
و au a dan u
c. Vokal Panjang
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
ا â a dengan topi di atas
ﹻ
ي î i dengan topi di atas
ﹹ
و û u dengan topi di atas
d. Kata Sandang
Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qamariyyah, misalnya:
داهتجلاا = al-ijtihâd
حصخشلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah
x
yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
حعفشلا = al-syufah, tidak ditulis asy-syuf‟ah
f. Ta Marbûtah
Jika ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na‟t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t”
(te) (lihat contoh 3).
No Kata Arab Alih Aksara
1 حعيشش syarî‟ah
2 حيملاسلإا حعيششلا Al-syarî‟ah al-islâmiyyah
3 ةهازملا حنساقم Muqaranat al-madzâhib
g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan
Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يساخثلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal
xi
Setiap kata, baik kata kerja (fi‟il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:
No Kata Arab Alih Aksara
1 خاسىظحملا حيثت جسوشضلا al-darûrah tubîhu al-mahzûrat
2 يملاسلإا داصتقلاا al-iqtisad al-islâmî
3 هقفلا لىصأ usûl al-fiqh
4 ححاتلإا ءايشلأا يف لصلأا al-asl fî al-asyyâ` al-ibâhah
5 حلسشملا ححلصملا al-maslahah al-mursalah
xii
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallah „Alayhi wa Sallam beserta keluarga, para sahabat, dan ummatnya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh berupa pihak yang membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, baik berupa dukungan moril dan dukungan materil. Oleh karena itu, penulis secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Ibu Dr. Hj. Mesraini, S.H., M.Ag., selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga. Atas dukungan, arahan, serta bantuan kepada penulis, hingga akhirnya penulis mampu menyelesaikan jenjang perkuliahan strata satu ini dengan baik;
3. Bapak Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi.
Atas bimbingan dan nasihat beliau, penulis terbantu dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik;
4. Ibu Dr. Hj. Azizah, M.A. dan Ibu Hotnidah Nasution, S.Ag., M.A selaku dosen penguji skripsi. Atas koreksian dan masukannya, penulis terbantu dalam menyelesaikan revisi skripsi.
5. Bapak Dr. Moh. Ali Wafa, S.H., S.Ag., M.Ag., selaku Dosen Penasihat Akademik, yang selalu memberikan saran serta masukan kepada penulis selama proses kegiatan akademik di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
xiii
7. Kakanda tercinta, Abdul Muiz dan Teh Iin, Abdul Aziz dan Teh Sofa beserta seluruh keluarga, terutama kepada H. Abdul Gopar dan Hj. Wawa Robiah yang selalu memberikan kepedulian di kehidupan ini;
8. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, yang telah mendidik dan membagikan ilmunya kepada penulis;
9. Keluarga besar Hukum Keluarga 2015, Mahad Al-Jami‟ah Syaikh Nawawi 2015-2016, Keluarga Besar Bidikmisi yang selalu memberikan bantuan kepada penulis selama berada di kampus tercinta;
10. Keluarga Besar Yayasan Irtiqo Kebajikan yang selalu memberikan dukungan kepada penulis;
11. Beni Muhammad dan M. Miqdad Alfarizi yang telah banyak membantu penulis dalam menerjemahkan bahan referensi skripsi ini;
12. Serta Sahabat-Sahabat terbaik, khususnya Mohammad Ali Haidar, Robbi Aulia Hidayat, dan sahabat-sahabat penulis lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang semuanya telah mendukung serta memberikan semangat kepada penulis.
Penulis berharap semoga Allah Subhânahu wa Ta`âlâ membalas semua kebaikan mereka dan melindungi mereka di dunia dan di akhirat kelak.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun penulis hanya berharap agar skripsi ini sedikit banyak memberikan manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, 28 September 2020
Lutfi Abdul Latif
xiv
PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iv
ABSTRAK ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii
KATA PENGANTAR ... xii
DAFTAR ISI ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 6
1. Identifikasi Masalah ... 6
2. Pembatasan Masalah ... 7
3. Perumusan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1. Tujuan Penelitian ... 8
2. Manfaat Penelitian ... 8
D. Kajian Studi Terdahulu ... 9
E. Metode Penelitian... 10
F. Sistematika Penulisan... 13
BAB II HADHANAH MENURUT FIKIH MAZHAB SYAFI’I ... 14
A. Tentang Mazhab Syafi‟i ... 14
B. Pengertian Hadhanah (Pemeliharaan anak) ... 16
1. Pengertian secara Bahasa ... 16
2. Pengertian secara Istilah ... 17
C. Hukum Hadhanah... 19
D. Yang Berhak Mengasuh Anak ... 21
E. Urutan yang mengasuh setelah ibu ... 23
F. Syarat Pengasuh anak ... 26
G. Lama waktu hak hadhanah ... 27
xv
A. Indonesia ... 31
1. Sejarah Hukum Keluarga di Indonesia ... 31
a. Islam Masuk ke Nusantara... 31
b. Masa Kerajaan Islam ... 32
c. Masa Penjajahan Belanda ... 34
d. Masa Penjajahan Jepang ... 37
e. Masa Setelah Kemerdekaan ... 38
2. Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga di Indonesia .. 54
a. Yang berhak melakukan hadhanah ... 54
b. Pengasuhan anak setelah ibu ... 56
c. Masa pengasuhan anak ... 57
d. Syarat seorang pengasuh... 57
e. Biaya Pemeliharaan ... 58
f. Usia anak boleh memilih wali asuh ... 59
B. Maladewa ... 60
1. Sejarah Hukum Keluarga di Maladewa ... 60
2. Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga Maladewa ... 62
BAB IV PERBANDINGAN KETENTUAN HADHANAH MENURUT FIKIH MAZHAB SYAFI’I DENGAN ATURAN DI INDONESIA DAN MALADEWA... 67
A. Perbandingan Secara Vertikal Mengenai Ketentuan Hadhanah di Indonesia dan Maladewa dengan Fikih Mazhab Syafi`i ... 67
1. Yang berhak mendapatkan Hadhanah ... 67
2. Pihak yang paling utama dalam mengasuh anak setelah ibu.. 68
3. Biaya Pemeliharaan ... 79
4. Batas usia anak boleh memilih wali asuh ... 80
5. Anak dibawa pergi ke Luar Negeri ... 82
xvi
b. Aturan ketentuan hadhanah ... 88
c. Yang berhak mendapatkan hadhanah ... 88
d. Biaya pemeliharaan anak ... 88
2. Perbedaan ... 88
a. Pengasuhan setelah ibu ... 88
b. Syarat mengasuh anak ... 89
c. Batas usia anak boleh memilih wali asuh ... 89
d. Anak di bawa ke luar negeri ... 89
C. Perbandingan Secara Diagonal antara Ketentuan Hadhanah di Indonesia dan Maladewa ... 92
BAB V PENUTUP ... 95
A. Kesimpulan ... 95
B. Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 97
LAMPIRAN... ... 105
1
Anak pada permulaan hidupnya sampai pada umur tertentu memerlukan orang lain untuk membantunya. Antara lain adalah dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup seperti makan, minum, membersihkan diri dan menjaganya. Oleh karenanya, orang yang menjaganya perlu mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran, dan keinginan agar anak itu menjadi baik (saleh) di kemudian hari, serta ia juga harus mempunyai waktu yang cukup dalam melakukan tugas-tugas tersebut.1
Hadhanah berasal dari bahasa Arab. Hal itu dikatakan oleh Syaikh Ali al- Jurjani, Hadhanah adalah “ذلىلا حيتشت” (pengasuhan anak).2 Pengertian lain yang ditulis dalam kitab al-Mu‟jam al-Wasit bahwa Hadhanah adalah wilayah penguasaan anak-anak untuk mendidik dan mengatur urusannya.3 Pengertian lain juga dalam kitab Lisan al-Arab, al-Hidhnu ialah bagian badan di bawah ketiak hingga rusuk. Dikatakan pula, ia adalah dada dan dua lengan serta kawasan antara keduanya. Kata jamaknya adalah ahdhan disebut juga sebagai ihtidhan yang berarti, “kamu menanggung sesuatu dan menjadikannya di bawah penjagaanmu, sebagaimana seorang perempuan menjaga anaknya lalu menggendongnya di salah satu bagian sisinya”.4
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak disebutkan kata hadhanah, tapi sebutkan kata asuh, mengasuh yang berati menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil.5 Dalam bahasa Inggris, custody dan parenting termasuk arti dari hadhanah.
1 Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995) h. 157
2 Ali ibn Muhammad al-Syarif al-Jurjani, Kitabu al-Ta‟rifat, (Beirut: Maktabah Lubnan, 1985), h. 93.
3 Syauqy Dhaif, al-Mu‟jam al-Wasit, (Mesir: Maktabah Shurouq ad-Dauliyya), Jilid 1, h.
182 4
Abi al-Fadhl Jamal al-Din Muhammad bin Mukrim ibn Manzhur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, (Beirut: Daru Sadir), Jilid 13, h. 122.
5 Dendy Sugono, dkk, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 100.
Custody berarti hak atau kewajiban hukum untuk menjaga atau mempertahankan seseorang anak.6 Juga dalam arti lain adalah untuk merawat seseorang atau sesuatu, terutama anak setelah orang tuanya berpisah atau meninggal.7 Parenting bermakna, proses merawat dan mengasuh anak.8 juga dalam arti lain membersarkan anak-anak dan semua tanggung jawab dan kegiatan yang terlibat di dalamnya.9
Dalam surah al-Tahrim ayat 6, Allah SWT menegaskan dan memerintahkan kepada orang-orang beriman agar memelihara keluarganya dari api neraka dengan berusaha agar seluruh anggota keluarganya itu melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, termasuk anggota keluarga.10
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Maksud ayat di atas, al-Qurtubi menjelaskan seseorang harus memperbaiki dirinya sendiri dengan melakukan ketaatan dan juga memperbaiki keluarganya layaknya seorang pemimpin memperbaiki orang yang dipimpinnya. Seseorang juga harus mengajari anaknya sesuatu yang halal dan haram, sekaligus menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa. hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik. Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur tujuh tahun, dan jika meninggalkan sholat maka pukullah di umur sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur mereka.11
6 https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/custody?q=custody
7 https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/custody
8 https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/parenting?q=parenting
9 https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/parenting
10 Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2012) h. 175
11 Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Penerjemah Fathurrahman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), jilid 18, h. 745-750.
Menurut Quraish Shihab, ibu bapak berkewajiban mendidik anak-anak dan anggota keluarganya. Pendidikan dan dakwah harus bermula dari rumah. Ayat di atas walaupun secara redaksional tertuju pada bapak (pria), tetapi juga kepada ibu (wanita).12
Keluarga dituntut agar mendidik dan membimbing anggota keluarga. Dalam konteks pernikahan isu pengasuhan anak atau Hadhanah merupakan isu yang tidak bisa dilepaskan. Ketika pengasuhan anak masih berada dalam ikatan perkawinan maka tidak menimbulkan aturan yang begitu mendetail, ketika orangtuanya bercerai maka isu pengasuhan akan diatur dengan detail. Dalam hal ini isu yang akan diatur dalam fiqih adalah mengenai siapa yang berhak mengasuh anak, usia anak, jenis kelamin anak, kondisi dan karakter orang tua, termasuk agama, kebiasaan, dan tempat.13
Kemudian beranjak dari situ, tepatnya pada abad ke 20 banyak negara-negara berpenduduk muslim yang mulai melakukan kodifikasi hukum keluarga dari fiqih mahdzab ke dalam sistem hukum nasional.14 Yang dimaksud dengan negara berpenduduk muslim adalah negara lebih dari lima puluh persen dari jumlah keseluruhan penduduk di negara tersebut. Dalam peninjauan aspek hukum keluarga yang sudah di kodifikasikan menjadi hukum nasional, setidaknya ada 3 macam jenis kelompok negara muslim. Pertama, kelompok negara muslim yang memberlakukan hukum keluarga yang bersumber dari fiqih mazhab klasik yang dianut oleh mayoritas penduduk dengan tidak merubah dan tidak pula mengkodifikasikan ke dalam sistem hukum nasional. Kedua; kelompok negara muslim yang tidak menggunakan atau meninggalkan hukum keluarga yang bersumber dari mazhab fiqih klasik yang dianut oleh mayoritas penduduk.
Melainkan menggunakan undang-undang hukum keluarga modern konvensional;
dan yang ketiga, kelompok negara muslim yang memberlakukan aturan hukum
12 Quraish Shihab, al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah al-Quran), (Tangerang: Lentera Hati, 2012), Jilid 4, h. 324-325.
13 Asep Saepudin Jahar, dkk, Hukum Keluarga, Pidana & Bisnis (Kajian Perundang- undangan Indonesia, Fiqih dan Hukum Internasional, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2013), h. 35.
14 Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga di Ddunia Islami, Ed. Revisi, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2005), h. 156.
keluarga yang bersumber dari fiqih mazhab klasik yang dianut oleh mayoritas penduduk dengan melakukan kodifikasi dan pembaharuan ke dalam sistem hukum nasional.15
Indonesia merupakan negara yang berpenduduk muslim dan yang termasuk ke dalam negara yang melakukan kodifikasi atau pembaharuan ketentuan hukum keluarga dari fiqih mazhab klasik menjadi aturan hukum yang disahkan menjadi undang-undang. Aturan itu adalah Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 dan Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 tentang pemberlakuan Kompilasi Hukum Islam.
Dalam ketentuan hukum keluarga yang diatur dalam undang-undang, ada ketentuan yang mengatur tentang pengasuhan anak atau yang lebih dikenal dengan Hadhanah. Pengasuhan anak secara jelas dan tuntas memang tidak disebutkan dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, akan tetapi masuk dalam bab hak dan kewajiban suami istri. Dengan demikian, pengasuhan anak merupakan kewajiban suami istri selama masih dalam pernikahan berlangsung ataupun sudah putus (cerai). Terkait dengan kewajiban suami istri dalam hal memelihara dan mendidik anak-anak mereka harus sebaik-baiknya, dan berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. Adapun terkait anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya. Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan. 16
Dalam Kompilasi Hukum Islam, aturan tentang hadhanah lebih ditegaskan lagi, terutama tentang urutan orang lebih berhak mengasuh anak. Ibu sebagai orang yang paling berhak mengasuhnya, usia mumayyiz atau 12 tahun adalah usia
15 Tahir Mahmood, Family Law Reform in The Musliim World, (Bombay: N. M. Tripathi Pvt. Ltd., 1972), h. 2-3
16 Moh. Ali Wafa, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Tangerang Selatan: Hasmi, 2018) h.
260
kebolehan anak untuk memilih orang yang mengasuh, kewajiban ayah untuk membiayai hidup anak, dan lain-lain.17
Selain Indonesia, ada negara kecil berkepulauan yang sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim. Yaitu Negara Republik Maladewa (Maldives).
Negara ini terletak di tengah-tengan Samudera Hindia dan di Sebelah selatan negara Sri Lanka dan India. Negara ini juga merupakan negara penghasil ikan dan menyediakan wisata pantai indah. Negara kecil ini berpenduduk kurang lebih 400.000 jiwa.18 Penduduknya mayoritas Islam dan bermahdzab Syafi‟i.19 Agama resmi negara Maladewa adalah Islam, hal itu dibuktikan dengan pasal yang ada di dalam konstitusi negara Maladewa yaitu pasal 2 tahun 2008 “Maladewa adalah negara berdaulat, merdeka, bernbentuk republik demokratis yang berdasarkan prinsip Islam”. Lanjut pada pasal 9 d, “Nonmuslim tidak dapat menjadi warga negara Maladewa”. Disempurnakan oleh pasal 10 “Agama yang diakui oleh Maladea adalah Islam. Islam menjadi salah satu sumber hukum dari semua hukum yang ada di Maladewa.”20
Dari penjelasan di atas, Di negara Maladewa mengatur banyak ketentuan hukum keluarga di antaranya adalah ketentuan Hadhanah. Pengaturan tersebut ditulis pada undang-undang Republik Maladewa berbahasa Divehi dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan tulisan Family Act Number 4/2000. Kemudian undang-undang tersebut menuliskan penjelasan Bab pemeliharaan anak (Custody) yang terdiri dari 12 Pasal dimulai dari pasal 40 tentang Hak untuk mengasuh sampai pasal 51 tentang Mempercayakan Fungsi perlindungan dan transaksi harta anak kepada Ibunya.
Di Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan bermahdzab Syafi‟i pun mengatur tentang ketentuan Hadhanah yang terdapat pada buku pedoman
17 Asep Saepudin Jahar, dkk, Hukum Keluarga, Pidana & Bisnis (Kajian Perundang- undangan Indonesia, Fiqih dan Hukum Internasional, ... , h. 37.
18 Kamrul Hasan, dkk, “Renconciliation of Marriage: A Comparative Overview of the Law and Practice in Bangladesh and Maldives”, International Journal of Business Education and Management Studies, Vol. 1, No. 1, Januari 2020. h. 9.
19 Abdullahi A. An-Na‟im, Islamic Family Law in A Changing World: A Global Resource Book, (London, New York: Zed Books Ltd, 2002), h. 227.
20 The Constitution of the Republic of Maldives 2008, Pasal 2, 9 d, dan 10.
Kompilasi Hukum Islam, di dalamnya terdapat bahasan tentang pengasuhan anak.
Hal itu ditulis pada Bab pemeliharaan anak yang terdiri dari 9 Pasal mulai dari pasal 98 tentang batas usia sampai pasal 106 tentang pemeliharaan harta anak.
Dan juga diatur pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada pasal 45 sampai pasal 54.
Oleh karena itu, Penulis ingin membandingkan hadhanah di dalam Fiqih Mahdzab Imam Syafi‟i dengan undang-undang hukum keluarga yang ada di Negara Republik Maladewa dan hukum keluarga yang ada di Indonesia mengenai ketentuan Hadhanah tentang batas usia anak, yang berhak mengasuh anak, masa pengasuhan anak, perwalian anak, harta anak, hilangnya hak pengasuhan anak.
Berdasarkan uraian tersebut, ada hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut tentang perbandingan undang-undang di Negara Indonesia dengan di negara Maladewa. Oleh karena itu sangat penting untuk diteliti secara lebih mendalam dalam bentuk skripsi yang berjudul “KETENTUAN HADHANAH DI INDONESIA DAN MALADEWA”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Perlu ditelusuri bagaimana ketentuan Hukum Keluarga Negara Maladewa mengatur tentang hadhanah;
b. Perlu ditelusuri bagaimana ketentuan Hukum Keluarga Negara Indonesia mengatur tentang hadhanah
c. Perlu ditelusuri perbandingan persamaan dan perbedaan mengenai ketentuan hadhanah menurut ketentuan hukum keluarga negara Maladewa dan negara Indonesia secara horizontal, vertikal, dan diagonal.
d. Perlu ditelusuri bagaimana pendapat fukaha mazhab Syafi‟i tentang hadhanah dan pengaruhnya dalam ketetetapan Hukum Keluarga di kedua negara tersebut.
e. Perlu ditelusuri adakah keberanjakan konseptual dari pendapat fikih mazhab kepada penetapan regulasi hukum keluarga.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang penulis paparkan di atas, penulis membatasi dan memfokuskan:
a. Batasan Materi
Materi yang akan dibahas dari kitab-kitab fiqih Mazhab Imam Syafi‟i tentang orang yang berhak mengasuh anak, hak asuh setelah ibu, syarat mengasuh, nafkah anak, usia anak untuk memilih pengasuh, ketentuan anak dibawa pergi ke luar negeri.
b. Batasan undang-undang
Undang-undang yang akan penulis rujuk adalah
1. Undang-Undang Republik Maladewa No. 4 Tahun 2000 perubahan atas Undang-undang Republik Maladewa No. 3 Tahun 1980 tentang Hukum Keluarga, Pasal 35-36 dan 40-46.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 perubahan atas Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 41, 45-54.
3. Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1998 tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 98-105 dan 156.
3. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Bagaimanakah perbandingan ketentuan hadhanah menurut hukum keluarga negara Indonesia dan Maladewa dan pendapat Mazhab Syafi‟i baik secara vertikal, horizontal, dan diagonal ?”. untuk menjawab petanyaan itu, disajikan beberapa pertanyaan penelitian seperti berikut:
a. Sejauh mana keberanjakan ketentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa dari Fiqih Syafi‟i?
b. Bagaimana persamaan dan perbedaan ketentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa?
c. Bagaimana keunggulan dan kelemahan ketentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dalam penyusunan skripsi ini adalah untuk mengetahui mengetahui perbandingan vertikal, horizontal, dan diagonal antara Fiqih Mazhab Syafi‟i, Hukum Keluarga di Indonesia dan Maladewa mengenai ketentuan Hadhanah. Tujuan lain yang ingin dicapai adalah:
a. Untuk mengetahi bagaimana Fiqih Syafi‟i mengatur ketentuan hadhanah;
b. Untuk mengetahi bagaimana Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa mengatur tentang ketentuan hadhanah;
c. Untuk mengetahi sejauh mana keberanjakan ketentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa dari Fiqih Syafi‟i;
d. Untuk mengetahi bagaimana persamaan dan perbedaan keentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa;
e. Untuk mengetahi bagaimana keunggulan dan kelemahan ketentuan hadhanah dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan pemahaman lebih bagi akademisi, praktisi hukum, pembaca pada umumnya, serta seluruh lapisan masyarakat tentang hukum keluarga di Maladewa khususnya tentang ketentuan Handhanah, memperluas objek bahasan dalam khazanah keluarga islam di dunia, dan menjadi bahan refleksi maupun evaluasi bagi ketentuan hadhanah yang sedang berlaku di Indonesia maupun di Maladewa.
D. Kajian Studi Terdahulu
Sebelum penentuan judul bahasan dalam skripsi ini, penulis terlebih dahulu telah mengkaji beberapa tulisan terkait masalah ini, baik berupa skripsi, tesis, maupun karya ilmiah yang menyinggung masalah ketentuan hadhanah. Adapun kajian terdahulu yang penulis temukan diantaranya:
1. Skripsi, Hadhanah akibat perceraian dalam hukum Keluarga di Indonesia dan Maroko, ditulis oleh Mutia Wardah, Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Huku, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, skripsi ini menjelaskan Hadhanah akibat perceraian di Indonesia dan Maroko, faktor-faktor yang menyebabkan persamaan dan perbedaan hadhanah akibat perceraian di Indonesia dan Maroko, dan unsur-unsur persamaan dan perbedaan mengenai hadhanah akibat perceraian dalam kedua sistem hukum tersebut.
2. Jurnal Lex et Societatis, Vol. V/No. 7/Sep/2017, Penetapan Hak Asuh Anak di Bawah Umur Akibat Perceraian Perspektif Hukum Islam, ditulis oleh Faridaziah Syahrain, penelitian menjelaskan ketentuan penetapan hak asuh anak di bawah umur akibat perceraian perspektif hukum Islam dan bagaimana penegakan hukum dalam sengketa penetapan hak asuh anak di bawah umur akibat perceraian perspektif hukum Islam.
3. Jurnal Asy-Syir‟ah Jurnal Ilmu Syari‟ah dan Hukum, Perbandingan Sistem Hukum Perlindungan Anak Antara Indonesia dan Malaysia, ditulis oleh Iman Jauhari, Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Darussalam, Banda Aceh Indonesia. Jurnal ini menjelaskan perbandingan sistem hukum keluarga (perkawinan) antara Indonesia dengan Malaysia, pengertian dan batasan usia anak, dan perbandingan prinsip-prinsip dasar dalam hukum perlindungan anak antara Indonesia dengan Malaysia.
4. Artikel, Pelaksanaan Penjagaan Anak (Hadhanah) di Malaysia, ditulis oleh Mahyidin Bin Hamat, Zuliza Kusrin, Mohamad Nasran Mohamad, pakar dalam bidang undang-undang Syariah dan Pusar Pengajian Islam, Universitas Kebangsaan Malaysia. Artikel ini menjelaskan pelaksanaan
penjagaan anak (Hadhanah) di Malaysia. Fokus kajian ialah mengenai pelaksanaan hak Hadhanah yang terkandung dalam Undang-undang Keluarga Islam di Malaysia. Pelaksanaannya di Malaysia diperuntukkan dalam Enakmen Undang-undang Keluarga Islam di bawah bidangkuasa setiap negeri masing-masing.
5. Jurnal Maqosid Volume 8, No. 2 (Juli) 2016, Hadhanah di Dunia Islam pada Era Kontomporer; Komparasi Kebijakan Hukum di Timur Tengah dan Asia Tenggara, ditulis oleh Lalu Muhammad Ariadi, Intitut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi NW Pancor, Jurnal ini menjelaskan secara singkat pembaharuan hukum keluarga di empat Negara Islam, yaitu Malaysia, Tunisia, Libya, dan Saudi Arabia. Pembahasan ini difokuskan kepada pasal-pasal yang dipandang tidak sesuai atau merupakan pembaharuan kitab fiqh sebelumnya terutama mengenai hak asuh anak (Hadhanah). Dalam masalah ini ada dua hal yang perlu dicatat, pertama semangat reaktualisasi hukum Islam dalam bidang hukum keluarga pada prinsipnya adalah melindungi dan memperbaiki kedudukan wanita serta melindungi anak-anak. Kedua, reformasi pemikiran hukum Islam yang dituangkan dalam bentuk undang-undang itu sering juga bertentangan dengan yang tertuang dalam kitab-kitab fiqh klasik. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa hukum Islam ada saat ini merupakan hasil kodifikasi terhadap ijtihad ulama ulama besar yang hidup beberapa abad yang yang lalu.
Berdasarkan review kajian terdahulu tersebut, penulis menjelaskan tentang pembahasan ketentuan Hadhanah di Republik Maladewa yang dikomparasikan dengan ketentuan hadhanah dalam Fiqih Mahdzab Syafi‟i dan ketentuan hadhanah dalam hukum keluarga di Indonesia.
E. Metode Penelitian
Dalam membahas penelitian ini, diperlukan suatu penelitian untuk memperoleh data yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dibahas dan
gambaran dari masalah tersebut decara jelas, tepat, dan akurat. Ada beberapa metode yang akan penulis gunakan, antara lain:
1. Pendekatan Penelitian
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian yuridis normatif dan pendekatan komparatif. Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan yang menggunakan konsepsi legis positivis. Konsep ini memandang hukum identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang.21 Menurut Soerjono Soekanto penelitian yuridis normatif merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka seperti norma dasar, peraturan perundang-undangan, peraturan yang tidak terkodifikasi (hukum adat), yurisprudensi, traktat, atau kajian lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.22
Pendekatan komparatif (Comparative Approach)adalah pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan peraturan hukum ataupun putusan pengadilan di suatu negara dengan peraturan hukum di negara lain (dapat satu negara atau lebih), namun haruslah mengenai hal yang sama. Perbandingan dilakukan untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara peraturan hukum.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu strategi pertanyaan kepada pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, maupun deskripsi tentang suatu fenomena, mengutamakan kualitas, disajikan dengan cara naratif.23 Penelitian ini menjelaskan ketentuan hadhanah yang diatur dalam ketentuan undang-undang hukum keluarga di Maladewa yang dilihat persamaan dan perbedaannya dengan dalam ketentuan undang-undang hukum keluarga di Indonesia dan Fiqih Mazhab Syafi‟i.
21 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1988), h. 14
22 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, ed. ke-1, cet. ke-13, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 13.
23 A. Muri Yususf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, cet. Ke-1 (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 329.
3. Sumber Data a. Data Primer
Data primer yaitu data yang berkaitan langsung dengan ketentuan hadhanah, yaitu UU Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000, UU No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), Kitab Al-Umm, Al-Muhadzab, Al-Majmu‟, Al-Mu‟tamad, Al- Manhaj, Al-Muharrar, Al-Aziz, dan Fiqih Islam wa Adillatuhu.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder dari penelitian ini adalah buku-buku, jurnal, artikel, dan tulisan lain yang berhubungan dengan permasalahan yang menjadi pokok dalam bahasan di penelitian ini. Terutama karya ilmiah lainnya tentang ketentuan hadhanah di Indonesia, Maladewa, dan Ketentuan Hadhanah menurut Mahdzab Syafi‟i.
4. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan Studi Kepustakaan Penelusuran Informasi dan data yang diperlukan dalam beberapa sumber. Penyusunan dengan menggunakan studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca, mempelajari serta menganalisis literatur atau buku-buku dan sumber lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian.
5. Analisa Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan tahap sistemiatis antaranya sebagai berikut. Tahap pertama, menyeleksi data yang telah dikumpulkan kemudian diklasifikasikan sesuai kategori tertentu. Tahap kedua, melakukan perbandingan unsur persamaan dan perbedaan dari data yang telah dikumpulkan dan diklasifikasi pada tahap pertama melalui tiga metode analisis komparatif, yaitu analisis vertikal (perbandingan antara Fikih Mazhab Syafi‟i dengan undang-undang Indonesia maupun undang-undang Maladewa), analisis horizontal (perbandingan undang- undang Indonesia dengan undang-undang Maladewa), dan analisis diagonal (perbandingan keunggulan dan kelemahan ketentuan perceraian dalam hukum keluarga nasional kedua negara tersebut).
6. Teknik Penulisan
Teknik penulisan ini merujuk pada pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkaan oleh Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu (PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum 2017.
F. Sistematika Penulisan
Penelitian skripsi ini terdiri dari 5 (lima) Bab, dimana masing-masing bab berisikan pembahasan uang berkesinambungan sebagai berikut:
Bab Pertama, berisikan Pendahuluan yang berhubungan erat dengan permasalahan yang akan dibahas. Latar belakang masalah, Identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab Kedua, berisi tentang ketentuan hadhanah menurut Fikih Mahdzab Syafi‟i yang di dalamnya akan dibahas tentang sub pembahasan tentang hadhanah, seperti pengertian hadhanah, dasar hukum hadhanah, yang berhak melakukan hadhanah, syarat-syarat hadhanah dan hadhin, masa hadhanah, upah hadhanah, dan pemeliharaan harta anak.
Bab Ketiga, berisi tentang penjaelasan mengenai ketentuan hadhanah dalam hukum keluarga di Indonesia dan Maladewa. Juga pembahasan sejarah hukum keluarga di kedua negara tersebut.
Bab Keempat, merupakan bab inti yaitu bahasan utama dalam skripsi ini.
Yaitu berisi tentang analisis perbandingan ketentuan hadhanah dalam tiga dimensi, yaitu Fiqih Imam Syafi‟i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa.
Bab Kelima, merupakan bab akhir dalam penelitian ini. Terdiri dari penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun bagi penyempurnaan bab ini dan juga rekomendasi bagi peneliti apabila akan mengambil fokus tema yang sama dengan penelitian ini.
14 A. Tentang Mazhab Syafi’i
Imam Syafi‟i dilahirkan tahun 150 H, bertepatan dengan tahun di mana Imam Abu Hanifah meninggal dunia. Ia dilahirkan di Ghazzah, Askalan.24 Sejak kecil hidup dalam kemiskinan dan ketika usianya mencapai dua tahun, ayahnya meninggal dunia.25 Syafi‟i kecil dan sang ibu pindah ke Hijaz di mana sebagian besar penduduknya berasal dari Yaman, ibunya sendiri berasal dari Azdiyah.
Keduanya pun menetap di sana. Namun ketika usianya mencapai sepuluh tahun, ibunya memindahkannya ke Mekkah karena khawatir akan melupakan nasabnya.
Ayahnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi‟i bin Sa‟ib bin Abid bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Masih satu jalur keturunan dengan Rasulullah yang bertemu pada Abdu Manaf bin Qushay. Ibunya adalah Fatimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.26
Imam Syafi‟i diserahkan ke bangku pendidikan, pada saat itu tulang-tulang dijadikan sebagai alat untuk menulis karena ketidakmampuannya membeli kertas.
Usia tujuh tahun sudah hafal al-Quran dengan baik. Guru-gurunya adalah Ismail bin Qastantin, Lais bin Sa‟ad,27 Muslim bin Khalid al-Zanji, Sufyan bin Uyainah al-Hilali, Ibrahim bin Yahya, Malik bin Anas, Waki‟ bin Jarrah bin Malih al-Kufi, Hammad bin Usamah al-Hasyimi al-Kufi, Abdul Wahab bin Abdul Majid al- Bashri.28
24 Imam Syafi‟i, Ringkasan Kitab al-Umm, Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, (Jakarta: Pustaka Azzam), Jilid 1, h. 1.
25 https://khazanah.republika.co.id/berita/pxnscg320/ulamaulama-terkemuka-ini-menjadi- yatim-sejak-kecil diakses hari sabtu tanggal 19 September 2020 jam 07.30.
26 Imam Syafi‟i, Ringkasan Kitab al-Umm, Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, (Jakarta: Pustaka Azzam), Jilid 1, h. 1.
27 Rohidin, Historitas Pemikiran Hukum Imam Syafi‟i, Jurnal Hukum, Nomor 27, Vol. 11 (September 2004), h. 98
28 Imam Syafi‟i, Ringkasan Kitab al-Umm, Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, (Jakarta: Pustaka Azzam), Jilid 1, h. 4-5.
Imam Syafi‟i menikah dengan Hamidah binti Nafi‟ bin Unaisah bin Amru bin Utsman bin Affan dan dikaruniai 3 anak yaitu Abu Utsman Muhammad, Fatimah, dan Zainab.29
Imam Syafi‟i menulis beberapa karya-karya diantaranya, al-risalah al- Qadimah, al-Risalah al-Jadidah, Ikhtilaf al-Hadis, Ibthal al-Istihsan, Ahkam al- Quran, Bayadh al-Fardh, Sifat al-Amr wa Nahyi, Ikhtilaf al-Malik wa Syafi‟i, Ikhtilaf al-Iraqiyin, Ikhtilaf Muhammad bin Husain, Faidhail al-Quraisy, Kitab al-Umm, Kitab al-Sunan.
Imam Syafi‟i wafat di Mesir pada malam Jum‟at tahun 204 H atau 820 M seusai shalat Maghrib, yaitu pada hari terakhir di bulan Rajab.30
Imam Syafi‟i banyak mengeluarkan hukum-hukum melalui lisannya dan tulisan yang bersumber dari Quran, Hadis, Ijma‟, dan Qiyas sesuai dengan ijtihadnya terlepas dari fatwa-fatwa gurunya Imam Malik dan Ulama-ulama Hanafi di Iraq.
Di Iraq beliau menulis kitab al-Risalah, yaitu kitab Ushul Fiqih pertama.
Fatwa-fatwa yang dikeluarkan ketika menetap di Iraq disebut Qaul Qadim. Ketika pindah ke Mesir fatwa-fatwa yang dikeluarkan disebut Qaul Jadid.31
Ada beberapa fase tentang persebaran Mazhab syafi‟i. Fase pertama ketika wafatnya Imam Malik dan pindahnya Imam Syafi‟i ke Baghdad. Fase Kedua ketika sedang menetap di Baghdad dan munculnya fatwa-fatwa Imam Syafi‟i disebut Qaul Qadim. Fase Ketiga ketika pindahnya Imam Syafi‟i dari Iraq ke Mesir sampai wafatnya sang Imam dan munculnya fatwa-fatwa Imam Syafi‟i yang disebut Qaul Jadid. Fase keempat dimulai dengan periwayatan Mazhad Syafi‟i oleh para muridnya yang gencar dan masif dalam meriwayatkan masalah sesuai metode penggalian hukum ala Imam Syafi‟i. Ulama yang gencar menulis kitab adalah Imam al-Muzanni (w. 264 H) dengan kitabnya al-Mukhtashar,
29 Imam Syafi‟i, Ringkasan Kitab al-Umm, Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, (Jakarta: Pustaka Azzam), Jilid 1, h. 5-6.
30 Imam Syafi‟i, Ringkasan Kitab al-Umm, Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, (Jakarta: Pustaka Azzam), Jilid 1, h. 7-10.
31 Sirajuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Mahdzab Syafi‟i, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1995), h. 31
ringkasan kitab al-Umm kitab fiqih karangan Imam Syafi‟i. Usahanya ini disebut sebagai bagian dari penyebaran atau periwayatan Mazhab Syafi‟i.
Setelah fase periwayatan selesai, selanjutnya adalah fase kelima, yaitu pengokohan dan penguatan dengan menarjih (memilih pendapat yang kuat) dan menuliskannya dalam kitab-kitab yang ringkas. Kemudian muncul kitab-kitab penjelas (syarh) dari kitab tersebut.
Murid-murid dan pengikut-pengikut dari Imam Syafi‟i bertebaran ke beberapa negeri untuk mengajarkan agama.32 Selanjutnya dari sekian wilayah ajaran Mazhab Syafi‟i merambah ke India Selatan, tepatnya di Kota Malibar.
Terbukti dengan adanya kitab Fiqih Syafi‟i yang terkenal di kalangan pesantren yang diajarkan oleh Zainuddin al-Malibari yang berjudul Fath al-Mu‟in Syarh Qurrat al-„Ain. Kemudian, menurut Ibnu Batutah dalam Tuhfat al-Nadhar fi Gharaib al-Amshar wa Ajaib al-Asfar ajaran Mazhab Syafi‟i sudah mulai masuk ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.33
B. Pengertian Hadhanah (Pemeliharaan anak) 1. Pengertian secara Bahasa
Hadhanah menurut bahasa adalah sesuatu yang terletak antara ketiak dan pusar. Menurut al-Mu‟jama al-Wasit, hadhanah adalah mengurusi anak dalam urusan pendidikan dan mengatur kehidupannya.34
Dalam kitab al-Musu‟ah, Hadhanah berarti seperti seekor burung yang menghimpit telurnya (mengerami) dan menghimpit anaknya diantara kedua sayap dan badannya. Demikian juga jika seorang ibu menghimpit anaknya dalam pelukan.35
Dalam Kitab al-Majmu‟ Syarh al-Muhadzab li Syirazi disebutkan hadhanah secara bahasa adalah menggendeng dari depan (di dada ibu), dan
32 K.H.E. Abdurrahman, Perbandingan Mahdzab, (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 8.
33 https://lokadata.id/artikel/kunci-penyebaran-mazhab-syafii diakses hari sabtu tanggal 19 September 2020 jam 08.30.
34 Mustafa al-Khin, Mustafa al Bugha, Ali al-Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 191
35 Wizarah al-Awqaf wa al-Suuni al-Islamiyyah, al-Mausu‟ah al-Islamiyyah al- Kuwaitiyyah, (Kuwait: 1990), h. 299.
menghimpit anak dengan cara dirangkul dari samping sebagaimana seperti perempuan menyusui anaknya.36
Hadhanah diambil dari kata al-hidnu yang artinya samping atau merengkuh ke samping.37
Dalam istilah fiqih, digunakan dua kata namun ditujukan untuk maksud yang sama yaitu kafalah dan hadhanah. Yang dimaksud hadhanah atau kafalah dalam arti yang sederhana ialah pemeliharaan atau pengasuhan. Dalam arti yang lebih lengkap adalah pemeliharaan anak yang masih kecil setelah terjadinya putus perkawinan.38
Letak perbedaan hadhanah dan kafalah adalah, hadhanah dilakukan ketika terjadi kelahiran sampai memasuki usia baligh, sedangkan kafalah dilakukan setelah memasuki usia baligh.39
2. Pengertian secara Istilah
Dalam kitab al-Musu‟ah, secara istilah hadhanah adalah mengasuh, mendidik, dan menjaga seseorang yang tidak bisa mengurusi urusannya sendiri.40
Pengertian secara istilah dalam kitab al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i adalah merawat, menjaga kepada seseorang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, karena anak kecil tidak bisa belajar sendiri maka dibutuhkanlah pemimbing untuk proses pendidikannya.41
Pengertian secara istilah dalam kitab al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i adalah Menjaga anak yang belum tamyiz, yang tidak mengurusi dirinya sendiri,
36 Imam Muhyiddin al-Nawawi, Kitab al-Majmu‟ Syarh al-Muhadzab li Syirazi, (Jeddah:
maktabatu al-Irsyad), jilid 20, h. 220.
37 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu, (Malaysia: Darul Fikir, 2011) jilid 10 h.
59 38
M. Zaenal Arifin & Muh. Anshori, Fiqih Munakahat (Madiun : CV. Jaya Star Nine, 2019) h. 150.
39 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 191.
40 Wizarah al-Awqaf wa al-Suuni al-Islamiyyah, al-Mausu‟ah al-Islamiyyah al- Kuwaitiyyah, (Kuwait: 1990), h. 299.
41 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 191.
mendidik dengan sesuatu yang bisa membawakannya kepada kemaslahatan, dan menjaga dari sesuatu yang berpotensi menyakiti. Kewajiban orang tua mengurus anak sampai tamyiz dan dari gila sampai sembuh.42
Dalam kitab al-Muharrar, Menjaga orang yang tidak bisa mengurusi dirinya sendiri, pendidikannya, kehidupannya dan menjaga dari sesuatu yang dapat mencelakakannya, itu dinamakan Hadhanah.43
Dalam kitab al-Aziz Syarah al-Wajiz, menurut Imam al-Ghazali hadhanah itu hak merawat, hak mengasuh, dan hak menjaga. Sedangkan menurut Imam al- Rafi‟i hadhanah itu adalah menjaga anak yang belum tamyiz yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri dan proses pendidikannya membawa manfaat untuk anak, dan sesuatu yang diajarkannya membawa teladan untuk anak.44
Secara istilah hadhanah menurut Muhammad Husein Zahabi adalah melayani anak kecil untuk mendidik dan memperbaiki kepribadian oleh orang- orang yang berhak mendidiknya pada usia tertentu yang ia tidak sanggup melakukannya sendiri.45
Hadhanah adalah salah satu bentuk dari kekuasaan dan kepemimpinan.
Namun demikian, dalam hal ini perempuan lebih banyak untuk menempatinya karena kaum hawa bisa lebih lembut, penuh kasih sayang, dan sabar dalam mendidik. 46
Para ulama fikih mendefinisikan: Hadhanah sebagai tindakan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari sesuatu yang menyakiti dan merusakn ya,
42 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 305.
43 Imam Abdul Karim al-Rafi‟i, al Muharrar fi Fiqhil Imam al Syafi‟i (Kairo:
Darussalam, 2013) Jilid 1 h. 1259.
44 Imam Abdul Karim al-Rafi‟i, al-Aziz Syarh al-Wajiz, (Libanon: Dar al-Qutub al- Ilmiyyah, 1997), Jilid 9, h. 86.
45 Muhammad Husain Zahabi, Al-Syari‟ah Islamiyah: Dirasah Muqarranah baina Mazahib Ahl Sunnah wa al-Mazahab al-Ja‟fariyyah (Mesir: Dar al-Kutub al-Hadisah), h. 398.
46 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu, (Malaysia: Darul Fikir, 2011) jilid 10 h.
60.
mendidik jasmani, rohani dan akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawab.47
C. Hukum Hadhanah
Firman Allah dalam Quran Surah Al-Baqarah ayat 233:
Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Dalam Kitab al-Jami‟ li Ahkamil Qur‟an, setelah Allah SWT menyebutkan tentang pernikahan dan perceraian, Allah pun menyebutkan anak,
47 Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2012) h.
175
sebab terkadang suami istri berpisah setelah mereka memiliki anak. dengan demikian ayat ini berbicara tentang wanita-Wanita yang diceraikan dan telah memiliki anak dari suami-suami mereka. Demikian yang dikatakan oleh al-Suddi, al-Dhahak, dan lainnya.48
Para ibu yang lebih berhak menyusui anak-anak mereka daripada wanita- wanita lain, sebab mereka lebih sayang dan lebih lembut terhadap anak-anak kandung mereka. Selain itu, menyapih anak yang masih bayi dapat membahayakan bayi dan ibu. Walaupun anak sudah disapih, tetap saja ibu yang lebih berhak mengasuhnya karena kasih sayang yang dimiliki seorang ibu. Ayah juga berkewajiban memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Sebab istri yang telah dicerai tidak berhak mendapatkan pakaian apabila bukan diceraikan dengan talak raj‟i. Dia hanya berhak mendapatkan upah kecuali perintah dalam ayat itu diartikan sebagai bentuk akhlak mulia. Maka al-Qurtubi berkata, lebih baik besaran upah tidak kurang dari jumlah biaya pangan dan sandangnya. Dan apabila suami menceraikan ibu atau suaminya meninggal dunia maka dia harus mengambil anaknya, karena tidak ada alasan yang membolehkannya untuk meninggalkannya. Para ulama juga bersepakat bahwa ayah wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya yang masih kecil yang tidak memiliki harta.49
Dalam kitab al-Mu‟tamad disebutkan, Hadhanah itu hukumnya wajib fardhu kifayah bagi orang-orang di dekatnya yang berhak untuk mengasuh anak.
Dan wajib fardhu ain apabila di antara mereka itu tidak ada orang tuanya.
Kemudian wajib juga bagi orang setelahnya dan seterusnya. Apabila keluarganya tidak mau mengurusi anak, maka sungguh dihukumi sebagai orang yang bermaksiat, dan berpindah kepada orang setelahnya.50
48 Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Penerjemah Fathurrahman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), jilid 3, h. 341.
49 Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Penerjemah Fathurrahman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), jilid 3, h. 342-354.
50 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 305
Untuk memelihara, merawat, dan mendidik anak kecil diperlukan kesabaran, kebijaksanaan, pengertian, dan kasih sayang, sehingga seseorang tidak diperbolehkan mengeluh dalam menghadapi berbagai persoalan mereka, bahkan Rasulullah SAW sangat mengecam orang-orang yang merasa bosan dan kecewa dengan tingkah laku anak-anak mereka. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Musa al-Asy‟ari dikatakan: Bahwa Aus bin Ubadah al-Ansari mendatangi Nabi SAW. Lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, saya memiliki beberapa anak-anak perempuan dan saya mendoakan agar maut menemui mereka.”
Rasulullah SAW berkata: „”Wahai Ibnu Sa‟idah (panggilan bagi Aus) jangan kamu berdoa seperti itu, karena anak-anak itu membawa berkat, mereka akan membawa berbagai nikamt, mereka akan membantu apabila terjadi musibah, dan mereka merupakan obat di waktu sakit, dan rezeki mereka datang dari Allah.”
(HR. Muslim dan Abu Dawud).51 D. Yang Berhak Mengasuh Anak
Apabila ibu dan bapak bercerai dan keduanya berada di satu kampung, maka ibu yang lebih berhak untuk mengurus anak, selama ia belum kawin lagi dan selama anak-anak itu masih kecil.52
Ketika seorang suami berpisah dengan istrinya, dan mereka itu mempunyai satu anak, baik anaknya laki-laki ataupun perempuan, yang belum mencapai usia tamyiz, ibu paling berhak untuk mengasuhnya dibanding bapaknya.
Ada beberapa sebab kenapa ibu lebih utama dibanding ayah, yaitu yang pertama, seorang ibu sabar dalam menghadapi seorang anak dalam mendidik. Yang kedua ibu sangat lembut dalam mendidik anak, menjaga anak, yang paling mengetahui kebutuhan anak-anak.53 Dasar hukum ibu paling berhak untuk mengasuh anak ada pada hadis berikut ini,
51 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu, (Malaysia: Darul Fikir, 2011) jilid 10 h. 62.
52 Al-Imam al-Syafi‟i, Al-Umm (Kitab Induk), Penerjemah: Ismail Yakub (Kuala Lmpur:
Victory Agencie, 1982) h. 396.
53 Mustafa al-Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 192
وسح ( اَيَثَّدَح ) ُدَُهۡ َمَ
ُوۡب دِلاَخ ُّ ِم َلُّسلا اى ،
ُد ِلََِ ۡ لا ۡوَع ، ِب َ ودرۡهَع أ ِنۡعَي -
َّ ِعاَزۡو َ ۡ لۡا ِن َثَّدَح -
ۡهَع وُر ُوۡب دبۡيَعُش ۡوَع ،
ًِيِب َ أ ۡوَع ، ِهِّدَج ِدۡتَع ِللا ِوۡة ودرۡهَع َّن َ ،
أ ۡجَلاَق ًة َ
أَرۡما اَي :
َلَُسَر ِللا َّنِإ ،
ِنۡةا اَذَٰ َه َن َكَ
ِن ۡطَب ُ َ ًء َعَِو ل ِيۡد َثَو ، ُ َ ًءاَقِس ل يِرۡجَحَو ، ُ َ
ًءاََِح ل َّنوَإِ ، ُهاَة َ ِنَق َّلَط أ َداَر َ ،
أَو ۡن َ
أ
ًَُعِ َتَۡنَي ِّنِن َلاَقَف ! اٍََل ُلَُسَر ِللا ﷺ ( : ِجۡى َ
أ ُّقَح َ ًِِة أ اَن ِحِكۡيَت ۡم َل .)
2276. [Hasan] Mahmud bin Khalid As-Sulami telah menceritakan kepada kami: Al-Walid menceritakan kepada kami dari Abu „Amr Al-Auza‟i: „Amr bin Syu‟aib menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu „Abdullah bin
„Amr, bahwa seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya putraku ini, dahulu perutku adalah tempat baginya, payudaraku adalah tempat minum baginya, pangkuanku adalah tempat berlindung baginya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikanku, lalu dia ingin mengambilnya dariku.” Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Engkau lebih berhak terhadap anakmu selama engkau belum menikah lagi.” (HR. Abu Daud No. 2276 pada bab siapa yang lebih berhak terhadap anak). Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda,
اٌِ لوو دةلاو َينة قَّرف وَن َ َمَي ًِتَّتحأ َينبو ًَيية ُللا قَّرف
،ِثنايقلا
Siapa yang memisahkan antara seorang ibu dan anaknya maka nantinya pada hari kiamat Allah akan memisahkannya dari orang-orang dicintainya. (HR.
Ahmad, At-Tirmidzi, dan Imam Al-Hakim).
Diriwayatkan bahwa Umar Bin Khattab telah menceraikan istrinya, yaitu Ummu Ashim. Lantas ketika ia mendatangi mantan istrinya dan melihat Ashim sedang bersamanya, Umar hendak meminta izin darinya. Namun, ia menolak sehingga keduanya saling memperebutkan asim dan Hal itu membuat si Anak menangis. Akhirnya. Umar menghadap Abu Bakar dan menceritakan kejadian tersebut. Abu Bakar berkata “belaian tangannya, pangkuannya, dan kasih sayangnya lebih baik darimu. Biarkan anak itu tumbuh bersama ibunya sehingga