BAB I PENDAHULUAN. Musik merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan oleh kehidupan

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Musik merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan oleh kehidupan manusia dalam era saat ini. Musik memiliki peranan penting karena didalamnya banyak menawarkan sebuah kebahagiaan, kesedihan maupun kecemasan yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Dalam musik terdapat aspek yang tidak dapat ditinggalkan yaitu lagu. Lagu merupakan salah satu bagian terpenting dalam musik. Lagu merupakan aransemen musik yang bisa ditambah lirik (teks) yang lirik tersebut mengungkapkan perasaan dan pikiran penciptanya dengan cara-cara tertentu yang berlaku umum (Sylado dalam Rendi 2013). Melalui sebuah lagu, pencipta banyak menuangkan keresahan, perasaan, bahkan pengalaman hidupnya dengan lirik lagu. Lirik lagu merupakan unsur pembangun sebuah musik, agar terbentuknya sebuah lagu yang dapat dikonsumsi oleh telinga setiap pendengarnya.

Lirik lagu merupakan ekpresi pencipta mengenai hal yang sudah pernah didengar, dilihat maupun dialaminya. Dalam menggambarkan ekpresinya, pencipta lagu melalukan pemilihan kata dan penggunaan bahasa. Tujuannya agar pesan dalam lagu tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada kalangan masyarakat yang mendengarkannya. Karena lirik lagu merupakan media penyampaian pesan secara verbal, maka sudah seharusnya sebuah lirik lagu yang diciptakan menggunakan bahasa yang bersifat komunikatif. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia sebagai sarana berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya. Bahasa merupakan alat komunikasi yang

(2)

sangat efektif untuk digunakan dalam menyampaikan gagasan, pesan, perasaan maupun pendapat kepada manusia lain. Dalam penggunaannya alangkah baiknya apabila sebuah lirik lagu menggunakan bahasa sehari-hari. Dengan tujuan agar para pendengarnya, dapat dengan mudah memahami makna dan energi positif yang dibawa oleh penciptanya melalui sebuah lagu tersebut.

Lirik lagu dapat dimasukkan dalam genre puisi dalam karya sastra.

Menurut Semi (dalam Rendi 2013) lirik merupakan puisi yang sangat pendek yang mengapresiasikan emosi. Dalam lirik lagu juga terdapat kesamaan unsur- unsurnya dengan puisi. Pada puisi terdapat kadar kepadatan dan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosa (Pradopo, 1995:11). Lirik lagu memiliki hal yang sama mengenai kadar kepadatan dan konsentrasi yang tinggi.

Pada intinya sebuah lirik lagu sama dengan puisi, karena keduanya mempunya ciri struktur bentuk dan struktur makna yang sama.

Dalam karya sastra seorang pencipta banyak mengangkat realitas kehidupan disekitarnya, mengenai permasalahan, keresahan, atau keinginan berbagi sudut pandang dalam melihat suatu kejadian atau fenomena. Menurut Fananie (dalam Febriyati, 2006: 3) terdapat tiga perspektif berkaitan dengan keberadaan karya sastra. Pertama, perpektif yang memandang sastra sebagai dokumen sosial. Kedua, perpektif yang mencerminkan situasi sosial penulisnya.

Ketiga, model yang dipakai karya tersebut sebagai manifestasi dan kondisi sosial.

Begitu juga dengan objek (lirik lagu) yang diteliti oleh penulis juga merupakan manifestasi kehidupan yang seorang Kunto Aji. Hal seripa juga diungkapkan Ratna (2013:62) bahwa karya sastra merupakan hasil aktivitas penulis, seperti halnya: obeseis, kontemplasi, kompensasi, sublimasi dan neurosis. Maka dari itu,

(3)

karya sastra seringkali disebut sebagai salah satu gejala kejiwaan pengarangnya.

Pengarang menangkap gejala kejiwaan melalui imajinasi dalam penciptaan alur cerita yang bersumber dari pengalaman kejiwaannya sendiri maupun imajinasi yang bersumber dari luar dirinya.

Kunto Aji Wibisono yang lebih familiar dengan panggilan Kunto Aji, merupakan penyanyi solo yang lahir di Yogyakarta pada 4 Januari 1987. Pada tahun 2008 Penyanyi kelahiran Yogyakarta ini merupakan salah satu lulusan dari sebuah ajang pencarian bakat di salah satu televisi swasta. Melalui debut single pertama dengan judul lagu Terlalu Lama Sendiri sebagai sosok utama di Album Generation Y di tahun 2015. Kunto Aji berhasil meraih penghargaan Indonesia Choice Awards dalam ketegori Breakthrougt Artist Of The Year 2015. Sempat beberapa tahun nama Kunto Aji menghilang lantaran tidak kunjung menerbitkan album terbarunya. Pada tahun 2018 terbit Album Mantra-Mantra dan berhasil mendapatkan penghargaan “Anugerah Musik Indonesia” dalam dua kategori Album Terbaik-Terbaik dan Artis Solo Pria/Wanita Alternatif Terbaik pada tahun 2019.

Maraknya fenomena dikalangan milenial mengenai kesehatan mental dalam fase Quarter Life Crisis, banyak lagu yang lahir dalam kurun waktu tersebut membawa tema lagu yang sama mengenai permasalahan kaum milenial dalam menangani emosinya. Seperti Kunto Aji dengan Album Mantra-Mantra dan Hindia dengan Album Menari Dalam Bayangan. Dalam hadirnya sebuah lagu yang membahas mengenai isu yang sedang terjadi, tidak sedikit pengarang yang membagikan masalah yang pernah dilalauinya dan memberikan nilai-nilai positif dalam karyanya. Begitu juga dengan Kunto Aji yang membagikan pengalamannya

(4)

dengan cara mengingatkan kembali proses pengalaman hidupnya dalam setiap lagu di album kedua ini, dengan bahasan yang cukup mendalam.

Quarter Life Crisis atau krisis setengah abad merupakan fenomena yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat saat ini. Permasalahan ini lahir akibat perubahan emosional manusia dalam menentukan tujuan hidupnya.

Fenomena ini menyerang manusia-manusia dalam generasi milenial, dimana generasi ini didominasi oleh rentan usia dari 20 hingga 30 tahun. Menurut Menurut Robbins dan Wilner (dalam Rosalinda & Michacel, 2019), “quarter life crisis terjadi pada rentang usia remaja akhir hingga dewasa awal atau pertengahan usia 30 tahun, namun lebih dirasakan pada usia 20 tahunan”.

Generasi milenial dalam studi ilmiah masuk kedalam fase dewasa awal perkembangan manusia, Dewasa awal merupakan “masa pencarian, pemantapan dan masa reprodktif, yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, keativitas dengan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru” (Putri, 2019:36). Dalam fase ini manusia seringkali dihadapkan mengenai pengambilan keputusan-keputusan, proses aktualisasi diri dan pembangunan rencana pencapaian diri kedepannya dengan melibatkan emosi individu didalam dirinya.

Hal ini berkaitan dengan alasan penulis mengambil objek dalam penelitian. Penulis mengambil objek lirik lagu yang terdapat dalam Album Mantra-Mantra karya Kunto Aji. Dalam album ini terdapat sembilan lirik lagu dengan masing-masing judul, Sulung, Rancang Rencana, Pilu Membiru, Topik Semalam, Rehat, Jakarta-Jakarta, Konon Katanya, Saudade dan Bungsu sebagai

(5)

penutup dalam album ini. Album ini dipilih sebagai objek penelitian dikarenakan, dalam setiap lirik lagunya penuh dengan makna yang menggambarkan permasalahan generasi milenial. Disisi lain, lirik lagu karya Kunto Aji ini memiliki sudut pandang yang berbeda dengan lirik lagu yang pernah ada.

Dalam mengungkap aspek permasalahan quarter life crisis yang terdapat dalam lirik lagu Mantra-Mantra tersebut, peneliti menggunakan teori Semiotika Ferdinand De Saussure tenang signifier dan signified dengan tujuan mengupas mengenai makna yang terkandung dalam setiap bait lirik lagunya. Teori ini menerangkan mengenai hubungan tanda yang terlihat dengan makna dibaliknya.

Dengan menggunakan teori ini harapannya, akan diperoleh gambaran yang lebih terang mengenai aspek permasalahan quarter life crisis yang terkandung dalam sembilan lirik lagu album Mantra-Mantra karya Kunto Aji.

Penelitian tentang semiotika pernah dilakukan oleh Ramadhan (2017).

Penelitiannya berjudul “Representasi Visi dan Misi UIN Sunan Ampel Surabaya Dalam Lirik Lagu Mars dan Himne”. Hasil dalam penelitian ini mengemukakan bahwa terdapat representasi dan nilai yang menjadi landasan dasar dari visi dan misi UIN Sunan Ampel Surabaya, yakni Cerdas, Bermartabat dan Berbudi Luhur dalam lirik lagu Mars dan Himne UIN Sunan Ampel Surabaya.

Penelitian mengenai Semiotika juga pernah dilakukan oleh Waljinah (2019). Dengan judul penelitian “Analisis Semiotika Motivasi Mendalam Pada Lirik Lagu Dunia Sementara Akhirat Selamanya”. Hasil dalam penelitian tersebut menerangkan bahwa terdapat lima bait yang bermakna pesan motivasi mengenai, kehidupan, keimanan, dan senantiasa ingat pada pencipta dalam lirik lagu Dunia Sementara Akhirat Selamanya.

(6)

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada sama- sama membahasa mengenai kajian semiotika, sedangkan perbedaan dalam penilitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada objek kajian dan penyampaian kajiannya. Jika penelitian terdahulu milik Ramadhan fokus kajiannya terletak pada aspek nilai yang menjadi landasan visi dan misi UIN Sunan Ampel Surabaya dalam lirik lagu Mars dan Himne UIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian terdahulu milik Waljinah, memiliki fokus kajiannya pada makna motivasi mendalam lirik lagu Dunia Sementara Akhirat Selamanya. Maka perbedaan penelitian ini dapat dilihat dari fokus kajian dan objek penelitian ini menggunakan lirik lagu album Mantra-Mantra karya Kunto Aji yang ditinjau dengan teori Semiotika Ferdinand De Saussure. Dalam penelitian ini juga dijabarkan mengenai signifier dan signified dalam sembilan lirik lagu album Mantra-Mantra yang menggambarakan mengenai fenomena quarter life crisis.

Hal ini dapat menguatkan penulis dalam menganalisis dan mengumpulkan data mengenai permasalahan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, selanjutnya dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1) Bagaimana gambaran quarter life crisis yang terdapat dalam sembilan lirik lagu album Mantra-Mantra karya Kunto Aji?

2) Bagaimana penanda yang terdapat dalam sembilan lirik lagu album Mantra- Mantra karya Kunto Aji?

3) Bagaimana petanda yang terdapat dalam sembilan lirik lagu album Mantra- Mantra karya Kunto Aji?

(7)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini sebgai berikut.

1) Mendeskripsikan gambaran quarter life crisis yang terdapat dalam lirik lagu album Mantra-Mantra.

2) Mendeskripsikan penanda yang terdapat dalam sembilan lirik lagu album Mantra-Mantra.

3) Mendeskripsikan petanda yang terdapat dalam sembilan lirik lagu album Mantra-Mantra.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini juga tentunya memberikan manfaat, baik manfaat secara teoritis mappun praktis:

1) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih ilmu sastra, khususnya kajian semiotika. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi mengenai makna yang terdapat pada simbol maupun tanda pada lirik lagu dalam kajian semiotika.

2) Manfaat Praktis

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan pembaca dapat memahami pemaknaan yang terdapat dalam lirik lagu dalam kajian semiotika.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada penulis. Penulis diharapkan memiliki pengetahuan baru mengenai sastra, semiotika, serta fenomena quarter life crisis.

(8)

3. Penelitian ini diharapkan memberi manfaat untuk penelitian yang akan datang. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi referensi agar terciptanya penelitian yang baru yang lebih jelas, khususnya dalam penelitian semiotika pada lirik lagu.

1.5 Penegasan Istilah

Berikut merupakan penegasan istilah dalam penelitian ini:

1.5.1 Semiotika

Semiotika Ferdinand De Saussure memandang bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda (sign), yang didalamnya tersusun dari dua bagian, yaitu signifier (penanda) dan signified (petanda). Tanda dalam pendekatan ini merupakan wujud nyata dari citra bunyi dan sering diidentifikasi dengan citra bunyi sebagai penanda. Jadi penanda (signifier) dan petanda (signified) menjadi unsur mentalistik. Konsep mental ini secara luas sama bagi semua manusia dalam kebudayaan dan mengunggunakan bahasa yang sama (Fiske, 2007:65). Dalam hal ini terdapat pula pandangan Ferdinand De Saussure yang menjadi dasar dari strukturalisme Levi-Strauss yaitu,

Signifier (penanda) dan Signified (petanda), Tanda (sign) merupakan

kesatuan dari bentuk penanda (signifier) dengan petanda (signified). Dengan maksud bahwa, penanda adalah sesuatu yang bermakna. Maka penanda adalah aspek material dari sebuah bahasa yang diucapkan, didengar, ditulis, ataupun dibaca.

Petanda (signified) adalah konsep atau gambaran mental dari sebuah bahasa. Hal yang diperlukan dalam tanda bahasa yang konkret adalah kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan. Tanda bahasa akan tetap terdiri dari dua

(9)

komponen bagaikan sebuah lapis kertas yang memiliki dua buah sisi yaitu signifier dan signified.

Form (bentuk) dan Content (isi), disebut juga dengan ekspresi dan konten,

yakni suatu wujud bunyi dan sebuah ide. Jadi bahasa yang mengandung sistem nilai ini bukan koleksi dari unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya.

Languge (bahasa) dan Parole (tuturan/ujaran), langue adalah suatu sistem

tanda yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi verbal antar para masyarakat pengguna bahasa. Sassure berpendapat bahwa langue merupakan totalitas dari kumpulan fakta yang terdapat dalam suatu bahasa yang didapatkan dari ingatan para pemakai bahasanya. Jadi langue berada dalam otak dan merupakan gejala sosial yang membentuk pengguna bahasa yaitu masyarakat yang menyetujui aturan-aturan gramatikal, kosakata, dan pengucapan.

Sedangkan parole merupakan bentuk realisasi dari langue atau pemakaian oleh para pengguna bahasa yang bersinfat konkret, karena parole adalah realitas fisik yang berbeda antara suatu pengguna bahasa dengan pengguna bahasa lainnya. Parole memiliki sifat yang pribadi, dinamis, dan tergantung pada suasana tertentu. Maka dalam telaah linguistik, langue tentu saja ditelaah melalui parole, karena parole merupakan wujud bahasa yang dapat diamati dan diteliti.

Synchronic (sinkronik) dan Diachronic (diakronik), sinkronik merupakan

subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari mengenai struktur suatu bahasa dalan kurun waktu tententu/ masa tertentu. Studi ini bersifat mendatar, karena tidak adanya perbandingan bahasa dari masa ke masa yang bersifat deskriptif.

(10)

Tujuannya yakni untuk mengetaui mengenai bentuk atau struktur bahasa yang ada pada masa tertentu.

Sedangkan diakronik merupakan subdisiplin dari linguistik yang mengkaji mengenai perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa, dengan maksud menelaah mengenai sisi histori suatu bahasa. Diakronik bersifat vertikal karena didalamnya terdapat konsep perbandingan yang mengkaji bahasa dengan berlalunya masa yang menitikberatkan pada sejarahnya bahasa tersebut. Kajian ini memiliki cakupan yang lebih luas sehingga dapat menelaah mengenai hubungan- hubungan yang dimiliki oleh unsur-unsur yang berurutan, dengan tujuan untuk mengetahui keterkaitan yang mencakup perkembangan bahasa dari suatu masa ke masa.

Sytagmatic (sintakmatik) dan Associative, sintakmatik merupakan

penjelasan mengenai hubungan antar unsur yang terdapat dalam konsep bahasa yang bersifat teratur dan beraturan, sedangkan assosiatif merupakan suatu subdisiplin ilmu yang menjelaskan mengenai hubungan antar unsur dalam suatu tuturan yang terlihat nampak dalam bahasa namun tidak nampak dalam susunan kalimat.

1.5.2 Lirik Lagu

Lirik lagu merupakan unsur dari sebuah lagu yang berisi mengenai pesan dan makna bagi pendengar. Lirik lagu juga memiliki unsur-unsur kesamaan dengan puisi. Dalam puisi terdapat kadar kepadatan dan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosa (Pradopo, 1995:11)

1.5.3 Fenomena Quarter Life Crisis

(11)

Quarter life crisis atau sering disebut krisis seperempat abad, merupakan krisis emosional yang dialami oleh individu ketika melewati tahapan perkembangannya dan tidak mampu menghadapi berbagai persoalan yang dihadapinya (Robbins dan Wilner dalam Anwar, 2019).

Fenomena ini terjadi pada individu berusia 20an karena adanya perasaan khawatir yang hadir atas ketidakpastian kehidupan mendatang seputar relasi, karier, dan kehidupan sosialnya (Fischer dalam Anwar, 2019). Fenomena dalam istilah KBBI merupakan hal-hal (gejala, fakta, kenyataan) yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah.

1.5.4 Milenial

Generasi milenial merupakan generasi yang lahir berkisar antara tahun 1982 sampai 2002, dengan selisih yang tidak terlalu signifikan (Amidjaya dalam Purwandi, 2017:4).

Generasi milenial adalah mereka yang berusia 17-36 tahun, mereka kini berperan sebagai mahasiswa, early jobber, dan orangtua muda (Walidah, 2007).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :