• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sumatera. Corresponding ABSTRAK ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sumatera. Corresponding ABSTRAK ABSTRACT"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Identifikasi Air Bawah Tanah (Groundwater) dan Litologi Bawah Permukaan dengan Metode Vertical Electrical Sounding (VES) Konfigurasi Schlumberger Wilayah Jati

Agung, Lampung Selatan

Gustika Indriani Yahya1, Ahmad Zaenudin2 , Risky Martin Antosia1

1Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sumatera

2Teknik Geofisika, Universitas Lampung Corresponding e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai keberadaan air tanah dan korelasinya dengan data kedalaman sumur bor.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perlapisan bawah permukaan dan akuifer serta ketahanan akuifer terhadap musim. Penelitian ini menggunakan metode geolistrik VES konfigurasi Schlumberger dengan 9 titik sounding yang mempunyai nilai AB/2 minimum 3 m dan AB/2 maksimum 250 m. Pengolahan data menggunakan software IPI2Win. Berdasarkan nilai resistivitas yang mengacu pada geologi daerah penelitian, diperoleh 3 jenis batuan yaitu lapisan tuf dengan nilai resistivitas lebih besar dari 79,2 Ωm, lapisan pasir tufaan dengan nilai resistivitas 23 – 79,2 Ωm (yang diduga merupakan lapisan akuifer), dan lapisan lempung tufaan dengan nilai resistivitas lebih kecil dari 23 Ωm. Berdasarkan hasil korelasi data geolistrik dengan data sumur bor, lapisan yang berpotensi sebagai akuifer berada pada kedalaman 7 – 71 m.

Kata Kunci : air tanah, sumur bor, Schlumberger, resistivitas, IPI2Win

ABSTRACT

Research has been carried out on the presence of groundwater and its correlation with boreholes depth data. The purpose of this study was to determine the subsurface and aquifer beds and the resistance of aquifers to the seasons. This study uses the VES Schlumberger configuration geoelectric method with 9 sounding points which have a minimum AB/2 value of 3 m and a maximum AB/2 of 250 m. Data processing using IPI2Win software.

Based on the resistivity value that refers to the geology of the study area, 3 types of rock were obtained, namely:

tuff layer with a resistivity value greater than 79.2 Ωm, a tuff sand layer with a resistivity value of 23 - 79.2 Ωm (which is thought to be an aquifer layer), a tuff clay layer with a resistivity value less than 23 Ωm. Based on the correlation between geoelectric data and layer boreholes data that has the potential to become an aquifer, it is at a depth of 7 - 71 m.

Keywords: groundwater, boreholes, Schlumberger, resistivity, IPI2Win

1. Pendahuluan

Lampung Selatan saat ini sedang menghadapi krisis air. Hal ini disebabkan maraknya perubahan penggunaan lahan menjadi pembangunan infrastruktur yang menyebabkan penurunan cadangan air tanah [1]. Air merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan, hal ini dikarenakan seluruh makhluk hidup membutuhkan air untuk mempertahankan hidup [2]. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai air tanah,

pengelolaan air tanah harus dapat menjamin pemenuhan kebutuhan yang berkecukupan secara berkelanjutan dan menjamin kelestarian maupun ketersediaannya secara berkesinambungan.

Mengingat sedemikian pentingnya keberadaan air tanah maka perlu dilakukan survei geofisika.

Banyak metode yang digunakan dalam survei geofisika tetapi metode yang sering digunakan untuk menduga kondisi air bawah tanah adalah metode geolistrik tahanan jenis [3].

(2)

Sebelumnya telah dilakukan penelitian pada sebagian daerah ini menggunakan metode gravitasi untuk menggambarkan batas cekungan dan memvalidasi dengan data hidrogeologi lokal [4].

Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian tugas akhir identifikasi keberadaan air tanah menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger untuk penelitian lebih lanjut dan dapat mengkorelasikan dengan data kedalaman sumur.

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menentukan membuat model 1D perlapisan bawah permukaan berdasarkan data geolistrik tahanan jenis dan mengidentifikasi keberadaan air tanah di daerah penelitian serta korelasinya dengan kedalaman air tanah pada sumur dan ketahanan air tanah terhadap musim.

Air tanah merupakan air yang menempati pori-pori batuan di bawah permukaan tanah pada zona jenuh air. Sumberdaya air tanah bersifat dapat diperbaharui secara alami karena air tanah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam siklus hidrologi [5].

Di dalam Bahasa Indonesia groundwater dan soil water diterjemahkan sama-sama dengan air tanah.

Padahal groundwater dan soil water mempunyai substansi yang sama sekaligus berbeda. Substansi yang sama adalah baik groundwater maupun soil water ada di bawah muka bumi. Substansi yang berbeda adalah wilayah groundwater merupakan cekungan air tanah (groundwater basin) yang terbagi dalam air tanah bebas yaitu air tanah yang berada atau di dalam akuifer bebas (unconfined aquifer) dan air tanah tertekan yaitu air tanah yang berada atau di dalam akuifer tertekan (confined aquifer). Sedangkan soil water adalah air di dekat permukaan tanah atau di daerah vadoze zone atau soil zone (umumnya) tempat akar tanaman mencari dan mendapatkan air [6].

Akuifer merupakan air tanah yang berada dalam formasi geologi tembus air (permeable) yang mampu mengalirkan air baik karena adanya pori- pori pada lapisan tersebut ataupun memang sifat dari lapisan batuan tertentu. Contoh: pasir, batu pasir kerikil dan batu gamping [7].

Keadaan akuifer ditentukan oleh struktur geologi dan bentuk topografinya. Berdasarkan susunan lapisan geologi dan kemampuan mengalirkan air, akuifer dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu akuifer bebas (Unconfined Aquifer), Akuifer terkekang (Confined Aquifer), Akuifer setengah terkekang (Semi Confined Aquifer), dan Akuifer menggantung. Akuifer bebas (Unconfined Aquifer)

adalah akuifer yang muka air tanahnya merupakan bidang batas sebelah atas dari daerah jenuh air dan bagian bagian bawahnya dibatasi oleh lapisan kedap air (impermeable). Akuifer terkekang (Confined Aquifer) adalah akuifer yang sepenuhnya jenuh air yang bagian bawah dan atasnya dibatasi oleh lapisan kedap air (impermeable) dan memiliki tekanan yang lebih besar dari tekanan atmosfer. Akuifer setengah terkekang (Semi Confined Aquifer) adalah akuifer yang sepenuhnya jenuh air dengan bagian atas dibatasi oleh lapisan setengan kedap air (semi impermeable) dan bagian bawahnya terletak pada dasar yang kedap air (impermeable). Akuifer menggantung adalah akuifer yang mempunyai masa air tanah terpisah dari tanah induk oleh lapisan yang relatif kedap air yang begitu luas dan terletak di atas daerah jenuh.

Berdasarkan perlakuan batuan terhadap air tanah (menyimpan dan meloloskan air), batuan dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu akuifer (aquifer), akuitar (aquitard), akuiklud (aquiclude) dan akuifug (aquifuge) [3].

1. Akuifer (aquifer) merupakan lapisan, formasi, atau kelompok formasi batuan geologi yang memiliki porositas tinggi sehingga dapat menyimpan air dan memiliki permeabilitas yang baik serta mempunyai suatu besaran konduktivitas hidraulik sehingga dapat mengalirkan air secara alami. Akuifer dapat juga dikatakan sebagai lapisan pembawa air. Contoh dari lapisan akuifer ini adalah pasir, kerikil, batupasir, dan batugamping rekahan.

2. Akuiklud (aquiclude) merupakan lapisan, formasi, atau kelompok formasi batuan geologi yang memiliki porositas tinggi sehingga dapat menyimpan air namun permeabilitas pada batuan ini buruk serta nilai konduktivitas hidraulik yang sangat kecil sehingga tidak dapat mengalirkan air.

Akuiklud dapat juga dikatakan sebagai lapisan kedap air. Contohnya lempung, serpih, tuf halus, dan lanau.

3. Akuitar (aquitard) merupakan lapisan, formasi, atau kelompok formasi batuan geologi yang memiliki porositas yang tinggi sehingga dapat menyimpan air dan memiliki permeabilitas yang tidak terlalu baik serta nilai konduktivitas hidraulik yang kecil sehingga masih dapat mengalirkan air namun dalam jumlah yang terbatas. Contohnya aquitard basal scoria, serpih, dan napal.

4. Akuifug (aquifuge) merupakan lapisan, formasi, atau kelompok formasi batuan geologi yang memiliki porositas rendah sehingga tidak dapat menyimpan air dan memiliki permeabilitas yang buruk sehingga tidak dapat meloloskan air.

Contohnya batuan beku dan batuan metamorf yang kompak dan padat.

(3)

2. Metode

Metode geolistrik tahanan jenis (resistivitas) adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk mempelajari keadaan bawah permukaan bumi dengan mempelajari sifat aliran listrik di dalam batuan bawah permukaan bumi berdasarkan pada perbedaan resistivitas batuan. Prinsip kerja dari metode geolistrik resistivitas ini sendiri yaitu mengalirkan arus listrik ke dalam bumi melalui dua elektroda arus, kemudian mengukur beda potensialnya melalui dua elektroda potensial sehingga dapat dihitung nilai resistivasnya.

Resistivitas merupakan suatu besaran yang menunjukkan tingkat hambatan terhadap arus listrik dari suatu bahan [3].

Metode geolistrik resistivitas didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian dari arus listrik yang diberikan pada lapisan tanah menjalar ke dalam tanah pada kedalaman tertentu dan bertambah besar dengan bertambahnya jarak antar elektroda, sehingga jika sepasang elektroda diperbesar, distribusi potensial pada permukaan bumi akan semakin membesar dengan nilai resistivitas yang bervariasi [6].

Metode geolistrik resistivitas ini memiliki dua teknik pengukuran yaitu metode geolistrik resistivitas mapping dan sounding. Mapping merupakan sebuah metode yang mempelajari macam-macam resistivitas lapisan bawah permukaan secara horizontal. Metode ini menggunakan jarak spasi elektroda yang tetap pada semua titik sounding (titik amat) di permukaan bumi. Sedangkan metode geolistrik resistivitas sounding merupakan sebuah metode yang bertujuan untuk mempelajari macam-macam resistivitas batuan di bawah permukaan bumi secara vertikal.

Pengukuran pada titik sounding dilakukan dengan jalan mengubah-ubah atau memvariasikan jarak elektroda yaitu dari jarak elektroda kecil kemudian membesar secara gradual. Jarak elektroda yang semakin besar, maka lapisan batuan yang terdeteksi semakin dalam [3].

Tujuan utama metode geolistrik adalah untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dengan mengukur tahanan jenis batuan. Perbedaan tahanan jenis berbagai macam batuan menunjukkan karakteristik tiap lapisan batuan tersebut. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui adanya air tanah, kontruksi lapisan tanah, dan eksplorasi mineral [6].

Asumsi yang selalu digunakan dalam metode geolistrik resistivitas adalah bumi bersifat homogen isotropis. Ketika arus diinjeksikan ke dalam bumi,

pengaruh dalam bentuk beda potensial yang diamati secara tidak langsung adalah hambatan jenis suatu lapisan bumi tertentu. Namun nilai ini bukanlah nilai hambatan yang sesungguhnya. Hambatan jenis ini merupakan besaran yang nilainya tergantung pada spasi atau jarak elektroda yang digunakan. Padahal kenyataannya bumi terdiri dari dari lapisan-lapisan dengan nilai resistivitas yang berbeda-beda, sehingga potensial yang diukur merupakan pengaruh dari lapisan-lapisan tersebut. Hambatan jenis ini disebut hambatan jenis (resistivitas) semu [2], [8], dan [9]. Resistivitas semu menurut [10] dirumuskan sebagai berikut.

𝜌𝑎 = 𝐾 ∆𝑉 𝐼 Di mana :

𝜌𝑎 : resistivitas semu (Ωm) 𝐾 : faktor geometri (m)

∆𝑉 : beda potensial (V) 𝐼 : Kuat arus (A)

Di mana konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu konfigurasi Schlumberger.

Konfigurasi Schlumberger ini digunakan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resitivitas semu ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2 pada Gambar 1.

Gambar 1. Konfigurasi elektroda Schlumberger [10].

Pemindahan elektroda pada konfigurasi Schlumberger (dapat dilihat pada Gambar 1) idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya, sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar, jarak MN hendaknya diubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5 dari jarak AB. Jarak titik tengah terhadap elektroda A, harus sama dengan jarak titik tengah ke elektroda B, sepanjang L. Sedangkan elektroda potensial M dan N terletak di dalam kedua elektroda arus dan masing-masing elektroda tersebut berjarak l dari titik tengah. Konfigurasi ini sering

(4)

digunakan untuk pengukuran sounding karena praktek di lapangan lebih praktis [6].

Permasalahan yang sering ditemukan pada survei geolistrik konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB yang relatif jauh, sehingga diperlukan alat geolistrik yang mempunyai resolusi pengukuran yang tinggi.

Pertimbangan perubahan jarak elektroda MN terhadap jarak elektroda AB yaitu ketika pembacaan tegangan listrik pada multimeter sudah sedemikian kecil, misalnya kurang dari 1.0 mV [6].

Faktor geometri konfigurasi Schlumberger berdasarkan Gambar 1 yaitu :

𝐾 = 𝜋 (𝐿2− 𝑙²) 2𝑙

Pengukuran Vertical Electrical Sounding (VES) dilakukan di 9 titik pengukuran yang dapat dilihat pada Gambar 2 dengan jarak AB/2 minimum 3 m dan maksimum 250 m. Pelitian ini berlokasi di kec.

Jati Agung kab. Lampung Selatan provinsi Lampung.

Gambar 2. Desain akuisisi penelitian.

Jarak antar titik sounding sekitar 1,5 km. Titik koordinat lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Koordinat lokasi penelitian.

Titik VES

UTM X UTM Y Elevasi

G-01 542300.00 9412405.00 72

G-02 540108.04 9412647.04 73

G-03 538372.00 9412159.00 74

G-04 538061.01 9410029.85 68

G-05 539761.00 9409992.00 66

G-06 542200.00 9410002.00 68

G-07 540814.00 9409095.00 71

G-08 540778.00 9411760.00 69

G-09 538800.00 9411169.00 69

Berdasarkan peta geologi regional Lembar Tanjungkarang (Gambar 3), batuan yang

tersingkap di daerah penelitian masuk dalam formasi Lampung (Qtl) yang ditafsirkan mendominasi hampir diseluruh wilayah pada Lembar Tanjungkarang yang terdiri dari tuf berbatuapung, tuf riolitik, tuf padu tufit, batulempung tufaan dan batupasir tufaan. Tuf pada daerah penelitian ini merupakan hasil endapan dari gunungapi yang berumur Plistosen, tersebar luas di seluruh Lembar Tanjung Karang, khususnya di bagian Timur dan Timur Laut dengan ketebalan mencapai 500 meter.

Gambar 3. Peta Geologi Lembar Tanjungkarang (modifikasi dari [11]).

Penelitian ini dilakukan di Jati Agung dengan menggunakan alat resistivitymeter. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap yaitu :

1. Tahap Persiapan

Tahap ini penulis melakukan studi literatur mengenai teori-teori yang mendukung penelitian, survei ke daerah pengukuran atau lokasi pengambilan data untuk menentukan lintasan pengukuran yang akan dilakukan dan mempersiapkan alat yang dibutuhkan pada saat pengukuran nantinya.

2. Tahap Perencanaan

Tahap ini penulis merancang desain pengukuran yang akan dilakukan. Posisi titik pengukuran yang berjarak sekitar 1,5 km antar titik dengan 9 titik pengukuran.

3. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini akan dilakukan pengukuran atau pengambilan data sesuai dengan rancangan pengukuran yang telah dibuat. Berikut langkah kerja saat dilakukan pengukuran :

a. Mengukur panjang bentangan sesuai dengan yang telah ditentukan dan mencari titik tengah atau AB/2;

b. Menanam elektroda pada setiap spasi elektroda yang telah ditentukan;

c. Menghubungkan kabel elektroda dan aki dengan Resistivitymeter;

d. Mengaktifkan Resistivitymeter;

e. Mengkalibrasi alat;

f. Melakukan pengukuran; dan

g. Data hasil pengukuran (V,I) dimasukkan ke software Microsoft Excel;

(5)

4. Teknik Pengolahan dan Interpretasi Data Parameter yang digunakan dalam metode geolistrik yaitu resistivitas semu, di mana nilai AB/2, MN dan resistivitas semu dimasukkan pada software IPI2Win. Pada proses ini dilakukan proses inversi yang nantinya akan didapatkan nilai resistivitas sebenarnya. Estimasi litologi perlapisan dapat dilihat dari tabel resistivitas dengan geologi daerah penelitian. Hasil akhir ini dapat diketahui kedalaman air tanah pada Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. Hasil perlapisan bawah permukaan ditampilkan dalam bentuk 1D dengan software IPI2Win.

Secara rinci alur pengerjaan (flowchart) penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Diagram alir penelitian.

3. Hasil dan Pembahasan

Data

Data resistivitas semu yang digunakan pada pengolahan data merupakan data primer yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan.

Penelitian ini menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger dengan 9 titik sounding dan panjang bentangan 500m. Terdapat 5 titik sounding yang membentang dengan arah orientasi Utara-Selatan yaitu G-03, G-04, G-05, G-08, dan G- 09; dan 4 titik sounding dengan arah orientasi Barat- Timur yaitu G-01, G-02, G-06, dan G-07.

Pada saat akuisisi di lapangan perlu diperhatikan quality control yaitu kalibrasi alat yang akan digunakan saat di lapangan, melihat apakah arus terbaca oleh alat, memastikan semua titik elektroda berada pada tempat yang seharusnya dan ditancapkan dengan standar dan kekuatan yang pas, nilai potensial dipastikan stabil, membuat kurva VES saat pengukuran di lapangan untuk melihat perubahan nilai resistivitas semu karena seharusnya nilai resistivitas semu tidak berubah secara drastis tetapi secara perlahan, melakukan pengukuran ulang untuk melihat kesesuaian dengan data pengukuran sebelumnya, dan melakukan pengukuran yang overlap pada nilai AB/2 (untuk MN/2 yang berbeda) karena MN/2 yang berbeda dapat menyebabkan perubahan dalam kurva sounding.

Kemudian saat melakukan pengambilan data di lapangan perlu diperhatikan lingkungan sekitar untuk mempermudah saat proses interpretasi data apakah daerah tersebut merupakan perkampungan padat penduduk atau rawa dan kemungkinan daerah lainnya, selanjutnya cuaca juga berpengaruh pada nilai resistivitas yang dihasilkan karena pada cuaca hujan nilai resistivitas bagian atas akan lebih kecil dari yang seharusnya jadi diusahakan pengambilan data dilakukan dalam satu waktu dengan satu titik souding agar data yang dihasilkan tidak berubah.

Selanjutnya saat di lapangan dilakukan wawancara langsung dengan warga sekitar guna mendapatkan informasi mengenai data sumur gali maupun bor di lokasi penelitian sebagai data pendukung. Setelah mendapatkan informasi mengenai kriteria sumur yang telah ditetapkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kriteria sumur [4].

Kriteria

Sumur Jenis Akuifer

Kriteria 1

Akuifer Baik

Air sumur tidak pernah kering sepanjang tahun.

Kriteria 2

Akuifer Sedang

Akuifer yang kering jika kekeringan lebih dari 3 bulan.

(6)

Kriteria 3

Akuifer Buruk

Akuifer yang kering jika kekeringan kurang dari 3 bulan.

Hasil Pengolahan Data

Dari hasil pengolahan data menggunakan software IPI2Win didapatkan hasil yang terdapat pada Tabel 2 dan Gambar 5-13.

Tabel 3. Hasil pengolahan data..

Sta- VES

Lapisa

n Rho (Ω.m) h (m) d (m)

G-01

1 530 1,65 0 – 1,65

2 154 6,27 1,65 – 7,92

3 5,86 12,2 7,92 – 20,2

4 23 36,6 20,2 – 56,7

5 3,55 Tidak diketahui

G-02

1 171 2,46 0 - 2,9

2 17,1 1,47 2,9 – 3,93

3 355 3,73 3,93 – 7,66

4 79,2 37,2 7,66 – 44,9

5 7,66 Tidak diketahui

G-03

1 365 4,06 0 – 4,06

2 189 8,57 4,06 – 12,6

3 2,66 12,8 12,6 – 25,5

4 24,6 46,2 25,5 – 71,7

5 2,15 Tidak diketahui

G-04

1 153 3,74 0 – 3,74

2 17,5 2,11 3,74 – 5,85

3 374 6,66 5,85 – 12,5

4 68,4 52,9 12,5 – 65,4

5 10,7 Tidak diketahui

G-05

1 154 3,55 0 - 3,55

2 6,48 9,51 3,55 – 13,1

3 35,5 27,6 13,1 – 40,6

4 4,06 99 40,6 – 140

5 154 Tidak diketahui

G-06

1 196 3,42 0 - 3,42

2 18,7 1,26 3,42 – 4,68

3 6,54 12,8 4,68 – 17,5

4 30,6 36 17,5 – 53,5

5 18,3 Tidak diketahui

G-07

1 153 2,41 0 – 2,41

2 7,97 9,05 2,41 – 11,5

3 33,1 24,8 11,5 – 36,2

4 9,56 24,4 36,2 – 60,7

5 158 Tidak diketahui

G-08

1 281 4,49 0 – 4,49

2 19,5 10,9 4,49 – 15,4

3 3,67 12,7 15,4 – 28,1

4 48 36,7 28,1 – 64,8

5 4,96 Tidak diketahui

G-09

1 111 3,46 0 – 3,46

2 8,34 8,17 3,46 – 11,6

3 26 31,8 11,6 – 43,5

4 10,2 56,5 43,5 – 100

5 153 Tidak diketahui

Gambar 5. Model kurva VES titik G-01.

Gambar 6. Model Kurva VES titik G-02.

Gambar 7. Model Kurva VES titik G-03.

(7)

Gambar 8. Model Kurva VES titik G-04.

Gambar 9. Model Kurva VES titik G-05.

Gambar 10. Model Kurva VES titik G-06.

Gambar 11. Model Kurva VES titik G-07.

Gambar 12. Model Kurva VES titik G-08.

Gambar 13. Model Kurva VES titik G-09.

Interpretasi Litologi

Nilai resistivitas yang diperoleh pada setiap kedalaman dan ketebalan lapisan batuan secara vertikal ditentukan oleh kondisi litologi yang ada di bawah permukaan. Berdasarkan peta geologi Lembar Tanjungkarang, lokasi penelitian berada pada satuan Formasi Lampung yang terdiri dari endapan-endapan hasil dari kegiatan gunung api yang didominasi oleh tuf. Selain peta geologi daerah penelitian, penentuan litologi mengacu pada nilai resistivitas menurut [12] dan [13].

Tabel 4. Interpretasi litologi.

Sta-

VES Lapisan Rho

(Ω.m) Kurva Estimasi Litologi

G-01

1 530

QHK

tuf

2 154 tuf

3 5,86 lempung tufaan

4 23 pasir tufaan

5 3,55 lempung tufaan

G-02

1 171

HKQ

tuf

2 17,1 lempung tufaan

3 355 tuf

4 79,2 pasir tufaan

5 7,66 lempung tufaan

G-03

1 365

QHK

Tuf

2 189 Tuf

(8)

3 2,66

lempung tufaan

4 24,6 pasir tufaan

5 2,15 lempung tufaan

G-04

1 153

HKQ

Tuf

2 17,5 lempung tufaan

3 374 Tuf

4 68,4 pasir tufaan

5 10,7 lempung tufaan

G-05

1 154

HKH

Tuf

2 6,48 lempung tufaan

3 35,5 pasir tufaan

4 4,06 lempung tufaan

5 154 Tuf

G-06

1 196

QHK

Tuf

2 18,7 lempung tufaan

3 6,54 lempung tufaan

4 30,6 pasir tufaan

5 18,3 lempung tufaan

G-07

1 153

HKH

Tuf

2 7,97 lempung tufaan

3 33,1 pasir tufaan

4 9,56 lempung tufaan

5 158 Tuf

G-08

1 281

QHK

Tuf

2 19,5 lempung tufaan

3 3,67 lempung tufaan

4 48 pasir tufaan

5 4,96 lempung tufaan

G-09

1 111

HKH

Tuf

2 8,34 lempung tufaan

3 26 pasir tufaan

4 10,2 lempung tufaan

5 153 Tuf

Pada Tabel 4 terdapat 4 titik sounding yaitu G-01, G-03, G-06, dan G-08, yang memiliki jenis kurva yang sama yaitu QHK menurut [13] di mana 𝜌₁›𝜌₂›𝜌₃‹𝜌₄›𝜌₅ terdiri dari 5 lapisan, lapisan pertama dengan rentang resistivitas 196 – 530 Ωm diinterpretasikan sebagai tuf, lapisan kedua dengan rentang nilai resistivitas 18,7 – 19,5 Ωm merupakan lempung tufaan dan 154 – 189 merupakan tuf, lapisan ketiga dengan rentang nilai resistivitas 2,66 – 6,54 Ωm merupakan lempung tufaan, lapisan keempat dengan rentang nilai resistivitas 23 – 48 Ωm merupakan pasir tufaan dan lapisan kelima dengan rentang nilai resistivitas 2,15 – 18,3 Ωm merupakan lempung tufaan.

Kemudian terdapat 2 titik sounding yaitu G-02 dan G-04 yang memiliki jenis kurva yang sama yaitu HKQ di mana 𝜌₁›𝜌₂‹𝜌₃›𝜌₄›𝜌₅ terdiri dari 5 lapisan, lapisan pertama memiliki nilai resistivitas 153 - 171 Ωm merupakan tuf, lapisan kedua dengan rentang nilai resistivitas 17,1 – 17,5 Ωm lempung tufaan, lapisan ketiga dengan rentang nilai resistivitas 355 – 374 Ωm tuf, lapisan keempat dengan rentang nilai resistivitas 68,4 – 79,2 Ωm pasir tufaan, dan lapisan kelima dengan rentang nilai resistivitas 7,66 – 10,7 Ωm merupakan lempung tufaan.

Selanjutnya terdapat 3 titik sounding yaitu G-05, G- 07, dan G-09 memiliki jenis kurva HKH di mana 𝜌₁›𝜌₂‹𝜌₃›𝜌₄‹𝜌₅ terdiri dari 5 lapisan, lapisan pertama memiliki nilai resistivitas 111 – 154 Ωm tuf, lapisan kedua 6,48 – 8,34 Ωm lempung tufaan, lapisan ketiga 26 – 35,5 pasir tufaan, lapisan keempat 4,06 – 10,2 Ωm, dan lapisan kelima 153 – 158 Ωm.

Interpretasi Akuifer

Penentuan lapisan akuifer mengacu pada [12] dan [13] di mana akuifer merupakan lapisan yang mengandung air dan mampu mengalirkan air. Hal ini disebabkan karena adanya pori-pori pada lapisan tersebut dan bersifat permeable. Penentuan lapisan akuifer dibantu dengan data kedalaman sumur yang telah didapatkan dari hasil wawancara.

Target pada penelitian tugas akhir ini selain mengetahui litologi daerah penelitian yaitu mencari potensi akuifer air tanah. Di mana jika dilihat dari gambar menurut [4] lokasi yang berukuran 5x5 km berada pada bagian good aquifer yang berarti lokasi ini memiliki potensi good aquifer pula. Lokasi penelitian menurut peta geologi Lembar Tanjungkarang [9] berada pada Formasi Lampung (Qtl). Berdasarkan dari hasil interpretasi litologi dari data geolistrik (Tabel 4), akuifer diperkirakan berada pada lapisan pasir tufaan yaitu dengan rentang nilai resistivitas 23– 79,2 Ωm yang memiliki ketebalan 27,6 – 56,5 m berada pada kedalaman 7 – 71 m. Pasir tufaan yang diidentifikasikan sebagai akuifer merupakan batuan dengan porositas yang baik dan mampu meloloskan air (permeable).

Perbandingan hasil data VES dengan sumur dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan hasil data VES dengan sumur.

Titik VES

Tipe Sum ur

Elev asi (m)

Kedala man sumur

(m)

Kedalaman Hasil Inversi Geolistrik (m)

Kr ite ria Su

m ur

G-01

Gali 74 6,2

20,2 – 56,7 2

Gali 74 6 2

Bor 73 25 1

G-02 Bor 88 33 7,66 – 44,9 1

(9)

Gali 88 5 2

Gali 87 6,2 2

G-04

Bor 70 32

12,5 – 65,4 1

Gali 69 5,7 1

Gali 69 3 1

G-05

Bor 66 30

13,1 – 40,6 1

Gali 66 6,1 1

Gali 67 8 2

G-06

Gali 68 9

17,5 – 53,5 1

Gali 68 7 1

Gali 68 6 2

Bor 69 40 1

G-07

Gali 70 6

11,5 – 36,2 2

Gali 69 3,3 1

Gali 70 5,8 2

Bor 69 30 1

G-08

Gali 73 3,5

28,1 – 64,8 1

Bor 69 30 1

Bor 64 40 1

G-09

Bor 73 30

11,6 – 43,5 1

Gali 74 6,4 1

Gali 73 7,1 2

Gali 70 5,5 1

Hasil korelasi antara identifikasi akuifer menggunakan data VES dan data sumur memiliki kesesuaian di mana bentuk kurva menyerupai pelana kuda berada pada posisi yang berpotensi sebagai akuifer yaitu di antara lapisan yang bersifat impermeable. Selain bentuk dari kurva, data sumur yang didapatkan dari hasil wawancara dengan warga sekitar lokasi penelitian (Tabel 5) menunjukan kesesuaian di mana masih dalam rentang kedalaman dari hasil pengolahan data menggunakan data VES.

Pada titik G-03 tidak diketahui informasi mengenai sumur karena lokasi penelitian yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, tetapi jika dilihat dari aspek kurva dan nilai resistivitasnya dapat terlihat potensi akuifer berada pada lapisan keempat yang memiliki nilai resistivitas 24,6 Ωm yang merupakan lapisan pasir tufaan. Interpretasi akuifer secara umum pada daerah penelitian terdapat pada Tabel 6.

Tabel 6. Interpretasi akuifer.

Nilai

Resistivitas Litologi

<23 Ωm

Lempung Tufaan

Batuan tuf yang dominan mengandung lempung. Lempung merupakan lapisan impermeable yang berarti tidak bisa

menjadi akuifer.

23 – 79,2 Ωm

Pasir Tufaan

Batuan tuf yang dominan mengandung pasir dimana pasir memiliki porositas

baik yang dapat di isi oleh air. Dapat menjadi lapisan akuifer.

>79,2 Ωm

Tuf

Batuan tuf yang kompak dan tidak dapat menjadi lapisan akuifer.

4. Kesimpulan

Dari hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa :

a. Berdasarkan hasil pemodelan 1D didapatkan 3 jenis litologi bawah permukaan yaitu: nilai resistivitas 111 – 530 Ωm diduga merupakan lapisan tuf, 23 – 79,2 Ωm merupakan pasir tufaan, dan 2,15 – 19,5 Ωm diduga merupakan lapisan lempung tufaan.

b. Berdasarkan hasil korelasi antara data VES dan sumur menunjukan kesesuaian di mana lapisan yang diduga akuifer membentuk suatu kurva yang menyerupai pelana kuda dengan nilai resisitivitas 23 – 79,2 Ωm yang di apit oleh lapisan impermeable pada kedalaman 7 – 71 m dan data sumur bor yang didapatkan berada pada kedalaman 25 - 40 m.

Menurut hasil wawancara dengan warga, akuifer pada lokasi penelitian masuk dalam kriteria 1.

Saran

Setelah menyelesaikan penelitian ini, penulis merasa perlu memberikan saran yaitu alangkah lebih baik jika dilakukan penambahan data pendukung berupa data logging maupun cutting untuk hasil yang lebih maksimal.

Ucapan Terima kasih

Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada rekan yang telah membantu dalam akuisisi data di lapangan serta pembimbing maupun penguji yang telah terlibat selama penelitian berlangsung.

Daftar Pustaka

[1] T. K. Nufutomo., F. C. Alam., dan A. H.

Kiranaratri., “Kualitas Air Embung untuk Irigasi di Margodadi, Lampung Selatan”, Media Ilmiah Teknik Lingkungan, vol.5, no.2, hal. 101-107, 2020.

[2] F. A. Syofyan., A. Octova., dan Y. M. Anaperta.,

”Identifikasi Keberadaan Air Tanah menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Schumberger di Daerah Pandawa, Jorong Tarok, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam”.

Skripsi: Teknik Pertambangan. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Padang, 2017.

[3] N. D. Saputra, “Analisis Zona Akuifer Berdasarkan Data Geolistrik 1D Konfigurasi Schlumberger di Kecamatan Kedamaian dan Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung”, Skripsi: Fakultas Teknik.

(10)

Jurusan Teknik Geofisika. Universitas Lampung, 2019.

[4] A. Zaenudin., R. Risman., I. G. B. Darmawan., dan I. B. S. Yogi., “Analisis anomali gayaberat untuk cekungan airtanah di kota Bandar Lampung berdasarkan pemodelan gayaberat 2D”, J.Phys. Conf. Ser., vol. 1572, no.1, 2020, doi: 10.1088/1742-6596/1572/1/012006.

[5] M. A. Putri., A. A. Risanti., K. A. Cahyono., L.

Latifah., N. Rahmawati., R. F. Ariefin., S.

Prameswari., W. A. Waskita., T. N. Adji., dan A. Cahyadi., “Sistem aliran dan potensi airtanah di sebagian Desa Sembangun ditinjau dari aspek kualitas dan kuantitas”. Majalah Geografi Indonesia, vol.32, no.2, hal. 155-161, 2018.

[6] L. A. Nugroho, “Identifikasi Akuifer Air Tanah pada Lapangan “X” dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger”. Universitas Brawijaya. Malang, 2019.

[7] Shiddiqy, “Pemetaan Keberadaan Akuifer menggunakan Metode Resistivitas Konfigurasi Schlumberger di Daerah Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, Skripsi: Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada, 2014.

[8] A. Rahmawati, “Pendugaan Bidang Gelincir Tanah Longsor Berdasarkan Sifat Kelistrikan Bumi dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis Konfigurasi Schlumberger (Studi Kasus Di Daerah Karangsambung dan Sekitarnya, Kabupaten Kebumen)”, 2009.

[9] J. M. Reynolds, An Introduction to Applied and Environmental Geophysics. United Kingdonm:

Willey, 2011.

[10] Tatas, A. M. Mahendra., S. K. Aziz., A.

Widodo., “Identifikasi Awal Model Akuifer pada Mata Air Umbulan dengan Menggunakan Geolistrik Konfigurasi Schlumberger”, Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini, vol. 12, no.1, hal. 35 – 42, 2014.

[11] S. A. Mangga., T. Amirudin., S. Suwarti., Gafoer dan Sidarto, “Peta Geologi Lembar Tanjung Karang, Sumatera”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, 1993.

[12] W. M. Telford., L. P. Geldart, dan R. E. Sheriff,

“Applied Geophysics, 2nd edition”. Cambridge University Press, Cambridge, 1990.

[13] Rizka dan S. Satiawan, “Investigasi Lapisan Akuifer Berdasarkan Data Vertical Electrical Sounding (VES) dan Data Electrical Logging;

Studi Kasus Kampus Itera”. Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY, vol.17, no.2, hal.91 – 100, 2019.

(11)

11

Gambar

Gambar 2. Desain akuisisi penelitian.
Gambar 4. Diagram alir penelitian.
Tabel 3. Hasil pengolahan data..
Tabel 5. Perbandingan hasil data VES dengan sumur.
+2

Referensi

Dokumen terkait