i KATA PENGANTAR
Pengaturan dalam Pasal 28 H ayat ( 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengaturan tersebut pemerintah daerah wajib memberikan pelayanan publik dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam perumahan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
Pengaturan dalam UUD 1945 membawa konsekuensi hukum bahwa pemerintah termasuk pemerintah daerah merupakan pihak yang berwenang dan bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan perumahan. Dalam rangka menyelenggarakan pengelolaan Rumah Kos secara terpadu, pemenuhan hak dan kewajiban masyarakat, serta tugas dan wewenang pemerintahan daerah untuk melaksanakan pelayanan public, diperlukan payung hukum dalam bentuk peraturan daerah. . Berdasarkan hal tersebut, pembentukan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Rumah Kos ini diperlukan dalam rangka kepastian hukum bagi rakyat untuk mendapatkan pelayanan pengelolaan Rumah Kos yang baik dan berwawasan lingkungan dan menjamin keberlangsungan akan kehidupan sejahtera lahir dan bathin.
Wates, 5 Desember 2020 Tim Penyusun, PT. Mercy Tria Consult
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... I DAFTAR ISI ... I DAFTAR TABLE ... IV DAFTAR GAMBAR ... IV DAFTAR DIAGRAM ... IV BAB I
PENDAHULUAN ... 1
1.1. LATAR BELAKANG ... 1
1.2. IDENTIFIKASI MASALAH ... 4
1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN ... 5
1.4. METODE ... 6
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS ... 12
2.1. KEWENANGAN PEMERINTAH DSERAH DALAM MENGATUR PENYELENGGARAAN RUMAH KOS ... 12
2.2. INSTRUMEN HUKUM PENYELENGGARAAN RUMAH KOS ... 22
2.3. ASAS PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH... 26
2.4. KAJIAN PRAKTIK EMPIRIS PENYELENGGARAAN RUMAH KOS ... 34
2.5. PRAKTEK EMPIRIS ... 41
2.6. PEMAPARAN HASIL SURVEY... 57
2.7. IMPLIKASI PENERAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH KOS ... 65
BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT ... 67
3.1. UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PASAL 18 AYAT (6). ... 67 3.2. UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1950 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH-
DAERAH KABUPATEN DALAM LINGKUNGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ( BERITA
NEGARA TANGGAL 18AGUSTUS 1950) SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-
UNDANG NOMOR 18 TAHUN 1951 TENTANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15
ii TAHUN 1950 REPUBLIK INDONESIA UNTUK PENGGABUNGAN DAERAH DAERAH
KABUPATEN KULON PROGO DAN ADIKARTA DALAM LINGKUNGAN DAERAH ISTIMEWA
JOGJAKARTA MENJADI SATU KABUPATEN DENGAN NAMA KULON PROGO ( LEMBARAN
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1951NOMOR 1); ... 68 3.3. UNDANG – UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
(LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002NOMOR 134); ... 69 3.4. UNDANG – UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI
KEPENDUDUKAN (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2006NOMOR 124);
... 70 3.5. UNDANG – UNDANG NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG
(LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007NOMOR 68); ... 71 3.6. UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG KEPARIWISATAAN
(LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009NOMOR 11); ... 72 3.7. UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK DAERAH DAN
RETRIBUSI DAERAH (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR
130); ... 73 3.8. UNDANG – UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN &
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN
2009NOMOR 140); ... 75 3.9. UNDANG - UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PERUMAHAN & KAWASAN
PERMUKIMAN (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011NOMOR 7); ... 77 3.10. UNDANG-UNDANG NOMOR 12TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 82); ... 79 3.11. UNDANG – UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEISTIMEWAAN DIY (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012NOMOR 170); ... 80 3.12. UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR
23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 2014NOMOR 244); ... 81 3.13. UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2020 TENTANG CIPTA KERJA (LEMBARAN
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2020NOMOR 245); ... 82 3.14. PERATURAN PEMERINTAH NO 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN
PELAKSANAAN UNDANG –UNDANG NO 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
(LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005NOMOR 83); ... 84 3.15. PERATURAN PEMERINTAH NO 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN
PELAKSANAAN UNDANG –UNDANG NO 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
(LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005NOMOR 83); ... 85 3.16. PERATURAN PEMERINTAH NO 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN
PENATAAN RUANG (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010NOMOR 21);
... 86
iii 3.17. PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 2018 TENTANG PELAYANAN
PERIZINAN BERUSAHA TERINTEGRASI SECARA ELEKTRONIK (LEMBARAN NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2019NOMOR 102); ... 86
3.18. PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 40 TAHUN 2019 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINSTRASI KEPENDUDUKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN (LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2018 NOMOR 90); ... 87
3.19. PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN BANGUNAN (LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2011NOMOR 6,SERI E); ... 89
3.20. PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR 4TAHUN 2013 TENTANG KETERTIBAN UMUM (LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2013 NOMOR 4); ... 90
3.21. PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR 9TAHUN 2019 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN (LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2013NOMOR 4). ... 92
BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, YURIDIS ... 94
4.1. LANDASANFILOSOFIS ... 94
4.2. LANDASANSOSIOLOGIS ... 94
4.3. LANDASANYURIDIS ... 96
BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN ... 112
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 117
6.1. KESIMPULAN ... 117
6.2. SARAN ... 119
BAB VII DAFTAR PUSTAKA ... 121
DRAFT RANCANGAN PERATURAN DAERAH ... 123
iv
DAFTAR TABLE
Table 1. Tupoksi OPD dalam Penyelenggaraan Rumah Kos ... 21
Table 2. Perbedaan Rumah Kos, Rumah Kontrakan dan Hotel ... 40
Table 3. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk ... 43
Table 4. Proyeksi Jumlah Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014, 2019, 2024, dan 2029 ... 44
Table 5. Migrasi Masuk dan Keluar Menurut Kecamatan di Kulon Progo ... 45
Table 6. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Kulon Progo Menurut Lapangan Usaha (persen), 2015-2019 ... 47
Table 7. Trayek AKDP yang Melayani Wilayah Kabupaten Kulon Progo ... 50
Table 8. Data Perbandingan Rumah Hunian Dan Rumah Kos di Kabupaten Kulon Progo ... 54
Table 9. Backlog Rumah Hunian di Kabupaten Kulon Progo ... 54
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Bawang Penelitian ... 8Gambar 2. Peta Wilayah Kabupaten Kulon Progo ... 42
Gambar 3. Grafik Pertumbuhan NIlai PDRB Kabupaten Kulon Progo ... 46
Gambar 4. Rencana Sistem Pusat Permukiman Inti dan Penyangga ... 56
Gambar 5. Rencana Zona Budidaya - Perumahan ... 57
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 1. Kepemilikan Rumah Kos ... 61Diagram 2. Pengajuan Ijin Mendirikan Bangunan ... 61
Diagram 3. Kepemilikan Aturan Bersama dalam Kos... 62
Diagram 4. Melaporkan Penghuni ke RT/RW ... 62
Diagram 5. Interaksi Penghuni Kos dengan Warga Sekitar ... 63
Diagram 6. Penghuni Kos di Kulon Progo ... 63
Diagram 7. Pekerjaan Penghuni Kos... 64
Diagram 8. Variasi Harga Kamar Kos per Bulan ... 64
Diagram 9. Keberadaan Induk Semang ... 65
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang dikenal sebagai kota pendidikan, hal ini tentunya membawa implikasi yang jelas terlihat mengenai pertambahan jumlah mahasiswa di DIY yang tiap tahun terus bertambah. Merujuk rilis resmi LLDIKTI Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Angka 2019 yang diekluarkan oleh LLDIKTI Wilayah V, Jumlah perguruan tinggi aktif di DIY adalah 102 perguruan tinggi yang terdiri dari berbagai macam bentuk.1 Jumlah mahasiswa dari 102 perguruan tinggi ini terbagi menjadi 2, 99.823 mahasiswa perguruan tinggi negeri dan 268.243 mahasiswa perguruan tinggi swasta, dengan total 368.066 mahasiswa.2
Jumlah mahasiswa dan pekerja yang setiap tahun terus meningkat di Daerah Istimewa Yogyakarta membawa dampak pada kebutuhan hunian sementara. Pasal 28 H ayat ( 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengaturan tersebut pemerintah daerah wajib memberikan pelayanan publik dalam bentuk penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman di seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo sebagai salah satu bagian dari kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut data dari Bank Dunia dan International Finance Corporation, Indonesia, khususnya Yogyakarta adalah salah satu kota yang memiliki
1 LLDIKTI Wilayah V dalam Angka Tahun 2019 : https://lldikti5.kemdikbud.go.id
2 Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Angka Tahun 2020 : https://yogyakarta.bps.go.id
2 potensi investasi yang cukup banyak sehingga sangat mudah dilakukan penanaman modal. Yogyakarta dinyatakan sebagai salah satu kota dengan kemudahan investasi dikarenakan memiliki 3 poros unggulan yang adalah budaya, pariwisata, dan pendidikan. Merespon pendidikan sebagai salah satu poros unggulan maka tentunya sarana fisik sangat diperlukan selain faktor penunjang Pendidikan lainnya. Dalam beberapa tahun kebelakang persebaran letak kampus di DIY sudah disebar ke beberapa Kabupaten sehingga letak kampus tidak hanya terpusat di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, beberapa Universitas berencana membuka Gedung kampus di Kabupaten Kulon Progo seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, Sekolah Tinggi Teknik Lingkingan dan beberapa Universitas ternama lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain dari adanya rencana pembangunan beberapa gedung universitas di Kulon Progo, diresmikannya Bandara Yogyakarta International Airport pada tanggal 28 Agustus 2020 yang lalu merupakan momentum sendiri bagi Kabupaten Kulon Progo. Peresmian bandara tentunya membuka banyak kesempatan dan peluang lapangan kerja baru di Bandara. Pertumbuhan penduduk menjadi salah satu dampak yang akan muncul ketika melihat adanya rencana pembangunan universitas dan kagiatan bandara yang mulai beroperasi secara resmi, hal ini disebabkan oleh tingginya angka migrasi yang masuk ke Kabupaten Kulon Progo baik untuk bekerja ataupun menempuh pendidikan. Hal ini menjadikan Kabupaten Kulon Progo harus segera berbenah menata wilayahnya termasuk menata rencana tentang pemukiman sebagai upaya merespon angka migrasi yang cukup tinggi karena kehadiran bandara dan universitas.
Kemunculan rumah kos sebagai bentuk hunian sementara dapat dipahami sebagai upaya merespon kebutuhan mahasiswa dan pekerja.
3 Berbagai jenis jasa rumah kos yang muncul sudah tumbuh menjadi entitas bisnis yang amat besar. Beragamnya jenis dan klasifiakasi rumah kos yang ada berdasarkan fasilitas membuat rumah kos menjadi salah satu potensi penambahan pendapatan asli daerah di Kabupaten Kulon Progo. Di beberapa daerah lain misalkan jumlah kamar kos yang ada di suatu lokasi mempengaruhi jumlah pajak dan/atau retribusi yang harus dibayarkan ke pemerintah kabupaten.
Perkembangan dan pertumbuhan yang ada juga mengubah pola relasi yang muncul dan tumbuh akibat adanya rumah kos. Jasa rumah kos saat ini sudah dikelola dengan pendekatan bisnis. Mahasiswa menjadi konsumen dan pemilik rumah kos penyedia jasa (produsen).
Hubungan induk semang dengan anak kos sudah bergeser dari pola kekeluargaan menjadi hubungan konsumen dan produsen.
Penyelenggaraan Rumah Kos di Kabupaten Kulon Progo memberikan berbagai dampak positif dan negatif kepada masyarakat. Dampak positif yang muncukl dari keberadaan rumah kos adalah bertumbuh dan berkambangnya ekonomi aras lokal, dimana kemudian kehadiran rumah kos membantu pertumbuhan ekonomi di sekitar area ruamh kos tersebut. Disamping berbagai dampak positif jasa rumah kos, pada sisi lain perkembangan Penyelenggaraan Rumah kos juga memunculkan berbagai dampak negatif seperti munculnya kasus- kasus narkoba, pergaulan bebas, peningkatan kejahatan, permasalahan sosial, tidak tertibnya administrasi kependudukan, selain mengenia kasus dan kendala sosial, pembangunan rumah kos apabila tidak ada rujukan pengaturannya juga berpotensi merusak lingkunagn di sekitarnya. Berbagai dampak negatif perkembangan Penyelenggaraan Rumah kos di Kabupaten Kulon Progo perlu diantisipasi dan diminimalisasi dalam rangka memelihara nilai - nilai sosial, budaya serta memberikan perlindungan kepada masyarakat, termasuk para pengguna jasa rumah kos.
4 Melihat realita bahwa pembangunan di Kabupaten Kulon Progo dalam segala bidang telah menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat, sejalan dengan pesatnya perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa sekaligus juga berkembangnya tuntutan masyarakat secara kualitatif yang tidak hanya menuntut kebutuhan fisik, namun menyangkut kebutuhan akan keadilan. Hal ini mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sebagai decision maker untuk lebih arif dalam menentukan kebijakan. Oleh karena banyaknya arus penduduk yang bermukim di Kabupaten Kulon Progo, dituntut cukup tersedianya tempat-tempat pemukiman khususnya untuk menampung para pelajar dan mahasiswa yang memerlukan rumah kos.
Oleh sebab itu disadari atau tidak usaha rumah kos mengandung dampak positif maupun negatif walaupun tidak dapat dikatakan secara menyeluruh. Adapun yang menyangkut dampak negatifnya salah satunya disebabkan karena belum terbentuknya peraturan daerah yang mengatur usaha rumah kos guna melakukan penertiban dan pengendalian,serta menjaga aspek kesehatan, lingkungan dan ketertiban lainnya, maka sebagai landasan hukum yang sangat penting dan mendasar adalah dibentuknya Peraturan Daerah, Maka sudah tepat usulan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kulon Progo dengan hak inisiatifnya mulai mengatur kondisi Rumah kos sebelum praktik penyelenggaraan rumah kos di Kabupaten Kulon Progo menjadi carut marut, tidak terkendali dan membawa dampak negative yang tidak diinginkan.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan perlu adanya Peraturan Daerah tentang rumah kos di Kabupaten Kulon Progo agar semaksimal mungkin penataan ruang dapat berjalan dengan baik dan
5 tidak carut marut, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
a. Perlu adanya pengaturan mengenai standar penyelenggaraan rumah kos mulai dari adanya skema pengajuan ijin yang jelas, sampai dengan praktik pengelolaannya di lapangan seperti, standar lingkungan, kesehatan, keamanan dan keselamatan (baik dalam bentuk evakuasi dari bencana alam ataupun kebakaran) dan juga sanksi yang bisa diberikan apabila kedapatan melanggar.
b. Perlu adanya prioritas pengaturan zonasi pemukiman terkait penyelenggaraan rumah kos yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah agara supaya dapat menyokong dan men-support rencana jangka panjang Kabupaten Kulon Progo sebagai Aerotropolis c. Perlu adanya kajian mendalam terkait dampak penyelenggaraan rumah kos baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat baik, masyarakat asli sebagai pemilik rumah kos ataupun pendatang sebagai konsumen rumah kos
1.3. Tujuan dan Kegunaan
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik dirumuskan sebagai berikut:
1. Memberikan landasan dan kerangka pemikiran bagi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Peraturan Rumah Kos;
2. Memberikan kajian dan kerangka filosofis, sosiologis, dan yuridis serta teknis tentang perlunya peraturan daerah Tentang Rumah kos;
3. Mengkaji dan meneliti pokok-pokok materi apa saja yang ada dan harus ada dalam penyelenggaraan Perda terkait Pengelolaan Rumah Kos;
6 4. Melakukan kajian dan menggali unsur budaya atau kearifan lokal yang ada di DIY, yang bisa dikaitkan dengan Rumah Kos dan merumuskan upaya mendorong unsur budaya atau kearifan lokal tersebut dalam Rancangan peraturan Daerah .
5. Melihat keterkaitannya dengan peraturan perundang-undangan lainnya sehingga jelas kedudukan dan ketentuan yang diaturnya.
1.4. Metode
Metode yang digunakan dalam penyusunan naskah akademik ini adalah metode yuridis empiris. Kajian hukum memiliki cakupan yang luas setidaknya secara umum meliputi substansi hukum (content of laws), struktur pelaksana hukum (structure of laws), dan budaya hukum (culture of laws). Hukum dapat diartikan sebagai suatu gejala masyarakat (social feit) yang mempunyai segi ganda yakni kaidah/norma dan perilaku yang ajeg atau unik.3 Lebih jauh, dari sisi keilmuan, Hukum merupakan objek penyelidikan dan penelitian berbagai disiplin ilmu, sehingga hukum adalah ilmu bersama (rechts is mede wetenschap). 4 Aliran positivis sosiologis (sociological jurisprudence) ini merupakan respon terhadap aliran positivis yuridis yang beranggapan bahwa hukum itu bersifat tertutup, logis dan tetap.
Oleh karena itu makalah ini berupaya untuk mengkaji pemikiran hukum dari aliran sociological jurisprudence dalam rangka pengembangan metodologi.
1.4.1. Metode penelitian yuridis empiris
Metode penelitian yang bersifat empiris ini dapat disimpulkan dari ajaran Eugen Ehrlich yang menyatakan bahwa hukum yang hidup (the living law) tidak ditemukan di dalam peraturan perundang-undangan, melainkan tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. 5 Apabila hukum yang berlaku adalah hukum
7 yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, maka tidak seperti Hans Kelsen yang menafikkan empiri/fakta/realita, justru Eugen Ehrlich mengutamakan empirik/faktual/realita (das Sein).
Dengan perkataan lain, keberlakuan suatu peraturan perundang- undangan bukan ditentukan oleh peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi peringkatnya, melainkan oleh empiri/fakta/realita bahwa peraturan perundang-undangan tersebut ditaati oleh masyarakat. Cara berpikir yang digunakan dalam metode penelitian hukum sosiologis ini adalah cara berpikir induktif. Kajian hukum harus memperhatikan secara sungguh-sungguh aspirasi masyarakat, khususnya masyarakat pengguna ruang dan atau pelaksana pengaturan tata ruang (dalam hal ini pemerintah).
1.4.2. Tahapan dan Pendekatan
Proses penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Rumah Kos meliputi empat tahap sebagai berikut:
a. Tahap Identifikasi Permasalahan
Tahap ini adalah tahap awal penyusunan naskah akademik dimulai dengan identifikasi permasalahan yang dihadapi pemangku kepentingan, baik permasalahan hukum maupun permasalah non hukum terkait pemanfaatan ruang. Identifikasi permasalahan dilakukan melalui metode selain metode penelitian hukum. Metode yang penelitian yang dimaksud metode penelitian campuran (mix and match) antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Dalam beberapa jurnal, buku dan makalah kerja, terdapat beberapa tulisan penggabungan kuantitatif dan kualitatif yang bisa dirujuk. Terdapat beberapa istilah dalam literatur penelitian ekonomi dan bisnis (atau ilmu sosial pada umumnya) terkait dengan usaha
8 Gambar 1. Skema Bawang Penelitian
penggabungan penelitian kuantitatif dan kualitatif, di antaranya adalah combining (mengkombinasi), mixing (mencampur), merging (menggabung), dan integrating (memadu). Kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif masih merupakan isu yang relevan dalam berbagai bidang ilmu, terutamanya ilmu sosial dalam pengertian luas maupun bidang ilmu ekonomi dan bisnis. Istilah tersebut merujuk pada pengertian yang sama. Sesudah kata tersebut, kebanyakan diikuti dengan kata methodologies (Curral et.al, 1999), Pofi & Jackie (2002), method (Varelli& Greene, 1997), approaches (Amaratunga et.al, 2002; Bazeley, 2004), research (Hulme, 2007) dan survey and case study (Gable, 1994), sampling, data collection, dan analysis techniques (Sandelowski, 2000; Coviello, 2005), data (Driscoll, et.al, 2007). Keseluruhan penggabungan sangat hati-hati untuk menggunakan istilah, terutamanya “paradigm”, “philoshopy”,
“ontology”. Hal ini menampilkan suatu kenyataan bahwa
“combination” atau “mixed method” tidak pernah dilakukan pada level keyakinan dan filosofi/paradigma atau ontologi-nya.
Proses penelitian kuantitatif dan kualitatif mempunyai unsur-unsur yang berlapis-lapis menyerupai lapisan bawang merah (research
9
“onion”), Saunders, et.al (2009). Penelitian kuantitatif dan kualitatif bukan hanya persoalan perbedaan data. Ini melibatkan perbedaan yang sangat luas dari teknik-prosedur, waktu dan pilihan-pilihan.
Bahkan lapisan tertinggi “bawang penelitian” terdiri filosofi, pendekatan, dan strategi. Oleh karena itu, setiap penelitian memerlukan pemahaman yang mendalam tentang paradigma, pendekatan dan strategi tersebut.3
Pada unsur-unsur penelitian atau bawang penelitian di atas, Saunders, et.al. (2009) menyatakan bahwa tidak mungkin penelitian adalah gabungan antara paradigma/filsafat dan
pendekatannya (induksi dan deduksi). Jalan penggabungan dimungkinkan berkaitan dengan strategi, pilihan metode, teknik dan prosedur. Paradigms cannot be mixed hence mixed methods is untenable (“incompatibility” thesis), Creswell (2009). Lebih lanjut, Sandelowski menyatakan bahwa:
Combination or mixed-method studies are concretely operationalized at the technique level, or the shop floor, of research: that is, at the level of sampling, data collection, and data analysis. Mixed-method studies are not mixtures of paradigms of inquiry per se, but rather paradigms are reflected in what techniques researchers choose to combine, and how and why they desire to combine them.4
Uraian di atas menampilkan bahwa metode campuran adalah operasi konkrit pada tingkat teknik penelitian yang digunakan. Teknik kualitatif dan kuantitatif yang digunakan bersama-sama, komponen
3 Mark Saunders, Philip, Lewis., & Adrian, Thornhill. Research Methods for Business Students (5th ed), 2009, New Jersey: Prentice Hall.
4 M. Sandelwski, Focus on Research Methods: Whatever Happened to Qualitative Description, Research in Nursing and Health, 2000, North Carolina: John Wiley and sons Inc, hlm 334.
10 desain yang berbeda atau secara eksplisit terintegrasi.5
b. Tahap Penyusunan Naskah Akademik
Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan dan kajian terhadap peraturan perundang-undangan, tahap selanjutnya adalah penyusunan naskah akademik sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Naskah akademik sangat diperlukan dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah sebagai kajian yang mendalam dan komprehensif mengenai teori atau pemikiran ilmiah
5J.C. Grenee & V.J. Caracelli, Advances in Mixed Method Evaluation: The Challenges and Benefits of Intergrating Diverse Paradigms: New Direction for Evaluation, 1989, San Fransisco: Jossey- Bass.
Bagan 1. Alur Penyusunan Naskah Akademis
11 c. Tahap Studi Banding : Best Practice
Studi banding merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah wawasan dan pengetahuan yang akan diterapkan kedepannya untuk menjadi lebih baik. Kegiatan seperti ini tentunya sangat bagus bagi perkembangan suatu kebutuhan yang diharapkan sebagaimana mestinya. Pengertian dari studi banding itu sendiri adalah sebuah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan berbeda yang merupakan kegiatan yang lazim dilakukan untuk maksud peningkatan mutu, perluasan usaha, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan, dan lain-lan. Kegiatan studi banding dilakukan oleh kelompok kepentingan untuk mengunjungi atau menemui obyeek tertentu yang sudah disiapkan dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Intinya adalah untuk membandingkan kondisi obyek studi di tempat lain dengan kondisi yang ada di tempat sendiri. Hasilnya berupa pengumpulah data dan informasi sebagai bahan acuan dalam perumusan konsep yang diinginkan.
d. Tahap Konsultasi dan Diskusi Terfokus
Pada tahap ini dilakukan konsultasi sebagai salah satu cara untuk melaksanakanpartisipasi dalam penyusunan peraturan perundang- undangan. Proses konsultasi ini merupakan upaya untuk menyampaikan materi naskah akademik dan rancangan Peraturan Daerah kepada semua pemangku kepentingan agar memperoleh masukan dan saran penyempurnaan sehingga penataan ruang dan pemanfaatan ruangdapat dilaksanakan secara optimal
12
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
Kajian teoritis dalam konteks ini dibagi dalam beberapa hal yaitu aspek kewenangan pemerintah daerah dalam menagtur penyelenggaraan rumah kos, kajian tentang instrument hukum untuk melakukan penertiban, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos.
2.1. Kewenangan Pemerintah Dserah dalam mengatur Penyelenggaraan Rumah Kos
Berdasarkan Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, daerah secara atribusi diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Lebih lanjut diatur di dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 terntang Pemerintahan Daerah (UU Pemda) bahwa Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia
Berdasarkan Pasal 1 angka 12 UU Pemda, Daerah Otonom merupakan kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah dapat membentuk suatu peraturan dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat.
13 Penataan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos merupakan realisasi kewajiban dari negara atas pemenuhan hak sosial masyarakat dalam bertempat tinggal dan mendapat lingkungan yang sehta dan baik sebagaimana tercantum dalam pasal 28 H ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945. Dengan dituangkannya hak untuk bertempat tinggal dan memperoleh lingkungan yang baik dan sehat sebagai hak sosial yang dijamin oleh Konstitusi, maka disini negara memiliki kewajiban untuk : menjaga (to protect), menghargai (to respect), dan memenuhi (to fulfill).
Sebagai kewajiban dari negara ybtyj memenuhi hak tersebut, maka pemerintah dan pemerntah daerah sebagai pengurus negara memiliki tugas dab tanggungjawab untuk memenuhinya.
Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah men ggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan oemerintah diluar yang menjadi urusan pemerintah pusat. Sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 dinyatakan bahwa pembagian urusan dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Urusan Absolut 2. Urusan Konkuren 3. Urusan Pemerintahan
Urusan absolut menjadi kewenangan pusat sedangkan yang dapat fibagi dalam penyekenggaraan pemerintahan adalah urusan konkuren dan urusan pemerintahan umum. Urusan konkuren merupakan salah satu urusan yang dapat dibagi kewenangannya menjadi kewenangan pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.
Urusan konkruen dibagi menjadi 2 yaitu urusan wajib dan urusan pilihan, dimana urusan wajib dibedakan menjadi 2 yaitu, urusan wajib
14 yang berkaitan dengan berbagai urusan, yaitu urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.
Penataan dan pengendalaian penyelenggaraan rumah kos merupaka suatu kegiatan yang berkaitan dengan berbagai urusan, yaitu urusan perumahan dan permukiman, perhubungan, kependudukan dan catatan sipil, lingkungan hidup, pemerintahan dan ketentraman dan ketertiban umum. Dengan demikian penataan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos menjadi kewenangan berbagai dinas sesuai dengan kewenangannya, dimana urusan tersebut termasuk salah satu satu dari urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan public atau tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.
Kewenangan penataan dana pengendalian penyelenggaraan rumah kos merupakan urusan konkuren yang dapat dibagi antara pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Dengan demikian, pemerintah daeraah baik provinsi, maupun kabuapten/kota memiliki kewajiban untuk melakukan penataan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos sesuai dengan kewenangannya.
Dalam menjalankan kewenangan untuk melakukan penataan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos, terdapat berbagai kewenangan dari masing maisng perangkat daerah yang memiliki tujuan untuk mengendalikan dampak akibat penyelenggaraan rumah kos, terkait dengan tujuan tersebut diperlukan adanya instrument hukum yang digunakan untuk melakukan perencanaan, pengaturan, pentaan dan/atau pengendalian penyelenggaraaan rumah kos.
Kewenangan perangkat daerah dalam upaya mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan rumah kos di Kabupaten Kulon Progo dipaparkan dalam tabel sebagai berikut :
15 No. SKPD Tugas Pokok Dan Fungsi
Keterkaitan Dengan Penyelenggaraan Rumah Kos
1
Dinas
Pertanahan Dan Tata Ruang
Perumusan kebijakan teknis bidang pertanahan dan tata ruang;
pelaksanaan, pelayanan, pembinaan, dan pengendalian urusan pemerintahan di bidang pertanahan dan bidang tata ruang;
Pelaksanaan penugasan urusan keistimewaan di bidang pertanahan dan bidang tata ruang;
Penyelenggaraan administrasi kesekretariatan; pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan tugas dinas; dan
Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Pemberian
Rekomendasi terkait zonasi pemukiman
2
Dinas
Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu
Menyelenggarakan kegiatan pelayanan perizinan terpadu; menyelenggarakan kegiatan survei;
Menyelenggarakan kegiatan pelayanan informasi, penanganan aduan perizinan dan advokasi; dan
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala dinas berkaitan dengan bidang tugasnya.
Pemberian ijin mendirikan bangunan dan usaha melalui OSS
16 3
Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Dan Kawasan Permukiman
Mempunyai fungsi penyelenggaraan urusan Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan di bidang pekerjaan umum dan kawasan permukiman.
Dalam melaksanakan fungsi mempunyai tugas :
Menyelenggarakan kegiatan bina marga;
Menyelenggarakan kegiatan cipta karya;
Terkait dengan penerbitan SLF/Sertifikat Layak Fungsi
4
Dinas
Lingkungan Hidup
Mempunyai fungsi penyelenggaraan urusan Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan di bidang lingkungan hidup. Untuk menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud mempunyai tugas :
menyelenggarakan kegiatan di bidang tata lingkungan;
menyelenggarakan kegiatan di bidang penataan dan pengendalian; dan
menyelenggarakan kegiatan kesekretariatan.
Secara spesifik Bidang Penataan dan Pengendalian mempunyai fungsi penyelenggaraan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pengawasan dan penaatan.
Terkait dengan
rekomendasi UKL/UPL/SPPL
5 Dinas
Kebudayaan
Mempunyai tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan dan urusan Pemerintahan Daerah dan tugas pembantuan bidang/urusan kebudayaan. Untuk
Terkait dengan
rekomendasi konservasi cagar budaya
17 menyelenggarakan fungsinya, Dinas
Kebudayaan mempunyai tugas :
Menyelenggarakan Kegiatan Kesekretariatan
Menyelenggarakan Kegiatan Warisan Budaya
Menyelenggarakan Kegiatan Bahasa Sastra, Sejarah dan Permuseuman
Menyelenggarakan Kegiatan Adat, Tradisi Lembaga Budaya dan Seni
6
Dinas
Kependudukan Dan Catatan Sipil
Mempunyai fungsi penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan pencatatan sipil.
dalam melaksanakan fungsi mempunyai tugas :
menyelenggarakan kegiatan di bidang pelayanan pendaftaran penduduk;
menyelengarakan kegiatan di bidang pelayanan pencatatan sipil;
menyelenggarakan kegiatan di bidang pengelolaan informasi administrasi kependudukan; dan
menyelenggarakan kegiatan ketatausahaan.
Secara lebih spesifik :
mencatat, menerbitkan dan memberikan pelayanan Biodata Penduduk, Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan Kartu Identitas Anak (KIA);
Terkait dengan penerbitan KITAS/ Kartu Izin Tinggal Sementara, Migrasi dan Pertumbuhan Penduduk
18
mencatat, menerbitkan dan memberikan pelayanan Surat Keterangan Tinggal Sementara (SKTS) dan Surat Keterangan Tinggal Tetap (SKTT) bagi WNA yang memegang Kartu Identitas Tinggal Terbatas (KITAS) dan Kartu Identitas Tinggal Tetap (KITAP);
Menyediakan dan mendistribusikan blangko dokumen kependudukan dan formulir administrasi kependudukan;
Melaksanakan pelayanan pendaftaran penduduk di kecamatan dan kelurahan;
Melaksanakan pemantauan terhadap kepemilikan identitas penduduk;
Melaksanakan aktivasi data penduduk yang dibekukan;
Melaksanakan legalisasi dokumen pendaftaran penduduk;
Melaksanakan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan seksi;
7 Dinas Pariwisata
Bidang Destinasi Pariwisata mempunyai fungsi penyelenggaraan pengelolaan objek dan daya tarik wisata dan sarana prasarana pariwisata. Untuk menyelenggarakan fungsi tersebut, Bidang Destinasi Pariwisata mempunyai tugas :
melaksanakan pengembangan dan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.
Terkait dengan penerbitan
izin usaha
penyelenggaraan rumah kos merujuk pada KBLI 2020 melalui OSS
19
mempelajari peraturan perundang- undangan, kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk pelaksanaan serta bahan lainnya yang berkaitan dengan objek dan daya tarik wisata;
menyusun, melaksanakan dan mengendalikan program kerja Seksi;
menyiapkan bahan kebijakan teknis yang berkaitan dengan objek dan daya tarik wisata;
melaksanakan inventarisasi objek dan daya tarik wisata dan kawasan pariwisata;
melaksanakan inventarisasi dan evaluasi data pengunjung objek dan daya tarik wisata;
merencanakan pengelolaan kawasan strategis pariwisata;
melaksanakan inventarisasi potensi pariwisata Daerah;
menyiapkan pengembangan objek dan daya tarik wisata dan wisata minat khusus yang meliputi inventarisasi, perencanaan dan pembangunan;
menyiapkan bahan kerja sama dengan instansi terkait dalam pembinaan serta ketertiban objek dan daya tarik wisata;
menyusun rencana, mengembangkan dan melestarikan objek dan daya tarik wisata dan kawasan pariwisata;
20
menyelenggarakan pengelolaan retribusi dan pendapatan lain dari objek dan daya tarik wisata;
menyelenggarakan negosiasi dan kontrak kerja pengelolaan objek dan daya tarik wisata dengan pihak ketiga;
menyiapkan rekomendasi perizinan kegiatan yang dilaksanakan di objek dan daya tarik wisata;
melaksanakan pengelolaan kebersihan dan pemantauan objek dan daya tarik wisata dan kawasan pariwisata;
melaksanakan pengelolaan perparkiran dan pembinaan penitipan kendaraan di objek dan daya tarik wisata;
melaksanakan pengelolaan asuransi bagi pengunjung objek dan daya tarik wisata; dan
menyusun laporan pelaksanaan tugas Seksi.
melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas berkaitan dengan bidang tugasnya.
8 Satuan Polisi Pamong Praja
Penyusunan program ketentraman, ketertiban umum, perlindungan masyarakat, menegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;
Pelaksanaan kebijakan pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman,
Terkait dengan penegakan peraturan daerah dan pengendalian ketertiban umum.
21 ketertiban umum dan perlindungan
masyarakat;
Pelaksanaan kebijakan penegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;
Pelaksanaan koordinasi pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum dan perlindungan masyarakat serta Penegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati dengan aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan atau aparat penegak hukum;
Pengawasan terhadap masyarakat agar mematuhi dan mentaati Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;
Pengkoordinasian pelaksanaan kebijakan teknis, pemberian bimbingan, pembinaan dan pengawasan dibidang SATPOL PP;
Pelaksanaan urusan
kerumahtanggan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, surat- menyurat dan pelaporan;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
Table 1. Tupoksi OPD dalam Penyelenggaraan Rumah Kos
22 Berdasarkan peraturan tentang tata ruang, bangunan gedung, pengeleolaan lingkungan, adminsitrasi kependudukan, ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat dan pemerintahan daerah, maka sesuai lampiran UU pemerintahan daerah pemerintah kabupaten kota berwenang melakukan berbagai kebijakan untuk mengndalikan bangunan gedung, penyelenggaraan, pendataan kependudukan dan/atau kegiatan yang dapat menimbulkan perlindungan masyarakat.
2.2. Instrumen Hukum Penyelenggaraan Rumah Kos
Negara merupakan pemegang mandat dari rakyat yang bertanggungiawab untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pemenuhan hak warga negara khususnya hak mendapatkan tempat tinggal dan lingkungan yang baik dan sehat sebagairmana telah dijamin oleh Konstitusi. Di sisi lain setiap orang memiliki kewajiban untuk menghormati hak asasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaiman diatur dalam Pasal 28 J ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dengan adanya hak dan kewajiban tersebut, maka keberadaan negara berdasarkan Pasal 28 I ayat (4) bertanggung jawab untuk melakukan pemenuhan hak asasi manusia yang dilakukan dengan upaya menjaga (to protect), menghargai (to respect), dan memenuhi (to fullfil) hak asasi manusia tersebut. Dalam pelaksanaan hak terdapat kewajiban masyarakat, oleh karena itu pemerintah dan pemerintah daerah sclaku penyelenggara negara menetapkan peraturan perundang- undangan dan instrument hukum lainnya untuk mengatur kewajiban masyarakat dalam melaksanakan haknya.
Instrumen hukum yang digunakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah dalam mengatur dan mengendalikan usaha rumah kos
23 dilakukan melalui peraturan perundang-undangan dan perizinan yang berkaitan dengan penyelenggaraan rumah kos, antara lain Izin Mendirikan Bangunan, Izin Lingkungan, dokumen lingkungan dan Izin Usaha Penghunian.
Izin Penyelenggaraan Rumah Kos merupakan jenis izin yang sejenis dengan Izin Usaha Perdagangan di bidang perdagangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Izin usaha perdagangan ini merupakan instrument untuk pengawasan terhadap penyelenggaraan penyelenggaraan rumah kos dalam memenuhi kewajiban yang diatur oleh peraturan perundang- undangan yang terkait, misalnya IMB dan Izin Lingkungan serta instrument untuk mencantumkan kewajiban bagi penyelenggara rumah kos dan orang yang mondok melakukan kewajiban melaporkan identitasnya sebagai upaya pendataan identitas penduduk.
Berdasarkan pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi pemerintahan dicantumkan bahwa setiap keputuasn dan/atau tindakan pemerintah harus ditetapkan dan/atau dilakukan oleh badan dan/atau Pejabat pemerintahan yang berwenang, sehingga kewenangan merupakan salah satu unsur keabsahan tindak pemerintah. Berkaitan dengan apsal 8 ayat (1) tersebut, maka pengaturan penyelenggaraan rumah kos oleh pemerntah daerah haru didasarkan pada kewenangan
Dalam konsep otonomi daerah maupun daerah otonom terkandung wewenang (fungsi) mengatur (regelend) dan mengurus (bestuur). Perbuatan mengatur' berarti menciptakan norma hukum yang berlaku umum dan umumnya bersifat abstrak sebaliknya mengurus memiliki arti perbuatan menciptakan norma hukum yang berlaku individual dan bersifat konkret. Menurut Benyamin Hoesen, secara materiil, mengurus dapat berupa memberikan pelayanan kepada
24 orang atau badan tertentua dan/atau melakukan pembangunan proyek- proyek tertentu (secara konkret dan kasuistik.
Secara konseptual, pembentukan Perda termasuk dalam kategori wewenang mengatur yaitu menciptakan norma hukum yang berlaku umum. Pengaturan Perda dalam sistem perundang-undangan di Indonesia sebagai peraturan yang mengikat umum, khususnya dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan di daerah menunjukkan signifikansi dan eksistensi penting dari jenis peraturan ini. Terhadap hal ini Irawan Soejito (1983) menyatakan bahwa salah satu kewenangan yang sangat penting dari suatu Daerah yang berwenang mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri ialah kewenangan untuk menetapkan Peraturan Daerah. Sedangkan Amiroeddin Syarif (1987) menyatakan bahwa Peraturan daerah dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, yaitu mengatur segala sesuatunya tentang penyelanggaraan pemerintahan, pembangunan serta pelayanan terhadap masyarakat.
Senada dengan kedua pendapat tersebut, Bagir Manan (1992) berpendapat bahwa Peraturan daerah adalah nama peraturan perundang-undangaan tingkat daerah yang ditetapkan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Kewenangan Pemerintah Daerah membentuk Peraturan daerah merupakan salah satu ciri yang menunjukkan bahwa pemerintah tingkat daerah tersebut adalah satuan pemerintahan otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya sendiri. Dengan demikian Perda merupakan instrumen regulatif yang paling penting dalam mengejawantahkan kewenangan otonom daerah dalam mengurus dirinya sendiri.
Dalam kerangka pclaksanaan pemerintahan yang demokratis maka diperlukan pembentukan perundang-undangan yang menata penggunaan wewenang negara ataupun pemerintah daerah. Ketentuan
25 perundang-undangan ini setidaknya akan menjadi dasar hukum penggunaan wewenang (asas keabsahan); landasan prosedur (mencegah tindakan sewenang-wenang) dan konformitas (alat ukur untuk menilai benar-salahnya) tindakan pemerintah. Wewenang merupakan sebuah istilah hukum yang sepadan dengan "authority" "legal power”,
"bevoegheid". Dalam konsep hukum, "wewenang" mempunyai karakteristik sebagai "tindakan hukum publik". F.A. Stroink sebagaimana dikutip oleh Philipus M. Hadjon (1998) menyatakan :
"Dalam konsep hukum publik, wewenang merupakan suatu konsep inti dalam hukum tata negara dan hukum administrasi". Sedangkan menurut Henc van Maarseveen (1987): "Dalam hukum tata negara, wewenang (bevoegheid) dideskripsikan sebagai kekuasaan hukum (rechtsmacht).
Jadi dalam konsep hukum publik, wewenang berkaitan dengan kekuasaan.
Sesuai dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah, kewenangan daerah khususnya kewenangan untuk mengatur usaha bagi warga masyarakat agar memenuhi kewajibannya untuk tetap menghormati hak asasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka pemerintah daerah berwenang melakukan pengaturan penataan dan pengendalian penyelenggaraan rumah kos berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam konteks ini pemerintah kabupaten kulon progo berwenang untuk mengatur penyelenggaraan rumah kos sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam penyusunan peraturan daerah terkait usaha penghunian, norma-norma yang harus termuat sebagai berikut:
a. Norma kewenangan, yaitu norma yang mengatur keabsahan pemerintah dalam menetapkan izin, meliputi lembaga yang berwenangan menetapkan izin, prosedur pemberian izin substansi kegiatan yang memerlukan izin;
26 b. Norma perilaku, yaitu norma yang mengatur perilaku masyarakat,
baik penyelenggara rumah kos maupun penghuni. Norma tersebut meliputi:
1. Perintah bagi penyelenggara rumah kos untuk memiliki perizinan dan menjalankan kewajiban
2. Perintah bagi penghuni untuk melaksanakan kewajiban.
3. Larangan bagi penyelenggara rumah kos dan penghuni.
4. Dispensasi bagi penyelenggara rumah kos dan penghuni 5. Izin dalam penyelenggaraan rumah kos
2.3. Asas Penyusunan Peraturan Daerah
Peraturan Daerah merupakan salah satu bentuk peraturan perundang-undangan yang masuk dalam kategori produk hukum daerah.
Dalam penyelenggaraan rumah yang mewujudkan lingkungan yang baik dan sehat serta untuk menjaga ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat, maka penyelenggaraan usaha rumah kos harus memenuhi kewajiban dan hak sebagai diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam konsep negara, tindakan pemerintah daerah dalam membentuk peraturan daerah hasrus memiliki landasan hukum yang baik sebagai legitimasi pelaksanaan kebijakan guna memberikan jaminan dan perlindungan hukum yang seimbang. Dengan didasari pemikiran perlunya instrumen yang mewujudkan tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka diperlukan peraturan perundang- undangan yang memberikan jaminan kepastian hukum bagi pemerintah daerah untuk mengatur penyelenggaraan rumah kos sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut Montesquieu terkait dengan peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar hukum pengaturan, hal penting harus
27 diperhatikan adalah pembentukan peraturan perundang-undangan.6 Peraturan perundang-undangan yang baik merupakan peraturan perundang-undangan yang pembentukannya didasarkan pada asas- asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Maria Farida Indrati bahwa asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan adalah suatu pedoman atau suatu rambu-rambu dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik.7
Asas-asas umum pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behoorlijke wetgeving) adalah asas hukum yang memberikan pedoman dan bimbingan bagi penuangan isi peraturan ke dalam bentuk dan susunan yang sesuai, bagi penggunaan metoda pembentukan yang tepat, dan mengikuti proses dan prosedur pembentukanya yang telah ditentukan.8 Berkaitan dengan dengan asas- asas yang menjadi dasar dalam pembentukan peraturan perundang- undangan yang baik, Van der Vlies telah membagi dalam dua asas, yakni asas-asas formal dan asas-asas materiil.
Asas-asas yang formil meliputi : het beginselen van duidelijke doelstelling, beginsel van juiste orgaan, het noodzakelijkheids beginsel, het beginsel van utvoerbaarheid, het beginsel van consensus)
(asas tujuan yang jelas, asas organ yang tepat, asas urgensi, asas kemungkinan pelaksanaan, asas konsensus).
66 Montesquieu, The Spirit Of Laws, University of California Press, 1977 diterjemahkan oleh M.
Khoirul Anam, Dasar-Dasar Ilmu Hukum dan Ilmu Politik, Nusamedia, Bandung, 2007, h.361
7 Maria Farida Indrati, Ilmu Perundanmg-undangan (Proses dan Teknik Pembuatannya), Buku 2, Kanisius, 2007. h.226
8Hamid Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintah Negara, Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, h. 313. Lihat Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang undangan Yang Baik Dalam Rangka Pembuatan Undang-Undang Yang Berkelanjutan. 2007, h. 22.
28 Selanjutnya asas-asas yang material meliputi: het beginsel duidelijke terminologie en duidelijke. systematiek, het beginsel van de kenbaarheid, het rechtsgelijkheidsbeginsel, het rechiszekerheid, het beginsel van de individuele rechtsbedeling.9
(asas terminology dan sistematika yang jelas, asas kemudahan untuk diketahui, asas kesamaan hukum, asas kepastian hukum, Asas penerapan-hukum yang khusus).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, maka pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia harus didasarkan pada asas formil dan materiil yang tertuang dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011. Tujuan pembentukan UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan ini adalah memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang-undangan yang baik dapat dilaksanakan. Terhadap kebutuhan tersebut perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan.
Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behoorlijke wetgeving) menurut Van der Vlies, telah banyak mempengaruhi rumusan sebagai dasar hukum dan pedoman bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam membentuk peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pengaruh penerapan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik tercermin
9 Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Yang Baik Dalam Rangka Pembuatan Undang-Undang Yang Berkelanjutan. 2007, h.22. LihatVan der Vlies L.C. Het Wetsbegrip en Beginselen van BehoorlijkeRegelgeving, VUGA Uitgeverij B.V.S Gravenhage. Lihat Juga Linus Doludjawa (alih Bahasa), Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundang-Undangan,Direktorat Jenderal Perturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan Hak Asassi Manusia RI, Jakarta, 2005, h.258-307
29 dalam asas-asas yang bersifat formil sebagaimana tertuang dalam Pasal 5 yang meliputi10:
a. Asas Kejelasan Tujuan
Asas kejelasan tujuan mengandung makna bahwa setiap pembentukan peraturan perundang undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Asas tujuan yang jelas memberikan makna bahwa pembentukan peraturan perundang- undangan harus memiliki tujuan yang jelas. Kejelasan tujuan ini menurut Van der Vlies terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu11:
1. Kerangka kebijakan umum bagi peraturan yang akan dibuat 2. Tujuan tertentu dari peraturan yang akan dibuat; dan
3. Tujuan dari berbagai bagian dalam peraturan.
Berdasarkan asas tujuan yang jelas tersebut, maka Pembentukan rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo tentang Penyelenggaraan Rumah Kos memiliki tujuan sebagai berikut:
Melindungi penyelenggara Rumah Kos melalui aspek legalitas dan mekanisme perizinan Rumah Kos
Menjamin terselenggaranya Rumah Kos yang memenuhi hak asasi manusia dan terciptanya ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat;
Menjadi acuan bagi pemerintah kota dalam menyusun regulasi untuk memberikan pelayanan, penertiban, pengawasan dan pengendalian Rumah Kos.
b. Asas Kelembagaan Atau Pejabat Pembentuk Yang Tepat
Asas kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat mengandung makna bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat
10Penjelasan Undang-Undang Nonor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 5 dan Pasal 6
11 I.C. Van der Vlies, Handboek Wetgeving, alih bahasa Linus Dolujawa, Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundang-undangan, Departemen Hukum dan HAM RI, 2005, h. 258
30 oleh lembaga Negara atau pejabat pembentuk peraturan perundang- undangan yang berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga Negara atau pejabat yang tidak berwenang. Berdasarkan asas kelembagaan, maka penyusunan naskah akademik rancangan Perda Kabupaten Kulon Progo tentang Penyelenggaraan Rumah Kos dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang dalam pelaksanaannya dikoordinasi oleh Bagian Pemerintahan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Satuan Polisi Pamong Praja serta Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Kulon Progo
c. Asas Kesesuaian Antara Jenis, Hierarki dan Materi Muatan
Asas kesesuaian antara jenis, hierarki dan materi muatan mengandung makna bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat seduai dengan jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. Terkait dengan asas kesesuaian antara jenis, hierarki dan materi muatan, maka pengaturan penyelenggaraan rumah kos yang memuat norma perilaku bagi penyelenggara Rumah Kos yang berupa perizinan, kewajiban, larangan dan sanksi.
d. Asas Dapat Dilaksanakan
Asas dapat dilaksanakan mengandung makna bahwa setiap pembentukan peraturan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis maupun yuridis. Berdasarkan asas dapat dilaksanakan, maka pembentukan naskah akademik dan rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo tentang Penyelenggaraan Rumah Kos dilakukan melalui penelitian dan analisa situasi, FGD, dimana dalam pelaksanaan tahapan ini dilakukan dengan melibatkan stake holder dan bertujuan untuk