• Tidak ada hasil yang ditemukan

NURUL ATIKA HIDAYAH AGRIBISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NURUL ATIKA HIDAYAH AGRIBISNIS"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA MEDAN

SKRIPSI

OLEH :

NURUL ATIKA HIDAYAH 120304020

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

(2)

KOTA MEDAN

SKRIPSI

OLEH :

NURUL ATIKA HIDAYAH 120304020

AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melaksanakan Penelitian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

(3)
(4)
(5)

Nurul Atika Hidayah (120304020) dengan judul skripsi “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan”. Skripsi ini dibimbing oleh Bapak Ir. Yusak Maryunianta, M.Si dan Ibu Ir. AT Hutajulu, MS.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan, dan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

Metode penentuan daerah lokasi dilakukan secara purposive (sengaja). Metode penentuan sampel yang digunakan adalah random sampling. Metode analisis yang digunakan adalah metode skala Likert dan metode chi-square.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : (1) Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah positif. (2) Faktor Aksesibilitas berhubungan nyata dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan memperlihatkan bahwa tingkat keeratan hubungan aksesibilitas dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan tergolong sedang. Tetapi tidak terdapat hubungan yang nyata antara faktor kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

Kata Kunci : Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah, Pusat Pasar Kota Medan, Pasar Induk Sayur-Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan, Pedagang Pengecer Sayur dan Buah

\

(6)

ii

Nurul Atika Hidayah (120304020) with the title of research “Determinants Related To Perception Of Vegetable and Fruits Retailers Toward The Presence Of The Pasar Induk Of Vegetables and Fruits In Medan”. This research is guided by Mr. Ir. Yusak Maryunianta and Mrs. Ir. AT Hutajulu, MS.

The research objective is to analyze the perception of vegetables and fruits retailers toward the presence of the Pasar Induk of vegetables and fruits in Medan , and to analyze factors related to the perception of vegetable and fruit retailers.

The method of Location determination in this research is purposively and the sampling method used is accidental sampling. The data analysis method used in this research is is the likert scale and chi-square.

The results show that : (1) perception of vegetables and fruits retailer on existence of Pasar Induk Medan is positive. (2) the accessibility factor is significantly related to the perception of the vegetable and fruit retailers on the existence of Pasar Induk Medan with level classification of coefficient correlation is medium . there is no significant realtionship between comfort factor, variation of product, product quality, and price with the perception of the retailer of vegetables and fuits toward the existence of Pasar Induk Medan.

Keywords: Perseption of Retailer, Pusat Pasar Kota Medan, Pasar Induk Kota Medan, Sellers of Vegetable and Fruit Retailers

(7)

Nurul Atika Hidayah, lahir di Medan pada tanggal 28 Januari 1995. Penulis merupakan anak ke tiga dari Alm. Bapak Suheri dan Ibu Sujiah.

Pendidikan Formal yang di tempuh penulis adalah sebagai berikut :

1. Tahun 2000 masuk Sekolah Dasar Swasta Yayasan Perguruan Syiar Islam Medan dan lulus padatahun 2006.

2. Tahun 2006 masuk SMP Negeri 6 Medan dan lulus tahun 2009.

3. Tahun 2009 masuk SMA Swasta Kesatria Medan dan lulus tahun 2012.

4. Tahun 2012 di terima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui SNMPTN.

5. Bulan Agustus 2015 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Bahbolon, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.

6. Bulan April 2017 melakukan penelitian skripsi di Pusat Pasar Kota Medan dan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan.

(8)

iv

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat-Nya yang berlimpah untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan”.

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari arahan, bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa hormat dan syukur penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya, karena telah memberikan waktunya kepada penulis untuk membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis dengan tulus ikhlas dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Ir. Yusak Maryunianta, M.Si selaku Ketua Komisi Pembimbing.

2. Ibu Ir. AT Hutajulu, MS selaku Anggota Komisi Pembimbing.

3. Bapak Dr. Ir. H. Hasman Hasyim, M.Si selaku Dosen Penguji I.

4. Ibu Sri Fajar Ayu, SP, MM.DBA, Selaku Dosen Penguji II.

5. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec, selaku Ketua Program Studi Agribisnis, dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kemudahan selama perkuliahan.

6. Kepada seluruh dosen dan pegawai Fakultas Pertanian, khususnya dosen dan pegawai Program Studi Agribisnis yang selama perkuliahan membekali ilmu dan pengetahuan serta bimbingan selama perkuliahan.

(9)

yang selalu memberikan semangat, doa, kasih dan sayang kepada penulis.

8. Kepada Bapak/Ibu/Abang/Kakak Pedagang Pengecer (Retailer) yang di Pusat Pasar Kota Medan dan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan yang telah menyambut ramah dan dan memberikan waktu kepada saya dalam kegiatan wawancara untuk membagi informasi yang dibutuhkan penulis.

9. Tersayang teman seperjuangan, sekisah, dan berbagi, yang bernama Nursamsi Hutabarat, SP, Suci Handayani, SP, dan Asriyani, SP sebagai teman yang selalu menjadi penyemangat.

10. Kepada teman sejawat Kakanda Afrizal Suheri, SE, OK. Agoes H, SH, Aulia Karina, SE, Ola Yennisa S.Psi, Nadia Raudha Anugrahi, Rizky Risanty, dan Keluarga besar Yayasan Perguruan Kesatria Medan yang tak hentinya membimbing, mendidik, dan mendukung saya hingga saat ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi. Akhirnya penulis ucapkan terima kasih dan berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi banyak pihak.

Medan, Januari 2018

Penulis

(10)

vi

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Kegunaan Penelitian ... 5

1.5 Keaslian Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi ... 7

2.2 Pedagang Pengecer (Retailer) ... 9

2.3 Pengertian Pasar ... 10

2.4 Sayur dan Buah ... 13

2.5 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) ... 13

2.6 Landasan Teori ... 16

2.7 Penelitian Terdahulu ... 16

2.8 Kerangka Pemikiran ... 21

2.9 Hipotesis Penelitiam ... 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penetuan Daerah Penelitian... 24

3.2 Metode Penentuan Sampel ... 24

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 25

3.4 Metode Analisis Data ... 26

3.5 Definisi dan Batasan Operasional ... 33

3.5.1 Definisi ... 33

3.5.2 Batasan Operasional ... 35

(11)

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian Penelitian ... 36

4.1.1 Keadaan Geografi ... 36

4.1.2 Keadaan Penduduk Kota Medan ... 37

4.1.3 Pasar di Kota Medan... 38

4.2 Karakteristik Sampel Penelitian ... 39

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Mayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan ... 41

5.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan ... 47

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 58

6.2 Saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

\

(12)

viii

Tabel Judul Hal

1 2

Tabulasi Penelitian Terdahulu Pernyataan Positif

17 28

3 Penyataan Negatif 28

4 Kategori Jawaban Pernyataan Persepsi Positif Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

29

5 Kategori Jawaban Pernyataan Persepsi Negatif Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

29

6 Komposisi Penduduk Kota Medan 37

7 Jumlah Pasar di Kota Medan beserta Luasnya 38

8 Karakteristik Sampel 39

9 Tanggapan Positif Pedagang Pengecer (Retailer) Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

42

10 Tanggapan Negatif Pedagang Pengecer (Retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

44

11 Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan

45

12 Hubungan Aksesibilitas Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

47

13

Nilai Chi-Square Hubungan Aksesibilitas Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

48

(13)

Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

15

Nilai Chi-Square Hubungan Kenyamanan Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

50

16

Hubungan Variasi Jenis Produk Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

51

17

Nilai Chi-Square Hubungan Variasi Jenis Produk Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah- Buahan Kota Medan

52

18

Hubungan Kualitas Produk Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

54

19

Nilai Chi-Square Hubungan Kualitas Produk Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah- Buahan Kota Medan

54

20

Hubungan Harga Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

56

21

Nilai Chi-Square Hubungan Harga Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

56

(14)

x

Gambar Judul Halaman

1 Skema Kerangka Pemikiran 22

(15)

Lampiran Judul

1 Karakteristik Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Di Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan Dan Pusat Pasar Kota Medan

2

Tanggapan Responden Terhadap Pernyataan Positif Sikap Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah

3

Tanggapan Responden Terhadap Pernyataan Negatif Sikap Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah

4

Total Skor Responden Terhadap Pernyataan Positif Dan Negatif Sikap Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah

5

Interpretasi Terhadap Pernyataan Positif Dan Negatif

6

Tanggapan Pedagang Pengecer (Retailer) Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

7

Hubunga Aksesibilitas, Kenyamanan, Variasi Jenis Produk, Kualitas Produk, Dan Harga Dengan Persepsi Pedagang Sayur Mayur Dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah- Buahan Kota Medan

8

Persentase Skor dan Kriteria Jawaban Responden Tingkat Aksesibilitas

9

Persentase Skor dan Kriteria Jawaban Responden Tingkat Kenyamanan

10

Persentase Skor dan Kriteria Jawaban Responden Tingkat Variasi Jenis Produk

11

Persentase Skor dan Kriteria Jawaban Responden Tingkat Kualitas Produk

12

Persentase Skor dan Kriteria Jawaban Responden Tingkat Harga

13

Hasil Analisis Chi-Square Hubungan Aksesibilitas, Kenyamanan, Variasi Jenis Produk, Kualitas Produk, Dan Harga Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Kota Medan

14

Kuesioner

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki hasil pertanian yang berlimpah, terutama produk hortikultura seperti sayur mayur. Jenis tanaman ini mempunyai nilai komersial cukup tinggi.

Kenyataan ini mudah dipahami sebab tanaman sayuran merupakan produk pertanian yang senantiasa dikonsumsi setiap hari. Dengan melihat kebutuhan terhadap sayur yang kontinu maka nilai pasar tanaman ini cukup baik.

Kecenderungan produksinya dari tahun ke tahun terus meningkat, jarang mengalami penurunan yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pasar terhadap tanaman ini terus meningkat. Bahkan akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat untuk mengurangi mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi, terutama dari bahan hewani beralih ke bahan nabati. Salah satu gejalanya disebut Vegetarian (paham yang hanya mengkonsumsi bahan nabati) (Setiawan, 1995).

Agar pemenuhan kebutuhan akan produk pertanian sampai ke tangan konsumen, maka diperlukan adanya kegiatan pemasaran produk pertanian tersebut. Dalam hal melancarkan penyampaian dan memindahtangankan barang-barang dari produsennya ke pasar (konsumen), peranan lembaga-lembaga perpasaran demikian besar. Perusahaan dagang, perusahaan pengepakan, perusahaan angkutan, perusahaan pertanggungan, kesemuanya memegang peranan dalam menyampaikan produk-produk itu ke pasar (konsumen) dengan menjamin sampainya produk-produk itu ke konsumen tanpa ada kerusakan-kerusakan disamping waktu penyampaiannya yang tepat (Kartasapoetra, dkk,1986).

(17)

Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Saladin, 2003). Secara umum, pengertian pemasaran adalah kegiatan pemasaran untuk menjalankan bisnis guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang dan atau jasa, menetapkan harga, mendistribusikan, serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.

Di kota-kota besar, pihak pemerintah sangat memperhatikan tentang perlu dan teraturnya tempat-tempat pertemuan antara pedagang besar dengan para pedagang pengecer (retailer) serta memungkinkan pula para konsumen untuk secara langsung mengadakan transaksi jual beli, yaitu dengan dibangunnya Pasaran Pusat Distribusi /Pasar Induk (Kartasapoetra, dkk,1986) .

Lokasi pasar yang berada dekat pemukiman, juga mengakibatkan lingkungan menjadi terasa kumuh. Belum lagi masyarakat yang juga ikut membuang sampah di pasar, sedangkan pasar sendiri tidak memiliki sistem penampungan sampah yang baik.

Menurut Sholahuddin (2016), demi mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera perlu adanya pembangunan di suatu daerah, yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup, sehingga mampu mewujudkan ketentraman dan kesejahteraan

(18)

hidup masyarakat. Pembangunan secara umum berarti perbaikan di semua sektor, salah satunya adalah pembangunan dibidang ekonomi yaitu pembangunan pasar.

Pentingnya pembangunan pasar karena kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat dan pasar telah menjadi penopang utama perekonomian di suatu daerah.

Menurut Sukirno (1985), pembangunan daerah erat kaitannya dengan perekonomian. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrasturuktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi semakin meningkat.

Sebelumnya di kota Medan telah ada Pusat Pasar yang terletak di Kelurahan Pandau Hilir Kecamatan Medan Kota yang resmi dibuka pada 1 Maret 1933, seiring berjalannya waktu jumlah pedagang di Pusat Pasar tersebut terus bertambah dan tata letak pasar sudah tidak teratur lagi sehingga membuat lokasi ini menjadi kumuh. Mereka tertarik masuk ke sektor ekonomi ini karena tiga hal, (1) hampir tiadanya prosedur resmi dalam pendirian usaha sektor ini, karenanya hampir tidak memerlukan biaya dan waktu yang lama, (2) persyaratan modal relatif kecil, dan (3) potensi keuntungannya cukup baik (Rachbini, 1994).

Pada April 2015 Pusat Pasar perbelanjaan sayur-mayur dan buah-buahan direlokasi ke Jl. Lau Cih Tuntungan yang diberi nama Pasar Induk sayur-mayur dan buah-buahan. Namun relokasi ini tidak sepenuhnya disambut baik oleh pedagang, karena terbukti relokasi ini sempat menimbulkan polemik dan konflik diantara pedagang distributor dengan pemerintahan daerah, sesama pedagang

(19)

distributor, dan pedagang pengecer (retailer) dengan pemerintah daerah. Sehingga masih banyak pedagang yang berjualan di Jl Sutomo dan sekitarnya. Meskipun sebagian besar pedagang sudah pindah ke Pasar Induk baru yang beralamat di Jl.

Lau Cih Tuntungan.

Di Pusat Pasar ini adanya pertemuan pedagang distributor dengan pedagang pengecer (retailer) sehingga menimbulkan masalah lalu lintas yang padat dan bau bagi masyarakat yang melewati akses Jl. Sutomo dan Jl. Veteran.

Dilihat dari sisi pedagang distributor masih berjualan di Pusat Pasar karena masih banyak pedagang pengecer (retailer) yang datang ke pasar tersebut. Hal ini menjadikan pedagang distributor betah dan tetap tidak mau pindah ke Pasar Induk. Hal ini perlu dikaji mengenai persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan , serta faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan untuk mencocokkan segala kekurangan yang ada sehingga pedagang pengecer (retailer) akan tertarik untuk berbelanja ke Pasar Induk dengan demikian semua pedagang distributor dapat murni direlokasi ke Pasar Induk karena pedagang pengecer (retailer) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.

(20)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan kota Medan?

2. Apakah ada hubungan yang nyata antara faktor-faktor yaitu aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini, maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan kota Medan.

2. Menganalisis faktor-faktor yaitu aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga yang berhubungan nyata dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

(21)

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dan kebijaksanaan dalam pengembangan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi peneliti lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

3. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

1.5 Keaslian Penelitian

1. Metode penelitian : dalam penelitian ini menggunakan metode summated likert rating dan Chi-Square dengan alat bantu Statistical Product and Service Solutions (SPSS).

2. Variabel penelitian : penelitian ini menggunakan variabel persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah, dan (5) variabel faktor-faktor yaitu aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga.

3. Jumlah observasi/sampel (n) : penelitian ini menggunakan sampel sebesar 43 pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah, dimana baik yang berbelanja di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan Pusat Pasar Kota Medan.

4. Waktu penelitian : penelitian dilakukan pada tahun 2017.

5. Lokasi penelitian : penelitian ini dilakukan di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan Pusat Pasar Kota Medan.

(22)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persepsi

Persepsi secara etimologi diartikan sebagai pandangan terhadap suatu objek tertentu (Purwodarminta, 1984). Persepsi juga bisa diartikan sebagai proses, pemahaman terhadap sesuatu informasi yang disampaikan oleh orang lain yang sedang saling berkomunikasi, berhubungan, atau kerja sama. Selanjutnya pendapat dari skema terjadinya persepsi oleh (Hamka 2002), tentang persepsi Proses fisik, proses di tangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia, Proses Fisiologis, Proses diteruskannya stimulus yang di terima oleh reseptor melalui saraf saat sensoris, proses psikologik, proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang di terima reseptor, dan proses persepsi, Tanggapan dan perilaku. Menurut teori ini, pengaruh yang terjadi pada pihak penerima pada dasarnya merupakan suatu reaksi tertentu dari stimulus (rangsang) tertentu.

Dengan demikian besar atau kecil bentuk pengaruh dan persepsi (respon) tergantung pada stimulus.

Persepsi menurut Rakhmat Jalaludin (1998), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Proses persepsi bukan hanya proses psikologi semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis yang dikenal sebagai sensasi. Menurut Schiffman dan Kanuk (2004) yang disitasi oleh Suryani (2008) mendefinisikan persepsi sebagai proses

(23)

dimana dalam proses tersebut individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulasi menjadi sesuatu yang bermakna.

Gibson (1997) menjelaskan bahwa persepsi terjadi kapan saja, dimana stimulus menggerakan indera yang dipengaruhi faktor-faktor antara lain, sterecti, kepandaian menyaring, konsep diri, keadaan kebutuhan, dan emosi. Persepsi mencakup kognisi (pengetahuan), penafsiran obyek tanda dan orang dari sudut pemahaman yang bersangkutan. Dengan perkataan lain dijelaskan bahwa persepsi mencakup penerimaan, stimulus, pengorganisasian stimulus yang telah di organisasikan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap.

Proses terjadinya persepsi adalah karena adanya objek/stimulus yag merangsang untuk ditangkap oleh panca indra (objek tersebut menjadi perhatian panca indra), kemudian stimulus tersebut dibawa ke otak. Dari otak terjadi adanya “kesan” atau jawaban adanya stimulus berupa respon, dikembalikan ke indra berupa

“tanggapan” atau persepsi atau hasil kerja indra berupa pengalaman hasil pengolahan otak. Proses terjadinya persepsi ini perlu fenomena, dan yang terpenting fenomena dari persepsi ini adalah “perhatian”. Perhatian merupakan suatu konsep yang diberikan pada proses persepsi yang menseleksi input-input tertentu untuk diikutsertakan dalam suatu pengalaman yang kita sadari dalam suatu waktu tertentu (Widayatun, 1999).

Menurut Engel, et al. (1995), sikap adalah suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan seseorang memberikan respon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan terhadap suatu obyek atau alternatif yang diberikan. Lebih

(24)

jauh, sikap dikonseptualisasikan sebagai perasaan positif atau negatif terhadap merek dan dipandang sebagai hasil dari penilaian merek dan atribut evaluatif yang penting. Sikap relevan terhadap prilaku pembelanja ditampilkan oleh sikap yang terbentuk sebagai hasil dari pengalaman langsung individu dengan produk, berdasarkan informasi yang diberikan oleh pihak ataupun pengetahuan yang diperoleh dari media massa.

2.2 Pedagang Pengecer (Retailer)

Aktivitas pemasaran tentunya tidak terlepas dari aktivitas transaksi atau pertukaran baik barang maupun jasa, dimana prosesnya meliputi lembaga- lembaga pemasaran seperti produsen, distributor, dan pengecer (retailer), sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen akhir.

Menurut Ma’ruf (2005), bisnis retail adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk keperluan diri sendiri, keluarga, atau rumah tangga.

Retailing adalah serangkaian kegiatan usaha yang memberikan nilai tambah pada produk dan jasa yang dijual kepada pelanggan untuk penggunaan pribadi atau keluarga.

Menurut Kotler dam Armstrong (2003), usaha eceran adalah suatu usaha yang kegiatannya menyangkut penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen untuk penggunaan pribadi nir-bisnis. Retailing merupakan aktivitas paling akhir dari rangkaian perjalanan produk dari produsen ke konsumen akhir.

Jenis-jenis pengecer toko dapat dibedakan diantaranya toko khusus, toko serba ada, pasar swalayan, toko klontong, toko discount, dan pengecer potongan harga.

(25)

Menurut Simamora (2003), secara garis besar pedagang pengecer dapat dibedakan menjadi pengecer toko (store retailing) dan pengecer bukan toko retailing (non- store retailing).

Persepsi pedagang sayur dan buah adalah tanggapan atau respon pedagang pengecer sayur dan buah, serta reaksinya terhadap stimulus yang menghasilkan pengaruh atau penolakan, kepositifan atau kenegatifan, penilaian suka atau tidak suka terhadap suatu objek.

Dengan demikian dalam konteks penelitian ini pedagang pengecer (retailing) yaitu seseorang yang melakukan usaha membeli sayur dan buah dari Pasar Induk dan Pusat Pasar dan kemudian menjualnya kembali ke konsumen akhir.

2.3 Pengertian Pasar

Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam hal ini lebih condong ke arah Pasar Tradisional. Sedangkan dalam arti luas adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih condong ke arah pasar modern. Seperti yang dikemukakan oleh Umar (2005) dalam Dyah Arum (2008), Pasar merupakan suatu lapangan atau pelataran yang sebagian beratap atau sebagian terbuka, seluruhnya terbuka atau tertutup yang sesuai berdasarkan peraturan dan ketentuan pemerintah setempat.

Menurut Johan (2011), pasar merupakan tempat berkumpul para penjual yang menawarkan barang ataupun jasa kepada para pembeli yang mempunyai keinginan dan kemampuan untuk memiliki barang dan jasa tersebut, hingga terjadinya kesepakatan transaksi atau transfer atas kepemilikan barang atau kenikmatan jasa.

(26)

Menurut Kartasapoetra, dkk (1986), ada lima jenis pasar produk pertanian, yaitu:

a. Pasar transit (pasar penampung sementara)

Pasar transit lazimnya dibentuk oleh individu yang bergerak secara wiraswasta atau oleh suatu badan yang mempunyai inisiatif membantu para petani atau produsen produk pertanian. Untuk penampungan produk-produk pertanian tersebut lazimnya dimanfaatkan pula terminal-terminal, karenanya sering dikenal pula terminal market, di terminal inilah wiraswastawan atau badan tersebut melakukan beberapa pengolahan, sehingga di terminal ini produk pertanian tersebut benar-benar dalam keadaan siap dipasarkan. Di terminal ini pula wiraswastawan atau badan tersebut akan berhadapan dengan para tengkulak atau pemborong, dan terjadinya transaksi.

b. Pengembang pasar lokal/setempat

Orang-orang yang terlibat dalam pengembang pasar lokal ini adalah para penampung atau pengumpul produk pertanian yang jumlahnya agak besar dan seterusnya secara rasional akan diangkutnya ke kota-kota yang akan dipasarkan melalui Pasar Induk, atau para pedagang besar yang ada di kota- kota.

c. Pasar pusat distribusi/pasar induk

Di kota-kota besar, pihak pemerintah sangat memperhatikan tentang perlu dan teraturnya tempat-tempat pertemuan antara pedagang besar dengan para pedagang eceran serta memungkinkan pula para konsumen untuk secara langsung mengadakan transaksi jual beli, yaitu dengan dibangunnya Pasaran Pusat Distribusi /Pasar Induk.

(27)

d. Pasar eceran

Pasar produk yang khusus melayani kebutuhan para konsumen rumah tangga akan produk-produk pertanian dan tersebar di kota dan sekitarnya.

e. Pasar dunia (pasaran ekspor dan impor).

Pasar ekspor dan impor umumnya terletak di kota-kota yang memiliki fasilitas-fasilitas pelabuhan yng memelihara hubungan dengan pasar dunia.

Pasar dunia merupakan segenap hal ikhwal yang mengenai pertukaran atau jual beli sesuatu produk pertanian yang berlangsung di antara negara-negara di dunia.

Pasar tradisional sudah ada sejak zaman kerajaan Kutai pada abad 15, dimulai dari barter lalu menjadi tawar menawar harga barang kebutuhan sehari-hari.

Selain menjadi tempat berdagang, pasar pada zaman dahulu juga di jadikan sebagai tempat bersosialisasi, menjadi ajang tempat pertemuan, tempat penyebaran agama dan politik. Citra negatif tidak pernah lepas mengenai pasar tradisional, mulai dari kondisi pasar yang kotor, becek, tidak aman dan tidak sehat. Selain itu fasilitas yang disediakan pun sangat kurang, mulai dari kondisi toilet yang tidak terurus sampai dengan tempat parkir yang tidak sesuai.

Di negara seperti Indonesia dengan proporsi populasi pertanian yang sangat besar, sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi pertumbuhan pasar dalam negeri, bagi sektor-sektor non-pertanian, khususnya industri. Pengeluaran petani untuk produk-produk industri baik barang-barang konsumsi (pakaian, meubel, alat-alat bangunan, dan peralatan rumah tangga), maupun barang-barang produsen (pupuk, pestisida, mesin, dan input-input lainnya) memperlihatkan

(28)

aspek yang sangat penting dari kontribusi pasar sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi (Tambunan, 2003).

2.4 Sayur dan Buah

Sayuran adalah tanaman hortikultura yang dibudidayakan untuk memproduksi pangan yang dikonsumsi dalam bentuk segar atau setelah diolah secara minimal.

Sedangkan buah adalah hasil pertumbuhan bunga atau rangkaian bunga angiospermae atau merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah. Pada beberapa spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Sebagai pelengkap menu, sayur dan buah mempunyai peran yang penting. Sayuran dan buah-buahan adalah sumber vitamin dan mineral utama. Buah juga dikenal sebagai sumber zat berkhasiat, antioksidan, dan serat(Poerwanto dan Anas, 2014).

2.5 Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

Berikut faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Dalam penelitian ini pedagang yang dimaksud adalah pedagang eceran yang untuk dijual kembali. Secara umum pedagang yang dimaksud adalah semua pedagang pengecer (retailer) yang berbelanja di Pasar Induk dan Pusat Pasar.

1. Aksesibilitas

Jarak atau lokasi merupakan salah satu yang menentukan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur

(29)

dan Buah-Buahan Kota Medan. Semakin dekat lokasi pasar dengan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah semakin besar kemungkinan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah memilih pasar tersebut. Atau semakin dekat pasar tersebut dengan pusat kota atau tidak jauh dari kecamatan daerah tempat tinggal pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah, maka pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah akan memilih lokasi tersebut.

Beberapa jenis tata guna lahan mungkin ada di satu atau dua lokasi saja dalam suatu kota seperti pasar induk atau pusat pasar. Dari sisi jaringan transportasi, kualitas pelayanan transportasi pasti juga berbeda-beda, sistem jaringan transportasi di suatu daerah mungkin lebih baik dibandingkan dengan daerah lainnya baik dari segi kuantitas (kapasitas) maupun kualitas (frekuensi dan pelayanan).

2. Kenyamanan Berbelanja

Nyaman adalah kondisi dimana kita merasa diri kita dihargai, merasa aman, senang dan tidak ada beban pikiran dan tekanan dari pihak manapun.

Kenyamanan perlu didapatkan setiap orang dalam setiap kegiatannya, karena bila tidak nyaman, sesuatu yang dikerjakan tidak akan menjadi maksimal hasilnya.

Kenyamanan itulah yang sebisa mungkin diberikan pihak pemerintah kota Medan kepada pedagang pengecer (retailer) yang berbelanja agar pedagang dan konsumen merasa nyaman dan senang berjualan dan berbelanja di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan sehingga memberikan kinerja terbaik terhadap masyarakat.

(30)

3. Variasi Jenis Produk

Variasi jenis produk merupakan kumpulan seluruh produk, macam-macam produk dalam artian lengkapnya produk mulai dari jenis, ukuran, dan kualitas. Dalam hal ini, semakin banyak atau lengkapnya sayur dan buah-buahan di pasar menentukan persepsi pedagang pengecer (retailer) terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Jika setiap saat pedagang pengecer (retailer) berbelanja dan semua kebutuhan yang diinginkannya tersedia, maka pedagan pengecer (retailer) cenderung berbelanja ke tempat tersebut.

4. Kualitas Produk

Kepuasan pelanggan sangat berkaitan erat dengan kualitas. Kualitas memuaskan yang sudah dirasakan memberikan kepuasan terhadap keinginan pedagang.

Pedagang pengecer (retailer) yang puas selanjutnya kembali membeli produk tersebut (Kotler, 1994).

5. Harga

Harga adalah jumlah yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu barang dan pelayanan yang menyertainya. Pedagang pengecer (retailer) sangat tergantung pada harga sebagai indikator kualitas produk. Persepsi pedagang pengecer (retailer) terhadap produk sering berubah-ubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada harga. Harga merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam persepsi pedagang pengecer (retailer) terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan, apabila harga murah maka pedagang pengecer (retailer) dengan sendirinya tertarik serta diikuti dengan jumlah pembelian yang lebih banyak (Sumarwan, 2004).

(31)

2.6 Landasan Teori

Persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalaman- pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi suatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan individu lain.

Persepsi itu bersifat individual (Walgito, 2010)

Objek persepsi yang berwujud manusia disebut social perseption atau person perception, sedangkan persepsi yang berobjekkan non manusia, hal ini disebut sebagai nonsocial perseption atau disebut juga things perseption (Walgito, 2010).

Dalam membahas persepsi pedagang terhadap relokasi pasar, teori yang paling berkaitan dengan ini adalah teori lokasi. Menurut Tarigan (2009) dan Rustiadi, dkk (2009), terdapat beberapa teori lokasi dalam studi ruang salah satunya Teori Lokasi Pendekatan Pasar Losch. August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar). Ia mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari pasar, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjualan (pasar) semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar yang identik dengan penerimaan terbesar.

2.7 Penelitian Terdahulu

Untuk mengetahui penelitian yang dilakukan terlepas dari plagiat (originalnya) maka dilakukan pemetaan (mapping) penelitian yang sudah dilakukan. Penelitian terdahulu yang diperoleh dari berbagai sumber disajikan pada satu tabel yang menggambarkan nomor, nama peneliti, judul, perumusan masalah, variabel pengamatan, metode analisis, dan kesimpilan. Hasil riset terdahulu yang relevan

(32)

dengan riset, dilakukan pada aspek metode, rancangan pada model analisis yang dapat memperkaya metode yang ada maupun model analisis yang ada.

Berdasarkan tabulasi penelitian terdahulu akan memberikan gambaran riset yang dilakukan dan menyebabkan keaslian riset yang dilakukan. Gambaran tabulasi penelitian terdahulu yang sudah dilakukan dapat dlilihat pada Tabel 1. Tabulasi Penelitian Terdahulu.

Tabel 1. Tabulasi Penelitian Terdahulu No Nama

Peneliti

Judul Penelitian

Identifikasi Masalah

Metode Analisis

Kesimpulan 1. Freddy

H Siburian (2010)

Persepsi Masyarakat Petani dan Pedagang terhadap Keberadaan Sub

Terminal Agribisnis (STA) Harangan Sidua-Dua di Nagori Saribu Dolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun

Bagaimana perkembangan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan STA di Nagori Saribu Dolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, dan untuk menetahui bagaimana persepsi masyarakat

Penelitian ini

mengguna kan beberapa metode analisis, antara lain:

Analisis Deskriptif

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Perkembangan Sub Terminal Agribisnis (STA) Harangan Sidua-Dua adalah berkembang relatif lambat dengan kondisi STA yang belum berjalan sesuai fungsinya, (2)Masyarakat petani umumnya mempunyai persepsi negatif terhadap keberadaan STA Harangan Sidua-Dua, dimana dari 86 sampel petani, 50 sampel diantaranya mempunyai persepsi negatif terhadap keberadaan STA dan 36 sampel petani memiliki persepsi negatif, 3.

Persepsi masyarakat pedagang terhadap keberadaan STA adalah ragu-ragu dimana dari 10 sampel pedagang, sebanyak 5 sampel memiliki persepsi negatif, dan 5 sampel lainnya memiliki persepsi positif terhadap keberadaan STA

(33)

Lanjutan Tabel 1. Tabulasi Penelitian Terdahulu 2. Lia

Natalia (2014)

Analisis Faktor Persepsi Yang Mempengaruhi Minat

Konsumen Untuk Berbelanja pada Giant Hypermarket Bekasi

Apakah variabel lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan, dan promosi berpengaruh secara serempak terhadap minat konsumen

Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak

variabel lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan, dan promosi berpengaruh terhadap minat konsumen

3. Merna M.

M

Tompunu (2014)

Analisis Motivasi, Persepsi, Pembelajaran, dan Sikap Konsumen Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian di KFC Bahu Mall Manado

Apakah Motivasi, Persepsi, Pembelajaran , dan Sikap Konsumen berpengaruh Terhadap Keputusan Pembelian di KFC Bahu Mall Manado

Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa motivasi, persepsi,

pembelajaran, serta sikap berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen

(34)

Lanjutan Tabel 1. Tabulasi Penelitian Terdahulu 4. Syobrian R.

Mokoginta (2012)

Persepsi Masyarakat terhadap Relokasi Pasar

Tradisional di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara

Bagaimana persepsi masyarakat terhadap relokasi pasar tradisional di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara

Penelitian ini

mengguna kan metode analisis deskriptif

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa relokasi pedagang yang ada di pasar lama ke pasar baru belum terealisasi

100% karena

mendapat penolakan dari masyarakat sekitar, hal ini terlihat dari persentase masyarakat dan pedagang yang setuju dan tidak setuju lebih besar yang tidak setuju. Dengan persentase dari 40 orang pedagang yang terdata, peneliti mengambil sampel 17 responden atau 18%

pedagang di Pasar Genggulang mayoritas mengatakan setuju atas pembangunan pasar dan relokasi pasar lama ke pasar baru, sedangkan masyarakat hasil pembagian kuesioner di tiga kelurahan dan lima desa kecamatan Kotamobagu dari 80 responden atau 45% di antaranya tidak setuju

(35)

Lanjutan Tabel 1. Tabulasi Penelitian Terdahulu 5. Retno

Anggita Putri (2016)

Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Dengan Persepsi Pedagang Sayur Dan Buah

Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur Dan Buah- Buahan Kota Medan

(1)Bagaimana persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan?

(2)Apa saja faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang sayur dan buah yang bertahan di Pusat Pasar Kota Medan?

(3)Apa saja faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang sayur dan buah yang bersedia direlokasi ke Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan?

(4)Bagaimana hubungan antara persepsi pedagang sayur dan buah dengan

keputusan pemilihan lokasi?

metode analisis yang digunakan adalah metode skala Likert dan metode Chi-square

Dari hasil penelitian dapat disimpulkasn bahwa : (1) Persepsi pedagang sayur dan

buah terhadap

keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan adalah positf. (2) Faktor aksesibilitas, lalu lintas, kenyamanan,

persaingan, dan pensiasatan sistem kontrol, tidak berhubungan nyata dengan persepsi pedagang sayur dan buah di Pusat Pasar Kota Medan. Tetapi terdapat hubungan yang nyata antara peraturan pemerintah dengan persepsi pedagang sayur dan buah di Pusat Pasar Kota Medan. (3) Faktor aksesibilitas, lalu lintas, kenyamanan,

persaingan, dan peraturan pemerintah, tidak berhubungan nyata dengan persepsi pedagang sayur dan buah di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan.

(4) Terdapat hubungan yang nyata antara persepsi pedagang sayur dan buah dengan keputusan pemilihan lokasi pasar

(36)

2.8 Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini adapun yang dikaji mengenai persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan apakah persepsinya positif ataupun negatif dapat dilihat dari dua sisi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah, baik pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang berbelanja di Pusat Pasar Kota Medan atau pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang berbelanja di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Selain menganalisis persepsi pedagang pengecer (retailer), penelitian ini juga menganalisis apa faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

Adapun beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang berbelanja di Pusat Pasar Kota Medan dan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang berbelanja di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan diantaranya adalah aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga yang berhubungan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Skala likert yang digunakan dalam menentukan persepsi pedagang pengecer (retailer) apakah persepsi positif ataupun negatif.

(37)

Keterangan :

: Menyatakan hubungan : Menyatakan pengaruh

: Menyatakan dievaluasi dengan

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

Negatif Positif

Persepsi Pedagang Retail Pedagang Retail

Faktor:

- Aksesibilitas - Kenyamanan - Variasi Jenis

Produk

- Kualitas Produk - Harga

Yang Berbelanja ke Pasar Induk Sayur Mayur dan

Buah-Buahan Yang

Berbelanja di Pusat Pasar Kota Medan

Skala Likert

(38)

2.9 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah maka dapat disusun beberapa hipotesis sebagai berikut :

1. Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah positif.

2. Terdapat hubungan positif antara aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur-Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian ditentukan secara purposive, yaitu di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan. Pasar ini dipilih karena adanya program Pemko Medan dalam rangka membuat Medan yang bersih, nyaman dan rapi. Selain itu, juga bertujuan untuk efektivitas akses bagi konsumen dan produsen, pemanfaatan tata ruang kota, serta untuk efisiensi transportasi dan waktu. Pasar Induk ini dibangun di atas lahan 12 Ha yang diresmikan pada 19 Juni 2015 oleh Wali Kota MedanDrs. H.T.

Dzulmi Eldin,S,M.Si, dimana sudah hampir 2 tahun 7 bulan beroperasi dan saat ini dikelola oleh BUMD Kota Medan yakni Perusahaan Daerah Pusat Pasar Kota Medan.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Metode yang digunakan dalam penentuan sampel adalah metode accidental sampling, sampel dipilih secara acak berdasarkan yang dijumpai dilapangan.

(Marzuki, 2005). Sampel yang dipilih adalah pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah baik berbelanja di Pusat Pasar Kota Medan atau Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang baru di Lau Cih yang menjualnya kembali di Pasar-Pasar Kota Medan. Sampel akan dipilih di masing-masing lorong tempat pedagang retail berbelanja.

Berdasarkan hasil survey penulis pada kedua pasar dapat diperkirakan bahwa populasi yang berbelanja di Pusat Pasar Kota Medan berjumlah 250 orang dan di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan berjumlah 800 orang

(40)

Karena tidak ada data pasti yang tercatat di bagian administrasi atau lembaga terkait jumlah pedagang retailer yang berbelanja. Maka diambil kesimpulan jumlah populasi berdasarkan data observasi dan hasil survey yaitu 1050 pedagang retail. Untuk menentukan besaran sampel menggunakan rumus Slovin, yaitu (Nanawi, 1991):

Dimana :

n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi

e = Kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolelir sebesar 15%

Dengan jumlah populasi pedagang sebanyak 1050 jiwa dan tingkat kesalahan sebesar 15%, maka jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu :

dibulatkan menjadi 43 pedagang

Maka diperoleh sampel sebesar 43 pedagang pengecer (retailer) baik yang belanja di Pusat Pasar Kota Medan maupun yang di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah- Buahan Kota Medan.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara langsung dengan responden, yaitu pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang belanja di Pusat Pasar Kota Medan dan pedagang

(41)

pengecer (retailer) sayur dan buah yang belanja di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti Perusahaan Daerah Pasar Kota Medan dan literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4 Metode Analisis Data

Berdasarkan hasil wawancara tidak terstruktur pada saat pra survey dengan pengawas daerah pasar, pedagang distributor, pedagang retail, dan masyarakat.

Didapat informasi mengenai isu yang terjadi di lapangan adalah:

1. Pasar Induk jauh dari tempat tinggal.

2. Minimnya transportasi umum menuju Pasar Induk.

3. Pasar Induk memberikan kenyamanan.

4. Harga di Pasar Induk cenderung mahal.

5. Pasar Induk mampu menyediakan barang.

6. Pasar Induk memperkecil biaya transportasi.

7. Produk di Pusat Pasar lebih lengkap.

8. Lokasi Pasar Induk strategis.

9. Pasar Induk mampu menghemat waktu.

10. Pasar Induk mudah dijangkau.

11. Jenis produk di Pasar Induk tidak lengkap.

12. Pasar Induk sebagai fasilitator.

13. Pedagang atau agen di Pasar Induk lebih sedikit.

14. Fasilitas di Pasar Induk tidak tersedia.

(42)

15. Biaya transportasi ke Pusat Pasar lebih murah.

16. Kualitas di Pasar Induk kurang segar.

17. Pengawas daerah Pasar Induk ramah.

18. Waktu transaksi di Pasar Induk tidak sesuai keinginan.

Untuk membuktikan hipotesis pertama yaitu mengetahui persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan di daerah penelitian, dianalisis dengan menggunakan metode analisis teknik penskalaan Likert.

Menurut Azwar (2007), metode rating yang dijumlahkan popular dengan nama penskalaan Model Likert, yang merupakan metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya.

Prosedur Penskalaan Likert didasari oleh dua asumsi, yaitu :

a. Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat disepakati sebagai pernyataan yang favorable atau pernyataan yang unfavorable.

b. Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai sikap positif harus diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi daripada jawaban yang diberikan oleh responden yang mempunyai sikap negatif.

Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak ukur menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.

Menurut Sugiono (2009) menjelaskan bahwa Skala Likert merupakan metode pengukuran yang digunakan untuk mengukur perilaku, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dari pengertian tersebut

(43)

dapat disimpulkan bahwa Skala Likert merupakan metode perhitungan kuisioner yang dibagikan kepada responden untuk mengetahui skala perilaku suatu objek tertentu.

Skala Likert digunakan untuk mengukur persepsi atau perilaku seseorang. Skala ini menilai perilaku atau tingkah laku yang diinginkan oleh peneliti dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada responden. Kemudian responden memberi pilihan respon atau jawaban dalam bentuk skala yang diukur yang telah disediakan, yakni: sangat setuju (5), setuju (4), cukup setuju (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju (1) (Nazir, 2003). Adapun pernyataan positif dan negatif seperti tertera pada Tabel 2 dan Tabel 3 di bawah ini:

Tabel 2. Pernyataan Positif

No Pernyataan

1 Pasar Induk membantu dalam penyediaan barang untuk di jual

2 Lokasi Pasar Induk merupakan lokasi yang strategis (dekat dengan sentra produksi dan pedagang) untuk berbelanja sayur dan buah

3 Pasar Induk berperan sebagai fasilitator antara pedagang besar dengan pedagang eceran dan konsumen rumah tangga

4 Keberadaan Pasar Induk sudah mampu memperkecil biaya transportasi 5 Keberadaan Pasar Induk sudah mampu menghemat waktu dalam membeli

barang yang hendak dijual

6 Keberadaan Pasar Induk mudah dijangkau oleh pedagang

7 Keberadaan Pasar Induk memberikan kenyamanan dalam berbelanja sayur dan buah

8 Pegawai dan staff administrasi di Pasar Induk ramah Tabel 3. Pernyataan Negatif

No Pernyataan

1 Pasar Induk jauh dari tempat tinggal pedagang retail

2 Produk sayur dan buah di Pusat Pasar lebih lengkap dan mudah berbelanja daripada di Pasar Induk

3 Minimnya transportasi umum dari berbagai sudut Kota Medan untuk menuju lokasi Pasar Induk

4 Biaya ongkos lebih mahal ke Pasar Induk daripada ke Pusat Pasar

5 Jenis produk yang dijual di Pasar Induk belum lengkap, seperti ikan, ayam, daging, dll

6 Pedagang Besar atau agen yang datang ke Pasar Induk cenderung lebih sedikit daripada di Pusat Pasar Kota Medan

(44)

7 Fasilitas seperti lampu, tempat parkir tidak tersedia di Pasar Induk 8 Kualitas sayur dan buah di Pasar Induk kurang segar

9 Harga sayur dan buah di Pasar Induk mahal

10 Waktu transaksi jual beli di Pasar Induk tidak sesuai dengan keinginan pedagang

Metode ini dilakukan dengan mencatat (tally) penguatan respon pada setiap pilihan jawaban atas suatu pernyataan positif atau negatif. Untuk pernyataan positif, dapat diberikan skor untuk masing-masing pilihan jawaban dengan kategori seperti yang terlihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Kategori Jawaban Pernyataan Persepsi Positif Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

No. Kategori Jawaban Skor

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Ragu-Ragu (R) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Sumber : Mueller, 1992

Untuk pernyataan negatif juga diberikan skor untuk masing-masing pilihan jawaban kategori seperti terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kategori Jawaban Pernyataan Persepsi Negatif Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

No. Kategori Jawaban Skor

1 Sangat Tidak Setuju (STS) 5

2 Tidak Setuju (TS) 4

3 Ragu-Ragu (R) 3

4 Setuju (S) 2

5 Sangat Setuju (SS) 1

Sumber : Mueller, 1992

(45)

Untuk mengukur Skala Likert tersebut, digunakan rumus sebagai berikut (Azwar, 2007):

( ̅ )

Dimana :

T = Skor Standar X = Skor Sampel

̅ = Rata-rata Skor Kelompok S = Deviasi Standar Kelompok Kriteria uji, apabila :

T > 50 Persepsi Positif T ≤ 50 Persepsi Negatif

Hipotesis : Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

H0 : Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah adalah positif.

H1 : Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah adalah negatif.

Jika T > 50, maka H0 diterima, dan H1 ditolak Jika T ≤ 50, maka H0 ditolak, dan H1 diterima

Untuk membuktikan hipotesis kedua yaitu digunakan metode analisis Chi- Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 5%). Dengan wawancarai pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terkait dengan faktor yang dipilih yaitu aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga. Dari kuesioner akan diperoleh variabel yang dominan menurut pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah dan dijadikan faktor yang berhubungan dengan persepsi

(46)

pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Hal ini diterapkan bagi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah baik yang belanja di Pasar Induk maupun yang di Pusat Pasar.

Secara manual, uji chi-square dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dimana :

X2 = nilai Chi-Square

fo = frekuensi hasil observasi fh = frekuensi yang diharapkan

menurut Sayuti (1992), untuk memberikan interpretasi terhadap nilai Chi-square tersebut, maka perlu dibandingkan dengan nilai Chi-square tabel pada derajat bebas (db) tertentu. Besarnya derajat bebas dapat dihitung dengan rumus:

db = (b-1)(k-1) Dimana :

dk = derajat bebas b = jumlah baris k = jumlah kolom

Adapun kriteria uji Chi-square (X2) adalah sebagai berikut : Jika X2 hitung < X2 tabel, maka H0 diterima atau H1ditolak Jika X2 hitung ≥ X2 tabel, maka H1diterima atau H0 ditolak

(47)

H0 = tidak ada hubungan yang nyata antara aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

H1 = terdapat hubungan yang nyata antara aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk dan harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan

Analisis korelasi sederhana (bivariate correlation) digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi. Koefisien korelasi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara dua variabel. Dalam SPSS ada tiga metode korelasi sederhana (bivariate correlation) diantaranya Pearson Correlation, Kendall’s tau-b, dan Spearman Correlation. Pearson Correlation digunakan untuk data berskala interval atau rasio, sedangkan Kendall’s tau-b, dan Spearman Correlation lebih cocok untuk data berskala ordinal.

Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan kategorisasi koefisien korelasi sebagai berikut:

0,00 - 0,199 = sangat rendah 0,20 - 0,399 = rendah

0,40 - 0,599 = sedang 0,60 - 0,799 = kuat

0,80 - 1,000 = sangat kuat

(48)

Dengan Rumus:

Dimana:

C = Correlation Coefficient X2 = nilai Chi-Square n = Jumlah Sampel

3.5 Definisi dan Batasan operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan atas pengertian dalam penelitian ini, maka diberikan beberapa definisi dan batasan operasional.

3.5.1. Definisi

1. Pasar adalah aktivitas transaksi barang dan jasa yang melibatkan produsen, konsumen, dan lembaga pemasaran.

2. Populasi adalah seluruh pedagang pengecer (retailer) yang terdaftar sebagai pemberi retribusi kepada Perusahaan Daerah (PD) pasar.

3. Pedagang retail adalah pedagang pengecer (retailer) yang membeli sayur dan buah di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan Pusat Pasar Kota Medan untuk dijual kembali atau diecerkan ke konsumen di luar pasar tersebut yang biasa disebut kulakan.

4. Persepsi adalah Tanggapan/kesan yang diperoleh individu melalui panca indera kemudian dianalisa, diinterpretasi, dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna.

(49)

5. Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah adalah respon atau tanggapan yang datang dari dalam diri pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah, serta reaksinya terhadap keberadaan Pasar Induk.

6. Persepsi positif adalah respon atau tanggapan diri seseorang yang cenderung menyukai, mendekati, menerima, bahkan mengharapkan kejadian objek tertentu.

7. Persepsi negatif adalah respon atau tanggapan diri seseorang yang cenderung tidak menyukai, menjauhi, membenci, menghindari, ataupun tidak mengharapkan keberadaan objek tertentu.

8. Pusat pasar adalah tempat pertemuan antara para pedagang besar dengan para pedagang eceran (retailer) secara langsung melakukan transaksi jual beli yang berlokasi di sepanjang jalan Sutomo, jalan Bulan, dan jalan Veteran.

9. Pasar induk adalah tempat pertemuan antara para pedagang besar dengan para pedagang eceran secara langsung melakukan transaksi jual beli yang ada di Lau Cih Tuntungan.

10. Aksesibilitas adalah kemudahan untuk mencapai suatu tempat atau wilayah.

11. Kenyamanan adalah kondisi dimana kita merasa diri kita dihargai, merasa aman, senang dan tidak ada tekanan dari pihak manapun.

12. Variasi jenis produk merupakan kumpulan seluruh produk, macam-macam produk dalam artian lengkapnya produk mulai dari jenis, ukuran, dan kualitas.

13. Kualitas produk adalah kualitas yang sudah dirasakan memberikan kepuasan terhadap keinginan pedagang.

14. Harga adalah jumlah yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu barang dan pelayanan yang menyertainya.

(50)

3.5.2. Batasan Operasional

1. Penelitian dilakukan di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan, Kelurahan Lau Cih, Kecamatan Medan Tuntungan dan Pusat Pasar Kota Medan, Kecamatan Medan Kota, tepatnya yang berada di Jalan Sutomo, Jalan Bulan dan Jalan Veteran yang berada di pinggir jalan raya.

2. Persepsi yang diukur pada dasarnya berhubungan dengan setuju atau tidaknya pasar direlokasi dengan mengukur pendapat responden terhadap tampilan fisik dan non fisik Pasar Induk Sayur-Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.

3. Subjek penelitian adalah pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah di Pusat Pasar Kota Medan.

4. Waktu penelitian dilakukan tahun 2017.

(51)

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1. Keadaan Geografi

Kota Medan merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara yang secara geografis terletak di antara 3o.27’-3o.47’ Lintang Utara dan 98o.35’-98o.44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan merupakan Pusat Pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 Km2 yang berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Sebagian besar wilayah Kota Medan adalah dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

Kota Medan memiliki iklim tropis dengan suhu minimum menurut stasiun BMKG Wilayah I pada tahun 2014 yaitu 20oC dan suhu maksimum 35,2oC, serta menurut Stasiun Sempali dengan suhu antara 21,8oC-32,3oC. kelembaban udara rata-rata 75-81% dan kecepatan angin rata-rata 1,20m/sec, sedangkan rata-rata total laju penguapan di setiap bulan adalah 111,13 mm. Hari Hujan di Kota Medan per bulan adalah 14 hari dengan rata-rata curah hujan 170 mm.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan pendekatan berbasis aset, setiap orang didorong untuk memulai proses perubahan, karena ABCD merupakan sebuah pendekatan dalam pengembangan masyarakat yang berada

Petani atau penangkar yang melakukan usaha di Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur, belum banyak yang ingin mengusahakan dan mengembangkan usahatani pembibitan durian

Karakteristik Long Invers Pengujian gangguan bersifat long invers merupakan pengujian rele arus lebih dengan karakteristik waktu arus yang sangan-sangat berbanding terbalik

Apakah Filsafat Informasi sendiri memenuhi syarat-syarat di atas? Langkah per- tama untuk memberi jawaban positif membutuhkan identifikasi lebih lanjut tentang pentingnya memahami

[r]

[r]

[r]

Adapun dari hasil bahwa pelanggaran hak siar dalam penyelesian perkara pidana dianggap sah karena pada hakikatnya yang terpenting dalam tindak pidana pelanggaran hak siar